Anda di halaman 1dari 11

BAB I

STATUS PENDERITA
I.

II.

Identitas dan Keterangan Umum


No. Visum:
: TU.20.20/B.31.2/241/VIII/2015
Nama
: Juliah Partadiharja
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur
: 57 tahun
Bangsa
: Indonesia
Alamat
: Kp. Canglek RT 01/01, Kec. Sukamanah, Kel.Cugeneng, Cianjur
Permintaan
: Kepolisian Nergara Republik Indonesi Resort Kota Besar Bandung
Tanggal Permintaan : 3 Agustus 2015
Tanggal Pemeriksaan : 3 Agustus 2015
Jenis Pemeriksaan
: Pemeriksaan Luar
Anamnesa
Korban merupakan seorang pejalan kaki yang sedang menyebrang jalan di Jl.Soekarno
Hatta, tepatnya di bawah jembatan penyebrangan metro dari arah utara ke selatan. Pada
saat yang bersamaan terdapat mobil box yang sedang melaju dengan kecepatan 40-50
km/h di jalur lambat dari arah barat ke timur pada jalur lambat. Korban lalu tertabrak
mobil box tersebut dan terpental.

III.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Luar
1.1. Tutup/bungkus mayat dari luar ke dalam: tidak ada
1.2. Label mayat: tidak ada
1.3. Benda di samping mayat/menempel pada mayat: tidak ada
1.4. Perhiasan yang dipakai oleh mayat: tidak ada
1.5. Kaku dan lebam mayat:
Kaku mayat tidak ada. Lebam mayat terdapat pada punggung, dengan warna merah
keunguan, yang hilang pada penekanan. Pada kulit perut kanan bawah belum
tampak warna biru kehijauan.
1.6. Pemeriksaan mayat:
Mayat berjenis kelamin berempuan, dengan usia sekitar 60 tahun, ras melayu, warna
kulit sawo matang, gizi cukup, dengan berat badan 60 kg dan panjang badan 158 cm
1.7. Mayat menggunakan pakaian

Baju terusan berbahan katun, dengan motif batik, merek Yessica, warna
kombinasi merah dan ungu, berukuran 80cm x 40xm, dengan tali pada bagian

belakang tengah dalam keadaan terikat


Kaos dalam bahan katun, bermerek Tima warna putuh, berukuran 46cm x 30
cm. Terdapat bercak kemerahan hamper di seluruh permukaan.
1


Celana dalam bahan katun, tanpa merek, warna putih, ukuran 34cm x 25cm
1.8. Identifikasi khusus: tidak ada
1.9. Rambut-rambut

Rambut-rambut warna hitam, tidak mudah dicabut. Tumbuh lebat, dengan

panjang rata-rata 1 cm
Alis mata warna hitam, tidak mudah dicabut. Tumbuh lebat, dengan panjang

rata-rata 0,5 cm
Kumis tidak ada
Jenggot tidak ada
Rambut ketiak warna hitam, tidak mudah dicabut. Tumbuh jarang, panjang rata-

rata 0,5 cm
Rambut kemaluan warna hitam, tidak mudah dicabut. Tumbuh jarang, panjang

rata-rata 0,5 cm
Rambut tungkai warna hitam, mudah dicabut. Tumbuh jarang, dengan panjang

1.10.

rata-rata 1 cm
Kepala
Bentuk kepala tidak simetris
Mata kanan dan kiri tertutup
Pada mata kanan, selaput kelopak tampak pucat, bola mata warna putih, selaput
bening berwarna bening, tirai mata berwarna coklat, teleng mata berbentuk bulat

den berukuran 5mm


Pada mata kanan, selaput kelopak tampak pucat, bola mata warna putih, selaput
bening berwarna bening, tirai mata berwarna coklat, teleng mata berbentuk bulat

den berukuran 5mm


1.11.
Hidung simetris, keluar cairan warna kemerahan dari kedua lubang hidung.

Telinga simetris, keluar cairan warna kemerahan dari kedua lubang telinga

Mulut tertutup dan tidak tampak ada kelainan

Bibir warna cokelat, dengan ketebalan bibir atas 0,5cm dan bibir bawah 0,5 cm

Lidah tidak menjulur atau tergigit, berada 1,0cm dari permukaan gigi
1.12.
Lubang kemaluan dan lubang pelepasan tidak terdapat kelainan
1.13.
Luka-luka
a. Kepala
1.
Pada telinga kanan terdapat luka terbuka pada cuping telinga, dengan ukuran 4
2.

