Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI
Eksperimen Dasar, Efek lokal Obat, Diuretika

Disusun oleh :
Chrisnia Wijayanti ( 06330019)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

2008

EKSPERIMEN DASAR
Percobaan 3
Judul percobaan

: Dosis obat dan respon

Tujuan percobaan

1. Mahasiswa akan memperoleh gambaran bagaimana merancang eksperimen untuk


memperoleh ED50 dan LD50.
2. Mahasiswa memahami konsep indeks terapi dan impilkasinya
Prinsip
Intensitas efek obat pada makhluk hidup lazimnya meningkat jika dosis obat yang
diberikan kepadanya juga ditingkatkan.
Bahan dan Alat

Bahan : Tiopental Na larutan 0,7 %


Alat
Teori

: alat suntik 1 ml; jarum suntik; timbangan hewan


:
Untuk suatu terapi obat yang bermanfaat maka pemberian dosis yang cukup

merupakan syarat pemberian dosis yang cukup berarti pemberian dosis demikian rupa
sehingga mencapai efek yang diinginkan tanpa dosis yang berlebihan dan dengan
demikian tanpa efek samping toksik yang seharusnya dapat dicegah.
Karena efek yang ditimbulkan oleh suatu obat dalam organisme bergantung
kepada konsentrasi pada tempat kerja dan dengan demikian pada suatu dosis harus
diperhatikan sejauh dosis tertentu, bergantung pada bobot badan, maka dosis harus
diberikan tepat ( misalnya : pada senyawa dengan luas terapi yang kecil ) walaupun
demikian, untuk memudahkan aturan pemberian dosis, umumnya pada orang dewasa
didasarkan pada bobot badan rata rata 70 kg.

Keberhasilan terapi obat selama periode tertentu bergantung kepada dicapainya


konsentrasi zat berkhasiat yang terletak pada daerah konsentrasi terapeutik.
ED50 yang telah sering dikemukakan ( dosis efektive 50 ) adalah dosis yang
menyebabkan dicapai separuh ( 50 % ) dari efek maksimum atau dosis yang
menyebabkan 50 % dari obyek percobaan menunjukkan efek yang diharapkan.
LD50 ( dosis letal 50 ); suatu hal yang berbeda dengan ED 50 yaitu dosis yang
menyebabkan 50 % dari hewan percobaan mati.
Luas terapeutik suatu senyawa merupakan ukuran keamanan antara efek
terapeutik dan efek toksik : makin tidak berbahaya suatu obat makin besar luas
terapeutiknya. Biasanya ini diberikan dalam bentuk koefisien terapeutik ( indeks
terapeutik ) sebagai hubungan dari LD50 terhadap ED50.
Kuosien terapeutik : LD50
ED5
Menurut teori pendudukan reseptor ( reseptor occupancy ), intensitas efek obat
berbanding lurus dengan fraksi reseptor yang diduduki atau diikatnya, dan intensitas efek
mencapai maksimal bila seluruh reseptor diduduki oleh obat. Oleh karena toleransi obat
reseptor ini analog dengan interaksi substrat enzym, maka di sini berlaku persamaan
Michaelis Menten :
E = EMAX [ D ]
KD + [ D ]

= Potensial efek obat

Emax = efek maksimal


[ D ] = kadar obat bebas
KD = K2 = konstantan disosiasi kompleks obat K1

Bila KD = [ D ], maka E = Emax [ D ] =


[D]+[D]

reseptor
1
2

Emax

Hubungan antara kadar atau dosis obat yaitu [ D ], dan besarnya efek E terlihat
sebagai kurva dosis-intensitas efek yang berbentuk hiperbola. 1

menunjukan afinitas

KD
Obat terhadap reseptor, artinya kemampuan obat untuk berikatan dengan reseptornya
( kemampuan obat untuk membentuk kompleks obat reseptor ). Jadi, makin besar KD
( dosis yang menimbulkan efek maksimal ), makin kecil afinitas obat terhadap
reseptornya. Emax menunjukkan aktivitas intriksik atau efektivitas obat, yakni kemampuan
intriksik atau efektivitas obat, yakni kemampuan intriksi kompleks obat reseptor untuk
menimbulkan aktivitas dan atau efek farmakologik.
Hubungan dosis dan intensitas efek dalam keadaan sesungguhnya tidaklah
sederhana karena banyak obat bekerja secara kompleks dalam menghasilkan efek. Efek
anti hipertensi misalnya merupakan kombinasi efek terhadap jantung, vascular, dan
system syaraf. Walaupun demikian, suatu kurva efek kompleks dapat diuraikan ke dalam
kurva kurva sederhana untuk masing masing komponennya.
Potensi menunjukkan rentang dosis obat yang menimbulkan efek. Besarnya
ditentukan oleh 1) kadar obat yang mencapai reseptor, yang tergantung dari sifat
farmakokinetik obat dan 2) afinitas obat terhadap reseptornya.
Efek maksimal ialah respon maksimal yang ditimbulkan obat bila diberikan pada
dosis yang tinggi.
Prosedur

Hewan yang digunakan pada percobaan ini : mencit jantan, bobot rata rata 18 22
gram.
Seluruh kelas dibagi empat kelompok, masing masing kelompok menggunakan 5 ekor
mencit. Tandai masing masing mencit hingga mudah dikenali. Dosis yang digunakan
lazimnya meningkat dengan factor perkalian 2. Dosis yang diberikan sebagai berikut.
KELOMPOK

DOSIS ( mg/ kg )

2,190

II

4,375

III

8,750

IV

17,500

35,000

VI

70,000

VII

140,000

VIII

280,000

IX

560,000

Konstruksi grafik dosis - respon


Pada kertas grafik cantumkan pada basis, dosis yang digunakan dan pada ordinat
persentase hewan yang memberikan efek ( righting reflek hilang/ kematian ) pada dosis
yang digunakan.
Dengan memperhatikan sebaran titik titik pengamatan, gambarkan grafik dosis respon
yang menurut perkiraan saudara paling representative untuk fenomen yang diamati.
Turunkan dari grafik yang diperoleh ED50 tiopental untuk menghilangkan righting
reflek pada mencit yang lazimnya dinilai sebagai saat mmulai tidur da bila ada. Juga
LD50-nya.
Pengamatan :
No

