Anda di halaman 1dari 23

Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 1

HALAMAN PENGESAHAN

Nama : Vita Rona Cendrana
NIM : 406127116
Fakultas : Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta
Bagian : Kepaniteraan Klinik Ilmu THT-KL
Diajukan : April 2014
Judul : Benda asing di esofagus







Cibinong, April 2014
Pembimbing bagian Ilmu THT-KL
RSUD Cibinong




dr. H. R. Krisnabudhi, Sp.THT-KL


Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 2

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis panjatkan, karena berkat,
rahmat, dan karunia - Nya, penulis mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan referat Benda
Asing di Esofagus ini tepat waktu. Terima kasih penulis ucapkan kepada :
1. Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong yang telah memberikan kesempatan
untuk mengikuti kegiatan kepaniteraan klinik dan mempelajari ilmu THT-KL di
Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong.
2. dr. H. R. Krisnabudhi, Sp.THT-KL, dokter pembimbing yang telah banyak
menyediakan waktu, bimbingan, motivasi, dan ilmu pengetahuan yang sangat
bermanfaat dalam penulisan referat ini.
3. dr. Dadang Chandra, Sp.THT-KL , dokter pembimbing yang telah memberikan
bimbingan dan ilmu pengetahuan dalam mengikuti kepaniteraan THT-KL di Rumah
Sakit Umum Daerah Cibinong.
4. Dr. Martinus, perwakilan diklat Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong yang juga
telah banyak memberikan bimbingan dan ilmu pengetahuan tentang THT-KL.
5. Ibu Yosephine, perawat di poli THT-KL yang telah banyak membantu kami dan
memberikan saran-saran yang berguna bagi penulis dalam menjalani kepaniteraan.
6. Seluruh dokter dan staf Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong yang telah membantu
penulis selama menjalani kepaniteraan.
7. Keluarga dan teman- teman yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada
penulis dalam menyelesaikan referat ini.

Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam referat ini. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar penulis dapat memperbaiki
kekurangan-kekurangan tersebut.




Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 3

Cibinong, April 2014


Penulis

























Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 4

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................................. 1
KATA PENGANTAR .................................................................................................................. 2
DAFTAR ISI................................................................................................................................. 4
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................5
BAB II EMBRIOLOGI ESOFAGUS ................................................................. 6
BAB III ANATOMI ESOFAGUS ............................................................................................... 7
BAB IV FISIOLOGI ESOFAGUS .............................................................................................. 10
BAB V BENDA ASING DI ESOFAGUS .... 14
A. Etiologi ........................................................................................................................ 14
B. Faktor Predisposisi....................................................................................................... 14
C. Kekerapan ........................................................................................................15
D. Patogenesis................................................................................................................... 15
E. Diagnosis.......... 15
F. Manifestasi Klinis .... 16
G. Pemeriksaan Radiologik . 17
H. Penatalaksanaan... 19
I. Komplikasi .... 20
BAB VI RESUME ... 22
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................... 23

Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 5

BAB I
PENDAHULUAN
Benda asing di suatu organ adalah benda yang berasal dari luar tubuh atau dari dalam
tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada.

Peristiwa tertelan dan tersangkutnya benda asing
merupakan masalah utama anak usia 6 bulan sampai 6 tahun, dan dapat terjadi pada semua umur
pada tiap lokasi di esofagus, baik di tempat penyempitan fisiologis maupun patologis dan dapat
pula menimbulkan komplikasi fatal akibat perforasi.
3
Sekitar 70% dari 2394 kasus benda asing esofagus ditemukan di daerah servikal, di
bawah sfingter kriko faring, 12 % di daerah hipofaring dan 7,7% di daerah esofagus torakal.
Dilaporkan 48% kasus benda asing yang tersangkut di daerah esofagogaster menimbulkan
nekrosis tekanan atau infeksi lokal. Pada orang dewasa benda asing yang tersangkut dapat berupa
makanan atau bahan yang tidak dapat dicerna seperti biji buah-buahan, gigi palsu, tulang ikan,
atau potongan daging yang melekat pada tulang.
5











Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 6

BAB II
EMBRIOLOGI ESOFAGUS

Rongga mulut, faring, dan esofagus berasal dari foregut embrionik. Ketika mudigah
berusia kurang lebih 4 minggu, sebuah divertikulum respiratorium (tunas paru) nampak di
dinding ventral usus depan, di perbatasan dengan faring. Divertikulum ini akan berangsur-angsur
terpisah dari bagian dorsal usus depan melalui sebuah pembatas, yang dikenal dengan septum
esofagotrakealis. Dengan cara ini, usus depan terbagi menjadi bagian ventral, yaitu primordium
pernapasan, dan bagian dorsal, yaitu esofagus.
1

