Anda di halaman 1dari 14

DRAFT PRAKTIKUM

OPERASI TEKNIK KIMIA 1


TANGKI BERPENGADUK

GRUP : 8
1. RAKA ALDIAS
2. TRI RIZKI AMALIA

1231010030
1231010031

TANGGAL PERCOBAAN : 25 SEPTEMBER 2014

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UPN VETERAN JAWA TIMUR
2014

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar belakang
Dalam proses kimia khususnya dalam zat cair atau fase cair, pengadukan

merupakan salah satu cara di dalam proses pencampuran komponen untuk


mendapatkan hasil yang diiginkan. Pengadukan adalah suatu operasi kesatuan yang
mempunyai sasaran untuk menghasilkan pergerakan tidak beraturan dalam suatu
cairan, dengan alat mekanis yang terpasang pada alat seperti propeller. Pola aliran
yang terjadi dalam cairan yang diaduk tergantung pada jenis pengaduk, karakteristik
fluida yang diaduk dan ukuran serta perbandingan ukuran antara tangki, pengaduk
dan sekat.
Tujuan

dari

pada

operasi

pengadukan

terutama

adalah

terjadinya

pencampuran. Pencampuran merupakan suatu operasi yang bertujuan mengurangi


ketidaksamaan komposisi, suhu atau sifat lain yang terdapat dalam suatu bahan.
Pencampuran dapat terjadi dengan cara menimbulkan gerak di dalam bahan itu yang
menyebabkan bagian-bagian bahan saling bergerak satu terhadap yang lainnya,
sehingga operasi pengadukan hanyalah salah satu cara untuk operasi pencampuran.
Tangki pengaduk ( tangki reaksi ) adalah bejana pengaduk tertutup yang
berbentuk silinder, bagian alas dan tutupnya cembung. Tangki pengaduk terutama
digunakan untuk reaksi-reaksi kimia pada tekanan diatas tekanan atmosfer dan pada
tekanan vakum, namun tangki ini juga sering digunakan untuk proses yang lain
misalnya untuk pencampuran, pelarutan, penguapan ekstraksi dan kristalisasi.
Percobaan ini ditujukan untuk memperkenalkan suatu cara melaksanakan
suatu proses pengadukan fluida dengan menggunakan tangki berpengaduk dan
menunjukkan pengaruh beberapa variabel operasi dari pengadukan itu sendiri
terhadap kerja sistem dalam operasi yang akan dilaksanakan.

I.2

Tujuan Percobaan

1. Untuk mempelajari proses pencampuran fluida dengan menggunakan


tangki berpengaduk.
2. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas
pencampuran.
3. Untuk membuat kurva hubungan antara Bilangan Power (Npo) dengan

Bilangan Reynold (Nre) dengan variasi jenis cairan dan ada tidaknya
baffle.
I.3

Manfaat Percobaan
1. Mengetahui proses pencampuran fluida dengan menggunakan tangki
berpengaduk.
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pencampuran.
1. Dapat membuat kurva hubungan antara Bilangan Power (Npo) dengan
Bilangan Reynold (Nre) dengan variasi jenis cairan dan ada tidaknya
baffle.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengadukan dan Pencampuran
Pengadukan adalah operasi yang menciptakan terjadinya gerakan dari bahan
yang diaduk seperti molekul- molekul, zat-zat yang bergerak atau komponennya
menyebar (terdispersi). Adapun tujuan dari pengadukan :
a. Mencampur dua cairan yang saling melarut.
b. Melarutkan padatan dalam cairan.
c. Mendispersikan gas dalam cairan dalam bentuk gelembung.
d. Mempercepat perpindahan panas antara fluida dengan koil pemanas dan jacket
pada dinding bejana.
Pencampuran adalah operasi yang menyebabkan tersebarnya secara acak
suatu bahan ke bahan yang lain dimana bahan-bahan tersebut terpisah dalam dua fasa
atau lebih. Proses pencampuran bisa dilakukan dalam sebuah tangki berpengaduk.
Hal ini dikarenakan faktor-faktor penting yang berkaitan dengan proses ini, dalam
aplikasi nyata bisa dipelajari dengan seksama dalam alat ini. Pencampuran terjadi
pada tiga tingkatan yang berbeda yaitu :
1. Mekanisme konvektif : pencampuran yang disebabkan aliran cairan secara
keseluruhan (bulk flow).
2. Eddy diffusion : pencampuran karena adanya gumpalan - gumpalan fluida yang
terbentuk dan tercampakan dalam medan aliran.
3. Diffusion : pencampuran karena gerakan molekuler.
Aplikasi pengadukan dan pencampuran bisa ditemukan dalam rentang yang
luas, diantaranya dalam proses suspensi padatan, dispersi gas-cair, cair-cair maupun
padat-cair, kristalisasi, perpindahan panas dan reaksi kimia. Faktor-faktor yang
mempengaruhi

