Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH FISIOLOGI HEWAN

EFEKTOR PADA PISCES, AMFIBI DAN REPTIL

KELOMPOK 9:
AZMUL FAUZY NUR (H0411910
FAUSIA (H041191065)
MUSDALIFAH (H0411910

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya haturkan kepada Allah SWT. yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Fisiologi Hewan.
Keberhasilan dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak. Maka dari itu penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Penyusun
menyadari bahwa makalah ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu,
kritik yang membangun dari semua pihak sangat kami harapkan demi makalah ini.
Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Makassar, 11 April 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
I.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
I.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 2
I.3 Tujuan .................................................................................................... 2
BAB 2 ISI......................................................................................................... 3
II.1 Pengertian Efektor ................................................................................
II.2 Efektor pada Pisces ...............................................................................
II.3 Efektor pada Amfibi .............................................................................
II.4 Efektor pada Reptil ...............................................................................
BAB III PENUTUP .........................................................................................
III.1 Kesimpulan ..........................................................................................
III.2 Saran ....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

ii
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Seluruh aktivitas didalam tubuh manusia diatur oleh sistem saraf. Denyut

jantung, pernafasan, pencernaan, dan urinariadikontrol oleh sistem saraf. Sistem

saraf juga mengatur aliran darah, dan konsentrasi osmotik darah. Sistem

koordinasi merupakan suatu sistem yang mengatur kerja semua sistem organ agar

dapat bekerja secara serasi. Sistem koordinasi itu bekerja untuk menerima

rangsangan, mengolahnya dan kemudian meneruskannya untuk menaggapi

rangsangan. Setiap rangsangan-rangsangan yang kita terima melalui indera kita,

akan diolah di otak. Kemudian otak akan meneruskan rangsangan tersebut ke

organ yang bersangkutan.

Untuk bereaksi terhadap rangsangan, tubuh manusia memerlukan reseptor,

sistem saraf, dan efektor. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan kerja

seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor, sistem saraf, dan efektor. Reseptor

atau disebut juga penerima merupakan suatu struktur yang mampu mendeteksi

rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Organ indra kita

adalah reseptor (penerima rangsang). Pada indra terdapat ujung-ujung saraf

sensori yang peka terhadap rangsang tertentu. Rangsangan yang di terima di

teruskan melalui serabut saraf sebagai impuls saraf. Sedangkan efektor merupakan

struktur yang melaksanakan aksi sebagai jawaban terhadap impuls yang datang

padanya. Efektor yang penting pada hewan adalah otot dan kelenjar.

Oleh karena itu, makalah ini dibuat untuk mengetahui bagaimana efektor

pada pisces, amfibi dan reptil.


I.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini yaitu:

1. Apa yang dimaksud efektor?

2. Bagaimana efektor pada pisces?

3. Bagaimana efektor pada amfibi?

4. Bagaimana efektor pada reptil?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan penyusunan makalah ini yaitu:

1. Mengetahui pengertian efektor

2. Mengetahui efektor pada pisces

3. Mengetahui efektor pada amfibi

4. Mengetahui efektor pada reptil


BAB II
ISI

II.1 Pengertian Efektor

Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap

rangsangan. Contohnya otot dan kelenjar. Respons atau tanggapan organisme

terhadap stimulus dari lingkungan luar adalah melalui sistem yang melibatkan

khusus yang terdiri dari sel atau kumpulan sel. Kumpulan sel atau organ penghasil

tanggapan ini disebut dengan organ efektor. Tanggapan yang dihasilkan oleh

efektor sangat bervariasi mulai dari tanggapan yang dapat jelas dilihat mata,

seperti gerakan tubuh yang dihasilkan jaringan otot, sampai kepada gerakan yang

tidak bisa dilihat mata seperti perubahan beberapa aspek metabolisme akibat kerja

hormon. Contoh organ efektor adalah otot, silia, flagela, pseudopodia, organ

elektrik, organ luminesen dan kromatofor.

