Anda di halaman 1dari 69

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1

Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi berhubungan dengan penentuan volume, ketepatan waktu

penyelesaian, utilitasi kapasitas, dan perencanaan beban. Rencana produksi dalam hal ini
harus terkoordinasi dengan perencanaan perusahaan. Ada beberapa tipe perencanaan
produksi. Berdasarkan periode waktunya, akan ada perencanaan jangka panjang,
perencanaan jangka menengah, dan perencanaan periode jangka pendek. Ketiga jenis
perencanaan ini memerlukan proses perencanaan yang berbeda (juga input dan outputnya) satu sama lain (Gasperz, 2001, p. 125).
Pada dasarnya terdapat empat tingkat dalam hierarki perencanaan prioritas dan
kapasitas yang terintegrasi, antara lain (Gasperz, 2001, p. 127) :
1.

Perencanaan produksi dan perencanaan kebutuhan sumber daya.

2.

Penjadwalan produksi induk (MPS) dan Rough Cut Capacity Planning (RCCP)

3.

Perencanaan kebutuhan material (MRP) dan perencanaan kebutuhan kapasitas


(CRP)

4.

Pengendalian Aktivitas Produksi (PAC) dan pengendalian Input/Output serta


Operations Sequencing
Perencanaan produksi merupakan suatu proses penetapan tingkat output

manufacturing secara keseluruhan guna memenuhi tingkat penjualan yang direncanakan


dan inventori yang diinginkan. Rencana produksi mendefinisikan tingkat manufacturing,
biasanya dinyatakan sebagai tingkat bulanan untuk periode satu tahun atau lebih, untuk

12

setiap kelompok produk. Perencanaan kebutuhan sumber daya (RRP) merupakan proses
yang mengevaluasi rencana produksi guna menentukan sumber daya jangka panjang
seperti tanah, fasilitas, mesin-mesin dan tenaga kerja adalah tersedia (Gasperz, 2001, p.
128).
Penjadwalan produksi induk (MPS) dan rough cut capacity planning (RCCP)
merupakan perencanaan prioritas dan perencanaan kapasitas pada hierarki level taktikal
(level 2). MPS menguraikan rencana produksi untuk menunjukkan kuantitas produk
akhir yang akan diproduksi untuk setiap periode waktu (biasanya mingguan apabila
menggunakan sistem MRP II atau harian apabila menggunakan sistem JIT sepanjang
horizon perencanaan taktis (biasanya satu tahun). Apabila rencana produksi
menunjukkan tingkat produksi untuk kelompok produk, MPS menjadwalkan kuantitas
spesifik dari produk akhir dalam periode waktu spesifik (Gasperz, 2001, p. 128).
Rough cut capacity planning (RCCP) menentukan apakah sumber daya yang
direncanakan adalah cukup untuk melaksanakan MPS. RCCP menggunakan definisi dari
unit product loads yang disebut sebagai: profil produk-beban (product-load profiles,
bills of capacity, bills of resource, atau bills of labor). Penggandaan beban per unit
dengan kuantitas produk yang di jadwalkan per periode waktu akan memberikan beban
total per periode waktu untuk setiap pusat kerja (work place) (Gasperz, 2001, p. 128).
Material Requirement Planning (MRP) mengembangkan pesanan-pesanan yang
direncakan untuk bahan baku, komponen, dan subassemblies yang dibutuhkan untuk
memenuhi MPS. MRP juga merekomendasikan penjadwalan ulang terhadap open orders
apabila due dates dan need dates tidak sama. Perencanaan kebutuhan kapasitas (capacity
requirement planning/CRP) membandingkan kapasitas yang dibutuhkan terhadap
projected available capacity untuk open manufacturing orders dan planned

13

manufacturing orders yang dihasilkan oleh sistem MRP. CRP menggunakan routing
files dan informasi pusat kerja untuk menghitung beban yang dijadwalkan pada pusatpusat kerja, dengan mengasumsikan infinite capacity (Gasperz, 2001, p. 129).
Pengendalian Aktivitas Produksi (PAC) mengembangkan jadwal jangka pendek
yang terperinci dengan menggunakan component due dates dan MRP dan detailed
routings. Jadwal PAC biasanya dalam bentuk hari atau kadang-kadang jam, dan
cenderung mencakup waktu dari satu sampai tiga bulan. PAC melibatkan perencanaan,
pengeluaran,

dan

pengendalian

pesanan-pesanan

manufacturing.

Pengendalian

input/output memantau kuantitas dari pekerjaan yang dating pada pusat kerja dan yang
meninggalkan pusat kerja itu. Perencana produksi membandingkan aktual pekerjaan
yang tiba dan banyaknya yang diselesaikan, kemudian mengambil tindakan korektif
seperti menambah jam kerja lembur (overtime), mentransfer pekerja di antara pusatpusat kerja, alternate routings terhadap transfer beban ke pusat kerja lain, atau
melakukan splitting dan/atau overlapping operations (Gasperz, 2001, p. 129).
Proses perencanaan produksi dapat dikemukakan melalui empat langkah utama,
sebagai berikut (Gasperz, 2001, pp. 130-131) :
1.

Mengumpulkan data yang relevan dengan perencanaan produksi, seperti sales


forecast yang bersifat tidak pasti dan pesanan-pesanan (orders) yang bersifat pasti
selama periode tertentu.

2. Mengembangkan data yang relevan menjadi informasi yang teratur

14

Tabel 2. 1 Contoh Informasi untuk Perencanaan Produksi


Deskripsi

Periode waktu (bulan)


0

10

11

12

1. Ramalan
penjualan
2. Pesanan
(orders)
3. Permintaan
Total = 1 + 2

4. Rencana
produksi
5. Rencana
Inventori

Keterangan :
periode 0 adalah periode lalu. Informasi yang berkaitan dengan inventori awal yang
ada ditempatkan pada periode 0.

Total permintaan merupakan kuantitas yang

dibutuhkan pada periode waktu tertentu dan rencana produksi harus mengacu pada
informasi ini. Dalam sistem JIT, total permintaan merupakan sasaran yang harus
dicapai, dimana produksi harus mampu memenuhi total permintaan itu dengan
meminimumkan

atau

meniadakan

inventori

(konsep

zero

inventory)

dan

meminimumkan atau meniadakan backlog atau hutang produksi


3.

Menentukan kapabilitas produksi, berkaitan dengan sumber-sumber daya yang ada.

15

4.

Melakukan partnership meeting yang dihadiri oleh manajer umum, manajer PPIC,
manajer produksi, manajer pemasaran, manajer keuangan, manajer rekayasa
(engineering) dan manajer-manajer lain yang dianggap relevan.

2.2

Pengendalian Produksi
Proses

perencanaan

dan

pengendalian

mencakup

aktivitas-aktivitas

1)

merencanakan (plan); 2) melaksanakan (execute); 3) melakukan pengukuran (measure)


dan 4) mengambil tindakan korektif (correct) seperti fire fighting, fire prevention dan
revise the plan. Proses perencanaan dan pengendalian manufaktur dapat digambarkan
secara hirarki dimulai dari urutan tertinggi sampai terendah dalam hirarki perencanaan
prioritas (priority planning) sebagai berikut (Gasperz, 2001, p. 224) :
1.

Business planning
Merupakan rencana strategis jangka panjang (long range strategic plan) yang
bersifat menyeluruh (broad term) dan dilakukan oleh manajemen puncak (top
management).

2.

Production planning
Merupakan rencana jangka menengah (medium range plan) yang dilakukan
terhadap kelompok produk (product group) yang menetapkan tingkat produksi
(production rates), melakukan pengelolaan inventory/backlog (management of
inventory/backlog), serta melakukan perencanaan kebutuhan sumber-sumber daya
(resource requirements planning).

3.

Master scheduling (MPS)


Merupakan rencana penjadwalan yang mencakup aktivitas-aktivitas seperti final
level of master planning , perencanaan proses yang mencakup ramalan permintaan

16

(forecast demand), production leveling, inventory and backlog, adjustments, new


product introductions, serta perhitungan on hand, on order, actual demand, safety
stock.

Hasil-hasil dari proses MPS seperti kuantitas yang diproduksi berbasis

nomor-nomor parts (parts number) atau berbasis periode waktu mingguan/bulanan


dan menetapkan horizon perencanaan harus lebih lama dari longest lead time.
4.

Material requirement planning (MRP)


Merupakan rencana kebutuhan material dengan cara menghitung item-item apa
yang dibutuhkan, berapa banyak dan kapan dibutuhkan dengan mempertimbangkan
on hand, on order, dan safety stock.

5.

Production activity control (PAC)


Merupakan tahap pelaksanaan dari perencanaan dan pengendalian manufacturing
dengan melakukan aktivitas-aktivitas, membuat jadwal dan rencana terperinci,
memeriksa ketersediaan sumber daya, mengeluarkan pesanan-pesanan produksi
atau pembelian, memperoleh umpan balik untuk pembaharuan atau penyesuaianpenyesuaian.

2.3

Peramalan
Peramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan di masa datang

yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang
dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa. Peramalan tidak
terlalu dibutuhkan dalam kondisi permintaan pasar yang stabil, karena perubahan
permintaannya relatif kecil, tetapi peramalan akan sangat dibutuhkan bila kondisi
permintaan pasar bersifat kompleks dan dinamis (Nasution, 2006, p. 235).
Peramalan dibagi ke dalam tiga kelompok (Nasution & Prasetyawan, 2008, p. 30) :

17

1.

Peramalan jangka panjang umumnya 2 sampai 10 tahun.


Peramalan ini digunakan untuk perencanaan produk dan perencanaan sumber daya

2.

Peramalan jangka menengah umumnya 1 sampai 24 bulan.


Peramalan ini lebih mengkhusus dibandingkan peramalan jangka panjang, biasanya
digunakan untuk menentukan aliran kas, perencanaan produksi dan penentuan
anggaran.

3.

Peramalan jangka pendek umumnya 1 sampai 5 minggu.


Peramalan ini digunakan untuk mengambil keputusan dalam hal perlu tidaknya
lembur, penjadwalan kerja dan lain-lain keputusan untuk pengontrolan jangka
pendek.
Permintaan merupakan hasil dari faktor yang saling berinteraksi dalam pasar.

Faktor-faktor yang menjadi kekuatan di luar kendali perusahaan antara lain (Nasution,
Manajemen industri, 2006, p. 237) :
1.

Siklus bisnis
Penjualan produk akan dipengaruhi oleh permintaan akan produk tersebut, dan
permintaan akan suatu produk dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang membentuk
siklus bisnis dengan fase-fase inflasi, resesi, dan masa pemulihan.

2.

Siklus hidup produk


Siklus hidup suatu produk biasanya mengikuti suatu pola yang biasa disebut kurva
S. Kurva S menggambarkan besarnya permintaan terhadap waktu, di mana siklus
hidup suatu produk akan dibagi menjadi fase pengenalan, fase pertumbuhan, fase
kematangan, dan akhirnya fase penurunan.

3.

Faktor-faktor lain

18

Beberapa faktor lain yang mempengaruhi permintaan adalah reaksi balik dari
pesaing, perilaku konsumen yang berubah, dan usaha-usaha yang dilakukan sendiri
oleh perusahaan, seperti peningkatan kualitas, pelayanan, anggaran periklanan, dan
kebijaksanaan secara kredit.
Peramalan yang

baik

mempunyai beberapa kriteria yang penting, antara lain

akurasi, biaya dan kemudahan. Penjelasan dari kriteria tersebut adalah :

Akurasi
Akurasi dari suatu hasil peramalan diukur dengan kebiasan dan kekonsistenan
peramalan tersebut. Hasil peramalan dikatakan bias bila peramalan tersebut terlalu
tinggi atau terlalu rendah dibandingkan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Hasil
peramalan dikatakan konsisten bila besarnya kesalahan relatif kecil (Ginting, 2007).
Keakuratan dari hasil peramalan ini berperan penting dalam menyeimbangkan
persediaan yang ideal (meminimasi penumpukan persediaan dan memaksimasi
tingkat pelayanan) (Nasution & Prasetyawan, 2008, p. 32).

Biaya
Biaya yang diperlukan dalam pembuatan suatu peramalan adalah tergantung dari
jumlah item yang diramalkan lamanya periode peramalan dan metode peramalan
yang dipakai. Ketiga faktor pemicu biaya tersebut akan mempengaruhi berapa
banyak datanya (manual atau komputerisasi) bagaimana penyimpanan datanya dan
siapa tenaga ahli yang diperbantukan (Ginting, 2007, p. 33). Pemilihan metode
peramalan harus disesuaikan dengan dana yang tersedia dan tingkat akurasi yang
ingin di dapat, misalnya item-item yang penting akan diramalkan dengan metode
yang canggih dan mahal, sedangkan item-item yang kurang penting bisa diramalkan

19

dengan metode yang sederhana dan murah. Prinsip ini merupakan adopsi dari
Hukum Pareto (Analisa ABC) (Nasution & Prasetyawan, 2008, p. 33).

