Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Mata kuliah Entomologi Dasar mempelajari serangga secara umum, dan merupakan matakuliah pilihan utama bagi mahasiswa yang akan mengambil skripsi dengan topik yang berhubungan dengan serangga. Diketahui bahwa 75% penghuni bumi ini adalah golongan serangga dan 80% hama tanaman pertanian adalah dari golongan serangga. Mata kuliah Entomologi adalah suatu ilmu yang memiliki cakupan yang sangat luas dalam kehidupan serangga. Entomologi membahas tentang morfologi, anatomi, dan fisiologi serangga, klasifikasi, dan persebaran ( ekologi) serangga terhadap lingkungan. Lingkungan itu sendiri bisa berupa lingkungan eksternal dan juga lingkungan internal. Antara lingkungan dan makhluk hidup memiliki ikatan yang sangat erat, contohnya produsen dengan konsumen. Antara mereka akan terjadi hubungan saling ketergantungan yang tidak dapat dipisahkan. Seperti hubungan antara serangga dengan manusia, ada yang merugikan dan ada yang menguntungkan. Penelitian yang digunakan sebaiknya dilakukan pada lingkungan yang telah terkonsep dengan baik dengan keadaan lingkungan yang baik pula, agar memperoleh hasil yang baik dan meminimalkan kesalahan yang terjadi pada saat pengamatan. Dari beberapa pertimbangan yang dilakukan, maka didapat bahwa daerah Tangkahan sangat cocok untuk melakukan pengamatan serangga yang meliputi Pengamatan dengan Jala Serangga, Aspirator, Fit Fall Trap, Ligth Trap Dan Penelitian dengan cara Menepuk pohon dengan menggunakan beberapa metode yang telah ditentukan. Penyusunan laporan ini guna menyelasaikan tugas yang diberikan oleh Dosen Mata Kuliah Entomologi untuk mencari keanekaragaman serangga.

2 Oleh Karena itu, kami menyusun makalah ini guna mencari tahu mengenai apa apa yang berkaitan dengan serangga dan metode metode yang digunakan untuk menganalisisnya.

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana metode yang digunakan untuk mengetahui keanekaragaman serangga? 2. Bagaimana prinsip kerja dari metode yang digunakan pada pengamatan keanekaragaman serangga ? 3. Bagaimana keanekaragaman serangga yang ada di Unimed ?

1.3 Tujuan Adapun beberapa tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui metode yang digunakan untuk mengetahui

keanekaragaman serangga. 2. Untuk mengetahui prinsip kerja dari metode yang digunakan pada pengamatan keanekaragaman serangga. 3. Untuk mengetahui keanekaragaman serangga yang ada di Unimed.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Serangga termasuk hewan yang paling dominan (dari segi jumlah) diantara anggota-anggota kelompok hewan artropoda. Dalam hal ini, kalau saat ini telah ada hampir satu juta spesies atropoda yang telah diketahui atau diberi nama, maka hampir 845.000 spesies darinya termasuk dalam kelompok serangga. Jumlah spesies atau jenis serangga kini hampir tiap tahun mengalami perubahan (bertambah) seiring dengan ditemukannya jeni-jenis serangga baru. Pertambahan jeni-jenis serangga baru yang ditemukan, dapat dibaca pada berbagai jurnal ilmiah yang mengkaji serangga. Hewan-hewan yang termasuk skelas serangga atau heksapoda menurut Borror dkk (1992) meliputi : 1. Protura (prot : pertama, ura; ekor), contoh : Protura-protura 2. Collembola (coll: lem, embola: mur atau pasak), contoh: Seangga ekor pegas. 3. Dipulura (dipl: dua, ura: ekor), contoh: Diplura-diplura. 4. Microcoryphia (mikro: kecil, coryphia: kepala), contoh: serangga ekor rapuh dan peloncat. 5. Thysanura (thysan; rapuh atau batas: ura ekor),contoh: serangga ekor loncat. 6. Ephemeroptera (ephemera: untuk sehari, ptera:sayap), contoh: serangga akhir musim semi. 7. Odonata (odous; gigi), contoh: capung dan capung jarum. 8. Grylloblattaria: perayap-perayap batu karang 9. Phasmidia: serangga tongkat dan serangga daun. 10. (ortho: lurus), contoh: belalang, cengkrik, dan katydid. 11. Mantodea (mantodea: peramal): belalang sembah. 12. Blattaria: kecuak. 13. Isoptera (iso: sama), contoh: rayap. 14. Dermaptera(derma: kulit), contoh: serangga ekor capit. 15. Embiidina (embio: hidup), contoh: pembuat sarang jaring-jaring. 16. Plecoptera (pleco: terlipat), contoh: lalat batu.

