Anda di halaman 1dari 13

Pemeriksaan Plasma Protrombin Time (PPT) dan Activated Partial Tromboplastin

Time (APTT)
1. Tujuan Kegiatan
Untuk dapat mengetahui nilai PPT (Plasma Protrombine Time) dan APTT (Activated
Partial Tromboplastine Time) dari sampel darah pasien
2. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan PPT dan APTT adalah dengan menggunakan
metode turbodensitometry
3. Prinsip
a. PPT
Dengan menilai terbentuknya bekuan bila ke dalam plasma yang telah diinkubasi
ditambahkan campuran tromboplastin jaringan dan ion kalsium.

b. APTT
Menginkubasikan plasma sitrat yang mengandung semua faktor koagulasi intrinsik kecuali
kalsium dan trombosit dengan tromboplastin parsial (fosfolipid) dengan bahan pengaktif (mis.
kaolin, ellagic acid, mikronized silica atau celite koloidal).

4. Dasar Teori
A. Faal Hemostasis, Jalur Intrisik dan Ekstrisik
Faal hemostasis adalah suatu fungsi tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan
keenceran darah sehingga darah tetap mengalir dalam pembuluh darah dan menutup kerusakan
pada dinding pembuluh darah sehingga mengurangi kehilangan darah pada saat terjadinya
kerusakan pembuluh darah. Faal hemostasis melibatkan sistem berikut:
a. Sistem vaskular.
b. Sistem trombosit
c. Sistem koagulasi
d. Sistem fibrinolisis
Untuk mendapatkan faal hemostasis yang baik maka keempat sistem tersebut harus
bekerja sama dalam suatu proses yang berkeseimbangan dan saling mengontrol. Kelebihan atau
kekurangan suatu komponen akan menyebabkan kelainan. Kelebihan fungsi hemostasis akan
menyebabkan trombosis, sedangkan kekurangan faal hemostasis akan menyebabkan pendarahan
(Bakta, 2004 dalam Hendrik 2014).
Jalur intrinsik diaktifkan ketika Faktor XII dilepaskan ke sirkulasi darahkarena adanya
kontak dengan permukaan bermuatan negatif seperti membran trombosit yang sudah
teraktivasi,faktor XII akan diaktifkan menjadi faktor XIIa.Selanjutnya faktor XIIa mengaktifkan
faktor XI menjadi Xia.Faktor XIa bersama dengan ion Ca2+ mengaktifkan faktor IX menjadi
enzim serin protease, yang disebut faktor IXa. Faktor ini selanjutnya mengubah faktor X untuk
menghasilkan faktor Xa. Reaksi ini memerlukan komponen, yang dinamakan kompleks tenase,
pada permukaan trombosit aktif, yaitu : Ca2+, faktor VIIIa, faktor IXa dan faktor X. Faktor VIII
diaktifkan menjadi faktor VIIIa oleh trombin dengan jumlah yang sangat kecil (Shafer D.,2000
dalam Neni N.,2014).
Jalur ekstrinsik muncul ketika terjadi pelepasan tissue thromboplastin (Faktor III) ke
darah jika terjadi kerusakan pada pembuluh darah. Faktor VII yang merupakan faktor koagulasi
di sirkulasi darah, akan membentuk kompleks tissue thromboplastin dan kalsium. Kompleks ini
secara cepat memecah Faktor X menjadi Faktor Xa.Faktor Xa mengkatalisasi prothrombin
(Faktor II) menjadi thrombin (Faktor IIa), dimana Faktor IIa dibutuhkan untuk memecah
fibrinogen (Faktor I) menjadi fibrin.(Coulter V.,2000 dalam Neni N.,2014)
B. Plasma Protombin Time (PPT/PT)
Prothrombin merupakan protein yang dihasilkan hati untuk membekukan darah.Produksi
prothrombin dipengaruhi oleh konsumsi dan penyerapan vitamin K yang adekuat. Selama proses
pembentukan clot, prothrombin dipecah menjadi thrombin. Selanjutnya thrombin akan memecah

