Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR II

PERCOBAAN 06
JEMBATAN WHEATSTONE

Oleh
ALMIRA ULIMAZ
J1C106049

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2007

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR II

Nama

: Almira Ulimaz

NIM

: J1C106049

Kelompok

: III (tiga)

Judul Praktikum

: Jembatan Wheatstone

Tanggal Praktikum

: 13 April 2007

Fakultas

: MIPA

Prodi

: Biologi

Asisten

: M. Saukani

NILAI
Banjarbaru, 13 April 2007

( M. Saukani )
NIM.J1D105013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Sejak ditemukannya listrik oleh Thomas Alfa Edison beberapa ratus tahun lalu,
banyak sekali penerapan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita temukan
terutama saat ini ketika ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang pesat.
Kemajuan zaman serta didukung oleh tingginya daya pikir manusia saat ini membuat
banyak sekali penemuan di bidang listrik yang dapat membuat kehidupan manusia
sejahtera atau setidak-tidaknya hal itu dapat memudahkan manusia dalam melakukan
suatu aktivitas atau kegiatan. Salah satu bagian dari rangkaian listrik yang akan
dibahas pada percobaan kali ini adalah tentang rangkaian jembatan Wheatstone.
Sistem rangkaian yang dipakai untuk mengukur tahanan yang tidak diketahui
ialah dengan menggunakan apa yang dinamakan rangkaian jembatan wheatstone.
Rangkaian jembatan wheatstone, banyak digunakan untuk mengukur daya hambat
dengan cepat dan merupakan salah satu alat yang digunakan dalam menentukan
rangkaian arus searah. Jembatan Wheatstone yang dapat dibawa-bawa (portable)
yaitu galvanometer. Galvanometer ialah setiap alat yang digunakan untuk mendeteksi,
mengukur arus. Selain jembatan wheatstone alat lain yang digunakan adalah
amperemeter dan voltmeter, ohmmeter, potensiometer, rangkaian R-C dan pengganti
arus. Percobaan ini mencoba memahami lebih dalam, apa yang dimaksud dengan
jembatan wheatstone dan bagaimanakah prinsip ini sangat mempengaruhi dan
menjadi salah satu aplikasi paling penting dalam kehidupan sehari-hari.
1.2. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari rangkaian jembatan
wheatstone sebagai pengukur hambatan, mengukur besar hambatan dan membuktikan
hukum hubungan seri dan paralel dan menentukan koefesien hambatan jenis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Peranan Sir Charles Wheatstone yang lebih dikenal dengan hasil temuan
Jembatan Wheatstone-nya tidak dapat diabaikan dalam perkembangan alat
pensintesa ucapan manusia. Wheatstone tumbuh sambil membantu bisnis penjualan
perangkat musik keluarganya di London. Tahun 1821, pada usia sembilan belas tahun
ia mendemonstrasikan alat ciptaannya yang dapat menggetarkan batang logam yang
dieksitasi oleh suatu sumber yang vibrasinya dirambatkan melalui konduktor yang
padat. Pada tahun 1835, Wheatstone mendemonstrasikan ciptaannya kepada Dublin
Association.

Gambar 2.4 Versi Wheatstone dari Model Ketiga Pensintesa Ucapan


Buatan Wolfgang von Kempelen [Pel92]

Pengukuran

tahanan

dapat

diklasifikasikan

berdasarkan

besarnya tahanan yang akan diukur. Klasifikasi besar tahanan


adalah sebagai berikut:
1. Tahanan kecil, yaitu tahanan yang bernilai lebih kecil dari 1 ohm.
2. Tahanan sedang, yaitu tahanan yang bernilai antara 1 sampai
100.000 ohm.
3. Tahanan besar, yaitu tahanan yang bernilai lebih besar dari
100.000 ohm

Pada modul percobaan ini akan dilakukan pengukuran tahanan


sedang dan tahanan kecil.

