Anda di halaman 1dari 56

DASAR TEKNIK TENAGA LISTRIK

PUTU RUSDI ARIAWAN (0804405050)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2010
MATERI KULIAH
DASAR TEKNIK TENAGA LISTRIK I

ELEMEN SISTEM TENAGA:

SISTEM TENAGA LISTRIK:

Pusat Pembangkit:

Pusat pembangkit berfungsi untuk mengkonversikan sumber daya energi


primer menjadi energi listrik.
a. Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) : minyak, gas alam, batubara
b. Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA)
c. Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG)
d. Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD)
e. Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)
f. Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Dikembangkan alternatif sumber daya energi baru : Biomassa, limbah kayu,


angin, gelombang laut

PUTU RUSDI ARIAWAN 2


PUTU RUSDI ARIAWAN 3
KONVERSI ENERGI ELEKTROMEKANIK:

TRANSMISI DAN DISTRIBUSI:

KARAKTERISTIK BEBAN:

Proteksi:

- Pengaturan pemakaian sekering (Fuse)


- Pemutus daya (Circuit Breaker)
- Rele(Relay)

PUTU RUSDI ARIAWAN 4


ELEKTROMAGNETIK:
• Medan Magnet dan Medan Listrik
- Medan magnet terbentuk dari gerak elektron
- Medan magnet memiliki arah, kerapatan dan intensitas
→ garis-garis fluks → Φ (fluks) → weber
- Kerapatan medan magnet dinyatakan dengan garis fluks yang
menembus suatu luas bidang tertentu dan mempunyai simbol :
B → weber/m2
- Intensitas medan magnet disebut juga : Kuat Medan dan dinyatakan
dengan besarnya fluks sepanjang jarak tertentu dan mempunyai simbol :
H → Ampere/m
- Kerapatan medan B dan kuat medan H mempunyai besaran dan arah
(vektoris) yaitu : B = μH dimana μ(permeabilias) → henry/m
Untuk permeabilitas pada ruang bebas(udara), μ0 = 4πx10-7 H/m
- Besaran fluks dapat juga dinyatakan dengan : Φ = ⌠B dA
dimana : dA = unsur luas

Hubungan antara medan listrik dan medan magnet dinyatakan oleh Hukum
Ampere. Dengan persamaannya : Ni=Hl Ampere-turn
Dimana :
N = jumlah lilitan
i = arus listrik (A)
H = kuat medan (A/m)
l = panjang jalur (m)

PUTU RUSDI ARIAWAN 5


Induksi Tegangan – Hukum Faraday:

Apabila medan magnet berubah-ubah terhadap waktu mengakibatkan


arus bolak- balik yang berbentuk sinusoida yang akan membangkitkan atau
menginduksi medan listrik:
- Medan magnet atau fluks yang berubah-ubah pada inti besi
menghasilkan gaya gerak listrik (ggl) sebesar :
d d
e  N 
dt dt
- Perubahan fluks yang menghasilkan gaya gerak listrik dapat terjadi
karena :
a. Perubahan fungsi waktu (t) akibat arus bolak-balik yang berbentuk
sinusoida
b. Fungsi putaran (θ) akibat berputarnya rotor pada mesin-mesin dinamis
- Hukum Faraday dapat dituliskan sebagai berikut :
d
dt 
Edl   BdA

Konsep Rangkaian Magnet:


- Arus listrik (i) yang dialirkan melalui penghantar yang dibelitkan pada inti
besi yang berbentuk cincin toroidal akan menghasilkan medan magnet
yang sebanding dengan jumlah lilitan (N) dikalikan dengan besaran
arus listrik (i)
- Ampere – turn (Ni) ini dikenal dengan Gaya Gerak Magnet (ggm) dan
dinyatakan dengan notasi F
F =Ni ampere-turn
- Gaya gerak magnet adalah perbedaan potensial magnet yg cenderung
menggerakkan fluks di sekitar cincin toroidal
- Gerak fluks di sekitar cincin selain ditentukan oleh besaran ggm juga
merupakan fungsi dari tahanan inti besi yang membawa fluks tersebut
- Tahanan inti besi itu disebut : reluktansi R dari rangkaian magnet

PUTU RUSDI ARIAWAN 6


Φ=F /R
- Reluktansi berbanding lurus dengan panjang (l) berbanding terbalik
dengan penampang luas bidang (A) dan bergantung pada bahan
magnetik rangkaian magnet tersebut, dimana besaran l dalam meterr
dan A dalam meter persegi :
R = l/μA ampere-turn/weber
Adanya analogi antara hubungan rangkaian magnet dan hubungan rangkaian
listrik

R = F / Φ = l / μA → R = V / I = 1 / σA

KURVA MAGNETISASI:

Hubungan antara sifat magnetik suatu bahan dengan permeabilitas dapat


ditunjukkan dengan kurva kerapatan fluks B sebagai fungsi dari kuat medan H
yang biasa dikenal dengan Kurva B-H atau Kurva Magnetisasi

Kurva B-H hanya dipengaruhi oleh jenis bahan yang dipakai dan tidak tergantung
pada dimensi bahan tersebut.Apabila diketahui harga ampere-turn Ni dan harga
panjang rata-rata jalur fluksi maka harga kuat medan Ni/l jatuh pada sumbu
horizontal dan secara grafik dengan mudah dapat ditentukan kerapatan fluksi B
yang terletak pada sumbu ordinat tegak. Karena H = Ni/l dan B = Φ/A maka

PUTU RUSDI ARIAWAN 7


terlihat bahwa kuat medan (H) sebanding dengan gaya gerak magnet (Ni) dan
kerapatan fluks (B) sebanding dengan garis fluks (Φ)

INTENSITAS MEDAN MAGNET:


Dalam proses konversi energi yang menyangkut mesin dengan elemen
bergerak (berputar) seperti transduser atau motor pada inti besinya (core) akan
terdapat celah udara. Melalui celah udara ini dapat berlangsung proses konversi
dari nergi listrik ke energi mekanik atau sebaliknya
Untuk inti yang bercelah udara berlaku hubungan:
Ni = Hclc + Hgg
Bc Bg
Ni = Ic  g
c o

I c g
Ni = 
Ac c Agc o

Di mana Ni = F adalah gaya gerak magnet (ggm) dan koefisien di sebelah kanan
dikenal sebagai Reluctance R

Ic og
Karena Rc = dan Rg =
Ac c Ag o

maka Ni = Φ(Rc + Rg) = F


Oleh karena pada umumnya μc >> μ0 maka sebagian besar rangkaian magnet
hanya dipengaruhi oleh reluktansi celah udara (Rg). Dapat disimpulkan bahwa
sebagian besar ggm terkonsentrasi pada celah udara yang merupakan potensi
energi untuk proses konvensi

PUTU RUSDI ARIAWAN 8


ENERGI DLM MEDAN MAGNET :
Energi listrik yang diberikan oleh sumber akan digunakan oleh inti besi
beserta belitannya untuk menghasilkan medan magnet
Energi yang diperoleh akan tersimpan dalam medan magnet yang ditimbulkan
dWE = dWF
Sedangkan
dWF = i dλ = F dΦ
Jadi energi yang tersimpan pada medan magnet adalah:
 
WF =  id   ( )d
0 o

Persamaan diatas mengandung arti bahwa besarnya energi yang tersimpan


dalam medan magnet merupakan suatu luas daerah tertentu dimana luas daerah
tersebut ditentukan oleh jenis bahan pemagnetan inti

