Anda di halaman 1dari 5

1

LAPORAN ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN


PEMBERIAN NEBULIZER DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT
RSUD AMBARAWA SEMARANG
Inisial pasien

: Tn. E (54 tahun)

No RM

: 0918440

Diagnosa medis

: Bronkopneumonia

Tanggal masuk

: 12 Desember 2015

1. Diagnosa keperawatan dan dasar pemikiran


a. Diagnosa keperawatan
DS: Klien mengatakan bahwa ia merasakan sesak nafas ketika batuk, batuk berdahak tapi
agak susah dikeluarkan.
DO:
-

GCS : E3 V4 M5, Compo mentis


Klien terlihat lemah
TD : 140/86 mmHg, N : 100x/m, RR : 26x/m, S : 37 0C
Spo2 : 85%
Klien tampak sesak, RR=26x/menit, tidak ada suara tambahan

Diagnosa keperawatan: ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan


volume paru
b. Dasar pemikiran
Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang melibatkan
bronkus atau bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy
distribution) (Bennete, 2013).Pneumonia merupakan penyakit peradangan akut pada paru
yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme dan sebagian kecil disebabkan oleh
penyebab non-infeksi yang akan menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan
pertukaran gas setempat.
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh
virus penyebab Bronkopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga terjadi
peradangan bronkus dan alveolus. Inflamasi bronkus ini ditandai dengan adanya
penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual.
Emergency & Critical Care Departement : Sintesa Analisys Nebulizer
Institute of Heatlh and Science Karya Husada Semarang

Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi adalah
kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.
Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan
napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi
surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk melembabkan rongga fleura. Emfisema (
tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru ) adalah tindak lanjut dari pembedahan.
Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis respiratori,
pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya
gagal napas.
Oleh sebab itu, diperlukan suatu terapi untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu
dengan terapi inhalasi atau nebulizer. Terapi inhalasi merupakan suatu metode yang
mengubah obat cair menjadi aerosol, dihisap melalui masker/mouthpiece dan bekerja
secara langsung ke target organ di saluran napas.
2. Tindakan keperawatan yang dilakukan
Melakukan nebuliser combivent 1 amp dan flixotid 1 amp
3. Prinsip-prinsip tindakan
Nebuliser merupakan tindakan keperawatan dengan prinsip bersih karena bukanlah
tidakan invasif. Prinsip-prinsip pelaksanaan nebulizer, seperti menyiapkan alat-alat dan bahan
(mesin nebulizer dan masker, obat), klien diposisikan fowler/duduk. Suara nafas, denyut nadi,
status respirasi, dan saturasi oksigen diukur sebelum dan sesudah tindakan. Ajarkan klien cara
menghirup yang benar.
4. Analisa tindakan keperawatan
Tujuan dilakukan nebulizer adalah mengencerkan secret, mengobati peradangan saluran
napas atas, melegakan saluran napas. Terapi nebulizer dapat diberikan langsung pada
tempat/sasaran aksinya (seperti paru) oleh karena itu dosis yang diberikan rendah, dosis yg
rendah dapat menurunkan absorpsi sistemik dan efek samping sistemik, pengiriman obat
melalui nebulizer ke paru sangat cepat, sehingga aksinya lebih cepat dari pada rute lainnya
seperti subkutan atau oral, udara yang dihirup melalui nebulizer telah lembab, yang dapat
membantu mengeluarkan sekresi bronchus.
Perawat langsung menyiapkan alat-alat untuk nebuliser seperti alat nebuliser, masker
oksigen disambungkan dengan selang pada mesin nebuliser, obat yang dimasukkan
Emergency & Critical Care Departement : Sintesa Analisys Nebulizer
Institute of Heatlh and Science Karya Husada Semarang