Hewan

Dosis

Sedatif

Hipnotik

RR

Anestesi

coba/

Rute
pemberian

berat
I

badan
Mencit I /

2,190mg/

27,5 g

kg.BB

Mencit II/

Idem

IM

IM

IM

31,29 g
Idem
Mencit III/
24,4 g

II

III

IV

Mencit /

4,357

IM

35,9 g

mg/kg bb

Mencit /

4,357

31,8 g

mg/kg bb

Mencit /

4,357

37,5 g

mg/kg bb

IM

Mencit/

8,750

IM

37,6 g

mg/kg bb

Mencit /

8,750

26,1 g

mg/kg bb

Mencit /

8,750

31,2 g

mg/kg bb

IM

Mencit/

17,500

IM

27,0 g

mg/kg bb

Mencit /

17,500

31,3 g

mg/kg bb

Mencit /

17,500

31,3 g

mg/kg bb

IM

Mencit /

35,00

IM

35,00

IM

IM

IM

24 g
Mencit /
32 g

IM

Mencit /

VI

29 g

35,00

IM

Mencit /

70,00

IM

70,00

26 g
Mencit /
27 g

IM

Mencit /
21 g

70,00

IM

VI

Mencit /

140,00

IM

26 g
140,00

Mencit /
27 g

IM

Mencit /

VI

27 g

140,00

IM

Mencit /

280,00

IM

280,00

32 g

II
Mencit /
28 g

IM

Mencit /
IX

27 g
Mencit /
25 g

280,00
560,00

+
+

+
+

+
+

IM
IM

Mencit /

560,00

27 g

IM

Mencit /
27 g

560,00

No

Koma

mati

VI

VII

IM

VIII -

XI

Pembahasan :

Pada dosis obat 2,190, 4,357; 8,750; 17,500 mg/kg bb, dimana pada dosis
tersebut, obat telah menimbulkan efek sedasi, hipnotik, anestesi

Pada dosis obat 35,00; 70,00mg/kg bb, dimana pada dosis tersebut, obat telah
menimbulkan efek sedasi, hipnotik, anestesi dan tidak menimbulkan efek koma
dan mati dan RR 1 x tidak terjadi pada dosis 70,00 mg/ kg bb

Pada dosis obat 140,00; 280,00; mg/kg bb, dimana pada dosis tersebut, obat telah
menimbulkan efek sedasi, anestesi dan tidak menimbulkan efek RR, Koma dan
mati

Pada dosis obat 560,00mg/kg bb, dimana pada dosis tersebut, obat telah
menimbulkan efek sedasi, anestesi, koma dan mati dan tidak menimbulkan efek
RR

Semua percobaan ini dilakukan dengan memberikan melalui rute intra muscular ( IM ),
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui Efek dosis ( ED ) dan letal dosis ( LD ). Dosis

kecil suatu obat belum menimbulkan efek, dosis ditingkatkan, memberikan efek lemas,
dosis ditingkatkan kembali memberikan efek tidur dan bila ditingkatkan lagi akan
memberikan efek kematian.
Kesimpulan :
Dosis menentukan efek, jika respon kurang, maka efeknya kurang / tidak cukup/ tidak
menimbulkan respon. Jika, dosisnya lebih, maka efek yang ditimbulkan yaitu efek yang
ditimbulkan yaitu efek toksis. Oleh karena itu unutk mencapai efek yang diinginkan,
maka dosisnya harus cukup. Semakin besar efek yang diberikan, maka efek yang
ditimbulkan semakin besar pula ( efek toksikny terjadi ).

Daftar pustaka :
1. Mutschler E., Dinamika obat, Buku ajar Farmakologi dan Toksikologi, ITB : Bandung
2. Katzung.G.Bertram, Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta. 2002
3. Siregar. Tahoma, Penuntun Praktikum Farmakologi, ISTN, Jakarta

Percobaan 2

EFEK LOKAL OBAT


A. Judul Percobaan

: Efek obat pada membrane dan kulit mukosa

Tujuan Percobaan

1. Memperkirakan efek local dari berbagai obat terhadap kulit dan membrane mukosa
berdasarkan cara kerja masing masing obat serta dapat mengajukan penerapan efek ini
dalam praktis.
2. memahami sifat dan intensitas kemampuan merusak kulit dan membrane mukosa dari
berbagai obat yang bekerja di local.
3. Mengemukakan kegunaan pelarut terhadap intensitas kerja fenol dan dapat
mengajukan kemungkinan pemanfaatan, situasi praktis dalam peranan ini.
4. Menyimpulkan persyratan persyaratan farmakologi untuk obat obat yang dipakai
secara farmakologi.
Prinsip percobaan

1. Zat zat yang dapat mengugurkan bulu bekerja dengan cara memecahkan ikatan S S
pada keratin kulit, sehingga bulu mudah rusak dan gugur.
2. Zat zat korosif bekerja dengan cara mengendapkan protein kulit, sehingga kulit/
membrane mukosa akan rusak.
3. Fenol dalam berbagai pelarut akan menunjukkan efek local yang berbeda pula, karena
koefisien partisi yang brbeda beda dalam berbagai pelarut dan juga karena
permeabilitas kulit akan mempengaruhi penetrasi fenol ke dalam jaringan.
4. Zat zat yang bersifat adstringen bekrja dengan cara mengkoagulasi protein, sehingga
permeabilitas sel sel pada kulit/ membrane mukosa yang dikenainya menjadi turun,
dengan akibat menurunnya sensititivitas di bagian tersebut.
Teori

:
Efek obat yang akan timbul pada membrane dan kulit mukosa tergantung pada

jumlah obat yang dapat diserap pada permukaan kulit dan membrane serta kelarutan obat
dalam lemak karena pada epidermis kulit merupakan sawar lemak. Pada kulit yang
terkelupas/ luka maka absorpsi jauh lebih mudah. Obat yang digunakan di sini dapat
memberikan efek menggugurkan bulu korosif. Fenol serta adstrigen obat tersebut obat
tersebut dapat memberikan efek local pada membrane dan kulit mukosa.

Fenol ( C6H5OH )

Fenol mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 100,5 %
C6H5OH dihitung terhadap zat anhidrat dapat mengandung stabilisator yang sesuai. Fenol
merupakan suatu hablur bentuk jarum/ massa hablur, tidak berwarna/ putih/ merah jambu,
bau khas, mencair dengan penghangatan dan dengan penambahan 10 % air. Mendidih
pada lebih 182 0 C, uapnya mudah membakar pada konsentrasi 0,5 1 % dalam larutan
digunkan sebagai anestetik local. Larutan 5 % digunkan sebagai desinfektan.

Veet cream
Komposisi : water, glearil alcohol, potassium, thioglikolate, calcium hidrixide,

sodium magnesium silicate, fragrance, PPG 15, steryl ether, Mg trisilicate, titanium
dioxide, propylene glikol, capolymer, mineral oil, sweet almond oil, sodium glikonate,
pigmen red 5.

AgNO3
AgNO3 di samping bekerja bakterisid juga mempunyai sifat adstrigen dan korosif.

Larutan AgNO3 1 % digunakan untuk perlindungan terhadap blenorea pada bayi yang
baru lahir ( profilaksis Lrede ). Larutan AgNO3 P / batang AgNO3 digunakan sebagai
korosif. Lama kerja serta dalamnya penetrasi dibatasi oleh ion klorida jaringan, yang
dengan AgNO3 membentuk endapol mengandung tian AgCl. Garam peram sulfonamide,
sulfadiazine, sulfadiazine perak, Flamazine, terutama digunakan untuk luka baker,
senyawa perak protein asetilanat ( targesin ) dalam betuk tetes mata berfungsi pada
penanganan konjungtivitas.

