Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH DASAR-DASAR FISIOLOGI TUMBUHAN

PENGARUH KETERSEDIAAN AIR TERHADAP PROSES FISIOLOGI DAN


METABOLISME TANAMAN

Disusun Oleh:
Nama Anggota Kelompok

Asisten Koreksi

: Wiga Fikri Destianisma

(13599)

Qurrota A'yun

(13605)

Yun Dewinta

(13613)

Desy Isrania

(13617)

Sheila Ava

(13658)

: Vanska Nozelle Hermanto

LABORATORIUM PRODUKSI DAN MANAJEMEN TANAMAN


SUB ILMU TANAMAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

PENGARUH KETERSEDIAAN AIR TERHADAP PROSES FISIOLOGI DAN


METABOLISME TANAMAN
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. Kedelai
merupakan bahan pangan sumber protein nabati utama bagi masyarakat. Pada awalnya
tanaman kedelai merupakan tanaman sub tropika hari pendek, namun setelah
didomestikasi dapat menghasilkan banyak kultivar lokal. Para pemulia tanaman pun
telah mengintroduksi kultivar yang dapat beradaptasi terhadap lintang yang berbeda.
Dalam upaya pemuliaan tanaman kedelai ini maka diperlukan pengetahuan dan
pengamatan mengenai berbagai proses yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan
metabolisme tanaman kedelai, beberapa diantaranya yaitu pengaruh faktor lingkungan
terhadap laju transpirasi, kadar air nisbi, dan kenampakan stomata tanaman kedelai.
Transpirasi adalah proses pergerakan larutan air dari tanah ke atmosfer melalui
sistem vaskular tanaman. Arah dan intensitas pergerakan air ditentukan oleh perbedaan
dalam gradien potensial air antara kedua daerah. Namun, proses yang mengatur
hubungan tanaman dengan air agak rumit dan tidak sepenuhnya dipahami. Kurangnya
pemahaman tentang pergerakan air dari tanah ke tanaman dan kemudian ke udara
adalah keterbatasan utama dalam pengelolaan air yang optimal untuk produksi tanaman
(Liu, 2012). Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap laju transpirasi, seperti
kelembaban udara, paparan radiasi sinar matahari, suhu, luas permukaan daun, iklim
(angin), serta ketersediaan air. Pada siang hari, tumbuhan tentu bertranspirasi optimum
dibandingkan dengan malam hari, dikarenakan paparan sinar radiasi yang besar mampu
meningkatkan tekanan turgor sel-sel daun tumbuhan, hingga tekanan turgor sel penutup
pada stomata, sehingga stomata cenderung terbuka di siang hari.
Salah satu faktor yang berpengaruh yaitu ketersediaan air. Air di dalam jaringan
tanaman selain berfungsi sebagai penyusun utama jaringan yang aktif mengadakan
kegiatan fisiologis, juga berperan penting dalam memelihara turgiditas yang diperlukan
untuk pembesaran dan pertumbuhan sel. Peranan yang penting ini menimbulkan
konsekuensi bahwa secara langsung atau tidak langsung defisit air tanaman akan
mempengaruhi semua proses metabolisme dalam tanaman yang mengakibatkan
terganggunya proses pertumbuhan (Lestari, 2006).
Kandungan air tanah dapat dinyatakan atas berat kering dan berat basah. Bagi
tanaman, penggunaan kedua dasar ini kurang memuaskan karena berat kering dan
berat basah tanaman senantiasa berubah seiring dengan umur tanaman. Hal ini telah
mendorong dikembangkannya metode cekaman air pada tanaman yang didasarkan

