Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

KIMIA TERAPAN
INSEKTISIDA ALAMI DAN BUATAN
BISA DI KULIT MANUSIA

Disusun oleh:
1. Alfian Maulana

(4311413014)

2. Sidik Muharom

(4311413022)

3. Aden Dhana Rizkita

(4311413027)

4. Yuniar Firgin N.K

(4311413037)

5. Eva Qomariyah M

(4311413038)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya
kepada kita sehingga kami dapat menyelesaikan makalah KIMIA TERAPAN yang
berjudul INSEKTISIDA ALAMI DAN BUATAN BISA DI KULIT MANUSIA
sebagai tugas dari mata kuliah Kimia Terapan. Tak lupa juga kami mengucapkan
terima kasih kepada Ibu Endah Fitriyani Rahayu, S.Si, M.Si. selaku dosen
pengampu mata kuliah Kimia Terapan yang telah membimbing kami sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Kami juga mengucapkan
terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Baik
dari pengetahuan, tata cara penulisan, pengalaman, pengetahuan dan maupun
isinya, mengingat keterbatasan penulis yang selalu masih dalam tahap belajar.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah penulis
nantikan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat
berguna bagi penulis dan para pembaca.

Semarang, 6 November 2015


Penyusun

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL.....................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................

1.1 Latar Belakang............................................................................................

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................

1.3 Tujuan ........................................................................................................

1.4 Manfaat ......................................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................

2.1 Insektisida...................................................................................................

2.2 insektisida Alami........................................................................................

2.3 Insektisida Buatan.......................................................................................

BAB III PEMBAHASAN.................................................................................

3.1 Tanaman Insektisida Alami.........................................................................

3.1.1 Tanman Langsat.......................................................................................

3.1.2 Tunbuhan Serai Wangi.............................................................................

3.1.3 Kulit Jeruk...............................................................................................

11

3.1.4 Lidah Buaya.............................................................................................

14

3.2 Insektisida Buatan.......................................................................................

15

3.3 Pembuatan Skin Lotion ..............................................................................

16

3.4 Analisis Senyawa kimia Dalam Skin Lotion..............................................

17

BAB IV PENUTUP..........................................................................................

