Anda di halaman 1dari 484

DR. WIDYA | DR. YOLINA | DR. RETNO | DR.

ORYZA
DR. REZA | DR. RESTHIE | DR. CEMARA

OFFICE ADDRESS:
Jl padang no 5, manggarai, setiabudi, jakarta selatan Medan :
(belakang pasaraya manggarai) Jl. Setiabudi no. 65 G, medan
phone number : 021 8317064 Phone number : 061 8229229
pin BB D3506D3E / 5F35C3C2 Pin BB : 24BF7CD2
WA 081380385694 / 081314412212 Www.Optimaprep.Com
I L MU
P E N YA K I T
DALAM
1. Antidiabetic Drugs
2. Hipoglikemia
Hipoglikemia
menurunnya kadar glukosa
darah < 70 mg/dL dengan
atau tanpa gejala otonom
Whipple triad
Gejala hipoglikemia
Kadar glukosa darah rendah
Gejala berkurang dengan
pengobatan
Penurunan kesadaran pada
DM harus dipikirkan
hipoglikemia terutama yang
sedang dalam pengobatan
Konsensus Pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 2. PERKENI 2015
2. Hipoglikemia
Tanda Gejala
Autonomik Rasa lapar, berkeringat, gelisah, Pucat, takikardia, widened
paresthesia, palpitasi, Tremulousness pulse pressure
Neuroglikopenik Lemah, lesu, dizziness, pusing, Cortical-blindness,
confusion, perubahan sikap, gangguan hipotermia, kejang, koma
kognitif, pandangan kabur, diplopia

Probable hipoglikemia gejala hipoglikemia tanpa pemeriksaan


GDS
Hipoglikemia relatif GDS>70 mg/dL dengan gejala
hipoglikemia
Hipoglikemia asimtomatik GDS<70mg/dL tanpa gejala
hipoglikemia
Hipoglikemia simtomatik GDS<70mg/dL dengan gejala
hipoglikemia
Hipoglikemia berat pasien membutuhkan bantuan orang lain
untuk administrasi karbohidrat, glukagon, atau resusitasi lainnya
Konsensus Pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 2. PERKENI 2015
2. Hipoglikemia
Hipoglikemia ringan Hipoglikemia berat
Konsumsi makanan tinggi
karbohidrat Terdapat gejala
Gula murni
neuroglikopenik dextrose
Glukosa 15-20 g (2-3 sdm)
20% sebanyak 50 cc (jika
dilarutkan dalam air tidak ada bisa diberikan
Pemeriksaan glukosa darah dextrose 40% 25 cc), diikuti
dengan glukometer setelah infus D5% atau D10%
15 menit upaya terapi Periksa GD 15 menit, jika
Kadar gula darah normal, belum mencapai target
pasien diminta untuk makan dapat diulang
atau konsumsi snack untuk
mencegah berulangnya Monitoring GD tiap 1-2 jam
hipoglikemia.

Konsensus Pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 2. PERKENI 2015


3. Ketoasidosis Diabetik
Pencetus KAD:
Insulin tidak
adekuat
Infeksi
Infark

Diagnosis KAD:
Kadar glukosa 250
mg/dL
pH <7,35
HCO3 rendah
Anion gap tinggi
Keton serum (+)
Harrisons principles of internal medicine
3. Ketoasidosis Diabetik

American Diabetes Association. Hyperglycemic Crises in Patients With Diabetes Mellitus.


Diabetes care, Vol 24, No 1, January 2001
3. Diabetes Mellitus
Prinsip pengobatan KAD:
1. Penggantian cairan dan garam yang hilang
2. Menekan lipolisis & glukoneogenesis dengan
pemberian insulin. Dimulai setelah diagnosis
KAD dan rehidrasi yang memadai.
3. Mengatasi stres pencetus KAD
4. Mengembalikan keadaan fisiologi normal,
pemantauan & penyesuaian terapi

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam


4. Atelektasis

Keadaan alveoli paru sebagian / seluruhnya tidak


terisi udara / kolaps, akibat hambatan aliran udara
yang melewati bronkhus dan percabangannya.
4. Etiologi
Atelektasis
1. Penyebab intrinsik
- Sumbatan dalam lumen
bronkhus
2. Penyebab Ekstrinsik
- Penekanan bronkhus dari luar
lumen
-Tekanan Ekstra Pulmonal
- Paralisis gerakan pernapasan
-Hambatan gerakan pernapasan
4. Pemeriksaan Fisik Atelektasis
Inspeksi : Gerak napas tertinggal,
ICS menyempit ( di sisi yang
mengalami atelektasis )
Palpasi : Gerak napas tertinggal,
Fremitus raba menurun, ICS
menyempit ( di sisi atelektasis )
Perkusi : Redup atau normal , bila
terjadi emphysema
kompensata ( batas
mediastinum bergeser ke sisi
atelektasis ), letak diafragma di
sisi atelektasis meninggi .
Auskultasi : Suara napas & Suara
percakapan menurun ( di sisi
atelektasis )
5. Thyroid Disease
Waynes Index
Skor > 19:
hipertiroidisme.
Skor < 11:
eutiroidism.
Skor antara 11-19:
equivocal
5. Thyroid Disease
Billewicz Index:
A score > 25:
hypothyroidism.
A score < - 30:
Exclude
hypothyrodism
6. Penyakit Endokrin
Hipertiroidisme

Kumar and Clark Clinical Medicine


20.
Radioactive Iodine
6. Penyakit Endokrin
7. Penyakit Paru
Definisi PPOK
Ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel
Bersifat progresif & berhubungan dengan respons inflamasi paru terhadap
partikel atau gas yang beracun/berbahaya
Disertai efek ekstraparu yang berkontribusi terhadap derajat penyakit

Karakteristik hambatan aliran udara pada PPOK disebabkan oleh gabungan


antara obstruksi saluran napas kecil (obstruksi bronkiolitis) & obstruksi
parenkim (emfisema) yang bervariasi pada setiap individu.

