Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN TUTORIAL MODUL DIARE BLOK MEKANISME DASAR PENYAKIT

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1

1. KETUA : AMIL BUDI JADI (K1A112005) 2. SEKRETARIS : GRACE HANNA CHRISTIAN (K1A112015) 3. ANGGOTA : 1. SITTI WAHIDATUN 6. SRI WAHYUNI ASRIANI (K1A109057) (K1A112043) 2. RAHMAWATI 7. WAODE SRIAYU (KI1A112010) (K1A112053) 3. AKBAL NUR KARIM 8. ROMIH ISWANTO A. (K1A112021) (K1A112071) 4. DWI AYU INDASWARY 9. SAHRIAL FAUZI NHB ( K1A112027) (K1A112095) 5. EKA DEWI YULIANI 10. YUSMANIAR (KIA112035) (K1A112109) 4. TUTOR : dr. Sofyan

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALUOLEO 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Penyakit diare hingga saat ini masih menjadi masalah di Indonesia. Padahal berbagai upaya penanganan, baik secara medic maupun upaya perubahan tingkah laku dengan melakukan pendidikan kesehatan terus dilakukan.Namun upaya-upaya tersebut belum. Memberikan hasil yang menggembirakan. Setiap tahun penyakit ini masih menduduki Peringkat atas, khususnya di daerah-daerah miskin (UmarZein,2004). Diare atau mencret didefinisikan sebagai buang ai rbesar dengan feses yang tidak berbentuk atau cair dengan frekwensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Secara etiologi, diare akut dapat disebabkan oleh infeksi, intoksikasi, alergi, reaksiobat-obatan,dan juga factor psikis. Penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi dapat disebabkan virus,bakteri,danparasit(UmarZein,2004). Diare menyerang siapa saja tanpakenal usia. Diare yang disertai gejala buang air terus-menerus, muntah dan kejang perut kerap dianggap bisa sembuh dengan sendirinya, tanpa perlu pertolongan medis. Memang diare jarang sekali yang berakibat kematian, tapi bukan berarti bias dianggap remeh. Penyakit yang juga popular dengan nama muntah berak alias muntahber ini bisa dikatakan sebagai penyakit endemis di Indonesia, artinya terjadi secara terus-menerus di semua daerah, baik diperkotaan maupun dipedesaan, khususnya di daerah-daerah miskin. Dikawasan miskin tersebut umumnya penyakit diare dipahami bukan sebagai penyakit klinis, sehingga cara penyembuhannya tidak melalui pengobatan medic (Sunoto,1987).

B. RUMUSAN MASALAH Dalam bentuk skenario 1 : Laki-laki 45 tahun dibawa ke Puskesmas jam 5 subuh karena muntah-muntah dan berak seperti air lebih dari 10 kali, sejak tadi malam. Penderita terlihat lemas, mata cekung,mengantuk. Suhu 36o C, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 120x/menit. Penderita berdomisili di daerah kering yang sulit air.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah selesai mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pembelajaran tentang mikrobiologi, parasitologi sebagai dasar penyebab terjadinya infeksi,patomekanisme infeksi, dan lingkaran penularan mikroorganisme penyebab infeksi, kelainan-kelainan jaringan dan kimia dalam tubuh manusia akibat infeksi, cara pencegahan infeksi.

D. SASARAN PEMBELAJARAN Mahasiswa diharapkan dapat: 1. Menjelaskan semua aspek tentang mikroorganisme penyebab infeksi. 2. Menjelaskan tentang patomekanisme terjadinya infeksi pada saluran cerna. 3. Menjelaskan perubahan-perubahan sel,jaringan, dan cairan tubuh akibat infeksi. 4. Menjelaskan tentang penularan infeksi.