18

4.1 Simpulan ...................................................................................................


4.2 Saran...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................

18
19
20

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehidupan manusia tidak lepas dari pengaruh lingkungan disekitarnya.
Lingkungan yang bersih membuat manusia nyaman tinggal di dalamnya.
Sedangkan lingkungan yang kotor lingkungan yang identik dengan nyamuk
sehingga mengganggu aktifitas manusia. Dalam kehidupan sehari-hari diperlukan
usaha manusia untuk menjaga lingkungan sekitarnya agar terhindar dari nyamuk.
Usaha manusia untuk menghindari gigitan nyamuk bermacam-macam, yaitu
penggunaan obat nyamuk. Obat nyamuk yang beredar di masyarakat dibedakan
menjadi empat jenis yaitu obat nyamuk bakar, obat nyamuk semprot, obat nyamuk
elektrik, dan lotion. Penggunaan obat nyamuk bakar, obat nyamuk semprot dan
obat nyamuk elektrik terbukti tidak efektif dalam menjaga kesehatan. Karena obat
nyamuk tersebut mempunyai kandungan zat kimia yang sangat tinggi sehingga
berbahaya bagi pernapasan manusia.Penggunaan lotion mempunyai daya tarik
sendiri yaitu baunya harum, kemasan dan penggunaan yang simpel sehingga
mudah dibawa kemana-mana.
Dari berbagai jenis insektisida yang ada beberapa yang dapat dipakai di
kulit manusia terbagi menjadi dua yaitu alami dan buatan, untuk itu dakam
makalah ini akan membahas tentang bahan insektisida alami dan buatan serta
kandungan kimianya, pembuatan lotion dan cara menganalisis senyawa dalam
lotion.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari insektisida dan jenisnya?
2. Apa bahan-bahan dalam insektisida alami dan buatan serta senyawa
kimia?
3. Bagaimana cara membuat lotion pengusir nyamuk?
4. Bagaimana cara menganalisis senyawa yang ada dalam lotion tersebut?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari insektisida dan jenis-jenis insektsida.
2. Mengetahui bahan-bahan yang termasuk insektisida alami dan buatan serta
senyawa kimianya.
3. Mengetahui cara membuat lotion pengusir nyamuk.
4. Megetahui cara menganalisis senyawa yang terdapat dalam lotion.
1.4 Manfaat
1. Makalah dapat digunakan sebagai referensi bagi pembaca.
2. Menambah wawasan penulis dan pembaca tentang jenis-jenis insektisida
yang dapat di pakai di kulit manusia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Insektisida
Kata insektisida secara harfiah berarti pembunuh serangga, yang berasal
dari kata Insekta = serangga dan kata latin cida = pembunuh. Pestisida adalah
pembunuh hama yang berasal dari kata pest = hama dan cida = pembunuh.
Insektisida merupakan salah satu kelompok pestisida, sedangkan kelompok
pestisida lainnya antara lain rodentisida, akarisida, fungisida, herbisida dan lainlain. Dalam penggunaannya di bidang pengendalian hama bila digunakan istilah
pestisida sering yang dimaksud adalah insektisida. Meskipun ada alat-alat yang
dapat kita gunakan untuk membunuh serangga seperti alat pemukul namun alat
tersebut tidak kita namakan pestisida karena yang diartikan pestisida disini adalah
bahan kimia yang digunakan untuk membunuh hama.
Insektisida dapat kita bagi menurut sifat dasar senyawa kimianya yaitu
dalam Insektisida Anorganik yang tidak mengandung unsur karbon dan
Insektisida Organik yang mengandung unsur karbon. Insektisida lama yang
digunakan sebelum tahu 1945 umumnya merupakan insektisida anorganik
sedangkan insektisida modern setelah DDT ditemukan umumnya merupakan
insektisida organik. Insektisida organik masih dapat dibagi menjadi insektisida
organik alami dan insektisida organik sintetik. Insektisida organik alami
merupakan insektisida yang terbuat dari tanaman (insektisida botanik) dan bahan
alami lainnya. Sedangkan insektisida sintetik merupakan hasil buatan pabrik
dengan melalui proses sintesis kimiawi. Insektisida modern pada umumnya
merupakan insektisida organik sintetik.
Pembagian menurut sifat kimia yang lebih tepat adalah menurut komposisi
atau susunan senyawa kimianya. Pembagian insektisida organik sintetik menurut
susunan kimia bahan aktif (senyawa yang memiliki sifat racun) terdiri dari 4
kelompok besar yaitu Organoklorin (OC), Organophosphat (OP), Karbamat, dan
Pirethroid Sintetik (SP). Kecuali 4 kelompok besar tersebut masih ada beberapa
kelompok insektisida yang kurang banyak digunakan dalam praktek pengendalian
hama.
3

