Anda di halaman 1dari 16

Aplikasi Enzim dalam Bidang Diagnosis

dan Terapi Penyakit Pada Manusia


Kelompok 6
01 Ni Kade Fionika Cintya
 H041191053

02 Theresia Mawar P.
 H041191061

03 Fausia
 H041191065

04 Musdalifah
 H041191066
Pembahasan

Pengertian Enzim

PemanfaatanPowerPoint
Enzim Dalam
Bidang Diagnosa Penyakit
Presentation

Pemanfaatan Enzim Dalam


Pengobatan/Terapi Penyakit
Apa Itu Enzim?
Enzim adalah biokatalisator, yaitu sebuah zat/protein
yang mempercepat reaksi kimia tanpa menjadi reaktan.
Untuk mengkatalisis suatu reaksi, maka enzim harus
berikatan dengan satu atau lebih molekul reaktan yang
disebut substrat. Enzim merupakan biomolekul yang
mengkatalis reaksi kimia, di mana hampir semua enzim
adalah protein.
Enzim dapat meningkatkan kecepatan reaksi kimia
secara nyata dan sangat spesifik. Kecepatan reaksi enzim
sangat dipengaruhi secara nyata dan spesifik. Kecepatan
reaksi enzim sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor di
antaranya suhu, pH, substrat, konsentrasi dan lain
sebagainya.
Pemanfaatan Enzim Dalam
Diagnosa Penyakit

1 2 3
Enzim sebagai Enzim sebagai Enzim sebagai
petanda suatu petanda
(marker) reagensia pembantu dari
diagnosis reagensia
Pemanfaatan Enzim Dalam Diagnosa Penyakit

1. Enzim Sebagai Petanda 2. Enzim Sebagai


(Marker) Reagensia Diagnosis
 Enzim sebagai petanda (marker) dari  Sebagai reagensia diagnosis, enzim
kerusakan suatu jaringan atau organ dimanfaatkan menjadi bahan untuk
akibat penyakit tertentu. mencari petanda (marker) suatu
 Penggunaan enzim sebagai petanda dari senyawa.
kerusakan suatu jaringan mengikuti  Dengan memanfaatkan enzim,
prinsip bahwasanya secara teoritis enzim keberadaan suatu senyawa petanda
intrasel seharusnya tidak terlacak di yang dicari dapat diketahui dan diukur
cairan ekstra sel dalam jumlah yang berapa jumlahnya.
signifikan.
 Kelebihan penggunaan enzim sebagai
 Pada kenyataannya selalu ada bagian
suatu reagensia adalah pengukuran
kecil enzim yang berada di cairan ekstra yang dihasilkan sangat khas dan lebih
sel. spesifik dibandingkan dengan
 Apabila enzim intra sel terlacak di dalam pengukuran secara kimia. (enzin
cairan ekstra sel dalam jumlah lebih terisolasi dan murni)
besar dari yang seharusnya, atau
 Enzim tsb mampu digunakan untuk
mengalami peningkatan yang mengukur kadar senyawa yang
bermakna/signifikan, maka dapat jumlahnya sangat sedikit, serta
diperkirakan terjadi kematian (yang diikuti praktis karena kemudahan dan
oleh kebocoran akibat pecahnya ketepatannya dalam mengukur.
membran) sel secara besar-besaran.
.
Pemanfaatan Enzim Dalam Diagnosa Penyakit