Bronkitis kronik & emfisema tidak dimasukkan definisi PPOK karena:


Emfisema merupakan diagnosis patologi (pembesaran jalan napas distal)
Bronkitis kronik merupakan diagnosis klinis (batuk berdahak selama 3 bulan
berturut-turut, dalam 2 tahun)
7. Penyakit Paru
A. Gambaran Klinis PPOK
a. Anamnesis
- Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan
- Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja
- Riwayat penyakit emfisema pada keluarga
- Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak, mis berat badan lahir rendah (BBLR), infeksi
saluran napas berulang, lingkungan asap rokok dan polusi udara
- Batuk berulang dengan atau tanpa dahak
- Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi

b. Pemeriksaan fisis (PPOK dini umumnya tidak ada kelainan)


Inspeksi
- Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu)
- Barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal sebanding)
- Penggunaan otot bantu napas
- Hipertropi otot bantu napas
- Pelebaran sela iga
- Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis di leher dan edema tungkai

1. PPOK: diagnosis dan penatalaksanaan. PDPI 2011


7. Penyakit Paru
Pemeriksaan fisis PPOK
Palpasi: pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar

Perkusi: pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil,


letak diafragma rendah, hepar terdorong ke bawah

Auskultasi
- suara napas vesikuler normal, atau melemah
- terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau
pada ekspirasi paksa
- ekspirasi memanjang
- bunyi jantung terdengar jauh, gagal jantung kanan terlihat denyut
vena jugularis di leher dan edema tungkai

1. PPOK: diagnosis dan penatalaksanaan. PDPI 2011


7. Penyakit Paru

Spirometri penyakit
obstruktif paru:
Forced expiratory volume/FEV1
Vital capacity
Hiperinflasi mengakibatkan:
Residual volume Normal COPD

Functional residual
Nilaicapacity
FEV1 pascabronkodilator
<80% prediksi memastikan ada
hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel.
1. Color Atlas of Patophysiology. 1st ed. Thieme: 2000.
2. Current Diagnosis & Treatment in Pulmonary Medicine. Lange: 2003.
3. Murray & Nadels Textbook of respiratory medicine. 4th ed. Elsevier: 2005.
4. PPOK: diagnosis dan penatalaksanaan. PDPI 2011
7. Penyakit Paru
Radiologi PPOK:
Pada emfisema terlihat:
Hiperinflasi
Hiperlusen
Ruang retrosternal melebar
Diafragma mendatar
Jantung menggantung (jantung pendulum)
Pada bronkitis kronik:
Normal
Corakan bronkovaskular bertambah pada 21% kasus.
PPOK (klasifikasi)
Dalam penilaian derajat PPOK diperlukan beberapa penilaian
seperti
Penilaian gejala dengan menggunakan kuesioner COPD
Assesment Test (CAT) serta The modified British Medical
Research Council (mMRC) untuk menilai sesak nafas;
Penilaian derajat keterbatasan aliran udara dengan
spirometri
GOLD 1: Ringan: FEV1 >80% prediksi
GOLD 2: Sedang: 50% < FEV1 < 80% prediksi
GOLD 3: Berat: 30% < FEV1 < 50% prediksi
GOLD 4: Sangat Berat: FEV1 <30% prediksi
Penilaian risiko eksaserbasi
Klasifikasi PPOK
Kategor Karakteri Spirome Eksaserbasi CAT mMRC
i stik tri per tahun

A Risiko GOLD 1- < 1 kali < 10 0-1


rendah 2
Gejala
minimal
B Risiko GOLD 1- < 1 kali > 10 >2
rendah 2
Gejala
banyak
C Risiko GOLD 3- > 2 kali < 10 0-1
tinggi 4
Gejala
minimal
D Risiko GOLD 3- > 2 kali > 10 >2
tinggi 4
Gejala
banyak
Terapi PPOK Sesuai Kelompok Pasien
Patient First Choice Alternative Choice Other Possible Treatments
Group

A Short acting (SA) Long acting (LA) anticholinergik Theophylline


anticholinergic or
or LA beta2-agonist
SA beta2-agonist or
SA beta agonis and SA anticholinergik
B LA anticholinergic LA anticholinergic and LA beta 2-agonist SA beta2-agonist and/or
or SA anticholinergic
LA beta2-agonist
Theophylline
C ICS + LA beta2-agonist LA anticholinergic and LA beta 2-agonist SA beta2-agonist and/or
or or SA anticholinergic
LA anticholinergic LA anticholinergic and PDE-4 inhibitor
or Theophylline
LA beta2-agonist and PDE-4 inhibitor

