Anda di halaman 1dari 9

FAKTOR PENGHAMBAT PRODUKSI KAPAS

• Masalah utama yang timbul pada sektor pertanian adalah luasan penguasaan lahan
petani dan selain itu, keterbatasan modal maupun pemilikan aset yang dimiliki petani
berlahan terbatas sangat berarti bagi kegiatan usahataninya. Modal, baik dana maupun
sarana untuk berproduksi sangat mempengaruhi produktivitas pertanian terutama bagi
petani yang tidak memiliki modal. Banyaknya lahan-lahan produktif yang tidak
diusahakan dan dibiarkan tanpa diolah disebabkan karena tidak adanya sarana untuk
menggarap usahataninya. Terutama pada
lahan-lahan perkebunan yang rata-rata di luar Jawa kepemilikannya bisa lebih dari satu
hektar, kebanyakan tidak diusahakan. Hal ini disebabkan terutama karena tidak adanya
dana
dan adanya liberalisasi perdagangan yang mengakibatkan semakin terpuruknya ekspor
komoditi perkebunan. Selain faktor modal, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan
komoditi perkebunan tidak diusahakan oleh petani. Seperti pada pengembangan
transgenik.
• Program pengembangan kapas dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri
untuk
industri tekstil sudah dilakukan sejak tahun 1960, namun dalam pelaksanaannya selalu
dihadapkan pada berbagai kendala baik yang menyangkut faktor teknis maupun non-
teknis,
seperti: kurang didukung pengkajian agroklimat, kurang tersedianya benih bermutu,
penyediaan agro input yang tidak tepat, tingginya intensitas serangan hama serta kurang
lancarnya penyediaan dana untuk membiayai usahatani kapas dan di tingkat petani modal
yang tersedia terbatas. Di lain pihak, pada umumnya kegiatan pengembangan komoditas
kapas diusahakan pada lahan-lahan marjinal, karena lahan subur diprioritaskan untuk
tanaman
pangan. Sehingga dengan kondisi yang demikian, kontribusi kapas dalam negeri terhadap
kebutuhan serat kapas bagi industri tekstil nasional masih relatif kecil yaitu hanya sekitar
satu
persen. Sedangkan impor serat kapas kecenderungannya meningkat setiap tahunnya
sejalan
dengan bertambah-nya jumlah perusahaan industri tekstil.
Selain faktor fisik (seperti sarana produksi) yang mempengaruhi fungsi produksi
kapas, masih ada faktor lain yang eksternal (yang tidak dapat dikendalikan petani), yang
mempengaruhi produksi tanaman kapas. Faktor-faktor itu dapat berupa iklim dan harga.
Tetapi hal ini masih perlu diteliti atau dikonfirmasi dengan hasil penelitian lainnya.
• Mutu benih merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil kapas. Pertumbuhan
tanaman yang tidak seragam berpengaruh pada populasi dan derajat serangan hama dan
penyakit (Soebandrijo et al., 1994). Benih yang digunakan untuk IKR adalah benih kabu-
kabu. Penggunaan benih delinted mudah disortasi, sehingga bebas dari hama/penyakit
benih, dan menghasilkan tanaman yang seragam. Sampai saat ini belum ada industri
benih yang mendukung pengembangan kapas di Indonesia. Pada tahun 2003, Balittas
bekerja sama
dengan petani penangkar benih telah berhasil merintis usaha pengadaan benih Kanesia 7
melalui model waralaba seluas 54 ha di NTB. Rintisan ini telah ditindaklanjuti dengan usaha
pemberdayaan penangkar benih di Sulawesi Selatan untuk varietas yang sama untuk tahun
2004. Dalam upaya mengurangi kehilangan dan meningkatkan hasil kapas maka teknik budi
daya perlu diperbaiki, meliputi waktu tanam, pemupukan maupun tata tanam tumpang sari
dengan palawija. Waktu tanam yang tepat berhubungan erat dengan tersedianya air di suatu
wilayah. Hal ini karena ketersediaan air akan erat dengan periode hujan. Banyaknya air yang
