Anda di halaman 1dari 47

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT , Sang Pemilik dunia dan seisinya,
tiada Tuhan selain Allah dan hanya kepada-Nya lah kita patut memohon dan
berserah diri. Hanya karena nikmat kesehatan dan kesempatan dari Allah-lah
kami dapat menyelesaikan makalah Teknnologi Kapal perikanan 1 ini. Shalawat
selalu kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, dengan syafaat
dari beliaulah kita dapat terbebas dari zaman kejahiliyahan.
Tak lupa pada kesempatan kali ini mengucapkan terimakasih kepada
berbagai pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah Teknnologi Kapal
perikanan 1 ini. Kami mengucapakan terima kasih kepada :
1. Allah SWT yang telah memberikan kehidupan, keselamatan dan kesehatan
baik jasmani dan rohani.
2. Nabi Muhammad SAW yang senantiasa menjadi panutan kami.
3. Bapak Ari Wibawa B.S., S.T., M.Si. selaku pengampu mata kuliah Teknologi
Kapal Perikanan 1.
4. Teman-teman kelompok yang selalu bekerjasama dalam penyusunan
makalah ini

Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu segala kritik dan saran dari pembaca dan masyarakat yang sifatnya
membangun, diterima dengan senang hati, demi kesempurnaan dan kemajuan
bersama. Kami berharap semoga laporan ini berguna bagi pembaca pada
umumya dan masyarakat khususnya. Amin
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Semarang,

Desember 2015

Tim Penysusn
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................... 1
DAFTAR ISI.............................................................................................................. 2
PENDAHULUAN....................................................................................................... 3
A. KLASIFIKASI KAPAL PERIKANAN..........................................................................4
1.1. Klasifikasi berdasarkan Statistik Perikanan Indonesia..................................4
1.2. Klasifikasi Berdasarkan FAO (Food and Agriculture Organization)................4
B. ILLEGAL FISHING................................................................................................ 6
2.1. Illegal Fishing di Indonesia........................................................................... 7
2.2. Faktor -faktor yang menyebabkan terjadinya Illegal fishing.........................8
C. ALAT TANGKAP AKTIF........................................................................................ 10
3.1. Jarring Arad (beach seine).........................................................................10
3.2. Jarring Trawl............................................................................................... 10
3.3. Jarring Lingkar (payang)............................................................................. 11
D. ALAT TANGKAP PASIF........................................................................................ 13
4.1. Bubu........................................................................................................... 13
4.2. Bagan......................................................................................................... 15
4.3. Perawai Dan Tuna Longline.........................................................................17
4.4. Gill Net....................................................................................................... 19
E. ALAT BANTU PENANGKAPAN IKAN....................................................................20
5.1. Alat Bantu Pengumpul Ikan........................................................................20
5.2. Alat Bantu Pendeteksi Ikan.........................................................................26
5.3. Alat Bantu Navigasi.................................................................................... 27
5.4. Alat Bantu Perlengkapan Penangkapan Ikan..............................................29
F. SEA TRIAL DAN FISHING TRIAL..........................................................................38
6.1. Sea Trial...................................................................................................... 38
6.2. Fishing Trial................................................................................................ 40
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 44

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

PENDAHULUAN
Seperti yang telah kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya sumber
daya alamnya, terutama dalam sektor perikanan. Tetapi sektor perikanan masih memiliki
kontribusi yang kecil.
Melihat kondisi di Indonesia ini, perlu adanya pengembangan di sektor perikanan.
Sehingga sektor perikanan bisa memiliki kontribusi yang besar untuk perekonomian
Indonesia.
Untuk menumbuhkan sektor perikanan Indonesia, perlu adanya sarana dan prasarana yang
mendukung. Seperti kapal perikanan dan alat-alat yang digunakan untuk melakukan kegiatan
penangkapan ikan.
Kapal perikanan didefinisikan sebagai kapal atau perahu atau alat apung lainnya yang
digunakan untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan termasuk melakukan survei atau
eksplorasi perikanan. Kapal penangkap ikan adalah kapal yang secara khusus dipergunakan
untuk

menangkap

ikan

termasuk

menampung,

menyimpan,

mendinginkan

atau

mengawetkan. Kapal pengangkut ikan adalah kapal yang secara khusus dipergunakan untuk
mengangkut ikan termasuk memuat, menampung menyimpan, mendinginkan atau
mengawetkan. Berdasarkan defenisi-definisi tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa
kapal ikan sangat beragam dari kekhususan penggunaannya hingga ukurannya.
Untuk jenis alat tangkap ikan yang digunakan dalam mendukung operasi penangkapan
ikan ada banyak sekali. Selain dari bentuk dan karakteristik kapal yang telah ditentukan
berdasarkan acuan untuk pembuatan kapal ikan yang pada umumnya didasarkan pada jenis
ikan yang akan ditangkap.

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

A. KLASIFIKASI KAPAL PERIKANAN


1.1. Klasifikasi berdasarkan Statistik Perikanan Indonesia
Berdasarkan statistik perikanan tangkap Indonesia kategori dan ukuran perahu/kapal
perikanan untuk setiap jenis alat tangkap dibedakan berdasarkan 2 (dua) kategori, yaitu :
1. Perahu tanpa motor (non-powered boat) dan
2. Perahu/ kapal (powered boat), seperti terlihat pada tabel 1.1
No
1

Kapal Tanpa Motor

Perahu/Kapal

Kategori Perahu/Kapal
Jukung
Perahu Papan
Kecil, sedang, besar
Motor tempel
Kapal Motor
< 5 GT, 510 GT,
10-20 GT, 20-30 GT,
30-50 GT, 50-100 GT,
100-200 GT, 200-300 GT,
300-500 GT, 500-1000 GT,
>=1000 GT

Tabel 1.1 Kategori dan ukuran perahu/ kapal

1.2. Klasifikasi Berdasarkan FAO (Food and Agriculture Organization)


Sesuai

dengan

Standar

International

Klasifikasi

Statistik

Kapal

Perikanan

(International Standard Statistical Classification of Fishing Vessels, ISSCFV FAO 1985),


kapal perikanan terbagi atas 2 (dua) jenis kapal perikanan, yaitu :
1. Jenis kapal penangkap ikan, dan
2. Jenis kapal bukan penangkap ikan (kapal perikanan lainya)
Jenis kapal penangkap ikan terbagi atas 11 (sebelas) tipe kapal dan kapal perikanan
lainya terbagi atas 7 (tujuh) tipe kapal. Klasifikasi kapal dengan menggunakan singkatan
standar sesuai dengan Standar International Klasifikasi Statistik Kapal Perikanan, seperti
terlihat pada tabel 2.

No.
1.

Klasifikasi Kapal Perikanan


Kapal penangkap ikan

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

Singkatan
Standar

Kapal pukat tarik

TO

Kapal pukat

SO

Kapal penggaruk

DO

Kapal jaring angkat

NO

Kapal jaring insang

GO

Kapal pemasang perangkap

WO

Kapal tali pancing

LO

Kapal

menggunakan

pompa

untuk PO

penangkapan

2.

Kapal serba guna/aneka guna

MO

Kapal penangkapan untuk rekreasi

RO

Kapal penangkapan tidak ditetapkan


Kapal perikanan lainnya
Kapal induk

FX

Kapal pengangkut

FO

Kapal rumah sakit

KO

Kapal survei dan perbandingan

BO

Kapal riset perikanan

ZO

Kapal latih perikanan

CO

Kapal perikanan lainnya

VOY

Tabel 1.2 Klasifikasi kapal perikanan

B. ILLEGAL FISHING

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

HO

Pengertian Illegal Fishing merujuk kepada pengertian yang dikeluarkan oleh


International Plan of Action (IPOA) Illegal, Unreported, Unregulated (IUU) Fishing yang
diprakarsai oleh FAO dalam konteks implementasi Code of Conduct for Responsible Fisheries
(CCRF). Pengertian Illegal Fishing dijelaskan sebagai berikut.
Illegal Fishing, adalah :
1. Kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh suatu negara tertentu atau kapal asing di
perairan yang bukan merupakan yuridiksinya tanpa izin dari negara yang memiliki yuridiksi
atau kegiatan penangkapan ikan tersebut bertentangan dengan hukum dan peraturan negara itu
(Activities conducted by national or foreign vessels in waters under the jurisdiction of a state,
without permission of that state, or in contravention of its laws and regulation).
2. Kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh kapal perikanan berbendera salah satu
negara yang tergabung sebagai anggota organisasi pengelolaan perikanan regional, Regional
Fisheries

Management

Organization

(RFMO)

tetapi

pengoperasian

kapal-kapalnya

bertentangan dengan tindakan-tindakan konservasidan pengelolaan perikanan yang telah


diadopsi oleh RFMO. Negara RFMO wajib mengikuti aturan yang ditetapkan itu atau aturan
lain yang berkaitan dengan hukum internasional (Activities conducted by vessels flying the
flag of states that are parties to a relevant regional fisheries management organization
(RFMO) but operate in contravention of the conservation and management measures adopted
by the organization and by which states are bound, or relevant provisions of the applicable
international law).
3. Kegiatan penangkapan ikan yang bertentangan dengan perundang-undangan suatu negara
atau ketentuan internasional, termasuk aturan-aturan yang ditetapkan negara anggota RFMO
(Activities in violation of national laws or international obligations, including those
undertaken by cooperating stares to a relevant regioanl fisheries management organization
(RFMO).

