Anda di halaman 1dari 18

Nilai : LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENANGANAN HASIL PERTANIAN (Retensi Air, Equilibrium Moisture Content (EMC))

Oleh :

Nama NPM

: Ahyat Hartono : 240110100032 : 10.00 11.40 WIB : Rahmi Fathonah

Hari, Tanggal Praktikum : Selasa, 20 November 2012 Waktu Co. Ass.

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bahan hasil pertanian memiliki sifat yang sensitif terhadap kondisi linkungan, terutama setelah pemanenan. Kerusakan fisik maupun biologis sering terjadi pada bahan hasil pertanian setelah dipanen. Kerusakan tersebut disebabkan oleh serangan serangga, mikroorganisme, maupun akibat proses fisiologis yang kurang tepat pada penanganan saat panen. Salah satu penyebab lain adalah karena kandungan air pada bahan yang mempengaruhi aktivitas mikroorganisme dalam bahan yang dapat mengurangi kualitas bahan. Kerusakan bahan hasil pertanian yang dikarenakan kandungan air dalam bahan tergantung jenis bahan dan media penyimpanan. Suatu bahan memiliki retensi atau daya simpan air yang berbeda-beda. Pada praktikum ini, akan dilakukan perlakuan terhadap bahan bagaimana peningkatan dan penurunan kadar air serta mengetahui keseimbangan kadar air suatu bahan melalui proses pengeringan.

1.2 Tujuan Tujuan diadakannya praktikum mengenai retensi air dan equilibrium moisture content (EMC) ini antara lain sebagai berikut. 1) Mengamati perubahan kadar air bahan hasil pertanian pada berbagai kondisi penyimpanan dengan menggunakan moisture tester; dan 2) Mengukur kadar air bahan dengan metode dasar (metode oven).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kadar Air Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berdasarkan berat kering (dry basis). Kadar air berat basah mempunyai batas maksimum teoritis sebesar 100 persen, sedangkan kadar air berdasarkan berat kering dapat lebih dari 100 persen. Kadar air merupakan pemegang peranan penting, kecuali temperatur maka aktivitas air mempunyai tempat tersendiri dalam proses pembusukan dan ketengikan. Kerusakan bahan makanan pada umumnya merupakan proses mikrobiologis, kimiawi, enzimatik atau kombinasi antara ketiganya. Berlangsungnya ketiga proses tersebut memerlukan air dimana kini telah diketahui bahwa hanya air bebas yang dapat membantu berlangsungnya proses tersebut (Yefri, 2011). Kadar air suatu bahan biasanya dinyatakan dalam persentase berat bahan basah, misalnya dalam gram air untuk setiap 100gr bahan disebut kadar air berat basah. Kadar air basis basah dapat ditentukan dengan persamaan berikut :

Dimana : m = Kadar air basis basah (%) Wm = Berat air dalam bahan (gram) Wd = berat bahan kering mutlak (gram) Wt = Berat total = Wm + Wd dalam (gram) Cara lain untuk menyatakan kadar air adalah kadar air basis kering yaitu air yang diuapkan dibagi berat bahan setelah pengeringan. Jumlah air yang diuapkan adalah berat bahan sebelum pengeringan dikurangi berat bahan setelah pengeringan dan dinyatakan dalam persamaan berikut:

Dimana : M = Kadar air basis kering (%) Wd = Berat air dalam bahan (gram) m = Berat bahan kering mutlak (gram) Wt = Kadar air basis basah

Berat bahan kering adalah berat bahan setelah mengalami pemanasan beberapa waktu tertentu sehingga beratnya tetap (konstan). Pada proses pengeringan air yang terkandung dalam bahan tidak dapat seluruhnya diuapkan.

2.2 Kelembapan Relatif (RH) Istilah ini menggambarkan kandungan air total yang dikandung oleh udara yang biasanya juga dinyatakan dalam persen. Untuk menentukan jumalah air yang dikandung di udara maka kita dapat menggunakan metode Kelembapan spesifik. Kelembapan spesifik adalah metode untuk mengukur jumlah uap air di udara dengan rasio terhadap uap air di udara kering. Kelembapan spesifik diekspresikan dalam rasio kilogram uap air, mw, per kilogram udara, ma. Rasio tersebut dapat ditulis sebagai berikut: x= mw/ ma ............... (3)

