Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

MENENTUKAN IDE USAHA


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Materi Kuliah Kewirausahaan 2
Dosen Pengampuh : Dellia Mila Vernia, S.E., M.M.

Disusun Oleh:
Kelompok I
R.8.E

NAMA :

NPM :

Fery Putra Nur Rozzaq

201213500617

Leza Nurjaman

201213500685

Ria Anggorowati Oktaviani

201213500694

Yuliyanti Eka Pratiwi

201213500626

Yuni Tri Lestari

201213500658

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS TEKNIK, MATEMATIKA, DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr Wb.
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
berkah dan karunia-Nya hingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul Menentukan Ide Usaha dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk membantu mahasiswa dan
dosen dalam mempelajari mata kuliah. sehubungan dengan tujuan tersebut, maka
penyusunan makalah ini telah diusahakan sedemikian rupa sehingga memudahkan
pembaca / mahasiswa dalam memahami isi dan penjelasannya.
Kami menyadari bahwa penyusunan tugas makalah ini masih banyak
kekurangan dan belum sempurnanya apa yang kami sampaikan, sehingga apabila
ada kekurangan dalam penulisan serta isi/ materi, kami mohon saran dan kritiknya
secara langsung maupun tidak langsung, untuk kesempurnaan penulisan makalah
ini.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu menyelesaikan makalah ini.

Wassalamualaikum Wr Wb

Jakarta, 10 Maret 2016

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................2
1.3 Tujuan......................................................................................................2
1.4 Manfaat....................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bisnis Model Canvas ............................................................3
2.2 Kerangka Bisnis Model Canvas..............................................................9
2.3 Perumusan Ide Usaha.............................................................................11
2.4 Menentukan Nama Usaha/Perusahaan...................................................13
BAB III PENUTUP
Kesimpulan...................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................iii
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di era persaingan usaha yang semakin berkembang dengan pesat dan
beraneka ragam ini, kita dituntut untuk bisa menciptakan sebuah peluang
usaha kecil menjadi peluang usaha besar. Dengan mengikuti perkembangan

sikap customer yang bervariatif. Hal ini menuntut kita untuk menciptakan
suatu inovasi yang baru dan bisa memuaskan kebutuhan masyarakat.
Dalam pembuatan suatu usaha tidak serta merta terjadi begitu saja
banyak hal yang harus dipikirkan demi terjadinya suatu usaha/bisnis yang
sukses, untuk mewujudkan itu semua, kita memerlukan perencanaan bisnis
(business plan) yang matang agar usaha yang kita bangun dapat terwujud dan
berkembang sesuai harapan kita serta sejalan dalam koridornya. Maka dari
itu, kita perlu benar-benar menentukan dengan tepat ide usaha yang akan
dijalani, siapa segmen masyarakat yang akan kita bidik, produk apa yang
akan dihasilkan, berapa biaya yang akan dikeluarkan dan hal-hal lainnya yang
berhubungan dengan bisnis yang akan kita jalani.
Setelah mengetahui dan membreakdown satu persatu

proses

membuat business plan tersebut, saat menjabarkan satu persatu. Pertama


adalah tahap menentukan ide usaha, lalu perumusan konsep ide usaha dan
study kelayakan usaha. Ini wajib dilakukan untuk melihat apakah prospek
dari bisnis kedepannya, mulai dari konsep ide usaha dan kelayakan dari usaha
tersebut. selanjutnya Bagaimana hal tersebut dapat tergambar jelas dalam
perencaan bisnis? Bisnis model kanvas akan menggambarkannya dengan
jelas.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang dapat diangkat dari latar belakang
masalah diatas adalah sebagai berikut:
a. Apakah pengertian dari bisnis model canvas ?
b. Bagaimana kerangka bisnis model canvas ?
c. Apa saja tahapan dalam perumusan ide usaha?

d. Bagaimana menentukan nama usaha/perusahaan ?


1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui dan memahami pengertian dari bisnis model canvas.
b. Mengetahui dan memahami kerangka bisnis model canvas.
c. Mengetahui, memahami, dan menerapkan tahapan dalam merumuskan ide
usaha.
d. Mengetahui dan memahami bagaimana menentukan suatu nama usaha/
perusahaan.
1.4 Manfaat Penulisan
Hasil pembuatan makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat baik
secara teoretis maupun secara praktis, sebagai berikut :
Secara teoretis
Hasil makalah ini diharapkan dapat membantu pembaca khususnya

a.
b.

mahasiswa dalam hal yang berkaitan dengan Supervisi Pendidikan.