5. Menjelaskan tentang cara pengendalian penyakit infeksi saluran cerna.

BAB II ISI
1) KATA SULIT Muntah-muntah : keluarnya makanan dalam bantuk bolus yang sudah ditelan dan dikeluarkan melalui cavum oris. 2) KATA KUNCI 1. Laki-laki 45 tahun 2. Dibawa ke puskesmas jam 5 subuh 3. Muntah-muntah 4. Berak seperti air lebih dari 10 kali sejak tadi malam 5. Lemas, Mata cekung, Mengantuk 6. Suhu 36 o C 7. Tekanan darah 100/70 mmHg 8. Nadi 120x/menit 9. Berdomisili di daerah kering yang sulit air 3) PERTANYAAN: 1. Bagaimana aspek anatomi, histologi, biokimia dan fisiologi dari saluran pencernaan? 2. Jelaskan definisi diare ? 3. Jelaskan jenis-jenis diare? 4. Bagaimana mekanisme gejala-gejala yang terjadi pada kasus tersebut ? 5. Bagaimana pencernaan? 6. Bagaimana peran imun terhadap infeksi saluran pencernaan? 7. Jelaskan aspek secara fisiologis dari suhu,tekanan darah,frekuensi denyut nadi? Dan apa saja faktor-faktor yang mempengaruhinya? 8. Jelaskan mekanisme sekresi cairan yang berlebihan pada saluran cerna? 9. Bagaimana tindakan protektif (preventif) dan kuratif untuk mengatasi diare? patogenesis infeksi mikroorganisme pada saluran

4) PEMBAHASAN

1 Bagaimana aspek anatomi, histologi, biokimia dan fisiologi dari saluran pencernaan?

Secara anatomi digestive : 1. Cavitas Oris 2. Pharynx 3. Oesophagus 4. Gaster 5. Intestinum Tenue a. Duodenum b. Jejenum c. Ileum 6. Intestinum Crassum a. Caecum b. Colon Ascendens c. Colon Transversum d. Colon Descendens e. Colon Sigmoideum f. Rectum g. Canalis Analis

Secara histologi Dinding saluran cerna memiliki struktur umum yang sama mulai dari esofagus hingga anus, dengan beberapa variasi lokal khas untuk masing-masing bagian. Lapisan dari dalam ke luar: 1. Mukosa 2. Submukosa 3. Muskularis eksterna 4. serosa

Secara biokimia Terdapat 4 konstituen yang sangat penting dalm menjaga keseimbangan biokimiawi pada saluaran cerna, yaitu Na+, Cl- , CO2, dan H2O

Secara fisiologi

2. Jelaskan definisi diare ? Definisi diare Penyakit diare atau diarrheal disease berasal dari bahasa Yunani yaitu diarroia, yang berarti mengalir terus, merupakan suatu keadaan abnormal pengeluaran tinja yang terlalu sering. Diare adalah meningkatnya frekuensi buang air besar dan konsistensi feses menjadi cair. Secara praktis dikatakan diare bila frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi cairtt. (Aru W.Sudoyo,dkk, 2009: 443) Menurut Behrman (2000:1273) diare adalah banyak kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinja.

Gejala-gejala diare Diare sering disertai oleh nyeri, keinginan buang air besar, rasa tidak nyaman di perianus, inkontinensia., muntah, lemah, lesu, demam,tidak nafsu makan,ada darah atau tidak darah dalam kotoran. Gejala lainnya,seperti nyeri otot atau kejang dan sakit kepala. ( Devi Indriasari, 2009 : 125) Menurut Widjaja (2000), gejala-gejala diare adalah sebagai berikut : a. Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. Suhu badannya punmeninggi, b. Tinja bayi encer, berlendir atau berdarah, c. Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu, d. Lecet pada anus, e. Gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan yang kurang, f. Muntah sebelum dan sesudah diare, g. Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah), dan h. Dehidrasi (kekurangan cairan).