Kemudahan.
Penggunaan metode peramalan yang sederhana, mudah dibuat, dan mudah
diaplikasikan akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Adalah percuma
memakai metode yang canggih tetapi tidak dapat diaplikasikan pada sistem
perusahaan karena keterbatasan dana, sumber daya manusia, maupun peralatan
teknologi (Nasution & Prasetyawan, 2008, p. 33).

2.3.1

Teknik Peramalan

Secara umum model peramalan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok


utama, yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode kuantitatif dikelompokkan
ke dalam dua bagian utama yaitu intrinsik dan ekstrinsik (Nasution & Prasetyawan,
2008, p. 36).
Model peramalan yang digolongkan sebagai model peramalan kualitatif adalah
(Gasperz, 2001) :
1.

Dugaan

manajemen

(manajemen

estimate),

peramalan

didasarkan

pada

pertimbangan manajemen, umumnya manajemen senior. Teknik ini akan


dipergunakan dalam situasi dimana tidak ada alternatif lain dari model peramalan
yang dapat diterapkan.
2.

Riset pasar (market research), peramalan dari hasil-hasil dari survey pasar yang
dilakukan oleh tenaga-tenaga pemasar produk yang mewakilinya. Riset pasar tidak
hanya akan membantu untuk peramalan, tetapi juga untuk meningkatkan desain
produk dan perencanaan untuk produk-produk baru.

20

3.

Metode kelompok terstruktur (structured group methods), seperti metode Delphi.


Metode Delphi merupakan teknik peramalan berdasarkan pada konvergensi dari
opini beberapa orang atau ahli secara iteraktif tanpa menyebutkan identitasnya.

4.

Analogi historis (historical analogy), merupakan teknik peramalan berdasarkan


pola data masa lalu dari produk-produk yang dapat disamakan secara analogi.

Sedangkan metode peramalan kuantitatif dapat dibedakan menjadi sebagai berikut


(Ginting, 2007, pp. 43-44) :
1.

Metode peramalan yang didasarkan atas penggunaan analisa pola hubungan antar
variabel yang akan diperkirakan dengan variabel waktu, yang merupakan deret
waktu atau time-series.

2.

Metode peramalan yang didasarkan atas penggunaan analisa pola hubungan


variabel yang akan diperkirakan dengan variabel lain yang mempengaruhinya, yang
bukan waktu yang disebut metode korelasi atau sebab akibat (causal method).

Gambar 2. 1 Penggolongan Model-Model Peramalan


Keterangan :

Metode kualitatif berdasarkan intuisi atau pertimbangan

Metode kuantitatif berdasarkan analisis hubungan numerik dari data

21

Intrinsik berdasarkan pada pola historis dari data itu sendiri

Ekstrinsik berdasarkan pada pola-pola eksternal


Analisis deret waktu didasarkan pada asumsi bahwa deret waktu tersebut terdiri dari

komponen-komponen trend (T), Siklus/cycle (C), pola musiman/season (S), dan variasi
acak/random (R) yang akan menunjukkan suatu pola tertentu. Komponen-komponen
tersebut kemudian dipakai sebagai adsar dalam membuat persamaan matematis. Analisa
deret waktu ini sangat tepat dipakai untuk meramalkan permintaan yang pola permintaan
di masa lalunya cukup konsisten dalam periode waktu yang lama, sehingga diharapkan
pola tersebut masih akan tetap berlanjut (Nasution & Prasetyawan, 2008, p. 39).
Permintaan dimasa lalu pada analisa deret waktu akan dipengaruhi keempat
komponen utama T, C, S dan R. penjelasan tentang komponen-komponen tersebut
adalah sebagai berikut :
1.

TREND/KECENDERUNGAN (T). Trend merupakan sifat dari Permintaan dimasa


lalu terhadap waktu terjadinya, apakah permintaan tersebut cenderung naik, turun,
atau konstan.

2.

SIKLUS/CYCLE (C). Permintaan suatu produk dapat memiliki siklus yang


berulang secara periodic, biasanya lebih dari satu tahun, sehingga pola ini tidak
perlu dimasukkan dalam peramalan angka pendek. Pola ini amat berguna untuk
peramalan jangka menengah dan jangka panjang.

3.

POLA MUSIMAN/SEASON (S). Fluktuasi permintaan suatu produk dapat naik


turun di sekitar garis trend dan biasanya berulang setiap tahun. Pola ini biasanya
disebabkan oleh faktor cuaca, musim libur panjang, dan hari raya keagamaan yang
akan berulang secara periodic setiap tahunnya.

22

4.

VARIASI ACAK/RANDOM (R). Permintaan suatu produk dapat mengikuti pola


bervariasi secara acak karena faktor-faktor adanya bencana alam, bangkrutnya
perusahaan pesaing, promosi khusus, dan kejadian-kejadian lainnya yang tidak
mempunyai pola tertentu. Variasi acak ini diperlukan dalam rangka menentukan
persediaan pengamanan untuk mengantisipasi kekurangan permintaan.

Analisis deret waktu dapat dilakukan dengan beberapa cara :


1. Moving Average (rata-rata bergerak)
Moving Average diperoleh dengan merata-rata permintaan berdasarkan beberapa
data masa lalu yang terbaru. Tujuan utama dari penggunaan teknik MA ini adalah
untuk mengurangi atau menghilangkan variasi acak permintaan dalam hubungannya
dengan waktu (Nasution & Prasetyawan, 2008, p. 40)
Secara sistematis, maka MA akan dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
MA =

(1)

Dimana:
= permintaan actual pada periode - t
N

= Jumlah data permintaan yang dilibatkan dalam perhitungan

Karena data aktual yang dipakai untuk perhitungan MA berikutnya selalu dihitung
mengeluarkan data yang paling terdahulu, maka:
MAt = MAt-1 +
2.

(2)

Rata-rata bergerak dengan bobot (weight moving average = WMA)


Secara sistematis, WMA dapat dinyatakan sebagai berikut (Nasution &
Prasetyawan, 2008, p. 43) :
WMA =

(3)

23

Dimana:
Wt

= bobot permintaan actual pada periode tertentu - t

At

= permintaan actual pada periode - t

Dengan keterbatasan bahwa:

3.

=t

(4)

Pemulusan Eksponensial (Exponential Smoothing)


Kelemahan teknik MA dalam kebutuhan akan data-data masa lalu yang cukup
banyak dapat diatasi dengan teknik ES. Model matematis ES ini dapat
dikembangkan dari persamaan berikut (Nasution & Prasetyawan, 2008, p. 44) :
Ft = Ft-1 +

(5)

Dimana bila data permintaan actual yang lama At-N tidak tersedia, maka dapat
digantikan dengan nilai pendekatan yang berupa nilai pendekatan yang berupa nilai
ramalan sebelumnya (Ft-1), sehingga persamaan diatas dapat dituliskan menjadi :
Ft = Ft-1 +

(6)

Atau
Ft =
4.

(7)

Pemulusan Eksponensial dengan unsure stationer, trend, dan musiman (metode


Winter)
Teknik MA dan ES sederhana yang telah dijelaskan di depan hanya tepat bila
datanya stasioner. Bila data permintaan bersifat musiman dan mempunyai trend,
maka dapat diselesaikan dengan salah satu teknik ES yang biasa disebut Metode
Winter (WM).
a.

Model Winter dengan Trend

24

Model winter menggunakan model trend dari Holt, dimana model ini dimulai
dengan perkiraan trend sebagai berikut (Nasution & Prasetyawan, 2008, p. 47)
:
1

Tt =

(8)

Dimana merupakan konstanta pecahan, Tt adalah perkiraan trend pada


periode-t dan Ft adalah rata-rata eksponensial pada periode - t. dalam
memperbaharui rata-rata eksponensial ditambah trend, sehingga (Nasution &
Prasetyawan, 2008, p. 47) :
ft = Ft-1 + Tt-1
b.

(9)

Model Winter dengan Faktor Musiman


Pola-pola dari permintaan musiman merupakan karakteristik dari beberapa
rangkaian permintaan, seperti peningkatan permintaan sirup dan kue pada
musim lebaran, peningkatan permintaan jas hujan pada musim penghujan dan
sebagainya. Proses umum dari

permintaan musiman ini dapat dinyatakan

dalam persamaan matematis sebagai berikut (Nasution & Prasetyawan, 2008,


p. 49) :
At = .t + t

(10)

Di mana adalah tingkat permintaan rata-rata, adalah faktor musiman, dan


t

c.

adalah distribusi permintaan normal dengan mean nol.

Metode Winter lengkap


Dalam pengembangannya, model ini secara lengkap mempunyai empat
persamaan utama, yaitu (Nasution & Prasetyawan, 2008, pp. 52-53) :
Ft =

(11)

25

Tt =
It =

Ft+1 =

(12)
(13)
(14)

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam membuat peramalan, yaitu


(Nasution, Manajemen industri, 2006, p. 239) :
1.

Peramalan pasti mengandung kesalahan, artinya peramal hanya bisa mengurangi


ketidakpastian yang akan terjadi tetapi tidak dapat menghilangkan ketidakpastian
tersebut.

2.

Peramal seharusnya memberikan informasi tentang berapa ukuran kesalahan. Ini


berarti bahwa karena peramalan pasti mengandung kesalahan, maka adalah penting
bagi peramal untuk menginformasikan seberapa besar kesalahan yang mungkin
terjadi.

3.

Peramalan jangka pendek lebih akurat dibandingkan peramalan jangka panjang. Hal
ini disebabkan karena pada peramalan jangka pendek, faktor-faktor yang
mempengaruhi permintaan relatif masih konstan, sedangkan semakin panjang
periode peramalan, semakin besar pula kemungkinan terjadinya perubahan pada
faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan.

2.3.2

Pengukuran Kesalahan Peramalan

Ukuran akurasi hasil peramalan yang merupakan ukuran kesalahan peramalan


merupakan ukuran kesalahan peramalan merupakan ukuran tentang tingkat perbedaan
antara hasil peramalan dengan permintaan yang sebenarnya terjadi. Ada 4 ukuran yang
biasa digunakan, yaitu (Nasution & Prasetyawan, 2008, pp. 34-35) :

26

1.

Rata-rata Deviasi Mutlak (Mean Absolute Deviation = MAD)


MAD merupakan rata-rata kesalahan mutlak selama periode tertentu tanpa
memperhatikan apakah hasil peramalan lebih besar atau lebih kecil dibandingkan
kenyataannya. Secara matematika MAD dirumuskan sebagai berikut :
MAD =

(15)

dimana :

2.

At

= Permintaan Aktual pada periode t

Ft

= Peramalan Permintaan (Forecast) pada periode t

= Jumlah periode peramalan yang terlibat

Rata-rata Kuadrat Kesalahan (Mean Square Error = MSE)


MSE dihitung dengan menjumlahkan kuadrat semua kesalahan peramalan pada
setiap periode dan membaginya dengan jumlah periode peramalan.

Secara

matematis, MSE dirumuskan sebagai berikut :


MSE =
3.

(16)

Rata-rata kesalahan Peramalan (Mean Forecast Error = MFE)


MFE sangat efektif untuk mengetahui apakah suatu hasil peramalan selama periode
tertentu terlalu tinggi atau terlalu rendah. Bila hasil peramalan tidak bias, maka
nilai MFE akan mendekati nol.

MFE dihitung dengan menjumlahkan semua

kesalahan peramalan selama periode peramalan dan membaginya dengan jumlah


periode peramalan. Secara matematis, MFE dinyatakan sebagai berikut :
MFE =
4.

(17)

Rata-rata Persentase Kesalahan Absolut (Mean Absolute Percentage Error =


MAPE)

27

MAPE merupakan ukuran kesalahan relatif.