Pada mulanya esofagus tersebut pendek, tetapi karena jantung dan paru-paru bergerak
turun, bagian ini memanjang dengan cepat. Lapisan otot, yang dibentuk oleh mesenkim di
sekitarnya, bercorak serat lintang pada dua pertiga bagian atasnya dan dipersarafi oleh nervus
vagus, lapisan otot sepertiga bawah adalah otot polos dan dipersarafi oleh pleksus splangnikus.
1



Gambar : Embriologi esofagus.
1



Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 7

BAB III
ANATOMI ESOFAGUS

Esofagus merupakan sebuah saluran berupa tabung otot yang menghubungkan dan
menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Dari perjalanannya dari faring
menuju gaster, esofagus melalui tiga kompartemen dan dibagi berdasarkan kompartemen
tersebut, yaitu leher (pars servikalis), sepanjang 5 cm dan berjalan di antara trakea dan
kolumna vertebralis, dada (pars thorakalis), setinggi manubrium sterni berada di
mediastinum posterior mulai di belakang lengkung aorta dan bronkus cabang utama kiri, lalu
membelok ke kanan bawah di samping kanan depan aorta thorakalis bawah, dan abdomen
(pars abdominalis), masuk ke rongga perut melalui hiatus esofagus dari diafragma dan
berakhir di kardia lambung, panjang berkisar 2-4 cm.
6
Pada orang dewasa, panjang esofagus apabila diukur dari incivus superior ke otot
krikofaringeus sekitar 15-20 cm, ke arkus aorta 20-25 cm, ke vena pulmonalis inferior, 30-35
cm, dan ke kardioesofagus joint kurang lebih 40-45 cm.
7

Pada anak, panjang esofagus saat lahir bervariasi antara 8-10 cm dan ukuran sekitar 19
cm pada usia 15 tahun.
7

Bagian cervical dari esofagus memiliki panjang 5-6 cm, setinggi vertebra cervicalis VI
sampai vertebra thoracalis I, anterior melekat dengan trachea (tracheoesophageal party wall),
anterolateral tertutup oleh kelenjar thyroid, sisi dextra/sinistra dipersarafi oleh nervus recurren
laryngeus, posterior berbatasan dengan hypopharynx, terdapat locus minoris resistensae, yaitu dinding
yang tidak tertutup oleh musculus constrictor pharyngeus inferior, dan pada bagian lateral ada carotid
sheats beserta isinya.
7

Bagian thoracal dari esofagus, panjang 16-18 cm, setinggi vertebra thoracalis IX-X, berada di
mediastinum superior antara trachea dan collumna vertebralis, dalam rongga thorax disilang oleh
arcus aorta setinggi vertebra thoracalis IV dan bronchus utama sinistra setinggi vertebra thoracalis V,
dan arteri pulmonalis dextra menyilang di bawah bifurcatio trachealis, dan pada bagian distal antara
Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 8

dinding posterior oesophagus dan ventral corpus vertebralis terdapat ductus thoracicus, vena azygos,
arteri dan vena intercostalis.
7

Sedang pada bagian abdominal dari esofagus terdapat pars diaphragmatica sepanjang 1 - 1,5
cm, setinggi vertebra thoracalis X, terdapat pars abdominalis sepanjang 2 - 3 cm, bergabung dengan
cardia gaster disebut gastroesophageal junction.
7

Esofagus mempunyai tiga daerah normal penyempitan yang sering menyebabkan benda
asing tersangkut di esofagus. Penyempitan pertama adalah disebabkan oleh muskulus
krikofaringeal, dimana pertemuan antara serat otot striata dan otot polos menyebabkan daya
propulsif melemah . Daerah penyempitan kedua disebabkan oleh persilangan cabang utama
bronkus kiri dan arkus aorta. Penyempitan yang ketiga disebabkan oleh mekanisme sfingter
gastroesofageal.
6