Menurut Widjaja (2002), diare disebabkan oleh faktor infeksi,malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis. a. Faktor infeksi Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada anak. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang antara lain: 1) Infeksi oleh bakteri :Escherichia coli, Salmonella thyposa, Vibriocholerae (kolera), dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihandan patogenik seperti pseudomonas. 2) Infeksi basil (disentri), 3) Infeksi virus rotavirus, 4) Infeksi parasit oleh cacing (Ascaris lumbricoides), 5) Infeksi jamur (Candida albicans), 6) Infeksi akibat organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis, dan radangtenggorokan, dan

7) Keracunan makanan.

b. Faktor malabsorpsi Faktor malabsorpsi dibagi menjadi dua yaitu malabsorpsi karbohidrat dan lemak. Malabsorpsi karbohidrat, pada bayi kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula dapat menyebabkan diare.Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, dan sakit di daerah perut. Sedangkan malabsorpsi lemak, terjadi bila dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida. Triglyserida, dengan bantuan kelenjar lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus.Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat munculkarena lemak tidak terserap dengan baik.

c. Faktor makanan Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah (sayuran) dan kurang matang.Makanan yang terkontaminasi jauh lebih mudah mengakibatkan diare pada anak-anak balita.

d. Faktor psikologis Rasa takut, cemas, dan tegang, jika terjadi pada anak dapatmenyebabkan diare kronis.Tetapi jarang terjadi pada anak balita,umumnya terjadi pada anak yang lebih besar.

Penyebab diare A. Diare inflamasi (dengan peradangan) disebabkan oleh Bakteri: EIEC (Enteroinvasive E Coli)

Salmonella Shigella Campylobacter Yersinia enterocolitica Clostridium difficile Mycobacterium Tuberculosis

B. Diare non-inflamasi (tanpa peradangan) disebabkan oleh Virus: Rotavirus Virus Norwalk Adenovirus enterik Bakteri: ETEC (Enterotoksigenik E Coli) EPEC (Enteropatogenik E Coli) Vibrio Cholera

( Sumber : Robbins. 2007. Basic Pathology volume 2. Jakarta: EGC ) Jenis parasit yang dapat menyebabkan diare adalah protozoa (Giardia lamblia, Cryptosporidium sp., Isospora belli, Sarcocystis sp., Entamoeba histolytica, Nonpathogenic Amoeba, Balantidium coli), cacing (Strongyloides stercoralis, Capillaria philippinensis, Trichinella spiralis,

Trichostrongylus orientalis, Trematoda, Trichuris trichiura), dan jamur (Candida sp., Aspergillus sp., Zygomycosis sp). ( Sumber : Herbowo, Agus Firmansyah. Sari Pediatri, Vol. 4, No. 4, Maret 2003 )

3. Jelaskan jenis-jenis diare ? Klasifikasi diare Menurut Aru W.Sudoyo,dkk.(2009:548), bakteri dapat diklasifikasikan berdasarkan : Lama waktu diare: 1. Akut ( < 7-14 hari ) 2. Kronik ( > 14 hari ) Mekanisme patofiologis: 1. 2. Osmotik Sekretorik

Berat ringan diare : 1. Besar 2. Kecil

Penyebab infeksi atau tidak : 1. Infeksi ( Inflamasi ) 2. Tidak infeksi ( Inflamasi )

Penyebab organik atau tidak : 1. 2. Organik Fungsional

4 Bagaimana mekanisme gejala-gejala yang terjadi pada kasus tersebut ? Mekanisme Mual dan Muntah Mekanisme mual dan muntah merupakan mata rantai panjang yang dikendalikan oleh keseimbangan antara dopamin, serotonin, dan histamin. Pengeluaran dopamin, serotonin, dan histamin menjadi pusat mual dan muntah yaitu pusat saliva, pusat vasomotor, pusat pernapasan, dan nervus cranial. Pusat mual dan muntah tersebut memberi sinyal nervus spinalis untuk merangsang dinding abdomen, nervus frenikus merangsang diafragma, nervus vagus merangsang

