Anda di halaman 1dari 24

TUGAS MATA KULIAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

Analisis Life Case Patonah, Sang Ibu dan Sang Nenek dari Kediri

Disusun Oleh: Leonardus Dewa Hardana Danang Arifin Rahmat Bagus Saputro 111011128 111011140 111011143

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2012

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Tugas Analisis Life Case Lansia ini kami kerjakan untuk memenuhi penyelesaian tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan II terkait dengan persyaratan Ujian Akhir Semester dan pemberian nilai tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan II. Selain karena persyaratan tugas, tugas ini kami kerjakan untuk menggali data dan analisa menggunakan teori-teori yang telah kami pelajari pada mata kuliah Psikologi Perkembangan II tentang perkembangan-perkembangan yang terjadi pada lansia, antara lain perkembangan: fisik, kesehatan, keberfungsian, kepribadian, ingatan, relasi, optimum aging, dll. Kami menggunakan metode observasi dan wawancara/interview untuk menggali data. Subyek yang kami cari tahu datanya adalah Ibu Patonah yang berumur 67 tahun. Kami memilih Beliau karena kebetulan Beliau adalah anggota keluarga, persisnya Nenek, dari salah satu anggota kelompok kami. Nantinya, dalam bab selanjutnya akan dijelaskan mengenai gambaran kehidupan dan kesehatan dari Ibu Patonah baik kondisi fisiknya, kesehatannya, kepribadian, ingatan, dan relasi sosialnya. Tiada sesuatu yang sempurna, masing-masing memiliki kekurangan. Begitu juga tugas kami ini, masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kritik dan saran dari pembaca akan senantiasa kami terima dengan terbuka. Akhir kata kami mengucapkan selamat membaca Analisis Life Case: Patonah, Sang Ibu dan Sang Nenek dari Kediri.

BAB II
KAJIAN TEORI
Fisik

Penampakan seorang yang telah menempuh masa lansia akan mengalami perubahan, diantaranya perubahan pada kulit, rambut dan suara. Kulit seorang lansia yang keriput, rambut mulai banyak yang berwarna abu-abu atau beruban, dan suara yang lemah(Cavanaugh, J.C., Blanchard-Field, F.). Struktur tubuh pun juga akan berubah, tinggi tubuh akan berkurang karena membungkuknya bagian punggung, dan berat badan semakin bertambah. Begitu halnya dengan mobilitas akan berkurang karena dipengaruhi oleh perubahan otot-otot dan tulang.

Kesehatan Stres mengacu pada proses transaksional antara orang dan lingkungan, yang

berdasarkan penilaian orang tersebut lingkungan bersifat mengancam, menantang atau berbahaya (Lazarus & Folkman, 1984). Usia lanjut cenderung lebih banyak menggunakan pengobatan. Pada masa ini, lansia mengalami masa yang disebut The loss continum yaitu anak-anak (sudah tidak serumah), peran sosial, kematian

pasangan, kemunduran sensori, penghasilan, mobilitas karena kesehatan menurun.

Keberfungsian aktif Adaptasi yang berhasil mampu menyesuaikan dengan lingkungan fisik,

diterima orang lain dengan baik (interpersonal) dan taat aturan atau norma sosialnya. Semakin kurang familiar dengan kondisi lingkungan tertentu berarti mengalami tekanan lingkungan. Proses penuaan secara progresif, mengalami berbagai

kehilangan sehingga menurunkan partisipasi sosial Lanjut Usia. (Pastalan, 1982). Hal yang menjadi penting adalah situasi dan kondisi yang hangat home bukan sekedar house, sehingga dapat memelihara kompetensi dan independence nya.

Kepribadian Menurut Mc. Adam dalam Cavanaugh, J.C., dan Blanchard-Field F.(2006),

terdapat tiga aspek dalam struktur dan fungsi kepribadian yang setara yaitu : Dispositional Traits : aspek kepribadian bersifat konsisten dan terus menerus menunjukkan kecenderungan pada aspek kepribadian. Personal Concern : terdiri dari berbagai hal yang dianggap penting oleh ssorang, menjadi tujuannya dan menjadi bahan pertimbangan yang penting dalam hidupnya, misal : dalam hal motivasi, strategi, refleksi diri dll terkait dg stase perkembangan ttt.). Life narrative : aspek kepribadian yang menggambarkan identitas dirinya yang melekat dalam struktur kepribadiannya, dan hal itu merupakan integrasi dari berbagai pengalaman yang menarik bagi dirinya.( target : menemukan identitas).

