Anda di halaman 1dari 15

Emile Durkheim

Donny Prastya, M.Si

Biografi
Lahir di Epinal propinsi Lorraine, Perancis Timur
pada tanggal 15 April 1858. Dia termasuk dalam
tokoh Sosiologi yang memperbaiki metode berpikir
Sosiologis yang tidak hanya berdasarkan
pemikiran-pemikiran logika filosofis tetapi
Sosiologi akan menjadi suatu ilmu pengetahuan
yang benar apabila mengangkat gejala sosial
sebagai fakta-fakta yang dapat diobservasi.
Pada usia 21 tahun Durkheim diterima di Ecole
Normale Superieure setelah sebelumnya gagal
dalam ujian masuk. Di Universitas tersebut dia
merupakan mahasiswa yang serius dan kritis

Kemudian masih pada tahun 1887 (29 tahun) disamping


prestasinya sebagai pengajar dan pembuat artikel dia juga
berhasil mencetuskan sosiologi sebagai disiplin ilmu yang sah
di bidang akademik karena prestasinya itu dia dirgai dan
diangkat sebagai ahli ilmu sosial di fakultas pendidikan dan
fakultas ilmu sosial di universitas Bourdeaux.
Tahun 1893 Durkheim menerbitkan tesis doktoralnya dalam
bahasa perancis yaitu The Division of Labour in Society dan
tesisnya dalam bahasa Latin tentang Montesqouieu.
Kemudian tahun 1895 menerbitkan buku keduanya yaitu The
Rules of Sociological Method. Tahun 1896 diangkat menjadi
professor penuh untuk pertama kalinya di Prancis dalam
bidang ilmu sosial.

Tahun 1897 menerbitkan buku ketiganya yang berjudul Suicide (LeSuicide) dan mendirikan LAne Sociologique (jurnal ilmiah pertama
tentang Sosiologi).
Tahun 1899 Durkheim ditarik ke Sorbonne dan tahun 1906
dipromosikan sebagai profesor penuh dalam ilmu pendidikan.
Enam tahun keudian (1912) menerbitkan karya keempatnya yaitu
The Elementary Forms of Religious Life.
Satu tahun setelahnya (1913) kedudukannya diubah menjadi
professor ilmu Pendidikan dan Sosiologi.
Tahun 1915 Durkheim mendapat musibah, putranya (Andre) cedera
parah dan meninggal.
Pada 15 November 1917 (pada usia 59 tahun) Durkheim meninggal
sesudah menerima penghormatan dari orang-orang semasanya
untuk karirnya yang produktif dan bermakna, serta setelah dia
mendirikan dasar Sosiologi ilmiah.

Teori Solidaritas
(The Division of Labour in Society)
Masyarakat modern tidak diikat oleh kesamaan antara orang-orang
yang melakukan pekerjaaan yang sama, akan tetapi pembagian kerjalah
yang mengikat masyarakat dengan memaksa mereka agar tergantung
satu sama lain. solidaritas menunjuk pada suatu keadaan hubungan
antara individu dan / atau kelompok yang didasarkan pada perasaan
moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh
pengalaman emosional bersama.
a. solidaritas mekanis
solidaritas mekanis dibentuk oleh hokum represif karena anggota
masyarakat jenis ini memiliki kesamaan satu sama lain, dan karena
mereka cenderung sangat percaya pada moralitas bersama, apapun
pelanggaran terhadap system nilai bersama tidak akan dinilai main-main
oleh setiap individu. Pelanggar akan dihukum atas pelanggaranya
terhadap system moral kolektif. Meskipun pelanggaran terhadap system
moral hanya pelanggaran kecil namun mungkin saja akan dihukum
dengan hukuman yang berat.

a)
b)
c)
d)
e)
f)

sifat kelompok social atau masyarakat yang di


dasarkan pada solidaritas mekanis, yakni :

Pembagian kerja rendah


Kesadaran kolektif kuat
Hukum represif dominan
Individualitas rendah
Konsensus terhadap pola normatif penting
Adanya keterlibatan komunitas dalam
menghukum orang yang menyimpang
g)
Secara relatif sifat ketergantungan rendah
h)
Bersifat primitif atau pedesaan.

