Anda di halaman 1dari 30

Kick Andy Kumpulan Kisah Inspiratif

IDENTITAS BUKU

Kick Andy Kumpulan Kisah Inspiratif IDENTITAS BUKU Judul : Kick Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif Diresensi oleh

Judul

: Kick Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif

Diresensi oleh Ifan Iqbal

SINOPSIS Buku ini bukan merupakan biografi seorang Andy F. Noya tentang perjalanan karirnya sebagai seorang wartawan. Juga bukan rahasia dapur Kick Andy, salah satu acara talk show di Metro TV di mana Andy F. Noya bertindak sebagai host-nya. Kisah di balik layar Kick Andy hanya diceritakan sedikit saja di bagian awal buku ini. Buku ini memang merupakan beberapa kisah yang pernah tampil di acara Kick Andy. Kick Andy pada awalnya diciptakan karena pimpinan Metro TV, Surya Paloh, ingin memaksimalkan kemampuan Andy Noya, yang mampu menggali informasi yang ‘disembunyikan’ narasumber meskipun suara yang dimilikinya biasa-biasa saja. Format acara yang dipilih adalah dengan menggabungkan acara talk show Oprah Wimfrey dan Larry King. Kick Andy mampu merebut hati pemirsa televisi di tengah-tengah banyaknya acara sejenis yang lebih menghibur. Kick Andy mungkin bisa dibilang ‘garing’ jika dibanding sama Dorce Show, Ceriwis atau Lepas Malam. Akan tetapi, Kick Andy menawarkan sesuatu yang berbeda. Andy Flores Noya bisa juga membuat penontonnya tertawa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi mampu membangkitkan emosi tamu Kick Andy. Kick Andy menampilkan tamu-tamu yang berbeda dari talk show lain yang kebanyakan mengundang selebritis. Kick Andy tak hanya mengundang para seleb, tokoh politik, tapi juga orang-orang ‘biasa’ yang mungkin tak pernah kita kenal sebelumnya, seperti Ibu Rabiah sang Suster Apung, dan Kiyati yang mencari ibu kandungnya setelah terpisah selama 30 tahun. Kick Andy juga mengundang tamu-tamu yang kontroversial, seperti Hercules – preman Tanah Abang, Xanana Gusmao atau Mayor Alfredo. Kisah-kisah lain dalam buku ini antara lain adalah tentang Anggun C. Sasmi yang memilih menjadi warga negara Perancis, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang menolak dicalonkan jadi gubernur, pasangan gay yang menikah, anak-anak yang berada dalam LP Anak Tangerang, dan masih banyak lagi.

KELEBIHAN

Buku ini dapat berguna sebagai dolumentasi kisah-kisah dalam acara Kick Andy.

KEKURANGAN

Buku ini kurang menarik untuk dibaca dibanding menonton acara Kick Andy di televisi.

Terdapat cerita yang ditulis berulang kali.

Bahasa yang digunakan biasa-biasa saja dan masih membutuhkan sentuhan sastra agar kisah yang diceritakan benar-benar dapat memberi inspiratif.

KEBERMANFAATAN

Buku ini menyajikan kisah-kisah yang pernah ditayangkan dalam acara Kick Andy. Kisah-kisah tersebut diceritakan kembali di dalam buku ini karena dianggap dapat memberikan inspirasi bagi pembacanya. Selain itu, latar belakang diciptakannya acara Kick Andy juga dipaparkan pada bab pertama buku ini.

La Tahzan ~ Jangan Bersedih

IDENTITAS BUKU

IDENTITAS BUKU Judul : La Tahzan ~ Jangan Bersedih Penulis : DR. Aidh al-Qarni Penerbit :

Judul : La Tahzan ~ Jangan Bersedih Penulis : DR. Aidh al-Qarni Penerbit : Qisthi Press Tahun terbitan : 2003 Dimensi : 15 x 24 cm Tebal : 572 halaman + xxviii Diresensi oleh Ifan Iqbal

SINOPSIS Buku La Tahzan merupakan salah satu buku self-help, buku petunjuk cara hidup, dan buku motivasi. Buku ini ditulis untuk siapa saja yang senantiasa merasa hidup dalam bayang-bayang kegelisahan, kesedihan dan kecemasan, atau orang yang selalu sulit tidur dikarenakan beban duka dan kegundahan yang semakin berat menerpa. Buku ini akan mengatakan kepada pembacanya, “Bergembiralah dan berbahagialah!” atau “Optimislah dan tenanglah!”. Bahkan, mungkin pula ia akan berkata, “Jalani hidup ini apa adanya dengan ketulusan dan keriangan!”. Buku ini berusaha meluruskan berbagai kesalahan yang terjadi akibat penyimpangan terhadap fitrah saat berinteraksi dengan sunah-sunah Allah, sesama manusia, benda, waktu dan tempat. Ada beberapa hal penting dari buku ini. Diantaranya adalah:

Pertama, buku ini ditulis untuk mendatangkan kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, kelapangan hati, membuka pintu optimisme dan mengingkirkan segala kesulitan demi meraih masa depan yang lebih indah. Buku ini merupakan pengetuk hati agar selalu ingat akan rahmat dan ampunan Allah, bertawakkal dan berbaik sangka kepada-Nya, mengimani qadha dan qadar-Nya, menjalani hidup sesuai apa adanya, melepaskan kegundahan tentang masa depan, dan mengingat nikmat Allah. Kedua, buku ini mencoba memberikan resep-resep bagaimana mengusir rasa duka, cemas, sedih, tertekan, dan putus asa. Ketiga, buku ini bersifat umum, alias untuk siapa saja. Singkatnya, untuk kaum muslim maupun nonmuslim. Pasalnya, pembicaraan dalam buku ini secara umum adalah berkaitan watak dan sifat naluriah dan persoalan-[ersoalan umum kejiawaan manusia. Namun begitu, buku ini tetap menempatkan Manhaj Rabbani sebagai penyuluh. Keempat, dalam buku ini pembaca tidak akan hanya menjumpai kutipan-kutipan pernyataan dari orang-orang Timur, tetapi juga dari orang Barat.

KELEBIHAN

Tulisan dikemas dengan gaya yang sangat variatif. Hal ini membuat buku La Tahzan lebih sedap dibaca dan tidak membosankan.

Bacaan memiliki banyak manfaat. Banyak sekali tulisan dan tips yang diramu menjadi tulisan yang begitu terasa khasiatnya saat dibaca.

Sumber-sumber bacaan sangat variatif.

Buku disertai penanda halaman sehingga akan memudahkan bagi pembaca dalam meneruskan bacaan yang belum terselesaikan.

KEKURANGAN

Tidak disertakan daftar pustaka.

Dimensi buku terlalu tebal sehingga kurang praktis untuk dibawa dalam perjalanan.

KEBERMANFAATAN

Sungguh, buku La Tahzan ini sangat bermanfaat. Buku ini dapat mengajak kita untuk tidak bersedih dan terus menjalani hidup sekaligus membuat hati kita tersentuh dengan beberapa syair yang menghiasinya. Selain itu, tips-tips untuk menjadi orang paling bahagia tersedia dalam buku ini dan siap untuk dipraktekkan. Buku La Tahzan juga menyajikan petunjuk-petunjuk yang tidak hanya bersifat duniawi saja tetapi juga bersifat

ukhrawi. Jadi, buku La Tahzan pantas dibaca bagi siapa saja yang ingin lepas dari kesedihan dunia dan akhirat.

Ketika Cinta Bertasbih 1

IDENTITAS BUKU

Ketika Cinta Bertasbih 1 IDENTITAS BUKU Judul : Ketika Cinta Bertasbih 1 Penulis : Habiburrahman El

Judul : Ketika Cinta Bertasbih 1 Penulis : Habiburrahman El Shirazy Penerbit : Republika-Basmalah Tahun terbitan : 2007 Dimensi : 20,5 cm x 13,5 cm Tebal : 477 halaman Diresensi oleh Ifan Iqbal

SINOPSIS Azzam adalah seorang pemuda sederhana yang memilih untuk menuntut ilmunya di Kampus Al Azhar, Cairo. Azzam dikenal sebagai sosok yang tegas dan dewasa. Dia sangat memegang teguh prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Di kalangan teman-temannya pun Azzam menjadi panutan dan sosok yang bisa diandalkan. Setelah bapaknya meninggal, sebagai anak tertua dalam keluarganya, dialah yang menanggung kehidupan keluarganya di Solo. Oleh karena itu, selain sebagai mahasiswa, dia juga bekerja keras sebagai pembuat tempe dan bakso untuk menghidupi ibu dan adik-adik perempuannya di Indonesia serta kehidupannya sendiri di Cairo. Bahkan Azzam, rela meninggalkankuliahnya untuk sementara dan lebih berfokus untuk mencari rezeki. Meski terkadang ada rasa iri melihat teman-teman satu angkatannya yang sudah terlebih dahulu lulus, bahkan ada yang hampir menyelesaikan S2-nya tapi Azzam segera sadar kalau dia tidak sama dengan teman-temannya yang lain. Azzam lebih dikenal sebagai tukang tempe di kalangan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Al Azhar. Azzam juga sering mendapatkan undangan dari duta besar Indonesia yang ada di Mesir untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pada acara-acara kebesaran. Jadi, selain terkenal di kalangan mahasiswa sebagai tukang tempe, Azzam juga terkenal di kalangan para duta besar. Saat bekerja itulah Azzam mengenal sosok Eliana. Eliana adalah sosok yang sempurna secara fisik. Putri duta besar, cantik, dan salah seorang lulusan Universitas di Jerman. Akan tetapi, prinsip-prinsi keislaman yang Azzam pegang teguh membuat Azzam mampu menepis perasaannya. Saat bekerja juga Azzam secara tidak sengaja bertemu dengan Anna Althafunnisa. Dialah perempuan yang memikat hatinya dan hendak ia lamar. Namun, status sosialnya membuat Azzam ditolak. Yang lebih mencengangkan Azzam adalah Anna justru menerima lamaran dair Furqan, sahabat Azzam sendiri yang memiliki status sosial lebih tinggi daripada Azzam. Azzam akhirnya mampu melanjutkan kuliahnya setelah adiknya menyelesaikan pendidikan. Setelah dia lulus dari Al Azhar dengan nilai yang cukup memuaskan, akhirnya setelah 9 tahun terpisah dengan keluarganya tanpa pernah pulah, dia pun pulang dan kembali ke tengah-tengah keluarga tercintanya.

