Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Sistem sensoris merupakan salah satu sistem yang penting
bagi manusia, karena dengan sistem ini kita dapat merasakan
hal-hal yang ada di dunia ini. Misalkan saat kita makan, kita
dapat merasakan apakah makanan itu asin atau manis. Hidup
tidak akan menjadi sepi karena kita dapat mendengar alunan
nada atau musik. Atau saat kita mulai tumbuh dan hormonhormon pertumbuhan mulai berfungsi, kita dapat merasakan
yang namanya falling in love. Semua rangsangan itu dapat kita
rasakan melalui bermacam-macam reseptor yang ada di dalam
tubuh kita, lalu dari reseptor akan dikirim ke central nervous
system (saraf pusat) kita sebagai sinyal ataupun informasi.
Proses pengiriman sinyal inilah yang termasuk ke dalam Sistem
Sensoris.
Sistem

sensoris

sendiri

adalah

gabungan

dari

sistem nervous (saraf) dan sistem pengindraan pada manusia.


Dimana diawali dengan adanya sensasi yang dapat dideteksi
oleh organ-organ lalu berkembang menjadi persepsi yang
diproses di saraf pusat (encephalon dan medulla spinalis).
Makalah ini disusun agar kita mengetahui tentang sistem
sensoris di dalam tubuh kita serta bagaimana fisiologis ataupun

cara kerja dari sistem tersebut. Dengan mengetahui jalannya


sistem

sensoris,

diharapkan

mampu

menambah

wawasan,

mempersiapkan ilmu-ilmu dasar mengenai anatomi dan fisiologi


sistem

sensoris,

dapat

mengidentifikasi

secara

akurat,

meminimalisir kesalahan-kesalahan dalam menentukan asuhan


keperawatan.
B.

Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang tersebut, maka didapatkan
rumusan-rumusan masalah sebagai berikut :
1.
2.
3.

C.

Apa yang dimaksud dengan sistem sensoris ?


Apa saja hal-hal yang berkaitan dengan sistem sensoris ?
Bagaimana anatomi dan fisiologi indra pada manusia ?

Tujuan
Dari rumusan-rumusan masalah di atas, maka tujuan yang akan
dicapai setelah menyusun makalah ini yaitu :
1.
2.

Mengetahui dan memahami pengertian sistem sensoris


Mengetahui cakupan/hal-hal yang berkaitan dengan sistem

3.

sensoris
Mengetahui anatomi dan fisiologi indra-indra pada manusia

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Cakupan Sistem Sensoris
Sistem

sensoris

atau

dalam

bahasa

Inggris sensory

system berarti yang berhubungan dengan panca indra. Sistem ini


membahas tentang organ akhir yang khusus menerima berbagai
jenis rangsangan tertentu. Rangsangan tersebut dihantarkan
oleh sensorys neuron (saraf sensoris) dari berbagai organ indra
menuju otak untuk ditafsirkan. Reseptor sensori, merupakan sel
yang dapat menerima informasi kondisi dalam dan luar tubuh
untuk dapat direspon oleh saraf pusat. Implus listrik yang
dihantarkan oleh saraf akan diterjemahkan menjadi sensasi yang
nantinya akan diolah menjadi persepsi di saraf pusat. Namun,
dalam makalah ini hanya akan membahas mengenai reseptor
sensori yang menerima rangsangan dari luar tubuh.
Dalam memahami konsep persepsi, maka tidak akan
terlepas dari sistem sensoris. Dalam bab ini akan dibahas kelima
macam sistem sensori manusia (panca indera/exteroceptive

sensory system) yang mengintepretasi stimulus dari luar tubuh,


yaitu penglihatan, perabaan, pendengaran, pembau/penciuman,
dan perasa. Berikut adalah penjelasan tentang anatomi dan
fisiologi dari kelima sistem indra yang ada di tubuh manusia.