Pada Bahan Feromagnet, hubungan antara F dan Φ tidak linier. Dari gambar a,
diketahui bahwa untuk kurva menaik oa, jumlah energi yang dibutuhkan sama
dengan luas daerah oac. Apabila harga F dikembalikan ke harga nolnya (kurva
menurun ab) sebagian energi yang besarnya sama dengan luas daerah abc
akan dilepaskan sedangkan energi sebesar luas daerah oab hilang sebagai
panas (rugi histeresis). Siklus penuh rugi histerisis akan membentuk suatu
gelang (lingkar tertutup) seperti pada gambar b.

d
V  Ri 
dt

PUTU RUSDI ARIAWAN 9


Untuk rangkaian listrik R – L dengan tegangan jepit V, berlaku
d
V  R.i 
dt

Vi dt  Ri 2 dt  i d

Atau t t t
2 2 2 2
 Vi dt   Ri dt   i d
t t t
1 1 1
Artinya : Kerja yang dilakukan = panas yang hilang + energi yang tersimpan
Energi dalam medan magnet adalah
t
2  
WF   i d   i d   Ni d
t 0 0
1

Dimana Ni =  Hclc dan dΦ = Ac dB


Jadi Ni dΦ = (Hclc )(Ac dB) = (lcAc)H dB lcAc → volume inti magnet
Energi tersimpan per unit volume adalah

WF B
WF    H dB
lc Ac 0

Persamaan diatas mengandung arti bahwa energi dalam medan magnet


ditentukan oleh luas daerah yang dibatasi antara kurva magnetisasi dan sumbu
B atau luas daerah oac pada gambar

Fasor Gelombang Sinusoida:


Fasor menyatakan transformasi dari fungsi waktu ke dalam bidang
kompleks yang mengandung informasi tentang amplitudo dan sudut fasa.
Misalnya sebuah bilangan kompleks K, mempunyai besaran A dan arah sudut θ
(lihat gambar)
K = a + jb atau K = M (cos θ + j sin θ)
Dengan menggunakan Dalil Euler : cos θ + j sin θ = ejθ
Maka : K = M ejθ

PUTU RUSDI ARIAWAN 10


Perhatikan bahwa j adalah operator yaitu operator khayal. Dimana bekerjanya
operator ini dengan memutar suatu bilangan atau nilai tertentu π/2 derajat
erlawanan arah jarum jam. Meskipun j bukan merupakan bilangan namun j dapat
dinyatakan dengan nilai . Artinya bila operator bekerja sebanyak 2 kali maka
harga bilangan tersebut berputar 2 x π/2 = 1800 sehingga :
j(jb) = j2b = - b ; atau j2 = - 1
j(j2b) = j3b = - jb atau j3 = - j
j(j3b) = j4b = + b atau j4 = + 1

Bentuk K = M e disebut dengan bentuk Polar atau eksponensial dari

bilangan kompleks K yang juga dapat ditulis : K = M θ ; Dimana : M  a 2  b 2


Analisa vektor yang berputar pada selang waktu tertentu inilah disebut Analisa
Fasor. Analisa fasor yang dikaitkan dengan bentuk gelombang sinusoidal akan
memungkinkan penggambaran fasor sinusoidal yang sangat penting pada
bidang elektroteknik
Arus dan tegangan sesaat dari suatu bentuk sinusoidal dalam suatu
periode waktu, dapat dijelaskan dengan persamaan :
i(t) = Im cos (ωt +Φ)
v(t) = Vm cos (ωt )
Dimana :
Im = arus maksimum dalam ampere
ω = 2πf = kecepatan sudut dalam radial/detik
Φ = sudut fasa dalam radial
Vm = tegangan maksimum dalam volt

PUTU RUSDI ARIAWAN 11


Dari vektor Im dan Vm pada salib sumbu x dan y dapat ditentukan besar v(t) dan
i(t) untuk t=0 dengan cara memproyeksi vektor-vektor tersebut pada sumbu x.
Jika vektor Im dan Vm berputar berlawanan arah jarum jam dan memiliki
kecepatan sudut yang sama, maka harga sesaat arus dan tegangan dari suatu
rangkaian dapat dihitung .

Im dan Vm adalah fasor (lihat gambar)

Fasor tegangan dan arus dapat ditulis sebagai berikut :


Tegangan = V Φ
Arus = I Φ
Dimana V dan I adalah harga RMS (root-mean-square).Jika Vm adalah harga
tegangan maksimum maka harga RMS tegangan tersebut adalah :

V
V m
2

PUTU RUSDI ARIAWAN 12


Daya Rata-rata:
Daya rata-rata sesaat didefinisikan sebagai hasil perkalian tegangan dan
arus sesaat serta dapat ditulis sebagai berikut :
p=vi
Jika arus dan tegangan merupakan fungsi siklus, maka daya rata-rata (P) untuk
suatu periode siklus dapat ditentukan besarnya dengan rumus :
T
1
T o
P= P(t )dt

Dimana
P = daya rata-rata dalam watt
T = periode dari siklus dalam detik
Tegangan dan arus fungsi sinus dinyatakan sebagai :
v(t) = Vm cos ωt
i(t) = Im cos (ωt – Φ)
Maka persamaan daya menjadi :
p(t) = VmIm cos ωt cos (ωt – Φ)
p(t) = VmIm ½ [cos (ωt – ωt + Φ) + cos (ωt + ωt – Φ)]
= ½ VmIm cos Φ + ½ VmIm cos (2ωt – Φ)
Harga rata-rata dari fungsi sinusoidal yang berubah terhadap waktu untuk satu
periode adalah sama dengan nol sehingga persamaan p(t) hanya terdapat
bentuk ½ VmIm cos Φ yang tidak tergantung terhadap waktu dan dapat ditulis :
P = ½ VmIm cos Φ = V I cos Φ
Dimana V dan I adalah harga rms atau harga efektif dari tegangan dan arus.
Harga efektif arus sesaat i(t) dapat didefinisikan dalam persamaan
12
1T 2 
I    I dt 
T 0 
Dengan memperhatikan bahwa harga I (rms) adalah akar dari arus sesaat
kwadrat maka :

PUTU RUSDI ARIAWAN 13


12
1T 2 
I    I cos 2 t    dt 
T 0 
2  12
 

 2 0 m
I 2
1 2  1 2 cos 2 t  2  dt 

 
Dimana T = 1/f = 2π/ω . Oleh karena harga rata-rata dari fungsi sinusoidal yang
berubah terhadap waktu sama dengan nol dalam 1 periode maka:

2  12
 
I  Im  0 1 2 dt 
 2 
 

1 2 2 
12
Im
 Im  
 2   2

Sehingga harga rms dari setiap fungsi sinusoidal adalah harga maksimum dibagi
dengan √2.

Faktor Daya:
Daya rata-rata bukan fungsi rms dari arus dan tegangan saja tetapi ada
unsur perbedaan sudut fasa arus dan tegangan
Jika arus dan tegangan dari persamaan sefasa dan Φ = 00 maka persamaan
daya menjadi : P = V I cos Φ = V I
Arus yang mengalir pada sebuah tahanan akan menimbulkan tegangan pada
tahanan tersebut sebesar : Vr = Ir r
Sehingga : P = Vr Im cos Φ
Karena tidak adanya beda fasa antara arus dan tegangan pada tahanan maka
sudut Φ=00 sehingga P = V I
Untuk induktor dan kapasitor, arus yang mengalir pada elemen-elemen ini
masing-masing akan tertinggal dan mendahului sebesar 900 terhadap tegangan
VL = IL jωL
 j
Vc = I c  
 c 

PUTU RUSDI ARIAWAN 14


Dimana VL ,Vc ,IL , IC adalah besaran fasor. Daya rata-rata elemen ini adalah nol
Tegangan dikalikan dengan arus disebut Daya Semu.
Daya Rata-rata dibagi daya nyata disebut : Faktor Daya
P VI cos 
Faktor Daya = Cos Φ = 
VI VI
Φ dinamakan sudut faktor daya. Dimana sudut ini menentukan kondisii
mendahului atau tertinggalnya tegangan terhadap arus.