fibrinogen menjadi fibrin clot (Gambar 6). Kadar prothrombin di darah dapat berkurang pada
pasien-pasien dengan penyakit hati. (Owen C.A., 2001).
Prothrombin Time adalah satu dari empat test yang digunakan untuk mempelajari proses
koagulasi. Prothrombin time secara langsung menunjukkan defek potensial pada tingkat II
mekanisme pembentukan clot (jalur extrinsic) melalui analisis kemampuan membentuk clot dari
faktor-faktor koagulasi lain yaitu prothrombin, fibrinogen, faktor V, faktor VII, dan faktor X.
Kekurangan prothrombinjuga dapat digunakan untuk memantau keadan-keadaan seperti
disfibrinogenemia, efek heparin dan coumarin, gangguan fungsi hati, dan defisiensi vitamin K.
(Fishbach FT.,2003)
Pada keadaan dimana terbentuk clot di darah, nilai PT dipertahankan sekitar 2 sampai 2.5
kali nilai normal. Jika nilai PT dibawah nilai tersebut, pengobatan yang dilakukan akan tidak
efektif, dan clot akan terbentuk lebih luas atau kan terbentuk clot-clot baru. Secara berlawanan
jika nilai PT melebihi 30 detik, perdarahan mungkin timbul.(Fishbach FT.,2003)
Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan kenaikan nilai PT antara lain : Defisiensi
faktor II (prothrombin), V, VII, atau X , Defisiensi vitamin K, bayi-bayi dengan ibu yang
kekurangan vitamin K , Penyakit hati (seperti hepatitis karena alkohol), kerusakan hati , Terapi
antikoagulan dengan warfarin (Coumadin) , Penyumbatan kantung empedu , Penyerapan lemak
yang buruk (contohnya sprue, celiac disease, diare kronis) , Terapi dengan antikoagulan heparin ,
Hypofibrinogenemia (defisiensi faktor I) , Bayi premature. Sedangkan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi PT : Konsumsi sayur-sayuran berupa daun-daunan hijau yang berlebihan
meningkatkan penyerapan vitamin K, yang menimbulkan pembentukan clot di darah. Alcoholism
atau konsumsi alkoho berlebihan dapat memperpanjang nilai PT. Diare dan muntah menurunkan
PT karena proses dehidrasi. Jika prosedur pengambilan sampel darah menyebabkan trauma dan
jika tabung tidak pada keadaan yang dianjurkan. Pengaruh obat-obatan seperti antibiotik, aspirin,
cimetidine,

isoniazid,

phenothiazides,

cephalosporin,

cholestyramine,

phenylbutazone,

metronidazole, obat anti diabetik, phenytoin. Penyimpanan sampel yang terlalu lama pada suhu
4C sehingga faktor VII teraktivasi dan PT memendek.(Fishbach FT.,2003).
C. Activated Partial Thromboplastin Time (APTT)
Activated Partial Thromboplastin Time (aPTT) merupakan tes untuk memantau jalur
intrinsik dari proses koagulasi (Faktor XII,XI, IX, VIII, V, II, I, prekallikrein, high molecular
weight kininogen). Jalur ini dirangsang oleh interaksi antara Faktor XII dengan permukaan
bermuatan negatif. Tes ini dapat digunakan untuk mengetahui kelainan kongenital dan bawaan

