Anda di halaman 1dari 15

Portofolio

Gastropati NSAID

Oleh :
dr. Anita Yulanda Kasih
Pembimbing :
dr. Fatma Yanti

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


KOTA SAWAHLUNTO
2014
BORANG PORTOFOLIO
0

No. ID dan Nama Peserta


: dr. Anita Yulanda Kasih
No. ID dan Nama Wahana
: RSUD Kota Sawahlunto
Topik
: Anemia e.c Melena e.c Suspect Gastropati NSAID
Tanggal (kasus)
: 09 Juli 2014
Tanggal Presentasi
: Agustus 2014
Pendamping
: dr. Fatma Yanti
Tempat Presentasi
: Aula RSUD kota Sawahlunto
Obyektif presentasi
:
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
O Manajemen
Masalah
O Istimewa
Neonatus
O Bayi
Anak
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi :
Perempuan 60 tahun, Pusing sejak seminggu yang lalu, BAB berwarna hitam sejak 3
hari yang lalu disertai nyeri ulu hati, mual dan muntah
Tujuan : Dapat menangani perdarahan saluran cerna bagian atas dengan tepat
Bahan Bahasan :
Tinjauan Pustaka
O Riset
Kasus
Audit
Cara Membahas :
Diskusi
Presentasi dan Diskusi
Email
Pos
Data Pasien : Ny. Syamsi Abas, 60 th
Nama Klinik : RSUD Kota Sawahlunto
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
Gambaran Klinis

No. Registrasi : 550809

Seorang pasien perempuan berumur 60 tahun datang ke IGD RSUD Sawahlunto pukul
11.45 WIB dengan:
Keluhan Utama :
Pusing sejak 1 minggu yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang


Pusing sejak 1 minggu yang lalu, pandangan kadang menjadi gelap dan berputar

Nyeri ulu hati

Mual (+), Muntah (+)

BAB frekuensi 1x sehari,konsistensi biasa, berwarna hitam sejak 3 hari yang lalu

Nafsu makan kurang

Terasa letih dan lesu


1

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Hipertensi (+)

Riwayat minum obat rematik diakui sejak 3 bulan terakhir

Riwayat Diabetes Melitus (-)

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umun
Kesadaran
Tekanan darah
Nadi
Nafas
Suhu

: Sedang
: Komposmentis kooperatif
: 160/100 mmHg
: 90 x/menit, irama teratur
: 24 x/menit
: 36,6 oC

Mata : Konjungtiva anemis, Sklera tidak ikterik


Leher : JVP 5-2 cmH2O
Tidak ada pembesaran KGB
Paru :
Inspeksi : Simetris statis dan dinamis
Palpasi
: Fremitus kiri=kanan
Perkusi
: Sonor
Auskultasi : vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/Jantung :
Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
Palpasi
: iktus cordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi
: batas jantung kiri : 1 jari medial LMCS RIC V, kanan : LSD, atas : RIC II
Auskultasi : bunyi jantung murni, regular, bising (-)
Abdomen :
Inspeksi : perut tidak tampak membuncit, distensi (-)
Palpasi
: Nyeri tekan (+) pada epigastrium, Nyeri lepas (-), defans muscular (-)
Hepar dan Lien tidak teraba
Perkusi
: Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Rectal touche:

Anus tenang
Sfingter menjepit
Mukosa licin
Ampula kosong
Handschoen : feses berwarna hitam

Ekstremitas : Tampak pucat, akral hangat, refilling kapiler baik, edema -/2

Pemeriksaan Penunjang :
Laboratorium :
Darah rutin
Hb

: 6,3 gr%,
Leukosit
: 8.900/mm ,
Trombosit : 201.000/mm
Ht
: 19 %
GDR : 296 mg/dl

Diagnosis
Anemia e.c Melena e,c Suspect Gastropati NSAID
Hipertensi grade II
Penatalaksanaan
IVFD RL 8 jam/kolf
Inj. Ranitidin 2 x 1 amp i.v
Inj. Omeprazol 1 x 1 vial i.v
Sucralfat syr 3 x C1
Domperidon 3 x 1 tab
Paracetamol 3 x 500 mg (k/p)
Captopril 3 x 25 mg
Transfusi PRC 4 kantong. 1 kantong/hari pre lasix
Diet ML
Anjuran cek GDP/G2PP

