Anda di halaman 1dari 141

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PEMBUATAN KERUPUK RAMBAK KULIT SAPI DAN KULIT KERBAU (Studi Kasus: Usaha Pembuatan

Kerupuk Rambak di Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal, Jawa Tengah)

SKRIPSI

ROCH IKA OKTAFIYANI H34050890

DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR


2009

RINGKASAN ROCH IKA OKTAFIYANI. Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi dan Kulit Kerbau (Studi Kasus: Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak di Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal, Jawa Tengah). Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan Tintin Sarianti) Sektor UKM merupakan sektor yang memiliki berbagai keunggulan. Keunggulan ini membuat kontribusi UKM terhadap perekonomian Indonesia pada tahun 2007 sebesar 53,6 persen. UKM juga memiliki laju pertumbuhan yang lebih baik jika dibandingkan dengan usaha besar. Keunggulan UKM membuat Pemda Kabupaten Kendal memberdayakan UKM untuk membangun daerah. Kontribusi industri pengolahan termasuk UKM sebesar 35,48 persen dari total PDRB di Kabupaten Kendal. Pemda Kabupaten Kendal telah menetapkan wilayah-wilayah tertentu sebagai produsen makanan kecil. Salah satu produk yang dikembangkan adalah kerupuk rambak dengan sentra pembuatannya adalah di Kecamatan Pegandon. Kerupuk rambak merupakan salah satu jenis kerupuk yang terbuat dari bahan baku kulit sapi dan kerbau. Permintaan kerupuk rambak meningkat namun permintaan ini tidak diimbangi oleh penawaran dari industri kerupuk rambak. Ketidakseimbangan permintaan dan penawaran ini mengindikasikan masih ada pangsa pasar yang masih dapat diraih oleh pelaku usaha. Namun, usaha pembuatan kerupuk rambak dianggap sebagai usaha tradisional yang tidak mendatangkan keuntungan. Selain itu, usaha kerupuk rambak dipengaruhi oleh bahan baku. Harga kulit kerbau lebih mahal jika dibandingkan dengan kulit sapi. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis kelayakan usaha untuk menilai usaha pembuatan kerupuk rambak serta analisis bagaimana pengaruh penggunaan bahan baku kulit kerbau sebagai input produksi kerupuk rambak terhadap kelayakan usaha. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengidentifikasi kelayakan pembuatan usaha kerupuk rambak dilihat dari aspek non finansial, 2) Menganalisis kelayakan finansial usaha pembuatan kerupuk rambak bahan baku kulit sapi dan kulit kerbau, 3) Menganalisis kepekaan usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi dan kulit kerbau, 4) Membandingkan kelayakan finansial usaha pembuatan kerupuk rambak dengan bahan baku kulit sapi dan kulit kerbau. Lokasi penelitian dipilih secara purposive. Pengambilan data di lapang dilaksanakan pada bulan Desember 2008 sampai dengan Maret 2009. Data diambil dari tiga responden pengusaha kerupuk rambak. Pengambilan sampel menggunakan metode pengambilan contoh secara simple random sampling untuk responden pengusaha kerupuk rambak kulit sapi sedangkan untuk pengusaha kerupuk rambak kulit kerbau dilakukan secara purposive. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan studi literatur. Analisis yang digunakan yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan dalam usaha pembuatan kerupuk rambak. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisis kelayakan aspek finansial menggunakan kriteria Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR),

Payback Period, Net benefit and Cost Ratio (Net B/C Ratio) dan analisis switching value. Variabel untuk analisis switching value adalah penurunan penjualan kemasan besar, penurunan penjualan kemasan kecil, penurunan penjualan kedua kemasan, kenaikan harga kulit dan kenaikan harga lemak. Keragaan usaha pembuatan kerupuk rambak jika dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek hukum dan aspek sosial ekonomi dan lingkungan layak untuk diusahakan. Namun dari aspek manajemen, usaha pembuatan kerupuk rambak belum layak karena belum memiliki pembukuan atas penjualan yang dilakukan. Dari aspek teknis, usaha dinilai lebih layak menggunakan bahan baku kulit sapi karena ketersediaan kulit sapi yang lebih banyak di pasar. Hasil analisis finansial usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi menunjukkan nilai NPV yaitu Rp 271.883.775,00. Nilai IRR sebesar 67,81 persen. Nilai Net B/C sebesar 5,09. Payback Period (PBP) selama 2,83 tahun. Berdasarkan kriteria kelayakan investasi usaha kerupuk rambak kulit sapi layak diusahakan. Berdasarkan hasil analisis switching value, perubahan terhadap penurunan penjualan kerupuk rambak kedua jenis kemasan secara serentak dikatakan berpengaruh paling besar diantara kondisi lainnya terhadap kelayakan usaha. Sedangkan analisis kelayakan finansial kerupuk rambak kulit kerbau menunjukkan nilai NPV yaitu Rp 89.836.846,00. Nilai IRR sebesar 27,48 persen. Nilai Net B/C sebesar 2,16. Payback Period (PBP) selama 5,30 tahun. Berdasarkan kriteria kelayakan investasi usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit kerbau layak diusahakan. Berdasarkan hasil analisis switching value, perubahan terhadap penurunan penjualan kerupuk rambak kedua jenis kemasan secara serentak dikatakan berpengaruh paling besar diantara kondisi lainnya terhadap kelayakan usaha. Perbandingan kelayakan finansial antar kedua usaha menunjukkan bahwa dari kedua jenis usaha, usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit sapi merupakan usaha yang lebih layak diusahakan. Hal ini dapat dilihat dari kriteria kelayakan finansial dari usaha kerupuk rambak kulit sapi memiliki nilai yang lebih baik berdasarkan kriteria investasi dibandingkan usaha pembuatan kerupuk rambak menggunakan bahan baku kulit kerbau. Perhitungan laba rugi menunjukkan bahwa usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi menghasilkan keuntungan yang lebih besar jika dibandingkan dengan usaha yang menggunakan kulit kerbau. Usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit kerbau memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap perubahan yang disebabkan oleh keempat variabel dibandingkan dengan usaha kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit sapi.

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PEMBUATAN KERUPUK RAMBAK KULIT SAPI DAN KULIT KERBAU (Studi Kasus: Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak di Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal, Jawa Tengah)

ROCH IKA OKTAFIYANI H34050890

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

Judul Skripsi

Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi dan Kulit Kerbau (Studi Kasus: Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak di Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal Jawa Tengah)

Nama NRP

: Roch Ika Oktafiyani : H34050890

Disetujui, Pembimbing

Tintin Sarianti, SP., MM. NIP. 132 311 854

Diketahui Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP. 131 415 082

Tanggal Lulus :

PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul Analisis

Kelayakan Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi dan Kulit Kerbau adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Mei 2009

Roch Ika Oktafiyani H34050890

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kendal pada tanggal 9 Oktober 1987 sebagai anak tunggal pasangan Bapak Samsudin dan Ibu Roch Mujiati, SPd. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SDN 01 Gemuhblanten dan lulus pada tahun 1999. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama di SMPN 2 Kendal dan lulus pada tahun 2002. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Kendal dan lulus pada tahun 2005. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB). Pada tahun pertama, penulis masuk ke Tingkat Persiapan Bersama karena adanya program

mayor-minor yang mulai diterapkan di IPB dan pada tahun pertama belum mendapatkan jurusan. Pada tahun kedua penulis, yaitu tahun 2006 penulis diterima di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di beberapa kegiatan organisasi. Penulis menjabat Sekretaris Departemen Sosial, Lingkungan dan Masyarakat (Soslingmas) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen pada tahun 2006-2007 dan Staff Departemen Bisnis HIPMA (Himpunan

Mahasiswa Peminat Agribisnis) pada tahun 2007-2008. Penulis juga aktif di berbagai kegiatan kepanitiaan. Selain itu, penulis juga menjadi asisten responsi mata kuliah ekonomi umum pada tahun 2008-2009.

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT, atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi dan Kulit Kerbau . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha pembuatan kerupuk rambak yang berbahan baku kulit sapi dan berbahan baku kulit kerbau serta melakukan perbandingan finansial atas kedua jenis usaha tersebut. Skripsi ini merupakan tugas akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak. Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu proses penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna mengingat keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi selama penelitian berlangsung.

Bogor, Mei 2009 Roch Ika Oktafiyani

UCAPAN TERIMAKASIH Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT, atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Penyelesaian skripsi ini juga tidak lepas dari bantuan barbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada : 1. Tintin Sarianti, SP., MM. selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini. 2. Ir. Popong Nurhayati, MM selaku dosen penguji utama pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini. 3. Yanti Nuraeni Muflikh, SP., M.Agribus selaku dosen penguji dari wakil komisi pendidikan Agribisnis pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini. 4. Seluruh dosen dan staf pengajar Departemen Agribisnis atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis. 5. Ibu atas segalanya yang telah diberikan kepadaku, untuk segala cinta, kasih sayang, doa, dukungan, kesabaran serta semangat yang tidak pernah putus. 6. Almarhum Bapak atas pembelajaran hidup yang sangat berarti. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. 7. Keluarga besarku: Om Eko sekeluarga, Bulik Eni sekeluarga, Bulik Yum sekeluarga, Bulik Sri sekeluarga dan Om Dik. Sepupu-sepupuku: Lilis, Imam, Ajib, Riski, Santos, Irma dan Nanda. Atas segala dukungan yang diberikan. 8. Pemilik Citra Rasa, Pemilik Dwi Joyo, Pemilik Dwi Djaya atas kesediaan menjadi tempat penelitian penulis, atas waktu, kesempatan, informasi dan dukungan yang diberikan. 9. Dek Ita dan Mbak Evi atas persahabatan yang sangat indah. Semoga akan persahabatan ini akan bertahan sampai kapanpun. 10. Hendro Mursalim atas kasih sayang serta dukungan selama ini. 11. Trio Kendal AGB 42 (Twin, Aqsa), Hepi, Wening, Wiwi, Dauz, Cila, Ferdy Daeng , Dani, Zulvan, Yuzda, Nurul, Tika, Rina, Tiara, Lisda dan AGB 42

lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu. (Go go Gareba AGB Grooowiiing the future). 12. Debie NFF Napitupulu sebagai pembahas seminar atas masukan dan saran yang telah diberikan. 13. Temen-temen Fokma Bahurekso Kendal khususnya Fokma 42: Aji, Rifka Rino, Farikhin, Topik dan yang lain atas kekeluargaan yang sangat berarti bagi penulis selama merantau disini. Tak Kendal Maka Tak Sayang! 14. Teman-teman kost semua: Mba Putri, Mba Sarah, Mba Dewi, Mba Rahma, Wendi, Lia, Fery, Retno, Suci, Ranti, Ratih, Riska, Dewi, Icha, Manda, Evi, Reika, Eni, dan lain-lain. 15. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

DAFTAR ISI Halaman xiv xvi xvii 1 1 6 8 9 9 10 10 11 13 14 14 15 15 16 16 16 17 17 20 26 26 28 35 36 36 38 39 39 41 41 41 41 42 42 43 46 46 49 49 49 49

DAFTAR TABEL ......................................................................... DAFTAR GAMBAR ..................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................. I PENDAHULUAN .............................................................. 1.1 Latar Belakang ......................................................... 2.2 Perumusan Masalah ................................................. 2.3 Tujuan ..................................................................... 2.4 Manfaat ................................................................... 2.5 Ruang Lingkup ........................................................ II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................... 2.1 Definisi Usaha Kecil dan Menengah ........................ 2.2 Perusahaan Perorangan ............................................ 2.3 Kerupuk ................................................................... 2.4 Kulit ........................................................................ 2.4.1 Pengertian Kulit .............................................. 2.4.2 Histologi Kulit ................................................ 2.4.3 Kulit Sebagai Bahan Makanan ........................ 2.5 Kerupuk Rambak ..................................................... 2.5.1 Bahan Baku Pembuatan Rambak ..................... 2.5.2 Proses Pembuatan Rambak .............................. 2.6 Penelitian Terdahulu ................................................ 2.6.1 Analisis Tentang Analisis Kelayakan .............. 2.6.2 Analisis Tentang Kerupuk ............................... III KERANGKA PEMIKIRAN ............................................. 3.1 Studi Kelayakan Proyek ........................................... 3.2 Aspek Studi Kelayakan ............................................ 3.3 Teori Biaya dan Manfaat .......................................... 3.4 Analisis Kelayakan Investasi .................................... 3.4.1 Analisis Finansial ............................................ 3.5 Analisis Switching Value .......................................... 3.6 Laporan Rugi Laba .................................................. 3.7 Kerangka Pemikiran Operasional ............................. IV METODE PENELITIAN .................................................. 4.1 Lokasi dan Waktu .................................................... 4.2 Metode Penentuan Sampel ....................................... 4.3 Data dan Instrumentasi ............................................. 4.4 Metode Pengumpulan Data ...................................... 4.5 Metode Pengolahan Data ......................................... 4.5.1 Analisis Aspek Finansial ................................. 4.5.2 Analisis Switching Value ................................. 4.6 Asumsi Dasar yang Digunakan ................................ V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN .................. 5.1 Kabupaten Kendal .................................................... 5.1.1 Keadaan Wilayah ............................................ 5.1.2 Keadaan Penduduk ..........................................

VI

VII

5.1.3 Pertanian ......................................................... 5.1.4 Perekonomian Daerah ..................................... 5.2 Kecamatan Pegandon ............................................... 5.3 Gambaran Umum Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak ................................................................... ANALISIS ASPEK NON FINANSIAL ............................ 6.1 Aspek Pasar ............................................................. 6.1.1 Permintaan ...................................................... 6.1.2 Penawaran ....................................................... 6.1.3 Strategi Pemasaran .......................................... 6.1.4 Hasil Analisis Aspek Pasar .............................. 6.2 Aspek Teknis ........................................................... 6.2.1 Lokasi Usaha ................................................... 6.2.2 Bahan Baku ..................................................... 6.2.3 Kapasitas Produksi .......................................... 6.2.4 Proses Produksi ............................................... 6.2.5 Lay Out Usaha ................................................. 6.2.6 Hasil Analisis Aspek Teknis ............................ 6.3 Aspek Manajemen ................................................... 6.3.1 Hasil Analisis Aspek Manajemen .................... 6.4 Aspek Hukum .......................................................... 6.4.1 Bentuk Badan Usaha ....................................... 6.4.2 Izin Usaha ....................................................... 6.5 Aspek Sosial, Ekonomi dan Lingkungan .................. ANALISIS ASPEK FINANSIAL ...................................... 7.1 Analisis Aspek Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi ....................................................... 7.1.1 Analisis Inflow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi .................................... 7.1.2 Analisis Outflow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi .................................... 7.1.3 Analisis Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi .................................... 7.1.4 Analisis Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi .................................... 7.1.5 Laporan Rugi Laba Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi ................................... 7.2 Analisis Aspek Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau ................................................... 7.2.1 Analisis Inflow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan

50 50 52 53 56 56 56 57 58 60 61 61 62 64 64 67 67 68 68 69 69 69 69 71

71

71

73

76

77

79

80

Bahan Baku Kulit Kerbau ................................ 7.2.2 Analisis Outflow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau ................................ 7.2.3 Analisis Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau ................................ 7.2.4 Analisis Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau ................................ 7.2.5 Laporan Rugi Laba Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau ............................... 7.3 Analisis Perbandingan Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi dan Bahan Baku Kulit Kerbau .................................. VIII KESIMPULAN DAN SARAN .......................................... 8.1 Kesimpulan .............................................................. 8.2 Saran ....................................................................... DAFTAR PUSTAKA .................................................................... LAMPIRAN ..................................................................................

81

82

85

86

88

89 92 92 93 94 96

DAFTAR TABEL Nomor 1 Laju Pertumbuhan PDB UKM (2005-2007) ........................ 2 Struktur Ekonomi Kabupaten Kendal Atas Harga Berlaku tahun 2003-2007 ......................................... 3 Daerah Pengembangan dan Jenis Produk ............................ 4 Kandungan Nilai Gizi Beberapa Jenis Kerupuk per 100 Gram ....................................................... 5 Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kabupaten Kendal Tahun 2004-2007 .................................. 6 Luas Wilayah Kecamatan Pegandon Dirinci Menurut Penggunaan .......................................................... 7 Spesifikasi Bahan Baku Kerupuk Rambak .......................... 8 Perkiraan Pendapatan Penjualan Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi per Tahun .............................. 9 Biaya Investasi Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi ............................................................. 10 Rincian Biaya Tetap Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi ............................................................. 11 Rincian Biaya Variabel Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi ............................................................. 12 Hasil Analisis Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi ............................................................. 13 Hasil Analisis Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi ........................... 14 Perkiraan Pendapatan Penjualan Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Kerbau per Tahun .......................... 15 Biaya Investasi Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Kerbau ......................................................... 16 Rincian Biaya Tetap Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Kerbau ......................................................... 17 Rincian Biaya Variabel Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Kerbau ......................................................... 18 Hasil Analisis Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Kerbau ......................................................... 19 Hasil Analisis Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau ...................... 20 Analisis Kelayakan Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi dan Kulit Kerbau ................................................................ 21 Perbandingan Nilai Switching Value pada Kedua Jenis Usaha ............................................................. 22 Perbandingan Keuntungan yang Diperoleh dari Kedua Jenis Usaha ...................................................... Halaman 3 4 4 14

51 52 63 72 74 75 76 77 78 81 83 84 85 86 87

89 90 91

DAFTAR GAMBAR Nomor 1 2 3 4 5 6 Halaman 17 40 59 59 66 67

Diagram Alir Pembuatan Kerupuk Rambak ........................ Kerangka Pemikiran Operasional ....................................... Saluran Pemasaran Kerupuk Rambak Saluran I .................. Saluran Pemasaran Kerupuk Rambak Saluran II ................. Diagram Alir Pembuatan Kerupuk Rambak di Pegandon .... Pembagian Produksi Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak ..............................................................................

DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1 Populasi Kerbau dan Sapi Di Jawa Tengah ......................... 2 Cash Flow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi ................................ 3 Proyeksi Laba Rugi Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi .................. 4 Cash Flow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau ............................ 5 Proyeksi Laba Rugi Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau .............. 6 Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Penurunan Penjualan Kemasan Kecil ................................................... 7 Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Penurunan Penjualan Kemasan Besar .................................................... 8 Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Penurunan Penjualan Kedua Kemasan Serentak ................................... 9 Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Kenaikan Harga Kulit Sapi Basah ................................................................. 10 Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Kenaikan Harga Lemak ................. 11 Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Penurunan Penjualan Kemasan Kecil ................................................... 12 Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Penurunan Penjualan Kemasan Besar ................................................... 13 Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Penurunan Penjualan Kedua Kemasan Serentak ................................... 14 Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Kenaikan Harga Kulit Kerbau Basah ............................................................ 15 Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Kenaikan Harga Lemak ...................................................................... Halaman 97 99 101 102 104

105

107

109

111 113

115

117

119

121

123

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perekonomian merupakan sektor yang sangat penting dan menjadi salah satu fokus pemerintah dalam membuat berbagai kebijakan untuk mencapai kesejahteraan. Pembangunan pada hakikatnya adalah proses perubahan yang terus menerus yang menuju ke arah perbaikan cita-cita yang ingin dicapai oleh suatu bangsa, atau pembangunan ekonomi suatu bangsa ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat1. Bagi Indonesia, tujuan pembangunan adalah tercapainya masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual. Sejak awal tahun 1970, fokus pembangunan perekonomian negara Indonesia adalah usaha besar dan modern. Pada masa itu, Indonesia mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat dari sektor industri besar. Pada saat krisis moneter yang menerpa perekonomian Indonesia pada tahun 1997, hampir 80 persen usaha besar mengalami kebangkrutan dan melakukan PHK massal terhadap karyawannya2. Kemiskinan dan pengangguran meningkat karena usaha besar banyak yang mengalami kebangkrutan sehingga harus mengurangi karyawan bahkan harus menutup perusahaannya. Namun, UKM (Usaha Kecil dan Menengah) mampu bertahan pada masa krisis ini. UKM merupakan usaha yang memiliki kemandirian dan tidak terlalu bergantung dengan pemerintah. UKM juga berperan besar dalam mengurangi angka pengangguran, bahkan fenomena PHK menjadikan para pekerja beralih melirik sektor UKM ini. Produk-produk UKM bahkan memiliki kemampuan menembus pasar

internasional sehingga memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi dan pendapatan nasional. Berdasarkan Undang-Undang No. 25 tahun 2000, ditetapkan

pengembangan industri nasional lebih diarahkan pada pengembangan usaha industri kecil melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif. Disamping itu,

1 2

. Kamaludin, Rustian. Analisis Kelayakan Investasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah dalam www.jatim.go.id [20 November 2008] Budi, Ariyo. UKM : Benteng Ekonomi Indonesia, antara Dilema dan Relita dalam www.brotherfatih.multiply.com/journal [20 November 2008]

pengembangan industri lebih diarahkan pada usaha kecil karena dengan modal yang tidak terlalu besar, usaha ini masih bisa berproduksi. Usaha kecil juga dinilai memiliki kinerja yang cenderung lebih baik dalam menghasilkan tenaga kerja produktif. Usaha kecil mampu meningkatkan produktivitas melalui investasi dan perubahan teknologi serta memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan usaha berskala besar (Brata 2003, diacu dalam Widyastuti 2008). Fakta tersebut tidak mengherankan karena usaha kecil dan menengah dengan jiwa wirausaha mampu bertahan, berkembang, dan tumbuh di masa sulit dengan mengandalkan sumberdaya yang terbatas. Sektor UKM merupakan sektor yang penting untuk diberdayakan. Terdapat beberapa indikator yang menjelaskan pentingnya pemberdayaan UKM yaitu pertama UMKM/K merupakan basis usaha yang mampu bertahan dari badai krisis ekonomi 1997. Kedua, sektor UMKM/K sangat potensial menyerap tenaga kerja. Ketiga, UMKM/K berperan memberi kontribusi dalam struktur perekonomian nasional.3 Usaha Kecil Menengah (UKM ) memberikan kontribusi Rp 2.121,3 triliun atau 53,6 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2007 yang mencapai Rp 3.957,4 triliun. Jumlah populasi UKM pada 2007 mencapai 49,8 juta unit usaha atau 99,99 persen terhadap total unit usaha di Indonesia. Sementara jumlah tenaga kerjanya mencapai 91,8 juta orang atau 97,3 persen terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia (BPS 2008) Sumbangan pertumbuhan PDB UKM lebih tinggi dibandingkan dengan sumbangan pertumbuhan dari usaha besar. Pada tahun 2000 dari 4,9 persen pertumbuhan PDB nasional secara total, 2,8 persennya berasal dari pertumbuhan UKM. Kemudian, di tahun 2003 dari 4,1 persen pertumbuhan PDB nasional secara total, 2,4 persen diantaranya berasal dari pertumbuhan UKM. Pada tahun 2007, pertumbuhan PDB Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mencapai 6,4 persen dan Usaha Besar (UB) tumbuh sebesar 6,2 persen. Pertumbuhan PDB tahun 2007 ini lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2006. Pada tahun 2006, pertumbuhan PDB UKM sebesar 5,7 persen, dan PDB UB sebesar 5,2 persen (BPS 2008).
3

. Edward, Deddy. Pemberdayaan UMKM/K dan Sektor Riil dalam www.usaha-umkm.blog.com [20 November 2008]

Tabel 1. Laju Pertumbuhan PDB UKM 2005-2007 (Persen) Skala Usaha 2005 2006* Usaha Kecil 5,82 5,50 Usaha Menengah 6,25 6,27 Usaha Kecil dan Menengah 5,95 5,73 Usaha Besar 5,37 5,23 Total 5,69 5,51
Keterangan : * angka sementara ** angka sangat sementara Sumber : Berita Resmi Statistik [2008]

2007** 6,18 6,84 6,38 6,24 6,23

Dari Tabel 1 diketahui laju pertumbuhan PDB UKM. Pada tahun 2005 laju pertumbuhan UKM sebesar 5,95 persen. Laju pertumbuhan PDB UKM ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yaitu 5,23 persen pada tahun 2006 dan meningkat lagi pada tahun 2007 sebesar 6,38. Nilai laju pertumbuhan UKM juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan usaha besar. Kabupaten Kendal merupakan salah satu daerah yang memberdayakan UKM sebagai salah satu komponen dalam pembangunan daerah. Kondisi perekonomian Kabupaten Kendal tahun 2007 ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,28 persen, lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2006 yaitu sebesar 3,66 persen. Sektor industri pengolahan yang sebagian besar berupa usaha kecil dan menengah dan termasuk di dalamnya adalah industri makanan dan minuman masih merupakan sektor yang menjadi andalan terbesar di Kabupaten Kendal (BPS Kabupaten Kendal 2007). Hal ini ditandai dengan sumbangannya terhadap total PDRB Kabupaten Kendal yang berkisar di atas 35 persen, merupakan yang paling tinggi jika dibandingkan dengan sektor lain. Tabel 2 menunjukkan struktur ekonomi Kabupaten Kendal.

Tabel 2. Struktur Ekonomi Kabupaten Kendal Atas Harga Berlaku tahun 20032007 (persen) Lapangan Usaha 2003 2004 2005 2006 2007 1. Pertanian 23,03 23,92 23,40 24,88 25,05 2. Pertambangan dan 1,00 1,00 1,05 1,11 1,11 penggalian 3. Industri pengolahan 38,46 37,52 37,59 35,57 35,48 4. Listrik, gas dan air minum 1,57 1,38 1,48 1,55 1,71 5. Bangunan 4,06 3,83 3,72 3,92 3,63 6. Perdagangan, hotel dan 17,72 17,68 17,69 17,23 17,33 restoran 7. Pengangkutan dan 2,78 2,72 2,88 3,26 3,27 komunikasi 8. Keuangan, persewaan dan 2,56 2,70 2,77 2,81 2,85 jasa perusahaan 9. Jasa-jasa 8,82 9,25 9,41 9,67 9,58 Produk Domestik Regional 100 100 100 100 100 Bruto (PDRB)
Sumber : BPS Kabupaten Kendal [2007]

Tingginya kontribusi sektor pengolahan termasuk industri makanan dan minuman membuat Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal mendorong

pertumbuhan industri makanan dan minuman di wilayah tersebut. Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal bahkan telah menetapkan daerah-daerah di wilayah administratifnya untuk dikembangkan sebagai penghasil produk makanan kecil. Tabel 3. Daerah Pengembangan dan Jenis Produk Lokasi Produk Kec. Kaliwungu - Momoh Jerohan - Kerupuk Mie Kec. Cepiring Kec. Kendal - Terasi - Bandeng Presto - Kerupuk Petis - Rangin / Rengginan - Kripik Paru - Kripik Tempe - Gula Aren - Dawet Gempol - Krupuk Rambak

Kec. Sukorejo Kec. Limbangan Kec. Weleri Kec. Pegandon

Sumber : www.kabupaten-kendal.go.id [2007]

Salah satu jenis produk yang dikembangkan di Kabupaten Kendal adalah kerupuk rambak. Kerupuk rambak merupakan salah satu jenis makanan yang

terbuat dari bahan baku kulit kerbau atau dari kulit sapi. Usaha pengolahan kerupuk rambak merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan nilai tambah bagi komoditi kerbau dan sapi. Hal ini dibuktikan bahwa kerupuk rambak memiliki nilai jual yang tinggi yaitu sebesar Rp 60.000,00 untuk kemasan 500 gram dan Rp 30.000,00 untuk kemasan 250 gram. Hal ini merupakan suatu peluang usaha yang baik karena proses produksi kerupuk rambak relatif mudah dilakukan. Selama ini pemanfaatan utama ternak besar seperti sapi potong dan kerbau hanya terbatas pada dagingnya saja sementara untuk bagian tubuh yang lain memiliki nilai jual yang relatif rendah. Berdasarkan data Dinas Peternakan Jawa Tengah tahun 2006, populasi kerbau di Kabupaten Kendal pada tahun 2006 sebesar 4.841 ekor dan populasi sapi potong pada tahun 2006 sebesar 16.547 ekor. Dari Lampiran 1 diketahui bahwa terjadi peningkatan populasi kerbau dan populasi sapi di Kabupaten Kendal dari tahun ke tahun. Walaupun peningkatan populasi kerbau dan sapi tidak terlalu besar, namun kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi dari kota lain seperti Demak dan Pekalongan. Hal ini merupakan suatu peluang bagi pertumbuhan industri kerupuk rambak di Kabupaten Kendal. Pembukaan usaha kerupuk rambak ini juga dapat menyerap tenaga kerja di sekitar usaha sehingga dapat mendorong peningkatan pendapatan masyarakat yang selanjutnya akan meningkatkan perekonomian daerah di Kabupaten Kendal. Kecamatan Pegandon merupakan daerah sentra pengembangan produk kerupuk rambak Kabupaten Kendal. Pengusahaan kerupuk rambak di Pegandon ini sudah dilakukan cukup lama. Pada umumnya, perusahaan yang ada di Pegandon menggunakan bahan baku kulit sapi untuk proses produksi kerupuk rambak. Namun, pada tahun 2005 ada perusahaan baru yang masuk ke dalam industri. Perusahaan ini memiliki perbedaan dengan usaha yang telah berjalan. Perusahaan baru menggunakan bahan baku kulit kerbau sebagai input produksinya. Dasar pemikiran penggunaan bahan baku kulit kerbau adalah bahan baku kulit kerbau memiliki daya mengembang yang lebih baik ketika digoreng. Sementara, para produsen yang telah lama mengusahakan kerupuk rambak memilih bahan baku kulit sapi karena harga bahan baku kulit sapi yang relatif

lebih murah bila dibandingkan dengan kulit kerbau. Harga bahan baku kulit sapi yaitu sebesar Rp 12.000,00 per kilogram sedangkan bahan baku kulit kerbau memiliki harga sebesar Rp 17.000,00 per kilogram. Produk kerupuk rambak yang terbuat dari kulit sapi dan kulit kerbau penilaian yang sama dari konsumen dan kedua jenis produk ini juga memiliki harga yang sama. Sehingga penggunaan bahan baku kerbau akan mempengaruhi kelayakan usaha pembuatan kerupuk rambak. 1.2. Perumusan Masalah Kabupaten Kendal merupakan salah satu kabupaten yang memberdayakan UKM sebagai salah satu komponen dalam pembangunan ekonomi daerah. Pemda Kabupaten Kendal terus mendukung tumbuhnya industri-industri baru terutama industri kecil dan menengah dan juga mendukung perkembangan UKM yang telah berdiri cukup lama untuk terus mengembangkan usahanya. Tabel 3 menunjukkan bahwa salah satu jenis produk yang dikembangkan usahanya di Kabupaten Kendal adalah kerupuk rambak dengan sentra produksi di Pegandon. Kerupuk rambak ini merupakan kerupuk yang terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi. Pemanfaatan kerbau dan sapi potong ini selama ini difokuskan pada dagingnya saja sementara untuk bagian limbahnya seperti kulit kurang dioptimalkan dan memiliki nilai jual yang murah. Dengan adanya usaha pengolahan kulit sapi dan kerbau menjadi kerupuk diharapkan akan meningkatkan nilai tambah dari kulit sapi dan kulit kerbau. Kecamatan Pegandon merupakan sentra pembuatan kerupuk rambak di Kabupaten Kendal. Setidaknya telah ada empat pengusaha yang menggeluti usaha pembuatan kerupuk rambak. Jumlah permintaan kerupuk rambak saat ini mencapai 1500 kilogram sampai 1800 kilogram per bulan. Sedangkan hasil produksi industri hanya sebesar 1000 kilogram sampai 1100 kilogram per bulan. Permintaan ini akan melonjak ketika liburan kenaikan kelas dan Hari Raya Lebaran. Jumlah permintaan kerupuk rambak pada kedua waktu tersebut dapat mencapai 3000 kilogram sampai 3500 kilogram. Jumlah permintaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil produksi membuat usaha sering mengalami over demand terutama pada saat-saat dimana

permintaan

melonjak

tajam

yaitu

pada

saat

liburan

dan

hari

raya.

Ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran ini merupakan indikasi bahwa masih ada pangsa pasar yang dapat diraih oleh pelaku usaha baru. Namun, usaha pembuatan kerupuk rambak ini kurang menarik para pelaku usaha. Hal ini terbukti sejak tahun 1990 hingga saat ini hanya ada empat perusahaan yang menggeluti usaha pembuatan kerupuk rambak secara komersial. Masyarakat menganggap usaha kerupuk rambak sebagai usaha tradisional yang tidak menghasilkan keuntungan. Anggapan masyarakat ini juga dipertegas dengan kondisi tidak adanya pengembangan usaha dari para pengusaha kerupuk rambak. Dengan demikian analisis kelayakan usaha pembuatan kerupuk rambak menjadi penting untuk dilakukan. Tujuan kelayakan usaha adalah untuk menilai apakah usaha pembuatan kerupuk rambak ini layak untuk diusahakan dan dapat mendatangkan keuntungan bagi pelaku usaha. Jika usaha layak maka pemerintah dapat merekomendasikan usaha kerupuk rambak ini kepada para pelaku usaha baru untuk mendirikan usaha maupun kepada pengusaha untuk mengembangkan usahanya. Usaha kerupuk rambak ini dipengaruhi oleh harga kulit sapi atau kulit kerbau sebagai bahan baku utama. Harga kulit kerbau relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan kulit sapi. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis bagaimana pengaruh penggunaan bahan baku kulit kerbau sebagai input produksi kerupuk rambak terhadap kelayakan usaha. Hal ini dikarenakan dengan menggunakan bahan baku yang lebih mahal maka harga pokok penjualan yang didapat akan lebih tinggi. Produk kerupuk rambak dijual pada tingkat harga yang sama sehingga akan mengurangi tingkat keuntungan yang diperoleh oleh pengusaha yang menggunakan bahan baku kulit kerbau. Untuk menilai kelayakan diperlukan penilaian terhadap aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial, ekonomi dan lingkungan serta aspek finansial. Penilaian terhadap aspek pasar dilakukan untuk mengetahui potensi pasar akan kerupuk rambak. Penilaian terhadap aspek teknis diperlukan untuk mengkaji proses pengolahan, penerapan teknologi serta ketersediaan bahan baku. Sedangkan penilaian terhadap aspek manajemen diperlukan untuk mengkaji seberapa jauh usaha pembuatan kerupuk rambak dapat dikelola. Penilaian aspek

sosial dan lingkungan diperlukan untuk mengkaji peningkatan pendapatan pengusaha, perluasan kesempatan kerja serta dampak limbah usaha terhadap lingkungan sekitar. Secara finansial perlu dikaji apakah usaha layak dilaksanakan dan menguntungkan karena untuk mendirikan usaha pembuatan kerupuk rambak diperlukan investasi yang cukup besar. Dari uraian diatas, dapat dirumuskan permasalahan yang menjadi topik penelitian ini, adalah: 1. Bagaimana kelayakan usaha pembuatan kerupuk rambak dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum dan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan? 2. Bagaimana kelayakan finansial usaha pembuatan kerupuk rambak dengan bahan baku kulit sapi dan bahan baku kulit kerbau? 3. Bagaimana kepekaan usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi dan kulit kerbau terjadi perubahan pada faktor yang dapat mempengaruhi manfaat dan biaya? 4. Bagaimana perbandingan kelayakan finansial usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit sapi dan usaha pembuatan kerupuk rambak yang berasal dari kulit kerbau? 1.3 Tujuan Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengidentifikasi kelayakan usaha pembuatan kerupuk rambak dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum dan aspek sosial ekonomi dan lingkungan. 2. Menganalisis kelayakan finansial usaha pembuatan kerupuk rambak dengan bahan baku kulit sapi dan bahan baku kulit kerbau. 3. Menganalisis kepekaan usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi dan kulit kerbau apabila terjadi perubahan pada faktor yang dapat mempengaruhi manfaat dan biaya. 4. Membandingkan kelayakan finansial usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit sapi dan usaha pembuatan kerupuk rambak yang berasal dari kulit kerbau.

1.4 Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan : 1. Pemilik perusahaan, dengan penelitian ini pemilik usaha mengetahui kelayakan usaha kerupuk rambak dan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan demi keberlangsungan usahanya. 2. Penulis, penelitian ini merupakan salah satu sarana bagi perusahaan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah. 3. Bagi pemerintah, penelitian ini merupakan salah satu referensi untuk mengetahui kelayakan usaha kerupuk rambak. 4. Pembaca, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca, dan dapat dijadikan acuan atau perbandingan dalam melakukan studi lanjutan, khususnya di bidang studi kelayakan bisnis. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis usaha pembuatan kerupuk rambak yang ada di Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal. Usaha yang

dianalisis adalah usaha yang telah memiliki merek pada produk perusahaan dan berproduksi secara kontinu. Pembahasan penelitian ini hanya mencakup aspekaspek yang dianalisis dan yang terjadi di Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Usaha Kecil dan Menengah Sampai saat ini belum ada definisi maupun kriteria baku mengenai UKM. Masing-masing institusi atau lembaga pemerintah mempunyai kriteria berbeda terhadap UKM di Indonesia. Menurut Departemen Perindustrian RI pada tahun 1991 definisi dari industri kecil dan kerajinan adalah kelompok perusahaan yang dimiliki penduduk Indonesia dengan jumlah aset kurang dari Rp 600 juta diluar nilai tanah dan bangunan yang digunakannya. Kriteria usaha kecil yang tercantum pada pasal 5 Bab III Undang-Undang Nomor 9 tahun 1995 adalah : 1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha), atau 2. 3. 4. Memiliki hasil penjualan paling banyak Rp 1 milyar per tahun. Dimiliki oleh Warga Negara Indonesia. Berdiri sendiri bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai dan berafiliasi baik langsung, maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau besar, dan 5. Berbentuk usaha orang perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum termasuk koperasi. Definisi usaha kecil menurut Bank Indonesia mengacu pada definisi yang sesuai dengan UU No.9 tahun 1995 karena kriteria usaha kecil dan menengah dalam peraturan Bank Indonesia yang berkaitan dengan pemberian Kredit Usaha Kecil (PBI No.3/2/PBI/2001) merujuk pada UU tersebut. Depperindag menuangkan definisi industri skala kecil menengah dalam Keputusan Menperindag (Kepmenperindag) No. 257/MPP/Kep/1997 sebagai suatu usaha dengan nilai investasi maksimal Rp 5 miliar termasuk tanah dan bangunan (www.depperindag.go.id). Sedangkan BPS (2004) membagi jenis UKM berdasarkan jumlah tenaga kerja, yaitu: 1. Kerajinan rumah tangga, dengan jumlah tenaga kerja di bawah 3 orang termasuk tenaga kerja yang tidak dibayar

2. 3.

Usaha kecil, dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 5-9 orang Usaha menengah, dengan jumlah tenaga kerja 20-99 orang. Pada tingkat internasional, UKM didefinisikan olah World Bank yang

membagi UKM ke dalam tiga jenis, yaitu: 1. Medium enterprise, dengan kriteria: a. Jumlah karyawan maksimal 300 orang b. Pendapatan setahun hingga sejumlah $15 juta, dan c. Jumlah aset hingga $15 juta 2. Small enterprise, dengan kriteria: a. Jumlah karyawan kurang dari 30 orang b. Pendapatan setahun tidak melebihi $ 3 juta, dan c. Jumlah asset tidak melebihi $3 juta 3. Micro commission, dengan kriteria: a. Jumlah karyawan kurang dari 10 orang b. Pendapatan setahun tidak melebihi $100 ribu, dan c. Jumlah asset tidak melebihi $ 100 ribu UKM memiliki kekuatan dan kelemahan dalam menjalankan usahanya. Sebagian dari kelebihan yang dapat menjadi kekuatannya adalah kemampuan bertahan hidup yang tinggi, kemampuan menggunakan pasokan secara efisien, motivasi pengusaha yang sangat kuat untuk mempertahankan usahanya, permintaan pangsa pasar yang dimasuki sangat tinggi, pandai memanfaatkan pasokan produksi yang murah secara efisien untuk menghasilkan produk dan jasa yang murah bagi konsumen, serta kemampuan adaptasi yang tinggi dalam menghadapi perubahan situasi dalam lingkungan usahanya. Sedangkan segi negatif dalam UKM yang dapat menjadi penghambatnya adalah kelenturan untuk berganti-ganti bidang usaha dan rekayasa tatanan sistem perekonomian bebas internasional sehingga tidak mampu bersaing dengan usaha swasta besar baik domestik maupun asing (Lamadlauw 2006, diacu dalam Widyastuti 2008). 2.2 Perusahaan Perorangan Usaha perorangan merupakan bentuk badan usaha perorangan yang dimiliki seseorang dan bertanggung jawab secara penuh terhadap semua risiko dan kegiatan perusahaan. Di samping itu tidak perlu ijin untuk pendiriannya.

Tidak terdapat kategori khusus tentang bentuk perusahaan ini, sehingga tidak ada pemisahan hukum antara kepentingan pribadi dengan kepentingan perusahaan. Semua urusan perusahaan menjadi satu dengan urusan pribadi dari

kepemilikannya. Setiap bentuk usaha memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Beberapa keunggulan usaha perorangan yaitu: 1. Seluruh laba menjadi miliknya Bentuk usaha ini memungkinkan pemilik menerima seluruh laba yang dihasilkan oleh perusahaan. 2. Kepuasan pribadi Prinsip satu pimpinan merupakan alasan yang paling baik untuk mengambil keputusan dalam pendirian usaha perorangan. Jika usahanya berhasil, insentif yang diterima akan lebih besar sehingga pemilik akan merasa puas. 3. Kebebasan dan fleksibilitas Pemilik usaha perorangan tidak perlu berkonsultasi dengan orang lain untuk mengambil keputusan. Maka pemilik, juga sebagai pimpinan dapat mengambil keputusan dengan cepat dalam kesempatan yang pendek. 4. Lebih mudah mendapatkan kredit Karena tanggung jawabnya tidak terbatas pada modal saja, tetapi juga kekayaan pribadi dari pemilik, maka risiko kreditnya lebih kecil. 5. Sifat kerahasiaan Dalam usaha perorangan ini tidak perlu dibuat laporan keuangan atau informasi yang berhubungan dengan masalah keuangan perusahaan. Dengan demikian masalah tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh pesaing. Adapun kelemahan usaha perorangan antara lain: 1. Tanggung jawab pemilik tidak terbatas Artinya kekayaan pribadinya termasuk sebagai jaminan terhadap seluruh utang perusahaan. 2. Sumber keuangan terbatas Karena pemilik hanya satu orang, maka usaha-usaha yang dilakukan untuk memperoleh sumber dana hanya bergantung pada kemampuannya. 3. Kesulitan dalam manajemen

Semua kegiatan seperti pembelian, penjualan, pembelanjaan, pencarian kredit, pengaturan karyawan dan sebagainya, dipegang oleh seorang pimpinan. Hal ini lebih sulit dibandingkan manajemen yang dipegang oleh beberapa orang. 4. 5. Kelangsungan usaha kurang terjamin Kematian pimpinan atau pemilik, bangkrut atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan usaha perorangan ini berhenti kegiatanya. 6. Kurang memberi kesempatan pada karyawan Karyawan yang bekerja pada perusahaan ini akan tetap menduduki posisinya dalam jangka waktu yang relatif lama. 2.3 Kerupuk Bank Indonesia (2005) mendefinisikan kerupuk sebagai bahan kering berupa lempengan tipis yang terbuat dari adonan yang bahan utamanya pati. Kerupuk merupakan salah satu makanan khas Indonesia. Kerupuk biasa dikonsumsi sebagai makanan kecil, makanan selingan ataupun lauk pauk walaupun dalam jumlah yang sedikit. Kerupuk dikenal oleh semua usia maupun tingkat sosial masyarakat. Kerupuk mudah diperoleh di berbagai tempat baik di warung, supermarket maupun restoran. Kerupuk dapat dibedakan berdasarkan bahan baku dan cara pengolahannya. Berdasarkan bahan bakunya kerupuk dapat dibagi menjadi kerupuk udang, kerupuk ikan, kerupuk bawang dan jenis kerupuk lainnya sesuai dengan bahan dasar pembuatannya. Menurut cara pengolahannya kerupuk dikelompokkan atas kerupuk yang digoreng dan kerupuk yang dipanggang atau dibakar (Firmansyah 2007). Selain itu, kerupuk dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu kerupuk yang bersumber protein baik protein nabati atau hewani dan kerupuk yang tidak bersumber dari protein. (Sofiah 1995, diacu dalam Firmansyah 2007). Perbedaan macam dan kadar protein menciptakan berbagai macam kerupuk yang dapat mempengaruhi mutu dan nilai ekonomisnya. Oleh sebab itu, SII mensyaratkan kerupuk yang bersumber dari protein harus mengandung protein minimal 5 persen. Kualitas atau mutu kerupuk dapat dilihat dari keutuhan, keseragaman, pencetakan dan daya mengembang, dan sifat-sifat yang tidak dapat dilihat seperti

nilai gizi dan rasa. Standar mutu kerupuk di Indonesia didasarkan atas standar mutu yang dikeluarkan oleh Departemen Industri dan Perdagangan tahun 1990. Penilaian kerupuk secara non visual dapat dilihat dari kandungan dan nutrisi bahan-bahan dasar yang dipakai dalam produksi. Tabel 4 menunjukkan nilai gizi beberapa jenis kerupuk. Penilaian secara visual dapat dilihat setelah kerupuk digoreng. Bila setelah digoreng kerupuk mengembang dengan sempurna dan teksturnya tidak keras maka bisa dikategorikan memiliki kualitas yang baik. Kerupuk dapat mengembang dengan sempurna jika melalui proses penjemuran yang tepat. Tabel 4. Kandungan Nilai Gizi Beberapa Jenis Kerupuk per 100 Gram Kerupuk Kerupuk Kerupuk Komposisi Jamur Bawang Ikan Protein (gr) 1,5 1 1 Lemak (gr) 0,1 0,2 0,2 Karbohidrat (gr) 84,5 90 86 Serat (gr) 0,9 2,4 2,4 Kalori (gr) 362 295 350
Sumber: Wahyono 1996, diacu dalam Firmansyah 2007

2.4 Kulit 2.4.1 Pengertian Kulit Kulit mentah adalah segala macam bentuk kulit yang berasal dari hewan baik yang diternakkan maupun hewan liar (Purnomo 1985, diacu dalam Daniar 2008). Kulit mentah juga didefinisikan sebagai kulit hewan yang baru saja ditanggalkan maupun yang sudah mengalami pengawetan (Suwarasatuti 1992, diacu dalam Daniar 2008). Kulit yang belum diolah disebut kulit mentah yang dibedakan menjadi dua kelompok yaitu kulit yang berasal dari hewan besar seperti sapi, kerbau dan hewan kecil misalnya kambing, domba, kelinci yang dalam bahasa asing disebut skin. Kerusakan-kerusakan yang mempengaruhi kualitas kulit mentah dapat diklasifikasikan dalam dua golongan yaitu kerusakan yang tinggi pada hewan hidup seperti parasit, umur tua dan sebab mekanik (kerusakan morter) serta kerusakan yang terjadi pada waktu pengulitan, pengawetan, penyimpanan dan transportasi (Mann 1981, diacu dalam Daniar 2008). Kulit yang masih segar mudah rusak bila terkena bahan-bahan kimia seperti asam kuat, basa kuat atau

mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan lain-lain. Hal ini disebabkan oleh kandungan air, lemak, mineral serta protein pada kulit segar tersebut (Purnomo 1985, diacu dalam Daniar 2008). Kulit merupakan hasil ternak yang cukup penting, kulit tubuh hewan digunakan untuk bahan dasar industri kulit, sedangkan kulit bagian kepala, leher, ekor, serta kulit yang cacat dapat digunakan dalam industri biasanya diolah untuk dibuat lem atau gelatin ataupun untuk dibuat rambak. 2.4.2 Histologi Kulit Kulit hewan mamalia, secara histologi mempunyai struktur yang sama yaitu terdiri dari tiga lapisan yang jelas dalam struktur maupun asalnya. Ketiga lapisan tersebut adalah epidermis, corium (derma), dan hipodermis yang dikenal pula sebagai lapisan daging atau tenunan lemak (Judoamidjojo 1984, diacu dalam Daniar 2008). Lapisan epidermis adalah lapisan paling luar dari kulit, terdiri dari lapisan epitel yang dapat berkembang dengan sendirinya (Mann 1981, diacu dalam Daniar 2008). Lapisan corium merupakan bagian pokok tenunan kulit yang diubah menjadi kulit samak. Lapisan hipodermis adalah jaringan tenunan pengikat longgar yang terdiri dari serabut kolagen dan elastin yang umumnya disebut lapisan daging. Kulit hewan merupakan suatu organ tubuh yang cukup berat, yaitu antara 7-10 persen dari berat badan (Ningsih 1991, diacu dalam Daniar 2008). 2.4.3 Kulit sebagai Bahan Makanan Kulit ternak selain sebagai bahan baku yang penting dalam industri, juga telah dimanfaatkan oleh penduduk Jawa Tengah atau Jawa Timur yang umumnya untuk dibuat makanan yang cukup populer yaitu rambak dan kerupuk rambak. Makanan yang berasal dari kulit ternak ini ternyata dibuat pula oleh penduduk negara tetangga yaitu Thailand dan Filipina. Di negara-negara tersebut bahan makanan yang dibuat dari kulit ini dikenal dengan nama Nung Pong atau Fried Skin (Suwarastuti 1992, diacu dalam Daniar 2008). Umumnya pengolahan hasil ternak merupakan industri rumah tangga. Rambak yang dipasarkan ada dua macam yaitu yang digunakan untuk sayur atau dicampur dalam masakan dan yang langsung dimakan berupa kerupuk.

2.5 Kerupuk Rambak 2.5.1 Bahan Baku Pembuatan Rambak Rambak yang dibuat dari kulit hewan, dapat berupa kulit sapi, kerbau, kambing atau babi baik yang masih segar maupun yang sudah diawetkan. Pada umumnya kulit yang dibuat rambak adalah kulit kering, meskipun kadang-kadang juga digunakan kulit segar, tetapi jumlahnya terbatas. Kebanyakan kulit segar yang baik kualitasnya diawetkan untuk bahan industri penyamakan. Kulit yang digunakan untuk krecek atau rambak adalah kulit yang sudah tidak dapat digunakan atau sisa-sisa misalnya potongan-potongan kulit bagian tepi. Kulit kerbau segar yang digunakan sebagai bahan baku kerupuk rambak menghasilkan pengembangan yang lebih baik. Warna kerupuk yang dihasilkan relatif lebih putih dan rasa kerupuk lebih enak, terutama kulit kerbau jantan. Rambak yang berasal dari kulit kerbau lebih disukai oleh konsumen dan memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan rambak yang berasal dari kulit sapi, kambing maupun babi (Ningsih 1991 diacu dalam Daniar 2008). 2.5.2 Proses Pembuatan Rambak Proses pembuatan rambak baik rambak sayur maupun kerupuk rambak pada prinsipnya hampir sama yaitu perendaman, proses pengolahan meliputi pencucian, pengempukan, pengirisan, pemberian bumbu, penjemuran,

pengungkepan, penggorengan dan proses pembungkusan. Pembuatan kerupuk rambak dapat dibagi menjadi beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut yaitu pencucian dan penghilangan sisa-sisa lemak atau daging yang masih menempel, perendaman dalam air hangat atau pembakaran kulit, pengerokan bulu, pengempukan dengan jalan direbus dalam air panas suhu 90-100C selama 50 menit, pengirisan ( diperet ), penjemuran tahap I, pengguntingan (pengirisan) sesuai dengan keinginan konsumen, penjemuran tahap II, pemberian bumbu, pengungkepan dengan menggunakan lemak, penjemuran III dan penggorengan (Ningsih 1991, diacu dalam Daniar, 2008). Adapun secara ringkasnya terdapat dalam bagan di bawah ini:

Pencucian kulit basah Penghilangan lemak dan daging Perendaman atau pembakaran kulit Pengerokan bulu Direbus dengan air panas 90-100C Pengirisan kulit Penjemuran tahap I Pengirisan (pengguntingan)

Penjemuran tahap II Pemberian bumbu Pengungkepan Penjemuran tahap III Penggorengan

Gambar 1. Diagram Alir Pembuatan Kerupuk Rambak 2.6 Penelitian Terdahulu 2.6.1 Penelitian Tentang Analisis Kelayakan Penelitian tentang kelayakan usaha dilakukan oleh Maulana (2008) dengan judul skripsi Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Bandeng Isi pada BANISI di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat . Hasil penelitian yang dilakukan yakni hasil kelayakan non finansial yaitu aspek pasar, bahan baku,

manajemen, hukum, sosial ekonomi dan lingkungan, usaha pembuatan bandeng isi yang dijalankan oleh BANISI layak untuk dilaksanakan, karena tidak ada faktor yang menghambat kegiatan produksi BANISI dari tiap-tiap aspek. Hasil aspek finansial dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga skenario. Skenario I (tanpa penambahan alat) dengan nilai NPV Rp 13.646.116; Net B/C rasio 1,2994; IRR 15 persen dan payback period 7 tahun 7 bulan. Selanjutnya yaitu skenario II (penambahan bahan baku dan alat produksi) dengan nilai NPV Rp 213.884.273; Net B/C rasio 5,4296; IRR 91 persen dan Payback Period dua tahun satu bulan. Sedangkan yang terakhir adalah skenario dengan nilai NPV Rp 527.334.772. Skenario III (bahan baku langsung dari produsen) dinilai tidak layak karena nilai NPV yang negatif sehingga kriteria kelayakan lainnya dianggap tidak layak. Hasil analisis finansial menunjukkan pengusahaan pembuatan bandeng isi yang dilakukan pada tiga skenario tidak semuanya dapat menghasilkan keuntungan. Hanya dua dari tiga skenario yang telah dirancang layak untuk diusahakan yaitu skenario I dan II, sedangkan skenario III tidak layak untuk dijalankan jika dilihat dari aspek finansialnya. Dari kedua skenario yang layak, skenario II merupakan skenario yang paling layak untuk dijalankan. Hasil analisis switching value menunjukkan skenario I yaitu usaha pembuatan bandeng isi saat ini dijalankan adalah jenis usaha yang paling sensitif terhadap perubahan baik penurunan harga jual, kenaikan harga bandeng, maupun penurunan tingkat penjualan. Penurunan harga dan penurunan produksi adalah hal yang paling berpengaruh terhadap kelangsungan usaha pembuatan bandeng isi pada skenario I dan II dibandingkan faktor kenaikan harga bandeng. Untuk skenario III kenaikan harga jual merupakan faktor yang paling berpengaruh agar pembuatan bandeng isi ini layak untuk dijalankan dibandingkan dengan penurunan harga bandeng dan kenaikan tingkat penjualan. Putera (2006) melakukan penelitian tentang evaluasi kelayakan usaha pada restoran Mie Kondang, Jakarta Selatan. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa keragaan aspek non finansial pada Restoran Mie Kondang, dilihat dari aspek pasar, aspek teknis dan produksi, aspek hukum dan aspek manajerial sudah baik untuk menunjang kinerja restoran. Hal ini ditunjukkan oleh bauran

pemasaran yang dilakukan oleh restoran sudah cukup baik, kemudahan teknologi yang digunakan oleh restoran tepat guna dan sesuai dengan kebutuhan, aspek hukum yang mendukung usaha restoran yaitu berupa izin usaha dari pemerintah, dan struktur manajerial yang ringkas sehingga memudahkan koordinasi antar bagian organisasi. Dari hasil analisis secara finansial Restoran Mie Kondang layak untuk dilaksanakan. Analisis kriteria kelayakan dilihat dari NPV, IRR, Net B/C dan payback period. Perhitungan menggunakan tingkat diskonto sebesar 11,98 persen dan diperoleh hasil sebagai berikut nilai NPV sebesar Rp 118.810.854,4; nilai Net B/C sebesar 1,427, nilai IRR sebesar 18,5 persen, serta payback period selama 3 tahun 5 bulan 25 hari. Hasil switching value menunjukkan bahwa Restoran Mie Kondang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perubahan nilai penjualan produk makanan dan terhadap perubahan biaya bahan baku. Penurunan nilai penjualan produk makanan yang melebihi 5,43 persen atau kenaikan biaya bahan baku melebihi 5,43 persen akan menyebabkan usaha yang dilakukan oleh Restoran Mie Kondang menjadi tidak layak untuk dilaksanakan. Dananjoyo (2006) dalam skripsi berjudul Analisis Kelayakan Finansial Usaha Tempe (Studi Kasus di Kota Bogor Provinsi Jawa Barat) juga melakukan penelitian tentang analisis kelayakan finansial. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kelayakan finansial usaha pengrajin tempe biasa dan pengrajin tempa malang, dan menganalisis sensitivitas usaha tempe jika terjadi perubahan pada manfaat dan biaya. Penelitian dilakukan di Kota Bogor. Teknik pengambilan contoh secara acek sederhana (simple random sampling) dan secara sengaja (purposive). Analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui aspek finansial kelyakan usaha. Kriteria investasi yaitu NPV, Net B/C, dan IRR. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa NPV pengrajin tempe biasa positif sebesar Rp 8.805.006,00 dan NPV pengrajin tempe malang Rp 7.157.760,00. IRR pengrajin tempe biasa lebih tinggi dari pengrajin tempe malang dengan tingkat diskonto 15 persen yaitu 35 persen dan 32 persen. Net B/C pada tempe biasa dan tempe malang masing-masing adalah 1,59 dan 1,47. Menurut analisis switching value perubahan yang dapat ditolerir oleh pengrajin tempe biasa untuk perubahan bahan baku tidak boleh naik lebih dari 5,3

persen dan untuk tempe malang sebesar 6,9 persen. Perubahan harga output yang masih dapat ditoleransi pada pengrajin tempe biasa sebesar 6,3 persen dan pengrajin tempe malang sebesar 3,4 persen. Hasil analisis kelayakan finansial tersebut menunjukkan bahwa usaha tempe biasa dan tempe malang dikatakan layak untuk diusahakan. Bedasarkan perbandingan atas kriteria kelayakan menunjukkan bahwa tempe biasa lebih menguntungkan dibandingkan dengan tempe malang. Persamaan penelitian analisis kelayakan usaha pembuatan kerupuk rambak dengan penelitian terdahulu adalah adanya persamaan terhadap penggunaan alat analisis untuk menentukan kelayakan finansial dan non finansial. Alat analisis yang digunakan untuk menilai kelayakan finansial adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) dan Payback Period (PBP), serta digunakan pula analisis nilai pengganti (Switching Value). Untuk menilai kelayakan non finansial dipergunakan pembahasan dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, serta aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Sedangkan perbedaannya yaitu pada penelitian ini dianalisis mengenai kelayakan usaha kerupuk rambak sebagai salah satu produk turunan dari kulit ternak. Selain itu, belum ada penelitian terdahulu mengenai kelayakan usaha pembuatan kerupuk rambak. Pada penelitian terdahulu produk yang diteliti adalah kelayakan usaha pembuatan bandeng isi, kelayakan usaha restoran mie dan kelayakn usaha pembuatan tempe. Perbedaan lainnya adalah perbedaan tempat serta waktu penelitian. 2.6.2 Penelitian Tentang Kerupuk Terdapat beberapa judul penelitian yang meneliti tentang kerupuk yaitu penelitian tentang kelayakan usaha penggorengan kerupuk pernah dilakukan oleh Widyastono (2006) dengan judul skripsi Analisis Kelayakan Usaha

Penggorengan Kerupuk Studi Kasus Usaha Kecil Sumber Makmur Sentosa di Darmaga, Kabupaten Bogor dari hasil penelitiannya diperoleh hasil sebagai berikut dilihat dari aspek pasar, jumlah penggoreng yang bergerak dalam industri kerupuk di Kabupaten Bogor berjumlah enam orang produsen.