dibutuhkan untuk mengganti yang hilang melalui evapotranspirasi agar tanaman berada dalam
keadaan optimal (Riajaya, 2002). Mengingat areal pengembangan kapas yang tersebar pada
wilayah beriklim kering yang eratik, maka penetapan waktu tanam yang tepat akan sangat
membantu keberhasilan produksi. Berdasarkan analisis curah hujan tahunan selama periode
lebih dari 20 tahun, telah ditetapkan waktu tanam kapas paling lambat untuk sebagian besar
areal pengembangan kapas di Indonesia. Secara umum dosis pupuk yang sekarang dianjurkan
belum bersifat spesifik lokasi, yaitu:1). Untuk Jawa Timur, pada pemupukan I 35 40 kg
Urea/ha, ditambah 40 kg ZA/ha, 100 kg SP-36/ha dan 0 100 kg KCl/ha. Pemupukan II 65 80
kg Urea; 2). Di Jawa Tengah yaitu pemupukan I 40 60 kg Urea, ditambah 100 kg SP-36/ha,
sedangkan pemupukan II 60 120 kg Urea; 3). Di NTB pemupukan I 15 30 kg Urea, ditambah
40 kg ZA dan 100 kg SP-36/ha; 4) Di Sulawesi Selatan pemupukan I 15 35 kg Urea,
ditambah 50 100 kg ZA, 100 kg SP-36, dan pemupukan II 35 65 kg Urea/ha (Sahid, 2002).
Penetapan dosis pupuk di masa datang akan berdasarkan pada hasil análisis tanah dan
tanaman. Dalam upaya meningkatkan pendapatan petani dan sekaligus mengurangi risiko
kegagalan panenan kapas, dilakukan sistem tumpang sari kapas dengan palawija. Tanaman
palawija yang dianjurkan yaitu kacang hijau, kedelai, atau jagung dan disesuaikan dengan
daerah pengembangan. CONTOHNYA Tata tanam yang dipakai dalam sistem tumpang sari
kapas bisa 1 baris kapas (2 tanaman/lubang) dan 3 baris palawija (kedelai) dengan populasi
kapas 44.000 tan./ha dan palawija 198.000 tan./ha. Hasil kapas 1.348 kg/ha dan kedelai 500
kg/ha. Dapat pula dengan mengurangi jumlah tanaman kapas per lubang menjadi satu
tanaman/lubang pada tata tanam 1 baris kapas dan 3 baris palawija (populasi kapas 33.000
tan./ha), dengan hasil kapas 1.577 kg/ha dan kedelai 545 kg/ha). Dengan 2 baris kapas
dan 4 baris palawija (populasi kapas 31.302 tan/ha) produksi kapas meningkat, dengan hasil
kapas mencapai 1.677 kg/ha dan kedelai 456 kg/ha (Kadarwati et al., 2001). Teknik
pengendalian serangga hama utama kapas yang dikembangkan melalui pendekatan
pengendalian hama terpadu (PHT) yang menekankan metode pengendalian non-kimiawi,
peningkatan peran pengendali alami yaitu pelestarian dan pemanfaatan agens hayati, dan
penggunaan varietas berbulu lebat untuk menghindari serangan A. Biguttula yang biasanya
menyerang pada awal pertumbuhan. Hama utama lainnya yang penting adalah hama
penggerek buah Helicoverpa armigera dan Pectinophora gossypiella. Pengendalian kedua
hama ini dilakukan dengan pengelolaan habitat antara lain dengan memanfaatkan serasah atau
mulsa guna mendukung perkembangan musuh alami berupa parasitoid dan predator, sehingga
populasi hama tersebut selalu di bawah ambang kendali (Nurindah et al., 2001). Beberapa
musuh alami penting di antaranya parasitoid telur (Trichogramma sp.) dan parasitoid ulat
yakni Apanteles sp. Dan Brachymeria sp. Teknologi PHT terdiri dari komponen-komponen
(1) penggunaan varietas yang toleran/tahan terhadap A. biguttula, (2) penanaman jagung
sebagai tanaman perangkap, (3) penggunaanserasah tanaman atau mulsa, (4) panduan
populasi hama, dan (5) penggunaan insektisida nabati. Pengendalian menggunakan insektisida
kimia hanya dilakukan jika populasi hama mencapai ambang kendali (Soebandrijo et al.,
2000). Pemanfaatan pestisida botani ekstrak biji mimba telah terbukti mampu mengendalikan
hama penggerek buah kapas dan tidak mematikan musuh alaminya. Pada kegiatan on-farm di
Lamongan diperoleh hasil bahwa perlakuan tanpa penyemprotan dengan insektisida (unspray)