D ICS + LA beta 2-agonist and/or ICS + LA beta2-agonist and LA Carbocysteine


LA anticholinergic anticholinergic
or N-acetylcysteine
ICS + LA beta2-agonist and PDE-4 inhibitor
or SA beta2-agonist and/or
LA anticholinergic and LA beta 2-agonist SA anticholinergic
or
LA anticholinergic and PDE-4 inhibitor Theophylline
8-9. Tuberkulosis
Penyakit infeksi yang di sebabkan oleh
mycrobacterium tubercolosis dengan gejala
yang sangat bervariasi
Kuman TB berbentuk batang, memiliki sifat
tahan asam terhadap pewarnaan Ziehl
Neelsen sehingga dinamakan Basil Tahan
Asam (BTA).
Tanda dan Gejala
1. Gejala lokal/ gejala respiratorik
batuk - batuk > 2 minggu
batuk darah
sesak napas
nyeri dada
2. Gejala sistemik
Demam
Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam,
anoreksia, berat badan menurun
Pemeriksaan fisik
Pada TB paru tergantung luas kelainan struktur paru.
Umumnya terletak di daerah lobus superior terutama
daerah apex dan segmen posterior , serta daerah apex
lobus inferior. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan
antara lain suara napas bronkial, amforik, suara napas
melemah, ronki basah.
Pleuritis TB kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari
banyaknya cairan di rongga pleura. Pada perkusi
ditemukan pekak, pada auskultasi suara napas yang
melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat
cairan.
Pada limfadenitis TB terlihat pembesaran kelenjar getah
bening, tersering di daerah leher (pikirkan kemungkinan
metastasis tumor), kadang-kadang di daerah axila
Pemeriksaan Sputum BTA
Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak
dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu - pagi -
sewaktu (SPS).
Cara pengambilan dahak 3 kali, setiap pagi 3 hari
berturut-turut atau dengan cara:
Sewaktu/spot (dahak sewaktu saat kunjungan)
Pagi ( keesokan harinya )
Sewaktu/spot ( pada saat mengantarkan
dahak pagi)
Pembagian kasus TB
a. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT
atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
b. Kasus kambuh (relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan
lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak
BTA positif atau biakan positif. Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi
gambaran radiologik dicurigai lesi aktif / perburukan dan terdapat gejala
klinis maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan :
Infeksi non TB (pneumonia, bronkiektasis dll) Dalam hal ini berikan
dahulu antibiotik selama 2 minggu, kemudian dievaluasi.
Infeksi jamur
TB paru kambuh
c. Kasus defaulted atau drop out
Adalah pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan
berturut-turut atau lebih sebelum masa
pengobatannya selesai.
d. Kasus gagal
Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif
atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5
(satu bulan sebelum akhir pengobatan)
Adalah pasien dengan hasil BTA negatif gambaran
radiologik positif menjadi BTA positif pada akhir
bulan ke-2 pengobatan
e. Kasus kronik / persisten
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih
positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2
dengan pengawasan yang baik
8-9. Tuberkulosis
OAT kategori-1: 2(HRZE) / 4(HR)3
Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis.
Pasien TB paru terdiagnosis klinis
Pasien TB ekstra paru

Kategori -2: 2(HRZE)S / (HRZE) / 5(HR)3E3)


Pasien kambuh
Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT kategori 1
sebelumnya
Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up)

Pemberian sisipan tidak diperlukan lagi pada pedoman TB terbaru.

Pedoman nasional pengendalian tuberkulosis. 2014.


8-9. Tuberkulosis

Pedoman nasional pengendalian tuberkulosis. 2014.


8-9. Tuberkulosis

Pedoman nasional pengendalian tuberkulosis. 2014.


Obat Anti Tuberkulosis
Tuberkulosis

Pedoman nasional pengendalian tuberkulosis. 2014.


10. Efusi Pleura
10. Efusi Pleura
Perbedaan eksudat
dengan transudat
Tes rivalta: prinsipnya,
cairan yang mengandung
protein akan mengendap
pada pH 4-5
Transudat Eksudat

Rivalta - +

Kriteria light - +
1/lebih:
LDH cairan pleura/LDHserum >0,6
LDH cairan >2/3 LDH serum
Protein pleura/Protein serum >0,5
10. Efusi Pleura

Volume cairan pleura normal


< 30 mL

Terbentuk dari ultrafiltrasi


plasma dari kapiler di pleura
viseral

Fungsi: meminimalkan
gesekan antar-pleura

1.Strasinger SK, Di Lorenzo MS. Serous fluid. Urinalysis and body fluids. 5th ed. Philadelphia: F.A. Davis Company; 2008. p.221-32.
2.Light RW. Physiology of the pleural space. In: Light RW, ed. Pleural diseases. 6th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2013:8-17.
3.Mundt LA, Shanahan K. Serous body fluid. Graffs Text book of urinalysis and body fluids. 2nd ed. Philadelphia: Lippincott Willams & Wilkins; 2011. p.241-52.
10. Efusi Pleura
Tekanan hidrostatik kapiler
mendorong cairan ke
ekstravaskular

Permeabilitas kapiler menjaga


keseimbangan pertukaran zat
intra-ekstavaskular

Tekanan onkotik menjaga


cairan tetap di dalam
intravaskular

Saluran limfatik, tempat aliran


molekul besar yang tidak bisa
masuk ke kapiler 1.Strasinger SK, Di Loren zo MS. Serous flu id. Urinalysis and body fluids. 5th ed. Ph iladelphia:
F.A. Davis Company; 2008. p.221-32.
2.Light RW. Physiology of the pleural space. In: Light RW, ed. Pleural diseases. 6th ed.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2013:8-17.
10. Efusi Pleura
Tekanan hidrostatik kapiler
Contoh: CHF

Permeabilitas kapiler
Contoh: inflamasi/infeksi

Aliran Limfatik
Contoh: obstruksi (keganasan),
destruksi (radioterapi)

Tekanan onkotik
Contoh: hipoalbuminemia

1.Strasinger SK, Di Lorenzo MS. Serous fluid. Urinalysis and body fluids. 5th ed. Philadelphia: F.A. Davis Company; 2008. p.221-32.
2.Light RW. Physiology of the pleural space. In: Light RW, ed. Pleural diseases. 6th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2013:8-17..
10. Efusi Pleura
10. Efusi Pleura
10. Efusi Pleura

Classical radiologic signs are consistent with a dependent opacity with lateral upward sloping of a
meniscus-shaped contour. The diaphragmatic contour is partially or completely obliterated, depending
on the amount of collected fluid (silhouette sign). In case of massive effusion, all the hemi -thorax can be
filled and mediastinum can be shifted contra laterally.
10. Efusi Pleura

