Anda di halaman 1dari 100

HARIONO (G.III.11.14.

034)
Laporan On The Job Training

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pelaksanaan On The Job Training
Dewasa ini, Perkembangan Industri Penerbangan Indonesia mengalami
peningkatan dalam berbagai bidang. Hal tersebut menyesuaikan dengan laporan
International Air Transport Association (IATA) yang menyebutkan jumlah
penumpang udara nasional akan mencapai 270 juta penumpang pada tahun 2034
atau naik lebih dari 300% dibanding pada tahun 2014 dengan 90 juta penumpang.
Hal tersebut pula dilakukan untuk memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh
ICAO (International Civil Aviation Organization). Salah satunya yakni dalam
bidang keselamatan dan keamanan penerbangan.
Untuk meningkatkan standar keselamatan dan keamanan penerbangan
seperti apa yang telah ditetapkan oleh ICAO, maka salah satu faktor yang
berperan penting adalah Sumber Daya Manusia (SDM) perhubungan itu sendiri.
Faktor ini tidak hanya dari segi kualitas, namun juga kuantitasnya terlebih lagi
sebagai operator yang memiliki kaitan langsung dengan aspek keamanan dan
keselamatan penerbangan. Salah satu profesi yang berperan penting di bidang
keselamatan dan keamanan penerbangan ini adalah Pemandu Lalu Lintas Udara
yang lebih dikenal dengan sebutan Air Traffic Controller (ATC).
Pemandu Lalu Lintas Udara/Air Traffic Controller berperan penting dalam
hal terciptanya suatu lalu lintas udara yang tertib, teratur, lancar dan aman di
dunia penerbangan. Dalam menjalankan profesinya, seorang Pemandu Lalu Lintas
Udara akan melakukan komunikasi dengan Pilot mengenai instruksi, izin dan
1
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

informasi yang lebih dikenal dengan sebutan clearance yang berkaitan dengan
kondisi pesawat saat itu. Kesalahan instruksi sedikit saja akan berpengaruh
terhadap semua aktifitas penerbangan yang sedang berlangsung, yang berarti
ratusan nyawa dalam sejumlah pesawat yang tengah beroperasi saat itu akan
terancam. Oleh karena itu, dalam menghasilkan seorang Pemandu Lalu Lintas
Udara (PLLU), diperlukan suatu tenaga ahli dibidang ini. Dalam memenuhi
kebutuhan Pemandu Lalu Lintas Udara, pemerintah telah bekerjasama dengan
Departemen Perhubungan untuk membangun instansi pendidikan yang mampu
mencetak Pemandu Lalu Lintas Udara yang berkompeten. Salah satu instansi
pendidikan yang berperan dalam hal ini adalah Akademi Teknik dan Keselamatan
Penerbangan (ATKP) Surabaya.
Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya
merupakan badan pendidikan dan pelatihan dibawah Direktorat Jenderal
Perhubungan Udara Republik Indonesia yang menyediakan berbagai macam
jurusan pendidikan. Salah satunya adalah jurusan keselamatan penerbangan.
Jurusan ini terbagi menjadi dua program studi yakni Pemandu Lalu Lintas Udara
(PLLU) dan Komunikasi Penerbangan (KP). Dalam program studi PLLU, peserta
didik atau yang lebih dikenal dengan sebutan Taruna/i dibekali dengan berbagai
materi dan sejumlah praktek simulasi di dalam laboratorium khusus guna
meningkatkan kualitas kinerja para Taruna/i kelak. Salah satu program kegiatan
pendidikan yang tercantum didalamnya adalah pelaksanaan Praktik Kerja
Lapangan / OJT (On The Job Training).
OJT merupakan salah satu kurikulum dari kelompok pendidikan PLLU
baik JATC maupun SATC. Untuk pendidikan Diploma III PLLU yang terdiri dari
2
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

6 (enam) semester, OJT dilaksanakan pada semester ke 4 (empat) untuk


Aerodrome Control (ADC) Tower dan ke 6 (enam) untuk Non-Radar.
Para Taruna ditempatkan dan ditugaskan ke berbagai Bandar Udara di
Indonesia yang telah ditunjuk untuk melaksanakan program kegiatan OJT, salah
satunya adalah Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II
Palembang. Oleh Karena itu, OJT sangat berguna bagi para Taruna/i calon ATC
karena dapat meningkatkan wawasan dan menambah pengalaman mereka dengan
terjun secara langsung di lapangan.
Dengan adanya program kegiatan OJT ini, diharapkan para Taruna/i bisa
meningkatkan wawasan serta memperoleh pengalaman nyata mengenai pemberian
pelayanan lalu lintas udara di suatu Bandar Udara yang memiliki karakteristik
khusus dan prosedur lokal tertentu serta dapat menerapkan secara langsung teori
yang telah didapat selama mengikuti pendidikan di Akademi Teknik dan
Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya.
1.2 Tujuan Pelaksanaan On The Job Training
Praktek kerja lapangan atau On the Job Training merupakan kegiatan
praktek di lapangan yang wajib dilaksanakan oleh taruna/i pengatur lalu lintas
udara. On the Job Training pada dasarnya dilaksanakan untuk memberikan
kesempatan kepada taruna/i untuk menerapkan ilmuilmu yang telah didapatkan
di kampus untuk dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang sesungguhnya.
Berikut merupakan beberapa tujuan dari pelaksanaan On The Job Training:
1.

Mampu mengatur lalu lintas penerbangan secara aman, tertib dan efisien
sesuai dengan Five Objectives of ATS.
3

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

2.

Memberikan pengalaman kerja yang sesungguhnya dalam melaksanakan


pelayanan penerbangan di bandar udara.

3.

Meningkatkan sikap profesionalisme sesuai dengan pelaksanaan keselamatan


penerbangan.

4.

Meningkatkan pengetahuan dan memperluas wawasan dalam sektor


perhubungan udara, khususnya manajemen dan organisasi bandara.

5.

Melatih para taruna dalam meningkatkan control technic, phraseology,


inisiatif, planning ahead dalam melaksanakan prosedur yang berlaku, seperti
koordinasi dengan unit terkait, kerjasama, disiplin dan tanggung jawab.

6.

Memberikan gambaran umum, pedoman, dan pengalaman pada setiap Taruna


agar dapat menjadi ATC yang siap kerja kelak

1.3 Ruang Lingkup Laporan


Dalam pelaksanaan On the Job Training taruna/i Diploma III PLLU-VII
Alpha dan PLLU-VII Bravo ATKP Surabaya melaksanakan tugas pada unit
Aerodrome Control Tower. Taruna/i PLLU-VII Alpha dan PLLU-VII Bravo
berfungsi sebagai Controller atau Asisten Controller, maka dalam melaksanakan
pelayanan keselamatan penerbangan ditetapkan sesuai dengan basic-nya yaitu
mengatur pergerakan pesawat di Manoeuvring Area dan di Vicinity of Aerodrome
di unit Aerodrome Control Tower.
Sesuai dengan surat keputusan direktur Akademi Teknik Dan Keselamatan
Penerbangan Surabaya, pelaksanaan On the Job Training Diploma III Pengatur
Lalu Lintas Udara Angkatan ke-VII Alpha dan ke-VII Bravo telah ditetapkan 16
lokasi Bandar udara yaitu :

4
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

1.

Perum LPPNPI Distrik Bandar Udara Int. Depati Amir - Pangkal Pinang

2.

Perum LPPNPI Distrik Bandar Udara Juwata - Tarakan

3.

Perum LPPNPI Distrik Bandar Udara Int. Achmad Yani - Semarang

4.

Perum LPPNPI Cabang Bandar Udara Int. Sultan Mahmud Badaruddin II


- Palembang

5.

Perum LPPNPI KPNP Bandar Udara H. A. S. Hanandjoeddin - Tanjung


Pandan

6.

Perum LPPNPI Distrik. Bandara Udara Bandar Haji Fisabilillah Tanjung Pinang

7.

Perum LPPNPI KPNP Bandar Udara Blimbingsari - Banyuwangi

8.

Perum LPPNPI KPNP Bandar Udara Cakrabhuwana - Cirebon

9.

Perum LPPNPI KPNP Bandara Udara Tunggul Wulung - Cilacap

10.

Perum LPPNPI Distrik Bandar Udara Supadio - Pontianak

11.

Perum LPPNPI KPNP Bandar Udara Kalimarau - Berau

12.

Perum LPPNPI Cabang Bandar Udara Ngurah Rai - Bali

13.

Perum LPPNPI KPNP Sultan Muhammad Salahuddin - Bima

14.

Perum LPPNPI KPNP Bandar Udara Mau Hau - Waingapu

15.

Perum LPPNPI Cabang Bandar Udara Sultan Hasanuddin - Makassar

16.

Perum LPPNPI Cabang Bandar Udara Juanda - Surabaya


Penyusun memfokuskan penulisan laporan ini pada aspekaspek

pengendalian lalu lintas udara di Aerodrome Control Tower Bandar Udara Sultan
Mahmud Badaruddin II Palembang serta koordinasi dengan unit lain yang terkait
dengan pelayanan lalu lintas udara.
Yang menjadi ruang lingkup dalam pelaksanaan OJT adalah:
5
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

1. Unit ADC service beserta unit ATS pendukung lainnya yang berkaitan
dengan tugas seorang Aerodrome Control Tower;
2. Fasilitas peralatan pendukung operasi yang ada di Bandara Sultan Mahmud
Badaruddin II beserta spesifikasi bandara tersebut.
3. Local Procedure yang berlaku di Aerodrome Control Tower yang ada di
Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II tersebut.
1.4 Sistematika Laporan
Sistematika laporan On the Job Training berpedoman pada buku
pedoman Praktek Kerja Lapangan yang sudah baku untuk keseragaman laporan.
Adapun sistematika laporan On the Job Training sebagai berikut :
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pelaksanaan On The Job Training
1.2 Tujuan Pelaksanaan On The Job Training
1.3 Ruang Lingkup Laporan
1.4 Sistematika Laporan
6
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

BAB II. PELAKSANAAN OJT


2.1 Gambaran Umum Lokasi On The Job Training
2.2 Uraian tentang Unit-Unit Lokasi On The Job Training
2.3 Prosedur Pemberian Pelayanan Lalu Lintas Udara
2.4 Sarana dan Prasarana Pendukung Operasional
BAB III. PERMASALAHAN
3.1 Kendala Yang Dalam Pemberian Pelayanan Lalu Lintas Udara
3.2 Penyebab Timbulnya Masalah
3.3 Alternatif Pemecahan Masalah
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB II
PELAKSANAAN ON THE JOB TRAINING
2.1 Gambaran Umum Lokasi On The Job Training
7
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

2.1.1 Bandar Udara Int. Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang


Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang yang berLocation Indicator WIPP adalah Bandar Udara Internasional yang dikelola oleh
P.T (Persero) Angkasa Pura II yang mempunyai karakteristik dan keunikan
tersendiri. Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang
mempunyai Runway 11 dan Runway 29.
Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang
terletak di bagian barat laut Ibukota Propinsi Sumatera Selatan kurang lebih
sekitar 6,7 Nm. Penerbangan yang dilayani oleh Bandara SMB II meliputi
penerbangan schedule komersial, non-schedule/non-komersial dan penerbangan
militer.
2.1.2 Data dan Karakteristik Bandar Udara Int. SMB II Palembang
a. Aerodrome Data
Aerodrome Location Indicator

: WIPP Palembang / SMB II

ARP Coordinate and Site at AD

: 025401 S-1044200 E

Direction and Distance from city

: 6,7 Nm dari pusat kota Palembang


NO VARIATION

Transition Level

: 13,000 feet

Transition Altitude

: 11,000 feet

Runway Designation

: Runway 11/29

Direction

: 113/293
8

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Tower Frequency

: 118,1 Mhz

Airspace Classification

:C

Elevation

: 49 Feet

Reference Temperature

: 27 C

Operating Hours

: MON SUN 22.00 17.00 UTC

b. Runway
- Runway 11
True Bearing

: 113

Nomor Runway

: 11

Panjang Landasan

: 3000 M

Lebar Runway

: 45 M

Strenght

: PCN 68 FCXT

THR Coordinates

: 02 53 31,832 S 104 41 07,317 E

THR Elevation

: 49 Feet

Slope or RWY-NR

: 0,3 %

SWY Dimension

: 60 X 45 M

CWY Dimension

: 150 X 150 M

Strip Dimension

: 3300 X 300 M

Surface

: Asphalt Concrete
9

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Square Metres

: 112.500 M2

Obstacle free zone

: NIL

Remarks

: NIL

- Runway 29
True Bearing

: 293

Nomor Runway

: 29

Panjang Landasan

: 3000 M

Lebar Runway

: 45 M

Strenght

: PCN 68 FCXT

THR Coordinates

: 02 54 09,534 S 104 42 36, 921 E

THR Elevation

: 39 Feet

Slope or RWY-NR

: 0,3 %

SWY Dimension

: 60 X 45 M

CWY Dimension

: 150 X 150 M

Strip Dimension

: 3300 X 300 M

Surface

: Asphalt Concrete

Square Metres

: 112.500 M2

Obstacle free zone

: NIL

10
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Remarks

: NIL:

RWY

TORA

TODA

ASDA

LDA

11

3000 M

3150 M

3060 M

3000 M

29

3000 M

3150 M

3060 M

3000 M

Tabel 2.1.2.1 Declared Distances


c. Apron
- South Apron
Dimension

: 90 X 122,5 M

Square Metres

: 11.025 M2

Surface

: Asphalt Concreate

Strength

: PCN.39 FXCT

- North Apron (Main)


Dimension

: 410 X 132,5 M

Square Metres

: 54.325 M2

Surface

: Concreate

Strength

: PCN.68 FXCT
11

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Name of

Stand Number

WGS-84 Coordinate
Latitude
Longitude

Aircraft Stand
NO
1

South Apron

North Apron

S1

0254'01.8"S

10442'03.4"E

S2

0254'03.3"S

10442'03.5"E

S3

0254'04.9"S

10442'03.6"E

N1

0253'43"S

10442'11"E

N2

0253'4.4"S

10442'12"E

N3

0253'4.4"S

10442'14"E

N3A

0253'45"S

10442'13"E

N3B

0253'45"S

10442'14"E

N4

0253'45"S

10442'16"E

N4A

0253'46"S

10442'15"E

N4B

0253'46"S

10442'16"E

N5

0253'46"S

10442'18"E

N5A

0253'47"S

10442'17"E

N5B

0253'46"S

10442'18"E

N6

0253'47"S

10442'20"E

N7

0253'48"S

10442'20"E

N8

0253'48"S

10442'22"E

Tabel 2.1.2.1.2 Geographical coordinate of


each aircraft parking stand

d. Taxiway
- Taxiway parallel
Surface

: Asphalt Concrete

Strength

: 43 FXCT
12

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Dimension

: 2500 X 30 M

Square Metres

: 75.000 M2

- Taxiway A
Surface

: Asphalt Concreate

Strength

: 68 FXCT

Dimension

: 127,5 X 23 M

Square Metres

: 2932,5 M2

- Taxiway B
Surface

: Asphalt Concrete

Strength

: 68 FXCT

Dimension

: 127,5 X 23 M

Square Metres

: 2932,5 M2

- Taxiway C
Surface

: Asphalt Concrete

Strength

: 63 FXCT

Dimension

: 127,5 X 23 M

Square Metres

: 2932,5 M2

- Taxiway D
Surface

: Asphalt Concrete
13

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Strength

: 68 FXCT

Dimension

: 87,5 X 23 M

Square Metres

: 2012,5 M2

- Taxiway E
Surface

: Asphalt Concrete

Strength

: 68 FXCT

Dimension

: 280 X 23 M

Square Metres

: 6440 M2

- Taxiway F
Surface

: Asphalt Concrete

Strength

: 68 FXCT

Dimension

: 127,5 X 23 M

Square Metres

: 2932,5 M2

- Taxiway G
Surface

: Asphalt Concrete

Strength

: 39 FXCT

Dimension

: 75 X 23 M

Square Metres

: 1725 M2

NO

FACILITY

Coordinate (by GPS 12 XL Garmin)


14

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Latitude

Longitude

Taxiway A

0253'35.6"S

10441'23.7"E

Taxiway B

0253'39.3"S

10441'32.7"E

Taxiway C

0253'50.7"S

10441'59.8"E

Taxiway D

Taxiway E

0253'58.8"S

10442'17.8"E

Taxiway F

0254'06"S

10442'37.8"E

Taxiway G

Taxiway Paralel

Tabel 2.1.2.1.3 Taxiway Coordinate

2.1.3 Alat Bantu Navigasi


A. VOR/DME (Very High Frequency Omnidirectional Radio Beacon)
VOR/DME
Identification

PLB

Frequency

115.5 Mhz/CH-102x

Position

025242.92 S
1043911.39E

Hours of Operation

H 24

Remarks

Coverage 150 NM

15
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Tabel 2.1.3.1 VOR/DME (Very High Frequency Omnidirectional Radio


Beacon)
B. NDB (Non Directional Beacon)
NDB
Identification

OW

Frequency

395 KHz

Position

025438.38S
1044035.23E

Hours of Operating

H-24

Remarks

Coverage 150 NM

Tabel 2.1.3.2 NDB (Non Directional Beacon)


C. Locator
LOCATOR
Identification

WW

Frequency

380 KHz

Position

025419.02S
1044256.40E

Hours of Operation

23.00-14.00

Remarks

Coverage 150 NM
Tabel 2.1.3.3 Locator

D. ILS (Instrument Landing System)


Instrument

Frequency

Position

Hours of

Remarks

Operation
Localizer

110.5 Mhz

22.00-

CAT. I

16
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

17.00

(Rwy 29)
Angle 3

Glide Path

329.6 Mhz

22.0017.00

Outer Marker

75 Mhz

025540.79S
1044614.01E

Middle Marker

75 Mhz

025423.76S
1044307.57E

Approach Head

025345.89S
1044223.58E

ATIS

127.2 Mhz

22.0017.00
22.0017.00
22.0017.00
22.0017.00

Tabel 2.1.3.4 ILS (Instrument Landing System)


2.1.4 Approach and Runway Lighting
APP

THR

VASIS

RWY

LIGHT

LIGHT

(MEHT)

Designator

Type LEN

WBAR

PAPI

RWY
edge

RWY end
LGT

LGT LEN

Color
WBAR

Spacing
Color
11

REIL

Green

3 Bars

White

Red

29

High

Green

3 Bars

White

Red

Intensity
Tabel 2.1.4.1 Approach and Runway Lighting
- Other Lighting Secondary Power Supply
17
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Abn/ibn Location, Characteristic and Hours Operation

: ABN Available

LDI Location

: LDI Available

Anemometer Location and LGT


TWY Edge Light

: Available

Secondary Power Supply

: Standby Gen

Switch Over Time

: 7-10 second

2.1.5 ATS Communication Fasilities


Services

Call Sign

Frequency

Designator
APP

Hours of

Remarks

Operation
PALEMBANG

119.2 Mhz

23.00-17.00

RADAR
23.00-17.00

Coordinate
TWR

TWR

MAHMUD

118.1 Mhz

025403,35S

TOWER

1044157,98E
(Garmin Coord)

FSS

PALEMBANG

3416,5631,

INFORMATION

6595,

23.00-17.00

8957,11309,
18
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

1136
1 Khz
Tabel 2.1.5.1 ATS Communication Fasilities
Jalur penerbangan yang dilayani oleh Bandara Sultan Mahmud
Badaruddin II Palembang meliputi Jalur Penerbangan Domestik dan Internasional.
Yang sangat berpengaruh penting dalam perkembangan Bandara Internasional
Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dalam meningkatkan Pelayanan
Operasi Lalu Lintas Udara.
- Jalur Penerbangan Domestik
DESTINATION

LOCATION INDICATOR

ROUTE

Jakarta (Soekarno

WIII

W12E, W12

WIHH

W12E, W12

WIRR

W12E,W12

Bengkulu

WIGG

W23

Jambi

WIJJ

W12

Padang

WIEE

W25,W21

Padang (Tabing)

WIMG

W25,W21

Tanjung Karang

WILL

W21

Pekanbaru

WIBB

W12

Pangkal Pinang

WIKK

W23

Hatta)
Jakarta (Halim
Peradana Kusuma)
Tangerang
(Budiarto)

(Minangkabau)

19
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Medan

WIMM

W12

Medan (Suondo)

WIMK

W12

Batam

WIDD

G579, W24

Tanjung Pinang

WIDN

W24

Tanjung Pandan

WIKT

W25

Sekayu

WIPS

DCT

Bandung

WICC

W12E, W12

Jogjakarta

WAHH

W12E, W12

Bali

WADD

W45

Pontianak

WIOO

W23

Surabaya (Juanda)

WARR

W12E,W12

(Kualanamu)

Tabel 2.1.5.2 Jalur Penerbangan Domestik


- Jalur Penerbangan Internasional
DESTINATION
Singapura

LOCATION INDICATOR
WSSS

ROUTE
G579, W24, B470

Malaysia

WMKK

W12, A585

Jeddah

OEJN

A585

Madinah

OEMA

A585

Tabel 2.1.5.3 Jalur Penerbangan Internasional


Jenis pesawat yang beroperasi di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II
terdiri dari pesawat Fixed Wing dan Rotary Wing.
Jenis Fix Wing
a. A319
b. A332
20
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

c. A320
d. B734
e. B733
f. B732
g. B739ER / B738NG
h. CRJX
i. FK 27
j. BE1900
k. TBM700
l. C212
m.C208
n. C130
o. TB10
p. PA28
q. BAE146
r. ATR72

Jenis Rotary Wing


a. H500
b. B105
c. Bell 206
d. Colibri EC120
e. S300
f.

S330

g. SA332
21
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

h. B407
i.

AS350

j.

HI20

k. S76
l.

M18

m. M17

2.2 Uraian Tentang Unit-Unit Pelaksanaan On The Job Training


2.2.1 ATS Unit
Dinas Pelayanan Operasi Lalu Lintas Udara Kantor Cabang Bandara Sultan
Mahmud Badaruddin II Palembang menyelenggarakan unit pelayanan Lalu Lintas
Udara, meliputi :
1. Aerodrome Control Tower
2. Approach Control Unit
3. Komunikasi Penerbangan
4. Palembang Briefing Office (Ref: SOP)
2.2.2 Klasifikasi Ruang Udara dan Wilayah Kewenangan
A. Klasifikasi Ruang Udara
Ruang udara Palembang Terminal Control Area (12000 feet s/d FL 245)
sebagai ruang udara class B. Aerodrome Traffic Zone adalah kelas C. (Ref: AIP)
B. Batas Wilayah Kewenangan
Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Traffic Zone
-

Lateral Limit

: A circle with radius of 10 NM centered at

PLB VOR/DME
22
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Upper Limit

: 3000 feet.

Lower Limit

: Ground (Ref: AIP)

PALEMBANG CTR
Lateral limit
-

Lower limit

Upper limit

: Surface
: 12000 feet

PALEMBANG TERMINAL CONTROL AREA


-

052105S
031200S

1041705E;
1010000E;

040209S
004300S

1020000E;
1033300E;

011300S

1040005E;

005400S

1042500E;

021000S

1054203E;

025905S

1060602E;

043200S 1043900E; 052105S 1041705E


-

Upper Limit

: FL 245

Lower Limit

: 12000 feet (Ref: AIP)

2.2.3 PALEMBANG COMMUNICATION CENTER


Berfungsi memberikan pelayanan Flight Information Service, Alerting
Service dalam wilayah atau sektor serta melaksanakan pengiriman/penerimaan
beritaberita penerbangan dan non penerbangan yang datang dari unit terkait
sesuai dengan priority indicator untuk disampaikan ke masing-masing unit
terkait/ATS unit. (Ref: SOP)
2.2.4 SMB II BRIEFING OFFICE

23
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Berfungsi melaksanakan pengiriman/penerimaan beritaberita pesawat


udara yang datang maupun berangkat dari dan ke bandara SMB II serta berita
penerbangan lintas (Ref: SOP)
2.2.5 Tanggung Jawab
Aerodrome Control Tower bertanggung jawab terhadap pelayanan
keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas udara di Aerodrome Traffic Zone
dengan memberikan instruksi dan informasi kepada pesawat udara yang
dipandunya serta memberikan Aerodrome Traffic Services pada pesawat udara
yang datang dan pergi. (Ref : SOP)
Palembang Approach Control Unit bertanggung jawab terhadap
keselamatan penerbangan dan kelancaran arus lalu lintas udara di wilayah
Palembang Control Zone/CTR dan Palembang Terminal Control Area dengan
memberikan instruksi, clearance, dan informasi yang diperlukan terhadap pesawat
udara yang dipandunya serta melakukan koordinasi dengan ATS Unit/sektor yang
terkait (Ref : SOP)/AIP
Palembang Sector
- 000000S 0920000E 000000 1024500E thence anticlockwise
along a circle of 100 NM radius centred at Singapore to 000000
1040000E

005000

S1600000E

034500S

1060000E

050000S

1040000E

050000S

0962500E

034500S

1060000E 005000S 1060000E


- Upper limit

: FL245

- Lower limit

: Ground / Water (Ref: SOP)


