Anda di halaman 1dari 64

ELEKTRONIK MODUL KULIAH

OPERASI TEKNIK KIMIA 2

MENU UTAMA
MENUJU

BAB

MATERI
Kata Pengantar dari Penulis
Garis-Garis Besar Pokok Pengajaran (GBPP)
dan Satuan Acara Pengajaran (SAP)

Pengantar Operasi Teknik Kimia

Operasi Stage

Kaidah Fasa

Pengeringan Zat Padat

5
6
7
8

Disusun Oleh

Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng


Jurusan Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala
Darussalam, Banda Aceh
Edisi 1 (2005)
Edisi 2 (2007)

9
10
11
12
13

Modul Kuliah

OPERASI TEKNIK KIMIA 2

Disusun Oleh
Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng
Staf Pengajar Jurusan Teknik Kimia

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA
Jalan Tgk. Syech Abdurrauf No. 7, Darussalam, Banda Aceh

Edisi 1 (2005)
Edisi 2 (2007)

PENGANTAR dari PENYUSUN


Pengajar mata kuliah Operasi Teknik Kimia 2 telah berhasil menyusun materi pengajaran untuk
Program S1 Tekniik Kimia yang disajikan dalam bentuk Modul Kuliah. Modul Kuliah yang disusun ini
menampilkan sebagian dari materi Operasi Teknik Kimia dan didesain agar mudah dimengerti oleh
pembaca. Penyusunan Modul Kuliah ini diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik, serta
dapat melengkapi materi kuliah untuk mahasiswa Program S1 Teknik Kimia Unsyiah. Disadari bahwa
penyusunan Modul Kuliah ini masih banyak terdapat kelemahannya sehingga penyempurnaan di
masa depan masih sangat diperlukan dan diharapkan sehingga mendapatkan tingkat kesempurnaan
yang lebih tinggi. Kepada semua pihak yang telah membantu serta mendukung penyusunan Modul
Kuliah ini diucapkan banyak terima kasih.

Darussalam, Desember 2008


Penyusun,

Dr. Ir. Suhendrayatna, M. Eng

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

1
2

BAB 1 PENGANTAR OPERASI TEKNIK KIMIA


1. Unit Operasi Dalam Teknik Kimia
2. Beberapa Konsep Dasar
2.1
Kesetimbangan
Driving force
2.1
2.3
Pemisahan
2.4
Pola Aliran
2.5
Operasi kontinyu dan batch
3. Operasi (Operasi Teknik Kimia)
3.1
Integrasi unit operasi
3.2
Analisa unit operasi
3.3
Dua karakteristik Physical models
3.4
Operasi stage
3.5
Operasi kecepatan/rate operation
3.6
Operasi unsteady state
3.7
Perkembangan Umum

4
4
4
4
5
5
5
6
6
7
7
7
7
7
8
8

BAB 2 OPERASI STAGE


1. Pendahuluan
2. Operasi Perpindahan Massa
2.1
Proses pemisahan
2.2
Konsep stage
2.3
Alat untuk operasi stage
2.4
Mengkontakkan cairan-gas
2.5
Mengkontakkan cairan-cairan
2.6
Mengkontakkan cairan-padatan

9
9
9
9
10
14
15
16
17

BAB 3 KAIDAH FASA


1. Pendahuluan
2. Dasar Umum Kesetimbangan Fase
3. Kesetimbangan Cair-Cair
4. Kesetimbangan Gas-Padat
5. Kesetimbangan Cair-Padat

18
18
18
25
27
28

BAB 4 PERPINDAHAN MASSA


1. Pendahuluan
2. Diffusi molekuler dan konveksi
3. Koefisien diffusi (diffusivity)
3.1
Koefisien Diffuse dalam Fasa Gas
3.2
Koefisien Diffuse dalam Fasa Cair

29
29
29
32
34
36

BAB 5 PERPINDAHAN PANAS


1. Pendahuluan
2. Konduksi
3. Konveksi
4. Radiasi

41
41
41
43
44

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

BAB 6 PENGERINGAN ZAT PADAT


1. Pendahuluan
2. Klasifikasi
3. Pengeringan dan Aplikasinya
4. Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Laju Pengeringan

45
45
45
46
47

BAB 7 FLUIDISASI
1. Pengertian Fluidisasi
2. Hilang Tekanan (Pressure Drop)
2.1
Hilang Tekan dalam Unggun Diam
2.2
Hilang Tekan pada Unggun Terfluidakan (Fluidized Bed)
3. Kecepatan Minimum fluidisasi
4. Karakteristik Unggun Terfluidakan
4.1
Penyimpangan dari keadaan ideal
5. Evaluasi Parameter-Parameter dalam Peristiwa Fluidisasi
6. Pendekatan dalam Percobaan
7. Perhitungan Laju Fluidisasi Teoritis
7.1
Fluidisasi Minimum
7.2
Fluidisasi Maksimum
7.3
Skema Kecepatan Linier Gas Pengering
8. Phenomena Fluidisasi

50
50
52
52
54
54
55
55
56
57
57
58
58
59
60

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

BAB 1
PENGANTAR OPERASI TEKNIK KIMIA
1. UNIT OPERASI DALAM TEKNIK KIMIA
Teknik kimia didefinisikan sebagai penerapan prinsip ilmu-ilmu fisika bersama dengan prinsip
ekonomi dan hubungan antar manusia yang berhubungan langsung dengan proses dan alat proses
dimana semua itu di olah untuk mempengaruhi perubahan keadaan, energy, atau komposisi. Definisi
ini sangat tidak jelas serta mempunyai cakupan yang sangat luas. Hal yang harus ditekankan bahwa
titik berat yang dapat dipertimbangkan ditempatkan pada proses dan alat proses. Pekerjaan sarjana
teknik kimia sebaiknya disebut proses engineering.
Proses yang melibatkan perubahan komposisi kimia atau perubahan fisik pada bahan yang
yang disiapkan, diproses, dipisahkan atau dimurnikan. Pekerjaan chemical engineer meliputi
pemilihan langkah-langkah yang sesuai dalam susunan formula sebuah proses untuk menyelesaikan
operasi pembuatan bahan kimia, pemisahan, atau pemurnian. Karena setiap langkah penyusun
proses merupakan subyek variasi, proses engineer harus menentukan kondisi yang tepat untuk setiap
langkah operasi sering dengan pengembangan proses dan peralatan harus dirancang, chemical
engeneer akan bekerja sama dengan chemical dan civil engeneer.
Semua pekerjaan seseorang engeneer harus quantitatif dan matematika menjadi
fundamental tools bagi engeneer. Sayangnya, pemahaman kita akan matematika terbatas pada
domain matematika linier, dan perilaku molekul kimia jarang bersentuhan dengan aturan matematika
linier.
Perhitungan neraca massa dan energi, yang merupakan dasar untuk setiap proses studi,
biasanya dapat dinyatakan dengan ketelitian matematika linier, selama kita mengabaikan proses atom
dan nuklir. Dalam studi ekonomi untuk menentukan kondisi proses yang paling menguntungkan dan
dalam perhitungan penerimaan penjualan dan distribusi pemasukan terhadap keuntungan dan harga,
termasuk penggantian pabrik perhitungan matematika biasa digunakan.
Keberadaan sebuah proses mengacu bahwa semua material yang dihasilkan akan dibayar
pelanggan. Sehingga harus difikirkan jiumlah, kualitas dan harga yang dapat diterima pelanggan.
Bahan yang dihasilkan oleh industri kimia direncanakan dan dibuat dalam pabrik sebelum real market
dikembangkan. Untuk produk baru, beberapa perkiraan pasar harus dibuat, dan pabrik sebaiknya
diskala secara proposional.
Aspek human-relation dari praktek engineer biasanya tidak dititik beratkan pada
undergraduated training karena banyaknya teknik dan informasi teknik yang harus dipelajari. Semua
engineers harus menyadari bahwa industri dimana mereka bekerja memerlukan usaha dari tiap
orang. Informasi yang berharga dapat diperoleh dari operator. Orang yang telah lama bekerja
dibidang operasi mungkin telah mengamati perilaku, pengaruh dan metode kontrol secara detail yang
tidak dapat didekati hanya dengan penghargaan yang layak untuk semua fakta yang ada tanpa
mengindahkan sumbernya.
Proses baru atau perbaikan teknik dari proses yang ada tanpa memperhitungkan saran
operator biasanya mengalami kegagalan. Start-up pabrik baru atau instalasi yang mengalami
perubahan teknik akan jauh lebih lancar dan biaya operasinya jauh lebih murah jika personal operasi
mengerti obyeknya.
2. BEBERAPA KONSEP DASAR
Sebelum berusaha menggambarkan operasi yang melengkapi proses kimia,
mengenalkan beberapa konsep dasar yang harus dimengerti sebelum penggambaran operasi.

perlu

2.1 Kesetimbangan
Untuk semua kombinasi fase sebuah kondisi zero net interchange of properties biasa disebut
kesetimbangan. Sedangkan, perbedaan konsentrasi beberapa sifat pada kondisi yang ada dan kondisi
setimbang disebut driving force atau beda potensial, dan dia cenderung untuk mengubah sistim
menuju kondisi setimbang. Penggambaran kesetimbangan massa lebih rumit dari pada pernyataan
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

kesetimbangan suhu yang menggambarkan kesetimbangan energi molekul. Massa akan mengalir dari
daerah dengan konsentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah.
Untuk kesetimbangan antara cairan dan uapnya, kurva tekanan uap bisa digunakan. Kurva ini
menyatakan unit tekanan konsentrasi uap yang kesetimbangan dengan cairan murni ketika
keduanya pada suhu tertentu. Pada kasus campuran cairan, kesetimbangan harus ada antara fase
cairan dan fase uap, untuk campuran biner, hubungannya merupakan sebuah penggambaran
konsentrasi yang relatif sederhana atau tekanan parsial masing-masing kontituen pada fase uap yang
kesetimbangan pada campuran multi komponen antara fase cair dan uapnya atau antara dua fase
cair memenuhi kelarutan partial. Pada setiap kasus, kondisi harus disesuaikan sehingga potensial
masing-masing kontituen indentik, pada semua fase setimbang dari sistim tertentu.
2.2 Driving force
Ketika dua substance atau fase tidak pada kondisi kesetimbangan dikontakkan, ada
cenderung untuk berubah yang akan menghasilkan kondisi setimbang. Perbedaan antara kondisi yang
ada dan kondisi setimbang adalah driving force yang menyebabkan perubahan ini. Perbedaan dapat
dinyatakan dalam konsentrasi bermacam-macam sifat substance. Sebagai contoh, jika air pada fase
cair dengan konsentrasi energi rendah dikontakkan dengan uap yang mempunyai konsentrasi energi
tinggi akan dipindahkan dari fase uap ke fase cair sampai konsentrasi energi sama antara kedua fase.
Pada kasus ini jika jumlah cairan besar dalam perbandingan dengan uap, kedua fase menjadi satu
dengan kondensasi uap karena energinya dipindahkan ke air dingin. Campuran akhir akan menjadi
sejumlah air fase cair dengan jumlah yang meningkat pada suhu yang lebih tinggi dari pada kondisi
awalnya, dan pengurangan jumlah uap. Kombinasi ini mencapai kesetimbangan sangat cepat pada
suhu dimana tekanan uap air sama dengan tekanan fase uap.
Ada tipe driving force yang terjadi ketika sebuah larutan aceticacid dan air dikontakkan
dengan isopropyl ether. Ketiga komponen akan terpisah dalam dua fase cair, masing-masing berisi
sebagian dari ketiga komponen. Konsentrasi masing-masing komponen pada tiap fase harus diketahui
untuk menggambarkan kondisi setimbang jika kedua fase yang tidak pada kesetimbangan
dikontakkan bersama-sama. Perpindahan analog dengan elektris dan energi thermal akan terjadi.
Hasilnya merupakan perpindahan fase isopropyl ether kedalam air acid dan perpindahan air dan asam
kedalam fase eyher sampai potensial tiap konstituen sama pada kedua fase. Tidak ada pernyataan
yang sederhana untuk potensial kimia, sehingga jumlah perunit volume, atau konsentrasi massa pada
sebuah fase biasanya dirancang. Konsentrasi massa tidak terdefinisi secara tegas, tetapi fungsi
aktifitas, fugasitas dan energi bebas gibbs yang lebih akurat dan komplek memerlukan pengetahuan
tentang kimia fisika yang lebih advanced.
Pada contoh sebelumnya konsentrasi massa komponen berbeda pada tiap fase pada
kesetimbangan. Pada semua kasus yang dibicarakan di atas, pontensial (konsentrasi) substance yang
ada atau campuran bila dibandingkan dengan potensial pada kondisi setimbang menghasilkan sebuah
perbedaan potensial atau driving force yang cenderung mengubah kondisi sistem yang menuju
kondisi setimbang. Driving force, atau perbedaan potensial energi cenderung menghasilkan
perubahan pada kecepatan yang secara langsung proposional dengan perbedaan dari potensial
keseimbangan.
2.3 Pemisahan
Pemisahan sebuah larutan atau campuran homogen yang baru, memerlukan preferental
transfer of constituen untuk fase kedua yang dapat dipisahkan dari campuran residual. Sebagi
gambaran adalah dehumidifikasi udara dengan mengembunkan atau membekukan sebagian
moisture, atau menggunakan solvent cair yang tidak larut pada bahan tidak terekstrak. Dua fase
padat mungkin sangat sulit untuk dipisahkan, sementara itu cairan, gas, atau padatan biasanya
mudah dipisahkan. Sedangkan dua cairan yang mempunyai densitas sama dan tidak ada gaya
interfasial dapat menghambat semua pemisahan yang dapat dijalankan.
2.4 Pola aliran
Pada berbagai operasi untuk memindahkan energi atau material dari satu fase ke fase lain,
kedua aliran perlu dikontakkan agar terjadi perubahan menuju kesetimbangan energi atau meterial
atau keduanya. Perpindahan dapat dicapai dengan kedua stream mengalir pada arah yang sama
(courrent flow) dan jika ini digunakan, batasan jumlah perpindahan yang dapat terjadi ditetapkan
oleh kondisi setimbang yang akan dicapai antara dua stream yang dikontakkan. Jika kedua stream
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

yang dikontakkan dialirkan pada arah yang berlawanan (counter-courrent flow) perpindahan material
atau energi dengan jumlah yang lebih besar mungkin terjadi.
Sebagai gambaran, jika sebuah stream merkuri panas dan stream air dingin dibiarkan
mencapai kesetimbangan thermal, suhu akhir dapat diperkirakan dengan neraca panas yang
mencakup jumlah relatif stream, suhu awal, dan kapasitas panas. Jika stream mengalir simultan dari
titik, pemasukan yang sama menuju titik pengeluaran yang sama, akan dicapai dengan suhu
kesetimbangan tertentu. Dan modelnya ditunjukkan pada Gambar 1.1a. jika stream dibuat mengalir
pada arah berlawanan, dengan membiarkan merkuri mengalir kebawah melalui aliran air yang naik
keatas, memungkinkan untuk memasukan aliran merkuri panas untuk meningkatkan suhu aliran air
dingin. Seperti ditunjukkan Gambar 1.1b. prinsip counter flow digunakan operasi teknik kimia untuk
memperoleh perpindahan yang lebih besar.
2.5 Operasi kontinyu dan batch
Dalam operasi proses kimia, akan lebih ekonomis untuk melakukan proses kontinu dan
steady, dengan minimum gangguan dan shut down. Hal ini tidak selalu dapat dilakukan pada operasi
skala kecil atau dalam kondisi yang sangat korosif yang mendorong seringnya dilakukan perbaikan.
Karena produktifitas yang lebih besar untuk peralatan yang beroperasi secara kontinyu dan beda unit
cost yang lebih rendah, biasanya menguntungkan mengoperasikan alat proses secara kontinyu. Hal
ini berarti waktu bukan sebuah variabel dalam analisis untuk proses tersebut, kecuali selama start up
dan shut down. Kecepatan waktu transfer dan reaksi penting dalam menentukan ukuran dan
kapasitas alat, tetapi untuk kerja diharapkan sama sepanjang waktu pada kondisi operasi yang sama.
Ketika sejumlah kecil material dilakukan pemprosesan sering kali dilakukan dengan
memasukkan seluruh material kedalam alat proses, diproses ditempat dan mengeluarkan produk
yang dihasilkan. Proses ini disebut proses batch. Pada operasi batch hampir semua cyele merupakan
start up transiennt dan shut down transiennt. Pada operasi kontinyu, waktu selama start up
transiennt berlangsung mungkin sangat pendek dibandingkan dengan operasi stedy state. Analisis
transiennt suatu operasi batch biasanya lebih kompleks dari pada operasi steady state. Perbedaan
analisis operasi transiennt dengan operasi steady state hanya pada penambahaan variabel waktu.
Variabel-variabel ini mempersulit analisis tidak merubahnya secara fundamental.
3. UNIT OPERASI (OPERASI TEKNIK KIMIA)
Proses kimia terdiri dari bermacam rangkaian langkah. Dalam perancangan sebuah proses,
setiap langkah yang digunakan dapat dipelajari sendiri jika langkah-langkah tersebut dikenal.
Beberapa langkah adalah reaksi kurva dan yang lain adalah perubahan-perubahan fisik. Konsep unit
operasi dalam teknik kimia didasarkan pada filosofi bahwa rangkaian langkah dapat direduksi menjadi
operasi atau reaksi sederhana, yang identik dalam fundamental material yang diproses. Prinsip ini
yang menjadi dikenal para pendahulu selama perkembangan industri kimia, yang pertama kali
dikemukakan oleh A.D.Little pada tahun 1915.

Any chemical process, on whatever scale conducted, may be resolved into a coordinated
series of what may be termed unit actions,as pulverizing, mixing, heating, roasting, absorbing,
condensing, lixiviating, precipitating, crystallzing, filtering, dissolving, electrolyzing ada so on. The
number of these basic unit operations is not very large and relatively few of tjem are involved in any

dikembangkan oleh sarjana teknik mesin. Lewat industri, seseorang menemukan contoh unit operasi
dalam pemanfaatannya pada persoalan di bidang teknik lain. Sarjana teknik kimia harus dapat
mengoperasikan bermacam-macam unit operasi atas material dengan beragam kondisi fisik dan
properti kimia pada kondisi tekanan dan suhu tertentu.
3.1 Integrasi unit operasi
Pada pengolahan kompleks, interaksi dari setiap langkah mendorong engineer untuk
mempertimbangkan keseluruhan proses, atau sistem sebagi satu kesatuan. Konsep tradisional dari
menjelaskan masing-masing unit operasi sebagai suatu paket dan dijelaskan secra terpisah dan
jarang dijelaskan secara overlap. Korelasi ini menjadi perlu jika dilihat pada monograph beberapa unit
operasi secara lengkap tanpa memperhatikan pengaruh fakta lainnya. Secara spesifik, perpindahan
panas yang merupakan sistim alir tidak dapat dinyatakan secara lengkap tanpa pertimbangan
mekanika fluida. Perpindahan massa tidak dapat dipisahkan dari perpindahan panas dan menikan
fluida.
3.2 Analisa unit operasi
Unit operasi dapat dianalisis dan dikelompokkan mengunakan satu dari tiga metode yang
mungkin digunakan. Sebuah unit operasi dapat dianalisa menggunakan simple physical model yang
menghasilkan kembali aksi dari operasi yang dilakukan dengan mempertimbangkan peralatan yang
digunakan untuk operasi, atau dianalisis dengan pernyataan matematika yang menggambarkan aksi
dan diuji menggunakan data eksperimen.
Physical model merupakan model yang dikembangkan dari studi basic physical mechanism,
dan bersifat ideal sehingga perlu beberapa koreksi untuk penerapannya pada operasi nyata.
Pengelompokan dapat juga diselesaikan dengan pengelompokan peralatan yang sama atau
yang memeiliki kesamaan fungsi. Operasi dapt juga dikelompokkan dalam kesamaan persamaan
matematika dasar operasi. Metode ini tidak begitu memuaskan karena adanya sifat nonliniaritas dan
juga adanya keadaan batas dari perubahan satu phase ke phase yang lain. Physical model dari
operasi fundamental merupakan pendekatan yang paling memuaskan. Persamaan dengan
pendekatan ini memberikan dasar yang paling baik untuk memahami operasi.
3.3 Dua karakteristik Physical models
Model yang secara luas dipakai untuk unit operasi adalah alat dengan dua stearm, atau
phase, dibawa bersama-sama untuk mencapai kesetimbangan, kemudian dipisahkan. Diasumsikan
bahwa stream yang keluar pada kesetimbangan, dan model ini disebut stage kesetimbangan. Pada
model lain untuk perpindahan properti antara dua stream, digambarkan pembawa properti, evaluasi
angka dan kecepatan migrasi, dan kecepatan transfer antara dua stream pada kontak yang kontinyu.
Kecepatan perpindahan ini dikalikan dengan waktu kontak menghasilkan pernyataan jumlah
perpindahan. Kebanyakan unit operasi dapat dipelajari dalam kedua basis. Banyak diantaranya
dilakukan dalam peralatan kontak yang kontinyu dan kadang dalam peralatan stage.
3.4 Operasi stage.
Model stage setimbang biasanya dipakai untuk operasi stage. Dua arus masuk stage dan dua
arus meninggalkan stage pad kondisi kesetimbangan. Pada Gambar 1.1 digambarkan dua aliran
masuk (merkuri dan air) kontak secara kontinyu. Panas ditransfer secara kontinyu dari arus panas ke
arus dingin. Jika aliran panas dan dingin bercampur dengan baik dan diumpankan ke settler, aliran
keluar akan mempunyai suhu yang sama dan suhu kesetimbangan dapat dihitung dengan neraca
massa dan neraca panas.
3.5 Operasi kecepatan/rate operation
Unit operasi yang melibatkan countinuons contact tergantung pada kecepatan transfer,
sehingga disebut rate operation. Perpindahan sejumlah besar material mengikuti pernyataan
matematika dasar sebagai fungsi gradien konsentrasi :

2
--- = ----
x2

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

Dengan

= konsentrasi yang dipindahkan x = jarak terukur dalam arah perpindahan


= waktu
= konstanta propersional sistem
Dan persamaan di atas disebut diffusion equation.
Pada kasus yang paling sederhana, kecepatan perpindahan harganya konstan dengan waktu
dan posisi dalam suatu sistem. Driving force dapat diasumsikan konstan dan terdistribusi pada path
dengan panjang dan area yang tetap. Sifat fisis dari path dianggap konstan agar nilai faktor juga
konstan. Kecepatan perpindahana dikenal dengan hukum ohm :

Driving force/unit distance


Rate of transport = --------------------------------------Resitance/unit of path
Untuk rate operation, analisis kasus didasarkan pada driving force yang menyebabakan perubahan,
waktu selama driving force bekerja, dan jumlah material saat bekerja. Persamaan difusi di atas
menyatakan konisi transient dari sejumlah sifat yang dipengaruhi driving force. Dibidang teknik kimia,
massa, momentum dan energi termal merupakan tiga hal yang sering terlibat dalam fenomena
perpindahan.
Pada semua kasus, konsentrasi menyatakan jumlah properti per unit volume fase yang
diproses. Jumlah yang dipindahkan dapat dinyatakan pada unit pengukuran absolut, seperti British
thermal unit (BTU) atau point mols.
3.6 Operasi unsteady state
Persamaan difusi hanya dapat di aplikasikan pada perpindahan satu arah dan merupakan
fungsi waktu, padahal perpindahan mungkin terjadi lebih dari satu arah. Penyelesaian menyeluruh
memerlukan keadaan batas dan interaksi variabel.
3.7 Perkembangan umum
Pemahaman prinsip fisik sebuah operasi dan formulasi prinsip ke dalam pernyataan
matematika merupakan syarat pertama untuk pengaplikasikan prinsip-prinsip unit operasi.
Permasalahan yang sama dapat didiskusikan dengan design engineer penentuan spesifikasi peralatan,
operating engineer dalam pemeriksaan untuk kerja peralatan, atau engineer lain dalam melalukan
perbaikan kualitas maupun kuantitas, sehingga penyelesaian matematika atau grafik untuk
mengetahui komposisi, jumlah suhu atau jumlah stage dapat dilakukan.
Proses terbaik dapat dirancang dengan basic kimia, kinetika dan termodinamika. Perancangan
alat melibatkan engineer dari berbagai disiplin ilmu tidak hanya chemical engineer saja. Obyek dalam
engineering adalah akumulasi keuntungan dari operasi. Keuntungan terbesar, setelah semua cost
dihitung memerlukan eksploitasi semua faktor teknik yang terlibat,hubungan antar manusia dalam tim
produksi, pengetahuan yang akurat tentang jumlah produk yang dapat dijual untuk keuntungan
maksimal.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

BAB 2
OPERASI STAGE
1. PENDAHULUAN
Hampir semua proses kimia memerlukan pemisahan fase padat, cairan, gas menjadi
komponen-komponennya. Pemisahan semacam itu sering kali dilakukan dengan mempertemukan
fase satu dengan fase yang lainnya. Dua fase yang terjadi kemudian dipisahkan dan diproses lebih
lanjut.
Bahan mentah, arus intermediate, hasil akhir sering kali dimurnikan dengan menggunakan
proses pemisahan. Misalnya, dalam pembuatan es kering, karbon dioksida diambil dari campuran
bersama udara dengan mempertemukan campuran gas itu dengan suatu cairan (seperti larutan
diethanolamine) yang melarutkan karbon dioksida tetapi tidak memerlukan udara. Kemudian karbon
dioksida murni diperoleh kembali hanya dengan memanaskan larutan amin.
Istilah proses pemisahan meliputi unit operasi yang menyebabkan pemisahan komponenkomponen dengan perpindahan massa diantara fase-fase. Pemisahan seluruh fase, seperti dalam
penyaringan, dpat juga diikutsertakan. Namun disini hanya akan dibicarakan operasi-operasi yang
menyebabkan terjadinya pemindahan komponen diantara fase-fase. Dalam proses pemilihan unit
operasi yang harus digunakan tergantung pada sifat-sifat fisis campuran yang akan dipisahkan.
Alat yang dipakai untuk operasi perpindahan massa tergantung pada fase-fase yang harus
diproses. Kadang kala, fase-fase itu berulang kali dipertemukan dan kemudian dipisahkan ketika
lewat melalui alat itu.
Stage seimbang adalah model fisis yang digunakan untuk menganalisa operasi perpindahan
massa, dalm stage ini secara bergantian fase dipertemukan dan dipisahkan beberapa kali. Maka,
istilah operasi stage menyatakan bahwa proses pemisahan yang dapat dilukiskan dengan model stage
seimbang.
Dalam alat jenis lain, dua fase secara terus menerus dipertemukan sedemikian hingga sejauh
mana perpindahan massa terjadi sangat tergantung pada kecepatan perpindahan dan pad waktu
kontak. Dalam hal ini, model fisis harus mencakup factor-faktor kecepatan perpindahan massa dan
waktu untuk kontak operasi perpindahan massa dianalisa dengan menggunakan model continous

contact.

