Anda di halaman 1dari 29

LBM 3

SERING PUSING, TIDAK BISA SANTAI...


STEP 1
1. anxiety: an emotional reaction to arise by causing uncertainly and non spesific then
cause discomfort and feel threatened.
STEP 2

STEP 3
1.

why the patient feeling palpitations, dizziness and sweating?

Teori Psikoanalitik
Sigmeun Freud menyatakan dalam bukunya 1926 Inhibitons, Symptoms, Anxiety
bahwa kecemasan adalah suatu sinyal kepada ego bahwa suatu dorongan yang tidak
dapat diterima menekan untuk mendapatkan perwakilan dan pelepasan sadar. Sebagai
suatu sinyal, kecemasan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensif
terhadap tekanan dari dalam. Jika kecemasan naik di atas tingkatan rendah intensitas
karakter fungsinya sebagai suatu sinyal, ia akan timbul sebagai serangan panik.
Teori Perilaku
Rasa cemas dianggap timbul sebagai respon dari stimulus lingkungan yang spesifik.
Contohnya,

seorang

anak

laki-laki

yang

dibesarkan

oleh

ibunya

yang

memperlakukannya semena-mena, akan segera merasa cemas bila ia bertemu ibunya.


Melalui proses generalisasi, ia akan menjadi tidak percaya dengan wanita. Bahkan
seorang anak dapat meniru sifat orang tuanya yang cemas.
Teori Eksistensi
Pada gangguan cemas menyeluruh, tidak didapatkan stimulus rasa cemas yang
bersifat kronis. Inti dari teori eksistensi adalah seseorang merasa hidup di dalam dunia
yang tidak bertujuan. Rasa cemas adalah respon mereka terhadap rasa kekosongan
eksistensi dan arti.
Berdasarkan aspek biologis, didapatkan beberapa teori yang mendasari timbulnya
cemas yang patologis antara lain:

Sistem saraf otonom

Neurotransmiter
Neurotransmiter
A. Norepinephrine

Gejala kronis yang ditunjukan oleh pasien dengan gangguan cemas berupa serangan
panik,insomnia, terkejut, dan autonomic hyperarousal, merupakan karakteristik dari
peningkatan fungsi noradrenergik. Teori umum dari keterlibatan norepinephrine pada
gangguan cemas, adalah pasien tersebut memiliki kemampuan regulasi sistem
noradrenergik yang buruk terkait dengan peningkatan aktivitas yang mendadak. Selsel dari sistem noradrenergik terlokalisasi secara primer pada locus ceruleus pada
rostral pons, dan memiliki akson yang menjurus pada korteks serebri, sistem limbik,
medula oblongata, dan medula spinalis. Percobaan pada primata menunjukan bila
diberi stimulus pada daerah tersebut menimbulkan rasa takut dan bila dilakukan
inhibisi, primata tersebut tidak menunjukan adanya rasa takut. Studi pada manusia,
didapatkan pasien dengan gangguan serangan panik, bila diberikan agonis reseptor adrenergik ( Isoproterenol ) dan antagonis reseptor -2 adrenergik dapat mencetuskan
serangan panik secara lebih sering dan lebih berat. Kebalikannya, clonidine, agonis
reseptor -2 menunjukan pengurangan gejala cemas.
B. Serotonin
Ditemukannya banyak reseptor serotonin telah mencetuskan pencarian peran
serotonin dalam gangguan cemas. Berbagai stress dapat menimbulkan peningkatan 5hydroxytryptamine pada prefrontal korteks, nukleus accumbens, amygdala, dan
hipotalamus lateral. Penelitian tersebut juga dilakukan berdasarkan penggunaan obatobatan serotonergik seperti clomipramine pada gangguan obsesif kompulsif.
Efektivitas pada penggunaan obat buspirone juga menunjukkan kemungkinan relasi
antara serotonin dan rasa cemas. Sel-sel tubuh yang memiliki reseptor serotonergik
ditemukan dominan pada raphe nuclei pada rostral brainstem dan menuju pada
korteks serebri, sistem limbik, dan hipotalamus.
C. GABA
Peran GABA pada gangguan cemas sangat terlihat dari efektivitas obat-obatan
benzodiazepine, yang meningkatkan aktivitas GABA pada reseptor GABA tipe A.
Walaupun benzodiazepine potensi rendah paling efektif terhadap gejala gangguan
cemas menyeluruh, benzodiazepine potensi tinggi seperti alprazolam dan clonazepam
ditemukan efektif pada terapi gangguan serangan panik
Pada suatu studi struktur dengan CT scan dan MRI menunjukan peningkatan ukuran
ventrikel otak terkait dengan lamanya pasien mengkonsumsi obat benzodiazepine.
Pada satu studi MRI, sebuah defek spesifik pada lobus temporal kanan ditemukan

pada pasien dengan gangguan serangan panik. Beberapa studi pencitraan otak lainnya
juga menunjukan adanya penemuan abnormal pada hemisfer kanan otak, tapi tidak
ada pada hemisfer kiri. fMRI, SPECT, dan EEG menunjukan penemuan abnormal
pada korteks frontal pasien dengan gangguan cemas, yang ditemukan juga pada area
oksipital, temporal, dan girus hippocampal. Pada gangguan obsesif kompulsif diduga
terdapat kelainan pada nukleus kaudatus. Pada PTSD, fMRI menunjukan
pengingkatan aktivitas pada amygdala.
Sistem Saraf Otonom
Gejala-gejala yang ditimbulkan akibat stimulus terhadap sistem saraf otonom adalah:

sistem kardiovaskuler (palpitasi)

muskuloskeletal (nyeri kepala)

gastrointestinal (diare)

respirasi (takipneu)
Sistem saraf otonom pada pasien dengan gangguan cemas, terutama pada pasien
dengan gangguan serangan panik, mempertunjukan peningkatan tonus simpatetik,
yang beradaptasi lambat pada stimuli repetitif dan berlebih pada stimuli yang sedang.
Berdasarkan pertimbangan neuroanatomis, daerah sistem limbik dan korteks serebri
dianggap memegang peran penting dalam proses terjadinya cemas.
Korteks Serebri
Korteks serebri bagian frontal berhubungan dengan regio parahippocampal, cingulate
gyrus, dan hipotalamus, sehingga diduga berkaitan dengan gangguan cemas. Korteks
temporal juga dikaitkan dengan gangguan cemas. Hal ini diduga karena adanya
kemiripan antara presentasi klinis dan EEG pada pasien dengan epilepsy lobus
temporal dan gangguan obsesif kompulsif.
Sistem Limbik
Selain menerima inervasi dari noradrenergik dan serotonergik, sistem limbik juga
memiliki reseptor GABA dalam jumlah yang banyak. Ablasi dan stimulasi pada
primata juga menunjukan jikalau sistem limbik berpengaruh pada respon cemas dan
takut. Dua area pada sistem limbik menarik perhatian peneliti, yakni peningkatan
aktivitas pada septohippocampal, yang diduga berkaitan dengan rasa cemas, dan
cingulate gyrus, yang diduga berkaitan dengan gangguan obsesif kompulsif.
Gangguan Cemas, Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Jiwa, Universitas
Tarumanegara
Respon Fisiologis terhadap Kecemasan:

Kardio vaskuler; Peningkatan tekanan darah, palpitasi, jantung berdebar, denyut

nadi meningkat, tekanan nadi menurun, syock dan lain-lain.


