Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM I

PENGENALAN BIOLOGI SEBAGAI ILMU

Oleh:
Putri Ayu Waningsi (1522220046)

Dosen Pembimbing:
Syarifah, M.Kes

PROGAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) RADEN FATAH
PALEMBANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Perkembangan
zaman

khususnya

manusia

telah

menjadikan
banyak

makhluk

mempelajari

hidup
bahkan

melakukan penelitian dan pengembangan (research and


development) terhadap alam kehidupan ini. Hal ini dilakukan
karena banyak faktor, yang kemudian mendapatkan masalah
dan perbedaan pendapat mengenai sesuatu yang di telitinya
terutama mengenai asal usul kehidupan. Kajian ini diuraikan
melalui beberapa peneliti dengan berbagai teorinya, yang
kemudian diikutsertakan beberapa bantahan dengan analisis
bersifat ilmiah (Kusuma, 2013).
Biologi adalah suatu disiplin ilmu sebagai bagian dari ilmu
pengetahuan alam (IPA), yakni kajian tentang materi dan
energi yang berhubungan dengan makhluk hidup serta
proses-proses kehidupannya. Perhatikan lingkungan di sekitar
tempat tinggal kalian, adakah kejadian atau hal-hal menarik
yang ingin kalian ketahui (Apriliawati, 2009).
Dengan perkembangan peradaban manusia,

orang

memperluas pengertahuannya dan mereka tertarik dalam


bidang biologi berdasarkan kebutuhan pribadi. Mereka mulai
meneliti berbagai benda untuk mengetahui berbagai hal yang
berkaitan dengan hidup (Nugroho, 2004).
Bersama dengan ilmu fisika dan ilmu kimia, biologi
merupakan

ilmu

pengetahuan

alam

(natural

sciences).

Sebagai ilmu pengetahuan, biologi bersifat dinamis yang


selalu berkembang sesuai dengan kemajuan IPTEKS (ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni). Ilmu tentang kehidupan
dengan segala kompleksitasnya diperoleh melalui berbagai
eksperomen (exploring) dan penelitian tersebut diperoleh
temuan (discovering) baru. Ilmu pengetahuan selalu diperoleh
melalui metode ilmiah dan terus mengalami perkembangan
(Nugroho, 2004).

Metode ilmiah adalah metode (cara) yang digunakan untuk


mempelajari suatu ilmu. Metode tersebut bermanfaat untuk
memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh ilmuwan.
Ilmuwan dapat memecahkan permasalahan dengan berbagai
cara yang berbeda melalui penyelidikan ilmiah (scientific
investigation).
dilakukan

Dari

penyelidikan

pengamatan,

ilmiah

interpretasi,

tersebut

akan

hipotesis,

dan

eksperimen. Ciri utama metode ilmiah adalah selalu dilakukan


secara bertahap (Nugroho, 2004).
Keingintahuan
manusia
terhadap

permasalahan

di

sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah.


Salah satunya yang berhubungan dengan makhluk hidup yang
ada di dunia ini. Untuk mempelajari lebih mendalam tentang
makhluk hidup, kita dapat mempelajarinya dengan belajar
biologi. Pada praktikum ini membahas tentang melakukan
pemecahan masalah tentang biologi sebagai ilmu. Setelah itu
membandingkan perkecambahan pada tempat gelap dan
terang.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
a. Mahasiswa belatih melakukan pemecahan masalah biologi
melalui prosedur ilmiah.
b. Mahasiswa dapat menunjukkan

sikap

ilmiah

dalam

melakukan proses-proses ilmiah.


c. Mahasiswa dapat belatih menemukan fakta dan konsep
ilmiah.
d. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh air limbah, PH
tanah, dan sinar matahari terhadap pertumbuhan dan
perkembangan perkecambahan biji.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Biologi sebagai Ilmu
Biologi

merupakan

ilmu

pengetahuan

(science)

yang

mempelajari tentang perihal kehidupan sejak beberapa juta


tahun yang lalu hingga sekarang dengan segala perwujudan
dan

kompleksitasnya,

dimulai

dari

sub-partikel

atom

hinggainteraksi antar makhluk hidup dan makhluk hidup


dengan lingkungannya (ekosistem) (Nugroho, 2004).
Biologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata bios dan
logos. Bios berarti hidup dan logos berarti ilmu atau belajar
tentang sesuatu. Jadi, biologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang sesuatu yang hidup serta masalah-masalah yang
menyangkut hidupnya (Kusuma, 2013).
Biologi adalah segala sesuatu tentang hidup, apa itu hidup,
bagaimana

prosesnya,

dan

mengapa

demikian.