cm x 1 cm, batas tegas, tepi beraturan, warna kemerahan


Pada pipi kanan, 12 cm dari garis tengah ke arah kanan, 8 cm dari alis kanan,

3.

terdapat patah tulang tertutup yang mmenyebabkan perubahan bentuk wajah.


Pada pipi kanan, 5 cm dari garis tengah ke arah kanan, 6 cm dari alis kanan ke
arah bawah, terdapat sekumpulan luka memar, dengan luas 15 cm x 5 cm,
ukuran terbesar 9 cm x 8 cm, terkecil 3 cm x 2 cm, batas tidak tegas, tepi rata,
warna biru keuunguan
2

4.

Pada bibir, 2,0 cm dari garis tengah depan ke arah kanan, terdapat luka lecet,

dengan ukuran 2 cm x 0,5 cm, batas tidak tegas, tepi tidak rata, warna kemerahan
b. Batang tubuh
1.
Pada leher, 1cm dari garis tengah depan ke arah kanan, tepat di bawah pangkal
leher, terdapat luka memar dengan ukuran 14 cm x 11 cm, bentuk tidak teratur,
2.

batas tidak tegas, warna merah kebiruan.


Pada puncak bahu, 12 cm dari garis tengah belakang ke arah kanan, terdapat luka
memar dengan ukuran 14 cm x 6,5 cm, bentuk tidak teratur, batas tidak tegas,

3.

warna merah kebiruan


Pada punggung, 7 cm dari garis tengah belakang ke arah kanan, 5 cm dari
puncak bahu, terdapat sekumpulan luka memar dengan luas 4 cm x 3 cm,
terbesar 3 cm x 0,7 cm, terkecil 0,5 cm x 0,2 cm, bentuk tidak teratur, batas tidak

4.

tegas, warna merah kebiruan


Pada punggung, 9 cm dari garis tengah belakang ke arah kanan, 15 cm dari
puncak bahu, terdapat sekumpulan luka memar, dengan luas 2,4 cm x 1,2 cm,
ukuran terbesar diameter 1 cm, terkecil 0,7 cm x 0,2 cm, bentuk tidak teratur,

5.

batas tidak tegas, warna merah kebiruan.


Pada punggung, 7 cm dari garis tengah belakang ke arah kiri, 12,5 cm dari
puncak bahu, terdapat luka lecet, dengan ukuran 2 cm x 1 cm, bentuk tidak

teratur, batas tegas, warna kemerahan


c. Lengan dan tangan kanan
1.
Pada lengan kanan atas tepat pada garis tengah 18 cm dari puncak bahu terdapat
sekumpulan luka lecet, dengan luas 11 cm x 8 cm, ukuran terbesar 2,5 cm x 1 cm
dan terkecil 0,2 cm x 0,1 cm, bentuk tidak teratur, batas tidak tegas, warna
cokelat kemerahan.
d. Lengan dan tangan kiri
1.
Pada lengan kiri atas, tepat pada siku dan garis tengah belakang, terdapat luka
lecet dengan ukuran 4,5 cm x 3,5 cm, berbentuk tidak teratur, batas tidak tegas,
warna merah.
e. Tungkai dan kaki kanan
1.
Pada paha kanan, tepat pada garis tengah depan, 40 cm dari lipat paha terdapat
luka memar, dengan ukuran 1,2 cm x 1 cm, bentuk tidak teratur, batas tidak tegas,
warna biru kehijauan.
f.
Tungkai dan kaki kiri
1.
Pada paha kiri atas 1 cm dari garis tengah depan ke arah luar, 30 cm dari lipat
paha terdapat jaringan parut, dengan ukuran 5 cm x 2 cm, bentuk tidak teratur,
batas tidak tegas, warna cokelat keputihan.