dan pengendalian hama menggunakan pestisida nabati memberikan tingkat produktivitas
kapas yang tidak berbeda dengan perlakuan pengendalian hama menggunakan insektisida
kimia yang dikehendaki petani, akan tetapi pendapatan petani pada perlakuan unspray dan
spray dengan ekstrak biji mimba adalah lebih tinggi. Hal ini karena biaya produksi untuk
pembelian insektisida dan upah penyemprotan dapat ditekan dan sekaligus menjadi tambahan
pendapatan petani
• Ulat penggerek buah kapas, Helicoverpa armigera Hubner merupakan salah satu hama
utama tanaman kapas yang hingga saat ini masih menjadi faktor pembatas produktivitas.
Stadia paling efektif merusak adalah stadia ulat. Hama ini biasanya menyerang
tanaman kapas mulai umur 35 hari yaitu saat dimulainya pembentukan kuncup bunga, bunga,
dan buah muda sampai menjelang panen (100 120 hari). Satu ekor ulat H. armigera selama
stadia ulat mampu merusak 2 12 kuncup bunga dan buah kapas, sehingga pengendalian
dengan cara yang kurang tepat dapat mengakibatkan kehilangan hasil kapas hingga >50%
(Soebandrijo et al., 1994). Sekitar tiga dasa warsa lalu penggunaan insektisida kimia sintetis
merupakan satu-satunya cara pengendalian H. armigera pada kapas. Tetapi meningkatnya
kasus resistensi pada H. Armigera terhadap insektisida kimia menyebabkan penggunaannya
mulai dikurangi. Di samping itu, penggunaan insektisida kimia sintetis secara terus menerus
menyebabkan faktor mortalitas biotik seperti musuh alami (parasitoid dan predator) serangga
hama mengalami kemusnahan lebih cepat, sehingga tidak dapat berperan sebagai faktor
pengendali hama secara alami. Meskipun saat ini peran musuh alami sudah mulai
dimanfaatkan dalam pengendalian H.armigera melalui upaya konservasi untuk meningkatkan
populasinya, tetapi belum semua petani kapas menerapkannya. Berdasarkan hasil penelitian,
anjuran untuk tidak melakukan penyemprotan (unsprayed) dalam pengendalian H. armigera
pada kapas di Lamongan, Jawa Timur, sehubungan dengan terjadinya peningkatan peran
musuh alami belum sepenuhnya dilakukan karena sebagian petani setempat masih memilih
cara pengendalian dengan insektisida kimia sintetis. Pemanfaatan patogen serangga adalah
salah satu alternatif pengendalian hama secara nonkimiawi. Selain terbukti efektif terhadap
hama sasaran, juga tidak mengakibatkan resistensi hama, dan aman bagi organisme bukan
sasaran, termasuk mamalia (Mandal et al., 2003). Dari sisi efektivitas dan dampaknya
terhadap lingkungan, prospek patogen serangga sebagai substitusi insektisida kimia sintetik
cukup baik. Selain itu, pengendalian hama dengan patogen serangga cenderung lebih efisien
dibanding pengendalian dengan insektisida kimia sintetik.
Serat di IPB pernah menyatakan bahwa permasalahan kapas di Indonesia
terutama bukan terletak pada daya hasil (yield) melainkan pada kualitas serat kapas
yang dihasilkan. Daya hasil kapas, dapat dikoreksi dengan daya hasil tahunan dari
potensi iklim tropika yang memungkinkan musim produksi tanaman sepanjang tahun.
Namun masalah kualitas kapas tidak mudah diatasi, karena juga terkait
dalam faktor iklim itu sendiri. Indonesia rata-rata beriklim tropika basah. Tingkat
kelembaban udara yang cukup tinggi inilah yang menjadi penyebab mutu serat kapas
menjadi masalah. Serat kapas Indonesia tidak seputih kapas dari negara-negara lain
yang beriklim lebih kering. Terutama pada waktu pemasakan buah. Serat kapas
produksi Indonesia cenderung berwarna kekuningan. Apakah varietas Kanesia 7 dan
Bt yang dipertandingkan sudah mampu mengatasi masalah konsekuensi iklim tropika
basah ini.