MAPE biasanya lebih berarti

dibandingkan MAD karena MAPE menyatakan persentase kesalahan hasil


peramalan terhadap permintaan aktual selama periode tertentu yang akan
memberikan informasi persentase kesalahan terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Banyak peneliti, seperti Chatfield (1998) mempercayai bahwa pengukuran
kesalahan lainnya tidak mendukung keakuratan dari pengukuran, karena sejumlah
besar observasi dapat mendominasi pengukuran dan sulit untuk meneliti kesalahan
secara mendetil (Ren & Glasure, 2009). Pada MFE, nilai error bisa terkadang
positif dan negatif yang mempertentangkan satu sama lain sehingga nilai MFE tidak
mencerminkan error yang sesungguhnya. Pada MAD, jumlah mutlak dari sebuah
error sulit untuk mempertentangkan apakah error positif atau negatif, karena kedua
hal itu sama-sama memiliki arti ketidakakuratan. Pada MSE, sama halnya dengan
MAD, hanya saja MSE dalam bentuk pengkuadratan deviasi (Saputra & Suef,
2005).
Secara sistematis, MAPE dinyatakan sebagai berikut :
MAPE = At 5.

(18)

Tracking Signal
Tracking signal adalah suatu metode yang menunjukkan keandalan suatu
peramalan. Tracking signal memiliki pusat nol. Tracking signal yang mendekati nol
akan semakin baik, berarti positive error dan negative error nya seimbang.
Tracking signal yang positif menunjukkan bahwa nilai aktual permintaan lebih
besar dari ramalan, sedangkan tracking signal yang negatif berarti nilai aktual

28

permintaan lebih kecil dari ramalan. Secara sistematis, tracking signal dapat
dirumuskan sebagai berikut (Gasperz, 2001, p. 81) :
RSFE

TS =
TS =

2.4

MAD

(19)
(20)

Pengukuran Waktu Kerja


Pengukuran waktu kerja adalah sebuah pembelajaran mengenai pengukuran dari

sampel waktu kerja yang diamati pada sejumlah waktu tertentu. Dengan pengukuran
waktu kerja, maka kita bisa mengetahui perencanaan sumber daya manusia, produksi
dan material dengan tepat bahkan biaya yang dikeluarkan dapat ditekan. Untuk
menentukan waktu kerja ini, harus memperhatikan faktor-faktor yang ada pada pekerja
dan kondisi perusahaan (Thomas, 2006).

2.4.1

Perhitungan Waktu Siklus

Perhitungan waktu siklus rata-rata didapat dengan cara sebagai berikut :


Ws =

(21)

Dimana X1 adalah jumlah dari waktu siklus dari satu jenis elemen kegiatan yang
dilakukan saat pengamatan. N adalah banyaknya percobaan pengukuran satu jenis
elemen kegiatan yang dilakukan (Sutalaksana, Anggawisastra, & Tjakraadmadja, 1979,
p. 137).

29

2.4.2

Perhitungan Waktu Normal

Perhitungan waktu normal didapat dengan cara sebagai berikut :


Wn = Ws x p

(22)

Dimana p adalah faktor penyesuaian. Faktor ini diperhitungkan jika pengukur


berpendapat bahwa operator bekerja dengan kecepatan tidak wajar, sehingga hasil
perhitungan waktu perlu disesuaikan atau dinormalkan dulu untuk mendapatkan waktu
siklus rata-rata yang wajar. Jika pekerja bekerja dengan wajar, maka faktor
penyesuaiannya p sama dengan 1, artinya waktu siklus rata-rata sudah normal. Jika
bekerjanya terlalu lambat maka untuk menormalkannya pengukur harus member harga
p1, dan sebaliknya p1, jika dianggap bekerja cepat. (Sutalaksana, Anggawisastra, &
Tjakraadmadja, 1979, p. 137).
Weshinghouse mengarahkan penilaian pada 4 faktor yang dianggap memnetukan
kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja yaitu Keterampilan, Usaha, Kondisi kerja
dan Konsistensi. Setiap faktor terbagi kedalam kelas-kelas dengan nilai masing-masing
(Sutalaksana, Anggawisastra, & Tjakraadmadja, 1979, p. 140).
Keterampilan atau Skill didefinisikan sebagai kemampuan mengikuti cara kerja
yang ditetapkan. Latihan dapat meningkatkan keterampilan, tetapi hanya sampai
ketingkat tertentu saja, tingkat mana merupakan kemampuan maksimal yang dapat
diberikan pekerja yang bersangkutan. Secara psikologis keterampilan merupakan
aptitude untuk pekerjaan yang bersangkutan. Keterampilan dapat menurun yaitu bila
telah terlampau lama tidak menangani pekerjaan tersebut, atau karena sebab-sebab lain
seperti karena kesehatan yang terganggu, rasa fatique yang berlebihan, pengaruh
lingkungan sosial dan sebagainya (Sutalaksana, Anggawisastra, & Tjakraadmadja, 1979,
p. 140).

30

Untuk usaha Effort cara Westinghouse membagi juga atas kelas-kelas dengan ciri
masing-masing. Yang dimaksud dengan usaha disini adalah kesungguhan yang
ditunjukkan atau diberikan operator ketika melakukan pekerjaannya. Dari uraian diatas
terlihat adanya korelasi antara keterampilan dengan usaha. Dalam prakteknya banyak
terjadi pekerja yang mempunyai keterampilan rendah bekerja dengan usaha yang lebih
sungguh-sungguh sebagai imbangannya. Kadang-kadang usaha ini begitu besarnya
sehingga tampak berlebihan dan tidak banyak menghasilkan. Sebaliknya seseorang yang
mempunyai keterampilan tinggi tidak jarang bekerja dengan usaha yang tidak didukung
dihasilkannya performance yang lebih baik. Jadi walaupun hubungan antara kelas
tinggi pada keterampilan dengan usaha tampak erat sebagaimana juga dengan kelaskelas rendah (misalnya Exellent dengan excellent, Fair dengan Fair dan selanjutnya),
kedua faktor ini adalah hal-hal yang dapat terjadi secara terpisah didalam pelaksanaan
pekerjaan. Karenanya cara Westinghouse memisahkan faktor keterampilan dari usaha
dalam rangka penyesuaian (Sutalaksana, Anggawisastra, & Tjakraadmadja, 1979, pp.
142-144).
Yang dimaksud dengan kondisi kerja atau Condition pada cara Westinghouse
adalah kondisi fisik lingkungannya seperti keadaan pencahayaan, temperature dan
kebisingan ruangan. Bila tiga faktor lainnya yaitu keterampilan, usaha dan konsisten
merupakan apa yang dicerminkan operator, maka kondisi kerja merupakan sesuatu
diluar operator yang diterima apa adanya oleh operator tanpa banyak kemampuan
merubahnya. Oleh sebab itu faktor kondisi sering disebut sebagai faktor manajemen,
karena pihak inilah yang dapat dan berwenang merubah atau memperbaikinya
(Sutalaksana, Anggawisastra, & Tjakraadmadja, 1979, p. 144).

31

Faktor yang harus diperhatikan adalah konsistensi atau Consistency. Faktor ini
perlu diperhatikan karena kenyataan bahwa pada setiap pengukuran waktu angka-angka
yang dicatat tidak pernah semuanya sama, waktu penyelesaian yang ditunjukkan pekerja
selalu berubah-berubah dari siklus ke siklus lainnya, dari jam ke jam, bahkan dari hari
ke hari. Selama ini masih dalam batas-batas kewajaran masalah tidak timbul, tetapi jika
variabilitasnya tinggi maka hal tersebut harus diperhatikan (Sutalaksana, Anggawisastra,
& Tjakraadmadja, 1979, p. 144).
Tabel 2. 2 Penyesuaian menurut Westinghouse
Faktor

Kelas

Lambang Penyesuaian
A1
+ 0.15
Superskil
A2
+ 0.13
B1
+ 0.11
Excellent
B2
+ 0.08
C1
+ 0.06
Good
Keterampilan
C2
+ 0.03
Average
D
0.00
E1
- 0.05
Fair
E2
- 0.10
F1
- 0.16
Poor
F2
- 0.22
A1
+ 0.13
Excessive
A2
+ 0.12
B1
+ 0.10
Excellent
Usaha
B2
+ 0.08
C1
+ 0.05
Good
C2
+ 0.02
Average
D
0.00
E1
- 0.04
Fair
E2
- 0.08
Usaha
F1
- 0.12
Poor
F2
- 0.17
Ideal
A
+ 0.06
Kondisi
Excellently
B
+ 0.04
Kerja
Good
C
+ 0.02

32

Faktor
Kondisi
Kerja

Konsistensi

2.4.3

Kelas
Average
Fair
Poor
Perfect
Excellent
Good
Average
Fair
Poor

Lambang Penyesuaian
D
0.00
E
- 0.03
F
- 0.07
A
+ 0.04
B
+ 0.03
C
+ 0.01
D
0.00
E
- 0.02
F
- 0.04

Perhitungan Waktu Baku

Akhirnya setelah perhitungan diatas selesai, waktu baku bagi penyelesaian


pekerjaan kita dapatkan dengan
Wb = Wn + 1

(23)

Dimana l adalah kelonggoran atau allowance yang diberikan kepada pekerja untuk
menyelesaikan pekerjaannya disamping waktu normal. Di dalam praktek banyak terjadi
penentuan waktu baku dilakukan hanya dengan menjalankan beberapa kali pengukuran
dan menghitung rata-ratanya, namun di samping itu, untuk mengukur waktu baku perlu
memperhatikan penyesuian dan kelonggaran. Setelah melakukan penyesuaian seperti
sub bab lalu maka penting untuk melakukan pengukuran kelonggaran. Kelonggaran ini
diberikan untuk hal-hal seperti kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatique, dan
gangguan-gangguan yang mungkin terjadi yang tidak dapat dihindarkan oleh pekerja
(Sutalaksana, Anggawisastra, & Tjakraadmadja, 1979, pp. 137-144).

33

Tabel 2. 3 Kelonggaran Berdasarkan Faktor-Faktor yang Berpengaruh


Faktor
A. Tenaga yang dikeluarkan
1. Dapat diabaikan
2. Sangat Ringan
3. Ringan
4. Sedang
5. Berat
6. Sangat Berat
7. Luar biasa berat
B. Sikap Kerja
1. Duduk
2. Berdiri diatas dua kaki
3. Berdiri diatas satu kaki
4. Berbaring
5. Membungkuk
C. Gerakan Kerja
1. Normal
2. Agar terbatas
3. Sulit
4. Pada anggota-nggota badan terbatas

Contoh Pekerjaan
Bekerja dimeja, duduk
Bekerja di meja, berdiri
Menyekop, ringan
Mencangkul
Mengayun palu yang berat
Memanggul beban
Memanggul karung berat
Bekerja duduk, ringan
Badan Tegak, ditumpukan dua
kaki
Satu kaki mengerjakan alat kontrol
Pada bagian sisi, Belakang atau
depan badan
Badan dibungkukkan bertumpu
pada kedua kaki
Ayunan bebas dari pali
Ayunan terbatas dari palu
Membawa beban berat dengan
satu tangan
Bekerja dengan tangan diatas
kepala

Kelonggaran (%)
Ekivalen beban
Pria
Wanita
tanpa beban

0.00 - 2.25 kg
0.0 - 6.0
0.0 - 6.0
2.25 - 9.00
6.0 - 7.5
6.0 - 7.5
9.00 - 18.00
7.5 - 12.0
7.5 - 16.0
19.00 - 27.00
12.0 - 19.0
16.0 - 30.0
27.00 -50.00
19.0 -30.0
diatas 50 kg
30.0 - 50.0
0.00 - 1.0
1.0 - 2.5
2.5 - 4.0
2.5 - 4.0
4.0 - 10
0
0-5
0-5
5 - 10

34

Faktor
C. Gerakan Kerja
5. Seluruh anggota badan terbatas
D. Kelelahan Mata *)
1. Pandangan yang terputus-putus
2. Pandangan yang hampir terus menerus
3. Pandangan terus menerus dengan
fokus berubah-ubah
4. Pandangan terus menerus dengan
fokus tetap
E. Keadaan Temperatur tempat kerja
**)
1. Beku
2. Rendah
3. Sedang
4. Normal
5. Tinggi
6. Sangat tinggi
F. Keadaan atmosfer ***)
1. Baik
2. Cukup
3. Kurang baik
4. Buruk

Contoh Pekerjaan
Bekerja dilorong pertambangan
yang sempit

Kelonggaran (%)
10 - 15

Membawa alat ukur


Pekerjaan-pekerjaan yang teliti
Memeriksa cacat-catcat pada kain
pemeriksaan yang sangat teliti
Temperatur (C)

dibawah 0
0 - 13
13 - 22
22 -28
28 - 38
diatas - 38
Ruangan yang berventilasi baik,
udara segar
Ventilasi kurang baik, ada baubauan (tidak berbahaya)
Adanya debu-debu beracun, atau
tidak beracun tetapi banyak
Adanya bau-bauan berbahaya yang
mengharuskan menggunakan alat
alat pernapasan