KELEBIHAN

Novel ini menghadirkan kisah percintaan bukan sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan kecintaan terhadap Allah.

Merupakan salah satu novel pembangun jiwa yang penuh akan makna.

Gaya bahasa yang ringan dan alur cerita yang mudah dimengerti membuat pembaca seakan dapat melihat apa yang ingin diperlihatkan penulis novel.

Sarat akan pengetahuan.

KEKURANGAN

Untuk novel dengan pengarang yang sama dan konsep yang sama pula, latar yang dipilih kurang variatif.

KEBERMANFAATAN

Novel percintaan yang satu ini pantas di baca oleh siapa saja. Sesuai dengan konsepnya, yaitu novel pembangun jiwa, novel ini dapat memberikan semangat pada jiwa untuk lebih bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT. selain itu, novel ini penuh dengan ilmu pengetahuan yang akan memperluas wawasan kita terhadap dunia.

Tersuruk Dalam Lumpur Cinta

IDENTITAS BUKU

Tersuruk Dalam Lumpur Cinta IDENTITAS BUKU Judul : Tersuruk Dalam Lumpur Cinta Penulis : Mira W.

Judul : Tersuruk Dalam Lumpur Cinta Penulis : Mira W. Penerbit : PT Gramedia Jakarta Tahun terbitan : 1988 Dimensi : 11 x 18 cm Tebal : 235 halaman Diresensi oleh Ifan Iqbal

SINOPSIS Ananta adalah perempuan yang anggun dan menawan. Sebagai dokter yang baru saja memulai prakteknya di salah satu daerah terpencil, dia memiliki pasien dan rekan kerja yang menyayanginya. Namun, tidak banyak yang tahu lebih jauh tentang siapa Ananta sebenarnya. Dia sengaja menjauhi semua lelaki yang mendekatinya. Termasuk rekan kerjanya sendiri dia tolak mentah-mentah. Akan tetapi, ada seorang lelaki yang mampu memikat hati Ananta. Suaranya yang begitu khas dan sikapnya yang spesial menurutnya telah meluluhkan hati Ananta yang sempat membeku. Lelaki itulah yang membuat Ananta berani beranjak dari masa lalunya yang kelam. Lelaki itu adalah Permadi. Pada awalnya, kehidupan keluarga Ananta dan Permadi dijalani dengan penuh kebahagiaan. Namun, setelah dua bulan menikah, masalah-masalah kecil mulai bermunculan. Kepercayan diri Permadi luntur lantaran dibayangi oleh kesuksesan istrinya. Hal ini membuat Permadi sering bertindak semena-mena di rumah. Masalah rumah tangga Ananta itu semakin parah. Permadi lah yang membuat semuanya menjadi lebih buruk. Sebagai pelampiasan hasratnya, Danila menjadi korban. Gadis SMA yang menaruh perhatian pada Permadi itu harus mengandung anak Permadi di luar nikah. Dan cukup sudah alasan bagi Ananta untuk meninggalkan Permadi. Prahara rumah tangga itu membuka kembali masa lalunya yang suram. Masa dimana Ananta harus tersuruk dalam lumpur cinta. Sampai saat ini dia harus menyimpan erat rahasia dari masa lalunya itu. Rahasia bahwa adik perempuan yang diakuinya saat ini, Nita, adalah anaknya sendiri, anak hasil perbuatan dosanya dengan Salman. Permasalahan mencapai puncaknya saat Salman kembali hadir dalam kehidupannya. Kehadirannya justru memikat Nita. Hubungan mereka tentu saja membuat Ananta mengambil tindakan. Ananta meminta Salman untuk tidak mendekati Nita lagi dan Salman mengerti akan itu. Namun, tidak bagi Nita. Nita justru menuduh kakaknya (atau ibu kandungnya) berusaha merebut Salman darinya. Mata hati Nita telah tertutup dari cahaya kebenaran. Kehidupannya menjadi tidak keruan. Dan saat dendam menyelimuti hatinya, dia berniat membunuh Permadi. Namun, pisau yang dibawanya justru tertanam di perutnya sendiri. Nita sekarat di rumah sakit. Dokter telah berusaha menyelamatkan nyawanya. Namun, Tuhan berkata lain. Nita menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan ibu kandungnya, Ananta. Dia meninggal sebelum Ananta sempat memberitahukan fakta sesungguhnya.

KELEBIHAN

Alur cerita unik dan sulit untuk ditebak

Konflik yang dipilih unik dan menarik.

KEKURANGAN

Terdapat beberapa istilah yang sulit dimengerti dan tidak dilengkapi dengan catatan kaki.

Terdapat percakapan antara tokoh yang kurang jelas siapa pelakunya.

KEBERMANFAATAN

Novel ini memberi pelajaran bagi pembacanya tentang kisah percintaan yang tidak seharusnya terjadi. Meskipun tersirat, pesan yang disampaikan cukup jelas dan akan bermanfaat bagi pembacanya. Namun, novel ini sangat minim dengan nilai-nilai religi yang sangat dibutuhkan guna menyejukkan hati.

Harry Potter dan Kamar Rahasia

IDENTITAS BUKU

Judul : Harry Potter dan Kamar Rahasia Penulis : J.K. Rowling Diresensi oleh Ifan Iqbal

SINOPSIS Harry Potter sudah tidak sabar lagi kembali bersekolah di Hogwarts. Dia sudah tidak tahan lagi melewati liburan musim panas bersama keluarga Dursley yang menyebalkan. Akan tetapi, tiba- tiba muncul makhluk aneh bernama Dobby. Dobby adalah sejenis peri rumah yang menghamba pada suatu tuan rumah. Dobby melarang Harry Potter untuk kembali ke Hogwarts. Dia beralasan bahwa akan terjadi malapetaka yang dapat mengancam keselamatan Harry Potter di Hogwarts. Namun himbauan Dobby, tidak dihiraukan oleh Harry. Harry pun tetap kembali ke Sekolah Sihir Hogwarts itu. Tanpa diduga oleh Harry, muncul beberapa keanehan-keanehan sebelum malapetaka itu benar- benar terjadi. Gerbang peron ¾ tidak bisa dilewatinya. Dia terpaksa pergi ke Hogwarts mengendarai mobil terbang bersama Ronald Weasley. Keanehan-keanehan yang lain terjadi sampai pada akhirnya malapetaka itu datang. Ada seseorang yang mengubah siswa-siswa menjadi batu. Dari kejadian pertama yang terjadi, terungkaplah bahwa sang pewaris keturunan Salazar Slytherin telah kembali ke Hogwarts. Dia telah kembali dan membuka pintu Kamar Rahasia yang keberadaannya tidak diketahui seorang pun. Siapakah dia? Harry dan kawan-kawannya curiga bahwa pelaku perbuatan itu adalah Draco Malfoy. Bagaimana tidak? Dia menganggap dirinya sendiri sebagai seorang yang paling pantas belajar sihir lantaran dia berdarah murni. Meskipun demikian, kecurigaan tentang siapa pelakunya juga mengarah ke Harry sendiri karena diketahui bahwa Harry adalah seorang parselmouth, orang yang bisa berbicara dengan bahasa ular. Setelah melakukan pencarian informasi, dengan bantuan hantu toilet wanita, Myrtle Merana, Harry menemukan letak Kamar Rahasia yang tak lain berada di toilet tempat Myrtle Merana sering berada. Harry menemukan monster ular bernama Bacilis berada di dalamnya. Harry juga bertemu dengan jelmaan Lord Voldemort yang hadir dengan holkruknya. Di tempat itu, terjadi pertempuran antara Harry dengan Bacilis. Dengan bantuan pedang Godric Gryfindor, Harry dapat mengalahkan monster itu. Harry yang sempat terluka karena gigitan beracun Bacilis dapat diselamatkan dengan tetesan air mata Burung Phoenix yang membawakan ped

ang Gryfindor untuknya. Sedangkan jelmaan Lord Voldemort, Tom Malfolo Riddle, hancur bersama holkruknya, Harry Potter selamat dan dapat kembali bersekolah tanpa dihantui rasa takut akan Kamar Rahasia itu.

KELEBIHAN

Alur ceritanya menarik dan mendebar-debarkan hati pembacanya.

Bahasa yang digunakan mudah dimengerti dan terdapat istilah-istilah yang menarik.

Latar yang dipilih lain daripada karya yang sejenis.

Penuh dengan fantasi-fantasi yang sangat menghibur pada para pembaca.

KEKURANGAN

Terlalu banyak tokoh yang dihadirkan sehingga terkadang membuat pembaca bingung.

Kover yang dipilih kurang menarik.

KEBERMANFAATAN

Novel ini pantas dibaca oleh siapa saja. Kisah-kisah di dalamnya dapat melatih daya imajinasi kita dan mampu membawa kita ke dunia sihir khayalan yang penuh dengan keajaiban-keajaiban. Selain itu, terdapat berbagai pesan di dalamnya yang penuh dengan nilai-nilai persahabatan, keberanian, dan perjuangan tanpa mengenal putus asa.