INSEKTISIDA adalah bahan kimia atau non kimia yang digunakan untuk
mengendalikan serangga. Keberadaan bahan non-kimia sebagai insektisida ini
jenisnya bermacam-macam, seperti: jamur (ceolomomyces), tanaman air, sari
bunga, sari tanaman, bakteri, protozoa (nosema), nematoda, dan virus. Adanya
kejelian dari para peneliti dengan memperhatikan suku-suku pedalaman yang
mengoleskan tanaman tertentu di kulitnya untuk menghindari gigitan nyamuk,
secara tidak langsung telah memberikan inspirasi dan merubah paradigma
insektisida yang aman bagi lingkungan. Artinya, dalam bahan-bahan alami yang
digunakan tersebut ada bahan-bahan kimia yang berfungsi sebagai insektisida.
Paling tidak, saat ini ada 5 jenis insektisida alami yang telah diteliti yaitu
Piretrum, Nikotin, Rotenon, Limonene/d-limonene dan Azadirachtin. Pertama,
Piretrum. Cara kerja dari piretrum adalah knock down. Sifat piretrum jaman
sekarang ditiru untuk formulasi insektisida jenis aerosol. Piretrum mempunyai 6
bahan aktif yang secara kolektif dikenal dengan piretrin. Sifat piretrin sebagai
insektisida kontak, tetapi nyaris tidak meninggalkan bekas (non-residual) bila
permukaan yang diolesi terpapar oleh cahaya. Namun, bila permukaan di tempat
gelap, zat ini akan bertahan maksimal 2 minggu. Tapi dikarenakan jumlah ekstrak
bunga dari bahan alami ini terbatas, maka peneliti mensintetiskan piretrin dengan
senyawa mirip piretrin yang sekarang dikenal dengan piretriod (oid = mirip dan
pire = piretrin). Jadi, yang termasuk insektisida golongan piretroid saat ini adalah
pensintetisan dari piretrin. Cara kerja piretrin adalah dengan dua tahap yaitu
dengan meracuni serangga (knock down) kemudian mengganggu syaraf
(blockade) serangga. Serangga biasanya lumpuh (knock down) tetapi dapat
normal kembali bila tahap pertama bisa di atasi. Di sini, serangga tidak akan mati,
tetapi bila serangga tidak bisa menetralkan tahap pertama maka jaringan syaraf
akan terganggu dan akhirnya mati. Kedua, Nikotin. Nikotin adalah ekstrak yang
berasal dari tembakau. Nikotin sangat efektif pada serangga-serangga berkulit
lunak, seperti aphid dan ulat. Zat ini bahkan dibuat bubuknya (tobacco dust) yang
digunakan untuk repelen anjing dan kelinci. Cara kerja dari nikotin adalah dengan
membuat serangga menjadi kejang tetapi hanya terjadi di syaraf-syaraf pusatnya
saja.Ketiga, Rotenon. Bahan ini dibuat dari akar dua genus tanaman kacang4

kacangan (legume). Yakni berupa Derris elliptica dari Asia Tenggara dan
lonchocarpus spp. dari Amerika Selatan. Di Indonesia rotenon dikenal sebagai
racun ikan pada tambak udang. Rotenon spesifik hanya membunuh ikan liar pada
kolam-kolam atau tambak udang. Sebagai insektisida, rotenon ini merupakan
racun kontak dan perut yang akan membuat serangga berhenti makan dan
akhirnya mati. Cara kerja dari rotenon ini adalah menghambat enzim pernafasan
dan metabolisme serangga. Keempat, Limonene/d-limonene. Lomonene/dlimonene adalah nama latin dari ekstrak kulit jeruk. Insektisida ini paling efektif
untuk mengendalikan hama hewan peliharaan, seperti membunuh tungau, pinjal
dan caplak. Cara kerja dari Limonene/d-limonene ini mirip dengan piretrin, yaitu
menggangu sistem syaraf namun tidak mengambat enzim. Kelima, Azadirachtin.
Bahan ini merupakan ekstrak dari biji tanaman mimna/neem (azadirachta indica).
Zat ini efektif digunakan sebagai insektisida, fungisida, dan bakterisida. Cara
kerja dari Azadirachtin adalah mengganggu pergantian kulit dengan menghambat
metabolisme atau biosintesis ekdison.
2.2 Insektisida Alami
Pestisida alami adalah pestisida yang terbuat dari bahan-bahan alami, dan
mudah didapat tanpa adanya tambahan senyawa kimia sintetik. Pestisida ini
berguna untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman tanpa mengganggu
kelestarian lingkungan. Sebagai catatan, pestisida alami ini hanya digunakan bila
diperlukan. Jangan menyemprotkan pestisida alami ini bila tidak terdapat hama
pada tanaman kita. Biarkan tanaman itu sendiri menangkal hama secara alami.
Salah satu contoh pestisida alami dari ekstrak tanaman bahan yang digunakan :
daun legum / kacang-kacangan yang masih muda dan Bio-Starter.
2.3 Insktisida Buatan
Merupakan insektisida sintetik buatan yang mempunyai bahan aktif
menyerupai insektisida hasil alam misalnya dari pyrethrum, fosfor organic, dan
asam karbamat.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Tanaman Insektisida Alami
3.1.1 TUMBUHAN LANGSAT (Lansium domesticum)
Langsat (L. domesticum) kebanyakan memiliki pohon yang lebih kurus,
berdaun kurang lebat yang berwarna hijau tua, dengan percabangan tegak.
Tandan buahnya panjang, padat berisi 1525 butir buah yang berbentuk bulat
telur dan besar-besar. Buah langsat berkulit tipis dan selalu bergetah (putih)
sekalipun telah masak. Daging buahnya banyak berair, rasanya masam manis
dan menyegarkan (Widyastuti dan Kristiawati, 2000).
A. Taksonomi Tumbuhan Kulit Buah Langsat
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Magnoliophyta
Class
: Magnoliopsida
Ordo
: Sapindales
Famili
: Meliaceae
Genus
: Lansium
Species
: Lansium domesticum
(Widyastuti dan Kristiawati, 2000).
B. Kandungan Kimia Kulit Buah Langsat
Kulit