ARTI PENTING DAN MANFAAT KOMODITAS

Kapas (Gossypium hersutum) merupakan salah satu komoditi perkebunan


penghasil
serat alam untuk bahan baku industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Kebutuhan
bahan baku industri TPT terus meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan
perkembangan jumlah penduduk, dan saat ini kebutuhan tersebut telah mencapai
sekitar 500 ribu ton serat kapas yang setara dengan 1,5 juta ton kapas berbiji pertahun.
Namun perkembangan industri TPT tersebut belum didukung oleh kemampuan
penyediaan bahan baku berupa serat kapas dalam negeri, sehingga sekitar 99,5%
kebutuhan bahan baku tersebut masih dipenuhi dari impor. Menyadari hal tersebut
pemerintah sejak tahun 1978 telah berupaya terus meningkatkan produksi kapas mulai
dari pelaksanaan program IKR, P2WK, proyek OECF, swadaya petani hingga
Program Percepatan (akselerasi kapas) yang dimulai tahun 2007 sampai saat ini.
Keseluruhan program tersebut diatas dilaksanakan secara bermitra antara petani
dengan perusahaan pengelola kapas. Sedangkan, pemerintah berperan sebagai
fasilitator.
Pada awalnya areal pengembangan kapas terbatas hanya di beberapa Provinsi
yaitu : Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT dan Sulsel. Mulai tahun 2007 telah
dikembangkan pertanaman kapas di Bali. Berdasarkan pengalaman pengembangan
kapas selama ini ternyata keberhasilan usaha tani kapas sangat ditentukan oleh
beberapa faktor terutama : (i) penggunaan benih unggul dan sarana produksi secara 5
tepat (mutu, jenis, waktu, jumlah dan tempat) (ii) penerapan standar teknis anjuran
termasuk ketepatan waktu tanam dan pemeliharaan tanaman dimulai sejak tanam
hingga masa panen.
Kapas (gossypium sp) termasuk famili Malvaceae bukanlah tanaman asli
Indonesia. Tanaman ini mulai dibudidayakan di Indonesia diperkirakan sejak zaman
VOC (tahun 1670).kebutuhan serat kapas dalam negeri semakin meningkat setiap
tahunnya, maka kapas merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai
prospek cukup baik untuk dibudidayakan serta diusahakan lebih lanjut menjadi
komoditas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Akan tetapi, permasalahan kapas
dalam negeri adalah produktivitasnya yang rendah sehingga diperlukan suatu lembaga
kemitraan. IKR PR. Sukun Kudus sebagai perusahaan mitra untuk komoditas kapas
bermitra dengan petani kapas didesa Sukosari sejak MT 2001. dalam melakukan
aktivitasnya dari hulu sampai hilir dari penentuan areal, pembinaan petani, pengadaan
agroinput, pendanaan kredit, pembelian kapas berbiji, gining sampai dengan
memasarkan produknya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri textil PT.
SUKUNTEX.
Rumusan masalah: Bagaimana biaya,produksi dan pendapatan usaha tani kapas
dengan kemitraan yang dilakukan IKR PR.SUKUN?, Bagaimana pola kemitraan
antara petani dengan IKR PR. SUKUN ?. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui biaya,
produksi, dan pendapatan usahatani kapas secara kemitraan yang dilakukan IKR
PR.SUKUN, Untuk mengetahui pola kemitraan antara petani dengan IKR PR.
SUKUN. Tempat penelitian dilakukan secara sengaja di Desa Sukosari Kecamatan
Mantup Kabupaten Lamongan, dengan pertimbangan di daerah tersebut terdapat
petani yang telah melakukan usahatani kapas secara kemitraan yang sudah
berlangsung sejak musim tanam tahun 2001 hingga sekarang.

Serat kapas merupakan bahan baku utama untuk industri tekstil. Pada tahun 2003 luas areal kapas di
Indonesia 7.850 ha dengan produksi 4.263 ton. Sedangkan impor kapas mencapai 600.000 ton per
tahun. Berarti produksi kapas dalam negri hanya mencukupi 0,7 % dari kebutuhan. Potensi produksi
varietas kapas yang digunakan selama ini ternyata masih sangat rendah yaitu rata-rata kurang dari 1
ton/ha. Oleh karena itu perlu dihasilkan varietas-varietas unggul dengan produksi diatas 2 ton/ha.
Varietas unggul yang ada selama ini adalah Kanesia 8 dan 9. Produksi kedua varietas tersebut adalah
sebagai berikut, Kanesia 8, 2,1 ton/ha, dan Kanesia 9, 1,9 ton/ha. Kedua varietas ini sangat rentan
terhadap serangga. Untuk pengendalian serangga pada kedua varietas ini digunakan insektisida.