Bauran pemasaran dari usaha penggorengan kerupuk SMS meliputi produk, harga, tempat serta promosi. Produk yang ditawarkan terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan bahan inputnya yaitu jenis kerupuk mentahnya. Harga yang ditetapkan dalam penentuan harga kerupuk SMS ini adalah harga yang berlaku di pasar. Lokasi yang digunakan untuk melakukan kegiatan penjualan yaitu pasar-pasar yang terdapat di wilayah Kabupaten Bogor dan waktu yang dipilih untuk kegiatan penjualan pada umumnya malam hingga pagi hari. Promosi yang telah digunakan pada awal pendirian usaha ini yaitu dengan memberikan potongan harga kepada konsumen. Aspek teknis sarana dan fasilitas-fasilitas yang dipinjamkan oleh pembina program pelatihan yaitu bangunan yang memadai untuk kegiatan produksi, gudang bahan baku, dan ruang kantor dengan luas bangunan kurang lebih 192 m2. Aspek manajemen dan ekonomi sosial merujuk pada fungsi kerja usaha penggorengan kerupuk SMS yang terdiri dari bagian keuangan, pemasaran dan produksi. Jabatan yang masih dirangkap menjadi satu adalah jabatan manajerial dan keuangan yang dipegang oleh pemilik usaha penggorengan. Usaha penggorengan kerupuk ini banyak menyerap tenaga kerja yang tidak terdidik dan tidak terampil untuk bekerja di bagian pembungkusan. Hasil analisis finansial usaha penggorengan kerupuk SMS ini

menunjukkan nilai NPV yang dihasilkan sebesar Rp 222.655.537,00; nilai IRR yang dihasilkan sebesar 25,96 persen, Net B/C sebesar 2,632 dan masa pengembalian modal adalah 6 tahun 5 bulan dengan jangka umur proyek selama 10 tahun. Berdasarkan kriteria kelayakan usaha maka usaha penggorengan kerupuk SMS ini layak untuk dijalankan. Sedangkan hasil analisis sensitivitas pada usaha penggorengan kerupuk menunjukkan bahwa apabila terjadi peningkatan biaya operasional variabel sebesar 8,32 persen usaha penggorengan kerupuk masih layak untuk dijalankan. Berbeda dengan penurunan penjualan sebesar 10 persen, hasil yang didapatkan adalah usaha tersebut tidak layak untuk dijalankan. Penelitian tentang kerupuk pernah dilakukan oleh Tresnaprihandini (2006) dengan judul Formulasi Strategi Pengembangan Usaha Kerupuk Udang dan Ikan pada Perusahaan Candramawa di Kabupaten Indramayu . Berdasarkan hasil

analisis faktor internal dan faktor eksternal yang telah dilakukan pada perusahaan Candramawa yaitu dilihat dari faktor internal, kekuatan utama yang dimiliki oleh perusahaan adalah loyalitas distributor, modal yang kuat dan hubungan dengan pemasok terjalin baik. Sedangkan kelemahan yang utama adalah kapasitas produksi yang belum optimal, kurangnya promosi dan distribusi produk di Indramayu belum ada. Untuk faktor eksternal, yang menjadi peluang utama bagi perusahaan adalah tingkat konsumsi yang terus meningkat, sedangkan untuk ancaman utama yang perlu diperhatikan oleh perusahaan yaitu kenaikan biaya produksi akibat naiknya tarif listrik dan BBM, kondisi cuaca dan iklim sangat mempengaruhi proses produksi dan ketersediaan bahan baku, serta ancaman masuk pendatang baru cukup besar. Berdasarkan perhitungan matriks IFE didapat total skor 3,107 dan matriks EFE didapat total skor sebesar 2,051 sehingga jika dipetakan ke dalam matriks IE posisi perusahaan berada pada sel IV yaitu tumbuh dan bina. Pada sel ini strategi yang harus dijalankan oleh perusahaan adalah strategi penetrasi pasar, strategi pengembangan pasar dan strategi pengembangan produk. Ada 13 buah strategi yang diformulasikan pada matriks SWOT yang sesuai dengan kondisi lingkungan perusahaan, yaitu: 1) Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk, 2) Menjalin kerjasama dengan perusahaan besar pengekspor kerupuk, 3) Memperluas wilayah distribusi produk ke wilayah yang potensial dan belum pernah dijangkau oleh pesaing maupun perusahaan, 4) Bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat untuk mendapatkan kemudahan memperoleh bahan baku, fasilitas dan perlindungan hukum, 5) Meningkatkan penggunaan teknologi yang lebih modern dalam proses produksi, 6) Mengefisienkan penggunaan peralatan produksi untuk menghemat listrik dan BBM, 7) Meningkatkan pelayanan kepada konsumen, 8) Memperbaiki sistem manajemen perusahaan, 9) Mencoba memasarkan produk di daerah Indramayu dengan mutu dan kualitas yang sama dengan pesaing, 10) Mengoptimalkan kapasitas produksi yang ada, 11) Memperluas hubungan kerjasama dengan pemasok bahan baku ikan, 12) Memanfaatkan penggunaan oven dan cooling pada saat kondisi cuaca tidak mendukung, 13) Mengikutsertakan produk perusahaan pada pameran perdagangan

untuk mempromosikan produk. Berdasarkan analisis QSPM maka strategi prioritas yang dipilih untuk dilakukan perusahaan adalah menjalin kerjasama dengan perusahaan besar pengekspor kerupuk dengan nilai TAS 6,221. Penelitian Rosmayanti (2008) dengan judul Pengaruh Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak terhadap Pendapatan Usaha Kecil dan Menengah, Kasus : UKM Kerupuk di Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat ini juga menganalisis tentang kerupuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kenaikan harga BBM terhadap pendapatan, keragaan UKM kerupuk dan efisiensi faktor-faktor produksi sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM. Penelitian dilakukan pada April 2008 sampai dengan Mei 2008. Analisis dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya. Uji beda dua rataan untuk menganalisis keragaan UKM dan fungsi produksi Cobb Douglass yang dianalisis melalui metode OLS untuk melihat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah kenaikan harga BBM, keuntungan UKM kerupuk semakin berkurang. Kenaikan harga BBM berpengaruh positif terhadap jumlah input produksi (tepung, garam, minyak tanah, kayu bakar dan tenaga kerja), pengeluaran untuk semua input produksi, jumlah output, total biaya produksi, dan penerimaan hasil penjualan. Namun berpengaruh negatif terhadap jumlah input produksi (bawang putih, penyedap rasa dan bahan baku pembantu), dan pendapatan bersih UKM. Sebelum kenaikan harga BBM, hanya variabel bahan baku dan kayu bakar yang berpengaruh nyata terhadap output yang dihasilkan. Sedangkan pada kondisi setelah kenaikan harga BBM, semua variabel bebas berpengaruh nyata terhadap output. Pada efisiensi teknis, terjadi perubahan elastisitas semua faktor produksi menjadi lebih efisien. Pada efisiensi alokasi penggunaan faktor-faktor produksi, belum ada faktor produksi yang efisien. Sebelum kenaikan BBM, rasio NPM (Nilai Poduk Marjinal) dan BKM (Biaya Korbanan Marjinal) bahan baku dan kayu bakar kurang dari satu. Setelah kenaikan harga BBM, rasio NPM dan BKM kurang dari satu sedangkan minyak tanah, kayu bakar, dan tenaga kerja lebih dari satu, sehingga untuk mencapai kondisi efisien maka penggunaan variabel tersebut harus ditambah.

Variabel bahan baku lebih efisien sebelum kenaikan harga BBM, sedangkan variabel kayu bakar lebih efisien setelah kenaikan harga BBM. Penelitian tentang kerupuk juga dilakukan oleh Rahmawaty (2006). Judul penelitian adalah Alternatif Strategi Bersaing Perusahaan Dua Gajah Dalam Industri Kerupuk di Kabupaten Indramayu . Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal perusahaan Dua Gajah, merumuskan alternatif strategi bersaing yang sesuai bagi perusahaan Dua Gajah dalam mengantisipasi persaingan dalam industri kerupuk. Penelitian dilakukan mulai bulan Maret hingga Juni 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman perusahaan yaitu faktor kekuatan adalah modal yang kuat, hubungan perusahaan dan karyawan terjalin dengan baik, pemasaran yang luas, kualitas produk baik, lokasi perusahaan strategis, dan pengalaman yang luas dalam bisnis kerupuk. Faktor kelemahan adalah pembukuan perusahaan belum terlaksana dengan baik, produksi belum dapat memenuhi seluruh permintaan, kegiatan perusahaan tergantung dari pasokan bahan baku ikan manyung dan ikan remang. Faktor peluang adalah pengetahuan masyarakat tentang ikan yang mengandung gizi omega tiga, iklan tentang makanan bergizi mempengaruhi persepsi masyarakat dalam mengkonsumsi makanan, perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan produksi, dan kerupuk merupakan industri kecil Indonesia yang berorientasi ekspor. Faktor ancaman adalah kebijakan pemerintah mengurangi subsidi BBM, persaingan antara industri kerupuk dan eksportir dalam mendapatkan pemasok yang loyal, ketatnya persaingan akibat diterapkannya AFTA dan WTO, dan tawaran harga yang lebih rendah dari produk substitusi. Berdasarkan analisis IE, perusahaan Dua Gajah sebaiknya melakukan strategi menumbuhkan dan mengembangkan. Alternatif strategi yang menjadi prioritas berdasarkan analisis QSPM adalah 1) Membentuk joint venture dengan pemasok yang dapat diandalkan, 2) Menggunakan alat produksi dengan kapasitas yang lebih besar dan modern guna meningkatkan hasil produksi sehingga perusahaan dapat memenuhi seluruh permintaan dan memperluas daerah

pemasaran, 3) Melakukan joint venture terhadap distributor yang murah dan dapat diandalkan. Persamaan penelitian analisis kelayakan usaha pembuatan kerupuk rambak dengan penelitian terdahulu tentang kerupuk adalah adanya persamaan terhadap obyek yang diteliti yaitu kerupuk. Penelitian tentang kelayakan usaha kerupuk pernah dilakukan pada salah satu penelitian terdahulu. Perbedaan penelitian dengan penelitian terdahulu tentang kerupuk adalah perbedaan topik penelitian. Pada tiga penelitian terdahulu yang menjadi topik penelitian adalah strategi pengembangan usaha, pengaruh kenaikan BBM terhadap pendapatan dan strategi bersaing pada perusahaan yang memproduksi kerupuk. Perbedaan lainnya adalah pada jenis usaha kerupuk yang dianalisis yaitu kerupuk tapioka, kerupuk ikan, kerupuk udang dan kerupuk tepung. Belum ada penelitian terdahulu yang menganalisis tentang kerupuk rambak kulit. .

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Studi Kelayakan Proyek Kadariah (1999) mendefinisikan proyek sebagai suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit), atau suatu aktivitas di mana dikeluarkan uang dengan harapan untuk mendapatkan hasil (return) di waktu yang akan datang, dan dapat direncanakan, dibiayai dan dilaksanakan sebagai satu unit. Aktivitas suatu proyek selalu ditujukan untuk mencapai suatu tujuan (objective) dan mempunyai suatu titik tolak (starting point) dan suatu titik akhir (ending point). Menurut Gray (2007), proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan mempergunakan sumbersumber untuk mendapatkan benefit. Sumber-sumber yang digunakan kegiatan dalam pelaksanaan proyek dapat berupa barang-barang modal, tanah, bahan-bahan setengah jadi, bahan-bahan mentah, tenaga kerja dan waktu Gittinger (1986) mendefinisikan proyek pertanian adalah kegiatan usaha yang rumit karena menggunakan sumber-sumber daya untuk memperoleh keuntungan atau manfaat. Proyek pertanian merupakan suatu kegiatan investasi yang mengubah sumber-sumber finansial menjadi barang kapital yang menghasilkan keuntungan-keuntungan atau manfaat-manfaat setelah beberapa periode tertentu. Proyek merupakan suatu kegiatan yang mengeluarkan uang atau biaya-biaya dengan harapan akan memperoleh hasil dan yang secara logika merupakan wadah untuk melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan, pembiayaan dan pelaksanaan dalam satu unit (Gittinger 1986). Ibrahim (2003) mendefinisikan studi kelayakan bisnis atau proyek sebagai kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha atau proyek. Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek, biasanya proyek investasi dilaksanakan dengan berhasil. Dalam arti sempit, keberhasilan ini ditafsirkan sebagai manfaat ekonomis.

Jika penelitian dari investasi yang dilakukan memberikan manfaat bagi pelaku investasi maka pelaku akan menjalankan kegiatan investasi tersebut. Sebaliknya, jika kerugian yang dihasilkan dari investasi ini, maka kegiatan ini akan ditinggalkan (Husnan dan Muhammad 2000). Kriteria keberhasilan suatu proyek dapat dilihat dari manfaat investasi yang terdiri dari : 1. Manfaat ekonomis proyek terhadap proyek itu sendiri (sering juga disebut sebagai manfaat finansial) yang berarti apakah proyek itu dipandang cukup menguntungkan apabila dibandingkan dengan risiko proyek tersebut. 2. Manfaat proyek bagi negara tempat proyek itu dilaksanakan (disebut juga manfaat ekonomi nasional) yang menunjukkan manfaat proyek tersebut bagi ekonomi makro suatu negara. 3. Manfaat sosial proyek tersebut bagi masyarakat di sekitar proyek. Tujuan dilakukannya analisis proyek adalah 1) untuk mengetahui tingkat keuntungan yang dicapai melalui investasi dalam suatu proyek, 2) menghindari pemborosan sumber-sumber, yaitu dengan menghindari pelaksanaan proyek yang tidak menguntungkan, 3) mengadakan penilaian terhadap peluang investasi yang ada sehingga kita dapat memilih alternatif proyek yang paling menguntungkan, 4) menentukan prioritas investasi (Gray et al, 2007). Menurut Gittinger (1986), pada proyek pertanian ada enam aspek yang harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan yaitu : 1. Aspek teknis Analisis secara teknis berhubungan dengan input proyek atau penyediaan dan output (produksi) berupa barang-barang nyata dan jasa. Aspek-aspek lain dari analisis proyek hanya akan dapat berjalan bila analisis secara teknis dapat dilakukan. 2. Aspek-aspek institusional- organisasi- manajerial Analisis pada aspek ini adalah analisis mengenai ketepatan dalam penetapan institusi atau lembaga proyek serta proyek harus sesuai dengan pola sosial, budaya dan kebiasaan masyarakat setempat. Aspek ini juga meliputi analisis tentang posisi kerja yang harus diisi dengan pekerja yang ahli. 3. Aspek sosial

Pelaku proyek perlu mempertimbangkan pola dan kebiasaan-kebiasaan sosial dari pihak yang akan dilayani oleh proyek. Pelaku proyek juga perlu meneliti secara cermat mengenai implikasi sosial yang lebih luas dari investasi yang diusulkan. 4. Aspek komersial Yang termasuk dalam aspek-aspek komersial dari suatu proyek adalah rencana pemasaran output yang dihasilkan oleh proyek dan rencana penyediaan input yang dibutuhkan untuk kelangsungan dan pelaksanaan proyek. Analisis pasar untuk output proyek meliputi permintaan, harga yang menguntungkan, tempat penjualan produk serta market share dari produk tersebut. Dari sudut pandang input, meliputi rencana-rencana tersedianya input produksi serta penggunaan teknologi produksi yang tepat termasuk tersedianya pembiayaan bagi pelaku proyek. Aspek komersial dari suatu proyek juga termasuk masalah pengaturan usaha-usaha untuk memperoleh peralatan dan perbekalan proyek (supplies). 5. Aspek finansial Aspek-aspek finansial dari persiapan dan analisis proyek menerangkan pengaruh- pengaruh finansial dari suatu proyek yang diusulkan terhadap para peserta yang tergabung di dalamnya. Analisis finansial meninjau proyek dari sudut peserta proyek (pelaku proyek) secara individu. 6. Aspek ekonomi Aspek-aspek ekonomi persiapan dan analisis proyek membutuhkan pengetahuan mengenai apakah suatu proyek yang diusulkan akan

memberikan kontribusi yang nyata terhadap pembangunan perekonomian secara keseluruhan dan apakah kontribusinya cukup besar dalam menentukan penggunaan sumber-sumber daya yang diperlukan. Sudut pandang yang diambil dalam analisis ekonomi ini adalah masyarakat secara keseluruhan. Analisis finansial dan ekonomi merupakan pelengkap (complementary). 3.2 Aspek Studi Kelayakan Menurut Husnan dan Muhammad (2000) secara umum aspek-aspek yang diteliti dalam studi kelayakan proyek meliputi aspek pasar, aspek teknis, aspek finansial, aspek manajemen, aspek hukum, aspek ekonomi dan aspek sosial.

Namun, belum ada kesepakatan tentang aspek apa saja yang perlu diteliti untuk menentukan layak atau tidaknya suatu proyek, harus dilihat dari berbagai aspek. Setiap aspek untuk dikatakan layak harus memiliki suatu standar tertentu. Namun, penilaian tidak hanya dilakukan hanya pada satu aspek saja. Penilaian untuk menentukan kelayakan harus didasarkan kepada seluruh aspek yang akan dinilai, tidak berdiri sendiri. Jika ada aspek yang kurang layak akan diberikan beberapa saran perbaikan sehingga memenuhi kriteria yang layak. Namun, apabila tidak dapat memenuhi kriteria tersebut sebaiknya jangan dijalankan. a. Aspek pasar Pengkajian aspek pasar penting untuk dilakukan karena tidak ada proyek yang berhasil tanpa adanya permintaan atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh proyek tersebut dan jika pasar yang dituju tidak jelas, prospek bisnis ke depan pun tidak jelas, maka risiko kegagalan bisnis menjadi besar. Menurut aspek pasar mempelajari tentang: 1. Permintaan Permintaan adalah keinginan yang didukung oleh daya beli atau akses untuk membeli. Hal ini berarti bahwa permintaan akan terjadi apabila didukung oleh daya kemampuan yang dimiliki konsumen untuk membeli serta adanya akses untuk memperoleh barang dan jasa yang ditawarkan. Hal ini pula yang sangat menentukan permintaan itu sendiri. Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan suatu barang dan jasa antara lain harga barang itu sendiri, harga barang lain yang memiliki hubungan substitusi atau komplementer, pendapatan, selera, jumlah penduduk dan akses untuk memperoleh barang dan jasa yang ditawarkan. 2. Penawaran Penawaran adalah jumlah barang atau jasa yang ditawarkan produsen pada berbagai tingkat harga pada suatu waktu tertentu. Faktor yang dapat mempengaruhi penawaran suatu barang atau jasa antara lain harga barang itu sendiri, harga barang lain yang memiliki hubungan substitusi atau komplementer, teknologi, harga input, tujuan perusahaan, atau akses.

3. Program Pemasaran Program pemasaran meliputi empat aspek bauran pemasaran (marketing mix) yatu produk (product), harga (price), distribusi (place), dan promosi (promotion) (Umar 2003). 4. Pangsa pasar (market share) perusahaan Pangsa pasar (market share) merupakan proporsi dari keseluruhan pasar potensial yang diharapkan dapat diraih oleh proyek yang bersangkutan. Pasar potensial adalah keseluruhan jumlah produk atau sekelompok produk yang mungkin dapat dijual dalam pasar tertentu pada suatu periode tertentu. Dalam hal ini, meliputi variabel yang dapat dikontrol oleh calon investor, yaitu marketing mix, dan kemampuan manajemen lainnya, serta variabel yang tidak dapat dikontrol oleh calon investor (Husnan dan Muhammad 2000). b. Aspek Teknis Analisis secara teknis berhubungan dengan input proyek (penyediaan) dan output (produksi) berupa barang dan jasa. Kerangka kerja proyek harus dibuat secara jelas agar analisis secara teknis dapat dilakukan dengan teliti. Aspek-aspek lain dari analisis proyek hanya akan dapat berjalan bila analisis secara teknis dapat dilakukan (Gittinger 1986). Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengorganisasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun (Husnan dan Muhammad 2000). Penilaian kelayakan terhadap aspek ini penting dilakukan sebelum suatu proyek dijalankan. Penentuan kelayakan teknis perusahaan menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan teknis atau operasi. Sehingga jika tidak dianalisis dengan baik akan berakibat fatal bagi perusahaan di masa yang akan datang. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aspek teknis antara lain: 1. Lokasi proyek Lokasi proyek untuk perusahaan industri mencakup dua

pengertian, yaitu lokasi dan lahan pabrik serta lokasi bukan pabrik. Pengertian lokasi bukan pabrik mengacu pada lokasi untuk kegiatan yang secara langsung tidak berkaitan dengan proses produksi, yaitu lokasi

pembangunan adsministrasi perkantoran dan pemasaran. Terdapat beberapa variabel yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi proyek. Variabel tersebut dibedakan menjadi dua golongan besar, yaitu variabel utama (primer) dan variabel bukan utama (sekunder). Penggolongan ke dalam kedua kelompok tersebut tidak mengandung kekakuan, artinya dimungkinkan untuk berubah golongan sesuai dengan ciri utama output atau proyek bersangkutan. Variabel-variabel utama (primer) tersebut yaitu ketersediaan bahan mentah, letak pasar yang dituju, tenaga listrik dan air, supply tenaga kerja, dan fasilitas transportasi. Sedangkan variabel-variabel sekunder terdiri dari hukum dan peraturan yang berlaku, iklim dan keadaan tanah, sikap dari masyarakat setempat (adat istiadat) dan perencanaan masa depan perusahaan. 2. Skala Operasional dan Luas Produksi Skala operasional atau luas produksi adalah jumlah produk yang seharusnya diproduksi untuk mencapai keuntungan yang optimal. Pengertian kata seharusnya dan keuntungan yang optimal ,

mengandung maksud untuk mengkombinasikan faktor internal dan faktor eksternal perusahaan. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan luas produksi yaitu batasan permintaan, persediaan kapasitas mesin-mesin, jumlah dan kemampuan tenaga kerja pengelola proses produksi, kemampuan finansial dan manajemen, serta kemungkinan adanya perubahan teknologi produksi di masa yang akan datang. 3. Layout atau Tata Letak Alur Produksi Layout merupakan keseluruhan proses penentuan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas yang dimiliki suatu perusahaan. Dengan demikian pengertian layout mencakup layout site (layout lokasi proyek), layout pabrik, layout bangunan bukan pabrik dan fasilitas-fasilitasnya. Dalam layout pabrik terdapat dua tipe utama, yaitu layout fungsional (layout process) dan layout produk (layout garis). 4. Pemilihan Jenis Teknologi dan Peralatan Prinsip-prinsip yang dipegang dalam penentuan jenis teknologi dan peralatan antara lain seberapa jauh derajat mekanisasi yang diinginkan,

manfaat ekonomi yang diharapkan, ketepatan teknologi dengan bahan mentah yang digunakan, keberhasilan penggunaan jenis teknologi tersebut ditempat lain yang memiliki ciri-ciri mendekati lokasi proyek, kemampuan pengetahuan penduduk (tenaga kerja) setempat, dan kemungkinan pengembangannya serta pertimbangan kemungkinan adanya teknologi lanjutan sebagai salinan teknologi yang akan dipilih sebagai akibat keusangan. c. Aspek Manajemen Analisis terhadap aspek manajemen dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kemampuan staf dalam melaksanakan proyek. Dalam aspek ini perlu dikaji struktur organisasi yang sesuai dengan proyek yang direncanakan sehingga diketahui mengetahui jumlah kebutuhan, kualifikasi dan deskripsi tugas individu untuk mengelola proyek (Kadariah et al, 1999) Husnan dan Muhammad (2000) menyebutkan pengkajian aspek manajeman pada dasarnya menilai para pengelola proyek dan struktur organisasi yang ada. Proyek yang dijalankan akan berhasil apabila dijalankan oleh orang-orang yang profesional mulai dari merencanakan, melaksanakan, sampai dengan mengendalikannya agar tidak terjadi penyimpangan. Demikian pula dengan struktur organisasi yang dipilih harus sesuai dengan bentuk dan tujuan proyeknya. Hal-hal yang dipelajari dalam aspek manajemen antara lain : 1. Manajemen dalam Masa Pembangunan Proyek Manajemen proyek adalah sistem untuk merencanakan,

melaksanakan, dan mengawasi pembangunan proyek dengan efisien. Manajemen proyek harus dapat menyusun rencana pelaksanaan proyek dengan mengkoordinasikan berbagai aktivitas atau kegiatan proyek dan penggunaan sumberdaya agar secara fisik proyek dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen masa pembangunan proyek, yaitu pelaksana proyek tersebut, jadwal

penyelesaian proyek, dan pihak yang melakukan studi masing-masing aspek.

2. Manajemen dalam Operasi Manajemen ini meliputi bentuk organisasi atau badan usaha yang dipilih, struktur organisasi, deskripsi dan spesifikasi jabatan, anggota direksi, dan tenaga kunci serta jumlah tenaga kerja yang akan digunakan. d. Aspek Sosial dan Lingkungan Analisis terhadap aspek sosial dan lingkungan merupakan suatu analisis yang berkenaan dengan implikasi sosial yang lebih luas dari investasi yang diusulkan, dimana pertimbangan-pertimbangan sosial tersebut harus dipikirkan secara cermat agar dapat menentukan ketanggapan suatu proyek terhadap keadaan sosial yang terjadi (Gittinger, 1986). Contoh pengaruh proyek terhadap kondisi sosial dan lingkungan diantaranya adalah perluasan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan petani, serta dampak limbah proyek terhadap lingkungan sekitar. e. Aspek Finansial Analisis finansial adalah suatu analisis yang membandingkan antara biaya dan manfaat untuk menentukan apakah suatu proyek akan menguntungkan selama umur proyek (Husnan dan Muhammad, 2000). Penelitian dalam aspek finansial dilakukan untuk menilai biaya-biaya apa saja yang akan dihitung dan berapa besar biaya-biaya yang akan dikeluarkan. Kemudian juga meneliti seberapa besar pendapatan yang akan diterima jika proyek dijalankan. Penelitian ini meliputi lama pengembalian investasi yang ditanamkan, sumber pembiayaan proyek, dan tingkat suku bunga yang berlaku. Sehingga jika dihitung dengan formula penilaian investasi akan sangat menguntungkan. Hal-hal yang mendapatkan perhatian dalam penelitian aspek ini antara lain : 1. Biaya Kebutuhan Investasi Investasi dilakukan dalam berbagai bentuk yang digunakan untuk membeli aset-aset yang dibutuhkan proyek tersebut. Aset-aset ini biasanya berupa aset tetap yang dibutuhkan perusahaan mulai dari pendirian hingga dapat dioperasikan. Oleh karena itu, dalam melakukan investasi

dibutuhkan biaya kebutuhan investasi yang digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan investasi tersebut. Biaya kebutuhan investasi biasanya disesuaikan dengan jenis proyek yang akan dijalankan. Secara umum komponen biaya kebutuhan investasi terdiri dari biaya prainvestasi dan biaya pembelian aktiva tetap (Husnan dan Muhammad, 2000). Aktiva tetap atau aktiva jangka panjang terdiri dari tanah dan pengembangan lokasi, bangunan dan

perlengkapannya, pabrik dan mesin, dan aktiva tetap lainnya. 2. Sumber-Sumber Dana Dana yang dibutuhkan dapat diperoleh dari berbagai sumber dana yang ada, seperti modal sendiri, modal pinjaman, dan gabungan keduanya. Pilihan apakah menggunakan modal sendiri atau modal pinjaman atau gabungan dari keduanya tergantung dari jumlah modal yang dibutuhkan dan kebijakan pengusaha. Pada dasarnya pemilihan sumber dana bertujuan untuk memilih sumber dana yang ada pada akhirnya bisa memberikan kombinasi dengan biaya terendah, dan tidak menimbulkan likuiditas bagi proyek atau perusahaan yang mensponsori proyek tersebut (artinya jangka waktu pengembalian sesuai dengan jangka waktu penggunaan dana). Sumber-sumber dana yang utama terdiri dari modal sendiri yang disetor oleh pemilik perusahaan, penerbitan saham atau saham preferen di pasar modal, obligasi yang diterbitkan oleh penjual dan dijual di pasar modal, kredit bank, leasing (sewa guna) dari lembaga keuangan nonbank, dan project finance. 3. Aliran Kas (Cash Flow) Cash Flow merupakan arus kas atau aliran kas yang ada di perusahaan dalam suatu periode tertentu. Cash Flow menggambarkan berapa uang yang masuk ke perusahaan dan jenis pemasukan tersebut. Cash flow juga menggambarkan berapa uang yang keluar serta jenis-jenis biaya yang dikeluarkan. Aliran kas penting digunakan dalam akuntansi karena laba dalam pengertian akuntansi tidak sama dengan kas masuk bersih, dan yang relevan bagi investor adalah kas bukan laba.

Aliran kas yang berhubungan dengan suatu proyek dapat dikelompokkan dalam tiga bagian, yaitu aliran kas permulaan (initial cash flow), aliran kas operasional (operational cash flow), dan aliran kas terminal (terminal cash flow). Pengeluaran-pengeluaran untuk investasi pada awal periode merupakan aliran kas permulaan. Aliran kas yang timbul selama operasi proyek disebut aliran kas operasional. Sedangkan aliran kas terminal adalah aliran kas yang diperoleh ketika proyek berakhir. Pada umumnya initial cash flow bernilai negatif, sedangkan operational dan terminal cash flow bernilai positif. Aliran-aliran kas ini dinyatakan dengan dasar setelah pajak (Husnan dan Muhammad 2000). 3.3 Teori Biaya dan Manfaat Dalam analisis proyek, tujuan-tujuan analisis harus disertai dengan definisi biaya-biaya dan manfaat-manfaat. Biaya dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengurangi suatu tujuan, dan suatu manfaat adalah segala sesuatu yang membantu tujuan (Gittinger 1986). Biaya dapat juga didefinisikan sebagai pengeluaran atau korbanan yang dapat menimbulkan pengurangan terhadap manfaat yang diterima. Biaya yang diperlukan suatu proyek dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. Biaya modal merupakan dana untuk investasi yang penggunaannya bersifat jangka panjang, seperti : tanah, bangunan, pabrik, dan mesin. 2. Biaya operasional atau modal kerja merupakan kebutuhan dana yang diperlukan pada saat proyek mulai dilaksanakan, seperti: biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja. 3. Biaya lainnya yaitu pajak, bunga dan pinjaman. Manfaat dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan kontribusi terhadap suatu proyek. Manfaat dapat dibedakan menjadi: 1. Manfaat langsung yaitu manfaat yang secara langsung dapat diukur dan dirasakan sebagai akibat dari investasi, seperti: peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja. 2. Manfaat tidak langsung yaitu manfaat yang secara nyata diperoleh dengan tidak langsung dari proyek dan bukan merupakan tujuan utama proyek, seperti: rekreasi.

