Anda di halaman 1dari 24

I.

INFORMASI KASUS
Data Pribadi Pasien
Nama Pasien

: Vina Asari

Tempat Tanggal Lahir

: Indralaya, 16 Agustus 2001

Umur

: 13 tahun

Suku

: Melayu

Jenis Kelamin

: Perempuan

Status Perkawinan

: Belum kawin

Agama

: Islam

Alamat Tetap

: Timbangan No.19 Indralaya km.32

Telepon

: 085928105845

Pendidikan Terakhir

: SD

Pekerjaan

: Pelajar

Peserta Asuransi

: -

Dokter Keluarga

: -

Diagnosa

: Hiperpigmentasi gingiva pada kuadran 1 dan 2

Etiologi

: Physiological Hyperpigmentation Gingival Generalized

Tindakan

: Depigmentasi

Prognosis

: Baik

Anamnesa
Seorang pasien datang dengan keluhan warna gusi kehitaman pada gusi rahang atas
dan bawah sejak kecil. Pasien tidak merasakan sakit, tetapi mengganggu penampilan ketika
tersenyum, sehingga pasien menginginkan gusinya untuk dirawat.
Riwayat Kesehatan Umum
Kesehatan pasien secara umum baik dan mempunyai riwayat kelainan pencernaan
yaitu maag.

Riwayat Kesehatan Gigi


Pasien belum pernah dirawat oleh dokter gigi.
Pemeriksaan Gigi
Papila Bleeding Index (PBI ) pasien sedang yaitu 0,78. Interdental Hygiene Index
(HYG) pasien sebelum menyikat gigi 46,42% (buruk) dan setelah menyikat gigi 67,85%
(sedang). Oral Hygiene Indeks-Simply (OHI-S) sebesar 2,6 (kategori sedang). Data ini
menunjukkan bahwa kebersihan mulut pasien sedang.
Pemeriksaan Poket
Hasil pemeriksaan kedalaman poket dengan menggunakan probe WHO pada saat
pasien datang dijelaskan pada tabel di bawah ini:
Elemen gigi
17
16
15
14
13
12
11
21
22
23
24
25
26
27
37
36
35
34
33
32
31
41
42
43
44
45
46
47

Bukal/Labial
2
1
2
2
2
1
1
2
1
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
1

Lingual/Palatal
2
3
2
2
1
1
1
2
2
1
2
2
3
3
1
3
2
2
2
1
2
2
1
2
2
1
2
2

Mesial
2
2
1
1
2
2
2
1
2
2
1
1
2
1
1
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
2
2
2

Distal
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
1
2
2
1
2
2
2
1
2
1
1
1
1
1
2
2
2

Penilaian pigmentasi gingiva (DOPI assessment) untuk rahang atas memiliki skor 2,28
sedangkan rahang bawah memiliki skor 1,1,5 jadi total skor 3,78 (hiperpigmentasi skala
berat).
Pemeriksaan Vital sign:
Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 70 kali/menit

Pernafasan

: 20 kali/menit

Pupil mata

: Normal

Pemeriksaan Radiografik
Pemeriksaan radiografik dengan foto panoramik pada tanggal 16 November 2013.
Gigi 18,28,38 dan 48 belum erupsi.

Gambar 1. Gambaran Radiografis


Pemeriksaan Klinis
1

Pemeriksaan ekstra oral

Pemeriksaan intra oral

: Tidak ada kelainan

Bau Mulut

: Tidak Ada

Bibir

: Normal

Lidah

: Normal

Gingiva

: Inflamasi, Hiperpigmentasi

Mukosa

: Normal

Dasar Mulut

: Normal

Palatum

: Normal

Oropharyngeal

Saliva

: Normal

Kel.Limfe

: Normal

Frenulum

: Normal

Habit, parafungsi

: Tidak ada

Kontak prematur

: Tidak ada

: Normal

Gambar 2. Foto klinis anterior rahang atas


Pemeriksaan Hiperpigmentasi Gingiva
Terdapat hiperpigmentasi gingiva pada regio a, b dan c di permukaan labial dan bukal.
Gambaran hiperpigmentasi diffuse tersebar merata di selurus permukaan gingiva dengan
batas yang kurang jelas, simetris, dan membentuk gambaran seperti pita di sepanjang
attachment gingiva. Batas hiperpigmentasi meluas di daerah margin gingiva.