Follow Up
Tanggal
10 / 7 / 14
09.00

Perjalanan Penyakit
S/
Pusing (+)
Mual (+)
Nyeri ulu hati (+)
Muntah (-)
BAB Hitam (+)
O/
TD : 160/90
Mata : konjuntiva anemis
Abd : Supel, NT (+) epigastrium, BU (+) N

Instruksi Dokter
-

WD/
- Anemia e.c Melena e,c Suspect Gastropati NSAID
- Hipertensi
3

IVFD RL 8 jam/kolf
Inj. Ranitidin 2 x 1 amp
i.v
Inj. Omeprazol 1 x 1 vial
i.v
Sucralfat syr 3 x C1
Domperidon 3 x 1 tab
Paracetamol 3 x 500 mg
(k/p)
Captopril 3 x 25 mg
Antasida syr 3 x C1
DZP 1 x 5 mg
Rencana masuk PRC 1

kantong hari ini


17.30
11 / 7 / 14
09.00

Rencana masuk darah


TD : 190/ 100
S : 36,5 oC

Transfusi Tunda

S/
Pusing berputar (+)
Nyeri ulu hati (+)
Nafsu makan
Kaki kesemutan (+)
BAB kecoklatan

Th/ Lanjut
- Amlodipin 1 x 10 mg
- Vastigo 2 x 1 tab
- Neurodex 1 x 1 tab
- Curcuma 1 x 1 tab

O/
TD : 200/100
Mata : konjuntiva anemis
Abd : Supel, NT (+) epigastrium
WD/
- Anemia e.c Melena e,c Suspect Gastropati
NSAID
- Hipertensi
15.14

Rencana masuk darah


TD : 170/ 100
S : 36,4 oC

Advice dr. jaga :


- Nifedipin 10 mg (SL)
lalu tensi setelah jam
jika TD < 160 masuk 1
amp furosemid

21.50

TD : 150/ 90
S : 36,5 oC

Transfusi I PRC 1 kantong


pre lasix

12/07/14
10.00

S/
Sakit Kepala (+)
Nyeri ulu hati (+)
Nafsu makan
BAB kecoklatan

Th / lanjut

O/
TD : 150/90
Mata : konjuntiva anemis
Abd : Supel, NT (+) epigastrium
WD/
- Anemia e.c Melena e,c Suspect Gastropati
NSAID
- Hipertensi
13/07/14
10.00

S/
Sakit Kepala (+)

Masuk darah 1 kantong

Nyeri ulu hati (+)


Nafsu makan
BAB kecoklatan

lagi
Th/ lain lanjut

O/
TD : 140/90
Mata : konjuntiva anemis
Abd : Supel, NT (+) epigastrium
WD/
- Anemia e.c Melena e,c Suspect Gastropati
NSAID
- Hipertensi
18.00
14/07/14
09.00

Rencana masuk darah


TD : 160/90 S : 37 oC
S/
Sakit Kepala (+)
Nyeri ulu hati (+)
Nafsu makan
BAB kekuningan
O/
TD : 180/100
Mata : konjuntiva anemis
Abd : Supel, NT (+) epigastrium

Lapor dr. Jaga :


Advice : tunda transfusi
Th/ Lanjut
- Valsartan 1 x 160 mg
- Tunda Transfusi

WD/
- Anemia e.c Melena e,c Suspect Gastropati
NSAID
- Hipertensi
15.00

15/ 07/14
09.00

Rencana masuk darah


TD : 170/100 S : 37 oC

Advice dr. jaga :


- Tunda Transfusi
- Nifedipin 10 mg (SL) cek
ulang tensi jika TD < 160
masuk 1 amp furosemid
- Lanjut transfuse II

S/
BAB biasa
Makan (+)
Tidur (+)

O/
TD : 180/100
Mata : konjuntiva anemis
Abd : Supel, NT (+) epigastrium
5

Nifedipin 10 mg (SL) +
masuk 1 amp furosemid
cek ulang tensi jika TD <
160 Lanjut transfuse
Th/ lain lanjut

WD/
- Anemia e.c Melena e,c Suspect Gastropati
NSAID
- Hipertensi
13.00
16/07/14
10.00