2.3 Refrigerator Refrigerasi adalah suatu sistem yang memungkinkan untuk mengatur suhu sampai mencapai suhu di bawah suhu lingkungan. Penggunaan refrigerasi sangat dikenal pada sistem pendingin udara pada bangunan, transportasi, dan pengawetan suatu bahan makanan dan minuman. Penggunaan refrigerasi juga dapat ditemukan pada pabrik skala besar, contohnya, proses dehidrasi gas, aplikasi pada industri petroleum seperti pemurnian minyak pelumas, reaksi suhu rendah, dan proses pemisahan hidrokarbon yang mudah menguap (Wikipedia, 2011). Refrigasi dicapai dengan melakukan penyerapan panas pada suhu rendah secara terus menerus, yang biasanya bisa dicapai dengan menguapkan suatu cairan secara kontinu. Uap yang terbentuk dapat kembali ke bentuk asalnya kembali, cairan, biasanya dengan dua cara. yang paling umum, uap itu hanya akan ditekan lalu diembunkan (memakai fin seperti pada kulkas). Cara lain, bisa diserap dengan cairan lain yang mudah menguap yang setelah itu diuapkan pada tekanan tinggi.

2.4 Pengeringan Pengeringan adalah proses pemindahan panas dan uap air secara simultan, yang memerlukan energi panas untuk menguapkan kandungan air yang

dipindahkan dari permukaan bahan, yang dikeringkan oleh media pengering yang biasanya berupa panas. Tujuan pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan sampai batas dimana perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti. Dengan demikian bahan yang dikeringkan dapat mempunyai waktu simpan yang lebih lama. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan ada 2 macam, yaitu faktor yang berhubungan dengan udara pengering dan faktor yang berhubungan dengan sifat bahan. Faktor yang berhubungan dengan udara pengering anatra lain suhu, kecepatan volumetrik aliran udara pengering, dan kelembaban udara. Sedangkan faktor yang berhubungan dengan sufat bahan antara lain ukuran bahan, kadar air awal, dan tekanan parsial dalam bahan. Bahan pangan yang dihasilkan dari produk-produk pertanian pada umumnya mengandung kadar air. Kadar air tersebut apabila masih tersimpan dan tidak dihilangkan, maka akan dapat mempengaruhi kondisi fisik bahan pangan. Contohnya, akan terjadi pembusukan dan penurunan kualitas akibat masih adanya kadar air yang terkandung dalam bahan tersebut (Sudaryanto Zain, dkk., 2005). Pembusukan terjadi akibat dari penyerapan enzim yang terdapat dalam bahan pangan oleh jasad renik yang tumbuh dan berkembang biak dengan bantuan media kadar air dalam bahan pangan tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan adanya suatu proses penghilangan atau pengurangan kadar air yang terdapat dalam bahan pangan sehingga terhindar dari pembusukan ataupun penurunan kualitas bahan pangan. Salah satu cara sederhananya adalah dengan melalui proses pengeringan. Pengeringan merupakan tahap awal dari adanya pengawetan.

Prinsip dasar pengeringan adalah terjadinya penguapan air dari bahan menuju udara karena adanya perbedaan suhu dan tekanan antara udara dengan bahan yang dikeringkan. Tujuan pengeringan antara lain agar produk dapat disimpan lebih lama, mempertahankan daya fisiologi biji-bijian/benih, mendapatkan kualitas yang lebih baik. Proses pengeringan tebagi dalam tiga kategori, yaitu

pengeringan udara dan pengeringan yang berhubungan langsung di bawah tekanan atmosfir. Dalam hal ini panas dipindahkan menembus bahan pangan, baik

dari udara maupun permukaan yang dipanaskan. Uap air dipindahkan dengan udara (Naynie, 2007). Pengeringan hampa udara. Keuntungan dalam pengeringan hampa udara didasarkan pada kenyataan bahwa penguapan air terjadi lebih cepat pada tekanan rendah daripada tekanan tinggi. Panas yang dipindahkan dalam pengeringan hampa udara pada umumnya secara konduksi, kadang-kadang secara pemancaran. Pengeringan beku. Pada pengeringan beku, uap air disublimasikan keluar dari bahan pangan beku. Struktur bahan pangan dipertahankan dengan baik pada kondisi ini. Suhu dan tekanan yang sesuai harus dipersiapkan dalam alat pengering untuk menjamin terjadinya proses sublimasi (Sudaryanto Zain, dkk., 2005).