4 17. Zoraptera (zor: murni, aptera:tidak bersayap), contoh: Zoraptera-zoraptera. 18. Psecoptera (pseco: mengunyah), contoh: psocid-psocid. 19. Phitiraptera (phitir: kutu, a: tampa), contoh: kutu-kutu 20. Hemiptera (hemi: separuh), contoh:kepik. 21. Homoptera (homo: serupa, seragam), contoh: Tonggeret, Serangga Peloncat, Phyllid, Lalat Putih, Aphid dn serangga bersisik. 22. Thysanopteran (thysano: umbai-umbai): serangga bersayap duri. 23. Neuroptera (neuro: saraf), contoh: Lalat alder, Lalat Dobson, lalat ikan, lalat ular, serangga renda, undur-undur, dan lalat kakatua. 24. Coleoptera (coleo: selubung), contoh: kumbang-kumbang. 25. Strepsitera (strepsi: terpuntir), contoh: parasit-parasit bersayap terpuntir. 26. Mecoptera (meco: panjang), contoh: lalat kala jengking. 27. Siphonaptera(siphon: sebuah buluh, aptera: tidak bersayap), contoh: pinjal. 28. Diptera (di; dua), contoh: lalat. 29. Trichoptera (tricho: sisik), contoh: Lalat caddis. 30. Lepidoptera (Lepido: sisik), contoh: kupu-kupu. 31. Hymenoptera (hymeno: dewa perkawinan), contoh: lalat gergaji.

2.1 Tubuh Serangga Serangga secara umum dapat dikenal melalui tubuhnya yang terdiri atas tiga bagian, yaitu keapala, toraks (dada dan punggung), dan abdomen (perut). Di kepala terdapat sepasang antena sebagai alat peraba dan pencium, sepasang mata faset, 1-3 oseli untuk menerima dan membedakan cahaya, serta mulut yang dilengkapi dengan labrum (bibir muka), sepasang mandibula (rahang muka), sepasang maksila (rahang belakang), dan labium (bibir belakang). Toraks terbagi atas tiga ruas, tiap ruas berkaki sepasang, dan pada ruas kedua dan ketiga masingmasing terdapat sepasang sayap. Abdomen tediri atas sebelas ruas, di bagian ujung biasanya terdapat 1-3 bulu pendek atau panjang yang dinamakan sersi. Di sebelah kiri dan kanan bawah ruas-ruas toraks dan abdomen terdapat lubang kecil atau spirakel, yang berhubungan dengan saluran trakea sebagai alat pernapasan.