Ingatan Permasalahan encoding adalah menghubungkan antara informasi yang telah

ada dengan baru(ellaborative rehearsal). Lansia kurang spontan dalam memproses informasi yang masuk, tetapi mereka dapat melakukannya jika diberikan cara untuk melakukannya dan hal ini bersifat sementara. Lansia lebih rentan terhadap kenangan palsu(false memory) yang sebenarnya tidak terjadi. Penyebab informasi yang salah lain adalah karena lansia kadang lupa terhadap suatu peristiwa dan sumber dari peristiwa itu(source memory). Dalam kehidupan sehari-hari, lansia tidak seakurat orang yang lebih muda dalam merekonstruksi obyek dengan kemampuan spasial misalnya dalam mengingat tempat. Lansia dalam kesehariannya akan sulit mengingat macam-macam gambar, termasuk wajah seseorang, tetapi mereka menggunakan pengalaman mereka untuk membantu mengingat hal-hal tersebut, hal ini disebut memory for picture.

Relasi

Activity Theory Teori ini menjelaskan bahwa seorang lansia dengan keaktifan atau keterlibatan yang tinggi di masyarakat, maka tingkat kepuasan diri terhadap kehidupan akan semakin tinggi. Apabila lansia kehilangan peran, maka dapat menghilangkan kepuasan dan kesejahteraan hidup seorang lansia. Teori ini menganggap penting interaksi yang terjadi antara individu dengan individu yang lain. Mengenai dukungan sosial, Lubben dalam Thanakawang dan Soonthorndhada menjelaskan bahwa social network atau yang sering kita sebut relasi diartikan sebagai hubungan sosial dan hubungan antara seorang individu dengan keluarga dan temantemannya. Lansia cenderung untuk berteman dengan orang-orang yang dekat dengannya, baik teman-teman dekat di masa muda atau pun tetangga yang ada di sampung kanan-kirinya. Kehadiran teman dapat memicu munculnya dukungan sosial yang berpengaruh pula terhadap perilaku yang mendukung kesehatan bagi lansia, bahkan adanya dukungan dari hubungan pertemanan berpengaruh secara tidak langsung terhadap adanya dukungan dari keluarga(Thanakawang, K;

Soonthorndhada, K:2011)

Optimal Aging Optimal aging adalah sebuah kondisi seorang lansia yang dapat

mempertahankan dan meningkatkan kompetensi, tetap menjaga kesehatan dan melakukan langkah preventif untuk menanggulangi penyakit, dan menjaga gaya hidup(Cavanough, J.C., Blanchard-Fields, F.: 2006). Hal pertama adalah mempertahankan dan meningkatkan kompetensi penekanan asumsi dasar tentang proses penuaan yang sehat. Hal ini menghindarkan stereotipe-stereotipe negatif tentang lansia yang dapat menempel dan akhirnya mereka setujui. Mekanisme perubahan menjadi lanjut usia meliputi adaptasi tiga kunci pokok, yaitu: seleksi, optimalisasi, dan kompensasi. Hasilnya berupa

kompetensi yang tinggi, kualitas hidup yang lebih baik, dan adaptasi masa depan yang baik. Elemen yang kedua adalah menjaga kesehatan dan melakukan langkah preventif untuk menanggulangi penyakit. Kunci dari menjaga kesehatan adalah kebiasaan-kebiasaan perilaku sehari-hari yang sehat, pemikiran yang baik meliputi optimis memandang hidup, mempunyai minat dan perilaku yang positif. Pencegahan terhadap penyakit dikelompokkan menjadi empat tingkat yaitu: Pencegahan Primer berupa intervensi apapun yang bertujuan untuk mencegah penyakit atau kondisi yang terjadi. Pencegahan Sekunder berupa tindakan agar penyakit tidak fatal. Pencegahan Tersier berupa usaha untuk mencegah komplikasi dari penyakit, dan melakukan intervensi medis. Pencegahan Quartenary berupa upaya khusus untuk meningkatkan kesehatan bagi para penderita penyakit kronis.