II.2 Efektor pada Pisces

A. Otot Bergaris (Urat Daging Bergaris)

Disebut otot bergaris karena serabutnya memperlihatkan garis-garis

melintang dengan banyak inti tersebar pada bagian-bagian pinggirnya. Otot

ini disebut juga otot rangka karena melekat pada rangka atau kulit, dan

disebut voluntary karena kerjanya dipengaruhi oleh rangsangan otak. Bila

dilihat secara keseluruhan, otot bergaris pada seluruh tubuh ikan terdiri dari

kumpulan blok otot atau urat daging. Tiap-tiap blok otot dinamakan myotome

(pada saat embrio disebut myomer). Pada urat daging yang menempel pada

tubuh ikan sebelah kiri dan kanan, dari belakang kepalan sampai ke batang

ekor myotome tersusun menurut pola tertentu yang bias dibedakan menjadi
dua tipe yaitu Cyclostomine yang ditemukan pada kelompok agnatha dan

Piscine yang ditemukan pada kelompok ikan Elasmobranchii dan Teleostei.

B. GnRH (Gonadotropic Releasing Hormone)

Faktor lingkungan merupakan stimuli yang dapat ditangkap oleh alat

indera ikan seperti kulit, mata dan hidung. Informasi berasal dari lingkungan

sampai di otak melalui reseptor yang terdapat pada masing-masing organ

sensori. Selanjutnya melalui ujung-ujung saraf akan diteruskan ke

hipotalamus untuk mengeluarkan Gonadotropic releasing hormone (GnRh)

yang dapat merangsang kelenjar hipofisa anterior untuk memproduksi

hormone gonadotropic (GtH). Hormon gonadotropic ini melalui aliran darah

akan menuju ke gonad,kemudian akan merangsang pertumbuhan gonad yang

selain mendorong pertumbuhan oosit juga untuk memproduksi hormone

steroid yang merupakan mediator langsung untuk pemijahan.


II.3 Efektor pada Amfibi

Katak pohon mengubah warna kulitnya untuk menyamarkan diri. Saat

bertengger di permukaan daun hijau, warna katak pohon berubah menjadi hijau.

Tatkala berada di antaradaun-daun cokelat, kulit katak pohon pun berubah

warna menjadi cokelat berbintik-bintik.Penyamaran warna ini berguna untuk

melindungi katak dari musuh. Berkat penyamaran warna pula, mangsa katak

pohon tak menyadari kehadiran katak sehingga tak sempat menghindar sewaktu

katak pohon menyergap.Suhu panas dan suhu dingin juga mendorong katak pohon

berubah warna. Jika udara panas,katak pohon akan segera mencari tempat yang

cerah.

Akibatnya, warna kulit katak pohon punmenjadi cerah. Karna cerah ini

memantulkan sinar matahari, sehingga tubuh katak menjadidingin. Sebaliknya,

jika udara dingin dan basah, kulit katak berubah menjadi gelap agar bisamenyerap

panas.Katak pohon dapat mengubah warna kulitnya karena memiliki sel penghasil

warna ataukromato"ora pada kulit bagian dalamnya. Kromatofora pada katak

terdiri atas xantofor yang berisi Zat warna kuning dan merah, iridofor yang berisi

keping-darah kristal, dan melanofor yang berisi Zat warna hitam dan cokelat.

ottak kataklah yang mengatur semua perubahan warna kulit agar sesuai situasi dan

kondisi.

A. OTOT

Tubuh katak mengandung tiga macam otot, yaitu berserat halus (otot

polos), otot jantung, dan otot berserat melintang (otot lurik). Perbedaan ini

berdasarkan susunan secara mikroskopis dan fisiologis. Otot terdidri atas

serat ¨C serat yang satu sama lain digabung oleh jaringan ikat. Kedua ujung
biasanya melekat pada tulang yang berlainan. Bagian central yang pasif

disebut origin sedang bagian distal yang merupakan bagian yang aktif

bergerak disebut insertion. Banyak otot yang memiliki perluasan dengan

jaringan ikat sehingga dapat membungkus sebelah ujung tulang yang disebut

tendon.

Otot daging yang dipengaruhi oleh saraf (Otot lurik) dibagi atas 3 bentuk

struktur umum :

A. Otot daging yang melebar dan pipih misalnya m. obliqus externus dan

transverses yang membentuk dinding abdomen

B. Otot daging gililk (silindris) dengan ujung yang menyisip, misalnya

biceps

C. Otot daging sphincter dengan serat melingkar, misalnya sphincter yang

berfungsi untuk menutup anus


Dalam berbagai gerakan tubuh, beberapa otot daging bereaksi bersama ¨C

sama dengan beberapa kontraksi. Koordinasi dalam hal ini ddilakukan oleh

system saraf. Tiap ¨C tiap serat atau berkas otot mempunyai akhir ujung saraf

motoris yang membawa perintah untuk merangsang kontraksi.