Kriteria yang biasa digunakan sebagai dasar persetujuan atau penolakan suatu proyek adalah perbandingan antara jumlah nilai yang diterima sebagai manfaat dari investasi tersebut dengan manfaat-manfaat dalam situasi tanpa proyek. Nilai perbedaannya adalah berupa tambahan manfaat bersih yang akan muncul dari investasi dengan adanya proyek (Gittinger 1986). 3.4 Analisis Kelayakan Investasi Kriteria investasi digunakan untuk mengukur manfaat yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan dari suatu proyek. Dalam mengukur kemanfaatan proyek dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan perhitungan berdiskonto dan tidak berdiskonto. Perbedaannya terletak pada konsep time value of money yang diterapkan pada perhitungan berdiskonto. Perhitungan diskonto merupakan suatu teknik yang dapat menurunkan manfaat yang diperoleh pada masa yang akan datang dan arus biaya menjadi nilai biaya pada masa sekarang, sedangkan perhitungan tidak berdiskonto memiliki kelemahan umum, yaitu ukuran-ukuran tersebut belum mempertimbangkan secara lengkap mengenai lamanya arus manfaat yang diterima (Gittinger 1986). Konsep nilai waktu uang (time value of money) menyatakan bahwa nilai sekarang (present value) adalah lebih baik daripada nilai yang sama pada masa yang akan datang (future value). Ada dua hal yang menyebabkan hal ini terjadi yaitu: time preference (sejumlah sumber yang tersedia untuk dinikmati pada saat ini lebih disenangi daripada jumlah yang sama namun tersedia di masa yang akan datang) dan produktivitas atau efisiensi modal (modal yang dimiliki saat sekarang memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang melalui kegiatan yang produktif) yang berlaku baik secara perorangan maupun bagi masyarakat secara keseluruhan (Kadariah et al. 1999). Kadariah et al. (1999) juga mengungkapkan bahwa kedua unsur tersebut berhubungan timbal balik di dalam pasar modal untuk menentukan tingkat harga modal yaitu suku bunga, sehingga dengan tingkat suku bunga dapat dimungkinkan untuk membandingkan arus biaya dan manfaat yang

penyebarannya dalam waktu yang tidak merata. Untuk tujuan itu, tingkat suku bunga ditentukan melalui proses discounting 3.4.1 Analisis Finansial

Analisis finansial adalah suatu analisis yang membandingkan antara biaya dan manfaat untuk menentukan apakah suatu proyek akan menguntungkan selama umur proyek (Husnan dan Muhammad 2000). Analisis finansial terdiri dari: a. Net Present Value (NPV) Net present value (NPV) suatu proyek menunjukkan manfaat bersih yang diterima proyek selama umur proyek pada tingkat suku bunga tertentu. NPV juga dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus kas yang ditimbulkan oleh investasi. Dalam menghitung NPV perlu ditentukan tingkat suku bunga yang relevan. Kriteria kelayakan investasi berdasarkan NPV yaitu: NPV > 0, artinya suatu proyek sudah dinyatakan menguntungkan dan dapat dilaksanakan. NPV < 0, artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang dipergunakan. Dengan kata lain, proyek tersebut merugikan dan sebaiknya tidak dilaksanakan. NPV = 0, artinya proyek tersebut mampu mengembalikan persis sebesar modal sosial opportunity cost faktor produksi normal. Dengan kata lain, proyek tersebut tidak untung dan tidak rugi. b. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Rasio) Net benefit and cost ratio (net B/C Ratio) menyatakan besarnya pengembalian terhadap setiap satu satuan biaya yang telah dikeluarkan selama umur proyek. Net B/C merupakan angka perbandingan antara present value dari net benefit yang positif dengan present value dari net benefit yang negatif. kriteria investasi berdasarkan Net B/C Rasio adalah : Net B/C > 0, maka NPV > 0, proyek menguntungkan Net B/C < 0, maka NPV < 0, proyek merugikan Net B/C = 1, maka NPV = 0, proyek tidak untung dan tidak rugi c. Internal Rate Return (IRR) Internal rate return adalah tingkat bunga yang menyamakan present value kas keluar yang diharapkan dengan present value aliran kas masuk yang diharapkan, atau didefinisikan juga sebagai tingkat bunga yang menyebabkan Net Present Value (NPV) sama dengan nol (0).

Gittinger (1986) menyebutkan bahwa IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan intern tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan persen. Tingkat IRR mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan. Suatu investasi dianggap layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku dan sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku, maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan. d. Payback Period (PBP) Payback period atau tingkat pengembalian investasi adalah salah satu metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal itu dapat kembali, semakin baik suatu proyek untuk diusahakan karena modal yang kembali dapat dipakai untuk membiayai kegiatan lain (Husnan dan Muhammad 2000). 3.5 Analisis Switching Value Analisis switching value merupakan variasi dari analisis sensitivitas. Analisis dilakukan untuk meneliti kembali analisis kelayakan proyek yang telah dilakukan. Tujuannya adalah untuk melihat pengaruh yang akan terjadi apabila keadaan berubah. Hal ini merupakan suatu cara untuk menghadapi ketidakpastian yang dapat terjadi pada suatu keadaan yang telah diramalkan (Gittinger 1986). Menurut Kadariah et al. (1999) analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat apa yang akan terjadi terhadap hasil analisis proyek jika ada suatu kesalahan atau perubahan dalam dasar-dasar perhitungan biaya atau manfaat. Suatu proyek pada dasarnya menghadapi suatu ketidakpastian karena dipengaruhi perubahan-perubahan, baik dari sisi penerimaan atau pengeluaran yang akhirnya akan mempengaruhi tingkat kelayakan proyek. Dalam analisis switching value setiap kemungkinan harus dicoba, yang berarti setiap kali harus dilakukan analisis kembali. Hal ini perlu karena analisis proyek biasanya didasarkan pada proyeksi yang mengandung banyak ketidakpastian dan perubahan yang akan terjadi di masa depan.

Semua proyek harus diamati melalui analisis sensitivitas. Pada bidang pertanian, proyek-proyek sensitif berubah-ubah akibat empat masalah utama, yaitu : Perubahan harga jual Keterlambatan pelaksanaan proyek Kenaikan biaya Perubahan volume produksi

3.6 Laporan Rugi Laba Laporan rugi laba adalah suatu laporan keuangan yang meringkas penerimaan dan pengeluaran suatau perusahaan selama periode akuntansi. Laporan rugi laba juga merupakan suatu laporan yang menunjukkan hasil-hasil operasi perusahaan selama waktu tersebut (Gittinger 1986). Laporan rugi laba ini atau usaha yang dijalankan mendapatkan keuntungan ataukah mendapatkan kerugian selama waktu proyek. Laba ialah apa saja yang tersisa setelah dikurangkannya pengeluaran-pengeluaran yang timbul di dalam memproduksi barang atau jasa atau dari penerimaan yang diperoleh dengan menjual barang atau jasa tersebut. 3.7 Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha yaitu usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit sapi dan bahan baku kulit kerbau di Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal. Analisis kelayakan dilakukan dengan menganalisis aspek-aspek kelayakan investasi seperti aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek ekonomi, sosial dan lingkungan serta aspek finansial. Analisis finansial mengkaji NPV, IRR, Net B/C rasio, payback period dan switching value usaha pembuatan kerupuk rambak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi mengenai pelaksanaan usaha kepada pengusaha kerupuk rambak. Gambar 2 adalah kerangka operasional penelitian pada usaha pembuatan kerupuk rambak.

Program Pemberdayaan UKM di Kabupaten Kendal memberikan iklim yang kondusif bagi pengembangan usaha yang sudah ada maupun pendirian usaha baru

Salah satu produk yang dikembangkan adalah kerupuk rambak Adanya ketidakseimbangan permintaan dan penawaran kerupuk rambak

Usaha pembuatan kerupuk rambak

Bahan baku kulit sapi

Bahan baku kulit kerbau

Analisis Aspek Non Finansial Pembuatan kerupuk rambak : Aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial lingkungan, aspek hukum Analisis Finansial : NPV, IRR, Net B/C Ratio, Payback Period, Analisis Switching Value Analisis Finansial : NPV, IRR, Net B/C Ratio, Payback Period, Analisis Switching Value

Tidak layak Usaha tidak baik untuk dilaksanakan dan harus melakukan perbaikan usaha

Layak

Layak

Tidak layak Melakukan reorientasi alokasi sumber daya dan melakukan perbaikan usaha

Baik untuk diusahakan karena dapat menghasilkan keuntungan dan dapat dilakukan pengembangan usaha

Perbandingan kelayakan finansial untuk memilih bahan baku yang mendatangkan keuntungan lebih baik Perbaikan usaha bagi pemilik usaha yang menghasilkan keuntungan lebih kecil dengan mengubah jenis bahan baku yang digunakan

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di usaha pembuatan kerupuk rambak di Desa Penanggulan Kecamatan Pegandon Kabupatan Kendal. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Pegandon merupakan sentra produksi kerupuk rambak di Kabupaten Kendal dan kerupuk rambak merupakan produk yang akan dikembangkan di Kabupaten Kendal. Selain itu, perusahaan-perusahaan yang ada di Pegandon belum pernah melakukan studi kelayakan terhadap usahanya. Pengambilan data di lapang dilaksanakan pada bulan Desember 2008 sampai dengan Maret 2009. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2008 sampai dengan Juni 2009. 4.2 Metode Penentuan Sampel Pengambilan pengusaha responden berasal dari informasi dari Kantor Kelurahan setempat. Jumlah pengusaha berjumlah empat orang. Namun, namun hanya tiga pengusaha yang dijadikan responden karena kemudahan dalam pengambilan data. Responden yang digunakan adalah dua pengusaha kerupuk rambak kulit sapi dan satu pengusaha kerupuk rambak kulit kerbau. Pengambilan sampel responden menggunakan pemilihan secara sengaja (purposive). Selanjutnya didapat dua kelompok usaha kerupuk rambak yang berdasarkan bahan baku yang digunakan, yaitu kerupuk rambak kulit sapi dan kerupuk rambak kulit kerbau. Kemudian pada penelitian ini dibandingkan antara kelayakan usaha pembuatan kerupuk rambak dengan bahan baku kulit sapi dan usaha pembuatan kerupuk rambak bahan baku kulit kerbau. 4.3 Data dan Instrumentasi Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan pemilik

usaha, pemasok dan staf Pemerintah Daerah. Wawancara dengan pemilik usaha mengenai aspek kelayakan dan aspek finansial. Wawancara dengan pemasok mengenai bahan baku utama yaitu kulit serta wawancara dengan staf Pemerintah Daerah untuk mengetahui kondisi usaha kecil dan bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap usaha kecil di Kabupaten Kendal. Data sekunder yang digunakan berasal dari studi literatur berbagai buku, skripsi, internet dan instansi-instansi terkait seperti Perpustakaan IPB, Badan Pusat Statistik dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan. 4.4 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan pada bulan Desember 2008-Maret 2009 atau selama empat bulan. Lokasi pengumpulan data meliputi perpustakaan IPB, Badan Pusat Statistik, Departemen Perindustrian dan Perdagangan serta pengumpulan data primer di Kecamatan Pegandon. Dalam pengumpulan data primer, data diperoleh berasal dari para pemilik usaha kerupuk rambak dan pemasok. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara wawancara langsung, wawancara mendalam dan observasi. Teknik pengumpulan data tersebut digunakan untuk mengumpulkan data primer. Sedangkan untuk data sekunder, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi literatur dan browsing internet. 4.5 Metode Pengolahan Data Data kuantitatif yang diperoleh selama penelitian diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel 2007. Pemilihan program tersebut karena merupakan program yang telah lazim digunakan dan relatif mudah untuk dioperasikan. Sedangkan data kualitatif diolah dan disajikan secara deskriptif. Analisis yang akan dilakukan selama penelitian ini adalah analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan dalam usaha pembuatan kerupuk rambak ini. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisis kelayakan aspek finansial dalam usaha pembuatan kerupuk rambak ini. Analisis kelayakan finansial menggunakan beberapa kriteria, yaitu: Analisis nilai bersih sekarang (Net Present Value/NPV), tingkat pengembalian investasi (Internal Rate of Return/IRR), masa pengembalian

investasi (Payback Period), Net benefit and Cost Ratio (Net B/C Ratio) atau angka perbandingan antara present value dari net benefit yang positif dengan present value dari net benefit yang negatif, dan analisis switching value. 4.5.1 Analisis Aspek Finansial Analisis aspek finansial digunakan untuk mengetahui kelayakan usaha pembuatan kerupuk rambak. Analisis aspek finansial dilakukan dengan menggunakan kriteria investasi untuk mengetahui apakah suatu usaha tersebut layak atau tidak untuk dijalankan. Kriteria kelayakan investasi yang akan digunakan antara lain Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), dan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Payback Period (PBP). 4.5.1.1 Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) suatu proyek atau usaha adalah selisih antara nilai sekarang (present value) manfaat dengan arus biaya. NPV juga dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus kas yang ditimbulkan oleh investasi. Perhitungan NPV perlu ditentukan tingkat bunga yang relevan. Rumus menghitung NPV adalah sebagai berikut : NPV =
t =1 n

Bt Ct (1 + i ) t

Sumber : Kadariah et al (1999)

Keterangan : Bt = manfaat yang diperoleh tiap tahun Ct = biaya yang dikeluarkan tiap tahun n = jumlah tahun i = tingkat suku bunga (diskonto) Kriteria kelayakan investasi berdasarkan NPV yaitu : NPV > 0, artinya suatu proyek sudah dinyatakan menguntungkan dan dapat dilaksanakan. NPV < 0, artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang dipergunakan. Dengan kata lain, proyek tersebut merugikan dan sebaiknya tidak dilaksanakan.

NPV = 0, artinya proyek tersebut mampu mengembalikan persis sebesar modal sosial Opportunities Cost faktor produksi normal. Dengan kata lain, proyek tersebut tidak untung dan tidak rugi. Namun, pada penelitian ini perhitungan NPV tidak dilakukan secara

manual. Perhitungan NPV dilakukan dengan menggunakan formula yang telah tersedia pada software Microsoft Excel 2007. 4.5.1.2 Net Benefit and Cost Ratio (Net B/C Rasio) Net benefit and cost ratio (Net B/C Rasio) merupakan angka perbandingan antara jumlah nilai sekarang yang bernilai positif dengan jumlah nilai sekarang yang bernilai negatif. Rumus untuk menghitung Net B/C adalah :

Net B/C =

(1 + i) (1 + i)
t =1 t =1 n

Bt C t
t

Bt C t
t

Dimana

( Bt C t > 0) ( Bt C t < 0)

Sumber: Kadariah et al (1999)

Keterangan : Bt = manfaat yang diperoleh tiap tahun Ct = biaya yang dikeluarkan tiap tahun n = jumlah tahun i = tingkat bunga (diskonto) Kriteria investasi berdasarkan Net B/C Rasio adalah : Net B/C > 0, maka NPV > 0, proyek menguntungkan Net B/C < 0, maka NPV < 0, proyek merugikan Net B/C = 1, maka NPV = 0, proyek tidak untung dan tidak rugi Namun, pada penelitian ini perhitungan Net B/C rasio tidak dilakukan secara manual. Perhitungan Net B/C rasio dilakukan dengan menggunakan formula yang telah tersedia pada software Microsoft Excel 2007. 4.5.1.3 Internal Rate of Return (IRR) IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan intern tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan persen. Tingkat IRR mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan. IRR juga merupakan nilai discount rate yang

membuat NPV proyek sama dengan nol. Suatu investasi dianggap layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku dan tidak layak jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku, maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Rumus untuk menghitung IRR adalah : IRR = i +
NPV (i 'i ) NPV NPV '

Sumber: Kadariah et al (1999)

Keterangan : i = Discount rate yang menghasilkan NPV positif = Discount rate yang menghasilkan NPV negatif NPV = NPV yang bernilai positif NPV = NPV yang bernilai negatif Namun, pada penelitian ini perhitungan IRR tidak dilakukan secara manual. Perhitungan IRR dilakukan dengan menggunakan formula yang telah tersedia pada software Microsoft Excel 2007. 4.5.1.4 Tingkat Pengembalian Investasi Diskonto (Discounted Payback Period) Untuk melihat jangka waktu pengembalian suatu investasi dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode payback period yang menunjukkan jangka waktu kembalinya investasi yang dikeluarkan melalui pendapatan bersih tambahan yang diperoleh dari usaha pembuatan kerupuk rambak. Pada perhitungan discounted payback period ini telah memasukkan unsur faktor

diskonto sehingga telah mencakup nilai waktu uang. Rumus yang digunakan untuk menghitung jangka pengembalian investasi adalah :
Payback period =

I Ab

Sumber : Husnan dan Muhammad, 2000

Keterangan : I = besarnya investasi yang dibutuhkan Ab = benefit bersih diskonto yang dapat diperoleh pada setiap tahunnya

Pada dasarnya semakin cepat payback period menandakan semakin kecil risiko yang dihadapi oleh investor. 4.5.2 Analisis Switching Value Analisis switching value merupakan variasi dari analisis sensitivitas. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat dampak dari suatu keadaan yang berubah-ubah terhadap hasil suatu analisis. Tujuan analisis ini adalah untuk melihat kembali hasil analisis suatu kegiatan investasi atau aktivitas ekonomi, apakah ada perubahan dan apabila terjadi kesalahan atau adanya perubahan di dalam perhitungan biaya atau manfaat. Analisis sensitivitas ini perlu dilakukan karena dalam kegiatan investasi, perhitungan didasarkan pada proyek-proyek yang mengandung ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di waktu mendatang (Gittinger 1986) Pada analisis switching value secara langsung memilih sejumlah nilai yang dengan nilai tersebut dapat dilakukan perubahan terhadap masalah yang dianggap penting pada analisis proyek dan kemudian dapat menentukan pengaruh perubahan tersebut terhadap daya tarik proyek. Dalam penelitian ini, digunakan analisis kepekaan apabila terjadi perubahan pada kenaikan harga input dan penurunan penjualan. 4.6 Asumsi Dasar yang Digunakan Analisis usaha pembuatan kerupuk rambak ini menggunakan beberapa asumsi dasar yaitu: 1. 2. Usaha dilakukan dengan modal sendiri Tingkat diskonto yang digunakan merupakan tingkat suku bunga deposito BRI pada bulan Januari 2009 yaitu sebesar 8,38 persen. Pemilihan ini didasarkan atas bank yang terdekat dengan pengusaha adalah BRI serta modal usaha pemilik semuanya modal sendiri dan bukan berasal dari pinjaman. 3. 4. Keadaan ekonomi selama proyek berlangsung diasumsikan tetap. Umur proyek adalah 10 tahun, penentuan umur proyek ini didasarkan pada umur ekonomis investasi yang terlama yaitu bangunan, timbangan, lemari, pompa air, tungku api, tempat penjemuran dan tabung gas. 5. 6. Harga bahan baku kulit kerbau adalah Rp 17.000,00 per kilogram. Harga bahan baku kulit sapi adalah Rp 12.000,00 per kilogram.

7.

Rendemen lemak baik pada kulit sapi basah dan kulit kerbau basah adalah sebesar 10 persen dari berat total.

8.

Skala produksi pada kedua usaha adalah 25 kilogram kerupuk rambak matang dalam satu periode produksi.

9.

Kulit sapi basah dan kulit kerbau basah yang digunakan untuk produksi adalah jantan.

10. Total produksi adalah jumlah kemasan yang dihasilkan selama satu tahun. Nilai total penjualan adalah hasil kali antara produksi dan harga jual. Harga jual yang produk adalah Rp 30.000,00 untuk kerupuk rambak kemasan 250 gram dan Rp 60.000,00 untuk kerupuk rambak kemasan 500 gram. 11. Perbandingan penjualan melalui agen adalah sebesar 35 persen dari total produksi dan penjualan sendiri ke konsumen adalah sebesar 65 persen dari total produksi. 12. Kerupuk rambak ukuran 250 gram disebut kemasan kecil dan kerupuk rambak ukuran 500 gram disebut kemasan besar. 13. Tidak ada produk yang cacat atau gagal dan hasil produksi semuanya habis terjual. 14. Biaya variabel pada kemasan besar, nilainya diasumsikan sebesar dua kali dari biaya variabel kemasan kecil. 15. Proses produksi dilakukan setiap tiga hari sekali maka dalam satu bulan dilakukan sepuluh kali proses produksi. Sehingga dalam satu tahun terdapat 120 kali proses produksi. 16. Biaya yang dikeluarkan untuk usaha pembuatan kerupuk rambak ini terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi dikeluarkan pada tahun ke-1 dan biaya reinvestasi dikeluarkan untuk peralatan yang telah habis umur ekonomisnya. 17. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. 18. Nilai penyusutan dihitung berdasarkan perhitungan nilai sisa dengan menggunakan metode garis lurus di mana harga beli dikurangi dengan nilai sisa kemudian dibagi dengan umur ekonomis.

19. Pajak pendapatan yang digunakan adalah pajak progresif berdasarkan UU No. 17 tahun 2000 Tentang Tarif Umum PPh Wajib Pajak Dalam Negeri dan bentuk Usaha Tetap, yaitu: Jika pendapatan < Rp 50.000.000,00 maka pajak yang dibayarkan adalah 10% x pendapatan. Jika Rp 50.000.000,00 < pendapatan < Rp 100.000.000,00 maka pajak yang dibayarkan adalah (10% x Rp 50.000.000,00)+(15% x (pendapatan Rp 50.000.000,00)) Jika pendapatan > Rp 100.000.000 maka pajak yang dibayarkan adalah (10% x Rp 50.000.000,00)+ (15% x Rp 50.000.000,00) + (30% x (pendapatan Rp 100.000.000,00)).

BAB V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Kabupaten Kendal 5.1.1 Keadaan Wilayah Kabupaten Kendal merupakan kabupaten yang terletak di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Kendal memiliki luas wilayah sebesar 1002,23 km2. Posisi astronomis Kabupaten Kendal terletak pada 10940 -11018 Bujur Timur dan 632 -724 Lintang Selatan. Di sebelah utara wilayah Kabupaten Kendal berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara. Di sebelah timur berbatasan dengan Kota Semarang, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Temanggung. Sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Batang. Topografi Kabupaten Kendal terbagi dalam tiga jenis yaitu daerah pegunungan yang terletak di bagian paling selatan dengan ketinggian antara 02.579 meter dari permukaan laut. Suhu udara berkisar antara 25C. kemudian daerah perbukitan di sebelah tengah dan dataran rendah di sebelah utara dengan ketinggian 0-10 meter dari permukaan laut dengan suhu berkisar 27C. Kabupaten Kendal merupakan kabupaten yang memiliki wilayah agraris. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya luas lahan yang ada di Kabupaten Kendal yang digunakan untuk mengusahakan pertanian. Luas wilayah yang digunakan untuk usaha pertanian (sawah, tegalan, tambak dan kolam, hutan serta perkebunan) adalah sebesar 75,83 persen. Sedangkan sisanya digunakan untuk pekarangan (lahan untuk bangunan dan halaman sekitarnya), padang rumput dan lahan yang sementara tidak diusahakan. 5.1.2 Keadaan Penduduk Jumlah penduduk Kabupaten Kendal pada tahun 2007 tercatat sebanyak 937.420 jiwa terdiri dari 462.612 (49,35 persen) laki-laki dan 474.808 (50,65 persen) perempuan. Pertumbuhan penduduk Kabupaten Kendal pada tahun 2007 sebesar 2,06 persen. Jumlah penduduk menurut kelompok umur terbanyak berada pada kelompok usia 10-14 tahun, dengan jumlah 100.916 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk terendah berada pada kelompok umur 60-64 tahun berjumlah 32.501

jiwa. Dilihat dari piramida penduduk Kabupaten Kendal maka kelompok umur usai produktif lebih besar jika dibandingkan dengan kelompok usaia tidak produktif. Persebaran penduduk di Kabupaten Kendal tidak merata. Beberapa kecamatan mengalami kepadatan penduduk yang cukup tinggi seperti Kecamatan Weleri dan Kota Kendal. Kepadatan penduduk di Kecamatan Weleri mencapai 1.965 jiwa per kilometer persegi dan di Kecamatan Kendal mencapai 1.896 jiwa setiap kilometer persegi. 5.1.3 Pertanian Proporsi terluas penggunaan tanah di Kabupaten Kendal adalah untuk tanah sawah yaitu 262,13 km2 atau sebesar 26,15 persen dari seluruh luas tanah yang ada. Hasil utama pertanian adalah padi, palawija dan kacang-kacangan. Komoditas tanaman buah-buahan yang ada di Kabupaten Kendal adalah pisang, mangga, nangka, rambutan dan durian. Produksi tanaman buah-buahan tersebut mengalami fluktuasi setiap tahun. Produksi tanaman sayuran yang diusahakan di Kabupaten Kendal adalah tanaman buncis, bawang, dan wortel, bawang merah, kubis, kacang-kacangan dan ketimun. Komoditas yang diusahakan pada perkebunan adalah tebu, tembakau rakyat, kopi, kayu manis, panili, kemukus dan kakao. Komoditas lain yang dihasilkan dari sektor perkebunan ini adalah tanaman karet, tanaman pala, dan tanaman teh. Sektor kehutanan di Kabupaten Kendal menghasilkan kayu jati, kayu rimba dan lainnya. Peternakan di Kabupaten Kendal terbagi menjadi dua yaitu ternak besar dan ternak kecil. Ternak besar yaitu sapi perah atau sapi potong, kerbau dan kuda. Populasi terbesar untuk ternak besar ini adalah sapi potong. Ternak kecil meliputi kambing, domba dan babi. Populasi terbesar untuk ternak kecil ini adalah kambing. Sedangkan untuk unggas yang diusahakan adalah ayam ras pedaging, ayam petelur, burung puyuh dan itik. Perikanan di Kabupaten Kendal juga diusahakan meliputi perikanan darat dan perikanan laut. 5.1.4 Perekonomian Daerah Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kendal pada tahun 2007 atas dasar harga konstan tahun 2000 mencapai 4,62 triliun rupiah. PDRB Kabupaten Kendal mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini

menunjukkan perekonomian Kabupaten Kendal terus tumbuh. Berikut ini adalah tabel PDRB Kabupaten Kendal atas dasar harga konstan tahun 2000. Tabel 5. Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kabupaten Kendal Tahun 2004-2007 (dalam juta rupiah)
No. 1 2 3 4 5 6 7 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik, gas dan air minum Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB 2004 2005 2006 2007 1.027.499,92 1.027.494,44 1.079.408,71 1.086.655,98 37.149,42 38.626,20 42.347,62 44.543,40

1.641.119,86 1.716.524,18 1.756.426,89 1.861.210,22 44.680,42 124.340,62 759.013,37 98.496,78 45.258,32 117.456,49 787.077,76 101.510,10 48.121,20 128.521,63 809.634,64 106.325,91 56.192,13 129.341,53 846.063,53 117.184,47

8 9

100.996,97 106.959,14 112.158,19 117.828,73 334.328,84 336.447,63 350.854,76 364.558,01 4.167.626,20 4.277.354,26 4.433.799,55 4.623.578,00

Sumber : BPS Kabupaten Kendal (2008)

Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kendal pada tahun 2007 mencapai 4,28 persen. Pada tahun 2007 ini pertumbuhan sektor listrik, gas dan air minum menempati peringkat tertinggi yaitu 16,77 persen. Peringkat kedua sektor angkutan dan komunikasi yaitu sebesar 10,21 persen. Dari sembilan sektor ekonomi yang ada pada tahun 2007, struktur ekonomi atas harga konstan 2000. Kontribusi tertinggi didapat dari sektor industri pengolahan sebesar 40,25 persen, kemudian pertanian sebesar 23,50 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran 18,30 persen dan jasa-jasa 7,88 persen. Lima sektor lainnya hanya menyumbang kurang dari 10 persen dan yang terendah adalah sektor pertambangan dan penggalian yang menyumbang 0,96 persen. Nilai PDRB per kapita pada tahun 2007 secara riil naik sebesar 3,89 persen, yaitu dari 4,88 juta rupiah menjadi 5,07 juta rupiah. Industri pengolahan di Kabupaten Kendal sebagian besar didominasi oleh usaha kecil dan menengah. Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kebupaten Kendal, jumlah unit usaha yang tergolong dalam usaha

kecil dan menengah berjumlah 489 unit usaha. Usaha tersebut terbagi menjadi usaha yang bergerak dalam bidang makanan dan non makanan. Untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah, Kabupaten Kendal menetapkan wilayah-wilayah untuk dilakukan sentralisasi pengembangan usaha kecil. Salah satu hal yang telah dilakukan adalah dengan melakukan sentralisasi

pengembangan usaha kecil dan menengah di bidang makanan sebagaimana telah tercantum pada Tabel 3. Industri pengolahan makanan terus dikembangkan agar produk yang dihasilkan dapat menjadi komoditas khas daerah Kendal. Selain itu pengembangan usaha kecil dan menengah dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan daerah serta perluasan kesempatan kerja bagi masyarakat. 5.2 Kecamatan Pegandon Usaha pembuatan kerupuk rambak terletak di Desa Penanggulan Kecamatan Pegandon. Kecamatan Pegandon terletak di wilayah administrasi Kabupaten Kendal dan Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan Pegandon memiliki luas wilayah 31,12 km2. Wilayah Kecamatan Pegandon di sebelah utara adalah Kecamatan Patebon. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Singorojo, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Gemuh dan sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Brangsong. Jarak ibukota Pegandon dengan ibukota provinsi adalah 38 kilometer, jarak ibukota Pegandon ke ibukota Kabupaten adalah 10 kilometer. Wilayah Kecamatan Pegandon memiliki ketinggian tanah 6 meter dpl. Suhu udara 27C. Wilayah Kecamatan Pegandon dibagi menurut penggunaannya. Pembagian wilayah berdasarkan penggunaan terdapat pada Tabel 6. Tabel 6. Luas Wilayah Kecamatan Pegandon Dirinci Menurut Penggunaan No Jenis Luas (Km2) Persen (%) 1 Tanah sawah 8,71 27,99 2 Tanah pekarangan 5,12 16,44 3 Tanah tegalan 2,61 8,39 4 Tambak dan kolam 0 0 5 Hutan 12,23 39,32 6 Kehutanan 0 0 7 Lain-lain 2,45 7,89 Total 31,12 100
Sumber : Statistik Kecamatan Pegandon 2008