BAB III
PENGAMBILAN DATA III. 1. Hasil Observasi
Setting Observasi Nama Subyek : Patonah Usia Alamat : 67 tahun : Ds. Joho, RT: 4, RW: 4, Kec. Semen, Kab. Kediri, Jawa Timur

Deskripsi tentang Subyek Dalam keseharian ibu Patonah, beliau hidup bersama anak bungsunya yaitu Hadi Suroso yang saat ini bekerja di salah satu bank swasta di Kediri. Setiap harinya meskipun usianya yang sudah lanjut yaitu 67 tahun beliau tidak pernah bergantung pada orang lain terutama anak-anaknya. Begitu juga dengan pekerjaan yang cukup berat seperti pergi ke sawah beliau juga melakukannya sendiri, meskipun fisiknya yang sudah tidak seperti ketika muda dulu. Beliau tetap pergi ke sawah untuk mengisi waktu di hari-hari tuanya sekaligus mencari nafkah karena suami beliau sudah meninggal 19 tahun silam. Ibu patonah memiliki 7 anak yang 6 diantaranya sudah menikah dan yang tersisa hanya anak bungsunya yang rencananya tahun depan juga akan menikah. Untuk urusan kehidupan sosial, beliau sudah sekitar 2 tahun tidak mengikuti acara sosial di sekitar rumahnya seperti pengajian, arisan, dan sebagainya. Oleh karena itu beliau sedikit kurang dekat dengan tetangga yang rumahnya cukup jauh dari kediamannya, namun beliau tetap menjaga tali silaturahim dengan tetangga meskipun jarang bertemu. Selain dengan keluarga beliau juga tetap menjaga hubungan silaturahim dengan kelurga, terutama dengan anak dan cucunya. Meskipun beliau harus mengurus sawah, beliau masih berusaha meluangkan waktu untuk mengunjungi anak dan cucunya yang rata-rata rumahnya relatif berjarak dekat dengan kediaman

beliau. Bahkan salah satunya cucunya tinggal dengan beliau semenjak masih balita, sampai sekarang ini cucunya berusia 11 tahun. Ini merupakan bukti bahwa ibu Patonah masih menjaga dengan baik hubungan sosialnya dengan masyarakat dan keluarganya. Dengan usianya yang menginjak 67 tahun ibu Patonah masih mempunya fisik yang cukup kuat, dengan kulit yang terlihat kencang walaupun sudah terdapat keriput di seluruh kulitnya, banyak rambut yang sudah beruban, dan suara yang bergetar. Dengan kondisi yang seperti itu, Beliau masih bisa berjalan kaki ke sawah yang jaraknya sekitar 2-3 km dari rumahnya. Padahal akses jalan ke sawah tersebut cukup sulit karena harus menempuh jalanan yang naik turun bukit, karena tempat tinggal ibu Patonah masih termasuk dalam kontur daerah pegunungan. Sesekali ibu Patonah tidak pergi ke sawah dikarenakan sakit pegal linunya kambuh. Penyakit itu sebenarnya sudah lama menjangkiti tubuh beliau, namun karena dulu Ibu Patonah menganggap penyakit itu merupakan sakit pegal-pegal biasa akhirnya penyakit tersebut tidak segera diobati. Hasilnya sekarang penyakit tersebut bisa kambuh kapan saja bergantung pada sedang baik atau tidaknya tubuh dari ibu Patonah. Ibu Patonah juga adalah seorang muslim yang sampai saat ini masih bisa melaksanakan kewajiban seorang muslim seperti sholat, mengaji, dan lain-lain. Meskipun sibuk dengan urusan duniawinya beliau tetap berusaha mendekatkan dirinya dengan Yang Kuasa. Mungkin hal tersebut dilakukannya untuk memberikan ketenangan rohaniah baginya di hari tuanya ini.