kepada kandungan air dari suatu tanaman yang dalam keadaan turgor. Kandungan air
nisbi (Relative Water Content = RWC) didefinisikan dengan rumus sebagai berikut:
RWC = [(FW-ODW) / (TW-ODW)] x 100%
Dimana, FW merupakan berat segar tanaman di lapangan (kg), kemudian ODW adalah
berat tanaman kering oven (kg), dan TW adalah berat tanaman pada saat dalam
keadaan turgor (kg). Berat turgor ini ditentukan dengan cara menyeimbangkan jaringan
tanaman dengan air selama beberapa jam dalam suhu tetap. Penghitungan RWC
menunjukkan kejenuhan nisbi jaringan tanaman dan dinyatakan sebagai suatu
persentase kandungan air saat tanaman dalam keadaan turgor penuh (Kertonegoro,
2004). RWC umumnya merupakan indikator yang lebih baik dari air stres daripada
LFMC (Live Fuel Moisture Content) (Jolly, 2014).
Selain ditentukan oleh faktor lingkungan, pengaruh dari dalam tanaman juga akan
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Salah satunya yaitu
pengaruh dari keberadaan stomata tanaman. Stomata merupakan lubang kecil yang
terletak di antara dua sel penjaga. Stomata menempati posisi sentral dalam jalur untuk
lembaga lainnya, kehilangan air dari tanaman dan pertukaran CO2. Hal ini umumnya
diasumsikan bahwa stomata memberikan kontrol utama jangka pendek pada transpirasi
dan fotosintesis, meskipun kriteria rinci dari kontrol gerakan mereka tidak dipahami
dengan baik dan cenderung tergantung pada situasi ekologi tertentu (Jones, 1997).
Oleh karena itu dilaksanakan pengamatan yang meliputi ketiga aspek ini baik luar
maupun dalam tanaman, diantaranya pengaruh faktor lingkungan terhadap laju
transpirasi dengan tujuan mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap laju
transpirasi, kemudian pengukuran kadar air nisbi yang bertujuan menghitung kadar air
nisbi daun suatu tanaman, dan pengamatan stomata yang bertujuan untuk mengamati
kerapatan dan lebar bukaan stomata.
B. Tujuan
1. Mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap laju transpirasi.
2. Menghitung kadar air nisbi daun suatu tanaman.
3. Mengamati kerapatan dan lebar bukaan stomata.

II. METODOLOGI

Praktikum Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan Acara V, VI, dan VII tentang Pengaruh
Ketersediaan Air Terhadap Proses Fisiologi dan Metabolisme Tanaman dilaksanakan pada
hari Rabu, tanggal 4 dan 11 Mei 2016 di Laboratorium Manajemen dan Produksi Tanaman,
Sub Ilmu Tanaman, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum meliputi tanaman
kedelai, kertas kobal klorid, cat kuku bening, dan selotip. Sedangkan alat-alat yang
digunakan dalam praktikum meliputi oven, plastik, penjepit kertas, termometer maksimumminimum, higrometer, luxmeter, timbangan, object glass, cover glass, mikroskop, micrometer
okuler pagar, dan micrometer okuler jaring.
Laju transpirasi diukur pada tanaman kedelai yang dikondisikan dengan perlakuan
cukup air (disiram setiap hari), agak kering (disiram tiga hari sekali) dan kering (disiram
seminggu sekali). Setiap perlakuan kondisi tanaman diamati kadar lengas dan laju
transpirasi. Laju transpirasi diukur menggunakan kertas kobal klorid dan dengan metode
gravimetri. Kadar lengas tanah diukur dengan mengambil 10 gram tanah, kemudian
dikeringkan dalam oven hingga berat kering stabil. Kemudian dihitung selisih antara berat
awal dengan berat akhir sehingga didapatkan kadar lengas tanah untuk setiap kondisi tanah
pada masing-masing perlakuan. Pengukuran laju transpirasi dilakukan pada daun ke 2-4
yang telah membuka penuh pada tajuk bagian luar. Kertas diletakkan di bawah plastik
transparan keras tebal berukuran 3x3 cm pada bagian bawah daun kemudian dijepit dengan
penjepit kertas. Dicatat waktu yang diperlukan untuk mengubah warna kertas kobal klorid
dari biru menjadi merah jambu sama dengan standar. Suhu, intensitas cahaya, dan
kelembaban diamati di tempat praktikum. Laju transpirasi dihitung dan dibandingkan pada
keadaan yang berbeda tersebut. Metode gravimetri dilakukan oleh masing-masing kelompok
dengan mengambil satu pot tanaman untuk perlakuan cukup air, agak kering dan kering.
Setelah itu, pot ditutup dengan plastik hingga ke batang tanaman kemudian ditimbang (W 1).
Pot dibiarkan selama 24 jam kemudian ditimbang kembali (W 2). Jumlah air yang
ditranspirasikan adalah W1 - W2. Sebelum dilakukan pengukuran kadar air nisbi pada
tanaman, dilakukan pengambilan sampel stomata untuk pengamatan stomata pada
tanaman. Pengamatan stomata meliputi kerapatan dan lebar bukaan stomata. Pengamatan
dilakukan pada daun nomor dua pada tunas yang terbentuk di permukaan daun sebelah
bawah. Pengamatan dilakukan pada siang hari dengan jalan mengoleskan cat kuku bening
pada permukaan daun bagian bawah. Setelah kering, cat kuku dilepas dengan
menempelkan selotip bening dan mengangkatnya. Cetakan stomata dari cat kuku tersebut
kemudian dilekatkan pada gelas benda dan diamati di bawah mikroskop. Untuk kerapatan
stomata, diamati dengan okuler yang dilengkapi mikrometer berbentuk jaring menggunakan
perbesaran 100 kali, sedangkan untuk lebar bukaan stomata menggunakan okuler dengan
mikrometer berbentuk pagar perbesaran 40 kali. Pada pengukuran kadar air nisbi, daun