Rencana masuk darah


TD : 145/80 S : 37 oC

Transfusi III PRC

S/
Keluhan tidak ada
Makan (+)
Tidur (+)
BAB biasa
O/
TD : 160/100
Mata : konjuntiva subanemis
Abd : Supel, NT (-) epigastrium
WD/
- Anemia e.c Melena e,c Suspect Gastropati
NSAID (post transfuse 3 kantong PRC)
- Hipertensi

BPL
- Captopril 3 x 25 mg
- Amlodipin 1 x 5 mg
- Valsartan 1 x 80 mg
- Ranitidin 2 x 1 tab
- Sucralfat 3 x c1
- Curcuma 3 x 1 tab
- DZP 1 x 5 mg

Subjektif :
Pasien perempuan datang dengan keluhan pusing sejak 1 minggu yang lalu, pandangan
kadang menjadi gelap dan berputar disertai nyeri ulu hati, mual (+), muntah (+) dan BAB
frekuensi 1x sehari,konsistensi biasa, berwarna hitam sejak 3 hari yang lalu
Objektif :
- Gejala klinis BAB berwarna hitam, mual, nyeri ulu hati, nafsu makan menurun dan
-

letih lesu
Pemeriksaan fisik Kulit : Pucat ,konjungtiva anemis, nyeri tekan pada epigastrium, dan

pada pemeriksaan rectal touche : Handschoen : feses berwarna hitam


Penunjang Hb : 6,3 gr/dl , leukosit : 8.900/mm3, Ht: 19% , Trombosit : 201.000/mm3.

Assessment :
Pasien datang dengan keluhan perdarahan saluran cerna harus dapat dibedakan apakah
perdarahan berasal dari saluran cerna atas atau bawah. Pada pasien ini datang dengan
keluhan BAB berwarna hitam, BAB hitam merupakan akibat perdarahan disaluran
pencernaan atas, misalnya gaster dan duodenum. Warna hitam terjadi akibat darah
tercemar oleh asam lambung. Langkah-langkah awal pada perdarahan saluran cerna atas
yang pertama adalah pemeriksaan awal status hemodinamik, pada pasien ini menunjukkan
tanda-tanda hemodinamik yang stabil, Nadi kuat angkat ,kemudian akral dingin tidak
ada ,nafas teratur, kesadaran komposmentis koperatif, juga BAK tidak ada keluhan.
Dari anamnesis yang ditanyakan adalah riwayat sejak kapan terjadinya perdarahan,
riwayat perdarahan sebelumnya, riwayat perdarahan dalam keluarga, ada atau tidaknya
perdarahan di bagian tubuh lain, pengunaan obat-obatan terutama NSAID, mencari
kemungkinan adanya penyakit hati kronis. Pada pasien ini perdarahan diperkirakan sejak
3 hari yang lalu, dan ada riwayat minum obat rematik selama 3 bulan terakhir,yang
dimana obat rematik merupakan golongan NSAID.
Dari pemeriksaan fisik terlihat kulit pucat, konjungtiva yang anemis, nyeri tekan pada
epigastrium dan juga pada pemeriksaan laboratorium ditemukan Hb 6,3 gr/dl pada awal
pasien masuk. Pasien diagnosis anemia dengan kemungkinan perdarahan saluran cerna.
Untuk mengetahui penyebab anemia pada pasien ini dilakukan pemeriksaan gambaran
darah tepi dan pemeriksaan ulang Hb. Dari hasil laboratorium didapatkan Hb 6,3 gr/dl dan
jika hasil analisis gambaran darah tepi ditemukan anemia normositik normokrom
menunjukkan kecurigaan suatu perdarahan akut.
7

Tatalaksana pada pasien dengan melena e.c gastropati adalah sebaiknya menghentikan
NSAID nya lalu diberikan obat gastroprotektif seperti ranitidine, sukralfat dan antasida
pada pasien ini lalu dilanjutkan dengan transfudi PRC dkarenakan Hb pasien rendah. Pada
pemberian transfuse terjadi hambatan karena pasien memiliki penyakit Hipertensi,
sehingga diperlukan kombinasi obat hipertensi seperti captopril, amlodipin dan valsartan
serta diperlukan pemberian pre lasik sebelum transfusi agar tidak memperberat kerja
jantung selama transfuse.

