Anda di halaman 1dari 24

EATING BEHAVIOUR DISORDER

MAKALAH
Ditulis untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Phsycological Nutrition

Disusun Oleh :
Kelompok 2
Ulfa Anggraini M.

125070300111007

Rizka Nur Farida

125070300111016

Haqqelni Nur Rosyidah

125070300111026

Vivian Devi Eka E.

125070300111043

Rani Ilminawati

125070301111004

Dwiyanti Caesarria Hartiwi

125070301111010

Eryn Patria Perdani

125070301111019

Atika Audini

125070301111030

Unun Fitry Febria Bafani

125070306111003

Dhea Ramareta

125070307111010

PROGRAM STUDI GIZI KESEHATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Eating disorder terjadi ketika seseorang mengalami gangguan kebiasaan makan yang
parah, seperti pengurangan intake makanan yang ekstrim atau kelebihan makan yang
ekstrim, atau perasaan khawathir yang berlebihan mengenai berat badan atau bentuk
badannya. Dua tipe utama dari eating disorder adalah anorexia nervosa dan bulimia
anorexia (National Institute of Mental Health, tanpa tahun).
Anorexia nervosa merupakan masalah health care utama dan telah menjadi penyakit
kronis diantara wanita muda saat ini (Touyz & Beumont: 2001). Anorexia ditandai
dengan penurunan berat badan, keinginan yang kuat untuk tidak mempertahankan bert
badn normalnya serta ketakutan akan naiknya berat badan dan merupakan gangguan
kebiasaan makan yang ekstrim. Orang- orang dengan anorexia kehilangan berat
bandannya dengan cara diet dan latihan secara berlebih (National Institute of Mental
Healt, tanpa tahun).
Bulimia nervosa ditandai dengan kebiasaan makan dalam jumlah besar dan perasaan
mengontrol makan yang rendah. Ketidak mampuan untuk mengontrol nafsu makan ini
diikuti dengan perilaku kompnsasi dengan cara memuntahkan makanannya secra paksa
atau dengan menyalah gunakan penggunaan obat pencahar ataupun diuretic, berpuasa,
ataupun melakukan latihan secara berlebihan. Sama seperti anorexia, orang dengan
bulimia takut dengan peningkatan berat badan, sangat ingin menurunkan berat badan, dan
tidak senang dengan ukuran serta bentuk tubuh mereka. Biasanya, kebiasaan bulimia ini
dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena diikuti dengan perasaan malu.
Eating disorder sering muncul pada remaja atau masa dewasa awal. Wanita lebih
berisiko mengalami Eating disorder dibanding pria.
1.2 Rumusan Masalah
- Anorexia Nervosa
1. Apa yang di maksud dengan Anorexia Nervosa?
2. Bagaimana prevalensi terjadinya Anorexia Nervosa?
3. Bagaimana penanganan seseorang yang mengalami Anorexia Nervosa?
4. Apa saja etiologi dari Anorexia Nervosa?
5. Bagaimana ciri-ciri seseorang yang mengalami Anorexia Nervosa?
6. Apa saja komplikasi medis yang terjadi pada seseorang yang mengalami
Anorexia Nervosa?
7. Apa saja gangguan psikologis yang dapat terjadi pada seseorang yang mengalami
-

Anorexia Nervosa?
Bulimia Nervosa
1. Apa yang dimaksud dengan Bulimia Nervosa?

2.
3.
4.
5.
6.

Bagaimana prevalensi terjadinya Bulimia Nervosa?


Bagaimana penanganan seseorang yang mengalami Bulimia Nervosa?
Apa saja etiologi dari Bulimia Nervosa?
Bagaimana ciri-ciri seseorangyang mengalami Bulimia Nervosa?
Apa saja komplikasi medis yang terjadi pasa seseorang yang mengalami Bulimia

Nervosa?
7. Apa saja gangguan psikologis yang dapat terjadi pada seseorang yang mengalami
Bulimia Nervosa?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui gambaran umum dari Anorexia nervosa mulai dari prevalensi, cara
penanganan, etiologi, ciri-ciri, komplikasi medis dan gangguan psikologis yang terjadi
pada seseorang yang mengalami Anorexia Nervosa.
2. Mengetahui gambaran umum dari Bulimia nervosa mulai dari prevalensi, cara
penanganan, etiologi, ciri-ciri, komplikasi medis dan gangguan psikologis yang terjadi
pada seseorang yang mengalami Bulimia Nervosa.
1.4 Manfaat
Kita dapat mengetahui apa saja jenis-jenis dari eating disorder dan gambarannya.
Sehingga kita sebagai ahli gizi jika menemui seseorang atau pasien dengan kelainan
tersebut dapat melakukan intervensi terkait gizi yang tepat terhadap pasien tersebut.

BAB II
ISI
2.1 Anoreksia Nervosa
2.1.1 Definisi Anorexia Nervosa
Anoreksia nervosa merupakan sutau kebiasaan keengganan untuk mempertahankan
berat badan normal atau sehat, dan distorsi citra tubuh yang sangat mempengaruhi perilaku
makan secara ektrim. Menurut Wardlaw et al dalam Nurhayati (2012), anoreksia adalah
aktivitas untuk menguruskan badan dengan melakukan pembatasan makan secara sengaja
dan melalui kontrol yang ketat karena ketakutan akan kegemukan dan bertambahnya berat
badan.
Beberapa cara penurunan berat badan yang dilakukan pada orang yang mengalami
anoreksia diantaranya dengan diet dan berolahraga secara berlebihan, penginduksian untuk
muntah, menyalahgunakan obat pencahar, diuretik, atau enema. Namun banyak orang
dengan anoreksia melihat bahwa diri mereka mengalami kelebihan berat badan, padahal
terlihat jelas bahwa mereka mengalami kelaparan atau malnutrisi. Biasanya orang yang
mengalami anoreksia menimbang berat badannya secara berulang kali, memorsi
makanannya dengan hati-hati dan dengan kuantitas makan yang sangat kecil.
Anoreksia dapat sembuh dengan menjalani pengobatan tertentu, namun apabila
kambuh gangguan makan seperti ini justru akan memperburuk kesehatan dan lebih
kejadian yang muncul akan jauh lebih kronis daripada sebelumnya.
2.1.2 Prevalensi Anorexia Nervosa
Menurut Holmes (2006) dan Lee (2005) dalam Tantiani (2012), prevalensi
penderita anoreksia nervosa di Amerika adalah sebesar 0,5% pada perempuan, prevalensi
di Jepang adalah sebesar 0,025%-0,030% sementara itu di Cina menurut suatu studi
prevalensi penderita anoreksia nervosa adalah sebesar 0,01%.
Sedangkan di Indonesia, 12-22% wanita berusia 15-29 tahun menderita defisiensi
energi kronis (IMT <18,5) di beberapa kawasan. Apakah defisiensi ini disebabkan oleh
gangguan makan atau hal lain tidaklah dijelaskan secara rinci (Atmarina, dalam Sofyani
2011).