tanaman dari masing-masing perlakuan tersebut dirompes, kemudian ditimbang masingmasing sebagai bobot segar (BS). Kemudian masing-masing daun tersebut dimasukkan ke
dalam plastik yang berisi air dan didiamkan selama 24 jam. Berat daun setelah direndam
dihitung sebagai bobot jenuh (BJ). Daun yang telah ditimbang kemudian dioven hingga
bobotnya konstan (BK). Kadar air nisbi dihitung dengan rumus:

KAN =

BSBK
X 100
BJ BK

Setelah hasil diperoleh, kemudian dilakukan analisis data untuk melihat apakah ada
perbedaan kadar air nisbi pada masing-masing kondisi tanaman. Seluruh rancangan
kegiatan praktikum disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 ulangan untuk
masing-masing perlakuan kondisi tanaman. Kelompok digunakan sebagai ulangan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Transpirasi merupakan proses pergerakan air dalam tubuh tanaman dan hilang menjadi
uap air ke atmosfir. Proses transpirasi dimulai dari absorbsi air tanah oleh akar tanaman
yang kemudian dialirkan melalui batang menuju daun dan dilepaskan sebagai uap air ke
atmosfir. Laju transpirasi dipengaruhi oleh faktor karakter vegetasi, karakter tanah,
lingkungan serta pola budidaya tanaman. Tingkat curah hujan dan temperatur merupakan
faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap laju transpirasi tanaman. Laju transpirasi
tanaman juga bergantung pada curah hujan dimana tingginya curah hujan diikuti oleh
rendahnya laju transpirasi tanaman (Prijono dkk., 2016). Transpirasi dilakukan oleh
tumbuhan melalui stomata, kutikula, dan lentisel.
Transpirasi dikontrol oleh perilaku membuka dan menutupnya stomata, dimana perilaku
stomata bervariasi menurut jenis tanaman. Kadar lengas tanah merupakan karakter tanah
yang diduga berpengaruh terhadap laju transpirasi, dimana semakin tinggi kadar lengas
tanah maka semakin besar volume air yang diabsorbsi dan ditranspirasi oleh tanaman.
Pendapat ini didukung oleh pernyataan dimana lengas tanah dan distribusi lengas tanah
berpengaruh terhadap transpirasi. Pada saat tanah mulai mengering maka laju transpirasi
akan berkurang sebagai fungsi dari lengas tanah (Prijono dkk., 2016).
Berikut adalah data kandungan lengas tanah berdasarkan hasil praktikum yang tersaji
dalam tabel:
Tabel 1. Data Hasil Kandungan Kadar Lengas Tanah
Perlakuan
Penyiraman
Cukup
Agak Kering
Kering

Kadar Lengas (%)


Ul. 1
Ul. 2
Ul. 3
25.63 34.77
39.08
9.65
12.99
13.64
2.25
1.52
4.17

Rerata
33.16
12.09
2.65

Laju transpirasi diukur pada tanaman kedelai yang dikondisikan seperti keadaan di atas,
yaitu dengan cukup air (kadar lengas 33,16 %), agak kering (kadar lengas 12,09 %), dan
kering (kadar lengas 2,65 %). Laju transpirasi diukur menggunakan dua metode yaitu
dengan kobal klorid dan gravimetri. Hasil praktikum dengan menggunakan kedua metode
tersebut disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 2. Data Hasil Transpirasi dengan Metode Kobal Klorid

Perlakuan Laju Transpirasi (/jam)


Ul. 2
Ul. 3
Penyiraman Ul. 1
Cukup 47.24
40.00
60.00
Agak Kering 14.25
4.45
14.56
Kering 1.40
1.50
1.57

Rerata
49.08
11.09
1.49

Tabel 3. Data Hasil Transpirasi dengan Metode Gravimetri


Perlakuan
Penyiraman
Cukup
Agak Kering
Kering

Laju Transpirasi (gr/jam)