Garis Ellis-Damoiseau garis lengkung konveks dengan puncak pada


garis aksilaris media
Segitiga Garland daerah timpani yang dibatasi vertebrae torakalis,
garis Ellis-Damoiseau dan garis horizontal yang melalui puncak cairan
Segitiga Grocco daerah redup kontralateral yang dibatasi garis
vertebrae, perpanjangan garis Ellis-Damoiseau ke kontralateral dan
batas paru belakang
11. Intoksikasi opioid
Opiat memiliki kemampuan untuk menstimulasi
SSP melalui aktivasi reseptornya yang akan
menyebabkan edek sedasi dan depresi nafas.
Kematian umumnya terjadi karena henti nafas,
masuknya cairan lambung ke paru, reaksi edema
pulmoner yang akut.
Dosis toksik akan menyebabkan penurunan
kesadaran, koma, pupil yang pinpoint, depresi
nafas, sianosis, nadi lemah, hipotensi, spasme
saluran cerna dan bilier, edema paru, dan kejang
11. Intoksikasi opioid
Kematian karena gagal nadas dapat terjadi dalam
2-4 jam pemakaian oral atau subkutan,
pemakaian intravena berlangsung lebih cepat
lagi.
Klinis overdosis opiat ialah penurunan kesadaran
disertai dengan salah satu dari:
Frekuensi pernafasan <12 kali/menit
Pupil miosis (pinpoint), kecuali jika bersamaan
memakai golongan amphetamin pupil dapat normal.
Adanya riwayat pemakaian morfin/heroin/terdapat
needle track sign.
Tatalaksana Intoksikasi Opiod
Ventilasi oksigen jika ventilasi kurang adekuat
Pemberian nalokson
12. Vitamin C Deficiency
Scurvy is a state of dietary deficiency of vitamin C
(ascorbic acid).
Symptoms and signs of scurvy may be
remembered by the 4 Hs: hemorrhage,
hyperkeratosis, hypochondriasis, and
hematologic abnormalities.
Skin changes with roughness, easy bruising and
petechiae, gum disease, loosening of teeth, poor
wound healing, and emotional changes
12. Vitamin C Deficiency
Vitamin C is functionally most relevant for the
triple-helix formation of collagen
Vitamin C deficiency results in impaired collagen
synthesis.
The typical pathologic manifestations of vitamin C
deficiency, including poor wound healing, are
noted in collagen-containing tissues and in organs
and tissues such as skin, cartilage, dentine,
osteoid, and capillary blood vessels.
13. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
13. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Rute infeksi saluran kemih:
Ascending
kolonisasi uretra, lalu infeksi menyebar ke atas
Hematogen
bakteri ke ginjal berasal dari bakteremia
Limfogen
dari abses retroperitoneal atau infeksi intestin
13. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
13. Infeksi Saluran Kemih
Pielonefritis
Inflamasi pada ginjal & pelvis renalis
Demam, menggigil, mual, muntah, nyeri pinggang, diare,
Lab: silinder leukosit, hematuria, pyuria, bakteriuria, leukosit
esterase +.
Sistitis:
Inflamasi pada kandung kemih
Disuria, frekuensi, urgensi, nyeri suprapubik, urin berbau,
Lab: pyuria, hematuria, leukosit esterase (+) nitrit +/-.
Urethritis:
Inflammation pada uretra
Disuria, frekuensi, pyuria, duh tubuh.
Lab: pyuria, hematuria, leukosit esterase (+), nitrit (-).
13. Infeksi Saluran Kemih
Escherichia coli is by far the most frequent cause
of uncomplicated community-acquired UTIs.

Other bacteria frequently isolated from patients


with UTIs are:
Klebsiella spp.,
other Enterobacteriaceae,
Staphylococcus saprophyticus, and
enterococci.
13. Tatalaksana Sistitis Akut
Guideline IDSA/EAU
Recommended:
Nitrofurantoin
Trimetoprim-
Sulfametoksazole
Fosfomycin trometamol
Pivmecillinam

Amoxicillin or ampicillin
should not be used for
empirical treatment given
the relatively poor efficacy
13. Tatalaksana Sistitis Akut
Berdasarkan pedoman IAUI
Antibiotik pilihan pada terapi sistitis akut
adalah:
Nitrofurantoin, cephalosporin generasi ke 2 dan 3,
fluoroquinolone, Aminopenisilin + BLO (beta
lactamase inhibitor)
13. Tatalaksana Sistitis Akut
Pada soal tersebut pasien masih termasuk sistitis
akut tanpa komplikasi sehingga cukup diberikan
obat oral
Cefadroxil cephalosporin generasi 1
Amoksisilin tidak direkomendasikan
Cefotaksim sediaan IV
Ceftriakson sediaan IV
Sehingga jawaban paling tepat adalah Cefixime
yang merupakan obat cephalosporin oral
generasi ke-3
14. Hypersensitivity Reaction
14. Hypersensitivity Reaction
14. Anaphylactic
Shock

World Allergy Organization


anaphylaxis guidelines:
Summary
14. Anaphylactic
Shock

World Allergy Organization


anaphylaxis guidelines:
Summary
15. HIV/AIDS
15. HIV/AIDS
Guidelines HIV WHO (2013)