proses

pengadukan

dan

pencampuran

diantaranya

adalah

perbandingan antara geometri tangki dengan geometri pengaduk, bentuk dan jumlah
pengaduk, posisi sumbu pengaduk, kecepatan putaran pengaduk, penggunaan sekat
dalam tangki dan juga properti fisik fluida yang diaduk yaitu densitas dan viskositas.

2. Tangki berpengaduk
Tangki berpengaduk (tangki reaksi) adalah bejana pengaduk tertutup yang
berbentuk silinder, bagian alas dan tutupnya cembung. Tangki pengaduk terutama
digunakan untuk reaksi-reaksi kimia pada tekanan diatas tekanan atmosfer dan pada
tekanan vakum, namun tangki ini juga sering digunakan untuk proses yang lain
misalnya untuk pencampuran, pelarutan, penguapan ekstraksi dan kristalisasi.
Untuk pertukaran panas, tangki biasanya dilengkapi dengan mantel ganda
yang di las atau di sambung dengan flens atau dilengkapi dengan kumparan yang
berbentuk belahan pipa yang dilas. Untuk mencegah kerugian panas yang tidak
dikehendaki tangki dapat diisolasi. Hal penting dari tangki pengaduk, antara lain :
1. Bentuk : pada umumnya digunakan bentuk silinder dan bagain bawahnya cekung.
2. Ukuran : diameter dan tangki tinggi.
3. Kelengkapannya, seperti :
a. Ada tidaknya buffle, yang berpengaruh pada pola aliran didalam tangki.
b. Jacket atau coil pendingin/pemanas, yang berfungsi sebagai pengendali suhu.
c. Letak lubang pemasukan dan pengeluaran untuk proses kontinu.
d. Sumur untuk menempatkan termometer atau peranti untuk pengukuran suhu
e. Kumparan kalor, tangki dan kelengkapan lainnya pada tangki pengaduk.
(http://tekimku.blogspot.com/)
3. Jenis pengaduk
Pengaduk berfungsi untuk menggerakkan bahan (cair, cair/padat, cair,cair/gas,
cair/padat/gas) di dalam bejana pengaduk. Secara umum, terdapat tiga jenis pengaduk
yang biasa digunakan, yaitu pengaduk berbentuk baling-baling ( propeller ), pengaduk
turbin (turbine), pengaduk dayung (paddle) dan pengaduk helical ribbon.
a. Pengaduk jenis baling-baling (propeller)
Ada beberapa jenis pengaduk yang biasa digunakan. Salah satunya adalah
baling-baling berdaun tiga.

Gambar 1. Pengaduk jenis Baling-baling (a),


Daun Dipertajam (b), Baling-baling kapal (c)
Baling-baling ini digunakan pada kecepatan berkisar antara 400 hingga 1750 rpm
(revolutions per minute) dan digunakan untuk cairan dengan viskositas rendah.
b. Pengaduk Dayung (Paddle)
Berbagai jenis pengaduk dayung biasanya digunakan pada kesepatan rendah
diantaranya 20 hingga 200 rpm. Dayung datar berdaun dua atau empat biasa
digunakan dalam sebuah proses pengadukan. Panjang total dari pengadukan dayung
biasanya 60 - 80% dari diameter tangki dan lebar dari daunnya 1/6 - 1/10 dari
panjangnya.

Gambar 2. Pengaduk Jenis Dayung (Paddle) berdaun dua.


c. Pengaduk Turbin
Pengaduk turbin adalah pengaduk dayung yang memiliki banyak daun
pengaduk dan berukuran lebih pendek, digunakan pada kecepatan tinggi untuk cairan
dengan rentang kekentalan yang sangat luas. Diameter dari sebuah turbin biasanya
antara 30 - 50% dari diamter tangki. Turbin biasanya memiliki empat atau enam daun
pengaduk. Turbin dengan daun yang datar memberikan aliran yang radial. Jenis ini
juga berguna untuk dispersi gas yang baik, gas akan dialirkan dari bagian bawah
pengadukdan akan menuju ke bagian daun pengaduk lalu tepotong-potong menjadi
gelembung gas.

Gambar 3. Pengaduk Turbin pada bagian variasi.