2.

Pada lutut kiri, 1 cm dari garis tengah depan ke arah luar terdapat luka memar,
dengan ukuran 4 cm x 2 cm, bentuk tidak teratur, batas tidak tegas, warna biru
keunguan

3.
IV.

Kesimpulan
Kematian orang korban disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.
Pemeriksaan luar dilakukan terhadap mayat seorang prempuan, berumur sekitar enam
puluh puluh tahun, ras Melayu, warna kulit sawo matang, gizi cukup, panjang badan

seratus lima puluh delapan sentimeter, berat badan enam puluh kilogram
Pada pemeriksaan luar ditemukan:
1.
Patah tulang pipi kanan yang disertai perubahan bentuk akibat benda tumpul
2.
Luka terbuka pada telinga kanan akibat benda tumpul
3.
Luka memar pada pipi kanan, puncak bahu, punggung, lipat paha kanan, lutut
kiri, punggung kaki kiri dan telapak kaki kiri, luka lecet pada bibir, punggung,
lengan kana dan lengan kiri.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kecelakaan Lalu Lintas


I. Definisi
Kecelakaan adalah serangkaian peristiwa dari kejadian-kejadian yang tidak terduga
sebelumnya, dan selalu mengakibatkan kerusakan pada benda, luka atau kematian.
Kecelakaan lalu lintas dibagi atas A motor-vehicle traffic accident dan Non motor-vehicle
traffic accident.3
A motor-vehicle traffic accident adalah setiap kecelakaan kendaraan bermotor di
jalan raya. Non motor-vehicle traffic accident, adalah setiap kecelakaan yang terjadi di
jalan raya, yang melibatkan pemakai jalan untuk transportasi atau untuk mengadakan
perjalanan, dengan kendaraan yang bukan kendaraan bermotor.3
II. Dasar Hukum
Berdasarkan Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan Tahun 1993 Bab XI :
-

Pasal 93 Ayat (1), kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak di
sangka-sangka dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau pemakai jalan
lainnya, mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda.4

Pasal 93 ayat (2), korban kecelakaan lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), dapat berupa korban mati, koban luka berat dan korban luka ringan.4

III. Latar Belakang


5

Kasus kecelakaan lalu lintas merupakan keadaan serius yang menjadi masalah
kesehatan di negara maju maupun berkembang. Di negara berkembang seperti Indonesia,
perkembangan ekonomi dan industri memberikan dampak kecelakaan lalu lintas yang
cenderung semakin meningkat.5
Jumlah kecelakaan lalu lintas dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini
disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pertambahan jumlah kendaraan (14-15% per
tahun) dengan pertambahan prasarana jalan hanya sebesar 4% per tahun.6
Lebih dari 80% pasien yang masuk ke ruang gawat darurat adalah disebabkan oleh
kecelakaan lalu lintas, berupa tabrakan sepeda motor, mobil, sepeda, dan penyeberang jalan
yang ditabrak. Sisanya merupakan kecelakaan yang disebabkan oleh jatuh dari ketinggian,
tertimpa benda, olah raga, dan korban kekerasan.5 Menurut data dari Mabes Polri setiap tahun
tercatat 9.856 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.7
Distribusi korban kecelakaan lalu lintas terutama kelompok usia produktif antara 1544 tahun dan lebih didominasi kaum laki-laki. Kelompok ini merupakan aset sumber daya
manusia yang sangat penting untuk pembangunan bangsa.8
IV. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas
Ada empat faktor utama yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas, antara lain :
a. Faktor manusia
Faktor manusia merupakan faktor yang paling dominan dalam kecelakaan. Hampir
semua kejadian kecelakaan didahului dengan pelanggaran rambu-rambu lalu lintas.
Pelanggaran dapat terjadi karena sengaja melanggar, ketidaktahuan terhadap arti aturan yang
berlaku ataupun tidak melihat ketentuan yang diberlakukan atau pula pura-pura tidak tahu.10
b. Faktor kendaraan
Faktor kendaraan yang paling sering terjadi adalah ban pecah, rem tidak berfungsi
sebagaimana seharusnya, kelelahan logam yang mengakibatkan bagian kendaraan patah,
peralatan yang sudah aus tidak diganti dan berbagai penyebab lainnya. Keseluruhan faktor
kendaraan sangat terkait dengan teknologi yang digunakan, perawatan yang dilakukan
terhadap kendaraan.9
Untuk mengurangi faktor kendaraan perawatan dan perbaikan kendaraan diperlukan,
di samping itu adanya kewajiban untuk melakukan pengujian kendaraan bermotor secara
teratur.9
c. Faktor jalan
6