Tanin
Tanin memberikan efek adstringen dimana dapat diserap melalui mukosa serta

memiliki sifat dapat menimbulkan presipitasi proten pada permukaan sel dengan daya
penetrasi yang kecil sehingga hanya permeabilitas membrane sel yang dipengaruhi. Tanin
dapat menimbulkan nekrosis hati.

Etanol
Etanol mengandung tidak kurang dari 92.3% b/b dan tidak lebih dari 93,8% b/b,

setara dengan tidak kurang dari 94,9% dan tidak lebih dari 96,0% v/v C 6H5OH pd suhu
15,56o. Cairan mudah menguap, jernih dan tidak berwarna. Bau khas dan menyebabkan
seperti rasa terbakar pada lidah. Mudah menguap walaupun pada suhu rendah dan
mendidih pada suhu 78o, mudah terbakar.

Glyserin
Glyserin mengandung tidak kurang dari 95% dan tidak lebih 101% C 3H8O3.

Cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna, rasa manis, hanya boleh berbau khas lemah
(tajam/tidak enak), higroskopis, netral terhadap lakmus. Dapat bercampur bercampur
dengan air dan dengan etanol, tidak larut CHCl3 dalam eter, dalam minyak lemak dan
dalam minyak menguap.

Adstringen
Adalah senyawa yang dengan protein dalam larutan netral atau asam lemah akan

membentuk endapan yang tidak larut, terasa kesat jika di berikan. Pada mukosa akan
bekerja menciutkan. Zat ini akan menyebabkan perapatan dan penciutan lapisan sel
terluar sel juga sekresi jaringan yang meradang akan dihambat. Jika selalu adstrigensia,
terutama garam logam yang bekerja adstrigensia digunakan dalam konsentrasi terlalu
tinggi, maka zat ini dapat menembus lapisan sel teratas dan juga menyerang lapisan
bawahnya.
Efek local obat terjadi akibat penggabungan langsung antara molekul obat dengan
reseptor, sehingga akan terobservasi timbulnya perubahan dari fungsi organ tergantung
pada daerah lokasi. Oleh karena itu, timbullah suatu efek obat. Adapun factor factor
yang mempengaruhi efek local obat ini diketahui jika efek terapi telah diketahui dan
dicapai.
Mukosa yang tervaskularisasi baik, yaitu rongga mulut dan rongga tenggorokan
( rute local, sublingual ), memilliki sifat absorpsi yang baik untuk senyawa yang tidak
terionisasi lipofil.
Yang menguntungkan pada bentuk pemakaian ini ialah munculnya kerja yang
cepat, di samping tak ada kerja cairan pencernaan dari saluran cerna dan bahan obat tidak
harus melewati hati segera setelah diabsorpsi. Karena permukaan absorpsi yang relative
kecil, rute bukal/ sublingual hanya mungkin untuk senyawa yang dapat diabsorpsi dengan
mudah dan selain itu tidak mudah rasa tidak enak. Indikasi penting ialah pengobatan
serangan angina pectoris dengan nitrogliserol dalam kapsul kunyah/ sebagai aerosol.
Pada pecobaan efek obat pada membrane mukosa ini digunakan berbagai reagen
yang dibuat seperti H2SO4(p), HCL (p), NAOH, Tanin, AgNO3, Fenol 5 % dalam gliserin,
Fenol 5 % dalam minyak lemak dan veet cream.

H2SO4 pekat
Asam sulfat mengandung tidak kurang dari 95,0 %, dan tidak lebih dari 98 % b/b

H2SO4. Asam sulfat merupakan suatu cairan jernih, seperti minyak, tidak berwarna, bau
sangat tajam dan korosif. Asam sulfat jika bercampur dengan air dapat menimbulkan
panas yang berlebih.

HCL pekat
Asam klorida merupakan cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang, jika

diencerkan dengan 2 bagian volume air, asap hilang. Asam klorida mengandung tidak
kurang dari 36,5 % bdak b/b dan tidak lebih dari 38,0 % b/b HCL.

NaOH
NaOH merupakan suatu serpihan/ batang atau bentuk lain, keras, rapuh dan

menunjukkan pecahan hablur, berwarna putih/ praktis putih, massa melebur, berbentuk
pellet. NaOH bersifat basa kuat dan korosif. NaOH mengandung tidak kurang dar 95,0
% dan tidak lebih dari 100,5 % alkali jumlah dihitung sebagai NaOH mengandung
Na2CO3 tidak lebih 30 %.
Bila dibiarkan di udara akan cepat menguap karbon dioksida dan lembab. Hati
hati dalam pemakaian NaOH karma merusak jaringan dengan cepat.
Alat, bahan, dan obat

Bahan

: untuk efek

Menggunakan bulu

: kulit tikus

Korosif

: usus dan kulit tikus

Fenol dalam berbagai pelarut

:jari jari tangan

Adstrigen

: mukosa mulut

Obat

Untuk Efek

Obat

Menggunakan labu

Larutan Natrium hidroksida 20 %, larutan

Korosif

Natrium sulfida 20 %, veet cream


Larutan raksa ( II ) klorida 5 %, larutan
fenol 5 %, larutan Natrium hidroksida 10
%, asam sulfat pekat, asam klorida pekat,

tintura iod, larutan perak nitrat 1 %,


Fenol dalam berbagai pelarut

Larutan fenol 5 % dalam air, larutan fenol


5 % dalam etanol, larutan fenol 5 % dalam
gliserin 25 %, larutan fenol 5 % dalm
minyak lemak.
Larutan tannin 1 %

Adstrigen
Prosedur

1. Efek menggunakan bulu :


a) Tikus siang sudah dikorbankan, diambil kulitnya, kemudian potongan masing
masing 2,5 x 2,5 cm dan diletakkan di atas kertas saring
b) Ke atas potongan-potongan kulit ini diteteskan larutan larutan

obat yang

digunakan ( veet cream cukup dioleskan )


c) Setelah beberapa menit, dengan batang pengaduk, dilihat apakah ada bulu yang
gugur
2. Efek korosif
a)

Usus tikus diambil, dipotong potong sepanjang 5 cm, letakkan di atas kertas
saring, yang lembab, kemudian diteteskan cairan cairan obat.

b) Setelah 15 menit, cairan yang berlebihan pada potongan usus diserap dengan
kertas saring.
c) Potongan potongan kulit tersebut kemudian dibilas dengan air dan cairan yang
berlebihan diserap dengn kertas saring.

Pengamatan :
No

Percobaan

Obat

Waktu

Pengamatan

II

Efek menggugurkan bulu


(tikus ), bagian yang
diambil kulit luar tikus

Efek korosif
Bagian yang diambil :
usus halus

Agcl

Bulu tidak
rontok, kulit
lebih merah

NaOH

Bulu mulai
rontok

Fenol 5%

Bulu tidak
rontok

AgNO3 1 %

Bulu tidak
rontok

Fenol 5 %

10

Usus menjadi
lebih putih,

HgCl2 5 %

Detik ke- 3

Warna cepat
berubah, pada
saat penetesan
warna usus
menjadi merah

NaOH 10 %

Detik ke- 3

Warna usus
menjadi
kuning,kemudian
menjadi putih,
pembuluh darah
terlihat.

