Anda di halaman 1dari 5

Ibuprofen - -> Rasemat dengan dua enantiomer Enantiomer S-Ibuprofen saja yang memiliki efek terapeutik - -> cocok

dengan reseptor antiinflamasi. Enantiomer R-Ibuprofen memiliki efek teratogenik - -> menyebabkan cacat pada bayi.

PEMISAHAN RASEMAT IBUPROFEN

Pemisahan dua enantiomer ibuprofen - -> Ibuprofen (enantiomer asam) direaksikan dengan basa kinin (kiral) - -> garam diastereomer (garam diasteroisomer : Enantiomer asam/basa yang membentuk rasemat bisa direaksikan dengan asam/basa kiral) - -> Garam diastereomer tersebut dilarutkan dalan etanol 70% (Etanol 70% berfungsi : melarutkan salah satu dari diastereomer sehingga diastereomer dapat dipisahkan) - -> Larutan tersebut dimasukkan pada refrigator Kristal. - -> Kristal disaring dan filtratnya diuapkan hingga residu.- -> untuk Pemisahan enantiomer dari garam diastereomer tersebut - -> kristal /residu dicampur etil asetat sehingga terbentuk suspensi. - -> Suspensi diekstraksi dengan HCl (asam kuat digunakan Untuk memisahkan
enantiomer dengan garamnya yang akan mengikat garam menjadi asam bebas sehingga enantiomer terpisah dari garamnya)

- -> sehingga terbentuk asam bebas - -> asam bebas dilarutkan dengan

pelarut organic maka enantiomer ibuprofen akan larut di dalamnya. - ->Fase organik tersebut dihilangkan pengotornya melalui penyaringan - -> kemudian diuapkan sehingga didapat residu kering. - -> Residu direkristalisasi diperoleh enantiomer murni dari ibuprofen.- -> Kemudian kristal di cek karakteristiknya dengan diukur rotasi optiknya dan dihitung rotasi jenisnya (Jika suatu cahaya terpolarisasi bidang dilewatkan dalam suatu larutan mengandung suatu enantiomer maka bidang polarisasi itu dapat berputar). Bagaimana metodologi analisis Pemisahan Rasemat senyawa obat Ibuprofen?
1. PENYIAPAN KININ BASA BEBAS
NaOH 0,2 M dimasukkan bersama dengan garam kinin pada cong pisah. Campuran dikocok hingga terbentuk suspensi. Kemudian suspensi dikocok dengan etil asetat sebanyak dua kali. Bagian fasa organik diambil, Fase organik disaring dengan kertas saring yang dilengkapi Na Sulfat.

2. PEMBENTUKAN GARAM DIASTEREOMER


Larutan basa kinin dalam etil asetat ditambahkan dengan ibuprofen pada labu bundar. Pasangkan dengan kondensor. Larutan dikocok pada suhu 50 C selama 2 jam. Bila tidak melarut, tambahkan beberapa tetes etanol. Setelah campuran larut, larutan dikeringkan hingga dihasilkan residu.

3. KRISTALISASI GARAM DIASTEREOMER


Residu disimpan dalam labu erlenmeyer kemudian ditambahkan etanol 70%. Dipanaskan sampai melarut dan saring pada keadaan panas. Bila residu tidak larut, tambahkan beberapa tetes etanol 70%. Volume etanol yang digunakan dicatat. Labu ditutup dan dimasukkan ke dalam refrigator selama 1-2 hari. Kristal disaring dengan Bchner. Filtrat diuapkan sehingga terbentuk residu kering.

4. ISOLASI ENANTIOMER IBUPROFEN


Kristal dicampur dengan larutan etil asetat hingga terbentuk suspensi. Suspenti diekstraksi dengan asam hidroklorat 0,2 N sebanyak dua kali. Fasa organik yang didapat dicuci dengan aquadest sebanyak dua kali, kemudian disaring dengan kertas saring yang telah ditambah Natrium Sulfat (digunakan asam kuat). Larutan diuapkan dalam penguap putar. Residu kering ditambahkan campuran Air : Etanol (50:50). Perbandingan volumenya dicatat. Kemudian direkristalisasi sehingga ditemukan residu murni.

5. KARAKTERISASI ENANTIOMER IBUPROFEN


Tiga perempat kristal ditempatkan pada labu ukur 10 mL. Larutkan kristal dengan etanol secara kuantitatif. Diukur rotasi optiknya dan dihitung rotasi jenisnya.