Secara praktis
d. Melalui pembuatan makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan
c.

berfikir dan kemampuan menganalisis suatu hal yang terkait, dan juga
sebagai salah satu syarat penilaian mata kuliah Kewirausahaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bisnis Model Canvas
Alexander Osterwalder dalam bukunya Business Model Generation
(2010) Business Model Canvas adalah sebuah model bisnis gambaran logis
mengenai bagaimana sebuah organisasi menciptakan, menghantarkan dan
menangkap sebuah nilai. Lebih lanjut pengertian bisnis model kanvas dapat
diartikan sebagai salah satu alat untuk membantu kita melihat lebih akurat
bagaimana rupa usaha yang sedang atau kita akan jalani. Dengan tool ini kita

seakan melihat bisnis dari gambaran besar namun tetap lengkap dan
mendetail apa saja elemen-elemen kunci yang terkait dengan bisnis kita.
Dengan demikian kita bisa melihat gambaran utuh yang sangat membantu
dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar bisnis kita. Dengan
mengevaluasi satu demi satu elemen-elemen kunci kita jadi lebih mudah
menganalisis apa yang kurang tepat, dan pada akhirnya kita bisa mengambil
langkah untuk mencapai tujuan bisnis kita.
Selanjutnya Alexander Osterwalder dalam bukunya menciptakan
sebuah

framework

yang

sederhana

dan

mudah

dimengerti

untuk

menggambarkan bisnis kita yaitu Business Model Canvas. Model Bisnis


Kanvas merupakan model bisnis yang dituang ke dalam visual gambar dan
dibagi menjadi 9 Aspek Bisnis yang meliputi :
1. Customer : Mengetahui Customer Kita
Customer segment adalah kelompok target customer yang akan
atau sedang kita bidik untuk menjadi customer kita. Hal yang harus
diperhatikan dalam segmentasi customer adalah kita harus benar-benar
bisa mendefinisikan secara spesifik siapa segment target customer kita.
Segmen target bisa dibedakan berdasarkan hal-hal seperti:
1) Tingkat ekonomi (menengah, atas atau jika ingin lebih spesifik lagi
dapat disegmentasi berdasarkan pendapatan atau uang jajan bulanan
target customer kita);
2) Umur;
3) Komunitas tertentu (misalnya komunitas sepeda, komunitas pecinta
hewan tertentu atau komunitas ibu-ibu pengajian dll.);
4) Perilaku khusus dari target customer kita (misalnya reaksinya
terhadap harga barang, kadang ada perilaku tertentu yang malah suka
dengan barang-barang mahal, ada juga yang benar-benar sensitif
terhadap harga yang murah dll.).
Dengan melakukan segmentasi ini kita akan lebih mengerti dan
menangkap kebutuhan khusus dan sifat-sifat target customer kita.

2. VALUE PROPOSITIONS : Apa yang Kita Tawarkan Dalam Bisnis ?


Value proposition atau mudahnya produk adalah hal yang
ditawarkan ke target customer kita. Misalnya kita menjual bahan
makanan organik ke komunitas vegetarian, menjual kreasi dari batik
untuk anak muda atau menawarkan jasa pelatihan bisnis ke mahasiswa
dan UKM.
Dikatakan value proposition adalah agar kita tidak terjebak dengan
istilah produk yang selalu identik dengan barang, sementara value
proposition tidak selalu tentang barang, dia sifatnya lebih luas seperti jasa
arsitek atau jasa konsultasi dan pelatihan bisnis, atau jasa fotografi,
bahkan gabungan produk dan jasa seperti pemasangan kawat gigi, dll.
3. CHANNELS : Saluran Distribusi
Selanjutnya, kita telah memiliki customer segment dan value
proposition/produk yang siap ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan
customer. Sekarang adalah bagaimana kita bisa memberikan produk/jasa
yang customer butuhkan untuk sampai ke tangan mereka?
Untuk menyampaikan value proposition ke customer kita perlu
channel. Channel adalah cara yang digunakan untuk memberikan value
proposition kita ke customer. Cara ini bisa sangat bermacam-macam
tergantung dari segmen customer yang kita bidik. Chanel ini adalah salah
satu hal yang sangat perlu diperhatikan, karena jika kurang tepat kita
tidak dapat meraih target segmen yang diharapkan. Channel dapat juga
disebut bagaimana cara kita menyampaikan produk kepada customer.
Channel tersebut bisa berupa penjualan langsung, melalui distributor,
melalui tenaga marketing, bisa juga melalui website, bisa melalui forum
jual beli, ataupun media sosial laninnya yang sedang berkembang dewasa
ini.

