Anda di halaman 1dari 7

PERFORMANCE BURUNG PERKUTUT DI DESA GARONGAN,

PANJATAN, KULON PROGO


TUGAS AKHIR

Disusun Oleh :
Nama

: WAHYU KURNIAWAN

No. Mahasiswa

: 122277

Produksi Study

: Produksi Ternak

AKADEMI PETERNAKAN BRAHMAPUTRA


YOGYAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Perkutut merupakan salah satu burung pemakan biji-bijian dan termasuk
dalam keluarga merpati (Columbidae) yang mempunyai kemampuan dan
kelebihan dibandingkan dengan burung lainnya. Kemampuan tersebut
diantaranya mampu hidup dan berkembang biak pada kandang yang relatif kecil,
baikberlantai tanah maupun berlantai kayu yang dapat dengan mudah
dipindahkan.Adapun kelebihannya adalah perkutut mampu mengemisikan suara
yang terdengar merdu.
Saat ini, penggemar perkutut di Indonesia terus berkembang dan
banyaknya pemunculan peternakan perkutut memotivasi peternak, selain sebagai
hobi, juga mendatangkan keuntungan karena perkutut memiliki nilai komersial
yang relatif tinggi bila mampu bersuara dengan alunan merdu. Maraknya
kegiatan kontes perkutut pada tingkat lokal maupun nasional menunjukkan
respon dari masyarakat untuk mendapatkan dan mengupayakan penangkaran
melalui proses pemeliharaan serta penerapan manejemen yang baik hingga dapat
menghasilkan perkutut berkualitas prima, yakni perkutut yang mampu bersuara
merdu yang umumnya dihasilkan oleh perkutut berjenis kelamin jantan.
B. Tujuan Penelitian
Ingin mengetahui cara pemeliharaan perkutut dengan sistem diternak, dengan ini
mengetahui

hasil

dari

peternakan

perkutut,

disamping

itu

untuk

mempertahankan budaya jawa.

C. Alasan Penelitian
Karena beternak perkutut dapat dilakukan oleh orang tua atau muda,lebih oleh
orang tua. Karena bisa untuk modal kita nanti di masa tua jika kita tidak mau
kerja dimana(merantau)
BAB II
Tinjauan Pustaka

A. Burung Perkutut
Burung Perkutut Jawa merupakan jenis burung yang memiliki ukuran kecil,
bulunya berwarna abu-abu dan banyak di jadikan burung peliharaan dengan alasan
suaranya indah dan merdu. Keberadaanya di Indonesia, khususnya di wilayah pulau
Jawa kelestarianya mulai terancam punah. Burung Perkutut ini masih satu keluarga
dengan Tekukur Biasa, Dederuk Jawa dan juga Merpati.
Perkutut (Geopelia striata) biasanya banyak hidup di hutan-hutan dataran
rendah. Sebagai burung yang masuk dalam suku Columbidae, perkutut memiliki
banyak kerabat dekat, seperti peragam serta punai yang menyebar luas di semua
dunia. Tetapi, spesial type perkutut penyebarannya cuma terbatas dari Semenanjung
Malaya hingga Australia.
Biasanya perkutut hidup serta melacak makan dengan cara berpasangan atau
dalam grup kecil. Burung-burung ini umumnya makan diatas permukaan tanah.
Sering ditemukan perkutut yang tengah minum dengan cara berbarengan pd sumber
air.
Di alam bebas perkembangbiakan perkutut tak sebaik di breeding farm. Di alam
bebas perkutut cuma bertelur dua hingga tiga kali 1 tahun yang berlangsung pada
bulan Januari-September. Musim berbiak ditandai dengan pembuatan sarang oleh
sepasang perkutut yang tengah berahi. Wujud sarang agak datar serta tidak tebal.
Sisi bawah sarang di buat dari himpunan ranting yang agak kasar, namun sisi
atasnya dilapisi daun rerumputan kering atau serabut yang lebih halus. sarang
biasanya ditempatkan pada pohon atau semak yang tak terlampau tinggi dari
permukaan tanah.
Sekian hari sesudah sarang jadi, perkutut betina dapat bertelur sejumlah dua
butir. Telur ini berwarna putih dengan wujud oval. Ukuran telur lebih kurang 22 Kali
17mm. Telur dapat dierami dengan cara bergantian oleh ke-2 induk sepanjang lebih
kurang dua minggu, sesudah itu telur menetas. Anak perkutut yang baru menetas
terlihat berwarna merah, tak memiliki bulu, serta matanya tetap tertutup. Pada waktu
seperti ini anakan tetap membutuhkan kehangatan dari tubuh induknya. Oleh