IDENTITAS BUKU

<a href=Resensi Novel Harry Potter dan Batu Bertuah (Harry Potter and The Sorcerer Stone) IDENTITAS BUKU Judul buku : Harry Potter dan Batu Bertuah (Harry Potter and The Sorcerer Stone) Pengarang : J.K. Rowling Penerjemah : Listiani Srisani Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit : 2000 Tebal : 384 halaman Diresensi oleh Ruthadaning Inayati SINOPSIS “Anak yang Bertahan Hidup” Harry berhasil selamat dari pembunuhan yang akan dilakukan musuh orang tuanya, Lord Voldemort. Padahal umurnya baru 1 tahun. Harry tinggal di rumah paman dan bibinya di Privet Drive no. 13 selama 11 tahun. Namun slama itu Harry belum pernah diperlakukan layak oleh paman dan bibinya. Mereka punya anak bernama Dudley-yang super duper besar-Dudley pun sama seperti kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, kejadian ajaib mendatanginya. Seorang manusia setengah raksasa tiba- tiba mendatanginya dan mengatakan bahwa Harry seorang penyihir. Sontak saja paman dan bibinya kaget bukan main. Bagaimana mungkin rahasia yang mereka jaga selama 11 tahun terungkap begitu saja kalau Harry Potter adalah seorang penyihir. Singkatnya, Harry dibawa dan diperkenalkan dengan sebuah sekolah sihir bernama Hogwarts dan segala komunitas sihir yang selama ini bersembunyi. Dari sini petualangan Harry Potter “Anak yang Bertahan Hidup” dimulai Di tahun pertamanya di Hogwarts, Harry telah banyak dikenal. Ia juga selain berbakat sihir, juga bakat mengendarai sapu terbang sehingga ia dipilih menjadi seorang seeker di sebuah olahraga bernama Quidditch. Selain itu Harry punya 2 orang sahabat, Ronald Weasley dan Hermione Granger. Ron seorang yg konyol dan lucu. Sedangkan Hermione memiliki kecerdasan yang luar biasa. Merekalah yang membantu Harry Potter dalam petualangannya. Harry di akhir tahun ajaran pertamanya, berhasil tahu bahwa ada seseorang yang ingin mencuri “SORCERER STONE”, batu bertuah, yang disembunyikan di Hogwarts. Air yang dihasilkan batu itu bisa membuat peminumnya berumur panjang. Itulah yang diincar Voldemort, musuh yang telah membunuh kedua orang tua Harry. Namun, Harry, Ron dan Hermione bisa menggagal rencananya. Harry nyaris saja kehilangan jiwanya ketika tiba-tiba bekas lukanya begitu sakit saat berhadapan dengan Voldemort yang merasuki tubuh Quirrel. Harry nyaris tak tertolong jika saja Dumbledore, kepala sekolahnya, tidak datang disaat yang tepat. KELEBIHAN ∑ Alur cerita menarik dan berurutan ∑ Bahasa yang digunakan sederhana dan lugas sehingga pembaca tidak akan merasa bosan ∑ Penokohan yang unik, tokoh antagonis dan protagonis digambarkan dengan baik dan jelas " id="pdf-obj-8-10" src="pdf-obj-8-10.jpg">

Judul buku : Harry Potter dan Batu Bertuah (Harry Potter and The

Sorcerer Stone) Pengarang : J.K. Rowling Penerjemah : Listiani Srisani

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit : 2000 Tebal : 384 halaman Diresensi oleh Ruthadaning Inayati SINOPSIS

“Anak yang Bertahan Hidup”

Harry berhasil selamat dari pembunuhan yang akan dilakukan musuh orang tuanya, Lord Voldemort. Padahal umurnya baru 1 tahun.

Harry tinggal di rumah paman dan bibinya di Privet Drive no. 13 selama 11 tahun. Namun slama itu Harry belum pernah diperlakukan layak oleh paman dan bibinya. Mereka punya anak bernama Dudley-yang super duper besar-Dudley pun sama seperti kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, kejadian ajaib mendatanginya. Seorang manusia setengah raksasa tiba- tiba mendatanginya dan mengatakan bahwa Harry seorang penyihir. Sontak saja paman dan bibinya kaget bukan main. Bagaimana mungkin rahasia yang mereka jaga selama 11 tahun terungkap begitu saja kalau Harry Potter adalah seorang penyihir. Singkatnya, Harry dibawa dan diperkenalkan dengan sebuah sekolah sihir bernama Hogwarts dan segala komunitas sihir yang selama ini bersembunyi. Dari sini petualangan Harry Potter “Anak yang Bertahan Hidup” dimulai Di tahun pertamanya di Hogwarts, Harry telah banyak dikenal. Ia juga selain berbakat sihir, juga bakat mengendarai sapu terbang sehingga ia dipilih menjadi seorang seeker di sebuah olahraga bernama Quidditch. Selain itu Harry punya 2 orang sahabat, Ronald Weasley dan Hermione Granger. Ron seorang yg konyol dan lucu. Sedangkan Hermione memiliki kecerdasan yang luar biasa. Merekalah yang membantu Harry Potter dalam petualangannya. Harry di akhir tahun ajaran pertamanya, berhasil tahu bahwa ada seseorang yang ingin mencuri “SORCERER STONE”, batu bertuah, yang disembunyikan di Hogwarts. Air yang dihasilkan batu itu bisa membuat peminumnya berumur panjang. Itulah yang diincar Voldemort, musuh yang telah membunuh kedua orang tua Harry. Namun, Harry, Ron dan Hermione bisa menggagal rencananya. Harry nyaris saja kehilangan jiwanya ketika tiba-tiba bekas lukanya begitu sakit saat berhadapan dengan Voldemort yang merasuki tubuh Quirrel. Harry nyaris tak tertolong jika saja Dumbledore, kepala sekolahnya, tidak datang disaat yang tepat.

KELEBIHAN

Alur cerita menarik dan berurutan

Bahasa yang digunakan sederhana dan lugas sehingga pembaca tidak akan merasa bosan

Penokohan yang unik, tokoh antagonis dan protagonis digambarkan dengan baik dan jelas

Klimaks dan antiklimaks yang bagus membuat pembaca merasa puas dengan akhir cerita.

Konflik-konflik cerita yang disajikan mampu membuat pembaca penasaran.

Diselingi dengan humor-humor dan kejadian-kejadian lucu membuat pembaca tidak mudah bosan dengan alur cerita.

KEKURANGAN

Desain kover yang kurang menarik dan bahan kertas kurang bagus.

Terlalu banyak tokoh-tokoh sampingan yang muncul membuat pembaca sulit mengingat nama tokoh tersebut.

KEBERMANFAATAN

Bacaan yang menarik bagi pembaca yang menyukai cerita misteri dan imajinasi.

Memberi amanat agar tidak mudah berburuk sangka pada orang lain.

Menggambarkan tentang persahabatan manis yang terjalin antara Harry Potter, Ronald Weasley dan Hermione Granger sehingga pembaca diharapkan mampu mencontoh sifat mereka.

Kumpulan Cerita Rakyat Riau

Kumpulan Cerita Rakyat Riau Kumpulan Cerita Rakyat Riau Daryatun dkk. BKPBM dan Adicita, Yogyakarta Pertama, 2007

Judul Buku

:

Kumpulan Cerita Rakyat Riau

Penulis

:

Daryatun dkk.

Penerbit

:

BKPBM dan Adicita, Yogyakarta

Cetakan

:

Pertama, 2007

Tebal

:

102 halaman

Bumi Nusantara sangat kaya akan cerita rakyat baik yang terdokumentasi maupun yang diwariskan secara lisan dan turun temurun. Cerita rakyat Nusantara sarat dengan kisah-kisah keteladanan. Oleh sebagian besar masyarakat, cerita-cerita rakyat tersebut menjadi acuan atau pedoman dalam aspek bertingkah laku.

Sayangnya, peradaban modern telah meminggirkan warisan kebudayaan yang satu ini. Padahal, di balik setiap cerita rakyat, dapat ditemukan pesan-pesan yang tersembunyi, baik dimensi kepahlawanan, budi pekerti, keteladanan, pelajaran moral, ataupun hukum sebab akibat. Di Padang misalnya, cerita rakyat Malin Kundang menjadi petuah yang penting agar seseorang dapat menjaga dirinya dengan baik, tidak sombong, serta berbakti kepada orang tua. Di Jawa, cerita rakyat Joko Tingkir memberi pesan kepada kita agar teguh dalam memegang janji. Demikian halnya dengan cerita rakyat Melayu yang sengaja dikumpulkan dalam satu rangkaian buku ini.

Penerbitan buku Kumpulan Cerita Rakyat Riau yang dilakukan oleh Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Riau, bekerjasama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), memiliki tujuan yang mulia, salah satu di antaranya ialah memperkenalkan cerita rakyat sebagai warisan budaya serta mendidik moral anak bangsa melalui kisah-kisah keteladanan dan petuah-petuah kehidupan yang termuat di dalamnya.

Cerita rakyat sesungguhnya dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan akhlak. Mahyudin Al Mudra, selaku pimpinan BKPBM yang juga salah satu penulis dalam buku ini mengungkapkan, tujuan penulisan dan penerbitan buku Kumpulan Cerita Rakyat Riau ialah untuk memperkenalkan beragam cerita rakyat yang ada di daerah Riau kepada pewaris kebudayaan Melayu, khususnya anak-anak dan juga masyarakat umum. Selain itu, diterbitkannya buku ini sekaligus juga untuk memperkaya khazanah budaya Nusantara yang pada gilirannya perlu terus menerus dilestarikan.

Cerita rakyat

yang dihimpun di

dalam buku

ini

seluruhnya berasal dari daerah Riau dan tersaji

sebanyak 24 kisah. Tema-temanya beragam, mulai dari tema yang memuat pesan tentang

keteladanan moral, seperti dalam

kisah “Si

Lancang”, “Legenda Batang Tuaka”, serta

“Batu

Batangkup”. Ada juga tema yang berkisah tentang pentingnya tindakan memegang janji, sebagaimana cerita “Mahligai Keloyang”, “Dang Gedunai”, maupun “Legenda Ikan Patin” dan sebagainya.

Kemudian terdapat pula tema kepahlawanan, kesetiaan dan loyalitas, sebagaimana dikisahkan dalam “Hang Tuah Kesatria Melayu”, “Pangeran Suta dan Raja Bayang”, hingga tema asal usul suatu daerah di Riau, yang dikisahkan dalam cerita “Puteri Kaca Mayang” yang menceritakan asal usul Kota

Pekanbaru serta kisah “Puteri Tujuh” yang menceritakan asal usul Kota Dumai. Tak ketinggalan, tema asal usul keturunan atau nenek moyang juga diceritakan dalam kisah “Puteri Pinang Masak” yang merupakan nenek moyang suku Kubu dan Talang Mamak di Jambi, dan cerita “Puteri Pandan Berduri” sebagai nenek moyang masyarakat di Teluk Bintan.

Setiap tema sebagaimana disebutkan tadi memiliki maksud dan tujuan tersendiri. Tema-tema moral seperti yang terkandung dalam cerita “Si Lancang”, mengisahkan tentang sosok si Lancang yang pergi merantau untuk mengubah hidupnya, meskipun ia harus meninggalkan emaknya yang sudah tua. Kala dirinya telah menjadi orang kaya, ia malu memiliki emak yang tua dan miskin sehingga rasa malu itu menguasai dirinya dan ia tak mau mengakui emak sebagai ibu kandungnya (hlm. 11). Rupanya, nama si Lancang sengaja dipakai sebagai simbol untuk mengingatkan kita agar tidak berperilaku “lancang” (tidak sopan) terhadap orang tua yang sudah semestinya dihormati. Kisah serupa diceritakan dengan judul dan versi yang sedikit berbeda, yaitu “Legenda Batang Tuaka” yang mengguratkan pesan moral penting, di antaranya agar seorang anak harus berbakti kepada kedua orang tuanya.