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

Walaupun IPOA-IUU Fishing telah memberikan batasan terhadap pengertian IUU


fishing, dalam pengertian yang lebih sederhana dan bersifat operasional
Illegal fishing dapat diartikan sebagai kegiatan perikanan yang melanggar hukum.
2.1. Illegal Fishing di Indonesia
Kegiatan Illegal Fishing yang paling sering terjadi di wilayah pengelolaan perikanan
Indonesia adalah pencurian ikan oleh kapal-kapal ikan asing (KIA) yang berasal dari beberapa
negara tetangga (neighboring countries). Walaupun sulit untuk memetakan dan mengestimasi
tingkat illegal fishing yang terjadi di WPP-RI, namun dari hasil pengawasan yang dilakukan
selama ini, (2005-2010) dapat disimpulkan bahwa illegal fishing oleh KIA sebagian besar
terjadi di ZEE (Exlusive Economic Zone) dan juga cukup banyak terjadi di perairan
kepulauan (archipelagic state). Pada umumnya, Jenis alat tangkap yang digunakan oleh KIA
atau kapal eks Asing illegal di perairan Indonesia adalah alat-alat tangkap produktif seperti
purse seine dan trawl.Kegiatan illegal fishing juga dilakukan oleh kapal ikan Indonesia (KII).
Beberapa modus/jenis kegiatan illegal yang sering dilakukan KII, antara lain:
penangkapan ikan tanpa izin (Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan
Ikan (SIPI) maupun Surat Izin Kapal Pengangkutan Ikan (SIKPI)), memiliki izin tapi
melanggar ketentuan sebagaimana ditetapkan (pelanggaran daerah penangkapan ikan,
pelanggaran alat tangkap, pelanggaran ketaatan berpangkalan), pemalsuan/manipulasi
dokumen (dokumen pengadaan, registrasi, dan perizinan kapal), transshipment di laut, tidak
mengaktifkan transmitter (khusus bagi kapal-kapal yang diwajibkan memasang transmitter),
dan penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing) dengan menggunakan bahan kimia,
bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang membahayakan
melestarikan sumberdaya ikan.
Sampai dengan tahun 2008, kegiatan illegal fishing di perairan Indonesia, terbilang
cukup tinggi dan memprihatinkan, sebagaimana diilustrasikan pada Gambar 2.1

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

Gambar 2.1 Tingkat Pelanggaran Peraturan Perundang-undangan Perikanan di WPP-RI

2.2. Faktor -faktor yang menyebabkan terjadinya Illegal fishing


Faktor -faktor yang menyebabkan terjadinya Illegal fishing di perairan Indonesia tidak
terlepas dari lingkungan strategis global terutama kondisi perikanan di negara lain yang
memiliki perbatasan laut, dan sistem pengelolaan perikanan di Indonesia itu sendiri. Secara
garis besar faktor penyebab tersebut dapat dikategorikan menjadi 7 (tujuh) faktor,
sebagaimana diuraikan di bawah ini.
Pertama, Kebutuhan ikan dunia (demand) meningkat, disisi lain pasokan ikan dunia
menurun, terjadi overdemand terutama jenis ikan dari laut seperti Tuna. Hal ini mendorong
armada perikanan dunia berburu ikan di manapun dengan cara legal atau illegal.
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

Kedua, Disparitas (perbedaan) harga ikan segar utuh (whole fish) di negara lain
dibandingkan di Indonesia cukup tinggi sehingga membuat masih adanya surplus pendapatan.
Ketiga, Fishing ground di negara-negara lain sudah mulai habis, sementara di
Indonesia masih menjanjikan, padahal mereka harus mempertahankan pasokan ikan untuk
konsumsi mereka dan harus mempertahankan produksi pengolahan di negara tersebut tetap
bertahan.
Keempat, Laut Indonesia sangat luas dan terbuka, di sisi lain kemampuan
pengawasan khususnya armada pengawasan nasional (kapal pengawas) masih sangat terbatas
dibandingkan kebutuhan untuk mengawasai daerah rawan. Luasnya wilayah laut yang
menjadi yurisdiksi Indonesia dan kenyataan masih sangat terbukanya ZEE Indonesia yang
berbatasan dengan laut lepas (High Seas) telah menjadi magnet penarik masuknya kapal-kapal
ikan asing maupun lokal untuk melakukan illegal fishing.
Kelima, Sistem pengelolaan perikanan dalam bentuk sistem perizinan saat ini bersifat
terbuka (open acces), pembatasannya hanya terbatas pada alat tangkap (input restriction). Hal
ini kurang cocok jika dihadapkan pada kondisi faktual geografi Indonesia, khususnya ZEE
Indonesia yang berbatasan dengan laut lepas.
Keenam, Masih terbatasnya sarana dan prasarana pengawasan serta SDM pengawasan
khususnya dari sisi kuantitas. Sebagai gambaran, sampai dengan tahun 2008, baru terdapat
578 Penyidik Perikanan (PPNS Perikanan) dan 340 ABK (Anak Buah Kapal) Kapal
Pengawas Perikanan. Jumlah tersebut, tentunya sangat belum sebanding dengan cakupan luas
wilayah laut yang harus diawasi. Hal ini, lebih diperparah dengan keterbatasan sarana dan
prasarana pengawasan.
Ketujuh, Persepsi dan langkah kerjasama aparat penegak hukum masih dalam
penanganan perkara tindak pidana perikanan masih belum solid, terutama dalam hal
pemahaman tindakan hukum, dan komitmen operasi kapal pengawas di ZEE.
Kegiatan Illegal Fishing di WPP-RI telah mengakibatkan kerugian yang besar bagi
Indonesia. Overfishing, overcapacity, ancaman terhadap kelestarian sumberdaya ikan, iklim
usaha perikanan yang tidak kondusif, melemahnya daya saing perusahaan dan
termarjinalkannya nelayan merupakan dampak nyata dari kegiatan IUU fishing. Kerugian lain
yang tidak dapat di nilai secara materil namun sangat terkait dengan harga diri bangsa, adalah
rusaknya citra Indonesia pada kancah International karena dianggap tidak mampu untuk
mengelola perikanannya dengan baik.

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

C. ALAT TANGKAP AKTIF


Alat tangkap aktif adalah alat tangkap yang dalam penggunaannya digerakkan secara
aktif oleh penangkap.
Alat tangkap aktif terdiri dari 3 macam, yaitu :
3.1. Jarring Arad (beach seine)
Jaring arad merupakan salah satu alat tangkap yang termasuk di
dalam klasifikasi jaring trawl, karena ukurannya kecil mini trawl dan
bekerjanya di dasar perairan sama seperti trawl yang lain sehingga
disebut small bottom trawl. Pengoperasian jaring arad ini dikhususkan
untuk menangkap ikan demersal, karena adanya sistem membuka dan
menutupnya mulut jaring karena adanya papan otter (otter board) yang
dipasang pada bagian depan ujung sayap (wing), otter trawl ini
merupakan trawl dasar yang bagian mulutnya tidak kaku karena tidak di
pasang beam (Ayodhyoa, 1981).

Gambar 3.1 Jaring arad

3.2. Jarring Trawl


Arti kata trawl lahir kata trawling yang berarti kerja melakukan
operasi penangkapan ikan dengan trawl, dan kata trawler yang berarti
kapal yang melakukan trawling. Jadi yang dimaksud dengan jarring trawl
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

10

( trawl net ) disini adalah suatu jaring kantong yang ditarik di belakang
kapal ( baca : kapal dalam keadaan berjalan ) menelusuri permukaan
dasar perairan untuk menangkap ikan, udang dan jenis demersal lainnya.
Jarring ini juga ada yang menyangkut sebagai jaring tarik dasar. Stern
trawl adalah otter trawl yang cara operasionalnya ( penurunan dan
pengangkatan ) jaring dilakukan dari bagian belakang ( buritan ) kapal
atau kurang lebih demikian. Penangkapan dengan system stern trawl
dapat menggunakan baik satu jarring atau lebih.

Gambar 3.2 Jaring Trawl

3.3. Jarring Lingkar (payang)


Payang terbuat dari bahan jarring yang konstruksinya terdiri dari
kantong, badan dan sayap, serta dilengkapi dengan pelampung dan
pembertat serta tali penarik (selambar). Berdasarkan klasifikasi dari FAO,
alat tangkap ini digolongkan sebagai jarring lingkar. Struktur alat tangkap
ini adalah sebagai berikut:
a. Sayap : dua bagian sayap, yaitu sayap kiri dan kanan
b. Badan : terdiri atas 6 bagian
c. Kantong (cod end) adalah merupakan tempat berkumpulnya ikan yang
d.
e.
f.
g.
h.

terjaring
Tali ris atas
Tali ris bawah
Tali penarik (selambar)
Pelampung
Pemberat, terbuat dari bahan timah dan batu

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

11

Gambar 3.3 Jaring Lingkar

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

12

D. ALAT TANGKAP PASIF


Alat tangkap pasif adalah alat tangkap yang dalam penggunaannya dibiarkan pasif di
dalm air, hingga ikan terperangkap/terjebak pada alat tersebut.
Alat tangkap aktif terdiri dari 4 macam, yaitu :
4.1. Bubu
Bubu adalah perangkap yang mempunyai satu atau dua pintu masuk dan dapat
diangkat ke beberapa daerah penangkapan dengan mudah, dengan atau tanpa perahu
(Rumajar, 2002). Menurut Martasuganda, (2005). Teknologi penangkapan menggunakan bubu
banyak dilakukan di negaranegara yang menengah maupun maju. Untuk skala kecil dan
menengah banyak dilakukan di perairan pantai, hampir seluruh negara yang masih belum
maju perikanannya, sedangkan untuk negara dengan sistem perikanan yang maju
pengoperasiannya dilakukan dilepas pantai yang ditujukan untuk menangkap ikan-ikan dasar,
kepiting, udang yang kedalamannya 20 m sampai dengan 700 m. Bubu skala kecil ditujukan
untuk menagkap kepiting, udang, keong, dan ikan dasar di perairan yang tidak begitu dalam.
Subani dan Barus (1989), menyatakan bahwa Bentuk dari bubu bermacam-macam
yaitu bubu berbentuk lipat, sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga
memanjakan (kubus), atau segi banyak, bulat setengah lingkaran dan lain-lainnya. Secara
garis besar bubu terdiri dari badan (body), mulut (funnel) atau ijeb dan pintu. Badan bubu
berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung. Mulut bubu (funnel) berbentuk corong,
merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tapi tidak dapat keluar dan pintu bubu merupakan
bagaian temapat pengambilan hasil tangkapan.
Menurut Brandt (1984), mengklasifikasi bubu menjadi beberapa jenis, yaitu :
1. Berdasarkan sifatnya sebagai tempat bersembunyi / berlindung :
a. Perangkap menyerupai sisir (brush trap)
b. Perangkap bentuk pipa (eel tubes)
c. Perangkap cumi-cumi berbentuk pots (octoaupuspots)
2. Berdasarkan sifatnya sebagai penghalang
a. Perangkap yang terdapat dinding / bendungan
b. Perangkap dengan pagar-pagar (fences)
c. Perangkap dengan jeruji (grating)
d. Ruangan yang dapat terlihat ketika ikan masuk (watched chambers)
3. Berdasarkan sifatnya sebagai penutup mekanis bila tersentuh
a. Perangkap kotak (box trap)
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