Etiologi
Deposisi melanin yang berlebihan pada stratum basalis dan suprabasal epithelium akibat
aktifitas melanosit yang berlebihan. Pada kasus ini merupakan keturunan atau genetik.
Diagnosis
4

Physiological Hyperpigmentation Gingival Generalized


Prognosis
1. Overall prognosis
a. Umur pasien
Pasien berumur 13 tahun mempunyai prognosis yang baik karena pada usia
tersebut diperkirakan proses penyembuhan dan reepitelisasi pasca
perawatan akan berlangsung lebih cepat.
b. Kondisi Sistemik
Secara keseluruhan baik dan mempunyai riwayat kelainan pencernaan.
c. Kooperatif Pasien
Pasien sangat kooperatif dalam mengikuti perawatan.
d. Lokasi Penyakit
Pada semua regio a, b dan c.
e. Kerusakan Tulang
Tidak terdapat gambaran bone loss.
f. Kondisi Peradangan
Tidak terlihat adanya peradangan.
g. Maloklusi
Terdapat maloklusi.
2. Prognosis individu
a. Mobilitas Gigi
Tidak ada gigi yang mobile.
b. Malposisi
Terdapat malposisi pada gigi 25 dan 45.
c. Poket
Tidak terdapat poket yang dalam pada gigi-gigi.
d. Resesi, abrasif, atrisi, dan erosi
Tidak terdapat atrisi.
e. Morfologi gigi
Tidak terdapat kelainan morfologi pada gigi.
f. Kondisi Mukogingiva
Terdapat hiperpigmentasi gingiva pada regio a, b, c, d, e dan f.
5

g. Keterlibatan furkasi
Tidak terdapat kerusakan tulang.
Kesimpulan yang didapat dari overall prognosis dan prognosis individu adalah baik.

RENCANA PERAWATAN
FASE I

Kontrol Plak (edukasi, motivasi, instruksi)

Scalling dan Root Planning

Tidak berhasil:
Retreatment Fase I

EVALUASI (Kontrol Plak)

Berhasil:
Fase II (Bedah)
Ekstraksi sisa akar gigi
85,55,64,65

Fase II (bedah)
Depigmentasi gingiva dengan teknik abrasi
menggunakan diamond bur pada kuadran 1
dan 2

Retreatment Fase I

- Re. Evaluasi I ( 1 minggu post bedah)


- Pelepasan periodontal pack
- Pemeriksaan subjektif
- Pemeriksaan objektif

- Re. Evaluasi II (3 minggu post bedah)


- Pemeriksaan subjektif
- Pemeriksaan objektif

- Re. Evaluasi III (1 bulan post bedah)


- Pemeriksaan subjektif
- Pemeriksaan objektif

FASE III (Restorasi)


Perawatan Endodontik gigi 26,36 dan 46
Tumpatan RK pada gigi 12,11 dan 21

FASE IV (Maintenance)
Kontrol Plak
Maintenance
Scalling

II PENATALAKSANAAN DEPIGMENTASI GINGIVA DENGAN TEKNIK


ABRASIF
1. Persiapan alat dan bahan
7

a. Alat
- Alat diagnostik ( sonde, kaca mulut, pinset dan ekskavator)
- Bengkok (Nierbeken)
- Spuit injeksi 3 cc
- Poket marker
- Periodontal probe
- Round bur diamond no. 8 highspeed dengan diameter 2-2,5 mm
- Handpiece highspeed
- Mouth retractor
- Kain steril
- Spatula semen
- Glass plate
- Saliva ejector
- Sphygmomanometer
- Stetoskop