B. KELENJAR

Sebagian besar amfibi memiliki kelenjar granular dan kelenjar mukus.

Meskipun keduanya mirip dalam beberapa hal, kelenjar granular

memproduksi zat obnoxious (menjijikan) atau racun untuk melindungi diri

dari musuh. Kelenjar mukus dan granular atau kelenjar racun dikelompokkan

sebagai kelenjar alveolar. Kelenjar alveolar adalah kelenjar yang tidak

mempunyai saluran pengeluaran, tetapi produknya dikeluarkan lewat dinding

selnya sendiri secara alami. Akan tetapi ada juga beberapa amfibi yang

mempunyai kelenjar alveolar tubuler, kelenjar demikian ini sering ditemukan

di ibu jari pada katak dan kodok dan terkadang juga ditemukan di bagian

dadanya. Kelenjar ini menjadi fungsional selama musim reproduksi dan

mengeluarkan cairan yang membantu pejantan dalm melekatkan diri ke betina

selama musim kawin, bahkan pada salmander terdapat tubular pada dagu

pejantannya yang mengeluarkan cairan khusus untuk menarik betina selama

musim reproduksi.

II.4 Efektor pada Reptilia

Sistem otot pada reptil mengalami modifikasi untuk mendukung organ-

organ vissera, berat badan, dan juga untuk memungkinkan beberapa jenis gerakan.

Begitu juga dengan otot-otot respirasi telah teradaptasi untuk kehidupan di darat

dan berkembang dengan baik. Reptilia memiliki sistem otot daging yang lebih
kompleks bila dibandingkan dengan amfibia, karena otot daging harus

mendukung tubuh di daratan yang bersifat lebih berat dari pada di dalam air.

Selain itu juga untuk gerakan-gerakan yang sifatnya harus cepat (Jasin, 1984:

273). Kadal dan buaya memiliki kekuatan pada rahang karena didukung oleh otot

adduktor pada rahang. Otot ini muncul dari fossa temporal dan menyisip pada

sudut kanan untuk membuka rahang. Otot-otot adduktor memanjang dari daerah

temporal menuju rahang bawah. Otot adduktor yang utama adalah otot

pterigoideus, yang muncul dari tulang-tulang pterigoid pada langit-langit dan

menyisip pada bagian posterior rahang bawah. Otot pterigoideus memberi

penampakan yang gemuk pada rahang kadal jantan. Otot depresor mandibula

berperan membuka rahang, muncul dari bagian belakang tengkorak dan menyisip

pada prosesus retroartikular dari mandibula, otot ini lebih lemah dibandingkan

otot-otot lain yang juga berperan menutup rahang (Faisal, 2012). Otot aksial (otot

badan) reptil mulai menunjukkan beberapa spesialisasi seperti yang ditemukan

pada mamal.

Otot reptil terutama untuk gerakan lateral tubuh dan menggerakkan ruas-

ruas tulang belakang. Hal ini bisa diamati terutama pada bangsa ular sebab

jaringan otot lengan sudah menghilang. Otot rangka pada kura-kura dan

kerabatnya sangat berkurang kecuali pada daerah leher akibat adanya karapaks

dan plastron. Dermal atau otot kulit berkembang baik pada reptil, dan

perkembangan yang sangat baik terjadi pada ular. Jaringan otot tungkai pada reptil

menunjukkan variasi bergatung pada tipe gerakannya (Sukiya, 2003). Otot

epaksial berada pada permukaan dorsal, sementara otot hipaksial berada pada

permukaan ventral dan diantara kosta. Otot-otot epaksial kurang mengalami


modifikasi jika dibandingkan dengan otot-otot hipaksial, otot-otot epaksial juga

kehilangan sifat metamerisme dan tersusun dalam berkas serabut otot. Disamping

fungsinya yang memungkinkan gerakan dari satu sisi ke sisi yang lain pada

kolumna vertebra, otot-otot epaksial juga melakukan fungsi yang lain yaitu

mendukung, meluruskan atau membengkokkan kolumna vertebra. Tulang rusuk

terbentuk dalam miosepta dari otot-otot dinding tubuh sepanjang kolumna

vertebra pada sebahagian besar Ular.