Biologi

meliputi semua bentuk kehidupan, dari tumbuhan dan hewan


terbesar hingga bentuk kehidupan yang terlalu kecil untuk
dilihat, serta tentang asal mula bentuk kehidupan itu, cara
mereka berubah seiring waktu, dan cara mereka hidup
berdampingan di seluruh permukaan Bumi saat ini (Maskell,
2009).

Biologi (disebut juga ilmu kehidupan) adalah ilmu tentang


makhluk hidup. Hampir sepanjang sejarah, biologi telah
dipengaruhi oleh praktik dan ajaran agama atau kepercayaan
spiritual. Misalnya adalah gagasan yang menyatakan bahwa
benda menjadi hidup karena pengaruh beragam kekuatan
hidup. Pendekatan lebih ilmiah pada biologi menghasilkan
pembahasan modern dan lebih kompleks tentang proses
kehidupan (Apriliawati, 2009).
2.2 Cabang-cabang Biologi
Menurut Kusuma (2013), berdasarkan aspek-aspek tertentu
dari makhluk hidup yang dipelajarinya, biologi dapat dibagi
dalam beberapa cabang, yaitu:
a. Botani adalah

mempelajari semua kehidupan tumbuh-

tumbuhan.
b. Zoology adalah mempelajari semua kehidupan hewan.
c. Morfologi adalah mempelajari bentuk dan struktur suatu mahluk hidup.
d. Fisiologi adalah mempelajari sifat faal dan cara kerja dari tubuh suatu
organisme.
e. Embriologi adalah mempelajari perkembangan suatu organisme dari mulai
zigot sampai menjadi dewasa.
f. Ekologi adalah mempelajari interaksi antara makhluk hidup dan
lingkungannya.
g. Mikrobiologi adalah mempelajari segala aspek kehidupan mikroorganisme
yang berukuran mikroskopis.
h. Taksonomi adalah mempelajari klasifikasi atau pengelompokkan makhluk
hidup.
i. Genetika adalah mempelajari tentang cara menurunnya sifat pada makhluk
hidup.
j. Evolusi adalah mempelajari suksesi dan perubahan-perubahan dari jenis
makhluk hidup sepanjang waktu.
k. Sitologi adalah mempelajari susunan dan fungsi sel.
l. Patologi adalah mempelajari tenatang seluk beluk penyakit.
2.3 Struktur Organisasi Kehidupan
Semua organisme hidup dimulai dari subpartikel atom (proton, neutron,
dan electron). Tiga subpartikel itu bersama-sama menyusun atom. Dua atau

lebih atom bergabung membentuk molekul. Molekul-molekul secara bersama


menyusun komponen subseluler (organel dan sitoplasma). Komponen tersebut
merupakan bahan penyusun suatu sel dan unit terkecil dari kehidupan.
Beberapa organisme terdiri dari satu sel (uniseluler) seperti bakteri dan
Paramaecium dan banyak sel (multiseluler) yang tubuhnya terdiri dari ratusan
sampai