TINJAUAN PUSTAKA

GASTROPATI NSAID
Gastropati didefenisikan sebagai setiap kelainan yang terdapat pada mukosa lambung
(Tugushi, 2011). Gastropati menunjukkan suatu kondisi dimana terjadi kerusakan epitel atau
endotel tanpa inflamasi pada mukosa lambung. Istilah gastropati dibedakan dengan gastritis,
dimana gastritis menunjukkan suatu keadaan inflamasi yang berhubungan dengan lesi pada
mukosa lambung. Manifestasi klinis dari gastropati adalah kumpulan gejala berupa anoreksia,
nyeri ulu hati, mual, dan muntah (Papadakis & McPhee, 2013). Salah satu penyebab
gastropati adalah efek samping dari pemakaian OAINS, serta beberapa faktor lain seperti,
infeksi H.pylori, konsumsi alkohol, refluks cairan empedu, hipovolemia, dan kongesti kronik
(Pashankar, Bishop, & Mitros, 2002).
OAINS adalah obat yang secara luas digunakan di seluruh dunia untuk pengobatan
nyeri, inflamasi (peradangan), dan demam (Sinha & Gautam, 2013). OAINS merupakan obat
yang secara luas diresepkan dan dan dijual secara bebas (over the counter drug) (Lopez-Pintor
& Lumbreras, 2011).
OAINS memiliki beberapa efek teraputik seperti analgesik, antipiretik, dan
antiinflamasi (Lopez-Pintor & Lumbreras, 2011). Sebagai efek analgesik, obat ini efektif
untuk meredakan nyeri ringan-sedang. Efek antipiretik yang dihasilkan obat ini bisa
digunakan dalam pengobatan demam rematik (Furst & Ulrich, 2007). Untuk efek
antiinflamasi, obat ini digunakan untuk pengobatan osteoartritis dan reumatoid artritis
(Schellack, 2012). Sebagai tambahan terhadap OAINS, aspirin dosis rendah (acetylsalicylic)
digunakan untuk profilaksis primer atau sekunder baik untuk kejadian serebrovaskular atau
kardiovaskular (Schellack,2012). Belakangan ini, penggunaan OAINS juga dilakukan sebagai
pengobatan untuk jenis kanker tertentu (Sinha & Gautam, 2013).
Penggunaan jangka panjang dari OAINS menyebabkan efek samping yang bervariasi
mulai dari gejala seperti mual dan dispepsia sampai komplikasi ulserasi (Lopez-Pintor &
Lumbreras, 2011). Efek samping dari penggunaan OAINS juga ditemukan terhadap sistem
gastrointestinal seperti lesi mukosa, perdarahan, ulserasi peptikum, dan inflamasi dari usus
yang akan berkembang menjadi perforasi, striktur pada usus halus, dan akan berkembang
menjadi masalah kronik. Beberapa efek samping dari penggunaan OAINS mungkin
asimptomatik, tetapi pada banyak kasus dilaporkan, bahwa kejadian ini dapat mengancam
jiwa (Sinha & Gautam, 2013).
Gastropati OAINS adalah gejala gastropati yang mengacu kepada spektrum
komplikasi saluran cerna bagian atas yang dihubungkan oleh penggunaan obat anti inflamasi
non steroid dengan durasi waktu tertentu, dan biasanya disebabkan oleh penggunaan jangka
panjang OAINS. Disebut gastropati OAINS bila terdapat kumpulan gejala-gejala gastropati
yang bervariasi seperti dispepsia, nyeri abdominal, sampai komplikasi yang fatal seperti
perforasi, ulserasi, dan perdarahan dimana gejala-gejala tersebut tidak ditemukan sebelum
menggunakan OAINS (Roth, 2012).
9