Gambar 3. Alat dan Bahan Depigmentasi Teknik Abrasif


b. Bahan
- Lidocain+Adrenalin (PehacaineTM)
- Periodontal pack (Coe-PakTM)
- Klorheksidin gargle 0,12% (GarglinTM)
- Povidone Iodine 10% (BetadineTM)
- Alkohol 70%
- NaCl 0,9%
- Adrenalin

- Disclosing solution
- Kasa steril
- Tampon steril
- Catton pellet steril
2. Persiapan Pasien, Operator, dan Asisten
a. Pasien
- Instruksi kepada pasien untuk menjaga kondisi tubuh, mengatur diet yang
seimbang, dan istirahat yang cukup menjelang hari operasi.
- Mengatur jadwal operasi agar tidak bertepatan dengan waktu pasien
menstruasi.
- Penjelasan prosedur bedah kepada pasien.
- Pasien mengisi Inform Concern sebagai persetujuan dilakukannya
tindakan bedah.
- Pengukuran vital sign pasien (tekanan darah, nadi dan respirasi).

Gambar 4. Pengukuran tekanan darah pasien


- Pengukuran PBI dan HYG sebagai persiapan operasi.
- Pasien berkumur dengan klorheksidin gargle 0,12% (Garglin TM) sebagai
antiseptik mulut preoperasi.
- Mengisolasi daerah kerja dengan kain steril.
b. Operator
- Menguasai teori dan tata laksana depigmentasi gingiva dengan metode
abrasif.
9

- Mengukur vital sign pasien (tekanan darah, nadi dan respirasi).


- Mengukur PBI dan HYG sebagai persiapan operasi.
- Memakai penutup kepala, kaca mata kerja, dan masker sebagai sterilisasi
operator.
- Cuci tangan dengan menggosok seluruh permukaan tangan hingga siku
dengan sabun.
- Memakai sarung tangan.
c. Asisten I bertanggung jawab pada penyiapan alat, pendistribusian alat, dan
pengadukan periodontal pack
- Mengetahui teori dan tata laksana dari tugas.
- Memakai penutup kepala dan masker
- Cuci tangan dengan menggosok seluruh permukaan tangan hingga siku
dengan sabun.
- Memakai sarung tangan.
- Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam tindakan
depigmentasi gingiva.
d. Asisten II bertanggung jawab pada

pengoperasian saliva ejector,

pengirigasian larutan NaCl 0,9% dan mengontrol perdarahan


- Mengetahui teori dan tata laksana dari tugas.
- Memakai penutup kepala dan masker
- Cuci tangan dengan menggosok seluruh permukaan tangan hingga siku
dengan sabun.
- Memakai sarung tangan.
e. Asisten III bertanggung jawab pada pendokumentasian setiap langkah
kerja.
- Mengetahui teori dan tata laksana dari tugas.
- Mempersiapkan alat dokumentasi.

3. Penatalaksanaan
a. Mengoleskan Povidone Iodine 10% pada lipatan mukogingiva bagian labial
kuadran I dan II.

10

b. Menginfiltrasikan

PehacaineTM pada lipatan mukogingiva bagian labial

diantara gigi 11 dan 12, dan di apeks gigi 14 masing-masing 1cc untuk
menganestesi mukosa gingiva bagian labial dari midline hingga gigi 14
untuk kuadran I.
Menginfiltrasikan

PehacaineTM pada lipatan mukogingiva bagian labial

diantara gigi 21 dan 22, dan di apeks gigi 24 masing-masing 1cc untuk
menganestesi mukosa gingiva bagian labial dari midline hingga gigi 24
untuk kuadran II.

Gambar 5. Anestesi infiltrasi pada lipatan mukogingiva

c. Memeriksa jalannya anestesi dengan menggunakan sonde.

