Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG

Setiap organisasi publik pasti menghadapi berbagai isu dan permasalahan baik yang
berasal dari luar (lingkungan) maupun dalam organisasi. Karena itu, setiap organisasi
publik pasti mempunyai regulasi publik sebagai wujud kebijakan organisasi dalam
menghadapi isu dan permasalahan yang dihadapinya.
Semua proses yang terangkai mulai dari perencanaan, penganggaran, realisasi
anggaran, pengadaan barang dan jasa, pelaporan keuangan dan audit perlu adanya
regulasi. Sehingga organisasi publik pun menggunakan regulasi publik sebagai alat
untuk memperlancar jalannya siklus akuntansi sektor publik agar tujuan organisasi
dapat tercapai.
B.

RUMUSAN MASALAH

Beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Apa saja undang-undang yang mengatur regulasi keuangan sektor publik di
indonesia dan isi-isi dari undang-undang yang mengatur regulasi keuangan
sektor publik ?
2. Apa yang menyebabkan negara mengalami kerugian akibat fraud yang
dilakukan oleh BNI Cabang Kebayoran Baru dan solusinya?
C. TUJUAN PENULISAN
Dalam penulisan makalah ini, penulis membuatnya yaitu bertujuan untuk
memenuhi Tugas kuliah Akuntansi Sektor Publik. Dan juga penulis membuat
makalah ini agar pembaca dapat mengetahui apa saja undang-undang yang mengatur
regulasi keuangan sektor publik di indonesia dan isi-isi dari undang-undang tersebut
dan penyebab negara mengalami kerugian akibat fraud yang dilakukan oleh BNI
Cabang Kebayoran Baru dan solusinya.

BAB II

PEMBAHASAN

REGULASI KEUANGAN SEKTOR PUBLIK DI INDONESIA


Keberadaan sektor publik tidak bisa lepas dari regulasi. Dengan demikian,
keberadaan sektor publik sudah dapat dipastikan selalu dipengaruhi oleh aspek
politik dan hukum.
A. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 Tentang
Keuangan Negara
Undang-undang ini terdiri dari 11 bab dan 39 pasal. Dasar pemikiran
ditetapkannya undang-undang ini adalah untuk mengakomodasi berbagai
perkembangan yang terjadi dalam sistem kelembagaan negara dan pengelolaan
keuangan pemerintah negara Republik Indonesia, meskipun sebagian masih
menggunakan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lama. Kelemahan
perundang-undangan dalam bidang keuangan negara menjadi salah satu
penyebab terjadinya berbagai bentuk penyimpangan dalam pengelolaan keuangan
negara.
Dalam upaya menghilangkan penyimpangan tersebut dan mewujudkan sistem
pengelolaan fiskal yang berkesinambungan sesuai aturan pokok yang telah
ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar dan asas-asas umum yang berlaku
secara universal, maka dalma penyelenggaraan pemerintahan negara diperlukan
suatu undang-undang yang mengatur pengelolaan keuangan negara, oleh karena
itu ditetapkanlah undang-undang ini.
Undang-undang ikni mengatur tentang seluk beluk keuangan negara, yang
meliputi:
1. Pengertian dan ruang lingkup keuangan negara
2. Asas-asas umum pengelolaan keuangan negara
3. Kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara
4. Penyusunan dan penetapan APBN dan APBD
5. Hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan bank sentral, pemerintah
daerah, pemerintah/lembaga asing, perusahaan negara, perusahaan daerah,
perusahaan swasta, serta badan pengelolaan dana masyarakat
6. Pelaksanaan APBN dan APBD

7. Pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara

1. Pengertian dan Ruang Lingkup Keuangan Negara


Keuangan negara dapat dirumuskan dari sisi objek, subjek, proses, dan tujuan.
Dari sisi objek, keuangan negara meliputi semua hak dan kewajiban negara yang
dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal,
moneter, dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan serta segala sesuatu,
baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara atas
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dari sisi subjek, yang dimaksud dengan
keuangan negara meliputi seluruh objek, sebagaimana yang telah tersebut diatas
yang dimiliki negara, dan/atau badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan
negara. Dari sisi proses, keuangan negara mencakup seluruh kegiatan yang
berkaitan dengan mengelolaan objek sebagaimana yang disebutkan diatas mulai
dari perumusahan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan
pertanggungjawaban. Sedangkan dari sisi tujuan, keuangan negara meliputi
seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum yang berkaitan dengan
pemilikan dan/atau penguasaan objek sebagaimana tersebut di atas dalam rangka
penyelanggaraan pemerintahan negara.
2. Asas-Asas Umum Pengelolaan Keuangan Negara
Pengelolaan keuangan negara perlu memenuhi asas-asas umum seperti asas
tahunan, asas universal, asas kesatuan, asas spesialitas, maupun asas-asas baru
sebagai pencerminan penerapan kaidah-kaidah yang baik dalam pengelolaan
keuangan negara, yang antara lain meliputi: akuntabilitas berorientasi pada hasil,
profesionalitas, proporsionalitas, keterbukaan dalam pengelolaan keuangan
negara, dan pemeriksaan keuangan oleh badan yang bebas dan mandiri. Dengan
dianutunya asas-asas tersebut, undang-undang ini dimaksud untuk menjadi acuan
dalam reformasi manajemen keuangan negara.

3. Kekuasaan atas Pengelolaan Keuangan negara


Persiden sebagai kepala pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan
keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Presiden dibantu
oleh Menteri Keuangan, selaku pengelola fiskal dan wakil pemerintah dalam
kepemilikan kekayaan negara yang dipisahkan atau sebagai Chief Financial
Officer (CFO) pemerintah RI dan Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna
Anggaran/Penggunan Barang kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya

atau sebagai Chief Operational Officer (COO) untuk suatu bidang tertentu
pemerintahaan.
Sesuai dengan asas desentralisasi dalam penyelengaraan pemerintahan negara,
sebagian
kekuasaan
Presiden
tersebut
diserahkan
kepada
Gubernur/Bupati/Walikota selaku pengelola keuangan daerah. Demikian juga
untuk mencapai kestabilan nilai rupiah, tugas menetapkan dan melaksanakan
kebijakan moneter serta mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
dilakukan oleh Bank Sentral.

4. Penyusutan dan Penetapan APBN dan APBD


Ketentuan mengenai penyusutan dan penetapan APBN/APBD dalam undangundang ini meliputi:
a. Penegasan tujuan dan fungsi penganggaran pemerintahan
b. Penegasan peran DPR/DPRD dan pemerintah dalam proses penyusunan dan
penetapan anggaran
c. Pengintegrasian sistem akuntabilitas kinerja dalam sistem penganggaran
d. Penyempurnaan klasifikasi anggaran
e. Penyatuan anggaran
f. Pengunaan kerangka pengeluaran jangka menengah dalam penyusunan
anggaran
Dalam undang-undang ini diatur secara jelas mekanisme pembahasan anggaran
tersebut di DPR/DPRD, termasuk pembagian tugas antara panitia/komisi
anggaran
dan
komisi-komisi
pasangan
kerja
kementerian
negara/lembaga/perangkat daerah di DPR/DPRD.

5. Hubungan Keuangan antara Pmerintah Pusat dan Bank Sentral,


Pemerintah Daerah, Pemerintah /Lembaga Asing, Perusahaan Negara,

Perusahaan Daerah, Perusahaan Swasta, serta Badan Pengelolaan Dana


Masyarakat
Dalam hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan bank sentral, ditegaskan
bahwa pemerintah pusat dan bank sentral berkoordinasi dalam penetapan dan
pelaksanaan kebijakan fiskal dan moneter. Dalam hubungan dengan pemerintah
daerah, undang-undang ini menegaskan adanya kewajiban pemerintah pusat
mengalokasikan dana perimbangan kepada pemerintah daerah. Selain itu,
undang-undang ini juga mengatur tentang penerimaan pinjaman luar negeri
pemerintah.
Dalam hubungan antara pemerintah dengan perusahaan negara, perusahaan
daerah, perusahaan swasta, dan badan pengelolaan dana masyarakat, ditetapkan
bahwa oemrintah dapat memeberikan pinjaman/hibah dari perusahaan
negara/daerah setelah mendapat persetujuan DPR/DPRD.