Di Indonesia, gastropati OAINS merupakan penyebab kedua gastropati setelah


gastropati yang disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori dan penyebab kedua perdarahan
saluran cerna bagian atas setelah ruptur varises esophagus (Suyata, 2004).
Spektrum penggunaan OAINS yang menginduksi gastropati bervariasi yaitu mulai
dari mual dan dispepsia (prevalensi yang dilaporkan 50%-60%) sampai dengan komplikasi
gastrointestinal yaitu ulserasi peptikum (3%-4%), diikuti dengan perdarahan atau perforasi
sebanyak 1,5% dari pengguna setiap tahun. Hampir 20.000 pasien meninggal setiap tahun
akibat komplikasi gastrointestinal yang serius dari pemakaian OAINS. Bahkan pemakaian 75
mg/hari dari aspirin dapat mengakibatkan ulserasi gastrointestinal yang serius, sehingga tidak
memberikan dosis OAINS adalah cara yang paling aman. Hal ini juga dipengaruhi oleh
faktor-faktor lain seperti usia, riwayat ulserasi terdahulu, penggunaan kortikosteroid,
penggunaan dosis tinggi OAINS, penggunaan beberapa OAINS, penggunaan antikoagulan,
dan penyakit sistemik yang serius. Faktor resiko yang mungkin termasuk adalah infeksi oleh
H.pylori, merokok, dan mengonsumsi alkohol (Kasper, Hauser, Longo, Braunwald, Fauci, &
Jameson, 2008).
Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) digunakan untuk mengobati reumatoid artritis,
osteoartritis atau nyeri. Berbagai jenis OAINS dapat menghambat sintesis prostaglandin (PG)
yang merupakan mediator inflamasi dan mengakibatkan berkurangnya tanda inflamasi. Akan
tetapi, PG khususnya PGE2 sebenarnya merupakan zat yang bersifat protektor untuk mukosa
saluran cerna atas. Hambatan sintesis PG akan mengurangi ketahanan mukosa, dengan efek
berupa lesi akut mukosa gaster bentuk ringan sampai berat. Gastropati OAINS adalah lesi
mukosa gaster yang berhubungan dengan terapi OAINS.
Manifestasi klinis bervariasi dari tanpa gejala, gejala ringan dengan manifestasi
tersering dispepsia, heartburn, abdominal discomfort, dan nausea; hingga gejala berat seperti
tukak peptik, perdarahan, perforasi. Tidak ada korelasi antara kerusakan mukosa dengan
gejala abdominal bagian atas pada penderita pengguna OAINS. Selain itu, tidak ada dosis
OAINS yang benar-benar aman sehingga identifikasi faktor risiko penting pada penggunaan
OAINS. Faktor risiko gastropati OAINS adalah usia lebih tua dari 60 tahun, beratnya
kerusakan, pengobatan lebih dari satu macam OAINS atau penggunaan bersama dengan
kortikosteroid, OAINS dosis tinggi, riwayat tukak peptik, penggunaan bersama dengan
antikoagulan, infeksi Helicobacter pylori sebelum terapi, dan mengidap penyakit sistemik
yang berat.
Diagnosis gastropati OAINS ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis,
laboratorium, endoskopi, dan pemeriksaan histopatologi. Jika tidak tertangani dengan baik,
komplikasi gastropati OAINS dapat muncul pada penderita. Komplikasi tersebut meliputi
perdarahan gastrointestinal (hematemesis, melena), perforasi, striktura, syok hipovolemik, dan
kematian.
Patofisiologi