H2SO4 ( p )

Detik ke- 3

Usus menjadi
kaku, warna
pucat, isi dalam
usus agak
mengeras

HCL ( p )

Detik ke- 3

Usus menjadi
mengembang
berwarna pucat,
isis dalam usus
mengeras

Tingtur iod

Detik ke- 3

Usus menjadi
lembek

AgNO3 1 %

15

Usus menjadi

agak kaku, agak


kenyal
III

Efek local obat dalam


berbagai pelarut
Bagian yang digunakan :
Jari tangan

Fenol dalam
etanol

2, 3

Dingin, tebal
nyeri, kebal.

Fenol dalam
minyak lemak

3, 4

Tebal, panas

Fenol dalam
gliserin

3, 4

Terasa tebal

Fenol dalam
air

7, 10

Dingin lamalama panas

Pembahasan :
Efek mengugurkan bulu :
Dari tabel pengamatan di atas, dapat diketahui bahwa NaOH lebih cepat menimbulkan
efek menggugurkan bulu daripada pereaksi lain. Hal ini mungkin karena sifat dari NaOH
itu sendiri yaitu bersifat korosif dan basa, sehingga waktu timbul efeknya lebih cepat.
Karena sifat dari NaOH itu korosif, sehingga dapat menimbulkan iritasi.
Efek korosif :
Dari percobaan ini, dapat kita ketahui bahwa H2SO4 lebih cepat menimbulkan efek
korosif daripada dibandingkan HgCl2, Fenol, HCl, AgNO3. Hal ini disebabkan karena
H2SO4 lebih pekat dari keempat larutan itu.
Efek local dalam berbagai pelarut :
Dari percobaan di atas, dapat diketahui pula bahwa fenol 5% dalam air dapat
menimbulkan efek pada manusia. Hal ini disebabkan karena air adalah larutan fisiologis
yang ada pada makhluk hidup
Kesimpulan :
Efek mengugurkan bulu :

NaOH lebih cepat menimbulkan efek menggugurkan bulu daripada pereaksi lain
Efek korosif :
Urutan larutan bahwa obat yang cepat menimbulkan efek yaitu : H 2SO4 ( p ) HCl
AgNO3 HgCl2 Fenol
Efek local dalam berbagai pelarut :
Fenol 5 % minyak lemak tidak menimbulkan efek daripada fenol 5 % dalam air, etanol
dan gliserin.

Daftar pustaka :
1. Mutschler E., Dinamika obat, Buku ajar Farmakologi dan Toksikologi, ITB : Bandung
2. Katzung.G.Bertram, Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta. 2002
3. Siregar. Tahoma, Penuntun Praktikum Farmakologi, ISTN, Jakarta

B. Judul percobaan
Tujuan percobaan

: Efek anestetika local


:

1. mengenal tiga teknik ( anestetika permukaan/ Metode regnier, konduksi )


2. memahami factor factor yang melandasi perbedaan perbedaaan dalam sifat dan
potensi anestetik local.
3. mengenal berbagai factor yang mempengaruhi kerja anestetik local
4. dapat menghubungkan potensi kerja anestetik local dengan manifestasi gejala
toksisistasnya serta pendekatan rasional unutk mengatasi toksisitas anestetika.
Prinsip percobaan

. Anestesi konduksi
Memutuskan efek rangsang pada tempat yang diputuskan.
Teori

Anestetika local adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila di kenakan
secara locamumnyal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Anastetik local
menghilangkan

keterangan dari organ akhir yang

menghantarkan

nyeri

dan

menghilangkan kemungkinan penghantaran dari serabut saraf sensible secara bolak-balik


pada tempat tertentu sebagai akibat dari rasa sensasi nyeri hilang untuk sementara hilang.
Kerja anastetik local pada ujung saraf sensorik tidak spesifik. Hanya kepekaan berbagai
struktur yang di rangsang berbeda. Misalnya, fungsi motorik tidak terhenti dengan dosis
umum untuk anastetik local teruma karena serabut saraf motorik mempunyai
diameteryang lebih besar dari serabut sensorik.
Oleh karena itu efek anastetik local menurun dengan kenaikan yang lebih besar
maka mula-mula serabut saraf sensorik di hambatdan baru pada dosis yang lebih besar
serabut saraf motorik di hambat. Pemberian anastetik local pada pada batang saraf
menyebabkan paralysis sensorik didaerah yang dipersarafinya.
Banyak macam zat yang dapat mempengaruhi hantaran saraf, tetapi umumnya tidak
dapat dipakai karena menyebabkan kerusakan permanent pada sel saraf.. Paralisis saraf
oleh anastetik local bersifat refersibel, tanpa merusak serabut atau sel saraf.
Anastetik local yang pertama kali ditemukan adalah kokain, yaitu suatu alkaloid.
Sifat-sifat dari anastetik local yang ideal yaitu :
- Tidak mengiritasi dan merusak jaringan saraf secara permanen

- Toksisitas sistemisnya rendah


- Efektif pada penyuntikan dan penggunan local
- Mula kerja dan daya kerjanya singkat untuk jangka waktu yang lama
- Larut dalam air dengan menghasilkan larutan yang stabil dan tahan pemanasan (proses
srerilisasi.
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja anastetik local yang terkenal ialah bahwa obat ini menurunkan
ketelapan membaran terhadap kation, khususnya ion natrium. Menurunnya ketelapan
membrane mempunyai arti yang sama dengan suatu penurunan keterangsangan termasuk
juga pada konsentrasi anastetik local yang tinggitidak dapat terangsang sama sekali dan
serabut saraf, karena suatu rangsang hanya dapat terjadi atau dapat dihantarkan jika
terjadi gangguan potensial istirahat mebran akibat suatu kenaikan mendadak dari
ketelapan terhadap natrium. Blokade saluran ion, khususnya saluran natrium akibat
anastetik local terjadi menurut mekanisme berikut : semua anastetik local tersimpan
dalam membrane sel karena sifat lipofilnya dan melalui espansi membrane yang tak
spesifik menutup saluran natrium, reaksi dengan reseptor terjadi pada sisi dalam
membrane.
Untuk memperpanjang daya kerjanya ditambahkan fase kontriktor yang dapat
mencairkan pembuluh darah sehingga absorbsi diperlambat, toksisitas berkurang, mula
kerja di percepat dengan khasiat yang lebih ampuh dan lokasi pembedahan praktis tidak
berdarah.
Cara pemakaian :
Menurut cara pemakaian anastetik local dibedakan:
- Anastetik permukaan, digunakan pada mukosa atau permukaan luka kemudian
berdifusi ke organ akhir dan percabangan saraf terminal.
- Anastesi infiltrasi, anestesi local di suntikan ke dalam jaringan.
- Anastesi konduksi (hantaran), anastetika local disekitar saraf tertentu yang ditujukan
dan hantaran rangsang pada tempat ini diputuskan.
- Anastesi regional intravena dalam daerah anggota badan.