11

Gambar 6. Memeriksa jalannya anestesi


d. Memasang mouth retractor untuk membantu dalam membuka daerah kerja.
e. Menentukan proyesi kerja dari tindakan depigmentasi gingiva dengan
menggunakan pocket marker atau sonde.
f. Mengabrasif permukaan mukosa yang mengalami hiperpigmentasi dengan
gerakan menyapu hingga permukaan yang mengalami hiperpigmentasi
hilang dan tampak permukaan mukosa yang berwarna kemerahan. Apabila
terjadi perdarahan dihentikan dengan menggunakan adrenalin. Menghindari
permukaan yang terlalu dekat dengan periosteum untuk menghindari
perforasi epitel yang akan mengakibatkan kerusakan tulang alveolar dan
perlambatan penyembuhan luka pascaoperasi. Menghindari depigmentasi
pada free gingiva dan interdental untuk menghindari kehilangan perlekatan
antara gingiva dengan gigi.

Gambar 7. Tindakan depigmentasi dengan teknik abrasif


g. Melanjutkan depigmentasi hingga seluruh mukosa yang mengalami
hiperpigmentasi dari midline hingga gigi 24.
h. Membesihkan daerah kerja dari saliva, darah, dan sisa-sisa epitel dengan
Povidone Iodine encer.
i. Menekan daerah luka dengan kasa steril yang dibasahi larutan Adrenaline
selama 2-3 menit untuk menghentikan perdarahan.
12

Gambar 8. Mengontrol perdarahan sebelum pemasangan pack


j. Memasang pack periodontal dengan membasahi terlebih dahulu tangan
dengan alkohol untuk mencegah pack melekat di tangan. Pack kemudian
dibentuk membentuk silinder sepanjang dari daerah operasi yang akan
ditutup.

Gambar 9. Pemasangan pack periodontal


k. Menempatkan pack di daerah operasi kemudian dengan bantuan dari bibir
pasien memijat bibir untuk membentuk permukaan pack yang sesuai dengan
kontur gigi.
l. Menempatkan pack di daerah operasi kemudian dengan bantuan dari bibir
pasien memijat bibir untuk membentuk permukaan pack yang sesuai dengan
kontur gigi.
m. Memasukkan ujung dari pack ke dalam interdental untuk menstabilkan pack
periodontal.
n. Memotong kelebihan dari pack periodontal
o. Membentuk ujung-ujung pack periodontal.
p. Memeriksa kembali peletakan dan perlekatan pack periodontal.
13

Gambar 10. Pemeriksaan kembali

III MEDIKAMEN PASCA BEDAH


1. Amoxicillin 500mg 3x1 selama 4 hari
Merupakan antibiotik spektrum luas untuk membunuh bakteri dan pasien tidak
memiliki riwayat alergi terhadap antibiotik ini.
14

2. Asam Mefenamat 500mg 3x1 selama 4 hari bila sakit


Diberikan sebagai analgesik. Pasien tidak memiliki riwayat kelainan pencernaan.
3. Kalium diklofenak 25mg (CataflamTM)
Diberikan sebagai antiinflamasi non steroid untuk mencegah peradangan yang
mungkin terjadi pasca bedah.
4. Klorheksidin gargle (GarglinTM)
mencegah penimbunan debris dan plak di sekitar daerah operasi
5. Instruksi
a. Jangan menggangu pack atau membuka pack.
b. Jangan berkumur terlalu keras.
c. Menghindari makanan yang merangsang seperti makanan yang asam, pedas,
dan keras.
d. Menghindari makanan atau minuman panas untuk mencegah perdarahan
lanjut 2x24 jam pasca operasi.
e. Pasien tetap menggosok gigi kecuali daerah yang ditutup pack periodontal.
f. Gunakan larutan kumur klorheksidin gargle di pagi dan malam hari sebelum
tidur untuk mencegah penimbunan debris dan plak di sekitar daerah operasi.
g. Pasien kontrol 1 minggu kemudian.