Jumlah penduduk Kecamatan Pegandon adalah sebesar 36.575 jiwa dengan pembagian jumlah penduduk perempuan adalah 18.532 jiwa dan jumlah penduduk laki-laki adalah sebanyak 18.043 jiwa. Kepadatan penduduk di Kecamatan Pegandon adalah 1.175 jiwa/km2. Pada tahun 2007 perkembangan penduduk Kecamatan Pegandon adalah sebesar 1,09 persen. 5.3 Gambaran Umum Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Usaha pembuatan kerupuk rambak terletak di Desa Penanggulan, Kecamatan Pegandon. Saat ini tercatat ada empat perusahaan yang bergerak dalam usaha pembuatan kerupuk rambak yaitu Citra Rasa, Putra Jaya, Dwi Joyo dan Dwi Djaya. Usaha ini berawal karena di Kecamatan Pegandon terdapat tempat pemotongan hewan (jagalan) sapi untuk memasok daging sapi ke pasar tradisional di sekitar Kecamatan Pegandon. Pada saat itu, kulit sapi hanya menjadi limbah dan menimbulkan bau yang mengganggu ketika kulit membusuk. Hal ini sangat mengganggu masyarakat sekitar. Pada saat itu, belum ada yang berpikir untuk mengolah kulit. Pada tahun 1990, usaha pembuatan kerupuk rambak dipelopori oleh Bapak Chaeroman. Bapak Chaeroman terinspirasi pada kerupuk kulit yang ada di daerah Jawa Timur. Kemudian, beliau mendirikan usaha pembuatan kerupuk rambak. Pada awal pendirian usaha tersebut, usaha masih bersifat rumah tangga dan belum ada merek dagang pada usaha yang didirikan. Usaha yang digeluti ternyata berkembang dengan pesat. Bapak Chaeroman melakukan inovasi dengan cara membuat kemasan yang menarik sehingga nilai jual dapat ditingkatkan karena selama ini kerupuk produksinya hanya dibungkus plastik saja. Kemudian pemilik memberi nama Dwijoyo pada kerupuk produksinya dan kerupuk mulai dikemas ke dalam kardus dan diberi merek. Usaha pembuatan kerupuk rambak Bapak Chaeroman berkembang dengan baik dan mulai menarik para pengusaha baru untuk masuk ke dalam industri. Proses produksi yang relatif mudah dipelajari sehingga mendukung tumbuhnya pembuatan kerupuk rambak ini. Pada tahun 1993, ada enam usaha pembuatan kerupuk rambak dengan bahan baku kulit sapi. Pada saat itu juga terjadi penutupan tempat pemotongan hewan yang ada di Kecamatan Pegandon sehingga pengusaha mengalami kesulitan dalam

memenuhi bahan baku kulit sapi. Beberapa pengusaha berhasil mendapatkan pemasok dari luar kota. Namun, sebagian tidak dapat bertahan. Mereka menutup usaha pembuatan kerupuk rambak dengan alasan kesulitan dalam mendapat bahan baku. Selain itu, para pengusaha yang menutup usaha juga dikarenakan mereka kurang telaten dalam proses pembuatan kerupuk. Hal ini dikarenakan walaupun proses pembuatan mudah namun butuh ketelatenan yang tinggi terutama dalam proses pengungkepan kulit. Walaupun menyatakan sudah tutup, namun terdapat dua pengusaha yang masih memproduksi kerupuk walaupun produksinya tidak kontinu dan tidak bersifat komersial. Pada tahun 2005, ada perusahaan kerupuk rambak yang masuk ke dalam industri. Namun, ada perbedaan dengan perusahaan yang terlebih dahulu masuk ke dalam industri. Perusahaan baru tersebut membuat kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit kerbau. Alasan perusahaan tersebut menggunakan bahan baku kulit kerbau dikarenakan kulit kerbau memiliki daya mengembang yang lebih baik dan rasa yang lebih gurih. Padahal perusahaan lain menggunakan campuran kulit kerbau saat pasokan kulit sapi mengalami penurunan. Kulit kerbau memiliki harga yang relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan kulit sapi. Kerupuk rambak yang dihasilkan oleh perusahaan di dalam industri memiliki karakteristik yang sama dan dipasarkan dengan bentuk kemasan dan berat yang sama. Harga yang berlaku juga sama yaitu sebesar Rp 30.000,00 untuk kemasan 250 gram dan Rp 60.000,00 untuk kemasan 500 gram dan dikemas dengan menggunakan kardus yang telah diberi label masing-masing perusahaan yang memproduksinya. Perkembangan usaha pembuatan kerupuk rambak sangat didukung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal. Berdasarkan wawancara dengan Wakil Bupati Kendal dan staff Disperindag Kabupaten Kendal, diperoleh informasi bahwa kerupuk rambak akan dijadikan komoditas khas daerah yang nantinya akan menjadi cinderamata dari Kabupaten Kendal. Perhatian Pemerintah Kabupaten Kendal terhadap usaha pembuatan kerupuk rambak juga diakui oleh para pengusaha. Menurut para pengusaha, Pemerintah Kabupaten melalui dinas terkait yaitu Dinas Koperasi dan UKM dan

Dinas Perindustrian dan Perdagangan mulai memfasilitasi usaha baik dari segi pemasaran, bantuan teknis seperti perijinan dan bantuan kredit lunak.

BAB VI ANALISIS ASPEK NON FINANSIAL Analisis aspek-aspek non finansial yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum dan aspek sosial ekonomi dan lingkungan. 6.1 Aspek Pasar Pengkajian aspek pasar penting untuk dilakukan karena tidak ada proyek yang berhasil tanpa adanya permintaan atas barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu usaha. Pada penelitian ini aspek pasar yang dianalisis meliputi permintaan, penawaran, serta strategi pemasaran. 6.1.1 Permintaan Permintaan dapat diartikan sebagai jumlah barang yang dibutuhkan konsumen yang mempunyai kemampuan untuk membeli pada berbagai tingkat harga (Umar 2005). Potensi pasar untuk produk kerupuk rambak ini cukup tinggi. Tingginya potensi pasar untuk produk kerupuk rambak terlihat dari jumlah permintaan untuk kerupuk rambak yang mengalami peningkatan. Jumlah permintaan kerupuk rambak ini dapat dilihat dari hasil produksi kerupuk yang habis terjual. Kerupuk rambak yang dihasilkan oleh industri adalah sekitar 100120 kilogram kerupuk rambak matang dalam satu kali periode produksi. Selain itu, usaha mengalami over demand atau kelebihan permintaan yang tidak mampu dipenuhi oleh pemilik usaha. Hal ini diperoleh berdasarkan keterangan dari pemilik usaha bahwa produknya selalu habis terjual dan terjadi kekosongan produk di agen penjualan. Permintaan jumlah kerupuk rambak ini meningkat tajam pada saat hari raya Lebaran dan liburan kenaikan kelas. Pada saat Lebaran dan liburan kenaikan kelas, jumlah permintaan kerupuk rambak meningkat dua kali lipat. Peluang pasar akan kerupuk rambak juga didukung oleh nilai budaya masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia menyukai produk kerupuk yang disajikan sebagai menu dalam makanan ataupun sebagai kudapan atau camilan saja. Hampir seluruh lapisan masyarakat mengkonsumsi kerupuk.

Kerupuk kulit sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari lidah konsumen Indonesia. Konsumennya sangat banyak, yang berasal dari berbagai kalangan. Konsumsi kerupuk kulit di Indonesia sangat besar. Walaupun secara statistik belum didapatkan angka pasti mengenai jumlah kuantitatif konsumsi kerupuk kulit di Indonesia. Tetapi melihat minat masyarakat yang begitu besar dan keberadaannya yang tersebar luas, dapat diduga bahwa konsumsi kerupuk ini sangat besar (Tim LPPOM MUI 2009). Permintaan kerupuk rambak ini biasanya datang dari agen maupun dari konsumen akhir. Jumlah permintaan juga meningkat tajam pada saat musim liburan kenaikan kelas dan hari raya Lebaran. Permintaan ini dikarenakan adanya penambahan jumlah pendatang maupun pengguna jalan yang memasuki kota Kendal. Kota Kendal yang terletak di jalur Pantura ini memiliki letak yang strategis untuk pemasaran kerupuk rambak. Peningkatan permintaan pada saat liburan kenaikan kelas maupun hari raya Lebaran membuat industri kewalahan dalam memenuhi jumlah permintaan ini sehingga terjadi over demand. 6.1.2 Penawaran Potensi pasar tidak hanya dilihat dari tingkat permintaan tetapi juga dari sisi penawaran. Penawaran diartikan sebagai berbagai kuantitas barang yang ditawarkan di pasar pada berbagai tingkat harga (Umar 2005). Penawaran kerupuk rambak ini dapat dikatakan masih rendah. Jumlah penawaran industri dapat dilihat dari jumlah produksi perusahaan karena seluruh hasil produksi perusahaan dijual ke pasar. Jika diasumsikan masing-masing perusahaan memproduksi 125 kemasan besar dan 750 kemasan kecil per bulan maka dapat disimpulkan bahwa penawaran industri setiap bulan sebesar 500 kemasan besar dan 3000 kemasan kecil. Penawaran kerupuk rambak saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar terutama pada saat liburan kenaikan kelas dan hari raya Lebaran tiba. Dalam industri kerupuk rambak di Kecamatan Pegandon ini hanya terdapat empat perusahaan yang mengusahakan kerupuk rambak secara komersial. Keempat perusahaan telah memiliki merek masing-masing bagi produknya. Keempat perusahaan tersebut menawarkan produk yang sama yaitu kerupuk rambak siap saji yang dikemas ke dalam kemasan yang sama yaitu 500 gram dan 250 gram dengan harga jual yang sama untuk masing-masing ukuran yaitu Rp

30.000,00 untuk ukuran 250 gram (kemasan kecil) dan Rp 60.000,00 untuk ukuran 500 gram (kemasan besar). Dengan kata lain produk kerupuk rambak ini adalah produk yang homogen dan konsumen kerupuk rambak belum memiliki loyalitas merek pada salah satu perusahaan sehingga produk memiliki daya substitusi yang sempurna satu sama lain. 6.1.3 Strategi Pemasaran Stanton (1995) diacu dalam Umar (2005) menyatakan bahwa pemasaran meliputi keseluruhan sistem yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan usaha yang bertujuan merencanakan, menentukan harga, hingga mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang atau jasa yang akan memuaskan kebutuhan pembeli, baik aktual maupun yang potensial. Menurut Umar (2005) pemasaran produk barang, manajemen pemasaran akan dipecah atas empat kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran (marketing mix) atau 4P dalam pemasaran yang terdiri dari empat komponen yaitu produk (product), harga (price), distribusi (place) dan promosi (promotion). 6.1.3.1 Produk Produk adalah sesuatu yang ditawarkan dan dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan konsumen. Strategi produk didefinisikan sebagai suatu strategi yang dilaksanakan oleh suatu perusahaan yang berkaitan dengan produk yang ditawarkannya (Utami 2008). Produk yang dihasilkan industri kerupuk di Pegandon adalah kerupuk rambak. Masing-masing perusahaan telah memberikan merek dagang pada produk kerupuk rambak. Produk kerupuk rambak dipasarkan dalam bentuk dua kemasan yaitu kemasan 250 gram (kemasan kecil) dan kemasan 500 gram (kemasan besar). Menurut klasifikasinya, komoditi yang ditawarkan industri kerupuk rambak yaitu barang konsumsi, karena dibeli oleh konsumen untuk langsung dikonsumsi. 6.1.3.2 Harga Harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat memiliki atau menggunakan produk yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar-menawar, atau ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli. Industri kerupuk rambak di Pegandon

memberikan atau menetapkan harga jual yang sama kepada konsumen. Harga jual berlaku bagi seluruh produk kerupuk rambak yang dihasilkan oleh perusahaan dalam industri baik yang menggunakan bahan baku kulit kerbau maupun menggunakan bahan baku kulit sapi. Penetapan harga untuk kerupuk rambak adalah dengan menambahkan biaya produksi dengan tingkat keuntungan yang ingin diperoleh oleh perusahaan. Harga produk kerupuk rambak untuk kemasan 250 gram adalah Rp 30.000,00 per kemasan dan kemasan 500 gram dijual dengan harga Rp 60.000,00. 6.1.3.3 Distribusi Pemasaran produk kerupuk rambak saat ini hanya dilakukan di daerah Kendal dan Semarang. Pemasaran belum menjangkau daerah lain. Usaha pembuatan kerupuk rambak ini belum memiliki rencana melakukan ekspansi ke daerah lain dengan alasan belum dapat memenuhi permintaan yang ada pada saat ini. Terdapat dua saluran distribusi yang digunakan oleh industri kerupuk rambak di Pegandon Kendal. Saluran I
Perusahaan Konsumen

Gambar 3. Saluran Pemasaran Kerupuk Rambak Saluran I Saluran I merupakan salah satu cara produsen kerupuk rambak dalam memasarkan usahanya. Pada saluran ini produsen langsung menjual produk kerupuk rambak kepada konsumen secara langsung. Pada saluran ini perusahaan ini tidak menggunakan perantara. Perusahaan-perusahaan pada umumnya menggunakan saluran I ini dengan melayani konsumen secara langsung di tempat usaha ataupun dengan membuka toko atau kios. Saluran II
Perusahaan Agen/Pengecer Konsumen

Gambar 4. Saluran Pemasaran Kerupuk Rambak Saluran II Saluran distribusi yang kedua merupakan saluran yang digunakan oleh perusahaan dengan menggunakan perantara untuk memasarkan produknya. Keuntungan bagi produsen yang menggunakan saluran distribusi kedua ini adalah

jangkauan daerah pemasaran yang lebih luas jika dibandingkan dengan saluran I. Hal ini dikarenakan agen bukan hanya berasal dari Pegandon saja namun dari Kendal dan daerah sekitarnya. Sistem yang digunakan dalam membangun kerjasama dengan para pengecer ini adalah dengan sistem konsinyasi dan risiko kerusakan produk menjadi tanggung jawab produsen karena agen akan mengembalikan kerupuk yang hampir kadaluarsa ataupun yang mengalami kerusakan dan ditukar dengan yang baru. Untuk penjualan melalui agen ini perusahaan memberikan bonus kepada para agen berdasarkan jumlah penjualan produk mereka ke konsumen. Bonus yang diberikan adalah sebesar Rp 2.500,00 untuk setiap kemasan kecil yang dijual dan Rp 3.000,00 untuk kemasan besar. Namun, tidak semua perusahaan menggunakan saluran II atau melalui agen dalam memasarkan usahanya. Hal ini dikarenakan produsen menilai jika melakukan pemasaran dengan menggunakan agen akan membuat perputaran uang lebih lambat dan tingkat keuntungan yang diperoleh akan lebih sedikit jika dibandingkan melakukan pemasaran dengan saluran I atau melakukan penjualan kepada konsumen secara langsung. Hal ini menyebabkan penjualan melalui agen memiliki proporsi yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan penjualan yang dilakukan secara langsung. 6.1.3.4 Strategi Promosi Pemasaran tidak hanya membicarakan produk, harga produk, dan mendistribusikan produk, tetapi juga mengkomunikasikan produk ini kepada masyarakat agar produk itu dikenal dan akhirnya dibeli oleh konsumen (Umar, 2005). Sejauh ini, promosi yang dilakukan oleh produsen kerupuk rambak untuk memasarkan produknya adalah promosi secara tradisional. Pemilik selalu memperkenalkan produk kepada rekan-rekannya sehingga promosi dilakukan dengan mouth to mouth. Selain promosi secara langsung, produsen juga menggunakan pamflet dan leaflet serta rajin mengikuti pameran yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kendal. 6.1.4 Hasil Analisis Aspek Pasar Berdasarkan analisis potensi pasar kerupuk rambak di atas dapat disimpulkan bahwa pengusahaan kerupuk rambak ini layak untuk diusahakan. Hal

ini dikarenakan potensi pasar untuk produk kerupuk rambak ini masih cukup tinggi. Potensi pasar untuk produk kerupuk rambak ini dilihat dari sisi permintaan, penawaran, dan harga. Jumlah permintaan tidak diimbangi oleh jumlah penawaran menciptakan peluang besar pada pengusahaan kerupuk rambak. Di samping itu, harga jual yang tinggi juga cukup menjanjikan bahwa usaha pembuatan kerupuk rambak dapat mendatangkan keuntungan. 6.2 Aspek Teknis Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun. Pada penelitian ini, aspek teknis yang akan dianalisis meliputi 6.2.1 Lokasi Usaha Lokasi usaha kerupuk rambak adalah di desa Penanggulan Kecamatan Pegandon. Di desa Penanggulan Pegandon terdapat empat produsen yang mengusahakan kerupuk rambak. Keempat produsen tersebut telah memberikan merek pada produknya masing-masing. Keempat perusahaan tersebut adalah Citra Rasa, Putra Jaya, Dwi Joyo dan Dwi Djaya. Lokasi usaha kerupuk rambak terpusat di Desa Penanggulan karena lokasi ini merupakan sentra pembuatan rambak sayur secara turun temurun kemudian ada produsen yang mengembangkan usaha rambak sayurnya dengan

memproduksi kerupuk rambak. Kemudian usaha kerupuk rambak mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan usaha ini membuat beberapa produsen tertarik untuk masuk ke dalam usaha pembuatan kerupuk rambak. Sampai saat ini industri kerupuk rambak di Pegandon hanya terdiri dari empat produsen yang mengusahakan kerupuk rambak. Lokasi usaha memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungan berlokasi di lokasi saat ini adalah kedekatan dengan bahan baku penolong, kedekatan dengan pasar, ketersediaan fasilitas dan kemudahan transportasi. Namun, kelemahan lokasi usaha saat ini adalah jauh dari bahan baku utama yaitu kulit kerbau dan kulit sapi. Lokasi saat ini menguntungkan dari sisi bahan baku penolong karena lokasi terletak dekat dengan pasar lokal sehingga mudah dalam penyediaan bahan baku penolong maupun barang investasi.

Dari sisi kedekatan dengan pasar, lokasi usaha kerupuk rambak tidak jauh dari pasar sasaran. Tempat usaha pembuatan kerupuk rambak ini juga relatif dekat dengan Kota Kendal. Kota Kendal yang terletak di jalur Pantura membuat produk kerupuk rambak lebih banyak terjual terutama pada saat liburan kenaikan kelas atau hari raya Lebaran. Turis domestik membelinya sebagai buah tangan. Dari segi fasilitas, lokasi usaha pembuatan kerupuk rambak sudah tersedia sumber air dan instalasi listrik yang baik. Hal ini membuat produsen kerupuk rambak tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pemasangan instalasi air dan listrik. Dari sisi transportasi, letak lokasi usaha mudah dicapai. Lokasi terletak di pemukiman penduduk dan telah memiliki fasilitas jalan yang telah di aspal dengan kondisi yang baik. Tidak ada kesulitan untuk menuju lokasi usaha karena fasilitas jalan yang telah memadai sehingga dapat diakses dengan menggunakan kendaraan beroda dua atau yang beroda empat. Lokasi usaha pembuatan kerupuk rambak saat ini memiliki kelemahan dalam pemenuhan bahan baku karena letaknya yang jauh. Selama ini bahan baku belum dapat dipenuhi oleh pasar lokal sehingga para produsen menjalin kerjasama dengan pemasok kulit dari kota lain seperti dari Pekalongan dan Demak. 6.2.2 Bahan Baku Bahan baku utama usaha pembuatan kerupuk rambak adalah kulit sapi dan kulit kerbau. Sebagian besar produsen menggunakan bahan baku kulit sapi sebagai input produksi. Namun, ada produsen yang hanya menggunakan kulit kerbau sebagai input produksinya. Walaupun letak lokasi usaha jauh dari pasar bahan baku namun industri pembuatan kerupuk rambak tidak mengalami masalah dalam pemenuhan bahan baku. Hal ini dikarenakan para produsen telah memiliki pemasok kulit. Bahan baku kulit sapi dan kulit kerbau dipenuhi dari Pekalongan dan Demak. Sedangkan untuk bahan baku penolong, produsen tidak mengalami masalah karena dapat dipenuhi dari pasar tradisional setempat. Para produsen telah memiliki standar dan spesifikasi untuk bahan baku kulit. Adapun standar dan spesifikasi yang ditetapkan adalah:

Tabel 7. Spesifikasi Bahan Baku Kerupuk Rambak


Jenis Bahan Baku Kulit Sapi Spesifikasi Berasal dari sapi jantan Berat kulit minimal 40 kilogram Berasal dari kerbau jantan Berat kulit minimal 30 kilogram Keterangan Kandungan lemak yang lebih rendah Berkaitan dengan kemudahan dalam proses pengerokan Kandungan lemak yang lebih rendah Berkaitan dengan kemudahan dalam proses pengerokan

Kulit kerbau

Sumber : Data Primer (Diolah)

Spesifikasi bahan baku untuk syarat jenis kelamin dapat berubah karena jika kulit sapi jantan tidak tersedia, produsen masih bersedia menggunakan kulit sapi betina. Bahan baku kulit sapi dan kulit kerbau untuk usaha pembuatan kerupuk rambak di Pegandon berasal dari Pekalongan dan Demak. Baik di Pekalongan maupun di Demak bahan baku diperoleh dari tempat penyembelihan hewan di daerah tersebut. Para pemasok kulit sapi dan kulit kerbau mengumpulkan kulitkulit dari tempat-tempat penyembelihan hewan yang ada di daerah tersebut. Para pemilik usaha kerupuk rambak yang ada di Pegandon memiliki pemasok kulit yang ada di Pekalongan. Para produsen telah memiliki supplier masing-masing. Kerjasama dengan pemasok dilakukan dengan sistem pemesanan. Para produsen memesan kulit melalui telepon, kemudian pemasok akan mengirimkan kulit kepada produsen sesuai jumlah yang diinginkan. Namun, jika para supplier tidak dapat memenuhi jumlah permintaan produsen maka produsen akan membeli kekurangan bahan baku di Demak dengan cara memesan kepada pemasok atau datang langsung ke tempat penyembelihan (jagalan) di Demak. Pada saat permintaan meningkat yaitu pada saat liburan kenaikan kelas dan hari raya Lebaran, bahan baku yang diperlukan juga akan meningkat. Pada saat itu pula para produsen mengalami kekurangan bahan baku. Namun, para produsen memiliki strategi khusus untuk mengantisipasi kekurangan bahan baku ini yaitu dengan melakukan penyimpanan kerupuk rambak mentah sehingga lonjakan permintaan dapat diatasi oleh produsen dengan ketersediaan kerupuk rambak di pasar. Dari segi ketersediaan bahan baku, kulit sapi lebih banyak tersedia di pasar dibandingkan dengan kulit kerbau. Oleh karena itu, pengusaha lebih mudah untuk

mendapatkan kulit sapi untuk kebutuhan produksinya. Namun, hingga saat ini belum ada permasalahan yang berarti pada usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit kerbau dalam pemenuhan bahan baku. Dengan kata lain, usaha kerupuk rambak kulit kerbau masih lancar dalam memperoleh bahan baku kulit kerbau untuk kelancaran produksinya. Jadi bahan baku kulit sapi lebih layak untuk dijadikan bahan baku dalam pembuatan kerupuk rambak karena ketersediaannya di pasar. 6.2.3 Kapasitas Produksi Kapasitas produksi atau luas produksi adalah jumlah atau volume produk yang seharusnya dibuat perusahaan (Sumarni dan Soeprihanto dalam Utami, 2008). Usaha pembuatan kerupuk rambak yang diusahakan di Pegandon merupakan usaha kecil. Saat ini kapasitas produksi produsen kerupuk rambak pada hari normal berada pada kisaran 20 kilogram sampai dengan 30 kilogram kerupuk rambak mentah per satu periode produksi. Sehingga dalam satu periode produksi menghasilkan 10-17 kemasan besar dan 70-85 kemasan kecil. Satu periode produksi biasanya terdiri dari tiga hari. Jadi dalam satu bulan, kapasitas produksi kerupuk rambak mentah adalah 200 kilogram sampai dengan 300 kilogram setiap bulan atau setara dengan 100-170 kemasan besar dan 700-850 kemasan kecil. Jumlah kapasitas produksi akan meningkat tajam pada saat liburan kenaikan kelas dan hari raya Lebaran. Pada saat liburan dan hari raya Lebaran, kapasitas produksi usaha kerupuk rambak mentah berkisar antara 400 kilogram hingga 550 kilogram. Jumlah kerupuk rambak mentah ini setara dengan 250-300 kemasan besar dan 1400-1500 kemasan kecil. 6.2.4 Proses Produksi Proses produksi kerupuk rambak melalui beberapa tahap mulai dari persiapan bahan baku sampai proses pengemasan. Berikut adalah tahapan proses produksi kerupuk rambak: 1. Kulit basah dicuci dahulu agar bersih kemudian dipotong-potong menjadi dua atau tiga bagian

2. Kemudian kulit direbus dengan air yang tidak begitu panas 30C dan diadukaduk atau dibolak-balik sampai rambut dari kulit kerbau yang hitam mudah dikerok. Jika sudah mudah dikerok maka kulit diangkat dari panci. 3. Kulit dikerok dengan pisau sampai bersih dan tidak ada bulunya lagi dan dipotong berukuran 20x30 cm 4. Kulit yang sudah dipotong-potong itu direbus sampai matang dengan suhu 100C. 5. Kulit yang sudah matang dipotong-potong berukuran 2x8 cm kemudian dijemur sampai kering. 6. Kulit yang setengah kering diglabati atau dibersihkan sampai bersih karena untuk membersihkan bulu yang belum bersih dengan menggunakan pisau kemudian dipotong-potong berukuran 1x1 cm dan dijemur sampai kering 100 persen. 7. Bahan kulit yang sudah kering kemudian direbus dengan menggunakan lemak sapi selama 20 sampai 22 jam dengan suhu 20C, kulit yang sudah direbus kemudian dijemur selama dua hari. Bahan yang sudah dijemur ini disebut dengan kerupuk rambak mentah 8. Kerupuk rambak mentah digoreng dalam tiga tahap dengan suhu pada setiap penggorengan berbeda-beda. Adapun tahap penggorengan adalah

penggorengan pertama dengan suhu 20C, penggorengan kedua dengan suhu 45C, dan penggorengan ketiga dengan suhu 100C 9. Kerupuk rambak yang sudah digoreng kemudian diberi bumbu yang berupa garam dengan cara ditaburkan pada kerupuk-kerupuk yang sudah digoreng secara merata. 10. Kerupuk yang sudah diberi bumbu kemudian dikemas dengan menggunakan dua ukuran yaitu 250 gram dan 500 gram. Berikut ini adalah diagram alir pembuatan kerupuk rambak di industri kerupuk rambak Pegandon Kendal:

Kulit Basah Pencucian kulit dan pemotongan kulit menjadi dua atau tiga Kulit direbus dalam air dengan suhu 30 C sampai kulit mudah di kerok Pengerokan bulu pada kulit dan pemotongan kulit berukuran 20x30 cm Perebusan kulit dalam air dengan suhu 100C Pemotongan kulit matang dengan ukuran 2x8 cm Penjemuran kulit Pembersihan sisa bulu Pemotongan kulit dengan ukuran 1x1 cm Penjemuran kulit hingga kering 100% Pengungkepan kulit dengan lemak sapi Penjemuran Penggorengan Pemberian bumbu Pengemasan Gambar 5. Diagram Alir Pembuatan Kerupuk Rambak di Pegandon Dalam melakukan proses produksinya, usaha pembuatan kerupuk rambak ini memiliki strategi untuk mengatasi permintaan yang melonjak pada saat-saat khusus. Para produsen melakukan penimbunan kerupuk rambak yang masih mentah. Para produsen membeli bahan baku kulit untuk diolah menjadi kerupuk

rambak mentah (proses 1-7). Namun, tidak semua kerupuk rambak mentah digoreng menjadi kerupuk rambak. Sebagian disimpan untuk mengantisipasi permintaan pada saat liburan kenaikan kelas dan Hari Raya Lebaran.
Produksi kerupuk rambak setiap tiga hari sekali kerupuk rambak mentah

Kerupuk rambak digoreng dan langsung dikemas

Kerupuk rambak mentah disimpan dan digoreng pada saat permintaan naik

Gambar 6. Pembagian Produksi Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak 6.2.5 Lay Out Usaha Layout adalah keseluruhan proses penentuan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas yang dimiliki suatu perusahaan. Layout perusahaan disesuaikan dengan sifat proses produksi yang direncanakan untuk proyek yang dilaksanakan oleh perusahaan (Husnan dan Suwarsono 2000). Usaha pembuatan kerupuk rambak memiliki luas bangunan antara 50 m2 sampai dengan 55 m2. Lokasi produksi terletak menyatu dengan kediaman produsen dalam satu bangunan. Struktur ruangan untuk proses produksi ditata sesuai dengan alur proses produksi. Ruangan produksi terbagi menjadi empat yaitu ruang pencucian, ruang penjemuran, ruang pengungkepan dan penggorengan dan ruang pengemasan. 6.2.6 Hasil Analisis Aspek Teknis Berdasarkan hasil analisis, usaha pembuatan kerupuk rambak dapat dikatakan layak jika dilihat dari aspek teknis. Hal ini mengingat bahwa lokasi usaha pembuatan kerupuk rambak menunjang keberlangsungan usaha dilihat dari kedekatan dengan bahan baku penolong, kedekatan dengan pasar dan utilitas serta kemudahan dalam transportasi. Sedangkan lokasi usaha yang jauh dari bahan baku tidak terlalu signifikan karena selama ini pemenuhan bahan baku tidak mangalami kendala dan para produsen telah memiliki supplier kulit dari kota lain. Para produsen juga telah memiliki spesifikasi pada bahan baku dan memiliki layout usaha yang mendukung alur produksi. Walaupun secara teknis telah layak namun

usaha dinilai lebih layak secara teknis dengan menggunakan bahan baku kulit sapi karena ketersedian kulit sapi lebih banyak di pasar. 6.3 Aspek Manajemen Usaha pembuatan kerupuk rambak merupakan bentuk usaha perorangan. Para produsen menjalankan usaha kerupuk rambak secara tradisional. Usaha pembuatan kerupuk rambak merupakan usaha keluarga. Hal ini membuat usaha dijalankan secara non formal dan belum memiliki struktur organisasi. Pemilik perusahaan merangkap sebagai pemimpin usaha yang memegang kendali atas semua keputusan perusahaannya masing-masing. Meskipun tanpa struktur perusahaan yang lengkap dan jelas, usaha pembuatan kerupuk rambak memiliki pembagian tugas yang sederhana dan jelas. Pemilik perusahaan bertugas melakukan tahap pengungkepan, pemberian lemak sapi serta pemberian garam agar kekonsistenan rasa dapat terjaga. Sementara itu para pegawainya bertugas pada tahap proses pembersihan bulu, penjemuran, pemotongan kulit, penggorengan dan pengemasan. Jumlah tenaga kerja yang digunakan sebanyak 3-5 orang. Dari segi administrasi, usaha pembuatan kerupuk rambak ini belum memiliki pembukuan usaha. Seluruh aktivitas usaha tidak dicatat secara terperinci. Para pemilik usaha hanya melakukan estimasi jumlah penjualan berdasarkan tren penjualan saja sehingga para pemilik tidak memiliki data penjualan yang tercatat dan pasti. 6.3.1 Hasil Analisis Aspek Manajemen Usaha pembuatan kerupuk rambak ini kurang layak untuk diusahakan bila dilihat dari aspek manajemen. Usaha pembuatan kerupuk rambak memang belum memiliki struktur organisasi formal, tetapi telah memiliki pembagian tugas yang jelas antara pemimpin usaha dan karyawan. Hal ini dikarenakan usaha pembuatan kerupuk rambak ini memiliki skala usaha yang kecil serta merupakan usaha keluarga. Walaupun masih merupakan usaha keluarga sebaiknya para pemilik usaha memisahkan harta pribadi dan kekayaan usaha. Dari administrasi usaha ini juga belum layak karena belum memiliki pembukuan atas aktivitas usaha.