Perhitungan Tiga Fasa:

Sistem tiga fasa memiliki besar yang sama ( tegangan atau arus) tetapi
mempunyai perbedaan sudut sebesar 1200 antar fasanya. Sistem ini juga
disebut sistem seimbang.

Gambar diatas memperlihatkan sebuah rangkaian sederhana dan diagram fasor


sebuah sistem seimbang. Sistem pada gambar diatas juga disebut Sistem
Urutan abc.Dimana fasa b tertinggal 1200 terhadap fasa a, dan fasa c tertinggal
1200 terhadap fasa b. Beban pada gambar dihubungkan dengan cara hubungan
Y. Dalam hubungan Y ini, tegangannya adalah tegangan saluran netral dan arus
yang mengalir pada tiap fasa beban adalah arus saluran. Tegangan antara
masing-masing saluran dapat dihitung sebagai berikut :
Vab = Van + Vnb = Van – Vbn
Vbc = Vbn – Vcn
Vca = Vcn – Van

PUTU RUSDI ARIAWAN 15


Secara matematis dari gambar untuk urutan fasa abc dapat dijelaskan sebagai
berikut :
Vab = Van √3  300
Vbc = Vbn √3  300
Vca = Vcn √3  300
Masing-masing tegangan saluran mendahului 30 0 dan √3 kali besar terhadap
tegangan saluran netral. Sehingga urutan fasa acb persamaan diatas akan
menjadi :
Vab = Van √3  - 300
Vbc = Vbn √3  - 300
Vca = Vcn √3  - 300

Daya yang digunakan pada masing-masing fasa pada beban adalah :


P1Φ = │Van│I1 cos Φ
Dimana
I1 = I a
cos Φ = faktor daya
Untuk sistem yang seimbang, daya total yang dipergunakan adalah :
PT = P3Φ = 3 │Van│I1 cos Φ
VH
=3 I1 cos Φ
3
= √3 VH I1 cos Φ
Dimana :
VH = tegangan saluran ke saluran

PUTU RUSDI ARIAWAN 16


I1 = arus saluran ke saluran
Beban pada gambar terhubung delta (Δ) dimana tegangan pada hubungan delta
ini adalah tegangan saluran ke saluran. Hubungan antara arus saluran dengan
arus yang mengalir pada beban dapat dilihat :
Ia = Iab + Iac = Iab – Ica
Ib = Ibc – Iab
Ic = Ica – Ibc
Hubungan antara arus kawat pada hubungan delta untuk urutan fasa abc dan
acb dapat dijelaskan dengan persamaan berikut :
Ia = Iab √3  - 300
Ib = Ibc √3  - 300
Ic = Ica √3  - 300
Untuk urutan fasa abc, arus saluran √3 kali arus fasa dan tertinggal 300 arus
fasa
Ia = Iab √3  300
Ib = Ibc √3  300
Ic = Ica √3  300
Untuk urutan fasa acb arus mendahului 300 terhadap arus fasa :

Daya yang dikonsumsi setiap fasa pada beban pada hubungan delta (Δ)

PUTU RUSDI ARIAWAN 17


P1Φ = VH │Iab │cos Φ
Dimana : VH = tegangan Vab
cos Φ = faktor daya
Untuk sistem yang seimbang daya total yang dikonsumsikan ke beban adalah :
PT = 3 P1Φ = 3 VH │Iab │cos Φ
1
= 3 VH cos Φ
3
= √3 VH I1 cos Φ
Dimana I1 = arus saluran
Jika tegangan saluran, arus saluran dan cos Φ diketahui maka daya yang
dikonsumsikan dapat dihitung tanpa perlu mengetahui bentuk hubungan dari
beban tersebut.
Dengan penurunan yang sama dapat diketahui :
│ST│ = √3 VHI1
QT = √3 VHI1 sin Φ

TRANSFORMATOR:
Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan
merubah energi listrik dari atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang
lain melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip induksi-
elektromagnet.
Transformator dapat dikelompokkan berdasarkan :
1. Frekwensi
- frekwensi daya ( 50 – 60 c/s)
- frekwensi pendengaran (50 c/s – 20 kc/s)
- frekwensi radio (di atas 30 kc/s)
2. Pemakaian di bidang tenaga listrik
- Transformator daya
- Transformator distribusi
- Transformator pengukuran ( transformator arus dan trafo tegangan)

PUTU RUSDI ARIAWAN 18


KEADAAN TRANSFORMATOR TANPA BEBAN:

Bila kumparan primer suatu tranformator dihubungkan dengan sumber tegangan


V1 yang sinusoida maka akan mengalir arus primer I 0 yang juga sinusoida dan
dengan menganggap belitan N1 reaktif murni maka I 0 akan tertinggal 900 dari V1.
Arus primer I0 menimbulkan fluks (Φ) yang sefasa dan juga berbentuk sinusoida :
Φ = Φmaks sin ωt
Fluks sinusoida ini akan menghasilkan tegangan induksi e 1 (Hukum Faraday)
d
e1 = - N1
dt
d (maks sin t )
e1 = - N1
dt
= - N1 ω Φmaks Cos ωt
Harga efektif :
N1 2fmaks
E1 =
2

PUTU RUSDI ARIAWAN 19


= 4.44 N1f Φmaks
Pada rangkaian skunder, fluks(Φ) bersama menimbulkan :
e2 = - N2
e2 = - N2 ω Φmaks Cos ωt
E2 = 4.44 N2f Φmaks

KEADAAN TRANSFORMATOR BERBEBAN:

Apabila kumparan sekunder dihubungkan dengan beban Z L, I2 mengalir pada


kumparan sekunder. Arus I2 ini akan menimbulkan gaya gerak magnet N 2I2 yang
cenderung menentang fluks bersama (ΦM ) sebagai akibat arus pemagnetan (I M)
Agar ΦM tidak berubah, pada kumparan primer harus mengalir I 2’ yang
menentang fluks yang dibangkitkan oleh arus beban. Sehingga arus yang
mengalir pada kumparan primer menjadi :
I1 = I0 + I2’
Bila rugi besi diabaikan maka I0 = IM
I1 = IM + I2’
Untuk menjaga agar fluks tidak berubah sebesar ggm yang dihasilkan oleh arus
pemagnetan IM berlaku hubungan :
N1IM = N1I1 – N2I2
N1IM = N1(IM + I2’) – N2I2
Sehingga
N1I2’ = N2I2
Karena IM ≈ kecil maka I2’ = I1
N1I1 = N2I2

PUTU RUSDI ARIAWAN 20


RANGKAIAN EKIVALEN:
Bahwa tidak semua fluks (Φ) yang dihasilkan oleh arus pemagnetan IM
merupakan fluks bersama (ΦM) karena sebagian darinya hanya mencakup
kumparan primer (Φ1) atau kumparan sekunder (Φ2) saja. Dalam rangkaian
ekivalen yang digunakan untuk menganalisa kerja suatu transformator, adanya
fluks bocor ini (Φ1 dan Φ2) ditunjukkan sebagai reaktansi X1 dan X2 sedangkan
rugi tahanan ditunjukkan dengan R1 dan R2.
Model rangkaian ekivalen :