buah

onoceranoids),

langsat

banyak mengandung triterpenoid (seco-

triterpenoid bisiklik (asam lansat dan asam lansiolat),

tetranortriterpenoid (limonoid), triterpenoid glikosida-amino (lansiosida),


seskuiterpenoid (3-okso--bourbonena) yaitu unsur pokok dari senyawa
volatile yang terdiri atas 3 satuan unit isoprene atau 15 atom karbon
(Mayanti, 2009).

Gambar 2. Senyawa Spesifik Kulit Buah Langsat

(Mayanti, 2009)

C. Penggunaan Kulit Buah Langsat

Langsat (Lansium domesticum) berkhasiat sebagai obat cacing, obat


demam dan obat diare atau mencret. Sari daun langsat dapat mengobati
radang mata dan wasir. Selain itu biasa

digunakan untuk mengobati

disentri dan malaria, tepungnya digunakan untuk mengobati racun gigitan


kalajengking. Kulit batang dan kulit buah langsat digunakan untuk racun
panah; bila disuntikkan sebanyak 50 mg kepada seekor kodok maka setelah
34 jam dapat menyebabkan kelumpuhan jantung. Kulit buah langsat yang
masak dan kering merupakan campuran bahan bakar dupa setanggi dan
asapnya cukup ampuh untuk menghalau

nyamuk, karena mengandung

oleoresin. Kandungan resin juga dapat digunakan untuk menghentikan diare


dan kejang pada perut serta digunakan juga sebagai obat malaria dan demam
lainnya. Biji buah langsat sangat pahit; ekstraknya dapat digunakan sebagai
obat cacing bagi anak-anak, penolak demam, dan obat diare. Ekstrak daun,
kulit batang, kulit buah dan biji langsat telah diteliti secara in vitro dapat
menghambat siklus hidup salah satu parasit penyebab penyakit malaria yaitu
Plasmodium falciparum (Mayanti, 2009).
D. Kandungan Metabolit Sekunder
a.

Flavonoid
Tidak ada benda yang begitu mencolok seperti flavanoid yang

memberikan kontribusi keindahan dan kesemarakan pada bunga dan


buah buahan di alam. Flavon memberikan warna kuning atau jingga,
antosianin memberikan warna merah, ungu atau biru, yaitu warna yang
terdapat pada pelangi kecuali warna hijau. Secara biologis, flavonoid
memainkan peran penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh
7

