Anda di halaman 1dari 47
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Referat TB PARU BTA POSITIF DENGAN KOMPLIKASI

Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

Referat

TB PARU BTA POSITIF DENGAN

KOMPLIKASI PNEUMOTHORAX SINISTRA
KOMPLIKASI PNEUMOTHORAX
SINISTRA
TB PARU BTA POSITIF DENGAN KOMPLIKASI PNEUMOTHORAX SINISTRA oleh: NIKEN KURNIASARI NIM. 04.45398.00188.09 Pembimbing:
oleh:
oleh:

NIKEN KURNIASARI NIM. 04.45398.00188.09

Pembimbing:

dr. Donni Irfandi A., Sp.P

BAB I PENDAHULUAN  Mycobacterium tuberkulosis menyebabkan penyakit tuberkulosis  TB menjadi masalah kesehatan

BAB I PENDAHULUAN

Mycobacterium tuberkulosis menyebabkan penyakit tuberkulosis

TB menjadi masalah kesehatan masyarakat terbesar, khususnya di negara berkembang

Tuberkulosis bisa menyerang siapa saja, >>

kelompok usia produktif (15-50 tahun)

Indonesia menempati urutan 3 setelah India

dan China dalam hal jumlah penderita dari 22

negara dengan masalah TB terbesar di dunia

BAB II LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN  Nama : Tn. R  Umur : 17

BAB II LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. R

Umur

: 17 tahun

Alamat

: L1 Blok E Telok Dalam : Belum Menikah

Status

Pekerjaan

: Buruh

Pendidikan terakhir

: SD

Suku

: Bugis

Agama

: Islam

Status Pernikahan

: Belum Menikah

Masuk Rumah Sakit

: 9 Maret 2010

Keluhan utama  Sesak nafas Riwayat penyakit sekarang Sesak nafas dialami pasien sejak 3 hari

Keluhan utama

Sesak nafas

Riwayat penyakit sekarang

Sesak nafas dialami pasien sejak 3 hari sebelum MRS. Sesak dirasakan secara tiba-tiba dan terus-

menerus, tidak dipengaruhi oleh cuaca dan

aktivitas yang berlebihan. Sesak tersebut dirasakan semakin lama semakin bertambah berat. Disamping itu pasien juga memiliki riwayat

batuk lama sejak ± 3 bulan yang lalu hingga

sekarang. Batuk berdahak dengan dahak berwarna kuning sejak 2 bulan yang lalu. Kadang- kadang pada dahak terdapat bercak darah.

 Keluhan batuk tersebut disertai dengan demam yang timbul pada malam hari disertai keringat dingin,

Keluhan batuk tersebut disertai dengan

demam yang timbul pada malam hari disertai keringat dingin, dimana demam tidak terlalu

tinggi dan kadang mencapai suhu normal

pada pagi hari. Pasien juga mengeluhkan nafsu makan yang menurun, sehingga berat

badan pasien turun selama keluhan batuk-

batuk tersebut muncul.

Pasien merasakan berbagai keluhan tersebut

muncul setelah pasien menjalani pekerjaan

sebagai buruh playwood di Tenggarong sekitar 5 bulan yang lalu sebelum MRS.

 Pasien bersama temannya tinggal di kos- kosan yang kondisinya kurang sehat untuk dihuni, seperti

Pasien bersama temannya tinggal di kos- kosan yang kondisinya kurang sehat untuk

dihuni, seperti ventilasi dan jendela kamar yang tidak ada serta berada dipinggir sungai. Dan saat bekerja di tempat tersebut kondisi

daya tahan tubuh pasien menurun karena

pekerjaan yang melelahkan. Sejak itulah pasien merasa sakit-sakitan. Pasien mengaku

bahwa tidak ada teman atau keluarga yang

sakit seperti pasien.

 Frekuensi BAB normal, BAK normal dengan warna kuning jernih. Pasien merupakan rujukan dari RS.

Frekuensi BAB normal, BAK normal dengan

warna kuning jernih. Pasien merupakan rujukan dari RS. Parikesit Tenggarong dengan diagnosa

Pneumothorax (S) e.c. TB Paru, yang telah

dilakukan pemasangan WSD sebelum pasien

dievakuasi ke RS.AWS Samarinda.

Riwayat penyakit dahulu

Sakit paru-paru dan asma tidak ada sebelumnya

Riwayat penyakit keluarga

Pasien tidak memiliki riwayat penyakit serupa

pada keluarganya.