Hal ini merupakan kendala bagi petani, sehingga produksi serat kapas di
petani sangat rendah. Penggunaan tanaman kapas yang mempunyai toleransi tinggi
terhadap serangga dan tidak digunakannya insektisida akan lebih menguntungkan
untuk mengurangi kesenjangan produksi kapas di lapangan.
Usahatani kapas masih memberikan keuntungan bagi petani yang
mengusahakan. Hal ini terlihat pada nilai gross benefit yang lebih besar dari nilai
korbanan (cost) yang dikeluarkan. Komoditas kapas, terobosan teknologi transgenik
dan pola kemitraan dengan perusahaan pengelola, dapat memberikan alternatif cerah
ke depan.

Kapas di Indonesia pada umumnya dikembangkan di daerah beriklim kering


dengan waktu curah hujan yang terbatas (3 4 bulan) dan ditanam di lahan-lahan tadah
hujan. Berdasarkan analisa peluang hujan dan waktu musim kering serta kebutuhan
air untuk tanaman kapas agar dapat berproduksi optimal, di daerah-daerah
pengembangan kapas telah dapat ditentukan waktu tanam yang tepat untuk kapas,
yang dikenal dengan istilah minggu paling lambat (MPL) (Riajaya 2002).
Daerahdaerah pengembangan kapas tersebut meliputi Sulawesi Selatan, Jawa Tengah,
Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Sejak tahun 2005 telah dikembangkan
kapas di Pulau Nusa Penida, Bali. Di daerah-daerah ini, kapas ditanam setelah
tanaman utama (biasanya tanaman pangan) dipanen. Selain di lahan kering, kapas
juga ditanam di lahan sawah tadah hujan (misalnya Lamongan, Jawa Timur) dan
sawah berpengairan terbatas (misalnya di Lombok Barat, NTB). Di lahan ini, kapas
ditanam sesudah padi dipanen (MK 1). Pada umumnya daerah-daerah pengembangan
tersebut, kapas ditanam di lahan marginal dengan ciri kesuburan tanahnya rendah dan
ketersediaan air terbatas. Kondisi kesuburan tanah yang rendah semakin memburuk
dengan eksploitasi lahan yang intensif tanpa ada usaha perbaikan atau reklamasi
lahan. Dalam berbudi daya tanaman, terutama kapas, pupuk anorganik merupakan
input yang selalu digunakan oleh petani.

Petani kapas pada umumnya merupakan petani miskin, dengan pendapatan


rendah, berlahan sangat sempit, modal terbatas, dan takut terhadap risiko kegagalan.
Oleh karena itu, pada umumnya kapas ditumpangsarikan dengan tanaman palawija
seperti jagung, kacang tanah, kedelai, atau kacang hijau (Sahid, 2002; Machfud,
2002). Usaha tani kapas tumpang sari dengan palawija merupakan usaha tani yang
menguntungkan dan meningkatkan pendapatan petani 15 59% jika diterapkan
rekomendasi budi daya kapas dengan benar (Wahyuni et al., 1993; Sahid et al., 1999).
Dengan demikian, komoditas kapas merupakan komoditas yang mempunyai daya
saing tinggi terhadap komoditas lainnya. Walaupun demikian pada kenyataannya,
kapas sulit berkembang, yang diindikasikan dengan luas areal yang terus menurun
(Anonim, 2005). Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan modal petani untuk
mengadakan saprodi, terutama benih, pupuk, dan pestisida sehingga petani
bergantung pada adanya kredit untuk saprodi tersebut. Tujuan dari penulisan makalah
ini adalah membahas teknik-teknik budi daya terpadu yang memungkinkan petani
untuk tidak terlalu tergantung pada kredit saprodi, yaitu benih, pupuk, dan pestisida.
Pengembangan teknik budi daya terpadu ini diharapkan petani dapat melakukan budi
daya kapas dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Dalam pengembangan
budi daya terpadu ini, aspek model pengembangan kapas juga dibahas.