Perhitungan dasar diperlukan untuk merancang alat bagi berbagai operasi stage didasarkan
pada konsep yang sama. Disini akan ditinjau konsep umum yang dipakai dalam perancangan proses
pemisahan stage ganda. Jika macam-macam operasi stage berbeda, masing-masing dibicarakan
tersendiri, tetapi bila mungkin operasi ditinjau sebagai satu kesatuan.

2. OPERASI PERPINDAHAN MASSA


Bila dua fase yang mempunyai komposisi berbeda dikontakkan, dapat terjadi perpindahan
komposisis dari satu fase ke fase yang lainnay, dan juga sebaliknya. Ini merupakan dsra fisis operasi
perpindahan massa. Jika dua fase dibiarkan berkontak cukup lama, akan dicapai setimbang, dan tak
akan terjadi perpindahan netto komponen-komponen diantara fase-fase itu. Kejadian yang paling
banyak dijumpai yaitu perpindahan massa dengan dua fase hanya sebagian saja melarut sempurna
(bercampur sempurna), sehingga pad kesetimbangan masih ada dua fase dapat dipisahkan satu dari
yang lain. Biasanya dua fase ini mempunyai komposisi yang berbeda dari satu dengan lainnya dan
juga berbeda dari komposisi-komposisi dua fase yang semula dikontakkan. Jadi jumlah relative
komponen-komponen yang terpindahkan diantara fase-fase itu berbeda, sehingga dicapai pemisahan.
Pada kondisi tertentu perulangan kontak dan pemisahan fase dapat memberikan pemisahan
komponen yang hampir sempurna. Komposisi-komposisi yang tak sama pada fase kesetimbangan
merupakan dasar fisis untuk proses pemisahan dengan menggunkn alat stage ganda seperti terlihat
pada Gambar 2.1.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

2.1 Proses pemisahan


Bila dihadapkan kepda maslah pemisahan komponen-komponen dari suatu campuran homogen,
kita menggunkan perbedaan sebab zat penyusun campuran untuk mempengaruhi pemisahan.
Berbagai sifat kimia dan fisis dari zat penyususn campuran diselidiki untuk mengetahui komponenkomponen itu, sebab semakin besar beda sifat-sifatnya lazimnya makin mudah dan makin ekonomis
pemisahannya. Sudah tentu kita harus memikirkan factor-faktor lainnya untuk sampai pada pemilihn
proses pemishan, persyaratan tenaga, biaya dan ad tidaknya proses kimia, semuanya memberikan
andil dalam menentukan proses pemisahan yang secara ekonomis paling menarik.
Unit operasi bersangkut paut dengan proses pemisahan yang tergantung pda perbedaan
sifat-sifat fisis, bukan pada sifat kimia. Prosaes-proses semacam itu tergantung baik pada perbedaan
komposisi dari fase-fase pad kesetimbangan ataupun pad perbedan kecepatan perpindahan massa
dari zat penyusun suatu campuran. Disini akan dibicarakan proses-proses pemisahan yang
menggunakan ke dua dasar fisis tersebut, terutama dititik beratkan pada pemisahan yang didasarkan
pada perbedaan komposisi dari fase-fase yang setimbang.
2.1.1 Distilasi
Proses pemisahan yang paling banyak digunakan dalam industri kimia adalah distilasi. Unit
operasi ini disebut juga sebagi distilasi fraksional. Pemisahan zat didasrkan pada perbedaan
volatilitas. Dalam distilasi, fase uap berkontak dengan fase cair, dan massa dipindahkan baik dalam
cairan ke uap maupun dari uap ke cairan. Umumnya cairan dan uap mengandung komponen yang
sama tetapi berbeda jumlah relatifnya. Cairan pada titik didihnya dan uap setimbang dengannya pada
titik embunnya. Massa secara serta merta dipindahkan dari cairan dengan penguapan dan dari uap
dengan pengembunan. Pengaruh neto adalah bertambahnya konsentrasi dari komponen yang lebih
volatile dalam uap dan bertambahnya komponen kurang volatile dalam cairan.
Peguapan dan pengembunan melibatkan panas laten penguapan dari komponen-komponen,
maka dari itu pengaruh panas harus ditinjau dalam perhitungan distilasi. Dalam larutan ideal (seperti
campuran benzene dan toluene), volatilitas dapat dihubungkan langsung dengan tekanan uap
komponen murni dari masing-masing komponen. Dalam larutan bukan ideal (seperti larutan etanol
dan air), tak ada hubungan yang sederhana. Distilasi banyak digunakan untuk memisahkan campuran
cairan menjadi komponen-komponen yang sedikit banyak murni. Karena distilasi melibatkan
penguapan dan pengembunan campuran, maka diperlukan banyak tenaga.
Keuntungan besar daru distilasi yaitu tidak memerlukan komponen tambahan untuk
mempengaruhi pemisahan. Akan terlihat nanti bahwa banyak proses pemisahan komponen lainnya,
yang kemudian harus dihilangkan dalam langkah pemisahan berikutnya. Suhu dan volume bahan
yang didihkan tergantung pada tekanan. Mungkin digunakan tekanan tinggi untuk memperkecil
volume dan atau menaikkan suhu untuk mempermudah pengembunan, mungkin diperlukan tekanan
rendah untuk menurunkan titik didih dibawah titik dekomposisi thermal.
Pengunaan distilasi sangat bermacam-macam. Oksigen murni, yang digunakan dalam pembuatan
baja, dan juga bidang kedokteran, dibuat dengan mendistilasi udara yang telah dicairkan. Minyak
bumi mentah mula-mula dipisahkn menjadi fraksi-fraksi (seperti gas ringan, nafta, bensin, kerosin,
minyak bakar, minyak pelumas dan aspal). Dalam kolom distilasi dengan ukuran besar. Fraksi-fraksi
ini kemudian diproses lebih lanjut menjadi hasil akhir, dan distilasi digunakan dalam tahapan
intermediet pengolahan hasil akhir. Distilasi lebih sering dilakukan dalam multistage equipment;
continous-contact equipment juga digunakan.
2.1.2 Absorpsi dan Desorpsi Gas
Absorbsi gas melibatkan perpindahan komponen gas yang dapat larut ke dalam absorben cair
yang tidak volatile. Desorpsi adalah kebalikannya, pemindahan sebuah komponen didalam cairan
yang dikontakkan dalam gas.
Pada kasus absorbsi gas yang paling sederhana, tidak satu pun dari absorben cair menguap, dan
gas terdiri dari satu komponen yang dapat larut. Sebagai contoh ammonia diserap dari campuran
udara-ammonia dengan cara mengkontakkan gas dengan air pada temperatur kamar. Ammonia
dapat larut dalam air, tetapi udara hampir tidak larut. Air tidak menguap cukup banyak pada suhu
kamar. Sebagai hasil, perpindahan massa hanya pada ammonia dari fase gas ke fase cair.
Konsentrasi ammonia di fase cair meningkat sampai kadar ammonia terlarut di fase cair setimbang
dengan konsentrasi ammonia di fase gas biasanya tidak terdiri dari komponen yang sama. Pengaruh

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

10

panas dalam absorpsi timbul karena panas larutan dari gas yang terabsorpsi. Berlainan dengan panas
penguapan dan pengembunan yang terlibat dalam distilasi.
Absorpsi melibatkan penmbahan komponen pada system (yaitu,absorpsi cair). Kebanyakan,
solute harus diambil dari absorben. Pengambilan ini mungkin memerlukan kolom distilasi, desorber
atau proses pemisahan lainnya.
Desorpsi atau stripping adalah kebalikan dari absorpsi. Dalam desorpsi ini gas yang dapat larut
dipindahkan dari cairan ke fase gas, sebab konsentrasi dalan cairan lebih besar dari pada yang ada
dalam keadaan yang setimbang dengan gas. Misalnya ammonia dapat di strip dari larutan dalam air
dengan menggelembungan udara segar melewati larutan itu. Udara yang masuk tidak mengandung
ammonia sedang dalam cairan ada ammonianya, jadi perpindahan berlangsung dari cairan ke gas.
Absorpsi dan stripping banyak digunakan dalam industri kimia. Asam hidro chloride dibuat dengan
absorpsi gas hidro choride dalam air, fermentasi aerobic Lumpur dalam saluran buangan memerlukan
absorpsi udara. Karbonasi minuman segar dengan absorpsi karbon dioksida, desporsi terjadi jika botol
dibuka dan tekanan berkurang. Baik absorpsi maupun stripping dilakukan dalm alat continouscontact.
2.1.3 Ekstraksi Cair-Cair
Kadang campuran cairan dapat dipisahkan dengan mengontakkna dengan cairan pelarut ke dua.
Komponen-komponen dari campuran dapat larut bermacam-macam dalam cairn pelarut. Idealnya
komponen yang harus diekstraksi dapat larut dalam pelarut dan komponen-komponen lainnya tidak
dapat larut. Jadi solute merupakan satu-satunya komponen yang dapat dipindahkan dari campuran
semula ke fase pelarut. Campuran pelarut menjadi ekstrak karena telah mengambil solute. Dalam
praktek, semua komponen kiranya dapat larut, dan pemisahan hanya mungkin bila kelarutannya
cukup berbeda. Banyak dijumpai, komponen yang tidak terekstraksi harus tidak larut supaya
menghasilkan dua fase yang dapat dipisahkan.
Ekstraksi cair-cair juga disebut ekstraksi (memakai) pelarut. Dasar-dasarnya sebagai berikut
dengan mengambil contoh sistem tiga komponen : satu solute, satu pelarut, dan pelarut kedua.
Contoh disini disederhanakan sekali dan akan dijelaskan lanjut nanti. Pemisahan satu komponen dari
larutan homogen dilakukan dengan menambahkan zat lain yang tak dapat larut, pelarut, dan dalam
pelarut ini zat yang diinginkan dari larutan, solute, akan cenderung larut, dan akan mendifusi
kedalam pelarut itu dengan kecepatan tertentu sampai dalam masing-masing fase solute mencapai
kesetimbangan. Misalnya, asam asetat dapat dipisahkan dari larutan air dengan mengkontakkan
dengan pelarut isopropyl ether. Walaupun air sedikit larut dalam ether tetapi merupakan komponen
rafinat tak terekstraksi yang utama.
Ekstraksi memakai pelarut dipakai untuk menghilangkan komponen-komponen yang tidak
diinginkan dari minyak pelumas dan fraksi-fraksi minyak mentah lainnya, untuk memisahkan niobium
dari tantalum, untuk membuat asam posphat pekat dan untuk keperluan-keperluan yang banyak
sekali. Dipakai baik alat stage ganda maupun alat kontak kontinyu. Kebanyakan masih perlu
memisahkan ekstrak yang diperoleh menjadi komponen-komponennya.
2.1.4 Ekstraksi Cair-Padat
Komponen-komponen dari suatu fase padat dapat dipisahkan dengan secara selektif melarutkan
bagian dari zat padat itu yang dapat larut memakai pelarut yang cocok. Operasi ini juga disebut
leaching atau washing. Zat padat itu harus dihancurkan sampai halus sehingga pelarut cair dapat
kontak dengan semuanya. Biasanya komponen yang diinginkan dapat larut, dan sissanya dari zat
padat tidak dapat larut. Kemudian solute harus diambil kembali dari larutan ekstrak dalam tahap
pemisahan selanjutnya.
Contoh sehari-hari dari ekstraksi cair-padat adalah membuat minuman kopi. Disini zat dalam
tepung kopi yang dapat larut dipisahkan dari sisanya dengan melarutkanya dalam air panas. Jika
dibiarkan cukup lama, larutan kopi akan mencapai kesetimbangan dengan sisa zat padat. Larutan
yang terjadi dipisahkan dari sisa tepung kopi.
Ekstraksi cair-padat juga digunakan dalam industri dalam pembuatan kopiinstant yaitu
mengambil kembali kopi yang larut. Pemakaian dalam industri lainnya yaitu ekstraksi minyak dari
kacang dengan menggunakan hexan sebagai pelarut dan pengambilan kembali uranium dari bijih
mutu rendah dengan ekstraksi memakai asam sulfat atau larutan karbonat natrium. Karena salah
satu fase adalah padat yang tak dapt mengalir seperti fluid, maka diperlukan alat khusus untuk
ekstraksi cair-padat.
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

11

2.1.5 Adsorbsi
Adsorpsi adalah proses perpindahan zat dari suatu fluid kepermukaan suatu fase padat. Supaya
pemisahan sempurna, zat yang teradsorpsi harus diambil dari zat padat, fase fluid dapat gas maupun
cairan. Jika beberapa zat teradsorpsi, sering kali dapat juga memisahkan menjadi komponenkomponen yang relatif murni.
Banyak adsorben berupa adsorben padat. Istilah adsorben biasanya digunakan bagi zat padat
yang menyerap solute dipermukaannya dengan physical force, misalnya adsorpsi uap organik dengan
arang. Fraksi-fraksi lebih ringan dari gas akan dipisahkan dengan menggunakan bed adsorben yang
bergerak. Kebanyakan proses industri lainnya mengunakan fixed bed dan proses batch atau siklis
bukannya alat stage ganda sebab sulit mengerakkan zat padat.
Ayakan molekul adalaah adsorben khusus yang dapat digunakaan untuk memisahkan campuran
karena perbedaan ukuran molekul, polaritas atau kejenuhan ikatan karbon. Misalnya molekul air
relatif kecil sangat polar, jadi cenderung lebih teradsorpsi oleh adsorben ayakan molekul. Jadi
adsorben-adsorben ini berguna dalam mengeringkan gas dan cairan. Ayakan molekul digunakan
untuk memisahkan prafui nermal dari arus hidrokarbon dalam kilang minyak untuk membuat
detergen biodegradable.
Yang sangat erat kaitannya dengan adsorpsi adalah proses pemisahan yang menahan solute
dalam zat padat dengan berbagai cara. Salah satu proses itu adalah ion exchange. Dalam proses ini
solute ditahan karena reaksi kimia dengan dammar padat ion exchange. Dalam proses ini, ion-ion
dalam larutan dapat diambil dengan proses ini. Banyak digunakan untuk membuat air yang sangat
murni. Pemakaian lainnya adalah mengambil kembali antibiotika dari kaldu fermentasi dan pemisahan
unsur-unsur tahan yang jarang ada.
Clathration adalah gejala fisis yang telah dipakai untuk memisahkan campuran berdasarkan
bangun molekul. Senyawa clathration adalah gejala fisis yang telah dipakai untuk memisahkan
campuran berdasarkan bangun molekul. Senyawa clathrate padat menarik dan menahan molekulmolekul yang bangunya tertentu. Misalnya proses industri yang memisahkan paraxylen dari metaxylene dengan menjebak para xylene dalam senyawa clathrate. Kedua senyawa ini mempunyaim sifat
fisis dan kimia yang hampir sama sehingga tidak dapat dipakai proses pemisahan secara
konvensional. Senyawa clathrate dapat dianggap sebagai adsorben jenis khusus.
Damar ion-change , ayakan molekul dan senyawa clathrate merupakan senyawa relatif mahal
dibandingkan dengan adsorben konvensional seperti arang dan gas silika. Maka adsorben khusus
digunakan dalam pemisahan dan tak dapat di lakukan dengan cara-cara konvensional. Proses
pemisahan khusus ini dilakukan dengan proses batch dalam fixed-bed adsorber, bukannya dalam
alat stage dan aliran kontinu.
Operasi perpindahan massa yang melibatkan perpindahan ke fase padat kadang kala disebut
sorption prosess , termasuk juga semua jenis gaya-gaya tarik zat padat.
Campuran beberapa solute yang dapat diadsorpsi dapat dipisahkan dengan menggunakan fixed
bed dari adsorben,mula-mula sedikit campuran diumpankan ke bed, dalam bed ini diadsopsi
sempurna dekat saluran masuk. Kemudian saluran kontinu dari pelarut dilakukan lewat bed. Sebagian
campuran solute didesorpsi dan keluar bersama pelarut. Kecepatan dari masing-masing solute yang
melewati bed tergantung pada adsorpsi ketimbangan pada zat padat.jika suatu komponen terlalu
berat tertarik oleh adsorbent akan pelan-pelan melewati bed, sedangkan komponen yang tk erat
melekat bergerak cepat melewati dan meninggalkan bed. Jadi komponen-komponen mengalir
meninggalkan bed pada waktu yang berbeda-beda dan dengan demikian dapat terpisah. Proses
pemisahan ini disebut Chromatografi. Pemisahan secara chromatografi banyak digunakan untuk
analisis kimia dengan sampel kecil. Penggunaan besar-besaran dalam industri terbatas. Pemisahan
unsure tanh yang jarang secra ion exchange tersebut diatas merupakan contoh pemisahan secara
chromatografi.
2.1.6 Pemisahan dengan membrane
Beberapa proses pemisahan melibatkan perpindahan massa melalui membran plastis tipis
walaupun operasi ini penggunakannya relative terbatas, tapi menunjukkan harapan untuk masalah
pemisahan yang khusus. Teori tentang pemisahan dengan membrane tidak ditinjau sepenuhnya tapi
sebagai gambaran, pemisahan ini dianggap ada hubungannya dengan ukuran molekul. Molekulmolekul yang kecil mudah lewat melalui pori-pori yang kecil dari membrane. Jadi, jika digunakan gaya
dorong untuk mendorong molekul-mplekul melewati membrane molekul-molekul secara selektip akan
terpisah. Ada juga molekul-molekul yang besar melewati membrane, jadi pemisahan tidak sempurna.
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

12

Dialysis adalah proses pemisahan dengan massa dipindahkan melintasi membrane karena gaya
dorong gradien konsentrasi. Dalam industri hidroksida natrium dipisahkan dari larutan air memakai
selusosehemi dalam pembuatan rayau viskus. Larutan mengalir melewati salah sisi membrane dan air
murni mengalir pada sisi lainnya dari membrane. Hidroksida natrium didorong melewati membrane
karena perpindahan konsentrasi diantara larutan dan air murni, tetapi semiselulosa dalam suspensi
koloid dalam larutan dan terlalu besar untuk lewat melalui pori-pori membrane. Dialysis juga dipakai
untuk mengambil kembali asam sulfat dari pemurnian tembaga yaitu dari cairan buangan dan dalam
pemurnian darah dalam ginjal tiruan.
Elektrodialysis memakai beda potensial listrik sebagai gaya dorong untuk ion-ion dalam larutan
ion positif lewat melalui membran tertentu ketika ditarik keterminal negatif, dan ion-ion negatif
bergerak kearah yang berlawanan melalui membrane keterminal positif. Dengan cara ini, baik ion
positif maupun negatif dapat diambil. Elektrodialysis dipakai untuk mengambil kembali asam buangan
dan menghilangkan garam dalam air sumur yang masin. Dapat juga digunakan dalam pemurnian air
laut jika biaya membrane dan tenaga dapat diperkecil.
Dialysis dan elektrodialisis keduanya melibatkan perpindahan massa melintasi suatu membrane
dari satu fase ke fase kedua. Kedua fase sama sekali tak saling melarut, jadi membrane juga
berpindah mencegah kedua fase bercampur.
Proses pemisahan membrane yang akhir-akhir ini dikembangkan menggunakan beda tekanan
untuk memaksa molekul-molekul pelarut melalui melewati membrane, sedangkan molekul molekul
solute tertinggal. Proses ini tidak melibatkan perpindahan massa antara fase-fase. Lebih mirip dengan
penyaringan yaitu zarah-zarah padat yang tersuspensi dipisahkan dari caiaran dengan memaksa
campuran lewat melalui medium saringan porus sehingga cairan lewat melalui saringan dan zat
padatnya tertahan. Pemakaian membrane dapat juga berpindah sebagai penyaring larutan homogen
yang tak dapat dipisahkan dengan saringan biasa. Berdasarkan hal ini prose itu disebut ultra filtrasi.
Tekanan yang harus lebih besar dari tekanan osmose kadng kala proses itu disebut proses reverse
osmosis.