Dari model rangkaian sebelumnya didapat hubungan penjumlahan vektor :


V1 = E1 + I1R1 + I1X1
E2 = V2 + I2R2 + I2X2
E1 = a E2
E1 = a (I2ZL + I2R2 + I2X2)
Karena,
I2 = a I2’
E1 = a2 I2’ ZL + A2i2’ R2 + a2I2’X2
V1 = a2 I2’ ZL + a2I2’ R2 + a2I2’X2 + I1R1 + I1X1
Persamaan ini mengandung pengertian bahwa apabila parameter rangkaian
sekunder dinyatakan dalam harga rangkaian primer, maka harganya perlu
dikalikan dengan faktor a2
Sehingga rangkaiannya menjadi:

PUTU RUSDI ARIAWAN 21


PENENTUAN PARAMETER:
Parameter transformator yang terdapat pada model rangkaian ekivalen dapat
ditentukan besarnya dengan dua macam pengukuran ( test ) yaitu :
1. Pengukuran Beban Nol

Dalam keadaan tanpa beban, bila kumparan primer dihubungkan dengan


V1 maka hanya I0 yang mengalir. Dari pengukuran P1, I0 dan V1
diperoleh :
V12 V1 jX m Rc
Rc  Z0  
P1 I 0 Rc  jX m

2. Pengukuran Hubung Singkat

Hubung singkat berarti ZL = 0 sehingga Zek = Rek + jXek yang membatasi arus.
Karena Rek dan Xek ≈ kecil maka harus dijaga agar Vhs kecil sehingga arus yang
dihasilkan tidak melebihi arus nominal

PUTU RUSDI ARIAWAN 22


Dengan mengukur Vhs Ihs dan Phs diperoleh :
Phs Vhs
Rek  Z ek   Rek  jX ek
I hs 2 I hs

PENGATURAN TEGANGAN:
Pengaturan tegangan transformator adalah perubahan tegangan
sekunder antara beban nol dan beban penuh pada faktor kerja tertentu dengan
tegangan primer konstan

V2 nL V2 fL
Pengaturan = V2 fL
Dengan model rangkaian ( harga sekunder ditransformasikan ke harga primer)

aV2 nL  aV2 fL
Pengaturan = aV2 fL
Dari rangkaian diatas
aV2nL = V1
aV2fL = harga tegangan nominal (tegangan nominal primer)

KERJA PARALEL:
Pertambahan beban pada suatu saat menghendaki adanya kerja paralel diantara
tranformator. Tujuan kerja paralel adalah agar beban yang dipikul sebanding
dengan kemampuan KVA masing-masing transformator sehingga tidak terjadi
pembebanan lebih dan pemanasan lebih
Syarat kerja paralel :
1. Perbandingan tegangan harus sama
jika perbandingan ≠ → tegangan induksi pada kumparan sekunder ≠ →
menyebabkan terjadi arus pusar pada kumparan sekunder ketika dibebani
→ timbul panas pada kumparan sekunder

PUTU RUSDI ARIAWAN 23


2. Polaritas transformator harus sama
3. Tegangan impedansi pada keadaan beban penuh harus sama
4. Perbandingan reaktansi terhadap tahanan sebaiknya sama
Apabila perbandingan R/X sama maka kedua transformator akan bekerja
pada faktor kerja yang sama

RUGI-RUGI DAN EFISIENSI:


• RUGI-RUGI:

Rugi tembaga (Pcu)


Rugi tembaga adalah rugi yang disebabkan oleh arus beban yang
mengalir pada kawat tembaga, dapat ditulis:
Pcu = I2R
Karena arus beban berubah-ubah maka rugi tembaga juga tidak konstan
tergantung pada beban

Rugi Besi (Pi)


Rugi besi terdiri dari :
1. Rugi Histeresis
rugi yang disebabkan oleh fluks bolak-balik pada inti besi, dinyatakan
dengan:
Ph = Kh f Bmaks
2. Rugi arus Eddy
Rugi yang disebabkan oleh arus pusar pada inti besi, dirumuskan :
Pe = Ke f2 B2 maks
Kh, Ke = konstanta
Bmaks = fluks maksimum

PUTU RUSDI ARIAWAN 24


Sehingga rugi besi (rugi inti) adalah :
Pi = Ph + Pe

• EFISIENSI
Efisiensi dinyatakan sebagai :

daya masuk daya keluar  rugi


  1
daya keluar daya keluar   rugi daya masuk

dimana Σ rugi = Pcu + Pi


a. Perubahan Efisiensi terhadap Beban
Perubahan efisiensi terhadap beban dinyatakan sebagai berikut ;

V2 Cos 

Pi
V2 Cos   I 2 R2ek 
I2

d  P
agar η maksimum, maka :  I 2 R2ek  1i   0
dI 2  I2 

jadi Pi
R2ek  Pi  I 22 R2ek  Pcu
I 22
artinya: untuk beban tertentu, efisiensi maksimum terjadi ketika rugi
tembaga = rugi inti
b. Perubahan Efisiensi terhadap Faktor Kerja (Cos Φ) Beban
Perubahan efisiensi terhadap faktor kerja (Cos Φ) beban dapat
dinyatakan:

 rugi
 1
V2 I 2 Cos   rugi

 rugi
V2 I 2
 1
V2 I 2 Cos    rugi
V2 I 2

PUTU RUSDI ARIAWAN 25


Bila Σrugi/V2I2 = X = konstan
Maka:
X
 1
Cos  X

X
Cos
 1
1  X
Cos

TRANSFORMATOR TIGA PHASA:


Transformator tiga phasa digunakan karena pertimbangan ekonomi. Ini
dikarenakan pemakaian inti besi pada transformator tiga phasa lebih sedikit
dibandingkan dengan pemakaian tiga buah transformator phasa tunggal.

Pada bidang abcd pada gambar a hanya diperlukan mengalir fluks sebesar
3
dan dari gambar b adalah :  A . Apabila digunakan transformator fasa
2
1 1
tunggal, akan mengalir fluks sebesar  A dan B . Jadi pemakaian inti besi
2 2
jelas menunjukkan penghematan pada transformator tiga phasa. Penghematan
lebih besar bila kita mengubah polaritas transformator sedemikian rupa sehingga
arah keatas. Dengan arah ke atas, fluks yang mengalir pada bidang abcd
A B 1
menjadi  dan besaran vektornya  A . Dengan sistem pendinginan
2 2 2
yang lebih maju, membuat transformator tiga phasa lebih ekonomis.

PUTU RUSDI ARIAWAN 26


HUBUNGAN DELTA:

Tegangan transformator tiga phasa dengan kumparan yang dihubungkan


secara delta yaitu VAB VBC dan VCA masing-masing berbeda fasa 1200 :
VAB + VBC + VCA = 0
Untuk beban yang seimbang :
IA = IAB – ICA
IB = IBC – IAB
IC = ICA – IBC

Dari vektor diagram (pada gambar) diketahui bahwa IA (arus jala-jala) = √3 x IaB
(arus fasa). Tegangan jala-jala dalam hubungan delta samadengan tegangan
fasanya
 LL 
VA hubungan delta = VpIp = 3VL    3 VL LL
 3

AUTO TRANSFORMATOR:

Suatu transformator fasa tunggal dengan perbandingan lilitan 3:1 akan


menjadi suatu ototransformator apabila sebagian kumparan primernya
merupakan bagian dari kumparan skundernya

PUTU RUSDI ARIAWAN 27


Pada ototransformator terlihat bahwa arus dibagian kumparan ef adalah = 300A-
100A = 200A. Sedangkan pada transformator fasa tunggal biasa keseluruhan
arus yang mengalir pada bagian kumparan primer dan skunder adalah =
100A+300A = 400 A. Dengan demikian terdapat penghematan tembaga pada
ototransformator karena berkurangnya arus yang mengalir pada bagian
kumparan ef . Ototranformator mempunyai juga kelemahan, dengan adanya
hubungan konduktif antara kumparan tegangan tinggi dan tegangan rendah
sehingga kesalahan meletakkan tegangan tinggi menjadi tegangan rendah dapat
mengakibatkan kerusakan.