B. Anatomi dan Fisiologi Indra Pada Manusia


Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa indra
merupakan reseptor yang dapat menerima rangsangan atau
impuls dari luar tubuh atau bisa disebut juga eksteroseptor. Ada
lima macam indera yang ada pada manusia yaitu indra
penglihat, indra pendengar, indra pengecap, indra peraba dan
perasa, dan indra pencium. Berikut adalah penjelasan mengenai
anatomi dan fisiologi jalannya impuls dari kelima indra ke sistem
saraf pusat.
1. INDRA PENGLIHATAN (MATA)
Mata adalah organ indra pada manusia yang rumit,
tersusun dari bercak sensitif cahaya primitif sehingga mata
sangat

sensitif

terhadap

rangsangan

cahaya

karena

adaphotoreceptor di dalamnya. Di dalam lapisan pelindungnya,


mata mempunyai lapisan reseptor, sistem lensa pemfokusan
cahaya oleh reseptor, dan terhubung atas suatu sistem saraf. Jika
dilihat secara struktural bola mata layaknya kamera, tetapi
mekanismenya tidak secanggih mata (ciptaan-Nya) yang sistem

persarafannya amat rumit dan tidak ada bandingannya. Susunan


saraf pusat terhubung melalui suatu berkas serat saraf yang
disebut saraf optik ( nervosa optikus ). Implus saraf dari
stimulus photoceptor dibawa ke otak pada lobus oksipital di
serebrum dimana sensi penglihatan diubah menjadi presepsi.
Reseptor penglihatan dapat merespon satu juta stimulus yang
berbeda setiap detik.

a. Struktur Anatomi Mata


Bola mata berada di ruang cekung pada tulang tengkorak
yang disebut orbit. Orbit tersusun oleh tujuh tulang tengkorak
yaitu tulang frontalis, lakrimalis, etmoid, zigomatikum, maksila,
sphenoid dan palatin yang berfungsi mendukung, menyanggah
dan melindungi mata. Pada orbit terdapat lubang yaitu foramen
optic untuk lintasan saraf optik dan arteri optalmik dan fisura
orbital superior yang berfungsi untuk lintasan safaf dan arteri
otot mata. Bagaian-bagaian mata terdiri dari.
1). Sklera
Merupakan jarinagan ikat fibrosa yang kuat berwarna putih
buram dan tidak tembus cahaya, kecuali dibagian depan yang
transparan yang disebut kornea. Sclera memberi bentuk pada
bola mata dan memberikan temapt melekat otot ekstrinsik.
2). Kornea

kornea merupakan jendela mata, unik karena bentuknya


transparan, terletak pada bagian depan mata berhubungan
dengan skllera. Bagian ini merupakan tempat masuknya cahaya
dan memfokuskan bekas cahaya. korena tersusun atas 5 lapisan
yaitu epithelium, membrane , buwman, stroma, membrane
descemet dan endothelim.
3). Lapisan Koroid
lapisan koroid berwarna coklat kehitaman dan merupakan
lapisan yang berpigmen mengandung banyak pertumbuhan
darah untuk memberi nutrisi dan oksigen pada retina . warna
gelap pada koroit berfungsi untuk mencegah refleksi atau
pemantulan sinar. Pada bagian depan koroid membentuk korpus
silialis yang berlanjut membentuk iris.
4). Iris
Iris

merupakan

perpanjangan

dari

korpus

silialis

ke

anterior, bersambung dengan permukaan lensa anterior. Iris


tidak tembus pandang dan berpigmen berfungsi mengendalikan
banyaknya cahaya yang masuk kedalam mata dengan cara
merubah ukuran pupil. Ukuran pupil dapat berubah karena
mengandung serat-serat otot silkuler yang mampu menciutkan
pupil dan serta-serta radikal yang menyebabkan kelebaran pupil.
5). Lensa

Lensa mempunyai struktur bikonvfeks, tidak mempunyai


pembuluh darah, transparan dan tidak berwarna. Kapsul lensa
merupakan membrane ke semifermiabel, tabelnya sekitar 4mm
dan diameternya 9mm. lensa berada dibelakang iris dan ditahan
oleh ligamentum yang disebut zonula. Adanya ikatan lensa
dengan ligamentum ini menyebabkan 2 rongga bola maka yaitu
bagian depan lensa dan bagian belakang lensa. Ruang bagian
depan lensa berisi cairan yang disebut aqueous humor , cairan
ini diproduksi oleh korpus silialis dan ruangan pada bagian
belakang lensa berisi cairan vitreous humor. Kedua cairan
tersebut berfungsi menjaga alensa pada tempatnya dan dalam
bentuk yang sesuai serta memberikan makanan pada korne dan
lensa . lensa tersusun dari 65% air dan sekitar 35% protein dan
sedikit

mineral,

menfokuskan

terutama

cahaya

yang

kalium.
masuk

Lensa
kedalam

berfokus
retina

untuk
melalui

mekanisme akomudasi yaitu proses penyusuaian secara otomatis


pada

lensa

untuk

memfokuskan

objek

secara

jelas

yang

beragam.
6). Retina
Retina merupakan lapisan terdalam pada mata, melapisi
lapisi 2/3 bola pada bagian belakang. Pada bagian depan
berhubungan

dengan

korpus

silialis

dioraserata.