III. 2. Hasil Wawancara


Setting Wawancara Hari, Tanggal : Minggu, 25 Desember 2011 Tempat : Rumah ibu Patonah, Ds. Joho, RT: 4, RW: 4, Kec. Semen, Kab. Kediri, Jawa Timur. Waktu : 07.33-07.38 WIB

Kode: D M : Interviewer (Danang Arifin) : Interviewee (Mbok Patonah)

Kode D

Perkataan Niki Danang badhe tangklet-tangklet Mbok, Danang kan enten tugas kuliah to, lha tugas kulaihe niku wawancara tentang lansia, terus minimal usiane 65, terus sampean niku yuswanipun pinten Mbok?

(arti: Ini danang mau tanya-tanya mbok, danang kan ada tugas kuliah nah tugasnya itu wawancara lansia yang usianya minimal 65 tahun. Anda usianya berapa tahun mbok?) M sewidak pitu

(arti: 67) D pinten?

(arti: Berapa?) M sewidak pitu

(arti: 67)

Oh enam puluh tujuh, terus sakniki keseharianipun sampean niku loh, sak mbendinten niku teng nopo mawon? Saget teng sawah tasikan?

(arti: Oh, 67. Terus sekarang keseharian anda itu melakukan apa aja mbok? Masih bisa kesawah ?) M Yo Hooh (arti: Ya iya) D Saget teng sawah?

(arti: Bisa pergi ke sawah?) M Yo nyambut tani,

(arti: Ya untuk bertani) D Tapi taksih giat anu, awake taksih kiat damel,,

(arti: Tapi masih kuat mbok, badannya buat,,) M Kerjone ta? Yo ra patek o.

(arti: Kerjanya maksutnya? ya sudah gak begitu kuat.) D M Hehehe Kerjone yo mung ngarahne wong

(arti: Kerjanya ya cuma ngarahin orang) D Dados mung nggih ongak-ongak sawah? Tapi taksih kiat damel mlaku adoh?

(arti: Oh jadi Cuma lihat-lihat sawah?, tapi apa masih kuat untuk berjalan jauh)

Ijik. Lak nyang sawah

(arti: Masih kalau ke sawah) D Padahal sawah kan nggih tebeh

(arti: Padahal sawahnya kan jauh) M Yo ndak mbendino

(arti: Ya gak setiap hari) D Soale kan lak damel roto-roto lansia kan, nggih kadang-kadang enten ingkang taksih kuat, kadang-kadang lak wong kota,

(arti: Soalnya untuk rata-rata lansia kan kadang-kadang ada yang masih kuat, kadang-kadang kalau orang kota kan) M Yo lek wong kota

(arti: Ya kalau orang kota) D Sing anu, sing asam urat, sing anu, terus sampean gadah penyakit ngoten nopo mboten mbok?

(arti: Yang anu, yang asam urat atau apalah lah mbok, terus anda punya penyakit seperti itu atau tidak mbok?) M Keju Linu

(arti: Pegal linu) D Oh keju linu, asam urat mboten?

(arti: Oh pegal linu, asam urat tidak?)

Yo

(arti: Ya) D Oh linu-linu, terus sak lintue niku mbok? Kados biasane lek wong sepuh kan kados darah tinggi ngoten niku?

(arti: Oh pegal-pegal, terus selain itu mbok? Kan biasanya kalau orang tua punya penyakit seperti darah tinggi gitu?) M Ndak, ojo sampek

(arti: Enggak, jangan sampai) D Ojo sampek, hehe

(arti: Jangan sampai, hehe) M Yo mek keju linu

(arti: ya Cuma pegal linu) D Berarti asam urat niku, sakmbendinten nopo dipun miki obat mbok?

(arti: Berarti asam urat yang tadi, setiap hari diminumi obat mbok?) M Yo kadang-kadang, lak gak kumat yo gak, mik e yo mik susu anlene kui.

(arti: Ya kadang-kadang, ya kalau gak kumat ya enggak. Minumnya minum susu anlene itu) D Oh mik susu, pamane obat ngoten mboten tau Mbok?

(arti: Oh, minum susu, kalau obat gitu tidak pernah Mbok?) M Tau lek mri kumat ngono

(arti: Pernah kalau pas kumat) D Lek kumat, lek pun parah ngoten?

(arti: Kalau kumat? kalau sudah parah gitu? M Yo, tapi yo gak mbendino, lak mri ngrasa gak penak ngono tok

(arti: Ya, tapi ya gak setiap hari. Pas waktu ngerasa gak enak gitu aja) D Oh, berarti wayahe kumat ngoten tok?