Respirasi; napas cepat dan dangkal, rasa tertekan pada dada, rasa tercekik.
Kulit; perasaan panas atau dingin pada kulit, muka pucat, berkeringat seluruh

tubuh, rasa terbakar pada muka, telapak tangan berkeringat, gatal-gatal.


Gastro intestinal; Anoreksia, rasa tidak nyaman pada perut, rasa terbakar di

epigastrium, nausea, diare.


Neuromuskuler; Reflek meningkat, reaksi kejutan, mata berkedip-kedip,
insomnia, tremor, kejang, , wajah tegang, gerakan lambat.

(Kaplan, Sadock, 1997).

2. why she feel sickness, tight on the neck and tremor?


KETEGANGAN MOTORIK kencang di daerah tengkuk dan gemetar
Gemetar / tremor
Tremor dapat didefinisikan sebagai gerakan bergetar involunter dan ritmis yang disebabkan oleh
kontraksi otot berlawanan secara bergantian yang sinkron dan irregular. Kualitas ritmis tersebut
membedakan tremor dari gerakan involunter lain.
Dua kategori umum dari tremor ialah fisiologis (normal) dan patologik (abnormal)
Tremor fisiologis
merupakan fenomena normal, yang muncul pada semua grup otot yang berkontraksi dan
berlangsung selama keadaan bangun dan bahkan pada fase-fase tidur tertentu. Pergerakan yang

terjadi sangat halus sehingga hampir tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya deteksi
dilakukan denganmenggunakan instrumen khusus.
Kisaran frekuensinya antara 8-13 Hz. Pada orang dewasa, frekuensi dominan adalah 10 Hz dan
kurang pada anak-anak dan orang tua.
Beberapa hipotesis telah dikemukakan untuk menjelaskan tremor fisiologi. Salah satu hipotesis
tradisional menyebutkan bahwa tremor merupakan refleksi vibrasi pasif jaringan tubuh yang
dihasilkan oleh aktivitas mekanik dari jantung (ballistocardiogram). Tentu saja itu bukanlah
penjelasan keseluruhan dari tremor fisiologis. Seperti yang dikemukakan oleh Marsden, beberapa
faktor tambahan (seperti input spindle, sinyal yang tidak menyatu pada motor neuron, dan
frekuensi resonansi natural dan inersia otot dan struktur lain) mungkin memegang peranan lebih
besar.
Tremor abnormal
Tremor abnormsal tertentu (seperti variasi metabolik dari tremor postural atau aksi, dan paling
tidak satu tipe dari tremor familial) disebut sebagai tremor fisiologis yang berlebihan (enhanced
physiologic tremor). 1
Tremor abnormal atau patologik, seperti yang dimaksud jika menggunakan kata tremor dalam
kondisi klinis, mempengaruhi grup otot tertentu dan muncul hanya pada saat keadaan bangun.
Grup otot yang dipengaruhi ialah bagian distal anggota gerak (terutama jari dan tangan), bagian
proksimal anggota gerak (lebih jarang), kepala, lidah, rahang, atau pita suara, dan batang tubuh
(jarang).
Frekuensi paling sering adalah 4-7 Hz, atau sekitar setengah dari frekuensi tremor fisiologis.
Pada orang yang terkena, frekuensi tersebut terbagi rata pada semua bagian yang terkena.
Dengan menggunakan electromyography (EMG) dan alat perekam mekanik, tremor abnormal
dibagi berdasarkan frekuensinya, hubungan dengan postur anggota gerak dan pergerakan
volunter, pola aktivitas EMG (synchronous or alternating) pada grup otot lawannya, dan respon
terhadap obat-obatan tertentu.1
Table 1. Kisaran frekuensi tremor pada berbagai keadaan. 2
14-18
Tremor ortostatik primer
Hz
Tremor fisiologis atau fisiologis yang
7-12 Hz
enhanced
4-12 Hz
Tremor esensial
4-10 Hz
Tremor psikogen
3-12 Hz
Sindrom tremor distonik
3-10 Hz
Tremor terkait tugas atau posisi
3-10 Hz
Tremor Parkinson
2-12 Hz
Tremor neuropatik
2-12 Hz
Tremor yang diinduksi obat
2-10 Hz
Multiple sklerosis
2-5 Hz
Tremor Holmes
Bain, 2002
Ropper, Allan H. dan Robert H. Brown. Adams and Victors Principles of Neurology. Ed. Ke8. USA: The McGraw-Hill Companies, 2005: 80-3.
Otot memiliki tiga kemampuan khusus yaitu :
Kontraktibilitas : kemampuan untuk berkontraksi / memendek.
2.

Ekstensibilitas : kemampuan untuk melakukan gerakan kebalikan dari gerakan yang


ditimbulkan saat kontraksi.

3.

Elastisitas

: kemampuan otot untuk kembali pada ukuran semula setelah berkontraksi.

Saat kembali pada ukuran semula otot disebut dalam keadaan relaksasi.
Otot mempunyai 4 fungsi utama yaitu, kontraktilitas, eksitabilitas, ekstensibilitas dan elastisitas.

Contractility (kontraktilitas) adalah kemampuan otot untuk memendek dengan kekuatan tertentu.
Ketika otot berkontraksi, hal tersebut menyebabkan pergerakan struktur internal otot (filamen
otot) dan akan menngakibatkan tekanan pada organ dan pembuluh darah.
Excitability (eksitabilitas) adalah kemampuan otot untuk merespon stimulus, dimana
umumnya otot, khususnya otot rangka berkontraksi sebagai akibat stimulasi oleh saraf.
Otot polos dan jantung dapat berkontraksi tanpa stimulus luar, tetapi keduanya juga
berkontraksi akibat stimulus saraf dan hormon.
Extensibility (ekstensibilitas) adalah dapat meregang pada panjang tertentu dengan derajat
tertentu.\
Elasticity (elastisitas) adalah kemampuan otot untuk kembali ke kondisi semula setelah
melakukan proses meregang
Sumber : MAKALAH ANATOMI FISIOLOGI MANUSIASISTEM OTOT Disusun oleh :
CHRISTIANI SIANTURI

3. how the differences of normal anxiety and pathology anxiety?