pada jalur intrinsik proses koagulasi dan juga untuk memantau pasien-pasien dengan penggunaan
heparin.(Fischbah FT.,2003, Riley RS.,2005). Nilai normal aPTT berkisar antara 24-37 detik.
Nilai aPTT dapat memanjang pada individu usia muda dan dapat memendek pada populasi usia
tua. Pada pasien yang menggunakan terapi heparin nilai aPTT 2-2.5 kali nilai normal.(Fishbach
FT.,2003). Nilai aPTT dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sistem koagulasi darah,
tipe dari tabung yang digunakan, tipe antikoagulan, kondisi pengiriman dan penyimpanan
spesimen, waktu inkubasi, dan suhu.(Riley RS, 2005). Nilai aPTT meningkat diatas nilai normal
pada keadaan defisiensi faktor intrinsik < 40% baik yang dibawa dari lahir atau pun didapat,
lupus anticoagulant, atau adanya inhibitor spesifik dari faktor-faktor koagulasi jalur intrinsik.
Penyebab lain meningkatnya nilai aPTT termasuk penyakit hati, DIC, terapi antikoagulan atau
heparin, atau pengambilan spesimen yang tidak tepat (contohnya plebotomi traumatic).(Riley
RS, 2005).
Jika nilai PT normal dengan nilai aPTT yang terganggu berarti kelainan berada diantara
tingkat pertama jalur koagulasi (Faktor VIII, IX, X, XI, dan atau XII).Jika nilai aPTT normal
sementara nilai PT abnormal menandai adanya defisiensi faktor VII. Jika nilai keduanya
memanjang, kemungkinan adanya defisiensi faktor I, II, V, atau X. Secara bersamaan, aPTT dan
PT akan mendeteksi 95 % kelainan koagulasi.(Fishbach FT.,2003) Nilai aPTT memendek pada
kondisi penyakit kanker, apalagi melibatkan hati, segera setelah perdarahan akut, jika nilai aPTT
> 70 detik menandakan perdarahan spontan.(Fischbah FT.,2003, Riley RS.,2005).
Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah darah vena dengan antikoagulan trisodium
sitrat 3.2% (0.109M) dengan perbandingan 9:1.Gunakan tabung plastik atau gelas yang dilapisi
silikon. Sampel dipusingkan selama 15 menit dengan kecepatan 2.500 g. Plasma dipisahkan
dalam tabung plastik tahan 4 jam pada suhu 205 oC. Jika dalam terapi heparin, plasma masih
stabil dalam 2 jam pada suhu 205oC kalau sampling dengan antikoagulan citrate dan 4 jam pada
suhu 205oC kalau sampling dengan tabung CTAD (Riswanto, 2010).
5. Alat dan Bahan
a. Alat:
1). Alat pengukuran PPT dan APTT (Sysmex C-104)
2). Tabung vacum bertutup biru (dengan antikoagulan Na Sitrat)

3). Kuvet CA-104


4). Mikropipet 100 l dan 50 l
5). Yellow tip
6). Sentrifuge
b. Bahan:
1). Darah vena dengan antikoagulan Na-sitrate
2). Reagen Dade Innovin
3). Reagen Dade Actin FS
4). CaCl2
6. Cara Kerja
a. Preparasi sampel
1). Sampel disentrifuge dengan menggunakan sentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm
selama 5 menit sehingga diperoleh plasma .
2). Kondisi sampel di cek meliputi lisis atau tidak lisis, adanya klot, sampel lipemik atau
ikterik

b.

Persiapan sebelum melakukan pemeriksaan


1. Pipet yang akan digunakan dipastikan dalam kondisi baik (rutin dikalibrasi).
2. Kuvet yang akan digunakan dipstikan memiliki stirrer bar.
3. Reagen yang akan dipergunakan disiapkan dan dikondisikan pada suhu ruang.

c.

Menyalakan alat
1. Kabel analyzer disambungkan ke power supply maka alat akan menyala dan secara
otomatis melakukan proses sebagai berikut:
a) Self test
b) Testing ROM

c) Testing RAM
d) Warming up
2. Alat membutuhkan waktu sekitar 30 menit pada proses warming up hingga suhu di
heating block stabil pada 370C 0.40C (saat proses ini, kuvet dan reagen dapat diloading ke alat).
3. Setelah suhu di heating block stabil akan muncul pesan Remove cuv , pastikan tidak
ada cuvet yang masih terletak di measuring channel dan protection cap ditutup
kembali. Kemudian tekan tombol enter untuk konfirmasi.
4. Akan muncul pesan Auto blanking , measuring channel akan di-adjust secara
otomatik selama 10 detik.
5. Setelah Auto blanking selesai tombol Esc ditekan dan layar menu utama akan muncul
yang menandakan alat siap digunakan.
d.

