Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

Bells palsy (BP) atau Idiopathic Facial Paralysis (IFP) adalah penyebab paling sering
dari kelumpuhan wajah unilateral dan penyebab paling umum dari kelumpuhan wajah di seluruh
dunia. Bells palsy adalah kelumpuhan nervus fasialis perifer, terjadi secara akut. Sir Charles Bell
(1821) adalah orang yang pertama meneliti beberapa penderita dengan wajah asimetrik, sejak itu
semua kelumpuhan nervus fasialis perifer yang tidak diketahui sebabnya disebut Bell's palsy.
Kelumpuhan ini adalah salah satu gangguan neurologis yang paling umum dari saraf kranial dan
hingga saat ini penyebabnya tidak diketahui.(1-2)
Insidensi Bells palsy di Amerika Serikat adalah sekitar 23 kasus per 100.000 orang,
dimana setiap tahunnya terdapat 40.000 orang di Amerika Serikat yang menderita penyakit ini.
Insiden Bells palsy tampak cukup tinggi pada orang-orang keturunan Jepang, dan tidak ada
perbedaan distribusi jenis kelamin pada pasien-pasien dengan Bells palsy. Di dunia, insiden
tertinggi ditemukan di Seckori, Jepang tahun 1986 dan insiden terendah ditemukan di Swedia
pada tahun 1997. Penyakit ini dapat mengenai semua umur, namun lebih sering terjadi pada
umur 20-40 tahun. Bells palsy lebih jarang pada orang-orang yang berusia di bawah 15 tahun
dan yang berusia di atas 60 tahun. Peluang untuk terjadinya Bells palsy pada laki-laki sama
dengan wanita. Pada kehamilan trimester ketiga dan 2 minggu pasca persalinan kemungkinan
timbulnya Bells palsy lebih tinggi dari pada wanita tidak hamil, dimana kemungkinan terkena
Bells palsy dapat mencapai 3,3 kali lipat.(2-5)
Dalam sebagian besar kasus, Bells palsy secara bertahap membaik dari waktu ke waktu
namun pada beberapa diantara mereka kelumpuhannya sembuh dengan meninggalkan gejala
sisa. Gejala sisa ini berupa kontraktur dan spasme spontan. Permasalahan yang ditimbulkan
Bells palsy cukup kompleks, diantaranya masalah fungsional, kosmetika dan psikologis
sehingga dapat merugikan tugas profesi penderita, permasalahan kapasitas fisik (impairment)
antara lain berupa asimetris wajah, rasa kaku dan tebal pada wajah sisi lesi, penurunan kekuatan
otot wajah pada sisi lesi, dan potensial terjadi iritasi pada mata sisi lesi. Sedangkan permasahan
fungsional (fungsional limitation) berupa gangguan fungsi yang melibatkan otot-otot wajah,
1

seperti makan dan minum, berkumur, gangguan menutup mata, gangguan bicara dan gangguan
ekspresi wajah. Semua hal ini dapat menyebabkan individu tersebut menjadi tidak percaya diri,
terutama bagi penderita wanita. Oleh karena itu, diperlukan terapi secara cepat dan tepat untuk
mencapai pemulihan terbaik fungsi saraf wajah dan penderita dapat kembali melakukan aktivitas
kerja sehari-hari serta bersosialisasi dengan masyarakat.(2-5)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Definisi
Bells palsy (BP) atau Idiopathic Facial Paralysis (IFP) adalah kelumpuhan
nervus fasialis perifer (N.VII), terjadi secara akut, penyebabnya tidak diketahui
(idiopatik) dan tidak menyertai penyakit lain yang dapat mengakibatkan lesi nervus
fasialis atau kelumpuhan fasialis perifer. Sir Charles Bell (1821), seorang dokter
bedah yang berasal dari Skotlandia adalah orang yang pertama meneliti beberapa
penderita dengan wajah asimetrik, sejak itu semua kelumpuhan nervus fasialis perifer
yang tidak diketahui sebabnya disebut Bell's palsy. Kelumpuhan ini adalah salah satu
gangguan neurologis yang paling umum dari saraf kranial.(1-2)

2.2.

Struktur Anatomi
Pada tahun 1550, Fallopius menemukan foramen sempit di tulang temporal
dimana tempat dari nervus kranialis ketujuh lewat; foramen ini sekarang disebut
kanalis falopii atau kanalis fasialis. Pada tahun 1828, Charles Bell membuat
perbedaan antara nervus kranialis kelima dan ketujuh; ia mencatat bahwa saraf
ketujuh terlibat terutama dalam fungsi motorik wajah dan saraf kelima terutama
dilakukan sensasi dari wajah.(2-3,6)
Nervus fasialis terutama terdiri dari saraf motorik yang mempersarafi seluruh
otot mimik wajah. Komponen sensorisnya kecil, yaitu nervus intermedius Wisberg
yang mengantarkan rasa pengecapan dari 2/3 bagian anterior lidah dan sensasi
somatis dinding anterior kanalis auditorius eksterna, pinna, dan bagian luar dari
membran timpani. Ada pakar yang menganggap nervus intermedius sebagai saraf
yang terpisah, namun umumnya nervus intermedius dianggap sebagai bagian dari
nervus fasialis.(6)
Inti nervus fasialis terletak dalam formatio reticularis di pons, berdekatan
dengan ventrikel keempat. Akar nervus fasialis termasuk serat dari nukleus motorik,
traktus solitarius, dan nukleus salivatori superior. Serat preganglionik parasimpatis