Tema kepahlawanan dan kesetiaan memberi pesan bahwa sebagai pribadi, kita harus menegakkan kebenaran dan menjaga marwah negeri. Di dalamnya terdapat juga pesan moral bahwa setiap perilaku mengandung unsur sebab akibat. Singkatnya, orang baik akan mendapat hadiah dan orang berperilaku buruk akan mendapat balasan yang setimpal.

Tema yang lain, yaitu cerita legenda. Cerita ini sebenarnya bertujuan memperkenalkan kepada masyarakat Melayu perihal pentingnya mengetahui asal-usul suatu daerah maupun asal usul nenek moyang mereka, sehingga diharapkan generasi pewaris kebudayaan Melayu dapat mengetahui paling tidak asal-usul daerahnya dan nenek moyang mereka dengan baik. Di antara beragam cerita rakyat tersebut, terdapat kisah yang dipercayai oleh sebagian masyarakat Melayu sebagai fakta. Salah satunya ialah kisah “Legenda Ikan Patin” yang hingga saat ini masih diyakini oleh sebagian besar rakyat Melayu sebagai sebuah kebenaran. Itulah sebabnya, sebagian masyarakat Melayu tidak memakan ikan patin yang mereka yakini sebagai nenek moyang mereka (hlm. 43). Di Brunei misalnya, terdapat sekelompok masyarakat Melayu yang mengaku keturunan Ikan Patin. Uniknya, hampir semua orang yang mengaku keturunan Ikan Patin di Brunei memiliki ciri yang sama, yaitu terdapat luka di bibir layaknya bekas kail pancing.

Cerita rakyat Nusantara pada hakekatnya saling berkorelasi dari satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Masing-masing daerah memiliki kisah dengan alur cerita yang sama, namun dengan versi dan tokoh yang terikat dengan kebudayaan mereka. Kisah “si Lancang” dan “Legenda Batang Tuaka” misalnya, mengingatkan kita pada cerita Malin Kundang dari Padang. Demikan juga cerita “Mahligai Keloyang” yang serupa dengan cerita Joko Tingkir dari Jawa. “Legenda Ikan Patin” di Riau pun ternyata juga serupa dengan cerita rakyat di Brunei. Hal ini menyiratkan bahwa sesungguhnya cerita rakyat Melayu tidak jauh berbeda dengan cerita rakyat dari berbagai pelosok Nusantara dan juga dari negeri seberang yang memiliki rumpun kebudayaan yang sama, yaitu kebudayaan Melayu. Dalam konteks inilah, kita dapat memahami bahwa cerita-cerita rakyat ini sebenarnya berasal dari satu kisah yang kemudian disebarluaskan oleh nenek moyang kita dahulu, seiring dengan tradisi merantau dan perdagangan lintas daerah di zaman mereka.

Hadirnya buku ini merupakan upaya melestarikan khazanah cerita rakyat Melayu yang mulai luntur ditelan jaman. Penerbit buku ini rupanya sadar untuk mengemas buku Kumpulan Cerita Rakyat Riau ini dengan sangat cantik, sehingga diharapkan dapat mempengaruhi minat baca di kalangan anak- anak. Tekstur lembarannya yang ekslusif dan berwarna, dilengkapi dengan gambar di setiap halamannya, membuat buku ini sangat mengesankan. Membaca buku ini, terutama bagi anak-anak diharapkan dapat menikmati setiap jengkal kalimat yang rancak dan mudah dicerna. Di balik semua itu, terselip pesan-pesan yang sengaja dihadirkan, yaitu nilai-nilai luhur bangsa, keteladanan, kejujuran, kesetiakawanan, dan beragam kebaikan lainnya yang sangat khas dalam cerita-cerita rakyat yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak.

Akhir kata, fungsi dari cerita-cerita rakyat Melayu ini bertujuan untuk mendidik akhlak generasi bangsa melalui media cerita rakyat. Banyak pesan moral yang dilandaskan atas nilai-nilai yang islami, sebagaimana sumpah tiga bersaudara dalam kisah “Penghulu Tiga Lorong”:

Tiada boleh akal buruk, budi merangkak Menggunting dalam lipatan Memakan darah di dalam Makan sumpah 1000 siang 1000 malam Ke atas dak bapucuk Ke bawah dak baurat Dikutuk kitab Al-Qur‘an 30 juz.

Oleh : Nanum Sofia (Mahasiswi S2 Psikologi UGM)

Becerite dan Bedande: Tradisi Kesastraan Melayu Sambas

Judul Buku

Penulis

Editor

Penerbit

Cetakan

Tebal

Ukuran

Becerite dan Bedande: Tradisi Kesastraan Melayu Sambas Judul Buku Penulis Editor Penerbit Cetakan Tebal Ukuran :

: Becerite dan Bedande: Tradisi Kesastraan Melayu Sambas : Chairil Effendy : AR Muzammil : STAIN Pontianak Press, Pontianak : Pertama, September 2006 : xiv + 160 halaman

: 15 x 20,8 cm

Tradisi kebudayaan orang Sambas di Kalimantan Barat, khususnya sastra lisan, belum banyak dikenal orang. Padahal, tradisi sastra lisan Sambas tidak kalah dari tradisi daerah Melayu lainnya, misalnya Riau atau Aceh. Kurang dikenalnya sastra Sambas itu tidak lepas dari kurangnya perhatian masyarakat Sambas sendiri terhadap budaya bercerita dari nenek moyang mereka. Cerita sehari-hari itu masih dianggap sebagai cerita biasa dan tidak alihgenerasikan.

Salah satu sastra lisan yang masih diingat hingga kini, khususnya di kalangan orang- orangtua di pedalaman Sambas, adalah tradisi sastra lisan yang biasa disebut dengan istilah becerite dan bedande. Keduanya berisi tentang ajaran, doa, mantra, dan petuah leluhur. Berkat ketekunan dan kerja keras Chairil Effendy, pengetahuan tentang kebudayaan Sambas dalam becerite dan bedande kini dapat dibaca lagi. Sebagai putra asli Sambas, Chairil tergerak untuk melestarikan tradisi becerite dan bedande dengan meneliti lalu menulisnya dalam sebuah buku.

Buku berjudul “Becerite dan bedande: Tradisi Kesastraan Melayu Sambas” ini merupakan hasil kumpulan tulisan Chairil yang memang sejak menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra dan Budaya UGM fokus meneliti tentang tradisi sastra lisan, khususnya pada masyarakat Melayu Sambas. Secara komunikatif, buku ini umumnya ditulis dari sisi pelaku becerite dan bedande sendiri. Hal ini tentu saja menarik karena pembaca dapat melihat pendapat pelaku becerite dan bedande tentang apa saja yang mereka lakukan.

Buku ini dibagi dalam IV bab. Pada Bab I, penulis mengkaji sastra lisan sebagai seni pertunjukan dan konsep kebudayaan (h. 1-13). Bab II membincangkan tentang berbagai bentuk aktivitas kesastraan (h. 15-25). Bab III mengulas tentang asal-usul, jenis, proses kemunculan, dan contoh teks becerite dan bedande yang lazim dilantunkan oleh orang- Melayu Sambas (h. 29-81). Bab IV merupakan menyimpulkan tradisi becerite dan bedande (h. 91).

Pada akhir buku, penulis melampirkan beberapa teks sastra lisan Sambas seperti, Si Miskin dan Firman Tuhan, Si Miskin dengan Anaknya, atau Raja Alam (h.101-121). Teks-teks ini dilampirkan dengan tujuan agar pembaca dapat membaca dan menganalisisnya sendiri. Bagi Anda pecinta kajian sastra Melayu, buku ini menjadi bahan yang cukup menarik untuk diteliti.

Becerite dan bedande dalam konsep orang Melayu Sambas mencerminkan pandangan tentang tradisi lisan yang serupa tapi tak sama. Becerite artinya bercerita dengan apa adanya. Sementara bedande adalah bercerita sambil didendangkan. Istilah bedande bisa jadi menurunkan kata “berdendang” dalam bahasa Melayu. Dalam “pendendangan” (baca:

dilagukan) ini, bisa dilakukan sendiri (bedande tunggal murni) dan bisa juga dilakukan dengan iringan musik atau tari (h.45-50). Dua jenis tradisi lisan ini merupakan wujud kreativitas budaya orang Melayu Sambas pada gaya bercerita yang unik dan tidak menjenuhkan.

Pelantun becerita disebut pencerite, sedangkan pendendang bedande disebut pedande. Istilah pedande ini mengingatkan pada pemimpin upacara umat Hindu yang juga disebut bedande. Seorang pedande oleh orang Sambas juga didudukkan dalam posisi sakral. Bagi mereka, cerita adalah sekaligus doa dan tidak sedikit dari apa yang diceritakan menjadi kenyataan.

Kemiripan ini bisa jadi dapat dirunut dari isi dari teks bedande yang umumnya juga berupa mantra-mantra dan doa. Kemiripan ini juga bisa disebabkan oleh heterogenitas orang Melayu Sambas yang berasal dari beragam suku, budaya, dan agama atau kepercayaan, termasuk Hindu dan Buddha. Kemiripan kata dan istilah ini menjadi bukti bahwa keberagaman telah ada di masyarakat Sambas sejak lama. Mereka telah lama hidup dengan perbedaan dan mereka menikmati itu hingga kini. Saat zaman modern di mana kepentingan hidup manusia juga berkembang, keragaman budaya juga tercermin dalam tema-tema becerite dan bedande. Dengan adanya benang merah ini, buku ini semakin menarik untuk dibaca.