TRANSFORMATOR ARUS:

Transformator arus digunakan untuk mengukur arus beban suatu rangkaian

Dengan menggunakan transformator arus maka arus beban yang besar dapat
diukur hanya dengan menggunakan alat ukur (ammeter) yang tidak terlalu besar
Dengan mengetahui perbandingan transformator N 1/N2 dan pembacaan I2, arus
beban I1 dapat dihitung dengan menganggap transformator ideal yaitu :

N1
I1 = I2
N2

Untuk menjaga fluks tetap maka perlu diperhatikan agar rangkaian skunder
selalu tertutup.

PUTU RUSDI ARIAWAN 28


TRANSFORMATOR TEGANGAN:

Transformator tegangan digunakan untuk mengukur tegangan.

Dengan mengetahui N1, N2 dan tegangan V2 serta menganggap transformator


adalah ideal maka tegangan V1 adalah :

N1
V1 = V2
N2

Pentanahan pada rangkaian skunder diperlukan untuk mencegah adanya beda


potensial yang besar antara kumparan primer dan sekunder (antara titik a dan b)
pada saat isolasi kumparan primer rusak

MESIN DC

Generator adalah sebuah mesin listrik yang dapat mengubah daya mekanis
menjadi daya listrik.
Prinsip kerja :
Jika sepotong kawat terletak diantara kutub-kutub magnet kemudian
kawat tersebut kita gerakkan maka ujung kawat ini timbul gaya gerak listrik
karena induksi. Arah dari ggl sesuai dengan aturan tangan kanan (lihat gambar)

PUTU RUSDI ARIAWAN 29


Dari gambar b menjelaskan bahwa bila arah gerak kawat dibalik maka arah ggl
juga membalik. Jika kumparan yang terletak diantara kutub-kutub magnet kita
putar dengan kecepatan putar (ω) yang tetap maka pada tiap-tiap perubahan
kedudukan dari kumparan ini untuk besaran ggl induksinya akan berbeda-beda
(lihat gambar)

Pada posisi A, besar fluks magnet yang tercakup oleh kumparan adalah Φsin ωt.
Dengan berputarnya kumparan pada kecepatan tetap, maka besar ggl induksi
setiap saat diujung-ujung kumparan adalah :
d  cos t
e 
dt

e = ωΦ sin ωt
Berdasarkan persamaan diatas besarnya ggl pada saat t= 0,1,2,3,4 didapat :
waktu ggl induksi
0 0
1 maks
2 0
3 min
4 0

Dalam bentuk pulsa ggl induksi yang timbul di ujung-ujung kumparan seperti
pada gambar:

PUTU RUSDI ARIAWAN 30


Untuk mengalirkan ggl induksi bolak-balik diujung-ujung kumparan jangkar ke
beban generator, dipakai dua cincin yang ikut berputar dengan kumparan dan
pada cincin di pasang sikat arang yang tidak ikut berputar dengan kumparan
tersebut:

Untuk memperbesar ggl induksi yang terjadi pada ujung kumparan jangkar dapat
dilakukan dengan membelitkan beberapa kumparan yang dialiri arus listrik pada
kutub-kutub magnet generatornya (lihat gambar):

Untuk mendapat tegangan atau arus searah yang dialirkan ke beban generator,
maka kedua cincin itu diganti dengan satu cincin belah (lihat gambar):

Cincin belah ini sering disebut dengan Komutator dan masing-masing


belahannya disebut Lamel. Pada gambar a sisi kumparan ab tersambung pada

PUTU RUSDI ARIAWAN 31


lamel e, sedangkan sisi kumparan cd tersambung pada lamel f. Jika kumparan
berputar searah jarum jam, maka kumparan pada kedudukan ini lamel e
berpolaritas negatif. Sedangkan lamel f berpolaritas positif (aturan tangan kanan)
Gambar b kumparan telah berputar searah jarum jam sebesar 900 terhadap
kedudukan kumparan pada gambar a . Pada keadaan ini lamel e dan f tidak
bermuatan listrik ( beban lampu padam) .
Gambar c kedudukan kumparan telah berputar sebesar 1800 terhadap
kedudukan kumparan pada gambar a . Dalam keadaan ini beban lampu menyala
dengan lamel e dan f berpolaritas sama dengan keadaan pada gambar a .
Dalam bentuk pulsa, ggl induksi dari generator dengan pemasangan cincin belah
pada ujung-ujung kumparan dapat digambarkan sebagai berikut:

RANGKAIAN LISTRIK GENERATOR DC:

Pada umumnya bentuk rangkaian listrik dari generator dc digambar sebagai


berikut:

PUTU RUSDI ARIAWAN 32


Disebut sebagai Generator DC dengan penguatan medan terpisah karena arus
listrik yang mengalir melalui kumparan medan penguat diambilkan dari sumber
listrik lain bukan dari sumber listrik generator DC tersebut.
Sesuai dengan hukum Kirchoff maka :
Ea = Vt + IaRa
Dimana :
Ea = ggl induksi kumparan jangkar
Vt = Tegangan output terminal
Ia = Arus jangkar
Ra = tahanan jangkar

Macam-macam Generator DC

Generator DC Penguat
Medan Terpisah

Generator DC Shunt
Generator DC dengan
penguat Medan

Generator DC Penguat Generator DC Seri


Medan Sendiri

Generator Generator DC Kompon


DC

Generator DC Generator DC
Generator DC tanpa Kompon Kompon
Penguat Medan Pendek Panjang

PUTU RUSDI ARIAWAN 33


Generator Penguat Sendiri:
Yang dimaksud generator penguat sendiri adalah : arus listrik yang
dialirkan melalui kumparan penguat medan Rf yang diambil dari output generator
tersebut.
Ada tiga generator penguat sendiri yaitu:
a. Generator Shunt
b. Generator Seri
c. Generator Kompon

a. Generator Shunt
Ciri utama generator shunt adalah kumparan penguat medan dipasang
paralel terhadap kumparan jangkar. Gambar rangkaian listrik dari generator
shunt:

Dari gambar berlaku persamaan persamaan:


Vt = Ish Rsh = IL ZL
Ea = IaRa + Vt
= IaRa + IshRsh
Pa = Ea I a
Pout = Vt IL (daya beban penuh jika IL = arus beban penuh)
b. Generator Seri

PUTU RUSDI ARIAWAN 34


Untuk mendapatkan arus penguat yang besar agar fluks magnet yang
dibangkitkan oleh kumparan medan menjadi besar, maka diameter kawat
kumparan medan dipilih yang besar. Untuk hal tersebut kumparan medan
disambung seri dengan tahanan jangkar (lihat gambar).
Dengan diameter kawat kumparan cukup besar, maka kumparan ini akan
memakan ruangan rotor. Dari gambar diatas berlaku persamaan :
Ea = IaRa + IaRs + Vt
IL = I a
Pout = Vt IL
Pa = Ea I a
Kelemahan generator seri adalah tegangan output (terminal) tidak stabil karena
arus beban IL berubah-ubah sesuai dengan beban yang dipikul . Hal ini
menyebabkan fluks magnet yang dihasilkan oleh kumparan medan seri tidak
stabil. Keuntungan generator seri adalah daya output menjadi besar.
c. Generator Kompon