24

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

- Tugas dan Fungsi Tanggung Jawab Unit Kerja di Palembang, yakni:


SMB II AERODROME CONTROL TOWER berfungsi memberikan
pelayanan, Aerodrome Control Services, Flight Information Services dan Alerting
Services di wilayah sekitar Bandar Udara SM Badaruddin II. (Ref: SOP)
PALEMBANG RADAR CONTROL OFFICE berfungsi memberikan
Area Control service, Approach control service, Flight Information Services dan
Alerting Services di dalam wilayah Palembang Terminal Control Area. (Ref: SOP)
PALEMBANG COMMUNICATION CENTER bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan pemberian informasi pada pesawat udara di wilayah
Palembang Sector serta pengiriman/penerimaan berita-berita penerbangan dan non
penerbangan yang datang dari unit terkait sesuai dengan prioritas indikatornya
untuk disampaikan ke masing-masing unit/ATS Unit terkait. (Ref: SOP)
2.2.6 Standard Operational, Fungsi, Tanggung Jawab dan Uraian Tugas
- OPERATING HOURS
Palembang Approach Control Unit, Aerodrome Control Tower, Palembang
Communication Center dan Palembang Briefing Office Sultan Mahmud
Badaruddin II beroperasi mulai dari pukul 05.00 WIB sampai dengan pukul 24.00
WIB dibagi menjadi 3 (tiga) shift. (Ref: SOP)
Shift pagi dimulai dari pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB
Shift siang dimulai dari pukul 13.000 WIB sampai dengan pukul 20.00 WIB
Shift malam dimulai dari pukul 20.00 WIB sampai dengan pukul 07.00 WIB

25
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Setiap shift terdiri dari 24 orang petugas yang dibawahi oleh seorang PTO
(Pelaksana Tugas Operasi), setiap petugas secara bergiliran bertanggung jawab
menduduki posisi controller dan assistant, pergiliran ini tergantung pada
kesepakatan bersama yang bertugas pada shift tersebut. (Ref: SOP)
- Fungsi dan Tanggung Jawab
PTO LLU adalah ATC Supervisor yang memiliki kewenangan dan
tanggung jawab dalam melakukan pengawasan, pengarahan dan bantuan terhadap
shift / Controller yang bertugas serta mengambil keputusan untuk kelancaran shift
operasional. (Ref: SOP)
Radar Controller adalah Controller (Pemandu Lalu Lintas Udara) yang
bertanggung jawab melakukan Pelayanan Lalu Lintas Udara (Air Traffic Services)
dengan memberikan Radar Control Services di wilayah Palembang Terminal
Control Area yang menjadi tanggung jawabnya. (Ref: SOP)
Assistant Radar Controller adalah controller (Pemandu Lalu Lintas
Udara) yang bertanggung jawab membantu Radar Controller dalam melaksanakan
pelayanan Pemanduan Lalu Lintas Udara pada suatu posisi kerja atau workstation.
(Ref: SOP)
Aerodrome Controller adalah Pemandu Lalu Lintas Udara yang
bertanggung jawab memberikan pelayanan Pemandu Lalu Lintas Udara (Air
Traffic Services) terhadap Aerodrome Traffic di wilayah Bandar Udara Sultan
Mahmud Badaruddin II. (Ref: SOP)
Assistant Aerodrome Controller adalah Pemandu Lalu Lintas Udara yang
bertanggung jawab membantu tugas Aerodrome Controller dalam melaksanakan
26
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Pelayanan Lalu Lintas Udara di wilayah Bandar Udara

Sultan Mahmud

Badaruddin II. (Ref: SOP)


- Uraian Tugas
Radar Control bertugas
-

memberikan Air Traffic Services diwilayah udara pada sektor


yang menjadi tanggung jawabnya. (Ref: SOP)

menentukan vacant level dan cruising level bagi pesawat udara


yang berada/akan memasuki wilayah udara yang menjadi
tanggung jawabnya. (Ref: SOP)

melakukan koordinasi dengan ATS (Air Traffic Service) unit


yang

terkait

dengan

pesawat

udara

yang

dalam

pengendaliannya demi kelancaran tugasnya. (Ref: SOP)


-

melaporkan kepada ATC Supervisor (PTO) semua gangguan


operasional dan peralatan/fasilitas teknis yang terjadi selama
waktu bertugas. (Ref: SOP)

sesuai/berdasarkan position log yang telah ditetapkan oleh ATC


Radar Supervisor. (Ref: SOP)

menjamin standard separation dan prosedur yang telah


ditetapkan serta dapat mengantisipasi dan memprediksi
bilamana terjadi potensial konflik diwilayah yang menjadi
tanggung jawabnya. (Ref: SOP)

27
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

melakukan koordinasi dengan ATS (Air Traffic Service) Unit


yang

terkait

dengan

pesawat

udara

yang

dalam

pengendaliannya demi kelancaran tugasnya. (Ref: SOP)


Assistant Radar Controller bertugas
-

menerima estimate time over Transfer Control Point (TCP) dan


transfer of data suatu penerbangan dari unit Air Traffic Service
lain, serta mencatat data penerbangan tersebut pada Flight
Progress Strip (Strip marking). (Ref: SOP)

melakukan pendistribusian Flight Progress Strip (FPS) yang


sudah aktif kepada Radar Controller. ( Ref: SOP )

melakukan

penyampaian/pengiriman

estimate

time

over

Transfer Control Point (TCP) dan penyampaian/pengiriman


transfer of data suatu penerbangan kepada ATS (Air Traffic
Service) Unit lain yang terkait. (Ref: SOP)
-

mengkoordinasikan perubahan flight level, estimate over TCP,


rute deviasi dari suatu penerbangan dengan Radar Controller,
serta menyampaikan dan meneruskan perubahan-perubahan
tersebut kepada ATS (Air Traffic Service) Unit lain yang
terkait. ( Ref: SOP )

mengambil Flight Progress Strip yang sudah tidak diperlukan


lagi dari strip holder yang berada diposisi Radar Controller,
serta menyimpan Flight Progress Strip tersebut ditempat yang

28
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

sudah disediakan pada posisi kerja yang menjadi tanggung


jawabnya. ( Ref: SOP)
-

melakukan koordinasi dengan ATS (Air Traffic Service) Unit


lain yang terkait dalam rangka kelancaran tugasnya. (Ref: SOP)

wajib melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan


Unit kerjanya. ( Ref: SOP )

Aerodrome Controller bertugas


-

memberikan Air Traffic Service sesuai prosedur dan ketentuan


yang berlaku demi keamanan, kelancaran dan efisiensi serta
mencegah terjadinya tabrakan antara:

a. Pesawat udara yang terbang di wilayah tanggung jawabnya


b. Pesawat udara yang beroperasi di manoeuvring area
c. Pesawat udara yang mendarat dan pesawat udara yang tinggal
landas
d. Pesawat udara dan kendaraan yang beroperasi di manoeuvring
area
e. Pesawat udara di manoeuvring area dan obstruction yang ada
disekitarnya. (Ref : SOP)
-

memantau pergerakan lalu lintas pesawat udara dengan


peralatan yang tersedia dan data dari Flight Progress Strip.
(Ref: SOP)

29
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

meneliti AIP dan NOTAM yang menyangkut kondisi


fasilitas/peralatan, keadaan dan ketentuan yang masih berlaku
didalam/diluar Bandara SMB II Palembang. (Ref: SOP)

menjalin koordinasi dengan ATS (Air Traffic Service) Unit lain


yang terkait dengan kelancaran tugas Pemanduan Lalu Lintas
Udara. (Ref: SOP)

wajib

melaksanakan

atasannya.

tugas-tugas

yang

diberikan

oleh

(Ref: SOP)

Assistant Aerodrome Controller bertugas


-

melakukan koordinasi dengan Aerodrome Controller dan ATS


(Air Traffic Service) Unit lain yang terkait dengan Pemanduan
Lalu Lintas Udara dalam membantu Aerodrome Controller

menerima dan menyampaikan Flight Progress Strip yang aktif


ke Aerodrome Controller. (Ref: SOP)

memperbaharui masa berlakunya ATIS (Automatic Terminal


Information Service) setiap 30 menit sekali. (Ref: SOP)

menghidupkan/mematikan alat bantu pendaratan visual untuk


operasional penerbangan. (Ref: SOP)

mengumpulkan data-data penerbangan yang tersedia dari Flight


Progress Strip. (Ref: SOP)

30
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

wajib

melaksanakan

tugas-tugas

yang

diberikan

oleh

atasannya. (Ref: SOP)


- Transfer Of Position/Pergantian Shift
Controller Pengganti harus sudah siap diposisi yang akan digantikan 15
(lima belas) menit sebelum pergantian shift untuk mempelajari dan menganalisa
situasi traffic. (Ref: SOP)
Controller yang akan meninggalkan posisi menjelaskan situasi traffic dan
radio komunikasi yang berlangsung disektor tersebut, serta clearance terakhir
yang telah diberikan. (Ref: SOP)
Controller yang digantikan baru boleh meninggalkan posisinya 15 (lima
belas) menit setelah pergantian shift atau setelah situasi traffic dipahami oleh
petugas pengganti serta petugas pengganti sudah menerima tanggung jawab
(Accept Control). (Ref: SOP)
- Change Position/Pergantian Posisi.
Controller pengganti harus mempelajari dan menganalisa situasi traffic
diposisi yang akan digantikan 5 (lima) menit sebelum pergantian posisi. (Ref:
SOP)
Controller yang akan meninggalkan posisi harus menjelaskan situasi traffic
berupa banyaknya traffic yang sedang dalam pemanduannya, data, radio
communication pesawat disektor tersebut serta clearance terakhir yang diberikan
dan hal-hal lain yang perlu diketahui oleh controller pengganti. (Ref: SOP)

31
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Controller yang akan digantikan baru boleh meninggalkan posisinya 10


(sepuluh) menit setelah pergantian posisi atau setelah petugas pengganti
memahami situasi traffic serta menerima tanggung jawab (Accept Control). (Ref :
SOP)
- Controller Checklist.
Pemandu Lalu Lintas Udara sebelum melaksanakan tugasnya wajib :
a. Membaca Log book Shift sebelumnya
b. Meneliti NOTAM yang terkait dengan operasi penerbangan yang masih berlaku
c. Meneliti semua fasilitas/peralatan yang erat kaitannya dengan kelancaran tugas
penyelenggaraan Pemanduan Lalu Lintas Udara
d. Menyiapkan semua keperluan pencatatan data dukung berupa Position Log,
Flight Progress Strip, Log Book, Personal Log, Formulir/lembar kertas dan
perlengkapan lain-lain yang diperlukan dalam menunjang kelancaran tugas
e. Dalam hal akan dimulainya tugas pemanduan, maka petugas harus memahami
dan mengerti situasi lalu lintas udara yang ada. Sebaiknya Transfer Control Point
dilakukan dalam keadaan Clear Of Traffic. (Ref: SOP)
Selama melaksanakan tugas dalam setiap shift, Pemandu Lalu Lintas Udara
diwajibkan :
a. Tetap berpedoman pada prosedur akan ketentuan yang berlaku dan
tetap mengutamakan Safety
b. Mencatat semua hal yang penting, baik berupa keadaan lalu lintas
udara maupun kondisi fasilitas pendukung
c. Senantiasa melaksanakan koordinasi dengan unit intern/ekstern
yang terkait
32
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

d. Setiap permasalahan yang tidak dapat diatasi sendiri, atau memang


diluar kewenangannya hendaknya langsung dikonsultasikan/
disampaikan melalui hierarki kepada PTO (Supervisor)/Pimpinan.
(Ref : SOP)
Checklist sebelum pelaksanaan tugas operasi dimulai :
a. Memeriksa peralatan radio VHF 118,1 MHZ, peralatan sistem
koordinasi dengan unit APP, unit PKPPK,unit AMC dan unit lain
yang berhubungan langsung dengan tower
b. Memeriksa peralatan lighting system sekaligus mematikan Flood
Light (lampu apron) apabila sudah tidak diperlukan lagi.
c. Memeriksa dan menyalakan crash bell, beacon dan horn kalau ada
d. Mencocokan waktu (Time Check) dengan unit APP
e. Menyiapkan strip marking sesuai dengan schedule penerbangan
f. Mencatat weather report yang diterima dari unit meteorologi dan
selanjutnya merecordnya ke peralatan ATIS
g. Menyiapkan arrival dan departure sheet baik yang dicatat dalam
komputer
h. Memeriksa dan membaca log book (Ref: SOP)
Checklist sebelum pergantian shift :

Bagi personel yang akan diganti :

a. Membuat laporan pada buku laporan (Log Book)


b. Menerangkan dan menjelaskan kondisi traffic saat itu pada
personel yang akan menggantikan posisi tugasnya.

