Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


DENGAN FRAKTUR CRURIS

disusun guna memenuhi tugas Program Pendidikan Profesi Ners (PPPN)


Stase Keperawatan KMB

oleh
Alvivo D. Chandra, S.Kep.
NIM 102311101092

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

LAPORAN PENDAHULUAN
KONSEP DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN FRAKTUR CRURIS
oleh: Alvivo D. Chandra. S.Kep
1. Kasus
Fraktur Cruris
2. Proses terjadinya masalah
a. Pengertian
Cruris berasal dari bahasa latin crus atau cruca yang berarti tungkai bawah
yang terdiri dari tulang tibia dan fibula. Fraktur cruris adalah terputusnya
kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang
tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang mendapatkan stress yang lebih besar
dari yang dapat diabsorbsinya.
Fraktur pada shaft (batang) tibia dan fibula yang sering disebut fraktur
cruris merupakan fraktur yang sering terjadi dibandingkan dengan fraktur pada
tulang panjang lainnya. Periosteum yang melapisi tibia agak tipis terutama
pada daerah depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah
dan biasanya fragmen frakturnya bergeser karena berada langsung dibawah
kulit sehingga sering juga ditemukan fraktur terbuka.

Fraktur cruris merupakan suatu istilah untuk patah tulang tibia dan fibula
yang biasanya terjadi pada bagian proksimal (kondilus), diafisis atau
persendian pergelangan kaki.

b. Etiologi
Penyebab fraktur diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Trauma
Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada
tempat yang terpapar, hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan
lunak disekitarnya. jika kekuatan tidak langsung mengenai tulang maka
dapat terjadi fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena dan
kerusakan jaringan lunak ditempat fraktur mungkin tidak ada. Fraktur
karena trauma dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Trauma langsung. Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat tersebut.
b. Trauma tidak langsung. Titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur
berjauhan.
2) Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan.
Tulang juga bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut
tidak mampu mengabsorpsi energi atau kekuatan yang menimpanya.
3) Spontan
Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga.
4) Fraktur Patologis
Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses
pelemahan tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang
bermetastase atau osteoporosis.
c. Patofisiologi
Kondisi ketika tulang patah pada periosteum, pembuluh darah di bagian
korteks, sumsum tulang dan jaringan lunak didekatnya (otot) mengalami cidera.
Hal ini merupakan keadaan derajat yang memerlukan pembedahan segera sebab
dapat menimbulkan syok hipovolemik. Pendarahan yang terakumulasi akan
menimbulkan pembengkakan jaringan sekitar daerah cidera yang apabila di tekan
atau di gerakan dapat timbul rasa nyeri yang hebat yang mengakibatkn syok
neurogenik (Mansjoer Arief, 2002).

Kerusakan pada system persyarafan akan menimbulkan kehilangan sensasi


yang dapat berakibat paralysis yang menetap pada fraktur juga terjadi
keterbatasan gerak oleh karena fungsi pada daerah cidera. Sewaktu tulang patah
pendarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah, kedalam jaringan lemak
tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi
perdarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Otot-otot sekitar akan
mengalami kontraksi sehingga tidak mampu untuk melakukan gerakan-gerakan
yang mengakibarkan hilangnya fungsi ekstremitas. (Mansjoer Arief, 2002)
d. Klasifikasi Fraktur
Ada 2 tipe dari fraktur cruris yaitu :
1) Fraktur intra capsuler: yaitu dalam tulang sendi panggul dan captula
a. Melalui kapital fraktur
b. Hanya dibawah kepala femur
c. Melalui leher dari femur
2) Fraktur Ekstra capsuler
a. Terjadi diluar sendi dan kapsul melalui trokanter cruris yang lebih
besar atau yang lebih kecil pada daerah intertrokanter
b. Terjadi di bagian distal menuju leher cruris tetapi tidak lebih dari 2
inchi di bawah trokanter terkecil
e. Tanda dan gejala
Adapun manifestasi pada fraktur cruris antara lain sebagai berikut:
1) Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antarfragmen tulang.
2) Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya
tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau
tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang
bisa diketahui dengan membandingkan ekstremitas normal. Ekstremitas tak
dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada
integritas tulang tempat melengketnya otot.

3) Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya


karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.
Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5-5 cm (1-2
inchi).
4) Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan
lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang
lebih berat.
5) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
f. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada kasus fraktur antara lain
sebagai berikut:
1) Foto Rontgen
Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung dan
Mengetahui tempat atau tipe fraktur. Biasanya diambil sebelum dan
sesudah serta selama proses penyembuhan secara periodik.
2) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
3) Artelogram bila ada kerusakan vaskuler
4) Tekhnik lain
a. Tomografi
Menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup
yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur
yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur
lain juga mengalaminya.
b. Myelografi
Menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di
ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.
c. Arthrografi
Menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.

d. Computed Tomografi-Scanning
Menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana
didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.
g. Penatalaksanaan
Prinsip penanganan fraktur meliputi rekognisi, traksi, reduksi imobilisasi dan
pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
1) Rekognasi
Pergerakan relatif sesudah cidera dapat mengganggu suplai neurovascular
ekstremitas yang terlibat. Karena itu begitu diketahui kemungkinan fraktur
tulang panjang, maka ekstremitas yang cedera harus dipasang bidai untuk
melindunginya dari kerusakan yang lebih parah. Kerusakan jaringan lunak
yang nyata dapat juga dipakai sebagai petunjuk kemungkinan adanya
fraktur, dan dibutuhkan pemasangan bidai segera dan pemeriksaan lebih
lanjut. Hal ini khususnya harus dilakukan pada cidera tulang belakang
bagian servikal, di mana contusio dan laserasio pada wajah dan kulit
kepala

menunjukkan

perlunya

evaluasi

radiografik,

yang

dapat

memperlihatkan fraktur tulang belakang bagian servikal dan/atau dislokasi,


serta kemungkinan diperlukannya pembedahan untuk menstabilkannya.
2) Reduksi
Dalam penatalaksanaan fraktur dengan reduksi dapat dibagi menjadi 2
yaitu:
a. Reduksi Tertutup/ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragment tulang
pada kesejajarannya dan rotasi anatomis. Reduksi tertutup, traksi, dapat
dilakukan untuk mereduksi fraktur. Metode tertentu yang dipilih
bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap sama.
Sebelum reduksi dan imobilisasi fraktur, pasien harus disiapkan untuk
menjalani prosedur dan harus diperoleh izin untuk melakukan prosedur,
dan analgetika diberikan sesuai ketentuan. Mungkin perlu dilakukan
anesthesia. Ekstremitas yang akan dimanipulasi harus ditangani dengan

lembut untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Reduksi tertutup pada


banyak kasus, reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan
fragment tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan)
dengan manipulasi dan traksi manual.
b. Reduksi Terbuka/OREF (Open Reduction Eksternal Fixation)
Pada Fraktur tertentu dapat dilakukan dengan reduksi eksternal atau
yang biasa dikenal dengan OREF, biasanya dilakukan pada fraktur yang
terjadi pada tulang panjang dan fraktur fragmented. Eksternal dengan
fiksasi, pin dimasukkan melalui kulit ke dalam tulang dan dihubungkan
dengan fiksasi yang ada dibagian luar. Indikasi yang biasa dilakukan
penatalaksanaan dengan eksternal fiksasi adalah fraktur terbuka pada
tulang kering yang memerlukan perawatan untuk dressings. Tetapi
dapat juga dilakukan pada fraktur tertutup radius ulna. Eksternal fiksasi
yang paling sering berhasil adalah pada tulang dangkal tulang misalnya
tibial batang.
3) Traksi
Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang fraktur
untuk meluruskan bentuk tulang. Ada 2 macam yaitu:
a. Skin Traksi
Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan
menempelkan plester langsung pada kulit untuk mempertahankan
bentuk, membantu menimbulkan spasme otot pada bagian yang cedera,
dan biasanya digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam).
b. Skeletal traksi
Adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera
pada

sendi

panjang

untuk

mempertahankan

memasukkan pins / kawat ke dalam tulang.

