Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TUMBUHAN

PERCOBAAN II

PENGARUH OSMOTIK KONSENTRASI GARAM HARA TERHADAP

ABSORPSI AIR DAN PERTUMBUHAN TANAMAN

NAMA : FITRIANI LAYUKAN

NIM : H41112010

HARI/TANGGAL : SELASA/19 NOVEMBER 2013

KELOMPOK : III (TIGA) B

ASISTEN : NUR FATRIS

LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Air merupakan sumber kehidupan, tidak hanya bagi manusia, makhluk

hidup yang lain juga sangat membutuhkan air. Air adalah faktor yang menentukan

kehidupan tumbuhan. Tanpa adanya air, tumbuhan tidak bisa melakukan berbagai

macam proses kehidupan apapun. Kira-kira 70% atau lebih daripada berat

protoplasma sel hidup terdiri dari air. Air juga merupakan salah satu komponen

fisik yang sangat vital dan dibutuhkan dalam jumlah besar untuk pertumbuhan

dan perkembangan tanaman. Ketersediaan air dalam tubuh tanaman diperoleh

melalui proses fisiologis absorbsi. Sedangkan hilangnya air dari permukaan

bagian-bagian tanaman melalui proses fisiologi, evaporasi dan transpirasi.

Peranan air yang sangat penting menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau

tidak langsung kekurangan air pada tanaman akan mempengaruhi semua proses

metaboliknya sehingga dapat menurunkan pertumbuhan tanaman (Muliana,

2011).

Tumbuhan memperoleh bahan dari lingkungan untuk hidup berupa O2,

CO2, air dan unsur hara. Mekanisme proses penyerapan dapat belangsung karena

adanya proses imbibisi, difusi, osmosis dan transpor aktif. Proses osmosis yang

terjadi merupakan proses perpindahan air dari daerah yang berkonsentrasi rendah

ke daerah yang berkonsentrasi tinggi melalui membran semipermiabel. Membran

semipermiabel adalah selaput pemisah yang hanya bisa ditembus oleh air dan zat

tertentu yang larut di dalamnya (Dwidjoseputro, 1980).


Oleh karena itu kami akan melakukan percobaan ini agar lebih mengetahui

pengaruh osmotik konsentrasi garam hara terhadap absorpsi air dan pertumbuhan

tanaman.

I.2 Tujuan Percobaan

Melihat pengaruh osmotik dan konsentrasi garam hara terhadap absorpsi

air dan pertumbuhan tanaman.

I.3 Waktu dan Tempat Percobaan

Percobaan ini dilakukan pada hari Selasa, tanggal 19 November 2013,

pukul 14.00-17.00 WITA, di Laboratorium Herbarium, Jurusan Biologi, Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar,

Sulawesi Selatan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sebagian besar unsur yang dibutuhkan tanaman diserap dari larutan tanah

melalui akar, kecuali karbon oksigen yang diserap dari udara oleh daun.

Penyerapan unsur hara secara umum lebih lambat dibandingkan dengan

penyerapan air oleh akar tanaman. Sistem perakaran tanaman lebih dikendalian

oleh sifat genetik dari tanaman yang bersangkutan, tetapi telah pula dibuktikan

bahwa sistem perakaran tanaman tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi tanah

atau media tumbuh tanaman. Factor yang mempengaruhi pola penyuburan akar

antara lain adalah penghalang mekanis, suhu tanah, aerasi, ketersediaan air dan

ketersediaan unsur hara (Kimball, 1983).

Akar mengabsorbsi air dengan cara osmosis. Oleh karena itu, absorbsi air

oleh tumbuhan mungkin dilakukan dengan mengnedalikan potensial air larutan

dimana akar itu berada. Jika potensial osmotik larutan luar lebih rendah dari

potensial osmotik sel-se akar, maka air dapat masuk dari larutan di luar akar ke

dalam sistem akar. Dengan meningkatnya konsentrasi zat-zat terlarut maka

masukny air ke dalm akar menjadi lebih lambat sampai arah pergerakkan air

mungkin akan terbalik (Johannes, dkk., 2013).

Pada potensial air, air akan meninggalkan sel itu dengan cara osmosis,

sehingga sel itu akan mengalami plasmolisis/mengkerut dan menjauh dari

dindingnya. Sel lembek ini memiliki potensial air yang lebih kecil karena

kehadiran zat terlarut dan akan memasuki sel melalui osmosis. Sel tersebut akan

mulai mengembang dan memberikan dorongan melawan dinding selnya


menghaslkan tekanan turgor. Ketika tekanan dinding ini cukup besar untuk

mengembangi kecenderungan air untuk masuk karena zat-zat terlarut dalam sel,

maka Ψp dan Ψs akan sama besar dan dengan demikian Ψ = 0. Besar potensial ini

akan menyamai potensial air dari lingkungan ekstraseluler (Campbell, 2004).