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum  Kesadaran  Keadaan sakit Tanda Vital : : Compos mentis,

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum

Kesadaran

Keadaan sakit

Tanda Vital :

: Compos mentis, GCS E 4 V 5 M 6 : sakit sedang

Frekuensi Nadi cukup

: 80 x/menit, reguler, kuat angkat, isi

Tekanan darah

: 120/70 mmHg : 26 x/menit,. : 37,8 0 C, aksiler

Pernafasan

Suhu

Status Gizi

Berat Badan

: 43 Kg

Tinggi Badan

: 155 cm

Kepala dan Leher  Kepala  Mata : Normocephaly, rambut rontok (-) : Konjungtiva anemis

Kepala dan Leher

Kepala

Mata

: Normocephaly, rambut rontok (-)

: Konjungtiva anemis (+/+), Sklera ikterik (-/-), refleks pupil (+ / +), lensa jernih

Hidung

Mulut

Mukosa

Telinga

Leher

: Deviasi septum (-/-)

: Bibir kering, lidah bersih, faring hiperemsis, tonsil (T0/T0), karies gigi (+)

: pucat (+)

: normal

:Trakhea di tengah, pembesaran kelenjar

tiroid (-), pembesaran KGB (-/-), JVP meningkat (-)

Paru I Bentuk : simetris Pergerakan : simetris, retraksi ICS (-/-) Pa ICS melebar :

Paru

I

Bentuk

: simetris

Pergerakan : simetris, retraksi ICS (-/-)

Pa

ICS melebar : (+/+) Fremitus raba: Asimetris (D≠S)

Nyeri

: (-/-)

Pe

Suara ketok : (sonor/ hipersonor) Nyeri ketok : (-/+)

 

A

Suara nafas : vesikuler

Suara tambahan : ronki (+/+), wheezing (-/-)

Jantung I Ictus cordis tidak tampak Pa Ictus cordis tidak teraba Pe Batas kanan: parasternal

Jantung

I

Ictus cordis tidak tampak

Pa

Ictus cordis tidak teraba

Pe

Batas kanan: parasternal line ICS III (D)

Batas kiri

: ICS V 2 jari lateral MCL (S)

A

S1 S2 tunggal, reguler, gallop (-), murmur (-).

Abdomen I Bentuk : datar Kulit : normal Hernia : umbilicus (-), inguinal (-) Pa

Abdomen

I

Bentuk

: datar

Kulit

: normal

Hernia

: umbilicus (-), inguinal (-)

Pa

Turgor

: normal

Tonus

: normal

Nyeri tekan : tidak ada

Pembesaran

: hepar (-), ginjal (-), spleen (-)

Pe

Timpani, Shifting dullness (-)

A

Peristaltik usus : BU (+) normal

Ekstremitas Atas : Sendi bengkak (-/-) Tremor (-/-) Akral dingin, pucat, edema (-/-) Bawah :

Ekstremitas

Atas

:

Sendi bengkak (-/-)

Tremor (-/-) Akral dingin, pucat, edema (-/-)

Bawah:

Refleks biceps dan refleks triceps normal

Sendi bengkak (-/-)

Tremor (-/-)

Akral dingin, pucat, edema (-/-) Refleks patella normal

Refleks achilles normal

Tulang belakang

: Normal

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 9/3/2010 10/3/2010 11/3/2010 13/3/2010 15/3/2010 Darah

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium

Tanggal 9/3/2010 10/3/2010 11/3/2010 13/3/2010 15/3/2010 Darah lengkap Hb 8,5 8,6 12,1 Hct 27,7 %
Tanggal
9/3/2010
10/3/2010
11/3/2010
13/3/2010
15/3/2010
Darah lengkap
Hb
8,5
8,6
12,1
Hct
27,7 %
27,9 %
35,7 %
Leukosit
700
4.100
6.400
Trombosit
367.000
240.000
365.000
Pemeriksaan Laboratorium 11/3/2010  Ab HIV - 13/3/2010  BTA I +1  BTA II

Pemeriksaan Laboratorium

11/3/2010

Ab HIV

-

13/3/2010

BTA I

+1

BTA II

+1

BTA III

+1

Foto Rontgen Thorax PA 8 Maret 2010 10 Maret 2010

Foto Rontgen Thorax PA

8 Maret 2010

10 Maret 2010

Foto Rontgen Thorax PA 8 Maret 2010 10 Maret 2010
Foto Rontgen Thorax PA 15 Maret 2010 18 Maret 2010