1
2
3
Rerata
17.5 19.5 16 17.6667
3.5
1.5
2.5 2.5
0
5.5
-1
1.5

Berdasarkan tabel 1 dan 2, dapat diamati bahwa semakin kering suatu tanah maka laju
transpirasi tanaman kedelai menurun.hal ini sesuai dengan pendapat Wang et al. (2006),
dalam Yuniaty dkk., (2013), yang menyatakan bahwa dalam kondisi cekaman kekeringan,
terjadi penurunan laju transpirasi, untuk mengurangi kehilangan air dari tanaman dan
mempertahankan status air tanaman. Sel tumbuhan yang mengalami cekaman kekeringan
(kehilangan air) mempunyai tekanan turgor yang lebih rendah daripada nilai. Cekaman
kekeringan pada tanaman menunjukkan kekurangan air yang dialami oleh tanaman akibat
keterbatasan air dari lingkungannya, yaitu media tanam. Menurut Mansfield (1990) dalam Ai
(2011), menyatakan bahwa jika mengalami kekeringan, dua macam respon tanaman yang
dapat memperbaiki status air adalah mengubah distribusi asimilat baru untuk lebih
mendukung pertumbuhan akar daripada tajuk, sehingga dapat meningkatkan kapasitas akar
menyerap air serta menghambat pertumbuhan tajuk untuk mengurangi transpirasi dan
mengatur derajat pembukaan stomata untuk menghambat hilangnya air melalui transpirasi.
Kondisi kekeringan akan memberikan efek terhadap zat pengatur tumbuh yang terdapat
dalam tanaman misalnya kandungan asam absisat (ABA) mulai meningkat dengan tajam
dalam jaringan daun dan dalam jaringan lain dengan kadar yang lebih rendah, termasuk
akar. Hal ini mengakibatkan stomata menutup dan transpirasi menurun. Di samping itu, lebih
menghemat air, dan pertumbuhan akar terlihat meningkat (Permanasari dkk., 2013). Untuk
melihat hubungan antara laju transpirasi dengan kadar lengas, disajikan dalam grafik
sebagai berikut:

Gravimetri
Linear (Gravimetri)
Kobal Klorid

Linear (Gravimetri)
Linear (Gravimetri)
Linear (Kobal Klorid)

30

80
60
20
f(x) =
= 0.48x
1.38x40
f(x)
=
0.94
Laju transpirasi (g jam-1) 10 R
R = 0.89 20 Laju Transpirasi (jam-1)
0
0
10 30 50
0 20 40
Kadar Lengas (%)
Gambar 1. Hubungan Kadar Lengas dengan Waktu yang Diperlukan untuk Mengubah Warna Kertas
Kobal Klorid dan Air yang Ditranspirasikan

Grafik di atas menunjukkan hubungan kadar lengas dengan waktu yang diperlukan untuk
mengubah warna kertas kobal klorid dan air yang ditranspirasikan. Pada hubungan lengas
dengan waktu yang diperlukan untuk untuk mengubah warna kertas klorid diperoleh nilai y
sebesar 1,3846 x. Ini menunjukkan nilai positif atau hubungan yang positif, artinya makin
tinggi nilai X makin tinggi pula nilai Y nya, semakin tinggi kadar lengas maka waktu yang
diperlukan untuk mengubah warna kertas kobal klorid akan semakin cepat. Nilai R = 0,896,
sehingga nilai Rnya atau koefisien korelasinya sebesar 0,947. Nilai ini menunjukkan
keeratan antara kadar lengas terhadap waktu yang diperlukan untuk mengubah warna kertas
kobal klorid. Dalam klasifikasi, nilai koefisien korelasi ini menunjukkan keeratan hubungan
yang kuat. Jadi, korelasi antara kadar lengas terhadap waktu yang diperlukan untuk
mengubah warna kertas kobal klorid kuat. Pada hubungan lengas dengan air yang
ditranspirasikan diperoleh nilai y sebesar 0,4779 x. Ini menunjukkan nilai positif atau
hubungan yang positif, artinya makin tinggi nilai X makin tinggi pula nilai Y nya, semakin
tinggi kadar lengas maka air yang ditranspirasikan akan semakin banyak. Nilai R = 0,8019,
sehingga nilai Rnya atau koefisien korelasinya sebesar 0,895. Nilai ini menunjukkan
keeratan kadar lengas dengan air yang ditranspirasikan. Dalam klasifikasi, nilai koefisien
korelasi ini menunjukkan keeratan hubungan yang kuat. Jadi, korelasi antara kadar lengas
dengan air yang ditranspirasikan kuat.
Tingkat kadar lengas tanah mempengaruhi laju transpirasi secara nyata. Pengaruh
tersebut bersifat linier yaitu dengan semakin meningkatnya kadar lengas yang tersedia,
maka laju transpirasinya juga semakin meningkat, begitupun sebaliknya laju transpirasi
kadar lengas 33,16 % lebih besar dari 12,09 % dan 2,65 %. Laju transpirasi terendah pada
kadar lengas terendah, yaitu 2,65 %. Laio et. al., (2001) dalam Prijono dkk. (2016)