Pemeriksaan PPT
1. Alat dan bahan yang diperlukan dipersiapkan terlebih dahulu
2. Kuvet diinkubasi di heating block selama 3 menit
3. Pada tampilan layar utama dipilih parameter PT kemudian tekan enter sehingga
muncul cuv in
4. Sampel disiapkan dengan memipet plasma sitrat sebanyak 50 L kedalam cuvet yang
telah diinkubasi di heating block
5. Protection cap pada alat dibuka dan dengan segera kuvet dimasukkan kedalam
measuring channel kemudian protection cap ditutup kembali

6. Alat akan melakukan penghitungan mundur waktu inkubasi, setelah inkubasi selesai
akan muncul adj-s , reagen Dade innovin dipipet sebanyak 100L dan ditunggu
hingga pada layar alat muncul perintah Go-S
7. Setelah muncul perintah Go-S , reagen Dade innovin dimasukkan kedalam
measuring channel secara vertical
8. Ditunggu beberapa saat hingga hasil pengukuran muncul pada layar utama.
9. Setelah hasil pengukuran muncul dan dicatat, protection cap dibuka dan kuvet diambil
dari measuring channel
10. Setelah kuvet diambil, tekan tombol reset untuk mengulang pemeriksaan dengan
parameter yang sama, apabila ingin mengganti parameter, tekan tombol Esc
e.

Pemeriksaan APTT
1. Alat dan bahan yang diperlukan dipersiapkan terlebih dahulu
2. Kuvet diinkubasi di heating block selama 3 menit
3. Pada tampilan layar utama dipilih parameter APTT kemudian tekan enter sehingga
muncul cuv in
4. Sampel disiapkan dengan memipet plasma sitrat sebanyak 50 L kedalam cuvet yang
telah diinkubasi di heating block kemudian ditambahkan 50 L reagen Dade Actin FS
5. Protection cap pada alat dibuka dan dengan segera kuvet dimasukkan kedalam
measuring channel kemudian protection cap ditutup kembali
6. Alat akan melakukan penghitungan mundur waktu inkubasi, setelah inkubasi selesai
akan muncul adj-s , reagen CaCl2 dipipet sebanyak 50L dan ditunggu hingga pada
layar alat muncul perintah Go-S

7. Setelah muncul perintah Go-S , reagen Dade innovin dimasukkan kedalam


measuring channel secara vertical
8. Ditunggu beberapa saat hingga hasil pengukuran muncul pada layar utama.
9. Setelah hasil pengukuran muncul dan dicatat, protection cap dibuka dan kuvet diambil
dari measuring channel
10. Setelah kuvet diambil, tekan tombol reset untuk mengulang pemeriksaan dengan
parameter yang sama, apabila ingin mengganti parameter, tekan tombol Esc

7. Hasil Kegiatan
Hasil kegiatan pemeriksaan PPT (Plasma Protombin Time) dan APTT (Activated Partial
Thromboplastin Time) yang dilaksanakan dari tanggal 7 Maret 13 Mei 2016. Didapatkan hasil
Pemeriksaan PPT dan APTT pada :
Tabel 12
Hasil Pemeriksaan PT dan APTT
Tanggal

Jumlah Pemeriksaan

Jumlah Pemeriksaan

7 Maret 2016

PTT
-

APTT
-

8 Maret 2016
9 Maret 2016
10 Maret 2016
11 Maret 2016
12 Maret 2016
13 Maret 2016
14 Maret 2016
15 Maret 2016
16 Maret 2016
17 Maret 2016
18 Maret 2016
19 Maret 2016
20 Maret 2016
21 Maret 2016
22 Maret 2016
23 Maret 2016

4
1
8
1
1
1
1
1
2
3
7
-

4
3
6
-

24 Maret 2016
25 Maret 2016
26 Maret 2016
27 Maret 2016
28 Maret 2016
29 Maret 2016
30 Maret 2016
31 Maret 2016
1 April 2016
2 April 2016
3 April 2015
4 April 2016
5 April 2016
6 April 2016
7 April 2016
8 April 2016
9 April 2016
10 April 2016
11 April 2016
12 April 2016
13 April 2016
14 April 2016
15 April 2016
16 April 2016
17 April 2016
18 April 2016
19 April 2016
20 April 2016
21 April 2016
22 April 2016
23 April 2016
24 April 2016
25 April 2016
26 April 2016
27 April 2016
28 April 2016
29 April 2016
30 April 2016
1 Mei 2016
2 Mei 2016
3 Mei 2016
4 Mei 2016
5 Mei 2016
6 Mei 2016
7 Mei 2016