Pedoman terbaru 2013 merekomendasikan terapi ARV


jika CD4 <500 sel/mm3
Pemeriksaan HIV Pedoman 2011
Ketiga tes tersebut dapat
menggunakan reagen tes cepat atau
dengan ELISA.
Untuk pemeriksaan pertama (A1)
harus digunakan tes dengan
sensitifitas yang tinggi (>99%),
Pemeriksaan selanjutnya (A2 dan
A3) menggunakan tes dengan
spesifisitas tinggi (>99%).
Ketiga tes tersebut dapat menggunakan
reagen tes cepat atau dengan ELISA.
Untuk pemeriksaan pertama (A1) harus
digunakan tes dengan sensitifitas yang tinggi
(>99%),
Pemeriksaan selanjutnya (A2 dan A3)
menggunakan tes dengan spesifisitas tinggi
(>99%).
16. HEPATITIS VIRUS
HBsAg (the virus coat, s= surface)
the earliest serological marker in the serum.
HBeAg
Degradation product of HBcAg.
It is a marker for replicating HBV.
HBcAg (c = core)
found in the nuclei of the hepatocytes.
not present in the serum in its free form.
Anti-HBs
Sufficiently high titres of antibodies ensure
imunity.
Anti-Hbe
suggests cessation of infectivity.
Anti-HBc
the earliest immunological response to HBV
detectable even during serological gap.

Principle & practice of hepatology.


16. Hepatitis B clinical course
16. Hepatitis
Incubation periods for hepatitis A range from 1545 days (mean, 4 weeks), for
hepatitis B and D from 30180 days (mean, 812 weeks), for hepatitis C from 15
160 days (mean, 7 weeks), and for hepatitis E from 1460 days (mean, 56 weeks).

The prodromal symptoms


Constitutional symptoms of anorexia, nausea and vomiting, fatigue, malaise, arthralgias,
myalgias, headache, photophobia, pharyngitis, cough, and coryza may precede the onset of
jaundice by 12 weeks.
Dark urine and clay-colored stools may be noticed by the patient from 15 days before the
onset of clinical jaundice.

The clinical jaundice


The constitutional prodromal symptoms usually diminish.
The liver becomes enlarged and tender and may be associated with right upper quadrant pain
and discomfort. Spleen may enlarge.

During the recovery phase, constitutional symptoms disappear, but usually some
liver enlargement and abnormalities in liver biochemical tests are still evident.
Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. 2011.
16. Hepatitis
17. Colorectal Cancer
Colorectal cancers occur at a mean age of 69.
Risk factor:
high animal fat diet, hereditary polyposis, IBD.
Symptoms vary with anatomic locations:
Stool is relatively liquid as it passes through the right
colon no obvious obstructive symptoms or
noticeable alterations in bowel habits.
Lesions of the right colon commonly ulcerate, leading
to chronic, insidious blood loss without a change in
the appearance of the stool anemia of iron
deficiency fatigue, palpitations, & even angina
pectoris.
Harrisons principles of internal medicine.
Current diagnosis & treatment in gastroenterology
17. Colorectal Cancer
Symptoms:
Since stool becomes more
formed as it passes into the
transverse & descending
colon, tumors arising there
tend to impede the passage
of stool, resulting in the
development of abdominal
cramping, occasional
obstruction, & even
perforation. Radiographs of
the abdomen often reveal
characteristic annular,
constricting lesions ("apple-
core" or "napkin-ring")

Harrisons principles of internal medicine.


Current diagnosis & treatment in gastroenterology
17. Colorectal Cancer
Symptoms:
Cancers arising in the rectosigmoid are often associated
with hematochezia, tenesmus, & narrowing of the caliber
of stool; anemia is an infrequent finding
Prompt diagnostic evaluation should be undertaken
endoscopically or radiographically.
The U.S. Preventive Services Task Force recommends
colorectal cancer screening for men and women aged
5075 using
High-sensitivity fecal occult blood testing
Sigmoidoscopy or colonoscopy

Harrisons principles of internal medicine.


Current diagnosis & treatment in gastroenterology
Modalities for detecting
colorectal cancer:
A: Colonoscopic view of
cancer of the ascending
colon. Cancer is seen
infiltrating a colonic fold
and growing
semicircumferentially
and into the lumen.
B: Air contrast barium
enema demonstrating
cancer similar to that
seen in A.
C: Constricting apple
corelesion of the left
colon seen on full
column barium enema.

Harrisons principles of internal medicine.


Current diagnosis & treatment in gastroenterology
17. Colorectal Cancer
18. Angina Pektoris Stabil
Nyeri dada muncul saat aktivitas, stres emosional
Nyeri dada hilang dengan istirahat atau nitrogliserin
Nyeri dada muncul <20 menit.
Disebabkan oleh obstruksi pada arterikoroner
epikardial akibat aterosklerosis.
Diagnosis
Stress test
Angiografi dan revaskularisasi koroner
Jika angina mengganggu aktivitas pasien walaupun dengan terapi
yang maksimal.
Pasien dengan risiko tinggi.
19. Sindrom Koroner Akut
Lilly LS. Pathophysiology of heart disease. 5th ed. Lipincott Williams & Wilkins; 2011.
19. ACS
19. ACS
20. Dislipidemia

Dislipidemia adalah kelainan metabolisme


lipid yang ditandai dengan peningkatan
maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma.
Rumus Friedewald.
= /5
20. Dislipidemia
p
20. Dislipidemia
20. Dislipidemia
21. JNC VIII
21. Hipertensi

Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
22. Leukemia
CLL CML ALL AML
The bone marrow makes abnormal leukocyte dont die when they
should crowd out normal leukocytes, erythrocytes, & platelets. This
makes it hard for normal blood cells to do their work.
Prevalence Over 55 y.o. Mainly adults Common in Adults &
children children
Symptoms & Grows slowly may Grows quickly feel sick & go to
Signs asymptomatic, the disease is found their doctor.
during a routine test.
Fever, swollen lymph nodes, frequent infection, weak,
bleeding/bruising easily, hepatomegaly/splenomegaly, weight loss,
bone pain.
Lab Mature Mature granulocyte, Lymphoblas Myeloblast
lymphocyte, dominant myelocyte t >20% >20%, aeur rod
smudge cells & segment may (+)
Therapy Can be delayed if asymptomatic Treated right away
CDC.gov
Sel blas dengan Auer rod pada leukemia Leukemia mielositik kronik
mieloblastik akut