Disamping molekul-molekul yang besar, gara ion-ion ionik dengan berat molekul kecil dapat
dipisahkan jika dipakai membrane ionik yang cocok. Muatan membrane bertindak mencegah lewatnya
ion-ion bermuatan, sehingga hanya pelarut yang dapat lewat. Kebalikan osmose digunakan untuk
mengambil air murni dari air laut secara besar-besaran.
Difusi gas adalaah proses pemisahan yang mirip dengan ultra filtrasi, walaupun mekanisme fisis
berbeda. Dalam difusi gas dan campuran gas dipaksa melalui sekat logam yang porous. Komponen
gas dengan berat molekul kecil mengalir lebih cepat sehingga gas diseberang sekat lebih kaya akan
komponen itu. Hanya fraksi gas yang mengalir pada sekat yang lewat misalnya yang tak mengandung
lagi komponen yang ringan, diambil untuk proses selanjutnya. Biaya tenaga untuk kompresi gas
sangat tinggi, sehingga difusi gas hanya salah satu pilihan dalam industri : pemisahan uranium-235
dari uranium-238. berjuta-juta dolar untuk difusi gas dalam pemisahan ini untuk menghasilkan U-235
yang sudah diperkaya bagi bahan baker reactor nuklir.
2.1.7 Proses pemisahan lainnya
Beberapa operasi penting yang melibatkan pemisahan komponen-komponen dari campuran,
tetapi operasinya tidak seperti proses pemisahan biasa, dapat dikelompokkan menjadi :
Penguapan/evaporation, kristalissasi/crystallization dan pengeringan/drying melibatkan
perpindahan massa dan panas secara simultan. Dalam penguapan larutan cair dipekatkan dengan
penguapan sebatgai pelarutnya. Keperluan panas banyak sebab panas laten dari penguapan pelarut
harus disediakan. Penguapan banyak dipakai di industri jika harus memekatkan larutan. Misalnya
distilasi air laut adalah proses penguapan untuk memperoleh air yang dapat diminum.
Jika suatu larutan diuapkan sampai jenuh dengan solute, penguapan atau pendinginan
selanjutnya menghasilkan endapan kristal padat. Ini merupakan dasar fisis untuk kristalisasi, yaitu
unit operasi yang dipakai untuk memisahkan solut dari larutan. Kristalisasi dalam industri digunakan
untuk membuat garam-garam anorganik. Kristalisssasi dapat juga digunakan untuk memisahkan
campuran garam dengan kristalisasifraksional.
Pengeringan/drying. Memisahkan cairan dari zat padat dengan menguapkan cairan itu.
Dehumidifikasi/dehumidification memisahkan komponen uap dari fase gas dengan
mendinginkan gas sampai uap mengembun.
Campuran fase ganda dapat dipisahkan menjadi dua atau lebih fraksi dengan berbagai
operasi. Dalam hal ini, campuran fase harus heterogen; yaitu fase-fase harus secara fisis berbeda
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

13

satu sama lain, sekatpun sangat halus dan bercampur akarap. Campuran zarah-zarah zat padat
dipisahkan menjadi macam kelompok ukuran dengan sceening, elutriation jigging atau classification.
Zarah-zarah zat padat dapat dipisahkan dari cairan dengan filtrasi, centrifugasi atau sedimentasi.
Fase-fase cairan yang tak dapat saling melarut juga dapat dipisahkan dengan sentrifugasi, seperti
dalam pemisahan cream zat padat dapat disahkan dari gas atau cairan dan cairan-cairan daapat
dipisahkan daari gas dengan alat pemisah siklon.
Operasi pemisahan ini tidak melibatkan
perpindahan massa seperti istilah yang didefinisikan diatas, maka dari itu, operasi itu bukan
perpindahan massa. Komponen-kompnennya secara fisis sudah berbeda, sehingga diperlukan cara
mekanis bukan perpindaahan massa untuk memisahkannya. Operasi pemisahan mekanis yang
disebut disini untuk menunjukkan betapa banyak ragamnya prinsip secara fisis untuk pemisahan.
2.2. KONSEP STAGE
stage dapat didefinisikan sebagai unit suatu alat, dan dalam unit alat ini ada dua fase yang
tak sama dikontakan, kemudian secara mekanis dipisahkan. Selama kontak berbagai komponen yang
mendifusi terdistribusi diantara fase-fase itu. Dua fase yang terjadi dalam keadaan setimbang,
karena itu mempunyai komposisi yang berbeda dari fase-fase semula. Dengan pemisahan dan
kontak yang berturut-turut dari fase yang tak sama (operasi stage ganda), dapat terjadi perubahan
besar dalam komposisi-komposisi fase-fase itu. Dalam stage setimbang dua fase tercampur baik
selama waktu secukupnya sehingga dimungkinkan trjadinya kesetimbangan termodinamis diantara
fase-fase yang meninggalkan stage. Pada kesetimbangan tak terjadi perubahan dalam komposisi dari
fase-fase itu pada kondisi operasi tertentu. Dalam alat industri sebenarnya, tidaklah menguntungkan
membiarkan kontaknya fase cukup lama sampai dicapai kesetimbangan. Maka daaari itu stage
sebenarnya tidak melaksanakan perubahan komposisi sebesar seperti oleh stage setimbang. Efisiensi
stage didefinisikan sebagai perbandingan dari perubahan komposisi dalam stage sebenarnya terhadap
perubahan komposisi dalam stage setimbang. Efisiensi stage untuk alat industri berkisar antara
beberapa persen sampai 100 persen. Karena stage setimbang memberikan kemungkinan perubahan
komposisi terbesar untuk seperangkat kondisi operasi tertentu, maka stage setimbang juga disebut
stage ideal atau teoritis. Sekalipun kondisi kesetimbang jarang diperoleh dalam alat sebenarnya,
stage setimbang merupakan smodelfisis yang bermanfaat dalam analisis operasi stage. Sebagai mana
sering terjadi dalam teknik kimia, model fisis merupakan versi yang diidealkan dari unit yang
sebenarnya.
Persyaratan alat yang diperhitungkan untuk operasi-operasi stage ganda dalam industri
biasanya terdiri dari penentuan jumlah stage setimbang disertai efisiensi stage untuk memperoleh
jumlah stage sebenarnya yang diperlukan. Efisiensi stage merupakan faktor korekso untuk
menerapkan model fisis dari suatu stage setimbang di dalam penggunaan praktek dari alat industri.
Efisiensi stage tergantung pada kecepatan perpindahan massa dan pada waktu dan luas kontak
dalam satu stage. Faktor-faktor ini merupakan fungsi komplek dari gelombang stage dan kecepatan
air dari fase-fase.
2.3. ALAT UNTUK OPERASI STAGE
Alat untuk operasi stage sangat banyak macamnya dan ukurannya dan konstruksi terincinya,
tetapi terdapat banyak kesamaan dasarnya. Umumnya, setiap stage dari alat mencampur dua fase
terus menerus sehingga bahan dapat dipindahkan sepat mungkin dari fase satu ke fase lainnya.
Kemudian setiap stage harus memisahkan dua fase yang terjadi sesempurna mungkin
danmeneruskan ke stage berikutnya. Ada alat industri yang terjadi dari satu stage tetapi lebih banyak
terdiri dari unit-unit stage ganda memungkinkan perubahan komposisi lebih besar dari dua fase itu
dari pada fase yang diberikan oleh satu stage.
Alat untuk mencampur dan memisahkan dua fase tergantung pada sifat-sifat fase-fase itu
sendiri. Andaikan fase L adalah cairan atau zat pada halus atau; fase V adalah gas, uap atau cairan,
tergantung pada proses pemisahannya. Gas dan cairan mudah mengalir dari satu stage kestage
lainnya, tetapi zai padat sukardipindahkan. Berdasarkan hal ini operasi stage yang melibakan
gerakkan zat padat berlawanan arah dengan fase fluid kurang lazimdilakukan, zat padat yang sangat
halus dapat dialirkan seperti fluid, jadi campuran ini digunkan untuk mengarah zat padat. Ada kalanya
zat harus di pindahkan secara mekanis dari srage ke stage lain.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

14

Dari segi ekonomi, stage harus melaksanakan kontak dan pemisahan sesederhan mungkin.
Misalnya, gaya grafitasi digunakan untuk memisahkan fase dan dorongan untuk mengalir, mengalir,
menghindari keperluan alat yang mahal seperti pompa atau sentrifuge. Namun ada kalanya
pemisahan sulit, mau tidak mau diperlukan alat yang mahal.
2.4. MENGKONTAKKAN CAIRAN-GAS
Perbedaan besar dalam dalam densitas gas dan cairan menyebabkan pemisahan fase-fase itu
relatife mudah. Dua fase dapat dicampur dengan menggelembungkan gas ke dalam cairan.
Gelembung-gelembung gas terpisah dari cairan masuk ke bdalam fae gas bila gelembung-gelembung
itu mencapai permukaan cairan. Stage dibangun dalam suatu kolom tegak sehingga cairan dapat
mengalir kebawah karena grafitasi, dari stage ke stage lainnya. Gas mengalir ke atas karena beda
tekanan yang dijaga tetap dengan suatu kompresor atau blower atau dengan boiler. Stage-stage
sebenarnya dalam kolom tegak disebut plat-plat dan talam-talam.
Plate-plate banyak ragamnya; hanya beberapa saja yang akan ditinjau. Plate bubble cap
selama bertahun-tahun telah banyak dipakai untuk kolom absorpsi. Buble cap (Gb.2-2) dirancang
untuk mendispersi fase gas menjadi gelembung-gelembung halus dalam cairan, juga mencegah
cairan jangan mengalir ke bawah melalui lintasan gas pada kecepatan gas yang kecil. Buble cap
dibuat dengan ukuran dan bentuk yang bermacam-macam.
Pola aliran dalam kolom buble cap dapat dilihat pada Gb.2-3. dalam kolom ini cairan
mengalir melintasi plat dan masuk ke dalam down comer ke plate dibawahnya. Gas mengalir ke atas
melalui buble cap ke dalam cairan. Gb.2-3 merupakan bagan sederhana dari kolom buble cap. Plate
buble cap sebenarnya dapat dilihat pada Gb.2-4. kolom buble cap dapat dioperasikan untuk batas
kecepatan alir fase luas dengan efisiensi stage tinggi. Sedikit cairan dapat menembus (bocor) melalui
lintasan gas, dan tinggi cairan pada masing-masing talang talang dapat diatur tetap seperti yang
diinginkan. Jadi kontak cairan-gas berlangsung baik pada batas kecepatan alir yang luas, sehingga
memungkinkan deperoleh efisiensi yang relative konstan. Karena bubble cap relative mahal, maka
terdesak oleh jenis-jenis tray baru.
Perforated plate, pada akhir-akhir ini menjadi terkenal kesederhanaannya dan murah
harganya. Jenis plate berulang paling banyak dijumpai adalah sieve tray seperti pada Gb.2-6. sieve
tray adalah plate logam yang berlubang banyak. Lubangnya biasanya berdiameter 1/5 sampai
inci. Cairan mengalir kebawah dan gelembung gas mengalir ke atas melalui lubang-lubang. Gas
pada kecepatan tinggi mencegah cairan mengalir melalui lubang-lubang, tetapi pada kecepatan aliran
gas yang kecil dapat terjadi kebocoran atau weeping ini dapat mengurangi efidiensi stage dengan
menyolok.
Ini merupakan keterbatasan sieve tray yang harus dipikirkan betul-betul dalam
perancangan.
Perkembanhgan pervaporated plate pada akhir-akhir ini ialah dengan munculnya valve tray.
Lubang-lubang dalam valve tray ditutupi oleh penutup yang dapat terangkat, lihat Gb.2-7. penutup
terangkat ketika gas mengalir ke atas melalui lubang, dan akan jatuh menutupi lubang lagi jika
kecepatan gas berkurang. Dengan cara ini sangat mengurangi weeping pada kecepatan gas rendah.
Disamping itu penutup-penutup mengarahkan aliran gas mendatar ke dalam cairan sehingga
memberikan pencampuran yang lebih besar dari pada sieve tray. Lubang lubang dalam walve tray
sering kali lebih besar dibanding denga lubang-lubang dalam sieve tray kira-kira sebesar 1 inci
diameternya. Kolom valve tray dengan aliran cross-flow dapat dioperasi pada batas-batas kecepatan
air yang lebih luas dari pada bats-batas untuk valve tray. Harganya terletak antara harga-harga sieve
tray dan talam bulbe cap. Efisiensi stage tingi dan hampir konstan pada batas-batas kecepatan gas
yang luas. Sieve tray dan valve tray telah menggantikan pemakaian bulbe cap pada beberapa
industri.
Perancangan alat pengkontak cair gas melibatkat masalah yang komplek dalam mekanika
fluida. Disini akan dibicarakan secara garis besarnya dan secara singkat tentang masalah-masalh itu.
Tugas utama tray adalah mengkontakkan gas dan cairan. Ruang diatas tray hendak diisi dengan
campuran cairan-gas, juga harus ada ruang/tempat untuk berpisahnya dua fase.
Diameter tray ditentukan oleh volume fase gas yang lewat keatas melalui menara. Kecepatan
gas yang besar melalui tray harus dihindari sebab menghasilkan pressure drop fase gas yang tinggi
memerlukan jarak antar tray yang besar untuk hydraulic head yang diperlukan supaya cairan dapat
mengalir kebawah dari tray ke tray. Presure drop fase harus rendah dalam kolom-kolom yang bekerja
pada keadaan vakum. Aliran cairan menyilang/across tray harus memberikan kedalaman yang cukup
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

15

(tinggi tray) supaya dapat melingkupi volume gas secukupnya pada semua kecepatan gas. Hal
inimemerlukan pola aliran yang komplek dengan beberapa saluran keluar pada tray yang besar. Gb.
2-9, memperlihatkan valve tray dengan aliran terbagi/split flow dam Gb. 2-10 memperlihatkan
terracing pada tray 40-ft yang diperlukan untuk menjaga supaya kedalaman cairan seragam.
Kedalaman airan di atur oleh kecepatan airan dan tinggi ruang keluar/weir. Presure drop fase gas
juga tergantung pada tingi cairan diatas ruang gas. Maka dari itu tinggi cairan harus cukup
melingkupi volume gas tetapi tidak boleh lebih sebab dapat menyebutkan pressure drop yang tak
semestinya.
Entraiment, adalah fae gas ke palte atas. Hal ini tak diinginkan sebab akan menurunkan
secara efektif efisiensi stage. Entrainment terjadi pada kecepatan alir gas yang tinggi , sehingga
diameterkolom harus diatur supuaya kecepatan gas (untuk pungutan langsung massa tertentu) akan
mengurangi entrainmeint. Disamping itu, entrainment menurunkan efisiesi stage, sehingga diperlukan
stage tembahn supaya menghasilkan pemisahan terteuntu. Mencegah entrainment dapat
memerlukan suatu kolom yang berdiameter besar. Maka dari itu perlu dilakukan perhitungan
ekonomi diantaaara jumlah tray dan diameter kolom bila menentukan sejauh mana entrainment akan
kikurangi dihilangkan. Walaupun buih diatas plate memberikan luas permukaan cairan-gas yangt
besar dan menghasilkan kecepatan perpindahan massa yang tinggi, pembuihan yang berlegihan
dapat memenuhi ruang diantara tray dan menghasilkan terlalu banyak entrainment.
Flooding trjadi bila entrainment yang berlebihan atau bila berlebihan cairan yang kembali
keatas dalam down comer. Flooding terjadi bila cairan terlalu banyak atau gas terlalu banyak
melewati kolom. Mencegah flooding adalah factor utama dalam memilih diameter kolom. Jarak antar
kolom harus cukup supaya ada ruang diatas olakan cairan sehingga entrainment dapat diperkecil.
Dalam kolom-kolom yang besar jarak antar tray paling sedikit harus 2 ft supaya orang dapat
merangkak diantara tray-tray. Makin besar jarak antar tray makin tinggi menaranya dengan
sendirinya harganya makin mahal. Sekali lagi, perlu dibuat evaluasi ekonomi antara jarak antara tray
dan entrainment. Makin pendek jarak antar tray makin pendek kolom dan makain murah tetapi dapat
menimbulkan entrainment yang mendorong untuk menambah jumlah tray, tinggi kolom.
Dalam sieve tray ukuran dan jumlah lubang harus benar-benar dipilih. Makin besar
lubangnya akan memberikan pressure drop rendah, tetapi disperse gas jelek. Luas total lubang yang
besar memberikan pressure drop rendah tetapi juga kecepatan gas rendah yang dapat menyebabkan
weeping/kebocoran yang berlebihan.
2.5. MENGKONTAKKAN CAIRAN-CAIRAN.
Dalam ekstraksi memakai pelarut, dua cairan yang tak saling larut sempurna harus dicampur
terus menerus dan kemudian dipisahkan. Dalam kontak cairan- gas perbedaan densitas yang besar
diantara dua fase itu memungkinkan menggunakan gaya grafitasi untuk mendorong mengalir dan
mendispersikan gas dalam cairan, tetapi dalam ekstraksi, perbedaan densitas kedua fase adalah kecil,
sehingga grafitasi jauh lebih kecil pengaruhnya untuk disfersi fase. Bubble cap dan valve tray tidak
dipakai untuk ekstraksi cir-cair karena cairan berdasar gravitas tidak membeikan disperse fase
secukupnya. Fase yang lebih ringan yang mengalir ke atas melalui tray tidak bisa menjadi
gelembung-gelembung yang cukup halus ketika melewati buble cap.
Sieve tray dengan down comer, banyak dipakai untuk mengkontakkan cairan, walaupun
konstruksi kolom berbeda dari alat kontak cair-gas. Baik dalam cairan ringan maupun berat mungkin
dapat didispersi. Supaya diperoleh disferensi yang baik pada talam ayakan, cairan yang tidak
Cairan yang lebih membasahi tray hendaknya
membasahi tray hendaknya yang didispersi.
merupakan fase yang kontinu. Dengan cara ini, fase terdisperse terpisahkan segera dari tray
memberikan gelembung-gelembung kecil. Kolom khusus dengan fase ringan terdisversi dapat dilihat
pada Gb. 2-11a. Kolom ini mirip kolom sieve tray cair gas, denga cairan ringan analog dengan gas.
Kolom dengan cairan berat ter disperse (Gb. 2-11b.) pada dasrnya merupakan kolom kebalikan kolom
fase ringan terdipersi. Domn comer melewatkan fase ringan keatas, dan fase berat terdispersi
dibawah setiap tray. Lubang-lubang dalam tray ayakan berlisar dari 1/8 sampai inci diameternya
jumlah lubang dalam satu tray ditetntukan oleh keceptan alir total daro fase terdispersi. Untuk
divperse yang memadai, cairan mempunyai kecepatan yang cukup ketika lewat melalui lubanglubang. Ketinggian cairan diatas tray ditentukan oleh tekanan yang diperlukan supuya diperoleh
kecepatan alir yang diingikan dapat melalui lubang-lubang . Misalnya, Gb. 2-11b, ketinggian fase
berat diatas talam cukup dapat mendorong fase melalui lubang-lubang pada kecepatan yang
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

16

diperlukan supaya disperse baik. Luas down comer dipilih supaya kecepatan alir fase kontinu cukup
rendah untuk mencegah tetes-tetes fase terdispersi terbawa melalui down comer. Gb. 2.1
memperlihatkan dua kolom ekstraksi stage ganda yang besar.
Alat pencampur mekanis digunakan untuk mendispersi fase-fase lebih gigih dari pada yang
dimungkinkan dalam kolom dalam ayakan. Setelah pencampuaran, campuran dua fase dilewatkan
tanki settling, disini fase-fase itu dibiarkan terpisah secara grafiti settling. Unit-unit ini disebut
mixer-settler. Bagian dari mixer-settler terlihat pada Gb. 2-12a. Mixeer-settler digunakan secara
bederet memberikan pemisahan stage ganda (Gb.2.12b).
Derajat pemisahan adalah variabel bebas yang dapat diubah dengan mengubah kecepatan dan
bangun impeller. Walaupun dinginkan pencampuran yang baik, namun dapat terbentuk emulsi yang
tak dapat dipisahkan dengan grafiti settling jika pencmpurannya terlalu kuat. Ukuran tanki settler
ditentukan oleh kecepatan alir dan kecepatan terendapnya fase terdispersi. Jika densitas fase hampirhampir sama, settling sangat lambat sehingga diperlukan centrifuge. Perlu diketahui bahwa centrifuge
memberikan gaya centrifugal jauh lebih besar dari pada gaya grifitasi. Emulsi dapat juga dipisahkan
dalam centrifuge.
Beberapa model alairan telah digunakan dalam mixer-settler. Stage dapat disusun tegak
untuk aliran garafitasi dari kedua fase. Gb. 2. 12b, dapat digunakan untuk aliran grafitasi dengan
unit-unit yang terlalu besar disusun tegak. Susunan mendatar memerlukan pemompaan salah satu
atau kedua fase. Mixer-settler dengan pompa (Gb.12) menggunakan impeller baik untuk mencampur
maupun untuk mendorong aliran dari stage. Mixer-settler terkenal karena pencampuran yang
sempurna memberikan efisiensi cukup tinggi (90-100 %). Akan tetapi, penggunaan pompa yang
digerakkan oleh motor dan tanki settling menaikkan harga persstage, bila dibandingkan dengan sieve
tray.
2.6. MENGONTAKKAN CAIR-PADAT
Kontaknya zat pada butiran dengan suatu cairan atau gas dalam system stage ganda kontinu
menjadi rumit oleh masalah transportasi fase padat dari stage ke stage. Zat padat dapat digerakkan
dalam basket-basker seperti terlihat pada Gb. 2.14. Pada aliran yang terjadi adalah dalan stage-stage
tetapi berlawanan arah hanya dalam separu system. Zat padat yang dihaluskan mengalir seperti
fluida pada kondisi tertentu. Umumnya hal ini melibatkan gas atau cairan yang mengalir melalui zat
padat sampai fluida padat itu ter fuidisasi. Dasar dari zat padat terfluidisasi telah dipakai untuk
merancang sejulmlah alat pengkontak cairan-padat. Adsorber slaka besar dalam industri
menggunakan adsorben gas-fluidized sebanyak lima stage dapat dilihat pada Gb. 2.15. untuk
pemisahan padat-cair secara besar-besaran seperti yang terjadi dalam memproses bijih logam,
digunakan thickener. Zat padat dilewatkan stage sebagai luluhan/slurry dengan air.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

17

BAB 3
KAIDAH FASE
1. PENDAHULUAN
Sebagaimana telah dibicarakan dimuka bahwa pemilihan operasi perpindahan massa yang
digunakan untuk memisahkan campuran multi komponen, tergantung faktor-faktor kelayakan
operasi, penerapan tepri kimia fisika dan ekonomi. Ukuran yang diinginkan dari unit opersi dan
demikian biaya dan dapat tidaknya beroperasi dapat dihitung dari pengertahua/keetrangan tentang
batas-batas kesetimbangan fase dan kecepatan perpindahan yang dapat diperoleh. Disini akan
ditinjau kerangka teori dasar yang dipakai dalam memperkirakan komposisi dari fase-fase dalam
kesetimbangan, membicarakan beberapa kaidah yang empiris yang dipakai untuk menghubungkan
data keseimbangan fase, dan menunjukkan beberapa contoh khusus tentang data yang ada. Dari
keterangan yang ringkas ini dapat dilakukan perhitungan perancang. Perhitungan-perhitungan ini
tidak saja memerlukan komposisi-komposisi seimbang, tetapi juga perubahan nilai-nilai
kesetimbangan jika suhu dan tekanan berubah.
2. DASAR UMUM KESETIMBANGAN FASE
Sebelum kaidah fase untuk sistem tertentu dibicarakan akan ditinjau secara singkat dasar
umum kesetimbangan fase. Analisis kuantitaif dari kesetimbangan fase didasrkan pada karya J Willard
Gibbs yang terdapat dalam semua pustaka termodinamika dasar. J. W. Gibbs mengatakan bahwa
kesetimbangan antar fase-fase memerlukan kesetimbvang semua potensial termasuk tidak saja P dan
T tetapi juga potensial kimia masing-masing

1 I = 1 II =

II

(3.1)

dengan
= potensial kimia, indeks bahwa untuk komponen, indeks atas untuk fase. Gibbs mendefinisikan
potensial kimia berdasarkan fungsi termodinamika dasar secara kualitatif, potensial kimia menyatakan
kecendrungan komponan untuk meniggal fase atau keadaan kimiawi yang bersangkutan. Kadi
potensial kimia adalah ukuran ketidak stabilan komponen.
Ahli-ahli setelah Gibbs menunjukkan bahwa fugusitas (didefinisikan dengan rumus = RT lu fi
+ , fi mendekati Pi jika Pi mendakati 0 dan adalah fungsi suhu saja) dapat dipakai sebagai ganti
potensial kimia maka

f1i = f1ii = f 1iii

(3.2)

fungsional menpunyai beberapa keunggulan dari pada potensial kimia paling tidak dalam konsep,
sebeb dapat dikaitkan dengan sifat-sifat fisis yang dapat diukur.
Jika jumlah variabel dalam suatu sistem dengan beberapa komponen dalam kondisi seimbang
diantara beberapa fase dikaitkan dengan jumlah persaman yang menghubungkannya seperti tersebut
diatas, maka
F=C+2P
(3.3)
Dengan F = jumlah variabel intensif yang dapat diubah-ubah secara bebas.
C = jumlah komponen sistim
P = jumlah fase dalam sistim
Fase didefinisikan sebagai bagian dari suatu sistim yang secara fisi homogen dan dapat dibedakan
adri yang lain, dapat berupa padat, cair atau gas. Pada zat padat dan cairan dapat terjadi beberapa
fase padat dan fase cair, tetapi pada gas sama sekali dapat saling larut sempurna satu sama lain
sehingga hanya ada satu fase gas variabel intersif tak tergantung pada seluruh jumlah fase. Misalnya
suhu, tekanan dan konsentrasi dari suatu fase adalah variabel intensif. Sebaliknya volume total dari
fase tergantung pada kuantitas, maka dari itu disebut variable ekstensif. Demikian juga komposisi
keseluruhan dari suatu sistem dengan beberapa fase tergantung pada besarnya fase jadi merupakan
variable ekstensif. Untuk keseimbangan fase, jumlah komponen dari suatu fase dapat didefinisikan
sebagai jumlah terkecil zat kimia yang diperluklan ntuk membentuk fase.
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

18

Aturan fase berguna dalam memperkirakan jumlah variable intensif yang dapat diubah-ubah
secara bebas dalam setiap sistem. Misalnya air, karena murni, C = 1. dengan satu fase cair, P = 1
dan dengan persamaan (3.3), F = 2. maka dari itu dimungkinkan mengubah-ubah baik suhu maupun
tekanan dari fase tunggal cair. Pada campuran setimbang air vdan uap air terlihat bahwa C = 1, P= 2
dan F = 1. jadi hanya satu sifat intensif yang dapat diubah-ubah secara bebas. Jika suhu ditentukan,
dengan sendirinya tekanan tertentu.
Jika antara fase diterapkan pada campuran setimbang dari etanol dan air, ternyata C = 2, P
= 2 dan F = 2. jadi dua variable dapat diatur. Kedua variable itudapat pasangan dari dua antara tiga
variable suhu, tekanan dan konstruksi fase. Misalnya jika komposisi dan tekanan dari suatu fase
ditentekan, suhunya akan tertentu. Pemakain aturan fase selanjutnya akan berguna dalam meninjau
sistim-sistim tertentu sebagai berikut.
Perhitungan untuk distilasi dan adsorpsi gas memerlukan keterangan tentang kesetimbangan
cair-gas. Jadi persamaan 3.2 menjadi

f aG = f aL

(3.2a)

fugasitas fase gas dapat diganti dengan tekanan partial dari gas itu pada tekanan yang bersangkutan
jika sifat gasnya ideal pada tekanan yang sangat rendah. Sebaliknya diperhitungkan koreksi yang
menghubungkan sifat gas ideal dengan gas sebenarnya, maka:

f
f aG = . py a
p a

(3.4a)

dengan ya = fraksi nol dari a dlam uap.