2.5 Kadar Air Kesetimbangan/ Equilibrium Mostuire Content (EMC) Kadar air kesetimbangan merupakan bagian yang sangat penting dalam proses pengeringan. Kadar air kesetimbangan suatu bahan hasil pertanian adalah kadar air padatan basah hasil pertanian yang berada dalam kesetimbangan dengan udara sekelilingnya pada suhu dan kelembaban relatif tertentu. Apabila bahan hasil pertanian ditempatkan pada udara yang kelembaban relatifnya meningkat maka bahan hasil pertanian tersebut termasuk kedalam proses isotermi adsorpsi. Sedangkan apabila bahan hasil pertanian ditempatkan pada udara yang kelembaban relatifnya menurun maka bahan tersebut mengalami proses isotermi desorpsi. Proses pengeringan merupakan proses desorpsi dimana kadar air bahan hasil pertanian akan menurun secara progresif dengan menurunnya kelembaban relatifnya.Hubungan kadar air kesetimbangan dan suhu dapat dirumuskan sebagai berikut : M = [X/T]w=tetap = - X ........ (4) dimana : X T W = kadar air kesetimbangan basis kering (desimal) = suku (K) = kelembaban mutlak (kg uap air/ kg udara kering) (%) = Konstanta dengan nilai dari 0,005 0,01 K-1

2.6 Desikator Desikator adalah sebutan lain dari eksikator yaitu sebuah alat yang terbuat dari kaca berbentuk panci bersusun dua yang bagian bawahnya diisi bahan

pengering seperti silika gel sehingga pengaruh uap air selama pengeringan dapat diserap oleh silika gel tersebut. Karena terbuat dari kaca yang tebal, maka

desikator tergolong peralatan laboratorium yang berbobot. Terutama karena penutup yang sulit dilepas dalam keadaan dingin karena dilapisi vaseline (Kamusq, 2012). Desikator atau eksikator berfungsi sebagai tempat menyimpan sampel yang harus bebas air dalam mengeringkan dan mendinginkan sample yang akan di gunakan untuk uji kadar air. Terdapat dua macam desikator yaitu desikator biasa dan desikator vakum (vacum). Cara menggunakan desikator adalah sebagai berikut. 1) Membuka tutup desikator dengan menggesernya ke samping; 2) Letakkan sampel yang baru keluar dari oven atau yang akan di keringkan dan didinginkan; 3) Lalu tutup kembali dengan cara yang sama dengan cara membukanya tadi yaitu di geser kesamping; 4) Perhatikan Silika gel yang berfungsi sebagai penyerap uang air. Silika gel yang masih bisa menyerap uap air berwarna biru; jika silika gel sudah berubah menjadi merah muda maka perlu dipanaskan dalam oven bersuhu 105oC sampai warnanya kembali biru.

Gambar 1. Desikator

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Penentuan Kadar Air. Tersedia: http://www.scribd.com/doc/14098051/Laporan-praktikum-PenentuanKadar-Air. Diakses pada 22 November 2012 pukul 13.00 WIB. Kamusq. 2012. Desikator dan Fungsi Desikator. Tersedia: http://kamusq.blogspot.com/2012/03/desikator-fungsi-desikator.html. Diakes pada 26 November 2012 pukul 21.45 WIB. Naynie. 2007. Pengeringan. Tersedia: http://naynienay.wordpress.com/2007/12/01/pengeringan-cabinet-dryer/. Diakses pada 25 November 2012 pukul 23.00 WIB. Zain, Sudaryanto, dkk., 2005. Teknik Penanganan Hasil Pertanian. Pustaka Giratuna. Bandung. Wikipedia. 2011. Refrigator. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Refrigerasi. Diakses pada 25 November 2012 pukul 22.00 WIB. Yefri. 2011. Kadar air basis basah basis kering. Tersedia: http://yefrichan.wordpress.com/2010/08/04/kadar-air-basis-basah-kadar-airbasis-kering/. Diakses pada tanggal 25 November 2012 pukul 20.00 WIB.

BAB III METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat 1) Cawan aluminium; 2) Desikator; 3) Moisture tester; 4) Timbangan analitik; 5) RH meter; 6) Oven; dan 7) Lemari es (refrigerator).

