Anda di halaman 1dari 9

PEMERIKSAAN MATA

Dr. Raharjo. K. Sp. M

Pemeriksaan mata dapat dibedakan


A.Pemeriksaan Subjektiv
B.Pemeriksaan Objektiv
Ad. A. Pemeriksaan Subjektiv
Adalah pemeriksaan funsi mata yang meliputi:
1. Visus jauh
2. Refraksi
3. Koreksi
4. Visus dekat
5. Proyeksi sinar
6. Persepsi warna
Ad. 1. Pemeriksaan visus jauh
a. Pemeriksaan gelap terang( /~ )
b. Pemeriksaan
dengan
lambaian
tangan ( /300 )
c. Pemeriksaan dengan hitungan jari
( /60 )
d. Pemeriksaan dengan optotipe

Ad. 2. Refraksi
a. Emetrop
b. Ametrop : miop, hipermetrop,
astigmat
Ad. 3. Koreksi
Adalah usaha memperbaiki visus
dengan kacamata.
Bila setelah diberi kacamata visus
penderita menjadi baik atau menjadi 6/6
mak berarti kelainan refraksi.
Cara koreksi : ~ sederhana
~ metode fogging
Ad. 4. Pemeriksaan visus dekat
Untuk visus dekat yang baik, diperlukan
sarat visus jauh yang baik (minimal
5/15) dan akomodasi.
Akomodasi
adalah
usaha
mencembungkan
lensa
untuk
menempatkan bayanganjatuh pada
retina

Uji test untuk visus jarak dekat dengan


Huruf Jaeger

Ad. 5. Proyeksi sinar


Pemreiksaan ini pada hakekatnya
adalah pemeriksaan lapang pandang
Dilakukan bila visus penderita sangat
jelek, yaitu 1/300 atau kurang.
Cara melakukan pemeriksaan adalah
dengan menjatuhkan sinar dari segala
arah
Bila visus cukup baik dapat dilakukan
pemeriksaan:
~ metode konfrontasi
~ perimeter
Ad. 6. Persepsi warna
Pemeriksaan ini juga merupakan
pemeriksaan buta warna secara kasar
yang dilakukan pada penderita dengan
visus yang sangat rendah. Caranya mata
yang diperiksa ditutup dengan kaca,
kertas atau plastik yang mempunyai

warna yang kontras. Biasanya merah


dan hijau. Bila penderita dapat
menyebutkan warna dengan benar maka
persepsi warna baik. Bila visusnya baik
dapat
Ad. B. Pemeriksaan objektiv
Pemeriksaan ini untuk mengetahui atau
menentukan adanya kelainan objektiv mata.
1. Memeriksa aparatus lakrimalis
a. pars sekretorius, bagian yang
menghasilkan air mata (glandula
lakrimalis).
b. Pars ekskretorius, bagian yang
membuang air mata keluardari
permukaan
bola
mata
untuk
mengetahui ada tidaknya sumbatan
saluran pembuangan ini dilakukan
Test Fluoresin.

2. pemeriksaan tekanan bola mata

a. secara subjektiv dengan palpasi


penilaian N, N+1, N+2, N+3, N-1,
N-2, N-3
b. secara objektiv dengan tonometer
dengan tonometer shiotz, aplanasi,
non kontak tonometer

3. pemeriksaan permukaan kornea


dengan keratoskop placido, caranya
dengan meletakkan keratoskop di
depan kornea jarak + 20 cm, kemudian
dilihat gambaran garis-garis placido
yang terlihat pada kornea.

4. pemeriksaan fluoresen permukaan kornea


caranya adalan dengan meneteskan
cairan fluoresen 2% pada permukaan
kornea atau meletakkn fluoresen strep
di fornik, dilihat apakan ada bintik
fluoresin
berwarna
hijau
pada
permukaan kornea.

5. pemeriksaan reflek fundus


tujuannya dalah unuk mengetahui
adanya kekeruhan pada media refrakta,
caranya dengan menjatuhkan sinar
optalmoskop masuk ke dalam bola
mata melalui pupil
penilaian reflek fundu bisa cemerlang,
kurang cemerlang, negatif dan tak
dapat dinilai.

Pemeriksaan Penyakit Mata


1. Proses radang
2. Proses tumor
3. Proses trauma
4. Proses kongenital
5. Proses degenerasi
Ad. 1. Proses radang
a.radang konjungtiva
gejala dan tanda: konjungtiva injeki, kemosis,
sekret, sembab pelpebra

b. radang kornea
gejala dan tanda: epifora, fotofobi,
blefaroptosis, perikorneal injeksi, infiltrat
kornea

c. radang jaringan uvea


gejala dan tanda: epifora, fotofobi,
blefarospasme, ciliar injeksi, kekeruhan pada
kamera anterior
d. radang sklera
gejala dan tanda: epifora, fotofobi,
blefarospasme, hiperemi sekitar sklera, sakit
kepala
e. glaukoma inflamasi akut
gejala dan tanda: epifora, fotofobi,
blefarospasme, perikorneal injeksi, sembab
kornea, pupil melebar, visus sangat jelek,
tekanan bola mata tinggi, papil atropi.
Ad. 2. Proses tumor
Yang sering dijumpai adalah retinoblastoma,
melanoma maligna, karsinoma basoselulare
Ad. 3. Proses Trauma
a. trauma khemis
~ asam : menimbulkan rangsangan dan
inflamasi yang berat tapi kerusakan jaringan
tidak banyak

~ basa : rangsangan dan inflamasi ringan


tapi kerusakan jaringan sangat luas

b. trauma mekanis : trauma tajam atau tumpul


c. trauma fisis : panas, dingin, penyinaran,
inframerah, ultraviolet, sinar rontgen
menyebabkan luka bakar, nekrosis dan
inflamasi
Ad.
4.
Proses
kongenital:
blefaroptosis,
makrokornea, aniridi, katarak kongenital, dll
Ad. 5. proses degenerasi: katarakta senilis.