33
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

c. Menyampaikan informasi, berita-berita penting kepada personel


yang akan menggantikan posisi tugasnya termasuk kondisi
peralatan yang akan digunakan (Ref: SOP)

Bagi personel ATC yang akan menggantikan :

a. Memperhatikan penjelasan dan keterangan yang diberikan oleh


personel yang akan digantikan posisi tugasnya.
b. Memeriksa peralatan yang akan digunakan dalam berkerja
c. Memeriksa laporan pelaksanaan tugas personel yang akan
digantikan di buku laporan ( Log Book )

Checklist setelah pelaksanaan tugas operasi selesai :


a. Memeriksa dan mematikan peralatan yang sudah tidak digunakan
lagi misalnya : Lighting System Computer, alat komunikasi (HT),
dll.
b. Melakukan pemeriksaan dan pengecasan baterai alat komunikasi
(HT)

sebelum

dilakukan

pengecasan

(charger)

peralatan

komunikasi (HT) tersebut harus dimatikan (off)


c. Merapikan ruangan ADC tower
d. Membuat laporan pelaksanaan tugas pada buku laporan (Log
Book) (Ref: SOP)
- Koordinasi
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai Aerodrome Control, pihak
controller melakukan kooordinasi dengan beberapa unit.

34
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Koordinasi antara Mahmud Tower dengan Palembang Radar


a. Mahmud Tower harus meminta level kepada Palembang
Radar (APP) sebelum pesawat udara airborne
b. Mahmud

Tower

harus

meminta

clearance

kepada

Palembang Radar (APP) sebelum memberikan take off


clearance kepada pesawat udara yang akan take off
c. Mahmud Tower harus memberikan informasi kepada
Palembang Radar (APP) tentang Runway In Use
d. Mahmud

Tower

harus

meminta

clearance

kepada

Palembang Radar (APP) tentang pesawat yang akan


terbang disekitar aerodrome.
e. Mahmud Tower harus memberikan informasi kepada
Palembang Radar (APP) tentang transponder code yang
akan digunakan oleh pesawat yang non-scheduled
f. Mahmud

Tower

harus

meminta

clearance

kepada

Palembang Radar (APP) apabila pesawat udara yang akan


mendarat sudah terlihat oleh control tower dan dapat diatur
dengan aerodrome traffic maka traffic yang ada dalam
tanggung jawab Mahmud Tower
g. Mahmud

Tower

harus

meminta

clearance

kepada

Palembang Radar (APP) apabila pesawat yang akan


mendarat melakukan Missed Approcah (Ref: SOP)
Koordinasi antara Mahmud Tower dengan Brieffing Office

35
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

a. Mahmud Tower harus memberikan informasi kepada BO


apabila terjadi keadaan darurat terhadap pesawat yang
INCERFA, ALERFA, DISTRESFA
b. Mahmud Tower harus memberikan informasi kepada BO
apabila ada fasilitas Keselamatan Penerbangan mendapat
gangguan atau rusak untuk pembuatan NOTAM (Ref: SOP)

Koordinasi

antara

Mahmud

Tower

dengan

Apron

Movement Control (AMC)


a. Mahmud Tower berkoordinasi dengan AMC menggunakan
Handy Talky (HT) dan telepon PABX
b. Panggilan dalam komunikasi, untuk
Tower . : W (Whiskey) --- OW
AMC ... : D (Delta) -------- OD
Bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi adalah Bahasa
Inggris Penerbangan (English Aviation).
c. Mahmud Tower harus menyampaikan estimate time arrival
(ETA)

kepada

AMC

secepatnya

setelah

mendapat

pemberitahuan estimate dari APP


d. Mahmud Tower akan menginformasikan kepada AMC
apabila ada perubahan urutan pendaratan

36
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

e. Mahmud Tower harus memandu pesawat udara ke tempat


parkir sesuai dengan alokasi yang telah ditentukan oleh
petugas AMC (Ref: SOP)

Koordinasi antara Mahmud Tower dengan PKP-PK


a. Mahmud Tower harus memberikan informasi kepada PKPPK apabila ada pesawat udara yang menuju ke bandara
Sultan Mahmud Badaruddin II dalam keadaan emergency
dan membutuhkan pertolongan
b. Mahmud Tower harus memberikan informasi kepada PKPPK jenis emergency yang dialami oleh pesawat udara, tipe
pesawat, POB
c. Mahmud Tower harus memberikan informasi kepada PKPPK tentang runway yang akan digunakan pesawat udara
yang mengalami emergency tersebut (Ref: SOP)

2.3 Prosedur Pemberian Pelayanan Lalu Lintas Udara


2.3.1 Prosedur Keberangkatan
Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller dapat langsung
memberikan ATC Clearance sesuai format yang terdapat di Flight Plan kepada
pesawat udara yang akan berangkat dengan mengacu pada LOA (Letter Of
Agreement) dengan Unit APP, kecuali terdapat hal-hal tertentu yang menentukan
kesepakatan dari unit-unit terkait. (Ref: SOP)
Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller sesegera mungkin
menyampaikan ATC Clearance kepada pesawat udara yang akan berangkat sesuai
37
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

dengan flight plan, kecuali terdapat perbedaan yang signifikan (contoh: perbedaan
Type of Aircraft) pada data Flight Plan di Flight Progress Strip. (Ref: SOP)
Apabila terdapat perbedaan yang significant pada data Flight Plan di Flight
Progress Strip, maka Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller segera
melakukan konfirmasi perbedaan tersebut ke Unit Briefing Office. (Ref: SOP)
Apabila diperkirakan terjadi penundaan penerbangan yang mengakibatkan
ATC Clearance

yang telah diberikan kadaluarsa, maka pesawat udara harus

mendapatkan ATC Clearance yang baru. (Ref: SOP)


Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller hendaknya
memberikan push back/start engine approval kepada pesawat udara yang telah
siap dengan memperhatikan kondisi traffic di sekitar pesawat udara tersebut
(sesuai dengan SK).

Phraseology :
A/C

: (aircraft callsign) [aircraft positio]) request start up dan push back

TWR

: (aircraft callsign) start up and push back approved face to

[gate.taxiway]
Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller harus memberikan taxi
clearance secara singkat, informatif, lengkap dan jelas sehingga penerbang dapat
mengikuti taxi route tersebut dengan benar. (Ref: SOP)

38
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller harus senantiasa


mendapatkan release dari Palembang Radar sebelum pesawat udara memasuki
runway untuk take off. (Ref : SOP)
Pesawat udara yang hendak take off diberikan instruksi dengan mengikuti
SID (Standard Instument Departure), kecuali terdapat Departure Clearance
tertentu dari Palembang Radar. (Ref: SOP)
Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller menginstruksikan
kepada awak pesawat udara agar segera berkomunikasi dengan Palembang Radar
setelah pesawat mengudara dan dalam kondisi clear dengan aerodrome traffic.
(Ref: SOP)
Phraseology :
TWR

: (aircraft callsign) contact (unit call sign) ( frequency) [now]


Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller wajib memberitahu

Palembang Radar apabila terdapat pesawat udara yang telah memperoleh release,
namun mengalami masalah/gangguan. (Ref: SOP)
Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller wajib memberitahu
Unit Briefing Office apabila terdapat pesawat udara yang kembali ke Apron
(RTA) atau RTB dan berdampak pada ETD pada FPL. (Ref: SOP)
Palembang

Radar

Controller

dapat

melakukan

perubahan

clearance/instruction, apabila terdapat potensi konflik traffic atau demi


tercapainya kecepatan serta menjaga kelancaran arus lalu lintas udara. (Ref: SOP)

39
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Palembang Radar Controller wajib menjaga separasi minima antar pesawat


udara sesuai dengan standard separation minima sesuai dengan Annex 11, AOI.
(Ref: SOP)
Palembang Radar Controller harus selalu menginformasikan data pesawat
udara sebelum diadakan transfer of communication/control ke Unit Jakarta
ACC/ATS unit terkait. (Ref: SOP)
A. Start-Up Procedure

Kewenangan Petugas Tower memberikan izin menghidupkan


mesin kepada pesawat udara yang meminta di apron, hendaknya
hanya sebatas idle thrust dan dengan memperhatikan kondisi
traffic yang berada di sekitarnya

Untuk pesawat Run Up engine/test engine pesawat akan diarahkan


penempatannya ke paralel taxiway, kecuali ada izin khusus dari
Kacab/Kadiv Operasi/ATC on duty

Kewenangan Petugas Tower memberikan izin menghidupkan


mesin kepada pesawat udara yang meminta di apron, hendaknya
hanya sebatas idle thrust dan dengan memperhatikan kondisi
traffic yang berada di sekitarnya

Untuk pesawat Run Up engine/test engine pesawat akan diarahkan


penempatannya ke paralel taxiway, kecuali ada izin khusus dari
Kacab/Kadiv Operasi/ATC on duty

40
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Start engine dilakukan oleh setiap pesawat terbang sebelum taxi


maupun sebelum take off dengan terlebih dulu koordinasi dengan
tower

Apabila ada pesawat udara yang meminta izin untuk start engine
pada bay yang ditempati (start at present position) maka Mahmud
Tower dapat memberi izin

B. Pushback Clearence

Semua pesawat di Apron bila akan taxi harus mundur (push back)

Untuk jenis pesawat yang diperkirakan peralatan push back tidak


ada, diparkir pada parking stand 1 (satu) atau 8 (delapan) guna
menghindari jet blast pada saat akan taxi out

Pergerakan Push Back pesawat harus mendapat izin dari Tower,


guna menentukan heading pesawat

Semua pesawat udara yang parkir di apron North sebelum taxi


harus pushback terlebih dahulu

Apabila ada 2 (dua) pesawat udara akan start engine dan ready
pushback dalam waktu bersamaan, maka boleh diizinkan pushback
dengan syarat kedua pesawat udara tersebut paling tidak 3 bay, dan
terpisah 3 bay setelah pushback dilakukan

Apabila runway yang digunakan adalah runway 11, maka pesawat


yang parkir di apron north izin untuk pushback diberikan heading
West dan apabila menggunakan runway 29 maka pesawat udara
diberi izin heading to East
41

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Lama pesawat melakukan start up dan pushback sekitar 4 5 menit


sampai pesawat udara tersebut taxi

Pushback dilakukan karena posisi parkir pesawat udara yang nose


in maka setiap pesawat udara yang akan taxi harus melakukan
pushback terlebih dahulu

C. Taxi Procedure
Runway In Use 29

Bagi pesawat udara yang berada di apron North taxi menuju


runway 29 melalui taxiway Echo dan Foxtrot membutuhkan waktu
sekitar kurang lebih 3 menit untuk pesawat jenis B737 series 200

Bagi pesawat udara yang berada di apron South maka taxi menuju
runway

29

melalui

taxiway

Golf

lalu

enter

backtrack

membutuhkan waktu kurang lebih 4 menit

Runway In Use 11

Bagi pesawat udara di apron North dapat melalui taxiway Alpha,


Bravo, Charlie dan Delta

Bagi pesawat udara yang berada di apron South dapat melalui


taxiway Golf kemudian enter backtrack yang membutuhkan waktu
kurang lebih 4 menit untuk pesawat sejenis N22

- Traffic Pattern untuk Fixed Wing


Traffic Pattern yang digunakan sesuai dengan kondisi traffic pada saat itu,
kondisi cuaca atau faktor lain yang biasa mempengaruhi keselamatan dan

42
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

kelancaran penerbangan. Jika kondisi traffic pada saat itu memungkinkan maka
normal circuit dan right hand circuit bisa digunakan.
- Traffic Pattern untuk Rotary Wing
Spot yang digunakan untuk pesawat rotary wing adalah beginning runway
35, landing atau take off direction disesuaikan dengan wind condition dengan
menggunakan 11/29 tetapi jika kondisi traffic tidak memungkinkan maka take
off/landing direction 17/35 bisa digunakan.
- Taxi Pattern
Untuk pesawat yang sedang melakukan taxi baik yang akan berangkat
maupun setelah mendarat, diatur sedemikian rupa dengan memperhatikan tingkat
efisiensi, keselamatan dan kelancaran traffic.
Untuk pesawat yang melakukan taxi, mengikuti taxi guidance line yang
telah

tersedia

dan

mengikuti

instruksi

yang

diberikan

oleh

master/marshalling.
D. Pemberian Clearance
- Dalam pemberian ATC Clearance terdapat unsur-unsur :
a. Aircraft Identification (ACID)
b.

Clearance Limit

c.

Route of Flight

d.

Level

e.