3. Enzim sebagai petanda


pembantu dari reagensia Teknik imunoenzimatik

 Sebagai petanda pembantu dari reagensia, • Pada teknik imunoenzimatik ELISA (Enzim
enzim bekerja dengan memperlihatkan Linked Immuno Sorbent Assay), antibodi
reagensia lain dalam mengungkapkan mengikat senyawa yang akan diukur, lalu
senyawa yang dilacak. antibodi kedua yang sudah ditandai dengan
enzim akan mengikat senyawa yang sama.
 Senyawa yang dilacak dan diukur sama sekali
bukan substrat yang khas bagi enzim yang • Kompleks antibodi-senyawa-antibodi ini lalu
digunakan. direaksikan dengan substrat enzim, hasilnya
adalah zat berwarna yang tidak dapat
 Selain itu, tidak semua senyawa memiliki diperoleh dengan cara imunosupresi biasa.
enzimnya, terutama senyawa-senyawa
sintetis. Oleh karena itu, pengenalan terhadap • Zat berwarna ini dapat digunakan untuk
substrat dilakukan oleh antibodi. menghi tung jumlah senyawa yang
direaksikan. Enzim yang lazim digunakan
 Dalam hal ini enzim berfungsi dalam dalam teknik ini adalah peroksidase,
memperlihat kan keberadaan reaksi antara fosfatase alkali, glukosa oksidase, amilase,
antibodi dan antigen. Contoh penggunaannya galaktosidase, dan asetil kolin transferase
adalah sebagai berikut:
Aplikasi Enzim Untuk Diagnosa Penyakit
1. Enzim Aminotransferase pada penyakit DBD 2. Enzim Urease
 Enzim ini ditemukan dalam sitosol dan mitokondria dari sel-sel Urease disebut juga urea amidohidrolases. Ureases
di seluruh tubuh. Aminotransferase bertindak mentransfer merupakan enzim yang mengkatalis hidrolisis dari urea
gugus amino dari asam amino ke bagian piridoksal dari menjadi karbon dioksida dan ammonia
koenzim untuk menghasilkan fosfat pyridoxamine.
Pyridoxamine dari koenzim kemudian bereaksi dengan asam α- 3. Angiotensine Converting Agent (ACE) pada
keto untuk membentuk asam amino. sarcoidosis
 Reaksi aminotransferase penting dikatalisasi oleh dua enzim
yaitu Serum transaminase yaitu AST (Aspartate Amino ACE mengkonversi angiotensin I menjadi angiotensin II. Enzim
Transferase) atau SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetat ini membantu untuk mengontrol tekanan darah. Pengukuran
Transaminase) dan ALT (Alanine Amino Transferase) atau kadar ACE dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit
SGPT (Serum Glutamic Pyruvate Transaminase) sarcoidosis. Kadar normal ACE dalam darah adalah 8-53
 Berikut ini gambar reaksi katalisis dari dua enzim tersebut: mikroliter pada orang dewasa. Sarkoidosis adalah suatu
penyakit yang berhubungan dengan proses peradangan.
Penyakit ini ditandai dengan adanya granuloma dan daerah
kecil yang berisi sel-sel radang. Sarkoidosis bisa terdapat di
bagian dalam tubuh dan bisa pula pada bagian luar tubuh.

4. Fosfatase alkali
Enzim ini dugunakan untuk mendeteksi penyakit hati seperti
penyumbatan saluran empedu dan juga penyakit tulang
Aplikasi Enzim Untuk Diagnosa Penyakit
5. Enzim pankreas pada pankreatitis akut
Terdapat tiga enzim yang berasal dari sel-amilase asinar pankreas yang dapat digunakan
untuk mendiagnosis penyakit ini yaitu:
1. Enzim Amilase
Amilase adalah hidrolase glikosida terutama diproduksi di pankreas dan kelenjar ludah
dan dalam jumlah yang sangat kecil di jaringan lain. Enzim amilase dapat menjadi
penanda biokimia yang paling umum digunakan untuk diagnosis pankreatitis akut,
tetapi sensitivitas berkurang dengan terjadinya hipertrigliseridemia, dan alkoholisme
kronis. Pankreatitis akut biasanya ditandai dengan nyeri hebat pada perut bagian atas
yang menyebar ke punggung dan disertai dengan mual dan muntah.
2. Enzim lipase
Lipase memiliki sensitivitas dan spesifisitas masing-masing adalah 80% dan 60%.
Konsentrasi serum meningkat lipase dalam 3-6 jam dari onset penyakit dan puncak
dalam waktu 24 jam. Berbeda dengan amilase, lipase diserap dalam tubulus ginjal
dan tetap lama pada konsentrasi yang lebih tinggi, sehingga memberikan sensitivitas
yang lebih besar pada pasien dengan manifestasi klinis yang terlambat.
3. Enzim tripsinogen
Tripsinogen terdapat dalam dua bentuk isoenzim utama, yaitu: tripsinogen-1 (kation)
dan tripsinogen-2 (anion), konsentrasi serum terakhir di jauh lebih tinggi di
pancreatitis. Biasanya tripsinogen (tripsinogen-1 dan tripsinogen-2) disekresi ke dalam
cairan pankreas oleh sel-sel asinar, yang sejumlah kecil masuk ke dalam sirkulasi dan
diekskresikan dalam urin. Pada pankreatitis jumlah besar enzim ini memasuki sirkulasi
sistemik akibat peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan meningkatnya
pembersihan dalam urin .
Pemanfaatan enzim di bidang
pengobatan/Terapi