Karena anastetika local terpenting yang digunakan sekarang ini mengandung gugus
amino tersier (sekunder) alifatik atau alisiklik dan dalam larutan berir terdapat dalam
kesetimbangan antara bentuk berproton lipofil, yang selain bergantung juga pada
besarnya ph lingkungan juga bergantungan pada besarnya anastesi local, maka keadaan
dari kesetimbangan ini sangat berarti bagi daya tembus anastesi local. Walaupun
demikian kerja pada tempat kerjanya merupakan dari bentuk berproton. Penghambatan
lewatnya ion natrium dan kalium diakibatkan oleh kenaikan jumlah positif akibat
anestetik local. Ketergantungan kerja pada besarnya pH jaringan normal karena glikolisis
anaerob dan dengan demikian pembentukan asam laktat meningkat. Hal ini disebabkan
oleh kurangnya oksigen akibat membesarnya jalan difusi yang terjadi pada
pembentukkan udem. Anestetik local pada daerah yang meradang demikian kurang
berkhasiat, karena kesemtimbangan antara bentuk berproton dan tidak berproton bergeser
ke arah bagian berproton dan ini menurnkan kemampuan penembusan.
Cara pemakaian
Menurut cara pemakaian anestetik local dapat dibedakan atas :
a. Anestetik permukaan
Pada anestetik permukaan, anestetik local pada mukosa atau permukaan luka dari
sana berdifusi ke organ akhir sensorik dan kepercabangan saraf terminal. Pada
epidermis yang utuh ( tidak terluka ) maka anestetik local hamper tidak mampu
menembus lapisan tanduk.
b. Metoda regnier
Pada anestesi metoda regular, refleks okuler timbul setelah beberapa kali kornea
disentuh, sebanding dengan kekuatan kerja anestetik dan besarnya sentuhan yang
diberikan.
c. Anestetika konduksi
Pada anestetika konduksi, anestetik local disuntikan di sekitar saraf tertentu yang
dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini diputuskan. Bentuk khusus dari
anestesi konduksi ini adalah anestesi spinal; anestesi peridural, dan lain lain.
d. Anestesi infiltrasi

Pada anestesi infiltrasi, anestetik local disuntikkan ke dalam jaringan, termasuk juga
diisikan ke dalam jaringan. Dengan demikian selain organ sensorik, juga batang
batang saraf kecil dihambat.
Contoh contoh obat anesteik local :

Lidokain
Merupakan anestesi local yang bekerja cepat dan bertahan lama dengan kekuatan
kerja kira kira 4 kali prokain, tetapi toksisitas hanya 2 kali prokain. Berlawanan
dengan anestesi local jenis ester maka lidokain tidak diuraikan oleh hidrolase
melainkan dibiotransformasi secara oksidatif ( antara lain dealkilasi pada nitrogen
). Senyawa yang dapat dipakai sebagai anestetika infiltrasi dan anestetika
konduksi ini digunakan dalam larutan dengan konsentrasi 0,2 1 ( -2 ) %. Perlu
ditekankan bahwa pemakaian simpatomimetika sebgaian besar dapat dihindarkan.
Selanjutnya lidokain telah digunakan sebagai aritmia antinya/ anti aritmia.

Prokain
Prokain HCL , yang sebagai hidroklorida mudah larut dalam air karena
penambahan gugus dietil amino pada eloform, masih terlalu termasuk dalam
anestetika local yang sering digunakan karena sifat diterima dengan baik. Obat ini
dalam organisme akan cepat disabunkan oleh esterase menjadi dietilaminoetanol
dan asam p-amino benzoate yang bekerja melebarkan pembuluh darah. Yang
umum dalam perdagangan 0,5 % unutk anestesi infiltrasi dan 1-2 % untuk
anestesi konduksi. Pemberian tunggal terbesar secara sub cutan sebesar 0.6 gram.

Kokain
Merupakan suatu alkaloid ester dari daun Eritroxylon coca merupakan anestetika
local yang tertua. Obat ini tidak digunakan lagi karena toksisitasnya yang tinggi,
dan kerja yang menyebabkan ketergantungan. Tapi karena obat ini berfungsi
sebagai senyawa model pada perkembangan anestesi local sintetik, maka obat ini
masih menarik dari segi suatu kelompok obat. Selain itu, obat ini merupakan satusatunya anestetika local yang bekerja vasokonstriksi melalui penghambatannya
pada pengambilan kembali nor adrenalin ke dalam akson.

Alat, bahan dan hewan


Alat

: alat suntik 1 ml , klem/ pinset ekor, silinder khusus untuk


mencit

Obat

: lidokain HCL 2 %, dosis 25 mg/ kg bb dilarutkan dalam NaCL


fisiologis

Hewan

: mencit jantan 20 30 gram

Prosedur

Anestesi konduksi
1. Semua mencit dicoba dulu respon haffner ( lihat respon antagonis morfin ) dan hanya
dipilih hewan hewan yang memberikan respon negative.
2. Hewan hewan di kelompokan dan ditimbang dan diberikan tanda pengenalnya
masing-masing.
3. Untuk percoban, mencit dimasukkan ke dalam silinder dan hanya ekornya dikeluarkan.
Jumlah silinder disesuaikan dengan jumlah mencit dari satu kelompok.
4. Ekor mencit kemudian dijepit pada jarak 0,5 cm dari pangkal ekor. Manifestasi rasa
nyeri ditunjukkan dengan reflek gerakan tubuh mencit atau dengan suara kesakitan.
Respon demikian dicatat sebagai Hffner negative.
5. Pada waktu t = 0 masing-masing dari kelompok yang sama disuntik prokain HCl di
vena ekor kelompok control hanya di suntik larutan pembawanya dengan cara yang
sama.
6. Setelah waktu t = 10 menit masing-masing mencit diperiksa respon Hffner dan
selanjutnya dilakukan hal yang sama pada t = 15 dan 20 menit.
7. Hasil pengamatan dicatat dalam sebuah table

Perhitungan:
Pengenceran Lidokain HCl dengan NaCl Fisiologis 1 : 10
Mencit 1
Berat badan : 26,8 gram

Mencit = 26,8 g x 25 mg = 0,67 mg


1000 mg
= 0,67 mg x 100 ml = 0,03
2000 mg
= 0,67 mg x 100 = 0,3535 ml = 0,3 ml
200 mg
Mencit 2
Berat badan 35 gram
Mencit = 35 g

x 25mg = 0,875 mg

1000 mg
= 0,875 mg x 100 ml = 0,04375
2000 mg
= 0,875 mg x 100 ml = 0,4375 = 0,4 ml
200 mg
Mencit 3
Berat badan 27 gram
Mencit = 27 g x 25 mg = 0,675 mg
1000 mg
= 0,675 mg x 100 ml = 0,03375
2000 mg
= 0,675 mg x 100 ml = 0,3375 = 0,3 ml
200 mgda mencit