Macam-macam channel bisa dilakukan, semakin kreatif kita


menciptakan channel penjualan semakin besar peluang kita untuk unggul
dalam persaingan dan efektif dalam menjaring customer. Kunci dari
pemilihan channel ini adalah cara yang tepat untuk menyampaikan value
propositions kepada segmen target kita.
4. CUSTOMER RELATIONSHIP : Seberapa dekat kita dengan
customer kita.
Dalam customer relationship ada 3 (tiga) hal yang perlu
diperhatikan, yaitu get, keep dan grow. Get yaitu bagaimana cara kita
memperoleh customer. Keep adalah cara kita menjaga customer agar
tetap setia berhubungan dengan kita dan grow adalah cara kita membuat
customer memberikan pendapatan lebih kepada kita melalui sub product
atau pelayanan yang kita berikan.
Customer relationship, merupakan wadah untuk terus berhubungan
baik dan mempererat hubungan dengan customer kita. Bagaimana kita
dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada customer dengan
memperhatikan 3 (tiga) hal tersebut di atas. Banyak cara yang dapat
dilakukan, baik online maupun offline. Untuk pelayanan secara online
Sebut aja website, facebook, twitter, kaskus, thread dan forum, bbm, ym,
whatsapp dll. Semua itu bisa dijadikan sarana untuk menjalin hubungan
dengan customer. Dengan hubungan yang lancar tersebut kita dapat
dengan mudah menyampaikan sesuatu kepada customer misalnya
mengenai produk baru, diskon, penawaran khusus dll. Dan yang tidak
kalah penting adalah kita bisa mendapatkan informasi tentang apa yang
menjadi keinginan dari customer kita. Selain itu, kita dapat membangun
hubungan secara offline (kegiatan secara fisik), misalnya dengan
mengadakan event-event tertentu atau gathering.

Dari empat elemen ini sebetulnya kita sudah bisa merancang dan
mengevaluasi apakah bisnis kita ini sudah tepat antara value proposition
yang kita tawarkan, segment target yang kita bidik dan channel yang
digunakan. Semua faktor itu harus selaras dan saling mendukung,
keterkaitan dari semua faktor tersebut adalah salah satu faktor kunci
dalam keberhasilan bisnis kita.
5. REVENUE STREAMS (Pendapatan)
Quote: "sebuah bisnis yang baik dan mantap harus memiliki arus
pendapatan (revenue stream) yang sangat jelas dan masuk akal"
Revenue stream ini adalah salah satu yang sangat penting karena
inilah nafas yang membuat usaha kita tetap hidup. Kita sudah merancang
dengan cermat empat elemen yaitu value proposition (jasa/produk) yang
akan ditawarkan, penentuan target segmen (customer segment) yang akan
dibidik, penentuan channel penjualan dan menentukan bagaimana
membangun hubungan dengan customer (customer relationship).
Pertanyaan berikutnya dan salah satu yang terpenting adalah bagaimana
bisnis kita bisa menghasilkan uang?
Pada umumnya bisnis, terutama perdagangan menghasilkan uang
dari keuntungan penjualan, atau kadang disebut laba atau profit. Laba
atau profit adalah salah satu model revenue stream yang sederhana. Profit
didapat dari selisih semua pendapatan penjualan (omzet) dikurangi
semua biaya. Sebagai contoh, kita menjual makanan buka puasa seperti
es teler, berarti profit secara sederhana adalah semua uang dari penjualan
dikurangi biaya bahan + upah kerja + biaya listrik + sewa tempat +
kemasan.
Namun demikian tidak semua model bisnis menghasilkan uang
dari selisih penjualan - biaya (profit) saja. Misalnya bisnis jasa. Model