MODEL PENGEMBANGAN KAPAS


Komoditas kapas dikembangkan dengan model kemitraan antara petani,
pengelola kapas dan Dinas Perkebunan (Sahid dan Wahyuni, 2001). Petani sebagai
pelaku utama merupakan kelompok- kelompok tani, diketuai oleh seorang ketua
kelompok yang bertugas dalam koordinasi kegiatan budi daya on farm maupun off
farm, di antaranya adalah penentuan calon petani/lahan (CP/CL), distribusi saprodi,
pengaturan pembelian hasil, dan pengembalian kredit. Pengelola merupakan suatu
badan usaha yang melakukan kegiatan hulu sampai hilir, yaitu penentuan CP/CL,
pengadaan saprodi, pengurusan kredit, pembinaan pada petani, pembelian kapas,
melakukan prosesing, dan pemasaran hasilnya. Dinas Perkebunan atau dinas-dinas di
daerah yang bertugas menangani komoditas kapas, merupakan koordinator dalam
pengembangan komoditas di wilayahnya. Dalam model kemitraan ini, petani
mendapatkan fasilitas kredit saprodi dari pengelola yang berupa benih, pupuk, dan
pestisida. Pembayaran kredit dilakukan setelah pembelian kapas petani oleh
pengelola. Penyaluran saprodi oleh pengelola kepada petani seringkali mengalami
keterlambatan, yang salah satu penyebabnya adalah karena keterbatasan sumber daya
manusia dari pengelola (Sahid dan Wahyuni, 2001). Keterlambatan penyaluran
saprodi berakibat pada rendahnya produksi kapas yang dihasilkan karena adanya
rangkaian akibat. Keterlambatan penyaluran benih berakibat pada keterlambatan
waktu tanam hingga melampaui MPL, sehingga tanaman terancam kekeringan.
Keterlambatan penyaluran pupuk berakibat pada keterlambatan pemupukan dasar
yang sangat dibutuhkan tanaman pada awal pertumbuhan, sehingga menyebabkan
tanaman tidak dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal. Sedangkan
keterlambatan penyaluran pestisida tidak banyak berpengaruh terhadap produksi
kapas, bahkan berakibat positif, karena menyebabkan penundaan penyemprotan
pertama selama mungkin, sehingga membantu musuh alami membangun populasinya
dan prinsip utama PHT dapat diterapkan (Nurindah et al., 2004). Masalah
keterlambatan penyaluran saprodi yang berakibat pada penurunan produksi
hendaknya dicarikan pemecahannya. Salah satu pemecahan yang dapat
dipertimbangkan adalah melalui pengembangan system budi daya terpadu.
PRODUKSI NASIONAL DIBANDING DGN KEBUTUHAN PRODUKSI
NEGARA LAIN