Gambar 2.1 memperlihatkan rangkaian jembatan Wheatstone untuk


pengukuran tahanan sedang. X adalah tahanan yang dicari, R
tahanan variable yang dapat diketahui harganya, sedangkan a dan
b

adalah

tahanan pembanding.

adalah

alat

ukur

mikro

amperemeter atau galvanometer yang fungsinya untuk mengukur


keseimbangan tahanan lengan pembanding a/b dan tahanan lengan
terukur X/R. E adalah sumber tegangan. Untuk harga a dan b yang
ditentukan, harga R dapat diatur-atur sampai mikro amperemeter
menunjukan harga nol pada saat saklar S 1 dan S2 ditutup. Pada
keadaan seimbang, dapat diperoleh hubungan:

Pada prakteknya cukup sulit memperoleh arus A yang harga nol.


Oleh karena itu diperlukan teknik eksplorasi. Misalkan untuk harga a
dan b tertentu, harga R yang benar adalah R0. harga R0 ini tidak
dapat kita peroleh dengan mengatur R. dari data pengukuran yang
diperoleh adalah R1 yang lebih besar dari R0 dan R2 yang juga lebih
besar dari R0, dimana R2 > R1. Jika pada R1 mikro ampermeter
menunjukan arus A1 dan pada harga R2 diperoleh arus A2, maka
harga R yang sebenarnya adalah:

Aplikasi dari pengukuran tahanan sedang


Salah satu aplikasi dari pengukuran tahanan sedang adalah untuk
menentukan lokasi gangguan hubung-singkat pada kabel bawah
tanah. Gangguan yang dimaksud adalah terjadinya hubung-singkat
kawat phasa ke tanah dan gangguan antar kawat phasa.
A.

Lokasi hubung singkat kawat phasa ke tanah


Kita menganggap konduktor kabel homogen pada
seluruh panjang kabel, L. kesalahan terjadi pada saluran AA
yang terhubung ke tanah di F dengan tahanan kontak ke
tanah sebesar P. Saluran-saluran yang lain dalam keadaan
baik. Kita ambil salah satu saluran BB dan salah satu ujung
kabel kita hubung-singkat dengan menggunakan penghubung
yang

tahanannya

dapat

diabaikan

terhadap

tahanan

konduktor kabel, yaitu tahanan total AABB sebesar S.


panjang AF adalah X. Rangkaian pengukurannya dapat dilihat

di Gambar 2.2. Dengan mengatur a dan b kita cari titik


keseimbangan. Dalam keadaan seimbang berlaku:

Karena konduktor homogen, maka:

Persamaannya menjadi,

B.

Lokasi hubung singkat antar kawat phasa


Misalkan pada table terjadi hubung singkat pada F,
antara konduktor AA dan BB. Jarak AF = X, dibuat rangkaian
jembatan seperti di gambar 2.3. Dengan mengatur a dan b,
dicari titik keseimbangan dan kita peroleh:

Hal-hal yang menjadi sumber kesalahan pada pengukuran ini


adalah tahanan pada elektroda penahanan tidak selalu dapat
diabaikan. Tahanan ini dapat masuk dalam lengan jembatan
dan terhubung seri dengan tahanan konduktor FA.

Pengukuran tahanan kecil


Prinsip

jembatan

Thomson

hampir

sama

dengan

jembatan

Wheatstone. Rangkaian jembatan Thomson adalah sebagai berikut:

Dari gambar terlihat terdapat dua ratio (perbandingan tahanan),


yaitu M, N dan P, Q yang akan diatur untuk mendapatkan
keseimbangan

yang

dideteksi

oleh

micro

ampermeter

atau

galvanometer. Ratio P/Q untuk mengeliminasi kesalahan kontak


antara r dengan X dan R. X tahanan yang diukur dan R tahanan
standar. Pada keadaan seimbang galvanometer menunjuk angka nol
berarti dalam keadaan seimbang, Vad = Vaec, maka:

Jika,

Sehingga menjadi,

Efek r tidak akan berpengaruh selama harga kedua rasio M/N = P/Q.
Bila harga kedua rasio tidak sama, persamaan (7) dapat dipakai,
tapi dengan mengusahakan harga r sekecil mungkin.