Terdapat 20 otot yang berbeda pada masing-masing sisi dari setiap ruas

vertebra, otot-otot tersebut menghubungkan antara satu vertebra dengan vertebra

yang lain, antara vertebra dengan tulang rusuk, dan antara tulang rusuk dan

vertebra dengan kulit, serta membantu membentuk dan mengontrol lekukan tubuh.

Otot-otot pada dinding abdominal tidak mengalami segmentasi dan memiliki tiga

lapisan, yaitu eksternal oblique, internal oblique, dan abdominal transversal. Otot-

otot hipaksial pada dinding tubuh bagian dada dikenal sebagai otot-otot interkosta,

membantu mengangkat dan menurunkan sangkar rusuk dalam proses respirasi.

Otot-otot pada tungkai, gelang bahu, dan gelang pinggul terdiri dari otototot

ekstensor dorsal dan otot-otot fleksor ventral.

Dalam membentuk gerakan kuadrupedal, otot-otot yang menempel pada

humerus dan femur mesti merotasi tulang-tulang tersebut ke depan dan ke

belakang dengan tetap mempertahankan dalam posisi horizontal pada sudut yang

tepat, sehingga tubuh tetap berada diatas substrat. Otot-otot segmental berperan

menghubungkan sisik ventral dengan kosta, kontraksi otot-otot segmental juga

membantu ular bergerak ke depan.

Otot-otot pada lengkung faringeal yang pertama berlanjut untuk


menggerakkan rahang dan otot-otot pada lengkung faringeal yang kedua

menempel pada rangka hioid. Otot-otot pada sisa lengkung berhubungan dengan

faring dan laring. Otot-otot integumen ekstrinsik menyisip pada permukaan bawah

dermis dan memungkinkan gerakan bebas bagi kulit (Faisal, 2012). Otot-otot pada

lengkung faringeal yang pertama berlanjut untuk menggerakkan rahang dan otot-

otot pada lengkung faringeal yang kedua menempel pada rangka hioid. Otot-otot

pada sisa lengkung berhubungan dengan faring dan laring. Otot-otot integumen

ekstrinsik menyisip pada permukaan bawah dermis dan memungkinkan gerakan

bebas bagi kulit (Faisal, 2012).

Fungsi-fungsi otot pada reptile :

1. Trapezius : untuk memperkuat bahu.

2. Latissimus dorsi : untuk memperkuat punggung.

3. Interkosta : untuk mengangkat rusuk.

4. Rectus abdominis : untuk mengempiskan dinding perut.

5. Transverses : untuk menekan perut, menegangkan dan menarik dinding

perut.

6. External oblique : rotasi thoraks ke sisi yang berlawanan.

7. Internal oblique : untuk rotasi thoraks ke sisi yang sama.

8. Extensors : pergerakan pergelangan tangan


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan uraian materi di atas, dapat disimpulkan bahwa efektor pada

pisces, amfibi, maupun reptil terbagi atas dua yakni otot dan kelenjar. Otot pada

Pisces dibedakan menjadi urat daging licin, urat daging jantung dan urat daging

bergaris. Sedangkan kelenjarnya yang paling berperan adalah GnRH dalam proses

reproduksi. Begitupula dengan Amfibi, ototnya digunakan untuk bergerak dan

melakukan aktivitas, sedangkan kelenjar digunakan untuk bereproduksi. Pada

Reptil, efektor yang paling berperan adalah otot, di mana otot pada reptil memiliki

sejumlah fungsi yang berbeda-beda.


DAFTAR PUSTAKA

Campbel, N. A., Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A.,
Minorsky, P. V., Jackson, R. B. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Lestariningrum, A., 2020, Efektor, Jurnal Ilmiah, 7(2): 1-5.

Nessa, M., 1985, Mekanisme dan Daya Renang Ikan, Oseana, 10(1): 31-38.

Rahmadina, 2019, Modul Ajar Taksonomi Vertebrata, UIN Sumatera Utara.