Retina

meruapakan bagian mata yang sangat peka terhadap cahaya.

Pada bagian depan retina terdapat lapisan berpigmen dan


berhubungan dengan koroid dan pada bagian belakng terdapat
lapisan saraf dalam. Pada lapisan sel saraf dalam mengandung
reseptor, sel bifolar, sel ganglion, sel horizontar dan sel
akmagrin.
Ada dua sel reseptor pada retina yaitu sel konus atau sel
kerucut dan sel rod atau sel batang. Sel kerucut berisi pigmen
lembayung dan sel batang berisi pigmen ungu.kedua pigmen
tersebut akan terurai jika terkena sianar terutama pada pigmen
ungu yang terdapat pada sel batang. Oleh karena itu pigmen
pada sel batang berfungsi untuk situasi yang kurang terang atau
matahari sedangkan pada pigmen sel kerucut berfungsi lebih
pada suasana terang dan berperan dalam pengliatan disiang hari
.
Pigmen ungu yang ada pada sel batang disebut dengan
rodoksin yang merupakan senyawa protein dan vitamin A apabila
terpapar

sianr,

rodiksi

akan

terurai

menjadi

vitamin

pembentukan kembali pigmen tersebut terjadi dalam keadaan


kelap yang disebut adaptasi gelap sedangkan pigmen lembayung
dari sel kerucut merupakan senyawa iodopsin yang merupakan
gabungan antara retinin dan oksin. Pada sel kerucut terdapat 3
macam yaitu sel yang peka terhadap merah, hijau dan biru
sehingga

sel

kerucut

dapat

menagkap

sprektum

warna.

Kerusakan pada salah satu sel kerucut akan meyebabkan buta


warna.
7). Saraf Optic
Saraf optic merupakan saraf yang memasuki sel tali dan
kerucut dalam retina, untuk menuju ke otak.
b.

Fisiologi Penglihatan
Fungsi utama mata adalah mengubah energy cahaya
menjadi implus saraf sehingga dapat diterjemahkan oleh otak
menjadi gambar fisual. Untuk menghasilkan gambar fisual yang
tepat dan diinginkan terjadilah proses yang sangat kompleks
dimulai adanya gelombang sinar atau cahaya yang masuk ke
mata berkas cahaya yang masuk kemata melalui konjungtiva,
korne, okueus humor, lensa dan fitreurus humor, diaman pada
masing-masing tersebut berkas cahaya dibiaskan (refraksi)
sebelum akhirnyaa jatuh tepat di retina. Jumlah cahaya yang
masuk akan diatur oleh iris dengan jalan membesarka atau
mengkecilakan pupil pada iris terdapa 2 otot polos yang tersusun
silkuler

dan

radial

yang

mampu

bergerak

dan

mengecil

membentuk pupil. Agar sianar objek , menghasilakan sinar yang


jelas pada retina harus dibiaskan (terjadi proses yang disebut
pemfokusan). Pemfokusan cahaya merupakan peran utama dari
lensa. Lensa akan mebiaskan cahaya dan membiaskannya.

Kemampuan lensa untuk menyusuaikan cahaya dekat atau jauh


ketitik retina disebut okumudasi .
Berkas cahaya dari lensa kemudian difokuskan ke retina.
Retina merupakan bagian mata veterbrata yang peka terhadap
cahaya dan mampu mengubahnya menjadi implus saraf untuk
dihantarkan keotak melalui nervuesorticus (nervous cranial 2).
Pada retina terdapat lapisan saraf atau neuron yaitu neuron
fotoreseptor,
merupakan

neuran
reseptor

difolar
yang

dan
peka

neuron

ganglion.

terhadap

cahaya

Neuron
karena

mengandung sel batang (rods dan sel kerucut cones) sel batang
mengandung sel redoksin yang khusus untuk penglihatan hitam
putih dalam cahaya redup sedangkan sel kerucut berisikan
pigmen lembayung yang merupakan senyawa iodoksin yang
peka terhapad warna merah, hijau dan biru sehingga dapat
mendapat sprektum berwana dalan cahaya tajam yang terang.
Cahaya yang diterima oleh neuron fotoreseptor akan
diubah dalam bayangan pertama kemudian akan diubah kembali
jadi bayangan kedua disel bifolar dan diselanjutnya menjadi
bayangan ketiga disel ganglion yang kemudian dibawa kekorteks
penglihatan primer untuk dihasilkan visual penglihatan.