Gambar : Anatomi esofagus.
7




Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 9

Vaskularisasi Esofagus

Vaskularisasi dari esofagus berasal dari beberapa cabang arteri dan vena. Arteri yang
memperdarahi pada bagian cervical berjalan dari artery thyroidea inferior (cabang truncus
thyrocervicalis artery subclavia sinistra), bagian thoracal berjalan dari aorta thoracal descendens, artery
intercostals, dan artery cabang bronchial, dan bagian abdominal berjalan dari cabang-cabang artery
gastric sinistra dan kadang-kadang artery phrenic inferior yang langsung dari aorta abdominalis.
Sedangkan vena yang memperdarahi, bagian cervical dialirkan ke dalam vena thyroid inferior, bagian
thoracal dialirkan ke dalam vena azygos dan hemiazygos, dan bagian abdominal dialirkan ke dalam vena
gastric sinistra.
7


Persarafan Esofagus

Persarafan esofagus terdiri dari saraf parasimpatis yang berasal dari nervus vagus yang
menimbulkan vasokonstriksi, kontraksi sfingter, dan relaksasi dinding muscular, dan saraf
simpatis dari serabut-serabut ganglia sympathies cervicalis inferior, nervus thoracal dan splanchnicus
yang dapat meningkatkan sekresi kelenjar dan aktivitas peristaltik.
7









Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 10

BAB IV
FISIOLOGI ESOFAGUS

Proses menelan merupakan proses yang kompleks. Setiap unsur yang berperan dalam
proses menelan harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan. Keberhasilan
mekanisme menelan ini tergantung dari beberapa faktor, yaitu (a) ukuran bolus makanan, (b)
diameter lumen esofagus yang dilalui bolus, (c) kontraksi peristaltik esofagus, (d) fungsi sfingter
esofagus bagian atas dan bagian bawah, dan (e) kerja otot-otot rongga mulut dan lidah.
2

Integrasi fungsional yang sempurna akan terjadi bila sistem neuromuskular mulai dari
susunan saraf pusat , batang otak, persarafan sensorik dinding faring dan uvula, persarafan
ekstrinsik esofagus serta persarafan intrinsik otot-otot esofagus bekerja dengan baik, sehingga
aktivitas motorik berjalan lancar. Kerusakan pada pusat menelan dapat menyebabkan kegagalan
aktivitas komponen orofaring, otot lurik esofagus dan sfingter esofagus bagian atas. Oleh karena
otot lurik esofagus dan sfingter esofagus bagian atas juga mendapat persarafan dari inti motor
nervus vagus, maka aktivitas peristaltik esofagus masih tampak pada kelainan di otak. Relaksasi
sfingter esofagus bagian bawah terjadi akibat peregangan langsung dinding esofagus.
2

Dalam proses menelan akan terjadi hal-hal seperti berikut, (1) pembentukan bolus
makanan dengan ukuran konsistensi yang baik, (2) upaya sfingter mencegah terhamburnya bolus
ini dalam fase-fase menelan, (3) mempercepat masuknya bolus makanan ke dalam faring pada
saat respirasi, (4) mencegah masuknya makanan dan minuman ke dalam nasofaring dan laring,
(5) kerjasama yang baik dari otot-otot di rongga mulut untuk mendorong bolus makanan ke arah
lambung, (6) usaha untuk membersihkan kembali esofagus. Proses menelan di mulut, faring,
laring, dan esofagus secara keseluruhan akan terlibat secara berkesinambungan.
2

Proses menelan dapat dibagi dalam 3 fase, yakni fase oral, fase faringeal, dan fase
esofageal.
2

Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 11

Fase oral terjadi secara sadar. Makanan yang telah dikunyah dan bercampur dengan liur
akan membentuk bolus makanan. Bolus ini bergerak dari rongga mulut melalui dorsum lidah
akibat kontraksi otot intrinsik lidah.
2

Kontraksi m. levator veli palatini mengakibatkan rongga pada lekukan dorsum lidah
diperluas, palatum mole terangkat dan bagian atas dinding posterior faring (Passavants ridge)
akan terangkat pula. Bolus terdorong ke posterior karena lidah terangkat ke atas. Bersamaan
dengan ini terjadi penutupan nasofaring sebagai akibat kontraksi m. levator veli palatini.
Selanjutnya terjadi kontraksi m. palatoglossus yang menyebabkan ismus fausium tertutup, diikuti
oleh kontraksi m. palatofaring, sehingga bolus makanan tidak akan berbalik ke rongga mulut.
2

Fase faringeal terjadi secara reflex pada akhir fase oral, yaitu perpindahan bolus makanan
dari faring ke esofagus.
2

Faring dan laring bergerak ke atas oleh kontraksi m. stilofaring, m. salfingofaring, m.
tirohioid dan m. palatofaring.