Other Instruction
43

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

parking

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

- ATC Clearance diberikan oleh Mahmud Tower kepada setiap pesawat


udara yang beroperasi di dalam wilayah yang menjadi tanggung
jawabnya.
- Bilamana ATC Clearance tidak di read back oleh pilot atau bilamana read
back pilot tidak sesuai dengan ATC Clearance yang telah diberikan maka
Mahmud Tower harus mengulang kembali hingga read back dari pilot
benar.
2.3.2 Prosedur Kedatangan.
Palembang Radar Controller wajib memberikan Standart Arrival Procedure
(STAR), assign altitude, QNH dan runway in use bagi pesawat udara yang akan
mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. (Ref: SOP)
Palembang Radar Controller menentukan jenis IAP (Instrument Approach
Procedure) yang tepat dan sesuai untuk digunakan oleh pesawat udara dalam
melakukan pendekatan (Aproach). (Ref: SOP)
Palembang Radar Controller dalam memberikan clearance untuk
penerbangan IFR yang diminta melakukan visual approach hendaknya atas
persetujuan penerbangan dengan mempertimbangkan kondisi traffic dan cuaca
(Ref: SOP)
Palembang Radar Controller harus memberitahukan urutan pesawat udara
yang akan medarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II pada Aerodrome
Control Tower. (Ref: SOP)

44
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Palembang Radar Controller harus men-transfer pesawat udara yang akan


mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II pada Aerodrome Control
Tower saat :

5 minute jika cuaca VMC/penerbang melaporkan melihat runway.

Established ILS.

Leaving 3000 feet apabila menggunakan VOR Aproach.

Leaving 2500 feet apabila menggunakan NDB Aproach.

Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Control harus senantiasa


memberitahukan kondisi arah angin dan kecepatan serta runway designator
kepada pesawat udara sebelum memberikan landing clearance. (Ref: SOP)
Phraseology:

TWR : (aircraft callsign ) Wind [ derection/speed ] runway


(number) cleared to land

Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller menyampaikan


kepada Palembang Radar Controller dan penerbang mengenai terjadinya
perubahan cuaca secara nyata berdasarkan laporan cuaca di Bandara Sultan
Mahmud Badaruddin II. (Ref: SOP)
Landing clearance boleh disampaikan kepada penerbang pada posisi :
Penerbang melaporkan establish ILS di final course atau
Penerbang melaporkan melihat runway
Penerbang melaporkan passing Outer Marker

45
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Dengan keyakinan bahwa runway benar-benar telah dinyatakan clear untuk


pendaratan pesawat udara. (Ref: SOP)
Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller dalam memberikan
taxi clearance kepada pesawat udara yang mendarat harus melalui exit taxiway
yang telah ditentukan serta memantau pergerakan pesawat udara sesuai dengan
clearance yang diberikan. (Ref : SOP)
Sultan

Mahmud

Badaruddin

II

Aerodrome

Controller

harus

memberitahukan unit Apron Movement Contror (A.M.C) bila diketahui parking


stand yang akan dialokasikan kepada pesawat udara yang datang ternyata masih
ditempati oleh pesawat lainnya. (Ref: SOP)
Sultan Mahmud Badaruddin II Aerodrome Controller harus senantiasa
melaksanakan koordinasi dengan unit Apron Movement Control (A.M.C) untuk
penarikan, pemindahan dan penempatan pesawat udara dari / ke Apron. (Ref:
SOP)

Arrival Traffic Handling

Pesawat udara yang datang memiliki prioritas yang lebih tinggi dari pada
pesawat udara yang take off tergantung pada posisi pesawat udara yang
sedang melakukan pendekatan (approach)

Sebuah pesawat udara dapat diberikan clearance untuk mendarat bila ada
jaminan dimana separasi pesawat udara yang datang dan pesawat udara
46

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

yang berangkat dapat diterapkan atau pesawat udara yang telah mendarat
terlebih dahulu telah keluar dari landasan (Clear of Runway)

Mahmud Tower dapat memberikan clearance untuk landing pada pesawat


udara yang sedang terbang apabila :
pilot pesawat udara melaporkan bahwa ia berada pada posisi final
di ILS Approach
pilot pesawat udara telah melaporkan bahwa runway insight

Setelah memberikan clearance untuk mendarat, Mahmud Tower harus


memberikan informasi arah angin dan kecepatannya serta tekanan udara
(QNH).

Setelah memberikan landing time pada pesawat udara, Mahmud Tower


memandu pesawat udara menuju parking stand sesuai dengan alokasi dari
AMC (Apron Movement Control).

Info tentang perubahan yang significant pada kondisi cuaca di final area
harus disampaikan pada pesawat udara yang sedang melakukan
pendekatan (Approach).

Tanggung jawab pengendalian pesawat udara yang datang harus


diserahkan oleh Palembang Radar pada Mahmud Tower pada saat di
Vicinity of Aerodrome :
Ada keyakinan bahwa Approcah dan landing dapat dilakukan
secara visual
Pesawat udara telah mencapai kondisi cuaca yang tidak terganggu
oleh awan

Apabila pesawat udara yang mendarat dibelakang heavy aircraft maka :


47

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Medium Aircraft harus diberi separasi minimal 2 menit


Light Aircraft harus diberi separasi minimal 3 menit

Pesawat udara yang mendarat dengan menggunakan runway yang


berlawanan arah maka separasi harus diberikan minimal 2 menit

TOR (Transfer Of Responsibility)


TOR untuk pesawat departure pada saat :
Kondisi cuaca VMC :
-

Sebelum pesawat udara meninggalkan Vicinity of Aerodrome

Sebelum pesawat udara memasuki awan IMC

Ketika pesawat udara sudah berada pada point atau level yang
telah ditentukan (LOA)

Kondisi cuaca IMC :


-

Segera setelah pesawat udara airborne

Ketika pesawat udara sudah berada pada point atau level yang
telah ditentukan ( LOA )

2.3.3 Pelayanan Khusus Untuk VIP (Very Important Person)


Yang dimaksudkan dengan VIP flight adalah suatu penerbangan yang pada
slight plan-nya mencantumkan keterangan ada VIP didalam pesawat udaranya
(Kepala Negara/Kepala Pemerintahan). (Ref: SOP)
Untuk

kepentingan

keamanan

dan

sepanjang

tidak

mengurangi

keselamatan penerbangan, petugas Pemandu Lalu Lintas Udara pada Dinas

48
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Pelayanan Palembang APP/Sultan Mahmud Badaruddin II ADC berkewajiban


memberikan pelayanan khusus terhadap penerbangan VIP. (Ref: SOP)
Bilamana diketahui terdapat penerbangan VIP, Petugas Pemandu Lalu
Lintas Udara pada Dinas Pelayanan Palembang APP/Sultan Mahmud Badaruddin
II ADC wajib :
a.

Memberitahu Pengawas Petugas Operasional (PTO)/Supervisor


untuk diteruskan ke atasan langsung

b. Memberikan prioritas utama kepada penerbangan tersebut, kecuali


pada saat yang bersamaan ada pesawat lain yang mengalami
keadaan darurat/emergency
c.

Bilamana ada berita/pesan yang akan disampaikan oleh VIP dari


Negara

sahabat

yang

terbilang

lintas/overflying

diwilayah

Palembang Terminal Control Area segera memberitahu Pengawas


Tugas Operasional (PTO)/Supervisor untuk segera ditindak lanjuti.
(Ref: SOP)

2.3.4 Kondisi Bandar Udara (Aerodrome Condition)


Awak pesawat harus senantiasa mendapat informasi mengenai kondisi
Bandara sebagai berikut :
a. Adanya pekerjaan konstruksi atau perawatan yang dekat pada runway,
landing area atau taxiway
b. Adanya perubahan yang significant pada permukaan runway, landing
area atau taxiway yang dapat mengganggu penerbangan
49
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

c. Genangan air atau permukaan yang licin pada runway, landing area
atau taxiway
d. Rintangan (obstruction) pada atau disekitar runway, landing area atau
taxiway
e. Kerusakan atau gangguan operasional dari sebagian lampu alat bantu
pendaratan penerbangan
f. Kondisi penting yang mendukung keselamatan penerbangan lainnya
yang perlu disampaikan ( Ref : SOP)
Contoh :

CONSTRUCTION WORK WEST SIDE OF TAXIWAY


WHISKEY

THRESHOLD LIGHT RUNWAY ZERO NINE OUT OF


SERVICE

Controller tidak diperkenankan menentukan dan memperkirakan suatu


breaking down pada penerbangan. Controller hendaknya memberikan saran
kepada awak pesawat udara mengenai adanya laporan breaking down yang
diterima dari awak pesawat lainnya dan waktu kejadian berlangsung. (Ref: SOP)
Bilamana controller mempunyai keyakinan bahwa manajemen diperkirakan
bahwa manajemen diperkirakan tidak mengetahui adanya kondisi di bandara yang
mengganggu keselamatan penerbangan hal tersebut hendaknya secara langsung
dapat disampaikan kepada atasan terkait. (Ref: SOP)
2.3.5 Kondisi Cuaca (Weather Condition)

50
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Terdapatnya perbedaan yang mencolok pada laporan cuaca yang


disampaikan oleh Unit Meteorologi dan pengamatan Controller atau laporan awak
pesawat udara, sehingga cuaca yang terdapat saat itu harus disampaikan kepada
awak pesawat udara yang beroperasi dan menyampaikan kepada Unit Meteorologi
serta Controller pada Unit Arrival. Dengan kalimat yang diawali kata-kata
TOWER OBSERVES atau PILOT OBSERVES. (Ref: SOP)
Contoh : TOWER OBSERVES RAIN OVER THE FIELD VISIBILITY
REDUCE TO ONE KILOMETER.
2.3.6 Aktivitas Burung (Bird Activity)
Apabila Aerodrome Controller melihat adanya burung terbang di sekitar
Bandara terutama berada pada daerah pergerakan pesawat yang akan dilaluinya
dan diketahui dapat membahayakan terhadap operasional penerbangan, Controller
harus memberikan informasi secara langsung kepada awak pesawat udara
tersebut, disamping melalui ATIS bila ada. (Ref: SOP)
Semua penerbangan yang terbang di daerah yang terdapat burung disekitar
bandara harus diberikan informasi yang berkaitan dengan adanya aktivitas burung
dengan mengacu pada pengamatan controller atau laporan pilot dengan format
berita sebagai berikut :
a. Ukuran besaran burung, bila diketahui
b. Lokasi
c. Arah burung terbang
d. Ketinggian bila diketahui
Phraseology :
51
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

FLOCK OF [size, if know] BIRD [species, if known] BOUND OVER


[location], LAST REPORT AT [altitude, determined from pilot
report]/ALTITUDE UNKOWN

FLOCK OF [size, if known] BIRDS, / [species, if known], [number]


OCLOCK [number] MILES, [derection], BOUND, LAST REPORT AT
[altitude, determined from plot report] / ALTITUDE UNKOWN

NOUMEROUS FLOCKs OF [size, if known] BIRD / [species, if known],


VICINITY OF [location], [altitude information], (Ref: SOP)

2.3.7 Lampu Bantuan Pendaratan (Aerodrome Lighting)


Aerodrome beacon dinyalakan secara terus menerus pada malam hari dan
saat cuaca di bawah standard minima untuk VFR. (Ref: SOP)
Approcah Light harus dinyalakan kapan saja bila diminta oleh pesawat,
bila diperlukan untuk keselamatan lalu lintas udara, pada malam hari Approach
Light dinyatakan paling lambat 5 menit sebelum perkiraan waktu pesawat tiba
(ETA) dan akan tetap dinyalakan selama pesawat melakukan Approach hingga
pesawat mendarat atau telah diminta oleh pesawat untuk dimatikan. (Ref: SOP)
Runway Edge Light harus dinyalakan kapan saja jika diminta oleh
pesawat atau bila diperlukan sebagai saran keselamatan lalu lintas udara.
Pada malam hari Runway Light dinyalakan pada saat-saat sebagai berikut :
a. Kedatangan : Runway Light pada runway yang digunakan untuk
pendaratan harus dinyalakan selambat-lambatnya 5 menit sebelum waktu
diperkirakan pesawat tiba (ETA) dan akan tetap dinyalakan sampai
pesawat mendarat dan atau keluar meninggalkan landasan
52
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

b. Keberangkatan : Runway Light yang berada pada landasan yang dipakai


untuk keberangkatan pesawat harus dinyalakan sebelum pesawat yang
akan berangkat memasuki landasan dan akan tetap dihidupkan pada waktu
tersebut sesuai permintaaan. (Ref: SOP)
Lampu-lampu Taxiway harus dinyalakan dengan tujuan agar penunjukan
taxi path di permukaan taxiway secara online akan terlihat oleh pesawat yang
sedang taxi. Lampu-lampu taxiway atau bagiannya harus dimatikan jika tidak
dipergunakan lagi oleh pesawat yang taxi. (Ref: SOP)
2.3.8 Pengaturan Intensitas (Intensity Setting)
Kecuali terdapat permintaan dari awak pesawat udara, Aerodrome Light
dengan intensitas yang berubah-ubah dapat dilakukan perubahan intensitas yang
sesuai dengan kebutuhan awak pesawat udara saat pendaratan berlangsung atau
keberangkatan dan hal tersebut harus dipertimbangkan dengan visibility serta
dengan mengacu ketentuan sebagai berikut :

High intensity Approach, Runway Edge, Runway centreline, Lighting


System :

Night

Visibility Condition

Intensity Setting

More Than 3 Miles

1/VL

1-3 Miles

2/I
53

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Day

Less Than 1 Mile (RVR 50)

3/M-4H

Less than Mile (RVR 26)

4/H

Aircraft Request

5/VH

More than 2 Mile

3/M

1-2 Miles

4/H

Less than 1 Mile (RVR 50)

5/VH

Tabel 2.3.8.1 High intensity Approach, Runway Edge, Runway centreline,


Lighting System
Note : Where RVR is provide, the runway edga lights intensity setting switch must
not be left at setting 4 or 5 when lights are off, since these settings will result in
incorrect RVR reading. (Ref: SOP)
Catatan : 1=Very Low, 2= Low, 3=Medium, 4=High, 5=Very High.