5 Serangga umumnya berkelamin terpisah, sehingga terdapat jantan dan betina. Bentuk serangga jantan dan betina umumnya sama, tapi terdapat juga yang berbeda seperti kumbang kelapa atau Xylotrupes gideon, yaitu kumbang jantan memiliki tanduk sementara yang betina tidak. Ada pula perbedaan dalam ukuran tubuh, pada umumnya serangga jantan berukuran lebih kecil. 2.2 Daur hidup Serangga umumnya berkembang biak dengan bertelur, yang diletakkan satu- satu maupun berkelompok, atau telur-telurnya diletakkan dalam suatu kotak bernama ooteka (contoh pada lipas dan belalang sembah). Serangga betina umumnya dilengkapi dengan ovipositor yaitu alat untuk meletakkan telur. Dari telur akan menetas menjadi larva, yang bentuknya sangat berbeda dengan serangga dewasa. Setelah beberapa kali ganti kulit, larva akan berubah menjadi kepompong yang kemudian keluar sebagai serangga dewasa yang sempurna. Daur hidup yang melalui tahapan kepompong disebut metamorfosis sempurna. Kupukupu, lalat, dan kumbang adalah serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Belalang dan kepik adalah contoh serangga dengan daur hidup metamorfosis tidak sempurna. Pada metamorfosis ini, telur akan menetas menjadi anakan yang bentuknya sudah menyerupai serangga dewasa, hanya sayap dan alat kelaminnya belum sempurna. Serangga ini dinamakan nimfa. Nimfa akan mengalami beberapa kali ganti kulit, pada ganti kulit terakhir akan keluar serangga dewasa yang memiliki sayap dan alat kelamin sempurna. 2.3 Makanan Sebagian besar serangga adalah pemakan tumbuhan, termasuk biji-bijian yang disimpan di gudang atau lumbung. Sebagian lagi adalah pemakan serangga dan binatang kecil lainnya. Beberapa jenis hidup dengan menghisap darah

6 manusia atau binatang, dan beberapa jenis hidup parasit pada binatang menyusui serta burung, memakan bulu-bulunya. Serangga tanah merupakan pemakan serasah busuk dan pohon tumbang, serta lumut, jamur, dan kapang. 2.4 Cara hidup Serangga dapat hidup soliter (sendiri) maupun berkoloni (membentuk kelompok) dengan membuat sarang di pohon atau di dalam tanah. Semut, lebah, dan rayap termasuk serangga yang hidup berkoloni. Serangga yang berkoloni terdiri dari beberapa kasta, yaitu ratu sebagai penghasil telur, raja yang membuahi ratu, pekerja yang bertugas melayani ratu dan raja, merawat larva, dan mencari kemudian mengumpulkan makanan, serta tentara atau pengawal yang menjaga dan mempertahankan koloni dari serangan musuh. 2.5 Habitat Serangga dapat ditemukan di berbagai habitat atau lingkungan hidup, baik darat maupun perairan. Di darat serangga hidup di pohon, semak, permukaan maupun dalam tanah, atau hidup parasit pada binatang lain. Sementara di air contohnya air tergenang maupun air yang mengalir. Ada serangga yang hidup di air sepanjang hidupnya, sementara ada pula yang hanya hidup di air pada fase larva atau nimfa dan bermigrasi ke darat saat dewasa seperti nyamuk dan capung. Seperti binatang lainnya, serangga juga dapat mengeluarkan suara, contoh jangkrik, belalang malam, dan tonggeret. Suara serangga tidak dikeluarkan dari mulutnya, tetapi dihasilkan dari gesekan antara bagian-bagian tertentu tubuhnya. Suara belalang malam dihasilkan dari gesekan bagian pangkal kedua sayap mukanya. Pada tonggeret yang suaranya nyaring disebabkan oleh adanya kepingan di bagian bawah perut.

7 2.6 Peranan Serangga memainkan peranan penting dalam kesejahteraan manusia, baik peranan yang bermanfaat maupun yang merugikan. Lebah madu dan ulat sutera adalah serangga yang bermanfaat, sementara nyamuk, lalat, pinjal, dan tungau telah diketahui sebagai vektor penyakit pada manusia dan ternak, sedangkan wereng dan belalang dapat menjadi hama tanaman. 2.7 Aspirator Entomologi aspirator menggunakan desain baru yang revolusioner yang menggabungkan mesin delrin tutup dengan karet O-ring seal. Desain ini mencegah serangga dari merangkak antara stopper dan samping botol itu, menghilangkan menghancurkan disengaja spesimen. Selain itu, desain yang memungkinkan penggunaan plastik ukuran standar atau botol gelas yang tersedia dari beberapa pemasok. Serangga selalu minimal 12 mm dari ujung botol terbuka memungkinkan cukup waktu untuk melepaskan penutup dan menggantinya dengan topi sebelum spesimen memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Fitur lain dari Bug-Vac aspirator termasuk tubing kuningan berdinding tipis dan filter internal yang besar menggunakan layar 120 mesh stainless steel (layar yang lebih baik pada pesanan khusus). Diameter besar layar memungkinkan untuk aliran udara yang sangat baik dan menghilangkan layar plugging.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Unimed yaitu sebuah universitas negri dikota medan jalan William Iskandar pasar VIII,kawasan yang digunakan adalah kawasan hutan samping Biro Rektor kelompok kami memilih tempat tersebut dikarenakan kawasan tersebut merupakan kawasan yang memiliki banyak pepohonan yang di jadikan sebagai habitat serangga di Unimed. Waktu penelitian dilaksanakan pada hari senin, 24 Mei 2010 mulai pukul 08.00-12.00. Penyiapan alat dilaksanakan pada hari sabtu,22 Mei 2010 pukul 12.00-14.00. 3.2 Populasi dan Sampel a. Populasi Populasi adalah objek dari pada penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah hewan-hewan (insecta / serangga) yang hidup di hutan samping Biro Rektor. b. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti. Sampel dari penelitian ini adalah hewan (serangga) secara langsung..