4) Imobilisasi Fraktur

bentuk

dengan

Setelah fraktur di reduksi, fragment tulang harus diimobilisasi, atau


dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi
penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau
interna. Metode fiksasi eksternal meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi
kontinu, pin dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan logam dapat
digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai bidai interna untuk
mengimobilisasi fraktur.

h. Komplikasi
1) Komplikasi awal
a) Kerusakan arteri : Pecahnya arteri karena trauma dapat ditandai
dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, sianosis pada bagian distal.
b) Sindrom kompartemen : Merupakan komplikasi yang serius yang
terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah
dalam jaringan parut. Hal ini disebabkan oleh edema atau perdarahan
yang menekan otot saraf dan pembuluh darah, atau karena tekanan
dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
c) Fat Embolism Syndrome : Komplikasi serius yang sering terjadi
pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-se lemak
yang dihasilkan marrow kuning masuk ke aliran darah dan
menyebabkan kadar oksigen dalam darah menjadi rendah. Hal
tersebut ditandai dengan gangguan pernapasan, takikardi, hipertensi,
takipnea dan demam.
d) Infeksi : Sistem pertahanan tubuh akan rusak bila ada trauma pada
dan jaringan. Pada trauma ortopedi, infeksi dimulai pada kulit dan
masuk ke dalam. Hal ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka,
tetapi dapat juga karena penggunaan bagian lain dalam pembedahan,
seperti pin (ORIF & OREF) dan plat.
e) Syok : Syok terjadi karena kehilangan banyak darah dan
meningkatnya

permeabilitas

oksigenasi menurun.
2) Komplikasi lanjut

kapiler

sehingga

menyebabkan

a) Mal union adalah keadaan ketika fraktur menyembuh pada saatnya,


tetapi terdapat deformitas yang berbentuk angulasi pemendekan atau
union secara menyilang misalnya pada fraktur tibia-fibula.
b) Delayed union adalah merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi
sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung.
Hal ini terjadi karena suplai darah ke tulang menurun. Delayed union
adalah fraktur yang tidak sembuh setelah waktu tiga bulan untuk
anggota gerak atas dan lima bulan untuk anggota gerak bawah.
c) Non union adalah fraktur yang tidak sembuh antara 6-8 bulan dan
tidak didapatkan konsolidasi sehingga terdapat pseudoartrosis (sendi
palsu). Pseudoartrosis dapat terjadi tanpa infeksi, tetapi dapat juga
terjadi bersama-sama infeksi

i. Rehabilitasi Exercise
Terapi

latihan

merupakan

salah

satu

modalitas

fisioterapi

yang

pelaksanaannya menggunakan gerak tubuh baik secara aktif maupun pasif


untuk pemeliharaan dan perbaikan kekuatan, ketahanan dan kemampuan
kardiovaskuler, mobilitas dan fleksibilitas, stabilitas, rileksasi, koordinasi,
keseimbangan dan kemampuan fungsional (Kisner, 1996).
Terapi latihan yang dilakukan adalah:
1. Breathing Exercise
Breathing exercise merupakan suatu tehnik latihan pernafasan dengan
menarik nafas lewat hidung atau inspirasi dan mengeluarkan nafas
lewat mulut atau ekspirasi. Tehnik latihan pernafasan yang digunakan
dalam kasus ini adalah deep breathing exercise. Hal ini dilakukan untuk
mencegah timbulnya komplikasi paru pada post operasi akibat bius
general. Tehnik latihan pernafasan ini menekankan pada inspirasi
maksimal dan panjang lalu dihembuskan dengan perlahan sampai akhir
expirasi dengan tujuan mempertahankan alveolus tetap mengembang,

mobilisasi

thorak,

untuk

meningkatkan

oksigenasi

dan

mempertahankan volume paru.