2.3.9 Contigency dan Emergency Procedure


A. Kegagalan Pada Peralatan Radar/Radio
Apabila terjadi kegagalan/kerusakan fasilitas radio komunikasi, sehingga
alat pemancar/penerima radio komunikasi tidak berfungsi, maka langkah-langkah
yang perlu diperlukan adalah sebagai berikut :
Dalam pelayanan non-radar, verifikasi dapat dilakukan dengan meminta
pesawat udara untuk menjawab atau melakukan sesuatu misal :
Phrase:

54
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Dalam TMA/Control Zone: This is Palembang Radar one


two three four how do you read?

Disekitar Bandara : If you read me acknowledge by


rocking wings atau (jika posisi pesawat di base leg/final)
acknowledge by flashing landing light (Ref: SOP)

Apabila dipastikan pesawat udara mengalami kegagalan komunikasi


dengan ATS unit, ATS unit terkait segera memberitahukan ATS unit yang akan
dilewati termasuk ATS unit di bandara tujuan. (Ref: SOP)
Apabila upaya yang telah dilakukan tidak berhasil, ulangi upaya tersebut
dengan menggunakan frekuensi radio komunikasi cadangan lain yang tersedia.
(Ref: SOP)
Apabila peralatan radio yang digunakan ATS unit mengalami gangguan,
pemandu lalu lintas udara harus :

Mencoba

berhubungan

komunikasi

radio

dengan

menggunakan frekuensi emergensi 121,5 MHZ

Segera

menginformasikan

kepada

semua

working

position atau ATS unit tentang gangguan fasilitas radio


komunikasi.

Meneliti dengan sungguh-sungguh keadaan/kondisi lalu


lintas udara pada posisi kerjanya.

Bila memungkinkan meminta bantuan pada posisi


kerja/ATS unit lain yang diharapkan dapat melakukan
hubungan radio. (Ref: SOP)
55

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

B. Emergency
Keadaan yang dikategorikan sebagai emergency dapat ditentukan dalam
beberapa phase, yaitu :
a)

Uncertanty phase atau INCERFA

Bila dalam waktu 30 menit atau dari sejak pertama kali


usaha contact dilakukan, tidak ada berita tentang pesawat
udara.

Bila dalam waktu 30 menit dari Estimate Time Arrival


(ETA) belum/gagal mendarat

b)

Alert phase atau ALERFA

Usaha-usaha untuk contack dengan pesawat udara


mencari informasi dari sumber lain tidak berhasil

Telah diterima informasi yang menyatakan bahwa


pesawat udara telah mengalami kerusakan, namun tidak
sampai memerlukan pendaratan darurat.

Diketahui/diyakini bahwa pesawat udara mengalami


ganguan yang membahayakn operasi penerbangan.

Pesawat udara telah diberikan landing clearance, namun


belum/gagal mendarat dalam waktu 5 menit dari estimate
time of landing dan tidak ada lagi hubungan radio dengan
pesawat udara tersebut.

c) Distress phase atau DESTRESFA

Usaha-usaha lebih lanjut untuk contact dengan pesawat


udar dan mencaru informasi dari sumber lain tidak
56

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

berhasil serta telah sampai pada perkiraan bahwa


kemungkinan pesawat udara dalam keadaan bahaya
(distress)

Diperkirakan bahan bakar pesawat udara telah habis atau


tidak cukup bagi pesawat udara tersebut untuk mencapai
tujuan/tempat pendaratan alternative.

Telah diterima informasi yang menyatakan bahwa


pesawat udara telah mengalami kerusakan dan akan
melakukan pendaratan darurat.

Telah diterima informasi atau telah mendapat kepastian


bahwa pesawat udara akan/telah mengadakan pendaratan
darurat kecuali apabila ada kepastian bahwa pesawat
udara beserta isinya tidak terancam bahaya dan tidak
memerlukan pertolongan segera (Ref: SOP)

- Contoh berita emergency (Emergency Messege) :


Uncertainty phase atau INCERFA
a) Headline line
b) Address line
c) Origin line
d) Contoh text :
(ALR-INCERFA/WIIIYVYX/OVERDUE

57
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

-GIA980/A2363-IN
-B773/H-SDRWXY/C
-WIII0100 VCCC0206 VOMF0400 OOMM673
-N0510F420 G462 DCT
-OEJN0957 OETF OEMA
-REG/PKGPE SEL/HMFG OPR/GARUDA INDONESIA
-RMK/NO POSITION REPORT SINCE PAGAI AT 0211
-FUEL/1200 POB/321 RDO/121.5

330 JAKET LIGHT

DINGHIES ORANGE)
e) Ending line
Satu pesawat udara dapat diduga atau dianggap mengalami emergency
apabila

Tidak ada hubungan radio komunikasi pada saat seharusnya


hubungan komunikasi radio terjadi

Hubungan komunikasi terputus

Ada laporan penerbangan bahwa terjadi mal-fungsi atas instrument


di pesawat udara

Ada ancaman/tindakan penguasaan pesawat udara secara melawan


hukum (Unlawful Interference)

Ada isyarat yang terpantau melalui radar monitor

Ada keterlambatan tiba di satu bandara tujuan tanpa ada berita


58

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Adanya kode berita penerbangan atau komunikasi radio yang diawali


dengan kata-kata :

MAY DAY, MAY DAY, MAY DAY, untuk distress communication

PAN PAN, PAN PAN, PAN PAN MEDICAL untuk urgency


communication
Situasi diatas dapat diketahui melalui radar monitor dengan kode
isyarat :

SSR transponder code 7700 :Emergency

SSR transponder code 7600 :Communication Failure

SSR transponder code 7500 : Unlawful Interference/Hijack

Pesawat udara dapat dianggap mengalami situasi emergency bilamana


adanya ancaman/tindakan penguasaan pesawat udara secara melawan hukum
(Unlawful Interference) atau patut diduga adanya indikasi ancaman/tindakan
penguasaan melawan hukum. (Ref: SOP)
Pesawat udara yang sedang mengalami situasi emergency atau patut diduga
sedang mengalami situasi emergency harus diberikan prioritas utama (priority).
(Ref: SOP)
Dalam menghadapi situasi emergency Palembang APP / Sultan Mahmud
Badaruddin II ADC dan Palembang Communication Centre harus melakukan
koordinasi dengan unit-unit terkait, serta harus mengerahkan segenap kemampuan
terbaiknya guna menghasilkan pelayanan yang prima serta melaporkan kejadian
tersebut pada kesempatan pertama kepada atasan langsung. (Ref: SOP)

59
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Jika

diketahui

suatu

pesawat

udara

sedang

mengalami

situasi

Communication Failure agar Pengawas Tugas Operasional segera memberi tahu


adjacent ATS unit yang akan dilewati Pesawat udara dimaksud dan memberi
prioritas agar pesawat udara tersebut dapat tiba tepat waktu pada posisi yang telah
ditentukan sesuai rencana penerbangannya (Flight Plan Estimate). (Ref: SOP)
Bilamana

diterima

laporan

dari

penerbangan

yang

telah

menerima/menangkap adanya sinyal ELBA (Emergency Locator Beacon)


dipesawatnya, setiap pelaksana Pemandu Lalu Lintas Udara wajib mencatat kapan
dan pada posisi mana signal tersebut diterima serta melaporkan kejadian tersebut
kepada Pengawas Tugas Operasional pada kesempatan pertama. (Ref: SOP)
Bilamana penerbang pesawat udara menyatakan dalam keadaan emergency,
petugas Palembang APP/Sultan Mahmud Badaruddin II ADC dan Palembang
Communication Centre hendakanya mengambil tindakan yang diperlukan dengan
memastikan :

Tipe pesawat udara dan Identifikasinya

Type of emergency

Posisi dan ketinggian pesawat udara

Jenis bantuan apa yang sesuai untuk diberikan

Mendapatkan bantuan dari ATS unit lain yang mungkin dapat


membantu

terhadap pesawat udara yang mengalami emergency

60
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Memberikan semua informasi yang diminta crew pesawat udara,


misalnya : informasi cuaca, minimum safe altitude, bandara untuk
mendarat yang sesui dengan jenis pesawat

Dapatkan dari operator atau crew mengenai jumlah penumpang, sisa


bahan bakar dan lain-lain. (Ref: SOP)

C. Ancaman Bom
Setiap ancaman bom yang ditujukan kepada pesawat udara yang beroperasi
di wilayah Palembang Sector, Palembang Terminal Control Area dan wilayah
Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II harus ditanggapi dengan serius, tenang,
wajar dan jangan panik, serta :

Mengikuti

setiap

perkembangan

yang

berhubungan

dengan

keselamatan penerbangan, dan informasikan pada ATS unit terdekat


yang berhubungan dengan penerbangan selanjutnya

Memantau ATS unit lain yang tersedia, dan koordinasikan dengan


ATS unit lain yang berdekatan untuk melakukan transfer of control
tanpa harus mendapat jawaban radio komunikasi dari penerbang
kecuali komunikasi radio dengan pesawat udara dalam keadaan
normal

Memberitahu operator penerbangan atau perwakilan perusahaan


penerbangan.

Memberitahu RCC yang berhubungan dengan alerting service

Jangan memberikan saran kepada penerbang pesawat udara yang


terancam bom bekaitan dengan tindakan yang di ambil oleh
penerbang berkenaan dengan bahan peledak. (Ref: SOP)
61

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Pesawat udara yang diketahui dalam ancaman bom, apabila sudah


mendarat diparkir pada tempat terisolir yang telah ditentukan. (Ref: SOP)
Apabila ada penelpon yang mengatakan adanya bom dalam pesawat udara,
usahakan untuk memancing si penelpon untuk berbicara dalam waktu yang lebih
panjang (lama) dengan berbagai pertanyaan untuk mencoba mengenali suara si
penelpon tersebut. (Ref: SOP)
Beritahu penerbang pesawat udara yang mendapat ancaman bom melalui
komunikasi radio. (Ref: SOP)
Bila tidak dapat berkomunikasi langsung, lakukan dengan bebagai cara
melalui ATS unit lain. (Ref: SOP)
Ingat dan catat dengan teliti pesan-pesan si penelpon dan perhatikan suara
dan suasana sekeliling, dan kalau bisa alihkan penelpon pada saluran yang
mempunyai fasilitas rekaman. (Ref: SOP)
Waspada terhadap barang/bungkusan yang mencurigakan dan jangan cobacoba untuk menyentuh/memindahkan serta tidak menerima titipan sesuatu
barang/bungkusan dari orang yang tidak dikenal dan mencurigakan. (Ref: SOP)
Melapor kepada Pengawas Tugas Operasional on Duty dan Kepala Divisi
Pelayanan Operasional Lalu Lintas Udara atau Kepala Cabang. (Ref: SOP)
Jika ancaman bom terhadap pesawat udara yang berada didarat dialokasi
atau Bandar Udara lain.
Beritahukan PTO dan atasan langsung

62
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Jika ancaman bom ditujukan kepada pesawat udara yang sedang


dalam penerbangan.

Beritahu Controller/Officer yang bertanggung jawab terhadap


wilayah atau daerah dimana pesawat udara tersebut berada.