menyatakan bahwa tingginya kadar lengas tanah menyebabkan tingginya laju transpirasi
oleh tanaman. Kadar lengas tanah serta kemampuan tanah membawa air menuju akar
tanaman juga menentukan laju transpirasi tanaman. Defisit kadar lengas tanah pada suatu
lahan akan direspon oleh tanaman dengan penutupan stomata. Tanaman mengurangi laju
transpirasi dimulai dengan menutupnya stomata untuk mencegah internal water losses.
Menurut Purwanto dkk., (2010) dalam Permanasari dkk., (2013), menyatakan bahwa laju
transpirasi tanaman kedelai mulai menurun pada kadar lengas tanah 60% kapasitas lapang
dan tidak berbeda nyata dengan kadar lengas 40% kapasitas lapang.
Air merupakan kebutuhan pokok bagi semua tanaman dan merupakan bahan penyusun
utama dari pada protoplasma sel. Di samping itu, air adalah komponen utama dalam proses
fotosintesis, pengangkutan asimilat hasil proses tersebut ke bagian-bagian tanaman hanya
dimungkinkan melalui gerakan air dalam tanaman. Pemakaian air oleh tanaman akan
berkorelasi posistif dengan produksi biomasa tanaman, hanya sebagian kecil dari air yang
diserap akan menguap melalui stomata atau melalui proses transpirasi (Crafts et al., 1949
cit., Dwidjoseputro, 1984 cit. Harwati, 2007). Peranan air yang sangat penting tersebut,
menjadikan air sangat penting untuk diketahui pengaruhnya pada tanaman, terutama
kandungan air pada jaringan tanaman yang digunakan dalam proses metabolisme.
Kebutuhan air bagi tumbuhan berbeda-beda, tergantung jenis tumbuhan dan fase
pertumbuhannya. Air yang dapat diserap dari tanah oleh akar tumbuhan disebut air yang
tersedia. Air yang tersedia merupakan perbedaan antara jumlah air dalam tanah pada
kapasitas lapang dan jumlah air dalam tanah pada persentase pelayuan permanen. Air pada
kapasitas lapang adalah air yang tetap tersimpan dalam tanah yang tidak mengalir ke bawah
karena gaya gravitasi; sedangkan air pada persentase pelayuan permanen adalah apabila
pada kelembaban tanah tersebut tumbuhan yang tumbuh di atasnya akan layu dan tidak
akan segar kembali dalam atmosfer dengan kelembaban relatif 100% (Gardner et al., 1991
cit., Solichatun dkk., 2005). Air seringkali membatasi pertumbuhan dan perkembangan
tanaman budidaya. Respon tumbuhan terhadap kekurangan air dapat dilihat pada aktivitas
metabolismenya, morfologinya, tingkat pertumbuhannya, atau produktivitasnya (Solichatun
dkk., 2005).
Berdasarkan pengamatan terhadap kandungan air nisbi pada tanaman dengan
perlakuan kadar lengas yang berbeda, diperoleh data pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. Data Hasil Pengamatan Kadar Air Nisbi Daun Glycine max
KAN (%)

Perlakuan
Peyiraman

Rerata

Cukup

46.52

55.16

49.95

50.54

Agak Kering

37.92

26.19

42.90

35.67

Kering

28.13

24.66

7.69

20.16

Pada tabel tersebut, menunjukkan data kandungan air nisbi pada tanaman kedelai dengan
perlakuan penyiraman cukup air, agak kering, dan kering. Melalui praktikum akan diketahui
pengaruh kadar lengas tanah tersebut terhadap kandungan air nisbi pada tanaman.
Dilakukan ulangan sebanyak 3 kali pada pengamatan dan hasilnya kemudian direrata.
Berdasarkan data tersebut dibuat grafik analisis regresi untuk mengetahui pengaruh
perlakuan. Grafik tersebut ditampilkan sebagai berikut:
60

f(x) = 0.89x + 21.32


R = 0.68

50
40

Kadar Air Nisbi (%) 30


20
10
0

10

15

20

25

30

35

40

45

Kadar Lengas (%)