yang berasal dari nukleus salivatori superior bergabung dengan serat dari traktus
solitarius superior untuk membentuk nervus intermedius.(6)
Nervus intermedius terdiri dari serat sensorik dari lidah, mukosa, dan kulit
postaurikular, serta serat parasimpatis ke kelenjar ludah dan lakrimal. Serat ini
kemudian bersinaps dengan ganglion submandibula, yang memiliki serat yang
memasok glandula sublingual dan submandibula. Serat dari nervus intermedius juga
terdiri dari ganglion pterygopalatina, yang memiliki serat parasimpatis yang
memasok hidung, palatum, dan glandula lakrimalis. Serabut-serabut rasa pengecapan
pertama-tama melintasi nervus lingual, yaitu cabang dari nervus mandibularis lalu
masuk ke korda timpani dimana ia membawa sensasi pengecapan melalui nervus
fasialis ke nukleus traktus solitarius.(2-3,6)
Serat-serat nervus fasialis lalu berjalan di sekitar nukleus nervus abducens
dan keluar dari pons di sudut cerebellopontine. Serat tersebut kemudian melalui
kanalis auditorius interna bersama dengan bagian vestibular dari nervus
vestibulokokhlear.(6)
Nervus fasialis mengandung serat parasimpatis ke hidung, glandula
submandibularis, glandula sublingualis dan glandula lakrimalis. menyebabkan jalur
nervus ini berliku-liku, baik pusat maupun perifer. Nervus fasialis memiliki jalur
intraosseal sepanjang 30-mm melalui canalis auditorius interna (bersama-sama
nervus kranialis kedelapan) dan melalui kanalis falopi yang berada pada tulang
temporal petrosa. kurungan tulang ini yang membatasi seberapa saraf dapat bengkak
sampai terkompresi.(2-3,5-6)
Nervus fasialis melewati foramen stylomastoideus di tulang tengkorak dan
berakhir ke cabang-cabang zygomatic, buccal, mandibular, dan cervical. saraf ini
mempersarafi otot ekspresi wajah, yang meliputi muskulus frontalis, orbicularis
oculi, orbicularis oris, businator, dan platysma. otot-otot lain dipersarafi oleh saraf
wajah termasuk muskulus stapedius, stylohyoid, occipitalis, dan auricularis anterior
dan posterior. Semua otot yang dipersarafi oleh nervus fasialis yang berasal dari
arkus branchialis kedua.(2-3,5-6)
Pada pembagiannya, Saraf otak ke VII mengandung 4 macam serabut, yaitu :
a) Serabut somato-motorik, yang mensarafi otot-otot wajah kecuali m. levator
palpebrae (N.III), otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan
stapedius di telinga tengah
4

b) Serabut visero-motorik, (parasimpatis) yang datang dari nukleus salivatorius


superior. Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring, palatum,
rongga hidung, sinus paranasal, dan glandula submandibularis serta
sublingual dan lakrimalis.
c) Serabut visero-sensorik, yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua
pertiga bagian depan lidah.
d) Serabut somato-sensorik, rasa nyeri dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba
dari sebagian daerah kulit dan mukosa yang dipersarafi oleh nervus
trigeminus.(5)

Gambar 1. Anatomi Nervus Fasialis


Gambar 2. Perjalanan LMN Nervus Fasialis

2.3.

Etiologi
Hingga saat ini Bells palsy masih belum diketahui penyebabnya.
Diperkirakan, penyebab Bells palsy adalah edema dan iskemia akibat penekanan
(kompresi) pada nervus fasialis. Penyebab edema dan iskemia ini sampai saat ini
masih diperdebatkan. Penyebab yang saat ini dipercaya sebagai penyebab antara lain.
(3-5)

1. Suhu. Dahulu, paparan suasana/suhu dingin (misalnya hawa dingin, AC, atau
menyetir mobil dengan jendela yang terbuka) dianggap sebagai satu-satunya
pemicu Bells palsy. Akan tetapi, sekarang mulai diyakini bahwa terdapat
penyebab lain yang dapat menyebabkan Bells palsy.(3-5)

2. Infeksi. HSV dianggap sebagai virus utama penyebab Bells palsy, karena telah
diidentifikasi HSV pada ganglion geniculata pada beberapa penelitian otopsi.
Murakami et all juga melakukan tes PCR (Polymerase Chain Reaction) pada
cairan endoneural N.VII penderita Bells palsy berat yang menjalani pembedahan
dan menemukan HSV dalam cairan endoneural. Virus ini diperkirakan dapat
berpindah secara axonal dari saraf sensorik dan menempati sel ganglion, pada
saat adanya stress, akan terjadi reaktivasi virus yang akan menyebabkan
kerusakan lokal pada myelin. Infeksi lain seperti infeksi herpes zoster, Borrelia
burgdorferi, syphilis, Epstein-Barr, cytomegalovirus, human immunodeficiency
virus (HIV), dan mycoplasma juga dipercaya dapat menyebabkan Bells palsy.(3-5)
3. Autoimun. Dikatakan bahwa Bells palsy terjadi akibat reaksi imunologi terhadap
infeksi virus yang timbul sebelumnya atau sebelum pemberian imunisasi.
Kelainan autoimun menyebabkan demyelinisasi dari nervus fasialis dan
menghasilkan paralisis nervus fasialis unilateral.(4)
4. Herediter. Riwayat keluarga pada Bell's palsy telah dilaporkan pada sekitar 4%
kasus. Kelainan genetik dalam kasus ini mungkin autosomal dominan dengan
tingkat penetrasi yang rendah. Namun, faktor-faktor predisposisi terjadinya
penurunan secara genetik belum jelas. Sejarah keluarga mungkin juga positif bagi
saraf lainnya, gangguan radix atau pleksus (misalnya, trigeminal neuralgia) pada
saudara kandung. Selain itu, ada laporan tersendiri dari familial Bell's palsy yang
disertai dengan defisit neurologis, termasuk oftalmoplegia dan tremor esensial.
Familial Bell's palsy merupakan manifestasi Bell's palsy yang langka dan
memiliki kecenderungan mengenai perempuan remaja.(2)
2.4.

Epidemiologi
Insidensi Bells palsy di Amerika Serikat adalah sekitar 23 kasus per 100.000
orang, dimana setiap tahunnya terdapat 40.000 orang di Amerika Serikat yang
menderita penyakit ini. Insiden Bells palsy rata-rata 15-30 kasus per 100.000
populasi. Insiden Bells palsy tampak cukup tinggi pada orang-orang keturunan
Jepang, dan tidak ada perbedaan distribusi jenis kelamin pada pasien-pasien dengan
Bells palsy. Di dunia, insiden tertinggi ditemukan di Seckori, Jepang tahun 1986 dan
insiden terendah ditemukan di Swedia pada tahun 1997. Penyakit ini dapat mengenai
semua umur, namun lebih sering terjadi pada umur 20-40 tahun.(2-3)
7