f
= perbanding andarifuga sitasaterh adaptekana nnol
p
P = tekanan nol.
Fugasitas fase cair sama dengan fugasitas fase gas pada tekanan uap dari a murni, karena
kesetimbangan terjadi pada tekanan itu. Andaikan fraksi mol menghubungkan fugasitas komponen
murni dengan fugasitas dari komponen dalam campuran cairan ideal, dan mendefinisikan koefisien
aktivitas sebagai perbandingan dari fugasutas a dlam larutan sebenarnya terhadap fugasitas a
dalam larutan ideal, maka fugasitas cairan adalah

f aL = Pa X a a

(3.4b)

dengan P = tekana uap dari a pada sushu kesetimbangan


X = fraksi mol a dalam cairan
Dengan menggabungkan persamaan-persamaan 3.2a, 3.4a dan diperoleh kaidah kesetimbangan fase
cair-uap yang umum sebagai berikut :

f
py a = p a x a y a
p a

(3.4)

Termodinamika teknik kimia telah banyak mencurahkanperhatian untuk berusaha menerapkan


pengetahuan yang ada melalui kimia fisika untuk memperkirakan koefisien fugasitas (f/p)a dan
koefisien aktifitas abagi sifat-sifat molekul yang asasi. Usaha ini telah berhasil memuaskan untuk
komponen-komponen non asosiasi sederhana. Jika non idealitas fase air dapat diabaikan, misalnya
dengan senyawa-senyawa non polar termasuk deret homolog (misalnya hdrokarbon ringan), a = 1.
maka koefisien fugasitas harus ditentukan. Karena parameter ini merupakan fungsi dari sifat-sifat
fase gas saja, maka dapat ditentukan dari persamaan keadaan fase gas. Telah ada persamaan
keadaan yang tepat, sehingga usaha ini teelah dilaksanakan dengan baik. Keuntungan yang diperoleh
khususnya adalah bahwa kesetimbsngsn cair-uap dapat diungkapkan secara analisis dan dapat ditulis
kedalam program kruput.
Bila terjadi non idealitas fase cair, perlu ditentukan koefisien aktivitasnya dari keterangan
medan gaya antar molekul atau menghubungkan data hasil percobaan secara empiris. Kedua
pendekatan telah dilakukan. Pendekatan gabungan yang telah berhasil memuaskan pada suhu
rendah telah diperlihatkan oleh Zellner. Dasar-dasar teoritis untuk ini dan untuk lainnya telah
disajikan oleh Prausnittz.
Jika fase gas bertabiat sebagai sag ideal, (f/P)a = 1, dan jika fase cairan adalah larutan ideal,
a = 1. dalam hal ini dapat diperoleh hukum Raoult :
(3.5)
Pya = PaXa
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

19

Pasanan ini menunjukkan bahwa uap yang timbul dari campuran cairan adalah suatu campuran yang
mempunyai komponen sama seperti yang dari cairan. Uap biasanya akan lebih kaya akan komponen
yang mempunyai tekanan uap lebih tinggi pada suhu penguapan. Komponen murni tak akan pernah
muncul dari campuran cairan, walaupun dalam keadaan terbatas tekanan uap dari salah satu
komponen biasa demikian rendahnya sehingga komponen itu praktis itu tidak volatile.
Hukum Raoult hanya tepat memperkirakan kesetimbangan cair-uap untuk larutan ideal yang
setimbang dengan campuran gas ideal larutan yang memperlihatkan penyimpangan dari idealitas
yang dapat diabaikan meliputi larutan yang komponen-komponennya mempunyai struktur dan sifat
fisis yang sama, seperti benzena-toluen, propana-butan, methanol-etanol. Hukum Raoult
menunjukkan bahwa komposisi dalam campuran yang setimbang tergantung pada tekanan tolak dari
sistim dan pada tekanan uap komponen. Tekanan uap berubah dengan suhu tetapi tidak dengan
komposisi atau tekanan ideal..
Dalam perhitungan teknik, sering kali lebih mengungkapkan kesetimbangan fase dengan
rumus :
(3.6)
Ya = Ka xa
Ka adalah konstanta yang ditentukan dengan percobaan. Ka sering kali hanya sedikit tergantung pada
konsentrasi, sekalipun untuk sistim yang tidak mengikuti hukum Raoult; biasa disebut nilai K.
Dalam kebayakan sistim, tekanan uap dari solute dalam larutanyang sangat encer dapat
digunakan rumus hukum Raoult sebagai konstanta yang berlaku bagi batas-batas konsentrasi
tertentu. Ini merupakan dasar dari hukum Henry, yang paling sering ditulis :
(3.7)
Pa = Hca
Pa = tekanan partial dari a dalam uap
H = Konstanta hukum Henry, diukur dengan percobaan
Ca = konsentrasi a dalam cairan
Dalam sistim biner (dua komponen), komponen denngan tekanan uap lebih tinggi pada suhu
tertentu disebut sebagai komponen yang lebih volatile, sedangkan yang dengan tekanan uap lebih
rendah disebut komponen kurang volatile. Umumnya komposisi dari campuran biner akan dinyatakan
sebagai konsentrasi dari komponen yang lebih volalite.
Untuk sistim biner dengan a adalah komponen yang lebih vilalite dan b adalah komponen
yang kurang volalite, dengan anggapan hukum Raoult berlaku.

y a xb
p
= a
xa yb
pb

(3.8)

Karena yb = 1 ya dan xb = 1 - xa

y a 1 xa p a
= ab

=
1

x
y
p
a
a
b

(3.9)

Persamaan (3.9) mendifinisikan volatilitas relatif ( ab) dari komponen a relatif terhadap b. Untuk
sistim yang tidak mengikuti hukum Raoult, volatilitas relatip didefinisikan sebagai ab = K a /K b .
Volalitas relatif akan konstan bila baik Hukum Henry maupun Raoult berlaku. Jika hukum Henry atau
Raoult tak diikuti, volatilitas relatip akan berubah dengan komposisi. Gambar. 3.1 menunjukkan data
komposisi cair-uap untuk dua sistim dengan volatilitaas relatif konstan dan juga untuk dua sistim
denan volatilitas relative yang berubah-ubah dengan komposisi. Sistim yang diperlihatkan pada
Gambar.3.3 adalah pada tekanan tetap, tetapi suhu berubah-ubah denan komposisi.
Berubah-ubahnya suhu dapat dilihat pada Gambar 3.2 dan Gambar 3.3

Contoh 3.1. Suatu campuran butan dan pentan setimbang pada tekanan 300 kN/m dan uap. (a)
dengan menggunakan holum Raoult, dan (b) dengan menggunakan harga dari Ka yang diperoleh dari
percobaan dan persamaan 3.6.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

20

Penyelesaian
(a) Tekanan uap didapat dari table data fisis (lihat Appendix D-1).
o

Tekanan uap pentan pada 40 C = 117 kN/m


o

Tekanan uap butan pada 40 C = 373 kN/m , tekanan total = 300 kN/m
Untuk butan : y B =

Untuk pentan :

yp =

PB
373
xB=
x B =1,24 x B
P
300

pp
1147
xp =
x p = 1,24 x p
p
300

Karena hanya buatan dan pentan yang ada dalam cairan dan uqp, XB + Xp = 1, dan yB + yp = 1.
sekarang ada empat persamaan dan empat yang belum diketahui pemecahannya :
Yb + yp = 1 = 1,24 xB + 0,39 xp
= 1,24 xB + 0,39 xp (1- xB), dst.
yB = 0,89
XB = 0,72
yp = 0,11
Xp = 0,20
(b). Harga Kdari percobaan pada 300 kN/m2 dan 400CD untuk butan, Kb = 1,2 dan untuk petan, Kp =
0,38 (lihat Appendix D-2). Maka dari itu,
yp = 1,2 xB dan yp = 0,38 xp
yB = 0,91
xB = 0,76
yp = 0,09
xp = 0,24
perbedaan kecil antara harga-harga pada jawaban (a) dan (b) terletak pada ketelitian pembacaan
chart untuk tekanan uap dan K. Maka dari itu, campuran buatan dan pentan mengikuti hukum Raoult
makin besar pada tekanan makin tinggi.
Contoh 3.2. Beberapa volatilitas relatif butan terhadap pentan pada sushu 40 0C dan 465 psia ?

Penyelesaian.
Andaikan hukum Raoult berlaku pada tekanan tinggi
Dari persamaan 3.9 dengan

B p =

373x10 3
= 3,18
117 x10 3

Dengan menggunakan harga K dari percobaan pada 465 psia (Appendix D-2),
Kb = 0,27, Kp = 0,10

B p =

0,27
= 2,70
0,10

dari hasil ini terlihatbahwa pada 465 psia campuran butan pentan penyimpangan dari hukum Raoult
kira-kira 18%.
Suatau campuran tidak akan mendidih pada suatu suhu untuk tekanan total konstan,
berlawanan dengan tabiat cairan murni. Suhu saat campuran dengsn komposisi tertentu mulai
menguap jika suhu bertambah disebut titik didih. Sebaliknya suhu saat campuran uap perrtama kalin
mengembun pada pendinginan disebut titik embun. Untuk cairan murni, titik didih dan titik embun
adalah sama dan sama dengan titik didih; komponen murni menguap dam mengembun pada satu
suhu. Titik embun dan titik didih campuran ideal dapat dihitung dari hukum Raoult. Untuk campuran
lainnya, harga K dapat V dihitung.

Contoh 3.3 Hitung titik embun gas yang mengandung 20 % mol benzena, 3,0 mol toluene dan 50%
mol xylene pada tekanan 100 kN/m2.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

21

Penyelesaian.

Pada tekanan sedang untuk senyawa-senyawa yang sama ini hukum Raoult cukup teliri. Tekanan uap
dari ketiga komponen tergantung pada suhu, yang harus ditentukan. Diperlukan cara coba-coba (trial
and error), karena tekanan uap tak dapat diungkapkan dengan fungsi matematiksederhana dari suhu.
Untuk benzena ; y B
Untuk toluene :
Unruk xylene :

pB
0,2 x10 5
x
x
=
=
0
,
2
;
B
B
pB
1x10 5

yr =
yx =

pT T
0,3x10 5
=
=
0
,
3
;
x
x
T
pT
1x10 5

px
0,5 x10 5
x
x
=
=
0
,
5
;
x
x
px
1x10 5

Pada suhu yang besar, XB + XT + XX = 1,0

0,2 x10 5 0,3x10 5 0,5 x10 5


+
+
=1
pB
pT
px
jika suhu tertentu, tekanan uap dapat dicari dari (Appendix d-1) dan sisi kiri persamaan diatas dapat
dihitung. Jika sisi kiri tidak sama dengan 1, harus dicoba suhu lain.
Andaikan T = 40 0C, PB = 24,13 x 103 N/m2 ; pT = 7,58 x 103 ;
Px = 2,96 x 103 N/m2.

0,2 x10 5
0,30 x10 5
0,5 x10 5
+
+
= 21,67 > 1.
0,24 x10 5 0,076 x10 5 0,026 x10 5
Maka dari itu, pengadaian pertama T = 40 0C terlalu rendah
Andaikan T = 130 0C. PB = 365,4 x 103 N/m2 ; PT = 158,6 x 103 N/m2
Px = 72,4 x 103 N/m2.

0,2 x10 5
0,30 x10 5
0,5 x10 5
+
+
= 0,93 < 1.
0,65 x10 5 1,586 x10 5 0,7246 x10 5
Maka dari itu suhu harus lebih dari 130 0C
Andaikan T = 128 0C. PB = 351,6 x 103 N/m2 ; PT = 151,7 x 103 N/m2
Px = 67,2 x 103 N/m2.

0,2 x10 5
0,30 x10 5
0,5 x10 5
+
+
= 1,00
3,516 x10 5 1,176 x10 5 0,672 x10 5
Setelah diperiksa pada 128 C, ternyata dekat dengan titik embun campuran.
Pada titik embun, cairan yang pertama kali terbentuk mempunyai komposisi sedemikian hingga
tekanan yang diberikan oleh setiap komponen dari cairan sama dengan partial dari komponen dalam
uap komposisi dari cairan setimbang byang pertama kali terbentuk ketika pengembunan mulai pada
128 0C adalah

0,2 x10 5
= 0,057
3,516 x10 5
0,3 x10 5
xT =
= 0,198
3,517 x10 5
0,5 x10 5
xx =
= 0,744
0,672 x10 5
xB =

Perhitungan kesetimbangan fase seperti contoh 3.3 dengan mudah dapat dilakukan pada computer
digital. Akan tetapi ingkapan kesetimbangan fase harus diberikan dalam bentuk analisis. Jika hukum
Raoult digunkan, rumus tekanan uap harus dipertimbangkan. Persamaan Antoine ternyata cocok
untuk kebanyakan data tekanan uap.
Log Pa = Aa + Ba/(ca + T)
Dengan, Aa, Ba, dan Ca : konstante percobaan (lihat Appendix D-2e untuk harga-harga
beberapa cairan yang umum dijumpai). Jika harus dicari titik didih untuk campuran yang mengikuti
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

22

hukum Raoult, gabungan persamaan neraca bahan dengan hukum Raoult dan persamaan Antoine
memberikan.

xa(10 )aa + Ba /(Ca +T ) + xb(10)ab + Bb /( Cb +T ) + xc(10) Ac + Bc /(Cc +T )

Konstante tekanan uap diketahui, bersama-sama dengan komposisi cairan semula dan
tekanan total, dan persamaan ini maka dapat diselesaikan suhu titik didih, satu-satunya yang belum
diketahui. Cara konvergensi sistematis, seperti cara Newton, akan diperlukan supaya penyelesaian
interaktif sempurna.
Titik embun dan titik didih dari campuran biner adalah fungsi komposisinya, seperti terlihat
pada Gambar.3.2. untuk sistim benzene-toluene. Kurva dibuat berdasarkan data tekanan uap,
dengan menganggap hukum Raoult berlaku untuk sistim ini. Titik embun dan titik didih sama pada
xa, ya = 0 dan xa, ya = 1 sebab komposisi ini menggambarkan toluene dan benzene murni. Satusatunya harga suhu pada komposisi ini adalah titik didih komponen murni.
Jika suatu campuran cairan mengandung 0,4 fraksi mol benzene dipanasi (dilukiskan dengan
mengikuti garis tegak pada gambar 3.2) akan mulai menguap pada titik didihnya (titik a), yaitu 203,5
F, dan komposisinya (b) adalah 0,625 fraksi mol benzene. Jika suhu dinaikkan (dari a ke c ), lebih
banyak cairan menguap sampai cairan terakhir menguap pada 215 F (d). Selama proses penguapan,
komposisi (cairan) berubah-ubah dari 0,4 sampai 0,215 dan uap dari sisi keseluruhan dari campuran
uap-air tetap pada 0,4 fraksi mol benzene.
Daerah dibawah kurva titik didih melukiskan fase cair. Cairan pada suhu di bawah titik
didihnya dapat disebut sebagai cairan subcooled, sedangkan pada titik didihnya disebut cairan jenuh.
Demikian pula uap pada titik embunnya disebut uap jenuh. Diantara kurva-kurva titik didih dan titik
embun adalah daerah dua fase tempat bersama-sama adanya cairan jenuh dan uap jenuh. Jumlah
relative cairan dan uap dalam daerah dua fase dapat dihitung dengan neraca bahan. Diatas kurva
titik embun terletak daerah uap superheat/superheated steam.
Larutan yagn tidak ideal dapat mempunyi kurva komposisi suhu cukup berbeda dari kurva
gambar 3.2. misalnya, gambar 3.3 melukiskan dua sisitim tidak ideal, isopropanol propylene chloride
dan avetone chloroform. Masing-masing bentuk sisitim adalah azeotropis suatu campuran dengan
uap setimbang yang berkomposisi sama dengan koimposisi cairan. Pada komposisi azeotrop, titik
embun dan titik didih sama, dan campuran menguap pada satu suhu. Kesimpulan ini dapat ditarik
dengan menggunakan kaidah gase. Dalam sistim biner uap-cair akan ada dua variable bebas.
Biasaya tekanan tertentu jadi tinggal satu variable. Definisi azeotrop mengakebatkan komposisikomposisi dari dua fase sama satu sama lain, pembatasan ini meniadakan variable bebas yang
tunggal satu tadi. Maka dari itu suhu telah tertentu pada satu-satunya harga. Misalnya dalam
isopropanol propylene chloride, komposisi cair dan uap yang setimbang menjadi 0,68 fraksi mol
isopropanol. Karena titik didih dan titik embun juga sama pada komposisi ini campuran akan
menguap pada satu suhu, seperti halnya cairan murni. Berdasarkan hl ini, azeotrop sering disebut
campuran dengan titik didih konstan. Azeotrop ini menjadi pada suhu lebih rendah dari pada baik
titik didih esopropanol murni maupun propylene chloride murni. Sistim seperti ini disebut campuran
dengan titik didih minimum. Sebaliknya, sisim acetone chloroform mempunyai azeotrop dengan titik
didih maksimum pada 0,34 fraksi mol acetone (gambar 3.3b).
Penyajian keterangan x,y, T pada tekanan konstan, seperti pada Gambar.3.2. sering kali
merupakan pilihan yang menguntungkan, akan tetapi dalam perhitungn neraca bahan yang
bersangkutan dengan fase yang dilakukan pada tekanan tertentu, suhunya mungkin belum
ditentukan. Untuk perhitungan ini, grafik x terhadap y seperti pada Gb.3.1 jauh lebih
menguntungkan. Jika perlu tempat T terhadap x atau y dapat ditambahkan.
Dalam perhitungan-perhitungan proses distalasi dan perpindahan lainnya, neraca tenaga
demikian pula nerac massa akan diperlukan. Jadi diperlukan ukuran tenaga sistim. Ini biasanya
adalah entalpi, didefinisikan sebagai tenaga dalam ditambah hasil kali P atau V. Data konsentrasi
entalpi untuk etanol air pada Gambar.3.4 dan untuk ammonia air dan nitrogen oksitgen pada
appendiz D. Entalpi molar digrafikkan pada sumbu tegak dan fraksi mol komponen yang lebih volatile
pada sumbu mendatar. Setiap titik pada diagram menyatakan baik entalpi maupun komposisi dari
campuran biner. Grafik yang sama dapat dilukiskan dengan menggunakan fraksi massa. Entalpi
campuran biner adalah relative terhadap suatu kondisi referensi sembarang yang dipilih untuk
komponen-komponen murni. Misalnya, pada gambar 3.4. entalmp-entalpi cair murni pada 32 F dan
air murni pada 32 F dipilih sama dengan nol. Campuran etanol dan air dapat mempunyai entalpientalpi yang berbeda dari mol pada 32 F sebab ada perubahan entalpi pada pelarutan dan
pengeceran. Perubahan kecil untuk sistim air-etanol. Campuran cairan pada suhuselain 32 F akan
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

23

mempunyai entalpi tidak nol sebab perubahan entalpi pada pemanasan, sebagaimana dihitung dari
kapasitas panas dan perubahan suhu. Jika campuran diuapkan, entalpinya akan naik sebesar panas
laten penguapan. Semua perubahan entalpi ditinjau dalam membuat diagram komposisi entalpi
untuk sistim biner dengan menggunakan data percobaan terhadap kapasitas panas, panas pelarutan,
dan panas penguapan. Pada Gambar 3.4 kurva diberi tanda H menggambarkan uap pada titik embun
(uap jenuh) dan kurva yang diberi tanda h menggamberkan cairan pada titik didih (cairan jenuh).
Jarak tegak diantrara kurva-kurva karenanya adalah panas laten penguapan dari campuan.
Dianrarea dua kurva adalah daerah dua fase uap-air. Untuk menentukan titik-titik pada kurva uap
jenuh dan kurva cairan jenuh, yang setimbang satu sama lain, digunakan kurva kesetimbangan
dibawah diagram. Harga komposisi uap (y a )dapat dipilih pada kuva entalpi uap (H). Dari kurva
kesetimbangan, harga (x a )yang setimbang dengan (y a ) yang dipilih dapat dicari.

Harga (x a )

kemudian dapat dilukis pada kurva (h), entalpi cairan. Kemudian garis penghubung (tie-line) dapat
dilukis yang menghubungkan dua titik yang menggambarkan komposisi-komposisi yang setimbang.
Garis-garis yang bertanda suhu dalam daereah dua fase adalah garis penghubung.
Jika suhu setimbang ditentukan, komposisi cvairan dan uap diperoleh dari grafik koimposisi
suhu, seperti pada gab.3.3a untuk sistim C 3 H 7 OH-C 3 H 6 CL 2 . Daerah Di Bawah Kurva Cairan Jenuh
Menggambarkan Subcooled. Garis-Garis Isoterm(Suhu Konstan) dilukis didaerah ini. Dalam sistim air
etanol, panas pelarutan dan pengecoran kecil, sehingga isoterm-isoterm mendekati garis lurus,
menunjukkan entalpi konstan. Di atas kurva uap jenuh adalah daerah uap superheat.
Keadaaan khusus, naiknya tekanan menaikkan suhu, dan pada suhu ini terjadi
kesetimbangan cair-uap, dan juga mengurangnya ketajaman pemisahan antara komposisi cairan dan
uap hal ini dilukiskan pada gamb.3.5. untuk sistim air etanol. Komposisi uap yang setimbang dengan
cairan yang mengandung 0,2 fraksi moil etanol akan mengandung 0,53 fraksi mol etanol jika tekanan
sistim satu atmosfer (14,7 psia), tetapi akan menjadi 0,42 fraksi mol etanol pada tekanan sistim 300
psia. Juga komposisi azeotrop bergeser menjadi lebih kaya akan etanol jika tekanan berkurang.

Contoh 3.4. Bagaimana komposisi uap yang setimbang dengan cairan jenuh dengan 0,5 fraksi mol
etanol dan 0,5 fraksi mol air.

Penyelesaian. Pada gambar.3.6. ditarik kebawah garis tegak dari kurva etanol carian pada xa =

0,5. nilai kesetimbangan dari (Ya) ditentukan oleh perpotongandari garis tegak dengan kurva
kesetimbangan dan dapat dibaca dari sumbu tegak sebelah kanan, yaitu ya = 0,66. untuk
memindahkan harga ini ke sumbu mendatar, garis mendatar ditarik dari kurva kesetimbangan ke
diagonal, kemudian garis tegak ditarik ke kurva entalpi uap jenuh. Harga pada kurva H dapat
dihubungkan dengan harga semula pada kurva h dengan tie-line. Suhu campuran setembang dapat
dengan referensi pada Gambar 3.3a. kira-kira 176 F.

Contoh. 3.5. tentukan komposisi dari fase-fase yang pada kondisi-kondisi sebagai berikut :
(a). Etanol air pada 177 F, 1 atm. Konsentrasi bulk adalah 50 % etanol
(b). Amonia air pada 1 atm, xa = 0,3
(c). Etaol air pada 100 F dan 1 atm
(d). Amonia air pada 100 psia, H = 10.000, fraksi mol keseluruhan NH 3 =0,5
(e). Amonia air pada 100 psia, H = 20.000, fraksi mol keseluruhan ammonia = 0,4.