Aditus laring tertutup oleh epiglottis, sedangkan ketiga sfingter
laring, yaitu plika ariepiglotika, plika ventikularis dan plika vokalis tertutup karena kontraksi m.
ariepiglotika dan m. aritenoid obliges. Bersamaan dengan ini terjadi juga penghentian aliran
udara ke laring karena refleks yang menghambat pernapasan, sehingga bolus makanan tidak akan
masuk ke dalam saluran napas. Selanjutnya bolus makanan akan meluncur ke arah esofagus,
karena valekula dan sinus piriformis sudah dalam keadaan lurus.
2

Fase esofageal ialah fase perpindahan bolus makanan dari esofagus ke lambung. Dalam
keadaan istirahat introitus esofagus selalu terututup. Dengan adanya rangsangan bolus makanan
pada akhir fase faringeal, maka terjadi relaksasi m. krikofaring, sehingga introitus esofagus
terbuka dan bolus makanan masuk ke dalam esofagus.
2

Setelah bolus makanan lewat, maka sfingter akan berkontraksi lebih kuat, melebihi tonus
introitus esofagus pada waktu istirahat, sehingga makanan tidak akan kembali ke faring. Dengan
demikian refluks dapat dihindari.
2

Gerak bolus makanan di esofagus bagian atas masih dipengaruhi oleh kontraksi m.
konstriktor faring inferior pada akhir fase faringeal. Selanjutnya bolus makanan akan didorong
ke distal oleh gerakan peristaltik esofagus.
2

Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 12

Dalam keadaan istirahat sfingter esofagus bagian bawah selalu tertutup dengan tekanan
rata-rata 8 milimeter Hg lebih dari tekanan di dalam lambung, sehingga tidak akan terjadi
regurgitasi isi lambung.
2

Pada akhir fase esofageal sfingter ini akan terbuka secara refleks ketika dimulainya
peristaltik esofagus servikal untuk mendorong bolus makanan ke distal. Selanjutnya setelah
bolus makanan lewat maka sfingter ini akan menutup kembali.
2



Gambar : Fisiologi menelan.
2


Ujung lidah terangkat ke bagian anterior palatum durum, bolus makanan terdorong ke
posterior, dan palatum mole terdorong ke atas dan posterior. Ujung lidah makin luas menekan
palatum durum, lidah mendorong bolus makanan ke posterior palatum mole terangkat ke atas
dan menutup nasofaring. Bolus makanan sampai ke valekula, os hioid dan laring terangkat ke
atas dan ke depan, ujung epiglotis terdorong ke belakang dan ke bawah. Epiglotis tertekan ke
bawah dan melindungi aditus laring dari masuknya bolus makanan ke laring. Palatum mole turun
ke bawah mendekati pangkal lidah, nasofaring tertutup, rongga mulut tertutup akibat kontraksi
muskulus konstriktor faring superior, relaksasi mucus krikofaring. Vestibulum laring tertutup
akibat kontraksi plika ariepiglotika dan plika ventrikularis. Bolus makanan sampai di valekula
dan menekan ke bawah menyebabkan m. krikofaring relaksasi dan bolus turun ke esofagus,
timbul gelombang peristaltik esofagus. Epiglotis terangkat ke atas kembali, os hioid dan laring
Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 13

turun kembali ke tempatnya, nasofaring terbuka kembali. Seluruh organ di rongga faring kembali
ke posisi semula, gelombang peristaltik mendorong bolus makanan masuk ke esofagus.
2


























Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 14

BAB V

BENDA ASING DI ESOFAGUS

Benda asing esofagus adalah benda, baik tajam atau tumpul, atau makanan yang
tersangkut dan terjepit di esofagus karena tertelan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
3

Peristiwa tertelan dan tersangkutnya benda asing merupakan masalah utama pada anak
usia 6 bulan sampai 6 tahun dan dapat terjadi pada semua umur pada tiap lokasi di esofagus, baik
di tempat penyempitan fisiologis maupun patologis dan dapat pula menimbulkan komplikasi
fatal akibat perforasi.
3

Etiologi
Secara klinis masalah yang timbul akibat benda asing esofagus dapat dibagi dalam
golongan anak dan dewasa.
3

Pada anak penyebabnya antara lain anomali kongenital, termasuk stenosis kongenital,
web, fistel trakeoesofagus, dan pelebaran pembuluh darah.
3

Pada orang dewasa tertelan benda asing yang sering dialami oleh pemabuk, pemakai gigi
palsu yang telah kehilangan sensasi rasa (tactile sensation) dari palatum, pada pasien gangguan
mental, dan psikosis.
3