13

b. Perangkap dengan lengkungan batang (bend rod trap)


c. Perangkap bertegangan (torsion trap)
4. Berdasarkan dari bahan pembuatnya
a. Perangkap dari bahan alam (genuine tubular traps)
b. Perangkap dari alam (smooth tubular)
c. Perangkap kerangka berduri (throrrea line trap)
5. Berdasarkan ukuran, tiga dimensi dan dilerfgkapi dengan penghalang
a. Perangkap bentuk jambangan bunga (pots)
b. Perangkap bentuk kerucut (conice)
c. Perangkap berangka besi
a. Klasifikasi Bubu menurut cara operasinya
Dalam operasionalnya, bubu terdiri dari tiga jenis, yaitu :
1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots) adalah Bubu yang daerah operasionalnya berada di
dasar perairan. Untuk bubu dasar, ukuran bubu dasar bervariasi, menurut besar
kecilnya yang dibuat menurut kebutuhan. Untuk bubu kecil, umumnya berukuran
panjang 1m, lebar 50-75 cm, tinggi 25-30 cm. untuk bubu besar dapat mencapai ukuran
panjang 3,5 m, lebar 2 m, tinggi 75-100 cm. Hasil tangkapan dengan bubu dasar
umumnya terdiri dari jenis-jenis ikan, udang kualitas baik, seperti Kwe (Caranx spp),
Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap ( Lutjanus spp), kakatua
(Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp), Lencam
(Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dll (Anonim. 2007).
2. Bubu Apung

(Floating

Fish

Pots)

adalah

Bubu

yang

dalam operasional

penangkapannya diapungkan. Tipe bubu apung berbeda dengan bubu dasar. Bentuk
bubu apung ini bisa silindris, bisa juga menyerupai kurung-kurung atau kantong yang
disebut sero gantung. Bubu apung dilengkapi dengan pelampung dari bambu atau rakit
bambu yang penggunaannya ada yang diletakkan tepat di bagian atasnya. Hasil
tangkapan bubu apung adalah jenis-jenis ikan pelagik, seperti tembang, japuh, julungjulung, torani, kembung, selar, dll. Pengoperasian Bubu apung dilengkapi pelampung
dari bambu atau rakit bambu, dilabuh melalui tali panjang dan dihubungkan dengan
jangkar. Panjang tali disesuaikan dengan kedalaman air, umumnya 1,5 kali dari
kedalaman air, (Anonim. 2007).
3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots) adalah Bubu yang dalam operasional
penangkapannya dihanyutkan. Bubu hanyut atau pakaja termasuk bubu ukuran
kecil, berbentuk silindris, panjang 0,75 m, diameter 0,4-0,5 m. Hasil tangkapan bubu
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

14

hanyut adalah ikan torani, ikan terbang (flying fish). Pada waktu penangkapan, bubu
hanyut diatur dalam kelompok-kelompok yang kemudian dirangkaikan dengan
kelompok-kelompok berikutnya sehingga jumlahnya banyak, antara 20-30 buah,
tergantung besar kecil perahu/kapal yang digunakan dalam penangkapan (Anonim.
2007).
Disamping ketiga bubu yang disebutkan di atas, terdapat beberapa jenis bubu yang
lain seperti :
1.

Bubu Jermal

: Termasuk jermal besar yang merupakan perangkap pasang

surut (tidal trap).


2.

Bubu Ambai

: Disebut juga ambai benar, bubu tiang, termasuk pasang surut

ukuran kecil.
3.

Bubu Apolo

: Hampir sama dengan bubu ambai, bedanya ia mempunyai 2

kantong, khusus menangkap udang rebon.

Gambar 4.1 Bubu

4.2. Bagan
Menurut Mulyono (1986), bagan merupakan salah satu jaring angkat yang
dioperasikan diperairan pantai pada malam hari dengan menggunakan cahaya lampu sebagai
faktor penarik ikan. Bagan atau ada juga yang menyebutnya dengan branjang, yaitu suatu alat
tangkap yang wujudnya seperti kerangka sebuah bangun piramida tanpa sudut puncak.
Diatas bangunan bagan ini pada bagian tengah terdapat bangunan rumah kecil yang
berfungsi sebagai tempat istirahat, pelindung lampu dari hujan, dan tempat untuk melihat dan
mengawasi ikan. Di atas bangunan ini terdapat roller yang terbuat dari bambu yang berfungsi
untuk menarik jaring.
Selama ini untuk membuat daya tarik ikan sehingga berkumpul di bawah bagan,
umumnya nelayan masih menggunakan lampu petromaks yang jumlahnya bervariasi 2-5
buah. Penangkapan dengan bagan hanya dilakukan pada malam hari (Light Fishing) terutama
pada hari gelap bulan dengan menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan (Sudirman
dan Achmar Mallawa, 2000).
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

15

a. Klasifikasi Bagan
Menurut Sudirman dan Achmar Mallawa (2000), klasifikasi bagan ada 3, yaitu :
1.

Bagan Tancap
Bagan tancap merupakan rangkaian atau susunan bambu berbentuk persegi empat

yang di tancapkan sehingga berdiri kokoh di atas perairan, dimana pada tengah bangunan
tersebut dipasang jaring. Dengan kata lain, alat tangkap ini bersifat inmobile. Hal ini karena
alat tangkap tersebut ditancapkan pada dasar perairan, yang berarti kedalaman laut tempat
beropesinya alat ini menjadi sangat terbatas yaitu pada perairan dangkal.
2.

Bagan Rakit
Jenis bagan lain yang sangat sederhana dan biasa digunakan oleh nelayan khususnya

di sungai atau muara-muara sungai yaitu sebagai rakit. Bagan ini terbuat dari bambu, dimana
operasinya berpindah-pindah. Proses operasi penangkapannya sama dengan bagan tancap.
3.

Bagan Perahu (Bagan Rambo)


Bagan ini disebut pula sebagai bagan perahu listrik. Ukurannya bervariasi tetapi di

Sulawesi Selatan umumnya menggunakan jaring dengan panjang total 45 m dan lebar 45 m,
berbentuk segi empat bujur sangkar dengan ukuran mata jaring 0,5 cm dan bahannya terbuat
dari waring. Dalam pengoperasiannya bagan ini dilengkapi dengan perahu motor yang
berfungsi untuk menggandeng bagan rambo menuju daerah penangkapan. Selain itu, bagan
tersebut berfungsi sebagai pengangkut hasil tangkapan dari fishing ground ke fishing base.

Gambar 4.2 Bagan Tancap

4.3. Perawai Dan Tuna Longline

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

16

Menurut Sadhori (1985), perawai merupakan salah satu alat penangkap ikan yang
terdiri dari rangkaian tali-temali yang bercabang-cabang dan pada tiap-tiap ujung cabangnya
dikaitkan sebuah pancing. Secara teknis operasional rawai termasuk dalam jenis perangkap,
karena dalam operasionalnya tiap-tiap pancing diberi umpan yang tujuanya untuk menarik
ikan sehingga ikan memakan umpan tersebut dan terkait oleh pancing. Secara material ada
yang mengklasifikasikan rawai termasuk dalam golongan penangkapan ikan dengan tali line
fishing karena bahan utama untuk rawai ini terdiri dari tali-temali.
Menurut Mulyono (1986), Perawai terdiri dari sejumlah mata kail yang di pasangkan
pada panjangnya tali yang mendatar. Tali yang mendatar ini merupakan tali pokok atau utama
(main line) dari suatu rangkaian pancing-pancing perawai. Pada tali utama terdapat tali-tali
pendek yang disebut tali cabang (branch line). Menurut bentuk, sasaran dan cara
penangkapannya perawai termasuk dalam jenis Bottom Set Longline. Cara penangkapannya
pancing ini dilepas atau dilabuhkan sampai posisinya dapat mendasar.
Ada beberapa jenis alat tangkap longline. Ada yang dipasang di dasar perairan secara
tetap dalam jangka waktu tertentu dikenal dengan nama rawai tetap atau bottom longline. atau
set longline yang biasanya digunakan untuk menangkap ikan-ikan demersal. Ada juga rawai
yang hanyut yang biasa disebut dengan drift longline, biasanya untuk menangkap ikan-ikan
pelagis. Paling terkenal adalah tuna

longline atau disebut dengan rawai tuna

(Ayodhyoa,1975).
Tuna longline merupakan bagian dari rawai yang didasarkan atas jenis ikan yang
ditangkap, yaitu ikan tuna. Tuna longline atau yang disebut dengan rawai tuna merupakan
jenis rawai yang paling terkenal. Kenyataanya bahwa hasil tangkapannya bukan hanya ikan
Tuna, tetapi juga berbagai jenis ikan lain seperti ikan Layaran, ikan Hiu dan lain-lain
(Sudirman, 2004).
Pada prinsipnya rawai tuna terdiri dari komponen-komponen utama yang biasanya terdiri
dari : tali utama (main line), tali cabang (tali pancing, branch line) berikut bagian-bagiannya,
yaitu : tali pelampung (float line) berikut pelampungnya, batu pemberat dan tali
penyambungnya (Subani, 1989).
a. Klasifikasi Perawai
Menurut Sadhori (1985), ada berbagai macam bentuk rawai yang secara keseluruhan
dapat dikelompokkan dalam berbagai kelompok antara lain :
1.

Berdasarkan letak pemasangannya di perairan rawai dapat dibagi menjadi :

a.

Rawai permukaan (Surface longline);

b.

Rawai pertengahan (Midwater longline);

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

17

c.

Rawai dasar (Bottom longline).

2.

Berdasarkan susunan mata pancing pada tali utama :

a.

Rawai tegak (Vertikal longline);

b.

Pancing ladung;

c.

Rawai mendatar (Horizontal longline).

3.

Berdasarkan jenis-jenis ikan yang banyak tertangkap :

a.

Rawai Tuna (Tuna longline);

b.

Rawai Albacore (Albacore longline);

c.

Rawai Cucut (Shark longline), dan sebagainya.