6.4 Aspek Hukum Pendirian dan beroperasinya suatu usaha akan lebih diketahui serta diakui keberadaanya oleh pemerintah jika berbentuk badan usaha atau memiliki perizinan usaha. Suatu perusahaan yang layak, perlu memenuhi persyaratan legalitas agar mempermudah hubungan ke luar perusahaan, memiliki kekuatan hukum, diakui serta terikat hukum yang berlaku (Utami 2008). 6.4.1 Bentuk Badan Usaha Perusahaan-perusahaan yang ada di industri pembuatan kerupuk rambak memiliki bentuk badan usaha yaitu usaha perorangan. Modal usaha yang digunakan berasal dari pemilik perusahaan. Keuntungan dari bentuk badan usaha perorangan adalah dapat menikmati seluruh keuntungan yang diperoleh dari kegiatan usaha. Sedangkan kelemahannya adalah segala bentuk kerugian atau beban usaha harus ditanggung sendiri oleh pemilik perusahaan. 6.4.2 Izin Usaha Dalam menjalankan aktivitas usaha, para produsen telah memiliki izin usaha dari pemerintah setempat. Izin usaha tersebut adalah izin usaha dari Kepala Desa Penanggulan, izin usaha dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kendal dan izin usaha dari Dinas Kesehatan. Seluruh perusahaan kerupuk rambak yang ada di Desa Penanggulan telah memiliki izin usaha dari institusi yang telah tersebut di atas. Berdasarkan aspek hukum usaha pembuatan kerupuk rambak ini layak untuk diusahakan. Hal ini dikarenakan usaha telah memiliki perizinan sehingga usaha memiliki kekuatan secara hukum. 6.5 Aspek Sosial Ekonomi dan Lingkungan Pembangunan suatu usaha atau perusahaan seharusnya memperhatikan kepentingan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial ekonomi. Pembangunan usaha yang baik adalah pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pembangunan tersebut dapat berwujud apabila semua komponen dalam perusahaan mengerti pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dalam setiap tahapan produksinya (Utami 2008).

Usaha pembuatan kerupuk rambak ini memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah. Kontribusi kepada pendapatan daerah berupa produk kerupuk rambak yang dihasilkan dapat menjadi komponen pendapatan daerah dari kelompok barang makanan dengan jenis konsumsi lainnya (miscellaneous food item). Usaha pembuatan kerupuk rambak ini membuka kesempatan kerja bagi penduduk sekitar. Para produsen kerupuk rambak ini rata-rata memiliki tenaga kerja non keluarga sebanyak 3-5 orang. Usaha pembuatan kerupuk rambak ini telah membuka lapangan usaha bagi tenaga kerja terutama untuk tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih. Usaha pembuatan kerupuk rambak ini juga dapat dikatakan layak jika dilihat dari aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Dari lingkungan, walaupun usaha pembuatan kerupuk rambak ini belum memiliki Analisis Mengenai

Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) yang menyatakan bahwa keseimbangan lingkungan tersebut dapat dijaga dan diatur apabila industri telah memiliki AMDAL dan perundangan yang berlaku menghendaki setiap usaha memiliki AMDAL. Namun hal ini dapat diterima dengan pertimbangan bahwa usaha pembuatan kerupuk rambak tidak menghasilkan limbah dalam jumlah besar dan limbah yang dihasilkan tidak membahayakan masyarakat. Limbah yang dihasilkan oleh usaha dapat dikelola oleh pemilik usaha dengan membuat tempat penampungan limbah pada masing-masing usaha.

BAB VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL Analisis aspek finansial digunakan untuk menganalisis kelayakan suatu proyek atau usaha dari segi keuangan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan kriteria-kriteria penilaian investasi, yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Payback Period (PBP). Dalam melakukan analisis dengan empat kriteria tersebut digunakan arus kas untuk mengetahui besarnya manfaat yang diterima dan biaya yang dikeluarkan selama periode tertentu. 7.1 Analisis Aspek Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi Usaha pembuatan kerupuk rambak yang berkembang di Pegandon menggunakan bahan baku kulit sapi sebagai input produksinya. Pada dasarnya proses pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan kulit sapi dan kulit kerbau sama saja. Namun, terdapat beberapa perbedaan dalam manfaat dan biaya. Skala produksi untuk analisis usaha kerupuk rambak kulit sapi ini adalah 25 kilogram kerupuk rambak matang dalam satu periode produksi. 7.1.1 Analisis Inflow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi Penerimaan usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi diterima dari hasil penjualan dan nilai sisa investasi yang telah dilakukan. Pendapatan didapat dari mengkalikan total penjualan dengan harga jual. Pada tahun ke-1 dan ke-2, usaha belum mampu berproduksi secara optimal. Nilai produksi pada tahun ke-1 dan ke-2 masing-masing sebesar 50 persen dan 70 persen. Hal ini dikarenakan usaha masih dalam tahap pengenalan produk kepada konsumen sehingga usaha membatasi jumlah produksinya. Sedangkan mulai tahun ke-3 sampai tahun ke-10 jumlah produksi mencapai 100 persen, yaitu sebesar 2100 kemasan kecil dan 9.800 kemasan besar. Harga jual produk kerupuk rambak adalah Rp 60.000,00 untuk kemasan besar dan Rp 30.000,00 untuk kemasan kecil.

Pada tahun pertama total penerimaan usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi adalah sebesar Rp 210.000.000,00. Pada tahun ke-2 total penerimaan usaha sebesar Rp 294.000.000,00 dan pada tahun ke-3 hingga ke-10, produksi sudah mencapai kapasitas optimal sehingga total penerimaannya adalah sebesar Rp 420.000.000,00. Rincian penerimaan usaha dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Perkiraan Pendapatan Penjualan Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi per Tahun
Tahun keProduk Kerupuk gram Kerupuk gram Kerupuk gram Kerupuk gram Kerupuk gram Kerupuk gram Rambak 500 Rambak 250 Rambak 500 Rambak 250 Rambak 500 Rambak 250 Produksi (kemasan) 1.050 4.900 1470 6860 2100 9800 Harga (Rp) 60.000 30.000 60000 30000 60000 30000 Pendapatan (Rp) 63.000.000 210.000.000 147.000.000 88.200.000 294.000.000 205.800.000 126.000.000 420.000.000 294.000.000 Total Pendapatan (Rp)

3-10

Sumber : Dwi Joyo dan Dwi Djaya (2009) (diolah)

Penerimaan lain didapat dari nilai sisa atau salvage value. Nilai sisa merupakan nilai sisa dari barang modal yang tidak habis terpakai selama umur proyek berlangsung dan dinilai pada saat umur proyek berakhir. Barang-barang modal yang memiliki nilai sisa adalah tanah, bakul plastik dan motor. Lahan memiliki nilai Rp 600.000,00 per m2. Lahan memiliki luas 53 m2. Lahan yang tidak didirikan bangunan di atasnya digunakan sebagai tempat penjemuran. Bakul plastik merupakan barang reinvestasi karena barang sudah tidak memiliki nilai ekonomis sebelum umur proyek berakhir. Oleh sebab itu perusahaan melakukan pembelian barang pada awal tahun ke-5 dan ke-9. Reinvestasi bakul plastik pada awal tahun ke-9 membuat barang masih memiliki manfaat ekonomis pada akhir proyek. Nilai bakul plastik adalah Rp 1.875.000,00 dengan jumlah 75 buah bakul plastik. Sedangkan, motor memiliki nilai Rp 15.500.000,00. Total nilai sisa adalah sebesar Rp 38.604.167,00. Lahan tidak mengalami penyusutan, sehingga nilai akhir proyek adalah sama dengan nilai awalnya yaitu

sebesar Rp 31.800.000,00. Motor memiliki nilai sisa pada akhir proyek sebesar Rp 5.166.667,00. Umur ekonomis motor adalah selama lima belas tahun. Sedangkan untuk barang reinvestasi bakul plastik memiliki nilai sisa sebesar Rp 937.500,00. 7.1.2 Analisis Outflow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi Arus pengeluaran dalam usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi ini dikelompokkan menjadi dua yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi merupakan biaya yang dikeluarkan pada saat awal proyek. Namun, jika terdapat aset yang umur ekonomisnya kurang dari umur proyek, biaya investasi yang dikeluarkan selama proyek berlangsung disebut biaya reinvestasi. Tabel 9 akan merinci biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk investasi dan harga yang digunakan adalah harga yang berlaku saat ini. Selain biaya investasi, pengeluaran usaha juga dilihat dari biaya operasional. Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan secara berkala selama usaha berjalan. Biaya operasional terdiri dari dua macam yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan dan nilainya sama setiap tahun. Biaya tetap yang dikeluarkan usaha pembuatan kerupuk rambak adalah biaya transportasi, biaya listrik dan air, biaya telepon dan upah tenaga kerja. Penjabaran biaya tetap adalah sebagai berikut : 1. Biaya transpotasi adalah biaya yang dikeluarkan oleh pemilik usaha untuk pembelian bahan bakar kendaraan yang digunakan untuk membeli bahan baku, bahan penolong maupun mendistribusikan produknya. Besarnya biaya transportasi adalah Rp 300.000,00 per bulan setara dengan Rp 3.600.00,00 per tahun. 2. Biaya listrik dan air sebesar Rp 200.000,00 per bulan atau setara dengan Rp 2.400.000,00 per tahun. 3. Biaya telepon sebesar Rp 150.000,00 per bulan setara dengan Rp 1.800.000,00 per tahun.

4. Upah tenaga kerja yaitu sebayak Rp 700.000,00 per bulan untuk setiap tenaga kerja. Jadi upah tenaga kerja per bulan sebesar Rp 3.500.000,00 atau sebesar Rp 42.000.000,00 per tahun. 5. Besar Pajak Bumi dan Bangunan yang dibayarkan adalah sebesar Rp 40.000,00 per tahun. Tabel 9. Biaya Investasi Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi
Jenis Investasi Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastic Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air Tabung gas Motor Satuan Jumlah m2 m2 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit unit Unit Unit Unit Unit unit m2 unit unit unit unit unit unit unit 53 41 1 6 5 5 5 5 15 300 4 2 5 10 3 6 2 75 12 5 3 5 1 1 2 1 Harga/ Nilai satuan (Rp) (Rp) 600.000 31.800.000 375.000 15.375.000 3.000.000 185.000 3.000.000 1.110.000 Umur ekonomis (Tahun) 10 10 5 5 5 5 5 5 2 5 5 5 2 2 10 10 4 10 5 5 10 10 5 15

150.000 750.000 215.000 1.075.000 175.000 875.000 125.000 625.000 55.000 825.000 19.000 5.700.000 130.000 520.000 410.000 820.000 55.000 275.000 40.000 400.000 10.000 30.000 200.000 1.200.000 400.000 800.000 25.000 1.875.000 85.000 1.020.000 100.000 500.000 40.000 120.000 60.000 300.000 500.000 500.000 75.000 75.000 350.000 700.000 15.500.000 15.500.000 85.770.000

TOTAL BIAYA INVESTASI


Sumber : Dwi Joyo dan Dwi Djaya (2009) (diolah)

Besarnya biaya tetap per tahun pada usaha pembutan kerupuk rambak dengan menggunakan kulit sapi adalah sebesar Rp 49.840.000,00. Rincian biaya tetap terdapat pada Tabel 10

Tabel 10. Rincian Biaya Tetap Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi Biaya Tetap Harga/Bulan (Rp) Jumlah/tahun (Rp) Transportasi 300.000 3.600.000 Listrik 200.000 2.400.000 Telepon 150.000 1.800.000 PBB 40.000 Upah (5 orang) 3.500.000 42.000.000 49.840.000
Sumber : Dwi Joyo dan Dwi Djaya (2009) (diolah)

Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang besarnya dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan dalam proses produksi. Biaya variabel pada usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi ini adalah kulit sapi basah, minyak goreng, kayu bakar, lemak, arang, garam, minyak tanah, kemasan, gas dan bonus kepada agen. Satu kali produksi terdiri dari tiga hari. Satu kali masa produksi menghasilkan 15 kemasan besar dan 70 kemasan kecil pada masa normal dan pada saat permintaan tinggi dalam satu kali produksi dapat menghasilkan 30 kemasan besar dan 140 kemasan kecil. Harga kulit sapi adalah Rp 12.000,00 per kilogram. Rincian biaya variabel terdapat pada Tabel 11. Beberapa perhitungan yang dipakai untuk menghitung besarnya biaya variabel usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan kulit sapi adalah sebagai berikut 1. Satu kwintal kulit sapi basah menghasilkan kerupuk rambak mentah sebanyak 30 kilogram. 2. Satu kilogram kerupuk rambak mentah menghasilkan empat kemasan kerupuk rambak ukuran kecil. 3. Minyak goreng sebanyak 50 kilogram digunakan untuk menggoreng kerupuk rambak sebanyak 800 kemasan. 4. Satu blek lemak digunakan untuk memproduksi 20 kemasan kecil kerupuk rambak.

5. Kebutuhan kayu bakar dan arang masing-masing adalah 1 colt dan satu kwintal untuk memproduksi 400 kemasan kecil kerupuk rambak. 6. Bonus diberikan ke agen sebesar Rp 2.500,00 untuk kemasan kecil dan Rp 3.000,00 untuk kemasan besar. Jumlah penjualan melalui agen adalah sebesar 35 persen dari total produksi perusahaan. Tabel 11. Rincian Biaya Variabel Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi
Biaya Variabel Kulit sapi basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) Satuan Harga/ satuan (Rp) 12.000 13.000 450.000 80.000 250.000 2.000 45.000 2.800 2.400 75.000 Jumlah/ Kuantitas Tahun ke-1 (Rp) 12963 875 35 700 35 240 120 2100 9800 60 77.778.000 5.687.500 7.875.000 28.000.000 4.375.000 240.000 2.700.000 2.940.000 11.760.000 2.250.000 Jumlah/ tahun ke-2 (Rp) Jumlah/ tahun (Rp)

kilogram kilogram colt blek kwintal kemasan hari kemasan kemasan tabung

108889200 155.556.000 7962500 11025000 39200000 6125000 336000 3780000 4116000 16464000 3150000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000

kemasan

3.000

735

1.102.500

1543500

2.205.000

kemasan 2.500 JUMLAH

3430

4.287.500 6002500 8.575.000 148.995.500 208.593.700 297.991.000

Sumber : Dwi Joyo dan Dwi Djaya (2009) (diolah)

Biaya variabel yang dibutuhkan untuk memproduksi kerupuk rambak menggunakan bahan baku kulit sapi ini sebesar Rp 297.991.000,00 per tahun. Pada tahun pertama dan kedua nilainya dikonversi sebesar 50 persen dan 70 persen. Hal ini dikarenakan jumlah produksi pada tahun pertama dan kedua sebesar 50 persen dan 70 persen dari kapasitas optimal. Jadi pada tahun pertama dan kedua besarnya biaya variabel masing-masing sebesar Rp 148.995.500,00 dan Rp 208.593.700,00. 7.1.3 Analisis Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi

Kelayakan

finansial

usaha

pembuatan

kerupuk

rambak

dengan

menggunakan bahan baku kulit sapi ini dapat dilihat dari beberapa kriteria penilaian investasi yaitu Net Present Value (NPV), Net B/C, Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period. Hasil cashflow pada usaha yang menggunakan kulit sapi menunjukkan hasil yang tertera pada Tabel 12. Rincian lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 2. Tabel 12. Hasil Analisis Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Sapi Kriteria Hasil NPV Rp 267.805.679 IRR 65,49% NET B/C 4,88 PAYBACK PERIOD 2,89 tahun Berdasarkan analisis finansial di atas dapat dilihat bahwa usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit sapi akan menghasilkan nilai NPV yang lebih besar dari nol, yaitu Rp 267.805.679,00. Hal ini menunjukkan usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit sapi yang dilaksanakan akan memberikan manfaat bersih kini sebesar Rp 267.805.679,00 selama jangka waktu 10 tahun. Dengan demikian, berdasarkan kriteria NPV usaha ini layak untuk dilaksanakan. Nilai IRR yang diperoleh yaitu sebesar 65,49 persen di mana IRR tersebut lehih besar dari discount factor (rate) yang ditetapkan yaitu sebesar 8,38 persen. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ini mampu memberikan hasil sebesar 65,49 persen. Dengan demikian, berdasarkan kriteria IRR usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit sapi layak untuk dilaksanakan. Nilai Net B/C yang diperoleh yaitu sebesar 4,88. Hal ini berarti setiap Rp 1,00 yang dikeluarkan akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp 4,88. Nilai Net B/C yang diperoleh lebih besar dari 1, sehingga usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit sapi ini layak untuk dilaksanakan. Payback Period (PBP) yang diperoleh adalah 2,89 tahun atau sama dengan 2 tahun 10 bulan 20 hari. Nilai Payback Period ini cukup singkat sehingga berdasarkan kriteria Payback Period usaha ini layak untuk dijalankan karena masa pengembalian tidak melebihi umur proyek atau usaha.

7.1.4 Analisis Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi Analisis switching value digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan maksimal pada harga output, produksi perusahaan dan harga input variabel yang paling berpengaruh yang dapat ditoleransi sehingga usaha masih layak dilaksanakan. Switching value atau nilai pengganti ditentukan dengan uji coba sehingga menghasilkan nilai NPV sama dengan nol, IRR sama dengan discount rate, dan nilai Net B/C sama dengan satu. Variabel yang dibahas dalam analisis switching value adalah variabel yang dianggap signifikan mempengaruhi usaha atau proyek. Dalam penelitian ini variabel yang akan dibahas yaitu jumlah produksi kerupuk rambak dari sisi inflow dan biaya bahan baku yaitu kulit sapi basah dan lemak. Variabel tersebut digunakan karena berdasarkan data di lapangan yaitu adanya penurunan penjulan produk sebagai akibat kemungkinan penurunan produksi, usaha yang sangat bergantung pada kulit sapi sebagai bahan baku utama dan lemak sebagai bahan baku penolong yang memiliki harga fluktuatif di pasar. Variabel tingkat harga jual tidak digunakan untuk menganalisis nilai pengganti. Hal ini dikarenakan harga jual kerupuk rambak selalu mengalami peningkatan dan tidak pernah mengalami penurunan harga jual. Dasar pemikiran ini berdasarkan fakta yang ada di lokasi penelitian. Hasil analisis switching value usaha pembuatan kerupuk rambak

dengan menggunakan bahan baku kulit sapi dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Hasil Analisis Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Payback IRR Persentase NPV Net (persen Period Perubahan (Persen) (Rp) B/C (tahun) ) Penurunan penjualan kerupuk rambak kemasan 15,49 0 1,00 8,38 10 250 gram Penurunan penjualan kerupuk rambak kemasan 36,15 0 1,00 8,38 10 500 gram Penurunan penjualan dua 10,84 0 1,00 8,38 10 kemasan secara serentak Kenaikan harga kulit sapi 29,28 0 1,00 8,38 10 basah Kenaikan harga lemak 81,33 0 1,00 8,38 10

Berdasarkan hasil analisis switching value, dapat dilihat perubahanperubahan variabel yang berpengaruh terhadap kelayakan usaha. Dengan asumsi cateris paribus, jika salah satu dari perubahan terjadi yaitu penurunan penjualan kerupuk rambak kemasan kecil sebesar 15,49 persen, penurunan penjualan kerupuk rambak kemasan besar sebesar 36,15 persen, penurunan penjualan kedua jenis kemasan secara serentak sebesar 10,84 persen, kenaikan harga kulit sapi basah sebesar 29,28 persen atau kenaikan harga lemak sebesar 81,33 usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit sapi ini masih layak dilaksanakan dan memperoleh keuntungan normal. Perubahan terhadap penurunan penjualan kerupuk rambak kedua jenis kemasan secara serentak dikatakan berpengaruh paling besar diantara kondisi lainnya terhadap kelayakan usaha. Berdasarkan hasil analisis switching value, usaha pembuatan kerupuk rambak masih layak apabila besarnya penurunan penjualan kerupuk rambak dua jenis kemasan secara serentak tidak melebihi 10,84 persen. Jika penurunan yang terjadi lebih besar dari 10,84 persen, maka usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi ini menjadi tidak layak. Sementara usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit sapi ini masih layak untuk dilakukan apabila penurunan penjualan kerupuk rambak kemasan kecil tidak melebihi 15,49 persen, penurunan penjualan kemasan besar tidak melebihi 36,15 persen kenaikan harga kulit sapi basah tidak melebihi 29,28 persen atau kenaikan harga lemak tidak melebihi 81,33. Dengan demikian, dapat diihat bahwa usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi ini sangat sensitif terhadap penurunan penjualan kedua jenis kemasan secara serentak. Sedangkan perubahan yang terjadi akibat kenaikan harga lemak menjadi variabel yang paling rendah pengaruhnya terhadap kelayakan usaha. 7.1.5 Laporan Rugi Laba Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Laporan rugi laba berguna untuk melihat berapakah keuntungan yang diperoleh usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit sapi setiap tahunnya dalam memproduksi kerupuk rambak. Pada perhitungan rugi laba perusahaan telah memperhitungkan pajak usaha, namun faktanya perusahaan tidak membayar pajak usaha kepada pemerintah. Lampiran 3 menunjukkan bahwa

usaha pembuatan kerupuk rambak dengan bahan baku kulit sapi pada tahun pertama mendapatkan keuntungan sebesar Rp 2.577.525,00. Sedangkan pada tahun kedua sebesar Rp 24.539.145,00. Tahun ketiga dan tahun selanjutnya

sebesar Rp 56.788.154,00.

7.2 Analisis Aspek Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau Usaha pembuatan kerupuk rambak di Pegandon ada yang menggunakan bahan baku kulit kerbau sebagai input produksinya. Pada dasarnya proses pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan kulit sapi dan kulit kerbau sama saja. Namun, terdapat beberapa perbedaan dalam manfaat dan biaya. Skala usaha yang digunakan pada perhitungan analisis usaha pembuatan kerupuk rambak kulit kerbau ini adalah 25 kilogram kerupuk rambak matang. 7.2.1 Analisis Inflow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau Penerimaan usaha pembuatan kerupuk rambak kulit kerbau diterima dari hasil penjualan dan nilai sisa investasi yang telah dilakukan. Pendapatan diperoleh dari mengkalikan total penjualan dengan harga jual. Pada tahun ke-1 dan ke-2, usaha belum mampu berproduksi secara optimal. Nilai produksi pada tahun ke-1 dan ke-2 masing-masing sebesar 50 persen dan 70 persen. Hal ini dikarenakan usaha masih dalam tahap pengenalan produk kepada konsumen sehingga usaha membatasi jumlah produksinya. Sedangkan mulai tahun ke-3 sampai tahun ke-10 jumlah produksi mencapai 100 persen, yaitu sebesar 1.600 kemasan kecil dan 11.000 kemasan besar per tahun. Harga jual produk kerupuk rambak bahan baku kulit kerbau ini sama dengan kerupuk rambak bahan baku kulit sapi yaitu Rp 60.000,00 untuk kemasan besar dan Rp 30.000,00 untuk kemasan kecil. Pada tahun pertama total penerimaan usaha pembuatan kerupuk rambak adalah sebesar Rp 213.000.000,00. Pada tahun ke-2, total penerimaan usaha sebesar Rp 298.200.000,00 dan pada tahun ke-3 hingga ke-10, produksi sudah

mencapai kapasitas optimal sehingga total penerimaannya adalah sebesar Rp 426.000.000,00. Rincian penerimaan usaha dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Perkiraan Pendapatan Penjualan Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Kerbau per Tahun
Tahun keProduk Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Produksi (kemasan) 800 5.500 1120 7700 1600 11000 Harga (Rp) 60.000 30.000 60000 30000 60000 30000 Pendapatan (Rp) 48.000.000 213.000.000 165.000.000 67.200.000 298.200.000 231.000.000 96.000.000 426.000.000 330.000.000 Total Pendapatan (Rp)

3-10

Sumber : Citra Rasa, 2009 (diolah)

Penerimaan lain didapat dari nilai sisa atau salvage value. Nilai sisa merupakan nilai sisa dari barang modal yang tidak habis terpakai selama umur proyek berlangsung dan dinilai pada saat umur proyek berakhir. Barang-barang modal yang memiliki nilai sisa adalah tanah, bakul plastik dan motor. Lahan memiliki nilai Rp 600.000,00 per m2 sedangkan bangunan memiliki nilai sebesar Rp 375.000,00 per m2. Lahan memiliki luas 50 m2. Lahan yang tidak didirikan bangunan di atasnya digunakan sebagai tempat penjemuran. Bakul plastik merupakan barang reinvestasi karena barang sudah tidak memiliki nilai ekonomis sebelum umur proyek berakhir. Oleh sebab itu perusahaan melakukan pembelian barang pada awal tahun ke-5 dan ke-9. Reinvestasi bakul plastik pada awal tahun ke-9 membuat barang masih memiliki manfaat ekonomis pada akhir proyek. Nilai bakul plastik adalah Rp 2.000.000,00 dengan jumlah 80 buah bakul plastik. Sedangkan, motor memiliki nilai Rp 15.500.000,00.

Total nilai sisa adalah sebesar Rp 36.866.667,00. Lahan tidak mengalami penyusutan, sehingga nilai akhir proyek adalah sama dengan nilai awalnya yaitu sebesar Rp 30.000.000,00. Motor memiliki nilai sisa pada akhir proyek sebesar Rp 5.166.667,00. Motor memiliki nilai umur ekonomis selama lima belas tahun. Sedangkan untuk barang reinvestasi bakul plastik memiliki nilai sisa sebesar Rp 1.000.000,00.

7.2.2 Analisis Outflow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau Arus pengeluaran dalam usaha pembuatan kerupuk rambak kulit kerbau ini dikelompokkan menjadi dua yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi merupakan biaya yang dikeluarkan pada saat awal proyek. Namun, jika terdapat aset yang umur ekonomisnya kurang dari umur proyek, biaya investasi yang dikeluarkan selama proyek berlangsung disebut biaya reinvestasi. Tabel 15 merinci biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk investasi dan harga yang digunakan adalah harga yang berlaku saat ini. Selain biaya investasi, pengeluaran usaha juga dilihat dari biaya operasional. Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan secara berkala selama usaha berjalan. Biaya operasional terdiri dari dua macam yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan dan nilainya sama setiap tahun. Biaya tetap yang dikeluarkan usaha pembuatan kerupuk rambak adalah biaya transportasi, biaya listrik dan air, biaya telepon dan upah tenaga kerja. Penjabaran biaya tetap adalah sebagai berikut: 1. Biaya transpotasi adalah biaya yang dikeluarkan oleh pemilik usaha untuk pembelian bahan bakar kendaraan yang digunakan untuk membeli bahan baku, bahan penolong maupun mendistribusikan produknya. Besarnya biaya transportasi adalah Rp 350.000,00 per bulan setara dengan Rp 4.200.000,00 per tahun. 2. Biaya listrik dan air sebesar Rp 180.000,00 per bulan atau setara dengan Rp 2.160.000,00 per tahun.

3. Biaya telepon sebesar Rp 200.000,00 per bulan setara dengan Rp 2.400.000,00 per tahun. 4. Upah tenaga kerja yaitu sebayak Rp 750.000,00 per bulan untuk setiap tenaga kerja. Jadi upah tenaga kerja per bulan sebesar Rp 3.000.000,00 atau sebesar Rp 36.000.000,00 per tahun. 5. Besar Pajak Bumi dan Bangunan yang dibayarkan adalah sebesar Rp 37.000,00 per tahun.