Faktor Predisposisi
Untuk anak karena belum tumbuhnya gigi molar, koordinasi proses menelan dan sfingter
laring belum sempurna pada usia 6 bulan sampai 1 tahun, retardasi mental, dan gangguan
pertumbuhan. Pada orang dewasa, faktor predisposisinya adalah penyakit-penyakit esofagus
yang menimbulkan gejala disfagia kronik, yaitu penyakit esofagitis, refluks, striktur pasca
esofagitis korosif, akhalasia, karsinoma esofagus atau lambung. Faktor predisposisi lainnya
adalah cara mengunyah yang salah dengan gigi palsu yang kurang baik pemasangannya, mabuk
(alkoholisme), dan intoksikasi (keracunan).
3

Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 15

Kekerapan
Mati lemas karena sumbatan jalan napas (suffocation) akibat tertelan atau teraspirasi
benda asing, merupakan penyebab ketiga kematian mendadak pada anak dibawah umur 1 tahun
dan penyebab kematian keempat pada anak usia 1-6 tahun. Morbiditas dan mortalitas yang tinggi
tergantung pada komplikasi yang terjadi. Benda asing di esofagus sering ditemukan di daerah
penyempitan fisiologis esofagus. Benda asing yang bukan makanan kebanyakan tersangkut di
servikal esofagus, biasanya di otot krikofaring atau arkus aorta, kadang-kadang di daerah
penyilangan esofagus dengan bronkus utama kiri pada sfingter kardio esophagus. Sekitar 70%
dari 2394 kasus benda asing esofagus ditemukan di daerah servikal, dibawah sfingter kriko
faring, 12 % didaerah hipofaring dan 7,7% didaerah esofagus torakal.
3

Patogenesis
Benda asing yang berada lama di esofagus dapat menimbulkan berbagai komplikasi,
antara lain jaringan granulasi yang menutupi benda asing, radang periesofagus. Benda asing
tertentu seperti baterai alkali mempunyai toksisitas intrinsik lokal dan sistemik dengan reaksi
edema dan inflamasi lokal, terutama bila terjadi pada anak-anak.
3

Batu baterai (disc battery) mengandung elektrolit, baik natrium maupun kalium
hidroksida dalam larutan kaustik pekat (concentrated caustic solution). Pada penelitian binatang
in vitro dan in vivo, bila baterai berada dalam lingkungan yang lembab dan basah, maka
pengeluaran elektrolit akan terjadi dengan cepat sehingga terjadi kerusakan jaringan (tissue
saponification) dengan ulserasi lokal, perforasi atau pembentukan striktur. Absorbsi bahan metal
dalam darah menimbulkan toksisitas sistemik. Oleh karena itu benda asing batu baterai harus
segera dikeluarkan.
3

Diagnosis
Diagnosis benda asing di esofagus ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis
dengan gejala dan tanda, pemeriksaan radiologik dan endoskopik. Tindakan endoskopi dilakukan
dengan tujuan diagnostik dan terapi.
3

Pokok yang paling penting dalam riwayat tertelannya benda asing, seperti dengan tertelan
kaustik adalah mempercayai pasien. Walaupun mungkin, mintalah pasien untuk membawa tiruan
Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 16

benda asing sehingga ahli endoskopis dapat memutuskan yang mana jenis forceps serta
pendekatan untuk pengeluaran.
4

Diagnosis tertelan benda asing, harus dipertimbangkan pada setiap anak dengan riwayat
rasa tercekik (choking), rasa tersumbat di tenggorok (gagging), batuk, muntah. Gejala-gejala ini
diikuti dengan disfagia, berat badan menurun, demam, dan gangguan napas, harus diketahui
dengan baik ukuran, bentuk, dan jenis benda asing dan apakah mempunyai bagian yang tajam.
3

Manifestasi klinis
Gejala sumbatan akibat benda asing di esofagus tergantung pada ukuran, bentuk dan jenis
benda asing, lokasi tersangkutnya (apakah berada di daerah penyempitan esofagus yang normal
atau patologis), komplikasi yang timbul, dan lama tertelan. Mula-mula timbul nyeri di daerah
leher bila benda asing tersangkut di daerah servikal. Bila benda asing tersangkut di esofagus
bagian distal timbul rasa tidak enak di daerah substernal atau nyeri di punggung.
3