Gambar 2. Hubungan Kadar Lengas dengan Kadar Air Nisbi

Pada grafik di atas ditunjukkan bahwa, kadar lengas memberikan pengaruh beda nyata atau
signifikan terhadap kandungan air nisbi pada tanaman ditunjukkan oleh nilai P kurang dari
0.05. kemudian hubungan antara kedua peubah tersebut dilihat dari koefisisen korelasinya
0.687 yaitu R= 825 menunjukkan adanya hubungan posistif yang erat karena nilainya
mendekati 1. Besarnya pengaruh kadar lengas terhadap kadar air nisbi tersebut mengikuti
persamaan regresi yaitu y = 0.8852x + 21.323, artinya kenaikan pada kadar lengas sebesar
1% akan menyebabkan kadar air nisbi meningkat sebesar 0.8852. Hasil tersebut
dibandingkan dengan teori yang ada yaitu interval penyiraman nyata meningkatkan laju
penurunan kadar lengas tanah, sehingga jumlah air tanah yang dapat diserap tanaman
menurun. Sementara transpirasi terus berlangsung, hal ini mengakibatkan nilai kandungan
air nisbi (KAN) daun menurun (Setiawan dkk., 2012). Berdasarkan teori tersebut, dapat

diketahui bahwa pada keadaan kadar lengas rendah maka serapan air oleh tanaman akan
menurun dan kandungan air nisbinya juga menurun, sehingga kadar lengas tanah
mempengaruhi kadar air nisbi pada tanaman. Hasil praktikum jika dibandingkan dengan
teori, hasilnya sesuai.
Pentingnya kandungan air pada tubuh tumbuhan, mengakibatkan keberadaan air
menjadi faktor penting dalam pertumbuhan tanaman tersebut. Keberadaan air menjadikan
tanaman akan mengalami adaptasi-adaptasi pada kondisi morfologinya. Pada kondisi
kekurangan air tanaman akan meningkatkan pengambilan air pada posisi yang lebih dalam.
Kehilangan air daun dapat direduksi dengan memperkecil luas permukaan daun dan
mereduksi konduktivitas stomata (Rauf dan Sadaqat, 2008). Stomata merupakan saluran
biologis untuk pertukaran gas antara tanaman dan lingkungan atmosfer. Pada kondisi nilai
KAN dan PAD rendah, tanaman kehilangan turgiditas, terutama pada daun dan sekitar
stomata yang menyebabkan menutupnya stomata. Penutupan stomata merupakan langkah
awal pada tanaman dalam adaptasinya terhadap kekurangan air. Penutupan kemudian
diikuti oleh penurunan konduktivitas stomata.
Dalam proses metabolisme pada tumbuhan, sangat dibutuhkan fisiologis dan struktur
tumbuhan yang saling terkait. Sel dan jaringan pada tubuh tumbuhan juga saling berkaitan
dalam proses metabolisme tersebut agar dapat berjalan dengan baik. Salah satu sel yang
memiliki peranan penting dalam proses metabolisme tubuh tumbuhan yaitu stomata.
Stomata adalah lubang atau celah yang diapait oleh 2 sel khusus yaitu sel penjaga serta
keberadaannya paling banyak di daun. Sel penjaga dapat membuka dan menutup sesuai
kebutuhan transpirasi tanaman. Pada bagian luar sel penjaga yang mengelilinginya terdapat
sel tetangga yang berperan dalam perubahan osmotik yang berhubungan dengan
pergerakan sel penjaga. Jumlah stomata berkisar ribuan per cm persegi (Pandey, 1982 cit.
Haryanti, 2010). Peranan stomata sangat penting dalam proses transpirasi, dan masuknya
gas CO2 maupun O2 menjadikan pengamatan terhadap keadaan stomata pada tumbuhan
dalam keadaan tertentu sangat penting untuk diketahui pengaruhnya. Berdasarkan
pengamatan keadaan stomata terhadap kondisi lingkungan dengan cukup air, agak kering,
dan kering diperoleh hasil seperti pada tabel di bawah ini:
Tabel 5. Data Hasil Pengamatan Stomata Daun Kedelai (Glycine max)
Perlakuan
Penyiraman
Cukup
Agak Kering
Kering

Kerapatan Stomata (mm2)


Ul. 1
Ul. 2
Ul. 3
1016
1276
940
824
940
740
584
336
372

Rerata
1077.33
834.66
430.66

Lebar Bukaan (m)