6. Pelaksaaan APBN dan APBD


Setelah APDN ditetapkan secara rinci dengan undang-undang, pelaksanaannya
dituangkan lebih lanjut dengan keputusan presiden sebagai pedoman bagi
kementrian negara/lembaga dalam pelaksanaan anggaran. Penuangan dalam
keputusan presiden tersebut terutama menyangkut hal-hal yang belum dirinci
dalam undang-undang APBN, dan juga meliputi alokasi dana perimbangan untuk
provinsi/kabupaten/kota serta alokasi subsidi sesuai dengan keperluan
perusahaan/badan yang menerima.
Dalam rangka memberkan informasi mengenai perkembangan pelaksanaan
APBN/APBD, pemerintah pusat/daerah perlu menyampaikan laporan realisasi
semester pertama kepada DPR/DPRD pada akhir juli tahun anggaran yang
bersangkutan. Informasi yang disampaikan dalam laporan tersebut menjadi bahan
evaluasi
pelaksanaan
APBN/APBD
semester
pertama
dan
penyesuaian/perubahan APBN/APBD pada semester berikutnya.

7. Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Negara


Dalam undang-undang ini ditetapkan bahwa laporan pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN/APBD disampaikan berupa laporan keuangan yang paling
tidak terdiri dari laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas, dan catatan
atas laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. Laporan
keuangan pemerintah pusat/daerah yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa

Keuangan harus disampaikan kepada DPR/DPRD selambat-lambatnya 6 (enam)


bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan.
Dalam rangka akuntabilitas pengelolaan negara, menteri/pimpinan
lembaga/gubernur/bupaiti/ walikota selaku pengguna anggaran/pengguna barang
bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan yang ditetapkan dalam undangundang tentang APBN atau peraturan daerah tentang APBD dari segi
manfaat/hasil (outcome). Sedangkan pimpinan unit organisasi kementrian
negara/lembaga bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang ditetapkan
dalam undang-undang tentang APBN, demikian juga Kepala Satuan Kerja
Perangkat Daerah bertanggung jawab atas pelaksaan kegiatan yang ditetapkan
dalam Peraturan Daerah tentang APBD dari segi barang dan/atau jasa yang
disediakan (output).
B. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
Perbendaharaan Negara

1 Tahun 2004 Tentang

Undang-undang ini terdiri dari 15 bab dan 74 pasal. dasar pemikiran


diteapkannya undang-undang ini karena Undang-Undang Perbendaharaan
Indonesia yang terakhir, yaitu Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1968 yang
merupakan pembaharuan dari Undang-Undang Perbendaharaan Indonesia Tahun
1925 Nomor 448 sudah tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan pengelolaan
keuangan negara yang sesuai dengan tuntunan perkembangan demokrasi,
ekonomi dan teknologi. Oleh karena itu, undang-undang tersebut perlu diganti
dengan undang-undang baru yang mengatur kembali ketentuan di bidang
perbendaharaan negara, yang sesuai dengan tuntutan perkembangan demokrasi,
ekonomi dan teknologi modern.
Beberapa hal yang akan diatur dalam undang-undang ini adalah:
a. Pengertian, ruang lingkup, dan asas umum perbendaharaan negara
b. Pejabat perbendaharaan negara
c. Penerapan kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan
pemerintah
d. Penatausaahan dan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran
e. Penyelesaian kerugian negara
f. Pengelolaan keuangan Badan Layana Umum