2.

INDRA PENDENGAR (TELINGA)

Telinga adalah alat indra yang memiliki fungsi untuk


mendengar suara yang ada di sekitar kita sehingga kita dapat
mengetahui / mengidentifikasi apa yang terjadi di sekitar kita
tanpa harus melihatnya dengan mata kepala kita sendiri. Orang
yang tidak bisa mendengar disebut tuli. Telinga kita terdiri atas
tiga bagian yaitu bagian luar, bagian tengah dan bagian dalam.
Berikut adalah penjelasan tentang struktur anatomi telinga.

a.

Meatus Auditorius Eksternal (liang telinga luar)


Liang

telinga

(meatus

akustikus

eksternus)

memiliki

Panjang kurang 2,5 cm, berbentuk huruf S. 1/3 bagian luar terdiri
dari tulang rawan, banyak terdapat kelenjar minyak dan kelenjar
Serumen (modifikasi kelenjar keringat=kelenjar serumen). 2/3
bagian sisanya terdiri dari tulang (temporal) dan sedikit kelenjar
serumen. Meatus dibatasi oleh kulit dengan sejumlah rambut,
kelenjar sebasea, dan sejenis kelenjar keringat yang telah
mengalami

modifikasi

menjadi

kelenjar

seruminosa,

yaitu

kelenjar apokrin tubuler yang berkelok-kelok yang menghasilkan


zat lemak setengah padat berwarna kecoklatcoklatan yang
dinamakan
menangkap

serumen

(minyak
dan

telinga).

Serumen

mencegah

berfungsi
infeksi.

MAE ini juga berfungsi sebagai buffer terhadap perubahan

kelembaban dan temperatur yang dapat mengganggu elastisitas


membran tympani
Adapun fungsi dari daun telinga yaitu menangkap bunyi
dari berbagai arah kedalam liang telinga, kanalis auditorius
berfungsi untuk memproteksi membran timpani dari pada
trauma langsung dari luar.

b.

Telinga bagian tengah (Kavum timpani)


Telinga tengah terdiri atas membran timpani, osikula
(tulang-tulang pendengaran) dan eustachius.

1). Membran Timpani


Membran timpani atau sering di sebut sebagai gendang
telinga dengan bentuk menyerupai gendang, terletak tepat
setelah saluran auditori dan merupakan penerima rangsang
fibrasi pertama. Membran timpani berfungsi untuk meneruskan
suara meuju tulang-tulang pendengaran (osikula).
Cavum timpani terdiri dari 3 bagian yaitu:
a)

(Epitimpanum; merupakan cavum timpani bagian atas yang

b)
c)

berhubungan dengan antrum dengan aditus adantrum


Mesotimpanum; merupakan cavum timpani bagian tengah
Hipotimpanum; merupakan cavum timpani bagian bawah
yang berhubungan dengan tuba eustachius

Pembagian secara fisiologi:

(a). Timpani anterior, terdiri dari: mesotimpani, hipotimpani, tuba


auditiva
(b). Timpani posterior, terdiri dari: retrotimpani ( antrum dan
selula)

2). Osikula merupakan tulang-tulang telinga yang terdiri atas tiga


tulang kecil, tersusun pada rongga telinga tengah seperti rantai
dan bersambung, dari membran timpani menuju rongga telinga
dalam tulang-tulang tersebut adalah:
(a). Malleus (martil)
(b). Incus (landasan)
(c). Stapes (sanggurdi)
yang berfungsi untuk mengalirkan getaran suara ke rongga
telinga dalam. Yang letaknya melekat pada bagian dalam
membra timpani. Antrum timpani merupakan rongga tidak
teratur yang agak luas, terletak dibagian bawah samping dari
kavum timpani. Antrum timpani dilapisi oleh mukosa, merupakan
lanjutan

dari

lapisan

mukosa

kavum

timpani.

Rongga

ini

berhubungan dengan beberapa rongga kecil yang disebutn


sellula mastoid yang terdapat dibelakang bawah antrum, di
dalam tulang temporalis. Tuba auditiva eustaki. Saluran tulang
rawan yang panjangnya 3,7 cm berjalan miring ke bawah agak
ke depan, dilapisi oleh lapisan mukosa.