Contoh kelainan akibat defisiensi


1 Penggunaan enzim sebagai obat enzim antara lain adalah hemofilia.
Hemofilia adalah suatu penderita
Penggunaan enzim sebagai obat biasanya yang mengalami kesulitan penggum
mengacu kepada pemberian enzim untuk palan darah (cenderung untuk
mengatasi defisiensi enzim yang terdapat di pendarahan) akibat defisiensi enzim-
dalam tubuh manusia untuk mengkatalis enzim terkait penggum palan darah.
rekasi-reaksi tertentu. Kelainan ini dapat diatasi dengan
transfer gen yang mengkode faktor
Defisiensi enzim atau kekurangan enzim dapat IX. Diharapkan gen tersebut dapat
menyebabkan banyak kelainan, seperti mengkode enzim-enzim protease
kelainan genetik mengingat enzim merupakan yang diperlukan dalam proses
protein yang ditentukan oleh gen. penggumpalan darah.
Pemanfaatan enzim di bidang
pengobatan/Terapi

Enzim sebagai sasaran pengobatan


2 (terapi)

Penggunaan enzim sebagai agen terapi mempunyai


beberapa keuntungan dibandingkan obat konvensional
karena enzim mempunyai spesifitas dan afinitas tinggi
terhadap targetnya sehingga mengurangi toksisitasnya.
Disamping itu kemampuan katalitiknya memungkinkan
enzim untuk mengubah senyawa target menjadi produk
yang diinginkan dalam waktu singkat sehingga
memungkinkan untuk penggunaan enzim dalam jumlah
kecil.
Pemanfaatan enzim di bidang
pengobatan/Terapi

a) Sel individu sebagai sasaran kinerja terapi b) Mikroorganisme sebagai sasaran kerja
Digunakan prinsip bahwa enzim yang dibidik
Digunakan senyawa-senyawa untuk mempengaruhi tidak boleh mengkatalisis reaksi yang sama atau
kerja suatu enzim sebagai penghambat kompetitif. menjadi bagian dari proses yang sama dengan
yang terdapat pada sel pejamu.
Contoh penyakit adalah Diabetes Melitus. Pada
penyakit Diabetes Melitus, senyawa yang Hal ini bertujuan untuk melindungi sel
diinduksikan adalah akarbosa (acarbose). pejamu, sekali gus meningkatkan spesifitas
terapi ini. Karena yang dibidik adalah enzim
Akarbosa akan bersaing dengan amilum makanan mikroorganisme, maka penyakit yang dihadapi
untuk mendapatkan situs katalitik enzim amilase kebanyakan adalah penyakit-penyakit infeksi.
(pankreatik α-amilase) yang akan mengubah amilum
menjadi glukosa sederhana. Contoh terapi dengan menjadikan enzim
mikroorganisme sebagai sasaran kerja antara
Akibatnya reaksi tersebut akan terganggu, sehingga lain:
kenaikan gula darah setelah makan dapat
dikendalikan. Pada penyakit tumor, sel tumor dapat
dikendalikan perkembangannya dengan
menghambat mitosisnya.
Aplikasi Enzim Sebagai Agen Terapi