Rangkaian jembatan wheatston merupakan rangkaian yang banyak digunakan


untuk mengukur daya hambat dengan cepat dan merupakan salah satu alat yang
digunakan dalam menentukan rangkaian arus searah. Alat ini diciptakan oleh sarjana
bangsa inggris Charles Wheatston dalam tahun 1843. Ada jembatan Wheatston yang
dapat dibawa-bawa (portable) yaitu galvanometer. Galvanometer adalah setiap alat
yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur arus. Selain jembatan wheatstone alat
lain yang digunakan adalah ampere meter dan voltmeter, ohmmeter, potensiometer,
rangkaian R-C dan pengganti arus (Sears, 1986).

Rangkaian jembatan wheatstone juga berhubungan dengan Hukum kirchoff 1:


jumlah arus menuju suatu titik cabang sama dengan jumlah arus yang
meninggalkannya. S Iin = Iout.

Hukum kirchoff II : dalam rangkaian tertutup,

jumlah aljabar GGL (e) dan jumlah penurunan potensial sama dengan nol.digunakan
untuk mengukur nilai suatu hambatan dengan cara mengusahakan arus yang mengalir
pada galvanometer = nol (karena potensial di ujung-ujung galvanometer sama besar).
Jadi berlaku rumus perkalian silang hambatan :R1 R3 = R2 Rx Alat ukur terdiri dari
volmeter

digunakan

untuk

mengukur

nilai

suatu

hambatan

dengan

cara

mengusahakan arus yang mengalir pada galvanometer = nol (karena potensial di


ujung-ujung galvanometer sama besar). Jadi berlaku rumus perkalian silang hambatan
:R1 R3 = R2 Rx untuk memperbesar batas ukur ampermeter dapat digunakan hambatan
Shunt (Rs) yang dipasang sejajar/paralel pada suatu rangkaian. (Anonim, 1986).
Penggunaan jembatan wheatstone Rs = rd 1/(n-1) n = pembesaran pengukuran
untuk memperbesar batas ukur

dapat digunakan hambatan multiplier (R-) yang

dipasang seri pada suatu rangkaian. Dalam hal ini R. harus dipasang di depan
voltmeter dipandang dari datangnya

arus listrik.Rm=(n-1)rd n=pembesaran

pengukuran. Tegangan jepit adalah beda potensial antara kutub-kutub sumber atau
antaraduatitikyangdiukur. Bila baterai mengalirkan arus maka tegangan jepitnya
adalah: Vab = e - I rd.

Bila batere menerima arus maka tegangan jepitnya adalah:

Vab = e + I rd. Bila batere tidak mengalirkan atau tidak menerima arus maka
tegangan jepitnya adalah Vab = e dalam menyelesaian soal rangkaian listrik, perlu
diperhatikan adalah:
1. Hambatan R yang dialiri arus listrik. Hambatan R diabaikan jika tidak dilalui arus
listrik.
2. Hambatan R umumnya tetap, sehingga lebih cepat menggunakan rumus yang
berhubungan dengan hambatan R tersebut.
3. Rumus yang sering digunakan: hukum Ohm, hukum Kirchoff, sifat rangkaian,
energi dan daya listrik. (Anonim, 1986)

Untuk rangkaian seperti pada gambar, bila saklar S1 dan S2 ditutup maka
penunjukkan jarum voltmeter Karena saklar S1 dan S2 ditutup maka R1, R2, dan R3
dilalui arus listrik, sehingga :
1

= 1 + 1

Rp

R2

R3

Rp = R2 R3 = 2W
R2 + R 1
V = I R = I (R1 + Rp)
I = 24/(3+2) = 4.8 A
Voltmeter mengukur tegangan di R2 di R3, dan di gabungkan R2 // R3, jadi: R = I2
R2 = I3 R3 = I Rp V = I Rp = 0,8 V (Anonim, 1986).
Pada kasus tertentu penyederhanaan rangkaian tidak dapat dilakukan langsung
dengan cara seri paralel. Salah satu kasus tersebut adalah rangkaian jembatan
Wheatstone. Suatu rangkaian yang mungkin berupa rangkaian jembatan Wheatstone
ditunjukan pada gambar 1.