3). Saluran eustacius merupakan saluran di dalam rongga telinga


tengah yang menjorok menghubungkan telinga dengan faring
saluran eustacius akan tertutup jika dalam keadaan biasa dan
akan membuka ketika kita menelan, sehingga tekanan udara di
dalam telinga tengah dengan udara luar akan seimbang. Dengan
begitu, cedera atau ketulian akibat tidak seimbangnya tekanan
udara dapat dihindari.
Fisiologi dari telinga bagian tengh, membran timpani berfungsi
memfokuskan bunyi yang masuk dalam liang telinga dan
berfungsi sebagai amplifier. Tulang-tulang pendengaran berfungsi
dengan sistem daya pengungkit atau tuas untuk meningkatkan
amplifikasi dari bunyi suara yang menggetarkan membran
timpani.
c.

Telinga Bagian Dalam


Telinga bagian dalam terdiri atas beberapa ronggayang
menyerupai

saluran-saluran,

yaitu

vestibula,

tiga

saluran

setengah lingkaran (saluran semi serkuler, dan koklea (rumah


siput)).
1). Vestibula merupakan bagian pertama dari telinga dalam yang
berfungsi sebagai pintu penghubung antar bagian-bagian telinga.
2). Tiga saluran setengah lingkaran (saluran semi serkuler), yaitu
saluran superior, posterior dan lateral.ketiga saluran ini saling

membuat sudut tegak lurus satu sama lain. Pada salah satu
ujung saluran terdapat penebalan yang di sebut ampula. Saluran
semi

serkuler

berfungsi

untuk

membantu

otak

dalam

mengendalikan keseimbangan, dan kesadaran akan kedudukan


tubuh kita.
3). Koklea adalah sebuah tabung berbentuk spiral yang membelit
dirinya seperti rumah siput. Belitan-belitan tersebut melingkari
sebuah sumbu berbentuk kerucut yang memiliki bagian tengah
dari tulang, dan di sebut modiolus dalam koklea terdapat jendela
oval (vanestra vestibuli) yang menghubungkan telinga tengah
dengan

telinga

dalam,

dan jendela

melingardan

(fanestra

kokhlea) yang berfungsi sebagai reseptor suara.


Selain itu, di dalam koklea juga terdapat cairan limfe. Cairan
tersebut bergetar jika ada bunyi, getaran tersebut merangsang
ujung-ujung saraf pendengaran (nervus auditori) oleh ujungujung saraf pendengaran diteruskan ke otak untuk ditafsirkan
sebagai suara.

3.

INDRA PENGECAP ( LIDAH)


Lidah

adalah

lantai mulut yang

kumpulan otot

dapat

membantu

rangka pada
pencernaan

bagian
makanan

dengan mengunyah dan menelan. Lidah dikenal sebagai indera


pengecap yang banyak memiliki struktur tunas pengecap. Lidah

juga turut membantu dalam tindakan bicara. Struktur lainnya


yang

berhubungan

dengan

lidah

sering

disebut lingual,

dari bahasa Latin lingua atau glossal dari bahasa Yunani.


Lidah

ini,

dibangun

oleh

suatu

struktur

yang

disebut kuncup pengecap (taste buds). Pada lidah lebih


kurang 10.000 kuncup pengecap yang tersebar dipermukaan
atas dan di sepanjang pinggir lidah. Kuncup pengecap tertanam
dibagian epitel lidah dan bergabung dengan tonjolan-tonjolan
lidah yang disebut papilla.
Kuncup pengecap dapat membedakan empat cita rasa
dasar, yaitu manis, asam, asin, dan pahit. Rasa manis dan asin
dideteksi pada ujung lidah, rasa asam di tengah sisi-sisi lidah,
dan rasa pahit di bagian belakang. Kuncup pengecap di lidah
dapat menerima rangsangan rasa suatu zat dalam bentuk
larutan. Oleh karena itu, makanan harus dikunyah dan dibasahi
dengan ludah terlebih dahulu agar dapat dinikmati rasanya.
Makanan yang sudah mengalami proses pencernaan di rongga
mulut menghasilkan bahan kimia yang larut dalam ludah. Bahan
kimia tersebut masuk ke dalam bentuk impuls saraf ke saraf
gustatori, kemudian meneruskannya ke otak.
a.