Faktor jalan terkait dengan perencanaan jalan, geometrik jalan, pagar pengaman di
daerah pegunungan, ada tidaknya median jalan, jarak pandang dan kondisi permukaan jalan.
Jalan yang rusak/berlubang sangat membahayakan pemakai jalan terutama bagi pemakai
sepeda motor.9
d. Faktor lingkungan
Hari hujan juga mempengaruhi unjuk kerja kendaraan seperti jarak pengereman
menjadi lebih jauh, jalan menjadi lebih licin, jarak pandang juga terpengaruh karena
penghapus kaca tidak bisa bekerja secara sempurna atau lebatnya hujan mengakibatkan jarak
pandang menjadi lebih pendek. Asap dan kabut juga bisa mengganggu jarak pandang,
terutama di daerah pegunungan.9
V. Pola Cedera Kecelakaan Lalu Lintas
Pertambahan jumlah kendaraan yang tidak sejalan dengan pertambahan sarana jalan,
serta ketidak patuhan baik pengemudi, penumpang, atau pemakai jalan, menyebabkan
semakin banyak korban kecelakaan lalu lintas yang tewas. 3 Korban kecelakaan lalu lintas
yang menggunakan transportasi pribadi dapat dibagi menjadi tiga kelompok: pejalan kaki,
pengemudi sepeda motor, dan pengemudi maupun penumpang kendaraan. Dari ketiga
kelompok ini, pejalan kaki lah yang paling sering terluka.2
a. Pengemudi dan Penumpang Kendaraan (Mobil)
80% kecelakaan lalu lintas pada mobil adalah menabrak kendaraan lainnya atau
benda diam, kecelakaan jenis ini menyebabkan mobil berhenti mendadak. Kendaraan juga
bias tertabrak dari belakang yang akan menyebabkan percepatan laju kendaraan. Jenis
kecelekaan yang paling jarang terjadi adalah tertabrak dari samping dan terguling. Derajat
luka yang diderita sangat tergantung dari kecepatan kendaraan saat terjadi tabrakan.2