a. Pengertian, Ruang Lingkup, dan Asas Umum Perbendaharaan Negara


Perbendaharaan negara adalah pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan
negara, termasuk investasi dan kekayaan yang dipisahkan, yang ditetapkan dalam
APBN dan APBD.
Undang-undanga perbendaharaan negara ini menganut beberapa asas umum,
yaitu:
1. Asas kesatuan yaitu asas yang menghendaki agar semua pendapatan dan
belanja negara/daerah disajikan dalam satu dokumen anggaran.
2. Asas universal yaitu asas yang mengharuskan agar setiap transaksi keuangan
ditampilkan secara utuh dalam dokumen anggaran.
3. Asas tahunan yaitu asas yang membatasi masa berlakunya anggaran untuk
suatu tahun tertentu.
4. Asas spesialitas yaitu asas yang mewajibkan agar kredit anggaran yang
disediakan terinci secara jelas peruntukannya.

b. Pejabat Perbendaharaan Negara


Sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 tahun
2003, Kementerian Keuangan berwewenang dan bertanggung jawab atas
pengelolaan aset dan kewajiban negara secara nasional sementara kementerian
negara/lembaga berwenang bertanggungjawab atas penyelengaraan pemerintahan
sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.
Menteri Keuangan sebagai Bendahara Umum Negara dan pejabat lainnya yang
ditunjuk sebagai Kuasa Bendahara Umum Negara bukanlah hanya sekedar kasir
yang berwenang melaksanakan penerimaan dan pengeluaran negara tanpa berhak
menilai kebenaran penerimaan dan pengeluaran tersebut. Menteri Keuangan
selaku Bendahara Umum Negara adalah pengelolaan keuangan dalam arti
seutuhnya, yaitu berfungsi sekaligus sebagai kasir, pengawas keuangan dan
manajer keuangan.

c. Penerapan Kaidah Pengelolaan Keuangan yang Sehat di Lingkungan


Pemerintahan

Dalam rangka pengelolaan uang negara/daerah, dalam undang-undang ini


ditegaskan kewenangan Menteri Keuangan untuk mengatur dan
menyelenggarakna rekening pemerintahan, menyimpan uang negara dalam
rekening kas umu negara pada bank sentral, serta ketentuan untuk mengharuskan
dilakukannya optimalisasi pemanfaatan dana peemerintah. Untuk meningkatkan
transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara/daerah, diatur
kewenangan penyelesaian piutang negara/daerah. Dalam melaksanakan
pelaksanaan pembiayaan ditetapkan pejabat yang diberi
kuasa untung
mengadakan utang negara/daerah. Dan untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah, diatur tentang
pelaksanaan investasi serta kewenangan mengelola dan menggunakan barang
milik negara/daerah.

d. Penatausahaan dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran


Untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan
negara, laporan pertanggung jawaban keuangan pemerintah perlu disampaikan
secara tepat waktu dan disusun berdasarkan standar akuntasi pemerintah.
Sehubungan dengan itu, perlu ditetapkan ketentuan yang mengatur mengenai halhal tersebut agar:
1. Laporan keuangan pemerintah diperoleh melalui proses akuntansi
2. Laporan keuangan pemerintah disajikan sesuai standar akuntasi keuangan
pemerintah, yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus
Kas disertasi Catatan atas Laporan Keuangan
3. Laporan keuangan disajikan sebagai wujud pertanggungjawaban setiap
entitas pelaporan yang meliputi laporan keuangan pemerintah pusat, laporan
keuangan kementrian negara/lembaga, dan laporan keuangan pemerintah daerah
4. Laporan keuangan pemerintah pusat/daerah disampaikan kepada DPR/DPRD
selambat-lambatnya 6 (enam ) bulan setelah tahun anggaran yang bersangkutan
berakhir
5. Laporan keuangan pemerintah diaudit oleh lembaga pemerinta ekstern yang
independen dan profesional sebelum disampaikan kepada DPR
6. Laporan keuangan pemerintah dapat mengahasilkan statistik keuangan dapat
memngacu pada manual statistik keuangan pemerintah, sehingga dapat
memenuhi kebuuhan analisis perbandingan antarnegara, kegiatan pemerintahan,
dan penyajian statistik keuangan pemerintah.