lambung eshophagus. Ketiga saraf ini akan menimbulkan rasa mual dan muntah yang kontraksinya secara bersamaan. ( Sumber : Ida Ayu Chandranita Manuaba. 2008. Buku Ajar Patologi Obstetri , hal 45. Jakarta : EGC ) Pengertian Dehidrasi Dehidrasi adalah suatu keadaan terlalu banyaknya cairan tubuh yang hilang dan tidak dapat digantikan dengan baik. Menurut Mann dan Stewart (2007) dan Gavin (2006), dehidrasi disebabkan karena meningkatnya kehilangan cairan tubuh, kurangnya asupan air, atau oleh kedua hal tersebut. Dehidrasi ditandai oleh munculnya rasa haus. Apabila rasa haus tersebut tidak direspon dengan meminum air dalam jumlah yang cukup maka keadaannya akan semakin memburuk. Rasa haus ini akan semakin sulit diterima dan direspon seiring dengan bertambahnya usia. Akibatnya, rasa haus tersebut akan berkembang menjadi rasa lemah dan lemas, letih, kehilangan kesadaran, bahkan kematian (Whitney & Rolfes 2008). (Sumber: Jurnal. http://repository.ipb.ac.id/) KLASIFIKASI DEHIDRASI DENGAN MANIFESTASI KLINIS Derajat dehidrasi seseorang berdasarkan defisit berat badan, dapat digolongkan sebagai berikut: Dehidrasi ringan (defisit <5% BB) Keadaan umum sadar pernapasan biasa, mata agak cekung, turgor biasa, kencing biasa. Dehidrasi sedang (defisit 5-10% BB) Keadaan umum gelisah, rasa haus ++,sirkulasi darah nadi cepat (120-140), pernapasan agak cepat, mata cekung, turgor agak berkurang, kencing sedikit. Dehidrasi berat (defisit > 10% BB) baik, rasa haus +, sirkulasi darah nadi normal,

Keadaan umum apatis/koma, rasa haus +++, sirkulasi darah nadi cepat (>140), pernapasan kussmaul (cepat dan dalam), mata cekung sekali, turgor kurang sekali, kencing tidak ada. (Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Hal. 200-201)

5. Bagaimana patogenesis infeksi mikroorganisme pada saluran pencernaan? Infeksi bakteri : 1.Bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui rute gastrointestinal. 2.Sesampainya di lambung, bakteriakan dibunuh oleh asam lambung, tetapi apabila jumlah bakteri cukup banyak, ada bakteri yang dapat lolos sampai ke dalam duodenum. 3.Di dalam duodenum,bakteri akan berkembang biak sehingga

jumlahnya mencapai100 juta koloni atau lebih per milliliter cairan usus halus. 4.Dengan memproduksi enzim mucinase. Bakteri akan mencairkan

lapisan lendir dengan menutupi permukaan sel epitel mukosa usus sehingga bakteri dapat masuk ke dalam membrane sel epitel mukosa. 5.Ada dua cara bergantung pada bakteri apa yang menginfeksi: a. Bakteri langsung menginvasi sel epitel mukosa usus sehingga sel epitel rusak, terbuka, dan lepas. b. Bakteri mengeluarkan toksin yang menyebabkan ATP. cAMP merangsang sekresi cairan usus tanpa menimbulkan kerusakan sel epitel usus.Cairan ini menyebabkan dinding usus akan mengadakan kontraksi sehingga terjadi hipermotilitas untuk mengalirkan cairan ke bawah atau ke usus besar. Tetapi, ada pula bakteri yang mampu melakukan kedua infeksi tersebut. 6.Melalui jalur manapun bakteri menginfeksi, akan menyebabkan gangguan sehingga kerja usus halus maupun usus besar abnormal diare. Diare ada yang bercampur lender dan darah (disentri)