Informasikan kepada operator penerbangannya


Informasikan kepada PTO/atasan langsung
Jika diperluakan dapat mengosongkan frekuensi yang digunakan
pesawat udara tersebut.

Jika pesawat udara tersebut akan mendarat di Bandara Sultan


Mahmud Badaruddin II ikuti prosedur sebagaimana tertera dalam
Airport Emergency Plan. (Ref: SOP)

Tugas dan Tanggung Jawab Pengawas Teknis Operasional LLU.


Melaporkan ke Kepala Cabang
Informasikan kesektor atau ATS unit yang akan dilalui pesawat
udara tersebut
Catat jam kejadian dan urutan kronologi kejadian serta tindakan
apa yang telah dilakukan. (Ref: SOP)

D. Pembajakan Pesawat Udara (Unlawful Interference)


Bila terjadi pembajakan pesawat udara segera memberitahukan Pengawas
Tugas

Operasional

atau

atasan

langsung

dengan

memperhatikan

mengantisipasi terhadap keperluan pesawat udara yang dibajak. (Ref: SOP)

63
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

dan

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Bila pesawat udara yang dibajak akan mendarat di Bandara Sultan


Mahmud Badaruddin II, laksanakan procedure sesuai dengan ketentuan Airport
Emergency Plan (AEP), (Ref: SOP)
Hal-hal penting yang harus diketahui jika terpaksa harus berkomunikasi
dengan sipembajak :

Buatlah kesan bahwa anda tidak mempunyai kewenangan lain


kecuali hanya membantu kelancaran operasi penerbangan.

Jangan mendiskusikan hal lain kecuali masalah operasional


penerbangan.

Tanyakan kepada awak pesawat udara agar diperkenankan untuk


menangani masalah operasional radio komunikasi.

Tetap bersikap sebagai pihak yang netral.

Catatan :
Selain dengan squawking 7500, pesawat udara yang dibajak akan
melakukan sandi komunikasi sesuai instruksi Dirjen Hubud No.
INST/VII/74 tanggal 15 juli 1974 adalah sebagai berikut
MAYDAY
HI..[callsign]...[destination]..[ETA]..NUMBER..[of
hijacker][code].(*) ACTION..(**)
(*)

1 = bahan peledak (explosive).


2 = senjata api (pistol).

64
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

3 = pisau atau senjata lainnya.


(**)

FOLLOW

= mengikuti kehendak pembajak

ALPHA

= melawan pembajak

WHISKEY = menunggu perintah lebih

lanjut (dari

pemerintah/juru runding).
Contoh:
JAKARTA RADAR MAYDAY HI GIA 117 PALEMBANG 0246
NUMBER THREE, CODE ONE AND TWO ACTION FOLLOW.
Artinya :
GIA 117 tujuan Palembang ETA 0246 dibajak oleh tiga orang
bersenjatakan bahan peledak dan pistol serta mengikuti kehendak
pembajak
Bila diyakini terjadi pembajakan pesawat udara, segera memperhatikan
permintaan pesawat udara ataupun mengantisipasi terhadap keperluan pesawat
udara yang dibajak, misalnya fasilitas navigasi, prosedur, pelayanan disepanjang
route yang akan dilalui dan bandara yang akan didarati serta mengambil tindakan
lain yang diperlukan demi keselamatan pesawat udara tersebut. (Ref: SOP)
Sehubungan dengan adanya pesawat udara yang dibajak, tindakan harus
dilakukan oleh petugas Pemandu Lalu Lintas Udara antara lain :

65
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Senantiasa

menyampaikan

informasi

yang

diperlukan

bagi

keselamatan lalu lintas udara tanpa mengharapkan adanya jawaban


dari pesawat udara yang dibajak.

Memonitor dan memploting gerakan pesawat udara yang dibajak


dengan segala cara dan mengkoordinasikan dengan ATS unit lain
tanpa perlu memerlukan pengiriman berita atau balasan dari pesawat
udara yang dibajak, kecuali bila hubungan dengan pesawat terbang
berjalan normal.

Senantiasa memberitahukan unit ATS yang mungkin terlibat


didalam penanganan pesawat udara yang dibajak. (Ref: SOP)

Tugas dan Tanggung Jawab Pengawas Tugas Operasional LLU


-

Menyampaikan berita DISTRESFA melalui unit yang


terkait

Memberitahukan BASARNAS No. telp. ..atau KKR


No., sampaikan semua informsi yang diperlukan

Mengkoordinasikan antara pihak terkait

Memberitahu KACAB tentang tindakan yang telah diambil

Memberitahu ATS unit lain yang akan dilalui oleh pesawat


udara yang dibajak

Meneruskan semua informasi yang baru diterima kepada


pihak yang berkepentingan dan terkit dengan masalah
tersebut

66
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Memberitahu

perusahaan

penerbangan/perwakilan

perusahan penerbangan. (Ref: SOP)


2.3.10 Fuel Dumping
Menentukan rute, ketinggian dan informasikan cuaca saat itu serta arahkan
pesawat udara tersebut ke daerah yang dipandang aman dari conflicting traffic
serta jauh dari pemukiman penduduk. (Ref: SOP)
Ketinggian tidak kurang dari 6000 feet, dan 2000 feet diatas obstacle
tertinggi di daerah tersebut. (Ref: SOP)
Memberitahu pesawat udara lain dengan cara broadcast dengan tujuan
agar pesawat udara lainnya menghindari daerah tersebut. (Ref: SOP)
Bila ada pesawat udara lain di bawahnya vertical separsi 3000 feet. (Ref:
SOP)
2.4 Sarana Dan Prasarana Pendukung Operasional
2.4.1 Sarana Dan Prasarana Pendukung Operasional Secara Umum
Sarana dan Prasarana sebagai pendukung operasional jelas sangat
dibutuhkan bagi setiap bandara khususnya di Bandar Udara Internasioanl Sultan
Mahmud Badaruddin II Palembang seperti Fasilitas Radio Komunikasi, Radio
Navigationa and Landing Aids, Runway Physical Characteristic, Decleared
Distance, Radar and Runway Lighting dan Reporting Point Facilities

PALEMBANG RADAR CONTROL OFFICE


-

Radar Display Monitor

Radio Communication frequency 119.2 MHZ

Telephone/Direct Speech
67

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

FDPS

Gambar ILS Remote Status and Interlock Unit Runway 29

SLI

Telex

PABX

Aiphone

Flight Progress Stripdst if any (Ref: SOP)

SMB II PALEMBANG CONTROL TOWER


-

Radio Communcation frequency 118.1 MHZ

CCTV

Telephone/Direct Speech

Flight Progres strip

Airport Lighting System Panel

Wind Direction and Speed

Binocular

Gunlight/Signal Lamp

Telex

HT Motorola

Motorolla Portable

Arrival dan Departure Sheet (Ref: SOP)

Radar Monitor

Gambar ILS Remote Status and Interlock Unit Runway 29

ATIS

- ATS Communication Facilities


68
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Service

Call Sign

Frequency

Hour of Operation

Designator
APP

Palembang Radar

119.2 MHz

23.00-17.00UTC
23.00-17.00UTC

Tower

FSS

Mahmud Tower

118.1 MHz

Palembang Radio

23.00-17.00UTC

8957 Khz

Tabel 2.4.1.1 ATS Communication Facilities

- Radio Navigation and Landing Aids


Type of

ID

Frequency

Nav Aid

Coordinate

Hours of
Operation

69
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

VOR/DME

NDB

LOCATOR

ILS/LLZ

PLB

OW

WW

IPLB

115.5 Mhz/

025242.92S

23.00-17.00

Ch-102x

104 3911.39E

23.00-17.00

396 Khz

02 5438.38S

23.00-17.00

104 4035.23E

23.00-17.00

02 5419.02S

23.00-17.00

104 4256.40E

23.00-17.00

02 5338.90S

23.00-17.00

380 Khz

110.5 Mhz

104 4124.33E
GP

329.6 Mhz

02 5403.07S
104 4228.09E

MM

75 Mhz

02 5540.79S
104 4614.01E

OM

75 Mhz

02 5423.76S
104 4307.57E

Tabel 2.4.1.2 Radio Navigation and Landing Aids

- Runway Physical Characteristic


Designation

True &

RWY

Magnetic

Dimension

Strength

THR

THR elev.

(PCN)
70

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

And

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Number

Bearing

of RWY

and

Coordinates

Highest

Surface

Elev. Of

of RWY

TDZ of

and

Precision

SWY

APP
RWY

11

113

29

3000X45

PCN 68

02

49 ft

FCXU

5337.95S
104

293

39 ft

4122.3E
02
5409.45S
104
4236.98E

Slope

SWY

CWY

Strip

OFZ

Remark

of

Dimension

Dimension

Dimension

SWY
0.3%

Nil

150X150M

3300X300M

0.3%

60MX45M

150X150M

3300X300M

RWY-

Tabel 2.4.1.3 Runway Physical Characteristic

- Decleared Distance
RWY

TORA

TODA

ASDA

LDA

Designator
11

3000 M

3150 M

3060 M

3000 M

71
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

29

3000 M

3150 M

3060 M

3000 M

Tabel 2.4.1.4 Decleared Distance


- Approach and Runway Lighting
RWY

APP

THR LGT

VASIS

RWY

RWY END

Designator

LIGHT

Colour

(MEHT)

edge

LGT

Type LEN

WBAR

PAPI

LGT

Colour

LEN

WBAR

Spacing
11

REIL

GREEN

3 BARS

Colour
WHITE

RED

29

HIGH

GREEN

3 BARS

WHITE

RED

INTENSITY
Tabel 2.4.1.5 Approach and Runway Lighting
Runway Edge Light atau Runway Light (REH)
Pengoperasian runway light apabila runway tersebut akan digunakan
adalah sebagai berikut:
a. Between sunset dan sunrise atau malam hari, runway light harus dihidupkan

Untuk Aircraft Departure


Runway Light harus dihidupkan sebelum taxi dan harus tetap nyala sampai
pesawat udara meninggalkan vicinity of aerodrome.

Untuk aircraft arrival


Runway light harus dihidupkan:
1. pesawat udara IFR : sebelum pesawat udara berada di final atau 5
menit sebelum pesawat udara diperkirakan akan tiba
72

Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang


Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

2. pesawat udara VFR : sebelum memasuki traffic circuit dan harus


tetap menyala sampai pesawat udara taxi meninggalkan runway
b. Between sunset dan sunrise atau siang hari, runway light harus nyala apabila
visibility kurang dari 2 miles.
c. Sesuai dengan local procedure yang ada
d. Apabila dianggap perlu atau apabila diminta oleh pilot
e. Dilarang menghidupkan runway light apabila runway tidak digunakan, dan
apabila ada NOTAM yang menyatakan bahwa runway closed.
Taxiway Light (TWE I)
Taxiway light harus dinyalakan apabila taxiway digunakan dengan
ketentuan:
a. Pada malam hari, sebelum pesawat udara bergerak menuju taxiway dan
tetap sampai pesawat udara meninggalkan taxiway yang digunakan
b. Pada waktu dianggap perlu dan disesuaikan denagan kondisi pada saat itu
c. Taxiway light harus dimatikan apabila tidak digunakan lagi.
Runway End Identifier Light (REIL)
Pengoperasian REIL:
a. Apabila runway light dinyalakan, maka REIL harus dimatikan setelah:
Aircraft arrival telah mendarat
Aircraft departure telah meninggalkan bandara
Sesuai dengan local procedure yang ada
b. Sesuai dengan local procedure yang ada
c. Apabila diminta pilot
Rotating Beacon (ROB)
73
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

ROB harus dinyalakan ketika :


malam hari atau between sunset dan sunrise
siang hari atau between sunset dan sunrise apabila ceiling,
visibility below minima
Visual Aprroach Slope Indicator System (VASIS)
VASIS harus tetap dinyalakan ketika runway akan digunakan,keculai :
apabila ada prosedur local yang mengaturnya
apabila pilot mengendaki
Approach Light (APH)
Pengoperasian APH sebagai berikut :

Malam hari, APH harus dihidupkan apabila Runway akan digunakan


minimal 5 menit sebelum pesawat udara tersebut diperkirakan akan tiba dan
harus tetap hidup sampai pesawat udara tersebut mendarat

Siang hari, APH dihidupkan apabila ceiling kurang dari 1000 feet dan
visibility kurang dari 5 miles

Apabila diminta pilot


Apabila dianggap perlu dan disesuikan dengan kemauan pilot

Flood Light (lampu Stand)


Flood flight (lampu stand) harus dihidupkan apabila di stand tersebut ada
pesawat tetapi apabila pesawat tidak ada lagi di stand tersebut maka lampu
tersebut harus dimatikan. Apabila ada gangguan yang berhubungan dengan system
74
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

sitpoty lighting maka ATC SMB II harus segera melapoorkan pada unit terkait
untuk tidak lebih lanjut atau untuk perbaikan.
2.4.2 Handling Services and Facilities
A. Cargo Handling Facilities
-