Gambar 5. : Pola Cedera Kecelakaan pada Pengemudi Mobil


Sumber: Simpsons Edisi ke-13

Bila pada kecelakaan yang terjadi kendaraan berhenti secara mendadak, akan
didapatkan kelainan yang cukup khas, yaitu:
Pada daerah kepala, yang berbenturan dengan kaca, akan didapatkan luka terbuka
kecil-kecil dengan tepi tajam sebagai akibat persentuhan dengan kaca yang pecah;
bila benturannya hebat sekali dapat terlihat luka lecet tekan, memar, atau
kompresi fraktus,
Pada daerah dada, jika tidak menggunakan sabuk pengaman, akan dijumpai jejas
stir, yang bila bentruannya hebat dapat menyebabkan kerusakan pada bagian
dalam, fraktur dada dan iga, serta pecahnya jantung,
Bila penumpang kendaraan duduk di depan, kelainan terutama di kepala,
Bila penumpang kendaraan duduk di belakang, kelainan terutama di daerah perut,
panggul, dan tungkai. Penumpang di belakang juga mungkin untuk terlempar ke
bangku pengemudi atau penumpang di depan, atau dapat menghantam kaca
depan, atau dapat juga terlempar keluar melalui kaca depan,
Sabuk pengaman yang dipakai, dapat pula menyebabkan luka bagi pengemudi,
khususnya bila terjadi tabrakan dengan kecepatan tinggi; kerusakan tersebut
terutama alat-alat dalam rongga perut, hati dapat hancur,
Kelainan yang disbabkan oleh sabuk pengaman (seatbelt injuries), dapat dikenali
sebagai suatu luka lecet tekan yang bentuknya sesuai dengan sabuk tersebut, atau
dalam bentuk apa yang disebut perdarahan tepi (marginal hemorrhages), yaitu
perdarahan yang terdapat tepat di luar dan berbatasan dengan tubuh yang terkena
sabuk pengaman tersebut.3
b. Pengemudi Sepeda Motor
Cedera luka pada pengemudi sepeda motor biasanya disebabkan oleh jatuhnya
pengemudi dari motor ke jalanan. Cedera tersebut dapat dihindari atau diminimalisir dengan
penggunaan helm dan baju pelindung. Keparahan cedera tergantung dari kecepatan laju
pengendara.
Pola cedera kecelakaan lalu lintas pada pengemudi sepeda motor antara lain adalah:
Abrasi atau lecet yang dikarenakan kontak dengan permukaan jalanan,
Cedera pada ekstremitas, dada, dan tulang belakang yang biasa ditemukan apabila
pengemudi ada kontak dengan objek atau kendaraan lainnya,
Luka karena impak primer pada tungkai,
8

Luka karena impak sekunder pada bagian tubuh lain sebagai akibat benturan
tubuh dengan bagian lain dari kendaraan lawan,
Luka sekunder akibat benturan korban dengan jalan. Seringkali luka sekunder
menyebabkan kematian pada korban, karena yang mengalami kerusakan adalah
kepalanya,
Fraktur pada tengkorak sebagai akibat dari luka sekunder dapat mudah diketahui,
yaitu dari sifat garis patahnya yang berupa garis linier,
Pada pembonceng kendaraan sepeda motor tidak ditemukan kelainan yang
khusus.
c. Pejalan Kaki
Ada tiga tipe luka yang dapat dialami oleh seorang pejalan kaki yang tertabrak
kendaraan:
1. Luka impak primer adalah benturan yang pertama kali terjadi antara korban
dengan kendaraan.
2. Luka impak sekunder adalah benturan korban yang kedua kalinya dengan
kendaraan.
3. Luka sekunder adalah luka yang terjadi setelah korban jatuh ke atas jalan.3
Seringkali luka primer terjadi di daerah paha dan daerah panggul dikarenakan
kontak dengan kap mobil. Pada kecepatan 20-60 km/h, pejalan kaki dapat membentur bagian
kap dan kepalanya dapat membentur kaca depan ataupun bagian metal sekitar mobil. Pada
kecepatan 60-100 km/h, pejalan kaki dapat terpental ke udara hingga melampaui mobil. Hal
ini biasanya menebabkan luka mayor seperti fraktur kompleks atau amputasi traumatik.
Luka impak sekunder biasanya lebih serius dan mengancam nyawa. Luka impak
sekunder bervariasi dari abrasi karena terseret di jalanan sampai fraktur tengkorak ataupun
tulang punggung. Walaupun tidak ada fraktur pada tengkorak, trauma pada otak dapat terjadi
karena adanya gerakan berputar dan berhenti secara tiba-tiba saat kepala membentur sesuatu
yang dapat menyebabkan shearing injuries pada otak dan lapisannya.
Menurut Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, pola cedera pada pejalan kaki antara
lain adalah:
Luka pada tungkai merupakan kelainan yang terpenting di dalam menentukan
bagian mana dari kendaraan yang membentur korban,
Korban dewasa umumnya ditabrak dari arah belakang atau samping, luka yang
khas biasanya terdapat pada tungkai bawah,
Jika korban berdiri pada kedua tungkainya sewaktu tabrakan, luka yang hebat
dapat dilihat pada tungkai (fraktur, dapat terdorong keluar menembus otot),
Korban yang tergeletak di jalan dapat terlindas oleh roda kendaraan (tyre marks),
9