KECEMASAN NORMAL DAN ABNORMAL


Kecemasan normal
Rasa ketakutan yang difus tidak menyenangkan samar samar disertai gejala otonomik
(nyeri kepala, keringat, palpitasi, kekakuan pd dada, merasa gelisah)
Sensasi kecemasan sering dialami oleh hampir semua manusia.
Ketakutan dan kecemasan
Kecemasan sinyal yg menyadarkan, memperingatkan adanya bahaya yg mengancam dan
ambil tindakan untuk membatasi ancaman, respon terhadap ancaman yg sumbernya tdk
diketahui, internal, samar samar, konfliktual.
Ketakutan sinyal serupa yg menyadarkan, respon dari suatu ancaman yg sumbernya
diketahui, external, jelas, bukan bersifat konflik.
Ketakutan didahului oleh keheranan dan berjalan bersama sama
Fungsi adaptif dari kecemasan :
Kecemasan memperingatkan adanya ancaman external dan internal, memilki kualitas
menyelamatkan hidup, kecemasan mencegah dengan cara menyadarkan seseorang untuk
melakukan tindakan tertentu mencegah bahaya
Stress, konflik, kecemasan
Melibatkan ego, abstraksi kolektif untuk proses dimana seseorang merasakan, berpikir, dan
bertindak terhadap peristiwa external dan dorongan internal. Ego yang berfungsi dengan baik
dlm keseimbangan adaptif dunia external dan internal, ego tidak berfungsi baik dan
tidak seimbang dan cukup lama kecemasan kronis
Ketidakseimbangan external, internal, ego impuls konflik
Gejala psikologis dan kognitif
Kecemasan menghasilkan kebingungan dan distorsi persepsi pd ruang, waktu, orang,
peristiwa.
Buku saku Psikiatri Klinik, Kaplan & Sadock Ed.7 Jilid 2

Kecemasan abnormal
Teori psikologis
- Teori psikoanalitik
Freud menyatakan bahwa kecemasan sebagai sinyal, kecemasan menyadarkan ego
untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam diri. misal dengan
menggunakan mekanisme represi, bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan
psikologis tanpa adanya gejala anxietas. Jika represi tidak berhasil sebagai suatu
pertahanan, maka dipakai mekanisme pertahanan yang lain misalnya konvensi, regresi,
ini menimbulkan gejala.
- Teori perilaku
teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang dibiasakan
terhadap stimuli lingkungan spesifik. Contoh : seorang dapat belajar untuk memiliki
respon kecemasan internal dengan meniru respon kecemasan orang tuanya
(MPJidentitas).
- Teori eksistensial
Konsep dan teori ini adalah, bahwa seseorang menjadi menyadari adanya kehampaan
yang menonjol di dalam dirinya. Perasaan ini lebih mengganggu daripada penerimaan
tentang kenyataan kehilangan/ kematian seseorang yang tidak dapat dihindari.
Kecemasan adalah respon seseorang terhadap kehampaan eksistensi tersebut.
Teori biologis
- System saraf otonom
Stimulasi Sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu kardiovaskuler,
gastrointestinal, dan pernapasan. Manifestasi kecemasan perifer tersebut tidak khusus
terhadap kecemasan maupun tidak selalu berhubungan dengan pengalaman kecemasan
subyektif.
- Neurotransmitter

NE agonis adrenergic beta (isoproterenol) dan antagonis alfa 2 (co : yohimbin)


mencetuskan serangan panic. Agonis alfa 2 (clonidin) menurunkan gejala
cemas
Serotonin antidepresan serotonergik (clomipramine) punya efek terapetik
gangguan obsesif kompulsif, busprione untuk obat gangguan cemas,
fonfluromine menyebabkan pelepasan serotonin sehingga menyebabkan
peningkatan kecemasan pd pasien dgn gangguan kecemasan.
GABA dalam gangguan kecemasan didukung paling kuat oleh manfaat
benzodiazepine yang tidak dapat dipungkiri, yang meningkatkan aktivitas GABA
pd reseptor GABAa di dalam pengobatan beberapa jenis gangguan kecemasan.
Pencitraan otak
Contoh: pada gangguan anxietas didapati kelainan di korteks frontalis, oksipital,
temporalis. Pada gangguan panik didapati kelainan pada girus para hipokampus.
Penelitian genetic
Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan semua pasien dengan gangguan panik
memiliki sekurangnya satu sanak saudara yang juga menderita gangguan.
Neuroanatomis
Tiga neurotrasmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan penelitian
pada binatang dan respon terhadap terapi obat yaitu : norepinefrin, serotonin dan
gamma-aminobutyric acid.
Synopsis of Psychiatry Volume I, Kaplan and Sadock

4. why the symptoms of the patient appearance in the public area and crowded?
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ)
Agorafobia
Semua kriteria ini harus dipenuhi untuk :
a. Gejala psikologis/otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari
anxietas dan bukan merupakan gejala lain yang sekunder seperti waham atau
pikiran obsesif.
b. Anxietas yang timbul harus terutama terjadi dalam sekurang-kurangnya dua dari
situasi berikut :
Banyak orang
Tempat-tempat umum
Bepergian keluar rumah
Bepergian sendiri
c. Menghindari situasi fobik harus/sudah merupakan gambaran yang menonjol
Etiologi agorafobia belum diketahui secara pasti tapi patogenesis fobia berhubungan
dengan faktor biologis, genetik, dan psikososial.
DSM IV TR
Menurunnya sensitivitas terhadap reseptor 5HT1A, 5HT2A/2C
Meningkatnya sensitivitas discharge dari reseptor adrenergic pada saraf pusat,
terutama reseptor alfa-2 katekolamin meningkatnya aktivitas locus coereleus

yang mengakibatka teraktivasinya aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (biasanya


berespons abnormal terhadap klonidin pada pasien dengan panic disorder)
Meningkatnya aktivitas metabolic sehingga terjadi peningkatan laktat (biasanya
sodium laktat yang kemudian diubah menjadi CO2 ([hiperseansitivitas batang
otak terhadap CO2)
Menurunnya sensitivitas reseptor GABA-A sehingga menyebabkan efek
eksitatorik melalui amigdala dari thalamus melalui nucleus intraamygdaloid
circuitries
Model neuroanatomik memprediksikan panic attack dimediasi oleh fear network
pada otak yang melibatkan amygdale, hypothalamus, dan pusat batang otak.
Terutama pada corticostriatalthalamocortical (CSTC) yang memediasi cemas
bersama dengan sirkuit pada amygdale. Kemudian sensai tersebut diteruskan ke
korteks anterior cingulated dan/atau korteks orbitofrontal. Selain itu diteruskan
juga ke hypothalamus untuk respons endokrin
Hipotesis keterlibatan genetic namun belum berhasil menentukan gen pasti
Pine DS. Anxiety disorders: clinical features. In: Kaplan and Sadocks
5. what are the classification of anxiety?