(Yusuf Efendi/Res/78/08-2011)

Anak-anak Kapal

Anak-anak Kapal Anak-anak Kapal Lukas Atakasi Mitra Gama Widya, Yogyakarta Juni, 2001 x + 117 halaman

Judul Buku

:

Anak-anak Kapal

Penulis

:

Lukas Atakasi

Penerbit

:

Mitra Gama Widya, Yogyakarta

Cetakan

:

Juni, 2001

Tebal

:

x + 117 halaman

Ukuran

:

14,3 x 20,1 cm

Saat tali persaudaraan di masyarakat kian pupus, maka pertikaian, pertengkaran, dan konflik antargolongan akan terjadi. Negeri ini pernah mengalami itu semua. Pada kurun 1900-2005, konflik antarsuku atau antarkelompok jamak terjadi. Sebagian orang menduga itu permainan penguasa di pusat. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa hal itu terjadi karena ulah orang-orang tertentu yang bermain di air keruh. Bagi kaum pendidik, konflik tentunya akan berpengaruh pada siswa sebagai generasi penerus bangsa.

Buku kecil di hadapan Anda ini adalah sebuah naskah fiksi bacaan untuk anak-anak SD, SMP, atau SMU buah dari keprihatinan penulis, Lukas Atakasi, atas pudarnya tali persaudaraan. Hal itu benar- benar dirasakannya karena sering melihat berita di televisi dan surat kabar yang dipenuhi oleh konflik antarsuku dan kelompok masyarakat. Penulis yang seorang pendidik, merasa wajib mengajarkan kepada murid-muridnya akan pentingnya menghormati perbedaan dan menghargai keberagaman.

Bagi Anda para pendidik, penting kiranya membaca buku ini. Anda dapat secara langsung membacakannya di depan kelas, atau dapat pula dengan metode permainan kelompok untuk mempraktekkan langsung perbedaan, lalu meminta para siswa untuk menghormati perbedaan yang ada di antara mereka. Kualitas buku ini cukup teruji karena pernah memenangkan sayembara penulisan naskah bacaan tahun 2000/2001 yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Penulis sendiri memiliki karya yang cukup banyak, seperti buku Rintihan di Atas Batu Karang (1995), Tekad Pak Wangge (1996), Pulau Sangia Penuh Misteri (1997), dan Anak Lembah Elang (1998).

Buku berjudul Anak-anak Kapal ini mengisahkan tentang persahabatan dua anak, La Mada dan Alex, yang berasal dari keluarga yang berbeda suku dan agama. Akan tetapi, keduanya bersahabat di tengah konflik agama dan suku yang terjadi di masyarakat. Keduanya tidak terpengaruh dengan

konflik karena menurut mereka perbedaan tidak harus menjadi sebab perpecahan. Keduanya tetap bertahan hidup bersama walau tantangan menghadang (h. 39).

Dalam buku ini, Anda akan membaca petulangan keduanya dalam menghadapi masalah yang ada. Saat keduanya tertimpa malapetaka, lalu terpisah jauh dengan keluarga karena warga panik, berpetualang hingga akhirnya kembali bertemu dengan orangtua dan masyarakat desanya. Kisah kedua bocah ini ditulis dengan begitu dramatis namun tetap alami. Penulis sepertinya sudah begitu ahli dalam menjalin cerita agar tidak terkesan berlebihan.

Menjaga Keanekaragaman

Pesan pokok dalam buku ini adalah pentingnya menjaga keanekaragaman, baik suku, agama, budaya, adat istiadat di masyarakat. Sikap menjaga keanekaragaman ini akan terwujud masyarakat memahami bahwa perbedaan seharusnya bisa memunculkan sikap saling menghormati. Apa yang dihadirkan dalam kisah La Mada dan Alex adalah sebuah gambaran bagaimana negeri ini rentan akan konflik sosial, karena terdiri dari beragam suku bangsa dan agama.

Pancasila sebagai dasar negara dengan slogannya Bhineka Tunggal Ika sebenarnya sudah mengingatkan akan masalah perbedaan ini. Namun, sepertinya terus menguap seiring dengan perkembangan zaman. Dalam konteks masa kini, buku ini rasanya masih cukup relevan untuk dikaji karena semakin banyak generasi muda kita yang melupakan Pancasila. Untuk itu, marilah kita belajar dari kisah La Mada dan Alex ini. Selamat membaca.

(Yusuf Efendi/Res/73/06-2011)

Asal-usul Negeri-negeri di Malaysia

Asal-usul Negeri-negeri di Malaysia Judul Buku : Asal-usul Negeri-negeri di Malaysia Penulis : Zakiah Hanum Editor

Judul Buku

: Asal-usul Negeri-negeri di Malaysia

Penulis

: Zakiah Hanum

Editor

: Norman Suratman

Penerbit

: Times Books International, Singapura

Cetakan

: 1989

Tebal

: 96 halaman

Ukuran

:

15,6 x 22,7 cm

Ketika beberapa tahun terakhir ini banyak media massa di Indonesia yang memberitakan konflik antara Indonesia dengan Malaysia, khususnya berkaitan dengan hasil kebudayaan, publik seakan dibuat bingung. Mengapa sesama negara serumpun kok ribut? Bukankah antara Malaysia dan Indonesia memiliki akar kebudayaan yang tidak jauh berbeda?

Bagi mereka yang memahami dan mengetahui latar belakang kebudayaan kedua negeri serumpun ini tentunya takkan ikut bingung. Namun, bagi mereka yang tidak pernah membaca dan memahami sejarah kedua negara ini, tentu akan cenderung menyalahkan Malaysia yang dianggap suka mengklaim kebudayaan Indonesia.

Minimal untuk menjawab dan mencerahkan kebingungan di atas, buku berjudul “Asal-usul negeri-negeri di Malaysia” ini penting kiranya dibaca. Buku ini menghadirkan sebuah pembahasan yang penting berkait dengan temuan arkeologis dan historis tentang sejarah negeri-negeri di Malaysia yang memang berkait erat dengan leluhur orang Melayu yang ada di Indonesia. Bagi Anda peminat sejarah dan arkeologi, penting kiranya membaca buku ini. Meskipun berbahasa Malaysia, namun jalan ceritanya masih dapat dengan nyaman diikuti. Dengan demikian, pembaca dari Indonesia akan lebih mudah memahami buku ini.

Buku ini menghadirkan 13 sejarah ringkas negeri-negeri di Malaysia, yaitu Negeri Johor (h. 8), Kedah (h. 14), Kelantan (h. 22), Melaka (h. 27), Negeri Sembilan (h. 37), Pahang (h. 44), Perak (h. 50), Perlis (h. 58), Pulau Pinang (h. 62), Sabah (h. 66), Sarawak (h. 69), Selangor (h. 73), dan Terengganu (h. 79). Ketigabelas negeri ini menarik untuk dibaca sejarahnya mengingat penduduk aslinya berkait erat dengan orang-orang Melayu di

Indonesia. Penduduk asli negeri-negeri ini berakulturasi dengan dengan bangsa Cina, India, dan Arab yang singgah untuk berdagang di Semenanjung Melayu.

Realitas ini membuktikan bahwa penduduk negeri-negeri di Malaysia sangat beragam. Dari sini, menjadi wajar jika antarkebudayaan Malaysia dan Indonesia, juga Arab, India, dan Cina, terdapat banyak kemiripan. Adapun mengapa menjadi saling klaim, menurut kaum cerdik pandai, hal itu tidak lepas dari faktor politis dan bisnis pariwisata global. Dari bukti- bukti historis ini, buku ini semakin penting untuk dibaca.

Negeri Sembilan

Satu sejarah penting yang ditampilkan dalam buku ini, sehubungan dengan keterkaitan leluhur Indonesia dan Malaysia, adalah bukti arkeologis dan historis tentang Negeri Sembilan. Negeri Sembilan adalah sebuah negeri yang berasaskan pada gabungan sembilan “negeri” atau “kawasan” yang luas, yang mempunyai pembesar-pembesarnya sendiri pada suatu masa dahulu (h. 37).

Bukti sejarah ini mengingatkan akan sistem pemerintahan masa lalu yang ada di Minangkabau. Sejurus dengan ingatan ini, dalam sejarahnya, orang-orang Minangkabau memang pernah hidup di Negeri Sembilan. Keterkaitan orang Minangkabau dengan Negeri Sembilan juga dapat dibuktikan dari arsitektur rumah-rumah dan istana Negeri sembilan yang mirip dengan rumah adat Minangkabau, yakni berbentuk rumah panggung, memiliki banyak pintu dan jendela, dan tentunya memiliki atap yang lancip dan melengkung seperti tanduk kerbau.

Sejarah Negeri Sembilan juga menyebutkan bahwa pada masa Sultan Mansur Shah yang bertahta hingga tahun 1477 M, keempat negeri di Negeri Sembilan (Sungai Ujong, Klang, Jelebu, dan Johor), diperintah oleh Bendahara Melaka, Tun Ali. Pada waktu itu, kebanyakan penduduk Negeri Sembilan terdiri dari orang-orang asli suku Sakai (dari Daratan Riau) (h.39). Realitas ini membuktikan bahwa orang Melayu telah berdiaspora dengan tujuan berdagang lalu akhirnya menetap dan menghasilkan kebudayaan baru yang terdapat kemiripan dengan budaya yang mereka miliki sebelumnya. Dengan mencermati bukti-bukti sejarah ini, sikap saling memahami dan menghargai perbedaan sepertinya harus terlebih didahulukan jika antarsesama rumpun Melayu kembali terjadi masalah kebudayaan di kemudian hari.

(Yusuf Efendi/Res/75/07-2011)

Kepak Sayap Sang Garuda

Kepak Sayap Sang Garuda Cetakan Tebal Ukuran Kepak Sayap Sang Garuda Sulis Setyawati Mitra Gama Widya,

Judul Buku

:

Penulis

:

Penerbit

:

Cetakan

:

Tebal

:

Ukuran

:

Kepak Sayap Sang Garuda

Sulis Setyawati

Mitra Gama Widya, Yogyakarta

Juni, 2003

vii + 111 halaman

14,3 x 20,1 cm

Selain penuh misteri, Gunung Merapi yang terletak di utara Kota Yogyakarta banyak memberi inspirasi, salah satunya buku kecil ini. Buku berjudul Kepak Sayap Sang Garuda karya Sulis Setyawati, seorang guru di SLTP Negeri 1 Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta, ini penting untuk dibaca. Bagi Anda para guru, pecinta lingkungan, dan mereka yang peduli dengan upaya pelestarian alam, perlu membaca buku ini.