IV KONTROL
1. Kontrol 1 minggu setelah penatalaksanaan
a. Pembukaan pack periodontal
b. Meminta pasien untuk berkumur dengan Povidone Iodine encer
15

c. Membersihkan daerah operasi dengan menggunakan cotton pellet yang


dibasahi Povidone Iodine 10% dengan gerakan yang halus dan tanpa
tekanan.
d. Pemeriksaan Subjektif : tidak ada keluhan,tidak ada rasa sakit.
e. Pemeriksaan Objektif :
- Ektra Oral

: tidak ada pembengkakan

- Intra Oral

: tidak terdapat perdarahan, warna gingiva menjadi

merah muda, tidak ada pembengkakan, proses reepitelisasi telah


terjadi, kontur gingiva baik, konsistensi gingiva kenyal, belum
terbentuk stipling.
f. Intruksi pasien untuk tetap menjada kebersihan mulut dan tidak terlalu keras
menggosok daerah operasi yang baru dibuka.
2. Kontrol 3 minggu setelah penatalaksanaan
a. Pemeriksaan Subjektif: tidak ada keluhan, tidak ada rasa sakit
b. Pemeriksaan Objektif :
- Ektra Oral

: tidak ada pembengkakan

- Intra Oral

: tidak terdapat perdarahan, warna gingiva telah

menjadi merah, ada sedikit inflamasi pada attached gingiva di


sekitar gigi 24 , proses reepitelisasi telah terjadi, kontur gingiva
baik, konsistensi gingiva kenyal dan belum terbentuk stipling.
c. Intruksi pasien untuk tetap menjaga kebersihan mulut.
3. Kontrol 1 bulan setelah penatalaksanaan
a. Pemeriksaan Subjektif: tidak ada keluhan, tidak ada rasa sakit
b. Pemeriksaan Objektif :
- Ektra Oral

: tidak ada pembengkakan

- Intra Oral

: tidak terdapat perdarahan, warna gingiva merah,

tidak ada pembengkakan, proses reepitelisasi telah terjadi, kontur


gingiva baik, konsistensi gingiva kenyal dan belum terbentuk
stipling.
c. Intruksi pasien untuk tetap menjaga kebersihan mulut.

16

V PROGRESS KEBERHASILAN TINDAKAN DEPIGMENTASI

17

Gambar 11. Gingiva sebelum tindakan depigmentasi

Gambar 12. Gingiva setelah tindakan depigmentasi

Gambar 13. Kontrol 7 hari setelah penatalaksanaan

18

Gambar 14. Kontrol 3 minggu setelah penatalaksanaan

Gambar 15. Kontrol 1 bulan setelah penatalaksanaan

VI PEMBAHASAN
Hiperpigmentasi dapat terjadi pada setiap orang. Hiperpigmentasi gingiva
disebabkan oleh deposit melanin dari sekresi melanosit yang berlebihan dan terletak di
lapisan basal dan suprabasal dari epithelium. Hiperpigmentasi gingiva terjadi karena faktor
genetik dibeberapa populasi terlepas dari usia dan jenis kelamin. Oleh karena itu disebut

19

hiperpigmentasi gingiva atau rasial pigmentasi gingiva. Tingkat pigmentasi bervariasi dari
satu individu ke individu lain. Hal ini terutama ditentukan oleh aktivitas melanoblastik.
Pigmentasi melanin pada gingiva lebih banyak pada individu yang berkulit hitam.
Pada individu atau seseorang keturunan Afrika, Asia Timur atau etnis Hispanik ditemukan
jumlah melanin yang lebih banyak dan prevalensi terjadinya pigmentasi gingiva lebih
tinggi. Secara umum pada individu dengan kulit coklat tidak memperlihatkan pigmentasi
jaringan yang jelas meskipun ditemukan sejumlah melanosit pada epithelium gingiva.
Secara klinis, hiperpigmentasi gingiva memiliki warna coklat tua atau kadangkadang biru kehitaman pada daerah attached gingiva. Warnanya sering difus, simetris,
seperti pita hitam atau tidak beraturan dengan batas yang cukup jelas. Kondisi fisiologis
harus dapat dibedakan dari kondisi yang patologis.
Pigmentasi gingiva berhubungan dengan berbagai faktor etiologi endogenous dan
exogenous. Pigmentasi umumnya disebabkan oleh 5 pigmen utama yaitu: melanin,
melanoid, oxyhemoglobin, hemoglobin dan karoten, selain itu pigmen lainnya bilirubin
dan besi. Melanin adalah pigmen warna coklat pada kulit, gingiva dan membran mukosa
mulut.
Klasifikasi dan diagnosis banding
Oral pigmentasi sudah dihubungkan dalam beberapa lesi dan kondisi. Diagnosis banding
dibuat berdasarkan situasi berikut:
A. Localized Pigmentations: Amalgam tatoo, graphite or other tattoos, nevus, melanotic,
macules, melanoacanthoma, malignant melanoma, Kaposis sarcoma, epithelioid
oligomatosis, verruciform xanthoma.
B. Multiple or Generalized Pigmentations
1. Genetik: Idiopathic melanin pigmentation (racial atau physiologic pigmentation),
Peutz-Jeghers syndrome,