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders ( DSM-IV),


gangguan cemas terdiri dari :
(1) Serangan panik dengan atau tanpa agoraphobia;
(2) Agoraphobia dengan atau tanpa Serangan panik;
(3) Fobia spesifik;
(4) Fobia sosial;
(5) Gangguan Obsesif-Kompulsif;
(6) Post Traumatic Stress Disorder ( PTSD );
(7) Gangguan Stress Akut;
Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III,
gangguan cemas dikaitkan dalam gangguan neurotik, gangguan somatoform dan
gangguan yang berkaitan dengan stress (F40-48).
F40F48

GANGGUAN

NEUROTIK,

GANGGUAN

GANGGUAN YANG BERKAITAN DENGAN STRES


F40 Gangguan Anxieta Fobik
F40.0 Agorafobia
.00 Tanpa gangguan panik
.01 Dengan gangguan panik

SOMATOFORM

DAN

F40.1 Fobia sosial


F40.2 Fobia khas (terisolasi)
F40.8 Gangguan anxietas fobik lainnya
F40.9 Gangguan anxietas fobik YTT
F41 Gangguan Anxietas Lainnya
F41.0 Gangguan panik (anxietas paroksismal episodik)
F41.1 Gangguan anxietas menyeluruh
F41.2 Gangguan campuran anxietas dan depresif
F41.3 Gangguan anxietas campuran lainnya
F41.8 Gangguan anxietas lainnya YDT
F41.9 Gangguan anxietas YTT
F42 Gangguan Obsesif-Kompulsif
F42.0 Predominan pikiran obsesional atau pengulangan
F42.1 Predominan tindakan kompulsif (obsesional ritual)
F42.2 Campuran tindakan dan pikiran obsesional
F42.8 Gangguan obsesif kompulsif lainnya
F42.9 Gangguan obsesif kompulsif YTT
F43 Reaksi Terhadap Stres Berat dan Gangguan Penyesuaian (F43.0-F43.9)
F44 Gangguan Disosiatif (Konversi) (F44.0-F44.9)
F45 Gangguan Somatoform (F45.0-F45.9)
F48 Gangguan Neurotik Lainnya (F48.0-F48.9)

Ns Wahyu Ekowati MKep., Sp J UNSOED

6. what is protect self mechanism ?


Penderita yang mengalami kecemasan biasanya memiliki gejala-gejala yang khas dan terbagi
dalam beberapa fase, yaitu :

Fase 1
Keadan fisik sebagaimana pada fase reaksi peringatan, maka tubuh mempersiapkan diri untuk
fight (berjuang), atau flight (lari secepat-cepatnya). Pada fase ini tubuh merasakan tidak enak
sebagai akibat dari peningkatan sekresi hormon adrenalin dan nor adrenalin.
Oleh karena itu, maka gejala adanya kecemasan dapat berupa rasa tegang di otot dan
kelelahan, terutama di otot-otot dada, leher dan punggung. Dalam persiapannya untuk

berjuang, menyebabkan otot akan menjadi lebih kaku dan akibatnya akan menimbulkan nyeri
dan spasme di otot dada, leher dan punggung. Ketegangan dari kelompok agonis dan
antagonis akan menimbulkan tremor dan gemetar yang dengan mudah dapat dilihat pada jarijari tangan (Wilkie, 1985). Pada fase ini kecemasan merupakan mekanisme peningkatan dari
sistem syaraf yang mengingatkan kita bahwa system syaraf fungsinya mulai gagal mengolah
informasi yang ada secara benar (Asdie, 1988).

Fase 2
Disamping gejala klinis seperti pada fase satu, seperti gelisah, ketegangan otot, gangguan
tidur dan keluhan perut, penderita juga mulai tidak bisa mengontrol emosinya dan tidak ada
motivasi diri (Wilkie, 1985). Labilitas emosi dapat bermanifestasi mudah menangis tanpa
sebab, yang beberapa saat kemudian menjadi tertawa. Mudah menangis yang berkaitan
dengan stres mudah diketahui. Akan tetapi kadang-kadang dari cara tertawa yang agak keras
dapat menunjukkan tanda adanya gangguan kecemasan fase dua (Asdie, 1988). Kehilangan
motivasi diri bisa terlihat pada keadaan seperti seseorang yang menjatuhkan barang ke tanah,
kemudian ia berdiam diri saja beberapa lama dengan hanya melihat barang yang jatuh tanpa
berbuat sesuatu (Asdie, 1988).

Fase 3
Keadaan kecemasan fase satu dan dua yang tidak teratasi sedangkan stresor tetap saja
berlanjut, penderita akan jatuh kedalam kecemasan fase tiga. Berbeda dengan gejala-gejala
yang terlihat pada fase satu dan dua yang mudah di identifikasi kaitannya dengan stres, gejala
kecemasan pada fase tiga umumnya berupa perubahan dalam tingkah laku dan umumnya
tidak mudah terlihat kaitannya dengan stres. Pada fase tiga ini dapat terlihat gejala seperti.
intoleransi dengan rangsang sensoris, kehilangan kemampuan toleransi terhadap sesuatu yang
sebelumnya telah mampu ia tolerir, gangguan reaksi terhadap sesuatu yang sepintas terlihat
sebagai gangguan kepribadian (Asdie, 1988).

Karena gangguan panik muncul secara tiba2 dan mendadak


biasanya disertai pada situasi yang dianggap tidak
menyenangkan atau dianggap stressor oleh pasien seperti di
tmpt ramai pada org dg agorafobia. Mekanisme pertahanan jiwa
(MPJ) ada 2 yaitu:
J Represi: individu secara tidak sadar terjadi MPJ terhadap
hal2 yg tidak disenanginya
J Supresi: secara sadar ingin melupakan segala sesuatu yg
tdk diinginkan dg logika/ secara rasional.
dr.Novi. Ilmu Kejiwaan Psikiatri FK Undip
7. what are the etiology of anxiety?
a. psycodinamic theory: anxiety because by psycis unawareness just like ego. if self
mecahnism success, anxiety can be decrease and come save for herself
b. behaviour theory: anxiety from spesified stimuli response. and the result from
fustation.
c. interpersonal theory: anxiety from fearness, someone ignore herself
d. family history: anxiety from conflict in family.
e. biologic theory: anxiety because disease / abnormal, physical condition, not caused
by internal conflict from herself.

8. what are the risk factor in the scenario?