3.3 Instrumen/ Alat Penelitian Instrumen penelitian digunakan untuk mengetahui komposisi jenis, peranan, penyebaran, dan struktur dari suatu tipe spesies yang diamati. Untuk itu penelitian ini dilakukan secara cermat agar terhindar dari kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul. Adapun alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu botol aqua 1 ltr sebanyak 5 buah, pacak, methyl eugenol, kain selendang, kerucut, parang, botol sampel, dan alat tulis.

9 3.4 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini dikategorikan dalam penelitian eksperimen. Sampel yang diambil berupa spesies-spesies yang kemudian diidentifikasi untuk mengetahui jenis faunanya. 3.5 Prosedur Kegiatan Adapun prosedur kegiatan yang dilkukan pada mini riset ini adalah sebagai berikut: 1. Fit-Fall Trap A. JUDUL B. TUJUAN : Pengamatan Serangga Permukaan Tanah : Mengetahui jenis-jenis Serangga yang aktif di permukaan tanah. Alat Kaleng Botol Sample (botl film) Cangkul Pinset Tangguk Loup Kertas Label Bahan Alkohol 70 % (Formula 4%) Deterjen Air

D. CARA KERJA Dengan Metode Fit-Fall Trap: 1. Buatlah garis pendek yang membagi area menjadi dua bagian yang memanjang. Pada setiap jarak 10 meter dari tepi, tariklah garis transek secara vertical pada salah satu arah yang kemudian kita anggap sebagai stasiun pengamatan pertama. Pada jarak 10 m berkutnya, tarik pula garis transek yang vertical dengan arah yang berlawanan dengan arah garis stasiun pengamatan I dan transek kedua ini kita anggap sebagai stasiun ke2. Lakukan terus hinggajumlah stasiun sama dengan jumlah kelompok (satu kelompok satu stasiun), tempatkan beberapa fitfall-trap yang masingmasing berjarak 10 meter lihat skema.

10

10 m 5m 10 m 5m 10m

2. pada setiap stasiun yang telah ditetapkan seperti gambar diatas, tanamlah kaleng hingga rata dengan permukaan tanah. Bekas timbunan di serasaserasa hingga tidak nampak bekas galian. Setiap setasiun pengamatan 4 kaliulangan. 3. Masukkan air deterjen kedalamnya hingga 1/3 kaleng. 4. Penanaman kaleng dilakukan pada jam 16.00 wib dan diambil pada jam 06.00 wib. 5. Sortirlah fauna dengan menuangkan air deterjen kedalam tangguk dengan bantuan pinset dan koleksi kedalam botol sampel yang telah diberi alcohol 70 % atau formalin 4 % 6. Identifikasilah fauna dengan bantuan loup dan buku litertur. 7. 1. Metode menggunakan feromon Perangkap tipe ini digunakan untuk menangkap serangga khususnya Ordo : Diptera yaitu lalat buah (Bactrocera sp.) . pemasangan perangkap ini dilakukan pada hari senin tanggal 24 Mei pukul 10.00 wib. Dilaksanakan di 5 lokasi di Unimed: Lokasi 1 Lokasi 2 Lokasi 3 Lokasi 4 Lokasi 5 : kawasan samping Biro Rektor UNIMED : belakang samping Biro Rektor UNIMED : kawasan samping Biro Rektor UNIMED : kawasan samping Biro Rektor UNIMED : kawasan samping Biro Rektor UNIMED