serangga. Sejumlah flavanoid memiliki rasa pahit hingga dapat bersifat


menolak sejenis ulat tertentu (Sastrohamidjojo, 1995).
Kulit buah langsat mengandung senyawa flavonoid yang dapat
membunuh serangga. Flavonoid merupakan salah satu jenis golongan fenol
dan banyak ditemukan di dalam tumbuhan. Secara biologis flavonoid
memainkan peran penting dalam penyerbukan tanaman pada serangga.
Namun, ada sejumlah flavonoid mempunyai rasa pahit sehingga dapat
bersifat menolak serangga. Bila senyawa flavonoid masuk ke mulut
serangga dapat mengakibatkan kelemahan pada saraf dan kerusakan pada
spirakel sehingga serangga tidak bisa bernafas dan akhirnya mati. Selain itu,
sekolompok flavonoid yang berupa isoflavon juga memiliki efek pada
reproduksi serangga, yakni menghambat proses pertumbuhan serangga.
(Heinrich, 2009).
b. Saponin
Tersebar luas diantara tanaman tinggi. Keberadaan saponin sangat
mudah ditandai dengan pembentukan larutan kolodial dengan air yang
apabila dogojog menimbulkan buih yang stabil. Saponin merupakan
senyawa berasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin dan sering
mengakibatkan iritasi terhadap selaput lendir. Saponin juga bersifat bisa
menghancurkan butir darah merah lewat reaksi hemolisis, bersifat racun
bagi hewan berdarah dingin dan banyak diantaranya digunakan sebagai
racun ikan. Saponin termasuk dalam golongan racun lemak karena dapat
masuk melalui dinding tubuh larva dan racun perut melalui mulut karena
larva biasanya mengambil makanan dari tempat hidupnya. Saponin
memiliki sifat seperti detergen sehingga dinilai mampu meningkatkan
penetrasi zat toksin karena dapat melarutkan bahan lipofilik dalam air.
Saponin juga dapat mengiritasi mukosa saluran pencernaan. Selain itu,
saponin juga memiliki rasa pahit sehingga menurunkan nafsu makan larva
kemudian larva akan mati kelaparan (Gunawan, 2004).

Gambar 4. Struktur Kimia Saponin (Mayanti, 2009)

c. Terpenoid
Berdasarkan penelitian Magio Nishizawa, dkk. (1989) dalam kulit
buah langsat (Lansium domesticum) telah diisolasi senyawa triterpen yang
sering disebut dengan asam langsat.

Gambar 5. Struktur Kimia Asam Langsat


(Mayanti, 2009)

3.1.2

TUMBUHAN SERAI WANGI


Tanaman serai wangi termasuk golongan rumput-rumputan yang disebut
Andropogon nardus atau Cymbopogonnardus. Genus ini meliputi hampir 80
species, tetapi hanya beberapa jenis yang menghasilkan minyak atsiri yang
mempunyai arti ekonomi dalam dunia perdagangan (Hieronymus,1992).
Tanaman serai wangi mampu tumbuh sampai 1-1,5 m. Panjang daunnya
mencapai 70-80cm dan lebarnya 2-5 cm, berwarna hiju muda, kasar dan
memiliki aroma yang kuat (Wijayakusumah,2005). Serai Wangi merupakan
tanaman yang dapat dibudidayakan di pekarangan dan sela-sela tumbuhan
lain. Biasanya serai wangi ditanam sebagai tanaman bumbu atau tanaman
obat. Serai wangi di Indonesia ada 2 jenis yaitu Mahapengiri dan Lenabatu
9

(Ketaren dan Djatmiko,1978).

Jenis mahapengiri mempunyai ciri-ciri

daunnya lebih lebar dan pendek, disamping itu menghasilkan minyak


dengan kadar sitronellal 30-45% dan geraniol 65-90%. Jenis lenabatu
menghasilkan minyak dengan kadar sitronellal 7-15% dan geraniol 55-65%
(Wijoyo, 2009). .
A. Taksonomi Tumbuhan Serai Wangi
Kingdom

: Plantae

Subkingdom : Trachebionta
Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledonae

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae

Genus

: Cymbopogon

Species

: Cymbopogon nardus(L.)Rendle

Ketaren (1985)

10

B. Kandungan Kimia Serai Wangi


Kandungan kimia yang terdapat di dalam tanaman serai wangi antara lain
mengandung 0,4% minyak atsiri dengan komponen yang terdiri dari sitral,
sitronelol (66-85%), - pinen, kamfen, sabinen, mirsen,-felandren, p-simen,
limonen, cis-osimen, terpinol, sitronelal, borneol, terpinen-4-ol,-terpineol,
geraniol, farnesol, metil heptenon, n-desialdehida, dipenten,metil heptenon,
bornilasetat, geranilformat, terpinil asetat, sitronelil asetat, geranil asetat,elemen,-kariofilen,-bergamoten, trans-metilisoeugenol, -kadinen, elemol,
kariofilen oksida. Komposisi kimia minyak serai wangi dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Susunan Kimia Minyak Serai Wangi
Senyawa Penyusun
Sitronellal
Geraniol
Sitronellol
Geraniol Asetat
Sitronellil Asetat
L-Limonene
Elenol dan Seskwiterpene lain
Elemen dan Cadinene
3.1.3