Menurut Sadhori (1985), persyaratan daerah operasi perawai yaitu :

1.

Pantai yang keadaannya landai;

2.

Kedalamanya merata;

3.

Bersih dari tonggak atau kerangka kapal yang rusak;

4.

Terhindar dari kesibukan lalu-lintas.

b. klasifikasi tuna longline


Dilihat dari segi kedalaman operasi (fishing depth) tuna longline dibagi dua yaitu :
1.

Tuna longline pada perairan yang bersifat dangkal (subsurface). Pada tuna longline

jenis ini dalam satu basket rawai diberi sekitar 5 pancing;


2.

Tuna longline pada perairan yang bersifat dalam (Deep). Pada tuna longline jenis ini

dalam satu basket rawai diberi sekitar 11 - 13 pancing sehingga lengkungan tali utama
menjadi lebih dalam.
Menurut Mulyono (1986), jenis ikan yang menjadi sasaran/tujuan penangkapan adalah
untuk penangkapan ikan tuna. Ikan tuna termasuk ikan pelagis-oceanis, artinya ikan pelagis
lepas pantai yang bila sudah mendekati mencapai kedewasaannya menurut hasil-hasil
penelitian tempat kehidupannya dari dekat permukaan berpindah ke lapisan yang lebih dalam,
sehingga alat-alat penangkapan yang dioperasikan di dekat permukaan tidak akan pernah
memperoleh ikan tersebut.

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

18

Gambar 4.3 Rawai dan Tuna Long Line

4.4. Gill Net


Pengertian dari jaring insang (gill net) yang umum berlaku di Indonesia adalah satu
jenis alat penangkap ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi panjang dimana
mata jaring dari bagian utama ukurannya sama, jumlah mata jaring ke arah panjang atau ke
arah horisontal (Mesh Length (ML)) jauh lebih banyak dari pada jumlah mata jaring ke arah
vertikal atau ke arah dalam (Mesh Dept (MD)), pada bagian atasnya dilengkapi dengan
beberapa pelampung (floats) dan di bagian bawah dilengkapi dengan beberapa pemberat
(sinkers) sehingga dengan adanya dua gaya yang berlawanan memungkinkan jaring insang
dapat dipasang di daerah penangkapan dalam keadaan tegak (Sadhori, 1985).
a. Klasifikasi Gill Net
Menurut Sudirman, (2004) berdasarkan kontruksinya, jaring insang dikelompokkan
menjadi 2 (dua), yaitu berdasarkan jumlah lembar jaring utama dan cara pemasangan tali ris.
Klasifikasi berdasarkan jumlah lembar jaring utama ialah sebagai berikut:
1. Jaring insang satu lembar (Single Gill Net)
Jaring insang satu lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari hanya satu
jaaring, tinggi jaring ke arah dalam atau mesh depth dan ke arah panjang atau mesh length
disesuaikan dengan target tangkapan, daerah penangkapan, dan metode pengoperasian.
2. Jaring insang double lembar (Double Gill Net atau Semi Trammel Net)
Jaring insang dua lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari dua lembar
jaring, ukuran mata jaring dan tinggi jaring dari masing-masing lembar jaring, bisa sama atau
berbeda antara satu dengan yang lainnya.
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

19

3. Jaring insang tiga lembar (Trammel Net)


Jaring insang tiga lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari tiga lembar
jaring, yaitu dua lembar jaring bagian luar (outter net) dan satu lembar jaring bagian dalam
(inner net).

Gambar 4.4 Gill net

E. ALAT BANTU PENANGKAPAN IKAN


Alat bantu penangkapan ikan adalah alat yang digunakan untuk membantu dalam
penangkapan ikan. Alat bantu penangkapan ikan terdiri dari 4 bagian, yaitu :
1. Alat bantu pengumpul ikan
2. Alat bantu pendeteksi ikan
3. Alat bantu navigasi
4. Alat bantu perlengkapan penangkapan ikan.
5.1. Alat Bantu Pengumpul Ikan
Secara garis besar ada tiga jenis alat bantu pengumpul ikan yang umum digunakan
pada penangkapan ikan, yaitu :
a. Rumpon (rumpon dasar dan rumpon permukaan)
b. Sinar Lampu (lampu di atas dan lampu di bawah air)
c. Aroma/bau
Dari ketiga jenis alat bantu pengumpul ikan tersebut yang sudah banyak dikenal dan
digunakan secara luas adalah rumpon dan sinar lampu, sedangkan alat bantu pengumpul ikan
jenis aroma / bau, masih belum banyak dikenal, kecuali pada pengoperasian bubu dan
pancing.
a. Rumpon

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

20

Pada prinsipnya ada dua jenis rumpon, yaitu rumpon dasar (demersal) dan rumpon
permukaan

(pelagis).

Berdasarkan

kedalaman

lautnya,

rumpon

permukaan

dapat

dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu rumpon laut dangkal (kedalaman laut kurang dari 200
meter) dan rumpon laut dalam (kedalaman laut lebih dari 200 mater). Di sisi lain, masyarakat
nelayan membedakan rumpon permukaan menjadi dua, yaitu rumpon tradisional dan rumpon
modern.
Dalam hal komponen - komponen yang menyusunnya, pada prinsipnya tidak terdapat
perbedaan yang nyata antara rumpon laut dalam dan rumpon laut dangkal, hanya ukuran
komponennya saja yang berbeda, sedangkan jenis bahan yang digunakan akan selalu berubah
seiring dengan kemajuan teknologi,
Pada hakekatnya rumpon berperan sebagai tempat berlindung bagi ikan-ikan kecil dari
sergapan ikain-ikan pemangsa (predator); dengan adanya ikan-ikan kecil yang menggerombol
pada rumpon maka akan menjadikan ikan-ikan besar (pemangsa) yang sedang berimigrasi
akan tertarik, singgah dan mengelilingi di sekitar rumpon untuk mengintai dan menyergap
ikan-ikan kecil tersebut.

Gambar 5.1 Rumpon

Secara umum, rumpon terbagi menjadi 3, yaitu :


1. Rumpon Permukaan Tradisional
Beberapa daerah telah banyak mengenal dan menggunakan rumpon permukaan ini,
dan nelayan menyebut rumpon tersebut dengan nama tendak (jawa), onjen (Jatim-Madura),
rompong (Sulawesi), gusepa atau rakit (Maluku), rebo (Bengkulu).
Bentuk dan konstruksi rumpon permukaan tradisional ini relatif sederhana dan
umumnya terbuat dari bahan alami, seperti :
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

21

Pelampung terbuat dari bambu berbentuk rakit.


Tali jangkar terbuat dari bahan ijuk (untuk nelayan Jawa dan Madura) atau rotan (untuk
nelayan

Sulawesi).

Dewasa

ini

umumnya

sudah

menggunakan

tali

sintetis

(polyethylene/polypropylene).
Pemikat (atraktor) menggunakan pelepah daun kelapa, lontar, rumbia, dan sebagainya.
Pemberat dari batu yang dirangkai menjadi satu serta dilengkapi dengan jangkar dari
kayu atau besi.

2. Rumpon Modern / Payaos


Pemasangan rumpon modern di Indonesia baru dilakukan oleh perusahaan skala besar
dan BUMN, karena rumpon ini membutuhkan biaya yang besar (Pada tahun 1987 dibutuhkan
biaya Rp 10 - 60 juta per unit rumpon, tergantung kedalaman lautnya). Masyarakat pengusaha
perikanan menyebut rumpon modern ini dengan nama Payaos yang berasal dari bahasa
Philipina: Payaw.
Komponen yang digunakan untuk membuat rumpon modern (payaos / payaw) ini
umumnya dari bahan sintentis atau pabrikan seperti:

Pelampung terbuat dari besi plat atau fibre-glass.


Tali jangkar berupa beberapa jenis bahan (berupa rangkaian komponen) antara lain: tali
baja (wipe rope) atau rantai besi, tali polyethylene (PE) atau polyprophylene (PP), serta
pada sambungan komponen tali jangkar tersebut dilengkapi swivel, segel, dan timli /

timble.
Atraktor / pemikat, selain menggunakan pelepah daun kelapa juga dikombinasi dengan pita

palstik, potongan tali dan jarring bekas dan sebagainya.


Pemberat terbuat dari beton cor (cement concrete) dan dilengkapi jangkar besi.
Pada dasarnya bahan komponen rumpon akan selalu berkembang sesuai dengan

perkembangan teknologi, karena rumpon merupakan hasil rekayasa teknologi.


Pada prinsipnya dalam pembuatan rumpon agar memiliki umur pakai yang lama, maka
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Pelampung :

Harus memiliki daya apung yang cukup (minimal 2 kali daya tenggelam seluruh

komponen rumpon).
Tahan benturan, kedap air, dan tidak mudah bocor.
Dapat dideteksi/mudah dilihat dari jarak jauh.

b. Tali jangkar dan Pemberat :

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

22

Memiliki data tahan putus tinggi (minimal 2 x dari beban yang diterima) dan tahan

gesekan.
Memiliki nilai tahanan hidrodinamis kecil.
Sambungan antara komponen tali jangkar harus dihindari proses gesekan (koefisien
gesekan kecil).

c. Atraktor / Pemikat :
Tidak mudah rusak/lapuk.
Bentuk rangkaiannya vertikal.
Dapat menjadi tempat perlindungan bagi ikan-ikan kecil.
d. Jangkar Pemberat :

Mampu menahan beban tahanan arus laut.


Jangkarnya memiliki daya cengkeram yang kuat.

3. Rumpon Dasar
Jenis rumpon ini belum banyak dikenal ataupun diterapkan oleh masyarakat nelayan di
Indonesia; di kalangan masyarakat DKI Jakarta rumpon dasar dikenal dengan nama rumpon
bis kota atau rumpon becak karena bahan yang digunakan berupa rongsokan bis kota dan
atau becak yang dirakit dan diterjunkan/ditenggelamkan ke dasar laut.
Rumpon juga dapat berfungsi sebagai habitat buatan, yaitu dengan merekayasa
suatu bentuk bangunan yang memiliki banyak celah, sekat atau lubang sebagai tempat
berlindung bagi ikan, sehingga akan mengundang ikan-ikan demersal mendekat dan
menggerombol di dalam atau sekitarnya, hal itu dikarenakan bangunan di dasar laut tersebut
tentunya lama kelamaan akan ditempeli teritip dan planula karang, sehingga lambat laun akan
menjadi habitat buatan yang kondisinya mendekati habitat alami.
Bahan atau komponen tersebut di atas direkayasa menjadi tempat yang aman dan
nyaman bagi ikan-ikan dasar untuk berlindung dan bermukim, terutama sebagai tempat
berlindung bagi ikan-ikan kecil (juvenile dan fingerling) dari sergapan ikan-ikan pemangsa,
sedangkan ikan-ikan pemangsa (besar) akan berada di sekeliling areal rumpon guna mencari
makan.
Pada prinsipnya bahan/komponen rumpon dasar dapat menggunakan dari barang apa
saja asal memiliki persyaratan sebagai berikut:

Tidak meracuni areal perairan di sekitarnya.