Secara umum, buku ini mengisahkan tentang petualangan dua orang sahabat, Gandung dan Kelik. Suatu ketika, keduanya secara tidak sengaja menemukan seekor elang Jawa (spizaetus bartelsi) yang tertembak oleh pemburu (h. 13). Burung yang juga dikenal dikenal sebagai Garuda tersebut kemudian dibawa pulang, diobati, dan dipelihara. Penemuan ini berlanjut pada petualangan keduanya mengungkap perburuan satwa yang dilindungi di hutan Merapi.

Dalam buku ini Anda akan mendapatkan pembahasan tentang berbagai hal yang berhubungan dengan aktivitas Gunung Merapi, seperti wedhus gembel beraksi (h. 35) dan duka-cita melanda desa (h. 45). Kedua hal ini memberi pesan akan pentingnya memahami atau mewaspadai perilaku Merapi sebagai gunung yang masih aktif. Di satu sisi, gunung Merapi dirasakan oleh masyarakat sebagai berkah kesuburan. Akan tetapi, di sisi lain juga berbahaya, karena dampak letusannya bisa mengakibatkan jatuhnya korban.

Buku ini cocok dibaca oleh anak-anak sekolah dasar dan menengah karena ditampilkan dengan gaya bercerita sehingga tidak membosankan. Padahal, buku ini juga berisi prinsip-prinsip dasar Geografi dan IPA yang terkadang dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan membosankan. Oleh karena itu, buku ini cukup tepat jika diajarkan dengan cara dibacakan di depan kelas. Para murid akan belajar menulis cerita, belajar menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan sekaligus memahami ilmu Geografi dan IPA secara menyenangkan.

“Melawan” Mitos

Buku ini juga mengajarkan kepada kita untuk “melawan” mitos, yaitu dengan merasionalkan cerita menakutkan yang berada di masyarakat, dalam hal ini berhubungan dengan Gunung Merapi. Dalam buku ini diceritakan, bahwa di hutan Merapi terdapat sebuah area yang setiap orang tidak boleh memasukinya, area itu disebut dengan alas tutupan, artinya hutan yang ditutup (h. 21). Hutan itu ditutup karena masyarakat percaya bahwa ada siluman harimau di dalamnya. Namun, suatu ketika, Gandung dan Kelik justru mendapatkan keterangan dari penjaga hutan bahwa alas tutupan merupakan daerah suaka marga satwa. Di dalamnya terdapat beberapa jenis flora dan fauna yang dilindungi, bukan tempat siluman harimau seperti yang diceritakan.

Mitos siluman harimau itu ternyata sengaja diciptakan dengan tujuan agar orang tidak sembarangan dan berburu satwa dan atau mengambil tanaman yang dilindungi di alas tutupan. Namun, sayangnya orang hanya mempercayai cerita tersebut tanpa berusaha membuktikannya. Melalui buku ini, penulis mengajak untuk “melawan” mitos menakutkan itu. Buku ini kian menarik karena petualangan Gandung dan Kelik semakin seru. Gandung harus berjuang keras membebaskan Kelik yang disandera para pemburu di alas tutupan karena ternyata, keangkeran alas tutupan justru dimanfaatkan oleh para pemburu untuk dijadikan markas mereka.

Minangkabau

Minangkabau Minangkabau Darman Moenir, dkk. Yayasan Gebu Minang, Jakarta Cetakan Januari, 1993 Tebal 240 halaman Ukuran

Judul Buku

:

Minangkabau

Penulis

:

Darman Moenir, dkk.

Penerbit

:

Yayasan Gebu Minang, Jakarta

Cetakan

:

Januari, 1993

Tebal

:

240 halaman

Ukuran

:

24,5 x 34 cm

Christin Dobin (1784-1847), seorang peneliti Barat dalam bukunya Islamic Revivalism in A Changing Peasant Economy Central Sumatera 1784-1847 menggambarkan Minangkabau dengan indah. “Pada ketinggian 3.000 kaki di atas permukaan laut, terletak lembah Agam di kaki gunung Singgalang, sebuah gunung berapi yang menjulang dengan ketinggian 9.400 kaki, letaknya hampir di Kathulistiwa. Di Tenggara lembah Agam terletak lembah Tanah Datar. Keduanya dipisahkan oleh kerucut puncak gunung Merapi, yang tingginya 9.500 kaki dan merupakan titik yang paling anggun dalam pemandangan Minangkabau,” demikian tulis Dobin.

Apa yang digambarkan Dobin di atas menjadi sebuah imajinasi bagi Anda untuk mengenal Minangkabau lebih jauh. Jika Anda belum berkesempatan mengunjungi Minangkabau, buku di depan Anda ini bisa menjadi informasi penting untuk mengenal ranah Minang beserta pernak-perniknya. Buku berjudul Minangkabau ini tampaknya sengaja ditulis untuk memenuhi kebutuhan para pelancong, baik dalam negeri maupun luar negeri, yang ingin mengenal ranah Minang lebih dekat. Bagi Anda peminat kajian budaya Melayu, Anda perlu membaca buku ini karena buku ini menghadirkan beragam informasi tentang ranah Minangkabau, seperti sejarah manusia Minangkabau dan peninggalannya (h. 15-37), ajaran budi pekerti Minangkabau (h. 39-43), alam dan manusia Minangkabau (h. 51-62), sejarah pendidikan Minangkabau (h. 63-84), serta seni dan kebudayaan Minangkabau (h. 90-122).

Buku ini cukup istimewa karena meskipun terhitung buku lama, namun cukup eksklusif karena dicetak dengan kertas yang tebal dan cover yang indah bergambar rumah adat Minangkabau. Ditambah dengan ulasan yang singkat, padat, dan komunikatif, buku ini enak dibaca karena dilengkapi dengan foto-foto yang indah dan penting untuk dicermati, karena sebagian foto tampak foto klasik masa lalu hasil jepretan fotografer handal seperti Alain Compost, Gino Franki Hadi, dan Ed Zoelverdi. Bagi Anda pecinta foto, penting juga membaca buku ini sebagai referensi fotografi. Satu hal yang menjadi sedikit kelemahan dalam buku adalah tidak adanya daftar isi yang tentu saja hal ini menyulitkan pembaca jika ingin membaca langsung pada pembahasan tertentu.

Jejak Pendidikan di Ranah Minang

Ranah Minang telah menghasilkan banyak tokoh bangsa. Mereka adalah kaum terdidik yang mengabdikan hidup dan pengetahuannya demi kemajuan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tersebutlah nama-nama seperti Sutan Sjahrir (1909-1966), Mohammad Hatta (1902-1980), Haji Agus Salim (1884-1954), Ibrahim Datuk Tan Malaka (1897-1949), Mohammad Natsir (1908-1993), Muhammad Yamin (1903-1962), dan masih banyak lagi. Tradisi pendidikan telah lama ada di ranah Minang. Jauh sebelum Indonesia merdeka, berbagai lembaga pendidikan tradisional telah berdiri di Minangkabau. Sekolah Islam dalam bentuk pesantren, surau tempat mengaji, atau kursus-kursus keterampilan kerajinan Minang sudah ada untuk mendidik generasi muda Minang. Pendidikan menjadi identitas orang Minang sejak dulu. Dalam ungkapan adat Minangkabau disebutkan elok negeri karena penghulu, elok tepian karena anak muda. Ungkapan ini mengajarkan: “kemajuan dari sebuah negeri diharapkan dari pundak generasi mudanya”.

Orang Minang memasukkan ajaran budi pekerti dalam untaian ungkapan-ungkapan adat yang indah didengar dan tidak menggurui. Sebuah ungkapan Melayu menyebutkan: manusia tahan kias, binatang tahan pukul. Ungkapan ini bermakna bahwa anak muda harus memiliki keluhuran budi terhadap empat kata (kato nan ampek), yaitu kata mendaki kepada orangtua, kata menurun kepada yang muda, kata mendatar kepada teman sebaya, dan kata melereng kepada ipar atau besan (h. 84). Dengan demikian, perpaduan antara pendidikan dan ajaran budi pekerti menjadi kekuatan kebudayaan Minang. Buku ini menghadirkannya lengkap dengan foto-foto yang indah dan artistik sehingga semakin mudah dipahami.

(Yusuf Efendi/Res/69/05-2011)

Tamadun Melayu

Buku ini cukup istimewa karena meskipun terhitung buku lama, namun cukup eksklusif karena dicetak dengan kertas

Judul Buku

:

Penulis

:

Penerbit

:

Cetakan

:

Tebal

:

Ukuran

:

Tamadun Melayu Ismail Hussein, dkk. Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia

Pertama, 1995 xxx + 1974 halaman 15 x 21 cm

Melayu adalah sebuah bangsa yang besar, bangsa yang telah tersebar luas ke berbagai belahan bumi, dari Asia hingga Afrika. Bangsa diaspora ini kemudian membentuk komunitas, peradaban, dan budaya yang khas. Falsafah pemikiran, pemerintahan dan politik, undang-undang, sampai bahasa dan sastra Melayu menjadi bahan kajian bangsa-bangsa lain hingga kini.

Buku yang ada di hadapan Anda ini adalah bukti bahwa kajian tentang kebudayaan Melayu masih dan akan terus berlangsung. Buku berjudul Tamadun Melayu yang ditulis oleh para pengkaji kemelayuan dari lintas bangsa, termasuk para peneliti berkebangsaan Malaysia, Indonesia, Denmark, dan Prancis, ini ingin mempersembahkan sebuah kesimpulan besar: bangsa Melayu adalah sebuah bangsa yang besar dengan segenap kekayaan budaya yang dimilikinya.

Antologi tulisan mengenai khazanah Melayu yang terhimpun dalam buku ini terdiri dari beberapa bagian. Pertama, tentang falsafah dan pemikiran Melayu (h.1387-1427). Kedua, tentang kerajaan dan politik (h. 1449-1502). Ketiga, tentang undang-undang yang pernah berlaku di beberapa wilayah Melayu, seperti di Borneo (h. 1514), di Sabah (h. 1532), dan undang-undang laut di Malaysia (h. 1577). Terakhir, bagian keempat, membahas bahasa dan sastra Melayu (h. 1600-1953).

Buku jilid ketiga ini berguna sebagai rujukan untuk memahami kebudayaan Melayu mengingat cukup banyak tulisan yang terangkum di dalamnya. Namun, Anda perlu membaca buku pertama dan kedua jika ingin memahaminya secara lebih utuh. Bagi pemerhati budaya, sejarah, filsafat, dan sastra Melayu, buku ini penting untuk dibaca.