Pick up

Wagon

Weighter

Man Power

1 cargo warehouse building equipped with stacker material and pallet

Forklit available

B. Fuelling facilities/Capacity
-

2 Refueller cars

: 12,000 for AVTUR

1 Refueller car

: 25.000 for AVTUR

1 Refueller car

: 7.000 for AVTUR

1 Refueller car

: 4000 for AVTUR

Fuel/oil/Type

: AVIGAS 100/130, AVTUR50

BAB III
PERMASALAHAN
3.1 Kendala Dalam Pemberian Pelayanan Lalu Lintas Udara

75
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Dalam pelaksanaan tugasnya, seorang ATC harus berpedoman berdasarkan


5 Objectives of Air Traffic Services yang tercantum di dalam Annex 2, ICAO,
yaitu:
1. Mencegah terjadinya kecelakaan diantara pesawat terbang
2. Mencegah terjadinya kecelakaan diantara pesawat, di daerah / area
pergerakan (runway dan taxiway) dan rintangan / halangan di area
tersebut.
3. Mempelancar dan memelihara keteraturan Lalu Lintas Udara
4. Memberikan saran dan informasi yang berguna untuk keselamatan
dan keefisienan arahan penerbangan
5. Memberitahukan dengan tepat dan cepat kepada Badan Penyelamat
(SAR) yang diperlukan pesawat dan membantu unit tersebut jika
diperlukan.
Tetapi berdasarkan pada kenyataan yang ada di lapangan, terdapat beberapa
masalah yang harus dihadapi salah satunya adalah Keberadaan lampu-lampu jalan
pada Inspection Road (Jalan Inspeksi) di Bandar Udara Internasional Sultan
Mahmud Badaruddin II Palembang.
Seperti yang kita ketahui, Inspection Road merupakan jalan akses yang
sangat penting bagi setiap pengguna kendaraan seperti Aviation Security, teknisi,
pihak AURI ataupun pihak Pertamina dalam menjalankan tugasnya. Berikut ini
adalah beberapa kegunaan Inspection Road di Bandar Udara Internasional Sultan
Mahmud Badaruddin II Palembang:
a. Sebagai akses kendaraan dari North Apron menuju South Apron ataupun
sebaliknya.
76
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

b. Dapat menghindari kegiatan akses kendaraan yang pada awalnya


dilakukan dengan melewati taxiway atau runway.
c. Memperlancar aktivitas penerbangan di Bandar Udara Internasional
Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.
Tetapi dalam penggunaannya, keberadaan lampu-lampu jalan pada
Inspection Road tersebut dapat mengganggu jalannya aktivitas penerbangan pada
Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badarudin II Palembang.
Hal

ini harus

sangat

diperhatikan

karena

dapat

membahayakan

penerbangan dengan beberapa kemungkinan yang dapat terjadi yang disebabkan


oleh keberadaan lampu-lampu jalan di Inspection Road. Adapun kemungkinan
yang dapat terjadi yakni cahaya lampu-lampu jalan di Inspection Road yang
ditakutkan dapat membingungkan pilot dalam melakukan approach (pendaratan)
terutama pada malam hari disertai dengan kondisi cuaca yang buruk atau jarak
pandang dibawah normal. Tidak hanya itu, hal tersebut juga dapat menjadi Hazard
yang pada akhirnya akan menyebabkan suatu incident atau accident yang
mengancam nyawa setiap penumpang ataupun merusak alat dan kondisi pada
Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

3.2 Penyebab Timbulnya Masalah


Bandara besar seperti Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II
Palembang ini tentu saja memiliki Inspection Road yang mengelilingi
Manouvering Area atau Runway dan Taxiway yang digunakan baik pada siang
77
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

ataupun malam hari untuk jalur operasi kendaraan baik dari pihak Aviation
Security, teknisi, pihak AURI ataupun pihak Pertamina.
Tetapi dalam kenyataannya, penulis sering mendengar komplain dari
sebagian personil ATC khusunya ADC Controller bahwa pada malam hari lampulampu jalan pada Inspection Road seperti mengelabuhi dan menyerupai lampu
taxiway ataupun runway dan pada akhirnya sulit untuk membedakan dari
ketiganya. Oleh karena itu, penggunaan Inspection Road pada malam hari yang
telah dilengkapi dengan lampu-lampu jalan tersebut pada akhirnya dapat menjadi
hazard atau membahayakan bagi aktivitas penerbangan di Bandara Sultan
Mahmud Badruddin II Palembang. Hal tersebut diakibatkan karena lokasi lampulampu jalan tersebut yang sejajar serta berdektan dengan Runway dan Taxiway.
Selain itu, karena jarak setiap lampu-lampu pada Inspection Road tersebut
hampir sama dengan jarak lampu-lampu yang terdapat pada Runway dan Taxiway
maka hal tersebut dapat menjadi hal yang membingungkan. Tidak hanya itu, pihak
terkait seperti pilot juga ditakutkan akan sulit membedakan antara lampu-lampu
jalan pada Inspection Road dengan lampu pada Runway dan Taxiway apabila
keadaan ketiganya menyala apalagi dalam kondisi cuaca buruk yang disertai
dengan jarak pandang dibawah normal.
Artinya, pada saat ini Inspection Road di Bandar Udara Internasional
Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang malah menjadi masalah dan belum
sesuai dengan Undang-Undang Penerbangan No. 1 tahun 2009, Pasal 217 ayat 1,
yaitu Setiap Bandar udara yang dioperasikan wajib memenuhi ketentuan

78
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

keselamatan dan keamanan penerbangan, serta ketentuan pelayanan jasa bandar


udara.

2
4

Gambar 3.1 Kondisi lampu Inspection Road, runway dan taxiway Pada
Malam Hari
Keterangan Gambar:
1. Lampu inspection road (sejajar dan dekat dengan runway)
2. Lampu inspection road (sejajar dan dekat dengan taxiway North Parallel)
3. Lampu runway
4. Lampu taxiway

79
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

1
3

Gambar 3.2 Kondisi lampu Inspection Road, runway dan taxiway Pada Siang
Hari
Keterangan Gambar:
1. Lampu inspection road (sejajar dan dekat dengan runway)
2. Lampu inspection road (sejajar dan dekat dengan taxiway North Parallel)
3. Runway
4. Taxiway
Dalam Annex 14 Aerodromes Volume 1 Aerodrome Design and Operations:
CHAPTER 7 VISUAL AIDS FOR DENOTING RESTRICTED USE AREAS
7.1 Closed runways and taxiways, or parts thereof
7.1.6 Lighting on a closed runway or taxiway or portion thereof shall not be
operated, except as required for maintenance purposes.
Terjemahan:
BAB 7 VISUAL AIDS UNTUK MENANDAKAN BATAS AREA YANG
DIGUNAKAN
80
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

7.1 Terdekat dengan runway dan taxiway, atau bagiannya


7.1.6 Pencahayaan terdekat dengan runway atau taxiway atau bagiannya tidak
akan dioperasikan, kecuali dibutuhkan untuk tujuan perawatan.
Sudah dijelaskan secara jelas bahwa segala hal yang menyebabkan bahaya
di permukaan bandar udara atau aerodrome harus diminimalisasi agar
keselamatan penerbangan dapat terjamin.
3.3 Alternatif Pemecahan Masalah
Keamanan, keselamatan dan kenyamanan merupakan hal penting dalam
penerbangan baik bagi pengguna jasa penerbangan ataupun pendukung. Hal
tersebut merupakan tanggung jawab pihak pengelola PT. Angkasa Pura II Bandar
Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dalam menyikapi
permasalahan yang terjadi di lingkungan bandara tersebut.
Solusi merupakan suatu hal yang diperlukan agar dapat memecahkan
ataupun menyikapi suatu masalah, yang dalam hal ini berkenaan dengan
keberadaan lampu-lampu jalan pada Inspection Road yang dapat mengganggu
aktivitas Penerbangan. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memecahkan
masalah tersebut, yakni:
a. Membatasi nyala lampu-lampu jalan pada Inspection Road sesuai dengan
waktu dan kondisi-kondisi tertentu, seperti mematikan lampu-lampu pada
Inspection Road saat ada pesawat yang ingin melakukan approach
(pendaratan) dan saat tidak digunakan,

81
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

b. Memberi jarak pada lampu-lampu Inspection Road yang menyala.


Rekomendasi; setiap 1 lampu yang menyala maka 2 lampu sesudahnya
dimatikan dst.
Dengan demikian aktivitas penerbangan dapat berlangsung dengan aman
dan lancar tanpa perlu kawatir lagi tentang keberadaan lampu-lampu jalan pada
Inspection Road terutama pada malam hari apalagi dalam keadaan cuaca buruk
serta jarak pandang dibawah normal.

BAB IV
82
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan
Berdasarkan permasalahan yang terdapat di atas maka dapat diambil
kesimpulan bahwa masih perlu adanya perhatian khusus dari pihak Bandara akan
keselamatan penerbangan.
Selama kurang lebih tiga bulan menjalani praktek di Bandar Udara
Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, nyala lampu-lampu jalan
pada Inspection Road tersebut tidak hanya bisa menggangu pilot tetapi juga
mengganggu dan membingungkan ATC dalam menjalankan tugasnya. Sayangnya,
masih belum ada solusi untuk menanggulangi dan menyelesaikannya.
Selain itu juga masih perlu ditingkatkan hubungan antar unit-unit yang
terkait dengan penerbangan seperti Aviation Security, teknisi, pihak AURI ataupun
pihak Pertamina dan ATC sehingga dalam pelaksanaan kegiatan kerja dapat
berlangsung dengan baik dan lancar serta terkoordinasi. Hal itu dapat
memberikan penilaian yang baik bagi pelayanan yang diberikan di Bandara
Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang ini.
Dalam pelaksanaannya, banyak manfaat yang didapat saat melaksankan On
The Job Training yakni seperti pentingnya koordinasi dengan tiap unit kerja yang
tidak kita dapat di lab serta beberapa kejadian yang menyangkut peralatan, sarana
dan prasarana yang ada. Semua akan lebih nyata dan kita rasakan serta alami
dalam praktek langsung di lapangan. Tidak hanya itu, On The Job Training ini
juga dapat lebih melatih control technic sehingga dalam dunia kerja kedepannya
dapat menjadi tenaga kerja yang handal dan telah berpengalaman.
83
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

4.2 Saran
Penerbangan yang aman dan nyaman serta efisien adalah hal yang harus
diciptakan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Oleh karena itu,
kiranya harus ada perhatian khusus dari pihak Bandara itu sendiri untuk sesegera
mungkin menyelesaikan permasalahan yang ada di lingkungannya.
Seperti permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, yang dalam hal ini
berkenaan dengan keberadaan lampu-lampu jalan pada Inspection Road yang
dapat mengganggu aktivitas Penerbangan maka diharapkan setiap pemacahan
masalah yang telah ditawarkan agar dapat segera dipertimbangkan dan
diaplikasikan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
AIP (Aeronautical Information Publication) Indonesia

84
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

International Civil Aviation Organization, fifteenth edition 2007, Air Traffic


Management, Doc.4444-ATM/501
International Civil Aviation Organization, Aerodrome, Annex 14 Volume 1
Aerodrome Design and Operations
International Civil Aviation Organization, Air Traffic Services, Annex 11
International Civil Aviation Orgaanzation, Rules Of the Air, Annex 2
Pedoman ON THE JOB TRAINING Pengatur Lalu Lintas Udara Akademi Teknik
dan Keselamatan Penerbangan Surabaya
Standard Operating Procedure Bandar Udara Internasional SMB II Palembang
Undang-Undang Penerbangan No. 1 tahun 2009

LAMPIRAN

85
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

86
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Struktur Organisasi

Standard Arrival Chart (STAR)

87
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Aerodrome Chart
MARKING AIDS RUNWAY 11/29 AND EXIT TWY

88
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Runway Marking and Lighting Aids

Standard Instrument Departure Chart Runway 29


89
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

Standard Instrument Departure Chart Runway 11

90
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

VOR RUNWAY 11 CAT A/B/C/D

91
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

92
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

VOR/DME RUNWAY 29 CAT A/B/C/D

93
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

94
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

VOR RUNWAY 29

95
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

96
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

ILS RUNWAY 29 CAT A/B/C/D

97
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

98
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

GPS (VOR/DME) RUNWAY 29 CAT. A/B/C/D

99
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang

HARIONO (G.III.11.14.034)
Laporan On The Job Training

100
Perum Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia Cabang
Palembang