b. solidaritas organic
masyarakat solidaritas organic dibentuk oleh hukum
restitutif. Dimana seseorang yang melanggar harus
melakukan restitusi untuk kejahatan mereka, pelanggaran
dilihat sebagai serangan terhadap individu tertentu atau
sekmen tertentu dari masyarakat bukannya terhadap
sistem moral itu sendiri. Dalam hal ini, kurangnya moral
kebanyakan orang tidak melakukan reaksi xecara
emosional terhadap pelanggaran hukum. Durkheim
berpendapat masyarakat modern bentuk solidaritas
moralnya mengalami perubahan bukannya hilang.
Dalam masyarakat ini, perkembangan kemandirian yang
diakibatkan oleh perkembangan pembagian kerja
menimbulkan kesadaran-kesadaran individual yang lebih
mandiri, akan tetapi sekaligus menjadi semakin
tergantung satu sama lain, karena masing-masing
individu hanya merupakan satu bagian saja dari suatu
pembagian pekerjaan sosial.

sifat

kelompok sosial atau masyarakat pada


solidaritas organis, yakni;
a) Pembagian kerja tinggi;
b) Kesadaran kolektif lemah;
c) Hukum restitutif/memulihkan dominan;
d) Individualitas tinggi;
e) Konsensus pada nilai abstrak dan
umum penting;
f)
Badan-badan kontrol sosial
menghukum orang
yang menyimpang;
g) Saling ketergantungan tinggi; dan
h) Bersifat industrial perkotaan.

Teori Fakta Sosial


Dalam

buku Rules of Sociological Method,


Durkheim menulis: "Fakta sosial adalah
setiap cara bertindak, baik tetap maupun
tidak, yang bisa menjadi pengaruh atau
hambatan eksternal bagi seorang individu."
Artinya, sejak manusia dilahirkan secara
tidak langsung ia diharuskan untuk bertindak
sesuai dengan lingkungan sosial dimana ia
dididik dan sangat sukar baginya untuk
melepaskan diri dari aturan tersebut

1.
2.

3.

Fakta sosial memiliki 3 sifat yaitu: eksternal, umum (general), dan memaksa
(coercion).
Eksternal
Eksternal artinya fakta tersebut berada diluar pertimbangan-pertimbangan
seseorang dan telah ada begitu saja jauh sebelum manusia ada didunia.
Koersif (Memaksa)
Fakta ini memeliki kekuatan untuk menekan dan memaksa individu
menerima dan melaksanakannya. Dalam fakta sosial sangat nyata sekali
bahwa individu itu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong dengan cara
tertentu yan dipengaruhi oleh berbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan
sosialnya. Artinya, fakta sosial mempunyai kekuatan untuk memaksa
individu untuk melepaskan kemauannya sendiri sehingga eksistensi
kemauannya terlingkupi oleh semua fakta social.
Menyebar/umum (General)
Fakta sosial itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu
masyarakat. Dengan kata lain, fakta sosial ini merupakan milik bersama,
bukan sifat individu perseorangan.

Fakta

sosial ini menurut Durkheim


terdiri atas dua macam :
1. Dalam bentuk material : Yaitu barang
sesuatu yang dapat disimak, ditangkap,
dan diobservasi. Fakta sosial inilah yang
merupakan bagian dari dunia nyata
contohnya arsitektur dan norma hukum.
2. Dalam bentuk non-material : Yaitu
sesuatu yang ditangkap nyata
( eksternal ). Fakta ini bersifat inter
subjective yang hanya muncul dari dalam
kesadaran manusia, sebagai contao
egoisme, altruisme, dan opini.