Infeksi oleh protozoa: Biasanya, manusia terinfeksi melalui kista matang dalam feses.Kista masuk melalui rute gastrointestinal.Kista tahan terhadap asam lambung sehingga bisa sampai ke usus halus.Dalam keadaan lingkungan yang mendukung, kista dapat berubah menjadi bentuk tropozoit yang patogen. Bentuk pathogen inilah yang akan menginvasi sel mukosa usus

Infeksi oleh jamur: Candida albicans : Infeksi jamur ini termasuk infeksi opportunistik. Artinya, dalam keadaan normal, jamur ini tidak menimbulkan gejala penyakit. Tetapi, akan menginfeksi pada orang yang immune depressed. Hidup sebagai flora normal pada mukosa usus halus. Bila terdapat factor predisposisi, bakteri ini dapat menginvasi mukosa usus halus dan menimbulkan gejala diare. Infeksi oleh cacing: 1.Bentuk infeksius bisa bermacam-macam bergantung cacing apa yang menginfeksi, bisa dalam bentuk telur matang maupun larva. 2.Infeksi bisa terjadi karena tertelan bersama makanan/minuman, transmisi vektor, inhalasi, autoinfeksi maupun menembus kulit/jaringan subkutan. 3.Bentuk infeksius cacing kemudian akan mengembara dan melalui tahap lung passage terlebih dahulu, kecuali Trichinellaspiralis 4.Melalui bronkus, trakea dan akhirnya sampai di laring. 5.Jika larva tertelan lagi, maka cacing akan mulai menginfeksi melalui rute gastrointestinal 6.Cacing akan masuk ke usus halus/usus besar dan tumbuh menjadi cacing dewasa. 7.Cacing akan mulai mengeluarkan toksin dan menginfeksi.

http://www.scribd.com/doc/9354029/Jenis-dan-PatogenesisMikroorganismeParasit-Penyebab-Diare

6. Bagaimana peran imun terhadap infeksi saluran pencernaan? Respon Sistem Imun terhadap Infeksi Parasit Parasit yang masuk ke dalam lumen saluran cerna, pertama dirusak oleh IgG, IgE dan juga mungkin dibantu oleh ADCC.Sitokin yang dilepas sel T yang dipacu antigen spesifik merangsang proliferasi sel goblet dan sekresi bahan mukus yang menyelubungi cacing yang dirusak.Hal itu memungkinkan cacing dapat dikeluarkan dari tubuh melalui peningkatan gerakan usus yang diinduksi mediator sel mast seperti LTD4 dan diare akibat pencegahan absorbsi natrium yang tergantung glukosa oleh histamin dan prostaglandin asal sel mast.Cacing biasanya terlalu besar untuk fagositosis.Degranulasi sel mast/ basofil yang IgE dependen menghasilkan produksi histamin yang menimbulkan spasme usus tempat cacing hidup. Eosinofil menempel pada cacing melalui IgG/IgA dan melepas protein kationik,.MBP dan

neurotoksin.PMN dan makrofag menempel melalui IgA/IgG dan melepas superoksida, oksida nitrit dan enzim yang membunuh cacing. Cara mikroba menghindari sistem imun : Tetap tidak dapat diakses Memecah antibodi, bertahan terhadap lisis yang diperantarai oleh komplemen, dan bertahan hidup di sel fagositik Mengubah-ubah atau melepaskan antigen Menyebabkan supresi imun spesifik atau nonspesifik

( Sumber: Robbins. 2007. Basic Pathology volume 1. Jakarta: EGC ) 7 Jelaskan aspek secara fisiologis dari suhu,tekanan darah,frekuensi denyut nadi? Dan apa saja faktor-faktor yang mempengaruhinya? Secara fisiologis : Pembagian suhu pada manusia

Hipotermi, bila suhu tubuh <36C Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 - 37,5C Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 - 40C Hipertermi, bila suhu tubuh > 40C