11 Tujuan : Untuk mengetahui kelimpahan lalat buah yang ada di kawasan diatas Alat dan bahan : a. alat No 1 2 3 4 5 Nama alat Botol aqua 600ml Gunting/Curter Kawat Tali plastik Pipet tetes Jumlah 5 buah 1 buah Secukupnya Secukupnya 1 buah

b. bahan
No 1. 2. Nama bahan Methyl Euguenol Kapas Jumlah 1 botol 1 bungkus

Prosedur Kerja : Menyediakan alat dan bahan diatas. Memotong bagian ujung botol aqua seperti pada gambar disamping. Memasang kawat yang pada bagian dalam aqua tepatnya pada bagian tengah. Membasahi kapas dengan Methyl Eguenol. Meletakkan kapas pada ujung kawat yang telah di pasang didalam botol tadi bagian tengahnya.

Mengikat botol tersebut dengan tali plastic agar dapat digantungkan pada ranting pohon.

12 Menggantungkan botol tersebut pada ranting pohon di 5 kawasan diatas.

Mengamati serangga yang masuk dalam botol tersebut pada keesokan harinya. 2 Permukaan dan Tepukan Kegiatan ini dilakukan pada kawasan FMIPA di belakang laboratorium biologi pada hari senin, 24 Mei 2010 pukul 11.30 wib. Tujuan : untuk mengamati jenis-jenis serangga yang tinggal di suatu pohon. Alat dan Bahan : 1. alat No 1. 2. 3. 4. Nama Alat Kain penampung/ selendang Aspirator Alat tulis Botol sampel Jumlah 1 buah 1 buah 1 set 4 buah

2. bahan No 1. Nama bahan Pohon sampel Jumlah 2 pohon

Prosedur Kerja : Menempatkan kain ataupun selendang penampung di bawah tananaman/pohon sampel Menggoyangkan pohon tersebut dan memukul-mukul batang pohon tersebut sehingga serangga-serangga yang ada di pohon tersebut jatuh ke dalam tampungan

13 Serangga yang tertampung dikain penampung ditangkap dengan menggunakan aspirator. Memasukkan serangga-serangga yang tertangkap kedalam botol sampel.

Gambar. Aspirator

14

BAB IV
PEMBAHASAN 4.1 Tekhnik-Tekhnik Koleksi Serangga : Untuk menangkap, mengumpulkan ataupun mengoleksi serangga dari habitatnya dapat digunakan berbagai jenis metoda, antara lain: jala ataupun tangguk serangga (insect net), aspirator dan pinset, pemukulan ataupun tepukan, penggunaan umpan ataupun zat penarik (bait), perangkap jebak (pit fall trap), perangkap cahaya (light trap), paying pemukul. Dalam penelitian ini kami hanya menggunakan 3 teknik dari teknik-teknik diatas yaitu, perangkap jebak (pit fall trap), pemukulan ataupun tepukan dan penggunaan umpan ataupun zat penarik (bait). 4.2 Hasil Penangkapan 1. Hasil Penangkapan Di Lapangan Perangkap Jebak Tabel: Jenis Ordo yang Ditemukan Perangkap Jebak
NO. 1 2 Jenis Ordo T- 1 T- 2 T- 3 T- 4 T- 5

Himenoptera (Semut Hitam) Orthoptera (Jangkrik Tanah)

2 ekor 4 ekor

3 ekor 3 ekor

3 ekor -

1 ekor

1 ekor 7 ekor

Ordo Orthoptera Serangga yang termasuk ke dalam ordo ini meliputi belalang, kecoak. Jumlah spesiesnya secara keseluruhan kira-kira 15.000 jenis. Panjang tubuh maksimum 20 cm, sedangakan bentang sayapnya maksimum 20 cm. Ciri yang paling menonjol pada serangga inni adalah pasangan kaki yang terakhir beasar yang berguna untuk meloncat. Banyak anggota dari ordo ini menghasilkan suara yang berguna untuk menarik perhatian lawan jenisnya dalam rangka perkawinan.