2.1.3 Etiologi dan Ciri Ciri Anorexia Nervosa


Ciri ciri anorexia nervosa
-

Kekurusan
Selalu ingin tampak lebih kurus dari keadaanya sekarang
Enggan mempertahankan berat badan normal atau sehat
Memiliki pencitraan terhadap tubuh yang mennyimpang
Sangat takut dengan kenaikan berat badan
Tidak mengalami menstruasi
Mengalami gangguan perilaku makan
Diet dan olah raga secara berlebihan
Membuat dirinya sendiri agar mengalami muntah
Menyalahgunakan obat pencahar, diuretik, atau enema
Penipisan tulang (osteopenia atau osteoporosis)
Rambur dan kuku rapuh
Kulit kering dan kekunigan
Pertumbuhan rambut halus diatas tubuh (lanugo)
Anemia ringan
Otot lemah dan hilang
Sembelit parah
Tekanan darah rendah, memperlambat pernapasan dan denyut nadi
Penurunan suhu tubuh
letargi
kerusakan otak
kerusakan banyak organ
infertilitas
Perkembangan sosial budaya
Sikap budaya terhadap standart daya tarik fisik

Kriteria diagnostik untuk Anorexia nervosa


-

Penolakan untuk mempertahankan berat badan pada atau di atas minimal yang normal
Berat untuk usia dan tinggi (misalnya, penurunan berat badan yang mengarah
kepemeliharaan berat badan kurang dari 85% dari yang diharapkan, atau kegagalan
untuk membuat berat badan yang diharapkan selama periode pertumbuhan,

menyebabkan berat badan kurang dari 85% dari yang diharapkan.)


takut intens kenaikan berat badan atau menjadi gemuk, meskipun berat badan.
Gangguan dalam cara di mana berat badan seseorang atau bentuk yang dialami,
pengaruh yang tidak semestinya dari berat badan atau bentuk pada evaluasi diri, atau

penolakan keseriusan saat ini berat badan rendah.


Pada wanita postmenarcheal, amenore, yaitu, tidak adanya setidaknya tiga siklus

menstruasi berturut-turut.
bingeeating (yaitu, self-induced muntah atau penyalahgunaan obat pencahar, diuretik,
atau enema)

Purging Type: orang yang telah secara teratur terlibat dalam bingeeating yaitu,
diinduksi diri sendiri untuk muntah atau penyalahgunaan obat pencahar, diuretik, atau
enema

Gejala anorexia tampak fisik :


-

Terlalu kurus dan atau terlihat banyak kehilangan berat badan


Kulit kering, warna pucat, rambut tipis
Kesehatan rendah
Mata cekung
Tumbuh lanugo
Kehilangan kesadaran
Amenorrhea, berhentinya fase menstruasi

Gejala anorexia tampak tingkah laku :


-

Merahasiakan cara makan


Tidak makan dengan orang lain
Memiliki kebiasaan makan yang tidak normal
o Makan lambat
o Memotong makanan menjadi sangat kecil
o Tidak makan saat jam makan
Memiliki ketertarikan yg tidak wajar terhadap makanan, namun tidak mau makan
Membuat makanan enak untuk orang lain, namun tidak mau memakan masakannya

sendiri
Selalu menganggap dirinya gemuk
Sering membicarakan makanan
Membuat rencana makanan setiap hari
Penyalahgunaan obat pencahar
Perfeksionis

Gejala lain :
-

Pusing
Kedinginan
Sembelit
Pembengkakan sendi
Temperatur turun karena kurang lemak
Tekanan darah menurun drastis
Nafas melemah

Kriteria diagnostik Anorexia Nervosa


-

Mengurang berat badan secara sengaja


Mempertahankan berat badan sekitar 15% dari berat badan yang ideal
Merangasang muntah oleh dirinya sendiri
Menggunakan pencahar
Olah raga berlebihan
Memakai obat penekan nafsu makan
Ketakutan gemuk yang terus menerus
Gangguan endokrin yang meluas

Etiologi anorexia nervosa


-

Mengalami penyakit kejiwaan


Depresi
Cemas berlebihan
Obsesif
Menyalahgunaan zat
Komplikasi jantung dan neurologis
Gangguan perkembangan fisik

Faktor penyebab Anorexia Nervosa (menurut Kaplan dkk, 1997, h. 179-180)


-

Faktor biologis
Kelaparan menyebabkan banyak perubahan kimiawi. Fungsi tiroid menjaadi tertekan.
Pada beberapa penelitian tomografi menemukan pembesaran rongga cairan
serebrosinalis(pembesaran sulkus dan ventrikel) pada penderita anoreksia nevosa
selama kelaparan. Metabolisme nukleus kaudatus lebih tinggi pada keadaan anoreik

dibandingkan setelah pemberian makan.


Faktor sosial
Memiliki riwayat keluarga depresi, ketergantungan alkohol, mengalami gangguan

makan
Faktor psikologis
Karena timbulnya kelaparan yang diciptakan diri sendiri. Memiliki dorongan yang
tidak dapat diterima dan dapat secara proyektif mengingkarinya

Faktor penyebab Anorexia Nervosa (menurut Gunn, dkk, dalam Santrock . 1995, h. 29-30)
-

Faktor sosial
Mendorong seseorang melaparkan diri
Faktor psikologis
Motivasi untuk menarik perhatian, keinginan akan individualitas, penolakan

seksualitas, dan cara mengatasi kekangan orang tua. Karena ketidakmampuan memenuhi
standart orang tua yang tinggi. Karena tidak mampu mengendalikan kehdupn sendiri.
2.1.4 Penanganan Anorexia Nervosa
Tiga komponen dalam menangani Anoreksia adalah :
1. Mengembalikan seseorang pada berat badan normal
2. Memberikan perlakuan psikologi yang dihubungkan dengan gangguan makan
3. Menurunkan atau mengeliminasi kebiasaan gangguan makannya selama ini dan
mencegah kambuh kembali
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengunaan obat-obatan seperti
antidepresan, antipsikotik atau stabilisator dapat secara efektif dalam mengobati pasien
dengan anoreksia dengan membantu memperbaiki mood dan rasa kecemasan.