Ul. 1 Ul. 2 Ul 3
20
20
10
10
8
10
7
6
8

Rerata
16.66
9.33
7

Dalam tabel diketahui bahwa pengamatan dilakukan dengan 3 ulangan pada masingmasing pengamatan kerapatan stomata dan lebar bukaan stomata pada daun tanaman

kedelai (Glycine max) menggunakan mikroskop. Dari hasil pengamatan tersebut kemudian
diambil rerata masing-masing pengamatan. Data yang diperoleh tersebut kemudian
dianalisis untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap keadaan stomata pada daun
tanaman. Hasil analisis ditampilkan dalam grafik sebagai berikut:
f(x) =
R = 0

Lebar Bukaan Stomata


Linear (Lebar Bukaan Stomata)
Kerapatan Stomata
Linear (Kerapatan Stomata)
Linear (Kerapatan Stomata)
20

2000

f(x)1000
= 36.42x
Kerapatan Stomata (jumlah mm-2)
R = 0.82
0
0
0 50

Lebar Bukaan Stomata (m) 10

Kadar Lengas (%)


Gambar 3. Hubungan Kadar Lengas dengan Jumlah Stomata dan Lebar Bukaan Stomata

Berdasarkan analisis regresi diperoleh data pengaruh perlakuan kadar lengas terhadap
kerapatan dan lebar bukaan stomata. Pada grafik dapat dilihat bahwa pada perlakuan kadar
lengas yang berbeda memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata atau tidak signifikan
terhadap kerapatan stomata pada daun. Hal tersebut ditunjukkan dari nilai P kurang dari
0,01. Kemudian, dilihat dari koefisien korelasi

0,1431 yaitu R= 0.378 diketahui bahwa

keeratan hubungan antara kerapatan stomata dengan kadar lengas lemah karena tidak
mendekati 1 atau -1. Besar pengaruh dari kadar lengas pada kerapatan stomata tersebut
mengikuti persamaan regresi yaitu y = 36.414x yang artinya pada kenaikan kadar lengas
sebesar 1% maka kerapatan stomata juga akan naik sebesar 36.415 tiap mm 2 . Berdasarkan
teori, pada saat terjadi kekeringan atau kadar lengas kurang, sebagian stomata daun
menutup sehingga terjadi hambatan masuknya CO2 dan menurunkan aktivitas fotosintesis.
Selain menghambat aktivitas fotosintesis, cekaman kekeringan juga menghambat sintesis
protein dan dinding sel. Pengaruh cekaman kekeringan tidak saja menekan pertumbuhan
dan hasil bahkan menjadi penyebab kematian tanaman. Menurut teori tersebut, dalam
perlakuan kadar lengas akan mempengaruhi stomata tanaman yaitu stomata akan menutup
pada keadaan kering. Adanya penutupan stomata tersebut kemudian mengakibatkan
stomata tidak bisa teramati saat pengamatan menggunakan mikroskop, sehingga kerapatan
dari stomatanya menurun. Hasil yang kurang signifikan pada percobaan pengaruh kadar
lengas terhadap kerapatan stomata dapat terjadi karena genetik dari individu tanaman yang
diamati yang memiliki stomata sedikit. Selain itu, juga dapat terjadi karena kesalahan

pengamat (human error) dalam melakukan penghitungan jumlah stomata, terutama stomata
yang bukaannya kecil yang susah teramati.
Grafik selanjutnya, menunjukkan pengaruh kadar lengas terhadap lebar bukaan
stomata. Berdasarkan grafik dapat diketahui bahwa perlakuan kadar air memberikan
pengaruh yang beda nyata atau signifikan terhadap lebar bukaan stomata yang diamati pada
daun. Hal tersebut diketahui dari nilai P yang kurang dari 0.01. Kemudian, hubungan antara
kedua peubah tersebut dilihat dari koefisien korelasinya 0.4849 yaitu R = 0.696
menunjukkan bahwa hubungan antar peubah kurang erat dengan sifat hubungan yaitu
positif. Pengaruh kadar lengas terhadap lebar bukaan stomata mengikuti persamaan regresi
y = 0.2629x + 6.802 yang artinya, pada kenaikan kadar lengas sebesar 1% maka bukaan
stomata akan bertambah lebar sebesar 0.2629 m. Berdasarkan teori tanaman yang
mengalami kekeringan akan mengecilkan lubang stomata untuk mengurangi hilangnya air
akibat transpirasi. Selain itu, juga untuk mengurangi masuknya CO2 yang akan berakibat
terhadap menurunnya hasil fotosintat (Soedarson dan Widoretno, 2003 cit. Permanasari dan
Sulistyaningsih, 2013). Hasil praktikum jika dibandingkan dengan teori yang ada, hasilnya
sesuai yaitu kadar lengas mempengaruhi lebar bukaan somata, sehingga pada kondisi
kering atau kadar lengas rendah, maka stomata akan mengecilkan lebar bukaannya.