9. what is the relation anxienty with gender
10. how to prevent anxiety?
1) Kontrol pernafasan yang baik
Rasa cemas membuat tingkat pernafasan semakin cepat, hal ini disebabkan otak
"bekerja" memutuskan fight or flight ketika respon stres diterima oleh otak. Akibatnya
suplai oksigen untuk jaringan tubuh semakin meningkat, ketidakseimbangan jumlah
oksigen dan karbondiosida di dalam otak membuat tubuh gemetar, kesulitan bernafas,
tubuh menjadi lemah dan gangguan visual. Ambil dalam-dalam sampai memenuhi
paru-paru, lepaskan dengan perlahan-lahan akan membuat tubuh jadi nyaman,
mengontrol pernafasan juga dapat menghindari srangan panik.
2) Melakukan relaksasi
Kecemasan meningkatkan tension otot, tubuh menjadi pegal terutama pada leher,
kepala dan rasa nyeri pada dada. Cara yang dapat ditempuh dengan melakukan teknik
relaksasi dengan cara duduk atau berbaring, lakukan teknik pernafasan, usahakanlah
menemukan kenyamanan selama 30 menit.
3) Intervensi kognitif
Kecemasan timbul akibat ketidakberdayaan dalam menghadapi permasalahan,
pikiran-pikiran negatif secara terus-menerus berkembang dalam pikiran. caranya
adalah dengan melakukan intervensi pikiran negatif dengan pikiran positif, sugesti
diri dengan hal yang positif, singkirkan pikiran-pikiran yang tidak realistik. Bila tubuh
dan pikiran dapat merasakan kenyamanan maka pikiran-pikiran positif yang lebih
konstruktif dapat meuncul. Ide-ide kreatif dapat dikembangkan dalam menyelesaikan
permasalahan.
4) Pendekatan agama
Pendekatan agama akan memberikan rasa nyaman terhadap pikiran, kedekatan
terhadap Tuhan dan doa-doa yang disampaikan akan memberikan harapan-harapan
positif.
Dalam Islam, sholat dan metode zikir ditengah malam akan memberikan rasa nyaman
dan rasa percaya diri lebih dalam menghadapi masalah. Rasa cemas akan turun.
Tindakan bunuh diri dilarang dalam Islam, bila iman semakin kuat maka dorongan
bunuh diri (tentamina Suicidum) pada simtom depresi akan hilang. Metode zikir
(berupa Asmaul Husna) juga efektif menyembuhkan insomnia.

5) Pendekatan keluarga
Dukungan (supportif) keluarga efektif mengurangi kecemasan. Jangan ragu untuk
menceritakan permasalahan yang dihadapi bersama-sama anggota keluarga. Ceritakan
masalah yang dihadapi secara tenang, katakan bahwa kondisi Anda saat ini sangat
tidak menguntungkan dan membutuhkan dukungan anggota keluarga lainnya. Mereka
akan berusaha bersama-sama Anda untuk memecahakan masalah Anda yang terbaik.
6) Olahraga
Olahraga tidak hanya baik untuk kesehatan. Olaharaga akan menyalurkan tumpukan
stres secara positif. Lakukan olahraga yang tidak memberatkan, dan memberikan rasa
nyaman kepada diri Anda.
http://www.pikirdong.org/psikologi/psi18axdi.php

11. how to treat anxiety?( pathology)


Farmakoterapi
Benzodiazepin
Merupakan pilihan obat pertama. Pemberian benzodiazepin dimulai dengan dosis
terendah dan ditingkatkan sampai mencapai respon terapi, Penggunaan sediaan den
gan waktu paruh menengah dan dosis terbagi dapat mencegah terjadinya efek yang tidak
diinginkan. Lama pengobatan rata-rata adalah 2-6 minggu.
Buspiron
Buspiron lebih efektif dalam memperbaiki gejala kognitif dibanding dengan gejala
somatik. Tidak menyebabkan withdrawl. Kekurangannya adalah efek klinisnya baru
terasa setelah 2-3 minggu. Terdapat bukti bahwa penderita yang sudah menggunakan
benzodiazepin tidak akan memberikan respon yang baik dengan buspiron. Dapat
dilakukan penggunaan bersama antara benzodiazepin dengan buspiron kemudian
dilakukan tapering benzodiazepin setelah 2-3 minggu, disaat efek terapi buspiron sudah
mencapai maksimal.
SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)
Sertraline dan paroxetine merupakan pilihan yang lebih baik daripada fluoksetin.
Pemberian fluoksetin dapat meningkatkan anxietas sesaat. SSRI efektif terutama pada
pasien gangguan anxietas menyeluruh dengan riwayat depresi.
Psikoterapi

Terapi Kognitif Perilaku


Pendekatan kognitif mengajak pasien secara langsung mengenali distorsi kognitif dan
pendekatan perilaku, mengenali gejala somatik, secara langsung. Teknik utama yang
digunakan adalah pada pendekatan behavioral adalah relaksasi dan biofeedback.
Terapi Suportif
Pasien diberikan reassurance dan kenyamanan, digali potensi-potensi yang ada dan belum
tampak, didukung egonya, agar lebih bisa beradaptasi optimal dalam fungsi sosial dan
pekerjaannya.
Psikoterapi Berorientasi Tilikan
Terapi ini mengajak pasien untuk mencapai penyingkapan konflik bawah sadar, menilik
egostrength, relasi obyek, serta keutuhan diri pasien. Dari pemahaman akan komponenkomponen tersebut, kita sebagai terapis dapat memperkirakan sejauh mana pasien dapat
diubah menjadi lebih matur; bila tidak tercapai, minimal kita memfasilitasi agar pasien
dapat beradaptasi dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.
Gangguan Cemas, Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Jiwa, Universitas
Tarumanegara
12. what are the physical and support examination to diagnose from the scenario?
Skala HARS Menurut Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang dikutip
Nursalam (2003) penilaian kecemasan terdiri dan 14 item, meliputi:
1.

Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah

tensinggung.
2.

Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu

dan lesu.
3.

Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila tinggal

sendiri dan takut pada binatang besar.


4.

Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari,

tidur tidak pulas dan mimpi buruk.


5.

Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit

konsentrasi.
6.

Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada

hoby, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari.


7.

Gejala somatik: nyeni path otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara

tidak stabil dan kedutan otot.

8.

Gejala sensorik: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka

merah dan pucat serta merasa lemah.


9.

Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras

dan detak jantung hilang sekejap.


10.

Gejala pemapasan : rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering

menarik napas panjang dan merasa napas pendek.


11.

Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun,

mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan
panas di perut.
12.

Gejala urogenital : sering keneing, tidak dapat menahan keneing,

aminorea, ereksi lemah atau impotensi.


13.

Gejala vegetatif : mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu

roma berdiri, pusing atau sakit kepala.


14.

Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari gemetar, mengkerutkan

dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek dan
cepat.
Cara Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan kategori:
0 = tidak ada gejala sama sekali
1 = Satu dari gejala yang ada
2 = Sedang/ separuh dari gejala yang ada
3 = berat/lebih dari gejala yang ada
4 = sangat berat semua gejala ada
Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item 114 dengan hasil:
1. Skor kurang dari 6 = tidak ada kecemasan.
2. Skor 7 14 = kecemasan ringan.
3. Skur 15 27 = kecemasan sedang.
4. Skor lebih dari 27 = kecemasan berat.