Syarat supaya rangkaian ini merupakan rangkaian

Wheatstone adalah hasil kali dua resistor yang saling berhadapan sama besarnya.
Resistor R1 berhadapan dengan resistor R4 dan resistor R2 berhadapan dengan resistor
R3. Jadi syarat rangkaian jembatan Wheatstone adalah :
R1

R4 = R 2

R3

(1.1)

Gambar 1. Rangkaian Jembatan Wheatstone


Jika syarat jembatan Wheatstone (persamaan 1.1) dipenuhi, maka cabang PQ di
mana terdapat resistor R5 tidak dilalui arus listrik. Oleh karena itu, resistor R5 pada
cabang PQ dapat ditiadakan, sehingga bentuk rangkaian menjadi seperti pada gambar
diatas. Hambatan listrik konduktor bergantung pada bahan, panjang, luas penumpang,
dan suhu konduktor.

Untuk suhu yang dijaga konstan, hambatan listrik sebuah

konduktor adalah sebanding dengan panjang L, berbanding terbalik dengan luas


penampang A, dan bergantung pada bahan konduktor, yang disebut hambat jenis
(resistivitas) . Secara matematis hambatan listrik dinyatakan dengan persamaan:
R = (L/A)
(1.2)
dengan R = hambatan ( ) , = hambatan jenis ( m), L = panjang konduktor (m)
dan A = luas penampang (m2), seperti pada gambar di bawah ini : (Marthen . 1999)

Gambar 3. Penampang
Hambatan jenis sebuah konduktor bergantung pada sejumlah faktor, satu
diantaranya adalah suhu. Umumnya hambatan listrik konduktor naik jika suhunya
naik.

Secara pendekatan yang berlaku cukup baik untuk kebanyakan aplikasi,

hubungan antara hambatan jenis dan suhu dapat dinyatakan dengan persamaan :
0 = 0 (T T0)

atau

= 0

di mana

= 0

(1.3)

(1.4)

T = (T T0)

dan

dengan T0 adalah suhu acuan (biasa ditetapkan suhu ruang 20 oC) dan 0 adalah
hambatan jenis pada suhu acuan tersebut, sedang adalah hanbatan jenis pada suhu
T. karena pada persamaan (1.3) suhu dinyatakan dalam beda suhu, maka tidak
menjadi masalah apakah kita menggunakan satuan celcius atau Kelvin. Besaran

dalam persamaan (1.3) disebut koefesien suhu hambatan jenis, dinyatakan dalam K - 1
atau oC-1, misalnya koefesien suhu hambatan jenis untuk tembaga adalah 4,3 10-3
K-1.
Karena hambatan listrik R sebanding dengan hambatan jenis , maka rumus
yang mirip seperti persamaan (1.5 dan 1.6) juga berlaku untuk hambatan listrik

(T T0)
R = R0 T

R R0 = R0
Atau

R = R R0

Dimana

(1.5)
(1.6)
dan

T = (T T0)

dengan R0 adalah hambatan listrik pada suhu acuan T0 (umumnya 20oC), dan R
adalah hambatan listrik pada suhu T.
Secara umum hubungan antara hambatan listrik konduktor pad suhu T1 dan
T2 dirumuskan oleh :

1 T T
2
0
2
R
1 (T T )
1
1
0

(Halliday, 1985)

Pengukuran Hambatan Listrik dengan Jembatan Wheatstone.