Pencahayaan
baik
0.0 6.0
6.0 7.5

0.0 6.0
6,0 7.5

7.5 12.0

7.5 16.0

12.0 19.0

16.0 30.0

buruk

Kelemahan
Normal
diatas 10
10 - 0
5-0
0-5
5 - 40
diatas 40
0
0-5
5 - 10

Berlebihan
diatas 12
12 - 5
8-0
0-8
8 - 100
diatas 100

10 - 20

35

Faktor
G. Keadaan lingkungan yang baik
1. Bersih, sehat, cerah dengan kebisingan
rendah
2. Siklus kerja berulang-ulang antara 510 detik
3. Siklus kerja berulang-ulang 0 - 5 detik
4. Sangat bising
5. Jika faktor-faktor yang berpengaruh
dapat menurunkan kwalitas
6. Terasa adanya getaran lantai
7. Keadaan-keadaan yang luar biasa
(bunyi, keberhasilan, dll)

Contoh Pekerjaan

Kelonggaran (%)

0
0-1
3 -1
0-5

0-5

5 - 10

5 - 15

36

2.5

Perencanaan Agregat
Perencanaan produksi dimulai dengan meramalkan permintaan secara tepat sebagai

input utamanya. Selain peramalan, input-input untuk permintaan produk tersebut juga
harus memasukkan pesanan-pesanan aktual yang telah dijanjikan, kebutuhan sparepart
dan servis, kebutuhan persediaan gudang, dan penyesuaian tingkat persediaan
sebagaimana yang telah ditentukan dalam perencanaan strategi bisnis. Peramalan
permintaan biasanya dibuat untuk kelompok-kelompok produk secara kasar (tanpa
memperhatikan perbedaan spesifikasi produk), khusunya selama periode waktu yang
panjang (Ginting, 2007, p. 70).
Jika kapasitas produksi tetap berdasarkan perencanaan jangka panjang telah
dipasang, adalah menjadi kewajiban perencanaan produksi agregat untuk menetapkan
kebijaksanaan yang dapat digunakan untuk mengantisipasi fluktuasi permintaan dengan
biaya yang minimum. Dengan kata lain, perencanaan agregat dibuat untuk
menyesuaikan kemampuan produksi dalam menghadapi permintaan pasar yang tidak
pasti dengan mengoptimumkan penggunaan tenaga kerja dan peralatan produksi yang
tersedia sehingga ongkos total produksi dapat ditekan seminim mungkin. Jika pesanan
yang diterima bersifat tetap dalam waktu yang relatif panjang, maka perencanaan
produksi tidak akan mengalami kesulitan dalam menetapkan rencana produksi bulanan.
Akan tetapi pada kenyataannya, pola permintaan seringkali menunjukkan pola yang
dinamis daripada pola statis, sehingga menyulitkan dalam menetapkan rencana produksi
bulanan. Disinilah peranan metode perencanaan agregat dalam mengatasi kesulitan
tersebut (Ginting, 2007, pp. 72-73).
Tujuan perencanaan produksi adalah menyusun suatu rencana produksi untuk
memenuhi permintaan pada waktu yang tepat dengan menggunakan sumber-sumber atau

37

alternatif-alternatif yang tersedia dengan biaya yang paling minimum keseluruhan


produk. Perencanaan agregat merupakan langkah awal aktivitas perencanaan produksi
yang dipakai sebagai pedoman untuk langkah selanjutnya, yaitu penyusunan jadwal
induk produksi (JIP) (Nasution, Manajemen industri, 2006, p. 157).
Perencanaan agregat merupakan perencanaan produksi jangka menengah. Horizon
perencanaannya biasanya berkisar antara 1 -24 bulan atau bisa bervariasi dari 1 sampai 3
tahun. Horizon tersebut tergantung pada karakteristik produk dan jangka waktu
produksi. Periode perencanaan disesuaikan dengan periode peramalan, biasanya 1 bulan.
Perencanaan agregat adalah suatu langkah pendahuluan perencanaan kapasitas secara
terperinci. Perencanaan agregat merupakan dasar untuk membuat jadwal induk produksi
(JIP). JIP menyajikan rencana produksi detail untuk setiap produk akhir. Pada sistem
manufaktur faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam membuat perencanaan agregat
adalah semua sumber daya berupa mesin yang tersedia, jumlah tenaga kerja yang ada,
tingkat persediaan yang ditentukan dan penjadwalannya. Langkah awal dalam proses
perencanaan agregat adalah menyamakan kuantitas dari total jenis item yang akan
diproduksi (unit grup produk, ton, liter, dan lain-lain) (Nasution, Manajemen industri,
2006, p. 257).
Langkah selanjutnya adalah menerjemahkan peramalan permintaan ke dalam
produksi bulanan. Pola permintaan dapat dipengaruhi oleh empat komponen yaitu
kecenderungan (trend), siklus bisnis, musiman, dan random. Komponen kecenderungan
menyatakan kenaikan dan penurunan rata-rata permintaan untuk jangka waktu yang
sangat panjang. Komponen siklus bisnis mengindikasikan penyimpangan yang cukup
besar dari permintaan terhadap kecenderungan yang disebabkan aktivitas bisnis yang
bervariasi. Pengaruh musiman juga dapat menaikkan atau menurunkan tingkat

38

permintaan. Komponen musiman selalu mengikuti pola yang tetap setiap tahunnya.
Komponen terakhir adalah faktor random yang bisa dianggap sebagai noise dari pola
permintaan Penyesuaian dari kapasitas produksi untuk mengantisipasi komponen
kecenderungan merupakan tanggung jawab dari perencanaan produksi strategis,
sedangkan komponen random akan diantisipasi pada perencanaan produksi harian
(penjadwalan). Komponen musiman dan siklus bisnis menjadi perhatian utama dari
perencanaan produksi agregat (Gasperz, 2001, p. 72).
Pada umumnya, ada empat jenis strategi yang dapat dipilih dalam membuat
perencanaan agregat. Pemilihan strategi tersebut tergantung dari kebijaksanaan
perusahaan, keterbatasan perusahaan dalam prakteknya dan pertimbangan biaya.
Keempat strategi tersebut adalah antara lain (Ginting, 2007, pp. 76-78) :
1.

Memproduksi banyak barang pada saat permintaan rendah, dan menyimpan


kelebihannya sampai saat yang dibutuhkan, Alternatif ini akan menghasilkan
tingkat produksi yang relative konstan, yang mengakibatkan ongkos persediaan
tinggi atau terjadinya backorder.

2.

Merekrut

(menambah)

tenaga

kerja

pada

saat

permintaan

tinggi

dan

memberhentikannya (mengurangi) pada saat permintaan rendah. Penambahan


tenaga kerja memerlukan biaya rekruitmen dan pelatihan. Biaya kompensasi dan
reorganisasi sering kali harus dikeluarkan jika dilakukan pengurangan tenaga kerja.
Biaya-biaya ini biasanya diikuti oleh biaya tak tampak seperti : kemerosotan moral
kerja dan turn over tenaga kerja yang tinggi. Kerena kapasitas fasilitas produksi
adalah tetap, maka penurunan produktivitas mungkin akan terjadi jika penambahan
tenaga kerja tanpa disertai dengan penambahan peralatan produksi.

39

3.

Melemburkan pekerja. Alternatif ini sering dipakai dalam perencanaan agregat,


tetapi ada keterbatasannya dalam menjadwalkan kapasitas mesin dan tenaga kerja.
Jika permintaan naik, maka kapasitas produksi dapat dinaikkan dengan
melemburkan pekerja. Tetapi penggunaan lembur hanya dapat dilakukan dalam
batas-batas maksimum kerja lembur yang diijinkan.

4.

Mensubkontrakkan sebagian pekerjaan pada saat sibuk. Alternatif ini akan


mengakibatkan tambahan ongkos karena subkontrak terhadap perusahaan lain.
Berdasarkan keempat strategi di atas, maka ongkos-ongkos yang terlibat dalam

perencanaan agregat adalah (Ginting, 2007, pp. 78-80) :

Hiring Cost (Ongkos penambahan tenaga kerja)


Penambahan tenaga kerja menimbulkan ongkos-ongkos untuk iklan, proses seleksi
dan training. Ongkos yang besar merupakan ongkos yang besar apabila tenaga kerja
yang direkrut adalah tenaga kerja yang belum berpengalaman.

Firing Cost (ongkos pemberhentian tenaga kerja)


Pemberhetian tenaga kerja biasanya terjadi karena semakin rendahnya permintaan
akan produk yang dihasilkan , sehingga tingkat produksi menurun dengan drastic.
Pemberhentian ini mengakibatkan perusahaan harus mengeluarkan uang pesangon
bagi karyawan yang di-PHK, menurunnya moral kerja dan produktivitas karyawan
yang masih bekerja, dan tekanan yang bersifat sosial. Semua akibat ini dianggap
sebagai ongkos pemberhentian tenaga kerja yang akan ditanggung perusahaan.

Inventory cost dan backorder cost (ongkos persediaan dan ongkos kehabisan
persediaan).

40

Persediaan mempunyai fungsi mengantisipasi timbulnya kenaikan permintaan pada


saat-saat tertentu. Konsekuensi dari kebijakan persediaan bagi perusahaan adalah
timbulnya ongkos penyimpanan. Apabila kehabisan persediaan, maka perusahaan
harus mengeluarkan sejumlah ongkos sebagai ongkos menunggu untuk pelanggan,
yang dinamakan dengan backorder cost.

2.6

Master Production Schedule (MPS)


Master production schedule (MPS) merupakan suatu pernyataan tentang produk

akhir (termasuk parts pengganti dan suku cadang) dari suatu perusahaan industri
manufaktur yang merencanakan memproduksi output berkaitan dengan kuantitas dan
periode waktu. Aktivitas penjadwalan produksi induk pada dasarnya berkaitan dengan
bagaimana menyusun dan memperbaharui jadwal produksi induk (master production
schedule = MPS), memproses transaksi dari MPS, memelihara catatan-catatan MPS,
mengevaluasi efektivitas dari MPS dan memberikan laporan evaluasi dalam periode
waktu yang teratur untuk keperluan umpan balik dan tinjauan ulang (Gasperz, 2001, p.
141).
Penjadwalan produksi induk pada dasarnya berkaitan dengan aktivitas melakukan
empat fungsi utama berikut (Gasperz, 2001, p. 142):
1.

Menyediakan atau memberikan input utama kepada sistem perencanaan kebutuhan


material dan kapasitas (material and capacity requirement planning = M&CRP).
M&CRP merupakan aktivitas perencanaan level 3 dalam hirarki perencanaan
prioritas dan perencanaan kapasitas pada sistem MRP II.

2.

Menjadwalkan pesanan-pesanan produksi dan pembelian (production and purchase


orders) untuk item-item MPS.

41

3.

Memberikan landasan untuk penentuan kebutuhan sumber daya dan kapasitas.

4.

Memberikan basis untuk pembuatan janji tentang penyerahan produk (delivery


promise) kepada pelanggan.
Penjadwalan produksi induk (MPS) membutuhkan input utama (Gasperz, 2001, pp.

142-143) :
1.

Data permintaan total merupakan salah satu sumber data bagi proses penjadwalan
produksi induk. Data permintaan total berkaitan dengan ramalan penjualan (sales
forecasts) dan pesanan-pesanan (orders).

2.

Status inventori berkaitan dengan informasi tentang on hand inventory, stok yang
dialokasikan untuk penggunaan tertentu (allocated stok), pesanan-pesanan produksi
dan pembelian yang dikeluarkan (released production and purchased orders) dan
firm planned orders. MPS harus mengetahui secara akurat berapa banyak inventori
yang tersedia dan menentukan berapa banyak yang harus dipesan.

Gambar 2. 2 Proses Penjadwalan Produksi Induk

42

3.

Rencana produksi memberikan sekumpulan batasan kepada MPS.

MPS harus

menjumlahkannya untuk menentukan tingkat produksi, inventori dan sumbersumber daya lain dalam rencana produksi.
4.

Data perencanaan berkaitan dengan aturan-aturan tentang lot-sizing yang harus


digunakan, shrinkage factor, stok pengaman (safety stock) dan waktu tunggu (lead
time) dari masing-masing item yang biasanya tersedia dalam file induk dari item
(Item Master File).

5.