Teori Bunuh Diri


a. Bunuh Diri Egoistis
Tingginya angka bunuh diri egoistis dapat ditemukan dalam masyarakat atau kelompok di
mana individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Lemahnya
integrasi ini melahirkan perasaan bahwa individu bukan bagian dari masyarakat, dan
masyarakat bukan pula bagian dari individu. Lemahnya integrasi sosial melahirkan arus
sosial yang khas, dan arus tersebut melahirkan perbedaan angka bunuh diri. Misalnya
pada masyarakat yang disintegrasi akan melahirkan arus depresi dan kekecewaan.
Kekecewaan yang melahirkan situasi politik didominasi oleh perasaan kesia-siaan,
moralitas dilihat sebagai pilihan individu, dan pandangan hidup masyarakat luas menekan
ketidakbermaknaan hidup, begitu sebaliknya.
Durkheim menyatakan bahwa ada faktor paksaan sosial dalam diri individu untuk
melakukan bunuh diri, di mana individu menganggap bunuh diri adalah jalan lepas dari
paksaan sosial.
b. Bunuh Diri Altruistis
Terjadi ketika integrasi sosial yang sangat kuat, secara harfiah dapat dikatakan individu
terpaksa melakukan bunuh diri. Salah satu contohnya adalah bunuh diri massal dari
pengikut pendeta Jim Jones di Jonestown, Guyana pada tahun 1978. contoh lain bunuh
diri di Jepang (Harakiri).
Bunuh diri ini makin banyak terjadi jika makin banyak harapan yang tersedia, karena dia
bergantung pada keyakinan akan adanya sesuatu yang indah setelah hidup di dunia.
Ketika integrasi mengendur seorang akan melakukan bunuh diri karena tidak ada lagi
kebaikan yang dapat dipakai untuk meneruskan kehidupannya, begitu sebaliknya.

c. Bunuh Diri Anomic


Bunuh diri ini terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu. Gangguan tersebut
mungkin akan membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya kontrol terhadap
nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak pernah puas terhadap
kesenangan.
Bunuh diri ini terjadi ketika menempatkan orang dalam situasi norma lama tidak berlaku
lagi sementara norma baru belum dikembangkan (tidak ada pegangan hidup). Contoh:
bunuh diri dalam situasi depresi ekonomi seperti pabrik yang tutup sehingga para
tenaga kerjanya kehilangan pekerjangan, dan mereka lepas dari pengaruh regulatif
yang selama ini mereka rasakan.

d. Bunuh Diri Fatalistis


Bunuh diri ini terjadi ketika regulasi meningkat. Durkheim menggambarkan seseorang
yang mau melakukan bunuh diri ini seperti seseorang yang masa depannya telah
tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menindas. Contoh: perbudakan.

Hubungan Empat Jenis Bunuh Diri menurut Durkheim


Integrasi Rendah Bunuh diri egoistis
Tinggi Bunuh diri Altruistis
Regulasi Rendah Bunuh diri anomic
Tinggi Bunuh diri fatalistis

Teori tentang Agama


(The Elemtary Forms of Religious Life)
Dalam teori ini Durkheim mengulas sifat-sifat, sumber
bentuk-bentuk, akibat, dan variasi agama dari sudut
pandang sosiologistis. Agama menurut Durkheim
merupakan a unified system of belief and practices
relative to sacret things, dan selanjutnya that is to say,
things set apart and forbidden belief and practices which
unite into one single moral community called church all
those who adhere to them. Agama menurut Durkheim
berasal dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat selalu
membedakan mengenai hal-hal yang dianggap sacral dan
hal-hal
yang
dianggap
profane
atau
duniawi.
Dasar dari pendapat Durkheim adalah agama merupakan
perwujudan dari collective consciouness sekalipun selalu
ada perwujudaan-perwujudan lainnya. Tuhan dianggap
sebagai simbol dari masyarakat itu sendiri yang sebagai
collective consciouness kemudian menjelma ke dalam
collective representation.

Tuhan itu hanya lah idealisme dari masyarakat itu


sendiri yang menganggapnya sebagai makhluk yang
paling sempurna (Tuhan adalah personifikasi
masyarakat). Kesimpulannya, agama merupakan
lambang collective representation dalam bentuknya
yang ideal, agama adalah sarana untuk memperkuat
kesadaran kolektif seperti ritus-ritus agama. Orang
yang terlibat dalam upacara keagamaan maka
kesadaran mereka tentang collective consciouness
semakin bertambah kuat.
Sesudah upacara keagamaan suasana keagamaaan
dibawa dalam kehidupan sehari-hari, kemudian lambat
laun collective consciouness tersebut semakin lemah
kembali.