(arti: Oh, berarti ketika kumat saja?) M Yo lek pas keju linu ngono terus mik obat

(arti: Iya kalau pas linu-linu terus minum obat) D Terus usiane sampean sakniki kan enam puluh tujuh, niku sampean tasik nderek-nderek pengajian, pokoke acara-acara teng njobo ngono niku loh Mbok. nderek nopo mboten?

(arti: Terus usia anda sekarang enam puluh tujuh, apakah anda masih mengikuti kegiatan diluar seperti pengajian? Pokoknya acara-acara yang diluar mbok, masih ikut apa tidak?) M Gak

(arti: Enggak) D Mboten? Dados kados pengajian, arisan mboten nderek punan?

(arti: Tidak? Jadi seperti pengajian, arisan sudah tidak mengikuti lagi?) M Gak, yo arisan-arisan biasa yo lek kumpulan nang omah

(arti: Enggak, kalau arisan ya arisan biasa ya kalau kumpul dirumah) D Oh nang omah, dadi lek neng njobo ngoten niku mpun mboten anu, tumut? Pun mulai kapan Mbok pun mboten ndherek acara-acara teng njobo ngoten niku?

(arti: Oh dirumah, jadi kalau diluar sudah tidak ikut?, sudah sejak kapan mbok tidak ikutnya, seperti acara-acara diluar seperti itu?) M Wis enek rong tahun.

(arti: Sudah ada 2 tahun) D Oh tasik dua tahun, berarti nembe, soale sampean kan tasik wonten anu, biasane tiang sepuh kan kados bingung badhe teng nopo niku loh, lek sampean kan tasik teng sawah, biasane lak wong kota kan lak bingung kan mesti arisan sing pengajian, sing kabeh acara didhereki.

(arti: Oh sudah 2 tahun? Berarti barusan. Soalnya anda kan sudah ada kegiatan. Biasanya orang tua kan seperti bingung harus bagaimana kalau anda kan masih ke sawah. Biasanya kan kalau orang kota kan kalau bingung ya ikut arisan, pengajian, semua acara diikuti) M Woh ngono iku kakean mikire

(arti: Woh kalau seperti itu kebanyakan mikirnya) D Lek sampean kan mung nang sawah tok.

(arti: Kalau anda kan cuma ke sawah saja) M Yo mung tani

(arti: Ya Cuma bertani) D Terus, sampean pikunan nopo mboten Mbok?

(arti: Terus apakah anda sudah pikun Mbok?) M Gak

(arti: Enggak) D Berarti pamane ndeleh barang, pomo ndeleh duit po nopo mboten,,

(arti: Berarti seandainya meletakan barang, seperti uang atau lainnya tidak lupa) M Gak, sik panggah teliti.

(arti: Enggak, masih teliti) D Oh berarti tasik teliti?

(arti: Oh, berarti masih teliti?) M Jik, ojo sampek pikun. Hehe

(arti: Masih, jangan sampai pikun.hehe) D Nggih, mpun sampek Mbok, hehehe terus lek usianipun sampean sakniki sampean niku nopo, kados wedi ngoten nopo mboten Mbok? Wedi nopo kados mungkin hubungane kalih saudara-saudara, keluarga ngoten niku, di usainipun sampean sakniki enten masalah nopo, nopo enten ndak?

(arti: Ya jangan sampai mbok.hehehe. terus dengan usia anda sekarang ini, apakah Anda merasa takut atau punya maslah dengan keluarga atau dengan saudara begitu tidak?)s

Gak enek (arti: Tidak ada)

Oh mboten wonten? Dados biasan mawon?

(arti: Oh tidak ada? Jadi seperti biasanya saja?) M Biasa, lek ra bener nyeneni tau.

(arti: Biasa. Kalau tidak benar ya saya marahin pernah) D Nopo Mbok?