Jalan Kerja Impuls Pengecap dari Lidah ke Otak


Tiga saraf cranial yang memainkan peranan dalam pengantaran
impuls dari lidah ke otak, yaitu nervus facial (VII) pada bagian 2/3

anterior lidah, nervus glossopharyngeal (IX) pada bagian 1/3


posterior lidah, dan nervus vagus (X) pada pharynx dan
epiglottis. Diawali dari taste buds pada lidah, impuls menyebar
sepanjang nervus facial dan dari 1/3 posterior lidah melalui
nervus glossopharyngeal. Impuls dari daerah lain selain lidah
berjalan melalui nervus vagus. Impuls di ketiga saraf tersebut
menyatu di medula oblongata untuk masuk ke nukleus traktus
solitarius. Dari sana, axon berjalan membawa sinyal dan bertemu
dengan leminiskus medialis kemudian akan disalurkan ke daerah
insula.

Impuls

diproyeksikan

ke

daerah

cortex

serebrum

di postcentral gyrus kemudian dihantar ke thalamus yang akan


memberi persepsi pengecapan yang dirasa.
b.

Bagian-Bagian Lidah
Sebagian besar, lidah tersusun atas otot rangka yang
terlekat

pada tulang

hyoideus, tulang

rahang

bawah dan processus styloideusdi tulang pelipis. Terdapat dua


jenis otot pada lidah yaitu otot ekstrinsik dan intrinsik.
Lidah memiliki permukaan yang kasar karena adanya tonjolan
yang disebut papila. Terdapat tiga jenis papila yaitu:
1). papila filiformis (fili=benang); berbentuk seperti benang
halus;
2). papila sirkumvalata (sirkum=bulat); berbentuk bulat, tersusun
seperti huruf V di belakang lidah;

3). papila fungiformis (fungi=jamur); berbentuk seperti jamur.


Terdapat satu jenis papila yang tidak terdapat pada
manusia,

yakni

papila

folliata

pada hewan

pengerat. Tunas

pengecap adalah bagian pengecap yang ada di pinggir papila,


terdiri dari dua sel yaitu sel penyokong dan sel pengecap. Sel
pengecap berfungsi sebagai reseptor, sedangkan sel penyokong
berfungsi untuk menopang.
Pada mamalia dan vertebrata yang lain, pada lidahnya
terdapat reseptor untuk rasa. Reseptor ini peka terhadap
stimulus dari zat-zat kimia, sehingga disebut kemoreseptor.
Reseptor tersebut adalah kuncup-kuncup pengecap. Kuncup
tersebut berbentuk seperti bawang kecil atau piala dan terletak
dipermukaan epitelium pada permukaan atas lidah.
Setiap kuncup pengecap terdiri dari dua macam sel, yaitu
sel pengecap dan sel penunjang, pada sel pengecap terdapat
silia (rambut gustatori) yang memanjang ke lubang pengecap.
Zat-zat kimia dari makanan yang kita makan, mencapai kuncup
pengecap melalui

lubang-lubang

pengecap

(taste

pores).

Kuncup-kuncup pengecap dapat merespon empat rasa dasar,


yaitu manis, masam, asin dan pahit. Letak masing-masing rasa
berbedabeda yaitu :
1). Rasa Asin = Lidah Bagian Depan
2). Rasa Manis = Lidah Bagian Tepi

3). Rasa Asam / Asem = Lidah Bagian Samping


4). Rasa Pahit / Pait = Lidah Bagian Belakang

Fungsi lidah dapat menunjukkan kondisi tubuh. Selaput lidah


manusia

dapat

digunakan

sebagai

indikator

metabolism

tubuh,terutama kesehatan tubuh manusia.


c.

Bentuk Lidah
Tipis, jika bentuk lidah tipis dan berwarna pucat menandakan
defisiensi (kekurangan ) darah yang berhubungan dengan hati
semakin pucat semakin parah gangguan hati tebal, sirkulasi
darah tidak normal menandakan gangguan ginjal dan limpa kaku,
menandakan masuk angin panjang, adanya akivitas panas pada
jantung Retak, adanya ganguan pada lambung limpa dan
jantung.

4.

INDRA PERABA (KULIT)

a.

Anatomi Kulit
Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan
luar tubuh, merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh.
Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang
dewasa sekitar 2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 1,9 meter
persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm
tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak

pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit bagian medial
lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan,
telapak kaki, punggung, bahu dan bokong. Secara embriologis
kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah
epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm
sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah
dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat.

Secara histopatologis kulit tersusun atas 3 lapisan utama yaitu


:
1). Epidermis
Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler.
Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel
melanosit, Langerhans dan merkel. Tebal epidermis berbedabeda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak
tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari
seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu.
Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas
sampai yang terdalam):
a) Stratum Korneum, terdiri dari sel keratinosit yang bisa
mengelupas dan berganti.

b) Stratum Lusidum, berupa garis translusen, biasanya terdapat


pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. Tidak
tampak pada kulit tipis.
c) Stratum Granulosum, ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal
gepeng yang intinya ditengah dan

sitoplasma terisi oleh

granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin


yang mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat sel
Langerhans.