jutaan

sel,

tergantung

ukuran dan

kompleksitas

organisme

bersangkutan. Kelompok organisme sejenis berkumpul dalam suatu area


membentuk suatu populasi. Populasi yang berbeda saling hidup bersama
dalam lingkungan yang sama membentuk suatu komunitas, kemudian masingmasing saling berinteraksi di dalam suatu ekosistem. Selanjutnya, semua
ekosistem bergabung membentuk biosfer (Nugroho, 2004).
2.4 Ciri-ciri Makhluk Hidup
Menurut Kusuma (2013), ciri-ciri makhluk hidup adalah sebagai berikut:
a. Makhluk hidup mempunyai susunan kimia yang kompleks, di dalam tubuh
makhluk hidup terdapat sususnan kimia yang sangat rumit. Makhluk hidup
tersusun oleh satuan terkecil yang dikenal sebagai sel. Sel tersusun atas
molekul-molekul serta atom. Kemudian sel yang sama bentuk dan
fungsinya membentuk jaringan, selanjutnya membentuk organ dan sistem
organ hingga menjadi suatu individu. Berbeda dengan makhluk tak hidup
seperti batuan tidak tersusun oleh satuan-satuan dan partikel yang rumit
seperti pada makhluk hidup.
b. Makhluk hidup memerlukan energi, semua aktivitas kimia dari suatu
makhluk hidup memerlukan energi. Pada dasarnya kehidupan ini
merupakan sautu rangkaian aktivitas kimia. Oleh karena itu setiap
makhluk hidup memerlukan energi.
c. Makhluk hidup melakukan pertumbuhan dan perkembangan, hal ini dapat
terlihat adanya perubahan ukuran seperti tinggi, berat dan jumlah dari
sautu makhluk hidup. Pertumbuhan dapat terukur secara langsung namun
perkembangan bersifat fisiologi.
d. Makhluk hidup mempunyai kemampuan memperbanyak diri (reproduksi).
e. Makhluk hidup melakukan aktivitas-aktivitas fisiologi lainnya, seperti
bernafas, transpor zat, bergerak, respon terhadap rangsangan dari luar,
regulasi, ekskresi dan sebagainya.
2.5 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran yang


bersifat tidak dapat kembali ke bentuk semula. Karena,
adanya penambahan substansi dan pertambahan jumlah sel.
Sedangkan, perkembangan adalah suatu proses menuju
kedewasaan yang bersifat kualitatif dan tidak dapat di ukur
(Tjitrosoepomo, 2010).
Sementara itu, Perkecambahan adalah tumbuhnya biji
menjadi semaian. Ini dimulai ketika biji menjadi aktif di bawah
tanah, dan berakhir saat daun foliage pertama muncul di atas
tanah. Biji terdiri dari sebuah embrio atau lembaga dan
cadangan makanannya, yang dikelilingi oleh testa (kulit biji).
Embrio ini tersusun atas satu atau dua kotiloden (daun biji)
yang melekat pada sumbu sentral. Bagian atas sumbu ini
terdiri atas epikotil, yang memiliki plumula (tunas lembaga) di
ujungnya. Bagian bawah sumbu tersusun atas hipokotil dan
radikel (akar lembaga). Setelah tercerai dari tumbuhan
induknya, biji akan mengalami dehidrasi dan memasuki
periode tidak aktif (dormansi). Setelah periode istirahat ini,
perkecambahan dimulai jika biji memiliki cukup air, oksigen,
panas, dan dalam beberapa kasus, cahaya. Di tahap pertama
perkecambahan,
mengonsumsi

biji

menyerap

cadangan

air,

makanannya,

embrio
dan

mulai
radikel

membengkak, menerobos testa, dan tumbuh ke bawah.


Perkecambahan kemudian berlanjut dengan satu dari dua
cara

yang

ada,

perkecambahan

tergantung

epigeal,

hipokotil

jenis

bijinya.

memanjang,

Dalam
menarik

plumula dan kotiledon pelindungnya keluar dari dalam tanah.


Di perkecambahan hipogeal, kotiledon tetap berada di bawah
tanah dan epikotil memanjang, mendorong plumulanya ke
atas (Apriliawati, 2009).
Pada benih dengan posisi mikrofil di bawah, posisi telungkup, dan posisi
miring memiliki kesempatan terjadinya penyerapkan air yang lebih banyak

dibandingkan benih berposisi telentang maupun benih berposisi mikrofil di


atas. Posisi mikrofil dan bagian biji yang mudah dilalui molekul air sangat
menentukan jumlah air yang diserap biji melalui proses imbibisi. Pada posisi
telungkup memberikan peluang penyerapan air oleh biji lebih banyak
dikarenakan posisi mikrofil dan bagian tengah (belahan) kulit di bagian
ventral biji jarak pagar tepat pada arah atau posisi air dalam media tersedia
banyak dan mudah diserap (Santoso, 2007).
2.6 Pengaruh Hormon pada Tumbuhan
Menurut Woodruff (2001), hormon tumbuhan mengendalikan
aktivitas

meristem

dengan

demikian

mengendalikan

pertumbuhan tumbuhan. Adapun tugas hormon tumbuhan,


yaitu seperti pada tabel berikut.
Hormon
Asam absisat

Auksin

Pengaruh Utama
Contoh
a. Meanggapi cekaman a. Menanggapi cekaman
b. Biji doman
air
(kekeringan),
Pertumbuhan

luka, dan penyakit.


a.Meningkatkan panjang
taruk dan akar.
b. Menanggapi cahaya

Sitokinin
Etilena

Giberelin

Pembelahan sel
a. Pemasakan buah
b. Pengguguran daun.
Mengendalikan
pertumbuhn

dan gravitasi.
Pertumbuhan

daun,

akar, dan batang.