Foto Rontgen Thorax PA

15 Maret 2010

18 Maret 2010

Foto Rontgen Thorax PA 15 Maret 2010 18 Maret 2010
EKG

EKG

EKG

Sinus tachycardi

EKG Sinus tachycardi
EKG Sinus tachycardi
DIAGNOSIS

DIAGNOSIS

DIAGNOSIS

Dx Masuk : Pneumotoraks + suspek TB paru

Pneumothoraks Sinistra
Pneumothoraks Sinistra
DIAGNOSIS Dx Masuk : Pneumotoraks + suspek TB paru Pneumothoraks Sinistra Dx Keluar : TB Paru
DIAGNOSIS Dx Masuk : Pneumotoraks + suspek TB paru Pneumothoraks Sinistra Dx Keluar : TB Paru
DIAGNOSIS Dx Masuk : Pneumotoraks + suspek TB paru Pneumothoraks Sinistra Dx Keluar : TB Paru

Dx Keluar : TB Paru BTA Positif dengan Komplikasi

DIAGNOSIS Dx Masuk : Pneumotoraks + suspek TB paru Pneumothoraks Sinistra Dx Keluar : TB Paru
DIAGNOSIS Dx Masuk : Pneumotoraks + suspek TB paru Pneumothoraks Sinistra Dx Keluar : TB Paru
DIAGNOSIS Dx Masuk : Pneumotoraks + suspek TB paru Pneumothoraks Sinistra Dx Keluar : TB Paru
PENATALAKSANAAN Farmakologi: (BB= 43 kg)  IVFD RL : D5% 2:1 20 tpm  Neurobion

PENATALAKSANAAN

Farmakologi: (BB= 43 kg)

IVFD RL : D5% 2:1 20 tpm

Neurobion drip 1 amp/hr

Ranitidin inj 2x1 amp

Salbutamol tab 3x2 mg

DMP syrup 3xC1

Cefotaxim inj 3x1gr IV

Rimstar 1x3 tab

Methioson tab 3x1

Tindakan medis:

Pemasangan WSD

Suction WSD

Pleurodesis

Aff WSD

PROGNOSIS  Functionam  Vitam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

PROGNOSIS

Functionam

Vitam

: dubia ad bonam : dubia ad bonam

BAB III TINJAUAN PUSTAKA Tuberkulosis Paru  Tuberkulosis  infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis

PUSTAKA Tuberkulosis Paru  Tuberkulosis  infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis
Klasifikasi  Tuberkulosis Paru  Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA)  Tuberkulosis paru BTA (+)

Klasifikasi

Tuberkulosis Paru

Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA)

Tuberkulosis paru BTA (+)

Tuberkulosis paru BTA (-)

Berdasarkan Tipe Pasien

Kasus baru

Kasus kambuh (relaps)

Kasus defaulted atau drop out

Kasus gagal

Kasus kronik / persisten

Kasus Bekas TB

Kasus Bekas TB

Penyebaran kuman TB pada tubuh

Penyebaran kuman TB pada tubuh

Penyebaran kuman TB pada tubuh
Gejala Klinik  Gejala respiratorik  batuk > 2 minggu  batuk darah  sesak

Gejala Klinik

Gejala respiratorik

batuk > 2 minggu

batuk darah

sesak napas

nyeri dada

Gejala sistemik

Demam

Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam,

anoreksia, berat badan menurun

Gejala tuberkulosis ekstra paru

Diagnosa TB

Diagnosa TB

Diagnosa TB
Diagnosa TB
Diagnosa TB
Diagnosa TB
Diagnosa TB
Diagnosa TB
Diagnosa TB
Diagnosa TB
Diagnosa TB
Diagnosa TB
Pemeriksaan Laboratorium  Cara pengambilan Sputum BTA 3 kali (SPS)  lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak

Pemeriksaan Laboratorium

Cara pengambilan Sputum BTA 3 kali (SPS)

lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan ialah bila :

3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negatif ® BTA positif

1 kali positif, 2 kali negatif ® ulang BTA 3 kali kecuali bila ada fasilitas foto toraks, kemudian

bila 1 kali positif, 2 kali negatif ® BTA positif

bila 3 kali negatif ® BTA negatif. 1

Pemeriksaan Radiologi  Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif  Bayangan berawan /

Pemeriksaan Radiologi

Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif

Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan

posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah

Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular

Bayangan bercak milier

Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)

Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif.