Artikel-artikel yang ada di buku ini merupakan kajian perbandingan yang menarik untuk dicermati. Para penulis tampaknya ingin mengupas tuntas tentang kebudayaan Melayu, khususnya yang berlaku di Indonesia dan Malaysia. Bangsa Melayu di kedua negara ini cukup menarik untuk dikaji lebih dalam karena memiliki karakter kemelayuan yang unik dan khas.

Selain itu, dari sejarahnya, Indonesia dan Malaysia memiliki keterikatan erat dengan Melayu. Nama negara “Malaysia” berasal dari kata “Melayu”, suku bangsa yang kebanyakan menetap di sekitar Semenanjung Malaya. Sedangkan untuk Indonesia, bahasa nasional yang resmi digunakan di negara ini berakar kuat dari bahasa Melayu.

Kenyataan tersebut menjadi menarik untuk dikaji kembali dalam konteks kekinian, mengingat semangat identitas sebuah bangsa dianggap penting. Perdebatan politis tentang bangsa Melayu yang paling “murni”, misalnya, masih menjadi tema menarik yang belum tuntas, bahkan tidak jarang memantik konflik. Demikian pula dengan tarik ulur argumen tentang Melayu dan Islam.

Jika sejarah Melayu sekali lagi dicermati dengan lebih bijak, maka klaim bahwa Melayu harus selalu identik dengan Islam mungkin bisa saja terbantahkan. Bangsa Melayu dengan peradaban dan kebudayaannya sudah ada jauh sebelum Islam datang, bahkan sebelum Islam lahir sebagai salah satu ajaran agama. Orang-orang Dayak di Borneo, orang Nias, orang Batak, orang Manado, orang Toraja, dan masih banyak lagi suku bangsa yang terikat kuat dalam kebesaran rumpun Melayu, namun mereka tidak semuanya muslim.

Dalam perjalanannya, Melayu dan Islam sudah seperti dwitunggal yang menyatu dan tidak boleh diceraikan: Islam adalah Melayu dan Melayu haruslah Islam. Itu memang tidak salah, akan tetapi

tidak pula sepenuhnya benar. Islam menjadi salah satu unsur terpenting dalam peradaban Melayu, yang tentunya bersama-sama dengan berbagai elemen lainnya yang tidak kalah penting. Unsur-unsur ini seharusnya dapat saling melengkapi dan kemudian menyatu demi membentuk jatidiri bangsa Melayu yang sejati.

Pesan penting yang ingin disampaikan melalui semua tulisan yang terhimpun dalam buku ini adalah marwah Melayu harus tetap dijaga oleh seluruh puak-puak Melayu yang tersebar di berbagai belahan bumi. Selain itu, sikap kritis terhadap kebudayaan sendiri tetap harus dimunculkan. Bagaimanapun juga, zaman terus berkembang dan gelombang globalisasi bisa saja menggerus eksistensi identitas kebudayaan Melayu.

Menjaga marwah Melayu dalam konteks sekarang ini adalah dengan terus mengedepankan kajian- kajian tentang Melayu yang seimbang dan dilakukan melalui gerakan-gerakan yang lebih arif dan bijaksana. Dengan demikian diharapkan bangsa Melayu bisa kembali berjaya sebagai sebuah bangsa besar yang menghormati keberagaman.

(Yusuf Efendi/Res/70/05-2011)

Orang Banjar dan Kebudayaannya

Orang Banjar dan Kebudayaannya Orang Banjar dan Kebudayaannya Suriansyah Ideham, dkk. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah,

Judul Buku

:

Orang Banjar dan Kebudayaannya

Penulis

:

Suriansyah Ideham, dkk.

Penerbit

: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah, Kalimantan Selatan

Cetakan

:

Pertama, 2005

Tebal

:

xxi + 374 halaman

Ukuran

:

15 x 21 cm

Masyarakat Melayu Banjar di Kalimantan Selatan (Kalsel) memang kaya akan tradisi dan kebudayaan. Urang Banua, sebutan untuk orang Banjar, dikaruniai banyak hasil cipta, rasa, dan karsa yang hingga sekarang masih banyak yang dilestarikan. Sebutlah misalnya adat perkawinan, sistem pengetahuan, kesenian, alat-alat bercocok tanam, bahkan bahasa lokal masih lestari dalam keseharian mereka. Hal ini menunjukkan bahwa orang Banjar masih menjaga tradisi leluhur.

Sebuah buku menarik dan cukup lengkap tentang kebudayaan urang Banua telah dihadir di hadapan Anda. Buku karya Suriansyah Ideham dan kawan-kawan ini menghadirkan beragam data etnografi tentang kebudayaan orang Banjar. Bagi Anda yang bergelut dalam bidang antropologi, sejarah, atau sastra, penting untuk membaca buku ini. Begitu juga bagi Anda peminat kajian agama dan filsafat.

Dalam buku ini, Anda akan menemukan banyak pembahasan tentang sistem organisasi sosial orang Banjar, sejak zaman prasejarah hingga masa koloial Hindia Belanda (h. 19-33). Anda juga akan mendapatkan uraian tentang agama dan kepercayaan orang Banjar, dari zaman kepercayaan leluhur hingga era Kesultanan Banjar yang menerapkan hukum Islam (h. 35-49).

Pada bagian lain buku ini, Anda juga akan menemukan pembahasan tentang upacara daur hidup (h. 50-80), sistem pengetahuan (h. 81-92), sistem mata pencaharian (h. 95-145), tata kelakuan pribadi dan masyarakat (h. 149-190), teknologi tradisional (h. 191-228), bahasa Banjar (h. 229-253), dan

kesenian Banjar (h. 360). Seluruh pembahasan tema-tema ini semakin menarik karena penulisnya menghadirkannya dengan bahasa yang cukup sederhana.

Orang Banjar Kaya Budaya

Banyaknya tema yang dibahas dalam buku ini menunjukkan bahwa orang Banjar kaya akan budaya. Kekayaan ini sebenarnya adalah sebuah keniscayaan karena orang Banjar telah ada di bumi Kalimantan sejak ratusan tahun silam. Dengan rentang waktu yang panjang itu wajar jika mereka menghasilkan banyak kreasi budaya.

Selain itu, orang Banjar dikenal sebagai rumpun Melayu yang pandai dalam bergaul dan terbuka terhadap orang lain sehingga banyak orang-orang dari suku-suku lain yang nyaman tinggal di tanah Banjar. Tercatat, sejumlah suku bangsa lain hidup di Banjar, antara lain adalah Dayak, Arab, Eropa, Jawa, Tionghoa, dan Lombok. Suku-suku ini tentu saja memiliki kebudayaan berbeda yang dibawa dari tanah leluhurnya. Dan ketika berakulturasi dengan budaya Banjar yang asli, jadilah kebudayaan Banjar yang heterogen.

Orang Banjar juga dikenal sebagai kaum perantau yang melakukan diaspora ke tempat-tempat lain. Oleh karena itu, ketika pulang ke kampung halaman, mereka membawa budaya baru yang diperoleh dari interaksi mereka dengan kebudayaan lain. Budaya baru ini pun juga sedikit banyak memberikan warna terhadap kebudayaan Banjar.

Busana Banjar

Salah satu bukti bahwa budaya Banjar terwujud dari beragam budaya lain dapat dilihat dari busana adat (h. 304). Secara umum, busana adat pengantin Banjar terdiri dari tiga jenis, yaitu bagajah gamuling baular lulut, ba’amar galung pancaran matahari, dan babajukun galung pacinan. Namun secara khusus, terdapat empat jenis, yaitu dengan tambahan babaju kubaya panjang.

Ketiga jenis busana adat pengantin ini memiliki asal-usul perbedaan yang jauh, baik dari sisi wujud, asesoris, warna, tata cara pemakaian, maupun makna simbolnya. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan pada awal terciptanya ketiga busana tersebut. Busana adat pengantin jenis bagajah gamuling baular lulut misalnya, dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu yang tercermin dari pengantin laki-laki yang hanya bertelanjang dada. Busana jenis yang sama juga dapat dilihat dari busana adat daerah Jawa, Bali, Dayak, atau Lombok.

Berbeda dengan jenis yang pertama, busana adat pengantin jenis ba’amar galung pancaran matahari, bercorak perpaduan antara kebudayaan Hindu dan Islam. Sementara itu, busana adat pengantin jenis babajukun galung pacinan dipercaya dipengaruhi oleh budaya Arab dan Tiongkok. Hal ini terlihat dari wujud busana dan nama pacinan. Pada abad tersebut, suku Arab dan Tionghoa banyak bermukim di Banjar dan berbaur dengan masyarakat asli Banjar.

Pluralitas masyarakat dan hasil kebudayaan orang Banjar menjadi sebuah kekayaan sekaligus kekuatan orang Banjar dalam kehidupan mereka. Mereka terbuka dengan pengetahuan luar, namun identitas kebudayaan mereka tetap lestari. Dalam konsep masyarakat modern, pluralisme adalah sebuah modal utama, dan buku ini menghadirkannya sebagai bahan referensi.

(Yusuf Efendi/Res/68/04-2011)

Paningset, Srah-srahan, dan Midodareni

Paningset, Srah-srahan, dan Midodareni Paningset, Srah-srahan, dan Midodareni Suwarna Pringgawidagda Penyunting Hermawan Hastho Nugroho Adicita Karya

Judul Buku

:

Paningset, Srah-srahan, dan Midodareni

Penulis

:

Suwarna Pringgawidagda

Penyunting

:

Hermawan Hastho Nugroho

Penerbit

: Adicita Karya Nusa, Yogyakarta

Cetakan

:

2003

Tebal

:

x + 52 halaman

Ukuran

:

14 x 20 cm

Paningset dan srah-srahan adalah bagian dalam tahapan prosesi upacara pernikahan adat Jawa. Tahap sebelumnya adalah lamaran dari keluarga calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan. Paningset dianggap sebagai proses yang sakral dalam sebuah perkawinan Jawa, meskipun caranya bervariasi. Ada yang digelar dengan lengkap dan ada pula yang tidak.