Kadar (%)
32-45
12-18
12-15
3-8
2-4
2-5
2-5
2-5

KULIT JERUK

A. Deskripsi Buah Jeruk


Jeruk atau limau adalah semua tumbuhan berbunga anggota marga Citrus
dari suku Rutaceae (suku jeruk-jerukan). Anggotanya berbentuk pohon
dengan buah yang berdaging dengan rasa masam yang segar, meskipun
banyak di antara anggotanya yang memiliki rasa manis. Rasa masam berasal
dari kandungan asam sitrat yang memang menjadi terkandung pada semua
anggotanya.

11

Manfaatnya tercermin dalam rasanya yang segar. Jeruk mengandung


banyak vitamin, mineral, serta serat esensial yang tak bisa diproduksi oleh
tubuh. Dengan kandungan tersebut, salah satu manfaat jeruk adalah menjaga
daya tahan dan keseimbangan tubuh agar tetap normal. Selain mengandung
berbagai macam gizi, jeruk juga memiliki manfaat untuk mencegah penyakit
kronis seperti kanker, katarak, dan kardiovaskuler.
B. Taksonomi Buah Jeruk
Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Rutales

Keluarga

: Rutaceae

Genus

: Citrus

Spesies

: Citrus sp

C. Kandungan Kimia Kulit Jeruk


Berikut ini kandungan kulit jeruk yang bisa digunakan sebagai bahan
insektisida alami diantaranya:
1. Minyak Atsiri
Minyak atsiri dari kulit jeruk sebagai minyak yang mudah menguap dan
terbakar. Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil),
minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok
besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun
mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas.
Para ahli biologi menganggap, minyak atsiri merupakan metabolit
sekunder yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak
dimakan oleh serangga (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan
tumbuhan lain dalam mempertahankan ruang hidup.

12

2. Limonene/d-limonene
Limonene/d-limonene adalah nama latin dari ekstrak kulit jeruk.
Insektisida ini paling efektif untuk mengendalikan hama serangga peliharaan,
seperti membunuh tungau, pinjal dan caplak. Cara kerja dari limonen ini
mirip dengan piretrum. Apakah yang disebut dengan piretrum?
Piretrum adalah sejenis insektisida alami yang berasal dari ekstrak bunga
chrysanthemum cinerariraefolium. Pertama kali ditemukan pada abad 19 di
jaman perang Napoleon untuk mengendalikan kutu manusia. Cara kerja dari
piretrum adalah knock down. Sifat piretrum jaman sekarang ditiru untuk
formulasi insektisida jenis aerosol. Piretrum mempunyai 6 bahan aktif yang
secara kolektif dikenal dengan piretrin.
Cara kerja piretrin adalah dengan dua tahap yaitu dengan meracuni
serangga (knock down) kemudian mengganggu syaraf (blockade) serangga.
Serangga biasanya lumpuh (knock down) tetapi dapat normal kembali bila
tahap pertama bisa di atasi. Di sini, serangga tidak akan mati, tetapi bila
serangga tidak bisa menetralkan tahap pertama maka jaringan syaraf akan
terganggu dan akhirnya mati.
Kandungan limonen bervariasi untuk tiap varietas jeruk, berkisar antara
70-92%. Berdasarkan hasil uji preferensi, aroma minyak atsiri jeruk yang
paling disukai konsumen adalah minyak atsiri dari jeruk manis, purut, lemon,
nipis, jari budha/kuku harimau, dan jeruk siam madu. Aroma minyak atsiri
yang kurang disukai adalah yang berasal dari jeruk besar dan siam.