Limfosit matur & smudge cell


Sel blas pada leukemia limfoblastik akut
pada leukemia limfositik kronik
23. Scurvy
Scurvy is a state of dietary deficiency of vitamin C
(ascorbic acid).
Symptoms and signs of scurvy may be remembered by
the 4 Hs: hemorrhage, hyperkeratosis,
hypochondriasis, and hematologic abnormalities.
Clinical sign:
Petechial haemorrhage at the hair follicles
Purpura on the back of the lower extremities that coalesce
to form ecchymoses.
gum disease, loosening of teeth, poor wound healing, and
emotional changes.
23. Vitamin C Deficiency
Vitamin C is functionally most relevant for the
triple-helix formation of collagen
Vitamin C deficiency results in impaired collagen
synthesis.
The typical pathologic manifestations of vitamin C
deficiency, including poor wound healing, are
noted in collagen-containing tissues and in organs
and tissues such as skin, cartilage, dentine,
osteoid, and capillary blood vessels.
Deficiency vitamin C prevents healing of rupture
capillaries haemorrhage manifestation
24. Kaki Diabetik
24. Kaki Diabetik

Pada soal terdapat udara (gas forming) sehingga pilihan terapi adalah beta
lactam+beta lactamase atau karbapenem atau sefalosporin generasi 2/3 +
klindamisin atau metronidazole
Metronidazole diberikan jika terdapat odor atau bau pada luka
Kaki Diabetik
Metabolic control pengendalian gula darah, lipid,
albumin, hemoglobin, dsb
Vascular control perbaikan asupan vaskular (dengan
operasi atau angioplasti terutama pada ulkus iskemik)
Infection control pengobatan infeksi agresif
Wound control konsep TIME (Tissue debridement,
Inflammation and infection control, Moisture balance,
Epithelial edge advancement)
Pressure control mengurangi tekanan kaki,
pembuangan kalus, sepatu ukuran yang sesuai
Education control edukasi perawatan kaki mandiri
25. Hepatologi
Sirosis hepatis adalah stadium akhir fibrosis
hepatik progresif ditandai dengan distorsi
arsitektur hepar dan pembentukan nodul
regeneratif.
Terjadi akibat nekrosis hepatoseluler
Sirosis hati kompensatabelum ada gejala klinis
Sirosis hati dekompensata gejala klinis yang jelas
Etiologialkohol, hepatitis, biliaris, kardiak,
metabolik, keturunan, obat
Di Indonesia, 40-50% disebabkan oleh hepatitis B

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam


25. Hepatologi
26. Leukemia
CLL CML ALL AML
The bone marrow makes abnormal leukocyte dont die when they
should crowd out normal leukocytes, erythrocytes, & platelets. This
makes it hard for normal blood cells to do their work.
Prevalence Over 55 y.o. Mainly adults Common in Adults &
children children
Symptoms & Grows slowly may Grows quickly feel sick & go to
Signs asymptomatic, the disease is found their doctor.
during a routine test.
Fever, swollen lymph nodes, frequent infection, weak,
bleeding/bruising easily, hepatomegaly/splenomegaly, weight loss,
bone pain.
Lab Mature Mature granulocyte, Lymphoblas Myeloblast
lymphocyte, dominant myelocyte t >20% >20%, aeur rod
smudge cells & segment may (+)
Therapy Can be delayed if asymptomatic Treated right away
CDC.gov
Sel blas dengan Auer rod pada leukemia Leukemia mielositik kronik
mieloblastik akut

Limfosit matur & smudge cell


Sel blas pada leukemia limfoblastik akut
pada leukemia limfositik kronik
27. Anemia
MCV & MCH

GDT

Besi serum

Besi serum Besi serum N/ Besi serum

Besi sumsum tulang Pemeriksaan Hb F/A2 Kadar ferritin

Ferritin Ferritin N/

Anemia sideroblastik Talasemia, Kelainan Hb Defisiensi besi penyakit kronik


27. Anemia
27. Anemia

Hoffbrand essential hematology.


27. Anemia

Harrisons principles of internal medicine.


28. Dengue Fever
Transfusi trombosit:
Hanya diberikan pada
DBD dengan
perdarahan masif (4-5
ml/kgBB/jam) dengan
jumlah trombosit
<100.000/uL, dengan
atau tanpa DIC.
Pasien DBD
trombositopenia tanpa
perdarahan masif tidak
diberikan transfusi
trombosit.
28. Infeksi Dengue