Sedangkan midodareni adalah tahap terakhir sebelum upacara pernikahan dilaksanakan. Midodareni ditujukan untuk merayakan malam terakhir calon pengantin perempuan berstatus lajang. Upacara ini digelar pada malam hari menjelang pernikahan di kediaman pengantin perempuan. Dalam proses ini, pengantin perempuan akan didandani lalu “disembunyikan” dalam kamar untuk dipersiapkan “menerima tamu”, yaitu dewi atau widodari dari khayangan.

Jika Anda ingin mengenal lebih dalam tentang ketiga adat pernikahan Jawa tersebut, Anda dapat membaca buku karya Suwarna Pringgawidagda. Meskipun kecil, buku ini cukup lengkap untuk dijadikan sebagai referensi sekaligus media praktek proses ketiga adat pernikahan Jawa tersebut. Penulis yang seorang praktisi adat pernikahan Jawa tampak memahami betul bagaimana mengenalkan adat Jawa yang sekarang mulai hilang ini.

Dengan bahasa yang sederhana namun tetap komunikatif, buku ini menghadirkan berbagai hal tentang ketiga adat pernikahan Jawa tersebut. Di buku kecil ini Anda akan menemukan pembahasan tentang pengertian paningset dan srah-srahan serta tujuannya (h. 1-2). Berbagai peralatan dan bahan yang diperlukan untuk paningset dan srah-srahan juga dapat Anda pelajari di bagian uborampe paningset dan srah-srahan (h. 2). Pelaku dan proses pelaksanaan upacara ini dapat Anda baca di halaman 3-6 buku ini. Sedangkan susunan acara upacara ini ada pada halaman 9.

Sementara itu, tentang pengertian dan tujuan midodareni dapat Anda baca di halaman 23-24. Sedangkan untuk rincian proses pelaksanaan midodareni, Anda dapat temukan pada halaman 25-30. Dari pembahasan-pembahasan ini, terlihat bagaimana adat pernikahan Jawa begitu rinci dan sakral.

Berharap Secantik Bidadari

Midodareni berasal dari kata widodari atau bidadari. Widodari adalah titah berjenis kelamin perempuan yang hidup di kerajaan para dewa. Ia cantik tiada tara, tiada kurang tiada cacat. Pendek kata ia sangat sempurna. Widodari tinggal di kahyangan jonggring salaka atau syailendra bawana. Prosesi midodareni dilakukan dengan harapan pengantin perempuan yang didandani diharapkan cantik bagaikan bidadari (h.24).

Jika mencermati pengertian midodareni di atas, maka imajinasi orang Jawa tentang seorang bidadari yang cantik jelita menjadi alasan kenapa tradisi ini diadakan. Dengan demikian, midodareni sebenarnya tidak hanya sekadar ritual upacara adat. Lebih dari itu, midodareni adalah sebuah kebudayaan leluhur penuh makna yang mengikat orang Jawa.

Harapan secantik bidadari sebenarnya bukanlah hanya ada di kebudayaan Jawa. Kebudayaan suku bangsa Melayu di Burma (sekarang Myanmar) juga memiliki imajinasi tentang seorang perempuan cantik bernama Nat. Sosok Nat dipercaya tinggal di dekat para dewa. Namun Nat memiliki wakilnya di bumi, yaitu orang-orang tertentu dari golongan hermafrodit. Seorang perempuan Burma yang ingin cantik seperti Nat, secara simbolis akan menikah dengan Nat dengan perantara wakilnya tersebut. Upacara ritual pernikahan dengan Nat ini mereka sebut dengan Nat Kahdow.

Ritual yang Dilematis

Upacara midodareni berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi disukai perempuan karena mengandung makna harapan secantik bidadari, namun di sisi lain dianggap ribet dan sebagian menganggap hanya mitos. Akibatnya, saat ini upacara midodareni jarang lagi dipraktekkan.

Realitas tersebut tentunya sangat menyedihkan karena kebudayaan tradisional dikalahkan oleh anggapan modern yang terkadang tidak seimbang. Padahal, sebenarnya ritual midodareni ini ditujukan untuk memohon doa restu dari para tetua, keluarga, kerabat dan tetangga agar pelaksanaan upacara pernikahan bisa berjalan tanpa hambatan.

Seharusnya, doa restu dari orang-orang itulah yang dijadikan pijakan berfikir orang sekarang sehingga midodareni menjadi penting untuk dilakukan. Sebaliknya, sebenarnya kebudayaan manusia, baik yang tradisional maupun modern tidak lepas dari mitos. Orang modern pun sekarang menciptakan mitos kecantikan mereka sendiri, contohnya dengan membuat peralatan kecantikan lengkap. Padahal, bukankah kecantikan itu relatif?

(Yusuf Efendi/Res/67/04-2011)

Siraman

Siraman Judul Buku : Siraman Suwarna Pringgawidagda Penyunting Yulia S. Rachmawati Adicita Karya Nusa, Yogyakarta Cetakan

Judul Buku

:

Siraman

Penulis

:

Suwarna Pringgawidagda

Penyunting

:

Yulia S. Rachmawati

Penerbit

:

Adicita Karya Nusa, Yogyakarta

Cetakan

:

2003

Tebal

:

x + 56 halaman

Ukuran

:

14 x 20 cm

Siraman adalah tahap kedua dari tata cara pernikahan adat Jawa. Tahap yang sebelumnya adalah lamaran dari keluarga calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan. Siraman digelar satu hari menjelang pernikahan, sebelum upacara malam midodareni.

Siraman merupakan upacara simbolis yang melambangkan penyucian diri sebelum kedua calon mempelai memasuki babak baru dalam kehidupan mereka. Adat Jawa telah mengatur perlengkapan, tata cara, dan siapa saja yang harus terlibat dalam upacara ini. Beberapa bagian upacara siraman ini diiringi dengan tembang atau kidung Jawa bernada sendu. Alunan kidung ini membuat upacara siraman serasa romantis.

Jika Anda ingin mengenal lebih dalam tentang adat Jawa siraman, Anda dapat membaca buku karya Suwarna Pringgawidagda ini, karena cukup lengkap untuk dijadikan sebagai bahan belajar sekaligus praktek proses siraman itu. Dengan gaya menulis yang sederhana namun tetap komunikatif, buku ini menghadirkan berbagai hal tentang siraman.

Bagi Anda peminat kajian adat Jawa, Anda tentunya perlu membaca buku ini. Dalam buku kecil ini Anda akan menemui pembahasan tentang pengertian siraman dan tujuannya, baik untuk mempelai

laki-laki dan perempuan maupun untuk para tetua (h. 1-3). Berbagai peralatan dan bahan yang diperlukan untuk siraman juga dapat Anda baca di bagian piranti siraman (h. 4-13).

Selanjutnya, jika Anda ingin mengetahui bagaimana proses pelaksanaan siraman, Anda dapat membaca bagian ini di halaman 15-44. Terakhir, jika Anda ingin mengetahui sekaligus menghafalkan kidung dandanggulo yang dibacakan dalam proses siraman, dapat Anda baca di halaman 47.

Menjaga Kesucian Lahir Batin

Jika dilihat sekilas, upacara siraman ini terlihat sangat rumit. Setidaknya dari berbagai proses yang harus dilakukan oleh kedua mempelai. Kerumitan juga dapat disaksikan dari berbagai piranti yang harus disiapkan, yaitu berupa air, klapa saghandeng, kendi atau kendil, gunting atau mok, dan sebagainya. Meskipun demikian, orang Jawa melihat bahwa siraman mengandung nilai pendidikan yang luhur bagi pengantin khususnya, dan masyarakat umumnya, salah satunya adalah mendidik untuk menjaga kesucian diri baik secara lahir maupun batin.

Nilai ini tercermin dari tujuan siraman itu sendiri, yakni untuk menyucikan secara jasmani dan rohani karena pada hari berikutnya calon mempelai akan melaksankan salah satu tugas suci dalam hidup di dunia, yaitu akad nikah (palakrama). Secara lahiriah, siraman memang hanya menyucikan badan. Tubuh menjadi bersih, wangi, dan sehat. Namun, secara batin, orang Jawa meyakini bahwa calon mempelai perempuan juga merasa dirinya suci secara batin dan itu terindikasi dari kesiapan dirinya untuk menikah esok harinya. Ia ikhlas dan tulus untuk mengarungi hidup yang berat dan kelak pastinya penuh cobaan.

Ibarat seseorang yang akan melaksanakan tugas suci dan agung (dalam hal ini menikah), maka hendaknya ia memulai dengan bersuci lahir dan batin. Dengan bersuci, seseorang akan lebih mantap dan siap menghadapi tugas. Dengan kesucian itu, seseorang juga akan merasa lebih optimis tugasnya akan selesai dengan baik.

Ritual yang Mulai Memudar

Nilai kesucian lahir dan batin ini meskipun hanya sebuah simbol, namun bagi orang Jawa itu lebih mengena. Namun, patut disayangkan, saat ini upacara siraman sudah mulai menghilang di kalangan orang Jawa. Saat ini siraman hanya ada di kraton atau untuk para keluarga ningrat Jawa. Masyarakat Jawa di perdesaan sudah meninggalkannya dengan bermacam alasan, salah satunya ribet dan memerlukan banyak biaya. Alasan itu sebenarnya hanyalah dibuat-buat jika melihat pernikahan Jawa saat ini juga membutuhkan banyak biaya dan juga ribet. Bayangkan saja, pernikahan orang Jawa modern sekarang banyak digelar di gedung-gedung atau hotel. Para tamu udangan hanya diterima di gedung, tidak di rumah.

Melihat realitas ini, tampaknya alasan kenapa siraman mulai hilang dari kebudayaan orang Jawa umumnya lebih karena pola pikir orang Jawa yang sudah tidak mau repot. Nilai yang terkandung dalam upacara siraman tidak lagi dilihat sebagai ruang pedidikan hati, melainkan sebagai ritual yang merepotkan dan menghabiskan tenaga serta biaya. Dalam konteks ini, orang Jawa dapat dikatakan sebagai oang Jawa yang telah hilang Jawanya.

Dalam konteks hilangnya budaya siraman ini, buku ini menemukan fungsinya yang tepat, yaitu mengingatkan dan menyadarkan kembali orang Jawa akan pentingnya upacara siraman. Orang Jawa perlu kembali diingatkan bahwa jika siraman itu merepotkan dan menghabiskan biaya itu salah, karena pernikahan yang tanpa siraman pun membutuhkan biaya banyak. Dari berbagai masalah ini, buku ini penting untuk dipahami.