Informasi dari RCCP berupa kebutuhan kapasitas untuk mengimplementasikan


MPS menjadi salah satu input bagi MPS. RCCP menentukan kebutuhan kapasitas
untuk mengimplementasikan MPS, menguji kelayakan dari MPS, dan memberikan
umpan balik kepada perencana atau penyusun jadwal produksi induk (Master
Scheduler) untuk mengambil tindakan perbaikan apabila ditemukan adanya
ketidaksesuaian antara penjadwalan produksi induk dan kapasitas yang tersedia.

2.7

Material Requirement Planning (MRP)


Material requirement planning adalah prosedur logis, aturan keputusan dan teknik

pencatatan terkomputerisasi yang dirancang untuk menterjemahkan jadwal induk


produksi atau MPS (Master Production Schedulling) menjadi kebutuhan bersih atau
NR (Net Requirement) untuk semua item. Sistem MRP dikembangkan untuk membantu
perusahaan manufaktur mengatasi kebutuhan akan item-item dependent secara lebih
baik dan efisien. Selain itu, sistem MRP dedesain untuk melepaskan pesanan-pesanan
dalam produksi dan pembelian untuk mengatur aliran bahan baku dan persediaan dalam
proses sehingga sesuai dengan jadwal produksi untuk produk akhir. Hal ini
memungkinkan perusahaan memelihara tingkat minimum dari item-item yang

43

kebutuhannya dependent, tetapi tetap dapat menjamin terpenuhinya jadwal produksi


untuk produk akhirnya. Sistem MRP juga dikenal sebagai perencanaan kebutuhan
berdasarkan tahapan waktu (time phases requirements planning) (Nasution &
Prasetyawan, 2008, p. 245).
Ada 4 kemampuan yang menjadi ciri utama dari sistem MRP yaitu (Ginting, 2007,
p. 165) :
1.

Mampu menentukan kebutuhan pada saat yang tepat.


Maksudnya adalah menentukan secara tepat kapan suatu pekerjaan harus
diselesaikan atau kapan material harus tersedia untuk memenuhi permintaan atas
produk akhir yang sudah direncanakan pada jadwal induk operasi.

2.

Membentuk kebutuhan minimal untuk setiap item.


Dengan diketahuinya kebutuhan akan produk jadi, MRP dapat menentukan secara
tepat system penjadwalan (berdasarkan prioritas) untuk memenuhi semua
kebutuhan minimal setiap item komponen.

3.

Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan.


Maksudnya adalah memberikan indikasi kapan pemesanan atau pembatalan
terhadap pesanan harus dilakukan, baik pemesanan yang diperoleh dari luar atau
dibuat sendiri

4.

Menentukan penjadwalan ulang atau pembatalan atas suatu jadwal yang sudah
direncanakan.
Apabila kapasitas yang ada tidak mampu memenuhi pesanan yang dijadwalkan
pada waktu yang diinginkan, maka MRP dapat memberikan indikasi untuk
melakukan rencana penjadwalan dengan menentukan prioritas pesanan yang
realistis.

44

Ada 3 input yang dibutuhkan oleh assembly MRP, yaitu (Ginting, 2007, pp. 168171) :
1.

Jadwal Induk Produksi (JIP), didasarkan pada peramalan atas permintaan dari setiap
produk akhir yang akan dibuat.

Secara garis besar pembuatan JIP biasanya

dilakukan atas tahapan-tahapan sebagai berikut :


a.

Identifikasi sumber permintaan dan jumlahnya, sehingga dapat diketahui


besarnya permintaan produk akhir setiap periodenya.

b.

Menentukan besarnya kapasitas produksi yang diperlukan untuk memenuhi


permintaan yang telah diidentifikasikan. Perencanaan ini biasanya dibuat pada
tingkat agregat, sehingga masih merupakan perencanaan global. Dalam tahap
ini, identifikasi kemampuan dari setiap sumber daya yang dimiliki untuk
menentukan kesanggupan berproduksi.

c.

Menyusun rencana rinci dari setiap produk akhir yang akan dibuat. Tahap ini
merupakan penjabaran (disagregasi) dari rencana agregat, sehingga akan
didapat jadwal produksi setiap produk akhir dibuat dan periode waktu
pembuatannya. Selain itu dijadwalkan sumber daya yang diperlukan.

2.

Catatan Keadaan Persediaan, catatan keadaan persediaan menggambarkan status


semua item yang ada dalam persediaan, yang berkaitan dengan :
a.

Jumlah persediaan yang dimiliki pada setiap periode (on hand inventory)

b.

Jumlah barang yang sedang dipesan dan kapan pesanan tersebut akan datang
(on order inventory)

c.
3.

Waktu ancang-ancang (lead time) dari setiap bulan.

Struktur Produk, berisi informasi tentang hubungan antara komponen-komponen


dalam suatu proses assembling.

45

Struktur produk dapat digambarkan sebagai sebuah pohon dengan cabang-cabangnya


seperti tampak pada gambar di bawah ini (Astana, 2007, p. 187) :

Gambar 2. 3 Struktur Produk


Gambar di atas menunjukkan contoh struktur produk yang artinya : produk A
merupakan produk akhir (level 0) terbentuk dari 2 sub rakitan B dan 4 sub rakitan C
(level 1). Setiap sub rakitan B terdiri dari 1 bagian D, 3 bagian E dan 2 bagian F
(level 2). Demikian juga pada sub rakitan C terdiri dari 2 bagian E (level 2). Angka
dalam kurung menunjukkan jumlah unit komponen yang bersangkutan. Sistem MRP
dapat digambarkan sebagai berikut (Astana, 2007, p. 187) :

Gambar 2. 4 struktur MRP


Ouput dari perhitungan MRP adalah penentuan jumlah masing-masing BOM dari
item yang dibutuhkan bersamaan dengan tanggal yang dibutuhkannya. Informasi ini

46

digunakan untuk merencanakan pelepasan pesanan (order release) untuk pembelian dan
pembuatan sendiri komponen-komponen yang dibutuhkan. Pelepasan pesanan yang
direncanakan (planned order release) secara otomatis dihasilkan oleh sistem komputer
MRP

bersamaan

dengan

pesanan-pesanan

yang

harus

dijadwalkan

kembali,

dimodifikasi, ditangguhkan atau dibatalkan.


Dengan cara ini MRP menjadi suatu alat untuk perencanaan operasi bagi manajer
produksi. Berdasarkan uraian di atas, output yang dapat diperoleh dari sistem MRP
dapat dirangkum sebagai berikut (Ginting, 2007) :
1.

Menentukan jumlah material serta waktu pemesanannya dalam rangka memenuhi


permintaan produk akhir yang sudah direncanakan dalam JIP.

2.

Menentukan jadwal pembuatan komponen yang menyusun produk akhir. Dengan


diketahuinya jumlah kebutuhan produk akhir maka MRP dapat menentukan secara
tepat cara penjadwalan setiap komponen atau material sehingga ongkos yang
dikeluarkan minimum.

3.

Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan yang berarti MRP mampu


memberikan indikasi kapan pembatalan atas pesanan harus dilakukan.

Suatu

pemesanan dalam hal ini dapat dilakukan melalui pembelian atau merupakan proses
pembuatan yang dilakukan di pabrik sendiri.
4.

Menentukan jadwal ulang produksi atau pembatalan atas suatu jadwal produksi
yang sudah direncanakan. Apabila kapasitas produksi yang sudah ada tidak mampu
memenuhi pesanan yang telah dijadwalkan pada waktu yang telah ditentukan, maka
MRP dapat memberikan indikasi untuk melakukan rencana ulang penjadwalan
produksi. Rencana ulang ini akan dapat dilakukan setelah adanya kesepakatan
penyerahannya.

Jika kesepakatan ini tidak dapat dicapai, maka berarti bahwa

47

pembatalan atas suatu pemesanan terpaksa dilakukan.

Dengan demikian MRP

mampu memberikan indikasi tindakan yang perlu dilakukan apabila terjadi


ketidakseimbangan antara permintaan dan kemampuan yang dimiliki.

2.8

Pengertian Sistem
Sistem adalah sekumpulan komponen yang saling berhubungan, yang bekerja sama

dalam mencapai suatu tujuan dengan menerima masukan (input) dan menghasilkan
keluaran (output) dengan melalui proses transformasi. Oleh karena itu, sistem
mempunyai 3 komponen dasar yang saling berinteraksi atau fungsi dasar, yaitu (O'brien,
2003, p. 8) :
-

Masukan, yaitu bagian yang meliputi pengambilan elemen yang masuk ke dalam
sistem untuk diproses. Contoh : bahan mentah, energi, data, dan sumber daya
manusia harus bisa mengatur prosesnya.

Proses, yaitu bagian yang meliputi perubahan dari input menjadi output. Contoh :
proses manufaktur, kalkulasi matematika.

Keluaran, yaitu bagian yang meliputi elemen yang dihasilkan dari proses
transformasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Contoh : produk jadi.
Konsep sistem juga dilengkapi dengan dua komponen tambahan, yaitu feedback dan

kontrol. Feedback adalah data-data kinerja sistem yang didapatkan selama sistem
berjalan. Sedangkan kontrol adalah pengawasan dan pengevaluasian feedback untuk
menentukan apakah sistem yang sedang berjalan akan mencapai tujuannya atau tidak.
Sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang saling terintegrasi dengan maksud
yang sama untuk mencapai suatu tujuan (Raymond Mcleod, 2001, p. 9).

48

Pengertian sistem menurut Hall adalah sekelompok dua atau lebih komponen
komponen yang saling berkaitan (interrelated) atau subsistem-subsistem yang bersatu
untuk mencapai tujuan yang sama (common purpose) (Hall, 2001, p. 5).
Menurut pendapat Mathiassen menyatakan sistem adalah sekumpulan komponen yang
mengimplementasikan kebutuhan pemodelan, fungsi dan antar muka (Mathiassen, 2000,
p. 9).
Jadi dapat disimpulkan sistem adalah sekelompok elemen yang saling berkaitan dan
bersatu untuk mecapai tujuan tertentu.

2.9

Pengertian Informasi
Informasi menjadi hal yang penting yang patut diketahui pada zaman teknologi

sekarang ini. Dengan adanya informasi maka perusahaan dapat melakukan berbagai
kepentingan. Untuk mendapatkan informasi yang baik maka diperlukan suatu data yang
akurat. Data mengandung fakta atau deskripsi yang secara relatif tidak berarti bagi
pemakai, sedangkan informasi adalah data yang telah diproses, atau data yang telah
memiliki arti (Raymond Mcleod, 2001, p. 15).
Informasi adalah data yang sudah diubah menjadi bentuk yang berarti dan berguna
bagi pengguna tertentu (O'brien, 2003, p. 13).
Informasi didefinisikan sebagai data yang diproses, namun definisi ini tidak
memadai. Informasi ditentukan oleh efeknya pada para pemakai, bukan pada bentuk
fisiknya (Hall, 2001, p. 14).
Dari pengertian dan karakteristik di atas dapat disimpulkan bahwa informasi dan
data merupakan konsep pengertian yang berbeda. Informasi dihasilkan dari sekumpulan

49

data yang tidak memiliki makna dan pengertian yang diolah menjadi sebuah fakta yang
bermakna dan bernilai.

2.10

Pengertian Sistem Informasi


Sistem informasi menurut Hall adalah sebuah rangkaian prosedur formal dimana

data dikumpulkan, diproses menjadi informasi dan didistrisbusikan kepada para pemakai
(Hall, 2001, p. 7).
Sistem informasi sebagai kombinasi dari manusia, perangkat keras, perangkat lunak,
jaringan komunikasi dan sumber daya data, yang mengumpulkan, mengubah atau
mengolah, dan menghasilkan informasi dalam sebuah organisasi. Manusia bergantung
pada sistem informasi untuk melakukan komunikasi dengan peralatan fisik (hardware),
instruksi pemrosesan informasi atau prosedur (software), jaringan komunikasi
(network), dan data (data resources). Manusia, perangkat keras, perangkat lunak, data,
dan jaringan merupakan 5 sumber daya utama yang dibutuhkan sebuah sistem informasi.
Sumber daya manusia meliputi pengguna akhir (end-user) dan spesialis sistem
informasi, sumber daya perangkat keras meliputi mesin dan medianya, sumber daya
perangkat lunak meliputi program-program dan prosedur, sumber daya data meliputi
data itu sendiri, dan sumber daya jaringan meliputi media komunikasi dan pendukung
jaringan (O'brien, 2003, p. 7).
Sistem informasi adalah suatu kegiatan untuk mengumpulkan, mengolah,
menganalisa, menyebarkan informasi untuk tujuan tertentu (Turban, Rainer, & Potter,
2003, p. 15).