Tidak mudah lapuk atau busuk di dalam laut.
Mampu bertahan dari pengeruh arus laut (dengan dilengkapi pemberat yang cukup).
Bersifat atraktif bagi ikan, (antara lain: memiliki banyak celah atau sekat).

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

23

b. Sinar Lampu
Di kalangan masyarakat nelayan bagan, purse seine dan payang, penggunaan lampu
sebagai alat bantu pengumpul ikan sudah lama dikenal (sejak tahun 1950 an), jenis-jenis
lampu yang digunakan antara lain; lampu tekan (petromaks), lampu listrik (menggunakan
generator ataupun accu) yang dipasang di atas permukaan laut, dan pada tahun 1980 an lampu
bawah air (import dari Jepang) mulai dikenal di Indonesia, namun belum banyak yang
menggunakan. Daya tarik sinar lampu terhadap ikan jauh lebih besar daripada rumpon, karena
sinar lampu hanya membutuhkan beberapa jam saja (2 4 jam) untuk menarik dan
mengumpulkan ikan. Sedangkan rumpon membutuhkan waktu 3 15 hari untuk dapat
dioperasikanh alat penangkap ikan. Seperti diketahui bahwa ikan-ikan pelagis memiliki sifat
phototaxis positif, seperti ikan lemuru, tembang, layang, teri, cumi-cumi, dan sebagainya.
Namun sinar lampu sebagai ABPI hanya efektif bila saat gelap bulan (di luar bulan purnama)
dan juga saat permukaan laut tenang, karena permukaan laut akan memantulkan ( 60%)
berkas sinar lampu tesebut, lihat gambar 16.
Hal yang disayangkan, hingga saat ini belum banyak penelitian atau uji coba tentang
jangkauan atau jarak sinar lampu (di atas maupun di bawah permukaan air) dan kaitannya
dengan daya tariknya terhadap ikan. Informasi yang ada hanya bahwa lampu petromaks
mampu menarik ikan pada jarak 26 28 meter (kekuatan lampu petromaks = 300 candela
atau 350 lux).
c. Aroma
Belum banyak upaya nelayan dalam operasi penangkapan ikan dengan memanfaatkan
sifat tertariknya ikan terhadap aroma tertentu. Sebagai contoh, ikan hiu sangat tertarik dengan
bau darah segar. Indra penciuman ikan hiu mampu mendeteksi bau darah segar sejauh 400
meter. Namun belum ada (jarang sekali) nelayan yang memanfaatkan darah segar sebagai
ABPI, baik dalam mengoperasikan gill net maupun pancing (vertikal line maupun rawe),
perlu diketahui bahwa ikan hiu bila mencium bau darah akan menjadi beringas dan kegilaan
makan sehingga menjadikannya menyerang dan memakan benda atau makhluk lain yang ada
di dekatnya.
Balai Pengembangan Penangkapan Ikan Semarang pernah melakukan uji coba
penangkapan ikan hiu dengan menggunakan pancing yang dilengkapi alat bantu berupa darah
segar; yaitu berupa darah sapi atau kambing yang dicampur zat kimia (C 6 H5 Na3 O7 5,5 H2O =
Natrium Sitrat 2 hydrat) yang menjadikan darah tidak membeku, sedangkan untuk mencegah
agar darah tidak busuk digunakan benzoat sebagai bahan pengawet, dengan komposisi
sebagai berikut:
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

24

1 liter darah segar + 2 sendok makan Na Cydrat 2 Hydrat + 1 sendok teh benzoat darah
tetap cair (tidak beku) dan tahan busuk.
Dalam operasi penangkapan di laut, darah segar tersebut dimasukkan ke dalam
kantong plastik ( 0,2 liter) di mana di dalam kantong plastik tersebut juga dimasukkan karet
busa dan dinding kantong plastik dilubangi dengan jarum sebanyak 4 6 tusukan. Sehingga
darah akan keluar secara perlahan di dalam perairan. Kantong plastik tersebut diikatkan pada
tali utama (pada pancing rawai atau vertikal line) atau tali ris pada gill net; perlu diketahui
bahwa penggunaan darah segar sebagai APBI hanya akan efektif bila arus laut sedang dalam
keadaan tenang / lemah.
Selain darah segar, faktor umpan yang mempunyai aroma tertentu juga dapat berfungsi
sebagai ABPI, dalam hal ini dapat dikemukakan sebagai contoh adalah penggunaan umpan
berupa potongan kelapa yang telah dibakar pada bubu untuk menangkap ikan dasar dan
krendet yang dilengkapi umpan berupa potongan kelapa bakar untuk menangkap udang
barong (lobster). Namun belum banyak orang yang tahu bahwa udang putih juga tertarik dan
mengumpul bila diberi perlakuan umpan, hal ini dapat dibuktikan pada kehidupan udang
tambak yang tertarik dan mengumpul sewaktu diberi makanan berupa ikan rucah maupun
makanan buatan pabrik.
Pengoperasian jala (cast net) untuk menangkap udang dengan terlebih dahulu
memberi umpan pada areal tertentu telah dilakukan olah nelayan di Tanjung Balai Riau, dan
cara seperti ini konon juga dilakukan nelayan skala kecil di Amerika. Namun hal ini hanya
akan dapat berhasil bila arus laut tenang atau sangat lemah. Mengingat bahwa udang adalah
biota laut perenang lambat dan tenaganya lemah. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan
Semarang pernah melakukan uji coba penangkapan udang dengan bantuan daya tarik umpan
dengan trammel net dan cantrang di perairan Wedung Demak, tapi hasilnya kurang
memuaskan karena faktor arus relatif kuat. Untuk itu perlu adanya kajian dan penelitian lebih
lanjut tentang penggunaan umpan sebagai alat bantu pengumpul udang pada pengoperasian
alat tangkap laut.
5.2. Alat Bantu Pendeteksi Ikan
Alat bantu pelacak atau deteksi, ada 3 yaitu :
a. Fish finder atau Echosounder

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

25

Alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan pemancaran gelombang bunyi untuk
mendeteksi kedalaman perairan, mendeteksi suatu obyek dalam perairan arah vertikal. Untuk
tujuan perikanan sensitifitasnya ditingkatkan sehingga mampu mendeteksi adanya ikan
dibawah permukaan air.

Gambar 5.2Echosounder

b. Sonar
Alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan prinsip kerja energi akustik,
pemancaran gelombang bunyi untuk mendeteksi suatu obyek dalam perairan arah horizontal
dan vertical. Sonar dapat memberikan gambaran dan informasi tentang kedalaman, keadaan
alami dasar serta konfigurasi bentuk dasar perairan kemudian pada kapal ikan digunakan
untuk memperoleh informasi tentang ukuran, densitas, distribusi, kecepatan dan arah renang
fish schools, serta mengetahui bentuk dan kedudukan jaring di dalam air, mengetahui ikan
yang masuk ke dalam jaring

Gambar 5.3 Sonar

c. RDF
Alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan penerimaan gelombang radio untuk
mengetahui arah dan perkiraaan jarak pemancar. Suara yang dipancarkan akan mengalami
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

26

penurunan energi maka sampai pada target (penerima suara) sudah tidak sekuat dari yang
terdepan.
5.3. Alat Bantu Navigasi
Beberapa jenis alat bantu navigasi antara lain :
a. Kompas magnet, berfungsi untuk menentukan arah pelayaran kapal dan untuk
menentukan arah baringan suatu benda terhadap kapal. Pedoman magnet di kapal
biasanya terdiri dari : Pedoman standart, Pedoman kemudi dan Pedoman kemudi
darurat.

Gambar 5.4 Kompas

b. Peta laut, merupakan semua jenis peta yang digunakan untuk keperluan navigasi di
lautan. Ia menggambarkan keadaan rinci tentang wilayah laut yang aman dilayari
kapal-kapal, denagn tanda-tanda kedalaman air, adanya bahaya-bahaya navigasi baik
yang kelihatan (di atas permukaan air) maupun yang terdapat di bawah permukaan air,
serta benda-benda petunjuk untuk bernavigasi.

Gambar 5.5 Peta

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

27

c. GPS, yaitu alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan penerimaan gelombang radio
dari beberapa satelit yang mengorbit untuk mengetahui posisi, merekam arah haluan
dan kecepatan kapal.

Gambar 5.6 GPS

d. Radar, digunakan untuk mendeteksi obyek (sasaran) berdasarkan prinsip pengukuran


waktu tempuh yang diperlukan untuk merambatkan pulsa (denyut) sinyal gelombang
elektromagnetik, sejak sinyal tersebut dipancarkan oleh transmitter hingga gema (echo)
yang dipantulkan oleh obyek diterima pada receiver. Sinyal elektromagnetik yang
dipantulkan oleh target (sasaran) ke pesawat penerima tersebut selanjutnya tergambar
pada Display unit.
e. Radio komunikasi, peralatan bantu ini dikapal sangat penting agar antar kapal yang
satu dan kapal yang lainnya dapat bertukar informasi pada waktu berlayar. Terdapat 3
frekuensi yaitu : VHF (Very High Frequency), HF (High Frequency) dan MF (Medium
Frequency). Radio komunikasi ini walaupun dilengkapi berbagai frekuensi. Tapi yang
sering digunakan dalam pelayaran adalah frekuensi 16.

Gambar 5.7 Radio Komunikasi

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

28

f. Fax cuaca, digunakan untuk mengetahui keadaan cuaca pada saat berlayar. Dikirimkan
dari stasiun (pangkalan) masing-masing kapal. Data tersebut merupakan olahan dari
data satelit.