3.1.2 Bahan 1) Kacang hijau; 2) Kacang kedelai; 3) Jagung; 4) Kacang merah; dan 5) Kacang tanah.

3.2 Prosedur Percobaan 3.2.1 Retensi Air a) Pengamatan pada bahan awal 1) Mengukur kadar air pada biji-bijian (3 kali) dengan menggunakan moisture tester; dan 2) Mengukur suhu dan RH udara (3 kali) pada ruangan praktikum. b) Penurunan kadar air 1) Mengukur suhu dan RH pada oven; 2) Menyiapkan bahan dan cawan, masukan bahan (5 gram) ke dalam cawan; 3) Menyimpan cawan yang telah berisi bahan ke dalam oven, dan diberi tanda untuk beberapa pengamatan (5, 15, dan 30 menit);

4) Sesudah 5, 15 dan 30 menit dikeluarkan cawan dari oven dan dimasukkan ke dalam desikator; dan 5) Diukur kadar air bahan untuk setiap pengamatan. c) Peningkatan kadar air 1) Mengukur suhu dan RH refrigator; 2) Menyiapkan bahan dan cawan, dimasukkan bahan (5 gram) ke dalam cawan; 3) Menyimpan cawan yang telah berisi bahan ke dalam refrigator, dan diberi tanda untuk beberapa pengamatan (5, 15, 30 menit); 4) Sesudah 5, 15, 30 menit keluarkan cawan dari refrigerator dan dimasukkan ke dalam desikator; dan 5) Diukur kadar air bahan untuk setiap pengamatan. d) Pembacaan pada Moisture tester 1) Sebelum memasukkan bahan dalam tempat sampel, dibersihkan tempat sampel dengan sikat; 2) Digunakan sendok dan pinset untuk memasukkan sampel (pilih sampel yang baik); 3) Memutar grindling handle ke kiri dan memasukkan wadah ke dalam instrument; 4) Ditunggu selama 20 detik dan dilihat pengukuran pada layar LCD; 5) Untuk merubah sampel tekan select button; 6) Pengukuran dapat dilakukan sebanyak 3 kali dengan sampel yang sama dan untuk mendapatkan nilai rata rata tekan average button; dan 7) Mematikan alat dengan menekan average button.

3.2.2 Pengeringan (dalam kaitan EMC) 1) Memanaskan cawan kosong dalam oven pada suhu 130C selama 20 menit; 2) Memasukkan cawan ke dalam desikator selama 10 menit setelah dipanaskan kemudian mendinginkan dan menimbangnya (Ma gram); 3) Memasukkan 5 gram bahan ke dalam cawan yang telah diketahui beratnya dan menimbangnya (Mb gram);

4) Memasukkan dalam oven dengan suhu 130C selama 60 menit; 5) Mengeluarkan cawan dari oven setelah 60 menit kemudian menyimpannya dalam desikator untuk didinginkan selama 10 menit; 6) Menimbang bahan beserta cawan setelah didinginkan (Mc gram); dan 7) Menghitung kadar air basis basah dan basis kering untuk tiga pengamatan dengan persamaan sebagai berikut. Basis Basah (Kawb) = M -M x 100% M -M M -M M -M x 100%

Basis Kering (Kadb) =

BAB IV HASIL PERCOBAAN

4.1 Tabel Hasil Pengukuran Tabel 1. Hasil Pengukuran Suhu dan RH Ruangan, Oven dan Refrigerator Pengukuran 1 2 3 Rata-rata Ruangan RH (%) T (C) 68,64 25,33 67,73 25,36 67,78 25,33 68,05 25,34 Oven RH (%) T (C) 72 26,5 73 27,1 72 27,6 72,33 27,067 Refrigerator RH (%) T (C) 80,07 18,19 81,56 19,23 80,83 18,91 80,82 18,77

Tabel 2. Hasil Pengukuran Penurunan dan Peningkatan Kadar Air Bahan Bahan Waktu (Menit) 5 10 20 5 10 20 5 10 20 5 10 20 5 10 20 Kadar Air Awal (%) 9,43 9,43 9,43 12,73 12,73 12,73 10,83 10,83 10,83 10,5 10,5 10,5 11,867 11,867 11,867 Penurunan Peningkatan Kadar Air Kadar Air (%) (%) 9,5 9,6 9,3 9,53 9,3 9,87 12,02 12,8 11,8 13,1 10,63 13,34 11,33 11,47 10,93 10,77 10,67 10,9 10,033 10,1 9,766 10,3 9,2 10,26 12,03 11,5 11,63 10,23 12,4 10,5