bisnis perusahaan yang menawarkan jasa tentu tidak menghasilkan uang


dari profit (saja) tapi yang lebih utama adalah dari pembayaran atas jasa
yang diberikan. Contoh model bisnis jasa ini ada jasa konsultasi, jasa
pembuatan desain arsitektur, desain web, biro iklan, jasa fotografi produk
dll. Ada juga beberapa model usaha yang menghasilkan uang dari komisi,
biaya iklan dan banyak model lain dari revenue stream ini.
Syarat dari bisnis model yang bisa hidup adalah jelas bagaimana
bisnis ini bisa menghasilkan uang. Jadi jika kita ditawarkan bisnis lalu
revenue stream dari bisnis tersebut tidak jelas bagaimana bisnis tersebut
bisa menghasilkan uang, maka ini bukan jenis bisnis yang bisa terus
bernafas dan tumbuh. Sebuah bisnis yang baik dan mantap harus
memiliki arus pendapatan (revenue stream) yang sangat jelas dan masuk
akal.
6. KEY PARTNERS : Siapa partner anda?
Sukses berbisnis tidak bisa sendirian, kita harus bekerjasama
dengan banyak pihak lainnya. Tentukan dari awal apakah bisnis kita
memerlukan investor untuk permodalan atau tidak. Apakah kita perlu
mengadakan perjanjian kerjasama khusus dengan distributor ataupun
reseller? Serta siapa saja yang akan menjadi supplier dalam bisnis kita
ini.
Menggandeng partner yang melengkapi kemampuan yang kita
miliki akan meningkatkan peluang keberhasilan bisnis. Misalnya, kita
sangat ahli membuat makanan yang enak, cari partner yang bisa menjual
makanan kita (marketing). Misalnya kita kenal distributor suatu produk
yang lebih murah, cari partner yang bisa membuat website, untuk dijual
online.

Pikirkan untuk menjalin kolaborasi dengan partner baik itu investor,


supplier, distributor maupun reseller.
7. KEY ACTIVITIES (Kegiatan Utama)
Dalam memulai bisnis kita harus dapat menentukan kegiatan utama
apa saja yang harus dilakukan dalam usaha menghasilkan value
propositions dan revenue stream. Kegiatan tersebut meliputu, produksi,
selling dan support.
Misalnya kita bisnis makanan unik berbahan dasar tempe. Tentunya
kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan antara lain dalam hal produksi
adalah membeli bahan-bahan, memasak (produksi), mengepak produk
tersebut, lalu membuat kemasan. Untuk hal selling dapat dilakukan
promosi, iklan baik online maupun offline. Adapun kegiatan support
yang berupa membantu penjualan, mengadakan kerjasama seperti
keagenan atau membuka peluang distributor maupun reseller.
8. KEY RESOURCE (Sumber Daya Utama)
Key resource ini adalah syarat yang harus dipenuhi atau sumber
daya utama yang harus dimiliki untuk melakukan aktivitas utama bisnis
kita, jika kita kehilangan key resource ini bisnis tidak akan berjalan
lancar. Suber daya ini dapat berupa manusia, barang, bangunan, finansial,
intelektual dll. Sebagai contoh, Anton membuka usaha kantin di deket
kampus, maka key resource atas bisnis Anton tersebut adalah sumber
daya yang harus dimiliki agar kantin tersebut jalan, seperti tempat
usaha/gerai, pegawai dan juru masak, alat-alat masak.

9. COST STRUCTURE

10

Semua usaha yang dilakukan memerlukan biaya, lakukan


perhitungan secara seksama, lalu putuskan apakah rencana rencana bisnis
kita menguntungkan atau tidak?
Mengetahui menguntungkan/tidaknya sebenarnya sederhana saja, kita
dapat merinci semua sumber daya yang dibutuhkan dan memperkirakan
berapa pendapatan yang akan diterima dengan harga yang sesuai. Lantas
apakah penghasilan kita lebih besar dari pengeluaran? Jika tidak berarti
kita akan merugi dan bisnis ini tidak layak dijalankan.