Pemasakan
buah
seperti

pisang,

apel,

dan tomat.
a.Tinggi akhir tumbuhan
b. Menumbuhkan
bunga.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Pelaksanaan praktikum Pengenalan Biologi sebagai Ilmu dilaksanakan
pada hari Senin, 02 November 2015 pukul 13.30 s.d selsesai WIB. Di
laboratorium Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam
Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini, yaitu sebagai
berikut.
a. 12(dua belas) buah polibag ukuran 1 kg
b. Skop kecil
3.2.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini, yaitu sebagai
berikut.
a. Biji lamtoro (Leucaena leucocephala), biji jagung (Zea mays), dan
b.
c.
d.
e.

biji kacang hijau (Vigna radiata) masing-masing 20 buah


Tanah humus
Tanah rawa
Air limbah
Lidi dan label

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum ini, yaitu sebagai
berikut.
1. Siapakan polibag dan isilah 6 (enam) polibag dengan tanah humus dan 6
(enam) pilobag dengan tanah rawa menggunakan skop kecil.
2. Siramlah masing-masing polibag yang telah diisi tanah humus dan tanah
rawa menggunakan air limbah sedikit demi sedikit.
3. Lalu tanamlah biji lamtoro, biji jagung, dan biji kacang hijau tersebut
(dalam setiap satu polibag terdiri dari 5 buah biji), kemudian siram
kembali polibag menggunakan air limbah.
4. Beri nama dan nomor masing-masing benih dalam satu polibag.
5. Letakkan 6 polibag ditempat yang terkena cahaya matahari dan 6 polibag
di tempat yang gelap.
6. Kemudian amatilah dalam jangka waktu 1 minggu.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Di ruang terbuka (terang)
Tabel 1. Pertumbuhan kacang hijau di ruang terbuka
menggunakan tanah humus
Rata
Tinggi (cm)

Biji

Keteranga
n

rata
1

Tidak
tumbuh
Pada hari ke

0,

1,

2,

3,

3,

5,

enam sudah
2,5

ada akar,
batang, dan
daun.
Pada hari
kedua sudah

0,

0,

0,

0,

1,
5

0,6

muncul
tunas dan
terus
bertumbuh.

Tidak
tumbuh

Tidak

Jumla

tumbuh

3,1

Tabel 2. Pertumbuhan biji kacang hijau di ruang terbuka


menggunakan tanah rawa
Tinggi (cm)
Biji

Rat

a-

Keteranga
n

rata
-

Tidak
tumbuh
Pada

hari

kelima
2

1,

3,

5,

7,
5

4,5

sudah

ada

akar,
batang dan
daun.
Pada

hari

kedua
sudah
3

0,

1,

1,

1,

1,

1,

1,

muncul
1,2

tunas

dan

tidak

ada

perkembang
an
selanjutnya.
4

Tidak
tumbuh

0,

3,

4,

5,

6,

7,

Jumla

3,9

9,6

Tabel 3. Pertumbuhan biji jagung di ruang terbuka


menggunakan tanah humus
Rat
Tinggi (cm)

Biji

a-

Keterangan

rata
1

7
Pada hari ke
tiga,

0,

0,

1,

1,

kulit

mengelupas
0,7

dan

hari

berikutnya
bertambah
tinggi.
Pada hari ke
tiga,

0,

0,

1,

1,

kulit

mengelupas
0,7

dan

hari

berikutnya
bertambah
tinggi.
Pada hari ke
tiga,

0,

0,

0,

1,
3

kulit

mengelupas
0,6

dan

hari

berikutnya
bertambah
tinggi.