10

Patofisiologi utama kerusakan gastroduodenal akibat OAINS adalah disrupsi


fisiokimia pertahanan mukosa gaster dan inhibisi sistemik terhadap pelindung mukosa gaster
melalui inhibisi aktivitas COX mukosa gaster.1 Kerusakan pertahanan mukosa terjadi akibat
efek OAINS secara lokal. Beberapa OAINS bersifat asam lemah sehingga bila berada dalam
lambung yang lumennya bersifat asam (pH kurang dari 3) akan berbentuk partikel yang tidak
terionisasi. Dalam kondisi tersebut, partikel obat akan mudah berdifusi melalui membran lipid
ke dalam sel epitel mukosa lambung bersama dengan ion H+. Dalam epitel lambung, suasana
menjadi netral sehingga bagian obat yang berdifusi terperangkap dalam sel epitel dan terjadi
penumpukan obat pada epitel mukosa. Akibatnya, epitel menjadi sembab, pembentukan PG
terhambat, dan terjadi proses inflamasi.2-5 Selain itu, adanya uncoupling of mitochondrial
oxidative phosphorylation yang menyebabkan penurunan produksi adenosine triphosphate
(ATP), peningkatan adenosine monophosphate (AMP), dan peningkatan adenosine
diphosphate (ADP) dapat menyebabkan kerusakan sel. Perubahan itu diikuti oleh kerusakan
mitokondria, peningkatan pembentukan radikal oksigen, dan perubahan keseimbangan
Na+/K+ sehingga menurunkan ketahanan mukosa lambung. Lebih lanjut lagi, kondisi itu
memungkinkan penetrasi asam, pepsin, empedu, dan enzim proteolitik dari lumen lambung ke
mukosa dan menyebabkan nekrosis sel.
Inhibisi sistemik terhadap pelindung mukosa gaster terjadi melalui penghambatan
aktivitas COX mukosa gaster. Prostaglandin yang berasal dari esterifikasi asam arakidonat
pada membran sel berperan penting dalam memperbaiki dan mempertahankan integritas
mukosa gastroduodenal. Enzim utama yang mengatur pembentukan PG adalah COX yang
memiliki dua bentuk yaitu COX-1 dan COX-2. Masing-masingenzim tersebut memiliki
karakteristik berbeda berdasarkan struktur dan distribusi jaringan. COX-1 yang berada pada
lambung, trombosit, ginjal, dan sel endotelial, memiliki peran penting dalam mempertahankan
integritas fungsi ginjal, agregasi trombosit, dan integritas mukosa gastrointestinal. Sementara
itu, COX-2 yang diinduksi oleh rangsangan inflamasi terekspresi pada makrofag, leukosit,
fibroblas, dan sel sinovial.
Pada jaringan inflamasi, OAINS memiliki efek menguntungkan melalui
penghambatan COX-2 dan efek toksik melalui penghambatan COX-1 yang dapat
menyebabkan ulserasi mukosa gastrointestinal dan disfungsi ginjal. Penghambat COX-2
selektif mempunyai efek menguntungkan dengan menurunkan inflamasi jaringan dan
mengurangi efek toksik terhadap saluran cerna. Namun demikian, golongan tersebut memiliki
efek samping pada sistem kardiovaskular berupa peningkatan risiko infark miokard, stroke,
dan kematian mendadak. Efek samping tersebut berkaitan dengan efek antiplatelet yang
minimal pada penghambat COX-2 karena tidak memengaruhi tromboksan A2 (TX-A2). TXA2 merupakan suatu agonis platelet dan vasokonstriktor serta secara selektif menyupresi
prostasiklin endotel. Oleh karena itu, Food and Drugs Administration (FDA) telah menarik
valdekoksib dan rofekoksib yang memiliki efek samping pada kardiovaskular dari pasaran.
Selekoksib adalah penghambat COX-2 dengan efek kardiovaskular paling minimal dan aman
digunakan dengan dosis rendah 200 mg/hari. Sebagai konsekuensi penghambatan COX,
sintesis leukotrien meningkat melalui perubahan metabolisme asam arakidonat ke jalur 5lipoxygenase (5-LOX). Leukotrien terlibat dalam proses kerusakan mukosa gaster karena
menyebabkan iskemik jaringan dan inflamasi. Peningkatkan ekspresi molekul adhesi seperti
intercellular adhesion molecule-1 oleh mediator proinflamasi menyebabkan aktivasi
11

neutrophilendothelial. Perlekatan neutrofil ini berkaitan dengan patogenesis kerusakan