Berbagai bentuk psikoterapi juga penting dalam membantu mengatasi penyakit


gangguan makan ini. Misalnya, terapi yang dilakukan oleh keluarga dimana orangtua
bertanggungjawab terhadap pola makan anak yang menderita anoreksia efektif dalam
menambah berat badan serta meningkatkan kebiasaan makan anak.
Pengobatan gabungan antara pendekatan secara medis dan dukungan psikoterapi
pada pasien anoreksia lebih efektif daripada hanya melakukan dukungan psikoterapi saja.
Namun efektivitas pengobatan tersebut tergantung dari orang yang terlibat dan situasi
lingkungannya.

2.2 Bulimia
2.2.1 Definisi Bulimia
Bulimia berasal dari bahasa Yunani bous yang artinya sapi atau kerbau, dan limos
yang artinya rasa lapar. Gambaran dari istilah tersebut adalah makan yang terus menerus,
seperti sapi yang memamah biak. Bulimia nervosa adalah gangguan makan yang
melibatkan episode berulang-ulang dari tindakan makan berlebihan (binge) tak terkontrol
yang diikuti dengan tindakan kompensatoris untuk mengenyahkan makanan itu (Durand
dan Balow, 2007).
Menurut Siswono, bulimia nervosa dan anorexia nervosa merupakan penyakit atau
gangguan pada kebiasaan atau pola makan. Dalam DSM-IV-TR disebutkan bahwa
bulimia terbagi menjadi 2, yaitu purging type dan non-purging type. Purging type adalah
penderita bulimia yang menggunakan cara langsung seperti memuntahkan atau dengan
memakai obat pencahar, serta non-purging type adalah penderita bulimia yang
menggunakan olahraga yang ketat atau puasa sebagai cara untuk mempertahankan berat
badannya.
Kasus bulimia nervosa dapat dipandang dari beberapa perspektif psikologi,
diantaranya adalah:
1. Psikoanalisa
Psikoanalisa memandang suatu gangguan merupakan dari alam bawah sadarnya.
Gangguan yang terjadi merupakan tabrakan dari keinginan-keinginan tak sadarnya
dengan keinginan-keinginan sadarnya (Gerungan, 2004). Psikoanalisa membagi jiwa
manusia menjadi tiga yaitu id, ego dan super ego. Keinginan untuk makan individu
merupakan id dari individu tersebut. Akan tetapi id yang muncul merupakan keinginan
untuk makan secara terus-menerus (binge). Kemudian muncul keinginan untuk
mengikuti norma masyarakat (superego) yaitu individu merasa bentuk tubuhnya harus

terlihat ideal atau seperti orang lain atau bahkan lebih baik. Kemudian dari pertentangan
tersebut muncul gangguan jiwa seseorang. Ego yang fungsinya sebagai penyeimbang
tidak bisa menyeimbangkannya. Maka dari gejala tersebut individu tersebut akan terusmenerus makan akan tetapi individu tersebut ingin tubuhnya tetap terlihat ideal yang
dimanifestasikan dengan mengeluarkan makanan tersebut atau dengan cara yang lain
agar bentuk tubuhnya tetap ideal.
2. Behavioral
Substansi dari teori skinner adalah teori belajar, pengkajian mengenai bagaimana
proses individu memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih tahu, dan menjadi lebih
trampil. Menurut Skinner (dalam Alwisol, 2006), kehidupan terus menerus dihadapkan
dengan situasi eksternal yang baru dan organisme harus belajar merespon situasi baru itu
memakai respon lama atau memakai respon yang baru dipelajari.
Menurut Skinner juga kelainan tingkah laku adalah kegagalan belajar membuat
seperangkat respon yang tepat. Merespon secara salah (inapropriate set of response)
terkait dengan ketidakmampuan mengenali penanda spesifik suatu stimulus, individu
akhirnya mengembangkan respon yang salah karena justru respon itu yang mendapat
penguatan. Dalam teori ini, manusia cenderung akan mengulangi perbuatan yang
mendapat penguatan. Dalam hal ini individu yang mengalami gangguan bulimia nervosa
adalah seorang individu yang salah dalam belajarnya. Individu belajar bagaimana cara
agar tubuhnya tidak gemuk atau tetap ideal. Akan tetapi respon yang muncul adalah
dengan mengeluarkan makanan tersebut atau dengan olahraga secara berlebihan. Dari
respon tersebut individu merasa mendapat penguatan yaitu tubuhnya tetap ideal.
Penguatan-penguatan itulah yang menjadikan individu selalu melakukan tindakan
tersebut.
3. Kognitif
Persepsi adalah proses mengetahui / mengenali objek dan kejadian objektif dengan
bantuan indera (Zulaifah, et.al, 2008). Terkadang individu bisa salah mempersepsi
sesuatu termasuk dalam mempersepsi diri. Kesalahan mempersepsi dapat menyebabkan
masalah yang muncul akibat hal tersebut. Sternberg (1999) membedakan masalah ke
dalam 2 tipe, yaitu:
a. Well-structured problems, ciri-ciri :
i. Masalah terstruktur dengan baik.
ii. Biasanya terdapat pada soal-soal ujian seperti yang terdapat di lingkungan sekolah.
Ex :matematika, sejarah, geografi.
iii. Tujuan :memperoleh jawaban.
iv. Penilaian benar dan salah.
b. Ill structured problems, ciri-ciri:

i. Memungkinkan problem solver kesulitan untuk membentuk gambaran mental


mengenai bagaimana solusi yang tepat karena tidak terstruktur.
Dalam hal ini, individu yang menderita bulimia memiliki ill structured
problems. Individu tidak dapat atau sulit membentuk gambaran mental mengenai
bagaimana pemikiran tubuh yang ideal mendapatkan solusi untuk permasalahannya.
Menurut Simon (1957), seseorang cenderung menggunakan pemikiran rasional namun
terbatas (bounded rationality). Menurutnya kita cenderung menggunakan strategi
pengambilan keputusan berdasarkan kepuasan. Apabila kita merasa puas, maka kita
tidak akan mempertimbangkan lagi kemungkinan-kemungkinan dan lebih berhati-hati
dalam memutuskan. Individu tersebut memiliki suatu cara atau pola pikir yang salah
tentang dirinya dalam hal ini adalah bentuk tubuh yang ideal. Individu cenderung
membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain. Keterbatasan itulah yang
kemudian menjadikan individu mencari jalan keluar agar bentuk tubuhnya tetap ideal
dan

juga

tetap

makan

makanan

yang

individu

tersebut

inginkan.