13

3. Sitronela
Senyawa sitronela mempunyai sifat racun dehidrasi (Desiccant). Racun
tersebut merupakan racun kontak yang dapat mengakibatkan kematian karena
kehilangan cairan terus menerus. Serangga yang terkena racun ini akan mati
karena kekurangan cairan.
3.1.4

LIDAH BUAYA
Kingdom

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Asparagales

Famili

: Asphodelaceae

Genus

: Aloe

Spesies

: Aloe vera L

B. Kandungan Kimia Lidah Buaya


Bahan kimia yang terkandung dalam tumbuhan ini antara lain saponin,
flavonoid, polifenol dan tanin.

14

3.2 Insektisida Buatan


Semua obat anti nyamuk mengandung bahan aktif insektisida untuk
membunuh atau mengusir serangga, baik nyamuk, lalat, kecoa dsb. Ada beberapa
bahan kimia yang umum digunakan dalam obat anti nyamuk antara lain:
1. DDVP (dichlorovynil dimetyl phosfat) adalah zat turunan chlorine yang
memang telah dilarang dipakai selama puluhan tahun di seluruh dunia,
termasuk di Indonesia. Zat ini merupakan racun kelas 1, yaitu berdaya
racun paling tinggi. Zat ini berpotensi dapat menyebabkan kerusakan pada
syaraf, gangguan pernafasan, jantung, sistem reproduksi dan memicu
kanker (karsinogenik).
2. Carbamate propoxur yang telah dilarang penggunaannya di luar negeri
karena diduga kuat dapat memicu kanker. Zat ini adalah racun kelas II,
yaitu berdaya racun kelas menengah. Senyawa ini dapat menurunkan
aktivitas enzim yang berperan pada saraf transmisi dan berpengaruh buruk
pada hati dan sistem reproduksi.
3. DEET (diethyl-toluamide) yang biasanya digunakan pada obat anti
nyamuk oles. Zat aktif ini bersifat korosif sehingga dapat menyebabkan
iritasi kulit, membahayakan kulit yang luka dan selaput lendir tubuh.
4. Bahan kimia lain yang relatif lebih aman antara lain transfluthrin,
bioallethrin, d-allethrin, pralethrin dan cyphenothrin. Tetapi efektivitas
bahan-bahan kimia ini kurang karena hanya efektif melawan nyamuk
Aedes tetapi tidak dapat membunuh nyamuk Culex sp, yaitu nyamuk yang
biasa menggigit manusia pada malam hari. Untungnya bahan aktif ini
dapat mencegah nyamuk datang karena tidak disukai oleh nyamuk.
5. Bahan-bahan tambahan berupa pewarna, pengawet, pewangi dsb. Pewangi
ini berfungsi untuk menutupi bau bahan aktif yang kurang sedap. Bahanbahan tambahan ini pun menimbulkan efek tidak baik pada kesehatan.
3.3 Pembuatan Skin Lotion

15

RESEP
Bagian A:
1. R/ Asam stearat 10,68 g
2. Minyak zaitun 15 ml
3. Cera alba 1 ,98 g
4. Nipagin 0,18 g
5. Minyak atsiri sereh 1 ml
Bagian B:
1. R/ Trietanolamin 5,34 ml
2. Akuadest 112, 11 ml
ALAT DAN BAHAN
Alat:
1. Neraca
2. Beker glass
3. Kompor
4. Gelas pengaduk
5. Pipet tetes
6. Corong
7. Botol wadah
Bahan:
1. Asam stearat
2. Minyak zaitun
3. Cera alba
4. Nipagin
5. Minyak sereh
6. Trietanolamin
7. Aquades

16

CARA KERJA
1. Bagian A disiapkan, dipanaskan sambil diaduk pada suhu 70 0C sampai
semua melebur
2. Bagian B disipkan, dipanaskan sambil diaduk pada suhu 70 0C pada
tempat y ang berbeda
3. Masukkan bagian B ke bagian A, aduk sampai mengental
4. Tambahkan parfum atau minyak atsiri, aduk hingga homogen
5. Uji pH sampai diperoleh pH yang netral
6. Masukkan ke dalam wadah
3.4 Analisis Senyawa Kimia Dalam Skin Lotion

1. Pemantauan komponen minyak atsiri menggunakan KLT dan analisis


komponen minyak atsiri menggunakan GC-MS. Pemantauan minyak atsiri
dilakukan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan fase
diam silika gel GF 254 dan fase gerak kloroform:toluen (3:13).
Selanjutnya

dilakukan

identifikasi

komponen

dengan

Gas

Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), dan alat spektroskopi


inframerah (FTIR) jenis Shimadzu FTIR-8201 PC untuk mengetahui jenis
ikatan dan gugus fungsinya ( Supartono, 2014).