• Kebijakan pembangunan perkebunan saat ini pada dasarnya diarahkan untuk


meningkatkan ekspor dan memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Hal ini dapat
dilakukan melalui berbagai cara seperti: peremajaan, rehabilitasi, perbaikan mutu
tanaman, penganekaragaman jenis dan pemanfaatan lahan transmigrasi perkebunan,
lahan kering dan rawa yang ditangani secara intensif. Tujuannya adalah meningkatkan
pendapatan taraf hidup petani. Selama dasawarsa terakhir ini, walaupun di beberapa
komoditas perkebunan telah terjadi peningkatan produksi yang berarti; namun pada
umumnya di barisan perkebunan rakyat, peningkatan produksi tersebut belum
dirasakan. Kalau peningkatan produksi (baik kuantitas maupun kualitas) belum dapat
terlaksana sepenuhnya, maka petani pekebun sebagai pengelola, belum merasakan
adanya peningkatan pendapatan dan taraf hidup yang berarti.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan
pertanian secara umum dan pekebun secara khusus adalah melalui upaya peningkatan
produktivitas dan efisiensi. Terdapat tiga issues mendasar yang akan sangat
berpengaruh pada perkembangan sektor pertanian di Indonesia dalam era globalisasi,
yaitu: (1) Liberalisasi perdagangan dan investasi; (2) Revolusi/terobosan di bidang
transportasi, telekomunikasi dan turisme; dan (3) Orientasi pasar ke selera konsumen
(Deptan, 2001). Komoditas perkebunan di Indonesia tentunya juga akan mengalami
perubahan-perubahan mengikuti perubahan dunia tersebut. Komitmen Indonesia pada
perjanjian Putaran Uruguay dan ratifikasi dari perjanjian GATT/WTO, menyebabkan
perlu adanya perubahan cara melihat, cara berpikir, dan cara menganalisa suatu sistem
komoditas perkebunan. Sebelum sampai pada kajian atau melihat sub-sistem
pemasaran dan untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan menyeluruh dari
beberapa komoditas perkebunan, diperlukan untuk mengkaji sub-sistem produksi dan
melihat efisiensi produksi komoditas perkebunan yang bersangkutan. Komoditas
perkebunan yang ditelaah adalah kepas. Selama ini sering dikatakan bahwa komoditas
perkebunan kita kalah bersaing atau masih menempati posisi raw material saja dalam
pasar ekspor. Untuk meningkatkan daya saing dan mengalami proses “olahan”,
diperlukan pengetahuan dasar tentang produksi dari komoditas perkebunan yang
bersangkutan. Justifikasi memilih komoditas kapas adalah karena hampir seluruhnya
perkebunan ini dikelola dan dikuasai oleh rakyat (perkebunan rakyat). Selama ini
produksi perkebunan rakyat tersebut dapat dikatakan rendah dan stagnant. Indonesia
saat ini sedang menghadapi proses perubahan lingkungan strategis, baik yang
datangnya dari dalam negeri maupun yang datangnya dari luar negeri.
Dari dalam negeri, tantangan atau perubahan yang dihadapi adalah: (i) Jumlah
dan komposisi penduduk yang semakin bertambah dan berubah; (ii) Situasi politik
dan ekonomi yang berubah-ubah dan ketidakjelasan arah; dan (iii) pelaksanaan
otonomi daerah. Dari luar negeri, tantangan atau perubahan yang dihadapi adalah: (i)
Liberalisasi perdagangan dan investasi; (ii) revolusi di sektor transportasi,
telekomunikasi dan turisme; dan (iii) Orientasi pasar ke selera konsumen (Deptan,
2001). Perubahan-perubahan tersebut dipastikan akan memberikan pengaruh positif
pada pembangunan sektor pertanian selama kebijaksana-an dan program pertanian
mampu mengantisipasi dan memanfaatkan perubahan dan tantangan tersebut. Salah
satu simpul keberhasilan perumusan kebijaksanaan dan program pertanian yang
efektif dan terintegrasi memerlukan kesamaan cara pandang dan berpikir dalam
melihat efisiensi suatu sistem komoditas. Dari kesamaan cara pandang dan berpikir
dalam melihat efisiensi inilah dapat ditelusuri dan diformulasikan lebih lanjut faktor-
faktor apa saja yang dominan mempengaruhi subsistem produksi suatu komoditas
perkebunan dan efisiensi produksinya. Pada akhirnya apabila telah terlihat seluruh
gambaran menyeluruh dari suatu sistem komoditas perkebunan, maka dapatlah
dikatakan bahwa efisiensi berkaitan erat dengan peningkatan daya saing, produksi,
dan pendapatan petani. Indonesia, tidak seperti negara berkembang lainnya (Thailand,
Vietnam, Brazil, India, Uruguay) masih memiliki kelemahan dalam produksi dan
ekspor produk pertanian. Karena itu sulit untuk dapat bersaing dengan negara-negara
maju atau negara-negara berkembang yang sudah efisien. Indonesia, dibandingkan