4. Kecepatan Pengaduk
Salah satu variasi dasar dalam proses pengadukan dan pencampuran adalah
kecepatan putaran pengaduk yang digunakan.. Secara umum klasifikasi kecepatan
putaran pengaduk dibagi tiga, yaitu : kecepatan putaran rendah, sedang dan tinggi.
a. Kecepatan Putaran Rendah
Kecepatan rendah yang digunakan berkisar pada kecepatan 400 rpm.
Pengadukan dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk minyak kental, lumpur
dimana terdapat serat atau pada cairan yang dapat menimbulkan busa
b. Kecepatan putaran sedang
Kecepatan sedang yang digunakan berkisar pada kecepatan 1150 rpm.
Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk larutan sirup kental dan
minyak pernis.
c. Kecepatan putaran tinggi
Kecepatan tinggi yang digunakan berkisar pada kecepatan 1750 rpm.
Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk viscositas rendah seperti
air.
5. Jumlah Pengaduk
Penambahan jumlah pengaduk yang digunakan pada dasarnya untuk tetap
menjaga efektifitas pengadukan pada kondisi yang berubah. Ketinggian fluida yang
lebih besar dari diameter tangki, disertai dengan viskositas fluida yang lebih besar
dann diameter pengaduk yang lebih kecil dari dimensi yang biasa digunakan,
merupakan kondisi dimana pengaduk yang digunakan lebih dari satu buah, dengan
jarak antar pengaduk sama dengan jarak pengaduk paling bawah ke dasar tangki.

Penjelasan mengenai kondisi pengadukan dimana lebih dari satu pengaduk yang
digunakan dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :
Satu Pengaduk
Fluida dengan viscositas rendah
Pengaduknya menyapu dasar tangki
Kecepatan balik aliran yang tinggi
Ketinggian permukaan cairan yang

Dua Pengaduk
Fluida dengan viscositas tinggi
Pengadukpada tangki yang dalam
Gaya gesek aliran besar
Ukuran mounting nozzle yang minimal

bervariasi

6. Pola aliran dalam tangki berpengaduk


Pada tangki berpengaduk, pola aliran yang dihasilkan bergantung pada
beberapa faktor antara lain geometri tangki, sifat fisik fluida dan jenis pengaduk itu
sendiri. Pengaduk jenis turbine akan cenderung membentuk pola aliran radial
sedangkan propeller cenderung membentuk aliran aksial. Pengaduk jenis helical
screw dapat membentuk aliran aksial dari bawah tangki menuju ke atas permukaan
cairan. Pola aliran yang dihasilkan oleh tiap-tiap pengaduk tersebut dapat dilihat pada
Gambar 4.

Gambar 4 Pola aliran fluida di dalam tangki berpengaduk


(a) flat-blade turbine (b) marine propeller (c) helical screw
7. Draft Tube
Draft tube merupakan silinder ramping yang mengelilingi pengaduk dengan
diameter lebih besar dari diameter pengaduk. Alat ini digunakan untuk
mengendalikan arah dan kecepatan alir fluida. Penggunaan draft tube menghasilkan
peningkatan yang sangat signifikan dari keseragaman aliran, terutama pada daerah
dekat permukaan cairan. Tetapi, daya yang dibutuhkan pada sistem pengadukan

dengan draft tube lebih besar daripada sistem open impeller. Posisi pengaduk dalam
draft tube ditentukan oleh jenis pengaduk yang digunakan.

Gambar 5 Tangki berpengaduk dengan draft tube


(a)pengaduk turbine (b) pengaduk propeller
(http://akademik.che.itb.ac.id/labtek/wp-content/uploads/2012/05/tdk-tangkiberpengaduk.pdf )
8. Parameter Hidrodinamika dalam Tangki Berpengaduk
Hidrodinamika fluida yang terjadi dalam tangki berpengaduk dapat
diturunkan dalam suatu korelasi empiris antara bilangan Reynolds, Fraude dan Power.
a. Bilangan Reynolds
Bilangan Reynolds merupakan bilangan tak berdimensi yang menyatakan
perbandingan antara gaya inersia dan gaya viskos. Untuk sistem dengan pengadukan :
N =

n Da

dengan = densitas fluida


= viskositas fluida
Da = diameter pengaduk
b. Bilangan Fraude
Bilangan Fraude menunjukkan perbandingan antara gaya inersia dengan gaya
gravitasi. Bilangan Fraude dapat dihitung dengan persamaan berikut :

N Fr =

n2 Da
g

Bilangan Fraude bukan merupakan variable yang signifikan. Bilangan ini


hanya diperhitungkan pada sistem pengadukan unbaffled. Pada sistem ini bentuk
permukaan cairan dalam tangki akan dipengaruhi gravitasi sehingga membentuk
vorteks. Vorteks menunjukkan keseimbangan antara gaya gravitasi dengan gaya
inersia.
c.