Stratum Spinosum, terdapat berkas-berkas filament yang


dinamakan

tonofibril,

dianggap

filamenfilame

tersebut

memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel


dan melindungi terhadap efek abrasi. Epidermis pada tempat
yang terus mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum
spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum basale dan
stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel
Langerhans.

Stratum Basale (Stratum Germinativum), terdapat aktifitas


mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan
sel epidermis secara konstan. Epidermis diperbaharui setiap 28
hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini tergantung letak, usia
dan faktor lain.Merupakan satu lapis sel yang mengandung
melanosit. Fungsi Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel,
sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel,

pigmentasi

(melanosit)

dan

pengenalan

alergen

(sel

Langerhans).
2). Dermis
Dermis merupakan bagian yang paling penting di kulit
yang sering dianggap sebagai True Skin. Terdiri atas jaringan
ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan
jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang paling tebal pada
telapak kaki sekitar 3 mm.
Dermis terdiri dari dua lapisan :
(a). Lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat jarang.
(b). Lapisan retikuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat.
Dermis mengandung beberapa derivat epidermis yaitu
folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Kualitas
kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam
dermis. Fungsi Dermis: struktur penunjang, mechanical strength,
suplai nutrisi, menahan shearing forces dan respon inflamasi.

3). Subkutis
Subkutis

merupakan

lapisan

di

bawah

dermis

atau

hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak. Lapisan ini terdapat


jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan
jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda
menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. Berfungsi

menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi. Fungsi


Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar, isolasi panas,
cadangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock
absorber.

b.

Fisiologi Kulit
Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi
tubuh

diantaranya

adalah

memungkinkan

bertahan

dalam

berbagai kondisi lingkungan, sebagai barier infeksi, mengontrol


suhu tubuh (termoregulasi), sensasi, eskresi dan metabolisme.
Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan
dari elektrolit, trauma mekanik, ultraviolet dan sebagai barier
dari invasi mikroorganisme patogen.
Kulit berperan pada pengaturan suhu dan keseimbangan
cairan elektrolit. Termoregulasi dikontrol oleh hipothalamus.
Temperatur perifer mengalami proses keseimbangan melalui
keringat, insessible loss dari kulit, paru-paru dan mukosa bukal.
Temperatur
pembuluh

kulit
darah

dikontrol
kulit.

Bila

dengan

dilatasi

temperatur

atau

meningkat

kontriksi
terjadi

vasodilatasi pembuluh darah, kemudian tubuh akan mengurangi


temperatur dengan melepas panas dari kulit dengan cara
mengirim sinyal kimia yang dapat meningkatkan aliran darah di
kulit. Kulit mengandung berbagai jenis ujung saraf sensorik yang

meliputi ujung saraf telanjang, saraf yang melebar, serta ujung


saraf yang terselubung.

5.

INDRA PENCIUM/PEMBAU (HIDUNG)


Manusia dapat membedakan berbagai macam bau bukan
karena memiliki banyak reseptor pembau namun kemampuan
tersebut ditentukan oleh prinsip-prinsip komposisi (component
principle). Seperti pada penglihatan warna (hanya memiliki tiga
reseptor wama dasar, namun dari komposisi yang berbeda-beda
dapat dilihat wama yang bermacam-macam), organ pembau
hanya memiliki tujuh reseptor. Namun dapat membedakan lebih
dari 600 aroma yang berbeda. Alat pembau atau sistem olfaction
biasa juga disebut dengan Organon Olfaktus, dapat menerima
stimulus benda-benda kimia sehingga reseptomya disebut pula
chemoreceptor. Benda kimia yang dapat menstimulasi sel saraf
dalam hidung adalah substansi yang dapat larut dalam zat cair
(lendir) yang terdapat pada cilia yang menutupi sel tersebut.
Makin berbau suatu substansi, maka hal tersebut menunjukkan
bahw amakin banyak molekul yang dapat larut dalam air dan
lemak (konsentrasi penguapannya tinggi).
Organon olfaktus terdapat pada hidung bagian atas, yaitu
pada concha superior dan membran ini hanya menerima
rangsang benda-benda yang dapat menguap dan berwujud gas.