Tabel 15. Biaya Investasi Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Kerbau
Jenis Investasi Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastic Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air Tabung gas Motor Satuan m2 m2 unit unit unit unit unit unit unit unit unit unit unit unit unit unit unit unit m2 unit unit unit unit unit unit unit Jumlah 50 40 1 5 4 4 5 6 14 250 3 2 6 12 3 6 2 80 10 6 4 4 1 1 2 1 Harga/ satuan (Rp) 600.000 375.000 3.000.000 185.000 150.000 215.000 175.000 125.000 55.000 19.000 130.000 410.000 55.000 40.000 10.000 200.000 400.000 25.000 85.000 100.000 40.000 60.000 500.000 75.000 350.000 15.500.000 Nilai (Rp) 30.000.000 15.000.000 3.000.000 925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 1.200.000 800.000 2.000.000 850.000 600.000 160.000 240.000 500.000 75.000 700.000 15.500.000 Umur ekonomis (tahun) 15 10 5 5 5 5 5 5 2 5 5 5 2 2 10 10 4 10 5 5 10 10 5 15

JUMLAH
Sumber : Citra Rasa (2009) (diolah)

82.205.000

Besarnya biaya tetap per tahun pada usaha pembutan kerupuk rambak dengan menggunakan kulit kerbau adalah sebesar Rp 44.797.000,00. Rincian biaya tetap terdapat pada Tabel 16

Tabel 16. Rincian Biaya Tetap Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Kerbau Biaya tetap Harga/Bulan (Rp) Jumlah/tahun (Rp) Transportasi 350.000 4.200.000 Listrik 180.000 2.160.000 Telepon 200.000 2.400.000 PBB 37.000 Upah (4 orang) 3.000.000 36.000.000 44.797.000 JUMLAH
Sumber : Citra Rasa (2009) (diolah)

Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang besarnya dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan dalam proses produksi. Biaya variabel pada usaha pembuatan kerupuk rambak kulit kerbau ini adalah kulit kerbau basah, minyak goreng, kayu bakar, lemak, arang, garam, minyak tanah, kemasan, gas dan bonus kepada agen. Satu kali produksi terdiri dari tiga hari. Satu kali masa produksi menghasilkan 10 kemasan besar dan 80 kemasan kecil pada masa normal dan pada saat permintaan tinggi dalam satu kali produksi dapat menghasilkan 30 kemasan besar dan 150 kemasan kecil. Harga kulit kerbau adalah Rp 17.000,00 per kilogram. Rincian biaya variabel terdapat pada Tabel 17. Beberapa perhitungan yang dipakai untuk menghitung besarnya biaya variabel usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan kulit kerbau adalah sebagai berikut: 1. Satu kwintal kulit kerbau basah menghasilkan kerupuk rambak mentah sebanyak 30 kilogram.

2. Satu kilogram kerupuk rambak mentah menghasilkan 4-5 kemasan kerupuk rambak ukuran kecil. Maka pada perhitungan ini diasumsikan satu kilogram kerupuk rambak mentah menghasilkan 4,5 kemasan kecil. 3. Minyak goreng sebanyak 50 kilogram digunakan untuk menggoreng kerupuk rambak sebanyak 800 kemasan. 4. Satu blek lemak digunakan untuk memproduksi 20 kemasan kecil kerupuk rambak. 5. Kebutuhan kayu bakar dan arang masing-masing adalah 1 colt dan 1,25 kwintal untuk memproduksi 400 kemasan kecil kerupuk rambak. Kebutuhan arang lebih banyak karena pengungkepan kulit kerbau lebih lama jika dibandingkan dengan kulit sapi. 6. Bonus diberikan ke agen sebesar Rp 2.500,00 untuk kemasan kecil dan Rp 3.000,00 untuk kemasan besar. Jumlah penjualan melalui agen adalah sebesar 35 persen dari total produksi perusahaan. Tabel 17. Rincian Biaya Variabel Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Kerbau
Biaya Variabel Kulit kerbau basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) Satuan Harga/ satuan (Rp) Jumlah/ Kuantitas Tahun ke-1 (Rp) 11687 887,5 36 710 44,375 240 120 1600 11000 55 560 3850 Jumlah/ tahun ke-2 (Rp) Jumlah/ tahun (Rp)

Kilogram 17.000 Kilogram 12.500 Colt 450.000 blek 80.000 kwintal 250.000 kemasan 2.000 hari 45.000 kemasan 2.700 kemasan 2.350 tabung 75.000 kemasan 3.000

99.339.500 139.075.300 198.679.000 5.546.875 7.765.625 11.093.750 8.100.000 11.340.000 16.200.000 28.400.000 39.760.000 56.800.000 5.546.875 7.765.625 11.093.750 240.000 336.000 480.000 2.700.000 3.780.000 5.400.000 2.160.000 3.024.000 4.320.000 12.925.000 18.095.000 25.850.000 2.062.500 2.887.500 4.125.000 840.000 1176000 1.680.000

kemasan 2.500 JUMLAH

4.812.500 6737500 9.625.000 172.673.250 241.742.550 345.346.500

Sumber : Citra Rasa (2009) (diolah)

Biaya variabel yang dibutuhkan untuk memproduksi kerupuk rambak menggunakan bahan baku kulit kerbau ini sebesar Rp 345.346.500,00 per tahun.

Pada tahun pertama dan kedua nilainya dikonversi sebesar 50 persen dan 70 persen. Hal ini dikarenakan jumlah produksi pada tahun pertama dan kedua sebesar 50 persen dan 70 persen dari kapasitas optimal. Jadi pada tahun pertama dan kedua besarnya biaya variabel masing-masing sebesar Rp 172.673.250,00 dan Rp 241.742.550,00. 7.2.3 Analisis Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau Kelayakan finansial usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit kerbau ini dapat dilihat dari beberapa kriteria penilaian investasi yaitu Net Present Value (NPV), Net B/C, Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period. Hasil cashflow pada usaha yang menggunakan kulit kerbau menunjukkan hasil yang tertera pada Tabel 18. Rincian lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 4. Tabel 18. Hasil Analisis Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Kulit Kerbau Kriteria Hasil NPV Rp85.560.012 IRR 26,33% NET B/C 2,07 PAYBACK PERIOD 5,46 tahun Berdasarkan analisis finansial di atas dapat dilihat bahwa usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit kerbau akan menghasilkan nilai NPV yang lebih besar dari nol, yaitu Rp 85.560.012,00. Hal ini menunjukkan usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit kerbau yang dilaksanakan akan memberikan manfaat bersih kini sebesar Rp 85.560.012,00 selama jangka waktu 10 tahun. Dengan demikian, berdasarkan kriteria NPV usaha ini layak untuk dilaksanakan. Nilai IRR yang diperoleh yaitu sebesar 26,33 persen dimana IRR tersebut lehih besar dari discount factor (rate) yang ditetapkan yaitu sebesar 8,38 persen. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ini mampu memberikan hasil sebesar 26,33 persen. Dengan demikian, berdasarkan kriteria IRR usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit kerbau layak untuk dilaksanakan. Nilai Net B/C yang diperoleh yaitu sebesar 2,07. Hal ini berarti setiap Rp 1,00 yang dikeluarkan akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp 2,07. Nilai

Net B/C yang diperoleh lebih besar dari 1, sehingga usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit kerbau ini layak untuk dilaksanakan. Payback Period (PBP) yang diperoleh adalah 5,46 tahun atau sama dengan 5 tahun 5 bulan 16 hari. Nilai Payback Period ini menunjukkan bahwa modal usaha dapat kembali dalam waktu 5 tahun 5 bulan 16 hari. 7.2.4 Analisis Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau Analisis switching value digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan maksimal pada harga output, produksi perusahaan dan harga input variabel yang paling berpengaruh yang dapat ditoleransi sehingga usaha masih layak dilaksanakan. Switching value atau nilai pengganti ditentukan dengan uji coba sehingga menghasilkan nilai NPV sama dengan nol, IRR sama dengan discount rate, dan nilai Net B/C sama dengan satu. Variabel yang dibahas dalam analisis switching value adalah variabel yang dianggap signifikan mempengaruhi usaha atau proyek. Dalam penelitian ini variabel yang dibahas yaitu jumlah produksi kerupuk rambak dari sisi inflow dan biaya bahan baku yaitu kulit kerbau basah dan lemak. Variabel tersebut digunakan karena berdasarkan data di lapangan yaitu adanya penurunan penjulan produk sebagai akibat kemungkinan penurunan produksi, usaha yang sangat bergantung pada kulit kerbau sebagai bahan baku utama dan lemak sebagai bahan baku penolong yang memiliki harga fluktuatif di pasar. Variabel tingkat harga jual tidak digunakan untuk menganalisis nilai pengganti. Hal ini dikarenakan harga jual kerupuk rambak selalu mengalami peningkatan dan tidak pernah mengalami penurunan harga jual. Dasar pemikiran ini berdasarkan fakta yang ada di lokasi penelitian. Hasil analisis switching value usaha pembuatan kerupuk rambak

dengan menggunakan bahan baku kulit kerbau dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 19. Hasil Analisis Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Payback IRR Persentase NPV Net Perubahan (persen Period (Persen) (Rp) B/C (tahun) ) Penurunan penjualan 4,41 0 1,00 8,38 10 kerupuk rambak kemasan

250 gram Penurunan penjualan kerupuk rambak kemasan 500 gram Penurunan penjualan dua kemasan secara serentak Kenaikan harga kulit kerbau basah Kenaikan harga lemak

15,16 3,41 7,32 25,62

0 0 0 0

1,00 1,00 1,00 1,00

8,38 8,38 8,38 8,38

10 10 10 10

Berdasarkan hasil analisis switching value, dapat dilihat perubahanperubahan variabel yang berpengaruh terhadap kelayakan usaha. Dengan asumsi cateris paribus, jika salah satu dari perubahan terjadi yaitu penurunan penjualan kerupuk rambak kemasan kecil sebesar 4,41 persen, penurunan penjualan kerupuk rambak kemasan besar sebesar 15,16 persen, penurunan penjualan kedua jenis kemasan secara serentak sebesar 3,41 persen, kenaikan harga kulit kerbau basah sebesar 7,32 persen atau kenaikan harga lemak sebesar 25,62 usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit kerbau ini masih layak dilaksanakan dan memperoleh keuntungan normal. Perubahan terhadap penurunan penjualan kerupuk rambak kedua jenis kemasan secara serentak dikatakan berpengaruh paling besar diantara kondisi lainnya terhadap kelayakan usaha. Berdasarkan hasil analisis switching value, usaha pembuatan kerupuk rambak masih layak apabila besarnya penurunan penjualan kerupuk rambak dua jenis kemasan secara serentak tidak melebihi 3,41 persen. Jika penurunan yang terjadi lebih besar dari 3,41 persen, maka usaha pembuatan kerupuk rambak kulit kerbau ini menjadi tidak layak. Sementara usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit kerbau ini masih layak untuk dilakukan apabila penurunan penjualan kerupuk rambak kemasan kecil tidak melebihi 4,41 persen, penurunan penjualan kemasan besar tidak melebihi 15,16 persen, kenaikan harga kulit kerbau basah tidak melebihi 7,32 persen atau kenaikan harga lemak tidak melebihi 25,62. Dengan demikian, dapat diihat bahwa usaha pembuatan kerupuk rambak kulit kerbau ini sangat sensitif terhadap penurunan penjualan kedua jenis kemasan secara serentak. Sedangkan perubahan yang terjadi akibat kenaikan harga lemak menjadi variabel yang paling rendah pengaruhnya terhadap kelayakan usaha.

7.2.5 Laporan Rugi Laba Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Laporan rugi laba berguna untuk melihat berapakah keuntungan yang diperoleh usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit kerbau setiap tahunnya dalam memproduksi kerupuk rambak. Pada perhitungan rugi laba perusahaan telah memperhitungkan pajak usaha, namun faktanya perusahaan tidak membayar pajak usaha kepada pemerintah. Lampiran 5 menunjukkan bahwa usaha pembuatan kerupuk rambak dengan bahan baku kulit kerbau pada tahun pertama justru menderita kerugian sebesar Rp 12.223.583,00. Sedangkan pada tahun kedua sebesar Rp 3.516.405,00. Tahun ketiga dan tahun selanjutnya sebesar Rp 25.292.850,00.

7.3

Analisis Perbandingan Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau dan Bahan Baku Kulit Kerbau Analisis perbandingan dilakukan dengan membandingkan hasil analisis

kelayakan finansial dari kedua jenis usaha dengan bahan baku yang berbeda. Berdasarkan hasi perhitungan analisis kelayakan finansial pada kedua jenis usaha tersebut dengan tingkat diskonto 8,38 persen dapat disimpulkan bahwa kedua usaha tersebut layak untuk diusahakan. Tabel 20. Analisis Kelayakan Finansial Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi dan Kulit Kerbau Bahan Baku Kulit Bahan Baku Kulit Kriteria Sapi Kerbau NPV Rp 267.805.679 Rp85.560.012 IRR 65,49% 26,33% NET B/C 4,88 2,07 PAYBACK PERIOD 2,89 tahun 5,46 tahun Hasil perbandingan yang dihasilkan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 20 menunjukkan bahwa dari kedua jenis usaha, usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit sapi merupakan usaha yang paling layak diusahakan. Hal ini dapat dilihat dari kriteria kelayakan finansial dari usaha pembuatan kerupuk rambak menggunakan bahan baku kulit sapi lebih besar

dibandingkan usaha pembuatan kerupuk rambak menggunakan bahan baku kulit kerbau. Nilai NPV usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit sapi yang diperoleh sebesar Rp 267.805.679,00 lebih besar

dibandingkan usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan kulit kerbau sehingga usaha yang menggunakan bahan baku kulit sapi memberikan manfaat bersih yang lebih besar daripada usaha yang menggunakan bahan baku kulit kerbau. Nilai Net B/C yang diperoleh juga lebih tinggi yaitu sebesar 4,88. Tingkat pengembalian investasi juga berbeda cukup besar pada tingkat diskonto 8,38 persen. Nilai payback period usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit sapi memiliki nilai lebih kecil daripada usaha yang menggunakan kulit kerbau. Hal ini berarti waktu yang diperlukan untuk menutupi pengeluaran lebih singkat yang berarti usaha dengan menggunakan kulit sapi lebih layak untuk diusahakan. Hasil analisis switching value yang dilakukan terhadap kedua usaha menunjukkan bahwa perubahan yang diakibatkan oleh penurunan jumlah penjualan kedua kemasan secara serentak merupakan variabel yang paling sensitif terhadap proyeksi aliran kas. Sedangkan untuk perubahan yang terjadi karena kenaikan harga lemak menjadi variabel yang kurang berpengaruh terhadap proyeksi aliran kas. Batas maksimal perubahan yang terjadi pada masing-masing usaha ditampilkan pada Tabel 21. Tabel 21. Perbandingan Nilai Switching Value pada Kedua Jenis Usaha Bahan Baku Bahan Baku Kulit Sapi Kulit Kerbau Perubahan (Persen) (Persen) Penurunan penjualan kerupuk rambak 4,41 15,49 kemasan 250 gram Penurunan penjualan kerupuk rambak 36,15 15,16 kemasan 500 gram Penurunan penjualan dua kemasan secara 10,84 3,41 serentak Kenaikan harga kulit 29,28 7,32 Kenaikan harga lemak 81,33 25,62 Dari Tabel 21 diketahui bahwa usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit sapi memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap

perubahan yang disebabkan oleh kelima variabel dibandingkan dengan usaha kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit kerbau. Jadi usaha pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan bahan baku kulit kerbau lebih peka terhadap perubahan. Perhitungan laba rugi dari kedua jenis usaha menunjukkan bahwa usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit sapi menghasilkan keuntungan yang lebih besar jika dibandingkan dengan usaha yang menggunakan kulit kerbau. Pada tahun pertama, keuntungan yang dihasilkan pada usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit sapi sebesar Rp 2.577.525,00. Keuntungan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan yang dihasilkan oleh usaha yang menggunakan bahan baku kulit kerbau. Tahun pertama, usaha yang menggunakan bahan baku kulit kerbau menderita kerugian. Begitu pula dengan keuntungan pada tahun-tahun berikutnya, keuntungan yang dihasilkan oleh usaha yang menggunakan bahan baku kulit sapi lebih besar daripada usaha yang menggunakan bahan baku kuit kerbau. Pada tahun kedua, usaha pembuatan kerupuk rambak menggunakan kulit sapi menghasilkan keuntungan Rp 24.539.145,00. Pada tahun ketiga dan selanjutnya, keuntungan yang dihasilkan dari usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi adalah sebesar Rp 56.788.154,00. Keuntungan dari kedua usaha ditampilkan pada Tabel 22. Tabel 22. Perbandingan Keuntungan yang Diperoleh dari Kedua Jenis Usaha Keuntungan (Rp) Jenis Bahan Baku Tahun ke-3 Usaha Kerupuk Rambak Tahun ke-1 Tahun ke-2 dan selanjutnya Kulit Sapi 2.577.525 24.539.145 56.788.154 Kulit Kerbau -12.223.583 3.516.405 25.292.850

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan Dari hasil analisis yang telah dilakukan pada usaha pembuatan kerupuk rambak baik dari aspek finansial maupun aspek non finansial, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1. Keragaan usaha pembuatan kerupuk rambak jika dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek hukum dan aspek sosial ekonomi dan lingkungan layak untuk diusahakan. Namun dari aspek manajemen, usaha pembuatan kerupuk rambak belum layak karena belum memiliki pembukuan atas penjualan yang dilakukan. Dari aspek teknis, usaha dinilai lebih layak menggunakan bahan baku kulit sapi karena ketersediaan kulit sapi yang lebih banyak di pasar. 2. Analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa usaha pembuatan kerupuk rambak kulit sapi layak untuk diusahakan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai NPV sebesar Rp 271.883.775,00. IRR sebesar 67,81 persen, net B/C sebesar 5,09 dan payback period selama 2,83 tahun. Sedangkan untuk usaha pembuatan kerupuk rambak kulit kerbau juga layak untuk diusahakan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai NPV sebesar Rp 89.836.846,00. IRR sebesar 27,48 persen, net B/C sebesar 2,16 dan payback period selama 5,30 tahun. 3. Analisis switching value pada kedua usaha menunjukkan bahwa perubahan yang diakibatkan penurunan penjualan kedua kemasan secara serentak berpengaruh paling besar terhadap kelayakan usaha dibandingkan dengan ketiga perubahan lainnya. 4. Analisis perbandingan menunjukkan usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit sapi lebih layak diusahakan jika dibandingkan dengan usaha yang menggunakan bahan baku kulit kerbau. Keuntungan yang diperoleh pada usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit sapi pun lebih tinggi dibandingkan dengan usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit kerbau.

8.1 Saran Adapun saran yang dapat diberikan adalah: 1. Usaha pembuatan kerupuk rambak sebaiknya mulai melakukan pembukuan usaha yang meliputi data penjualan, data pengeluaran usaha dan data produksi agar diketahui secara pasti angka penjualan, pemasukan dan pengeluaran dari perusahaan. 2. Usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan baku kulit kerbau sebaiknya mengganti bahan baku dengan kulit sapi. Hal ini terkait dengan konsumen yang menilai produk kerupuk rambak kulit kerbau sama saja dengan kerupuk rambak bahan baku kulit sapi. Tidak ada diferensiasi antara kedua produk. Selain itu, ketersediaan kulit sapi yang lebih banyak di pasar dan tingkat keuntungan usaha yang lebih tinggi jika menggunakan bahan baku kulit sapi. 3. Masyarakat yang tertarik pada bisnis pembuatan kerupuk rambak, tidak perlu khawatir untuk memulai usaha karena usaha pembuatan kerupuk rambak ini menguntungkan. 4. Pemerintah sebaiknya memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai usaha pembuatan kerupuk rambak agar semakin banyak masyarakat yang mengetahui usaha kerupuk rambak dan tertarik untuk mengusahakannya. Pemerintah juga memberikan pembinaan usaha kepada pengusaha kerupuk rambak untuk memperbaiki manajemen usaha.

DAFTAR PUSTAKA Annisa L. 2008. Analisis strategi pengembangan usaha restoran Cibaru, Kabupaten Padeglang, Provinsi Banten [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. [BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kendal. 2007. Kendal: BPS Kabupaten Kendal 2008. Kendal dalam Angka

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2008. Berita Resmi Statistik. http://www.bps.go.id. [27 November 2008] Budi A. 2006. UKM : Benteng Ekonomi Indonesia, antara Dilema dan Realita. http://www.brotherfatih.multiply.com/journal. [20 November 2008] Daniar MA. 2008. Manajemen usaha pembuatan kerupuk rambak di Citra Rasa Desa Penanggulan Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal [Laporan Praktek Kerja Lapangan]. Semarang: Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro. Dananjoyo A. 2006. Analisis kelayakan finansial usaha tempe (Studi Kasus di Kota Bogor Provinsi Jawa Barat) [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. [Disnak] Dinas Peternakan Jawa Tengah. 2007. Populasi Sapi Potong 2002-2006. http://www.disnak.jawatengah.go.id. [20 November 2008] [Disnak] Dinas Peternakan Jawa Tengah. 2007. Populasi Kerbau 2002-2006. http://www.disnak.jawatengah.go.id. [20 November 2008] [Disperindag] Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kendal. 2007. Produk Kabupaten Kendal. http://www.kabupaten-kendal.go.id. [20 November 2008] Edward D. 2008. Pemberdayaan UMKM/K dan Sektor Riil. http://www.usahaumkm.blog.com. [20 November 2008] Firmansyah A. 2007. Pengaruh perubahan harga dan teknologi terhadap produksi dan penggunaan bahan baku di Perusahaan Kerupuk Ratna Sari, Tangerang [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor Gittinger JP. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Edisi Kedua. Slamet Sutomo dan Komet Mangiri. penerjemah Jakarta: Universitas Indonesia Gray C, Simanjuntak P, Sabur LK, Maspaitella PFL, Varley RCG. 2007. Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi Kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Husein U. 2005. Studi Kelayakan Bisnis. Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Husnan S, Muhammad S. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Edisi Keempat. Yogyakarta: UPP AMP YKPN

Ibrahim J. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Rineka Cipta Kadariah, Karlina L, Gray C. 1999. Pengantar Evaluasi Proyek. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Kamaludin R. 2008. Analisis Kelayakan Investasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah. http://www.jatim.go.id. [20 November 2008]. Maulana MES. 2008. Analisis kelayakan usaha pembuatan bandeng isi pada BANISI di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Putera TD. 2006. Evaluasi kelayakan usaha pada restoran mie Kondang Jakarta Selatan [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Rahmawaty LA. 2006. Alternatif strategi bersaing perusahaan Dua Gajah dalam industri kerupuk di Kabupaten Indramayu [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Rosmayanti M. 2008. Pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap pendapatan usaha kecil dan menengah, Kasus: UKM Kerupuk di Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Swastha B, Sukotjo I. 2000. Pengantar Bisnis Modern. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Liberty Tim LPPOM MUI. 2009. Kerupuk Kulit. http://www.republika.co.id/berita/20911/Kerupuk_Kulit. [14 April 2009]

Tresnaprihandini Y. 2006. Formulasi strategi pengembangan usaha kerupuk udang dan ikan pada perusahaan Candramawa di Kabupaten Indramayu [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Utami NL. 2008. Analisis kelayakan usaha serbuk minuman instan berbasis tanaman obat [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Widyastono P. 2006. Analisis kelayakan usaha penggorengan kerupuk studi kasus usaha kecil Sumber Makmur Sentosa di Darmaga, Kabupaten Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Widyastuti R. 2008. Memulai dan mengembangkan usaha kecil agribisnis: pelajaran dari pengalaman pengembangan usaha Murni Orchid Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Wijayanto K. 2007. Kerupuk Rambak Tembus Ekspor. http://www.indosiar.com/news/fokus/57841. [27 November 2008] _________. 2009. Tingkat Suku Bunga http://www.kontan.co.id. [13 Januari 2009] Bank di Indonesia.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Populasi Kerbau dan Sapi Di Jawa TengahPopulasi Kerbau di Jawa Tengah 2002-2006
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kab/Kota Kab. Cilacap Kab. Banyumas Kab. Purbalingga Kab. Banjarnegara Kab. Kebumen Kab. Purworejo Kab. Wonosobo Kab. Magelang Kab. Boyolali Kab. Klaten Kab. Sukoharjo Kab. Wonogiri Kab. Karanganyar Kab. Sragen Kab. Grobogan Kab. Blora Kab. Rembang Kab. Pati Kab. Kudus Kab. Jepara Kab. Demak Kab. Semarang Kab. Temanggung Kab. Kendal Kab. Batang Kab. Pekalongan Kab. Pemalang Kab. Tegal Kab. Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal 2002 (Ekor) 2.441 3.226 3.694 2.023 1.031 5.206 3.542 12.361 3.237 6.842 2.390 1.330 1.413 1.173 5.369 7.010 588 3.729 3.356 3.555 4.922 5.650 4.245 4.741 4.237 11.966 10.218 7.528 16.980 131 32 172 3.768 536 23 148.665 2003 (Ekor) 2.441 3.200 4.818 2.023 1.031 5.206 3.666 12.527 3.436 6.842 2.396 1.480 1.397 585 5.008 10.174 583 2.649 3.356 3.555 3.282 5.510 4.155 4.856 4.237 10.983 10.358 5.010 14.876 132 30 198 3.768 594 22 144.384 2004 (Ekor) 2.656 3.250 4.879 1.936 1.028 3.453 3.693 13.186 3.460 5.405 2.398 1.310 1.398 173 4.476 2.865 346 2.983 2.503 4.105 2.843 5.561 2.287 4.824 3.755 11.135 5.814 4.824 14.099 69 25 203 2.083 656 20 123.701 2005 (Ekor) 6.677 3.540 4.978 2.095 1.019 1.958 3.844 13.521 3.319 6.254 1.975 1.262 1.388 157 3.537 2.911 371 3.047 1.802 4.042 2.770 5.589 2.303 4.838 3.396 11.150 5.845 4.161 13.504 96 24 205 1.552 665 20 123.815 2006 (Ekor) 4.572 3.111 5.078 2.088 1.076 2.202 4.041 9.171 3.352 6.313 1.902 1.461 1.353 183 2.684 2.937 335 2.615 1.804 3.977 2.675 5.611 2.310 4.841 3.880 11.106 6.078 4.009 9.827 122 19 185 1.356 676 13 112.963 r (%) 16,99 (0,90) 8,28 0,79 1,07 (19,35) 3,35 (7,19) 0,88 (1,99) (5,55) 2,38 (1,08) (37,15) (15,91) (19,55) (13,12) (8,49) (14,37) 2,84 (14,14) (0,17) (14,11) 0,52 (2,18) (1,85) (12,18) (14,57) (12,78) (1,76) (12,22) 1,84 (22,55) 5,97 (13,29) (6,64)

Jumlah

Populasi Sapi Potong Di Jawa Tengah Tahun 2002-2006


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kab/Kota Kab. Cilacap Kab. Banyumas Kab. Purbalingga Kab. Banjarnegara Kab. Kebumen Kab. Purworejo Kab. Wonosobo Kab. Magelang Kab. Boyolali 2002 (Ekor) 6.844 14.571 12.747 35.626 30.016 12.314 35.608 70.285 93.807 71.267 25.279 137.768 46.747 73.311 119.401 197.392 91.112 66.636 8.903 23.026 2.220 61.127 34.143 13.121 13.311 10.039 5.775 6.406 18.748 164 1.147 2.100 3.433 101 0 1.344.495 2003 (Ekor) 6.844 18.136 15.131 35.626 30.016 12.314 33.652 68.933 89.122 64.576 24.781 140.723 46.758 74.933 118.630 209.089 91.112 61.420 8.903 23.026 1.822 60.706 34.143 13.524 13.311 10.031 6.715 4.479 19.783 137 1.137 1.593 3.783 235 29 1.345.153 2004 (Ekor) 6.911 18.210 16.879 37.449 32.041 14.545 33.681 68.222 88.715 68.065 24.983 144.200 47.785 76.431 105.089 215.344 95.164 61.871 8.303 24.292 2.072 63.076 34.986 15.864 13.955 10.828 5.292 6.486 20.199 149 1.200 1.561 1.473 285 42 1.365.650 2005 (Ekor) 8.724 18.245 17.435 37.110 32.838 13.130 34.012 69.964 88.527 80.925 25.106 143.995 47.559 77.225 106.155 217.497 97.057 63.813 7.603 24.583 1.897 65.284 35.002 16.144 13.967 11.146 5.421 4.874 20.218 221 1.159 1.567 1.473 291 41 1.390.408 2006 (Ekor) 14.146 18.360 18.147 21.596 33.468 13.067 33.427 68.414 89.412 81.264 25.489 148.816 47.580 77.748 105.974 218.575 99.385 63.069 8.372 24.880 2.077 64.957 35.103 16.547 14.291 11.460 5.714 5.344 18.838 265 1.435 1.625 3.409 297 39 1.392.590 R (%) 19,90 5,95 9,23 (11,76) 2,76 1,49 (1,57) (0,67) (1,19) 3,34 0,21 1,95 0,44 1,48 (2,94) 2,58 2,20 (1,37) (1,53) 1,95 (1,65) 1,53 0,70 5,97 1,79 3,37 (0,27) (4,43) 0,12 12,75 5,76 (6,21) (0,18) 30,95 #DIV/0! 0,88

10 Kab. Klaten 11 Kab. Sukoharjo 12 Kab. Wonogiri 13 Kab. Karanganyar 14 Kab. Sragen 15 Kab. Grobogan 16 Kab. Blora 17 Kab. Rembang 18 Kab. Pati 19 Kab. Kudus 20 Kab. Jepara 21 Kab. Demak 22 Kab. Semarang 23 Kab. Temanggung 24 Kab. Kendal 25 Kab. Batang 26 Kab. Pekalongan 27 Kab. Pemalang 28 Kab. Tegal 29 Kab. Brebes 30 Kota Magelang 31 Kota Surakarta 32 Kota Salatiga 33 Kota Semarang 34 Kota Pekalongan 35 Kota Tegal Jumlah

Lampiran 2. Cash Flow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi
Uraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air Tabung gas 1 63.000.000 147.000.000 210.000.000 2 88.200.000 205.800.000 294.000.000 3 126.000.000 294.000.000 420.000.000 4 126.000.000 294.000.000 420.000.000 Tahun ke5 126.000.000 294.000.000 420.000.000 6 7 126.000.000 294.000.000 420.000.000 8 126.000.000 294.000.000 420.000.000 9 126.000.000 294.000.000 420.000.000 10 126.000.000 294.000.000 38.604.167 458.604.167