(combivent 1 amp dan flixotid 1 amp) .Sakelar dalam mesin nebuliser dihubungkan dengan
sumber listrik.
Tn. E diposisikan fowler, combivent dan flixotid kemudian dimasukkan dalam tabung di
dalam nebuliser. Memasang masker oksigen pada klien, kemudian menekan tombol on.
Maka uap obat akan mengalir dari mesin nebuliser ke masker oksigen dan akhirnya akan
dihirup oleh klien. Perawat mengajarkan cara menghirup yang benar. Setelah obat habis,
nebulizer dimatikan dan klien kembali memakai kanul oksigen.
Ketika hendak melakukan nebuliser, perawat tidak cuci tangan terlebih dahulu, dan tidak
menggunakan sarung tangan, paling tidak sarung tangan bersih. Wadah nebulizer untuk cairan
obat tidak dibersihkan. Wadah dalam nebulizer sebaiknya dibersihkan setelah dipakai, yaitu
dengan membuang sisa obatnya, dibersihkan dengan air panas dan sabun setelah dipakai,
dibersihkan dengan disinfektan setiap 24 jam bila penggunaan setiap hari. Perawat juga hanya
mengkaji frekuensi nafas, dan suara napas sebelum dan sesudah tindakan.
5. Bahaya yang dapat terjadi
a. Pengendapan aerosol di dalam saluran pernapasan
b. Mual
c. Muntah
d. Tremor
e. Bronkospasme
f. Takikardi
6. Hasil yang didapat dan maknanya
S : Pasien mengatakan sudah lega, sesak napas berkurang, rasa ingin batuk berkurang.
O : Irama napas teratur, frekuensi 20x/menit, suara nafas vesikuler tidak ada bunyi nafas
tambahan
-

GCS : E3 V4 M5, Compo mentis


Klien terlihat lemah
TD : 140/86 mmHg, N : 100x/m, RR : 26x/m, S : 37 0C
Spo2 : 97%
Klien tampak sesak, RR : 24x/menit, tidak ada suara tambahan

A : Masalah teratasi
P : Lanjutkan intervensi
Anjurkan pasien untuk napas dalam, batuk efektif, minum air putih hangat
Emergency & Critical Care Departement : Sintesa Analisys Nebulizer
Institute of Heatlh and Science Karya Husada Semarang

7. Tindakan keperawatan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa di atas (mandiri
dan kolaboratif)
a. Pemeriksaan suara napas
b. Memposisikan semifowler/fowler
c. Melakukan fisioterapi dada
d. Pemberian bronkodilator
8. Evaluasi diri
Dalam mempersiapkan alat-alat sampai melakukan nebuliser, akan lebih baik jika cuci
tangan terlebih dahulu. Membersihkan masker oksigen dengan kapas alkohol, membuang sisa
obat dan membersihkan wadah dalam nebuliser dengan air hangat dan sabun. Suara nafas,
denyut nadi, status respirasi, dan saturasi oksigen diukur sebelum dan sesudah tindakan
9. Kepustakaan
a. Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI. Terapi Inhalasi. Upload: 1
Mei

2009.

http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/7001abad927d536232531639aaf2b156d9e1e
a62.pdf . Diakses tanggal 10 Desember 2015.
b. Layman, ME. Nebuliser Therapy, dalam buku Emergency Nursing Procedures. Edisi ke-2
oleh Jean A Proehl. USA: W.B. Saunders Company.
c. Kusyati, E. et al. Keterampilan dan prosedur Keperawatan Dasar. Semarang: Kilat Press.
2003.
d. Winariani. Perbedaan Fungsi Paru Pasien PPOK Yang Menggunakan Terapi Nebulizer
Dengan Terapi Intravena di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang. Update: Minggu,
04 Desember 2011. http://kti-skripsi-kedokteran.blogspot.com/2011/12/perbedaan-fungsiparu-pasien-ppok-yang.html. Diakses tanggal 22 November 2012.
e. Bennete M.J. 2013. Pediatric Pneumonia. http://emedicine.medscape.com/article/967822overview. (9 Marert 2013)
f. Bradley J.S., Byington C.L., Shah S.S, Alverson B., Carter E.R., Harrison C., Kaplan
S.L., Mace S.E., McCracken Jr G.H., Moore M.R., St Peter S.D., Stockwell J.A., and
Swanson J.T. 2011. The Management of Community-Acquired Pneumonia in Infants and
Children Older than 3 Months of Age : Clinical Practice Guidelines by the Pediatric

Emergency & Critical Care Departement : Sintesa Analisys Nebulizer


Institute of Heatlh and Science Karya Husada Semarang

Infectious Diseases Society and the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect
Dis. 53 (7): 617-630
Mengetahui
Clinical Instructure

Mahasiswa / Practitioner

_____________________
NIP.

Satya Putra Lencana


NIM. 1508166

Emergency & Critical Care Departement : Sintesa Analisys Nebulizer


Institute of Heatlh and Science Karya Husada Semarang