2.2 Kerangka Bisnis Model Canvas


Dalam bukunya yang berjudul Business Model Generation (2010),
Osterwalder dan Pigneur membuat suatu kerangka Business Model yang
berbentuk kanvas dan terdiri dari 9 kotak yang saling berkaitan. Kotak-kotak
ini berisikan elemen-elemen penting yang menggambarkan bagaimana
organisasi menciptakan manfaat bagi dan mendapat manfaat dari para
pelanggannya. Berikut adalah gambar bisnis model kanvas:

Gambar 2.1 Bisnis Model Canvas

11

Sebagaimana telah dijelaskan oleh Osterwalder dalam buku Business


model Generation, tahap awal dari sebuah Business Model Canvas (BMC)
dimulai

dengan

mendefinisikan kotak

(1)

yaitu

Customer

Segment. Mengapa Customer Segment? Karena hanya pelanggan (customer)


yang menguntungkanlah yang akan menghidupi organisasi. Setelah Customer
Segment didefinisikan secara jelas, langkah selanjutnya adalah mengisi kotak
(2) : Value Propositions.Value Propositions adalah pernyataan keunikan
produk/jasa yang dijanjikan oleh organisasi kepada Customer Segments yang
dibidik. Namun demikian bisa saja terjadi, Value Propositions, mempengaruhi
Customer segments yang akan dipilih. Organisasi perlu mendidik Customer
Segments yang dibidik, agar bersedia menerima Value Propositions yang
ditawarkan.

Kotak

(3)

Channel menjelaskan

bagaimana

organisasi

mengkomunikasikan, mengantar dan berinteraksi dengan pelanggannya


(Customer). Perlu diperhatikan bahwa kesuksesan dalam kegiatan di kotak
Channel ini sangat ditentukan oleh efektivitas kotak (6)Key Resources, (7)
Key Activities, dan kotak (8) Key Partnerships berperan mendukung realisasi
dari kegiatan di Channels ini. Kotak (4) Customer Relationships adalah
seberapa besar kegiatan organisasi menjaga hubungan dengan pelanggan
lama, seberapa giat organisasi menjaring pelanggan baru atau meningkatkan
penjualannya ke pelanggan lama. Apabila Customer Segments difokuskan
dengan baik, Value Proposition dinyatakan secara tajam serta Cannels dan
Customer Relationships dijaga secara benar, maka kotak (5) Revenue
Streams akan sukses mendatangkan dana ke dalam organisasi. Kegiatan di
belakang panggung (Back Stage), berupa Key Resources, kotak (6), key
Activities, kotak (7), dan Key Partnerships (8) harus dimanajemeni secara
baik dan efisien. Efisiensi dalam pengelolaan elemen-elemen di Back Stage
sangat diperlukan untuk menjaga agar kotak (9) Cost Structure dapat tetap
optimal.
Hal yang perlu disadari ketika mendesain Business Model Canvas
adalah keterkaitan antarkotak. Perubahan pada satu kotak akan berdampak

12

pada

kotak-kotak

lainnya.

Sebagai

contoh

perubahan Customer

Segments akan mempengaruhi kotak Value Propositions yang ditawarkan, dan


juga kotak-kotak lainnya. Hal ini terjadi pada Garuda Indonesia yang secara
sadar meninggalkan segmen menengah bawah dan memfokuskan pada
segmen menengah atas. Fokus pada segmen menengah atas ini menyebabkan
Garuda Indonesia harus mendefinisikan ulang Value Proposition yang
ditawarkan, yaitu layanan yang berkelas melalui Garuda Experience. Layanan
berkelas akan dirasakan oleh segmen yang difokuskan, mulai dari tahap
pembelian tiket, layanan check in, layanan saat didalam pesawat sampai
ketika penumpang meninggalkan pesawat.
Perubahan pada value proposition ini ternyata juga berdampak pada
Key Activities. Segmen menengah atas sangat mengharapkan ketepatan
waktu penerbangan, pilihan waktu keberangkatan dan kedatangan. Back
office Garuda Indonesia harus mampu menyiapkan pesawatnya agar bisa
memenuhi kebutuhan segmen tersebut. Key Resources juga terkena dampak.
Untuk memenuhi value proposition yang dijanjikan, Garuda Indonesia
meiliki sejumlah pesawat baru, dan melakukan investasi di teknologi
informasi sehingga segmen yang dituju dapat melakukan pemesananan tiket
melalui internet.