Individu merasa bahwa dengan mengeluarkan makanan secara langsung atau dengan
olahraga yang berat agar tidak terjadi timbunan lemak adalah hal yang paling baik
dilakukan agar tubuhnya tetap ideal dimatanya maupun orang lain. Serta dari persepsi
inilah individu merasa aman jika makan terus-menerus atau dalam jumlah yang
banyak sekalipun. Persepsi inilah yang menjadi sumber utama gangguan bulimia
tersebut.
2.2.2

Prevalensi Bulimia
Makan berlebihan pada penderita bulimia biasanya muncul diam diam dan

biasanya di rumah pada siang atau sore hari (Drewnowski, 1997; Guertin, 1999). Makan
berlebihan biasanya berlangsung selama 30 sampai 60 menit dan ditujukan untuk
mengkonsumsi makanan yang harusnya dihindari seperti makanan yang manis dan kaya
lemak. Penderita biasanya merasa kurang dapat mengontrol kebiasaan makan berlebihan
dan dapat mengkonsumsi 5000 sampai 10000 kalori sekaligus.
Prevalensi individu yang mengalami gangguan bulimia adalah 90%-95% atau
sebagian besar adalah perempuan yang berkulit putihdan berasal dari kaum menengah ke
atas, sedangkan sisanya 5%-10% adalah laki-laki dimana umur onset untuk gangguan ini
sedikit lebih tua dan banyak diantaranya adalah kaum biseksual atau homoseksual
(Rothblum, 2002). Schlundt dan Johnson (1990) merangkum sejumlah besar survei dan
mengatakan bahwa 6%-8% perempuan muda terutama mahasiswi, memenuhi kriteria
bulimia nervosa.

Studi yang paling penting adalah yang dilaporkan oleh Kendler dan rekan-rekan
sejawatnya (1991). Dalam studi ini, 2163 orang kembar (lebih dari 1000 pasangan kebar
2 atau lebih) diwawancarai. Prevalensi seumur-hidup bulimia ditemukan 2,8% atau bisa
menjadi 5,3% jika gejala bulimia yang tidak memenuhi kriteria juga diambil.
Dalam sebuah penelitian tentang perjalanan hidup bulimia, dari 102 perempuan
yang mengalami bulimia dan mengikuti 92 orang diantaranya secara prospektif selama 5
tahun, sekitar sepertiga diantaranya mengalami perbaikan sampai ke titik di mana setiap
tahunnya mereka tidak lagi memenuhi kriteria diagnostiknya.
2.2.3 Etiologi dan Ciri - Ciri Bulimia
Penyebab Fisiologi Bulimia Nervosa (Lister, 2005):
- Serum Lipid
Pada orang bulimia memiliki kadar kolesterol yang tinggi, hal ini memberikan
bukti untuk gaya hidup yang sudah tidak sehat. Kadar kolesterol abnormal
menunjukkan peran dalam gejala yang muncul dalam beberapa gangguan psikologis
seperti impulsif, agresi, permusuhan, depresi dan kecenderungan bunuh diri.
Kolesterol menyebabkan masalah perilaku dan gangguan psikologis dengan
mempengaruhi fluiditas membran sel, membuat proses pertukaran informasi yang
-

lebih sulit.
Hipotalamus 5_HT
Hipotalamus 5_HT menyebabkan peningkatan asupan karbohidrat dan penurunan

tingkat kenyang.
Ghrelin
Tingkat sirkulasi serum ghrelin penderita bulimia lebih tinggi daripada kontrol
normal. Penderita bulimia memiliki peningkatan tajam dalam tingkat ghrelin sebagai
akibat dari menahan makan. Ghrelin adalah hormon peptida gastrointestinal yang
mengatur perilaku makanan dengan merangsang nafsu makan dan asupan makanan

pada manusia serta metabolisme.


Peptide YY (PYY)
PYY diukur setelah makan pada orang normal terjadi peningkatan yang normal di
PYY dan penurunan normal dalam ghrelin. Pada pasien penderita bulimia, tingkat
sirkulasi ghrelin menurun hanya sedikit dan tetap tinggi dibandingkan dengan
kontrol dan tingkat PYY hanya meningkat sedikit dan tetap rendah dibandingkan
dengan control. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada pasien penderita bulimia
makan tidak menyebabkan kenyang. Akibatnya mereka mampu makan lebih banyak,

secara ekstrem, dapat makan berkali-kali.


Perilaku Penyebab Bulimia Nervosa (Lister, 2005):
- Tekanan social dan situasi lingkungan

Obsesi untuk menjadi kurus


Orang tua yang pernah menderita gangguan makan akan menekan anaknya untuk

menjadi kurus
Orang tua yang memiliki masalah dengan citra tubuh
Beberapa penelitian tentang bulimia menyebutkan bahwa ada beberapa faktor

penyebab terjadinya bulimia nervosa, antara lain:


1. Faktor Sosial
Di dalam kesehariannya para wanita menganggap bahwa berat tubuh yang
ideal adalah semakin tubuh kurus maka semakin ideal bentuk tubuhnya. Di daerah
masyarakat industri orang lebih memilih memiliki bentuk tubuh yang kurus,
sedangkan di daerah non-industri masyarakat lebih memilih tubuh yang gemuk
(Hsu,1990).
Paxton, Schutz, Wertheim dan Munir (1999) mengeksplorasi pengaruh
persahabatan pada sikap tentang citra tubuh, diet, dan perilaku ekstrim dalam usaha
mengurangi berat badan. Dalam sebuah eksperimen yang cerdas, para peneliti
mengidentifikasi 79 macam klik pertemanan diantara 523 gadis remaja. Mereka
menemukan bahwa klik-klik pertemanan ini cenderung mmemiliki sikap yang sama
terhadap citra tubuh, diet, dan pentingnya usaha mengurangi berat badan. Juga jelas
dari studi ini bahwa klik-klik pertemanan ini memberikan kontribusi yang signifikan
terhadap terbentuknya keresahan mengenai citra tubuh dan perilaku makan. Dengan
kata lain, bila teman-teman anda cenderung menggunakan diet ekstrem atau teknik
menurunkan berat badan lainnya, anda memiliki peluang yang lebih besar untuk
melakukannya juga (Field, dan kawan-kawan, 2001; Vanderwal dan Thalen, 2000).
Stice, Cameron, Killen, Hayward dan Taylor (1999) menunjukkan bahwa salah
satu alasan mengapa usaha menurunkan berat badan dapat mengakibatkan gangguan
makan adalah karena usaha menurunkan berat badan pada gadis remaja lebih
cenderung menyebabkan berat badan justru bertambah daripada turun.
Faktor keluarga juga menjadi faktor sosial lain dalam penyebab gangguan ini.
Penderita bulimia berasal dari keluarga yang tidak bahagia, umumnya mereka
memiliki orang tua yang gemuk, atau mereka sendiri kegemukan pada masa kanakkanak. Namun hingga kini masih belum jelas apakah gangguan emosional ini
sebagai sebab atau akibat dari bulimia.
2. Faktor Psikologis
Seseorang yang memiliki gangguan bulimia kebanyakan adalah perempuan
muda. Hasil observasi klinis menunjukkan bahwa banyak perempuan muda
mengalami penurunan dalam hal control pribadi dan kemampuan dan talentanya
sendiri (Bruch,1973). Hal ini juga dapat dimanifestasikan sebagai self-esteem yang