Gambar 5.8 Fax cuaca

g. SART adalah suatu alat yang disyaratkan dalam GMDSS (Global Maritime Distress
and Safety System) yang dapat diintrogasi oleh pancaran pulsa radar khusus (Radar XBrand atau Radar 3 cm) bila alat ini diaktifkan. Gunanya untuk pencarian kapal dalam
mara bahaya.
5.4. Alat Bantu Perlengkapan Penangkapan Ikan
a. Alat Bantu Penangkapan Pada Longliners
1. Line Thrower ( Line Caster)
Kapal-kapal long line berskala industri yang sudah dilengkapi dengan line arranger,
pada umumnya dilengkapi line thrower. Line thrower disebut juga line caster merupakan alat
bantu penangkapan sebagai alat pelontar tali utama yang digerakkan dengan tenaga elektrik
hidrolik, diletakkan di buritan kapal, digunakan pada saat penebaran pancing (setting).
2. Line Hauler
Line hauler merupakan alat bantu penarik tali utama pada saat hauling berlangsung.
Keberadaan alat ini mutlak diperlukan, karena tali yang ditebar di perairan tidak
memungkinkan untuk ditarik menggunakan tangan biasa (manual), selain berat dari gaya
beban dan gaya tarikan dari seluruh rangkaian long line juga akan memerlukan waktu yang
lama sehingga dianggap tidak efisien. Line hauler pada umumnya digerakkan dengan tenaga
elektro hidrolik, dilengkapi dengan tuas pengatur kecepatan tarik agar memudahkan
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

29

penanganan penarikan tali utama, terutama pada saat menaikkan ikan hasil tangkapan atau
saat terjadi kekusutan tali. Line hauler ditempatkan di geladag kerja hauling (hauling working
space). Kekuatan tarik dari line hauler disesuaikan dengan ukuran besar kecilnya kapal
(Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).
3. Line Arranger (Penyusun tali utama)
Pada kapal-kapal long line yang sudah modern peralatan bantu penangkapannya
dilengkapai peralatan lain selain line hauler. Line arranger ditempatkan diatas main line tank
(tangki penyimpanan tali utama) merupakan alat bantu penangkapan yang berfungsi sebagai
penarik dan penyusun tali utama agar tertata rapi di dalam main line tank (Suwardiyono dan
Nuryadi Sadono, 2004).

4. Branch Line Ace dan Buoy Line Ace


Branch line ace ditempatkan pada geladag kerja di lambung kanan kapal dibelakang
line hauler, merupakan alat bantu penangkapan sebagai penarik dan penggulung tali cabang
(branch line) dengan menggunakan tenaga motor listrik. Sedangkan buoy line ace yang
digunakan untuk menarik tali pelampung (buoy line) pada saat kegiatan hauling. Branch line
dan buoy line yang sudah diangkat dari air segera dilepas dari tali utama kemudian digulung
dengan branch line ace setelah tergulung dan diikat lalu ditempatkan dalam basket
(keranjang) (Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).
5. Side Roller/ Line Guide Roller
Alat ini ditempatkan pada dinding atau tepi lambung kapal dan berfungsi untuk
menjadikan main line terarah alurnya sehingga dapat mengarah ke line hauler. Bahan side
roller terbuat dari baja stainless dan kerjanya secara aktif (Nur Bambang et al, 1999).
6. Slow Conveyor
Slow conveyor merupakan alat bantu penangkapan berupa ban berjalan lamban,
ditempatkan melintang kapal di bawah line hauler. Fungsi line hauler adalah menggeser tali
utama yang telah ditarik line hauler agar tidak menumpuk dibawah line hauler tersebut.
Sementara main line bergeser mengikuti conveyor tersebut, main line ditarik oleh line
arranger untuk disusun dan diatur pada tangki penyimpanan tali utama (Suwardiyono dan
Nuryadi Sadono, 2004).
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

30

7. Branch Line Conveyor


Branch line conveyor adalah alat bantu penangkapan berupa ban berjalan. Alat ini
ditempatkan di sisi kiri kapal yang berfungsi memindahkan atau menghantar peralatan
penangkapan seperti branch line, pelampung, tali pelampung dari geladag kerja didepan ke
gudang penyimpanan alat tangkap di buritan kapal. Pada kapal-kapal long line modern
berukuran kecil biasanya tidak dilengkapi ini, karena jarak dari geladag kerja didepan dengan
gudang penyimpanan alat tangkap titik jauh (Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).

Gambar 5.9 Line Hauler

b. Alat Bantu Penangkapan Pada Gill Netters


1. Winch
Pada gillnet, mesin bantu winch digunakan untuk menarik jaring dengan menggulung
langsung keseluruhan badan jaring ke dalam drum penggulung bertenaga hidrolik. Winch
disebut juga dengan Net drum.
2. Cone Roler
Cone roller adalah alat penarik jaring yang tersusun dari dua buah silinder karet yang
berputar berlawanan arah, sehingga jaring berikut pelampung dan pemberatnya dapat digiling
bersama untuk menarik ke atas kapal. Cone roller digerakkan dengan tenaga hidrolis dengan
kecepatan antara 20-60 m/menit. Kecepatan tarik, daya kuda, dan putaran kerja Cone roller
sangat tergantung pada ukuran kapal, jumlah gillnet yang selalu dioperasikan pada setiap
setting, serta kemampuan ekonomi nelayan yang bersangkutan untuk mengadakan alat
tersebut.
3. Kapstan
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

31

Berdasarkan fungsi kerja, kapstan merupakan mesin bantu yang digunakan untuk
beragam keperluan penarikan, seperti menarik tali selambar pada gillnet. Sedangkan tenaga
penggerak yang digunakan untuk memutar sistem kapstan, pada umumnya kapal nelayan di
Indonesia menggunakan tenaga mesin diesel. Sebagian besar mesin bantu kapstan langsung
dihubungkan dengan mesin induk (motor induk/utama penggerak kapal), dengan sistem
penyambungan/transmisi menggunakan gardan mobil sebagai transmisi. Mesin bantu kapstan
dengan sistem transmisi yang demikian sering disebut dengan kapstan-gardan oleh nelayan.

4. Net Hauler
Net hauler adalah alat bantu pada kapal gill net yang digunakan untuk penarikan jaring
yang telah ditabur di laut, agar jaring lebih ringan ditarik dan mudah ditata kembali di atas
geladak. Pada umumnya kecepatan tarik yang dibutuhkan antara 30 m/s 90 m/s. Cara
pengoperasian Net hauler adalah hanya dengan menarik jaring Gill net melalui drum
berbentuk konikal dan jaring insang tidak digulung langsung di dalam drum penggulung,
melainkan bagian jaring yang sudah ditarik di belakang Net hauler, kemudian diatur untuk
persiapan penurunan jaring kembali (setting). Net hauler yang digunakan pada kapal Gill net
dapat dibedakan atas 2 tipe. Pada kapal yang dilengkapi dengan cone roller umumnya
dilengkapi pula dengan net hauler tipe memanjang, ditempatkan di tepi atas pagar kapal
dengan tujuan memperingan kerja cone roller dan memudahkan nelayan pada saat
melepaskan ikan yang terjerat mata jaring. Tipe ini lebih dikenal dengan side roller. Tipe
lainnya yaitu net hauler berbentuk blok (power block), ditempatkan di atas geladak kerja pada
sisi arah hauling, untuk menarik jaring pada waktu hauling, pemberat, pelampung beserta
jaringnya disisipkan pada blok (roller) yang berputar digerakan dengan tenaga hidrolik. Alat
ini hanya untuk menangkap ikan-ikan tuna kecil.

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

32

Gambar 5.10 Winch dan kapstan

c. Alat Bantu Penangkapan Pada Purse Seiners


1. Winch
Winch merupakan mesin bantu yang digunakan untuk menarik tali kerut atau tali kolor.
Penempatan winch di kapal ada yang di bagian belakang, di bagian depan, adapula
ditempatkan di kedua sisi samping kamar kemudi. Winch ini sangat berguna untuk menahan
tali pada saat thowing. Berdasarkan fungsi kerja alat bantu winch digunakan untuk menarik
tali kerut atau tali kolor dan untuk penarikan bagian cincin dengan tenaga penggerak yang
digunakan berupa tenaga hidrolik. Tenaga ini paling umum digunakan dan memiliki daya
serta bentuk yang besar. Pada umumnya dipasang pada kapal-kapal ikan pada skala industri
(Syahasta dan Zaenal Asikin, 2004).
2. Power block
Menurut Syahasta dan Zaenal Asikin (2004), Power block merupakan mesin bantu
yang digunakan untuk menarik jaring pukat cincin dari dalam air ke atas deck kapal. Mesin
bantu ini sebagian besar bertenaga hidrolik serta memiliki daya gerak besar. Power block
yang berukuran kecil dan memiliki daya gerak kecil selain bertenaga hidrolik, adapula yang
menggunakan tenaga listrik. Power bertenaga mesin diesel hampir tidak ada, kecuali hasil
rekayasa sendiri pada kapal ikan bukan skala industri.
3. Purse block dan dewi-dewi
Purse block dan dewi-dewi berfungsi untuk menahan, mengatur dan mengumpulkan
cincin jaring yang terletak disamping bagian haluan. Purse block dan dewi-dewi ini terbuat
dari bahan besi. Purse block dan dewi-dewi pada intinya cocok untuk pertahanan pada saat
penarikan jaring ke atas kapal. Dewi-dewi purse seine biasanya akan mendukung block untuk
penanganan dalam pengambilan tali penyeret disamping purse block (John C. Sainsbury,
1975).
4. Purse ring stowage
Purse ring stowage adalah palang panjang yang digunakan untuk menahan atau
menyimpan semua ring sehingga dapat meluncur sebelum setting. Palang panjang ini terbuat
dari besi dengan panjang kira-kira mencapai dua meter. Alat ini diletakkan di samping sebelah
kiri agak ke buritan (John C. Sainsbury, 1975).
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