Laugier-Hunziker

syndrome,

complex

of

myxozomas, spotty pigmentation, endocrine overactivity, Carney syndrome,


Leopard syndrome, dan lentiginosis profuse
2.

Obat-obatan:

Merokok,

betel,

anti-malarials,

antimicrobials,

minocycline,

amiodarone, clorpromazine, ACTH, zidovudine, ketoconazole, methyldopa,


busulphan, menthol, pil kontrasepsi, dan heavy metals exposure (emas,
bismuth, merkuri, perak, tembaga)

20

3. Endokrin: Addisons disease, Albrights syndrome, Acanthosis nigricans, kehamilan,


hyperthyroidism
4. Post Inflamatori: Penyakit periodontal, postsurgical gingiva repigmentation
5. Lain-lain: Haemochromatosis, generalized neurofibromatosis, incontinenti pigmenti,
Whipples disease, Wilsons disease, Gauchers disease, HIV disease,
thalassemia, pigmented gingival cyst, dan defisiensi nutrisi.
Menurut Prasad dkk (2010) Lesi pigmentasi dibagi menjadi sebagai berikut:

Gambar 18. Lesi pigmentasi menurut Prased dkk (2010)


Fisiologik pigmentasi merupakan akibat dari aktivitas berlebih dari melanosit yang
menghasilkan pigmen warna pada kulit, mukosa dan gingiva. Secara klinis ini dapat
mengenai semua umur, dengan pendistribusian ke semua bagian dan gingiva merupakan
bagian terbanyak. Fisiologik pigmentasi ini tidak mengubah bentuk permukaan dan tekstur
gingiva. Hal ini harus dibedakan dengan mucosal melanotic macule, smoking associated
melanosis, dan superficial malignant melanoma.
Pigmentasi melanin secara klinis pada gingiva tidak menimbulkan problema medis,
tetapi keluhan gingiva berwarna hitam (black gums) dapat menimbulkan problema estetika
terutama jika pigmentasi tersebut terlihat ketika berbicara atau tersenyum. Terapi kosmetik
pada hiperpigmentasi gingiva terdiri dari berbagai macam cara dan metode, antara lain
gingivektomi, gingivektomi dengan free gingival autografting, electrosurgery, cryosurgery,
bahan kimia seperti fenol 90%, bur abrasion, scraping, partial thickness flap, Nd: Yag
Laser dan CO2 laser.
21