rendah (Firburn,et.al,2003). Kemudian sikap perfeksionis juga menjadi hal yang


penting dalam kehidupannya tersebut (Fairburn,et.al, 1997,1999). Jika sikap
perfeksionisme diarahkan kepada ke persepsi yang terdistorsi mengenai citra tubuh,
maka sebuah mesin berkekuatan tinggi untuk mendorong perilaku gangguan makan
pun

siap

bekerja

(Shafran,

Cooper,

dan

Fairburn,

2002).

J.C. Rosen dan H. Leitenberg (1985) melihat adanya kecemasan yang substansial
sebelum dan saat makan yang diredakan dengan purging. Mereka mengatakan
bahwa perilaku purging tersebut akan membuat mereka lega serta mereka akan
mengulangi perilaku yang membuat diri mereka menjadi senang atau bebas dari
cemas.
McKenzie, Williamson, dan Cubic (1993) menemukan bahwa perempuan
bulimik menilai ukuran tubuhnya lebih besar dan berat yang mereka anggap ideal
lebih ringan dibandingkan kelompok kontrol yang memiliki ukuran tubuh sama
dengan mereka. Bahkan, para perempuan penderita bulimia menilai tubuh mereka
bertambah besar setelah mereka makan sebatang permen dan minum sebotol
minuman ringan.
3. Faktor Biologi
Gangguan makan mengalir dalam suatu keluarga dan tampaknya memiliki
gangguan genetik (Strober, 2002). Hsu (1990) memiliki spekulasi bahwa cirri
kepribadian nonspesifik seperti ketidakstabilan emosi dan pengendalian impuls
buruk mungkin bersifat warisan. Kemudian Strober (2002) juga mengatakan
seseorang mungkin mewarisi kecenderungan untuk bersifat responsif secara
emosional terhadap hal-hal atau kejadian- kajadian yang stressful, dan sebagai
konsekuensinya, mungkin makan secara kompulsif sebagai usahanya untuk
mengurangi stres dan kecemasannya. Sampai sekarang para peneliti belum
menemukan penyebab yang pasti antara fungsi-fungsi neurobiologist terhadap
gangguan makan tersebut. Akan tetapi peneliti hanya menemukan gangguan yang
merupakan hasil atau akibat dari siklus makan tersebut.
Beberapa penelitian menjelaskan bahwa pada penderita bulimia yang parah,
kadar neurotransmiternya (pengantar kimia pada otak), terutama serotonin -- yang
berhubungan dengan depresi dan gangguan obsesif-kompulsif cenderung lebih
rendah. Bahan kimia tersebut mengontrol tubuh dalam pembuatan hormon.
Penderita bulimia memiliki kadar neurotransmitter serotonin dan norepinephrine
yang sangat rendah. Keduanya berperan penting dalam mendorong kelenjar pituitari
untuk membuat dan melepaskan hormon yang mengontrol sistem neuroendokrin

yang mengatur emosi, perkembangan fisik, ingatan dan detak jantung. Ketika
hormon tidak terbentuk, kerja beberapa fungsi tubuh tersebut menjadi terganggu.
Penelitian lain menemukan rendahnya kadar asam amino triptofan dalam darah.
Asam amino triptofan merupakan sejenis zat dalam makanan yang penting untuk
produksi serotonin, yang bisa menyebabkan depresi dan mendorong terjadinya
bulimia.
2.2.4

Penanganan
Terdapat berbagai macam terapi yang dapat digunakan dalam menangani kasus
bulimia tersebut, antara lain:
1. Terapi Kognitif Perilaku
Cooper dan kerabat (1994) menyebutkan bahwa mereka mendapatkan
pengurangan yang sangat kuat dalam frekuensi dari binge eating dan
memuntahkannya kembali setelah memakai panduan terapi self-help cognitive
behavior. Panduan tersebut termasuk enam sampai delapan sesi laporan yang
dipandu dengan terapis yang bukan spesialis yang menyediakan dukungan dan
dorongan dalam memakai panduan tersebut. Satu dari tiga penderita yang ditanya
setelah mengikuti terapi ini selama 8 minggu follow up menyebutkan bahwa
terdapat perubahan yang signifikan. Di dalam panduan self help tersebut berisi
tentang bagaimana cara membantu mereka dalam mengatasi masalah gangguan
makannya. Setelah membaca panduan tersebut, maka individu tersebut diminta
sambil mengamalkan atau menjalankan apa yang terdapat dalam buku tersebut.
Terapi ini menggunakan pendekatan kognitif perilaku yang mana individu diberikan
pengetahuan awal yang dapat mengubah pola pikirnya mengenai dampak buruk baik
makan berlebihan ataupun dampak purging atau mengeluarkan makanan tersebut
serta mngubah cara pandangnya tentang body image. Setelah itu individu merubah
pola makannya serta kebiasaan makannya.
2. Terapi Obat
Penderita bulimia dapat dibantu dengan obat-obatan walaupun belum terbukti
secara pasti efeknya (Wilson dan Fairburn, 2002). Ada penelitian yang menyebutkan
bahwa obat jenis Prozak mungkin efektif untuk mencegah kekambuhan penyakit
(Kaye,et.al,2001). Namun ada obat yang dipercaya paling efektif untuk bulimia yaitu
obat-obatan yang sama dengan obat anti-depresan yang efektif untuk gangguan
suasana perasaan dan gangguan kecemasan (Kaye,et.al, 1999). Dalam suatu
penelitian tentang obat anti-depresan dan prozak, para peneliti mendapatkan