50

Jadi, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi adalah sebuah rangkaian prosedur
formal di mana data dikumpulkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan
kepada para pemakai.

2.11

Analisis dan Perancangan Sistem Informasi


Sebuah sistem informasi yang akan dibangun harus dianalisa dan dirancang terlebih

dahulu. Agar sistem informasi yang dibangun sesuai dengan yang diharapkan maka
diperlukan sebuah pengembangan sistem itu sendiri.
Rancangan sistem adalah penentuan proses dan data yang diperlukan oleh sistem
baru (Raymond Mcleod, 2001, p. 192).
Pengembangan sistem adalah kumpulan aktivitas yang diperlukan dalam
membangun sebuah solusi sistem informasi untuk masalah-masalah dan peluangpeluang bisnis. Dalam hal ini, Turban menjabarkan sebuah siklus hidup pengembangan
sistem tradisional. Siklus hidup ini adalah pola pikir terstruktur yang berisi proses yang
berurutan tentang bagaimana sistem informasi dikembangkan. Turban menjelaskan ada
8 tahap dalam siklus hidup tersebut. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah investigasi
sistem, analisis sistem, perancangan sistem, pemrograman, pengetesan, implementasi,
operasi, dan pemeliharaan (Turban, Rainer, & Potter, 2003, pp. 461-463).
Whitten menjabarkan dua konsep penting dalam analisis dan perancangan sistem
informasi. Pertama, analisis sistem adalah sebuah teknik pemecahan masalah yang
menguraikan sebuah sistem menjadi bagian-bagian komponen dengan tujuan
mempelajari seberapa bagus bagian-bagian komponen tersebut bekerja dan berinteraksi
untuk meraih tujuan mereka. Kedua, perancangan sistem adalah sebuah teknik
pemecahan masalah yang saling melengkapi dengan analisis sistem, yang merangkai

51

kembali bagian-bagian komponen menjadi sebuah sistem yang lengkap. Dalam hal ini,
sistem mengalami perbaikan dari awalnya. (Whitten, Bentley, & Dittman, 2004, p. 176).
Ada beberapa pendekatan atau metode yang digunakan dalam menganalisis dan
merancang sebuah sistem. Beberapa pendekatan yang digunakan untuk analisis sistem
adalah analisis terstruktur, teknik informasi, discovery prototyping, dan analisis
berorientasi objek. Analisis terstruktur berfokus pada aliran data melalui proses-proses
bisnis dan perangkat lunak. Teknik informasi adalah teknik yang berfokus pada struktur
data tersimpan dalam sebuah sistem. Dalam analisis terstruktur digunakan diagram
aliran data, sedangkan teknik informasi menggunakan diagram hubungan entitas.
Discovery prototyping adalah pendekatan analisis sistem terakselerasi yang menekankan
konstruksi prototip. Prototip adalah contoh sistem berskala kecil, tidak lengkap, tetapi
berfungsi. Dalam bahasan selanjutnya, pendekatan analisis dan perancangan sistem yang
digunakan adalah pendekatan analisis dan perancangan sistem berorientasi objek
(Whitten, Bentley, & Dittman, 2004, p. 176).
Secara umum dari beberapa pengertian di atas, bisa kita simpulkan bahwa
perancangan sistem adalah suatu riset untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan akan
informasi untuk merancang sistem baru yang akan dibangun serta penentuan fitur-fitur
dalam suatu rancangan sistem yang baru atau diperbaharui untuk memenuhi kebutuhan
pemakai.

2.12

Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Berorientasi Objek


Analisis dan perancangan berorientasi objek (OOAD) adalah pendekatan dengan

menggunakan konsep objek. Konsep yang digunakan dalam orientasi objek adalah
pembungkusan semua data yang mendeskripsikan orang, tempat, kejadian dalam suatu

52

wadah, yaitu objek itu sendiri. Beberapa tipe diagram yang berbeda yang secara kolektif
memodelkan sebuah sistem informasi atau aplikasi dalam artian objek didefinisikan
dengan Unified Modeling Language (UML) (Whitten, Bentley, & Dittman, 2004, p.
179).
Analisis dan perancangan berorientasi objek adalah suatu koleksi pedoman umum
untuk melakukan analisis dan desain. Kegiatan utama dari OOAD adalah analisis
problem domain, analisis application domain, desain arsitektur, dan desain komponen.
Dalam OOAD, blok-blok pembangun yang paling dasar adalah objek. Selama analisis,
objek digunakan untuk mengorganisasikan pengertian terhadap konteks sistem (system
context). Sedangkan selama perancangan, objek digunakan untuk mengerti dan
mendeskripsikan sistem itu sendiri. Objek adalah sebuah entitas dengan identitas, status,
dan perilaku. Dalam analisis, objek adalah abstraksi sebuah fenomena dalam konteks
sistem, misalnya pelanggan. Dalam perancangan, objek adalah bagian dari sistem.
Biasanya objek-objek dideskripsikan dalam kelas-kelas. Contohnya, sebuah kelas
pelanggan dapat berisi objek pelanggan yang spesifik, tetapi dalam kelas tersebut juga
terdapat pelanggan-pelanggan lain. Dimana masing-masing memiliki identitas, status,
dan perilaku yang unik. Jadi, kelas adalah sebuah deskripsi koleksi objek yang saling
berbagi struktur, pola perilaku, dan atribut. Atau dengan kata lain, kelas adalah
kumpulan objek yang memiliki ciri-ciri yang sama. Kesuksesan pengembangan sistem
sangat bergantung pada pemahaman pengembang terhadap praktisi dari aplikasi itu
sendiri. Pada gambar 2.5, konteks sistem dapat dilihat dari dua perspektif yang saling
melengkapi yaitu sistem memodelkan sesuatu (problem domain) dan sistem
dioperasikan oleh pemakai (application domain). Problem domain adalah bagian
konteks yang diadministrasikan, diawasi, atau dikontrol oleh sistem. Sedangkan

53

application domain adalah organisasi yang mengadministrasikan, mengawasi, atau


mengontrolproblemdomain(Mathiassen,2000,pp.34).

Gambar 2. 5 Konteks Sistem


Dalam banyak analisis dan perancangan tradisional, metode, fungsi, data dan aliran
adalah kunci dari konsep. Konsep-konsep ini cocok untuk menggambarkan fenomena
dalam kantor dan sistem yang terkomputerisasi. Objek, status, dan perilaku dan lainnya
adalah konsep umum dan cocok untuk menggambarkan kebanyakan fenomena yang
diekspresikan dalam bahasa alamiah. Keuntungan dari menggunakan analisis dan
perancangan berorientasi objek adalah memberikan suatu informasi yang jelas tentang
konteks sistem. Metode tradisional sangat efektif dalam pemodelan sistem awal, yang
tujuannya adalah untuk mengotomatisasi tugas-tugas pengolahan informasi tenaga kerja
yang intensif. Kebanyakan sistem tersebut sekarang telah dikembangkan, sistem baru
dibangun untuk mendukung pemecahan masalah individual, komunikasi dan koordinasi.
Fungsi dari sistem baru ini tidak hanya untuk menangani sejumlah besar data yang

54

seragam, tetapi juga untuk menyebarkan data khusus secara terinci pada organisasi. Oleh
karena itu, sangat diperlukan untuk menggunakan metode yang memusatkan, dengan
kejelasan yang sama, pada sistem dan konteksnya. Keuntungan lainnya dari metode
berorientasi objek adalah koneksi yang dekat antara analisis berorientasi objek,
perancangan berorientasi objek, tampilan pemakai berorientasi objek, dan pemrograman
berorientasi objek. Objek dapat menjadi kondisi model yang sosial, ekonomis dan juga
pada tampilan, fungsi, proses dan komponen sistem. Dalam analisis, pengembang
menggunakan objek untuk menentukan kebutuhan sistem. Dalam perancangan,
pengembang menggunakan objek untuk menggambarkan sistem itu sendiri. Pengembang
juga menggunakan objek sebagai konsep pokok dalam pemrograman (Mathiassen, 2000,
pp. 5-6).
Objek memberikan koherensi material struktur sistem. Objek juga menyediakan
koherensi mental yaitu objek menawarkan pengembang cara alami berpikir tentang
masalah yang mendukung abstraksi tanpa memaksa satu sudut pandang dari sisi teknis
saja. Jadi dalam hal ini, OOAD merupakan suatu kumpulan metode dan langkah-langkah
untuk menganalisa dan membuat perancangan dengan pemodelan ke dalam objek
(Mathiassen, 2000, p. 6).
Menurut Mathiassen (2000,p15) OOAD memiliki empat aktivitas utama yaitu
problem domain analysis, application domain analysis, architectural design dan
component design. Secara umum empat aktivitas utama ini dapat digambarkan sebagai
berikut (Mathiassen, 2000, p. 15) :

55

Gambar 2. 6 Empat Kegiatan Utama OOAD


2.13

Pemilihan Sistem
Sebuah pengembangan proyek dimulai dengan sekumpulan koleksi ide-ide berbeda

tentang sistem yang diinginkan.Pengembangan proyek ini dimulai dengan analisis awal
atau dengan daftar keputusan yang telah dibuat. Hal ini menjadi pekerjaan dan tanggung
jawab pengembang sistem untuk mengambil langkah-langkah sebelumnya dan
mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan utama. Beberapa pertanyaan itu tentang
masalah apa yang ingin dipecahkan, apakah sistem yang rencanakan berguna untuk
solusi dan apa yang terjadi apabila kita menerapkan sistem yang berbeda secara
keseluruhan (Mathiassen, 2000, p. 23).

56

Gambar 2. 7 Subaktivitas Dalam Memilih Sistem

2.13.1 Definisi Sistem


Definisi sistem adalah sebuah gambaran singkat dari sistem terkomputerisasi yang
dinyatakan dalam bahasa alami. Definisi sistem menyatakan properti mendasar untuk
pengembangan sistem dan penggunaannya. Definisi sistem menggambarkan sistem di
dalam konteksnya, hal-hal apa yang seharusnya ada di dalam informasi, fungsi mana
yang menyediakan informasi tersebut, dimana informasi tersebut digunakan dan kondisi
pengembangan seperti apa yang akan diterapkan (Mathiassen, 2000, p. 24).

2.13.2 Pemilihan sistem


Pada pemilihan sistem terdapat tiga subaktivitas yang terjadi. Pada subaktivitas
pertama, yaitu subaktivitas dimana kita mendapatkan gambaran mengenai situasi dan
interprestasi orang yang berbeda. Subaktivitas kedua adalah membuat dan mengevaluasi
ide-ide untuk perancangan sistem. Pada subaktivitas ini metode-metode kita
menyediakan satu rangkaian teknik untuk mendukung kreativitas dan memperkenalkan

57

pola pikir yang baru. Subaktivitas yang ketiga adalah merumuskan dan memilih definisi
sistem, mendiskusikan dan mengevaluasi alternatif definisi sistem dalam hubungannya
dengan situasi tertentu (Mathiassen, 2000, p. 25).

2.13.3 Menggambarkan Situasi


Pengertian tentang situasi user haruslah kaya dan luas. Untuk memperoleh
pengertian dan memahami aspek penting dari suatu situasi, dapat digunakan rich picture.
Dengan adanya rich picture kita dapat menjelaskan pandangan-pandangan pemakai yang
penting terhadap situasi, masalah fasilitas, dan mendapatkan sebuah tinjauan situasi
dengan cepat. Tujuan disini adalah bukan untuk membuat gambaran detil dari seluruh
kemungkinan keadaan, tetapi lebih ke arah untuk mendapatkan gambaran singkat.
Rich picture adalah sebuah gambar yang tidak formal yang menyajikan pemahaman
ilustrator mengenai situasi (Mathiassen, 2000, pp. 26-28).

2.13.4 Membuat Ide


Suatu pemahaman yang kuat dari situasi yang ada adalah sebuah poin awal yang
baik untuk pengembangan proyek. Hal ini akan membawa kepada ide-ide selanjutnya
dan pola pikir yang baru. Hasil dari subaktivitas ini adalah koleksi dari ide-ide. Ide-ide
ini menggambarkan solusi-solusi yang terkomputerisasi yang diringkas dalam satu atau
lebih definisi sistem (Mathiassen, 2000, pp. 31-33).