Potensial/tekanan osmotik (Ψs,π,PO) ini merupakan istilah yang sudah

lama digunakan untuk menguraikan osmosis. Larutan dengan konsentrasi lebih

tinggi mempunyai tekanan osmotic (PO). Berati bahwa air berpindah dari larutan

dengan PO rendah (hipotonis, PA tinggi) ke larutan PO tinggi (hipertonis, PA

rendah) lebih sering digunakan symbol Ψ sebanding dengan PO. Potensial

osmotik (PO) lebih menyatakan status larutan, dan status larutan dapat kita

nyatakan dalam satuan konsetrasi, tekanan atau energi, Po air murnni sama

dengan nol atm atau 0 bar (Ismail, 2011).

Osmosis merupakan difusi air melintasi membran semipermeabel dari

daerah dimana air lebih banyak ke daerah dengan air yang lebih sedikit. Osmosis

sangat ditentukan oleh potensial kimia air atau potensial air, yang

menggambarkan kemampuan molekul air untuk dapat melakukan difusi. Sejumlah

besar volume air akan memiliki kelebihan energi bebas daripada volume yang

sedikit, di bawah kondisi yang sama. Energi bebas zuatu zat per unit jumlah,

terutama per berat gram molekul (energi bebas mol-1) disebut potensial kimia.

Potensial kimia zat terlarut kurang lebih sebanding dengan konsentrasi zat

terlarutnya. Zat terlarut yang berdifusi cenderung untuk bergerak dari daerah yang

berpotensi kimia lebih tinggi menuju daerah yang berpotensial kimia lebih kecil

(Ismail, 2011).
Di dalam proses osmosis, disamping komponen Potensial Air (PA) dan

Potensial Tekanan (PT), komponen lain yang juga berperan adalah Potensial

Osmotik (PO). Potensial osmotik dari suatu larutan lebih menyatakan status

larutan, dan status larutan dapat kita nyatakan dalam satuan konsentrasi, satuan

tekanan atau satuan energi. Potensial osmotik air murni memiliki nilai sama

dengan nol, sehingga kalau digunakan satuan tekanan maka nilainya menjadi 0

atm atau 0 bar. Kalau status suatu larutan tidak berubah, maka nilainya pun tidak

akan berubah. Hal ini perlu dipahami karena kalau terhadap suatu larutan kita beri

tekana, berapapun besarnya tekanan itu tidak akan mengubah status larutan tadi,

yang berarti tidak akan mengubah konsentrasinya dan nilainyapun akan tetap.

Adapun yang berubah di dalam larutan tersebut adalah potemsial airnya. Nilai

potensial osmotik suatu larutan dapat diukur dengan suatu alat yang disebut

osmometer. Tekanan yang timbul pada osmometer merupakan tekanan yang nyata

(Sasmitamihardja, 1996).

Apabila PA larutan luar sangat rendah sehingga menghambat absorbsi air

oleh akar maka akibatnya pertumbuhan tumbuhan akan terhambat.

Mengembangnya sel selama proses pembesaran terjadi akibat tekanan air yang

masuk sebagai respon terhadap perbedaan potensial air. Air yang masuk ini akan

menekan dinding sel ke arah luar, sehingga dinding sel merentang menjadi lebuh

besar (Johannes, dkk., 2013).

Perakaran dari tanaman yang ditanam di lapangan biasanya tumbuh dalam

voum tanah yang besar. Terjadi kerapatan perakaran yang tinggi dalam profil

tanah sebelah atas tempat terjadinya pengambilan air dengan cepat, tetapi apabila

air menjadi terbatas dalm profil tanah sebelah atas, perakaran meluas ke profil
tanah yang lebih bawah yang airnya lebih banyak. Jadi pada tanaman yang

ditanam di lapangan perkembangan tekanan selama daur kekeringan itu jauh

lebih gradual, kemungkinan untuk mengembalikan Ψw, dalam semalam juga

besar, dan tanaman mempunyai waktu untuk beradaptasi terhadap kekurangan air

yang muncul (Fried, 2005).