(arti: Kenapa mbok?) M Lek gak bener yo nyeneni

(arti: Kalau tidak benar ya saya marahin!) D Normal lek niku Mbok, kabeh lek anu nggih ngoten. Pun mung tangklet ngoten mawon kok Mbok, sakliane kan saget mriksani dhewe. Mbok matur suwun Mbok, mek niki mawon kok pertanyaane

(arti: Kalau seperti itu normal mbok, semua juga seperti itu. Sudah Cuma bertanya itu saja kok mbok. Terima kasih mbok) M Heeh

III.3. Analisis Teoritik Kasus


Fisik
Lansia atau orang yang telah berusia lanjut mengalami penurunan mobilitas/gerak. Mobilitas/gerak dipengaruhi oleh perubahan otot-otot dan tulang. Otot-otot dan tulang pada lansia mengalami degenarsi atau penurunan fungsi-fungsi sel. Ibu Patonah memang mengalami sedikit penurunan kecepatan dan kelenturan dalam bergerak atau mobilitas. Namun beliau memiliki fisik yang kuat, khususnya untuk berjalan jauh. Dari hasil observasi dan wawancara, ibu Patonah sempat mengatakan bahwa beliau masih pergi ke sawah untuk mengawasi para pekerja sawah. Padahal letak sawahnya relatif jauh dari rumahnya. Fisiknya terlatih karena kegiatannya berjalan ke sawah dan berjalan-jalan di sekitar daerah rumahnya, yang notabene berada pada daerah dataran tinggi dan memilki kontur yang naik-turun. Berdasarkan observasi, Ibu Patonah masih memiliki fisik atau tubuh yang kuat dengan kulit yang terlihat kencang walaupun sudah terdapat keriput di seluruh kulitnya, banyak rambut yang sudah beruban, dan suara yang bergetar. Hal-hal tersebut sesuai dengan teori perkembangan tentang perubahan fisik pada lansia, anatara lain: rambut memutih, dan perubahan kulit dari kencang menjadi keriput. Perawakannya tinggi relatif kurus. Hal ini tidak sesuai dengan teori perkembangan yang mengatakan bahwa perubahan struktur tulang mulai terjadi, sehingga tulang belakang lansia menjadi agak melengkung dan terlihat bungkuk. perubahan bentuk tubuh khususnya di perut. Kedua hal ini tidak tampak pada Ibu Patonah karena beliau, dalam usiannya yang sudah menginjak 67 tahun, fisiknya relatif tinggi dan kurus.

Keberfungsian
Hasil observasi dan wawancara menggambarkan bahwa Bu Patonah masih berperan aktif di lingkungannya, hal tersebut dapat dilihat dari usaha Beliau untuk terus menyambung tali silaturahim dengan para tetangga walaupun tidak begitu

sering berinteraksi secara langsung dengan tetangga di lingkungannya. Beliau menceritakan sendiri bahwa Beliau menjadi pengontrol para orang-orang yang bekerja di sawahnya dan juga sekaligus mengawasi kehidupan keluarga para anakanaknya. Kehadirannya di dunia masih dihargai oleh para anaknya yang sebagian besar sudah tidak hidup bersama lagi dengannya. Sayang beliau sudah tidak aktif lagi di kegiatan-kegiatan kemasyarakatan di lingkungannya. Padahal menurut teori activity semakin orang terlibat dan mempunyai peran di masyarakat, maka orang tersebut akan memperoleh kepuasan dalam hidup, karena di dalamnya terdapat dinamika yang dapat mendukung kesehatan seorang lansia.

Kesehatan
Pada aspek kesehatan lansia, terdapat dua jenis penyakit yang biasa diderita lansia. Penyakit akut dan penyakit kronis. Ibu Patonah bisa dibilang adalah lansia yang relatif sehat jika dibandingkan dengan lansia-lansia seumuran lain. Beliau hanya mengidap penyakit asam urat. Penyakit asam uratnya itu adalah penyakit kronis. Terkadang ketika beliau sangat merasa kesakitan, tidak dapat menahan rasa sakitnya saat asam urat yang dideritanya kambuh, beliau mengkonsumsi obat asam urat. Hal itu sesuai dengan teori perkembangan bahwa orang-orang yang berusia lanjut cenderung lebih banyak menggunakan pengobatan. Kesehatan tidak hanya menyangkut kesehatan fisik, kesehatan juga menyangkut kesehatan mental. Relasi yang tidak baik dengan lingkungan sosial akan menyebabkan stres. Stres akan mempengaruhi kesehatan. Stres mengacu pada proses transaksional antara orang dan lingkungan, yang berdasarkan penilaian orang tersebut lingkungan bersifat mengancam, menantang atau berbahaya (Lazarus & Folkman, 1984). Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, ibu Patonah memiliki hubungan yang baik dengan tetangga-tetangga dan keluarganya. Beliau juga tidak memiliki halhal yang bersifat mengancam dari lingkunangan sosialnya. Kami menilai ibu Patonah sehat secara mental jika dilihat dari hubungan dengan lingkungan sosialnya.