Bells palsy lebih jarang pada orang-orang yang berusia di bawah 15 tahun dan
yang berusia di atas 60 tahun. Peluang untuk terjadinya Bells palsy pada laki-laki
sama dengan wanita. Akan tetapi, wanita muda yang berumur 10-19 tahun lebih
rentan terkena daripada laki-laki pada kelompok umur yang sama. Pada kehamilan
trimester ketiga dan 2 minggu pasca persalinan kemungkinan timbulnya Bells palsy
lebih tinggi dari pada wanita tidak hamil, dimana kemungkinan terkena Bells palsy
dapat mencapai 3,3 kali lipat. Pada wanita hamil dengan preeklampsia juga sering
terkena Bells palsy.(2-3)
Bells palsy diperkirakan menyebabkan sekitar 60-75% dari total kasus
kelumpuhan wajah unilateral akut, dengan 63% terkena di sisi kanan. Bell's palsy
juga dapat mengalami kekambuhan, dengan kejadian rekurensi dilaporkan antara 414%. Bell's palsy bilateral dapat terjadi meski sangat langka. Bell's palsy
menyumbang hanya 23% dari kelumpuhan wajah bilateral dan memiliki tingkat
kejadian yang kurang dari 1% dibanding kelumpuhan saraf wajah unilateral.
Sebagian besar pasien dengan bilateral facial palsy menderita Guillain-Barr
syndrome, sarkoidosis, penyakit Lyme, meningitis (neoplastik atau infeksi), atau
neurofibroma bilateral (pada pasien dengan neurofibromatosis tipe 2).(2-3)
Penderita diabetes mempunyai resiko 29% lebih tinggi, dibanding nondiabetes. Dengan demikian, mengukur kadar glukosa darah pada saat diagnosis Bell's
palsy dapat mendeteksi diabetes yang belum terdiagnosis. Penderita diabetes 30%
lebih mungkin mengalami pemulihan parsial dibandingkan pasien non diabetes
dengan tingkat rekurensi pada penderita diabetes melitus juga lebih tinggi. Bells
palsy juga lebih sering mengenai penderita immunocompromised.(2-3)
2.5.

Patofisiologi
Patofisiologi persis timbulnya Bells palsy masih dalam perdebatan. Teori yang
paling diyakini adalah adanya edema dan iskemia

menyebabkan kompresi dari

nervus fasialis dalam kanalis fasialis, karena itu ia terjepit di dalam foramen
stilomastoideum dan menimbulkan kelumpuhan LMN N. VII. Penyebab terjadinya
edema dan iskemi masih belum dapat ditegakkan, diperkirakan edema dan iskemia
disebabkan oleh berbagai faktor seperti autoimun dan infeksi. Kompresi nervus
fasialis ini dapat dilihat dengan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI).(12,7)

Bagian pertama dari kanalis fasialis yang disebut dengan segmen labirin
adalah bagian yang paling sempit, meatus foramien ini memiliki diameter hanya 0,66
mm. Lokasi inilah yang diduga merupakan tempat paling sering terjadinya kompresi
pada N.VII pada Bells Palsy, karena bagian ini merupakan tempat yang paling
sempit maka terjadinya inflamasi, demielinisasi, ischemia, ataupun proses kompresi
paling mungkin terjadi. (1-2,7)
Lokasi terserangnya Nervus Fasialis di Bells Palsy bersifat perifer dari
nukleus saraf tersebut, dimana timbulnya lesi diduga terletak didekat ataupun di
ganglion genikulatum. Namun lesi LMN juga dapat terletak di pons, di sudut
serebelo-pontin, di os petrosus atau korda timpani, di foramen stilomastoideus dan
pada cabang-cabang tepi nervus fasialis. Lesi di pons biasanya terletak di daerah
sekitar inti nervus abdusens dan fasikulus longitudinalis medialis. Apabila lesi
terletak di foramen stilomastoideus dapat menyebabkan kelumpuhan fasial saja. Jika
lesinya timbul di bagian proksimal ganglion genikulatum maka akan timbul
kelumpuhan motorik disertai dengan ageusia (tidak bisa mengecap dengan 2/3 bagian
depan lidah) dan gangguan sistem saraf otonom seperti gangguan lakrimasi atau
salivasi. Jika lesi terletak dekat dengan nervus abdusens paralisis fasialis LMN
tersebut dapat disertai kelumpuhan muskulus rektus lateralis atau gerakan melirik ke
arah lesi. Selain itu, paralisis nervus fasialis LMN juga dapat timbul bersamaan
dengan tuli perseptif ipsilateral ataupun hiperakusis. (1-2,6-7)
Paparan udara dingin seperti angin kencang, AC, atau mengemudi dengan kaca
jendela yang terbuka diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya Bells palsy
diarena nervus fasialis dapat menjadi sembab dan terjepit di dalam foramen
stilomastoideus dan menimbulkan Bells palsy. Berdasarkan beberapa penelitian
bahwa penyebab utama Bells palsy adalah reaktivasi virus herpes (HSV tipe 1 dan
virus herpes zoster) yang menyerang saraf kranialis. Terutama virus herpes zoster
karena virus ini menyebar ke saraf melalui sel satelit. Pada radang herpes zoster di
ganglion genikulatum, nervus fasialis bisa ikut terlibat sehingga menimbulkan
kelumpuhan fasialis LMN.
Automiun juga dipercaya dapat menyebabkan kelumpuhan nervus fasialis.
Mekanisme autoimun yang dimediasi sel telah diusulkan sebagai patogenesis dari

Bell's palsy. Aviel et al. melakukan studi klinis pada subjek dewasa dan menemukan
beberapa perubahan dalam limfosit darah perifer selama tahap akut penyakit. (4)
Berdasarkan penjelasan oleh Abramsky et al. mengenai mekanisme imun
terhadap protein myelin dalam patogenesis penyakit ini, perubahan imunologi selular
dan humoural telah dilaporkan pada pasien dewasa dengan Bell palsy. Penurunan
persentase sel T (CD3) dan sel T helper (CD4) telah didokumentasikan dalam fase
akut penyakit dibandingkan dengan pasien kontrol. (4)
Beberapa bukti mengimplikasikan keterlibatan mekanisme imun pada Bell's
palsy. Banyak laporan telah menunjukkan hubungan antara kelumpuhan wajah dan
GBS, sebagai suatu kondisi yang baru-baru ini menunjukan neuritis autoimun yang
dimediasi oleh sel. (4)
Abramsky et al. mendemonstrasikan secara in vitro respon dari human basic
protein (PIL) dari selubung myelin saraf perifer pada pasien dengan Bell's palsy.
Mereka memperkirakan bahwa mekanisme autoimun yang dimediasi sel mungkin
penting dalam patogenesis Bell's palsy. (4)
Transformasi in vitro yang sama mengenai kemunculan P1L ditemukan pada
kasus GBS. Stimulasi spesifik limfosit in vitro dari pasien Bell's palsy dan GBS
menggunakan P1L memberikan hipotesis bahwa sensitisasi in vivo untuk protein
tersebut dapat terjadi dalam dua kondisi ini, dan bahwa mekanisme autoimun yang
dimediasi sel mungkin merupakan faktor penting dalam patogenesis kelumpuhan. (4)
Kesamaan antara GBS dan Bell's palsy berkaitan dengan sensitisasi limfosit
terhadap protein P1L menunjukkan bahwa Bell's palsy mungkin merupakan varian
dari GBS. Persentase limfosit T yang berkurang pada pasien Bell's palsy dan
pengurangan persentase total limfosit T juga telah ditemukan pada pasien dengan
GBS akut. (4)
Pada pasien Bell's palsy, persentase sel T supressor berkurang secara
signifikan, sedangkan persentase sel T helper normal, hal ini juga sejalan dengan
temuan pada pasien dengan GBS akut. (4)
Aviel et al. menemukan bahwa pasien Bells palsy memiliki peningkatan yang
signifikan dalam persentase limfosit B dan penurunan yang signifikan dalam
persentase limfosit T. Perubahan yang sama pada perubahan subpopulasi limfosit
darah perifer juga ditemukan dalam perjalanan beberapa penyakit demielinisasi,
seperti pada Multiple Sclerosis (MS) eksaserbasi akut dan selama tahap akut GBS. (4)