Abrasi pigmentasi melanin pada gingiva harus dilakukan dengan hati-hati dan
jangan sampai merusak gigi geligi. Apabila pengerjaannya tidak tepat dapat menyebabkan
resesi gingiva, kerusakan periosteum dan tulang alveolar, penyembuhan luka lambat.
Prosedur teknik abrasif dengan menggunakan bur diamond adalah teknik yang paling
sering karena prosedur ini mudah, aman dan peralatan yang diperlukan sederhana. Selain
itu apabila diperlukan prosedur perawatan yang berulang dapat dilakukan dengan mudah
dan aman.
Meskipun tidak banyak informasi literatur tentang depigmentasi gingiva, perawatan
umumnya dilakukan karena alasan estetik dan untuk memperbaiki penampilan.
Menghilangkan pewarnaan melanin dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan
prosedur bedah dan non bedah. Beberapa prosedur menghilangkan pigmentasi memerlukan
peralatan yang rumit dan tidak umum tersedia di tempat praktek. Pada laporan kasus ini,
metode depigmentasi simpel dan efektif dengan menggunakan alat-alat yang sederhana.
Bur diamond yang digunakan berdiameter 2 mm atau 2,5 mm. Bur diamond berdiameter
besar lebih baik digunakan daripada bur diamond yang kecil, karena bur diamond dengan
diameter kecil menghasilkan permukaan yang tidak rata. Prosedur depigmentasi sebaiknya
dilakukan setelah memperbaiki kesehatan jaringan periodontal.
Hasil perawatan memuaskan dan pada 3 minggu setelah perawatan tidak terlihat
adanya pewarnaan kembali atau repigmentasi gingiva. Repigmentasi gingiva setelah
prosedur bedah telah dilaporkan oleh beberapa penulis, diantaranya yang dilaporkan oleh
Perlmutter dan Tal yang melaporkan repigmentasi gingiva terjadi 7 tahun setelah dilakukan
depigmentasi. Timbulnya pewarnaan kembali setelah perawatan mungkin saja terjadi. Hal
ini dipengaruhi oleh aktifitas melanosit yang memproduksi melanin, selain itu faktor-faktor
dari luar seperti jenis makanan, minuman dan kebiasaan merokok dapat menyebabkan
terjadinya kelainan pigmentasi gingiva.
VII KESIMPULAN
Walaupun hiperpigmentasi fisiologis bukanlah suatu keadaan yang patologis.
Namun perawatan pada kasus ini haruslah diperhatikan karena dengan semakin
berkembangnya zaman, pasien akan semakin peduli dengan keadaan rongga mulutnya
terutama karena pertimbangan estetika. Depigmentasi dengan teknik abrasif dapat menjadi
salah satu pilihan perawatan pada kasus hiperpigmentasi fisiologis karena pertimbangan
22

mudah, aman dan peralatan yang diperlukan sederhana. Selain itu apabila diperlukan
prosedur perawatan yang berulang dapat dilakukan dengan mudah dan aman.

Palembang, Juli 2014


Disetujui oleh
Dosen Pembimbing,

drg. Mellani Cindera Negara

DAFTAR PUSTAKA
1. Novaes AB, Pontes CC, Souza SLS, Grisi MFM, Taba M. The use of acellular
dermal matrix allograft for the elimination of gingival melanin pigmentation: case
presentation with 2 years of follow-up. Pract Proced Aesthet Dent 2002; 14(8):619623
2. Mokeem SA. Management of gingival hyperpigmentation by sugical abrasion
report of three cases. Saudi Dental Journal 2006; 18(3)

23

3. Susanto A. Tehnik gingivo abrasi pada penanganan pasien hiperpigmentasi gusi.


Universitas Padjajaran
4. Humagain M, Nayak DG, Uppoor AS. Gingival depigmentation: a case report with
review of literature. Kathmandu University Teaching Hospital
5. Suthprasertporn S. Treatment of gingival melanin hyperpigmentation by Er,
Cr:YSGG Laser: report of 2 cases. Thai J Periodont 2007; 1:46-55
6. Cicek Y, Ertas U. The normal and pathological pigmentation of oral mucous
membrane: a review. The Journal of Contemporary Dental Practice 2003; 4(3)
7. Kauzman A, Pavone M, Blanas N, Bradley G. Pigmented lesion of oral cavity:
Review, different diagnosis, and case presentation. J Can Dent Assoc 2004;
70(10):682-3
8. Prasad SSV, Agrawal N, Reddy NR. Gingival depigmentation: a case report.
Peoples Journal of Scientific research 2010; 3(1)

24