e. Penyelesaian Kerugian Negara


Pengenaan ganti rugi negara/daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh BPK,
sedangkan pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri
bukan
bendahara
ditetapkan
menteri/pimpinan
lembaga/gubernur/bupati/walikota. Mereka yang telah ditetapkan mengganti
kerugian tersebut dapat dikenakan sanksi administrasi dan/atau sanksi pidana jika
tersebut melakukan pelanggaran administratif dan/atau pidana.

f. Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum


Dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat dapat dibentuk Badan
Layanan Umum (BLU) yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat
berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang diperlukan dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdasan kehidupan bangsa.
Pembinaan keuangan BLU dilakukan Menteri Keuangan, sedangkan pembinaan
teknis dilakukan oleh menteri yang bertanggungjawab atas bidang pemerintahan
yang bersangkutan.

C. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2004 Tentang


Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara

Undang-undang ini terdiri dari 8 bab dan 29 pasal. Dasar pemikiran


ditetapkannya undang-undang ini adalah untuk mewujudkan pengelolaan
keuangan negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tantang Keuangan Negara dan Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara, perlu dilakukan
pemerikasaan oleh satu badan pemeriksaan keuangan yang bebas dan mandiri,
sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Pasal 23E Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam pelaksanaan tugas pemeriksaan
pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara, sampai saat ini, BPK masih
berpedoman pada Intructie en Verdere Bepalngen voor de Algemene Rekenkamer
atau IAR.

Agar BPK dapat mewujudkan fungsinya secara efektif, dalam undang-undang ini
diatur hal-hal pokok yang berkaitan dengan pemeriksaan pengelolaan dan
tanggungjawab keuangan negara sebagai berikut:
a. Pengertiaan pemeriksaan dan pemeriksaan
b. Lingkup pemeriksaan
c. Standar pemeriksaan
d. Kebebasan dan kemandirian dalam pelaksanaan pemerikasaan
e. Akses pemeriksa terhadap informasi
f. Kewenangan untuk mengevaluasi pengendalian intern
g. Hasil pemeriksaan dan tindak lanjut
h. Pengenaan ganti kerugian negara
i. Sanksi pidana

a. Pengertian Pemeriksaan dan Pemeriksa


Dalam undang-undang ini yamg dimaksud dengan pemeriksaan adalah proses
identifikasi masalaha, analisis, dan evaluasi yang dilakukan secara independen,
objektif, dan profesional berdasarkan standar pemeriksaan, untuk menilai
kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan informasi mengenai
pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara. Pemeriksa adalah orang yang
melaksakan tugas pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara
untuk dan atas nama BPK.

b. Lingkup Pemeriksaan
Sebagaimana telah ditetapkan dalam UUD RI Tahun 1945, pemeriksaan yang
menjadi tugas BPK meliputi pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggungjawab
mengenai keuangan negara sebagaimana yang tertuang dalam pasal 2 UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Sehubungan dengan itu, kepada BPK diberi kewenangan untuk melakukan tiga
jenis pemeriksaan, yaitu:

1. Pemeriksaan keuangan, adalah pemeriksaan atas laporan keuangan


pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemeriksaan keuangan ini dilakukan
oleh BPK dalam rangka memberikan pernyataan opini tentang tingkat kewajaran
informasi yang disajikan dalam laporan keuangan peerintah.
2. Pemeriksaan kinerja, adalah pemeriksaan atas aspek ekonomi dan efisiensi,
serta pemeriksaan atas aspek efektivitas yang lazim dilakukan bagi kepentingan
manajemen oleh aparat pengawasaan intern pemerintah.
3. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu, adalah pemeriksaan yang dilakukan
dengan tujuan khusus, diluar pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja,
termasuk dalam bagian ini adalah pemeriksaan atas hal-hal lain yang berkaitan
dengan keuangan dan pemeriksaan investigatif.