Suatu benda asing yang tersangkut dalam esofagus menimbulkan kesulitan dalam
menelan serta rasa tidak nyaman. Posisi benda asing dalam esofagus seringkali dapat
terlokalisasi secara akurat oleh pasien.
4

Gejala disfagia bervariasi tergantung pada ukuran benda asing. Disfagia lebih berat bila
telah terjadi edema mukosa yang memperberat sumbatan, sehingga timbul rasa sumbatan yang
persisten. Gejala lain adalah odinofagia yaitu nyeri menelan makanan atau ludah, hipersalivasi,
regurgitasi, dan muntah. Kadang-kadang ludah berdarah.
3

Nyeri di punggung menunjukkan tanda perforasi atau mediastinitis. Bila benda asing
tersangkut pada esofagus servikal, penekanan terhadap bagian belakang laring serta trakea dapat
menimbulkan suara sengau, batuk, dan dispne. Air liur dapat mengalir ke luar dari esofagus dan
masuk ke dalam hidung.
4

Pada pemeriksaan fisik terdapat kekakuan lokal pada leher bila benda asing terjepit akibat
edema yang timbul progresif. Bila benda asing ireguler menyebabkan perforasi akut, didapatkan
tanda pneumediastinum, emfisema leher dan pada auskultasi terdengar suara getaran di daerah
prekordial atau interskapula. Bila terjadi mediastinitis, tanda efusi pleura unilateral atau bilateral
dapat dideteksi. Perforasi langsung ke rongga pleura dan pneumotoraks jarang terjadi, tetapi
Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 17

dapat timbul sebagai komplikasi tindakan endoskopi.
3

Pada anak, terdapat gejala nyeri atau batuk dapat disebabkan oleh aspirasi ludah atau
minuman dan pada pemeriksaan fisik didapatkan ronkhi, mengi (wheezing), demam, abses leher
atau tanda emfisema subkutan. Tanda lanjut, berat badan menurun dan gangguan pertumbuhan.
Benda asing yang berada di daerah servikal esofagus dan di bagian distal krikofaring, dapat
menimbulkan gejala obstruksi saluran napas dengan stridor, karena menekan dinding trakea
bagian posterior (tracheo-esophageal party wall), radang dan edema periesofagus. Gejala
aspirasi rekuren akibat obstruksi esofagus sekunder dapat menimbulkan pneumonia,
bronkiektasis dan abses paru.
3

Sehingga bila diperhatikan gejala-gejala yang dapat terjadi akibat teretelannya beda asing
di esofagus terjadi dalam tiga tahap. Pada tahap pertama gejala-gejala awal, serangan hebat dari
batuk atau muntah. Hal ini terjadi ketika benda asing pertama tertelan. Pada tahap kedua adalah
interval tidak ada gejala. Benda asing telah tersangkut, serta gejala-gejala tidak lagi ditimbulkan.
Pada tahap ini dapat berlangsung untuk sesaat atau sementara. Pada tahap ketiga terdiri dari
gejala-gejala yang ditimbulkan oleh komplikasi. Kemungkinan timbul rasa tidak nyaman,
disfagia, sumbatan, atau perforasi esofagus dengan dihasilkan mediastinitis.
4

Pemeriksaan radiologik
Foto Rontgen polos esofagus servikal dan torakal anteroposterior dan lateral, harus dibuat
pada semua pasien yang diduga tertelan benda asing. Benda asing radioopak seperti uang logam,
mudah diketahui lokasinya dan harus dilakukan foto ulang sesaat sebelum tindakan esofagoskopi
untuk mengetahui kemungkinan benda asing sudah pindah ke bagian distal. Letak uang logam
umumnya koronal, maka hasil foto Rontgen servikal / torakal pada posisi PA akan dijumpai
bayangan radioopak berbentuk bundar, sedangkan pada pasien lateral berupa garis radioopak
yang sejajar dengan kolumna vertebra . Benda asing seperti kulit telur, tulang, dan lain-lain
cenderung berada pada posisi koronal dalam esophagus, sehingga lebih mudah dilihat pada
posisi lateral. Benda asing radiolusen seperti plastik, aluminium, dan lain-lain, dapat diketahui
dengan tanda inflamasi periesofagus atau hiperinflamasi hipofaring dan esofagus bagian
proksimal.
3

Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 18


Gambar : Benda asing di esofagus.
4

Foto Rontgen toraks dapat menunjukkan gambaran perforasi esofagus dengan emfisema
servikal, emfisema mediastinal, pneumotoraks, piotoraks, mediastinitis, serta aspirasi
pneumonia.
3