15 Ordo Orthoptera ini terdiri atas beberapa sub ordo, antara lain : Ensifera (misalnya : belalang pohon, sebagian besar cengkrik dan orong-orong), Phasmatodea

(misalnya : belalang daun dan belalang ranting), Manto ( misalnya : belalang sembah), Blattari ( misalnya: kecoak, kecoak tanaman, kecoak pohon) dan Grylloblattaoidea ( meliputi serangga yang merayap pada batu-batuan ). Pada beberapa literature, sub ordo Orthoptera tadi ditempatkan pada tingkatan ordo.

Gambar : Belalang

Ordo Hemynoptera Yang termasuk ke dalam ordo ini adalah takson tawon atau lebah dan semut. Tubuhnya berukuran dari 0,2 mm (serangga yang etrkecil) hingga 6 cm, sedangkan bentang sayapnya dapat mencapai hingga 11 cm. jumlah jenisnya kirakira 100.000. Sayap Hemynoptera terdiri dari 2 pasang, sayap tersebut terang tembus, pasangan sayap pertama dan kedua dihubungkan oleh kait-kait sehingga sehingga kedua pasangan sayap tersebut merupakan satu organ untuk terbang. Beberapa familia yang cukup penting dari ordo ini adalah Trichogrammatidae (Trichogramm, digunakan untuk pengendalian biologis hama), Mymaridae (Parasitooid telur), dan Apidae( Apis spp, dan Bombus sp).

16

Gambar : Semut hitam

Gambar : Semut merah

2. Hasil Penangkapan Di Lapangan dengan Menggunakan Zat Penarik Tabel serangga yang ditemukan pada perangkap menggunakan zat penarik
No 1. Nama Serangga L-1 7ekor L-2 12 ekor L-3 13ekor L-4 12 ekor L-5 7 ekor

Diptera(Drosophilla melanogaster)

Ordo Diptera Pada buah yang terserang biasanya terdapat lubang kecil di bagian tengah kulitnya. Serangan lalat buah ditemukan terutama pada buah yang hampir masak. Gejala awal ditandai dengan noda/titik bekas tusukan ovipositor (alat peletak telur) lalat betina saat meletakkan telur ke dalam buah. Selanjutnya karena aktivitas hama di dalam buah, noda tersebut berkembang menjadi meluas. Larva makan daging buah sehingga menyebabkan buah busuk sebelum masak. Apabila dibelah pada daging buah terdapat belatung-belatung kecil dengan ukuran antara 4-10 mm yang biasanya meloncat apabila tersentuh. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini mencapai 30-60%. Kerusakan yang ditimbulkan oleh larvanya akan menyebabkan gugurnya buah sebelum mencapai kematangan yang diinginkan. Dalam siklus hidupnya lalat buah mempunyai 4 stadium hidup yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Lalat buah betina memasukkan telur kedalam kulit buah