c. Pelaksanaan Pemeriksaan
BPK memiliki kebebasan dan kemandirian dalam ketiga tahap pemeriksaan,
yakni perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan. Untuk
mewujudkan perencanaan yang komprehensif, BPK dapat memanfaatkan hasil
pemeriksaan aparat pengawasan intern pemerintah, memperhatikan masukan dari
pihak lembaga perwakilan, serta informasi dari berbagi pihak. Sementara itu,
kebebasan dalam penyelenggaraan pemeriksaan, antara lain meliputi kebebasan
dalam penentuan waktu pelaksanaan metode pemeriksaan, termasuk metode
pemeriksaan yang bersifat investigatif. Selain itu, kemandirian BPK dalam
pelaksanaan keuangan negara termasuk ketersediaan sumber daya manusia,
anggaran, dan sarana pendukung lainnya yang memadai.

d. Hasil Pemeriksaan dan Tindak Lanjut


Hasil setiap pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK disusun dan disajikam dalam
laporan hasil pemeriksaan (LHP) segera setelah kegiatan pemeriksaan selesai.
Pemeriksaan keuangan akan menghasilkan opini. Pemeriksaan keuangan akan
menghasilkan temuan, kesimpulan, dan rekomedasi. Sedangkan pemeriksaan
dengan tujuan tertentu akan menghasilkan kesimpulan. Setiap laporan hasil
pemeriksaan BPK disampaikan kepada DPR/DPRD untuk ditindaklanjutkan
sesuai kewenangannya, antara lain dengan membahasnya bersama pihak terkait.

e. Pengenaan Ganti Kerugian Negara


Sebagaimana yang terdapat dalam pasal 62 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1
tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, undang-undang ini mengatur lebih
lanjut tentang pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap bendahara. BPK
menerbitkan surat petetapan batas waktu pertanggungjawaban bendahara atas
kerugian kas/barang dalam persediaan yang merugikan keuangan negara/daerah.
Bendahara tersebut dapat mengajukan keberatan terhadap pemutusan BPK.

D. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 Tentang


Dana Desa
Dalam rangka pelaksanaan kebijakan Dana Desa yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 72
ayat (1) huruf b dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa,
Pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014
tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang
Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dalam
perkembangannya perlu menyesuaikan dengan perkembangan hukum dan tata
pemerintahan sehingga perlu dilakukan perubahan terhadap beberapa ketentuan
pasal yang ada dalam Peraturan Pemerintah tersebut. Perubahan terhadap
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara antara lain dimaksudkan untuk
meningkatkan anggaran Dana Desa mengingat anggaran Dana Desa yang
dialokasikan dalam APBN Tahun Anggaran 2015 masih belum mencapai 10%
(sepuluh per seratus) dari Dana Transfer ke Daerah sebagaimana diamanatkan
dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Selain itu, perubahan
formula pengalokasian Dana Desa juga dimaksudkan untuk menjaga agar tidak
terdapat kesenjangan yang tinggi antardesa atas besaran Dana Desa yang akan
diterima oleh setiap Desa sehingga menjadi lebih merata dan berkeadilan.
Materi muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini antara lain meliputi:
1. Penentuan prioritas penggunaan Dana Desa beserta pedoman umum
penggunaannya oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal
dan Transmigrasi setelah berkoordinasi dengan menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perencanaan
pembangunan nasional, Menteri, Menteri Dalam Negeri, dan menteri
teknis/pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian.