PEMBAHASAN
Pada percobaan ini digunakan 3 ekor mencit, dimana mencit pertama pada menit ke 5
respon Haffner negative lalu setelah menit ke 10 respon Haffner berubah menjadi positif.
Kemudian mencit kedua disuntikkan pada menit ke 10 dan memberikan respon Haffner

negative, lalu pada menit ke 20 berubah menjadi respon Haffner positif. Pada
penyuntikan mencit ke tiga memberikan respon Haffner negative di menit ke 20,lalu
respon berubah menjadi positif di menit ke 25. Respon negative yang terjadi pada
percobaan ini disebabkan obat yang di suntikkan tidak masuk, hal ini ditunjukkan dengan
adanya gerakan tubuh mencit atau dengan suara kesakitan apabila ekor mencit di jepit.
Kemudian respon positive diketahui apabila pada saat ekor mencit dijepit mencit tidak
menjerit dan bergerak lagi.
KESIMPULAN
Mencit 1 pada menit ke5 respon Haffner negative, lalu pada menit ke10 respon
Haffner positif.
Mencit 2 pada menit ke10 respon Haffner negative, lalu pada menit ke20 respon
Haffner positif.
Mencit 3 pada menit ke20 respon Haffner negative, lalu pada menit ke 25 respon
Haffner positif.
Dari ketiga mencit ini dapat dilihat hasil akhir yang di tunjukkan yaitu respon Haffner
positif.

Daftar Pustaka :
1. Mutschler E., Dinamika obat, Buku ajar Farmakologi dan Toksikologi, ITB : Bandung
2. Katzung.G.Bertram, Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta. 2002
3. Siregar. Tahoma, Penuntun Praktikum Farmakologi, ISTN, Jakarta
C. Judul percobaan
Tujuan percobaan

:Toksisitas Anestetika local


:

1. menjelaskan factor yang mempengaruhi toksisisitas obat anestetika local


2. mengetahui gejala gejala anestetika local

3. dengan mengetahui gejal gejala toksisitas diharapkan akan mengatasi apabila


terjadi toksisitas anestesi local.
Prinsip percobaan

Setiap zat kimia pada dasarnya bersfat racun dan terjadinya keracunan ditentukan
oleh dosis dan cara pemberian dasar penilaian toksikologis adalah menentukan apabila
zat kimia adalah racun ( sola vacid venenum ).
Alat dan bahan

Hewan

: tikus putih jantan, bobot +/- 150 g, 6 ekor

Obat

: larutan prokain HCL 1,25 %, larutan tetrasiklin HCL 1,25 %

Dosis

: untuk masing masing obat 25 mg/ kg bb

Rute

: intra peritoneal ( IP ), dan sub cutan ( SC )

Alat

: tiga wadah kaca tertutup unutk pengamatan, split 1 ml dengan jarum


yang sesuai untuk pemberian IP dan SK, timbangan tikus.

Teori :
Sebelum melakukan suatu pembedahan, pada umumnya pasien dibius terlebih
dahulu dengan anestetik umum, sehingga tercapai stadium pembedahan. Namun tidak
menggunakan anestetika local saja. Misalnya pada tindakan pencabutan gigi, sunat,
pengangkatan kista da lain lain.
Anestetik local ini digunakan untuk menghilangkan persepsi nyeri setempat dan
menekan refleksi dari suatu badan tertentu sehingga dapat dilakukan pembedahan pada
tempat tersebut. Selain serabut sensorik, serabut saraf motoris dapat dihambat oleh obat
anestetik local.
Penilaian keamanan suatu obat/ zat kimia merupakan bagian penting dari
toksikologi karena setiap zat kimia yang baru disintesis dan akan dipergunakan harus
diuji toksisitas dan keamanannya.
1. Prokain
Prokain dikenal dengan nama Novokain.

Farmakodinamik
Analgesia sistemik pada penyuntikan prokain sub cutan dengan dosis 100 800
mg, terjadi analgesia umum ringan yang derajatnya berbanding lurus dengan

dosis. Eafek maksimal berlangsung 10 20 menit dan menghilang sesudah 60


menit.

Farmakokinetik
Absorpsi berlangsung cepat di tempat suntikan dan unutk memperlambat
absorpsi perlu ditambahkan vazokontriktor. Setelah diabsorpsi, prokain cepat
dihidrolisis oleh esterase dalam plasma menjadi PABA dan dietil amino etanol.
PABA diekskresi di dalam urin, kira kira 80 % dalam bentuk utuh dan bentuk
konjugasi.

Intoksifikasi
Toksisistas prokain hanya dari toksisitas kokain pada pemberian IV maupun
SK. Prokain lebih cepat dirusak dalam badan dari pada kokain. Absorpsi
prokain diperlambat dengan vasokontriktor sehingga toksisistasnya menjadi
lebih ringan. Hasil hidrolisis prokain tidak toksik.

2. Tetrakain
Tetrakain adalah derivate asam amino benzoat. Pada pemberian IV zat ini 10 kali lebih
aktif dan lebih toksik dari pada prokain. Obat ini digunakan untuk segala macam
anestesia. Untuk pemakaian topical pada mata digunakan larutan tetrakain 0,5 % untuk
hidung dan tenggorokan larutan 2 %. Pada anestesia spinal dosis total 10 20 mg.
Komplikasi yang berbahaya dan terapinya
Pada percobaan anesthesia local dapat terjadi komplikasi berat bahkan membahayakan
jiwa sebagai berikut :

Kadar dalam darah dari anestesia local/ simpatomimetika yang ditambahkan


sebagai vasokontriktor yang terlalu tinggi dan juga

Reaksi alergi
Kadar darah yang terlalu tinggi akibat penyuntikan intravasal yang tak

disengaja, terlalu cepat absorpsinya/ konsentrasi anestetik local yang terlalu tinggi
menyebabkan gangguan saraf pusat dan gangguan kardium.
Gejala gejala keracunan saraf pusat, yang pada fase awal terjadi
penghambatan neuron inhibisi ( oleh sebab itu terjadi gejala terangsang ) dan selanjutnya.
Pada keracunan yang lebih parah terjadi kelumpuhan bagian yang lebih besar dari system