dengan negara berkembang lainnya seperti Thailand, Malaysia, Vienam, India, Brazil,
dan Uruguay, masih jauh tertinggal tingkat efisiensinya baik pada sub sistem produksi
maupun pada sub sistem pemasaran. Dengan melakukan analisis efisiensi produksi
komoditas kapas dapat diketahui faktor-faktor dominan yang mempengaruhi produksi
sehingga dapat dirumuskan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk
meningkatkan efisiensi dan pada akhirnya ditujukan agar dapat meningkatkan daya
saing komoditas tersebut. Program pengembangan kapas dalam rangka memenuhi
kebutuhan dalam negeri untuk industri tekstil sudah dilakukan sejak tahun 1960,
namun dalam pelaksanaannya selalu dihadapkan pada berbagai kendala baik yang
menyangkut faktor teknis maupun non-teknis, seperti: kurang didukung pengkajian
agroklimat, kurang tersedianya benih bermutu, penyediaan agro input yang tidak
tepat, tingginya intensitas serangan hama serta kurang lancarnya penyediaan dana
untuk membiayai usahatani kapas dan di tingkat petani modal yang tersedia terbatas.
Di lain pihak, pada umumnya kegiatan pengembangan komoditas kapas diusahakan
pada lahan-lahan marjinal, karena lahan subur diprioritaskan untuk tanaman pangan.
Sehingga dengan kondisi yang demikian, kontribusi kapas dalam negeri terhadap
kebutuhan serat kapas bagi industri tekstil nasional masih relatif kecil yaitu hanya
sekitar satu persen. Sedangkan impor serat kapas kecenderungannya meningkat setiap
tahunnya sejalan dengan bertambah-nya jumlah perusahaan industri tekstil. Dengan
relatif kecilnya kontribusi kapas dalam negeri tersebut, maka program peningkatan
produksi kapas nasional telah dipacu melalui peningkatan produktivitas dan
pengembangan areal pertanaman dengan penerapan teknologi tepat guna serta
dukungan dana yang memadai. Dalam pelaksanaannya dibarengi pola kemitraan
usaha antara petani dan perusahaan pengelola.
Hingga saat ini, perdagangan kapas dunia masih sangat terdistorsi yang
ditandai oleh rendahnya harga dunia. Distorsi tersebut disebabkan oleh masih adanya
kebijakan subsidi ekspor kapas oleh NM, terutama Amerika Serikat. Subsidi ekspor
tersebut bukan menurun tetapi malahan meningkat. Rendahnya harga dunia tersebut
lebih lanjut menyebabkan daya saing kapas di NB, termasuk Indonesia, tetap atau
semakin rendah sehingga laju peningkatan produksi kapas di negara-negara ini
terhambat.
Dampak kenaikan harga kapas dunia sebagai akibat dihapusnya subsidi ekspor
di negara maju terhadap ekonomi kapas agregat Indonesia dapat diestimasi dengan
menggunakan pendekatan model keseimbangan parsial (partial equilibrium model)
sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 1. Karena Indonesia sebagai negara importir
neto, maka harga barang-barang normal di pasar dunia lebih murah daripada di pasar
dalam negeri. Namun harga yang berlaku di pasar dalam negeri menjadi sama dengan
harga yang berlaku di pasar internasional apabila ada impor yang dapat menutup
defisit produksi (yaitu selisih antara produksi dan konsumsi).
Perkembangan produksi kapas di Indonesia selama 1961 2004 dapat dibagi menjadi
empat segmen waktu, yaitu: 1961 1973 pertumbuhan stagnasi, 1974 1986
pertumbuhan sangat cepat, 1986 1987 produksi merosot drastis, dan selama 1987
2004 meningkat secara mantap dengan rata-rata 2,11% per tahun. Pada tahun 2004,
jumlah produksi mencapai 10.323 ton. Konsumsi kapas nasional meningkat sangat
cepat selama 1961 1996, kemudian sedikit menurun selama 1997 1998 (karena krisis
ekonomi), lalu meningkat cepat selama 1999 2001, tetapi kemudian menurun lagi
selama 2002 2004. Penurunan konsumsi selama tiga tahun terakhir mungkin terkait
dengan makin mahalnya harga impor (lihat uraian sebelumnya), dimana pasokan
kapas Indonesia sangat tergantung pada impor. Secara rata-rata, konsumsi kapas
nasional selama 1961 2004 meningkat 11,09% per tahun.
Produksi, konsumsi, ekspor, dan impor dunia cenderung meningkat, tetapi ada
perbedaan antara NM dan NB. Laju peningkatan produksi, impor, dan konsumsi NB
lebih cepat dibanding NM dan peranan NB makin besar, baik sebagai produsen,
konsumen, maupun importir. Sebaliknya, laju kenaikan ekspor NM lebih cepat
disbanding NB, sehingga pangsa NM lebih besar disbanding NB. AS masih tetap
eksportir terbesar dunia, Cina merupakan produsen sekaligus importir dan konsumen
terbesar di dunia, sedangkan Indonesia merupakan Negara importir terbesar kedua
dan konsumen terbesar ketujuh.