Tingkatan Tekanan Darah Hipotensi : sistolik <90 mm. Hg dan diastolik <60 mm. Hg Normal : sistolik 90 140 mm. Hg dan diastolik 60 90 mm. Hg Perbatasan : sistolik 141 159 mm. Hg dan diastolik 91 94 mm. Hg Hipertensi : sistolik >160 mm. Hg dan diastolik >95 mm. Hg

Denyut Nadi Normal : 60 100 x/menit

Bradicardi : < 60 x/menit Takicardi : >100 x/menit

Pernapasan Normal : 16 24 x/menit

Bradipneu : <16 x/menit Tarkipneu : >24 x/menit

( Sumber: Gunawan, Lany. 2001. Hipertensi tekanan darah tinggi. Yogyakarta: Kanisius ) 8 Jelaskan mekanisme sekresi cairan yang berlebihan pada saluran cerna? Adanya hambatan absorbsi Na oleh vilus entrosit serta peningkatan sekresi Cl oleh kripte. Na+ masuk ke dalam sel saluran cerna dalam dua mekanisme pompa Na+, yang memungkinkan terjadinya pertukaran Na+ - glukosa, Na+ asam amino, Na+ - H+, dan proses elektrogenik melalui Na+ channel. Clmasuk ke dalam ileum melalui pertukaran Cl-/ HCO3-.Peningkatan sekresi intestinal diperantarai oleh hormon (Vasoactive intestinal polipeptide VIP), toksin dari bakteri ( E. Coli, Cholera) dan obat-obatan yang dapat mengaktivasi adenil siklase melalui rangsangan dalam protein G entrosit. Akan terjadi peningkatan siklik AMP intraseluler pada mukosa intestinal

akan mengaktivasi protein signalling tertentu, akan membuka channel chloride. Stimulasi sekresi chloride merupakan respon pada toksin cholera atau cholera like toksin yang diperantarai oleh peningkatan konsentasi c AMP. Enterotoksin lain akan meningkatkan sekresi intestinal dengan meningkatkan c GMP atau konsentrasi kalsium intra selular. Nitric-oxide diduga berperanan dalam pengendalian sekresi Cl. Peningkatan sekresi pada sel kripte dengan hasil akhir berupa peningkatan sekresi cairan yang melebihi kemampuan absorbsi maksimum dari kolon yang berakibat adanya diare. 9 Bagaimana tindakan protektif (preventif) dan kuratif untuk mengatasi diare? TINDAKAN PREVENTIF DIARE 1. Pencegahan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) 2. Penggalakan laktasi 3. Peningkatan Penggunaan ASI 4. Perbaikan Pola Penyapihan 5. Program Suplementasi Makanan 6. Penggunaan KMS 7. Penggalakan KB 8. Suplementasi vitamin A 9. Imunisasi Rotavirus 10. Imunisasi Kolera 11. Imunisasi Campak 12. Kemoprofilaksis 13. Perbaikan sarana air minum & sanitasi 14. Perbaikan higiene perorangan 15. Perbaikan higiene makanan 16. Pemberantasan reservoir binatang 17. Pemberantasan lalat

18. Pengarahan, Penelitian & Pemberantasan Pengendalian Diare dan Infeksi Saluran Cerna oleh Kemenkes RI LINTAS Diare ( Lima Langkah Tuntaskan Diare )

1. Berikan Oralit

Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang.Oralit saat ini yang beredar di pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah.Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang.Bila penderita tidak bisa minum harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan melalui infus.