karenanya, induk dapat mengeraminya hingga tumbuhnya bulu (lebih kurang usia
dua minggu).
Anakan perkutut yang baru menetas oleh induknya di beri makan berbentuk susu
yang dihasilkan oleh tembolok induknya. Sistem penyusuan ini jalan cocok dengan
naluri alamiah burung. Anak yang belum dapat lihat tersebut menyentuh-nyentuhkan
paruhnya ke arah mulut induknya. Sesudah mengena, anakan tersebut dapat
memasukkan kepalanya di tenggorokan induknya. Sistem inilah yang diberi nama
menyusu. Berbarengan masuknya kepala si anak ke tenggorokan induk, si induk
dapat memuntahkan isi tembolok yang berbentuk cairan serta segera masuk ke
mulut si anak. Sistem penyusuan ini umumnya berjalan hingga si anak keluar bulu
atau telah dapat terbang.
Perkutut tangkapan rimba yang sudah lama dipelihara orang umum dimaksud
perkutut lokal. Perkutut tersebut umumnya telah pintar manggung, namun sayang
sukar diternak. Kendalanya perkutut lokal amat lamban atau tak gampang
berkembang biak. Usaha menyilangkan induk jantan perkutut lokal dengan induk
betina perkutut Bangkok juga lambat atau tak selancar perkutut Bangkok murni.
Selanjutnya banyak yang menentukan indukan jantan ataupun betina perkutut
Bangkok murni di karenakan lebih efisien.
Perkutut-perkutut lokal tersebut sesungguhnya dlm hal suara tak terlampau tidak
sama jauh meskipun tiap-tiap memiliki ciri khas. Perkutut dari satu daerah memiliki
perbedaan dengan perkutut dari daerah lain, namun perbedaannya tak demikian
mencolok. Apalagi, dalam hal ukuran atau berat badan hampir tak tidak sama.
Perkutut tergolong dalam grup burung kecil (betina 19-21 cm serta jantan 20-24 cm)
dengan berat pada 60-70 gram.
Warna tubuh didominasi dengan warna cokelat dengan ekor agak panjang.
Warna di bagian kepala abu-abu dengan sisi belakang kecokelatan. Leher serta sisi
sisinya bergaris halus. Sisi punggung berwarna cokelat dengan pinggir-tepi bulu
berwarna hitam. Bulu segi terluar pd ekor berwarna agak kehitaman serta di bagian
ujungnya putih.

Iris (selaput pelangi mata) abu-abu agak kebiruan, paruh abu-abu, serta kaki
merah jambu. Warna lain sebagai ciri khas perkutut yaitu bulu pd punggung sayap,
segi leher, dada, serta sisi segi badan berwarna cokelat agak keabu-abuan.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metodologi
Cara pemeliharaan piyik: Burung mengeram telur selama 14 hari ,sesudah
menetas umur 10 hari diberi RING sesuai dengan nama ternaknya ,karna yang
saya teliti adalah PANDAN SARI BIRD FROMmaka RINGNYA disingkat
menjadi PSBF,kulon progo .setelah dipasang RING piyik ,dibabukan,diloloh
oleh puter.kelebihan diloloh puter ,indukkan kutut umur 40 hari sudah menetas
lagi.piyik cepat besar dan jinak kalau diloloh sendiri tapi indukan akan
menetaskan telur lagi setelah 50 hari.
Setelah piyik bisa makan sendiri
Piyik bisa makan sendiri umur 25 hari ,sedangkan piyik mulai bunyi cit,cit umur
40 hari,dan umur 40 hari piyik siap untuk dijual.
Piyik bisa terbang
Piyik burung perkutut bisa terbang umur 15 hari tapi belom lincah,dan masih
minta diloloh induknya sampai umur 25 hari.
PAKAN
Pakan ditempat saya penelitian dibuat sendiri ,meski bahannya beli.
Pakan terdiri dari:
1. Milet putih 8 kg,
2. Milet merah 2 kg
3. Ketan hitam 1,5 ons
4. Ketan merah 1,5 ons
Semua

bahan

tersebut

dicampur

kemudian

dibersihkan

dengan

air(diususi),kemudian dijemur selama 1 hari sampai kering .sesudah hari 2


dipersiapkan

kencur kemudian ditumbuk sampai halus ,samapai keluar

airnya,dan diambil airnya.dan ditambah 4 set madu , 4 butir telur bebek dan 2
sendok garam dan kemudian dicampur sampai rata. Campuran milet kemudain
dimasukkan dalam baskom kemudian oplosan tadi dicampur dengan milet tadi
sampai rata.
CARA PEMBERIAN PAKAN

Cara pemberian pakan burung perkutut setiap 2 hari sekali 1 pasang sebanyak 1

sendok makan, jadi kalau 1 ekor burung

1
2

sendok makan 2 hari sekali.Jadi

kalau dirata-rata pakan 10 kg seharga Rp. 150.000,00 dapat memberi pakan


burung sebanyak 20 pasang selama 1 bulan.
OBAT
Obat yang digunakan terdiri dari;
1. Larasati ,kegunakan agar burung rajin bunyi
2. Minyak ikan dan livron.b plex
3. Obat cacing combatrel ,unt burung mau yg tidak mau makan
VITAMIN
Vitamin yang digunakan adalah TALEX untuk pertumbuhan tulang.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Dk VIII, Garongan, Pandansari, Panjatan, Kulon Progo
C. Peralatan yang Digunakan
Peralatan yang digunakan dalam peternakan burung perkutut :
1.
2.
3.
4.
5.

Semprotan
Penggaruk kotoran
Tempat pakan dan minum
Sangkar/kandang
Pangkringan

D. Perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio)


Perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio) atau perbandingan pemberian pakan
dilakukan dengan formula berikut ini :

FCR =

Jumlah Pakan PemberianSisa Pakan


Bobot AkhirBobot Awal