10

Bell's palsy, seperti GBS, adalah penyakit demielinisasi akut dari sistem saraf
perifer. Dalam kedua penyakit ini, suatu demielinasi neuritis telah ditemukan.
Kesamaan imunologis antara Bell's palsy dan GBS menunjukkan bahwa kedua
penyakit dapat berbagi etiologi dan patogenesis yang sama. Bell's palsy juga
dipercaya merupakan penyakit autoimun post infeksi virus. Infeksi virus dapat
mendorong reaksi autoimun terhadap komponen myelin saraf perifer, yang mengarah
ke demielinisasi saraf kranial, terutama saraf wajah, dengan cara yang belum jelas. (4)
Pemeriksaan sampel serum dari pasien Bell's palsy menunjukkan konsentrasi
sitokin interleukin-1 (IL-1), IL-6, dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-alpha) yang
meningkat dibandingkan dengan populasi kontrol, menunjukkan aktivasi efektor
yang dimediasi sel. (4)
Selain itu telah dipercaya juga bahwa Bell's palsy sebenarnya polineuropati,
dimana kelumpuhan wajah mungkin terkait dengan keterlibatan saraf kranial lainnya.
Dekade terakhir kaya akan studi tentang peran virus dan respon imun dalam
etiopatogenesis dari penyakit demielinisasi pada sistem saraf pusat dan perifer.(4)
2.6.

Manifestasi Klinis
Keluhan dan gejala bergantung kepada lokasi lesi sebagai berikut :
a. Lesi pada nervus fasialis disekitar foramen stylomastoideus baik yang masih
berada disebelah dalam dan sebelah luar foramen tersebut.
Gambaran klinis yang didapatkan adalah mulut turun dan mencong ke sisi
yang sehat sehingga sudut mulut yang lumpuh tampaknya lebih tinggi
kedudukannya daripada posisi yang sehat, maka penderitanya tidak dapat bersiul,
mengedip dan menutupkan matanya. Gangguan lakrimasi akan terjadi jika mata
tidak terlindungi / tidak bisa menutup mata sehingga pada mata akan lebih mudah
mendapat iritasi berupa angin, debu dan sebagainya.
Bila penderita disuruh untuk memejamkan matanya maka kelopak mata
pada sisi yang lumpuh akan tetap terbuka dimana kelumpuhan N.VII yang
mempersyarafi m.orbikularis okuli dapat menyebabkan lagoftalmus yaitu
palpebra

tidak

dapat

menutup

dengan

sempurna.

Kelainan

ini

akan

mengakibatkan trauma konjungtiva dan kornea karena mata tetap terbuka


sehingga konjungtiva dan kornea menjadi kering dan terjadi infeksi. Infeksi ini
dapat dalam bentuk konjungtivitis atau suatu keratitis. Serta bola mata pasien
berputar ke atas. Keadaan ini dikenal dengan Bells phenomenon (lagoftalmus
11

disertai dorsorotasi bola mata). Karena kedipan mata yang berkurang maka akan
terjadi iritasi oleh debu dan angin, sehingga menimbulkan epifora. Dalam
mengembungkan pipi terlihat bahwa pada sisi yang lumpuh tidak mengembung.
Disamping itu makanan cenderung terkumpul diantara pipi dan gusi sisi yang
lumpuh. Selain kelumpuhan seluruh otot wajah sesisi, tidak didapati gangguan
lain yang mengiringnya, bila paresisnya benar-benar bersifat Bells palsy.

Gambar 3. Manifestasi Klinis Bells Palsy


b. Lesi pada kanalis fasialis mengenai nervus chorda tympani.
Seluruh gejala di atas terdapat, ditambah dengan hilangnya sensasi
pengecapan dua pertiga depan lidah berkurangnya salivasi yang terkena yang
merupakan kawasan sensorik khusus N.intermedius. Sepertiga pasien Bell Palsy
melaporkan gangguan pengecapan, dimana 80% dari penderita Bell Palsy
mengalami penurunan kemampuan merasa. Jika mengenai muskulus stapedius
maka gejala tanda klinik dapat ditambah adanya hiperakusis.
c. Lesi yang mengenai ganglion geniculatum.
Gejala tanda klinik seperti pada (a) dan (b) ditambah onsetnya seringkali
akut dengan rasa nyeri di belakang dan didalam telinga. Sindrom Ramsay Hunt
merupakan Bells palsy yang disertai infeksi virus herpes Zoster pada ganglion
geniculatum, lesilesi herpetik terlihat pada membrana tympani, canalis
auditorium eksterna, dan pada pinna. Tic fasialis atau spasmus klonik fasialis juga
dapat terjadi. Sebab dan mekanisme sebenarnya belum diketahui yang dianggap
sebagai sebabnya adalah suatu rangsangan iritatif di ganglion geniculatum.
12

Namun demikian gerakan - gerakan otot wajah involunter bisa bangkit juga
sebagai suatu pencerminan kegelisahan atau depresi. Pada gerakan involunter
tersebut, sudut muka terangkat dan kelompok mata memejam secara berlebihan.
d. Lesi di dalam Meatus Auditorius Internus
Gejala - gejala Bells Palsy di atas ditambah ketulian akibat terkenanya nervus
VIII.
e. Lesi pada tempat keluarnya Nervus Fasialis dari Pons
Lesi di pons yang terletak disekitar inti nervus abdduces bisa merusak akar
nervus fasialis, inti nervus abducens dan fasikulus longituinalis medialis. Lesi
pada daerah tersebut dapat menyebabkan kelumpuhan muskulus rectus lateralis
atau gerakan melirik kearah lesi.(1,7)

Gambar 4. Manifestasi Klinis Bells Palsy Berdasarkan Lokasi Lesi(7)


2.7.