Upaya untuk mengurangi kelemahan yang terjadi pada generator shunt


maupun generator seri, maka dibuatlah generator Kompon.
Pada generator kompon panjang berlaku persamaan :
Vt = Ish Rsh
Ea = IaRa + IaRs + Vt + Vs
EaIa = Ia2 Ra + Ia2Rs + VtIa + VaIa
Pout = Vt IL

PUTU RUSDI ARIAWAN 35


Pada generator kompon pendek berlaku persamaan :
Ea = IaRa + Vsh + Vs
atau :
Ea = IaRa + ILRs + Vt + Vs
Vsh = IshRsh
Pout = Vt IL
dimana :
Vs = jatuh tegangan pada sikat
VsIa = rugi daya pada sikat
Ia2Ra = rugi daya pada jangkar
Ia2Rs = rugi daya pada kumparan medan seri
IshRsh = rugi daya pada kumparan medan shunt

Generator DC Tanpa Beban:

Karakteristik beban nol dari generator dengan penguat medan terpisah


baik generator shunt maupun generator seri dapat dilihat pada gambar :

Karakteristik tersebut dapat dibuat sebagai berikut :


Mesin dijalankan pada kecepatan putar tetap dan emf beban nol yang
dibangkitkan pada ujung-ujung kumparan jangkar diukur tegangannya dengan
voltmeter. Pengukuran arus penguat medan dimulai dari nol dan selangkah demi
selangkah dinaikkan, sehingga akhirnya diperoleh grafik dari hubungan antara If
(arus penguat medan) dan Ea (emf jangkar) atau fluks penguat medan
magnet.Dari gambar terlihat bahwa If = 0 fluks penguat medan magnet atau emf

PUTU RUSDI ARIAWAN 36


jangkar sudah ada harganya, hal ini disebabkan adanya magnet sisa pada kutub
magnet. Keadaan ini merupakan syarat utama untuk generator penguat medan
sendiri dapat dijalankan.

Generator DC Berbeban:

Besar tegangan terminal dari generator seri berbeban adalah :


Vt = Ea – IaRa
Bila generator DC dalam keadaan jalan tidak terbebani, maka I a = 0
sehingga tegangan terminal menjadi
Vt = Ea = E0

Pada generator DC shunt, besar tegangan terminal tanpa beban adalah :


(Vt)NL = Ea – IaRa
(Vt)NL = Ea - Ra

Torsi (Kopel):

Jika jari-jari jangkar dari generator DC sebesar r mendapat gaya F maka


kerja yang dilakukan oleh gaya F dalam satu putaran adalah :
W = F x jarak

PUTU RUSDI ARIAWAN 37


W = F 2πr
Kerja yang dilakukan oleh gaya F dalam putaran per detik adalah :
W = F 2πr n = F r 2π n
W = Ta 2π n = Ta ωm
W = Ta 2π N/60
dimana :
W = kerja yang dilakukan oleh kumparan jangkar
F = Gaya (Newton)
r = jari-jari jangkar
N = Putaran jangkar (rpm = rotasi per menit)
n = Putaran jangkar (rpd = rotasi per detik )
Ta = Torsi Jangkar (Nm) = F r
ωm = Kec. Putar mekanik ( rpd) = 2π n

Adapun besar kerja yang dilakukan oleh putaran jangkar per detik (ω) adalah
sebanding dengan daya jangkar dapat ditulis :
W = Pa = Ea Ia
Dengan demikian dapat ditulis :
EaIa = T a 2π n
1 Ea I a
Ta = 2 n

Ea I a
Ta = 0.59 n
Dimana :
Ta = torsi jangkar (Nm)
n = putaran jangkar
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa ggl induksi jangkar dapat ditulis
:

 PnZ
Ea = a

PUTU RUSDI ARIAWAN 38


 P Ia Z ZP
Ta = 0.59 = 0.59  Ia
a a

Ta = C Φ I a

Dimana :
Ta = Torsi jangkar (Nm)
Φ = Fluks (weber)
Z = jumlah penghantar kumparan jangkar
a = jumlah kumparan paralel
N = Putaran jangkar

Torsi Poros:

Akibat timbulnya torsi jangkar maka pada generator timbul daya output
(Pout) dan dari Pout ini timbul torsi poros/sumbu (Shaft torque) dan disimbulkan
dengan Tsh:

Pin = Tsh 2 π n = Tsh ωm

60 Pin
Tsh = 2 N

Pin
= 9.55 N
dimana :
Pin = daya input generator (watt)
Tsh = torsi poros/sumbu (Nm)
ωm = kecepatan putar mekanik (rpd)

PUTU RUSDI ARIAWAN 39


 Rugi-rugi Total
Jangkar
Rugi tembaga jangkar
(Rugi Variabel)

Rugi Sisi
Listrik
Rugi kumparan medan seri
(Rugi konstan)
shunt

Rugi Rugi Histerisis (Rugi Konstan)


Rugi Total
Besi

Rugi Arus Pusar (Rugi Konstan)

Rugi Rugi Gesek (Sikat dan Sumbu)(Rugi Konstan)


Meka
nik
Rugi Putar (angin) (Rugi Konstan)

Dari bagan diatas terlihat bahwa :

Rugi total = Rugi variabel + rugi konstan


Ptot = Rugi tembaga jangkar + rugi kumparan medan (Pc)
Untuk generator DC seri, besar rugi total adalah :
Pt = IL2Ra + Pc
Untuk generator DC shunt, besar rugi total adalah :
Pt = (IL+ Ish) 2Ra + Pc

Rugi- rugi Listrik:


Rugi listrik juga dikenal dengan rugi tembaga yang terdiri dari kumparan
jangkar, kumparan medan seri dan kumparan medan shunt.
Rugi kumparan jangkar (Pa = Ia2Rsh ) besarnya sekitar 30 sampai 40%
dari rugi total pada beban penuh.

PUTU RUSDI ARIAWAN 40


Rugi kumparan medan shunt (Psh = Ish2Rsh) dan rugi kumparan medan seri
(Ps = Is2Rs) besarnya sekitar 20 sampai 30% dari rugi beban penuh.

Rugi Besi / rugi Magnetik:

Rugi magnetik terdiri dari rugi histerisis dan rugi arus pusar:
Rugi histerisis (Ph) besarnya adalah :
Ph = ηhBmax1,6 f v (watt)
dimana ηh = koefisien steinmetz histerisis:
V = volume inti(m3),
f = frekuensi putar magnet = f= PN/120
Dari persamaan diatas, besaran koefisien steinmetz histerisis, kecepatan
fluks dan volume inti adalah konstan sehingga Rugi histerisis adalah merupakan
fungsi dari frekuensi yang didapat ditulis Ph = F(f). Jadi makin besar frekuensi
sinyal tegangan output makin besar rugi histerisisnya.