Bagian-bagiannya adalah sebagai berikut:


a. Concha Superior
b. ConchaMedialis
c. Concha Inferior
d. Septum nasi (sekat hidung)
Olfactory muscosa memiliki axon yang mampu melalui
bagian tengkorak yang permiable (cribriform plate) dan masuk ke
olfactory bulbs (saraf cranial yang pertama). Pada olfactory
bulbs, terjadi sinapsis dengan neuron yang menyampaikan pesan
secara menyebar ke olfactory paleocortex di lobus temporal
bagian medial melalui lateral olfactory tract. Dari olfactory
paleocortex, ada jejak saraf yang menuju medial dorsal nucleus
di thalamus dan kemudian menuju olfactory neocortex dibagian
depan frontal lobes, tepatnya pada permukaan inferior. Neuronneuron olfactory paleocortex yang lain akan menuju ke sistem
lymbic. Bila proyeksi neuron ke thalamic-neocortical bertugas
sebagai perantara kesadaran persepsi terhadap aroma, maka
proyeksi neuron ke sistem lymbic bertugas sebagai perantara
respon emosional terhadap aroma.

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Dari pembahasan tentang anatomi dan fisiologi sistem sensoris
tersebut , di ketahui dalam sistem sensoris di bahas tentang
panca indra atau lima indra di mana di jelaskan bagaimana
mekanisme kerja panca indra tersebut dan bagian-bagian organ
yang bersangkutaan, sistem sensoris meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.

Sistem
Sistem
Sistem
Sistem
Sistem

indra
indra
indra
indra
indra

penglihatan (mata)
pendengar (telinga)
pembau (hidung)
pengecap (lidah)
peraba (kulit)

Dalam sistem sensoris ini Indera Pendengar (Telinga)


merupakan alat pendengar dan alat keseimbangan. Telinga
terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan
rongga telinga dalam.
Indra penglihatan (mata) yaitu organ sensorik kompleks
yang mempunyai fungsi optikal untuk melihat dan saraf untuk
trandsuksi. Mata terdiri dari beberapa komponen utama, sebagai
berikut. Aqeuos humor, korpus siliais, bintik buta, fovea, iris,
kornea, koroid, lensa, ligamentum suspensorium, makula lutea,
neuron bipolar ,otot siliaris, pupil, retina, saraf optikus, sel
batang, sel ganglion, sel kerucut, sklera, vitreus humor.
Indera Peraba (Kulit) merupakan indra peraba, sebab
memiliki ujung-ujung saraf sensori sebagai reseptor khusus untuk
sentuhan, tekanan, temperature (panas dan dingin), serta rasa
sakit.
Indera Pengecap (Lidah) merupakan organ yang tersusun
atas otot. Prmukaan lidah banyak tonjolan kecil yang disebut
papilla lidah, memberi kesan lidah terkesan kasar. Pada papilla
lidah terdapat indra pengecap.
Indera

Pembau

(Hidung);

aktifnya

indra

pembau

di

rangsang oleh gas yang terhirup oleh hidung. Indra pembau


tersebut sangat peka dan kepekaannya mudah hilang jika di
hadapkan pada bau yang sama dalam jangka waktu yang lama.

B.

Saran
Adapun saran penulis kepada pembaca agar pembaca
dapat

mengetahui

bahwaAnatomi

Fisiologi Sensori

(Anatomi

Fisiologi Sistem Pengelihatan dan Pendengaran) sangat penting


bagi

kehidupan

kita,

dengan

adanya

panca

indra

kita

dimudahkan dalam menjaankan aktifitas kita. Selain dari pada


itu, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan karena
kami

masih

dalam

proses

pembelajaran.

Dan

yang

kami

harapkan dengan adanya makalah ini, dapat menjadi wacana


yang membuka pola pikir pembaca dan memberi saran yang
sifatnya tersirat maupun tersurat.

DAFTAR PUSTAKA

Bambang, dkk. 2006. Biologi untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta:


Penerbit Erlangga.
Syaifuddin, H. 2011. Anatomi Fisiologi untuk Keperawatan dan
Kebidanan. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tartowo, Ns, S.Kep, dkk. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Untuk


Mahasiswa

Keperawatan. Jakarta: CV. Trans Info Media.

http://bmaya11.blogspot.co.id/2013/10/sistem-sensori.html

https://akperkapuas.files.wordpress.com/2010/04/sistemsensorik.pdf

http://sidrapth.blogspot.co.id/2012/12/sistem-indra-padamanusia.html