2. Pengalokasian Dana Desa secara berkeadilan berdasarkan alokasi dasar


dan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat
kesulitan geografis desa setiap kabupaten/kota yang bersumber dari
kementerian yang berwenang dan/atau lembaga yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang statistik. Hal ini untuk mewujudkan
pembangunan Desa yang lebih merata dan berkeadilan.
3. Perhitungan formula pengalokasian Dana Desa.
4. Tahapan pemenuhan Dana Desa sampai dengan 10% dari Dana Transfer
ke Daerah.
5. Peta jalan kebijakan Pemerintah dalam pemenuhan anggaran Dana Desa.
Perubahan terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang
Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara mengedepankan aspek pembangunan Desa yang lebih merata dan
berkeadilan serta merupakan tekad kuat Pemerintah dalam rangka
memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
Contoh Kasus Underlying L/C di BNI
Kasus fraud di BNI yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp. 1,7
trilyun, menarik untuk dikaji. Kasus ini justru terkuak oleh kecurigaan Kepala
Divisi Internasional terhadap kejanggalan prosedur L/C BNI Cabang Kebayoran
Baru.
Berdasarkan Laporan dari Divisi Internasional yang direlease pada tanggal 7
Agustus 2003, kemudian Direktur Utama BNI menurunkan tim audit khusus
untuk mendalami kasus ini. Hasilnya, Laporan tim audit khusus yang direlease
pada awal September 2003 membuktikan kebenaran pembobolan uang negara
sebesar Rp. 1,7 trilyun.
Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah :
1. Mengapa tim internal audit tidak dapat menangkap fraud ini ? Sehingga
laporan adanya fraud justru di-release oleh Pimpinan Divisi Internasional
yang curiga atas penyimpangan prosedur L/C di BNI Cabang Kebayoran
Baru ?.
2. Apakah pada saat itu aktivitas internal audit memang dilumpuhkan oleh
oknum manajemen BNI Cabang Kebayoran Baru ? Atau oknum
manajemen BNI Cabang Kebayoran Baru sudah mendesain laporan dan
aktivitas sehingga tidak tersentuh oleh aktivitas internal audit .

Solusi :
Tugas top manajemen BNI adalah menciptakan control environment sehingga
aktivitas internal audit bisa berjalan sesuai fungsinya sebagai internal control.
Top manajemen harus mendeklarasikan dukungan penuh terhadap aktivitas
internal audit keseluruh jajaran departemen di lingkungan BNI. Setelah itu baru
menata kembali integritas dan moral petugas auditor, sehingga fungsi internal
audit bisa berjalan sebagaimana mestinya.

BAB III
PENUTUP

A.

KESIMPULAN

Regulasi publik adalah ketentuan yang harus dijalankan dan dipatuhi


dalam proses pengelolaan organisasi publik, baik pada organisasi pemerintah
pusat, pemerintah daerah, partai politik, yayasan, LSM, organisasi keagamaan
tempat peribadatan, maupun organisasi sosial masyarakat lainnya.
Peraturan publik disusun dan ditetapkan terkait beberapa hal, yaitu yang
pertama, regulasi publik yang dimulai dengan adanya berbagai isu yang terkait.
Kedua, tindakan yang diambil terkait dengan isu yang ada adalah berbentuk
regulasi atau aturan yang dapat diinterprestasikan sebagai wujud dukungan penuh
organisasi publik. Ketiga, peraturan adalah hasil dari berbagai aspek dan kejadian

B.

SARAN

Sebaiknya permasalahan regulasi keuangan publik di Indonesia dapat diatasi


dengan memberikan sanksi yang sesuai dengan penyebabnya. Sehingga Regulasi
publik yang ada di Indonesia dapat dipatuhi dalam proses pengelolaan organisasi
publik, baik itu pada organisasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, partai
politik, yayasan, LSM dan organisasi lainnya yang telah di atur sesuai dengan
UU yang mengaturnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.kemenkopmk.go.id/content/pp-nomor-22-tahun-2015
kemenag.go.id/file/dokumen/UU172003.pdf
kemenag.go.id/file/dokumen/UU12004.pdf
www.cifor.org/ilea/.../UU-no-15-thn-2004_pemeriksaan-keuangan.pdf
http://www.slideshare.net/nastalisti/regulasi-keuangan-sektor-publik-di-indonesia