Foto Rontgen leher posisi lateral dapat menunjukkan tanda perforasi, dengan trakea dan
laring tergeser ke depan, gelembung udara di jaringan, adanya bayangan cairan atau abses bila
perforasi telah berlangsung beberapa hari.
3

Gambaran radiologik benda asing batu baterei menunjukkan pinggir bulat dengan
gambaran densitas ganda, karena bentuk bilaminer. Foto polos sering tidak menunjukkan
gambaran benda asing, seperti daging dan tulang ikan, sehingga memerlukan pemeriksaan
esofagus dengan kontras (esofagogram). Esofagogram pada benda asing radiolusen akan
memperlihatkan filling defect persistent. Pemeriksaan esofagus dengan kontras sebaiknya tidak
dilakukan pada benda asing radioopak karena densitas benda asing biasanya sama dengan zat
kontras, sehingga akan menyulitkan penilaian ada tidaknya benda asing. Risiko lain adalah
terjadi aspirasi bahan kontras. Bahan kontras barium lebih baik daripada zat kontras yang larut
dia air (water soluble contrast), seperti gastrografin, karena sifatnya kurang toksik terhadap
saluran napas bila terjadi aspirasi kontras, sedangkan gastrografin bersifat mengiritasi paru. Oleh
karena itu pemakaian kontras gastrografin harus dihindari terutama pada anak.
3

Suatu penelanan barium dalam jumlah besar sebaiknya tidak diberikan, karena akan
menutupi dinding esofagus dengan penebalan pasta putih akibatnya sangat sulit dilakukan
Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 19

esofagoskopi. Lebih baik pasien menelan sedikit kapas atau marshmallow dengan kontras
medium di dalamnya. Serat kapas dapat menangkap benda asing untuk sementara atau selama
penelanan, dengan demikian menampakkan adanya benda asing melalui floroskopi. Pengetahuan
orientasi dari benda asing pada esofagus sangat membantu dalam merencanakan endoskopi.
4

Radiogram sebaiknya termasuk semua daerah dari hidung hingga anus. Seringkali lebih
dari satu benda asing yang tertelan, kecuali pemeriksaan lengkap dilakukan, objek tambahan,
seperti jarum yang telah menembus ke dalam kolon, dapat terlewatkan.
4

Kseroradiografi dapat menunjukkan gambaran penyangatan (enhancement) pada daerah
pinggir benda asing.
3

Computerized tomographyc scanner (CT scan) esofagus dapat menunjukkan gambaran
inflamasi jaringan lunak dan abses.
3

Magnetic resonanse imaging (MRI) dapat menunjukkan gambaran semua keadaan
patologis esofagus.
3

Bagaimanapun juga, tanpa bukti radiologik, belum dapat menyingkirkan adanya benda
asing di esofagus.
3

Penatalaksanaan
Kecuali jika terdapat sumbatan jalan napas lengkap, pertolongan pertama pada tahap awal
gejala-gejala sebaiknya mendorong untuk melakukan sesuatu. Memukul punggung pasien,
menggantungkan anak dengan memegang tumitnya, meletakkan jari telunjuk di bawah
tenggorok pasien, atau mengusahakan pengeluaran secara buta dapat mengubah benda asing
tidak terkomplikasi sederhana ke dalam sumbatan terkomplikasi.
4

Benda asing di esofagus dikeluarkan dengan tindakan esofagoskopi dengan
menggunakan cunam yang sesuai dengan benda asing tersebut. Bila benda asing telah berhasil
dikeluarkan harus dilakukan esofagoskopi ulang untuk menilai adanya kelainan-kelainan
esofagus yang telah ada sebelumnya. Benda asing tajam yang tidak berhasil dikeluarkan dengan
esofagoskopi harus segera dikeluarkan dengan pembedahan, yaitu servikotomi, torakotomi, atau
Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 20

esofagotomi, tergantung lokasi benda asing tersebut. Bila dicurigai adanya perforasi yang kecil
segera dipasang pipa nasogaster agar pasien tidak menelan, baik makanan maupun ludah dan
diberikan antibiotika berspektrum luas selama 7-10 hari untuk mencegah timbulnya sepsis.
Benda asing tajam yang telah masuk ke dalam lambung dapat menyebabkan perforasi di pilorus.
Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi dengan sebaik-baiknya, untuk mendapatkan tanda
perforasi sedini mungkin dengan melakukan pemeriksaan radiologik untuk mengetahui posisi
dan perubahan letak benda asing. Bila letak benda asing menetap selama 2 kali 24 jam maka
benda asing tersebut harus dikeluarkan secra pembedahan (laparotomi).
3