Fibrotik

Kalsifikasi

Schwarte atau penebalan pleura

Luluh paru (destroyed Lung )

Efek Samping

Kemungkinan

Tatalaksana

Penyebab

Minor

OAT Teruskan

Tidak nafsu makan, mual, sakit perut

Rifampisin

Obat diminum malam sebelum tidur

Nyeri sendi

Pyrazinamid

Beri aspirin /allopurinol

Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki

INH

Beri vitamin B6 (piridoksin) 1 x 100 mg perhari

Warna kemerahan pada air seni

Rifampisin

Beri penjelasan, tidak perlu diberi apa- apa

Mayor

Hentikan Obat

Gatal dan kemerahan pada kulit

Semua jenis OAT

Beri antihistamin & dievaluasi ketat

Tuli

Streptomisin

Streptomisin dihentikan

Gangguan keseimbangan (vertigo

dan nistagmus)

Streptomisin

Streptomisin dihentikan

Ikterik / Hepatitis Imbas Obat (penyebab lain disingkirkan)

Sebagian besar OAT

Hentikan semua OAT Sampai ikterik menghilang dan boleh diberikan hepatoprotektor

 

Muntah dan confusion (suspected drug-induced pre-icteric hepatitis)

Sebagian besar OAT

Hentikan semua OAT & lakukan uji fungsi hati

Gangguan penglihatan

Ethambutol

Hentikan ethambutol

Kelainan sistemik,,syok dan purpura

Rifampisin

Hentikan Rifampisin

Pneumotoraks

Pneumotoraks

Pneumotoraks

Pneumotoraks adalah

terdapatnya udara

bebas di dalam rongga pleura, yaitu rongga di antara pleura parietalis dan viseralis
bebas di dalam
rongga pleura, yaitu
rongga di antara
pleura parietalis dan
viseralis
adalah terdapatnya udara bebas di dalam rongga pleura, yaitu rongga di antara pleura parietalis dan viseralis
Etiologi dan Patogenesis  PSS terjadi karena adanya kelemahan pada struktur parenkim paru dan pleura.

Etiologi dan Patogenesis

PSS terjadi karena adanya kelemahan pada struktur parenkim paru dan pleura. 9, 10, 12 Konsep dasar terjadinya pneumotoraks dibagi atas 12 :

Penyakit-penyakit yang menghasilkan kenaikan tekanan intrapulmoner

Penyakit-penyakit yang menyebabkan menebal atau menipisnya dinding kista

Penyakit-penyakit yang menyebabkan rusaknya

parenkim paru

Gejala klinis  Sesak nafas, yang didapatkan pada 80-100% pasien  Nyeri dada, yang didapatkan

Gejala klinis

Sesak nafas, yang didapatkan pada 80-100% pasien

Nyeri dada, yang didapatkan pada 75-90% pasien

Batuk-batuk, yang didapatkan pada 25-35% pasien

Tidak menunjukkan gejala (silent) yang terdapat sekitar 5010% dan biasanya pada PSP (Loddenkemper, 2003) 9

Penatalaksanaan  Pneumotorak ringan non ventil, kurang dari 30%.  observasi dan disuruh meniup balon.

Penatalaksanaan

Pneumotorak ringan non ventil, kurang dari 30%. observasi dan disuruh meniup balon. Bila memburuk dipasang WSD

Pneumotorak besar atau tipe ventil Dipasang WSD

Pencegahan pneumotorak rekuren, dapat

dilakukan dengan menggunakan:

pleurodesis kimia, dengan menggunakan larutan

tetrasiklin, bedak talk atau iodopovidon.

pleurektomi parietal.

Skema pemasangan WSD

Skema pemasangan WSD

Skema pemasangan WSD
Skema pemasangan WSD
PLEURODESIS  Definisi :Pleurodesis  penyatuan pleura viseralis dengan parietalis baik secara kimiawi, mineral

PLEURODESIS

Definisi :Pleurodesis penyatuan pleura viseralis dengan parietalis baik secara kimiawi, mineral ataupun mekanik, secara permanen untuk mencegah akumulasi cairan maupun udara dalam rongga pleura.