17

BAB IV
PENUTUP
3.2 Simpulan
1. Insektisida adalah bahan kimia atau non kimia yang digunakan untuk
mengendalikan serangga. Insektisida alami adalah insektisida yang terbuat
dari bahan-bahan alami, dan mudah didapat tanpa adanya tambahan
senyawa kimia sintetik. Insektisida buatan yaitu merupakan insektisida
sintetik buatan yang mempunyai bahan aktif menyerupai insektisida hasil
alam misalnya dari pyrethrum, fosfor organic, dan asam karbamat.
2. Tanaman yang termasuk sebagai insektisida alam yaitu: a). Tumbuhan
Langasat, b). Tumbuhan Serai Wangi, c). Kulit Jeruk, d). Lidah Buaya.
Senyawa kimia yang terkandung yaitu flavonoid, saponin, terpenoid,
minyak atsiri, polofenol,dan tanin. Yang termasuk insektisida buatan yaitu:
a). DDVP (dichlorovynil dimetyl phosfat), b). Carbamate propoxur, c).
DEET (diethyl-toluamide), d). Transfluthrin, bioallethrin, d-allethrin,
pralethrin dan cyphenothrin, dan e). Bahan tambahan (pengawet, pewarna,
dan pengharum).
3. Cara membuat skin lotion pengusir serangga: Bagian A (R/Asam stearat
10,68 g, Minyak zaitun 15 ml, Cera alba 1 ,98 g, Nipagin 0,18 g, Minyak
atsiri sereh 1 ml) disiapkan, dipanaskan sambil diaduk pada suhu 70 0C
sampai semua melebur, Bagian B (R/ Trietanolamin 5,34 ml dan akuadest
112, 11 ml) disipkan, dipanaskan sambil diaduk pada suhu 70 0C pada
tempat y ang berbeda, memasukkan bagian B ke bagian A, aduk sampai
mengental, menambahkan parfum atau minyak atsiri, aduk hingga
homogen, uji pH sampai diperoleh pH yang netral, masukkan ke dalam
wadah.
4. Cara menganalisis senyawa kimia dalam lotion yaitu : 1). Analisis minyak
atsiri menggunakan KLT,GC-MS dan FTIR 2).

18

4.2 Saran
1. Hati-hati dalam pemakain skin lotion yang terlalu banyak dan rutin
digunakan sehari-hari.
2. Pemilihan skin lotion yang aman bagi kulit sesuai dengan Standart
nasional Indonesia (SNI).

19

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, G. 2007. Teknologi Bahan Alam. Bandung: ITB Press. .
Departemen Kesehatan RI. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Gunawan, D., Mulyani, S. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi). Jilid 1. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Heinrich, M. 2009. Farmakognosi dan Fitoterapi. Jakarta: Kedokteran.
Mayanti, T. 2009. Kandungan Kimia dan Bioaktivitas Tanaman Duku. Bandung:
UNPAD Press.
Nishizawa, M., M. Emura., H. Yamada., M. Shiro., Chairul, Y. Hayashi., dan
Tozuda. 1989. Isolation of a new cycloartanoid triterpenes from leaves
lansium

domesticum.

Novel

skin-tumor

promotioninhibitors.

Tetrahedronletter. 30(41), 56 (15-18).


Sastrohamidjojo, H. 1995. Sintesis Bahan Alam. Yogyakarta: Penerbit Gajah
Mada University Press.
Supartono. 2014. Ekatraksi Minyak Kenanga (Cananga Odorata) Untuk
Pembuatan Skin Lotion Penolak Serangga. Jurnal MIPA NO. 37 Vol. 1
Hal. 62-70
Widyastuti, Y. E. dan Kristiawati, R. 2000. Duku: Jenis dan Budidaya. Jakarta:
Penebar Swadaya.

20