Penyelesaian :

(a). Komposisi paling mudah dicari dari gambar 3.4. Tie-line pada 177 F memotong garis titik didih
dan garis titik embun pada komposisi setimbang xa = 0,42, ya=0,63.
(b). Dari kurva kesetimbangan (Appendix D) pada xa = 0,3, ya = 0,93
(c). Karena komposisi belum diketahui, campuran tak dapat dilukis tepat pada gambar 3.4. Akan
tetapi, pada 100 F semua campuran etanol dan air adalah cairan subcooled , yang dilukiskan oleh
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

24

isoterm 100 F. Maka dari itu, hanya fase cair yang akan adan pada 100 F dan 1 atm, dan tak ada
uap yang setimbang.
(d). Titik (H = 10.000 Btu/eb mol, z a = 0,5) terlukis pada diagram Appendix D. Karena titik terletak
dalam daerah dua fase akan ada cair dan uap yang setimbang. Perlu dicari tie-line melalui titik
itu. Pertama kali dilakukan pendekatan dengan menarik tie line melalui titik itu dengan slope
antara isoterm 250 dan 200 F. Harga-harga x a dan y a yang diperoleh karena perpotongan tie
line denga kurva entalpi diperiksa pada diagram kesetimbangan yang ada dibawahnya.
yang x a = 0,17, y a = 0,74

Nilai

(e). Titik (H = 20.000 Btu/etanol, z a = 0,4) terlukis pada diagram Appendix D. Karena titik di dalam
daerah uap superhead, maka hanya fase uap yang dengan komposisi ya=0,4 saja yang ada.
Absorpsi gas dalam perhitungannya sering memerlukan data pada kesetimbangan antara gas
yang terlarut dalam fase cair dan fase gtas. Kesetimbangan sering kali dapat diungkapkan
dengan Holum Henry atau hokum Roult untuk Solute. Jika persamaan-persamaan tidak tepat,
data dapat disusun dalam table atau digrafikkan pada diagram udsara ke dalam air, kelarutan
sedikit udara dapat diabaikan, dan konsentrasi ammonia dalam cairan dapat disusun dalam table
sebagai fungsi dari tekanan partial ammonia dalam gas (Appendix D).
3. KESETIMBANGAN CAIR-CAIR
Dalam ekstraksi cair, salah satu komponen dalam larutan di pindahkan ke fase cair lainnya
yang relative tidak larut dalam larutan pertama. Keadaan paling sederhana, solute terbagi diantara
dua fase cair yang tidak larut.
Data ketidaksetimbangan untuk ini dapat dicatat sebagai
perbandingan berat solute tehadap pelarut dalam masing-masing fase pada kesetimbangan.
Misalnuya terbaginya nitrat uranil diantara larutan asam nitrat dan pelarut organic, seperti terlihat
pada Gambar 3.7.
Dalam prakteknya banyak dijumpai dua pelarut sebagian larut satu sama lain; disamping itu,
konsentrasi solute dapat mempengaruhi salaing melarutnya pelarut-pelarut itu. Jika demikian, data
kesetimbangan harus digrafikkan pada diagram tiga komponen. Penerapan kaidah fase pada dua
fase, tiga komponen menunjukkan bahwa dapat ada tiga variable bebas. Dalam hal ini ada empat
variable komponen ke tiga tidak bebas sama sekali sebab ditetapkan bahwa ke dua fase setimbang.
Maka dari itu jika suhu, tekanan dan salah satu konsintrasi tertentu, kedua konsentrasi lainnya
terntentu.
Data untuk sistem ter-ner sering kali dilaporkan pada diagram segitiga sama sisi; akan tetapi,
untuk perhitungan teknik segitiga siku-siku lebih baik untuk melaporkan data, karena kertas grafik
koordinat tegak dapat digunakan dalam membuat diagram. Jika perhitungan hanya menyangkut
konsentrasi solute yang relative rendah, hanya sebagian diagram itu kiranya yang akan dilukis
dengan memperluas skala mendatar supaya diperoleh ketelitian grafik yang lebih besar.
Sistim terner isopropil eter-asam asetat-air (gambar 3.8)merupakan contoh sistim dengan
satu pasang cairan sebagian saling melarut sempurna dan dua pasang lainnya saling larut semua.
Gambar3.8, masing-masing titik sudut segitiga menggambarkan komponen murni; sudut siku-siku air
murni; puncak isopropil eter murni, titik sudut kanan asam asetat murni.
Umumnya sudut sikuy-siku menggambrkan fase murni yang mengandung komponen utama dari
rafinat yang tidak terkstraksi (b). (komponen rafnat tak terekstraksi); titik sudut puncak, pelarut
murni yang dipakai dalam ekstraksi (c); dan titik sudut kanan slute murni (a) yang harus diekstraksi
dari rafinat degnan pelarut. Garis segetiga menggambarkan campuran solute dan komponen rafinat
tak rafinat tak terekstraksi, tanpa adanya pelarut. Sisi tegak menggambarkan campuran biner dari
komponen tak terekstraksi dan pelarut. Karena x a +x b +x c =1, hanya perlu melukiskan 2 komponen
saja. Komponen yang ketiga selalu dapat dihitung. Pada diagram segitiga siku-siku, campuran paling
mudah dilukiskan denga fraksi massa solute (Xa atau ya) dan fraksi massa pelarut (xc atau yc). Fraksi
massa komponen rafinat tak terekstrasi (yb atau xb) tak perlu dilukis. Sisi miring segi tiga
menggambarkan campuran dengan xb = 0 atau yb = 0. sumbu koordinat untuk komponen b
sebenarnya adalah titik sudut siku-siku. Karena sumbu koordinat ketiga tidak perlu maka tidak dilukis.
Setiap titik dalam segitiga menggambarkan campuran tiga komponen. Komponen
keseluruhan tertentu ada sebagai satu fase cair, sedangkan lainnya dapat terbagi menjadi dua fase
cair. Kurva nopqr (gambar 3.8) memisahkan daerah dua fase (sebelah kiri) dari dearah satu fase
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

25

(sebelah kanan) dan disebut kantong fase. Komposisi-komposisi dari fase setimbang harus terletak
pada kantong fase. Campuran dibagian dari komponen tak terekstrasi disebut fase ratinat. Campuran
pada bagian atas kantong (seperti 0 ) kaya akan pelarut dan disebut ekstrak. Komposisi-komposisi
fase yang setimbang dapat dihubungkan dengan tie line, seperti 0-p. Atau komposisi setimbang dapat
ditentukan dengan menggunakan kurva setimbang dibawah diagram. Pada titik plait (p) tie line
menjadi satu titik dan disini ekstrak dan rafinat sama. Perlu dicatat bahwa kurva setimbang berakhir
pada titik plait pada xa = ya.
Sistim dietilen glikol-stiren-etil benzena merupakan contoh sistim dengan dua dari tiga
pasang cairan sebagaian pelarut (gambar 3.9). Dalam sistim ini fase ekstrak dan fase rafinat
dilukiskan oleh kurva sendiri-sendiri, tak ada titik plait (jalin). Garis untuk fase ekstrak pada diagram
terlalu pendek untuk perhitungan stage. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan menggambarkan lagi
diatas dasar bebas pelarut. (gambar 3.10) pada sumbu mendatar terlukis :

xa , ya ,

massasolut e
massakompo nenrafinat takterekst rasi

pada sumbu tegak terlukis :

xc , yc ,

massapelar ut
massasolut e + komponenra finattakte rekstarsi

Penyebut dari masing-masing besaran ini adalah campuran yang dipisahkan, salah satu komponen
dekenal sebagai solute dan lainnya sebagai komponen yan tak akan terekstrasi secara menyolok.
Dasar penentuan ukuran komposisi ini adalah bebas pelarut.
Bahan bukan pelarut dapat dicirikan menurut konsentrasi salah komponen logikanya solutesebagaimana dilakukan untuk xa dan ya. Sembarang jumlah pelarut dapat ditambahkan persatuan
bahan bukan oelarut. Denan definisi ini, xa + xb = 1 dan xc mempunyai harga sembarang. Dmikian
juga ya + yb = 1, dan yc dapat beberapa pun. Misalnya untuk pelarut murni tak terhingga.
Contoh 3.6 : Hitung data untuk Gambar 3.10 dari ketentuan pada Gambar 3.9.

Penyelesaian : pada kurva ekstrak dari gambar 3.9 pada yc, ya = 0,10, yc = 0,83.
Maka dari itu, yb = 0,07.
Dasar perhitungan 1 1b ekstrak ini.

massasolut e
0,10
=
= 0,59
massasolut ekomponent ekterekstr asi 0 ,10 + 0 ,07
massasolute
0,83
yc =
=
= 4,88
massasolutekomponenrafinattakterekstraksi
0,10 + 0,07
ya =

Titik ( y a =0,59, y c =4,88 ) dapat dilukis sebagai titik pada kurva ekstrak dari gambar 3.10. titik- titik
lainnya dapat dicari secara sama, maka kurva ekstrak dapat dilukis. Pada kurva rafinat dari gambar
3.9 pada x a =0,8; x c =0,22 dan x b =0,178.
xa =

0,8
= 0,817 ;
0,8 + 0,178

xc=

0,022
= 0,0225
0,8 + 0,178

maka dari itu

Titik-titik ini dapat dilukis pada kurva rafinat dari gambar 3.10.
Titik-titik lainnya pada kurva rafinat dilukis dengan cara yang sama. Karena konsentrasi pelarut dari
rafinat kecil, kurva hampir berimpit dengan x c = 0 untuk sistem ini.
Dua bagian dari Gambar 3.9 memerlukan dua bagian dalam Gambar 3.10 untuk penyajian
atas dasar bebas pelarut. Konsentrasi dari solute dalam bahan pelarut adalah sumbu mendatar dari

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

26

masing-masing bagian dari diagram. Sumbu tegak dari salah satu bagian adalah konsentrasi slute
dalam ekstrak, dan sumbu lainnya adalah banyaknya pelarut per satuan bahan bukan pelarut.
Analogi dari pelarut dalam ekstraksi cair-cair, absorbent padat dalam pemisahan adsorpsi dan
entalpi dalam distilasi akan dibicarakan nanti dan diperlihatkan perbedaan kesamaannya.
Sistim propane-asam oleat-minyak biji kapas (gambar 3.11) memperlihatkan sifat kelarutan
dari suatu sistim dapat berubah-ubah dengan suhu. Dalam hal ini, naiknya suhu mengurangi saling
melarutnya, berlawanan dengan lazimnya bahwa naiknya suhu menyebabkan bertambahnya
kelarutan. Sistim yang membentuk dua fase pada suhu rendah dapat saling melarut sempurna pada
suhu tinggi. Gambar 3.11. juga memperlihatkan penggunaan sebagian segitiga dan perubahan skala,
yang sering diperlukan untuk ketelitian perhitungan dengan grafik. Tak ada satu data pun untuk
sistim yang diluar x a = 0,5, jadi diagram diluar titik ini dihilangkan dan diagram sisanya diperbesar
skalanya.
4. KESETIMBANGAN GAS PADAT.
Adsorpsi, kesetimbangan padat gas yang paling umum, ternyata terjadi baik dengan
mekanisme fisis maupun kimiawi. Adsorpsi fisis terjadi bila gaya antar molekul, gaya tarik-menarik
diantara molekul-molekul fluid sendiri. Molekul-lolekul fluid melekat pada permukaan adsorbent
padat, dan kesetimbangan terjadi di antara fluid teadsorpsi dan yang tinggal dalam fase fluid.
Isoterm-isoterm adsorpsi fisis dari percobaan untuk sejumlah uap hidrokarbon murni pada
silica gel diperlihatkan pada Gambar 3.12. adsorpsi dari campuran gas menghasilkan komposisi
dalam adsorbat yang berbeda dari yang ada dalam gas. Maka dari itu dimungkinkan campuran gas
dengan adsorpsi selektif.
Komposisi-komposisi setimbang dari fase gas dan adsorbat untuk campuran propan propilen
diperlihatkan pada Gambar 3.13. diagram kembangan ini sangat mirip dengan diagram
kesetimbangan untuk distilasi (Gambar 3.10). dapat ditarik analogi diantara adsorbent dalam
adsorpsi, entalpi dalam distilasi dan pelarut dalam ekstraksi. Patut diingat bahw fase gas (v) terjadi
pada y c =0, dan fase padat (L) mempunyai harga-harga x c lebih besar dari pada nol, belawanan
dengan diagram analog untuk ekstraksi cairan, seperti gambar 3.9
Data untuk adsorpsi fisis sering kali dapat diungkapkan dengn persamaan emperis.
Persamaan-persamaan umum untuk isotherm adsorpsi adalah :
Freundlich : x = k 1 p
Langmuir : x =

1/ n

k zp
1 = k3 p
= k 2 p untuk harga p kecil

dengan x =

beratadsorbat
satuanberatadsorbent

p = tekanan partial dari gas yang teradopsi dalam fase gas


n, k 1 , k 2 , k 3 , = konstante emperis.
Adsorpsi kimiawi, atau chemisorption, melibatkan interaksi kimiawi diantara fluid teradsorpsi
dan zat padat adsorben. Dalam banyak hal adsorpsi bersifat tak dapat balik, dan sulit memisahkan
adsorbal dari adsorbent. Berdasarkan hal ini hanya adsorpsi fisis memberikan kemungkinan untuk
operasi stage kontinu.
Adsorpsi dipakai untuk memproses cairan maupun gas. Adsorbent yang umum dipakai
meliputi silica gel, arang, alumina, zeolit sintetis dan macam-macam lempung.
Bentuk kesetimbangan padat gas yang benar-benar sederhana terjadi pada sublimasi zat
padat menjadi fase gas, atau langsung kristalisasi zat padat dari gas. Disini konsep tekanan uap
digunakan tepat seperti yang dipakai dalam perssaan-persamaan 3.4 3.7. akan tetapi hanya satu
komponen mengkristalkan atau mensublimasi, maka x = 1,0 untuk terkondensasi.
Penukaran ion merupakan operasi cair padat lainnya, tetapi operasi yang mirip adsorpsi
kimiawi. Damar padat penukar ion dibuat mencakup ion yang akan digesr tempatnya oleh ion adalah
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

27

zeolite water softener (pelunak air dengan zeolit ), disini ion-ion natrium dalam dammar ditukar
oleh ion-ion kalsium dalam air. Operasi penukaran ion di industri adalah kontak batch atau kontinu
bukannya stage, jadi akan dibicarakan di tempat lain.
5. KESETIMBANGAN CAIR PADAT
Dalam ekstraksi cair padat, pelarut cair digunakan untuk larutan zat padat yang tak dapat
larut dari zat padat yang dapat larut. Larutan yang terjadi ada yang melekat pada sias yang tak larut.
Stage setimbang dapat didefinisikan sebagai stage dengan cairan yagn melekat pada zat padat yang
meninggalkannya mempunyai komposisi seperti fase ekstrak cair yang meninggalkannya. Kemudian
perlu menentukan secara percobaan massa cairan yang melekat per satuan massa zat padat yang tak
larut. Data semacam itu dapat dilukiskan pada diagram terner, seperti pada gambar 3.14. kurva
yang terjadi disebut underflow loci dan tidak menggambarkan kondisi setimbang. Sebenarnya
didalamnya tergambar pula kurva untuk perbanding yang konstan dari pelarut terhadap inert dan
larutan terhadap inert dan kurva hasil percobaan untuk hati ikan dengan eter sebagai pelarut.
underflow melukiskan zat padat inert murni, dan hipotenusa dari diagram terner menggambarkan
larutan jernih. Setiap garis yang menghubungkan komposisi larutan jernih pada hepotenusa dengan
sudut siku memotong underflow loci pada komposisi underflow. Maka dari itu, bagian dari garis
berasal dari hepotenusa ke underflow loci adalah equilibrium tieline. Underflow locus menentukan
kuantitas relative dari larutan yang melekat pada zat padat inert. Data dari gambar 3.14 melukiskan
underflow loci. Bila data tersedia data hasil percobaan, hendaknya itu yang dipakai. Bila data
terbatas, kurva seperti (1) dan (2) dapat digunakan sebagai pendekatan.

massapelarutyangmelarut
=1
massainert
massalarutyangmelarut
Kurva (2) = Rasio konstan dari
=1
massainert
Kurva (1) = Rasio konstan dari

Kurva (3) = kurva dari hasil percobaan hati dan eter

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

28

BAB 4
PERPINDAHAN MASSA

1. PENDAHULUAN
Perpindahan massa (mass-transfer) mempunyai peranan yang penting dalam bidang Teknik
Kimia. Karakteristik utama dari seorang sarjana Teknik Kimia (Chemical Engineer) adalah
kesanggupannya untuk merencanakan dan mengoperasikan suatu industri kimia di mana terjadi
operasi-operasi yang bersifat chemis (misal reaksi-reaksi yang terjadi dalam reactor kimia) dan
operasi-operasi yang bersifat fisis (misal pemisahan komponen-komponen yang terdapat dalam
produk hasil reaksi). Kesanggupan ini sebagian besar terletak pada penguasaan terhadap ilmu
perpindahan massa. Pemakaian prinsip-prinsip perpindahan momentum dan perpindahan panas
adalah umum dijumpai pada berbagai bidang teknik. Tetapi pemakaian prinsip-prinsip perpindahan
massa hanyalah terbatas pada bidang Teknik Kimia.
Perpindahan massa adalah kecendrungan suatu komponen di dalam suatu campuran untuk
bergerak dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah. Sebagai
contoh : bila tabung reaksi yang berisi air diletakkan di dalam ruang di mana udaranya kering, maka
uap air akan berpindah melalui kolom udara di dalam tabung reaksi. Di sini nampak bahwa terjadi
perpindahan massa air dari daerah dengan konsentrasi tinggi (pada daerah persis di atas permukaan
air) ke tempat di mana konsentrasinya rendah (pada mulut tabung reaksi). Bila campuran gas di
dalam tabung adalah diam (stagnan), maka perpindahan ini terjadi oleh mekanisme diffuse
molekuler, tetapi apabila terdapat pencampuran baik oleh pencampuran mekanis atau karena
perbedaan density, maka perpindahan massa terjadi oleh mekanisme diffuse turbulen dan
konveksi. Dalam mempelajari prinsip-prinsip perpindahan massa di sini, dipandang terutama
campuran-campuran biner.
2. DIFFUSI MOLEKULER DAN KONVEKSI
Diffusi molekuler adalah berhubungan dengan gerakan molekul-molekul melalui suatu
medium karena energi thermisnya, Diffusi molekuler bisa terjadi dalam fase gas, cair, dan padat.
Diffusi molekuler dalam fase liquid dan padat belum dapat diterangkan dengan memuaskan secara
teoritis. Namun difusi molekuler dalam fase gas dapat diterangkan dengan menggunakan teori kinetic
gas. Menurut teori ini, suatu molekul dianggap bergerak menurut garis lurus dengan kecepatan
konstan sampai molekul ini bertumbukan dengan molekul lain. Sesudah itu, besar dan arah kecepatan
berubah, sehingga molekul-molekul secara keseluruhan bergerak menurut lintasan yang patah-patah
dan tak teratur. Kecepatan rata-rata molekul-molekul tersebut bergantung pada suhu. Semakin tinggi
suhu, maka kecepatan rata-ratanya makin besar. Kecepatan diffuse dapat dinyatakan sebagai jarak
netto yang ditempuh molekul dalam satu arah persatuan waktu. Jarak netto ini adalah hanya
sebagian kecil saja dari panjang lintasan total yang ditempuh molekul. Dapat diharapkan dari teori ini
bahwa kecepatan diffuse naik dengan penurunan tekanan (karena mengurangi jumlah tumbukan)
dan naik dengan kenaikan suhu (karena hal ini akan menaikan kecepatan rata-rata molekul).
Diffusi molekuler dapat terjadi karena gradien konsentrasi (ordinary diffuse), karena gradien
suhu (thermal diffuse), gradien tekanan (pressure difuse) atau karena akibat adanya gaya luar missal
gaya listrik yang bekerja pada sistim (forced diffusion). Diffusi molekuler oleh thermal diffusion,
pressure diffusion dan forced diffusion pemakaiannya terbatas dalam praktek. Yang banyak
pemakaiannya dalam praktek adalah ordinary diffusion. Oleh karena itu, ordinary diffusion inilah yang
dibicarakan disini.
Di atas disebutkan bahwa pada ordinary diffusion diffuse molekuler terjadi gradien
konsentrasi. Oleh karena itu kecepatan diffuse (rate diffuse) suatu komponen pada suatu titik di
dalam suatu campuran bergantung pada gradien konsentrasi komponen tersebut pada titik itu. Untuk
menentukan hubungan ini secara kuantitatif, maka diperlukan pernyataan atau definisi dari pada rate
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

29

perpindahan massa.Rate perpindahan massa bisa dinyatakan dalam molar flux, atau
moles/(waktu)(luas). Luas yang dimaksud di sini adalah luas yang diukur dalam arah tegak lurus arah
perpindahan massa.
Dikenal dua macam flux untuk menyatakan gerakan dari pada suatu komponen di dalam
campuran, yaitu IA. Yakni flux dari komponen A relative terhadap suatu titik tetap, dan IoA yaitu flux
dari komponen A relative terhadap kecepatan rata-rata molar dari seluruh komponen dalam
campuran. Definisi flux yang pertama adalah penting untuk mendisain alat. Sedang definisi flux yang
kedua adalah lebih menunjukan sifat (karakteristik) dari masing-masing komponen yang berdiffusi.
Flux yang kedua ini adalah merupakan penjumlahan dari pada flux akibat diffuse molekuler (yaitu
IoA,t). Jadi :
IoA = IoA,m + IoA,t
Dengan menggunakan pernyataan untuk rate perpindahan massa di atas, maka hubungan antara flux
diffuse molecular dan gradien konsentrasi dapat dinyatakan (untuk campuran biner) sebagai berikut:
IoA,m - -DAB dCA/dZ

(4.1)

di mana :
IoA,m = flux diffuse molekuler komponen A dalam medium B
= koefisien diffuse komponen A dalam medium B
DAB
dCA/dZ = gradien konsentrasi komponen A dalam arah Z
Persamaan ini disebut hukum Fick pertama yang ditulis dalam arah Z. Tanda negative
menunjukan bahwa diffuse terjadi dalam arah penurunan konsentrasi. Persamaan ini adalah analog
dengan hukum Fourier pada heat transfer (perpindahan panas) dan hukum Newton pada momentum
transfer (perpindahan momentum). Harga DAB pada umumnya bergantung pada macam komponen A
dan B, suhu, tekanan, konsentrasi.
Hubungan antara flux diffuse turbulen dan gradien konsentrasi akan dibicarakan pada pasal
lebih lanjut. Di atas telah disebutkan bahwa terdapat dua macam flux yaitu IA dan IoA. Pertanyaan
yang timbul adalah apakah hubungan antara IA dan IoA ? Untuk sementara dianggap bahwa tak ada
turbulensi dalam campuran, sehingga IoA = IoA,m. Dilihat bahwa suatu system biner yang terdiri dari
komponen A dan B. IA adalah flux komponen A relative terhadap titik tetap. IoA adalah flux komponen
A relative terhadap kecepatan molar rata-rata. Maka flux molar total relative terhadap titik tetap
adalah IA + IB, dan kecepatan molar rata-rata adalah:
(4.2)
UM = IA + IB/C = UA CA + Uo Co/C
di mana :
UA = kecepatan linier komponen A
UB = kecepatan linier komponen B
CA = konsentrasi molar komponen A
CB = konsentrasi molar komponen B
C = konsentrasi molar total atau densiti molar campuran (C = CA + CB)
UM = kecepatan molar rata-rata dari campuran.
Jelaslah bahwa IA haruslah lebih besar dari pada IoA sejumlah A yang berada di dalam
campuran yang bergerak dengan kecepatan molar rata-rata UM, atau :
IA = UM CA + IoA

(4.3)

Karena dianggap tak ada turbulensi, maka IoA = IoA,m atau IoA dapat diperoleh dari persamaan (4.1),
sehingga bila disubstitusikan pers. (4.1) dan pers. (4.2) ke dalam pers. (4.3) akan diperoleh:
IA = (IA + IB) CA/C DAB dCA/dZ

(4.4)

Suhu pertama pada sisi kanan pers. (4.4) yaitu (IA + IB) disebut flux konveksi atau convective flux
yaitu flux perpindahan massa karena konveksi, atau disebabkan oleh gerakan dari pada campuran,
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

30

dan diberi symbol IoA. Persamaan (4.4) bila dinyatakan dalam rate perpindahan massa komponen A,
yaitu NA, akan berubah menjadi :
atau :

NA/S = (NA + NB)/S CA/C DAB dCA/dZ


NA/S = (NA + NB)/S XA C DAB dXA/dZ

(4.5)

di mana :
S = luas permukaan untuk perpindahan massa (arah perpindahan massa)
XA = mole fraksi komponen A
Untuk komponen B, persamaan yang serupa dengan pers. (4.5) adalah :
NB/S = (NA + NB)/S XB C DBA dXB/dZ

(4.6)

Bila pers. (4.5) ditambahkan pers. (4.6) akan menghasilkan :


-C DAB dXA/dZ = C DAB dXB/dZ

(4.7)

atau IoA = -IoB, karena XA + XB = 1 (dXA/dZ = dXB/dZ), maka pers. (4.7) adalah ekivalen dengan
DAB = DBA.
Pers.(4.5) atau pers. (4.6) adalah persamaan umum untuk rate perpindahan massa di mana tak ada
turbulensi, Bila dianggap tak ada reaksi kimia, maka dapat ditinjau dua keadaan yaitu :
2.1 Diffusi A melalui B yang stagnan melalui permukaan konstan (S adalah konstan)
Dalam hal ini NB = 0 (keadaan ini terjadi misalnya pada operasi absorpsi). Bila hanya NB = 0
dimasukan ke dalam pers. (4.5) dan dilakukan integrasi antara bidang batas 1 dan bidang batas 2,
akan diperoleh :
di mana :

IA = NA/S = C DAB/Z(1-XA)L (XA1 ZA2)

(4.8)

C DAB/(1 - XA)L = (1 XA1) (1 XA2)/ln 1 XA1/1 XA2


= XA2 XA1/ ln 1-XA1/1- XA2
dan Z = Z2 Z1 = jarak antara bidang batas 1 dan bidang batas 2
Untuk difusi di dalam fase gas, dari pers. (8) dapat diturunkan persamaan berikut :
IA
di mana :

= NA/S = DAB PT/RT Z PBM (PA1 PA2)

(4.9)

PBM = A1 PB2/ln PB1/PB2


PT
PA1
PA2
PB1
PB2
T
R

= tekanan total dari campuran


= tekanan parsial A pada bidang
= tekanan parsial A pada bidang
= tekanan parsial B pada bidang
= tekanan parsial B pada bidang
= suhu absolute
= konstanta gas

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

batas 1
batas 2
batas 1
batas 2

31

2.2 Diffusi ekimolal tak searah melalui permukaan konstan


Dalam hal ini, NA = -NB (keadaan ini terjadi misalnya pada operasi distilasi). Bila hubungan,
NA = -NB dimasukan ke dalam pers. (4.5), dan dilakukan integrasi antara bidang batas 1 dan bidang
batas 2, maka akan diperoleh :
IA = NA/S = C DAB/Z (XA1 XA2)

(4.10)

Untuk diffuse dalam fase gas, dari pers. (4.10) dapat diturunkan persamaan berikut :
IA = NA/S = DAB/R T Z (PA1 PA2)

(4.11)

Untuk keadaan lain, persamaan untuk rate perpindahan massa dapat diturunkan dari pers. (4.5) atau
(4.6).
3. KOEFISIEN DIFFUSI (DIFFUSIVITY)
Koefisien diffuse DAB adalah karakteristik sistim yang secara umum bergantung pada macam
komponen A dan B, suhu, tekanan, dan konsentrasi. Satuan koefisien diffuse adalah
(panjang)2/waktu. Dalam sistim cgs, satuan koefisien diffuse adalah cm2/detik. Di sini akan
dibicarakan koefisien diffuse dalam gas dan dalam fasa liquid.

