Anda di halaman 1dari 5

PATRIOTISME HANG TUAH

Kirimkan Ini lewat Email


BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Bagikan ke Pinterest

KARYA sastra klasik Melayu yang paling kuat pengaruhnya terhadap patriotisme adalah
Hikayat Hang Tuah. Pengaruh itu paling terasa terutama bagi masyarakat Melayu walaupun
masyarakat lain yang pernah membacanya juga sangat mungkin untuk merasakan
sentuhannya. Di kalangan orang Melayu pengaruh Hikayat Hang Tuahkhasnya pengaruh
tokoh-tokohnya Hang Tuah, Hang Jebat, dan Bendahara Paduka Rajatelah berlangsung
sejak zaman-berzaman hingga sekarang. Nilai-nilai yang terkandung di dalam hikayat ini,
termasuk nilai patriotisme, menjadi pedoman nilai dalam hidup bagi orang Melayu, baik
generasi tua maupun generasi muda. Inilah contoh karya sastra yang tak lekang dek panas
dan tak lapuk dek hujan.

Di samping yang memang telah diterima dan dipahami selama ini, nilai-nilai yang
dikandungnya terus mengalami reinterpretasi, terutama oleh kalangan muda. Di antara nilainilai yang kerap menjadi perdebatan ialah nilai utama yang menjadi tema Hikayat Hang Tuah
yaitu kesetiaan dan ketaatan. Begitu pula nilai-nilai keadilan, kebijakan, kearifan,
persahabatan, cinta-kasih, kerja sama, kerja keras, dan sebagainya yang memunculkan
patriotisme terus didalami oleh generasi muda Melayu dewasa ini. Perkara itu memang
mustahak karena kesemuanya itulah yang membentuk mentalitas dan jati diri orang Melayu.
Pada gilirannya, nilai-nilai baik yang membentuk mentalitas itu menjadi pedoman serta daya
dorong dan atau pemacu semangat dalam kehidupan, sama ada untuk berpikir, berasa,
bersikap, berkelakuan, belajar, ataupun bekerja.

Prof. Dr. Siti Hawa Haji Salleh dalam bukunya Kelopak Pemikiran Sastera Melayu (Penerbit
Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia, 2009:383401) menempatkan Hikayat
Hang Tuah sebagai epik Melayu yang membanggakan. Pernyataan beliau itu memang tak

terbantahkan. Buktinya, sampai kini cerita-cerita di dalam Hikayat Hang Tuah tetap terpatri di
dalam minda dan hati sanubari orang Melayu di mana pun mereka bermastautin.

Tujuan dan tema Hikayat Hang Tuah ditempatkan pengarangnya pada permulaan
pengisahan. Ini hikayat Hang Tuah yang amat setiawan pada tuannya dan terlalu sangat
berbuat kebaktian kepada tuannya.

Jelaslah bahwa Hikayat Hang Tuah dimaksudkan oleh pengarangnya untuk menonjolkan
ketokohan Hang Tuah dengan sifatnya yang taat dan setia kepada raja dan negara. Tokohtokoh lain diadakan, bahkan dikorbankan, untuk mendukung ketokohan Hang Tuah. Bukan
hanya tokoh-tokoh yang tak terlalu ada kena-mengena dengan dirinya, bahkan, sahabatnya
yang telah dianggap sebagai saudara kandungnya sendiri, Hang Jebat, harus dibunuh oleh
Hang Tuah demi ketaatan dan kesetiaannya kepada raja (dan negara?).

Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu memang menjadi idola
orang muda-muda Melayu, terutama Hang Tuah dan Hang Jebat. Kesempurnaan fisik dan
sifat mereka sebagai wira (pahlawan) sungguh memesona. Sifat mereka yang rajin menuntut
ilmu dan bekerja keras memungkinkan mereka mengubah status diri dari hanya sebatas
rakyat biasa menjadi pembesar negara. Mereka memperoleh status itu bukan secara
terwaris, melainkan dengan jerih payah yang tanpa mengenal lelah dan putus asa.
Keberanian mereka dalam membela negara tak ada tolok bandingnya.

Kecuali itu, jika Hang Tuah disebutkan mulutnya dengan manisnya berkata-kata, Hang
Jebat pula diperikan oleh pengarang dengan perkataannya keras. Guru mereka Sang Aria
Putera jauh-jauh hari lagi telah meramalkan bahwa kelima orang bersahabat itu akan
menjadi pegawai besar.

Hang Tuah dan ketiga sahabatnya, sekali lagi kecuali Hang Jebat, juga diramalkan akan
menerima nasib baik kemudian hari. Bahkan, Hang Tuah diberitahukan akan terbebas dari
segala perbuatan hasad-dengki dan fitnah yang dihalakan (diarahkan) kepadanya. Akan
tetapi, tak ada alamat baik yang disebutkan untuk Hang Jebat. Kesemuanya itu menjadi

isyarat bahwa pada akhirnya Hang Tuah akan dipertentangkan dengan sahabatnya Hang
Jebat.

Pada tokoh Bendahara Paduka Raja juga dapat diambil contoh ketaatan dan kesetiaan
kepada raja dan negara. Selain itu, dari tokoh ini sangat patut ditiru kebijaksanaan, kearifan,
dan kepiawaian dalam menyelamatkan negara dan raja. Dia pun adalah tokoh yang sangat
santun berbahasa dan rendah hati. Dalam hal ini, Bendahara terkesan jauh lebih arif
daripada raja sekalipun.