pengurangan rata-rata dalam perilaku makan berlebih dan purging masing-masing


sebesar 47% dan 65% (Walsh, 1991).
3. Terapi Keluarga
Terapi lainnya yang dapat dipakai adalah terapi keluarga yang diadaptasi dari
Maudsley model of family therapy. Dalam terapi ini peran keluarga adalah sebagai
kunci yang sangat penting dalam membantu perawatan dan kesembuhan dari
individu tersebut. Dalam terapi ini dibuat agar anggota keluarga lain ikut serta dan
menunjukkan bahwa mereka adalah tempat yang tepat untuk membantu masalah
tersebut. Perlakuan yang dilakukan antara lain:
a. membuat orientasi masalah yaitu individu diminta untuk menjelaskan masalahnya
kepada keluarganya,
b. Menekankan sebuah peraturan dari keluarga dalam mempromosikan pemulihan
dari cara makan yang benar
c. Menyediakan pendidikan tentang bulimia dan dampaknya.
Selain tarapi kita adanya prevensi juga sangat penting dalam menangani
bulimia.
Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari gangguan bulimia nervosa
pada dasarnya lebih mengacu kepada sejauh mana penerimaan diri seseorang
terhadap dirinya sendiri, penerimaan terhadap lingkungan dan penerimaan
lingkungan orang sekitar terhadap dirinya.
Hal ini dapat diterapkan dengan cara memulai memberikan pandangan yang
positif kepada diri sendiri dan orang lain. Kita juga dapat memberikan pengajaran
kepada anak untuk selalu menjaga tubuh mereka agar selalu sehat dengan
berolahraga dan menerapkan pola hidup sehat serta mengkonsumsi makanan yang
baik dan berguna untuk tubuh sesuai dengan proporsinya masing-masing.
Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan menghindari stigma atau
pandangan tertentu yang terasa sepele akan tetapi dapat menimbulkan dampak
negatif. Misalnya, jangan membuat opini bahwsanya badan yang kurus merupakan
sebuah tubuh yang sehat, populer, indah dan dapat diterima di masyarakat luas,
sedangkan badan yang gemuk akan dikucilkan dari masyarakat. Hal seperti itulah
yang dapat merangsang seseorang berpikir negatif terhadap dirinya dan kemudian
orang tersebut merasa takut bila badannya terlihat gemuk karena khawatir tidak
cantik lagi, sehingga orang tersebut memutuskan untuk melakukan binge eating dari
setiap makanan yang ia konsumsi. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan
menghindari memberikan reward terutama pada anak-anak dalam bentuk makanan,
karena hal ini sama saja menstimulasi seseorang untuk merusak pola makan.

Individu penderita bulimia biasanya mengalami depresi. Dari penelitian


terhadap 20 orang bulimia, 20 orang fobia social, dan 20 orang gangguan panic
menunjukkan bahwa 75% orang dengan gangguan bulimia juga menunjukkan
gangguan kecemasan seperti fobia sosial atau kecemasan menyeluruh (Schwalburg,
Barlow, Alger, dan Howard, 1992). Kemudian penderita bulimia terutama tipe
purging biasanya akan memiliki dampak atau konsekuensi lebih tinggi dari nonpurging. Komplikasi medis dari bulimia disebabkan karena muntah yang terus
menerus. Dampak fisik yang mungkin terjadi:
1. Iritasi pada kulit sekitar mulut. Penyebabnya adalah seringnya kontak dengan
asam lambung, terhambatnya air liur, peluruhan enamel gigi dan karang gigi.
2. Dapat merusak reseptor pada lidah yang disebabkan oleh asam yang timbul dari
muntah, sehingga menyebabkan orang menjadi kurang sensitif terhadap rasa dari
makanan yang dimuntahkan (Rodin dkk., 1999).
3. Siklus makan banyak dan memuntahkannya dapat menyebabkan sakit pada perut,
hiatal hernia, dan keluhan perut lainnya.
4. Tekanan pada pankreas dapat menghasilkan pankreatitis (rasa panas) yang
merupakan situasi darurat medis.
5. Gangguan fungsi menstruasi ditemukan pada 50% wanita penderita bulimia yang
memiliki berat badan normal (Weltzin dkk., 1994).
6. Penggunaan obat pencahar yang berlebihan dapat menyebabkan diare berdarah
dan ketergantungan.
7. Pada kasus yang ekstrem, organ organ pencernaan akan kehilangan respon
refleknya untuk menekan zat zat sisa.
8. Muntah yang berulang atau penyalahgunaan obat pencahar dapat menyebabkan
kekurangan potassium, membuat otot otot melemah, fungsi jantung tidak normal,
atau bahkan kematian mendadak terutama ketika diuretic juga digunakan.
Pribadi yang menghindar juga muncul dari penderita bulimia nervosa terutama
menghindar dari tekanan atau stressor. Kemudian dampak psikis yang dapat terjadi
pada penderita bulimia adalah :
1. Perasaan tidak berharga
2. Sensitif, mudah tersinggung, mudah marah
3. Mudah merasa bersalah
4. Kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain
5. Tidak percaya diri, canggung berhadapan dengan orang banyak
6. Cenderung berbohong untuk menutupi perilaku makannya
7. Minta perhatian orang lain
8. Depresi (sedih terus menerus)
2.3 Dampak Komplikasi dan Gangguan Medis pada Pasien Eating Disorder
2.3.1 Anorexia Nervosa

2.3.1.1 Komplikasi Medis Anorexia Nervosa


Pasien Anorexia Nervosa membatasi asupan makanan secara terus-menerus
agar tercapai penurunan berat badan yang diinginkan. Hal ini menyebabkan terjadinya
beberapa komplikasi medis akibat anorexia nervosa.
Beberapa literatur terbaru mencerminkan bahwa terdapat beberapa sistem
organ yang dipengaruhi oleh eating disorder, salah satunya adalah gangguan
anoreksia nervosa yang dapat menyebabkan kematian dini. Dalam jurnal yang ditulis
oleh James E. Mitchell dan Scott Crow (2006) menyatakan bahwa pasien diabetes
dengan gangguan makan anoreksia nervosa