Bilangan Power
Bilangan Power menunjukkan perbandingan antara perbedaan tekanan yang

dihasilkan aliran dengan gaya inersianya. Perubahan tekanan akibat distribusi pada
permukaan pengaduk dapat diintegrasikan menghasilkan torsi total dan kecepatan
pengaduk.
P o=

P
5
n Da
3

Korelasi antara bilangan Power dengan Reynold serta Fraude ditunjukkan


pada persamaan-persamaan berikut:
Untuk sistem tanpa baffle : Po = a . Reb. . Prc (13)
Untuk sistem dengan baffle : Po = a . Reb (14)
dengan :
Po = bilangan Power
Re = bilangan Reynold
Pr = bilangan Prandtl
a, b, c = konstanta eksperimental
Persamaan pertama dapat diubah menjadi:
ln Po = ln a + b ln Re
9. Merancang Bejana Bersekat dan Tanpa Sekat
Seorang perancang bejana sangat memperhatikan tipe dan lokasi impeller,
ukuran bejana, ukuran baffle dan sebagainya. Masing-masing keputusan sangat
mempengaruhi kecepatan dari fluida, besarnya viscositas dan power yang di

perlukan. sebagai titik awal untuk desain pada masalah pengadukan, sebuah turbin
pengadukan untuk tangki bersekat ditunjukkan pada gambar 6

Gambar 6. Pengukuran Turbin

Da 1
=
Dt 3

H
=1
Dt

J
1
=
Dt 12

C
=1
Da

W 1
=
Da 5

L 1
=
Da 4

Dimana :
C = tinggi pengaduk dari dasar tangki ( ft )

Da = diameter pengaduk ( ft )
Dt = diameter tangki ( ft )
H = tinggi fluida dalam tangki ( ft )
J = lebar baffle ( ft )
W = lebar pengaduk ( ft )
Sedangkan untuk tangki tanpa sekat, pada Nre di bawah 300, kurva angka
daya untuk tangki yang mempunyai sekat atau tidak bersekat adalah identik. Pada
NRe yang lebih tinggi kurva memisah. Di daaerah Nre demikian, yang biasanya di
hindarkan dalam praktek dengan tangki tanpa sekat, terbentuk vortex dan angka
Froude akan terpengaruh.
M=

alog b NRe
b

Berbagai faktor bentuk dalam persamaan tersebut ditentukan oleh jenis dan
susunan alat. Ukuran-ukuran penting untuk bejana dengan pengaduk turbin yang
umum disajikan pada Gambar 6. Faktor-faktor bentuk yang berhubungan dengan
dimensi bejana, sekat, dan impeller tersebut adalah: S1 = Da/Dt, S2 = E/Da, S3 =
L/Da, S4 = W/Da, S5 = J/Dt dan S6 = H/Dt. Faktor-faktor tersebutlah yang biasanya
dikorelasikan dengan bilangan-bilangan tak berdimensi dan diplot dalam grafikgrafik korelasi.

Gambar 7. Grafik Korelasi Np vs NRe


Selain memperhatikan ukuran bejana, seorang perancang bejana hendaknya
juga mengetahui besarnya daya yang diperlukan dalam suatu proses pengadukan.
Besarnya kebutuhan daya dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
N p=

P gc
3

n D5a

Dimana :
N p = power number
P = power ( watt )
gc = gravitasi bumi ( ft/s )
N = jumlah putaran ( rpm)
Da = diameter pengaduk ( ft )
= densitas ( lb/ft3)
( Mc Cabe , 242-251 )

DAFTAR PUSTAKA

McCabe.W.L.,Smith,J.C and Harriot,P.,1993, Unit Operasional Of Chemical


Engineering,5th Edition, McGraw-Hill,Inc.,New York
Departemen Teknik Kimia ITB, 2012.Paduan pelaksanaan labolatorium instruksional,
http://akademik.che.itb.ac.id/labtek/wp-content/uploads/2012/05/tdk-tangkiberpengaduk.pdf ( Diakses pada tanggal 8 September 2014 pukul 14.09 WIB )
Kurniawan,rahmat.2011.Pengadukan dan Pencampuran.http://tekimku.blogspot.com/
( Diakses pada tanggal 8 Septmber 2014 pukul 13.30 WIB )