Kepribadian
Ibu Patonah dikenal sebagai orang yang ramah dan supel, dan hal itu memang terbukti saat kami wawancara dan observasi. Beliau dengan senang hati bersedia diwawancarai. Beliau sangat ramah dan sikapnya hangat kepada orang lain, terutama pada keluarga dan tetangga-tetanggannya. Sifat-sifat yang konsisten yang melekat pada beliau ini disebut Mc. Adam(1999) dispotitional traits. Meskipun begitu beliau adalah seorang yang tegas. Tegas dalam konteks apabila ada yang dirasa tidak benar dari apa yang dilakukan orang lain, beliau langsung membenarkan dan menasehati. Hal ini menjadi personal concern dari beliau, dibalik ketegasan tersebut terdapat nasihat yang tentu beliau anggap baik untuk kehidupan anak-anaknya. Hal yang kami tangkap dari ibu Patonah adalah beliau juga seorang yang energik dan berdaya juang tinggi. Hal itu dibuktikan dari, salah satunya adalah hampir setiap hari beliau pergi ke sawah yang letaknya jauh dari rumah untuk mencari nafkah. Walaupun sudah lanjut usia dan anak-anaknya sudah menikah dan bekerja, Ibu Patonah tidak mau bergantung pada orang lain, beliau masih mencari nafkah secara mandiri.

Ingatan
Lansia mengalami penurunan fungsi kognitif, termasuk atensi, persepsi dan memori. Namun dari data yang kita gali dari observasi dan wawancara dengan ibu Patonah, beliau masih memiliki ingatan yang baik. Beliau bukan lansia yang pikunan. Contoh sederhananya saja ibu Patonah mengingat barang-barang yang ditaruhnya, beliau tidak lupa letak barang yang ditaruh. Beliau mampu berbicara dengan baik dan jelas. Pelafalannya terdengar jelas. Beliau juga masih mengingat secara jelas mulai dua tahun yang lalu Beliau sudah tidak lagi mengikuti acara-acara pengajian yang diadakan di lingkungannya.

Relasi
Relasinya dengan keluarga dan tetangga-tetangga di sekitar rumahpun terjaga, walaupun untuk acara-acara kemasyarakatan/sosial, seperti arisan dan pengajian yang diselenggarakan di luar rumah, beliau sudah tidak mengikuti. Salah satu jurnal yang kami pakai menerangkan bahwa hubungan pertemanan dapat mendorong seseorang untuk berperilaku sehat, dan hubungan tersebut berpengaruh secara tidak langsung terhadap adanya dukungan dari keluarga. Hal ini penting untuk Bu Patonah, yaitu tetap menjaga hubungan dengan tetangga atau teman lamanya dengan harapan kehidupan masa tua yang sehat dan optimum. Hubungan dengan keluarganya masih terbilang baik, walaupun sudah banyak anak-anaknya yang sudah hidup berkeluarga dan berpisah dengan beliau. Menurut paparan beliau dan hasil observasi dapat kita ketahui bahwa masih ada satu anaknya yang masih tinggal dengannya, dan anaknya yang lain yang tinggal di dekat rumahnya. Keadaan tersebut memperbesar kemungkinan kontak secara langsung dengan keluarganya secara intens.