RESOLUSIENANTIOMERDENGANTEKNIKMEMBRANBERBASISMATERIALSELULOSA KRISTALCAIR. Enantiomer tunggal umumnya diproduksi secara batch denganmetode kristalisasi, namun hal ini menjadi penyebab biaya preparasi tinggi karena prosesnya menggunakan bahan kimia dan resolution agent dalam jumlah yang cukup banyak. Kini, metode teknologi membran mulai banyak dikembangkan sebagai sebuah alternatif sistem flow untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya produksi. Dalam penelitian ini, telah dilakukan kajian material serta korelasi antara struktur polimer membran dan kinerja pemisahan enantiomer termasuk teknik sintesis dan membranisasi. Dari hasil kajian, diketahui bahwa membran selulosa kristal cair (SKC) yang terbuat dari polisakarida dan komponen kristal cair 4'-siano-bifenil-4-heksanoat menunjukkan sifat yang cukup efektif untuk mengenali dan memisahkan enantiomer-enantiomer ibuprofen dari rasematnya. Aliran substrat rasemat melalui membran dapat mempengaruhi kondisi optimal proses alir. Dari hasil uji performa diketahui bahwa sistemvertikal dapatmeningkatkan performa pemisahan enantiomermelewati membran. Pada pemisahan kedua enantiomer (S dan R) ibuprofen, rasio pemisahan S/R(a) tertinggimenggunakan membran SKC dapat mencapai mencapai 4,95 atau setara 83,20 % tipe S pada kondisi suhu dan tekanan normal. Penghitungan kecepatan permeasi kadar enantiomer tipe S ( dexibuprofen) dalam tabung penerima berdasarkan HPLC menunjukkan hasil Pdex (g.m.m-2.h-1)=2,47x10-5.

Di sini, kristal cair tipe nematik 4'-siano-bifenil-4-heksanoat digunakan sebagai elemen substitutif untuk kemudian diukur performanya (Gambar 1). Panjangnya gugus rantai karbon, diharapkan mampu meningkatkan sifat elastis bahan sehingga memudahkan dalam proses membranisasinya.

1.

Diperoleh material turunan polisakarida asam sintetis mesogen 4-sian0-bifenil-4-heksanoat

(kristal cair tipe nematik 4'-siano-bifenil-4-heksanoat


digunakan sebagai elemen substitutif untuk kemudian diukur performanya (Gambar 1). Panjangnya gugus rantai karbon, diharapkan mampu meningkatkan sifat elastis bahan sehingga memudahkan dalam proses membranisasinya) 2. Instrumen yang digunakan untuk identifikasi rasemat ibuprofen adalah kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) dengan kolom fase balik. Identifikasi dengan instrument menghasilkan sinyal seperti gambar dibwh ini:

3.

Kemudian dilakukan teknik selektif Permeabilitas dilakukan dengan metode spt: gambar di bwh ini, menggunakan tabung yang terpasang vertical menghasilkan system grafitasi hasil desain.

Dilakukan pembuatan membrane selulosa cynobifeniloksiheksanoat (SKC) dilarutkan dalan diklorometana, lalu dituang diatas membrane pilostirena. Tebal membrane rata-rata yang dihasilkan berkisar 22 mikrometer. 5. Identifikasi sampel obyek rasemat ibuprofen dengan HPLC, digunakan eluen sebagai fasa alir asetonitril yang dimixing dengan buffer posphat (pH4) dengan nisbah 6 : 4. Sinyal dari HPLC direkam computer yang terintegrasi dengan HPLC. 6. Fungsionalisasi selulosa dengan penggunaan komponen inimerupakan upaya untukmengoptimalisasi efek kiralitas selulosa sebagai bahan induknya agar

4.

menghasilkan performa pemisahan enantiomer yang lebih baik. Secara struktural, asam cyanobifeniloksihexanoat merupakan gugus yang dapat menunjukkan sifat kristal cair dengan struktur terdiri dari bagian inti yang solid (cyanobifenil) dan bagian spasi yang fleksibel (heksanoat). Gugus kristal cair ini difungsionalisasikan ke dalam selulosa dengan tujuan selain mendapatkan keelastisan juga untuk menginduksi keteraturan rantai selulosa mengikuti struktur berlapis kristal cair. titik leleh yang rendah, kristalitas yang dihasilkan juga diindikasikan sangat rendah sebagaimana terlihat adanya banyak suhu transisi yang teramati. Kondisi fisik ini kurangmendukung spesifikasi sebagai membran solid, sehingga dalam terapannya diperlukan unsur pendukung yang dapat bercampur (miscible) danmeningkatkan soliditas bahan. Salah satu bahan pendukung yang berhasil bercampur dengan baik dan meningkatkan soliditas campuran adalah polistiren.Hal ini kemungkinan akibat terjadinya interaksi phi-phi antara gugus fenil dalam polistiren dan cyanobifenil. Enantiomer terlarut yang berhasil dipisahkan kemudian diidentifikasi dengan HPLC. Dari hasil uji menggunakan membran SKC diketahui bahwa, setelah satu jam proses permeasi dilakukan, enantiomer ibuprofen yang diprediksi bertipe S-(+) dan dikenal dengan nama dagang dex-ibuprofen, muncul dominan dibanding opositnya.