mukosa gaster melalui dua mekanisme utama: yaitu oklusi mikrovaskular gaster oleh
mikrotrombus menyebabkan penurunan aliran darah gaster dan iskemik sel serta peningkatan
pelepasan oksigen radikal. Radikal bebas tersebut bereaksi dengan asam lemak tak jenuh
mukosa dan menyebabkan peroksidasi lemak serta kerusakan jaringan.
OAINS juga memiliki efek lain seperti menurunkan angiogenesis, memperlambat
penyembuhan, dan meningkatkan endostatin (faktor antiangiogenik) relatif terhadap
endothelial cell growth factor (suatu faktor proangiogenik).
Penanganan Gastropati OAINS
Penanganan perlukaan mukosa karena OAINS terdiri dari penanganan terhadap ulkus
aktif dan pencegahan primer terhadap perlukaan di kemudian hari. Rekomendasi penanganan
dan pencegahan kerusakan mukosa untuk gastropati OAINS dapat dilihat pada tabel 1.
Idealnya, OAINS dihentikan sebagai langkah pertama terapi ulkus. Selanjutnya, pada
penderita diberikan obat penghambat sekresi asam (penghambat H2, PPIs). Akan tetapi,
penghentian OAINS tidak selalu memungkinkan karena beratnya penyakit yang mendasari.
Penggunaan protein pump inhibitor (PPI) berhubungan dengan penyembuhan ulkus dan
mencegah relaps pada penderita yang menggunakan OAINS jangka panjang.
Tabel 1. Rekomendasi Penanganan Kerusakan Mukosa
Klinis
Ulkus aktif
NSAID dihentikan

NSAID dilanjutkan

Terapi profilaksis

Rekomendasi

Antagonis reseptor H2 , Protein pump


inhibitor
Protein pump inhibitor
Misoprostol
Protein pump inhibitor
Pengambat COX-2 selektif

Infeksi H. pylori

Eradikasi jika terdapat ulkus aktif atau


riwayat ulkus peptik

Pencegahan untuk gastropati OAINS juga dapat dilakukan dengan menggunakan


OAINS yang secara teori kurang menyebabkan kerusakan, menggunakan PAINDS bersama
dengan obat pencegah kerusakan, dan eradikasi H. pylori. Untuk pencegahan ulkus primer
dapat digunakan misoprostol (4 kali 200 g per hari) atau PPI. Penghambat H2 dosis tinggi
(famotidine 2 kali 40 mg per hari) dapat dianjurkan sebagai pengganti PPI walaupun PPI
12

seperti omeprazole dan pantoprazole lebih superior. Penghambat COX-2 selektif, selesoksib
dan rofesoksib, nyatanya 100 kali lebih selektif dalam menghambat COX-2 dibanding OAINS
standar, tetapi penggunaannya meningkatkan gangguan kardiovaskular. Castellsague et al15
menemukan risiko komplikasi ulkus peptik pada penggunaan selesoksib dan rofesoksib
setengah kali lebih rendah dibanding OAINS tidak selektif. Efek pencegahan komplikasi
gastrointestinal oleh selesoksib dan rofesoksib hilang ketika digunakan bersama aspirin dosis
rendah. Oleh karena itu, terapi untuk melindungi lambung dibutuhkan pada penderita yang
menggunakan penghambat COX-2 dan aspirin.
Risiko gastrointestinal OAINS dibagi menjadi risiko rendah (tidak ada faktor risiko),
sedang (1 atau 2 faktor risiko berupa usia di atas 65 tahun, OAINS dosis tinggi, riwayat ulkus
tidak terkomplikasi, penggunaan bersama aspirin, kortikosteroid atau antikoagulan), tinggi
(>2 faktor risiko atau riwayat ulkus yang terkomplikasi). Petunjuk pendekatan penggunaan
Penderita yang tidak berisiko kardiovaskular, tidak menggunakan aspirin, dan tidak berisiko
komplikasi gastrointestinal dapat menerima OAINS nonselektif tanpa perlindungan lambung.
Pada penderita tanpa risiko kardiovaskular tetapi dengan risiko sedang gastrointestinal dapat
digunakan penghambat COX-2 selektif, OAINS tidak selektif dengan PPI, atau misoprostol.
Penderita dengan riwayat ulkus peptik dengan atau tanpa komplikasi dan menggunakan
aspirin, antiplatelet, kortikosteroid, atau memiliki dua atau lebih faktor risiko dikategorikan
sebagai risiko tinggi dan diterapi dengan penghambat COX-2 selektif disertai PPI atau
misoprostol.Penderita yang baru mengalami ulkus peptik terkomplikasi, misalnya perdarahan,
memiliki faktor risiko yang sangat tinggi dan sebaiknya tidak menggunakan OAINS atau jika
harus menggunakan dapat dipilih penghambat COX-2 selektif disertai PPI atau misoprostol.
Perdarahan gastrointestinal berulang tidak berbeda pada penderita menggunakan OAINS
nonselektif dengan PPI dibanding penghambat COX-2 selektif.
Pada penderita dengan faktor risiko kardiovaskular yang membutuhkan aspirin dosis
rendah dan memiliki risiko rendah toksisitas oleh OAINS dapat dipertimbangkan penggunaan
terapi non-OAINS. Jika tidak ada pilihan, penderita dapat diberikan pelindung lambung (PPI
atau misoprostol) dengan apapun OAINS yang diberikan. Sebaiknya, pada penderita dipilih
OAINS yang kurang kardiotoksik seperti naproksen. Selain naproksen, ibuprofen dosis
kurang dari 1200 mg memiliki toksisitas kardiovaskular rendah. Penderita dengan risiko
kardiovaskular dan risiko tinggi gastrointestinal seharusnya tidak menggunakan OAINS atau
penghambat COX-2.
Obat Gastroprotektif
Antagonis Reseptor H2
Dengan struktur serupa dengan histamin, antagonisreseptor H2 tersedia dalam empat
macam obat yaitu simetidin, ranitidin, famotidin, dan nizatidin. Walaupun setiap obat
memiliki potensi berbeda, seluruh obat secara bermakna menghambat sekresi asam secara
sebanding dalam dosis terapi. Tingkat penyembuhan ulkus sama ketika digunakan dalam
dosis yang tepat. Dua kali sehari dengan dosis standar dapat menurunkan angka kejadian
ulkus gaster. Selain itu, antagonis reseptor H2 dapat menurunkan risiko tukak duodenum
13