Optimal Aging
Keseluruhan hal yang di paparkan di awal adalah penyusun terbentuknya optimal aging. Cavanaugh dan Blancahard-field(2006) mengemukakan bahwa optimal aging adalah sebuah kondisi seorang lansia yang dapat mempertahankan dan meningkatkan kompetensi, tetap menjaga kesehatan dan melakukan langkah preventif untuk menanggulangi penyakit, dan menjaga gaya hidup. Anggapan Bu Patonah terhadap masa tua sudah terbilang baik. Dari paparannya tersirat bahwa masa tua bukanlah masa untuk bermalas-malasan, tapi beliau kurang begitu sadar dalam menjaga kesehatannya. Hal tersebut terbukti saat beliau menganggap sepele penyakit pegal linunya yang saat ini diketahui bahwa penyakit tersebut adalah penyakit asam urat. Di sisi lain gaya hidup beliau adalah gaya hidup yang sehat, dengan tetap

mengonsumsi

makanan

yang

sehat,

pekerjaan

yang

dapat

membugarkan

kesehatannya, dan optimis memandang hidup.

BAB IV
PENUTUP IV.1. Kesimpulan
Ibu Patonah memiliki fisik yang terbilang masih prima. Beliau masih dapat berjalan jauh hampir setiap harinya. Perawakannya tinggi, relatif kurus, tidak bungkuk, rambut sudah putih, kulit sudah mulai berkeriput namun masih relatif kencang, dan suara bergetar. Ibu Patonah menderita penyakit asam urat sehingga beliau membutuhkan obat untuk mengurangi dan mengatasi rasa sakitnya saat asam urat yang dideritanya kambuh. Beliau tidak memiliki masalah yang cukup berarti yang dapat membuatnya stres, hal itu didukung oleh relasinya yang baik dengan lingkungan sosial dan keluarganya. Beliau tidak menderita dementia atau pikun. Ingatan beliau terbilang masih baik. Secara umum Bu Patonah adalah seorang ibu dari anak-anaknya dan seorang nenek dari cucucucunya yang dapat menempuh optimal aging hampir sempurna. Hanya aspek menjaga kesehatannya lah yang perlu diperbaiki, dan peningkatan aspek yang lain diantaranya gaya hidup, dan pandangan hidupnya mengenai masa tua yang sehat dan optimal.

IV.2. Saran dan Rekomendasi


Ibu Patonah bercerita bahwa Ia akan memarahi anak-anaknya apabila terdapat permasalahan di keluarga anaknya tersebut atau ada sesuatu hal yang dirasa tidak cocok denganya. Saran dari kami atas hal tersebut adalah ibu Patonah harus lebih terbuka dengan mau memahami permasalahan apa yang dialami anaknya. Dengan demikian, sikap yang diambil oleh ibu Patonah lebih bijaksana. Dalam interview, ibu Patonah pernah bercerita bahwa penyakit asam urat yang dideritanya bertambah parah karena pada awalnya beliau menganggap penyakitnya hanya pegal linu biasa. Tindakan preventif yang dapat diambil menurut Cavanaugh adalah tindakan preventif sekunder, yaitu mencegah penyakitnya agar tidak menjadi lebih fatal. Karena tidak menutup kemungkinan akan beberapa penyakit lain yang akan dijangkit olehnya. Cerita Bu Patonah mengenai kegiatannya di lingkungannya adalah hanya pergi ke sawah dan hanya kadang-kadang berinteraksi secara langsung dengan tetanggannya, dan beliau sudah tidak mengikuti kegiatan-kegiatan yang di adakan oleh masyarakat sekitar. Saran kami sesuai dengan paparan Activity theory, yaitu ibu Patonah meningkatkan interaksinya dengan tetangga dan mengikuti kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang dapat meningkatkan kepuasan hidup, yang nantinya akan berdampak pada kesehatan pula. Sebenarnya saat ini tidak ada masalah yang berarti dengan ingatan ibu Patonah, tetapi alangkah baiknya beliau melakukan stimulasi yang lebih intensif untuk memelihara ingatan beliau. Diantaranya dengan mengisis TTS (Teka-Teki Silang), permainan sudoku, ataupun hal-hal yang melatih kemampuan mengingat.

Daftar Pustaka
Cavanough, J.C, Blanchard-Fields, F. (2006). Adult Development and Aging, fifth edition(e-book). United States of America: Thompson Learning,Inc. Santrock, J.W.(2011). Life Span Development, Third Edition(e-book). New York: Mc.Graw Hill. Thanakawang, K., Soonthorndhada, K. (2011). Mechanisms by Which Social Support Networks Influence Healthy Aging Among Thai Community-Dwelling Elderly. Journal of Aging and Health. 23, 1351-1378.