Rugi arus pusar (Pe)


besarnya adalah :
Ph = k Bmax2 f2 t2V (watt)
dimana k = konstanta arus pusar (yang tergantung pada ketebalan
laminasi lempengan dan volume inti jangkar)
Karena nilai k dan B adalah konstan, maka besar kecilnya rugi arus pusar
tergantung pada nilai frekuensi kuadrat atau ditulis P e = F(f)2 .Jadi rugi besi
adalah sekitar 20 sampai 30% dari rugi total pada beban penuh

Effisiensi:
Pada umumnya efisiensi adalah perbandingan antara daya output dengan
daya input.
Ada 3 (tiga) macam effisiensi yaitu :

Pout
] η ekonomi = x100%
Pin

PUTU RUSDI ARIAWAN 41


Pa
η mekanis = P x100%
in

Pout
x100%
η listrik = Pout  ( RugiCu  Rugi sikat)

Dimana :
Pin = Pout + Σ Ploss
Σ Ploss = (If2Rf + Ia2Ra + IL2Rs + Rugi gesek + Rugi inti) →generator
kompon
2
If Rf = Rugi kumparan medan shunt
Ia2Ra = Rugi kumparan jangkar
IL2Rs = Rugi kumparan medan seri
Rugi gesek = rugi sikat + rugi angin+ rugi shaft/sumbu
Rugi sikat = Ia Vsi → Vsi = tegangan pada sikat
Rugi angin = rugi karena adanya celah antara bagian rotor dan stator
(± 1%)
Rugi sumbu = rugi yang timbul pada benda berputar
Rugi inti = rugi histerisis + rugi arus pusar
Pin = Tsh + ωm → daya total yang diterima mesin
Pout = VLIL → daya output generator.

PUTU RUSDI ARIAWAN 42


Presentasi Regulasi:

Untuk menghindari agar generator tidak terlalu berat menerima beban,


maka diperlukan pengaturan tegangan atau persentasi regulasi. Adapun
besar persentasi regulasi tegangan maksimum yang diijinkan adalah 40% dan
dapat ditulis :

(Vt ) nL  (Vt ) fL
Presentasi regulasi naik = x100%
(Vt ) fL
(Vt ) nL  (Vt ) fL
Presentasi regulasi turun = (V ) x 100%
t nL

Untuk generator DC shunt, besar tegangan terminal tanpa beban adalah :

E0
(Vt)nL =
 R 
1  a 
 Rsh 

sedangkan untuk generator seri :

 PnZ
(Vt)nL = E0 =
a 60

Adapun besar arus jangkar Ia adalah :

Ia = (Vt ) nL  V
x ( I L ) fL
(Vt ) nL  (Vt ) fL

MOTOR DC

Motor listrik merupakan alat yang berfungsi untuk mengubah daya listrik
menjadi daya mekanik. Prinsip Kerja :Jika sepotong kawat dialiri arus listrik
terletak di antara dua kutub magnet utara dan selatan, maka pada kawat

PUTU RUSDI ARIAWAN 43


tersebut terkena suatu gaya Lorentz. Arah dari gerakan kawat sesuai dengan
aturan tangan kiri.

Untuk mengetahui arah putaran motor searah atau perlawanan dengan arah
jarum jam (lihat gambar) pada gambar a arus listrik yang mengalir melalui sisi
kumparan sebelah atas (kutub utara) dengan arah meninggalkan (keluar)
sedangkan arus listrik pada sisi kumparan sebelah bawah (kutub selatan)
menuju kedalam (masuk) maka kumparan akan berputar berlawanan jarum jam
(perhatikan arah medan magnet) sekitar kawat seperti pada gambar b dan c:

Jika ujung-ujung kumparan dihubungkan dengan sumber listrik DC dengan


polaritasnya berlawanan dengan polaritas batery (gambar a), maka kumparan
akan berputar searah dengan jarum jam.

Rangkaian listrik motor DC tanpa penguatan medan:

Vt = tegangan sumber DC
Ea = ggl induksi jangkar

PUTU RUSDI ARIAWAN 44


Ia = arus jangkar
Ra = tahanan jangkar
KU = kutub utara magnet
KS = kutub selatan magnet

Rangkaian listrik motor DC Penguat tanpa medan terpisah:

Rangkaian listrik motor DC Penguat Kumparan Medan Shunt:

Dari gambar berlaku persamaan :


Vt = IaRa + Ea + Vs
x Ia
VtIa = (Ia)2Ra + EaIa + IaVs = daya listrik yang dibutuhkan untuk memutar jangkar
VtIL = Pin = daya input yang dibutuhkan dari sumber listrik
EaIa = Pa (daya armatur)
(Ia)2Ra = Rugi daya listrik pada jangkar
Vsh = IfRf = Vt
IL = Ia + If = arus jala-jala
Ia2Rs + If2Rf= Pcu = rugi-rugi tembaga total

PUTU RUSDI ARIAWAN 45


GGL induksi jangkar Ea timbul akibat kumparan rotor berputar yang terletak di
antara kutub utara dan kutub selatan magnet motor. Pada saat awal rotor
berputar, Ea = 0 artinya kumparan rotor akan menarik arus yang besar dari
sumber listrik, Setelah motor berputar pada kecepatan yang sebenarnya Ea =
max maka motor akan menarik arus listrik sumber paling minimum (arus
nominal = sepersepuluh dari arus start)
Torsi jangkar motor DC adalah :
P
T  0.159
a z  Ia

Atau :
T = K Φ Ia (Nm)
Dimana :
Φ = fluks dalam weber
Jika panjang kumparan rotor L dialiri arus listrik sebesar I dan terletak diantara
kutub magnet utara dan selatan dengan kerapatan fluks sebesar B, maka
kumparan rotor tersebut mendapat gaya F sebesar :
F=BIL

JENIS-JENIS MOTOR DC:


 Motor DC Shunt

Ea = Gaya gerak listrik jangkar


= Vt – IaRa - Vs
= Vt - (IL – Ish)Ra – Vs
(Pcu)tot = Ia2Ra + Ish2Rsh
Vt = tegangan terminal
IL = Arus jala-jala
Pin = Vt IL

PUTU RUSDI ARIAWAN 46


Ia = Arus jangkar
Ish = Arus shunt
IL = Ia + Ish
Rsh = Tahanan kumparan shunt
Vsh = Tegangan kumparan shunt = Ish Rsh
Ra = Tahanan kumparan jangkar
Va = Tegangan jatuh pada kumparan

MOTOR DC SERI:

Ia = I L
Pin = Vt IL
Rs = tahanan kumparan seri = ILRs
Pa = EaIa
Ea = Vt – IaRs – IaRa – Vs
(Pcu)tot = Ia2Ra + IL2Rs

Motor DC Kompon Pendek:

Pin = VLIL
IL = Ia + Ish
Pa = EaIa
Ea = Vt – ILRs – IaRa – Vs
ILRs = tegangan jatuh pada kumparan seri

PUTU RUSDI ARIAWAN 47


(IL)2Rs = rugi daya pada kumparan seri
IaRa = tegangan jatuh pada tahanan jangkar
(Ia)2 Ra = rugi daya jangkar
(Pcu)tot = Ia2Ra + IL2Rs + Ish2Rsh
IshRsh = Vsh = Vt – Vs
Ish2Rsh = Rugi daya pada kumparan shunt

Motor DC Kompon Panjang:

Pin = VtIL
IL = Ia + Ish
Pa = EaIa
Ea = Vt – IaRs – IaRa – Vs
Vsh = Vt
Vsh = IshRsh
(Ia)2Ra = rugi daya pada tahanan jangkar
(Ia)2Rs = rugi daya pada kumparan seri
(Ish)2Rsh = rugi daya pada kumparan shunt

DAYA JANGKAR MAKSIMUM:

Jika daya jangkar motor DC maksimum, maka besar daya output atau
kopel sumbu akan maksimum juga. Daya jangkar akan maksimum, bila gaya
gerak listrik jangkar dioperasikan pada setengah tegangan terminalnya. Untuk
Motor DC shunt maka :
Vt = Ea + Ia Ra

PUTU RUSDI ARIAWAN 48


VtIa = EaIa + (Ia)2Ra
Pa = VtIa – (Ia)2Ra
Pa maksimum jika dPa/dIa = 0
dPa/dIa= Vt – 2 IaRa = 0
IaRa = Vt/2
Oleh karena Vt= Ea+ IaRa dan IaRa = Vt/2 maka :
Vt = Ea + Vt/2
Ea = Vt /2
Bahwa daya jangkar akan maksimum jika E a dioperasikan pada Vt/2 yang
diperoleh dengan cara mengatur kecepatan putar motor (N) dari persamaan
besar ggl jangkar

 PZ N
Ea 
a 60

PENGATURAN KECEPATAN MOTOR DC:

Besarnya GGL induksi pada kumparan jangkar sebagai akibat berputarnya rotor
yang terletak diantara kutub magnet adalah :

 PZ N
Ea = x108
a 60
Dimana :
Φ = fluks magnet perkutub
N = Putaran rotor (rpm)
Atau dapat dituliskan :
Ea = C Φ N PZ
C
a 60
Dimana: Vt = Ea + IaRa

1  Ea 
V I R N   
N t a a C  
C

PUTU RUSDI ARIAWAN 49


Dapat dikatakan bahwa kecepatan putar motor dapat diperoleh dengan
mengubah-ubah fluks magnet, pengaturan arus armatur atau perubahan
tegangan sumber (Vt )

Pengaturan Kecepatan Putar Motor DC:


Dengan Pengaturan Fluks Magnet:

Dengan Pengaturan Fluks Magnet, Kecepatan putar Motor DC akan minimum


bila arus If minimum yang terjadi pada posisi rheostat maksimum. Pengaturan
kecepatan motor DC untuk model ini pengerjaannya mudah, murah dan panas
yang terjadi juga rendah..

Pengaturan Kecepatan Putar Motor DC:


Dengan Pengaturan Arus Jangkar

Pengaturan kecepatan putar motor dengan pengaturan arus jangkar jarang


dipakai karena rugi panas yang terjadi cukup besar.

PUTU RUSDI ARIAWAN 50


Pengaturan kecepatan putar motor dengan pengaturan arus jangkar jarang
dipakai karena rugi panas yang terjadi cukup besar.

Pengaturan Kecepatan Putar Motor DC:


Dengan Pengaturan Tegangan Terminal:

Tegangan terminal Vt didapat dari tegangan generator DC yang diputar oleh


motor induksi M. Perubahan Vt diperoleh dengan cara mengatur hambatan R G
yang mempengaruhi medan penguat Rf

Kecepatan Putar Motor Seri:

Bila kecepatan putar awal dari motor seri adalah N1 maka menurut
persamaan adalah :
1 Ea 1 1 Vt  I a 1 Ra  I a 1 Rs
N1  
C 1 C 1
Jika kecepatan putar motor tersebut berubah menjadi N 2 maka :
1 Ea 2 1 Vt  I a 2 Ra  I a 2 Rs
N2  
C 2 C 2
Perbandingan dari kedua kecepatan putar tersebut adalah :

N 2 Ea 2 I a 1

N1 Ea 1 I a 2

Kecepatan Putar Motor Shunt:


Untuk motor shunt bila kecepatan putar berubah dari N 1 ke N2 maka besar
perubahan fluks tetap besarnya atau Φ1 = Φ2 .Karena arus yang mengalir melalui
kumparan medan shunt, besarnya tetap (tidak terpengaruh beban):

PUTU RUSDI ARIAWAN 51


Maka :
N 2 Ea 2

N1 Ea 1

Karakteristik motor dc:


Karakteristik Kopel Terhadap Arus Jangkar:

Besarnya Kopel Jangkar (Ta) motor DC adalah :

Pa Ea I a 60 Ea I a E I
Ta     9,55 a a
2 n 2  N 60 2 N N
 PZ N
Dimana untuk ggl jangkar adalah : Ea  x108
a 60

60 PNZ  PZ 
Ta  Ia     I a
2 N a 60  2  a 

Bahwa kopel jangkar sebagai fungsi dari fluks dan arus jangkar dapat ditulis:
Ta = f (Φ Ia)
Jika arus jangkar bertambah besar, maka akan diikuti oleh kenaikan kopel
jangkar atau sebaliknya. Pada motor DC seri, kenaikan arus jangkar akan
memperbesar fluks. Sehingga persamaannya dapat ditulis :
Ta = f(Ia)2
Karakteristik motor DC seri dapat digambarkan sebagai berikut :

PUTU RUSDI ARIAWAN 52


Karakteristik Kecepatan Putar Terhadap Arus Jangkar:
Hubungan antara kecepatan putar terhadap arus jangkar motor DC
adalah :

Vt  I a Ra
N
c
Dari persamaan diatas, nilai kecepatan putar akan berubah jika harga atau besar
arus jangkar berubah, dimana hubungannya dapat digambarakan sebagai
berikut :

Karakteristik Mekanik:
Karateristik mekanik diperoleh dari hubungan antara kecepatan putar
dengan kopel elektromagnetik atau kopel jangkar:
Ea I a
Ta  9,55
N
Perubahan nilai kopel jangkar akan selalu diikuti oleh perubahan kecepatan
putar dan dapat ditunjukkan pada gambar

MOTOR TANPA BEBAN:


 Motor Shunt
Motor tanpa beban artinya bahwa arus jala-jala IL= (IL)0 karena Ish= Vt/Rsh
maka arus jangkar tanpa beban adalah :
(Ia)0= (IL)0 - Ish

PUTU RUSDI ARIAWAN 53


Besarnya ggl jangkar tanpa beban adalah :
(Ea)0 = E0 = Vt – (Ia)0 Ra
Pada motor shunt tanpa beban, besar daya output P o = 0 atau relatif kecil
karena Ia = (Ia)0
Besar daya input Pin sama dengan jumlah seluruh rugi-rugi dapat ditulis:
Pin = Σloss
dimana :
Pin = Vt (IL)0
Σloss = (Ia)0Ra + (Ish)2Rsh + Rugi inti + Rugi gesek
Rugi gesek = Pa – Po – PC

 Motor Seri
Untuk motor seri tanpa beban besar IL = 0, karena Ia = IL maka arus
jangkar juga sama dengan nol
GGL jangkar motor seri tanpa beban adalah : Eo = Vt
Daya output dan daya input untuk motor seri tanpa beban adalah Nol

EFFESIENSI :

Efisiensi motor ada 3 macam yaitu :


Pm
 Ekonomi  x100%
Pin

Pm
mekanis  x100%
Pa

Pa
listrik  x100%
Pa   Rugicu  sikat

PUTU RUSDI ARIAWAN 54


Dimana :

Ts m
Pm  ( BHP )  735,5 P0
735,5

Pin = Vt IL
Pa = Ea I a
Ts = Torsi sumbu (Nm)
ωm = Kecepatan putar rotor

PUTU RUSDI ARIAWAN 55


BIODATA

Nama : Putu Rusdi Ariawan

TTL : Denpasar. 19 April 1990

Agama : Hindu

Mahasiswa Teknik Elektro Unv. Udayana

Email : turusdi.info@gmail.com

www.facebook.com/turusdi

PUTU RUSDI ARIAWAN 56