Menurut Muliana (2011), kalsium diserap dalam bentuk ion Ca2+ untuk

menyokong pertumbuhan dengan baik. Kalsium tidak ditranslokasikan ke floem

sehingga terjadi defisiensi, dan akibatnya terjadi kekahatan pada jaringan yang

masih muda, sehingga jaringan mengerut dan berubah bentuk disebabkan oleh

kekurangan kalsium, dan daerah meristematik mati lebih awal. Begitupun klorin

diserap dalam bentuk ion Cl-, biasanya Cl diserap sangat banyak dari apa yang

tumbuhan butuhkan, sehingga pemakaiannya berlebihan. Fungsi Cl adalah

pembelahan sel daun dan linarut aktif dalam mengendalikan osmosis.


BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu, botol kultur, sumbat karet

yang telah dilubangi, label, gelas ukur, pipet skala, penggaris, timbangan digital

dan kamera.

III.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu, air destilata, kacang

hijau Phaseolus radiatus dan larutan kalsium klorida (CaCl2).

III.3 Prosedur Kerja

1. Menanam kacang hijau Phaseolus radiatus hingga menjadi kecambah selama

7 hari.

2. Membuat larutan dengan aquades dan CaCl2 0,5 M sebanyak 50 mL yang

0,5
memiliki konsentrasi 0,5 % dengan rumus x 50=0,25 gr
100

3. Memasukkan larutan CaCl2 ke dalam botol kultur dan beri tanda pada batas

tinggi larutan tersebut.

4. Mengukur panjang batang kecambah hijau Phaseolus radiatus diatas kotiledon

menggunakan penggaris.

5. Memasukkan 1 kecambah hijau Phaseolus radiatus ke dalam botol kultur lalu

mentutup dengan sumbat karet yang telah dilubangi.


6. Mengamati keadaan cairan pada hari ke-2 kemudian mencatat panjang batang

kecambah kacang hijau Phaseolus radiatus serta menambahkan air destilata

sampai pada batas awal larutannya.

7. Mencatat panjang batang kacang hijau Phaseolus radiatus pada hari ke-7.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Tabel Pengamatan

Larutan Panjang Batang (Cm) Keadaan pada hari ke-


Penambahan
CaCl2
Mula-mula Hari ke-2 Hari ke-7 2 7
air hari ke-2
(%)
0,5% 13,8 13,9 14,1 0,6 mL Segar Agak layu
1% 13,8 13,8 14 0,5 mL Agak layu Mati
2% 14 14 14 0,2 mL Segar Mati
5% 13,7 13,7 13,7 0,2 mL Layu Mati
10% 14 14 14 0,2 mL Layu Mati
Kontrol(%) 14 14,2 14,5 0,8 mL Segar Segar

IV.2 Pembahasan

Berdasarkan data yang telah diperoleh setelah pengamatan selama satu

minggu, dapat diketahui bahwa sampel mengalami perubahan pertambahan

panjang, namun tidak semua sampel mengalami pertambahan panjang melainkan

perubahan keadaan yang mula-mula segar setelah satu minggu akhirnya layu

bahkan mati.

Botol I dengan konsentrasi 0,5% memiliki panjang batang mula-mula

yaitu 13,8 cm, pada hari ke-2 setelah dilakukan penambahan air 0,6 mL dan

diukur panjang batangnya, ternyata panjang batang bertambah 0,1 menjadi 13,9

cm dan panjang hari ke-7 menjadi 14,1 cm. Keadaan kecambah pada hari ke-2

segar dan pada hari ke-7 kecambah nampaknya agak layu.

Botol II dengan konsentrasi 1% memiliki panjang batang mula-mula yaitu

13,8 cm, pada hari ke-2 dilakukan penambahan air 0,5 mL, panjang batang tidak

mengalami perubahan yaitu tetap pada ukuran 13,8 cm dan panjang hari ke-7
bertambah 2 cm menjadi 14 cm. Keadaan kecambah pada hari ke-2 agak layu dan

pada hari ke-7 kecambah mati.

Botol III dengan konsentrasi 2% memiliki panjang batang mula-mula yaitu

14 cm, pada hari ke-2 dilakukan penambahan air 0,2 mL panjang batang tidak

mengalami perubahan ukuran melainkan tetap 14 cm demikian pula pada hari ke-

7 tetap 14 cm. Keadaan kecambah pada hari ke-2 segar namun pada hari ke-7

kecambah mati.

Botol IV dengan konsentrasi 5% memiliki panjang batang mula-mula 13,7

cm, pada hari ke-2 dilakukan penambahan air 0,2 mL panjang batang tidak

bertambah melainkan tetap pada ukuran 13,7 cm demikian halnya panjang batang

pada hari ke-7 tetap 13,7 cm. Keadaan kecambah pada hari ke-2 layu dan pada

hari ke-7 kecambah menjadi mati.