Diagnosis
Diagnosis Bells palsy dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisis. Pada pemeriksaan nervus kranialis akan didapatkan adanya parese
dari nervus fasialis yang menyebabkan bibir mencong, tidak dapat memejamkan
mata dan adanya rasa nyeri pada telinga. Hiperakusis dan augesia juga dapat
ditemukan. Harus dibedakan antara lesi UMN dan LMN. Pada Bells palsy lesinya
bersifat LMN.

a. Anamnesis.
Hampir semua pasien yang dibawa ke ruang gawat darurat merasa bahwa mereka
menderita stroke atau tumor intrakranial. Biasanya timbul secara mendadak,
penderita menyadari adanya kelumpuhan pada salah satu sisi wajahnya pada
waktu bangun pagi, bercermin atau saat sikat gigi, berkumur atau diberitahukan
oleh orang lain bahwa salah satu sudut mulut penderita lebih rendah. Bells palsy
hampir selalu unilateral, namun pernah dilaporkan terjadi secara bilateral.
13

Nyeri postauricular: Hampir 50% pasien menderita nyeri di regio mastoid.


Nyeri sering muncul secara simultan disertai dengan paresis, tetapi paresis

muncul dalam 2-3 hari pada sekitar 25% pasien.


Aliran air mata: Dua pertiga pasien mengeluh mengenai aliran air mata
mereka. Ini disebabkan akibat penurunan fungsi orbicularis oculi dalam
mengalirkan air mata. Hanya sedikit air mata yang dapat mengalir hingga
saccus lacrimalis dan terjadi kelebihan cairan. Produksi air mata tidak

dipercepat.
Perubahan rasa: Hanya sepertiga pasien mengeluh tentang gangguan rasa,
empat dari lima pasien menunjukkan penurunan rasa. Hal ini terjadi akibat

hanya setengah bagian lidah yang terlibat.


Mata kering.

14

Hiperakusis: Kerusakan toleransi pada tingkatan tertentu pada telinga akibat

peningkatan iritabilitas mekanisme neuron sensoris.


b. Pemeriksaan fisik.
Gambaran paralisis wajah mudah dikenali pada pemeriksaan fisik. Pemeriksaan
yang lengkap dan tepat dapat menyingkirkan kemungkinan penyebab lain
paralisis wajah. Pikirkan etiologi lain jika semua cabang nervus fasialis tidak
mengalami gangguan.
Definisi klasik Bells palsy menjelaskan tentang keterlibatan mononeuron dari
nervus fasialis, meskipun nervus cranialis lain juga dapat terlibat. Nervus
fasialis merupakan satu-satunya nervus cranialis yang menunjukkan gambaran
gangguan pada pemeriksaan fisik karena perjalanan anatomisnya dari otak ke

wajah bagian lateral.


Kelamahan dan/atau paralisis akibat gangguan pada nervus fasialis tampak
sebagai kelemahan seluruh wajah (bagian atas dan bawah) pada sisi yang
diserang. Perhatikan gerakan volunter bagian atas wajah pada sisi yang

diserang.
Pada lesi supranuklear seperti stroke kortikal (neuron motorik atas; di atas
nucleus facialis di pons), dimana sepertiga atas wajah mengalami kelemahan
dan dua per tiga bagian bawahnya mengalami paralisis. Musculus orbicularis,
frontalis dan corrugator diinervasi secara bilateral, sehingga dapat dimengerti

mengenai pola paralisis wajah.


Lakukan pemeriksaan nervus cranialis lain: hasil pemeriksaan biasanya

normal.
Membran timpani tidak boleh mengalami inflamasi; infeksi yang tampak
meningkatkan kemungkinan adanya otitis media yang mengalami komplikasi.

15

Gambar 5. Perbedaan Lesi UMN dan LMN Nervus Fasialis


c. Pemeriksaan laboratorium.
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk menegakkan diagnosis
Bells palsy. Namun pemeriksaan kadar gula darah atau HbA1c dapat
dipertimbangkan untuk mengetahui apakah pasien tersebut menderita diabetes
atau tidak. Pemeriksaan kadar serum HSV juga bisa dilakukan namun ini biasanya
tidak dapat menentukan dari mana virus tersebut berasal.
d. Pemeriksaan radiologi.
palsy maka pemeriksaan radiologi tidak diperlukan lagi, karena pasien-pasien
dengan Bells palsy umumnya akan mengalami perbaikan dalam 8-10 minggu.
Bila tidak ada perbaikan ataupun mengalami perburukan, pencitraan mungkin
akan membantu. MRI mungkin dapat menunjukkan adanya tumor (misalnya

16

Schwannoma, hemangioma, meningioma). Bila pasien memiliki riwayat trauma


maka pemeriksaan CT-Scan harus dilakukan.(1-8)
Gambar 6. Gambaran MRI Pada Penderita Bells palsy(7)
2.8.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada Bells palsy dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu
dengan terapi antivirus, kortikosteroid, rehabilitasi medis, maupun tindakan operatif.
Gambar 7. Algoritma Penatalaksanaan Bells palsy(8)

17

a. Terapi medikamentosa
1. Agen antiviral.
Hampir semua ahli percaya pada etiologi virus. Penemuan genom
virus disekitar nervus fasialis memungkinkan digunakannya agen-agen
antivirus pada penatalaksanaan Bells palsy. Oleh karena itu, pemberian
antivirus merupakan pilihan yang logis sebagai penatalaksaan. Acyclovir
400 mg selama 10 hari dapat digunakan dalam penatalaksanaan Bells
palsy. Akan tetapi, penelitian saat ini menunjukkan bahwa pengobatan
Bells palsy menggunakan antivirus tidak memberikan hasil akhir yang
18

lebih baik pada penderita Bells palsy, baik penggunaan antiviral sebagai
monoterapi ataupun sebagai terapi kombinasi dengan steroid.(2,8)
Penelitian Numthavaj P et al menyimpulkan dalam mengobati
Bells palsy dengan antiviral ditambah kortikosteroid dapat menyebabkan
tingkat pemulihan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan mengobati
dengan prednison saja tapi ini tidak cukup bermakna secara statistik,
prednisone merupakan pengobatan berbasis bukti terbaik. (2,8)
Berbeda dengan Frank M et al yang menyatakan pasien dengan
Bells palsy, perawatan dini dengan prednisolon secara signifikan
meningkatkan kemungkinan pemulihan lengkap pada 3 dan 9 bulan. Tidak
ada bukti dari manfaat mengingat pengobatan tunggal atau manfaat
tambahan dalam kombinasi dengan prednisolon atau asiklovir. (2,8)
Goudakos JK and Markou KD pada penelitian meta-analisis,
berdasarkan bukti yang tersedia menunjukkan bahwa agen antivirus untuk
kortikosteroid pengobatan Bells palsy tidak terkait meningkat dalam
tingkat pemulihan lengkap dari fungsi motorik wajah.(2,8)
Tabel 1. Farmakologi dan Farmakodinamik Acyclovir
Nama obat

Acyclovir (Zovirax) menunjukkan aktivitas hambatan


langsung melawan HSV-1 dan HSV-2, dan sel yang terinfeksi
secara selektif.