2. Positioning
Positioning yaitu perubahan posisi anggota gerak badan yang sakit.
Untuk mengurangi oedema pada tungkai, maka tungkai dielevasikan
dengan cara di ganjal bantal setinggi 30 450. Selama pasien sadar,
dosisnya adalah satu jam tungkai dielevasikan dan satu jam tungkai
dikembalikan ke posisi semula.
3. Static contraction
Static contraction merupakan suatu terapi latihan dengan cara
mengontraksikan otot tanpa disertai perubahan panjang otot maupun
pergerakan sendi (Kisner, 1996). Tujuan static contraction adalah
memperlancar sirkulasi darah sehingga dapat membantu mengurangi
oedem dan nyeri serta menjaga kekuatan otot agar tidak terjadi atrofi.
4. Passive exercise
Passive exercise merupakan suatu gerakan yang dihasilkan dari
kekuatan luar dan bukan merupakan kontraksi otot yang disadari.
Kekuatan luar tersebut dapat berasal dari gravitasi, mesin, individu atau
bagian tubuh lain dari individu itu sendiri (Kisner, 1996). Gerakan ini
terbagi menjadi 2 gerakan:
a. Relaxed passive exercise
Relaxed passive exercise merupakan gerakan murni yang berasal
dari terapis tanpa disertai gerakan dari anggota tubuh pasien. Tujuan
dari gerakan ini untuk melatih otot secara pasif, sehingga
diharapkan otot menjadi rileks dan dapat mengurangi nyeri akibat
incisi serta mencegah terjadinya keterbatasan gerak dan elastisitas
otot (Kisner, 1996).
b. Force passive exercise
Force passive exercise gerakan berasal dari terapis atau luar dimana
pada akhir gerakan diberikan penekanan. Tujuan gerakan ini untuk
mencegah terjadinya kontraktur dan menambah luas gerak sendi

serta untuk mencegah timbulnya perlengketan jaringan (Kisner,


1996).
5. Active exercise
Active exercise merupakan gerakan yang dilakukan karena adanya
kekuatan otot dan anggota tubuh sendiri tanpa bantuan, gerakan yang
dihasilkan oleh kontraksi dengan melawan gravitasi (Basmajian, 1978).
Tujuan active exercise (1) memelihara dan meningkatkan kekuatan otot,
(2) mengurangi bengkak disekitar fraktur, (3) mengembalikan
koordinasi dan ketrampilan motorik untuk aktivitas fungsional (Kisner,
1996).
6. Latihan jalan
Latihan jalan merupakan aspek terpenting pada penderita sehingga
mereka dapat kembali melakukan aktifitasnya seperti semula. Latihan
ini dilakuakan secara bertahap. Dimulai dari aktivitas di tempat tidur
seperti bergeser (bridging), bangun, duduk dengan kaki terjuntai ke
bawah (high sitting) kemudian latihan berdiri, ambulasi berupa jalan
dengan

menggunakan

walker

kemudian

ditingkatkan

dengan

menggunakan kruk (tergantung kondisi umum pasien). Latihan berjalan


secara Non Weight Bearing (NWB) dengan menggunakan metode three
point gait pada hari ke 3 atau sesuai kemampuan pasien kemudian
ditingkatkan dengan cara Partial Weight Bearing (PWB) jika pada
pasien tersebut sudah terjadi pembentukan callus atau kurang lebih 3
minggu (Gartland, 1974). Dosis awal latihan 30% menumpu berat
badan dan kemudian ditingkatkan menjadi 80% menumpu berat badan,
lalu ditingkatkan lagi dengan latihan Full Weight Bearing. Tujuan dari
latihan ini agar pasien dapat melakukan ambulasi secara mandiri
walaupun masih dengan bantuan alat.
7. Edukasi
Edukasi yang perlu diberikan pada pasien yaitu home program yang
dapat dilakukan di bangsal maupun di rumah, seperti (1) melakukan
aktivitas sendiri atau dengan bantuan orang lain untuk berlatih seperti

yang telah diajarkan, (2) untuk mengurangi bengkak pasien dianjurkan


mengganjal tungkai yang sakit dengan guling saat pasien tidur
terlentang, (3) kurang lebih selama 2 minggu atau lebih setelah post
operasi pasien dianjurkan untuk tidak menumpu dengan kaki yang sakit
sampai terjadi penyambungan callus

a. Pohon Masalah
Fraktur

Perubahan
status
kesehatan
Kurang
informa
si
Kuran
g
penge
tahun

Cedera sel

Degranulasi
sel mast

Pelepas
an
mediato
r kimia

Gg. Mobilitas
fisik

Lepasnya
lipid pada
sum-sum
tulang
Terabsorbsi
masuk
kealiran
darah

Nociceptor

Korteks
serebri

Nyeri

Terapi
restrictif

Diskontuinitas
fragmen tulang

Emboli
Medulla
spinali

Gangguan
pertukaran gas

Luka terbuka

Port de entri
kuman

Gg. Integritas
kulit

Penurunan
laju difusi

Edema

Penekanan
pada jaringan
vaskuler

Resiko Infeksi

Oklusi arteri
paru

Reaksi
peradangan

Nekrosis
Jaringan
paru

Luas
permukaan
paru menurun

Penurunan
aliran darah

Resiko
disfungsi
neurovaskule
r

a. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji


1. Nyeri akut
2. Gangguan mobilitas fisik.
3. Gangguan integritas kulit
4. Resiko disfungsi neurovaskuler perifer
5. Risiko infeksi
b. Diagnosis keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah sebagai berikut:
1.

Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang

2.

Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan rangka neuromuskuler.

3.

Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi

4.

Resiko disfungsi neurovaskuler perifer b.d penurunan aliran darah.

5.

Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer.

c. Rencana tindakan keperawatan


No
.
1.

Tujuan

Kriteria Hasil

Diagnosis: Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang
Klien mengatakan nyeri
1.
Tingkat
1. Pertahankan imobilasasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips,
berkurang atau hilang dengan

kenyamanan:

menunjukkan tindakan santai,

perasaan

mampu berpartisipasi dalam

secara

beraktivitas, tidur, istirahat

psikologis.

dengan tepat, menunjukkan

2.

penggunaan keterampilan

bebat dan atau traksi


senang 2. Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena.

fisik

dan 3. Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktif.


4. Lakukan tindakan untuk meningkatkan kenyamanan (masase,

Perilaku

perubahan posisi)

mengendalikan nyeri.

relaksasi dan aktivitas trapeutik 3.

2.

Intervensi

Nyeri:

efek

5. Ajarkan penggunaan teknik manajemen nyeri (latihan napas dalam,


imajinasi visual, aktivitas dipersional)

sesuai indikasi untuk situasi

merusak dari nyeri 6. Lakukan kompres dingin selama fase akut (24-48 jam pertama) sesuai

individual

terhadap emosi

keperluan.

7. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi.


Diagnosis: Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan rangka neuromuskuler.
Klien dapat
1. Ambulasi: berjalan.
1. Pertahankan pelaksanaan aktivitas rekreasi terapeutik (radio, koran,
meningkatkan/mempertahanka

2. Ambulasi: kursi roda

n mobilitas pada tingkat paling

3. Pergerakan sendi

kunjungan teman/keluarga) sesuai keadaan klien.


2. Bantu latihan rentang gerak pasif aktif pada ekstremitas yang sakit

tinggi yang mungkin dapat


mempertahankan posisi

aktif.
4. Perawatan diri:

fungsional meningkatkan

aktivitas kehidupan

kekuatan/fungsi yang sakit dan

sehari-hari.

mengkompensasi bagian tubuh

5. Pelaksanaan

menunjukkan tekhnik yang

berpindah

maupun yang sehat sesuai keadaan klien.


3. Berikan papan penyangga kaki, gulungan trokanter/tangan sesuai
indikasi
4. Bantu dan dorong perawatan diri (kebersihan/eliminasi) sesuai
keadaan klien.
5. Ubah posisi secara periodik sesuai keadaan klien.

memampukan melakukan
aktivitas
3.

Diagnosis: Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi


Klien menyatakan
1. Integritas jaringan:
1. Pertahankan tempat tidur yang nyaman dan aman (kering, bersih, alat
ketidaknyamanan hilang,

kulit dan membaran

menunjukkan perilaku tekhnik

mukosa.

untuk mencegah kerusakan

2. Penyembuhan luka

tenun kencang, bantalan bawah siku, tumit).


2. Masase kulit terutama daerah penonjolan tulang dan area distal
bebat/gips.

kulit/memudahkan

(penyatuan kulit,

3. Lindungi kulit dan gips pada daerah perianal.

penyembuhan sesuai indikasi,

resolusi dari bau

4. Observasi keadaan kulit, penekanan gips/bebat terhadap kulit, insersi

mencapai penyembuhan luka

luka, drainase dari

sesuai waktu/penyembuhan lesi

luka, eritema kulit).

terjadi

pen/traksi.

Daftar pustaka
Mansjoer, Arif. dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga Jilid 2. Jakarta:
Media Aesculapsis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Marilynn, Doenges. 2007. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien), Edisi 3. Jakarta:
EGC.
Nanda International. 2011. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20122014. Jakarta: EGC..
Price, Sylvia. 2006. PATOFISIOLOGI Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
Edisi 6 Volume 2. Jakarta: EGC.
Smeltzer , Suzanna C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
EGC