33

5. Fish pump
Fish pump digunakan untuk kapal industri perikanan, alat ini merupakan pipa air yang
panjang dan dihubungkan langsung ke ruang mesin untuk memompa air. Fish pump terletak
di tengah lambung kanan kapal. Dalam hal ini, sekat de-watering mungkin ditempatkan
berdampingan dengan lubang palka yang digunakan untuk membersihkan atau mencuci ikan
dan dapat juga digunakan untuk membersihkan kapal dengan cara mengambil air dai laut.
Alternatif lain dengan membuat persediaan untuk saluran air dari palka yang kemudian
dibangun sebagai tangki untuk mata air diamana air ini mungkin dipompakan keluar kapal
(John C. Sainsbury, 1975).
6. Seine skiff
Seine skiff adalah alat bantu yang digunakan untuk menarik ujung jaring dan untuk
tempat pelampung dan pemberat atau ring pada waktu setting. Selain itu, dapat pula
diguanakan untuk menarik bagian belakang atau buritan kapal pada waktu operasi
penangkapan agar kapal selalu jauh dari posisi jaring dengan tujuan untuk menghindari
tersangkutnya jaring pada baling-baling kapal (John C. Sainsbury, 1975).
7. Capstant (Gypsy hoist)
Capstant (kapstan) pada kapal purse seine digunakan untuk menarik tali pelampung
(float line) atau tali kolor atas pada saat hauling, guna merapatkan tangkapan kedua ujung
bagian sayap jaring. Di samping itu kapstan berguna pula untuk memperingan kerja pada saat
pengangkatan ikan yang telah tertangkap dalam cakupan jaring untuk dinaikkan di atas kapal
(Brailling). Capstant terletak di lambung kiri kapal ke arah buritan. Kapal purse seine
merupakan kapal pemburu kelompok ikan untuk itu dibutuhkan kecepatan kerja yang sangat
tinggi dan peralatan kerja yang mendukung perolehan hasil tangkapan (A. Farid. et al, 1989 ).

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

34

Gambar 5.11 Purse block dan Fish pump

d. Alat Bantu Penangkapan Pada Trawlers


Adapun peralatan alat bantu yang digunakan untuk alat tangkap Trawl yaitu sebagai berikut :
1. Boom
Merupakan tempat melekatnya rig dan out rigger. Harus memiliki panjang yang
cukup untuk membawa cod end (kantong) pada posisi yang diharapkan dan biasanya
diletakkan pada center line (garis tengah kapal).
a. Rig
Terletak di belakang rumah geladak menempel permanen pada boom atau tiang agung
(tiang gantung). Berfungsi sebagai alat bantu untuk menurunkan dan mengangkat kantong
trawl serta sebagai jalur untuk tali wire dari alat tangkap.
b. Outrigger
Terletak di belakang rumah geladak menempel permanen pada boom atau tiang agung
(tiang gantung) dan dapat Digerakkan kekiri dan kekanan kapal. Berfungsi sebagai jalur
penarikan wire.
2. Winch
Terletak di belakang rumah geladak dan tepat di bawah rig dan outrigger. Posisi winch
menempel pada deck dengan diberi dudukan besi. Winch ini terdiri dari drum dan hydraulic
inofer.
a. Drum Trawl
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

35

Bentuknya harus besar untuk memutar agar Trawl naik. Salah satu contohnya adalah
drum dengan flat tunggal mempunyai kelemahan dapat merusak bagian tengah dari drum itu
sendiri dan bagian atas dari jaring.
b. Hydraulic inofer
Merupakan mesin untuk mengatur jalannya winch. Terdiri dari motor power hidrolik
yang diletakkan diruang mesin untuk mengalirkan oli ke pipa dimesin pengatur yang terletak
diatas bangunan kemudi dan setir pengontrol winch diatas bangunan kemudi.
3.

Towing Block
Menetap di buritan di sisi samping Trawl. Merupakan bagian yang menentukan

dimana warp dapat mengikuti kapal secara terarah selama proses towing. Towing block adalah
sebuah kumpulan tali yang terikat kencang menjadi sebuah bagian yang diperkuat dengan
rantai yang tepat panjangnya dan kuat. Ada berbagai tipe yang banyak di jumpai.
4.

Snatch Block

Dibuat untuk digunakan dalam berbagai tugas permanen pada suatu Trawl. Ada berbagai
bentuk rancangan, tapi pada umumnya yang perlu diperhatikan adalah bagian depan yang
digunakan untuk cantelan atau penyangga. Tergantung pada jenis, kemanapun terhubung
dengan baik atau bahkan diatas geladak untuk mengangkat pada waktu tertangkap. Snatch
block mempunyai suatu penutup yang dapat diangkat sedemikian sehingga gulungan tali dapat
ditempatkan di sekitar katrol. Dan penutup tersebut di kunci atau tertutup kembali dengan
menggunakan penjepit.
5.

Otter Board
Otter board merupakan alat bantu bukaan mulut jaring ke arah horizontal. Pembukaan

horizontal bentangan otter board merupakan jarak antara kedua otter board yang terbentang
pada saat dioperasikan.

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

36

Gamb
ar 5. 12 Drum Trawl dan Towing Block

Gambar 5.13 Snatch Block dan Otter Board

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

37

F. SEA TRIAL DAN FISHING TRIAL


6.1. Sea Trial
Sea trial adalah pengujian performa kapal yang dilakukan oleh owner kapal, pihak
galangan dan juga pihak galangan.
Sea trial di selenggarakan untuk mengukur perfoma kapal dan kelayakan kapal untuk
berlayar. Sebelum sea trial di bentuk struktur pelaksana sea trial meliputi :

Kordinator sea trial

Bertugas untuk mengkooordinasi semua kegiatan sea trial dan semua yang terlibat yang
meliputi owner, galangan dan kelas.

Komandan kapal

Bertugas untuk mengatur semua olah gerak kpal pada saat test, mengatur tata tertib personel
di dalam kapal, member informasi kalau terjadi keadaan darurat.

Leader of Test and Trial

Bertugas mengatur item-item pengetesan dan memgkonfirmasikan dengan pihak terkait.

Operatof of Equipment

Bertugas mengoperasikan dan menjaga peralan selam pelayaran

Test Executor

Bertugas untuk melaksankan test dan percobaan sesuai dengan petunjuk pelasanaan
Selain itu terdapat peralatan yg harus dipenuhi sebelum sea trial dilakukan yaitu :
1. Main engine and propulsion system
2. Diesel generator and accesories
3. Windlass
4. Mooring winch and accessories
5. Peralatan navigasi
6. Safety equipment and accessories
7. Fire protective system
8. Galley and accessories
9. Sanitation and accessories
Setelah itu dipenuhi maka dilakukan beberapa test meliputi :
1. Speed trial
Pada test ini kapal dimuati beban tertentu untuk sebuah sarat yang di tentukan dan
tenaga mesin yang di atur sampai maksimal kecepatan kapal. Biasanya diambil presentasi
kecepatan maksimun continue rating misalny 95 % MCR. Selama test ini kapal akan diuji
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

38

beberapa kecepatan yang selalu ditambah dan didata dengan menggunakan GPS. Setelah itu
kapal akan dirubah arahya hingga 180o dan kembali menggunakan procedure seperti yang
dilakukan sebelumnya. Hasil dari pengujian Ini di hitung dari rata-rata dari semua kecepatan
yang di hitung selama uji pada masing- masing kecepatan. Proses ini dapat dilakukan di
beberapa kondisi laut
2. Crash Stop astern and ahead stop
Pengujian ini dimulai apabila ada perintah Execute Crash Stop diberikan. Pada
proses ini mesin penggerak di atur pada full astern dan kemudi di arahkan ke arah portside
ataupun starboard. Kecepatan, posisi dan heading dicatat menggunakan GPS. Pada pengujian
ini di hitung waktu untuk kapal berhenti, drift ( penyimpangan arah kapal yang tegak lurus
dengan lintasn yg dilalui), dan Advance ( berap jauh lintsan yang ditempuh kapal setelah
kapal di hentikan)
3. Vibration test
Pengujian ini mengukur berapa getaran yang di hasilkan saat kapal berlayar,
4. Noise test
Pengujian ini mengukur kebisingan yang dihasilkan kapal, tingkat kebisingan ini di
ukur pada semua tempat yang ada di kapal meliputi, engine room, kamr tidur dan lain-lain.
Standard untuk tigkat kebisingan di masing- masing ruangan berbeda
5. Endurance test
Pada test ini yang direkam adalh aliran bahan bakar, pembuangan mesin, suhu air
pendingin dan kecepatan kapal. Test ini bertujuan untuk menguji ketahanan main engine
6. Steering gear test
Pada test ini yang dicatat berupa data berapa lama waktu yang dibutuhkan kapal untuk
berubah arah sesuai dengan derajat yang ditentukan. Selain itu juga dilihat kesesuaian antara
arah stering gear yang ada di atas dengan arah daun kemudi yang ada di bawah
7. Manuvering test
Pada test ini dilakukan pengujian untuk meentukan maneuver kapal dan stabilitas arah
kapal. Hal ini termasuk maneuver langsug, reverse spiral, zigzag dan penggunaan Lateral
Truster.
Setelah semua test itu di lakukan maka akan mendapatkan sertifikat dari kelas dan bisa
dilakukan serah terima kepada owner kapal.

6.2. Fishing Trial


TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

39

Fishing trial adalah percobaan dan pengujian dalam melakukan penangkapan ikan.
Berikut ini adalah contoh dari fishing trial yang diambil dari salah satu situs internet.
Selama masa penelitian pada stok ikan lentera, 310 pengangkutan dilakukan. Sidang
stasiun memancing dipilih secara acak dan jika ada jejak yang baik ikan dengan kepadatan
tinggi pada echosounder, sebuah derek memancing dilakukan. Hasil tangkapan dari setiap
haul diperkirakan dan informasi, misalnya, saat towing, jarak towing, kedalaman, tanggal,
panjang kawat, kecepatan, arah, suhu lingkungan, suhu permukaan laut, posisi, dll dicatat
pada lembar khusus.
Sejak mesh kecil Ukuran bersih sesuai untuk myctophids tidak digunakan selama tiga
hari pertama sidang memancing pertama, hasil menunjukkan tren berikut instalasi NY210D /
12-20mm bersih sebagai lapisan bersih dari cod-end karena semua menargetkan ikan
melewati jerat bersih sehingga volume tangkapan adalah sekitar apa-apa. Dengan demikian,
selama tahap kedua, nilon NY210D / 6-9mm bersih diperoleh dari Iran dan dipasang dalam
cod-end (bersama dengan satu berukuran kecil) dan kemudian dipasang pada bagian pukat
bernomor 5-6 pada tubuh jaring. Setelah pemasangan jaring internal bersama dengan
NY210D / 12- 20mm, memancing percobaan dilakukan 23-30 September untuk 20 TOWS.
Table 6.1
Biomass estimates for different cruises

Cruise no.