IV. KESIMPULAN

1. Tingkat kadar lengas tanah mempengaruhi laju transpirasi secara nyata. Pengaruh
tersebut bersifat linier yaitu dengan semakin meningkatnya kadar lengas yang tersedia,
maka laju transpirasinya juga semakin meningkat, begitu pula sebaliknya.
2. Kadar lengas memberikan pengaruh beda nyata atau signifikan terhadap kandungan air
nisbi pada tanaman Besarnya pengaruh kadar lengas terhadap kadar air nisbi mengikuti
persamaan regresi yaitu y = 0.8852x + 21.323 yang artinya kenaikan pada kadar lengas
sebesar 1% akan menyebabkan kadar air nisbi meningkat sebesar 0.8852 satuan.
3. Keadaan kadar lengas yang berbeda memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata
atau tidak signifikan terhadap kerapatan stomata pada daun, namun memberikan
pengaruh yang beda nyata atau signifikan terhadap lebar bukaan stomata.

DAFTAR PUSTAKA

Ai, N.S. 2011. Biomassa dan kandungan klorofil total daun jahe (Zingiber officinale L.) yang
mengalami cekaman kekeringan. Jurnal Ilmiah Sains 11(1): 1-5.
Djazuli, M. 2010. Pengaruh cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan dan beberapa
karakter morfo-fisiologis tanaman nilam. Buletin Littro 21(1): 8-17.
Harwati, T. 2007. Pengaruh kekurangan air (water deficit) terhadap pertumbuhan dan
perkembangan tanaman tembakau. Jurnal Inovasi Pertanian 6(1): 44-51.
Haryanti, S. 2010. Jumlah dan distribusi stomata pada daun beberapa spesies tanaman
dikotil dan monokotil. Jurnal Anatomi Fisiologi 18(2): 21-28.
Jolly A, W.M., B.A.M. Hadlow, and K. Huguet A. De-coupling seasonal changes in water
content and dry matter to predict live conifer foliar moisture content. International
Journal of Wildland Fire 23: 480-489.
Jones, H.G. 1998. Stomatal control of photosynthesis and transpiration. Journal of
Experimental Botany 49: 387-398.
Kertonegoro, B.D. 2004. Hubungan Tanah Air Tanaman Dan Atmosfer. Laboratorium Fisika
Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta.
Lestari, E.G. 2006. Hubungan antara kerapatan stomata dengan ketahanan kekeringan pada
somaklon padi Gajahmungkur, Towuti, dan IR 64. Jurnal Biodiversitas 7(1): 44-48.
Liu, G., Y. Li, and A.K. Alva. 2012. Water potential vs. pressure in relation to water movement
and transpiration in plants. International Journal of Agronomy and Plant Production
3(10): 369-373.
Permanasari, I. dan E. Sulistyaningsih. 2013. Kajian fisiologi perbedaan kadar lengas tanah
dan konsentrasi giberelin pada kedelai (Glycine max L.). Jurnal Agroteknologi 4(1): 3139.
Prijono, S., M. Teguh dan S. Laksmana. 2016. Studi laju transpirasi Peltophorum
dassyrachis dan Gliricidia sepium pada sistem budidaya tanaman pagar serta
pengaruhnya terhadap konduktivitas hidrolik tidak jenuh. J-PAL 7(1): 15-24.
Setiawan, Tohari, dan D. Shiddieq. 2012. Pengaruh cekaman kekeringan terhadap
akumulasi prolin tanaman nilam (Pogostemon cablin benth.). Ilmu Pertanian 15(2): 8599.
Solichatun, E. Anggarwulan, dan W. Mudyantini. Pengaruh ketersediaan air terhadap
pertumbuhan dan kandungan bahan aktif saponin tanaman ginseng Jawa (Talinum
paniculatum Gaertn.). Biofarmasi 3 (2): 47-51.
Yuniaty, A., R.M. Lantican, J.S. Lales dan J. Hernandez. 2013. Variasi genetik berbagai
genotipe kedelai dalam kondisi cekaman kekeringan. Jurnal Inovasi 7(1): 75-80.