saraf pusat. Pada kasus ringan berupa tidak tenang, tremor, keadaan takut dan delirium.
Pada kasus berat berupa kejang kronik dan kelumpuhan pernafasan. Seperti halnya pada
serabut saraf, penghantaran rangsang pada jantung dihambat, karena itu dapat terjadi
bradikardia yang akhirnya terjadi blockade atrioventrikular dan sebagai akibatnya jantung
berhenti dan kejang andisia.
Pada keracunan adrenalin terjadi pucat dan intensif keringat dingin, takhikardia
dan kenaikan tekanan yang besar dalam kasus jarang terjadi gejala aritmia dan polimer
ventrikel sedang pada kelebihan dosis nor adrenalin terjadi bradikardia.
Reaksi alergi dapat tidak merugikan atau yang berat ( misal brokhospasmus,
syok anafilaktik ).
Toksisitas suatu anestetika local sebagian tergantung dari kesetimbangan antara
kecepatan absorpsinya dan kecepatan destruksinya. Kecepatan absorpsinya dapat
diperlambat oleh vasokonstriktor, maka kecepatan destruksinya yang berbeda beda
merupakan factor utama yang menentukan aman/ tidaknya suatu anestetika local.
Sebagian besar anestetika local maupun eter dan biasanya toksisitasnya hilang setelah
mengalami hidrolisis di hati dan plasma.
Anestetika golongan amida misalnya lidokain akan mengalami destruksi dalm
reticulum endoplasma hati, mula mula terjadi proses N- dealkilasi yang disusul dengan
hidrolisis. Sebaliknya prokain mula mula mengalami hidrolisis / menghasilkan metabolit
o toludin yang dapat menyebabkan methemoglobinemia.
Prosedur :
Amati kelakuan, karakteristik tikus sebelum pemberian obat ( sikap, pernafasan, bola
mata, pupil mata ). Kepada masing masing tikus berikan obat obat menurut bagian
berikut :
Tikus

Obat

Rute pemberian

Prokain HCL

IP

II

Tetrakain HCL

IP

III

Lidokain HCL

IP

IV

Prokain HCL

SC

Tetrakain HCL

SC

VI

Lidokain HCL

SC

Pengamatan :
Hewan coba/

Rute

Obat/ dosis

Sedative

Hipnotik

Koma

Mati

berat badan
Tikus/ 150,2 g

pemberian
IP

Lidokain 0,9

Tikus/ 140 g

ml
IP

Lidokain 0,8
ml

Tikus/ 125,1 g

SC

Tikus/135,09 g

Lidokain 0,8
ml

SC

Lidokain 0,8
ml

Pembahasan :
Anestetik local bekerja merangsang penafasan, depresi nafas timbul karena
perangsangan SSP berlebihan. Perangsangan yang kemudian disusul oleh depresi pada
pemakaian anestetik local itu hanya disebabkan oleh depresi pada aktivitas neuron.
Dari hasil pengamatan pada percobaaan ini pada tikus yang diberikan obat
secara intra peritoneal ( IP ), menunjukkan efek toksis yang berakhir dengan kematian

pada 2 tikus ini. Pada percobaan berikutnya, tetap dengan memakai obat yang sama, tapi
dengan menggunakan rute pemberian obat secara sub cutan ( SC ), hanya menunjukkan
efek sedative, hipnotik, koma, efek toksisnya tidak berakhir pada kematian. Padahal
seharusnya pemberian secara sub cutan pun dapat menimbulkan efek toksis, walaupun
lebih lama timbul efeknya dibandingkan dengan pemberian intra peritoneal. Hal ini
menunjukkann bahwa kemungkinan obat yang disuntikan kurang dari dosis yang
seharusnya. Pemberian obat secara IP ternyata lebih cepat memberikan efek
dibandingkan pemberian obat secara SC.

Kesimpulan :
Rute pemberian obat secara intra peritoneal lebih cepat memberikan efeknya
dibandingkan pemberian obat secara sub cutan.

Daftar pustaka
1. Mutschler E., Dinamika obat, Buku ajar Farmakologi dan Toksikologi, ITB : Bandung
2. Katzung.G.Bertram, Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta. 2002
3. Siregar. Tahoma, Penuntun Praktikum Farmakologi, ISTN, Jakarta

Percobaan 3

DIURETIKA
Judul percobaan

: Diuretika

Tujuan percobaan

1. mahasiswa memahami kerja farmakologik dari berbagai kelompok diuretika.

2. mahasiswa memperoleh gambaran tentang cara evaluasi efek diuretika.


3. mahasiswa satu cara untuk memperkirakan dosis efektif lima puluh ( ED50 ).
Prinsip

Diuretik adalah senyawa yang dapat menyebabkan eksresi urin yang lebih banyak. Jika
pada peningkatan ekskresi air, terjadi juga ekskresi garam garam, maka diuretika ini
dinamakan saluretika/ natriuretika ( diuretika dalam arti sempit ).
Teori

:
Diuretika adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah

diuretic menjadi dua pengertian,


1. menunjukkan adanya penambahan volume urin yang di produksi
2. menunjukkan jumlah pengeluaran (kehilangan) zat-zat terlarut dan air.
Fungsi utama diuretic adalah utuk memobilisasi cairan udem, yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa, sehingga volume cairan ekstra sel kembali
menjadi normal.
Pengaruh diuretic terhadap ekskresi zat terlarut penting artinya untuk
menentukan tempat kerja diuretika dan sekligus untuk meramalkan akibat penggunaan
1. Diuretik osmotic
2. Penghambat mekanisme transport elektrolit ditubuli ginjal
Obat yang dapat menghambat transport diuretic di tubuli ginjal adalah :
Penghambat karbonik anhidrase
Benzotiadiazid
Diuretic hemat kalium, dan
Diuretik kuat. Xantin yang juga berefek diuretic tidak dibahas disini karena
kegunaannya sebagai diuretic ialah terdesak oleh diuretic yang lebih kuat.
A. Flurosemida
Mempunyai struktur sulfanilamide dan pada posisi O, terhadap gugus
sulfonamide mempunyai penyuluh penarik electron. Sebagai pengganti gugus
sulfonamide kedua disini ialah gugus karboksil.
Sifat khas pada senyawa ini adalah kerjanya yang amat singkat tetapi
intensif pada pemakaian secara paranteral, segera setelah penyuntikan terjadi peningkatan

ekskresi natrium, klorida, dan air yang lebih besar dari pada ekskesi yang disebabkan
oleh semua diuretika.
Karena kerjanya hanya bertahan singkat pada dosis rendah dan sedang
terlihat pemurnian laju ekskresi yang relative tepat sampai dibawah harga control (gejala
rebound). Walaupun demikian dengan peningkatan dosis efek keselurahan dibandingkan
dengan senyawa tiazid dapat meningkat. Artinya dengan dosis tinggi suatu diuretika Jeral
Henle, udem dapat dihilangkan jika tiazid tidak berkhasiat lagi. Lebih dari 30 % ion
natrium yang difiltrasi pada pemberian obat dengan dosis yang cocok akan dapat
diekskresi.
Sama seperti tiazida, diuretik Jeral Henle ini disamping mengekskresi lebih
banyak ion Na+ dan ion Cl-, obat ini pun mengekskresi ion klsium dan magnesium lebih
banyak. Berbeda dengan tiazida, disini ekskresi ion kalsium juga. Sifat ini dapat
dimanfaatkan pada hipertalasemia.
Diuretika Jeral Henle tipe Furosemid terutama sangat bermanfaat, jika
diperlukan kerja yang tepat dan intensif, seperti misalnya pada udem paru-paru.
Disamping itu juga digunakan pada diuretic yang dipaksakan.
Mekanisme Kerja
Yang ditemukan adalah bahwa senyawa ini dari tipe lumen (tepat bolakbalik) memblok pembawa Na+/ K+/ 2Cl-, dan dengan cara ini menghambat absorbsi. Na +,
K+, Cl- dalam cabang local Jeral Henle menaik. Untuk dapat bekerja dan daerah lumen,
senyawa ini dari aliran darah harus masuk ke cairan tubulus. Transport terutama terjadi
melalui sekresi tubulus proksimal. Ini yang menjelaskan mengapa pada insufisensi ginjal
yang proses sekresinya dipengaruhi diperlukan dosis yang lebih tinggi saat mulai kerja
yang lebih lambat. Pada pemberian secara oral diuretika Jeral Henle tipe furosemid
diobsorbsi dengan cepat tetapi tidak sempurna.
Ketersediaan hayati furosemid yang merupakan zat yang paling banyak
digunakan adalah sekitar 60 %. Ikatan proteinnya tinggi yaitu sekitar 98 %, waktu paruh
sekitar 1 jam.
Ekskresi senyawa terutama melalui ginjal disamping ekskresi empedu.
Dosis tunggal rata-rata untuk penggunaan udem secara oral. Furosemid Aomo, pada