Bila kendaraan yang menabrak termasuk kendaraan berat (truk, bis), kelainan
pada korban dapat sangat hebat, tubuh seluruhnya dapat hancur dan sukar
dikenali (crush injuries),
Jika bagian bawah dari kendaraan sangat rendah, tubuh korban dapat terseret dan
terputar, hingga terjadi pengelupasan kulit dan otot yang hebat (rolling injuries),
Jika daerah sekitar lipatan kulit terlindas, kulit akan teregang sehingga
menimbulkan kelainan yang disebut striae like tears.3
d. Pengendara Sepeda
Umunya kecelakaan yang berkaitan dengan pengendara sepeda disebabkan ole
kecerobohan dan kurangnya pengalaman. Insidensi kematian yang berkaitan dengan
penggunaan sepedah sangat rendah, hal tersebut mungkin tidak banyaknya pengguna
sepeda10.
Pola cedera pada pengendara sepeda hamper sama dengan pejalan kaki, tetapi lukaluka sekunder yang diderita biasanya lebih parah.1
Biasanya laka yang timbu; ringan dan tidak mengancam nyawa, apabila dengan
kecepatan yang rendah. Bila pengguna sepeda tertabrak oleh pengendara bermotor, lukanya
dapat berupa luka primer ataupun sekunder. Tingkat keparahan luka yang timbul biasanya
bergtung dari kecepatan, dan lokasi tubrukan.10
Bicycle spoke injury adalah luka spesifik yang dapat timbul pada pengendara ataupun
penumpang sepeda terpeleset dari tempat duduk atau handle bar yang menyebabkan tungkai
atau kaki masuk mengenai jari-jari roda, biasanya terjadi pada anak-anak, jaringan lunak
biasanya hancur dengan adanya avulsi internal. Nekrosis yang terjadi dapat cukup parah
hingga memerlukan tindakan skin-graft.10

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Arif B, Wibisana W, Siswandi S, T. Winardi AM, Sidhi, Swasti H, et al. Ilmu Kedokteran
Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran UI; 1997.
2. Payne-James J, Jones R, Karch SB, Manlove J. Simpsons Forensic Medicine. 3 rd ed.
London: Hodder & Stoughton Ltd; 2011.
3. Abdul MI. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi pertama. Jakarta: Binapura
Aksara; 1997.
4. Peraturan Pelaksanaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Jakarta: CV Eko Jaya. 1993.
5. Fauzi AA. Penanganan Cedera Kepala di Puskesmas. Disitasi pada tanggal 4 Februari
2008 dari : http://www.tempo.co.id/medika/arsip/072002/pus-1.html-17k. [Last update :
Desember 2007]
6. Hardajati S. Penerapan Variable Traffic Controllers System di DKI Jakarta. Disitasi pada
tanggal 4 Februari 2008 dari : http://www.digilib.itb.ac.ai. [Last update : Agustus 2007]
7. Badan Litbang Departemen Pekerjaan Umum. Perhitungan besaran biaya kecelakaan lalu
lintas dengan menggunakan metoda the gross output (human capital). Jakarta :
Departemen Pekerjaan Umum. 2005.
8. Saanin S. Cedera Kepala. Disitasi

pada

tanggal

21

Maret

2008

dari

http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/sebab.html-19k. [Last update : Januari 2002]


9. World Health Organization (WHO). Traffic Accidents. Disitasi pada tanggal 2 Juni 2008
dari : http://www.who.int/world-health-day/previous/2004/infomaterials/world_report/
en/. [Last update : Januari 2007].
10. DiMaio V., DiMaio D. Forensic Pathology. Secnd edition. Washington DC : CRC Press.
2000 (4) : 275-94

11