beresiko tinggi terkena komplikasi

diabetes. Eating disorder ini juga dapat menyebabkan komplikasi gastrointestinal


yang serius sehingga menyebabkan dilatasi lambung dan disfungsi hati yang berat.
Pasien juga dapat terkena komplikasi berbagai aritmia.
Anorexia nervosa dapat menyebabkan jantung lebih kecil dan kurang kuat,
karena otot yang hilang serta tekanan darah dan detak jantung yang melemah atau
turun. Sirkulasi yang buruk ini menyebabkan tangan dan kaki yang dingin dan
membiru.
Pasien berat badan rendah memiliki resiko tinggi untuk osteopenia /
osteoporosis. Kelainan nutrisi juga umum, termasuk deplesi natrium dan hipovolemia,
hypophosphatemia dan hipomagnesemia.
Selain itu, pada komplikasi kimia darah terdapat kelainan yang paling umum
yaitu tingkat urea rendah yang merupakan fungsi dari asupan protein yang rendah.
Kadar kalium yang rendah akibat dari muntah atau pencahar dan penyalahgunaan
diuretik. Biasanya, hal ini dikaitkan dengan peningkatan kadar bikarbonat tetapi
beberapa obat pencahar dapat menghasilkan asidosis metabolik. Banyak garam dan
metabolit lainnya berkurang, misalnya magnesium, fosfat, kalsium sodium dan
glukosa.
2.3.1.2 Gangguan Psikologis Anorexia Nervosa
Pasien Anorexia Nervosa cenderung menurunkan asupan makanan secara
terus-menerus untuk mencapai penurunan berat badan yang ideal menurut pasien
dimana penurunan berat badan ini mencapai berat yang tidak rasional. Pasien
melakukan hal tersebut diakibatkan beberapa faktor psikologis seperti sikap
perfeksionis, merasa tidak mandiri, perasaan rendah diri, pemahaman yang salah
terhadap definisi kebahagiaan, merasa tidak puas dengan diri sendiri, ketidakstabilan
emosi, menganggap diri sendiri sebagai sebuah masalah, ingin bebas dari kekangan
orang tua serta kontrol terhadap makanan yang ketat dan dibanggakan sehingga

merasa takut kehilangan kontrol. (Faktor-faktor Penyebab Anoreksia Nervosa pada


Remaja Putri, 2007)
2.3.2 Bulimia Nervosa
2.3.2.1 Komplikasi Medis Bulimia Nervosa
Pasien dengan Eating disorder memiliki resiko komplikasi medis yang serius.
Komplikasi terparah biasanya terjadi pada pasien dengan anoreksia nervosa karena
terjadi komplikasi saat mengalami kelaparan namun ada juga resiko komplikasi yang
bisa terjadi pada pasien dengan bulimia nervosa , terutama disebabkan oleh perilaku
purging pasien bulimia.
Berikut adalah medical risk secara umum yang dapat terjadi pada pasien
Eating Disorder.
A. Kulit
1.
2.
3.
4.
5.

Xerosis
Lanugo-rambut tubuh
Telogen effluvium( rambut rontok, uji kekuatan rambut positif)
Jerawat
Carotenedema( deposisi caroten pada jaringan dan kulit kekunungan akibat

keliebihan asupan caroten dari sayur)


6. Acrayanosis (perubahan sirkulasi hasil dari demam, tangan berkeringat)
7. Pruritis
8. Purpura ( karena trombositopenia)
9. Stomatitis
10. Distrofi kuku
11. Pada pasien bulimia dan anoreksia yang menginduksi muntan dengan jari
menunjukkan Russel sign dimana terbentuk scar/callus pada permukaan dorsal
dari tangan)
B. Endocrine
1. Diabetes tipe 1, dimana
C. GIT
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pengosongan lambung lambat


Disfungsi sensor motorik lambung
Ketidakseimbangan/ketidak cocokan sense hunger dan satiety
delayed small bowel transit time
konstipasi
rupture pada bagian perut
pancreatitis
nekrosis koitis
perforasi ulcer

D. CVD
1. aritmia

2. acrocyanosis
3. pneumomediastinum
E. Skeletal
1. bone mineral density rendah
Menurut beberapa penelitian , seubjek anoreksia beresiko meninggal sepuluh
kali lebih tinggi akibat penyakit dibandingkan dengan mereka yang tanpa adanya
eating disorder. Komplikasi yang paling sering menyebabkan kematian adalah
serangan jantung , gangguan keseimbangan elektrolit dan ketidakseimbangan cairan.
ANOREKSIA
Dalam anoreksia , komplikasi medis

BULIMIA
Dalam bulimia

merupakan

berkorelasi dengan three main modes of

akibat

langsung

dari

kelaparan dan penurunan berat badan

gangguan

medis

purging: :menginduksi diri sendiri untuk


muntah , penyalahgunaan obat pencahar ,
dan penyalahgunaan diuretik

METABOLIK

Metabolik

reefeding syndrom

gangguan keseimbangan elektrolit

plateau effect

dehidrasi

hiperkortisolemia

Ginjal

Kardiak

Acute kidney injury


Edema : seluruh tubuh, pulmo,

bradikardia

takikardia

cerebral

the QT question

GIT

gagal jantung kongestif

Konstipasi

hipotensi

Esophageal rupture

GERD
Cathartic colon

GIT

gastroparesis

konstipasi

Sialadenitis

hepatitis

hipoglikemia

superior

syndrom

pancreatitis

Erosi dental

mesenteric

Kardiak
artery

Aritmia

Toksik obat:palpitasi, hipertensi

Emetine cardiotoxicity

disfungsi elektrolit

hiponatremia

Endokrine

kontraksi volume

Menstruasi tidak teratur

Kelebihan mineralokortikoid

endokrin

Mitral valve prolapse

amenorea

Pulmonary mediastinal

osteoporosis

Aspirasi pneumonitis

cortisol dan the belly

pneumomediastinum

thyroid function

hematologi

pancytopenia

2.3.2.2 Gangguan Psikologis Pasien Bulimia Nervosa


Orang yang menderita bulimia terjadi pada golongan dengan berat badan yang
normal sesuai dengan umur mereka. Akan tetapi, seperti anoreksia, mereka juga
mempunyai ketakutan untuk pertambahan berat badan, dan sangat nekad untuk
mengurangi berat badan, merasa ketidakbahagiaan hebat atas ukuran dan bentuk tubuh.
Kebiasaannya, perilaku bulimik adalah rahasia, karena selalu disertai dengan perasaan
jijik dan malu. Siklus perilaku binging dan penyingkiran ini selalu berulang selama
beberapa kali dalam seminggu (APA, 2005).
Mirip dengan anoreksia, orang yang menderita bulimia juga mempunyai penyakit
psikologis seperti depresi, ansietas dan/atau permasalahan penyalahgunaan zat.
Gangguan mood sering terjadi pada pasien dengan bulimia dengan gejala cemas dan
tegang (tension) (Chavez dan Insel, 2007). Kebanyakan pasien dengan bulimia
mengalami depresi ringan, mengalami gangguan mood dan bisa saja terjadi perilaku
yang serius seperti percobaan bunuh diri dan penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan
terlarang.
Tanda psikologis dari bulimia nervosa :