2.3 Tahapan dalam Perumusan Ide Usaha


Dalam tahap perumusan ide, dapat menuangkan gagasan-gagasan apa
saja yang diinginkan terhadap suatu ide usaha (berupa prosuk atau jasa) yang
dianggap potensial untuk dijalani. Tuangkan gagasan-gagasan yang baik
secara jelas agar langkah kedepannya dapat berjalan dengan lancer dan tidak
mengalami kekecewaan ditengah jalan.
Dengan mengetahui kebutuhan masyarakat dan berhasil menemukan
berbagai lapangan usaha dan gagasan usaha, maka langkah berikutnya adalah

13

menjawab pertanyaan: Manakah di antara gagasan-gagasan usaha tersebut


yang paling tepat dan cocok untuk saya? Pertanyaan ini sangat tepat,
mengingat setiap orang memiliki potensi diri yang berbeda-beda. Tentunya
dalam memilih dan menentukan ide usaha serta mengembangkan gagasan
usaha, kita perlu menyesuaikan dengan potensi diri yang kita miliki.
Kekeliruan dalam memilih yang disebabkan karena ketidakcocokan atau
ketidaksesuaian pada akhirnya akan mendatangkan kesulitan atau bahkan
kegagalan di kemudian hari.
Berdasarkan uraian di atas, maka langkah awal yang perlu kita
lakukan adalah melakukan survei lebih dahulu, menginventarisir berbagai
jenis gagasan produk yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup
manusia.
Mungkin dari langkah awal tadi, kita telah menemukan ratusan atau
bahkan ribuan gagasan usaha. Untuk memperkecil pilihan dalam melakukan
analisis berikutnya, maka kita harus menyeleksi berbagai jenis gagasan usaha
yang telah kita lakukan pada langkah pertama tadi. Gagasan usaha yang
dipilih adalah gagasan yang memiliki prospek secara ekonomi yang dapat
berupa pertimbangan bahwa produk yang dihasilkan merupakan kebutuhan
vital bagi manusia dengan tingkat permintaan dan harga yang relatif
memadai.
Selanjutnya alternatif pilihan lebih diperkecil lagi dengan memilih
beberapa gagasan usaha dengan mempertimbangkan potensi diri (faktor
internal) kita seperti sudut ekonomi, kemampuan teknis, ketersediaan sumber
daya manusia, khususnya yang berkaitan dengan keterampilan yang
diperlukan. Hasil akhir dari langkah-langkah yang telah kita lakukan akan
diperoleh beberapa gagasan usaha yang telah terurut berdasarkan prioritasnya.
Agar pilihan kita lebih aman dan dapat dikuasai dengan baik, maka perlu
dilakukan Analisis Kembali dengan mempertimbangkan faktor internal
berupa kekuatan dan kelemahan yang kita miliki jika kita memilih gagasan
usaha yang bersangkutan, dan faktor eksternal berupa peluang dan ancaman

14

yang akan dihadapi jika kita menjatuhkan pilihan pada gagasan usaha yang
bersangkutan. Analisis ini sering dikenal dengan analisis SWOT.
Bukan tidak mungkin, setelah melakukan langkah analisis ini, kita
akan menjatuhkan pilihan pada gagasan usaha yang menjadi prioritas kedua
atau ketiga dari hasil analisis sebelumnya.
2.4 Menentukan Nama Usaha/Perusahaan
Siapa yang tidak memiliki nama? Rasanya tidak ada. Setiap orang
memiliki nama. Bahkan jauh sebelum dia lahir, nama telah disiapkan lebih
dahulu. Untuk menentukan satu kata untuk nama saja, orang tua sang bayi
akan mempertimbangkan banyak hal. Baik dari segi jenis kelamin bayi,
hingga makna yang menjadi doa bagi bayi tersebut.
Saat ini, bahkan sebagian orang mau menghabiskan waktu untuk
mencarikan nama bagi hewan peliharaannya. Tidak kalah lagi, di Indonesia
bahkan muncul fenomena penamaan terhadap goyangan dari setiap penyanyi
dangdut untuk membuatnya lebih mudah untuk diingat. Jelas saja, karena
penamaan/naming merupakan bagian dari proses branding. Jika mereka saja
berusaha untuk membuat nama yang baik bahkan untuk sebuah goyangan,
lalu mengapa harus terburu-buru dalam menentukan nama untuk perusahaan
anda?
Sebagai pembentuk brand image awal, perbedaan satu huruf saja
dalam nama dapat keuntungan dan kerugian besar bagi suatu entitas, terutama
pada sebuah perusahaan. Maka dari itu sebelum menentukan nama, terlebih
dahulu anda harus mengumpulkan fakta-fakta perusahaan, melakukan riset
dari segi bahsa, riset secara geografis, riset kesesuaian dengan brand, evaluasi
terhadap bunyi ucapan, kesamaan denganbrand lain, serta melakukan riset
terhadap publik.
Dalam penentuan nama, ada 7 hal yang menurut Rustan baik untuk
dipertimbangkan, yakni:

15

1. Penggunaan bahasa. Tentukan bahasa apa yang ingin digunakan. Bahasa


Indonesia atau Bahasa Inggris, atau mungkin anda memiliki alternatif
bahasa lain. Hal ini penting karena berkaitan dengan pemasaran produk
anda. Kenapa tidak anda memasarkan produk anda ke berbagai Negara,
yang jelas memiliki bahasa dan penulisan yang berbeda.
2. Unik dan orisinil. Penting untuk mencari tahu apakah nama yang anda
pilih telah digunakan oleh orang lain atau belum. Kesamaan nama akan
menimbulkan kebingungan bahkan bisa jadi menjadi boomerang bagi
perusahaan anda. Jika jenis usaha anda sama, bisa jadi klien/konsumen
anda salah melakukan order. Atau bahkan jika nama dari brand lain
memiliki image yang buruk, bisa jadi ini akan memberikan dampak buruk
juga bagi brand anda.
3. Singkat. Tujuannya adalah memudahkan untuk diingat.
4. Tidak mirip dengan kata lain, baik ditulis maupun di ucapkan sehingga
tidak membuatnya menjadi ambigu dan menimbulkan salah pengertian.
5. Tidak mengandung konotasi yang negatif karena ini akan berpengaruh
pada brand image.
6. Fleksibel sehingga memiliki jangka waktu yang panjang dan tidak perlu
dirubah-rubah mengikuti perkembangan jaman.
7. Tetap jelas dan menarik ketika di visualkan dalam bentuk logo atau
digabungkan dengan bentuk visual lainnya. Ini akan sangat membantu
ketika produk anda dipasarkan keluar negeri. Meskipun nama bisa saja
anda

rubah

pada

beberapa

negara,

bentuk

visual

membantu brand anda untuk tetap dikenali sebagaibrand yang sama.

BAB III
PENUTUP

akan

Kesimpulan
Bisnis model kanvas adalah sebuah model bisnis gambaran logis
mengenai bagaimana sebuah organisasi menciptakan, menghantarkan dan
menangkap sebuah nilai. Model Bisnis Kanvas merupakan model bisnis yang
dituang ke dalam visual gambar dan dibagi menjadi 9 Aspek Bisnis yang meliputi
customer, value proposition, channels, customer relationship, revenue streams,
key partners, key activities, key resource, dan cost structure. Dalam usaha kita
juga harus memiliki suatu perumusan agar usaha kita maju, tahapan dalam
perumusan sebagai berikut yaitu memiliki gagasan usaha atau ide usaha sesudah
melakukan survei, kemudian menyeleksi gagasan atau ide usaha kita yang sesuai
dengan usaha kita, dan yang terakhir adalah menganalisis gagasan usaha kita
apakah usaha kita dapat maju atau tidak. Nama bagi usaha kita juga sangatlah
penting agar kita mempunyai suatu hak atas nama usaha kita, cara menentukan
nama usaha atau perusahaan dengan cara sebagai berikut yaitu dari segi
penggunaan bahasa, nama yang unik dan orisinil, singkat, tidak mirip dengan kata
lain dan tidak mengandung suatu ambigu, tidak mempunyai konotasi yang negatif,
fleksibel dan jelas.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU:
Ambadar, Jackie., Miranty Abidin, & Yanty Isa. 2010. Dari Peluang Menjadi
Usaha: Seri Manual Usaha Praktis. Bandung: Kaifa
Santoso, Djoko. 2013. Modul Pembelajaran Kewirausahaan. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pembelajaran Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi
KEMENDIKBUD
ARTIKEL:
Osterwalder, Alexander dan Yves Pigneur. 2010. Business Model Generation.
Patrick Van der Pijl
INTERNET:
http://www.ideamandiri.com/business-model-canvas-dan-penerapannya-diindonesia-seri-2/ (diakses Kamis, 10 Maret 2016, pukul 21.38 WIB)
www.academia.edu/attachments/34861122/download_file (diakses Kamis, 10
Maret 2016, pukul 21.00 WIB)
http://excellent-branding.com/?tag=cara-menentukan-nama-usaha (diakses
Kamis, 10 Maret 2016, pukul 20.45 WIB)