126.000.000 294.000.000 420.000.000

31.800.000 15.375.000 3.000.000 1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 1.200.000 800.000 1.875.000 1.020.000 500.000 120.000 300.000 500.000 75.000 700.000

1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 5.700.000 5.700.000

1.875.000 500.000 120.000

1.875.000

75.000

99

Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (5 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit sapi basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

15.500.000 85.770.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 77.778.000 5.687.500 7.875.000 28.000.000 4.375.000 240.000 2.700.000 2.940.000 11.760.000 2.250.000 1.102.500 4.287.500 148.995.500 286.392 284.891.892 -74.891.892 0,9227 -69.101.210 Rp267.805.679 65,49% 336.906.890 -69.101.210 4,88 2,89 Tahun

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 108.889.200 7.962.500 11.025.000 39.200.000 6.125.000 336.000 3.780.000 4.116.000 16.464.000 3.150.000 1.543.500 6.002.500 208.593.700 2.726.572 261.160.272 32.839.728 0,8513 27.957.689

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 361.041.263 58.958.738 0,7855 46.312.768

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 65.088.738 0,7248 47.174.712

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.916.263 57.083.738 0,6687 38.173.912

7.570.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.481.263 57.518.738 0,6170 35.490.692

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 361.041.263 58.958.738 0,5693 33.566.352

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 65.088.738 0,5253 34.191.069

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.916.263 57.083.738 0,4847 27.667.510

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 103.692.904 0,4472 46.372.186

100

Lampiran 3. Proyeksi Laba Rugi Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Sapi
TAHUN KE URAIAN PENERIMAAN Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram TOTAL PENERIMAAN BIAYA VARIABEL Kulit sapi basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL LABA KOTOR BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (5 orang) TOTAL BIAYA TETAP Biaya Penyusutan LABA BERSIH SEBELUM PAJAK PAJAK LABA BERSIH 1 63.000.000 147.000.000 210.000.000 77.778.000 5.687.500 7.875.000 28.000.000 4.375.000 240.000 2.700.000 2.940.000 11.760.000 2.250.000 1.102.500 4.287.500 148.995.500 61.004.500 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 8.300.583 2.863.917 286.392 2.577.525 2 88.200.000 205.800.000 294.000.000 108.889.200 7.962.500 11.025.000 39.200.000 6.125.000 336.000 3.780.000 4.116.000 16.464.000 3.150.000 1.543.500 6.002.500 208.593.700 85.406.300 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 8.300.583 27.265.717 2.726.572 24.539.145 3 126.000.000 294.000.000 420.000.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 122.009.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 8.300.583 63.868.417 7.080.263 56.788.154 4 126.000.000 294.000.000 420.000.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 122.009.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 8.300.583 63.868.417 7.080.263 56.788.154 5 126.000.000 294.000.000 420.000.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 122.009.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 8.300.583 63.868.417 7.080.263 56.788.154 6 126.000.000 294.000.000 420.000.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 122.009.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 8.300.583 63.868.417 7.080.263 56.788.154 7 126.000.000 294.000.000 420.000.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 122.009.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 8.300.583 63.868.417 7.080.263 56.788.154 8 126.000.000 294.000.000 420.000.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 122.009.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 8.300.583 63.868.417 7.080.263 56.788.154 9 126.000.000 294.000.000 420.000.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 122.009.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 8.300.583 63.868.417 7.080.263 56.788.154 10 126.000.000 294.000.000 420.000.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 122.009.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 8.300.583 63.868.417 7.080.263 56.788.154

101

Lampiran 4. Cash Flow Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau
Tahun keUraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air Tabung gas 1 48.000.000 165.000.000 213.000.000 2 67.200.000 231.000.000 298.200.000 3 96.000.000 330.000.000 426.000.000 4 96.000.000 330.000.000 426.000.000 5 96.000.000 330.000.000 426.000.000 6 96.000.000 330.000.000 426.000.000 7 96.000.000 330.000.000 426.000.000 8 96.000.000 330.000.000 426.000.000 9 96.000.000 330.000.000 426.000.000 10 96.000.000 330.000.000 36.866.667 462.866.667

30.000.000 15.000.000 3.000.000 925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 1.200.000 800.000 2.000.000 850.000 600.000 160.000 240.000 500.000 75.000 700.000

925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 4.750.000 4.750.000

2.000.000 600.000 160.000

2.000.000

75.000

102

Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (4 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit kerbau basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

15.500.000 82.205.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 99.339.500 5.546.875 8.100.000 28.400.000 5.546.875 240.000 2.700.000 2.160.000 12.925.000 2.062.500 840.000 4.812.500 172.673.250 0 299.675.250 -86.675.250 0,9227 -79.973.473 Rp85.560.012 26,33% 165.533.485 -79.973.473 2,07 5,46 Tahun

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 139.075.300 7.765.625 11.340.000 39.760.000 7.765.625 336.000 3.780.000 3.024.000 18.095.000 2.887.500 1.176.000 6.737.500 241.742.550 390.712 286.930.262 11.269.738 0,8513 9.594.350

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 398.213.817 27.786.183 0,7855 21.826.367

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 33.046.183 0,7248 23.951.059

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.213.817 25.786.183 0,6687 17.244.132

7.155.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.108.817 25.891.183 0,6170 15.975.594

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 398.213.817 27.786.183 0,5693 15.819.213

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 33.046.183 0,5253 17.359.137

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.213.817 25.786.183 0,4847 12.498.122

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 69.912.850 0,4472 31.265.512

103

Lampiran 5. Proyeksi Laba Rugi Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Menggunakan Bahan Baku Kulit Kerbau
TAHUN KE URAIAN PENERIMAAN Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram TOTAL PENERIMAAN BIAYA VARIABEL Kulit sapi basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL LABA KOTOR BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (4 orang) TOTAL BIAYA TETAP Biaya Penyusutan LABA BERSIH SEBELUM PAJAK PAJAK LABA BERSIH 1 48.000.000 165.000.000 213.000.000 99.339.500 5.546.875 8.100.000 28.400.000 5.546.875 240.000 2.700.000 2.160.000 12.925.000 2.062.500 840.000 4.812.500 172.673.250 40.326.750 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 7.753.333 -12.223.583 0 -12.223.583 2 67.200.000 231.000.000 298.200.000 139.075.300 7.765.625 11.340.000 39.760.000 7.765.625 336.000 3.780.000 3.024.000 18.095.000 2.887.500 1.176.000 6.737.500 241.742.550 56.457.450 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 7.753.333 3.907.117 390.712 3.516.405 3 96.000.000 330.000.000 426.000.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 80.653.500 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 7.753.333 28.103.167 2.810.317 25.292.850 4 96.000.000 330.000.000 426.000.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 80.653.500 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 7.753.333 28.103.167 2.810.317 25.292.850 5 96.000.000 330.000.000 426.000.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 80.653.500 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 7.753.333 28.103.167 2.810.317 25.292.850 6 96.000.000 330.000.000 426.000.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 80.653.500 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 7.753.333 28.103.167 2.810.317 25.292.850 7 96.000.000 330.000.000 426.000.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 80.653.500 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 7.753.333 28.103.167 2.810.317 25.292.850 8 96.000.000 330.000.000 426.000.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 80.653.500 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 7.753.333 28.103.167 2.810.317 25.292.850 9 96.000.000 330.000.000 426.000.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 80.653.500 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 7.753.333 28.103.167 2.810.317 25.292.850 10 96.000.000 330.000.000 426.000.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 80.653.500 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 7.753.333 28.103.167 2.810.317 25.292.850

104

Lampiran 6. Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Penurunan Penjualan Kemasan Kecil Sebesar 15,49%
Tahun keUraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air 1 63.000.000 124.226.769 187.226.769 2 88.200.000 173.917.477 262.117.477 3 126.000.000 248.453.538 374.453.538 4 126.000.000 248.453.538 374.453.538 5 126.000.000 248.453.538 374.453.538 6 126.000.000 248.453.538 374.453.538 7 126.000.000 248.453.538 374.453.538 8 126.000.000 248.453.538 374.453.538 9 126.000.000 248.453.538 374.453.538 10 126.000.000 248.453.538 38.604.167 413.057.705

31.800.000 15.375.000 3.000.000 1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 1.200.000 800.000 1.875.000 1.020.000 500.000 120.000 300.000 500.000 75.000

1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 5.700.000 5.700.000

1.875.000 500.000 120.000

1.875.000

75.000

105

Tabung gas Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (5 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit sapi basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

700.000 15.500.000 85.770.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 77.778.000 5.687.500 7.875.000 28.000.000 4.375.000 240.000 2.700.000 2.940.000 11.760.000 2.250.000 1.102.500 4.287.500 148.995.500 286.392 284.891.892 -97.665.123 0,9227 -90.113.603 Rp0 8,38% 90.113.603 -90.113.603 1,00 10 Tahun

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 108.889.200 7.962.500 11.025.000 39.200.000 6.125.000 336.000 3.780.000 4.116.000 16.464.000 3.150.000 1.543.500 6.002.500 208.593.700 2.726.572 261.160.272 957.205 0,8513 814.904

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 361.041.263 13.412.276 0,7855 10.535.497

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 19.542.276 0,7248 14.163.760

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.916.263 11.537.276 0,6687 7.715.384

7.570.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.481.263 11.972.276 0,6170 7.387.233

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 361.041.263 13.412.276 0,5693 7.635.868

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 19.542.276 0,5253 10.265.544

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.916.263 11.537.276 0,4847 5.591.920

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 58.146.442 0,4472 26.003.492

106

Lampiran 7. Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Penurunan Penjualan Kemasan Besar Sebesar 36,15%
Tahun keUraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air 1 40.226.769 147.000.000 187.226.769 2 56.317.477 205.800.000 262.117.477 3 80.453.538 294.000.000 374.453.538 4 80.453.538 294.000.000 374.453.538 5 80.453.538 294.000.000 374.453.538 6 80.453.538 294.000.000 374.453.538 7 80.453.538 294.000.000 374.453.538 8 80.453.538 294.000.000 374.453.538 9 80.453.538 294.000.000 374.453.538 10 80.453.538 294.000.000 38.604.167 413.057.705

31.800.000 15.375.000 3.000.000 1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 1.200.000 800.000 1.875.000 1.020.000 500.000 120.000 300.000 500.000 75.000

1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 5.700.000 5.700.000

1.875.000 500.000 120.000

1.875.000

75.000

107

Tabung gas Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (5 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit sapi basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

700.000 15.500.000 85.770.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 77.778.000 5.687.500 7.875.000 28.000.000 4.375.000 240.000 2.700.000 2.940.000 11.760.000 2.250.000 1.102.500 4.287.500 148.995.500 286.392 284.891.892 -97.665.123 0,9227 -90.113.603 Rp0 8,38% 90.113.603 -90.113.603 1,00 10 Tahun

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 108.889.200 7.962.500 11.025.000 39.200.000 6.125.000 336.000 3.780.000 4.116.000 16.464.000 3.150.000 1.543.500 6.002.500 208.593.700 2.726.572 261.160.272 957.205 0,8513 814.904

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 361.041.263 13.412.276 0,7855 10.535.497

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 19.542.276 0,7248 14.163.760

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.916.263 11.537.276 0,6687 7.715.384

7.570.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.481.263 11.972.276 0,6170 7.387.233

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 361.041.263 13.412.276 0,5693 7.635.868

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 19.542.276 0,5253 10.265.544

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.916.263 11.537.276 0,4847 5.591.920

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 58.146.442 0,4472 26.003.492

108

Lampiran 8. Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Penurunan Penjualan Kedua Kemasan Serentak 10,84%
Tahun keUraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air 1 56.168.031 131.058.738 187.226.769 2 78.635.243 183.482.234 262.117.477 3 112.336.061 262.117.477 374.453.538 4 112.336.061 262.117.477 374.453.538 5 112.336.061 262.117.477 374.453.538 6 112.336.061 262.117.477 374.453.538 7 112.336.061 262.117.477 374.453.538 8 112.336.061 262.117.477 374.453.538 9 112.336.061 262.117.477 374.453.538 10 112.336.061 262.117.477 38.604.167 413.057.705

31.800.000 15.375.000 3.000.000 1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 1.200.000 800.000 1.875.000 1.020.000 500.000 120.000 300.000 500.000 75.000

1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 5.700.000 5.700.000

1.875.000 500.000 120.000

1.875.000

75.000

109

Tabung gas Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (5 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit sapi basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

700.000 15.500.000 85.770.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 77.778.000 5.687.500 7.875.000 28.000.000 4.375.000 240.000 2.700.000 2.940.000 11.760.000 2.250.000 1.102.500 4.287.500 148.995.500 286.392 284.891.892 -97.665.123 0,9227 -90.113.603 Rp0 8,38% 90.113.603 -90.113.603 1,00 10 Tahun

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 108.889.200 7.962.500 11.025.000 39.200.000 6.125.000 336.000 3.780.000 4.116.000 16.464.000 3.150.000 1.543.500 6.002.500 208.593.700 2.726.572 261.160.272 957.205 0,8513 814.904

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 361.041.263 13.412.276 0,7855 10.535.497

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 19.542.276 0,7248 14.163.760

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.916.263 11.537.276 0,6687 7.715.384

7.570.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.481.263 11.972.276 0,6170 7.387.233

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 361.041.263 13.412.276 0,5693 7.635.868

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 19.542.276 0,5253 10.265.544

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 362.916.263 11.537.276 0,4847 5.591.920

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 297.991.000 7.080.263 354.911.263 58.146.442 0,4472 26.003.492

110

Lampiran 9. Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Kenaikan Harga Kulit Sapi Basah 29,28%
Tahun keUraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air 1 63.000.000 147.000.000 210.000.000 2 88.200.000 205.800.000 294.000.000 3 126.000.000 294.000.000 420.000.000 4 126.000.000 294.000.000 420.000.000 5 126.000.000 294.000.000 420.000.000 6 126.000.000 294.000.000 420.000.000 7 126.000.000 294.000.000 420.000.000 8 126.000.000 294.000.000 420.000.000 9 126.000.000 294.000.000 420.000.000 10 126.000.000 294.000.000 38.604.167 458.604.167

31.800.000 15.375.000 3.000.000 1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 1.200.000 800.000 1.875.000 1.020.000 500.000 120.000 300.000 500.000 75.000

1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 5.700.000 5.700.000

1.875.000 500.000 120.000

1.875.000

75.000

111

Tabung gas Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (5 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit sapi basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

700.000 15.500.000 85.770.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 100.551.231 5.687.500 7.875.000 28.000.000 4.375.000 240.000 2.700.000 2.940.000 11.760.000 2.250.000 1.102.500 4.287.500 171.768.731 286.392 307.665.123 -97.665.123 0,9227 -90.113.603 Rp0 8,38% 90.113.603 -90.113.603 1,00 10 Tahun

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 140.771.723 7.962.500 11.025.000 39.200.000 6.125.000 336.000 3.780.000 4.116.000 16.464.000 3.150.000 1.543.500 6.002.500 240.476.223 2.726.572 293.042.795 957.205 0,8513 814.904

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 201.102.462 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 406.587.724 13.412.276 0,7855 10.535.497

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 201.102.462 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 400.457.724 19.542.276 0,7248 14.163.760

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 201.102.462 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 408.462.724 11.537.276 0,6687 7.715.384

7.570.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 201.102.462 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 408.027.724 11.972.276 0,6170 7.387.233

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 201.102.462 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 406.587.724 13.412.276 0,5693 7.635.868

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 201.102.462 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 400.457.724 19.542.276 0,5253 10.265.544

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 201.102.462 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 408.462.724 11.537.276 0,4847 5.591.920

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 201.102.462 11.375.000 15.750.000 56.000.000 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 400.457.724 58.146.442 0,4472 26.003.492

112

Lampiran 10. Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Sapi Kenaikan Harga Lemak 81,33%
Tahun keUraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air 1 63.000.000 147.000.000 210.000.000 2 88.200.000 205.800.000 294.000.000 3 126.000.000 294.000.000 420.000.000 4 126.000.000 294.000.000 420.000.000 5 126.000.000 294.000.000 420.000.000 6 126.000.000 294.000.000 420.000.000 7 126.000.000 294.000.000 420.000.000 8 126.000.000 294.000.000 420.000.000 9 126.000.000 294.000.000 420.000.000 10 126.000.000 294.000.000 38.604.167 458.604.167

31.800.000 15.375.000 3.000.000 1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 1.200.000 800.000 1.875.000 1.020.000 500.000 120.000 300.000 500.000 75.000

1.110.000 750.000 1.075.000 875.000 625.000 825.000 5.700.000 5.700.000 520.000 820.000 275.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 400.000 30.000 5.700.000 5.700.000

1.875.000 500.000 120.000

1.875.000

75.000

113

Tabung gas Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (5 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit sapi basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

700.000 15.500.000 85.770.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 77.778.000 5.687.500 7.875.000 50.773.231 4.375.000 240.000 2.700.000 2.940.000 11.760.000 2.250.000 1.102.500 4.287.500 171.768.731 286.392 307.665.123 -97.665.123 0,9227 -90.113.603 Rp0 8,38% 90.113.603 -90.113.603 1,00 10 Tahun

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 108.889.200 7.962.500 11.025.000 71.082.523 6.125.000 336.000 3.780.000 4.116.000 16.464.000 3.150.000 1.543.500 6.002.500 240.476.223 2.726.572 293.042.795 957.205 0,8513 814.904

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 101.546.462 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 406.587.724 13.412.276 0,7855 10.535.497

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 101.546.462 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 400.457.724 19.542.276 0,7248 14.163.760

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 101.546.462 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 408.462.724 11.537.276 0,6687 7.715.384

7.570.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 101.546.462 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 408.027.724 11.972.276 0,6170 7.387.233

6.130.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 101.546.462 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 406.587.724 13.412.276 0,5693 7.635.868

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 101.546.462 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 400.457.724 19.542.276 0,5253 10.265.544

8.005.000 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 101.546.462 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 408.462.724 11.537.276 0,4847 5.591.920

0 3.600.000 2.400.000 1.800.000 40.000 42.000.000 49.840.000 155.556.000 11.375.000 15.750.000 101.546.462 8.750.000 480.000 5.400.000 5.880.000 23.520.000 4.500.000 2.205.000 8.575.000 343.537.462 7.080.263 400.457.724 58.146.442 0,4472 26.003.492

114

Lampiran 11. Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Penurunan Penjualan Kemasan Kecil Sebesar 4,41%
Tahun keUraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air 1 48.000.000 157.724.285 205.724.285 2 67.200.000 220.813.998 288.013.998 3 96.000.000 315.448.569 411.448.569 4 96.000.000 315.448.569 411.448.569 5 96.000.000 315.448.569 411.448.569 6 96.000.000 315.448.569 411.448.569 7 96.000.000 315.448.569 411.448.569 8 96.000.000 315.448.569 411.448.569 9 96.000.000 315.448.569 411.448.569 10 96.000.000 315.448.569 36.866.667 448.315.236

30.000.000 15.000.000 3.000.000 925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 1.200.000 800.000 2.000.000 850.000 600.000 160.000 240.000 500.000 75.000

925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 4.750.000 4.750.000

2.000.000 600.000 160.000

2.000.000

75.000

115

Tabung gas Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (4 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit kerbau basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

700.000 15.500.000 82.205.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 99.339.500 5.546.875 8.100.000 28.400.000 5.546.875 240.000 2.700.000 2.160.000 12.925.000 2.062.500 840.000 4.812.500 172.673.250 0 299.675.250 -93.950.965 0,9227 -86.686.626 Rp0 8,38% 86.686.626 -86.686.626 1,00 10 Tahun

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 139.075.300 7.765.625 11.340.000 39.760.000 7.765.625 336.000 3.780.000 3.024.000 18.095.000 2.887.500 1.176.000 6.737.500 241.742.550 390.712 286.930.262 1.083.737 0,8513 922.626

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 398.213.817 13.234.752 0,7855 10.396.051

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 18.494.752 0,7248 13.404.541

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.213.817 11.234.752 0,6687 7.513.076

7.155.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.108.817 11.339.752 0,6170 6.996.949

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 398.213.817 13.234.752 0,5693 7.534.801

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 18.494.752 0,5253 9.715.281

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.213.817 11.234.752 0,4847 5.445.292

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 55.361.419 0,4472 24.758.011

116

Lampiran 12. Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Penurunan Penjualan Kemasan Besar Sebesar 15,16%
Tahun keUraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air 1 40.724.285 165.000.000 205.724.285 2 57.013.998 231.000.000 288.013.998 3 81.448.569 330.000.000 411.448.569 4 81.448.569 330.000.000 411.448.569 5 81.448.569 330.000.000 411.448.569 6 81.448.569 330.000.000 411.448.569 7 81.448.569 330.000.000 411.448.569 8 81.448.569 330.000.000 411.448.569 9 81.448.569 330.000.000 411.448.569 10 81.448.569 330.000.000 36.866.667 448.315.236

30.000.000 15.000.000 3.000.000 925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 1.200.000 800.000 2.000.000 850.000 600.000 160.000 240.000 500.000 75.000

925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 4.750.000 4.750.000

2.000.000 600.000 160.000

2.000.000

75.000

117

Tabung gas Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (4 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit kerbau basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

700.000 15.500.000 82.205.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 99.339.500 5.546.875 8.100.000 28.400.000 5.546.875 240.000 2.700.000 2.160.000 12.925.000 2.062.500 840.000 4.812.500 172.673.250 0 299.675.250 -93.950.965 0,9227 -86.686.626 Rp0 8,38% 86.686.626 -86.686.626 1,00 10 Tahun

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 139.075.300 7.765.625 11.340.000 39.760.000 7.765.625 336.000 3.780.000 3.024.000 18.095.000 2.887.500 1.176.000 6.737.500 241.742.550 390.712 286.930.262 1.083.737 0,8513 922.626

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 398.213.817 13.234.752 0,7855 10.396.051

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 18.494.752 0,7248 13.404.541

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.213.817 11.234.752 0,6687 7.513.076

7.155.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.108.817 11.339.752 0,6170 6.996.949

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 398.213.817 13.234.752 0,5693 7.534.801

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 18.494.752 0,5253 9.715.281

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.213.817 11.234.752 0,4847 5.445.292

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 55.361.419 0,4472 24.758.011

118

Lampiran 13. Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Penurunan Penjualan Kedua Kemasan Serentak 3,41%
Tahun keUraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air 1 46.360.402 159.363.882 205.724.285 2 64.904.563 223.109.435 288.013.998 3 92.720.804 318.727.765 411.448.569 4 92.720.804 318.727.765 411.448.569 5 92.720.804 318.727.765 411.448.569 6 92.720.804 318.727.765 411.448.569 7 92.720.804 318.727.765 411.448.569 8 92.720.804 318.727.765 411.448.569 9 92.720.804 318.727.765 411.448.569 10 92.720.804 318.727.765 36.866.667 448.315.236

30.000.000 15.000.000 3.000.000 925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 1.200.000 800.000 2.000.000 850.000 600.000 160.000 240.000 500.000 75.000

925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 4.750.000 4.750.000

2.000.000 600.000 160.000

2.000.000

75.000

119

Tabung gas Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (4 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit kerbau basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

700.000 15.500.000 82.205.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 99.339.500 5.546.875 8.100.000 28.400.000 5.546.875 240.000 2.700.000 2.160.000 12.925.000 2.062.500 840.000 4.812.500 172.673.250 0 299.675.250 -93.950.965 0,9227 -86.686.626 Rp0 8,38% 86.686.626 -86.686.626 1,00 10 Tahun

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 139.075.300 7.765.625 11.340.000 39.760.000 7.765.625 336.000 3.780.000 3.024.000 18.095.000 2.887.500 1.176.000 6.737.500 241.742.550 390.712 286.930.262 1.083.737 0,8513 922.626

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 398.213.817 13.234.752 0,7855 10.396.051

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 18.494.752 0,7248 13.404.541

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.213.817 11.234.752 0,6687 7.513.076

7.155.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.108.817 11.339.752 0,6170 6.996.949

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 398.213.817 13.234.752 0,5693 7.534.801

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 18.494.752 0,5253 9.715.281

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 400.213.817 11.234.752 0,4847 5.445.292

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 345.346.500 2.810.317 392.953.817 55.361.419 0,4472 24.758.011

120

Lampiran 14. Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Kenaikan Harga Kulit Kerbau Basah Sebesar 7,32%
Tahun keUraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air 1 48.000.000 165.000.000 213.000.000 2 67.200.000 231.000.000 298.200.000 3 96.000.000 330.000.000 426.000.000 4 96.000.000 330.000.000 426.000.000 5 96.000.000 330.000.000 426.000.000 6 96.000.000 330.000.000 426.000.000 7 96.000.000 330.000.000 426.000.000 8 96.000.000 330.000.000 426.000.000 9 96.000.000 330.000.000 426.000.000 10 96.000.000 330.000.000 36.866.667 462.866.667

30.000.000 15.000.000 3.000.000 925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 1.200.000 800.000 2.000.000 850.000 600.000 160.000 240.000 500.000 75.000

925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 4.750.000 4.750.000

2.000.000 600.000 160.000

2.000.000

75.000

121

Tabung gas Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (4 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit kerbau basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

700.000 15.500.000 82.205.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 106.615.215 5.546.875 8.100.000 28.400.000 5.546.875 240.000 2.700.000 2.160.000 12.925.000 2.062.500 840.000 4.812.500 179.948.965 0 306.950.965 -93.950.965 0,9227 -86.686.626 Rp0 8,38% 86.686.626 -86.686.626 1,00 10 Tahun

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 149.261.302 7.765.625 11.340.000 39.760.000 7.765.625 336.000 3.780.000 3.024.000 18.095.000 2.887.500 1.176.000 6.737.500 251.928.552 390.712 297.116.263 1.083.737 0,8513 922.626

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 213.230.431 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 412.765.248 13.234.752 0,7855 10.396.051

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 213.230.431 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 407.505.248 18.494.752 0,7248 13.404.541

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 213.230.431 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 414.765.248 11.234.752 0,6687 7.513.076

7.155.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 213.230.431 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 414.660.248 11.339.752 0,6170 6.996.949

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 213.230.431 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 412.765.248 13.234.752 0,5693 7.534.801

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 213.230.431 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 407.505.248 18.494.752 0,5253 9.715.281

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 213.230.431 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 414.765.248 11.234.752 0,4847 5.445.292

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 213.230.431 11.093.750 16.200.000 56.800.000 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 407.505.248 55.361.419 0,4472 24.758.011

122

Lampiran 15. Hasil Switching Value Usaha Pembuatan Kerupuk Rambak Bahan Baku Kulit Kerbau Kenaikan Harga Lemak Sebesar 25,62%
Tahun keUraian INFLOW Kerupuk Rambak 500 gram Kerupuk Rambak 250 gram Nilai Sisa TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. BIAYA INVESTASI Lahan Bangunan Tempat penampungan limbah Wajan penggorengan (besar) Wajan Penggorengan (kecil) Dandang Panci Drum perendam Sesek (pisau) Rigen Kompor minyak Kompor gas Pengaduk Ember Gayung Timbangan Lemari Bakul plastik Tempat jemur Pisau besar (golok) Batu Gosok Tungku api Pompa air Selang air 1 48.000.000 165.000.000 213.000.000 2 67.200.000 231.000.000 298.200.000 3 96.000.000 330.000.000 426.000.000 4 96.000.000 330.000.000 426.000.000 5 96.000.000 330.000.000 426.000.000 6 96.000.000 330.000.000 426.000.000 7 96.000.000 330.000.000 426.000.000 8 96.000.000 330.000.000 426.000.000 9 96.000.000 330.000.000 426.000.000 10 96.000.000 330.000.000 36.866.667 462.866.667

30.000.000 15.000.000 3.000.000 925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 1.200.000 800.000 2.000.000 850.000 600.000 160.000 240.000 500.000 75.000

925.000 600.000 860.000 875.000 750.000 770.000 4.750.000 4.750.000 390.000 820.000 330.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 480.000 30.000 4.750.000 4.750.000

2.000.000 600.000 160.000

2.000.000

75.000

123

Tabung gas Motor TOTAL BIAYA INVESTASI 2. BIAYA TETAP Transportasi Listrik Telepon PBB Upah (4 orang) TOTAL BIAYA TETAP 3. BIAYA VARIABEL Kulit kerbau basah Minyak goreng Kayu Bakar Lemak Arang Garam Minyak tanah Kemasan besar Kemasan kecil Gas Bonus agen (kemasan besar) Bonus agen (kemasan kecil) TOTAL BIAYA VARIABEL Pajak TOTAL OUTFLOW Net Benefit Discount Factor 8,38% PV/TAHUN NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C PAYBACK PERIOD

700.000 15.500.000 82.205.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 99.339.500 5.546.875 8.100.000 35.675.715 5.546.875 240.000 2.700.000 2.160.000 12.925.000 2.062.500 840.000 4.812.500 179.948.965 0 306.950.965 -93.950.965 0,9227 -86.686.626 Rp0 8,38% 86.686.626 -86.686.626 1,00 10 Tahun

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 139.075.300 7.765.625 11.340.000 49.946.002 7.765.625 336.000 3.780.000 3.024.000 18.095.000 2.887.500 1.176.000 6.737.500 251.928.552 390.712 297.116.263 1.083.737 0,8513 922.626

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 71.351.431 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 412.765.248 13.234.752 0,7855 10.396.051

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 71.351.431 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 407.505.248 18.494.752 0,7248 13.404.541

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 71.351.431 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 414.765.248 11.234.752 0,6687 7.513.076

7.155.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 71.351.431 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 414.660.248 11.339.752 0,6170 6.996.949

5.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 71.351.431 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 412.765.248 13.234.752 0,5693 7.534.801

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 71.351.431 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 407.505.248 18.494.752 0,5253 9.715.281

7.260.000 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 71.351.431 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 414.765.248 11.234.752 0,4847 5.445.292

0 4.200.000 2.160.000 2.400.000 37.000 36.000.000 44.797.000 198.679.000 11.093.750 16.200.000 71.351.431 11.093.750 480.000 5.400.000 4.320.000 25.850.000 4.125.000 1.680.000 9.625.000 359.897.931 2.810.317 407.505.248 55.361.419 0,4472 24.758.011

124