Keasyikan dengan kegiatan makan , makanan , bentuk tubuh dan berat badan

Sensitivitas terhadap komentar yang berkaitan dengan makanan , berat badan, bentuk
tubuh atau olahraga

Minder, merasa rendah diri dan perasaan malu , kebencian diri atau rasa bersalah ,
terutama setelah makan

Memiliki citra tubuh yang menyimpang ( misalnya melihat diri mereka sebagai lemak
bahkan jika mereka berada dikisaran berat badan yang ideal untuk usia dan tinggi
mereka)

Terobsesi dengan makanan dan butuh untuk kontrol diri

Depresi , cemas atau mudah marah

Ketidakpuasan pada tubuh secara ekstrim

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Anoreksia nervosa merupakan sutau kebiasaan keengganan untuk mempertahankan
berat badan normal atau sehat, dan distorsi citra tubuh yang sangat mempengaruhi perilaku
makan secara ektrim. prevalensi penderita anoreksia nervosa di Amerika adalah sebesar 0,5%
pada perempuan, prevalensi di Jepang adalah sebesar 0,025%-0,030% sementara itu di Cina
menurut suatu studi prevalensi penderita anoreksia nervosa adalah sebesar 0,01%. Tiga
komponen dalam menangani Anoreksia adalah :
1. Mengembalikan seseorang pada berat badan normal
2. Memberikan perlakuan psikologi yang dihubungkan dengan gangguan makan
3. Menurunkan atau mengeliminasi kebiasaan gangguan makannya selama ini dan
mencegah kambuh kembali
Terdapat beberapa system organ yang dipengaruhi oleh eating disorder, salah satunya
adalah gangguan anorexa nervosa dapat menyebabkan kematian dini. Swlain itu pada pasien
diabetes dengan gangguan anorexia nervosa beresiko tinggi terkena komplikasi diabetes.
Anorexia juga menyebabkan jantung lebih kecil dan kurang kuat. Pasien melakukan hal
tersebut diakibatkan beberapa faktor psikologis seperti sikap perfeksionis, merasa tidak
mandiri, perasaan rendah diri, pemahaman yang salah terhadap definisi kebahagiaan, merasa
tidak puas dengan diri sendiri, ketidakstabilan emosi, menganggap diri sendiri sebagai sebuah
masalah, ingin bebas dari kekangan orang tua serta kontrol terhadap makanan yang ketat dan
dibanggakan sehingga merasa takut kehilangan kontrol.
Bulimia nervosa adalah gangguan makan yang melibatkan episode berulang-ulang
dari tindakan makan berlebihan (binge) tak terkontrol yang diikuti dengan tindakan
kompensatoris untuk mengenyahkan makanan itu. Schlundt dan Johnson (1990) merangkum
sejumlah besar survei dan mengatakan bahwa 6%-8% perempuan muda terutama mahasiswi,
memenuhi kriteria bulimia nervosa. Penanganan bulimia nervosa meliputi tiga hal yakni
terapi kognitif perilaku, terapi obat dan terapi keluarga.
Pasien dengan Eating disorder memiliki resiko komplikasi medis yang serius. Komplikasi
terparah biasanya terjadi pada pasien dengan anoreksia nervosa karena terjadi komplikasi saat
mengalami kelaparan

namun ada juga resiko komplikasi yang bisa terjadi pada pasien

dengan bulimia nervosa , terutama disebabkan oleh perilaku purging pasien bulimia. Mirip

dengan anoreksia, orang yang menderita bulimia juga mempunyai penyakit psikologis seperti
depresi, ansietas dan/atau permasalahan penyalahgunaan zat.

Daftar Pustaka
Botha, Derek. 2010. Anorexia Nervosa-The Female Phenomenon: Reposting the Males.
Counselling, Phsychotherapy, and Health.
Eating Disorders. National Institute of Mental Health
National Institutes of Mental Health. 2007. Eating Disorders. NIH Publication No. 07-4901
Tantiani, Trulyana. 2012. Perilaku Makan Menyimpang Pada Remaja Di Jakarta.
Deskripsidokumen:http://lib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?
id=20341162&lokasi=lokal
Nurhayati, Ai. 2012. Status Gizi, Kebiasaan Makan, Dan Gangguan Makan (Eating Disorder)
Pada Remaja Di Sekolah Favorit dan Non-Favorit. Artikel Penelitian
Sofyani S. 2011. Gangguan Makan. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara
Braun, D.L., Sunday, S.R., Huang, A. & Halmi, K.A. (1999) More males seek
Treatment for eating disorders. International Journal of Eating Disorders, 25(4), 415-423.
Bulik, C.M., Sullivan, P. & Joyce, P. (1999) Temperament, character and suicide events in
anorexia nervosa, bulimia nervosa and major depression. Acta Psychiatra
Scandinavica, 100(1), 27-32.
Florence and Setright. 1994. The Handbook of Preventive Medicine: A Complete Guide to
Diet, Dietary Supplements anf Lifestile Factors in the Prevention of Disease.
Kingsclear Books, Australia.
Newton, T., Robinson, P. & Hartley, P. (1993) Treating for eating disorders in the United
Kingdom, Part II: Experiences of treatment: a survey of members of the eating
disorders association. European Eating Disorders Review, 1(1), 1-21.
Lister, Ryn. 2005. The Etiology of Anorexia Nervosa and Bulimia Nervosa. (Online)
http://webs.wofford.edu/pittmandw/psy451/fall05rl.pdf. Diakses 17 Oktober 2014
National Eating Disorder Collaboration. 2011. Bulimia Nervosa. (Online)
http://www.nedc.com.au/files/logos/0638_NEDC_FS_BN_v4.pdf. Diakses 18 Oktober
2014.
Mitchella E .James and Scott Crowb.2006.Medical complications of anorexia nervosa and
bulimia nervosa.)
Eating Disorders.National Institute Of Mental Health.2007.hal:10
Philip s. Mehler et al. 2004.Bulimia: Medical Complications. Journal of womens health
vol.13, no.6)
Mascolo.Margherita.Medical complications of Eating Disorders.Univ. Of Colorado:Denver
Health
S.Sofyani.2011.Universitas Sumatera Utara.
Bulimia Nervosa.2011.National Eating Disorders Collaboration