Botol V dengan konsentrasi 10% memiliki panjang batang mula-mula 14

cm, pada hari ke-2 dilakukan penambahan air 0,2 mL panjang batang tetap 14 cm

demikian pula pada hari ke-7 tetap 14 cm. Keadaan kecambah pada hari ke-2

segar dan pada hari ke-7 kecambah mati.

Botol VI adalah kontrol yang berisi air destilata memiliki panjang batang

mula-mula 14 cm, pada hari ke-2 dilakukan penambahan air 0,8 mL dan panjang

batang telah bertambah 0,2 cm menjadi 14,2 cm dan pada hari ke-7 bertambah 0,3

cm menjadi 14,5 cm. Keadaan kecambah pada hari ke-2 segar dan pada hari ke-7

kecambah masih segar dan menunjukkan perkembangan yang positif terutama

dalam panjang batang dan kondisi tanaman yang tetap segar. Hal ini berbeda

dengan 5 botol yang lain yang diberi perlakuan penambahan CaCl 2. Tanaman-

tanaman tersebut sebagian besar layu bahkan terdapat tanaman yang mati. Hal ini
erat kaitannya dengan potensial osmotik dan stres garam yang terjadi pada

tumbuhan akibat peningkatan konsentrasi CaCl2 yang bersifat garam.

Kalsium diserap dalam bentuk ion Ca2+ untuk menyokong pertumbuhan

dengan baik. Kalsium tidak ditranslokasikan ke floem sehingga terjadi defisiensi,

dan akibatnya terjadi kekahatan pada jaringan yang masih muda, sehingga

jaringan mengerut dan berubah bentuk disebabkan oleh kekurangan kalsium, dan

daerah meristematik mati lebih awal. Begitupun klorin diserap dalam bentuk ion

Cl-, biasanya Cl diserap sangat banyak dari apa yang tumbuhan butuhkan,

sehingga pemakaiannya berlebihan. Fungsi Cl adalah pembelahan sel daun dan

linarut aktif dalam mengendalikan osmosis (Anonim, 2011).

Tanaman yang paling cepat layu adalah tanaman yang yang terdapat dalam

botol dengan konsentrasi tinggi yaitu 10% dan 5%, dimana pada hari ke-2 telah

layu dan hari ke-7 mati. Sedangkan tanaman yang tidak cepat layu adalah tanaman

dengan konsentrasi 0,5% , 2% dan kontrol dimana pada hari ke-2 masih tetap

segar. Hanya saja pada hari ke-7 tanaman pada botol dengan konsentrasi 0,5% dan

2% telah mati namun kontrol masih tetap segar.

BAB V

PENUTUP
V.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan yamg dilakukan, dapat disimpulkan bahwa

kecambah pada botol dengan konsentrasi 0,5 % masih bisa bertahan hidup

meskipun dalam keadaan layu, dibandingkan dengan kecambah yang terdapat

pada botol dengan konsentrasi 10%, dimana kecambah paling cepat layu dan mati

dikarenakan semakin tinggi konsentrasi suatu larutan (dalam hal ini CaCl 2 sebagai

garam hara), maka semakin cepat pula mempengaruhi fisik tumbuhan yang

menyerap unsur hara tersebut.

V.2 Saran

Sebaiknya asisten memberikan penjelasan dengan lebih detail mengenai

percobaan yang dilakukan agar praktikan mudah mengerti dan memahami.


DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil A. dan Jane B. Reece., Michael L.C., 2010. Biologi Edisi 8, Jilid
1. Erlangga. Jakarta.

Dwidjoseputro, D., 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.

Fried, G. H., 2005. Schaum’s Outlines Biologi Edisi Kedua. Jakarta. Erlangga.

Ismail, 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Jurusan Biologi FMIPA


UNM. Makassar.

Johannes, Eva, dkk., 2013. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Universitas


Hasanuddin. Makassar.

Kimball, John W., 2000. Biologi Jilid II Edisi Ketiga. Jakarta. Erlangga.

Muliana, 2011. Pengaruh osmotik konsentrasi garam hara terhadap absorpsi air
dan pertumbuhan tanaman. http://naturelovers-biomuli.pengaruh-osmotik-
konsentrasi-garam-hara-terhadap-absorpsi-air-dan-pertumbuhan-tanaman.com/,
diakses hari Rabu, tanggal 20 November 2013.