2.13.5 Pengujian Dengan Prototipe


walaupun prototipe kurang kompleks dibandingkan dengan sistem yang ditargetkan,
namun hal ini dapat membantu kita membicarakan dan mengevaluasikan atribut dari

58

sistem kita. Batasan prototipe bisa bermacam-macam. Sebagai contoh, misal, kita
mengkarakteristikan tiga komponen utama sistem adalah tampilan, fungsi, dan model.
Sebuah prototipe mungkin saja berisi hanya satu atau dua dari komponen tersebut.
Secara umum prototipe tidak menyediakan komponen-komponen secara lengkap. Secara
teknis prototipe terbatas pada fungsi-fungsi tertentu, mungkin ada beberapa fungsi diluar
cakupan prototipe tersebut (Mathiassen, 2000, pp. 34-35).

2.13.6 Menentukan Sistem


Tujuan dari subaktivitas ini adalah untuk memilih sistem aktual yang akan
dikembangkan. Penentuan sistem ini dilakukan secara sistematis untuk memperjelas
penafsiran, kemungkinan-kemungkinan dan konsekuensi dari beberapa alternatif solusi.
Pada umumnya prinsip dari penentuan sistem ini adalah untuk menentukan alternatif
dari sistem-sistem. Pada subaktivitas sebelumnya memberikan penafsiran-penafsiran dan
kemungkinan dari situasi yang ada dan kemudian membuat ide-ide baru untuk solusi.
Proses ini secara tipikal akan membutuhkan banyak pengarahan yang berbeda dan hal
ini sangat sulit untuk mempertahankan seluruh alternatif-alternatif yang ada dan
membuat satu pilihan yang konsisten ide mana yang harus diikuti (Mathiassen, 2000, pp.
37-38).

2.13.7 Kriteria FACTOR


Kriteria FACTOR terdiri dari enam elemen, yaitu (Mathiassen, 2000, p. 39) :
1. Functionality : fungsi sistem yang mendukung tugas-tugas application domain.
2. Application domain : bagian-bagian dari organisasi yang mengurus, mengawasi, dan
mengendalikan problem domain.

59

3. Conditions : kondisi sistem dimana sistem akan dikembangkan dan digunakan


4. Technology : teknologi terdiri dari dua yaitu teknologi yang digunakan dalam sistem
dan teknologi dimana sistem itu dijalankan.
5. Object : objek utama yang ada di dalam problem domain.
6. Responsibility : tanggung jawab sistem secara keseluruhan dalam hubungannya
terhadap konteks sistem itu sendiri.

2.13.8 Evaluasi dan Pemilihan


Pemilihan sistem bukan pekerjaan dari pengembang sistem, tugas dari pengembang
sistem adalah menyediakan pilihan-pilihan. Apabila sistem itu ingin dipakai, hal itu
harus dipilih berdasarkan negosiasi di antara pihak-pihak yang terlibat. Dalam beberapa
situasi pengembang sistem memiliki kepentingan profesional untuk memilih sistem
karena mereka memiliki alasan perdebatan sendiri untuk kualitas sistem yang dipilih
dibandingkan sistem yang lain. Tetapi pada akhirnya, pemilihan sistem tetap menjadi
tanggung jawab pemakai dan pelanggan untuk memilih sistem mana yang menjadi dasar
untuk analisis dan perancangan (Mathiassen, 2000, pp. 41-42).

2.14

Analisis Problem Domain


Hal yang dijelaskan mengenai analisis problem domain adalah bahwa problem

domain berfokus pada pertanyaan kunci mengenai informasi apa yang harus disepakati
dengan sistem. Jawaban dari pertanyaan ini penting selama aktivitas analisis, karena
model problem domain menyediakan sebuah bahasa untuk menyatakan kebutuhan
sistem. Selama perancangan, model diubah menjadi sebuah komponen yang
menyediakan status problem domain saat ini dan sejarah sebelumnya. Tujuan analisis

60

problem-domain

adalah

membangun

suatu

model

untuk

merancang

dan

mengimplementasikan sebuah sistem yang dapat memproses, menyampaikan dan


menyajikan laporan informasi mengenai problem-domain (Mathiassen, 2000, p. 5).
Analisis problem domain memiliki tiga aktivitas utama, yaitu kelas, struktur, dan
perilaku. Analisis dilakukan dengan menggunakan sistem definisi yang telah dibuat, dan
hasilnya adalah sebuah model problem domain (Mathiassen, 2000, p. 45).

System definition

Behavior
Classes

Model
Structure

Gambar 2. 8 Aktivitas Pemodelan Problem Domain

2.14.1 Kelas
Kelas adalah deskripsi koleksi objek yang saling berbagi struktur, pola perilaku, dan
atribut. Tujuan kelas adalah untuk memilih elemen-elemen dari sebuah model problem
domain. Untuk memodelkan problem domain, aktivitas dimulai dengan aktivitas kelas
dan pertanyaan penting tentang objek dan kejadian (event) apa yang harus dimasukan

61

dan yang tidak dimasukan ke dalam model. Mathiassen (2000,p49) menjelaskan bahwa
kejadian adalah sebuah peristiwa instan yang berhubungan dengan satu objek atau lebih
(Mathiassen, 2000, p. 49).
Berikut ini adalah elemen-elemen dari kelas (Mathiassen, 2000, pp. 51-53) :
-

Objek (object)
Objek adalah suatu entitas yang memiliki identitas, status, dan perilaku. Object
diberi karakter melalui event-nya

Kelas (class)
Kelas adalah deskripsi koleksi objek yang saling berbagi struktur, pola perilaku, dan
atribut. Class candidates dapat diperoleh dari kata benda di dalam keterangan atau
pembicaran dengan user. Penamaan class harus sederhana, mudah dibaca, tepat,
tidak membingungkan, dan digunakan di dalam problem-domain.

Kejadian (event)
Kejadian (event) adalah sebuah kejadian instan yang melibatkan satu atau lebih
objek. Sebuah event adalah abstraksi dari kegiatan atau proses dalam problemdomain yang dialami oleh satu atau lebih object. Suatu event harus bersifat
instantaneous dan atomic.
Pemilihan kelas akan mendefinisikan dasar dari blok-blok pembangun dalam model

problem domain. Untuk memfasilitaskan proses ini, sangat penting untuk mendaftarkan
semua kemungkinan atau kandidat kelas yang potensial, tanpa mengevaluasi kandidatkandidat kelas tersebut secara rinci. Tujuannya menghasilkan sebuah daftar kandidat
kelas yang bervariasi (Mathiassen, 2000, p. 49).

62

Tabel 2. 4 Contoh Event Table


Event
Reserved
Cancelled
Treated
Employed
Resigned
Graduated
Agreed

Customer
v
v
v

Assistant
v
v
v
v
v

Classes
Apprentice

Appointment
v
v
v

v
v
v
v

Plan
v

2.14.2 Sktuktur
Tujuan struktur adalah untuk menggambarkan hubungan struktur antara kelas dan
objek di dalam problem domain. Hasil dari structure adalah sebuah class diagram
dengan class dan structure. Class diagram menyediakan gambaran ikhtisar problem
domain secara utuh dengan menggambarkan seluruh hubungan struktural antara classes
dan objects dalam model. Di dalam struktur terdapat dua konsep yaitu struktur kelas dan
struktur objek (Mathiassen, 2000, p. 69).
1. Struktur kelas
Ada dua jenis struktur kelas, yaitu generalization dan cluster.
-

Generalization
Generalization adalah sebuah kelas umum ( super class) yang menggambarkan
properti secara umum dari sekumpulan kelas-kelas spesialnya (Mathiassen, 2000,
p. 72).

63

Gambar 2. 9 Struktur Generalisasi


-

Cluster
Custer adalah sebuah koleksi dari kelas-kelas yang berhubungan. Cluster adalah
sebuah koleksi dari kelas-kelas yang membantu kita mendapatkan gambaran
tentang problem domain. Cluster membawa suatu pengertian secara keseluruhan
dari sebuah problem domain dengan membagi problem domain itu ke dalam
subdomain yang lebih kecil. Notasi yang digunakan adalah file folder yang
didalamnya terdapat kumpulan class yang berkaitan. Class-class dalam cluster
yang sama dihubungkan dengan generalization structure ataupun aggregation
structure, sedangkan class-class yang ada pada cluster yang berbeda
dihubungkan dengan assosiation structure (Mathiassen, 2000, p. 74).

Gambar 2. 10 Struktur Cluster

64

2. Struktur Objek
Ada dua jenis struktur objek, yaitu struktur agregasi dan struktur asosiasi. Kedua
struktur objek menggambarkan suatu hubungan dinamis antara objek-objek di dalam
problem domain (Mathiassen, 2000, p. 75).
-

Struktur agregasi
Struktur agregasi adalah sebuah hubungan antara dua atau lebih objek. Struktur
ini menyatakan bahwa satu objek merupakan dasar dan menentukan bagian yang
lainnya (Mathiassen, 2000, p. 76).

Gambar 2. 11 Struktur Agregasi


-

Struktur asosiasi
Struktur asosiasi adalah Hubungan yang ada dalam dua atau lebih objek, tetapi
hubungan ini bukan merupakan hubungan yang sangat kuat seperti agregasi
karena objek yang satu tetap ada walaupun objek yang lain tidak ada. Asosiasi
diterjemahkan sebagai garis yang menghubungkan objek-objek (Mathiassen,
2000, p. 77).

Gambar 2. 12 Struktur Asosiasi

65

2.14.3 Perilaku
Pada aktivitas perilaku, definisi kelas dalam kelas diagram dikembangkan lagi
dengan menambahkan deskripsi pola perilaku (behavioral pattern) dan atribut pada
setiap kelas. Tujuan dari perilaku adalah untuk memodelkan dinamika dari problem
domain. Ada tiga konsep dari dalam perilaku yaitu event trace, behavioral pattern, dan
atribut (Mathiassen, 2000, p. 89) :
1. Event trace
Event trace adalah sebuah urutan kejadian yang melibati objek tertentu.
2. Behavioral pattern
Behavioral pattern adalah deskripsi dari semua event trace yang mungkin untuk
semua objek di dalam kelas.
3. Atribut
Atribut adalah deskripsi dari properti dari sebuah kelas atau kejadian.
Ketiga konsep ini akan menghasilkan sebuah behavioral pattern dengan atributnya
untuk setiap kelas di dalam diagram kelas.

2.15

Analisis Application Domain


Analisis application domain berfokus pada pertanyaan bagaimana sistem target

digunakan. Tujuan dari pertanyaan ini adalah untuk menentukan kebutuhan akan fungsi
dan tampilan sistem. Konsep dari application domain adalah sebuah organisasi yang
mengawasi, menggontrol dan mengevaluasi problem domain. Hasil dari kegiatan ini
berupa daftar yang lengkap tentang kebutuhan sistem secara keseluruhan (Mathiassen,
2000, p. 56).

66

Aktivitas-aktivitas dalam application domain adalah penggunaan (usage), fungsi,


dan tampilan. Analisis application domain menghasilkan gambaran kebutuhan untuk
digunakan (Mathiassen, 2000, p. 56).

Gambar 2. 13 Analisis Application Domain

2.15.1 Usage
menghasilkan informasi rinci yang sangat banyak yang bernilai sedikit pada
proses pengembangan. Untuk efisiensi, hanya difokuskan pada interaksi antara
pengguna dengan sistem. Dalam hal ini digunakan use case. Use case adalah pola
interaksi antara sistem dan aktor pada application domain. Aktor adalah sebuah abstraksi
pengguna atau sistem lain yang berinteraksi dengan sistem (Mathiassen, 2000, pp. 119120).
-

Use case
Use case adalah pola interaksi antara sistem dengan aktor dalam application domain.

67

Aktor
Aktor adalah abstraksi dari pemakai atau sistem lain yang berinteraksi langsung
dengan sistem target.

2.15.2 Fungsi
Fungsi berfokus pada pertanyaan sistem apa yang dapat membantu aktor-aktornya
di dalam pekerjaan mereka. Ketika menentukan kebutuhan untuk fungsi-fungsi yang
ada, maka sebuah pertanyaan muncul mengenai apa yang akan dilakukan sistem. Dalam
aktivitas penggunaan sistem itu, pertanyaan lebih berfokus pada bagaimana sistem akan
digunakan. Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan sistem apa yang digunakan sangat
sulit tanpa mengetahui bagaimana sistem digunakan. Oleh karena itu, fungsi dan
penggunaan memiliki hubungan yang erat (Mathiassen, 2000, p. 137).
Fungsi adalah sebuah fasilitas untuk membuat suatu model berguna bagi aktornya.
Tujuan dari fungsi adalah untuk menentukan kemampuan pemrosesan informasi sistem.
Hasil dari fungsi adalah sebuah daftar lengkap dari fungsi-fungsi dengan spesifikasi
fungsi yang kompleks (Mathiassen, 2000, p. 137).
Ada empat tipe fungsi yaitu (Mathiassen, 2000, p. 138) :
-

Update
Fungsi diaktifkan oleh kejadian yang berasal dari problem domain dan
mengakibatkan perubahan status dalam model.