Contoh soal 4.1 : Suatu lapisan tipis (setebal 0,4 cm) dari pada larutan etanol (A) di dalam air (B)
berkontak pada salah satu permukaannya dengan cairan organic ke dalam di mana air tak bisa larut,
sedang etanol bisa. Konsentrasi etanol pada interface (bidang batas 2) adalah 6,3 % berat etanol dan
konsentrasi pada permukaan lainnya (bidang batas 1) adalah 16,8 % berat etanol. Kerapatan larutan
pada bidang batas 2 adalah 0,9881 gr/cm3 dan pada bidang batas 1 adalah 0,9728 gram/cm3. Suhu
sistim adalah 20 oC . Pada keadaan ini koefisien diffuse DAB = 0,74 x 10-5 cm3/det. Hitunglah flux
perpindahan massa IA

Penyelesaian :
% berat etanol pada bidang batas 1 adalah 16,8 %, maka mol fraksinya adalah :
XA1 =16,8/46,05/16,8/46,05 + 83,2/18,2 = 0,732
XB1 = 1 XA1 = 0,9268
Dengan cara sama untuk bidang batas 2 : XA2 = 0,0277 dan XB2 = 0,9723
Berat molekul rata-rata pada bidang batas 1 adalah :
M1 = (0,0732) (46,05) + (0,9268) (18,02) = 20,07 gr/gmole
M2 = 18,75 gr/gmole
Molar density rata-rata bisa dihitung dari :
Crata-rata = [X1/M1 + X2/M2 ]/2 = 0,9723/20,07 + 0,9881/18,75 = 0,0506
Karena air tak larut ke dalam cairan organic, maka B tak berdiffusi sehingga perpindahan massa
adalah diffuse A melalui B yang stagnan.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

32

Dalam hal ini IA dapat dihitung dari pers. (4.3) :


IA = DAB Rrata-rata/X (1-XA)2 (XA1XA2) = DAB Crata-rata/Z XBM (XA1-XA2)
XBM = XB2 XB1/ln XB2/XB1 = 0,9723 0,9268/ ln 0,9723/0,9268 = 0,949
maka :

IA = (0,74 x 10-5) (0,0506)/(0,4) (0,949) (0,0732 0,0277)


= 4,48 x 10-8 gmole etanol/det. cm2
Tabel 1 Koefisien diffusi gas-gas pada 1 atm
Sistim
Udara NH3
Udara H2O
Udara CO2
Udara Etanol
Udara Asam Asetat
Udara n Hexane
Udara Toluene
Udara Hydrogen
Udara n Butanol
Udara n Pentane
H2 Air
He Ar
CH4 Ar
CH4 He
N2 NH3
N2 He
CH4 H2
N2 NH3
H2 NH3
H2 NH3
H 2 H2
H2O N2
H2O CO2
SO2 CO2

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

Suhu
(oC)
0
0
42
3
44
42
25
0
21
25,9
59
0
0
25,9
59
21
22,4
175
796
25
225
25
25
25
25
0
85
25
85
25
85
34,4
55,4
34,3
55,4
343 oK

Koefisien diffuse
(cm2/det)
0,198
0,220
0,288
0,142
0,177
0,145
0,135
0,106
0,080
0,086
0,104
0,611
0,703
0,087
0,104
0,071
0,83
1,76
8,10
0,729
1,728
0,202
0,675
0,230
0,687
0,625
1,093
0,783
1,093
0,784
1,052
0,256
0,303
0,202
0,211
0,108

33

3.1

Koefisien Diffuse dalam Fasa Gas

Koefisien diffuse berbagai zat dalam fasa gas dapat dilihat pada Tabel 1 Bila data koefisien
diffuse tidak ada, maka koefisien difusi dalam gas bisa diperoleh dari persamaan berikut yang
diturunkan berdasarkan pada teori kinetic gas :
DAB = (0,00107 0,000246 1/MA + 1/MB) T2/3 1/MA + 1/MB
PT ( AB)2 f (kT/ AB)

(4.12)

di mana :
DAB
T
PT
A

AB

k
f(kT/
Harga

AB

/k dan

= koefisien diffuse, cm2/detik


= suhu absolute, oK
= tekanan total, atm
= pemisahan molekuler karena tumbukan, oA
= ( A + B) /2
= energi interaksi molecular, erg L =
A
B
= konstanta Boltzman
= fungsi tumbukan yang dapat diperoleh dari Gambar
untuk berbagai gas dapat dilihat pada Tabel 2
Tabel 2 Harga-harga /k dan untuk berbagai gas
Gas
Udara
H2
H2
CO2
N2O
NO
CH4
O2
CO
Ar
Ne
He

Bila tak ada data eksperimen, /k dan

/k, oK

, Ao

97,0
33,3
91,46
190
220
119
136,5
113,2
110,3
124,0
35,7
6,03

3,617
2,968
3,631
3,996
3,879
3,470
3,882
3,433
3,590
3,418
2,80
2,70

dapat dihitung dari :

= 1,18 V1/3
/k = 1,21 Tb
di mana :
V = volume molal zat dalam keadaan liquid pada titik didih normal, cm3/gmol
Tb = titik didih normal, oK
Dalam pemakaian Tabel 3, kontribusi untuk masing-masing atom dalam molekul dijumlahkan.
Misal, untuk Toluene, C7H8, V = 7 (14,8) + 8 (3,7) 15 = 118,2 cm3/gmole.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

34

Tabel 3 Atomic Volume dan Molecular Volume


Atomic Volume

Molecular Volume

Karbon
Hidrogen
Chloride
Bromine
Iodine
Sulfur
Nitrogen
Nitrogen dalam amina primer
Nitrogen dalam amina skunder
Oxygen
Oxygen dalam methyl ester
Oxygen dalam ester-2 yang lebih tinggi
Oxygen dalam asam
Oxygen dalam methyl ether
Oxygen dalam ether-2 yang lebih tinggi
Lingkar Benzene = kurangi dengan
Lingkar Napthalene = kurangi dengan

14,8
3,7
24,6
27,0
37,0
25,6
15,6
10,5
12,0
7,4
9,1
11,0
12,0
9,9
11,0
15,0
30,0

H2
O2
N2
Udara
CO
CO2
SO2
NO
N2O
NH3
H 2O
H2S
CoS
CL2
Br2
I2

14,3
25,6
31,2
29,9
30,7
34,0
44,8
23,6
36,4
25,8
18,9
32,9
51,5
48,4
53,2
71,5

Contoh 4.2 :Hitung koefisien difusi uap ethanol (A), C2H5OH, melalui udara (B) pada 1 atm dan 0 oC.

Penyelesaian :
T
= 273 oK
MA = 46,07

PT = 1 atm
MB = 29

Dari Tabel 2 :
B/k

Untuk Udara :

= 97 ;

= 3,617

Untuk Ethanol :
VA = 2(14,8) + 6(3,7) + 7,4 = 59,2 (Dari Tabel 3)
= 1,18 (59,2) = 4,6
A
TBA = 351,4 oK
o
A/k = 1,21 (351,4) = 425 K
AB

AB/k

KT/

=
AB

+
A/k

= 4,6 + 3,617/2 = 4,11


B/k

(425) (97) = 203

= 273/203 = 1,345

Dari Gambar 2 diperoleh f (kT/

AB)

= 0,62

1/MA + 1/MB = 1/46,07 + 1/29 = 0,237


Maka :
DAB = (0,00107 0,000246 (0,237) (273)3/2 / (1) (4,11)2 (0,62)
= 0,103 cm2/det
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

35

di mana :
DAB
T
PT
TC
VC
M
3.2

= koeffisien diffuse, cm2/det


= suhu absolute, oK
= tekanan, atm
= suhu kritis, oK
= volume molar kritis, cm3/gmole
= berat molekul

Koeffisien Diffusi dalam Fasa Cair

Koeffisien diffuse dalam fasa liquid bergantung kepada suhu, konsentrasi, dan macam
komponen.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

36

BAB 5
PERPINDAHAN PANAS

1. PENDAHULUAN
Perpindahan energi dalam bentuk panas berlangsung dalam hampir setiap proses kimia
maupun proses-proses lainnya. Perpindahan panas terjadi karena adanya gaya dorong akibat
perbedaan temperatur sehingga panas mengalir dari temperatur tinggi ke temperatur rendah. Ilmu
yang mempelajari tentang perpindahan kalor ini tidak hanya mencoba menjelaskan bagaimana energi
panas itu dapat berpindah tetapi juga meramalkan laju perpindahan yang terjadi pada kondisi-kondisi
tertentu. Perbedaan antara ilmu thermodinamika dengan ilmu perpindahan panas adalah kenyataan
bahwa yang dianalisis dalam perpindahan panas adalah laju perpindahan. Karena beda temperatur
terdapat diseluruh alam semesta, maka hal ikhwal perpindahan panas bersifat seuniversal tarikan
gravitasi. Bedanya adalah aliran panas tidak dikendalikan oleh suatu hubungan yang unik,
sebagaimana halnya gravitasi tetapi oleh kombinasi berbagai hukum fisika yang tidak saling
bergantungan.
Panas (heat) adalah proses perpindahan energi dari suatu benda atau sistem ke benda atau
sistem lain sebagai akibat selisih temperatur (Isaac, 1997). Disini dikatakan bahwa panas itu
merupakan proses perpindahan energi. Perpindahan energi ini (dalam bentuk panas) dapat terjadi
secara kimia dan jenis-jenis proses lain dan juga dapat dikombinasikan dengan operasi-operasi lain.
Seperti pengeringan makanan, distilasi alkohol, pembakaran bahan bakar, dan evaporasi.
Perpindahan energi dalam bentuk panas ini terjadi karena adanya perbedaan temperatur gaya gerak
dan aliran panas dari temperatur tinggi ke temperatur rendah.
Perpindahan panas itu sendiri mungkin terjadi dengan salah satu atau lebih dari tiga
mekanisme dasar perpindahan panas, yaitu : konduksi (hantaran), konveksi (aliran), dan radiasi
(pancaran).
2. KONDUKSI
Konduksi dapat dipahami dengan mudah bila kita perhatikan aliran kalor didalam zat padat
isotropik homogen, karena disini tidak terdapat konveksi dan efek radiasinya pun dapat diabaikan
kecuali jika zat padat itu translusen atau menerawang (translucent) terhadap gelombang
elektromagnetik sehingga konduksi adalah perpindahan sejumlah energi melalui suatu zat tanpa
berpindahnya zat itu sendiri (Ahmadi, 1996).
Menurut hukum Fourier, hubungan dasar yang menguasai aliran kalor melalui konduksi
adalah berupa kesebandingan yang ada antara laju aliran kalor melintas permukaan isotermal dan
gradien suhu yang terdapat pada permukaan itu. Hubungan umum ini, yang berlaku pada setiap
lokasi di dalam suatu benda, pada setiap waktu, disebut hukum Fourier. Hukum itu dapat dituliskan
sebagai berikut :

dq
T
= k
dA
n

. (5.1)

dalam hal ini :


A = luas permukaan isotermal
n = jarak, diukur normal (tegak lurus) terhadap permukaan itu
q = laju aliran kalor melintas permukaan itu pada arah normal terhadap
permukaan
T = suhu
K = konstanta proporsionalitas (tetapan kesebandingan)
Walaupun persamaan tersebut berlaku khusus untuk permukaan isotermal, persamaan ini
dapat pula kita gunakan untuk aliran kalor melintas sembarang permukaan yang tidak selamanya
harus isotermal, asal saja luas A ialah luas permukaan dan panjang lintasan diukur tegak lurus
terhadap luas itu. Untuk lebih jelas dapat diilustrasikan pada Gambar 1.
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

37

Suhu
120F

Gas Panas
III

Udara
c

II
I

80F

Gambar 1. Distribusi suhu, pemanasan dinding tungku, keadaan tak steady : I, pada saat dinding
pertama sekali tekanan suhu tinggi, II, dalam pemanasan waktu t; III, pada keadaan steady

Konduksi pada kondisi distribusi suhu keadaan konstan disebut konduksi keadaan stedy
(stedy-state conduction). Pada keadaan stedy, T hanya merupakan fungsi posisi semata-mata, dan
laju aliran kalor pada setiap titik pada dinding itu konstan. Untuk aliran steady satu dimensi,
persamaan (1) dapat dituliskan menjadi:

q
dT
= k
A
dn

. (5.2)

Konstanta proporsionalitas k diatas ialah suatu sifat fisika bahan, yang disebut konduktifitas
termal atau kehantaran termal (thermal conductivity). Sifat ini, sebagaimana juga viskositas Newton
, merupakan salah satu sifat-sifat transfor bahan. Hukum Fourier menyatakan bahwa k tidak
bergantung pada gradien suhu tetapi tidak selalu demikian halnya terhadap suhu itu sendiri.
Ketergantungan k ini telah dibuktikan dengan eksperimen dalam jangkau landaian suhu yang cukup
luas, kecuali untuk zat padat berpori, dimana radiasi antar partikel, yang tidak mematuhi hukum suhu
yang linier, merupakan bagian penting dari aliran kalor total. Di lain pihak, k merupakan fungsi suhu,
walaupun bukan fungsi kuat. Untuk jangkauan suhu yang tidak besar, k dapat dianggap konstan.
Tetapi untuk jangkauan suhu yang lebih lebar, konduktivitas termal dapat didekati dengan persamaan
dalam bentuk:
K = a + bT

. (5.3)

Dimana a dan b adalah konstanta empirik. Konduktivitas termal zat cukup berbeda. Nilainya adalah
tertinggi pada logam, dan paling rendah untuk bahan berbentuk serbuk yang telah dihampakan dari
udara (McCabe,1999).
T1
T2

Fluida A dingin

Fluida A panas

T3
T4

T5
T6
Dinding metal

Gambar 2. Profil temperatur untuk perpindahan panas dengan konveksi dari suatu fluida ke fluida
yang lain

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

38

Untuk tangki yang berbentuk silinder berlubang, dimana pada tangki tersebut ada jari-jari dalam r1
yang mempunyai temperatur T1 dan jari-jari luar yang mempunyai temperatur T2 dan mempunyai
tinggi, sehingga persamaan Fourier dapat ditulis ulang sebagai berikut :

q
dT
= k
A = 2rL
A
dr
T2
q r2 dr
=

k
T1 dT
2L r1 r
2L
(T1 T2 ) ........ (4)
q=k
ln(r2 r1 )
3. KONVEKSI
Menurut Alan Isaacs (1997), konveksi adalah proses perpindahan panas dari suatu bagain
fluida ke bagian lain fluida akibat gerakan fluida itu sendiri untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gabar
2. Disini terlihat bahwa panas berpindah dari suatu fluida (fluida panas A) melewati dinding tangki
dan baru menuju ke fluida kedua (fluida dingin A). Sehingga untuk koefisien perpindahan panas
konveksi melalui fluida adalah :
Q = h A (T Tw)

. (5.5)

Dalam hal ini h adalah koefisien konveksi dalam W/m2.K, A adalah luas permukaan dalam m2, T
dalam bulk temperatur atau temperatur rata-rata fluida dalam K, Tw adalah temperatur dinding
dalam kontak dengan fluida dalam K, dan q adalah laju perpindahan panas dalam W.
Perpindahan panas dengan cara konveksi ini dapat terjadi dalam 2 bentuk yang meliputi konveksi
alamiah dan konveksi paksa.

a. Konveksi alami (Natural convection)

Konveksi alami ini terjadi ketika permukaan padatan bersentuhan dengan gas atau cairan
dimana terjadi perubahan temperatur pada perukaannya. Perubahan density dalam fluida timbul dari
proses pemanasan dan adanya gaya apung (buoyancy force) untuk menggerakkan fluida. Sebagai
contoh, penggunaan radiator untuk memanaskan ruangan. Dimana udara dingin yang masuk ke
radiator dan kemudian dipanaskan dan panas ini meningkat dengan adanya gaya apung.
Untuk permukaan vertikal isotermal atau plat dengan ketinggian L kurang dari 1 m, koefisien
perpindahan panas secara konveksi dapat dilihat dengan menggunakan persamaan umumnya, yaitu :
m

N Nu

L3 2 T C P
hL
= a( N Gr N Pr )m . (5.6)
=
= a
2
k
k

Dalam hal ini a dan m adalah konstanta dari tabel 1, NGr adalah bilangan tak berdimensi Grashof,
density dalam Kg/m3, viskositas dalam Kg/ms, T perubahan temperatur positif antara dinding dan
fluida (bulk fluida) dalam K, k konduktivitas termal dalam W/mK, CP kapasitas panas dalam J/KgK,
koefisien ekspansi volumetrik fluida dalam 1/K dan g adalah 9,80665 m/s2. Semua sifat-sifat fisika
tersebut dihitung pada temperatur film Tf = (Tw-Tb)/2.

b. Konveksi paksa (Forced convection)

Konveksi paksa adalah proses konveksi yang dipaksakan dengan peralatan-peralatan mekanik
seperti: kipas, pengaduk, pompa dan lain-lain. Kalau dengan pengadukan, dimana dengan adanya
pengadukan maka perpindahan panas tersebar marata ke fluida. Untuk ilustrasinya dapat dilihat pada
Gambar 3.
Hubungan untuk koefisien perpindahan panas dalam fluida Newton yang dicampur (agitated)
dalam vessel adalah sebagai berikut:

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

39

D N C P
hDt

= a a

k
k

. (4.7)

Dalam hal ini h adalah koefisien perpindahan panas dari cairan agitasi ke dinding bagian dalam,
W/m2K, Dt adalah diameter dalam tangki dalam m, k konduktivitas termal dalam W/mK, Da diameter
pengaduk dalam m, N adalah kecepatan rotasional dalam putaran per sec, adalah densitas fluida
dalam Kg/m3, dan adalah viskositas fluida dalam Pa.s. Semua sifat-sifat fisika cairan dihitung pada
temperatur cairan (bulk fluida) kecuali w, yang dihitung dengan temperatur dinding Tw sedangkan a,
b, dan m adalah konstanta.
Fluida panas

Fluida panas

agitator

Jaket
pemanas

(a)

(b)

Gambar 3. Perpindahan panas dalam vessel (a) vessel dengan jaket pemanas (b) Vessel dengan coil
pemanas

4. RADIASI
Radiasi adalah proses perpindahan panas dalam bentuk gelombang elektromagnetik yang
dipancarkan oleh benda padat, cair atau gas akibat temperaturnya. Radiasi ini sangat dipengaruhi
oleh emisivitas total permukaannya, dimana semakin besar emisivitasnya maka besar pula koefisien
perpindahan panasnya. Hubungan emisivitas dengan koefisien perpindahan panas dapat dilihat pada
persamaan berikut

hr =

T1 T2
4

T1 T2

T1
T

100 2 100

= (5,676)
T1 T2

(4.8)

Dalam hal ini, adalah emisivitas yang dapat dilihat pada tabel 3, T1 adalah temperatur permukaan
(fluida atau dinding), T2 adalah temperatur udara (lingkungan), hr adalah koefisien perpindahan
panas radiasi dalam W/m2K (Geankoplis, 1993).

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

40

BAB 6
PENGERINGAN ZAT PADAT
1. PENDAHULUAN
Pada dasarnya pengeringan zat padat berarti pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair
lainnya dari bahan padatan, sehingga mengurangi kandungan sisa zat cair di dalam zat padat
tersebut. Pengeringan biasanya merupakan langkah akhir dari sederetan operasi, dan hasil
pengeringan bisanya langsung siap untuk di kemas. Contoh zat padat basah seperti kayu, kapas,
kertas yang dapat dikeringkan dengan cara menghembuskan udara (gas) panas yang tak jenuh pada
bahan yang akan dikeringkan. Air atau cairan lain menguap pada suhu yang lebih rendah dari titik
didihnya karena adanya perbedaan kandungan uap air pada bidang antar-muka bahan padat-gas
dengan kandungan uap air pada fasa gas.
Dalam peristiwa tersebut terjadi perpindahan massa dari satu fasa ke fasa lainnya, air dari
fasa cair ke fasa gas dan sebaliknya, yang secara bersamaan terjadi pula perpindahan panas laten.
Pemisahan air atau zat cair lain dari zat padat dapat dilakukan dengan memeras zat cair itu secara
mekanik hingga keluar atau dengan pemisahan sentrifugal atau dengan penguapan secara termal.
Pemisahan zat cair secara mekanik biasanya lebih murah biayanya, dan biasanya kandungan zat cair
diturunkan lebih dahulu sebanyak-banyaknya sebelum diumpankan ke pengering panas. Gas atau
udara panas yang dialirkan melewati suatu bahan yang akan dikeringkan disebut sebagai media
pengering. Gas panas ini menyediakan panas yang diperlukan untuk penguapan air dan sekaligus
membawa air keluar.
Perbedaannya dengan operasi penguapan (evaporasi) adalah jumlah zat yang diuapkan dan
cara pengeluaran uapnya itu hingga jenis peralatannyapun berbeda. Pada evaporasi jumlah air yang
diuapkan jauh lebih besar dan tidak ada medium untuk membawa uap airnya. Kandungan zat cair di
dalam bahanbahan yang dikeringkan berbeda-beda dari satu bahan ke bahan lain terkadang ada
bahan yang tidak mengandung zat cair sama sekali yang biasanya disebut kering tulang (bone dry).
Namun pada umumnya, zat padat masih mengandung sedikit zat cair. Di dalam Teknik Kimia operasi
pengeringan tidak terbatas hanya pada sistem uap air dan udara saja, tetapi juga dilakukan untuk
sistem uap zat lain dan gas tertentu. Akan tetapi di dalam praktek banyak dijumpai sistem uap airudara. Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari
suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Biasanya
kandungan air bahan tersebut dikurangi sampai suatu batas agar mikroba tidak tumbuh lagi di
dalamnya.
Zat padat yang akan dikeringkan biasanya terdapat dalam berbagai bentuk serpih (flake),
bijian (granula), kristal (crystal), serbuk (powder), lempeng (slab), atau lembaran senambung
(Continuous sheet), dengan sifat sifatnya yang mungkin sangat berbeda satu sama lainnya. Zat cair
yang akan diuapkan itu mungkin terdapat pada permukaan zat padat, sebagaimana dalam hal kristal,
bisa pula seluruhnya terdapat di dalam zat padat , misalnya pada pemisahan zat pelarut dari
lembaran polimer, atau sebagian di luar dan sebagian di dalam.
Keuntungan dari pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet dengan volum bahan menjadi
lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang penyimpanan dan pengepakan, berat
bahan juga berkurang sehingga memudahkan pengangkutan, dengan demikian diharapkan biaya
produksi menjadi lebih murah.
2. KLASIFIKASI
Tidak ada cara yang sederhana untuk mengklasifikasikan peralatan pengering. Namun alat
pengering dapat diklasifikasikan dalam 3 kelompok yaitu:
(1) Berdasarkan Proses :
Proses tumpak (batch): material dimasukkan ke dalam pengering dan dikeringkan sampai
waktu tertentu yang diinginkan.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