Region

Area

nn2

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

km2

40

Fish
density

Biomass

g/m3

(tonnes)

Raslkuh

0.69

270

926

71.8

Grishkin

0.87
250

857

47.1

Raslkuh-Jagin

0.36
1 530

5 248

220.4

Jagin-Meidani

0.42
750

2 573

22.6

Tang

400

1 372

49.4

Chabahar

330

1 132

34.0

Gwatar

0.40
525

1 801

70.2

Raslkuh-Meidani

2 400

8 232

263.4

Meidani-Gwatar

3 245

13 531

331.5

Total

10 400

35 672

Jask
2

0.93
2 260

892

Raslkuh-Jagin
661

2 267

400

1 372

122.1
0.30

350

1 200

"

64.8
0.10

600

2 058

Raslkuh-Meidani

72.0
0.20

3 730

12 794

Total

409.5
-

6 001

20 588

Jask

891.5

2.6
260

857.5

Raslkuh-Jagin

206.4 174.0
1.2

661

1 715.0

Raslkuh-Meidani

365.4
0.7

2 220

7 614.6

Meidani-Gwatar

240.8
-

2 250

7 717.5

Raslkuh-Gwatar

341.1
-

5 180

1 776.8

Total

1 327.4
-

10 400

35 672.0

Raslkuh

1.7
250

857.5

Grishkin

104.1
2.5

225

771.7

Raslkuh-Meidani

165.0
1.1

1 760

6 036.8

Meidani-Chabahar

507.1
0.6

1 440
Raslkuh-Chabahar

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

161.9
0.64

Meidani

61.6
0.80

"

1 180.4

4 939.2

185.3
-

41

Total

4 325

1 4 385 -

8 000

178.0

27 440.0

1 139.5

Selama pelayaran ketiga dari nelayan menggunakan NY210D / 6-9mm kecil ukuran
mata jaring, jaring internal diperpanjang sampai ke bagian keenam pada tubuh bersih (untuk
6m) dan lebih jauh. Operasi penangkapan ikan terus 1-12 Oktober untuk 8 TOWS selama
tangkapan rata-rata per haul adalah 3.56t dengan maksimal 8.5t. Dalam hal tangkapan per
jam, berarti itu 0.94t dengan maksimal 1.71t. Dibandingkan dengan alat tangkap yang
diterapkan

selama

pelayaran

kedua,

jumlah

tangkapan

dua

kali

lipat.

Selama fourthcruise itu, jaringan internal, bersama dengan ukuran mesh nilon kecil
bersih, diperpanjang hingga bagian kelima pada tubuh jaring. Dengan pengaturan tersebut,
panjang tubuh trawl ini diperpanjang oleh 12m, sisi cod-end (pelengkap) oleh 8m dan cod-end
sendiri untuk 15m; yang bersama-sama mencapai 35m. Luas penampang yang adalah
24.54m2.

Perkembangan ini membantu pengguna mempersiapkan, di ujung atas ekstrim dari


trawl, jaring internal yang terbuat dari NY210D / 12-20mm nylon untuk bagian keempat pada
tubuh bersih setelah itu memancing percobaan diluncurkan. Selama fase ini tujuh TOWS yang
dilakukan, 4-6 Oktober. Hasil tangkapan rata-rata dari setiap operasi (per haul) adalah 9t dan
maksimal adalah 12t. Mean menangkap adalah 1.92t / jam, dengan maksimum 2.7t / h.
Angka-angka ini menunjukkan empat kali peningkatan jumlah tangkapan dibandingkan
dengan gigi yang digunakan dalam pelayaran kedua; menangkap dua kali lipat dibandingkan
dengan pelayaran ketiga operasi.
Table 3
Daily catch of lantern fish in Cruise 1
Date
No.

No. of
operations

Amount of catch (tonnes)

Squid
Lantern
fish

Small
fish

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

Catch per haul

Others
Small
shrimp

42

Total

Max

Min

Catch per hour

Max

Min

89.9.14

0.005

1.1

0.003

0.002

1.11

1.10

0.55

1.10

0.30

89.9.15

0.08

0.02

0.10

0.10

0.10

0.05

0.05

89.9.16

0.03

0.01

0.06

0.10

0.01

0.07

0.07

89.9.24

0.40

0.01

0.03

0.06

0.50

0.35

0.25

0.15

0.10

89.9.25

1.90

0.02

0.07

0.11

2.10

1.50

1.05

0.35

0.27

89.9.26

5.30

0.02

0.08

0.10

5.50

3.00

2.25

0.80

0.75

89.9.27

5.35

0.03

0.09

0.13

5.60

2.50

1.40

0.60

0.40

89.9.28

3.80

0.04

0.04

0.12

4.00

2.00

1.00

0.60

0.40

89.9.29

4.90

0.02

0.03

0.05

5.00

2.50

1.70

0.65

0.50

10

89.9.30

4.87

0.08

0.04

0.04

0.07

5.10

2.50

1.20

0.70

0.40

11

89.10.1

3.70

0.02

0.01

0.07

3.80

2.50

1.30

0.70

0.50

12

89.10.2

7.35

0.04

0.02

0.09

7.50

3.50

2.50

0.85

0.65

13

89.10.3

2.90

0.09

0.05

0.16

3.20

2.00

1.00

0.40

0.30

14

89.10.4

10.80

0.06

0.05

0.09

11.00

8.00

3.70

1.70

0.80

15

89.10.5

24.20

0.08

0.04

0.18

24.50

8.50

8.17

1.96

1.81

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

43

16

89.10.6

26.30

0.13

0.03

0.04

26.50

10.50

8.83

2.30

1.81

17

89.10.7

20.35

0.09

0.01

0.05

20.50

12.00

10.25

2.70

2.10

Total

89.10.17

44

122.23

1.40

0.54

0.64

1.29

126.11

12.00

2.86

2.70

0.65

Table 4
Daily catch of lantern fish in Cruise 2
Date
No.

No. of
operations

Amount of catch (tonnes)

Squid
Lantern
fish

Catch per haul

Others

Small
fish

Total

Max

Min

Catch per hour

Max

Min

Small
shrimp

89.10.16

0.90

0.9

0.5

0.3

0.17

0.12

89.10.17

1.08

0.50

0.02

1.6

1.0

8.0

0.21

0.17

89.10.18

4.00

0.01

0.03

0.06

4.1

3.5

1.4

0.7

0.30

89.10.19

3.43

0.03

0.04

0.10

3.6

3.0

1.2

0.50

0.25

89.10.20

1.93

0.01

0.01

0.05

2.0

1.2

0.5

0.25

0.15

89.10.21

9.07

0.03

0.05

0.15

9.3

5.0

3.1

2.20

1.00

89.10.22

11.90

0.10

14.0

12.0

7.0

3.40

2.00

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

44

89.10.25

13.39

0.06

0.05

13.3

8.0

4.5

5.30

2.70

89.10.26

11.95

0.05

12.0

5.0

4.0

1.70

1.15

10

89.10.27

22.93

0.02

0.05

23.0

8.0

5.7

2.80

1.50

11

89.10.28

16.97

0.01

0.02

17.0

6.0

5.7

3.00

2.00

12

89.10.29

20.29

0.01

0.20

20.3

10.0

4.1

3.00

1.10

13

89.10.30

20.89

0.01

0.10

21.0

7.0

7.0

2.60

2.00

14

89.10.31

25.91

0.01

0.05

0.03

26.0

9.0

5.2

2.00

1.32

15

89.11.1

14.87

0.10

0.03

15.0

10.0

5.0

2.00

1.20

16

89.11.2

22.98

0.02

23.0

12.0

7.7

2.50

1.70

17

89.11.3

27.00

27.0

12.0

9.0

2.40

1.82

18

89.11.4

24.93

0.02

0.30

0.02

25.0

10.0

8.3

2.10

1.76

19

89.11.5

28.89

0.01

0.05

0.05

29.0

8.0

5.8

2.20

1.66

20

89.11.6

24.91

0.01

0.04

0.04

26.0

10.0

6.5

2.20

1.70

21

89.11.7

23.95

0.02

0.03

24.0

12.0

6.0

2.00

1.00

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

45

22

89.11.8

26.00

26.0

8.0

6.5

2.40

1.68

23

89.11.9

15.98

0.02

16.0

10.0

8.0

3.30

2.70

24

89.11.10

16.00

16.0

10.0

5.3

2.85

1.72

25

89.11.11

3.45

0.05

3.5

3.0

1.75

1.20

0.70

26

89.11.12

4.23

0.07

0.02

45

4.0

2.25

0.70

0.60

27

89.11.13

12.00

12.0

10.0

6.0

2.50

1.60

28

89.11.14

11.00

11.0

7.0

3.7

1.40

0.89

29

89.11.15

13.00

13.0

10.0

6.5

2.20

1.86

Total

89.11.29

91

436.56

0.33

1.19

1.42

4 395

12.00

4.83

5.30

1.35

DAFTAR PUSTAKA
http://en.wikipedia.org/wiki/Sea_trial
http://en.wikipedia.org/wiki/Inclining_test
http://wayanfishery.blogspot.co.id/2014/05/alat-tangkap-ikan-aktif-dan-pasif.html
http://riezasyik.blogspot.co.id/2011/06/alat-bantu-penangkapan.html
http://cheigar-anak-lundayeh-kerayan.blogspot.co.id/2014/09/alat-tangkap-aktif-danpasif.html
TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

46

http://wajah-bahariku.blogspot.co.id/2013/05/solusi-alternatif-mengatasi-over_12.html
http://neternecco.blogspot.co.id/2014/06/alat-bantu-pengumpul-ikan.html
http://mukhtar-api.blogspot.co.id/2011/05/illegal-fishing-di-indonesia.html
http://www.fao.org/docrep/w8239e/W8239E06.htm

TEKNOLOGI KAPAL PERIKANAN I

47