Shock
Bleeding
Primary infection: Secondary infection:
IgM: detectable by days 35 after the onset of IgG: detectable at high levels in the initial phase,
illness, by about 2 weeks & undetectable after persist from several months to a lifelong period.
23 months.
IgG: detectable at low level by the end of the first IgM: significantly lower in secondary infection
week & remain for a longer period (for many cases.
years).
29. Hiperkalemia
29.
Hiperkalemia
Kalium > 5,5 mmol/L
Penurunan eksresi kalium
pada pasien CKD
Tanda dan gejala:
iritabilitas otot dan saraf,
takikardia, diare,
perubahan EKG, aritmia
jantung, paralisis
30. Demam rematik
Penyakit sistemik yang terjadi setelah faringitis akibat
GABHS (Streptococcus pyogenes)
Usia rerata penderita: 10 tahun
Komplikasi: penyakit jantung reumatik
Demam rematik terjadi pada sedikit kasus faringitis
GABHS setelah 1-5 minggu
Pengobatan:
Pencegahan dalam kasus faringitis GABHS: penisilin/
ampisilin/ amoksisilin/ eritromisin/ sefalosporin generasi I
Dalam kasus demam rematik:
Antibiotik: penisilin/eritromisin
Antiinflamasi: aspirin/kortikosteroid
Untuk kasus korea: fenobarbital/haloperidol/klorpromazin
Chin TK. Pediatric rheumatic fever. http://emedicine.medscape.com/article/1007946-overview
Behrman RE. Nelsons textbook of pediatrics, 19th ed. McGraw-Hill; 2011.
30. Demam rematik
Sekuelae demam
reumatik akut yang
tidak di-tx adekuat
Manifestasi 10-30 th
pasca DRA
Penyakit jantung
katup
MS: fusi komisura
fish mouth
AI + MS
AS + AI + MS
Source: Valvular Heart Disease. Lilly LS. Pathophysiology of Heart Disease. 4th ed. 2007.
Sabatine MS. Pocket Medicine. 4th ed. 2011.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium menentukan ada tidaknya reuma aktif/reaktivasi.
EKG
Pada insufisiensi mitral yang ringan: Hanya terlihat gambaran P mitral dengan aksis
dan kompleks QRS yang masih normal. Pada tahap lanjut terlihat aksis yang
bergeser ke kiri dan disertai hipertrofi ventrikel kiri.

Foto toraks
Kasus ringan tanpa gangguan hemodinamik yang nyata, besar jantung biasanya
normal.
Keadaan lebih berat: Terlihat pembesaran atrium kiri dan ventrikel kiri, serta
mungkin tanda-tanda bendungan paru. Kadang-kadang terlihat perkapuran pada
anulus mitral.

Fonokardiografi: Mencatat konfirmasi bising dan mencatat adanya bunyi jantung ketiga
pada insufisiensi mitral sedang sampai berat.

Ekokardiografi
Mengevaluasi gerakan katup, ketebalan, serta adanya perkapuran pada mitral.
Ekokardiografi Doppler dapat menilai derajat regurgitasi.
31. IBS
Irritable Bowel Syndrome (IBS) kelainan
fungsional usus kronik berulang dengan nyeri
atau rasa tidak nyaman pada abdomen yang
berkaitan dengan defekasi atau perubahan
kebiasaan buang air besar setidaknya selama 3
bulan.
Rasa kembung, distensi, dan gangguan
defekasi merupakan ciri-ciri umum dari IBS.
Tidak ada bukti kelainan organik.

Konsensus IBS. Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia. 2013


31. IBS
Menurut kriteria Roma III, IBS dibagi menjadi 3 subkelas yaitu:
IBS dengan diare (IBD-D):
Feses lembek/cair 25% waktu dan feses padat/bergumpal <25% waktu
Ditemukan pada sepertiga kasus
Lebih umum ditemui pada laki-laki
IBS dengan konstipasi (IBS-C):
Feses padat/bergumpal 25% waktu dan feses lembek/cair <25% waktu
Ditemukan pada sepertiga kasus
Lebih umum ditemui pada wanita
IBS dengan campuran kebiasaan buang air besar atau pola siklik
(IBS-M)
Feses padat/bergumpal dan lembek/cair 25% waktu
Ditemukan pada sepertiga kasus
Catatan : yang dimaksud dengan 25% waktu adalah 3 minggu
dalam 3 bulan.

Konsensus IBS. Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia. 2013


31. IBS
Kriteria diagnostik
Nyeri abdomen atau rasa tidak nyaman berulang
selama 3 hari dalam sebulan pada 3 bulan
terakhir dengan 2 atau lebih gejala berikut
Perbaikan dengan defekasi
Onset terkait dengan perubahan frekuensi BAB
Onset terkait dengan perubahan bentuk dan tampilan
feses
Kriteria diagnostik terpenuhi selama 3 bulan
terakhir dengan onset gejala setidaknya 6 bulan.

Konsensus IBS. Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia. 2013


Tatalaksana IBS
Non farmakologi
IBS tipe konstipasi diet tinggi serat
IBS tipe diare membatasi makanan yang
mencetuskan gejala
Farmakologi
IBS-C bulking agent, laksatif, antagonis reseptor
5HT3 (prucalopride), aktivator kanal klorida C2 selektif
(lubiprostone)
IBS-D antidiare (loperamide), antagonis reseptor
5HT3, antidepresan
Nyeri, kembung dan distensi antispasmodik,
antibiotik (rifaximin), probiotik, antidepresan

Konsensus IBS. Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia. 2013


32. Lobus hepar

Pada tampakan anterior, yang mungkin teraba adalah lobus hepar kanan dan
kiri
Lobus caudatus dan quadratus pada tampakan posterior
hepar
33. Fisiologi absorbsi Fe
pH asam
meningkatkan
absorbsi besi dengan
membantu mereduksi
Fe3+ menjadi Fe2+
Antasida, phytate,
tannin menghambat
absorbsi besi
Askorbat, sitrat, asam
amino memfasilitasi
absorbsi besi
34. SLE
Merupakan penyakit inflamasi autoimun
kronis peradangan pada kulit, sendi, ginjal,
paru-paru, sistem saraf dan organ tubuh
lainnya
FAKTOR RESIKO
Kebanyakan mengenai
wanita : pria 9-14:1
usia reproduksi, 20 sampai 30 tahun
kelompok kulit hitam dan Asia.
ETIOLOGI
Faktor genetik
imunologik
hormonal serta
lingkungan