41

Proses sinambung (continuous): material dimasukkan kedalam pengering dan bahan kering
diambil secara sinambung.
(2) Berdasarkan Sistem Kontak:
Pengering adiabatic (adiabatic dryer) atau direct dryer: bahan bersentuhan langsung dengan
media pengering dan uap air yang terbentuk dipindahkan oleh udara.
Pengering nonadiabatik (nonadiabatik dryer) atau indirect dryer, dimana perpindahan kalor
berlangsungdari suatu medium diluar pengering.
Pengering adiabatic dan nonadiabatik (direct-indirect dryer): kombinasi antara pengering
adiabatic dan nonadiabatik.
(3) Berdasarkan Keadaan Fisik Bahan yang dikeringkan:
Pengering hampa (vacuum drying): pengeringan pada tekanan rendah dan proses penguapan
berlangsung cepat.
Pengering beku (freezing drying): air disublimasikan dari bahan yang dibekukan.
3. PENGERINGAN DAN APLIKASINYA
Kebanyakan pengering industri menangani zat padat butiran pada sebagian atau keseluruhan
siklus pengeringannya, walaupun beberapa ada juga yang mengeringkan benda-benda besar, seperti
barang-barang keramik atau lembaran polimer. Dalam pengeringan adiabatik zat padat itu
bersentuhan dengan gas menurut salah satu dari cara berikut, yaitu :
(1) Gas ditiupkan melintas permukaan hamparan atau lembaran zat padat atau melintas satu atau
kedua sisi lembaran atau film sinambung. Proses ini disebut pengeringan dengan sirkulasi silang
(cross-circulation drying)
(2) Gas ditiupkan melalui hamparan zat padat butiran kasar yang ditempatkan diatas ayak
pendukung, cara ini disebut pengeringan sirkulasi tembus (through circulation drying)
(3) Zat padat disiramkan kebawah melalui suatu arus gas yang bergerak perlahan-lahan keatas,
kadang-kadang dalam hal ini terdapart pembawa ikutan yang tidak dikehendaki dari pada
partikel halus oleh gas.
(4) Gas dialirkan melalui zat padat dengan kecepatan yang cukup untuk memfluidisasikan
hamparan.
(5) Zat padat seluruhnya di bawa ikut dengan arus gas kecepatan tinggi dan diangkut secara
pnematik dari piranti pencampuran ke pemisah mekanik.
Dalam pengeringan non adiabatik, satu-satunya gas yang harus dikeluarkan adalah uap air atau
uap zat pelarut, walaupun kadang-kadang jumlahnya kecil gas penyapu (sweep gas) (biasanya
udara atau nitrogen) dilewatkan juga melalui unit itu. Pengeringan non adiabatik dibedakan, terutama
menurut caranya zat padat itu berkontak dengan permukaan panas atau sumber kalor lainnya.
(1) Zat padat dihamparkan di atas suatu permukaan horizontal, yang stasioner atau bergerak lambat
dan dimasak hinggga kering.
(2) Zat padat itu bergerak diatas permukaan panas yang biasanya berbentuk silinder dengan
bantuan pengaduk atau konveyor skrup atau konveyor dayung.
(3) Zat padat penggelincir dengan gaya gravitasi di atas permukaan panas yang miring atau di bawa
naik bersama dengan permukaann yaitu selama sewaktu waktu tertentu dan kemudian
diluncurkan lagi ke suatu lokasi baru.
Gejala perubahan suhu dalam pengeringan tergantung pada sifat bahan umpan kandungan zat
cairnya, suhu, medium pemanas, waktu pengeringan, serta suhu akhir yang diperbolehkan dalam
pengeringan zat padat itu. Namun pola perubahan itu ada kesamaannya antara satu pengeringan
dengan pengeringan yang lain.
Jika ms adalah massa zat padat kering tulang (bone dry) yang akan dikeringkan per satuan
waktu dan Xa, Xb masing-masing zat cair awal dan akhir dinyatakan dalam zat cair per massa zat
padat kering tulang, maka kuantitas kalor yang berpindah per satuan massa zat padat ql/ms adalah:
ql/ms = Cp (Tsb-Tsa) + Xa Cpl (Tv-Tsa) + (Xa-Xb) + Xb Cpl (Tsb Tv) + (Xa Xb) Cpv (Tvb
Tv) .(Pers. McCabe, 25-1)
dalam hal ini :
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

42

Tsa = suhu umpan


Tsb = suhu akhir zat padat
Tv = suhu penguapan
= kalor penguapan
Cp = kalor spesifik zat padat, cair dan uap
Pada pengeringan adiabatik, Tv adalah suhu cembul basah gas, sedang Tvb adalah suhu
keluaran gas Thb. Kalor yang berpindah ke zat padat, zat cair dan uap sebagaimana didapat dalam
persamaan (25-1) berasal dari pendingin gas pada pengering adiabatik kontinyu neraca panas
menghasilkan :
Q1 = mg (1 + Ha) Csa (Tha Thb) (Pers. McCabe, 25-2)
dalam hal ini:
mg = laju massa kering
Ha = kelembaban gas masuk
Csa = kalor lembab gas pada kelembaban waktu masuk

Gambar 1 Diagram proses pengeringan di industri

4. FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP LAJU PENGERINGAN


Mengingat banyaknya ragam bahan yang dikeringkan di dalam peralatan komersial dan
mengingat banyaknya macam peralatan yang digunakan orang, maka tidak ada satu teoripun
mengenai pengeringan yang dapat meliputi semua jenis bahan dan peralatan yang ada. Variasi
bentuk dan ukuran bahan, keseimbangan kebasahannya (moisture), mekanisme aliran bahan
pembasah itu di dalam zat padat, serta metode pemberian kalor yang diperlukan untuk penguapan,
semuanya itu menyebabkan kita tidak bisa melakukan satu pembasahan tunggal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju pengeringan bahan adalah: sifat fisika dan kimia
bahan (bentuk, ukuran, komposisi dan kadar air), pengaturan geometris bahan pada permukaan alat
atau media perantara perpindahan panas (seperti tray pada pengering), sifat fisik lingkungan
pengering (temperatur udara, kelembaban, kecepatan udara), karakteristik alat pengering efisiensi
perpindahan panas. Suatu bahan dapat dikeringkan di dalam udara, dalam uap lewat panas, dalam
ruang hampa, dalam gas inert dan dengan aplikasi panas langsung. Pada umumnya udara digunakan
sebagai medium pengering, sebab jumlahnya cukup banyak, mudah digunakan dan pemanasan yang
berlebihan terhadap bahan pangan dapat dikendalikan. Udara digunakan untuk menghantarkan panas
kedalam bahan yang dikeringkan dan membawa uap air yang dibebaskan dari bahan pangan.
Pemberian panas (energi) kepada pengering bertujuan untuk: memanaskan umpan (zat
padat dan zat cair) sampai suhu penguapan, menguapkan zat cair, memanaskan zat padat sampai
suhu akhirnya, memanaskan uap sampai suhu akhirnya.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

43

Ditinjau kepada internal gradien temperatur, transmisi panas di dalam bahan lebih condong
terjadi secara konveksi, sedangkan jika ditinjau kepada perpindahan massa (moisture) tidak begitu
dipengaruhi oleh faktor ini. Mekanisme perpindahan panas dengan metoda yang lain, seperti secara
radiasi, atau yang disebabkan oleh pemuaian panas dalam (seperti reaksi kimia), jarang diaplikasikan
pada proses pengeringan bahan terutama bahan pangan.
Gejala perubahan suhu di dalam suatu pengeringan bergantung pada sifat bahan umpan dan
kandungan zat cairnya, suhu, medium pemanas, waktu pengeringan serta suhu akhir yang
diperbolehkan dalam pengeringan zat padat itu.
Secara umum air di dalam suatu bahan terdapat dalam beberapa bentuk antara lain:
1. Air bebas (free water), terdapat dipermukaan bahan dan mudah diuapkan
2. Air terikat (bound water).
Air terikat bisa terdapat dalam beberapa kondisi. Air cair di dalam kapiler-kapiler halus
memberikan tekanan uap uang rendah abnormal karena kelengkungan permukaannya dalam hal ini
sangat cekung; kebasahan di dalam sel atu dinding serat mungkin mengalami penurunan tekanan
uap karena adanya zat padat yang telarut di dalamnya; air di dalam bahan organik alam berada
dalam gabungan fisika dan kimia, sifat dan kekuatannya berbeda-beda sesuai dengan sifat dan
kandungan kebasahan di dalam zat padat itu. Air tak terikat di lain pihak memberikan tekanan uap
penuh dan terutama terdapat di dalam rongga-rongga zat padat. Perbedaan air tak terikat dan air
terikat bergantung pada bahan itu sendiri sedangkan perbedaan antara kebasahan bebas dan
kebasahan seimbang bergantung pada kondisi pengeringan.

Gambar 2 Diagram proses pengeringan di industri (sistem penyemprotan)

Kelembaban atau humidity adalah massa uap yang di bawa oleh suatu satuan massa gas
bebas uap. Menurut definisinya kelembaban tergantung pada tekanan parsial uap di dalam campuran
bila tekanan total dibuat tetap. Jadi kelembaban adalah ;
MA PA
H = ..(Pers. Geankoplis, 9.3-1)
MB (1-PA)
Gas jenuh adalah gas dimana uap berada dalam kesetimbangan dengan zat cair. Tekanan
parsial uap jenuh sama dengan tekanan uap cair.
18,02 pAS
HS = (Pers. Geankoplis, 9.3-2)
28,97 P pAS
Kelembaban relatif didefinisikan sebagai rasio antara tekanan parsial uap dan tekanan uap cair
pada suhu gas. Besaran ini biasanya dinyatakan dalam persen sehingga kelembaban 100 % adalah
gas jenuh sedangkan kelembaban 0 % berarti gas bebas uap.
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

44

pA
HR = 100 .. (Geankoplis, 9.3-4)
pAS
Kalor lembab atau humidity heat adalah energi yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 kg
udara kering beserta seluruh uap yang dikandungnya sebesar 1 oK atau 1 oC. Volume lembab
(humidity volume) ialah volume total suatu satuan massa gas bebas uap beserta seluruh uap yang
dikandung pada tekanan 1 atm dan suhu gas sesuai dengan hukum gas ideal. Volume lembab VH
untuk campuran udara-uap air adalah :
VH m3/kg udara kering = (2,83 x 10-3 + 4,56 x 10-3H)TK
Titik embun adalah suatu pendingin campuran uap-gas pada kelembaban tetap menjadi jenuh.
Titik embun fasa gas jenuh sama dengan suhu gas itu.
Alat pengering dapat berupa: Tray dryer, Vacum shelf indirect drayers, Continous Dryer, Rotary
Dryer, Drum Dryer, Spray Dayer, Alat pengeringan Gandum waktu panen, dan lainnya.
Bila perpindahan kalor dan perpindahan massa terdapat sekaligus mekanisme pengeringan
tergantung pada sifat zat padat serta metoda yang digunakan untuk mengontakan zat padat dengan
gas itu. Ada 3 macam zat padat yang dikenal yaitu: kristal, zat berpori, dan padat tidak berpori.
Partikel kristal tidak mengandung zat cair, sehingga pengeringahn hanya berlangsung pada
permukaan zat padat saja, hamparan partikel kristal dapat dianggap sebagai zat yang sangat berpori
zat padat yang benar-benar berpori seperti plat katalis, mengandung zat cair pada saluran
pedalamannya, misalnya zat padat yang tidak berpori antara lain, gel-gel koloid seperti sabun,
perekat, lempung plastik.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

45

BAB 7
FLUIDISASI

1. PENGERTIAN FLUIDISASI
Fluidisasi adalah metoda pengontakan butiran-butiran padatan dengan fluida baik cair
maupun gas. Metoda ini diharapkan butiran padatan memiliki sifat seperti fluida dengan viskositas
tinggi. Sebagai ilustrasi, tinjau suatu kolom berisi sejumlah partikel padat berbentuk bola. Melalui
unggun padatan ini kemudian dialirkan gas dari bawah ke atas. Pada laju alir yang cukup rendah,
butiran padat akan tetap diam, karena gas hanya mengalir dari bawah ke atas. Pada laju alir yang
cukup rendah, butiran padat akan tetap diam, karena gas hanya mengalir melalui ruang antar partikel
tanpa menyebabkan perubahan susunan partikel tersebut. Keadaan yang demikian disebut unggun
diam atau fixed bed. Keadaan fluidisasi unggun diam tersebut ditunjukkan pada Gambar 1a.

Unggun
diam (A)

Unggun
terfluidakan
(B)

Gambar 1 Skema unggun diam dan unggun terfluidakan

Kalau laju alir kemudian dinaikkan, akan sampai pada suatu keadaan di mana unggun padatan akan
tersuspensi di dalam aliran gas yang melaluinya. Pada keadaan ini masing-masing butiran akan
terpisahkan satu sama lain sehingga dapat bergerak dengan lebih mudah. Pada kondisi butiran yang
dapat bergerak ini, sifat unggun akan menyerupai suatu cairan dengan viskositas tinggi, misalnya
adanya kecenderungan untuk mengalir, mempunyai sifat hidrostatik dan sebagainya. Sifat unggun
terfluidisasi ini dapat dilihat pada Gambar 1b. Dalam dunia industri, fluidisasi diaplikasikan dalam
banyak hal seperti transportasi serbuk padatan (conveyor untuk solid), pencampuran padatan halus,
perpindahan panas (seperti pendinginan untuk bijih alumina panas), pelapisan plastik pada
permukaan logam, proses drying dan sizing pada pembakaran, proses pertumbuhan partikel dan
kondensai bahan yang dapat mengalami sublimasi, adsorpsi (untuk pengeringan udara dengan
adsorben), dan masih banyak aplikasi lain.
Fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada prose fluidisasi antara lain:
(1) Fenomena fixed bed yang terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju minimum yang
dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini partikel padatan tetap diam. Kondisi ini
ditunjukkan pada Gambar 1a.
(2) Fenomena minimum or incipient fluidization yang terjadi ketika laju alir fluida mencapai laju alir
minimum yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Pada kondisi ini partikel-partikel padat mulai
terekspansi. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 1b.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

46

(3) Fenomena smooth or homogenously fluidization terjadi ketika kecepatan dan distribusi aliran
fluida merata, densitas dan distribusi partikel dalam unggun sama atau homogen sehingga
ekspansi pada setiap partikel padatan seragam. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 2 Sifat Cairan dalam Unggun terfluidisasi

Gambar 3 Fenomena smooth or homogenously fluidization

(4) Fenomena bubbling fluidization yang terjadi ketika gelembung gelembung pada unggun
terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel tidak homogen. Kondisi ini ditunjukkan pada
Gambar 4.

Gambar 4 Fenomena bubbling fluidization


Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

47

(5) Fenomena slugging fluidization yang terjadi ketika gelembung-gelembung besar yang mencapai
lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikel-partikel padat. Pada kondisi ini terjadi
penorakan sehingga partikel-partikel padat seperti terangkat. Kondisi ini ditunjukkan pada
Gambar 5.

Gambar 5 Fenomena slugging fluidization

(6) Fenomena chanelling fluidization yang terjadi ketika dalam ungggun partikel padatan terbentuk
saluran-saluran seperti tabung vertikal. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 6 Fenomena chanelling fluidization

(7) Fenomena disperse fluidization yang terjadi saat kecepatan alir fluida melampaui kecepatan
maksimum aliran fluida. Pada fenomena ini sebagian partikel akan terbawa aliran fluida dan
ekspansi mencapai nilai maksimum. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 7.
Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor:
(1) laju alir fluida dan jenis fluida,
(2) ukuran partikel dan bentuk partikel,
(3) jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel,
(4) porositas unggun,
(5) distribusi aliran,
(6) distribusi bentuk ukuran fluida,
(7) diameter kolom, dan
(8) tinggi unggun.
Faktor-faktor di atas merupakan variabel-variabel dalam proses fluidisasi yang akan menentukan
karakteristik proses fluidisasi tersebut. Karakteristik unggun terfluidakan digambarkan pada kurva
karakteristik fluidisasi yang merupakan plot antara log U dan log P. Persamaan yang digunakan
adalah Persamaan Ergun dan Persamaan Wen Yu.
Proses fluidisasi biasanya dilakukan dengan cara mengalirkan fluida gas atau cair ke dalam kolom
yang berisi unggun butiran-butiran padat. Pada laju alir yang kecil aliran hanya menerobos unggun
melalui celah-celah/ ruang kosong antar partikel, sedangkan partikel-partikel padat tetap dalam
keadaan diam. Kondisi ini dikenal sebagai fenomena unggun diam. Saat kecepatan aliran fluida
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

48

diperbesar sehingga mencapai kecepatan minimum, yaitu kecepatan saat gaya seret fluida terhadap
partikel-partikel padatan lebih atau sama dengan gaya berat partikel-partikel padatan tersebut,
partikel yang semula diam akan mulai terekspansi, Keadaan ini disebut incipient fluidization atau
fluidisasi minimum. Jika kecepatan diperbesar, akan terjadi beberapa fenomena yang dapat diamati
secara visual dan pada kondisi inilah partikel-partikel padat memiliki sifat seperti fluida dengan
viskositas tinggi.
Karena sifat-sifat partikel padat yang menyerupai sifat fluida cair dengan viskositas tinggi, metoda
pengontakan fluidisasi memiliki beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungan proses fluidisasi,
antara lain:
(1) sifat unggun yang menyerupai fluida memungkinkan adanya aliran zat padat secara kontinu
dan memudahkan pengontrolan,
(2) kecepatan pencampuran yang tinggi membuat reaktor selalu berada dalam kondisi isotermal
sehingga memudahkan pengendaliannya,
(3) sirkulasi butiran-butiran padat antara dua unggun fluidisasi memungkinkan pemindahan jumlah
panas yang besar dalam reaktor,
(4) perpindahan panas dan kecepatan perpindahan mass antara partikel cukup tinggi, dan
(5) perpindahan panas antara unggun terfluidakan dengan media pemindah panas yang baik
memungkinkan pemakaian alat penukar panas yang memiliki luas permukaan kecil.
Sebaliknya, kerugian proses fluidisasi antara lain:
(1) selama operasi partikel-partikel padat mengalami pengikisan sehingga karakteristik fluidisasi
dapat berubah dari waktu ke waktu,
(2) butiran halus akan terbawa aliran sehingga mengakibatkan hilangnya sejumlah tertentu
padatan,
(3) adanya erosi terhadap bejana dan sistem pendingin, dan
(4) terjadinya gelombang dan penorakan di dalam unggun sering kali tidak dapat dihindari
sehingga kontak antara fluida dan partikel tidak seragam. Jika hal ini terjadi pada reaktor,
konversi reaksi akan kecil.
2.

Hilang Tekanan (Pressure Drop)

Aspek utama yang akan ditinjau dalam proses fluidisasi ini adalah mengetahui besarnya hilang tekan
(pressure drop) di dalam unggun padatan yang terfluidakan. Hal tersebut mempunyai arti yang cukup
penting karena selain erat sekali hubungannya dengan besarnya energi yang diperlukan, juga bisa
memberikan indikasi tentang kelakuan unggun selama operasi berlangsung. Penentuan besarnya
hilang tekan di dalam unggun terfluidakan terutama dihitung berdasarkan rumus-rumus yang
diturunkan untuk unggun diam, terutama oleh Balke, Kozeny, Carman, ataupun peneliti-peneliti
lainnya.
2.1
Hilang Tekan dalam Unggun Diam
Korelasi-korelasi matematik yang menggambarkan hubuangan antara hilang tekan dengan laju alir
fluida di dalam suatu sistem unggun diam diperoleh pertama kali pada tahun 1922 oleh Blake melalui
metoda-metoda yang bersifat semi empiris, yaitu dengan menggunakan bilangan-bilangan tidak
berdimensi. Untuk aliran laminer dengan kehilangan energi terutama disebabkan oleh gaya viscous,
Blake memberikan hubungan seperti berikut:

................................... (1)
dimana:
P/L
= hilang tekan per satuan panjang/ tinggi unggun
gc
= faktor gravitasi

= viskositas fluida

= porositas unggun yang didefinisikan sebagai perbandingan volume ruang kosong di dalam
unggun dengan volume unggun
u = kecepatan alir superfisial fluida
S = luas permukaan spesifik partikel
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

49

Luas permukaan spesifik partikel (luas permukaan per satuan volume unggun) dihitung berdasarkan
korelasi berikut:

................................. (2)
sehingga persamaan tersebut menjadi:

............... (3)
Atau

................... (4)
dimana k adalah konstanta fludisasi dan k=36 k (Tabel 1). Persamaan ini kemudian diturunkan lagi
oleh Kozeny (1927) dengan mengasumsikan bahwa unggun zat padat tersebut adalah ekivalen
dengan satu kumpulan saluran-saluran lurus yang paralel yang mempunyai luas permukaan dalam
total dan volume dalam total masing-masing sama dengan luas permukaan luar partikel dan volume
ruang kosongnya.
Harga konstanta k diperoleh beberapa peneliti berbeda-beda seperti ditunjukkan pada Tabel 1
berikut:
Tabel 1 Konstanta Empirik Fluidisasi
No. k
1
150
2
180
3
200

Sumber
Kozeny (1927)
Carman (1937)
US Bureau of Mines (1951)

Untuk aliran turbulen, persamaan tersebut tidak dapat digunakan lagi sehingga Ergun menurunkan
rumus yang lain (1952) dimana kehilangan tekanan digambarkan sebagai gabungan dari viscous
losses dan kinetic energy loss.

losses energy

........ (5)

kinetic losses viscous

dimana k1 = 150 dan k2 = 1,75


Pada keadaan ekstrem, yaitu bila:
a. aliran laminer (Re<20), kinetic energy losses dapat diabaikan, sehingga

......................... (6)
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

50

b. aliran turbulen (Re>1000), viscous losses dapat diabaikan, sehingga:

................. (7)
2.2
Hilang Tekan pada Unggun Terfluidakan (Fluidized Bed)
Pada unggun terfluidakan, persamaan yang menggambarkan hubungan p/l dan u
yang biasanya digunakan adalah persamaan Ergun, yaitu:

.......... (8)
dimana f adalah porositas unggun pada keadaan terfluidakan. Pada keadaan ini, dimana partikelpartikel zat padat seolah-olah terapung di dalam fluida sehingga terjadi kesetimbangan antara berat
partikel dengan gaya seret dan gaya apung dari fluida di sekelilingnya:
[gaya seret oleh fluida yang naik] = [berat partikel]-[gaya apung]
Atau
[hilang tekan pada unggun] x [luas penampang] = [volume unggun] x [fraksi zat padat] x [densitas
zat padat densitas fluida]

.............................. (9)

................................ (10)
3.
Kecepatan Minimum fluidisasi
Yang dimaksud dengan kecepatan minimum fluidisasi (dengan notasi Umf) adalah kecepatan
superfisial fluida minimum dimana fluidisasi mulai terjadi. harganya diperoleh dengan
mengombinasikan persaman Ergun dengan persamaan neraca massa pada unggun terfluidakan,
menjadi:

(11)
Untuk keadaan ekstrem, yaitu:
1. aliran laminer (Re<20), kecepatan fluidisasi minimumnya adalah:

.. (12)
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

51

2. aliran turbulen (Re>1000), kecepatan fluidisasi minimumnya adalah


Beberapa persamaan lain untuk menghitung harga Umf dapat dilihat di dalam pustaka.
4

Karakteristik Unggun Terfluidakan

Karakteristik unggun terfluidakan biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik antara penurunan tekanan
(P) dan kecepatan superfisial (u). Untuk keadaan yang ideal, kurva hubungan ini berbentuk seperti
Gambar 8.

Gambar 8 Kurva karakteristik fluidisasi ideal


Garis A-B dalam grafik menunjukkan hilang tekan pada daerah unggun diam (porositas unggun = 0).
Garis B-C menunjukkan keadaan dimana unggun telah terfluidakan. Garis D-E menunjukkan hilang
tekan dalam daerajh unggun diam pada waktu menurunkan kecepatan alir fluida. Harga penurunan
tekanannya, untuk kecepatan aliran fluida tertentu, sedikit lebih rendah dari pada harga penurunan
tekanan pada saat awal operasi.
4.1

Penyimpangan dari keadaan ideal

1. Interlock
Karakteristik fluidisasi seperti digambarkan pada kurva fluidisasi ideal hanya terjadi pada kondisi yang
betul-betul ideal dimana butiran zat padat dengan mudah saling melepaskan pada saat terjadi
kesetimbangan antara gaya seret dengan berat partikel. Pada kenyataannya, keadaan di atas tidak
selamanya bisa terjadi karena adanya kecenderungan partikel-partikel untuk saling mengunci satu
dengan lainnya (interlock), sehingga akan terjadi kenaikan hilang tekan (P) sesaat sebelum fluidisasi
terjadi. Fenomena interlock ini dapat dilihat pada Gambar 9, terjadi pada awal fluidisasi saat terjadi
perubahan kondisi dari unggun tetap menjadi unggun terfluidakan.
2. Fluidisasi heterogen (aggregative fluidization)
Jenis penyimpangan yang lain adalah kalau pada saat fluidisasi partikel-partikel padat tidak terpisahpisah secara sempurna tetapi berkelompok membentuk suatu agregat. Keadaan yang seperti ini
disebut sebagai fluidisasi heterogen atau aggregative fluidization. Tiga jenis fluidisasi heterogen yang
biasa terjadi adalah karena timbulnya:
a. penggelembungan (bubbling), ditunjukkan pada Gambar 10a,
b. penorakan (slugging), ditunjukkan pada Gambar 10b,
c. saluran-saluran fluida yang terpisahkan (chanelling), ditunjukkan pada Gambar 10c,

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

52

Gambar 9 Kurva karakteristik fluidisasi tidak ideal karena terjadi interlock

(A)

(B)
Gambar 10 Tiga jenis agregative fluidization

(C)

Bentuk kurva karakteristik untuk unggun terfluidakan yang mengalami penyimpangan dari keadaan
ideal yang disebabakan oleh tiga jenis fenomena di atas dapat dilihat dalam pustaka (1) dan (3).
5.