Gangguan Neurotik
o Gangguan Cemas
o Gangguan Somatoform
o Gangguan Dissosiasi
GANGGUAN NEUROTIK

Neurosa atau juga disebut dengan Psikoneurosa (istilah lama, tak dipakai lagi), istilah ini
kurang tepat karena tak ada gangguan neuron (sel saraf) atau disebut Psikogenik.

Definisi:
Prof Maramis:
Neurosa adalah kesalahan penyesuaian diri secara emosional karena tak
dapat diselesaikannya suatu konflik a-sadar. Kecemasan yg timbul dirasakan
secara langsung atau diubah oleh berbagai mekanisme pertahanan
psikologik (defence-mechanism) dan muncullah gejala-gejala subjektif lain yg
mengganggu.
Karena ada konflik, maka mengganggu sistem/susunan saraf otonom
Lubis (ahli Psikoanalisa FK UI)
Neurosa dapat dipandang sebagai suatu bentuk khusus dari penjelmaan
ansietas dan penjelmaan ikhtiar individu untuk meniadakan ansietas itu
Contoh : Phobia Pisau
PPDGJ III

Gangguan neurotik adalah gangguan mental yg tidak mempunyai dasar


organik (fungsional) yg dpt ditunjukkan, pasien cukup mempunyai tilikan
(insight) serta kemampuan daya nilai realitasnya tdk terganggu dan
prilakunya biasanya masih di dalam batas-batas normal sosial serta

kepribadiannya tetap utuh.


Contoh : Phobia Tikus.
Daya realitasnya pada Psikosa terganggu
Klasifikasi:
F.40-F.48
o F.40 Gangguan anxietas phobic. Bisa bersamaan dengan depresi
F.40.00 Tanpa panik
F.40.01 Disertai panik
Agorafobia: Takut/ menghindari situasi sulit untuk mnyelamatkan diri.
Phobia social: takut menghindari situasi social/ takut dikritik
Panik serangan keemasan mendadak dan hebat
Gang. Anxietas menyeluruh: kecemasan berlebihan dari hal yang biasa.
Gangguan ini biasanya dimiliki oleh orang yang berkepribadian Dependen &
o

Menghindar
F.41 Gangguan anxietas lainnya. Manifestasi anxietas menonjol dan tidak

o
o
o
o
o

terbatas pada saat ttt


F.42 Gangguan obsesif kompulsif.
F.43 Reaksi terhadap stress berat dan gangguan penyesuaian
F44 Gangguan dissosiatif
F45 gangguan somatoform
F48 Gangguan somatoform lainnya

DSM IV
o Gangguan kecemasan umum
o Agoraphobia, agorapobia spesifik dan social
o Gangguan obsesi kompulsif
o Gangguan distimik
o Gangguan konversi
o Gangguan depersonalisasi
o Gangguan Hipokondriasis
o Gangguan seksual
1.GANGGUAN CEMAS
-

Definisi:
Anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak
menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan
suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi
seseorang tertentu. Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak,
jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air
besan. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. ( Harold I. LIEF)
Anenvous condition of unrest ( Leland E. HINSIE dan Robert S CAMBELL)
Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan
akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman,
keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya. ( J.J
GROEN)

Cemas adalah perasaan takut terus menerus terhadap bahaya yang seolah-olah terus
mengancam, yang sebenarnya tidak nyata tetapi hanya dalam perasaan penderita saja.
(Psikiatri II Simtomatologi, FK UNDIP)
Kecemasan : suatu sinyal yang menyatakan; ia memperingatkan adanya bahaya yang
mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi
ancaman. Atau respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui,
internal, samar-samar, dan konfliktual
Cemas Normal suatu penyerta yang normal dari pertumbuhan, dari
perubahan, dari pengalaman sesuatu yang baru dan belum dicoba, dan dari
penemuan identitasnya sendiri dan arti hidup.
Ex. anak masuk sekolah pertama kali
Cemas Patologis
respon yang tidak sesuai terhadap stimulus yang
diberikan berdasarkan pada intensitas atau durasinya.
(Sinopsis Psikiatri, Kaplan & Sadock ed. 7 jilid dua)
- Etiologi
Ada 2 teori :
1) Teori Psikologis
a. Teori Psikoanalitik
Menurut Freud, kecemasan sebagai sinyal guna menyadarkan ego untuk mengambil
tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam diri.
Kecemasan id atau impuls berhubungan dengan ketidaknyamanan primitif dan
difus dari seorang bayi jika mereka merasa terlanda oleh kebutuhan dan stimuli
dimana keadaan tidak berdaya mereka tidak memungkinkan pengendalian.
Kecemasan perpisahan terjadi pada anak-anak yang agak besar tapi masih dalam
masa praoedipal, yang takut kehilangan cinta atau bahkan ditelantarkan oleh
orangtuanya jika mereka gagal mengendalikan dan mengarahkan impulsnya sesuai
dengan standar dan kebutuhan orangtuanya.
Kecemasan Kastrasi menandai anak oedipal, khususnya dalam hubungan dengan
impuls seksual anak yang sedang berkembang, dicerminkan dalam kecemasan
kastrasi dari dewasa.
Kecemasan Superego merupakan akibat langsung dari perkembangan akhir
superego yang menandai berlalunya kompleks Oedipus dan datangnya periode
latensi prapubertal.
b. Teori Perilaku
Menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang dibiasakan terhadap
stimuli lingkungan spesifik.
Ex : seseorang dapat belajar untuk memiliki suatu respon kecemasan internal
dengan meniru respon kecemasan orangtuanya.
c. Teori Eksistansial
Bahwa seseorang menjadi menyadarinya adanya kehampaan yang menonjol di
dalam dirinya, perasaan yang mungkin lebih mengganggu daripada penerimaan
kematian mereka yang tidak dapat dihindari.
Kecemasan adalah respon seseorang terhadap kehampaan eksistensi dan arti yang
berat tersebut.
2) Teori Biologis
a. Sistem Saraf Otonom
Stimulasi sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu (cor : takikardia,
muskular : nyeri kepala, GIT : diare, pernafasan : nafas cepat)
b. Neurotransmitter
NE, serotonin & GABA
NE agonis adrenergik beta & antagonis adrenergik-alfa2 pencetus
c. Penelitian Pencitraan Otak
Kelainan di korteks fro ntalis, occipital, dan temporal

Contoh: pada gangguan anxietas didapati kelainan di korteks frontalis, oksipital,


temporalis. Pa9;da gangguan panik didapati kelainan pada girus para hipokampus.
d. Penelitian Genetika
Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan semua pasien dengan gangguan
panik memiliki sekurangnya satu sanak saudara yang juga menderita gangguan
Sinopsis Psikiatri, Kaplan & Sadock ed. 7 jilid dua
-

Manifestasi Klinis:
- Gejala psikologik:
Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati , takut gila, takut
-

kehilangan kontrol dan sebagainya.