Pada rangkaian jembatan Wheatstone yang seimbang (Galvanometer G tidak
dialiri arus atau jarum galvanometer menunjuk angka nol), lihat gambar 2, hasil dua
kali hambatan yang saling berhadapan sama besarnya (lihat persamaan 1.1)
R1R4 = R2R3

Gambar 2. Jembatan Wheatstone


Bentuk praktis jembatan Wheatstone adalah seperti gambar diatas. AC adalah
kawat penghantar, dan jembatan dibuat seimbang (jarum G menunjuk angka nol)
dengan cara mengeser geser kontak G sepanjang kawat AC. Karena hambatan
sebanding dengan panjang kawat, maka pada keadaan jembatan seimbang berlaku
X L2 = R L1
Dengan R adalah hambatan standar yang besarnya diketahui dan X adalah hambatan
listrik yang diukur (Arthur, 1987)
Resistor disusun seri dan paralel.
Dalam susunan seri, kuat arus yang melalui setiap resistor (hambatan listrik)
adalah sama dengan kuat arus yang melalui resistor penggantinya (I1 = I2 = I3 = Iek ),
lihat gambar beda potensial (tegangan ) tiap resistor dapat dihitung dengan hukum
ohm V = RI, sehingga :
V1 R1 I1

V2 R2 I 2

V3 R3 I 3

dan

Vek Rek I ek

Susunan seri juga berlaku sebagai pembagi tegangan (Voltage divider), yaitu
tegangan pada tiap-tiap resistor sebanding dengan hambatan listriknya.
V1 : V2 : V3 R1 : R2 : R3

(1.11)

Jumlah tegangan
V1 V2 V3 Vek

(1.12)

Jumlah perbandingan
R1 R2 R3 Rek

(1.13)

Sehingga
V1

R1
Vek
Rek

V2

R2
Vek
Rek

V3

R3
Vek
Rek

(1.14)

Gambar 5. Resistor disusun seri

Gambar 6. Resistor disusun paralel


Jembatan wheatstone juga berhubungan dengan rangkaian seri dan paralel, caranya
misalkan sebuah rangkaian dalam mana kapasitor C dapat dimuati atau dikosongkan
melalui resistor R. Resistor dan kapasitor itu dihubungkan seri ke terminal-terminal
dengan sebuah skalar kutub ganda (double pole, double trhow switch). Terminal atas

sakelar dihubungkan ke s4ebuah sumber yang tegangan jepitnya V konstan.


Terminal-terminal bawah saling dihubungkan dengan kawat yang dayahambatnya
nol. Kapasitor mula-mula tidak bermuatan (Sears, 1986).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1. ALAT DAN BAHAN

1. Multimeter merupakan alat yang digunakan sebagai pengukur tegangan,


hambatan dan arus pada rangkaian listrik
2. Power Supply untuk sumber tegangan
3. PTC sebagai salah satu komponen (resistor) yang dapat diatur reaktansinya.
4. Resistor adalah alat yang digunakan sebagai penghambat dalam suatu
rangkaian.
5. Potensiometer berfungsi untuk untuk mengukur ggl suatu sumber tanpa
mengambil arus dari sumber itu
6. Termometer berfungsi untuk mengukur suhu
7. 1 set kabel penghubung berfungsi untuk menghubungkan rangkaian

3.2. PROSEDUR PERCOBAAN


1. Lakukan kalibrasi terhadap sensor PTC dengan mengukur hambatan PTC dan
suhu ruang hingga suhu 80 C.( Ulangi sebanyak 3 kali).
2. Susun rangkaian seperti pada gambar dibawah ini: (besarnya R1, R2 dan R3
tanyakan asisten, R4 = PTC, VCC = 8 Volt)
3. Atur R1 sehingga VA=VB.
4. Panasi PTC dan catat tegangan antara titik A dan B (VA-VB) dan suhu 35 C
hingga 80 C tiap kenaikan 5 C. (Ulangi sebanyak 3 kali).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1986. Jembatan Wheatstone.


Http://www.google.com/search?hl=%en&*g=j3mb4t@n?wheat$t0n.html
Diakses Tanggal 11 April 2007

Beiser, Arthur . 1987, Konsep Fisika Modern . Jakarta : Erlangga .


Halliday , R . 1985 , Fisika , Jakarta : Erlangga .
Kanginan, Marthen . 1999, Fisika untuk Universitas 2 . Jakarta : PT. Gelora Aksara
Pratama .
Sears, Zemansky. 1986. Fisika untuk Universitas 2 Listrik. Megnet. Trimitra
Mandiri: Jakarta .