1. Kolognase
3. Lipase
Enzim kolognase umumnya digunakan untuk
Lipases mengkatalisis hidrolisis triasilgliserol dan
memindahkan dan merelokasi kelenjar insulin
fosfolipid dan merupakan enzim pencernaan yang
untuk penderita diabetes. Kolagenase juga
dapat diisolasi dari bakteri, jamur dan dari sumber
dapat digunakan untuk mengisolasi sel lemak,
hewani. Lipase diketahui dapat digunakan untuk
adrenal, dan parenkim liver. Kolagenase juga
pengobatan tumor karena kemampuannya untuk
digunakan untuk teknik G-banding untuk
mengaktivasi faktor nekrosis tumor. Lipase juga
mempelajari kromosom manusia
digunakan untuk dispepsia, gangguan
gastrointestinal, alergi, dan berbagai jenis infeksi.

2. Enzim pankreas 4. Kitinase


Berkurangnya asupan enzim pankreas dapat Kitinase dapat digunakan untuk zat aditif pada
mengakibatkan berkurangnya absorpsi lemak, krim antijamur dan juga digunakan sebagai
protein dan karbohidrat, sehingga penguat tulang pada osteoporosis dan sebagai
mengakibatkan defisiensi nutrisi serta agen antibakteri. Kitinase dapat mendegradasi
berkurangnya berat badan dan gangguan pada kitin menghasilkan kitooligosakarida seperti
pencernaan. Enzim Pankrease berperan dalam kitoheksaosa dan kitoheptaosa, keduanya
meningkatkan penyerapan lemak dan nitrogen dilaporkan memiliki aktivitas antitumor. Kitinase
serta digunakan sebagai suplemen untuk juga diketahui menurunkan kadar glukosa serum
mengatasi masalah pencernaan dan konstipasi pada penderita diabetes
Aplikasi Enzim Sebagai Agen Terapi
5. Lakase
Lakase dikenal juga sebagai enzim oksigen
6. Asparaginase
oksidoreduktase dan umumnya berwarna biru.
Asparaginase adalah aminohidrolase yang
Enzim ini mengkatalisis senyawa organik umumnya
mengkonversi asparagin, asam aspartat dan
senyawa fenolik dan beberapa senyawa non
ammonia, yang menyebabkan kematian sel.
fenolik dengan bantuan mediator. Lakase telah
Sel leukimia membutuhkan asparagin dalam
diisolasi dari bakteri seperti Azospirilum lipoferum,
jumlah besar untuk perkembangbiakan
Bacillus subtilis, Streptomyces lavendulae, S.
selnya. Pemberian asparagin akan
cyaneus dan Marinomonas mediterranea. Lakase
menurunkan asupan kadar asparagin dalam
yang diisolasi dari bakteri ini berperan dalam
serum dan lebih lanjut membunuh sel kanker.
produksi pigmen, melindungi dari pengaruh radiasi
UV, dan efek buruk dari hidrogen peroksida.

7. Natokinase
Natokinase berperan dalam pemutusan ikatan fibrin dan trombin yang terikat
dengan fibrin yang menjadi target pengobatan penyakit atherosclerotis
meliputi miocardial infarksi, serebral vakcular, pulmonary emboli,
hemorrhoids, serta penyakit lain yang terkait. Natokinase juga membantu
mengurangi faktor-faktor penyebab terjadinya penggumpalan darah dan
lemak. dikaitkan dengan meningkatnya resiko terkena penyakit jantung.
Enzim ini mengurangi kadar fibrinogen, faktor VII, dan faktor VIII pada
plasma. Natokinase juga mempunyai potensi sebagai agen antitrombolitik
untuk pencegahan penyakit kardiovaskular.
THANK YOU
Fully Editable Shapes