Pada hari ke
4

1,

2,

4,

5,

6,

7,

enam sudah
27,5 ada
batang,

akar,
dan

daun.
Pada hari ke
dua,
5

0,

0,

0,

1,

1,

kulit

mengelupas
5

dan

hari

berikutnya
bertambah
tinggi

Jumla

34,6

Tabel 4. Pertumbuhan biji jagung di ruang terbuka


menggunakan tanah rawa
Rat
Tinggi (cm)

Biji

a-

Keterangan

rata
1

7
Pada hari ke
tiga,

0,
6

1,

1,

1,

kulit

mengelupas
0,8

dan

hari

berikutnya
bertambah

0,
6

1,

1,

1,

0,8

tinggi
Pada hari ke
tiga,

kulit

mengelupas
dan

hari

berikutnya
bertambah

tinggi
Pada hari ke
tiga,
3

1,

1,

mengelupas

2,

kulit

1,3

dan

hari

berikutnya
bertambah
tinggi
Pada hari ke

1,

3,

4,

5,

6,

7,

enam, sudah
ada

akar,

batang, daun
Pada hari ke
tiga,
5

0,

0,

1,

1,

1,

kulit

mengelupas
0,8

dan

hari

berikutnya
bertambah
tinggi

Jumla

12,7

Tabel 5. pertumbuhan biji lamtoro di ruang terbuka


menggunakan tanah humus
Rat
Tinggi (cm)

Biji

a-

Keterangan

rata
1

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Jumla

Tabel 6. Pertumbuhan biji lamtoro di ruang terbuka


menggunakan tanah rawa
Tinggi (cm)
Biji

Rat
a-

Keterangan

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

rata

Jumla

Tidak tumbuh

Di tempat tertutup (gelap)


Tabel 1. Pertumbuhan bijin kacang hijau di ruang tertutup
menggunakan tanah humus
Rat
Tinggi (cm)

Biji

a-

Keterangan

rata
1

7
Memiliki
helai

0,

0,

0,

2,

7,2

2
daun

pada hari ke
4-7, berwarna
hijau
kekuningan
Hanya
bertambah

1,

1,

2,

1
5

4,8

ukuran,
belum
memiliki helai
daun
Hanya
bertambah

0,

0,

4,8

ukuran,
belum
memiliki helai
daun

Hanya
bertambah
4

0,

1,

1,

1
5

4,5

ukuran,
belum
memiliki helai
daun
Memiliki
helai

0,

2,

2,

2,

7,1

2
daun

pada hari ke
4-7, berwarna
hijau
kekuningan

Jumla

27

Tabel 2. Pertumbuhan kacang hijau di ruang tertutup


menggunakan tanah rawa
Rat
Tinggi (cm)

Biji

a-

Keterangan

rata
1

7
Memiliki
helai

1,

1,

8,3

2
daun

pada hari ke
4-7, berwarna
hijau

0,

1,

1,

kekuningan
14,5 Semua
tanaman
memiliki
helai

2
daun

berwarna
hijau
kekuningan

pada hari ke
4-7
Semua
tanaman
memiliki
3

0,

2,

2,

2,

1
4

helai
4,8

2
daun

berwarna
hijau
kekuningan
pada hari ke
4-7
Semua
tanaman
memiliki

0,

2,

2,

helai

2
daun

14,5 berwarna
hijau
kekuningan
pada hari ke
4-7
Semua
tanaman
memiliki

0,
6

2,
3

helai

2
daun

12,9 berwarna
hijau
kekuningan
pada hari ke
4-7

Jumla
h

55

Tabel 3. Pertumbuhan biji lamtoro di ruang tertutup


menggunakan tanah humus
Rat
Tinggi (cm)

Biji

a-

Keterangan

rata
1

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Jumla

Tabel 4. Pertumbuhan biji lamtoro di ruang tertutup


menggunakan tanah rawa
Rat
Tinggi (cm)

Biji

a-

Keterangan

rata
1

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Tidak tumbuh

Jumla

Tabel 5. Pertumbuhan biji jagung di ruang tertutup


menggunakan tanah humus
Rat
Tinggi (cm)