Evaluasi Parameter-Parameter dalam Peristiwa Fluidisasi

5.1

Densitas Partikel

Penentuan densitas partikel untuk zat padat yang tidak menyerap air atau zat cair lain bisa dilakukan
dengan memakai piknometer. Sedangkan untuk partikel berpori, cara di atas akan menimbulkan
kesalahan yang cukup besar karena air atau cairan akan memasuki pori-pori di dalam partikel,
sehingga yang diukur bukan lagi densitas partikel (berikut pori-porinya) seperti yang diperlukan di
dalam persamaan-persamaan yang ditulis di muka, tetapi densitas bahan padatnya (tidak termasuk
pori-pori di dalamnya).
Untuk partikel-partikel yang demikian, ada cara lain yang biasa digunakan, yaitu dengan memakai
metoda yang diturunkan Ergun. Prosedur percobaannya bisa dilihat di dalam pustaka 3 dalam Daftar
Pustaka, di halaman 57 dan 58.
5.2

Bentuk Partikel

Di dalam persamaan-persamaan yang telah diturunkan sebelumnya partikelpartikel padatnya


dianggap sebagai butiran-butiran yang berbentuk bola dengan diameter rata-rata dp. Untuk partikelpartikel yang mempunyai bentuk lain, harus diadakan suatu koreksi yang menyatakan bentuk
sebenarnya partikel yang ditinjau. Faktor koreksi ini disebut sebagai faktor bentuk atau derajat
kebolaan suatu partikel yang didefinisikan sebagai:

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

53

.......... (14)
Derajat kebolaan (s) bisa dipakai langsung dalam persamaan-persamaan terdahulu dengan
mengganti dp menjadi s.dp, sehingga persamaan Ergun dapat ditulis menjadi:

.... (15)
dimana s = 1 untuk partikel berbentuk bola
s < 1 untuk partikel berbentuk bola
5.3

Diameter Partikel

Diameter partikel biasanya diukur berdasarkan analisa ayakan. Prosedur penentuan dan perhitungan
bisa dilihat dalam pustaka ke-1 (dalam Daftar Pustaka) halaman 67 sampai 69 atau pustaka ke-3
(dalam Daftar Pustaka) halaman 61. Prosedur perhitungannya dapat dilihat pada Bagian V.4
Rancangan Percobaan, Contoh Data dan
Langkah Perhitungan.
5.4

Porositas Unggun

Porositas unggun menyatakan fraksi kosong di dalam unggun yang secara matematik bisa ditulis
sebagai berikut:

...................................................... (16)
dimana = porositas unggun
Vu = volume unggun
Vp = volume partikel
Harga porositas unggun ini sangat dipengaruhi oleh bentuk geometri butiran padat yang
membentuk unggun tersebut, atau dengan perkataan lain, porositas unggun merupakan
fungsi dari faktor bentuk atau derajat kebolaan partikel-partikelnya. Salah satu hasil eksperimen yang
menggambarkan pengaruh derajat kebolaan terhadap porositas unggun diberikan oleh Brown dan
diperlihatkan pada Gambar 11.
6.

Pendekatan dalam Percobaan

Pengukuran densitas partikel dilakukan menggunakan piknometer dengan valome tertentu dengan
tipol sebagai fluidanya. Tipol digunakan karena memiliki tegangan permukaan dan viskositas tinggi
sehingga cenderung tidak memasuki pori-pori partikel. Dengan demikian asumsi partikel padatan
berbentuk bola dapat digunakan.
Kecepatan minimum fluidisasi dapat ditentukan secara grafis dan teoritis. Teknik grafis dapat
dilakukan apabila tersedia kurva karakteristik fluidisasi. (antara log u terhadap log P). Dengan
menarik garis vertikal pada titik mulai konstannya log P atau titik yang menunjukkan adanya
fenomena interlock dapat diperpikrakan Umf. Karena fluktuasi nilai dibanding kurva fluidisasi ideal,
perkiraan ini kurang akurat. Supaya Umf perkiraan mendekati nilai sebenarnya, penarikan garis pada
titik konstan P dilakukan saat kurva fluidisasi mengalurkan data kecepatan tinggi ke rendah.
Diharapkan saat kecepatan menurun fenomena interlock dapat dikurangi. Interlock menyebabkan
partikel menyatu (biasanya karena basah atau karena kelembaban udara) sehingga kecepatan udara
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

54

yang dibutuhkan untuk memfluidisasikan partikel tersebut juga bertambah besar. Akibatnya umf yang
teramati cenderung lebih tinggi daripada nilai sebenarnya.

Gambar 11 Hubungan antara derajat kebolaan partikel dengan porositas unggun


7.

Perhitungan Laju Fluidisasi Teoritis

Perhitungan laju fluidisasi terbagi atas perhitungan laju fluidisasi minimum (

'
v mf

) untuk mengangkat

'
partikel-partikel pasir dan perhitungan fluidisasi maksimum ( v ) yang merupakan kecepatan

maksimum fluidisasi bahan.


7.1

Fluidisasi Minimum

Laju fluida gas untuk menghasilkan fluidisasi minimum dihitung dengan menggunakan persamaan
yang dirumuskan oleh Wen dan Yu (10). Pendekatan Wen-Yu digunakan mengingat nilai fraksi
kosong () dan faktor sperik () bahan tidak diketahui. Dalam persamaan ini, nilai fraksi kosong ()
dan faktor sperik () bahan didekati dengan menggunakan persamaan:

3
s mf

14

1 mf
3
s2 mf

11

dan
maka kecepatan minimum gas untuk mencapai fluidisasi adalah:

d p u mf g

(7,2 10 )u
4

1,9 10

mf

1,137

d 3p g s g g
2
= (33,7 ) + 0,0408

7,2 10
2
= (33,7 ) + 0,0408

(16)
1/ 2

) 1,137(2,04 10
(1,9 10 )

4 3

5 2

3,732 10 10 949,63
43,086 U mf = 1135,69 +

3,61 10 10

m
U mf = 0,28583
s

33.7
3

1,137 9,8

(17)
1/ 2

33.7

1/ 2

33,7

Jadi besar laju gas untuk mencapai fluidisasi minimum adalah 0,286 m/s.
Jika partikel pasir didekati sebagai pasir bulat, dengan faktor sperik () sebesar 0,86 dan
fraksi kosong () sebesar 0,42 [Kunii, 1977], maka untuk partikel dengan ukuran 20-30 mesh dengan
laju linier gas pada kolom pengering sebesar 3 m/s, dengan menggunakan persamaan Ergun
diperoleh nilai Reynolds partikel sebesar:

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

55

d p ug g

Re p =

(1 ) g

7,2 10 4 3 1,13
(1 0,42) 1,845 10 5
Re p = 421,86
Re p =

(regim transisi)
Jadi regim aliran partikel termasuk dalam regim transisi. Jika dilakukan perbandingan antara laju gas
aktual dengan laju gas minimum, diperoleh:

k=

uf

u mf

3
= 10,5
0,28583

Jadi laju gas operasi aktual 10,5 kali laju gas minimum fluidisasi.
7.2

Fluidisasi Maksimum

Fluidisasi maksimum merupakan batas antara peristiwa terfluidisasinya partikel padatan dengan
peristiwa terbawanya partikel padatan tersebut (conveying). Untuk bilangan Reynolds fluida gas
(NRe,f) > 1000, digunakan persamaan empirik (9):

u 'f
u mf

9
1

(18)

Maka laju gas pada fluidisasi maksimum sebesar:

( )

u 'f 9 u mf

u 'f 9 (0,286 ) = 2,574

m
s

Jadi besar laju fluida gas pada fluidisasi maksimum adalah 2,574 m/s. Jika dibandingkan dengan laju
gas operasi aktual diperoleh:

k=

uf
u 'f

3
=

m
s

2,574

k = 1,165

m
s

Jadi operasi pengeringan dilakukan pada laju 1,165 kali laju gas pada fluidisasi maksimum.
7.3

Skema Kecepatan Linier Gas Pengering

Dari perhitungan di atas dapat dibuat suatu skema laju gas pengering sebagai berikut:
fluidisasi
maksimum

fluidisasi minimum

0,286

2,574

operasi

laju linier gas pengering [m/s]

Gambar 12 Skema laju gas pengering

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

56

8.

Phenomena Fluidisasi

Ketika suatu cairan dipompa naik melalui suatu tempat unggun partikel padat dengan laju
alir sangat rendah, cairan menyaring melalui ruang berpori tanpa mengganggu unggun tersebut. Hal
ini dikenal dengan proses unggun tetap (fixed bed process). Jika laju alir yang naik sangat besar bed
bergerak secara pneumatik dan mungkin tersapu bersih dari vessel. Pada suatu laju alir intermediate
(antara), bed akan membesar dan hal ini dikenal dengan kondisi ekspansi (expanded state). Pada
expanded bed, partikel memiliki kontak langsung satu sama lainnya dan partikel akan didukung oleh
gaya berat (drag force) fluida. Expanded bed mempunyai suatu kondisi yang disebut dengan fluidized
bed.
Gambar di bawah menunjukkan Kecepatan fluida melalui bed berlawanan arah terhadap arah
gaya gravitasi pada berbagai kondisi seperti, fixed bed, expanded bed, dan swept out bed. Adanya
kecepatan minimum fluidisasi, Vom, pada saat di mana bed baru saja terfluidisasi.

Gambar 12 Kecepatan minimum fluidisasi pada berbagai kondisi

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

57

BIOGRAFI PENULIS

Suhendrayatna, lahir di Banda Aceh, 1 Januari 1967,


adalah dosen dan peneliti pada Jurusan Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala sejak tahun 1993.
Mendapat gelar Insinyur tahun 1991 Jurusan Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda
Aceh dengan skripsi berjudul Prarencana Pabrik Carbon
Tertra Chlorida (CCl4). Menyelesaikan Master pada
Applied Chemistry and Chemical Engineering Department
Kagoshima University, Jepang pada bulan Maret tahun 1998
dengan tesis berjudul Biaccumulation of Arsenic dan di tempat yang sama
menyelesaikan Doktor tahun 2001 dengan tesis berjudul Biotransformation of
Arsenic. Sejak tahun 1993 menjadi ketua Laboratorium Operasi Teknik Kimia
Unsyiah serta terlibat dalam kegiatan pengembangan Program Studi Teknik
Kimia dan Universitas Syiah Kuala antara lain: Program TPSDP, SP4,
MONEV-Internal Unsyiah, Akreditasi, Master Plan Unsyiah, Badan
Penjaminan Mutu, dan Lembaga P3AI Unsyiah sebagai Tim PEKERTI/AA.
Saat ini (2008), penulis menjabat Ketua Badan Penjaminan Mutu (BJM)
Universitas Syiah Kuala. Penulis juga aktif sebagai editor pada beberapa Jurnal
ilmiah antara lain Proceedings of Indonesian Scientific Meeting on Science and
Technology, Proceedings of Seminar Computational Mechanics and Numerical
Analysis (CMNA), Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan, Jurnal Reaksi,
Jurnal Rona Lingkungan, dan Proceedings of National Conference on Chemical
Engineering Science and Application (ChESA). Penulis juga aktif sebagai staf
ahli Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDALDA) Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam. Beberapa buku ajar yang telah ditulis adalah:
(1) Manajemen Operational Laboratorium, Universitas Syiah Kuala, 2004.
(2) Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Universitas Syiah Kuala, 2005.
(3) Instrumen Analisis, Universitas Syiah Kuala, 2005.
(4) Teknologi Pengolahan Limbah Padat Bahan Beracun dan Berbahaya
(B3), Universitas Syiah Kuala, ISBN : 978-979-8278-22-8, 2006.
(5) Perencanaan Alat Industri Kimia, Universitas Syiah Kuala, ISBN : 978979-8278-23-5, 2006.

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

58

SEKILAS TENTANG PENULIS


Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

59

I. Data Pribadi
1. Nama
2. Tempat, Tanggal Lahir
3. Pekerjaan

: Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng.


: Banda Aceh, 1 Januari 1967
: Dosen Fakultas Teknik Universitas Syiah Kual

4. Jenis Kelamin

: Laki-laki

5. Alamat

: Jln. Batara Utama No. 37 Komplek Perum Lembah Hijau, Desa Cot Mesjid, Kec.
Leungbata, Banda Aceh. Telp. 0651-22548 HP: 08126911823

II. Riwayat Pendidikan


No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Jenjang Pendidikan
SD Negeri 22
SMP Negeri 1
SMA Negeri 2
UNSYIAH
Kagoshima Univ.
Kagoshima Univ.

Tempat
Banda Aceh
Banda Aceh
Banda Aceh
Banda Aceh
Jepang
Jepang

Tahun
1979
1982
1985
1991
1998
2001

Ijazah/Titel
Ya
Ya
Ya
Ya/IR.
Ya/M. Eng
Ya/Dr. Eng

Bidang Keahlian
Teknik Kimia
Kimia Terapan
Kimia Terapan (Logam
berat dan limbah B3)

III. Pengalaman penelitian dan pekerjaan


1. Studi tentang penyaringan air dengan menggunakan fixed bed filtration. (Banda Aceh, 1992).
2. Anggota tim peneliti Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) PLTD Tapaktuan (Banda Aceh, 1992
1993)
3. Anggota tim peneliti Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) PLTD Aceh Tenggara (Banda Aceh,
1992 1993)
4. Anggota tim peneliti Studi Kualitas Udara di Kota Kagoshima Jepang (Kagoshima, 1997-2001)
5. Ketua Laboratorium Operasi Teknik Kimia, Universitas Syiah Kuala (1993-1996)
6. Sekretaris Proyek HEDS/DGHE-JICA Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (1993-1996)
7. Aktif dalam pengelolaan Laboratorium Bioenvironmental Engineering pada Kagoshima University,
Japan (1996-2001)
8. Mengikuti seminar internasional mengenai pengelolaan dan pengolahan limbah beracun (Tokyo,
Japan, 1997)
9. Mengikuti seminar internasional mengenai pengelolaan dan pengolahan limbah beracun
(Hiroshima, 2000)
10. Aktif sebagai Teaching Assistance pada Kagoshima University, Japan (1996-2001).
11. Ketua Laboratorium Operasi Teknik Kimia, Universitas Syiah Kuala (2001- sekarang)
12. Staf Ahli Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDALDA-NAD) Tahun 2002 sekarang.
13. Ketua Tim Peneliti Toxicity Chracteristic Leaching Procedure (TCLP) dan Lethal Dose 50 Percent
(LD-50) limbah sludge Pertamina DOH Rantau (2002).
14. Ketua Tim Peneliti Sampling and Analyzing The Unused Drilling Waste at Drilling Warehouse
Landing ExxonMobil Oil Indonesia Inc., Lhoksukon, Aceh Utara (2002)
15. Anggota Tim Ahli Studi Kelayakan industri Air Mineral Sabang (2003)
16. Sekretaris Tim MONEV Project DUE-like Unsyiah (2003)
17. Ketua Tim Peneliti Bahan Beracun dan Berbahaya pada Copper Slag PT. SAI Lhoknga Aceh
Besar (2003)
18. Anggota Tim Ahli Studi Kelayakan Penggunaan Kembali Air Blowdown Boiler dan Air Limbah
Domestik PT. Arun, Lhokseumawe, Aceh Utara (2003)
19. Ketua tim pemindahan dan re-install peralatan TOC Analyzer pada PT. AAF Lhokseumawe (2003)
20. Anggota tim re-install peralatan Laboratorium Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
(BAPEDALDA) Nanggroe Aceh Darusslam (2003)
21. Anggota tim penyusunan Study Kelayakan Kawasan Industri Blang Ulam, Kapet-Bandar
Darussalam (2003)
22. Ketua Tim MONEV Internal Unsyiah (2004 sekarang)
Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2
Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

60

IV. Pelatihan-Pelatihan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pelatihan
Pelatihan
Pelatihan
Pelatihan
Pelatihan
Pelatihan

Environmental Safety and Laboratory Management, Kagoshima, Japan (1999)


Hazardous waste Management, Hiroshima, Japan (2000)
Heavy Metals waste Management, Miyazaki, Japan (2001)
Air Pollution Control, Kagoshima (2001)
Keselamatan Kerja dan Manajemen Laboratorium, Medan, Indonesia (2002)
Dasar-dasar AMDAL (A), Banda Aceh, Indonesia (2002)

V. Publikasi Ilmiah
1. Suhendrayatna, A. Ohki, T. Kuroiwa and S. Maeda, Arsenic compounds in the freshwater green
microalgae, Chlorella vulgaris after exposure to arsenite, Applied Organometallic Chemistry, 13,
127-133 (1999).
2. Suhendrayatna, A. Ohki and S. Maeda, Arsenic accumulation, transformation, and tolerance on
the freshwater, Daphnia magna, Toxicological and Environmental Chemistry, 72, 1-11 (1999).
3. Suhendrayatna, A. Ohki and S. Maeda, Studies on the accumulation and transformation of
arsenic in freshwater organisms: I. Accumulation, transformation and toxicity of arsenic
compounds on the Japanese Medaka, Oryzias latipes, Chemosphere, 46, 319-324 (2002).
4. Suhendrayatna, A. Ohki and S. Maeda, Studies on the accumulation and transformation of
arsenic in freshwater organisms: II. Accumulation and transformation of arsenic compounds by
Tilapia mossambica, Chemosphere, 46, 325-331 (2002).
5. Suhendrayatna, A. Ohki and S. Maeda, Biotransformation of Arsenite in the freshwater food
chain models, Applied Organometallic Chemistry, 15, 277-284 (2001).
6. Suhendrayatna, A. Ohki, T. Nakajima, and S. Maeda, Metabolism and organs distribution of
arsenic in the the freshwater fish Tilapia mossambica, Applied Organometallic Chemistry, 15,
566-571 (2001).
7. Suhendrayatna, A. Ohki and S. Maeda, Studies on the accumulation and transformation of
arsenic in freshwater organisms: III. Accumulation and transformation of arsenic compounds by
freshwater shrimp, Neocaridina denticulata, Chemosphere (2003) under review.
8. Suhendrayatna, M. Zaki, Faisal, Pengolahan limbah industri dengan menggunakan upflow
anaerobic reactor kombinasi sludge bed dan filter bed, Proceedings HEDS SST 96 Seminar on
Science and Technology 96, 135-138 (1996).
9. Suhendrayatna, The future aspect of bioaccumulation of arsenic by freshwater green microalgae,
Chlorella Sp., Proceedings of Symposium Tekno 98, Indonesian Studens Forum For Science and
Technology in Japan, Nagaoka-Japan, ISSN 0853-7747, pp. 242-245 (1998).
10. Suhendrayatna, A. Ohki and S. Maeda, Bioaccumulation and toxicity of arsenic compounds on
D. magna, Proc. the 7th Scientific Meeting (Osaka) ISSN 0918-7685, pp. 206-209 (1999).
11. Suhendrayatna, A. Ohki and S. Maeda, Accumulation of arsenic compounds by freshwater
shrimp, Proc. the 8th Scientific Meeting (Hiroshima), ISSN 0918-7685, pp. 261-264.
12. Suhendrayatna, A. Ohki and S. Maeda, Bioaccumulation of arsenic in D. magna fed a diet of
arsenous freshwater algae, Proc. the 9th Scientific Meeting (Hamamatsu) ISSN 0918-7685, pp.
193-196 (2000).
13. A.T. Sugiarto, A. Haryono, D. Sudiana dan Suhendrayatna, Peranan Pemerintah, Pengusaha
dan Masyarakat dalam Mengatasi Permasalahan Lingkungan Hidup. Proceeding of Agri-Biosche
2000, March 5, Chiba University, Japan (2000).
14. Suhendrayatna, Bioremoval of Heavy Metals by Microorganisms, Proceedings of Indonesian
Scientific Meeting on Science and Technology 1998, ISSN 1343-2451, Indonesian Student
Association in Japan Korda Kyushu, 25-35 (1999)
15. Suhendrayatna, Muhammad Zaki and A. Ohki, Bioakumulasi senyawa arsen oleh Yeast,
Saccharomyces serevisiae, Rekayasa Kimia dan Lingkungan, 1, 7-12 (2002).
16. Suhendrayatna, Akumulasi Senyawa Arsen oleh C. vulgaris, Proc. Seminar Computational
Mechanics and Numerical Analysis, April 2002, pp. 87-92, Banda Aceh (2002)
23. Suhendrayatna, Moesa S., Faisal, Supriyanto, Sulaiman S., Boiran, Uji Toxicity Characteristic

Leaching Prosedure dan Lethal Dose 50 Percent dari Sludge di LL-KK/PLM Pertamina DOH
Rantau, PPLH-Unsyiah (2002).
24. Suhendrayatna, Faisal, dan Huzaimi, A., Pengujian Bahan Beracun dan Berbahaya pada Copper
Slag PT. SAI-Lhoknga Aceh Besar, Fakultas Teknik Unsyiah (2002).

25. Suhendrayatna, Toksisitas dan Metabolisme Logam Arsen Pentavalen pada Udang Galah,

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

61

Macrobrachium rosenbergii, Jurnal Rona Lingkungan Hidup, ISSN: 1412-7709, Vol. 1, No. 2, 29-

36 (2002).
26. Suhendrayatna, Aisyah, C., Iswandi, dan Fadli, Immobilisasi Senyawa Khromium Hexavalent
pada Semen, Proceeding of National Conference on Chemical Engineering Sciences and
Applications 2003, 272-278 (2003).
27. Suhendrayatna dan Zaki M., Prospek Aplikasi Proses Bioakumulasi Senyawa Arsen Oleh
Mikroalgae, C. vulgaris, Proceeding of National Conference on Chemical Engineering Sciences and
Applications 2003, 62-65 (2003).
28. Suhendrayatna, Viena, V., dan Sarah, S., Isolasi Bakteri Yang Memiliki Daya Tahan Terhadap
Logam Berat Timbal dan Merkuri dari Tanah Terkontaminasi, Proceeding of National Conference
on Chemical Engineering Sciences and Applications 2003, 148-154 (2003).
29. Suhendrayatna, Iswandi, dan Fadli, Penambatan Logam Khromium pada Briket Semen Dalam
Upaya Penanganan Limbah Khromium di Lingkungan, Jurnal Rona Lingkungan Hidup, ISSN:
1412-7709, Vol. 2, No. 1, 26-31 (2003).
30. Suhendrayatna, Huzaimi, A., Sarah, S., dan Viena, V., Karakteristik Bakteri Hasil Isolasi dari
Tanah Tanah Terkontaminasi Logam Berat: Studi Pendahuluan Bioremediasi Tanah
Terkontaminasi, Jurnal Rona Lingkungan Hidup, ISSN: 1412-7709, Vol. 2, No. 2, 26-35(2003).
31. Suhendrayatna, Zaki, M., Hakim, A.R., Al-Harist, Bioakumulasi dan Toksisitas Logam Timbal
Terhadap Ikan Plati (Oryzias latipes), Jurnal Reaksi, ISSN: 1693-248X, Vol. 1 No.2, 7-15 (2003).
32. Suhendrayatna, Afnizar Huzaimi, Raihanah, dan Nurmala Dewi, Pengaruh Toksid Tanah
Terkontaminasi Logam Berat dan Hidrokarbon Terhadap Kehidupan Cacing Tanah Merah
(Allobophora caliginosa), Jurnal Rona Lingkungan Hidup, ISSN: 1412-7709, Vol. 3, No. 1, 19(2004).
33. Suhendrayatna, Saifullah Ramli, Marlina, dan Lismawarni, Toleransi dan Pengambilan Logam
Khromium Oleh Ikan Plati (Oryzias latipes), 2004, Jurnal Rona Lingkungan Hidup, ISSN: 14127709, Vol. 3, No. 2, 26-35(2004).
34. Suhendrayatna, Mukhtaruddin, Fatmawati, Rismayati, dan Kamalia Fauzi, Bioakumulasi Logam
Khromium Oleh Yeast, Saccharomyces cerevisiae, 2004, Jurnal Teknologi Terpakai, Volume 2,
Nomor 1, 17-22, 2004
35. Suhendrayatna dan Elvitriana, Pendugaan Nilai LC50 Logam Timbal Terhadap Ikan Plati (Oryzias
latipes) Dengan Metode Probit Busvine Nash, Proc. Seminar Computational Mechanics and
Numerical Analysis, Juli 2002, pp. 39-45, Banda Aceh (2004)
IV. Pengalaman Keprofesian
1. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Banda Aceh, Anggota (1990 sekarang)
2. Japan Arsenic Scientist Society, Anggota (1998 sekarang)
3. Editor pada Proceedings of Indonesian Scientific Meeting on Science and Technology 1998
4.
5.
6.
7.
8.

1999.

Editor
Editor
Editor
Editor
Editor

pada Proceedings of Seminar Computational Mechanics and Numerical Analysis (CMNA)


pada Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan (2002 sekarang)
pada Jurnal Reaksi (2003 sekarang)
pada Jurnal Rona Lingkungan (2002 sekarang)
pada Proceedings of National Conference on Chemical Engineering Science and Application

(2003 sekarang)

Darussalam, 22 Juli 2004


Dr. Ir. Suhendrayatna, M. Eng

Bahan Kuliah Operasi Teknik Kimia 2


Disusun oleh : Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng

62