inslensi ginjal/udem yang resisten terhadap diberikan dosis yang tinggi (sampai sekitar 2
g/hari furosemida sebagai infus.
B. Tiazid ( Hidroklortiazida )
Farmakokinetik
Absorbsi tiazid melalui saluran cerna baik sekali. Umumnya efek obat
tampak setelah 1 jam. Klortiazid di distribusi ke seluruh ruang ekstrasel dan dapat
melewati sawar urin, tetapi obat ini hanya ditimbun dalam jaringan ginjal saja. Dengan
suatu proses aktif, tiazid diekskresi oleh seltubuli proksimal kedalam cairan tubuh. Jadi
bersihan ginjal obat ini besar sekali biasanya dalam 3-6 jam sudah diekskresi dari badan.
Bendroflumetiazid, politiazid dan hertalidon mempunyai masa kerja yang lebih panjang
karena ekskresinya lebih lambat.
Klortiazid dalam badan tidak mengalami perubahan metabolic, sedangkan
politiazid sebagian dimetabolisme dalam badan.
Efek Samping
Intoksikasi dalam klinik jarang terjadi biasanya reaksi yang timbul
disebabkan oleh reaksi alergi atau karena penyakitnya sendiri. Telah dibuktikan pada
hewan coba bahwa besarnya dosis toksik beberapa kali dosis terapi. Reaksi yang yang
telah dilaporkan

adalah berupa kelainan

kulit, pura-para, dermatitis

disertai

fotosensitivitas dan kelainan darah.


Pada penggunaan lama dapat timbul hiper likema, terutama pada penderita
diabetes. Ada 3 faktor yang menyebabkan hal ini dan telah dapat dibuktukan pada tikus
yaitu: berkurangnya sekresi insulin terhadap peninggian kadar glukosa plasma,
meningkatnya

glukosfenolisis,

dan

berkurangnya

glikogenesis.

Tiazid

dapat

menyebabkan peningkatan kadar kolesteroldan trigliserid plasma dengan mekanisme


yang tidak diketahui, tetapi tadak jelas apakah ini meninggikan resiko terjadinya
aterosllerosis.
Kadar natrium, kalium, klorida, dan bikarbonat plasma, sebaiknya diperiksa
secara berkala pada penggunaan tiazida jangaka lama walaupun perubahannya tidak

menonjol. Kehilangan kalium lebih lanjut misalnya pada keadaan diare, muntah-muntah
atau anoreksia harus segera diatasi karene memperbesar bahaya intoksikasi digitalis,
memungkinkan terjadinya koma hepatikum pada penderita sirosis hepatitis dan parese /
paritisis otot skelet. Kombinasi tetap tiazid bersama diuretik hemat kalium dapat
mencegah hipopalemia.
Gejala insufisiensi ginjal dapat diperberat oleh tiazid, mungkin karena tiazid
langsung mengurangi aliran darah ginjal gangguan pembentukan.
Diuretika dapat dikelompokan menurut mekanisme kerja mereka. Kelompok
itu adalah :
1. diuretika inhibitor karboanhidrase, contoh : azetazolamida ( diamoks )
2. diuretika jerat henle, contoh : furosemid ( lasix )
3. diuretika golongan tiazida, contoh : hidroklortiazida
4. diuretika antagonis aldosteron, contoh : spironolakton ( aldactone )
5. diuretika hemat kalium jenis sikloamidin, contoh :

triamteren dan

amilorid
Bahan dan Alat
Hewan percobaan

: tikus putih jamtan, usia sekitar 15ekor

Obat yang digunakan

:larutan furosemid Na dalam air, dibuat dengan melarutkan

furosemid dengan kadar yang sesuai dalam air dengan meneteskan kedalam campuran
larutan NaOH 0,1 N sampai Furosemid larut, kemudian larutan dinetralkan dengan HCl
0,1 N ; larutan NaCl fisiologik ; diuretika lain yang teredia.
Dosis obat

: Furosemid Na 0,5mg / kg bb ; 13,5mg/kg bb ; larutan


NaCl fisiolgik 0,5ml.

Rute pemberian

: SC

Alat yang digunakan

: timbangan tikus, spuit, pip lambung, kandang khusus


pengamatan, tabung berskala untuk penampungan urin, kertas
indikator universal.

Prosedur
1. Tikus dipuasakan selama 12 sampai 16 jam, etapi tetap diberikan air minum.

2. Hewan percobaan dikelompokkan secara acak dalam 5 kelompok, masingmasing terdiri dari3 ekor tukus menurut dosis obat yang tersedia.
3. Semua tikus diberikan air oral sebanyak 50ml/kg bb.
4. Masing-masing kelompok tikus diberikan Furosemid sesuai dosis atau NaCl
fisiologis.
5. Segara setelah pemberian obat tempatkan tikus ke dalam kandangt khusus yang
di desain untuk mengumpulkan urin tanpa konyaminasi feses.

Pembahasan :
Furosemid pada pemakaian secara parenteral, segera setelah penyuntikan terjadi
peningkatan ekskresi natrium, klorida, dan air yang besar. Karena kerjanya hanya
bertahan singkat, pada dosis rendah dan sedang, terlihat penurunan laju ekskresi yang
relative cepat sampai di bawah harga control. Tapi, dengan peningkatan dosis, udem
dapat dihilangkan. Furosemida sangat bermanfaat jika diperlukan kerja yang cepat dan
intensif seperti udem paru paru dan pada diuresis yang dipaksakan.

Kesimpulan :
Furosemida adalah obat diuresis golongan diuretic jerat henle yang mempunyai waktu
paruh 1 jam.

Daftar pustaka :

1. Mutschler E., Dinamika obat, Buku ajar Farmakologi dan Toksikologi, ITB : Bandung
2. Katzung.G.Bertram, Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta. 2002
3. Siregar. Tahoma, Penuntun Praktikum Farmakologi, ISTN, Jakarta