Dosis dewasa

4000 mg peroral jam dibagi menjadi 5 dosis/hari selama 10


hari.

Dosis pediatrik

< 2 tahun : tidak dianjurkan.


> 2 tahun : 1000 mg peroral dibagi 4 dosis selama 10 hari.

Kontraindikasi

Pernah dilaporkan adanya hipersensitivitas.

Interaksi obat

Penggunaan bersama dengan probenecid atau zidovudine dapat


memperpanjang waktu paruh dan meningkatkan toksisitas
acyclovir terhadap SSP.

Kehamilan

C keamanan penggunaan selama kehamilan belum pernah


dilaporkan.

Perhatian

Hati-hati pada gagal ginjal atau bila menggunakan obat yang


19

bersifat nefrotoksik.

2. Kortikosteroid.
Para peneliti lebih cenderung memilih menggunakan steroid untuk
memperoleh hasil yang lebih baik. Bila telah diputuskan untuk
menggunakan steroid, maka harus segera dilakukan konsensus. Penelitian
saat ini juga menyebutkan bahwa pemberian prednisone sebagai
kortikosteroid selama 10 hari menyebabkan pemulihan Bells palsy lebih
baik dibandingkan dengan pemberian plasebo dalam 1 sampai 3 bulan.
Baugh et al melakukan suatu penelitian secara metaanalisis dan
mendapatkan bahwa Prednison dengan dosis besar setidaknya selama 5
hari pertama (25mg dua kali sehari selama 10 hari atau pemberian 60mg/
hari selama 5 hari lalu dilakukan tapering off) selama 3 hari pertama onset
meningkatkan peluang kesembuhan pasien. Pemberian terapi setelah 3
hari paska onset belum memberikan hasil yang jelas.
Tabel 2. Farmakologi dan Farmakodinamik Prednisone
Nama obat

Prednisone (Deltasone, Orasone, Sterapred) efek farmakologis


yang berguna adalah efek antiinflamasinya, yang menurunkan
kompresi nervus facialis di canalis facialis.

Dosis dewasa

25 mg/ dua kali sehari peroral selama 10 hari atau 60mg/hari


selama 5 hari lalu dilakukan tappering off.

Dosis pediatrik

Pemberian sama dengan dosis dewasa.

Kontraindikasi

Pernah dilaporkan adanya hipersensitivitas; infeksi virus, jamur,


jaringan konektif, dan infeksi kulit tuberkuler; penyakit tukak
lambung; disfungsi hepatik; penyakit gastrointestinal.

Interaksi obat

Pemberian bersamaan dengan estrogen dapat menurunkan


klirens

prednisone;

menyebabkan

penggunaan

toksisitas

dengan

digitalis

akibat

digoksin

dapat

hipokalemia;

fenobarbital, fenitoin, dan rifampin dapat meningkatkan


20

metabolisme glukokortikoid (tingkatkan dosis pemeliharaan);


monitor hipokalemia bila pemberian bersama dengan obat
diuretik.
Kehamilan

Perhatian

Penghentian pemberian glukokortikoid secara tiba-tiba dapat


menyebabkan

krisis

adrenal;

hiperglikemia,

edema,

osteonekrosis, miopati, penyakit tukak lambung, hipokalemia,


osteoporosis, euforia, psikosis, myasthenia gravis, penurunan
pertumbuhan, dan infeksi dapat muncul dengan penggunaan
bersama glukokortikoid.

b. Perawatan mata.
Mata sering tidak terlindungi pada pasien-psien dengan Bells palsy.
Sehingga pada mata beresiko terjadinya kekeringan kornea dan terpapar benda
asing. Atasi dengan pemberian air mata pengganti, lubrikan, dan pelindung mata.
Air mata pengganti: digunakan selama pasien terbangun untuk mengganti air

mata yang kurang atau tidak ada.


Lubrikan digunakan saat sedang tidur. Dapat juga digunakan saat terbangun
jika air mata pengganti tidak cukup melindungi mata. Salah satu kerugiannya

adalah pandangan kabur selama pasien terbangun.


Kaca mata atau pelindung yang dapat melindungi mata dari jejas dan
mengurangi kekeringan dengan menurunkan jumlah udara yang mengalami
kontak langsung dengan kornea.

c. Rehabilitasi medik
Rehabilitasi medik menurut WHO adalah semua tindakan yang ditujukan
guna mengurangi dampak cacat dan handicap serta meningkatkan kemampuan
penyandang cacat mencapai integritas sosial.
Tujuan rehabilitasi medik adalah :

Meniadakan keadaan cacat bila mungkin

Mengurangi keadaan cacat sebanyak mungkin


21

Melatih orang dengan sisa keadaan cacat badan untuk dapat hidup dan
bekerja dengan apa yang tertinggal.
Untuk mencapai keberhasilan dalam tujuan rehabilitasi yang efektif dan

efisien maka diperlukan tim rehabilitasi medik yang terdiri dari dokter,
fisioterapis, okupasi terapis, ortotis prostetis, ahli wicara, psikolog, petugas sosial
medik dan perawat rehabilitasi medik.
Sesuai dengan konsep rehabilitasi medik yaitu usaha gabungan terpadu
dari segi medik, sosial dan kekaryaan, maka tujuan rehabilitasi medik pada Bells
palsy adalah untuk mengurangi/mencegah paresis menjadi bertambah dan
membantu mengatasi problem sosial serta psikologinya agar penderita tetap dapat
melaksanakan aktivitas kegiatan sehari-hari. Program-program yang diberikan
adalah program fisioterapi, okupasi terapi, sosial medik, psikologi dan ortotik
prostetik, sedang program perawat rehabilitasi dan terapi wicara tidak banyak
berperan. (2)
1) Program Fisioterapi

Stimulasi listrik
Tujuan pemberian stimulasi listrik yaitu menstimulasi otot untuk
mencegah/memperlambat

terjadi

atrofi

sambil

menunggu

proses

regenerasi dan memperkuat otot yang masih lemah. Misalnya dengan


faradisasi yang tujuannya adalah untuk menstimulasi otot, reedukasi dari
aksi otot, melatih fungsi otot baru, meningkatkan sirkulasi serta
mencegah/meregangkan perlengketan. Diberikan 2 minggu setelah onset.