Tujuan :untuk mencegah berulangnya pneumotoraks berulang

 Aspek Mekanis  Untuk menghasilkan perlekatan antara lapisan pleura parietal dengan pleura viseralis diperlukan

Aspek Mekanis

Untuk menghasilkan perlekatan antara lapisan pleura parietal dengan pleura viseralis diperlukan evakuasi udara dan cairan secara sempurna

Aspek Biologis

permukaan pleura harus teriritasi baik secara mekanik maupun dengan pemberian agen sklerosis

Agen Sklerosis  Tetrasiklin HCl  Doksisiklin  Minosiklin  Bleomisin  Kuinakrin  Talk

Agen Sklerosis

Tetrasiklin HCl

Doksisiklin

Minosiklin

Bleomisin

Kuinakrin

Talk

Iodopovidon

PEMBAHASAN Tabel 1. Anamnesa Fakta Teori • Sesak nafas tiba- Manifestasi klinis TB Paru tiba,

PEMBAHASAN

Tabel 1. Anamnesa

Fakta Teori • Sesak nafas tiba- Manifestasi klinis TB Paru tiba, semakin berat • Gejala
Fakta
Teori
Sesak nafas tiba-
Manifestasi klinis TB Paru
tiba, semakin berat
• Gejala respiratorik
Nyeri dada
– batuk > 2 minggu
Batuk
lama
±
3
– batuk darah
bulan
– sesak napas
Batuk berdahak
– nyeri dada
Dahak terdapat
• Gejala sistemik
bercak darah
– Demam
Demam
malam
hari
– Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia,
berat badan menurun
Keringat dingin
Badan lemas
Manifestasi Klinis Pneumotoraks
Sulit bernafas, sesak yang timbul mendadak dengan disertai
Nafsu
makan
nyeri dada yang terkadang dirasakan menjalar ke bahu, rasa seperti
menurun
ditusuk-tusuk. Dapat disertai batuk dan terkadang terjadi hemoptisis.
BB turun drastis
Perlu ditanyakan adanya penyakit paru atau pleura lain yang
Riwayat menghuni
tempat tinggal
dengan lingkungan
mendasari pneumotorak, dan menyingkirkan adanya penyakit
jantung.
yang kurang sehat.

Tabel 2. Pemeriksaan Fisik

Fakta Teori Tanda Vital RR= 28 x/menit Suhu = 37,8 0 C Status Gizi 
Fakta
Teori
Tanda Vital
RR= 28 x/menit
Suhu = 37,8 0 C
Status Gizi
 Berat Badan
: 43 Kg, menurun
 Tinggi Badan
: 155 cm
Kepala dan Leher
 Kulit muka
: tampak pucat
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien
ditemukan konjungtiva mata atau kulit yang pucat
kerena anemia, demam (sub febris), badan kurus, dan
berat badan menurun.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan antara lain
suara napas bronkial, amforik, suara napas melemah,
ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma &
mediastinum.
 Konjungtiva
: anemis (+/+)
 Mukosa mulut : pucat
Pemeriksaan fisik pneumotoraks yaitu:
 V.
jugularis
:
JVP
tidak
o
meningkat
Thorax
Inspeksi: terlihat sesak nafas, pergerakan dada
berkurang, batuk-batuk, sianosis, serta iktus
kordis tergeser ke arah yang sehat.
Paru
o
Palpasi: dijumpai spatium interkostalis yang
I : simetris, retraksi ICS (+/+)
melebar Stemfremitus melemah, trakea
Pa: ICS melebar (+), fremitus raba
asimetris D≠S, nyeri (-/+)
Per: sonor/hipersonor, nyeri ketok (-/+)
Aus: vesikuler (D), dan (S) suara nafas
tergeser ke arah yang sehat dan iktus kordis
tidak teraba atau tergeser ke arah yang sehat.
o
Perkusi: dijumpai sonor, hipersonor sampai
timpani.
, rhonki (-/-), wheez (-/-)
o
Auskultasi: dijumpai suara nafas yang
Extremitas
melemah, sampai menghilang.
Tampak pucat dan akral dingin.
Tabel 3. Pemeriksaan Penunjang   Fakta Teori Darah Lengkap Hb 8,5 lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak

Tabel 3. Pemeriksaan Penunjang

 

Fakta

Teori

Darah Lengkap Hb 8,5

lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan ialah bila :

Ht : 27,7 % Leukosit : 700 Trombosit : 367.000 GDS : 134 Elektrolit Kimia darah

3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negatif BTA positif Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi TB paru aktif :

-

- Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus

Ab HIV (-) negatif

bawah

Sputum BTA BTA I BTA II BTA III Foto Rontgen PA

+ 1

- Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular

+ 1

- Bayangan bercak milier

+ 1

Komplikasi berupa Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang) bayangan hitam radiolusen di pinggir paru/pleura (pneumotoraks). Pemeriksaan Radiologi Pneumotoraks:

-

 

Panah merah pada paru sebelah kanan menunjukkan

adanya gambaran bulat pada lobus superior yaitu Kavitas yang dikelilingi oleh banyangan infiltrat.

Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan Rontgen foto toraks. Pada rontgen foto toraks PA akan terlihat garis penguncupan paru yang halus seperti rambut. Gambaran paru yang kolaps ke arah hilus dengan

radiolusen ke sebelah perifer.

-

Panah kuning pada paru sebelah kiri terdapat bayangan garis berbatas tegas yang menujukkan adanya penguncupan paru dengan gambaran

radiolusen pada seluruh lapangan paru kiri.

 

EKG Sinus tachycardia

Foto Rontgen Thoraks PA Fakta Teori

Foto Rontgen Thoraks PA

Fakta

Foto Rontgen Thoraks PA Fakta Teori

Teori

Foto Rontgen Thoraks PA Fakta Teori
Tabel 4. Penatalaksanaan Fakta Teori Farmakologi: (BB= 43 kg) Terapi TB Paru – IVFD RL

Tabel 4. Penatalaksanaan

Fakta Teori Farmakologi: (BB= 43 kg) Terapi TB Paru – IVFD RL : D5% 2:1
Fakta
Teori
Farmakologi: (BB= 43 kg)
Terapi TB Paru
– IVFD RL : D5% 2:1 20
tpm
– Neurobion drip 1
amp/hr
– Ranitidin inj 2x1 amp
Aktifitas obat TB didasarkan atas tiga mekanisme, yaitu aktifitas
membunuh bakteri, aktifitas sterilisasi, dan mencegah resistensi.
Obat yang umum dipakai adalah Isoniazid, Etambutol, Rifampisin,
Pirazinamid, dan Streptomisin. Dapat juga digunakan regimen
kemasan obat kombinasi dosis tetap atau FDC yang terdiri dari 3 atau
– Salbutamol tab 3x2
4 obat dalam satu tablet.
mg
– DMP syrup 3xC1
Terapi simptomatis dapat diberikan sesuai dengan gejala yang
menyertai. Terapi supportif dapat diberikan untuk menunjang
– Cefotaxim inj 3x1gr IV
– Rimstar 1x3 tab
– Methioson tab 3x1
kebrhasilan dalam terapi dasar.
Terapi Pneumotoraks
Tindakan yang lazim dikerjakan pada pneumotoraks adalah
Tindakan medis:
pemasangan WSD (Water Seal Drainage). Pada keadaan gawat
– Pemasangan WSD
– Pleurodesis
dapat dilakukan punksi dengan jarum kemudian dihubungkan
dengan selang ke botol berisi air.
Pencegahan pneumotorak rekuren, dapat dilakukan dengan
menggunakan pleurodesis kimia, dengan menggunakan
larutan tetrasiklin, bedak talk atau iodopovidon.
Prognosa  Prognosa pasien ini adalah dubia ad bonam, karena telah adanya perbaikan KU secara

Prognosa

Prognosa pasien ini adalah dubia ad bonam, karena telah adanya perbaikan KU secara progresif dari awal terapi hingga kepulangan pasien.

Terutama pada kondisi pneumotoraks yang dialami pasien, dimana paru telah mengembang kembali.

prognosa tetap bergantung pada kepatuhan

pasien dalam menjalani terapi TB paru.

Kesimpulan  Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien ini maka

Kesimpulan

Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik,

dan pemeriksaan penunjang yang

dilakukan pada pasien ini maka diagnosanya adalah TB Paru BTA Positif

dengan Komplikasi Pneumothoraks

Sinistra.

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan

pada pasien ini sudah cukup terpenuhi baik

pada laboratorium dan radiologi.

 Penatalaksanan problem TB paru dan komplikasinya berupa pneumotoraks telah diatasi dengan adekuat.  Kondisi

Penatalaksanan problem TB paru dan komplikasinya berupa pneumotoraks telah diatasi dengan adekuat.

Kondisi pasien saat pulang telah dalam

keadaan stabil dengan dibekali obat pulang,

surat control ke Puskesmas di wilayahnya serta edukasi bagi pasien.

Prognosis pada pasien ini baik vitam maupun

fungsionam adalah dubia ad bonam