Kacang Hijau

Beras

Kacang Tanah

Kacang Kedelai

Jagung

Tabel 3. Hasil Pengeringan Bahan Bahan Kacang Hijau Beras Kacang Tanah Kacang Kedelai Jagung Massa Cawan (Ma) 5,06 g 4,7 g 4,80 g 4,93 g 4,89 g Massa Bahan dan Cawan Awal (Mb) 10,06 g 9,72 g 9,80 g 9,93 g 10 g Massa Cawan dan Bahan Akhir (Mc) 9,72 g 9,15 g 9,48 g 9,36 g 9,61 g Kawb (%) 6,8 11,4 6,4 11,4 7,6 Kadb (%) 7,3 12,8 6,8 12,9 8,3

4.2 Perhitungan Kadar Air Bahan yang Sudah Dikeringkan 1. Kacang Hijau Basis Basah (Kawb) = M -M 10 06 - 9 72 x 100% = x 100% = 6,8% M -M 10 06 - 5 06 M -M 10 06 - 9 72 x 100% = x 100% = 7,3% M -M 9 72 - 5 06

Basis Kering (Kadb) =

2. Beras Basis Basah (Kawb) = M -M M -M x 100% = 9 72 9 15 9 72 4 7 x 100% = 11,4%

Basis Kering (Kadb) =

M -M 9 72 - 9 15 x 100% = x 100% = 12,8% M -M 9 15 4 7

3. Kacang Tanah Basis Basah (Kawb) = M -M 9 80 - 9 48 x 100% = x 100% = 6,4% M -M 9 80 4 80 M -M 9 80 - 9 48 x 100% = x 100% = 6,8% M -M 9 48 4 80

Basis Kering (Kadb) =

4. Kacang Kedelai Basis Basah (Kawb) = M -M 9 93 - 9 36 x 100% = x 100% = 11,4% M -M 9 93 4 93 M -M 9 93 9 36 x 100% = x 100% = 12,9% M -M 9 36 4 93

Basis Kering (Kadb) =

5. Jagung Basis Basah (Kawb) = M -M 10 - 9 61 x 100% = x 100% = 7,6% M -M 10 4 89 M -M 10 - 9 61 x 100% = x 100% = 8,3% M -M 9 61 4 89

Basis Kering (Kadb) =

4.3 Diagram Penurunan dan Peningkatan Kadar Air Bahan

Gambar 2. Diagram penurunan kadar air bahan setelah dimasukkan dalam oven

Gambar 3. Diagram peningkatan kadar air bahan setelah dimasukkan dalam refrigerator

BAB V PEMBAHASAN

Penentuan retensi air dilakukan dengan menaikkan dan menurunkan kadar air suatu bahan dengan keadaan udara lingkungan yang berbeda. Penurunan kadar air dilakukan dengan menyimpan bahan dalam oven selama 5, 10, dan 20 menit. Adapun peningkatan kadar air dilakukan dengan menyimpan bahan dalam refrigerator dengan waktu yang sama. Pada percobaan ini, kondisi udara ruangan memiliki RH 68,05% dengan suhu 25C. Kondisi udara pada oven dan refrigertaor berturut-turut adalah RH 72,33% dengan suhu 27,067C dan RH 80,82% dengan suhu 18,77C. Hasil pengukuran penurunan dan peningkatan kadar air suatu bahan disajikan dalam Gambar 2 dan 3. Gambar 2 menjelaskan penurunan kadar air setelah disimpan dalam oven dengan penyajian data dalam bentuk diagram batang. Pada bahan 1, 3, dan 5 yaitu kacang hijau, kacang tanah dan jagung mengalami perubahan kadar air yang fluktuatif. Hal ini disebabkan karena pada saat pengukuran kadar air menggunakan moisture tester bahan setelah dikeluarkan dari desikator tidak langsung diukur kadar airnya dikarenakan alat yang digunakan jumlahnya terbatas. Bahan yang sudah keluar dari desikator, mengalami kontak dengan udara ruangan yang mengandung air, sehingga kadar air bahan tidak konstan. Hal ini juga terjadi pada peningkatan kadar air bahan. Pengukuran kadar air basis basah dan basis kering bahan dengan cara pengeringan bahan pada suhu 130C selama 60 menit. Dari hasil percobaan diperoleh kadar air basis basah untuk kacang hijau, beras, kacang tanah, kacang kedelai, dan jagung secara berturut-turut adalah 6,8; 11,4; 6,4; 11,4; dan 7,6. Adapun kadar air basis keringnya berturut-turut adalah 7,3; 12,8; 6,8; 12,9; dan 8,3. Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa kacang tanah memiliki kadar air paling rendah dan kacang kedelai memiliki kadar air yang cukup tinggi. Desikator dalam percobaan ini berfungsi sebagai penyerap uap air maupun embun yang terdapat pada bahan setelah dipanaskan dan didinginkan agar uap atau embun tidak mempengaruhi kadar air bahan lagi. Bagian dari desikator yang dapat menyerap uap air tersebut adalah silika gel yang terdapat di bagian bawah.