Latihan otot-otot wajah dan massage wajah


Latihan gerak volunter otot wajah diberikan setelah fase akut.
Latihan berupa mengangkat alis tahan 5 detik, mengerutkan dahi, menutup
mata dan mengangkat sudut mulut, tersenyum, bersiul/meniup (dilakukan
didepan kaca dengan konsentrasi penuh). (2,4,8)
Massage adalah manipulasi sitemik dan ilmiah dari jaringan tubuh
dengan maksud untuk perbaikan/pemulihan. Pada fase akut, Bells palsy
diberi gentle massage secara perlahan dan berirama. Gentle massage
22

memberikan efek mengurangi edema, memberikan relaksasi otot dan


mempertahankan tonus otot. Setelah lewat fase akut diberi Deep Kneading
Massage sebelum latihan gerak volunter otot wajah. Deep Kneading
Massage memberikan efek mekanik terhadap pembuluh darah vena dan
limfe, melancarkan pembuangan sisa metabolik, asam laktat, mengurangi
edema, meningkatkan nutrisi serabut-serabut otot dan meningkatkan
gerakan intramuskuler sehingga melepaskan perlengketan. Massage
daerah wajah dibagi 4 area yaitu dagu, mulut, hidung dan dahi. Semua
gerakan diarahkan keatas, lamanya 5-10 menit. (2,4,8)
2) Program Terapi
Pada dasarnya terapi disini memberikan latihan gerak pada otot wajah.
Latihan diberikan dalam bentuk aktivitas sehari-hari atau dalam bentuk
permainan. Perlu diingat bahwa latihan secara bertahap dan melihat kondisi
penderita, jangan sampai melelahkan penderita. Latihan dapat berupa latihan
berkumur, latihan minum dengan menggunakan sedotan, latihan meniup lilin,
latihan menutup mata dan mengerutkan dahi di depan cermin. (2,4,8)
3) Program Sosial Medik
Penderita Bells palsy sering merasa malu dan menarik diri dari
pergaulan sosial. Problem sosial biasanya berhubungan dengan tempat kerja
dan biaya. Petugas sosial medik dapat membantu mengatasi dengan
menghubungi tempat kerja, mungkin untuk sementara waktu dapat bekerja
pada bagian yang tidak banyak berhubungan dengan umum. Untuk masalah
biaya, dibantu dengan mencarikan fasilitas kesehatan di tempat kerja atau
melalui keluarga. Selain itu memberikan penyuluhan bahwa kerja sama
penderita dengan petugas yang merawat sangat penting untuk kesembuhan
penderita. (2,4,8)
4) Program Psikologik
Untuk kasus-kasus tertentu dimana ada gangguan psikis amat
menonjol, rasa cemas sering menyertai penderita terutama pada penderita
muda, wanita atau penderita yang mempunyai profesi yang mengharuskan ia
23

sering tampil di depan umum, maka bantuan seorang psikolog sangat


diperlukan. (2,4,8)
5) Program Ortotik Prostetik
Dapat dilakukan pemasangan Y plester dengan tujuan agar sudut
mulut yang sakit tidak jatuh. Dianjurkan agar plester diganti tiap 8 jam. Perlu
diperhatikan reaksi intoleransi kulit yang sering terjadi. Pemasangan Y
plester dilakukan jika dalam waktu 3 bulan belum ada perubahan pada
penderita setelah menjalani fisioterapi. Hal ini dilakukan untuk mencegah
teregangnya otot Zygomaticus selama parese dan mencegah terjadinya
kontraktur. (2,4,8)
d.

Operatif
Indikasi terapi operatif yaitu:(2)

Produksi air mata berkurang menjadi < 25%


Aliran saliva berkurang menjadi < 25%
Respon terhadap tes listrik antara sisi sehat dan sakit berbeda 2,5 mA.
Beberapa terapi bedah yang dapat dilakukan antara lain dekompresi
nervus Fasialis, Subocularis Oculi Fat Lift (SOOF), Implantasi alat ke dalam
kelopak mata, tarsorrhapy, transposisi otot muskulus temporalis, facial nerve
graftingdan direct brow lift.
Tiemstra JD and Khathare N dalam American Academy of Neurology saat
ini tidak merekomendasikan dekompresi bedah untuk Bells palsy. Komplikasi
yang paling umum dari pembedahan adalah pasca operasi yaitu berkurangnya
pendengaran yang mempengaruhi 3 sampai 15 persen pasien. Berdasarkan potensi
yang signifikan untuk kerugian dan kurangnya manfaat data pendukung,
American Academy of Neurology saat ini tidak merekomendasikan dekompresi
bedah untuk Bells palsy. (2,4,8)
McAllister K pada penelitian juga menyimpulkan demikian bahwa ada
bukti kualitas yang sangat rendah dan ini tidak cukup untuk memutuskan apakah
operasi akan bermanfaat atau merugikan pada pengelolaan palsy Bell. Penelitian
ini tidak secara statistik membandingkan kelompok tetapi nilai dan ukuran
kelompok menyarankan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan secara
24

statistik. Studi kedua melaporkan tidak ada perbedaan statistik yang signifikan
antara kelompok mereka dioperasikan dan kontrol. Satu pasien yang dioperasikan
dalam studi pertama memiliki 20 dB kehilangan pendengaran sensorineural dan
vertigo yang persisten. Penelitian lebih lanjut ke dalam peran operasi tidak
mungkin dilakukan karena pemulihan spontan terjadi dalam banyak kasus.(2,4,8)
2.9.

Komplikasi
Hampir semua pasien dengan Bell palsy dapat sembuh tanpa mengalami
deformitas kosmetik, tetapi sekitar 5% mengalami gejala sisa cukup berat yang dapat
mengganggu kehidupan social dan ekonomi pasien.

Crocodile tear phenomenon


Yaitu keluarnya air mata pada saat penderita makan makanan. Ini timbul
beberapa bulan setelah terjadi paresis dan terjadinya akibat dari regenerasi yang
salah dari serabut otonom yang seharusnya ke kelenjar saliva tetapi menuju ke
kelenjar lakrimalis. Lokasi lesi di sekitar ganglion genikulatum.