Derajat dehidrasi dibagi dalam 3 klasifikasi : a) Diare tanpa dehidrasi

Tanda diare tanpa dehidrasi, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih : - Keadaan Umum : baik - Mata : Normal - Rasa haus : Normal, minum biasa - Turgor kulit : kembali cepat Dosis oralit bagi penderita diare tanpa dehidrasi sbb : Umur < 1 tahun : - gelas setiap kali anak mencret Umur 1 4 tahun : - 1 gelas setiap kali anak mencret Umur diatas 5 Tahun : 1 1 gelas setiap kali anak mencret

b) Diare dehidrasi Ringan/Sedang

Diare dengan dehidrasi Ringan/Sedang, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih: Keadaan Umum : Gelisah, rewel Mata : Cekung Rasa haus : Haus, ingin minum banyak Turgor kulit : Kembali lambat Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi. c) Diare dehidrasi berat Diare dehidrasi berat, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih: Keadaan Umum : Lesu, lunglai, atau tidak sadar Mata : Cekung Rasa haus : Tidak bisa minum atau malas minum Turgor kulit : Kembali sangat lambat (lebih dari 2 detik)

Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk di infus.

2. Berikan obat Zinc Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare. Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya.(Black, 2003). Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Zinc mempunyai efek protektif terhadap diare sebanyak 11 % dan menurut hasil pilot study menunjukkan bahwa Zinc mempunyai tingkat hasil guna sebesar 67 % (Hidayat

1998 dan Soenarto 2007).Berdasarkan bukti ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak mengalami diare.

Dosis pemberian Zinc pada balita: - Umur < 6 bulan : tablet ( 10 Mg ) per hari selama 10 hari - Umur > 6 bulan : 1 tablet ( 20 mg) per hari selama 10 hari. Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti. Cara pemberian tablet zinc : Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, sesudah larut berikan pada anak diare.

3. Pemberian ASI / Makanan : Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum Asi harus lebih sering di beri ASI. Anak yang minum susu formula juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak uis 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih sedikit dan lebih sering.Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan.

4. Pemberian Antibiotika hanya atas indikasi Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare pada balita yang disebabkan oleh bakteri.Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita diare dengan darah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera. Obat-obatan Anti diare juga tidak boleh diberikan pada anak yang menderita diare karena terbukti tidak bermanfaat.Obat anti muntah tidak di anjurkan kecuali muntah berat.Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun meningkatkan status gizi anak, bahkan sebagian besar menimbulkan efek samping yang bebahaya dan bisa berakibat fatal.Obat anti protozoa digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh parasit (amuba, giardia).

5. Pemberian Nasehat Ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi nasehat tentang : 1. Cara memberikan cairan dan obat di rumah 2. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila : Diare lebih sering, Muntah berulang , Sangat haus, Makan/minum sedikit , Timbul demam, Tinja berdarah, Tidak membaik dalam 3 hari.

Sumber: Kementrian Kesehatan RI. Pengendalian Diare di Indonesia. ISSN 2088-270X. Triwulan II, 2011.

DAFTAR PUSTAKA Buku : Behrman, Richard E.,dkk.1999. Ilmu Kesehatan Anak Ed 15. Jakarta: EGC Indriasari, Devi. 2009. 100% Sembuh Tanpa Dokter.Yogyakarta:Pustaka Grhatama Gunawan, Lany. 2001. Hipertensi tekanan darah tinggi. Yogyakarta: Kanisius Manuaba, Ida Ayu Chandranita. 2008. Buku Ajar Patologi Obstetri . Jakarta : EGC Robbins. 2007. Basic Pathology volume 1. Jakarta: EGC Sudoyo, Aru W.,dkk, 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, Edisi V. Jakarta : Interna Publishing Widjaja. 2002. Mengatasi Diare & Keracunan pada Balita. Tangerang :Kawan Pustaka

Jurnal : Herbowo, Agus Firmansyah. Sari Pediatri, Vol. 4, No. 4, Maret 2003 Kementrian Kesehatan RI. Pengendalian Diare di Indonesia. ISSN 2088-270X. Triwulan II, 2011.

Website: http://repository.ipb.ac.id/ http://www.scribd.com/doc/9354029/Jenis-dan-PatogenesisMikroorganismeParasit-Penyebab-Diare/