1
3
1
3
3
1
3
3
4
2
7
7
4
1
1
1
4
4
2
5
4
2
1
2
3
2
2
1
3
4
1
2
3
1

1
1
2
1
4
1
2
3
4
2
1
3
2
1
2
2
3
1

8 Mei 2016
9 Mei 2016
10 Mei 2016
11 Mei 2016
12 Mei 2016
13 Mei 2016

8. Permasalahan yang Ditemui


Dalam pemeriksaan faal hemostasis (PPT/APTT) yang dilakukan oleh mahasiswa selama
Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari tanggal 7 Maret - 13 Mei 2016, permasalahan yang
ditemukan adalah nilai dari PPT/APTT tidak terbaca oleh alat (out of range)

9. Pembahasan dan Pemecahan Masalah


Hemostasis adalah kemampuan alami untuk menghentikan perdarahan pada lokasi luka
oleh spasme pembuluh darah, adhesi trombosit dan keterlibatan aktif faktor koagulasi, adanya
koordinasi dari endotel pembuluh darah, agregasi trombosit dan aktivasi jalur koagulasi.
Pemeriksaan faal hemosatasis adalah suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui faal
hemostatis serta kelainan yang terjadi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari riwayat
perdarahan abnormal, mencari kelainan yang mengganggu faal hemostatis, riwayat pemakaian
obat, riwayat perdarahan dalam keluarga.
Pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) di RSUD Sanjiwani Gianyar dilakukan pemeriksaan
faal hemostasis yaitu pemeriksaan Plasma Protrombin Time (PPT) dan Activated Partial
Tromboplastin Time (APTT). Pemeriksaan faal hemostasis ini dilakukan dengan dengan
menggunakan instrumen Sysmex CA-104 metode turbodensitometry. Secara sederhana metode
dari alat ini adalah adanya reaksi antara reagen koagulasi dengan analit pada sampel akan
membentuk bekuan yang memiliki intensitas kekeruhan yg khas , cahaya pada alat akan

melewati sampel yang telah terbentuk bekuan dan menyesuaikan intensitasnya sesuai dengan
tingkat kekeruhan bekuan dan diteruskan menuju photodetector untuk dirubah menjadi sinyal
electrik dan output berupa angka.
Pada proses pengerjaan sampel, terbagi menjadi tiga tahap yaitu pre-analitik, analitik dan
post-analitik. Pada tahap pre-analitik dilakukan pelabelan tabung sesuai identitas pasien,
penampungan sampel darah dengan tabung antikoagulan Na-sitrat serta pemisahan plasma.
Alasan penggunaan antikoagulan Na-sitrat dikarenakan, Na-sitrat ( 1 bagian citrat + 9 bagian
darah) dapat menghambat aktivitas faktor pembekuan dengan mengikat kalsium menjadi
kompleks kalsium sitrat, sehingga menghambat aktifitas fibrinogen menjadi fribrin (bekuan).
Sampel harus segera dicampur segera setelah pengambilan untuk mencegah aktivasi proses
koagulasi dan pembentukan bekuan darah yang menyebabkan hasil tidak valid. Pencampuran
dilakukan dengan membolak-balikkan tabung sebanyak 4-5 kali secara perlahan, karena
pencampuran yang terlalu kuat dan berkali-kali (lebih dari 5 kali) dapat mengaktifkan
penggumpalan platelet dan mempersingkat waktu pembekuan. Untuk mendapatkan plasma sitrat,
maka darah dalam tabung biru harus segera dicentrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 3000
rpm dan dianalisa maksimal 2 jam setelah sampling. Karena apabila analisa dilakukan lebih dari
2 jam, dapat mempengaruhi hasil yang disebabkan oleh telah terbentuknya fibrinogen dalam
darah.
Proses analitik masih sebagian besar melibatkan peran serta analis, hal ini dikarenakan alat
Sysmex CA-104 bukan merupakan alat full automated analyzer sehingga untuk pencampuran
dan penentuan waktu inkubasi masih dilakukan secara manual. Untuk pemeriksaan PTT (Plasma
Protombin Time) adalah uji yang dilakukan untuk menilai kemampuan faktor koagulasi jalur
ekstrinsik dan jalur bersama, yaitu : faktor I (fibrinogen), faktor II (prothrombin), faktor V
(proakselerin), faktor VII (prokonvertin), dan faktor X (faktor Stuart), reagen yang digunakan