Synkinesis
Dalam hal ini otot-otot tidak dapat digerakkan satu per satu atau tersendiri,
selalu timbul gerakan bersama. Contohnya yaitu:

Bila pasien disuruh memejamkan mata, maka akan timbul gerakan


(involunter) elevasi sudut mulut, kontraksi platisma, atau berkerutnya dahi.

Pada saat meperlihatkan gigi (menyeringai), maka mata penderita pada sisi
sakit manjadi tertutup.

Bila penderita menggerakkan suatu bagian wajahnya, maka semua otot wajah
pada sisi lumpuh manjadi kontraksi.
Penyebabnya adalah innervasi yang salah, serabut saraf yang mengalami

regenerasi bersambung dengan serabut-serabut otot yang salah/keliru.


c

Clonic fasial spasm (Hemifacial spasm)


Timbul kedutan (otot wajah bergerak secara spontan dan tidak
terkendali) pada wajah yang pada stadium awal hanya mengenai 1 sisi wajah saja
tetapi kemudian kontraksi ini dapat mengenai pada sisi lainnya. Bila mengenai
kedua sisi wajah, maka tidak terjadi bersamaan pada kedua sisi wajah.

25

Kelelahan dan kelainan psikis dapat memperberat spasme ini. Komplikasi


ini terjadi bila penyembuhan tidak sempurna, yang timbul dalam beberapa bulan
atau 1-2 tahun kemudian. Kecuali sebagai komplikasi bells palsy, maka
hemifacial spasm dapat disebabkan oleh kompresi N.VII oleh tumor atau
aneurisme pada daerah sudut serebelo pontis atau lengkungan arteri serebeler
antero inferior yang berlebihan atau arteri auditorius internus.
d

Kontraktur
Hal ini dapat terlihat dari tertariknya otot, sehingga lipatan nasolabialis
lebih jelas terlihat pada sisi yang lumpuh dibanding pada sisi yang sehat. Terjadi
bila kembalinya fungsi sangat lambat. Kontraktur tidak tampak pada waktu otot
wajah istirahat, tetapi menjadi jelas saat otot wajah bergerak.

Regenerasi sensorik yang tidak sempurna


Kelainan yang dapat timbur antara lagi ageusia, disgeusia, ataupun
kelainan pendengaran yang menetap.(1-2,4)

2.10. Prognosis
Penderita Bells palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa.
Faktor resiko yang memperburuk prognosis Bells palsy adalah:
a
b
c
d
e

Usia di atas 60 tahun.


Paralisis komplit.
Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran saliva pada sisi yang lumpuh.
Nyeri pada bagian belakang telinga.
Berkurangnya air mata.
Pada umumnya prognosis Bells palsy baik: sekitar 80-90 % penderita

sembuh dalam waktu 6 minggu sampai tiga bulan tanpa ada kecacatan. Penderita
yang berumur 60 tahun atau lebih, mempunyai peluang 40% sembuh total dan
beresiko tinggi meninggalkan gejala sisa. Penderita yang berusia 30 tahun atau
kurang, hanya memiliki perbedaan peluang 10-15 persen antara sembuh total
dengan meninggalkan gejala sisa. Jika tidak sembuh dalam waktu 4 bulan, maka
penderita cenderung meninggalkan gejala sisa, yaitu sinkinesis, crocodile tears dan
kadang spasme hemifasial.(2,4,6,8)
Penderita diabetes 30% lebih sering sembuh secara parsial dibanding
penderita nondiabetik dan penderita DM lebih sering kambuh dibanding yang non
26

DM. Hanya 23% kasus Bells palsy yang mengenai kedua sisi wajah. Bells palsy
kambuh pada 10-15 % penderita. Sekitar 30 % penderita yang kambuh ipsilateral
menderita tumor N. VII atau tumor kelenjar parotis.(2,4,8)

BAB III
KESIMPULAN
Bells palsy didefinisikan sebagai suatu keadaan paresis atau kelumpuhan yang
akut dan idiopatik akibat disfungsi nervus facialis perifer. Penyebab Bells palsy adalah
edema dan iskemia akibat penekanan (kompresi) pada nervus fasialis. 2.

Ada beberapa

teori yang dihubungkan dengan etiologi Bells palsy yaitu teori iskemik vaskuler, teori
infeksi virus, teori herediter, teori imunologi.
Kelumpuhan perifer N.VII memberikan ciri yang khas hingga dapat didiagnosa
dengan inspeksi. Otot muka pada sisi yang sakit tak dapat bergerak. Lipatan-lipatan di
dahi akan menghilang dan nampak seluruh muka sisi yang sakit akan mencong tertarik ke
arah sisi yang sehat. Gejala kelumpuhan perifer ini tergantung dari lokalisasi kerusakan.
Pengobatan pasien dengan Bells palsy adalah dengan kombinasi obat- obatan
antiviral dan kortikosteroid serta perawatan mata yang berkesinambungan. Antara 8085% penderita akan sembuh sempurna dalam waktu 3 bulan. Paralisis ringan atau sedang
pada saat gejala awal terjadi merupakan tanda prognosis baik sehingga prognosis pasien
dengan Bells palsy relatif baik meskipun pada beberapa pasien gejala sisa dan rekurensi
dapat terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
27

1. Ropper AH, Brown RH. Bells Palsy Disease Of The Cranial Nerve. Adams and Victors
Principles of Neurology.8th ed. New York : McGraw Hill,2005.p.1181-4.
2. Taylor DC, Zachariah, S., Khoromi, S. Bells Palsy. in: Benbadis SR, editor. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/1146903. Accessed on: March 16th, 2016
3. Bells
palsy.
Available
at:
http://www.nhs.uk/Conditions/Bellspalsy/Pages/Symptoms.aspx. Accessed on: March 16th, 2016
4. Greco A, Gallo A, Fusconi M, Marinelli C, Macri GF, de Vincentiis M. Bell's palsy and
autoimmunity. Elsevier: Autoimmunity Reviews 2012:12:323328.
5. Lumbantobing SM. Neurologi Klinik: Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,2008.p.59-68.
6. Mardjono M. Sidharta P. Nervus Fasialis dan Patologinya. Neurologi Klinis Dasar, 5 th ed.
Jakarta : PT Dian Rakyat, 2005.p.159-63.
7. Baehr M, Frotscher. Facial Nerve and Nervus Intermedius. M. Duus Topical Diagnosis in
Neurology. Stuttgart: Thieme, 2005.p.167-74.
8. Baugh RF, Basura GJ, Ishii LE, Schwartz SR, Drumheller CM, Burkholder R, et al.
Clinical Practice Guideline: Bells Palsy. SAGE: American Academy of Otolaryngology
Head and Neck Surgery Foundation 2013:149:1-27.

28