Gejala fisik:
Gemetar, berkeringat, jantung berdebar, kepala terasa ringan, pusing, ketegangan
otot, mual, sulit bernafas, baal, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di lambung dan
lain-lain.
(Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.KJ,SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA,
IKATAN DOKTER INDONESIA)
Gangguan ansietas pada dasarnya mempunyai penyebab multifaktorial,
baik
dari
diri
sendiri,
faktor
biologis,
faktor
sosial,
psikologis,
penyalahgunaan/pemakaian obat tertentu secara berlebihan, maupun gejala yang
timbul dari suatu penyakit lain(Fracchione, 2004).
Faktor biologis ansietas merupakan akibat dari reaksi syaraf otonom
yang berlebihan, sebagai contoh PMS atau Pre Menstrual Syndrome, disamping
dapat terjadi gangguan fisik ternyata PMS juga dapat memunculkan ansietas, berupa
gangguan mental seperti mudah tersinggung dan sensitif. Sedangkan dari aspek
psikoanalisis, ansietas dapat terjadi akibat impuls-impuls bawah sadar (seks, agresi,
dan ancaman) yang masuk ke alam sadar, atau mekanisme pertahanan jiwa yang
tidak sepenuhnya berhasil, dapat menimbulkan ansietas yakni reaksi fobia.
Ansietas juga timbul sebagai efek sekunder dari suatu penyakit, misalnya
pasien yang menderita penyakit kanker ternyata juga sering menderita gangguan
psikis seperti depresi, ansietas dan gangguan lainnya, ketakutan pasien akan
penyakit yang dideritanya atau pun kesakitan fisik yang dialaminya dari suatu
penyakit itulah yang menjadi penyebab timbulnya ansietas.
Dari pendekatan sosial, ansietas dapat disebabkan karena frustasi, konflik,
tekanan, krisis, ketakutan yang terus menerus yang disebabkan oleh kesusahan
dan kegagalan yang bertubi-tubi, adanya kecenderungan -kecenderungan harga diri
yang terhalang, repressi terhadap macam-macam masalah emosional, akan tetapi
tidak bisa berlangsung secara sempurna(incomplete repress), atau dorongandorongan seksual yang tidak mendapat kepuasan dan terhambat, sehingga
mengakibatkan banyak konflik batin(Cameroon, 2004)
Ansietas juga timbul sebagai efek sekunder dari suatu penyakit, misalnya
pasien yang menderita penyakit kanker ternyata juga sering menderita gangguan
psikis seperti depresi, ansietas dan gangguan lainnya, ketakutan pasien akan
penyakit yang dideritanya atau pun kesakitan fisik yang dialaminya dari suatu
penyakit itulah yang menjadi penyebab timbulnya ansietas, misal saat sekarat
mendekati kematian atau mengalami penderitaan akibat suatu penyakit.
Penyalahgunaan atau penggunaan obat/zat tertentu yang berlebihan
juga merupakan salah satu penyebab utama ansietas. Seperti alkoholisme,
intoksikasi kafein, hipertiroidisme, dan feokromositoma harus disingkirkan dalam
mengatasi gejala ansietas ini(Brust, 2007). Karena sebagian besar orang akan berlari
ke hal-hal tadi untuk menghadapi ansietas yang timbul pada dirinya. Beberapa zat
yang dapat menyebabkan ansietas anatara lain :
-Anticonvulsants(Carbamazepine, ethosuximide)
-Antihistamines
-Antimicrobials(Cephalosporins, ofloxacin, aciclovir, isoniazid)
-Bronchodilators(Theophyllines)

-Digitalis(pada level toksik)


-Oestrogen
-Levodopa
-Corticosteroids
-Thyroxine
-Non-steroidal anti-inflammatory drugs(Indomethacin)
-Thyroxine
Memang mungkin dalam penggunaan beberapa obat-obatan lain terkadang
juga menyebabkan tremor atau palpitasi seperti ansietas, namun ini dapat dibedakan
dari ansietas melalui pemeriksaan klinis lebih lanjut
Ansietas juga dapat disebabkan karena adanya pengaruh faktor genetik
dari keluarga. Penelitian telah melaporkan bahwa duapertiga sampai tigaperempat
pasien yang terkena ansietas memiliki sekurang-kurangnya satu sanak saudara
derajat pertama dengan ansietas spesifik tipe spesifik yang sama(Brust, 2007)
Meskipun demikian masih banyak penyebab ansietas yang harus selalu
dicari, untuk itu diperlukan anamnesis yang lengkap seperti asal timbulnya gejala
dan matriks interpersonal dan social bermulanya gejala.!! INGAT ITU... ^__^
Klasifikasi:
BENTUK GANGGUAN ANXIETAS

Gangguan Panik
Gangguan Fobik
Gangguan Obsesif-kompulsif
Gangguan Stres Pasca Trauma
Gangguan stres Akut

Gangguan Anxietas Menyeluruh.


Ket:
1. GANGGUAN PANIK

Ada dua kriterla Gangguan panik : gangguan panik tanpa agorafobia dan gangguan panik
dengan agorofobia kedua gangguan panik ini harus ada serangan panik.
GAMBARAN KLINIS

Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau serangan panik, walaupun serangan panik
kadang-kadang terjadi setelah luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas seksual atau trauma
emosional. Klinisi harus berusaha untuk mengetahui tiap kebiasaan atau situasi yang sering mendahului
serangan panik. Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10
menit.
Gejala mental utama adalah ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. Pasien
biasanya tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingungan dan
mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian.
Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat. Pasien seringkali mencoba untuk
mencari bantuan. Serangan biasanya berlangsung 20 sampai 30 menit.
Agorafobma : pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi dimana ia akan sulit mendapatkan
bantuan. Pasien mungkin memaksa bahwa mereka harus ditemani setiap kali mereka keluar rumah.
PEDOMAN DIAGNOSTIK AGORAFOBIA

Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dimana kemungkinan sulit meloloskan diri
Situasi dihindari, misal jarang bepergian

Kecemasan atau penghindaran fobik bukan karena gangguan mental lain, misal fobia sosial
PEDOMAN DIAGNOSTIK GANGGUAN PANIK

Serangan panik rekuren dan tidak diharapkan


Sekurangnya satu serangan , diikuti satu atau lebih : kekawatiran menetap akan mengalami
serangan tambahan, ketakutan tentang arti serangan, perubahan perilaku bermakna berhubungan
dengan serangan
Serangan panik bukan karena efek fisiologis langsung atau suatu kondisi medis umum
Serangan panik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain. misal gangguan obsesif kompulsif.
Gangguan panik bisa dengan agorafobia atau tanpa agorafobia
TERAPI

Konseling dan medikasi.