17 jeruk atau di dalam luka atau cacat buah secara berkelompok. Lalat buah betina bertelur sekitar 15 butir. Telur berwarna putih transparan berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva lalat buah hidup dan berkembang di dalam daging buah selama 6-9 hari. Larva mengorek daging buah sambil mengeluarkan enzim perusak atau pencerna yang berfungsi melunakkan daging buah sehingga mudah diisap dan dicerna. Enzim tersebut diketahui yang mempercepat pembusukan, selain bakteri pembusuk yang mempercepat aktivitas pembusukan buah. Jika aktivitas pembusukan sudah mencapai tahap lanjut, buah akan jatuh ke tanah, bersamaan dengan masaknya buah, larva lalat buah siap memasuki tahap pupa, larva masuk dalam tanah dan menjadi pupa. Pupa berwarna kecoklatan berbentuk oval dengan panjang 5 mm. Lalat dewasa berwarna merah kecoklatan, dada berwarna gelap dengan 2 garis kuning membujur dan pada bagian perut terdapat garis melintang. Lalat betina ujung perutnya lebih runcing dibandingkan lalat jantan. Siklus hidup dari telur menjadi dewasa berlangsung selama 16 hari. Fase kritis tanaman yaitu pada saat tanaman mulai berbuah terutama pada saat buah menjelang masak. Lalat buah yang mempunyai ukuran tubuh relatif kecil dan siklus hidup yang pendek peka terhadap lingkungan yang kurang baik. Suhu optimal untuk perkembangan lalat buah 26oC, sedangkan kelembaban relatif sekitar 70%. Kelembaban tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan pupa. Kelembaban tanah yang sesuai untuk stadia pupa adalah 09%. Cahaya mempunyai pengaruh langsung terhadap perkembangan lalat buah. Lalat buah betina akan meletakkan telur lebih cepat dalam kondisi yang terang, sebaliknya pupa lalat buah tidak akan menetas apabila terkena sinar. Lalat buah paling banyak menyerang pada pamelo (Citrus grandis) dan sedikit yang menyerang jeruk manis (C. sinensis) maupun keprok (C. reticulata). Pada pamelo diidentifikasi sebagai B. carambolae dan B. papayae Pada pamelo serangan lalat buah kadang-kadang bersamaan dengan serangan penggerek buah Citripestis sagitiferella, sehingga agak sulit membedakan serangga tersebut. Hama ini banyak ditemukan di sentra-sentra produksi jeruk seperti di Sumatera Utara dan Jawa Timur.

18

Gambar Lalat Buah (Drosophilla melanogaster)

3. Hasil Penangkapan Di Lapangan Tepukan Tabel: Jenis Ordo yang Ditemukan Permukaan dan Tepukan NO. 1. Jenis Ordo Hemynoptera (Semut Hitam) Pohon 1 1 ekor Pohon 2 2 ekor

Ordo Hemynoptera Yang termasuk ke dalam ordo ini adalah takson tawon atau lebah dan semut. Tubuhnya berukuran dari 0,2 mm (serangga yang etrkecil) hingga 6 cm, sedangkan bentang sayapnya dapat mencapai hingga 11 cm. jumlah jenisnya kirakira 100.000. Sayap Hemynoptera terdiri dari 2 pasang, sayap tersebut terang tembus, pasangan sayap pertama dan kedua dihubungkan oleh kait-kait sehingga sehingga kedua pasangan sayap tersebut merupakan satu organ untuk terbang. Beberapa familia yang cukup penting dari ordo ini adalah Trichogrammatidae (Trichogramm, digunakan untuk pengendalian biologis hama), Mymaridae (Parasitooid telur), dan Apidae( Apis spp, dan Bombus sp).

19 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Serangga yang paling banyak tertangkap pada metode perangkap jebak adalah Hemynoptera(semut hitam),Orthoptera (Jangkrik Tanah). Jenis Ordo yang Ditemukan Permukaan pohon dengan metode Tepukan adalah: Hemynoptera(semut hitam ) Serangga yang ditemukan pada perangkap menggunakan zat penarik adalah Ordo Diptera (Drosophilla melanogaster.) Zat penarik yang digunakan untuk menarik serangga kedalam perangkap adalah methyl eguenol yang berupa cairan . cairan ini di sintesis dari minyak sere. Lalat buah yang banyak terperangkap pada perangkap yang menggunakan zat penarik dikarnakan disekitar lokasi perangkap banyak terdapat pohon belimbing yang sedang berbuah. Aspirator atau alat pengisap merupakan alat untuk mengumpulkan seranggaserangga kecil dan tidak begitu aktif bergerak (seperti wereng) dengan cara mengisapnya.

20

DAFTAR PUSTAKA Michael, P. 1999. Metode-Metode Penelitian Untuk Ladang dan Ekologi. Jakarta : Universitas Indonesia Press Odum, E.P. 1971. Fundamental Of Ecology. Philadelphia ; Saunders Company Tim Dosen. 2010. Entomologi. Medan : FMIPA UNIMED http://www.roseentomology.com/Insect_Aspirators.htm http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan http://www.tanindo.com/abdi9/hal2501.htm