Sifat higroskopis bahan hasil pertanian merupakan sifat dimana bahan mudah menyerap air yang terkandung dalam udara ruang atau sekitar. Pada percobaan ini, bahan yang telah dikeringkan dan didinginkan, kandungan airnya tidak konstan atau dengan kata lain mudah berinteraksi dengan udara luar. Oleh karena itu setelah dilakukan pengeringan atau pendinginan, bahan dimasukkan ke dalam desikator. Beberapa kelebihan pengeringan mekanis antara lain lebih efektif dan cepat, kadar air bahan yang harus dihilangkan dapat ditentukan, tidak memerlukan tenaga kerja, dapat dilakukan kapan saja tidak perlu memperhatikan kondisi cuaca, sedangkan kekurangannya adalah pengeringan mekanis memerlukan biaya yang cukup mahal. Adapun pengeringan tradisional tidak memerlukan biaya yang mahal untuk melakukannya, akan tetapi pengeringan tradisional memiliki banyak kelemahan yaitu perlu memperhatikan cuaca, kadar air yang harus dibuang tidak dapat ditentukan dan waktunya relatif lama. Pada standar pengukuran kadar air suatu bahan harus dikeringkan pada suhu 130C selama 24 jam. Hal ini telah ditetapkan oleh International Seed Test Association (ISTA) yaitu lembaga independen yang mengembangkan,

mengadopsi dan menerbitkan prosedur standar untuk pengambilan contoh dan pengujian benih, dan untuk mempromosikan penerapan prosedur yang seragam pada evaluasi benih dalam perdagangan nasional dan internasional. Selain itu, pada suhu dan waktu tersebut, kandungan air pada bahan baru dapat menguap secara keseluruhan karena air keluar melalui lapisan bahan, maka air tidak dapat menguap meski dalam suhu titik didihnya yaitu 100C. Dalam perdagangan produk pertanian keterangan kadar air bahan selalu disertakan pada kemasan bahan karena hal tersebut digunakan untuk memberitahu konsumen bagaimana menangani bahan tersebut, seperti apa penyimpanannya, pada kondisi bagaimana bahan dapat rusak. Pada dasarnya, pencantuman keterangan dari produk perupakan jaminan mutu suatu produk yang dijual kepada konsumen.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan Dari uraian di atas, dapat disimpulkan beberapa hal antara lain sebagai berikut. 1) Pada kondisi udara dengan kelembaban tinggi dan suhu yang rendah, kadar air suatu bahan dapat meningkat; 2) Pada kondisi udara dengan kelembaban rendah dan suhu yang tinggi, kadar air dapat berkurang; 3) Pengukuran kadar air dengan metode pengeringan menggunakan oven diperoleh kadar air basis basah dan basis kering suatu bahan; 4) Kadar air basis basah merupakan perbandingan kadar air yang hilang karena pengeringan dengan kadar air bahan sebelum pengeringan; dan 5) Kadar air basis kering merupakan perbandingan kadar air yang hilang karena pengeringan dengan kadar air bahan setelah dikeringkan.

6.2 Saran Beberapa saran yang dapat direkomendasikan dalam penentuan kadar air suatu bahan antara lain sebagai berikut. 1) Sebelum melakukan percobaan, perlu dipahami prosedur yang akan dilakukan dalam percobaan ini; 2) Alat dan bahan yang digunakan harus dalam keadaan baik; 3) Ketersediaan alat perlu diperhatikan jika jumlah bahan yang diamati cukup banyak; dan 4) Perlunya ketelitian dalam melakukan prosedur percobaan yang dilakukan agar data yang diperoleh lebih baik.

LAMPIRAN

Gambar 4. Cawan Alumunium

Gambar 5. Kacang tanah 5 gram dimasukkan ke dalam cawan

Gambar 6. Penimbangan bahan yang akan dikeringkan dan didinginkan

Gambar 7. RH meter

Gambar 8. Peletakkan bahan ke dalam oven