tetapi perlindungan terhadap tukak lambung rendah. Dosis malam yang sesuai adalah ranitidin
300 mg, famotidin 40 mg dan nizatidin 300 mg.
Proton Pump (H+,K+-ATPase) Inhibitors
Proton pump inhibitors merupakan pilihan komedikasi untuk mencegah gastropati
OAINS. Obat ini efektif untuk penyembuhan ulkus melalui mekanisme penghambatan HCl,
menghambat pengasaman fagolisosom dari aktivasi neutrofil, dan melindungi sel epitel serta
endotel dari stres oksidatif melalui induksi haem oxygenase-1 (HO-1).10 Enzim HO-1 adalah
enzim pelindung jaringan dengan fungsi vasodilatasi, anti inflamasi, dan antioksidan. Waktu
paruh PPIs adalah 18 jam dan dibutuhkan 2-5 hari untuk menormalkan kembali sekresi asam
lambung setelah pemberian obat dihentikan. Efikasi maksimal didapatkan pada pemberian
sebelum makan.5 Obat PPI menyebabkan pengurangan gejala klinis dyspepsia karena OAINS
dibanding antagonis reseptor H2 maupun miso-prostol. Lansoprazol dan misoprostol dosis
penuh secara klinis menunjukkan efek ekuivalen. Esomeprazole 20 dan 40 mg meredakan
gejala gastrointestinal bagian atas pada penderita yang tetap menggunakan OAINS.
Analog Prostaglandin
Misoprostol adalah analog prostaglandin E1 yang digunakan secara lokal untuk
mengganti PG yang dihambat oleh OAINS. Analog PG meningkatkan sekresi mucus
bikarbonat, stimulasi aliran darah mukosa dan menurunkan pergantian sel mukosa. Namun
demikian, misoprostol tidak mengurangi keluhan dispepsia. Toksisitas paling sering adalah
diare (angka kejadian 10-30%). Toksisitas lainnya dapat berupa kontraksi dan perdarahan
uterus. Dosis terapi standar dengan misoprostol adalah 200 g empat kali sehari.
Kesimpulan
Gastropati OAINS adalah lesi mukosa gaster yang berhubungan dengan penggunaan
OAINS. Mekanisme terjadinya gastropati OAINS berhubungan dengan efek local yang
disebabkan oleh terperangkapnya OAINS dalam sel mukosa gaster dan efek sistemik melalui
penghambatan COX yang menyebabkan sintesis PG terhambat. Penghentian OAINS,
pemilihan OAINS, dan penggunaan obat gastroprotektif dengan mempertimbangkan risiko
gastrointestinal dan kardiovaskular merupakan tatalaksana dalam menangani gastropati
OAINS.

14