Gambar : Alat esofagoskopi.
7

Benda asing uang logam di esofagus bukan keadaan gawat darurat, namun uang logam
tersebut harus dilakukan sesegera mungkin dengan persiapan tindakan esofagoskopi yang
optimal untuk mencegah komplikasi.
3

Benda asing baterei bundar (disk/button battery) di esofagus merupakan benda yang
harus segera dikeluarkan karena risiko perforasi esofagus yang terjadi dengan cepat dalam waktu
4 jam setelah tertelan akibat nekrosis esofagus.
3

Komplikasi
Benda asing dapat menimbulkan laserasi mukosa, perdarahan, perforasi lokal dengan
abses leher atau mediastinitis. Perforasi esofagus dapat menimbulkan selulitis lokal dan fistel
Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 21

trakeoesofagus. Benda asing bulat atau tumpul dapat juga menimbulkan perforasi, sebagai akibat
sekunder dari inflamasi kronik dan erosi. Jaringan granulasi di sekitar benda asing berada di
esofagus dalam waktu yang lama.
3

Gejala dan tanda perforasi esofagus antara lain emfisema subkutis atau mediastinum,
krepitasi kulit di daerah leher atau dada, pembengkakan leher, kaku leher, demam, menggigil,
gelisah, takikardi takipnea, nyeri yang menjalar ke punggung, retrosternal, dan epigastrium.
Penjalaran ke pleura menimbulkan pneumotoraks dan pyotoraks.
3

Bila lama berada di esofagus dapat menimbulkan jaringan granulasi dan radang
periesofagus. Benda asing seperti baterai alkali menimbulkan toksisitas intrinsik lokal dan
sistemik dengan reaksi edema dan inflamasi lokal.
3
















Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 22

BAB VI
RESUME

Benda asing esofagus adalah benda, baik tajam atau tumpul, atau makanan yang
tersangkut dan terjepit di esofagus karena tertelan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
Penyebabnya antara lain anomali kongenital, termasuk stenosis kongenital, web, fistel
trakeoesofagus, dan pelebaran pembuluh darah, dapat juga karena tertelan benda asing yang
sering dialami oleh pemabuk, pemakai gigi palsu yang telah kehilangan sensasi rasa (tactile
sensation) dari palatum, pada pasien gangguan mental, dan psikosis.
Gejala sumbatan akibat benda asing di esofagus tergantung pada ukuran, bentuk dan jenis
benda asing, lokasi tersangkutnya, komplikasi yang timbul, dan lama tertelan. Manifestasi
klinisnya dapat berupa nyeri di daerah leher, disfagia, odinofagia, muntah, dan rasa tidak
nyaman, dapat juga menimbulkan suara sengau, batuk, dan dispne.
Diagnosis benda asing di esofagus ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis
dengan gejala dan tanda, pemeriksaan radiologik dan endoskopik.
Benda asing di esofagus dikeluarkan dengan tindakan esofagoskopi dengan
menggunakan cunam yang sesuai dengan benda asing tersebut.








Referat Ilmu THT-KL Benda Asing di Esofagus Page 23

DAFTAR PUSTAKA

1. Sadler, T. Sistem Pencernaan. Dalam Embriologi Kedokteran Langman. Edisi
Ketujuh. Jakarta : EGC. 2002
2. Soepardi EA. Disfagia. Dalam Soepardi EA, Iskandar N, et al. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi Keenam. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007
3. Junizaf, Mariana. Benda Asing Di Esofagus. Dalam Soepardi EA, Iskandar N, et al.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi Keenam.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007
4. Siegel GL. Penyakit Jalan Nafas Bagian Bawah, Esofagus dan Mediastinum. Dalam
Adams GL, Boies L.R, Higler P.A. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi Keenam.
Jakarta : EGC. 1997
5. Perkasa MF. 2009. Ekstraksi Benda Asing di Laring. Dalam Medicinus. Vol 22.
No.2. Edisi Juni-Agustus 2009.
6. Dharmawan. Benda Asing di Saluran nafas. Available from : URL:
http://www.scribd.com/doc/22745909/Benda-Asing-Saluran-Nafas. 2008
7. Marini. Benda Asing di Esofagus. Available from : URL .
http://www.scribd.com/doc/10935612/Benda-Asing-Saluran-Esofagus. 2010