Biji

a-

Keterangan

rata
1

7
Tumbuh

0,

0,

10,
5

pada hari ke
14,2 dua,

tidak

memiliki
helai daun
Tumbuh

0,

0,

0,

6,
5

pada hari ke
11

13,5 dua,

tidak

memiliki
helai daun

Tidak
tumbuh

Tidak

tumbuh
Tumbuh

0,

0,

0,

0,

pada hari ke
1

1,5

3,4

dua,

tidak

memiliki
helai daun

Jumla

31,1

Tabel 6. Pertumbuhan biji jagung di ruang tertutup


menggunakan tanah rawa
Rat
Tinggi (cm)

Biji

a-

Keterang
an

rata
1

7
Pada

hari

ke

4-7,

tumbuh
1

1,

1,

12

18

22,
1

dan
8,7

memiliki
helai daun
yang
berwarna

2,

2,

15

17, 22
5

9,8

kuning
Pada hari
ke

4-7,

tumbuh
dan
memiliki
helai daun
yang
berwarna

kuning
Pada

hari

ke

4-7,

tumbuh
3

1,
2

11,
5

dan
16

19

7,9

memiliki
helai daun
yang
berwarna
kuning
Pada hari
ke

4-7,

tumbuh
4

0,

0,

4,5

7,5

19,
5

dan
5,2

memiliki
helai daun
yang
berwarna
kuning

Jumla
h

Tidak
tumbuh

31,6

4.2 Pembahasan
Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran dan
volume dari makhluk hidup yang bersifat irreversible. Proses
pertumbuhan dipengaruhi oleh hormon auksin yang berasal
dari sinar matahari. Ketika tumbuhan terkena sinar matahari
akan mengalami lambatnya proses perkecambahan, tetapi

akan

mengalami

pertambahan

volume

yang

cepat.

Pertumbuhan tumbuhan terjadi karena adanya pertambahan


jumlah sel dan pembesaran sel.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa, pertumbuhan pada tumbuhan
berlangsung terbatas pada beberapa bagian tertentu, yang
terdiri dari sejumlah sel yang baru saja dihasilkan melalui
proses pembelahan sel di meristem. Pertumbuhan (menurut
batasan

di

atas,

yaitu

pertambahan

ukuran)

mudah

dirancukan dengan pembelahan sel di meristem. Pembelahan


sel itu sendiri tidak menyebabkan pertambahan ukuran,
namun produk pembelahan sel itulah yang tumbuh dan
menyebabkan pertumbuhan (Salisbury, 1992).
Perkecambahan adalah tahap awal perkembangan tahap
awal pada tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Tahap ini,
embrio didalam biji yang semula berada pada kondisi dorman
mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan
ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini
dikenal dengan kecambah. Proses perkecambahan dapat
dicapai melalui deferensiasi. Deferensiasi adalah proses
perubahan pada sel, jaringan, dan organ. Untuk membentuk
struktur dan fungsi tertentu. Deferensiasi merupakan awal
terbentuknya organ-organ, seperti akar, batang, dan daun.
Pada tumbuhan berbiji pertumbuhan dan perkembangan
diawali

dengan

perkecambahan.

Perkembangan

dimulai

dengan proses penyerapan air oleh biji (imbibisi). Proses ini


menyebabkan enzim-enzim pada biji menjadi bersifat aktif.
Berbagai zat makanan kemudian dipecah untuk dihasilkan
energi atau untuk menyusun stuktur tubuh tumbuhan.
Oksigen diperlukan dalam respirasi sel untuk menghasilkan
energi. Selain itu, perkecambahan juga membutuhkan suhu
yang tepat untuk aktifitas enzim. Jika daun pertama sudah
terbentuk, dimulailah proses fotosintesis.

Berdasarkan posisi kotiledon dalam proses perkecambahan


dikenal perkecambahan hipogeal dan epigeal. Hipogeal
adalah

pertumbuhan

memanjang

dari

epikotil

yang

menyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan


muncul diatas tanah, seperti terjadi pada tanaman jagung
(Zea mays). Epigeal, hipokotil tumbuh memanjang, sehingga
kotiloden dan plumula terdorong ke permukaan tanah, seperti
terjadi pada tanaman kacang hijau (Vigna radiata) dan lamtoro
(Leucaena leucocephala).
Perkecambahan pada jagung, kacang hijau, dan lamtoro
pada praktikum kali ini dipengaruhi oleh sinar matahari, PH
tanah, dan air limbah. Pada tumbuhan yang terkena sinar
matahari memiliki batang yang kuat dan daun yang lebih
hijau dibandingkan tumbuhan yang tidak terkena sinar
matahari. Tumbuhan yang hidup ditanah humus lebih cepat
berkecambah daripada yang hidup di tanah rawa, karena
tanah humus memiliki PH sekitar 6-6,8 sedangkan tanah
rawa memiliki PH sekitar 4 yang memiliki sifat sangat asam.
Faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan

yaitu,

cahaya

tanpa

adanya

cahaya,

tumbuhan tidak akan mampu berfotosintesis dengan baik


dan menyebabkan tumbuhan terganggu pertumbuhannya.
Hal ini sesuai teori Nugroho (2004), cahaya juga merupakan
faktor penghambat pertumbuhan. Hormon auksin menjadi
tidak aktif ketika ada cahaya. Hal ini menyebabkan tumbuhan
yang ditanam ditempat terkena cahaya matahari menjadi
lebih pendek dibanding tumbuhan yang ditanam ditempat
gelap. Kekurangan cahaya pada saat perkecambahan akan
menyebabkan batang kecambah akan tumbuh lebih cepat
tetapi lemah dan berwarna kuning pucat.
Faktor berikutnya adalah air, tanpa air tumbuhan tidak
dapat hidup. Air mempunyai fungsi sebagai pelarut unsur-

unsur yang diambil oleh tumbuhan. Pada percobaan kali ini


penyiraman menggunakan air limbah, karena air limbah
memiliki kandungan H2O murni yang sangat dibutuhkan pada
pertumbuhan. Berikutnya kelembapan, kelembapan berkaitan
dengan

air.

perkecambahan.

Air

sangat

dibutuhkan

Kelembapan

yang

pada

proses

terlalu

tinggi

menyebabkan penguapan yang terjadi sedikit.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan

praktikum

yang

telah

dilakukan,

perkecambahan di ruang terbuka (terang) dapat diketahui


bahwa biji yang tumbuh di tanah humus akan memiliki
batang yang kokoh atau kuat dan daun yang hijau. Biji yang
tumbuh pada tanah rawa yang disinari matahari, biji akan
cenderung

mengalami

perkecambahan

yang

lambat.

Sedangkan, perkecambahan dir yang tertutup (gelap) dapat


diketahui bahwa biji akan cepat tumbuh pada proses awal,
namun pada proses selanjutnya mengalami pertumbuhan
yang lambat, seperti batang yang kurang kokoh, daun yang
berwarna kekuning-kuningan.
5.2 Saran
Sebaiknya sebelum penanaman, biji dilakukan perendaman
terlebih dahulu untuk memecah dormansi biji itu sendiri.
Selain itu, kondisi pencahayaan lebih dimaksimalkan baik
penempatan di tempat gelap maupun terang.

DAFTAR PUSTAKA
Apriliawati, Anis. 2009. Ensiklopedia IPA. Jilid II. Jakarta: PT
Lentera Abadi.
Apriliawati, Anis. 2009. Ensiklopedia Sains dan Teknologi. Jilid II.
Jakarta: PT Lentera Abadi.
Kusuma.
2013.
Biologi
Sebagai
Ilmu.
Website:
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196
805091994031KUSNADI/BUKU_SAKU_BIOLOGI,KUSNADI_dkk/KBab.Biologi_
sbg_ilmu.pdf. Diakses tanggal 12 November 2015, pada
pukul 16:00 WIB.
Maskell, Hazel. 2009. Memahami Biologi. Jakarta: Erlangga.
Nugroho, L. Hartanto dan Issirep Sumardi. 2004. Biologi. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Salisbury, Frank B dan Cleon W Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan.
Jilid III. Bandung: ITB Bandung.
Santoso, Bambang B. 2007. Tinjauan Agro-Morfologi Perkecambahan Biji Jarak
Pagar.
http://Publikasi.TinjauanMorfo-AgronomiPerkecambahan
JarakPagar.pdf+jurnal+tentang+perkecambahan
Diakses tanggal 12
November 2015, pada pukul 16.00 WIB.
Tjitrosoepomo,
Gembong.
2010.
Taksonomi
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tumbuhan.

Woodruff, Jhon dan Shaun Barrington.


Tumbuhan. Bandung: Pakar Raya.

Volume

2001.