untuk pemeriksaan PTT adalah Dade Inovin, dimana reagen ini memiliki kandungan terpenting
yaitu tromboplastin jaringan, terbentuknya bekuan dapat terjadi bila ke dalam plasma yang telah
diinkubasi (diambil 50L) ditambahkan campuran tromboplastin jaringan yang terdapat pada
reagen dade inovin sebanyak 100 L reagen dade inovin.
Pemeriksaan APTT (Activated Partial Thromboplastin Time) merupakan uji laboratorium
untuk menilai aktifitas faktor koagulasi jalur intrinsik dan jalur bersama, yaitu faktor XII (faktor
Hagemen), pre-kalikrein, kininogen, faktor XI (plasma tromboplastin antecendent, PTA), faktor
IX (factor Christmas), faktor VIII (antihemophilic factor, AHF), faktor X (faktor Stuart), faktor V
(proakselerin), faktor II (protrombin) dan faktor I (fibrinogen). Reagen yang digunakan untuk
pemeriksaan APTT adalah Dade Actin FS dan CaCl 2, actin FS memiliki kandungan utama
tromboplastin parsial (fosfolipid) dengan bahan pengaktif ( ellagic acid). Terbentuknya bekuan
disebabkan pencampuran 50L plasma sitrat dengan 50L reagen actin FS yang mengandung
tromboplastin parsial (fosfolipid) dan ellagic acid, dan penambahan ion kalsium (50L CaCl2)
yang memicu terbentuknya bekuan. Pada tahap post-analitik adalah pencatatan hasil pemeriksaan
PTT dan APTT yang dikeluarkan oleh alat, karena pencatatan dilakukan secara manual maka
sangat diperlukan ketelitian dan kehati-hatian agar tidak terjadi kesalahan pencatatan hasil.
Dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilakukan di RSUD Sanjiwani Gianyar selama
satu bulan terdapat sekitar satu permintaan pemeriksaan Plasma Protrombin Time (PPT) dan
Activated Partial Tromboplastin Time (APTT). Adapun permasalahan yang dialami pada
pemeriksaan APTT dan PPT ini adalah nilai dari PPT/APTT tidak terbaca oleh alat (out of
range), dimana dalam hal ini alat yang digunakan memiliki keterbatasan range pembacaan. Hasil
dari sampel yang tidak terbaca karena out of range bisa disebabkan karena adanya pemanjangan
nilai PT-APTT ataupun pemendekan nilai, hal ini dapat disebakan karena penetesan volume

reagen yang kurang tepat. Penetesan reagen setelah pengikubasian pada waktu tertentu,
dilakukan saat pada layar monitor muncul perintah aktif. Untuk pemecahan masalah dilakukan
pengulangan pengerjaan dan dipastikan prosedur yang dilakukan telah benar, apabila telah
dilakukan pengulangan pengerjaan dengan prosedur yang telah sesuai dan masih menunjukkan
hasil yang sama, maka hal tersebut bisa terjadi karena nilai PPT/APTT dari sampel darah pasien
memang memanjang sehingga tidak dapat diukur oleh alat. Selain itu perlu diperhatikan
penggunaan obat oleh pasien, dimana pasien dengan obat heparinisasi atau pengencer darah
dapat memberikan hasil yang memanjang. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan konsultasi
dengan dokter penanggung jawab pasien, apakah pasien menggunakan obat heparinisasi atau
tidak. Hasil dapat diterima dan dikeluarkan apabila pasien memang benar menggunakan obat
heparinisasi, apabila pasien tidak menggunakan obat heparinisasi maka perlu dilakukan
pengecekan kembali apakah prosedur pengerjaan sudah benar, volume sampel sudah sesuai atau
tidak , karena volume sampel yang tidak sesuai dengan ketentuan tabung Na-sitrat dapat
mempengaruhi hasil dan untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan sampling ulang.