Hanya karena jauh lebih tua dan tak bertempur langsung di medan perang, kendatipun dia
yang mengatur strategi perang, Bendahara Paduka Raja berada di bawah ketokohan Hang
Tuah. Walaupun begitu, nilai-nilai patriotisme sangat ketara pada tokoh Bendahara ini.
Ketokohannya mengingatkan orang akan tokoh Demang Lebar Daun di dalam Sulalat alSalatin (Sejarah Melayu).

Tokoh raja pula diperikan sangat taksa, ambigu. Dia condong mempermainkan keadilan
sesuai dengan seleranya, sewenang-wenang, dan sekehendak hatinya. Kebijaksanaannya
dalam menyelenggarakan negara dan memerintah membuat pembaca berasa kelam-kabut
di dalam hati. Dari kebijaksanaannya yang terkesan tergesa-gesalah yang memunculkan
tragedi pendurhakaan Hang Jebat.

Hukuman mati yang dijatuhkan kepada Hang Tuah yang selama ini sangat taat dan setia
kepada raja dan negara membangkitkan kemarahan Hang Jebat. Raja seolah-olah tak
memiliki kecerahan dan kebeningan nurani untuk membedakan kasa dengan cindai; kaca
dengan permata. Secara objektif, pengarang seolah-olah hendak menegaskan bahwa selagi
bernama manusia, raja pun memiliki kelemahan, di samping kelebihan yang ada padanya.
Akan tetapi, para pembaca mempunyai tafsiran lain: penguasa memang cenderung berlaku
zalim. Alhasil, tindakan Hang Jebat mendapat sokongan setidak-tidaknya dari sebagian
pembaca.

Dalam keadaan serupa itu, tak ada jalan lain bagi Hang Jebat, selain menuntut bela. Raja
adil raja disembah, raja zalim raja disanggah, ungkapannya yang terkenal itu terus

terngiang-ngiang di dalam minda dan hati orang Melayu. Ungkapan itu menjadi setara,
sejajar, sebanding, dan setanding dengan ucapanan Hang Tuah, Tuah sakti hamba negeri,
esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, tak Melayu hilang di bumi.
Nampaknya, kedua tokoh ini terus dan selamanya berupaya berebut simpati pembacanya
dengan pikiran, perasaan, sikap, dan perilaku khas mereka masing-masing. Tindakan Hang
Jebat itu mengingatkan kita akan Sumpah Setia Melayu antara Demang Lebar Daun dan
Sang Sapurba di dalam Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu). Dalam hal ini, bukankah raja
yang mengubahkan (mengingkari) Sumpah Setia itu?

Maka sembah Demang Lebar Daun, Adapun Tuanku segala anak-cucu patik sedia jadi
hamba ke bawah duli Yang Dipertuan; hendaklah ia diperbaiki oleh anak-cucu duli Tuanku.
Dan, (jika) ia berdosa, sebesar-besar dosanya pun, jangan ia difadhihatkan, dinista dengan
kata yang jahat; jikalau besar dosanya dibunuh, itu pun jikalau berlaku pada hukum syarak.

Maka titah Sang Sapurba, Hendaklah pada akhir zaman kelak anak-cucu Bapa hamba
jangan durhaka pada anak-cucu kita, jikalau ia zalim dan jahat pekerti sekalipun.

Maka sembah Demang Lebar Daun, Baiklah Tuanku, tetapi jikalau anak buah Tuanku
dahulu mengubahkan dia, maka anak-cucu patik pun mengubahkanlah.

Maka titah Seri Tri Buana,Baiklah, kabullah hamba akan waad itu.

Maka keduanya pun bersumpah-sumpahlah, barang siapa mengubahkan perjanjiannya itu


dibalik(kan) Allah subhanahu wa taala bumbungan rumahnya ke bawah, kaki tiangnya ke
atas.

Hikayat Hang Tuah telah berhasil memberikan pengaruh positif terhadap patriotisme
masyarakat, terutama masyarakat Melayu. Sampai setakat ini tokoh-tokoh, watak, dan
peristiwa yang diceritakan di dalam hikayat itu masih terus menjadi perbincangan. Para
pemuda Melayu dihadapkan pada pilihan sulit: hendak berpihak kepada Hang Tuah atau
Hang Jebat dalam menunjukkan jati diri Melayu. Apalagi, pengarang memang membuka
ruang seluas-luasnya untuk pembaca menentukan sikap dan pilihannya walau ceritanya
dipusatkan pada ketokohan Hang Tuah. Dalam hal ini, Hikayat Hang Tuah menjadi karya
sastra sejarah (karya sastra yang diangkat dari peristiwa sejarah) yang sangat berhasil
menampilkan karakter tokohnya.

Para pakar sejarah, sastra, dan atau budaya boleh melakukan analisis dan interpretasi
ilmiah apa pun sesuai dengan bidang ilmu mereka masing-masing. Akan tetapi, khalayak
penikmat (entah memang membacanya atau sekadar mendengarkan ceritanya dari orang
yang pernah membacanya) mempunyai penilaian tersendiri. Dalam hal ini, pilihan kepada
Hang Jebat, justeru, makin mengemuka di kalangan generasi muda Melayu masa kini.
Perbedaan ruang dan waktu, barangkali, menjadi penyebab utama peralihan pilihan ke arah
yang berlawanan itu.***

oleh Abdul Malik pada 27 Desember 2011 pukul 22:31


Batam Pos, Ahad, 25 Desember 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Posted by attayaya at 08.18