Konseling: ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan panik berlalu, konsentrasikan diri untuk
mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan pernafasan. Identifikasikan rasa takut selama
serangan. Diskusikan cara menghadapi rasa takut saya tidak mengalami serangan jantung, hanya panik,
akan berlalu.
Medikasi : banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan medikasi. Bila serangan
sering dan berat, atau secara bermakna dalam keadaan depresi beri antidepresan (imipramin 25 mg malam
hari, dosis bisa sampai 100 150 mg malam selama 2 minggu ). Bila serangan jarang dan terbatas beri anti
anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1) hindari pemberian
jangka panjang dan pemberian medikasi yang tidak perlu.
2. GANGGUAN FOBIK
Penelitian epidemiologis di Amerika Serikat menemukan 5 10 persen populasi menderita gangguan ini.
FOBIA adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang disadari
terhadap obyek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti.
Fobia spesifik: takut terhadap binatang, badai, ketinggian, penyakit, cedera, dsb
Fobia sosial: takut terhadap rasa memalukan di dalam berbagai lingkungan sosial seperti berbicara di
depan umum, dsb
PEDOMAN DIAGNOSTIK

Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak beralasan (obyek /situasi)
Pemaparan dengan stimulus fobik hampir selalu mencetuskan kecemasan
Menyadari bahwa rasa takut adalah berlebihan

Situasi fobik dihindari


TERAPI

Konseling dan medikasi: dorong pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat daftar situasi yang
ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut tersebut. Dengan konseling banyak
pasien tidak membutuhkan medikasi. Bila ada depresi bisa diberi antidepresan lmipramin 50 150 mg/ hari.
Bila ada anxietas beri antianxietas dalam waktu singkat, karena bisa menimbulkan ketergantungan. Beta
blokerdapat mengurangi gejala fisik. Konsultasi spesialistik bila rasa takut menetap
3. GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF
Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2-3 persen.
OBSESIF adalahpikiran, perasaan, ide yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
KOMPULSIF adalah tingkah-laku yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
PEDOMAN DIAGNOSIS
= Pikiran, impuls, yang berulang
= Perilaku yang berulang

= Menyadari bahwa obsesif-kompulsif adalah berlebihan atau tidak beralasan


= Obsesif-kompulsif menyebabkan penderitaan
= Tidak disebabkan oleh suatu zat atau kondisi medis umum.
TERAPI
Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang dapat mengurangi
gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku kompulsif. Latihan pernafasan. Bicarakan apa yang
akan dilakukan pasien untuk mengatasi situasi, kenali dari perkuat hal yang berhasil mengatasi situasi. Bila
diperlukan bisa diberi Klomipramin 100 - 150 mg, atau golongan Selected Serotonin Reuptake Inhibitors.
Konsultasi spesialistik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.
4. GANGGUAN STRES PASCA-TRAUMA
Pasien dapat diklasifikasikan mendenta gangguan stres pasca-trauma, bila mereka mengalami suatu stres
yang akan bersifat traumatik bagi hampir semua orang. Trauma bisa berupa trauma peperangan, bencana
alam, penyerangan, pemerkosaan, kecelakaan.
Gangguan stres-pasca trauma terdiri dari:
- pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran, penghindaran yang persisten oleh penderita
terhadap trauma dan penumpulan responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan dan
persisten.
Gejala penyerta yang sering dan gangguan stres pasca-trauma adalah depresi, kecemasan dan kesulitan
kognitif(contoh pemusatan perhatian yang buruk)
Prevalensi seumur hidup gangguan stres pasaca-trauma diperkirakan I sampai 3 persen populasi umum, 5
sampai 15 persen mengalami bentuk gangguan yang subklinis. Walaupun gangguan stres pasca-trauma
dapat terjadi pada setiap usia, namun gangguan paling menonjol pada usia dewasa muda.
PEDOMAN DIAGNOSTIK STRES PASCATRAUMA
A. Telah terpapar dengan peristiwa traumatik, didapati:
o mengalami, menyaksikan, dihadapkan dengan peristiwa yang berupa ancaman kematian,
atau kematian yang sesungguhanya atau cedera yang serius,atau ancaman integritas fisik
diri sendiri atau orang lain
o respon berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya
B. Keadan traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu atau lebih cara berikut:
o rekoleksi yang menderitakan, rekuren dan mengganggu tentang kejadian
o Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian
o berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali
o penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang
menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik
o reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang
menyimbolkan atau menyerupai aspek kejadian traumatik
C. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma
D. Gejala menetap, adanya peningkatan kesadaran , seperti dua atau lebih berikut:
kesulitan tidur, irritabilitas, sulit konsentrasi, kewaspadaan berlebihan, respon kejut
yang berlebihan.
E. Lama gangguan gejala B,C,D adalah lebih dari satu bulan.
F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
5. REAKSI STRES AKUT
Suatu gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi pada seseorang tanpa adanya gangguan jiwa

lain yang nyata, sebagai respons terhadap stres fisik maupun mental yang luar biasa dan biasanya
menghilang dalam beberapa jam atau hari. Stresornya dapat berupa pengalaman traumatik yang luar biasa .
Kerentanan individu dan kemampuan menyesuaikan diri memegang peranan dalam terjadinya dan
keparahannya suatu reaksi stres akut.
PEDOMAN DIAGNOSTIK
Harus ada kaitan waktu yang langsung dan jelas antara terjadinya pengalaman stresor luar biasa dengan
onset dan gejala. Onset biasanya setelah beberapa menit atau bahkan segera setelah kejadian. Selain itu
ditemukan
(a) terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya berubah-ubah; selain gejala permulaan berupa
keadaan terpaku , semua gejala berikut mungkin tampak: depresif, anxietas, kemarahan, kekecewaan,
overaktif dan penarikan diri, akan tetapi tidak satupun dan jenis gejala tersebut yang mendominasi
gambaran klinisnya untuk waktu lama.
(b) pada kasus-kasus yang dapat dialihkan dan stresomya, gejala-gejalanya dapat menghilang dengan
cepat (dalam beberapa jam); dalam hal dimana stres tidak dapat dialihkan, gejala-gejala biasanya baru
mulai mereda setelah 24 - 48 jam dan biasanya menghilang setelah 3 hari.
6. GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH
Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap (bertahan
lama), Gejala yang dominant sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang berkepanjangan, gemetaran,
ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi, pusing kepala dan keluhan epigastnik adalah
keluhankeluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan bahwa dirinya atau anggota keluarganya akan menderita
sakit atau akan mengalami kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan yang seringkali diungkapkan

PEDOMAN DIAGNOSTIK
Pasien harus menunjukan gejala primer anxietas yang berlangsung hampir setiap hari selama beberapa
minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan. Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-hal berikut :
kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik, overaktivitas otonomik
7. GANGGUAN CAMPURAN ANXIETAS DAN DEPRESI
Kategori campuran ini harus digunakan bilamana terdapat gejala anxietas maupun depresi, di mana masingmasing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diaognosis tersendiri.
(Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.KJ,SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA, IKATAN DOKTER
INDONESIA)

STEP 4

genetic

environment( experience
d)
biological
in brain

social interacton

anxiety symptoms

fobis anxiety

crowded place

other anxiety