Signal
Fungsi diaktifkan oleh perubahan di dalam status model dan mengakibatkan suatu
reaksi dalam konteks sistem. Reaksi ini mungkin berupa suatu tampilan untuk aktor
dalam application domain, atau suatu intervensi langsung dalam problem domain.

68

Read
Fungsi diaktifkan oleh suatu kebutuhan untuk informasi dalam suatu tugas pekerjaan
aktor dan menghasilkan tampilan bagian model yang relevan.

Compute
Fungsi diaktifkan oleh suatu kebutuhan untuk informasi dalam suatu tugas pekerjaan
aktor dan dan terdiri dari suatu perhitungan yang melibatkan informasi yang
disajikan oleh aktor atau model, hasilnya berupa hasil perhitungan.

2.15.3 Tampilan
Tampilan adalah fasilitas yang memungkinkan model fungsi sistem tersedia bagi
aktor. Tampilan digunakan oleh aktor untuk berinteraksi dengan sebuah sistem. Analisis
dimulai dari use case (bagian dari problem-model), dan kebutuhan fungsional dan
hasilnya ditentukan oleh elemen dari Tampilan, karena Tampilan yang menjembatani
hubungan antar pengguna (user) dengan komputer dengan menggunakan software.
Hasilnya berupa navigation diagram. Navigation diagram terdiri dari gambar tiap
window, dan panah yang menandakan bagaimana tombol-tombol yang digunakan dan
pilihan lainnya akan mengaktifkan fungsi atau membuka window lain. Ada dua tipe dari
tampilan yaitu (Mathiassen, 2000, pp. 151-152) :
1. Tampilan pemakai
Tampilan pemakai adalah tampilan untuk pemakai.
2. Tampilan sistem
Tampilan sistem adalah tampilan untuk sistem-sistem lainnya.
Ketika menentukan tampilan pemakai, gaya dialog menjadi pilihan penting. Ada
empat jenis pola dialog yaitu (Mathiassen, 2000, pp. 154-155) :

69

1. Menu selection
Menu selection dinyatakan dalam sebuah daftar dari berbagai kemungkinan pilihan
di dalam tampilan pemakai.
2. Form fill-in
Form fill-in merupakan pola klasik untuk pencatatan data pada terminal yang
berdasarkan karakter.
3. Command language
Pada command language pemakai dapat dengan mudah memasukkan perintah yang
telah ada formatnya.
4. Direct manipulation
Direct manipulation memungkinkan pemakai bekerja dengan representasi objek.
Dengan pola ini, pemakai dapat memilih objek dan melakukan fungsi dengan hasil
yang nyata secara langsung.

2.16

Perancangan Arsitektur
Perbedaan sistem yang sukses dan perbedaan sistem yang yang tidak sukses adalah

terletak pada perancancangan arsitektur yang kuat. Tujuan dari perancangan arsitektur
adalah untuk menyusun sistem yang terkomputerisasi. Konsep yang dipakai dalam
perancangan arsitektur adalah criterion, component architecture, process architecture.
Kriteria berisi kondisi dan kriteria apa yang digunakan untuk perancangan. Komponen
berisi bagaimana sistem distrukturkan pada komponen-komponen. Sedangkan proses
berisi bagaimana proses sistem didistribusikan dan dikoordinasikan (Mathiassen, 2000,
p. 173).

70

Gambar 2. 14 Aktivitas Perancangan Arsitektur

2.16.1 Kriteria
Tujuan dari Kriteria adalah untuk menetapkan prioritas dari rancangan. Ada dua
konsep di dalam criteria yaitu criterion dan condition (Mathiassen, 2000, p. 177).
-

Criterion
Criterion adalah sebuah properti pilihan dari arsitektur

Condition
Condition adalah Analisa keterbatasan dan peluang manusia, teknis, dan organisasi
yang terlibat dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Tabel 2. 5 Kriteria Sistem
Kriteria
Usable
Secure
Efficient
Correct
Reliable

Ukuran
Kemampuan beradaptasi sistem terhadap organisasi,
berkaitan dengan kerja, dan konteks secara teknis.
Tindakan pencegahan terhadap akses yang tidak diotorisasi
terhadap data dan fasilitas.
Penghematan atas fasilitas platform teknis.
Pemenuhan kebutuhan
Pemenuhan atas ketepatan yang diperlukan fungsi eksekusi.

71

Kriteria
Maintainable
Testable
Flexible
Comprehensible
Reusable
Portable
Interoperable

Ukuran
Biaya untuk penempatan dan perbaikan sistem yang rusak.
Biaya untuk memastikan sistem berfungsi sesuai dengan
yang diharapkan.
Biaya memodifikasi sistem.
Usaha yang diperlukan untuk memperoleh pemahaman atas
sistem.
Kemampuan untuk menggunakan bagian sistem ke sistem
lain yang terhubung.
Biaya memindahkan sistem ke platform teknis lain.
Biaya menggabungkan sistem ke sistem yang lain.

2.16.2 Komponen
Arsitektur komponen adalah sebuah pandangan sistem secara terstruktur yang
saling berhubungan sedangkan komponen adalah sebuah kumpulan bagian program
yang saling berhubungan dan memiliki tanggung jawab dengan baik. Sebuah arsitektur
komponen yang baik membuat sebuah sistem lebih mudah memahami dan
mengorganisasikan rancangan kerja dan mencerminkan stabilitas konteks sistem. Tujuan
dari komponen adalah untuk membuat struktur sistem yang dapat dipahami dan
fleksibel. Hasil dari komponen adalah sebuah diagram dengan spesifikasi komponen
yang kompleks (Mathiassen, 2000, p. 189).
Berikut ini adalah pola-pola yang digunakan dalam arsitektur sistem adalah
(Mathiassen, 2000, pp. 193-198) :
1. Layered architecture pattern
Pola ini memiliki komponen-komponen yang bertingkat yang disebut sebagai layer.

72

Gambar 2. 15 Layered architecture pattern


2. GenericArchitecturePattern
Pola ini menghubungkan komponenkomponen antarmuka, fungsi, model, dan technical
platform.

Gambar 2. 16 Generic Architecture Pattern

73

3. ClientServerArchitecturePattern
Client server architecture pattern dibangun untuk mengatasi sistem yang terdistribusi
dalam beberapa prosesor yang tersebar di beberapa tempat. Komponen architecture ini
terdiridarisebuahserverdanbeberapaclient.Servermemilikisekumpulanoperationyang
dapatdigunakanolehclient.

Gambar 2. 17 Client Server Architecture Pattern

2.16.3 Proses
Tujuan dari proses adalah untuk menentukan struktur fisik dari sebuah sistem.
Beberapa konsep yang ada di dalam proses adalah arsitektur proses, prosesor, komponen
program, dan objek aktif. Arsitektur proses adalah sebuah struktur eksekusi sistem yang
terdiri dari proses yang saling ketergantungan. Prosesor adalah peralatan yang dapat
mengeksekusi program. Komponen program adalah sebuah modul fisik dari kode
program. Objek aktif adalah sebuah objek yang ditugaskan sebuah proses. Hasil dari
sebuah proses adalah sebuah deployment diagram yang menunjukkan prosesor dengan
komponen program dan objek aktif yang telah diberi tugas. (Mathiassen, 2000, p. 209)
Ada tiga pola distribusi pada proses yaitu (Mathiassen, 2000, pp. 215-219) :
1. The Centralized Pattern

74

Pola ini memungkinkan untuk menyimpan seluruh data pada server pusat dank lien
hanya menangani tampilan pemakai.

Gambar 2. 18 The Centralized Pattern


2. The Distributed Pattern
Pola ini berlawanan dengan centralized pattern. Pada pola ini segala sesuatu
didistribusikan kepada klien dan server hanya menyebar luaskan update model
antara klien.

75

Gambar 2. 19 The Distributed Pattern


3. The decentralized Pattern
Pola ini berada di antara kedua pola sebelumnya. Ide pola ini adalah klien memiliki
data mereka masing-masing, hanya data pada umumnya saja yang tersedia di server.

76

Gambar 2. 20 The Decentralized Pattern

2.17

Perancangan Komponen

Tujuan dari perancangan komponen adalah untuk menentukan kebutuhan


implementasi di dalam kerangka arsitektural. Perancangan komponen menggunakan
spesifikasi arsitektur untuk merancang komponen dan merancang hubungan komponen
itu. Konsep dari perancangan komponen adalah komponen dan koneksi. Hasil dari
perancangan komponen adalah sebuah deskripsi dari komponen-komponen sistem. Ada
tiga aktivitas dalam perancangan komponen yaitu model component, function
component, dan connecting component (Mathiassen, 2000, p. 231).

77

Gambar 2. 21 Aktivitas Perancangan Komponen

2.17.1 Model Component


Menurut Mathiassen (2000, p235) model component adalah bagian dari sistem yang
mengimplementasikan problem domain. Tujuan dari model component adalah untuk
menunjukkan sebuah model pada problem domain. Selain itu, Mathiassen juga
mengatakan bahwa tujuan dari model component adalah untuk mengirimkan data saat
ini dan masa lalu ke dalam fungsi, tampilan, pemakai dan sistem lainnya. Hasil dari
model component adalah sebuah diagram kelas model component yang telah
terestrukturisasi (Mathiassen, 2000, p. 235).
Subaktivitas dari model component adalah merepresentasikan kejadian privat
(private event) dan kejadian umum (common event), lalu menstruktur ulang kelas-kelas.
Kejadian privat adalah kejadian yang berhubungan dengan satu objek problem domain.
Sedangkan kejadian umum adalah kejadian yang berhubungan dengan beberapa objek.
Keduanya dilihat berdasarkan pola perilaku. Jika kejadian privat terjadi pada urutan dan
pilihan, maka kejadian tersebut direpresentasikan sebagai atribut pada kelas. Sedangkan
jika kejadian privat tersebut terjadi pada perulangan, maka kejadian tersebut

78

direpresentasikan sebagai kelas baru. Selanjutnya, jika kejadian umum berhubungan


dalam diagram statechart dalam cara berbeda, maka direpresentasikan dalam relasi pada
kelas yang menawarkan representasi paling sederhana. Sedangkan bila kejadian umum
berhubungan dalam diagram statechart dalam cara yang sama, harus dipertimbangkan
representasi antara keduanya yang mungkin (Mathiassen, 2000, pp. 239-249).

2.17.2 Function Component


Function component adalah bagian dari sistem yang mengimplementasikan
kebutuhan fungsional. Tujuan dari function component ini menurut Mathiassen adalah
untuk menentukan implementasi dari fungsi dan untuk memberikan akses untuk
tampilan pemakai dan komponen sistem pada model. Fungsi dirancang dan
diimplementasikan dengan menggunakan operasi pada kelas sistem. Operasi adalah
sebuah properti proses yang dispesifikasikan pada kelas dan diaktifkan melalui objek
kelas. Hasil dari function component adalah sebuah diagram kelas dengan operasi dan
spesifikasi operasi yang kompleks (Mathiassen, 2000, p. 251).

2.17.3 Connecting Components


Tujuan dari connecting components adalah untuk menghubungkan komponenkomponen sistem. Ada dua konsep yang digunakan dalam connecting components, yaitu
coupling dan cohesion. Hasil dari konsep ini adalah sebuah diagram kelas yang melibati
komponen-komponen (Mathiassen, 2000, p. 271).
Berikut ini adalah dua konsep yang digunakan dalam connecting components
(Mathiassen, 2000, pp. 272-274) :
1.

Coupling

79

Coupling adalah sebuah pengukuran mengenai seberapa dekat dua kelas atau
komponen itu saling berhubungan. Ada empat tipe dari coupling, yaitu :
-

Outside coupling
Outside coupling adalah sebuah kelas atau komponen yang mengacu langsung
pada properti umum dari kelas atau komponen lainnya.

Inside Coupling
Inside coupling adalah sebuah operasi yang mengacu langsung pada properti
privat dalam kelas yang sama.

Coupling from below


Coupling from below adalah sebuah kelas special yang mengacu langsung pada
properti privat pada super class.

Sideaways Coupling
Sideaways Coupling adalah sebuah kelas yang mengacu langsung pada properti
privat pada kelas lainnya.

2.

Cohesion
Cohesion adalah sebuah pengukuran mengenai seberapa baik setiap kelas atau
komponen saling terikat satu sama lainnya.