pemicu kacaunya sistem toleransi


imunologis sehingga respon imun melawan
antigen diri sendiri.
PATOFISIOLOGI

(Mok CC, Lau C S. Pathogenesis of systemic lupus erythematosus. J


Clin Pathol. 2003)
TANDA DAN GEJALA
Kompleks imun beredar dan menimbulkan kerusakan pada berbagai
target organ:
Muskuloskeletal: sering dijumpai nyeri pada sendi,
Kulit : reaksi fotosensitifitas, diskoid LE, subacute cutaneus lupus
erythematosus, lupus profundus, telangiektasia, fenomena raynaud.
Paru : pneumonitis lupus dengan gejala sesak, batuk kering, ronki di
basal
Kardiologi : perikarditis, miokarditis, lesi katup endokarditis Libman-
Sacks dan penyakit jantung koroner.
Renal : kerusakan ginjal disertai proteinuria.
Gastrointestinal : gejalanya tidak khas ; dispepsia, vaskulitis mesentrik
dapat menyebabkan perforasi, IBD, pankreatitis, hepatomegali.
Neuropsikiatri : masih belum diketahui dengan pasti; mikroinfark
serebral
Hemik-limfatik: limfadenopati splenonegali, anemia.
Diagnosis
(Diagnosis harus memenuhi 4 dari 11 kriteria)
TATALAKSANA
Tatalaksana Umum
Pilar pengobatan lupus eritematosus sistemik
Edukasi dan konseling
Program rehabilitasi
Pengobatan medikamentosa
Algoritma pengobatan penyakit Lupus

TR: tidak respon, RS: respon sebagian, RP: respon penuh


KS: kortikosteroid, MP: metilprednisolon, AZA: azatioprin, OAIN S: obat
antiinflamasi steroid, CYC: siklofosfam id, NPSLE: neuropsikiatri SLE.
(Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Rekomendasi Perhimpunan
Reumatologi Indonesia Un tuk Diagnosis dan Pengelolaan Lupus Eritematosus
Sistemik. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.2011.)
Pemberian Kortikosteroid
Dosis rendah sampai sedang digunakan pada
lupus yang relatif tenang.
Dosis sedang sampai tinggi berguna untuk lupus
yang aktif.
Dosis sangat tinggi dan terapi pulse diberikan
untuk krisis akut yang berat seperti pada vaskulitis
luas, nephritis lupus, lupus cerebral.
Cara pengurangan dosis kortikosteroid
Dosis kortikosteroid mulai dikurangi segera setelah
penyakitnya terkontrol.
Tapering dilakukan hati-hati untuk menghindari
kembalinya aktivitas penyakit, dan defisiensi kortisol
akibat penekanan aksis HPA kronis.
Sebagai panduan, untuk tapering dosis prednison > 40
mg sehari , dilakukan penurunan 5-10 mg/ 1-2
minggu penurunan 5 mg/ 1-2 minggu pada dosis
antara 40-20 mg/hari penurunan 1-2,5 mg/ hari /2-
3 minggu bila dosis prednison < 20 mg/hari dosis
rendah untuk mengontrol aktivitas penyakit.
35. GERD
Definition:
a pathologic condition of symptoms & injury to the
esophagus caused by percolation of gastric or
gastroduodenal contents into the esophagus associated
with ineffective clearance & defective gastroesophageal
barrier.

Symptoms:
Heartburn; midline retrosternal burning sensation that
radiates to the throat, occasionally to the intrascapular
region.
Others: regurgitation, dysphagia, regurgitation of excessive
saliva.

GI-Liver secrets
35. GERD

Terdapat kelemahan pada sfingter esofagus


bawah refluks
35. GERD

Management:
Aggressive lifestyle modification & pharmacologic therapy.
Surgery is encouraged for the fit patient who requires chronic
high doses of pharmacologic therapy to control GERD or who
dislikes taking medicines.
Endoscopic treatments for GERD are very promising, but
controlled long-term comparative trials with proton pump
inhibitors and/or surgery are lacking.
36. Neutropenia
All patients who are treated with
chemotherapy are at risk for the development
of neutropenic complications.
Chemotherapy predisposes patients with
cancer to infections both by suppressing the
production of neutrophils and by cytotoxic
effects on the cells that line the alimentary
tract.
36. Neutropenia
D

37. Penyakit katup Jantung


37. Penyakit Katup Jantung

Lilly LS. Pathophysiology of heart disease.


37. Penyakit katup Jantung

Lilly LS. Pathophysiology of heart disease. 5th ed. Lipincott Williams & Wilkins; 2011.
37. Penyakit katup Jantung

Lilly LS. Pathophysiology of heart disease. 5th ed. Lipincott Williams & Wilkins; 2011.
38. ACLS

ACLS 2015
Kompresi 100-120
kali
Kedalaman
minimal 5 cm
maksimal 6 cm
39. Asma
Definisi:
Gangguan inflamasi kronik
saluran napas yang melibatkan
banyak sel dan elemennya.
Inflamasi kronik mengakibatkan
hiperesponsif jalan napas yang
menimbulkan gejala episodik
berulang:
mengi, sesak napas, dada terasa
berat, dan batuk-batuk terutama
malam dan atau dini hari.
Episodik tersebut berhubungan
dengan obstruksi jalan napas yang
luas, bervariasi & seringkali
bersifat reversibel.
PDPI, Asma pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia.
GINA 2005
39. Asma
Diagnosis asma didasari oleh gejala yang bersifat episodik, gejala batuk,
sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan variabiliti yang berkaitan
dengan cuaca.

Anamnesis yang baik cukup untuk menegakkan diagnosis, ditambah


dengan pemeriksaan jasmani dan pengukuran faal paru terutama
reversibiliti kelainan faal paru, akan lebih meningkatkan nilai diagnostik.

Riwayat penyakit / gejala :


Bersifat episodik, seringkali reversibel dengan atau tanpa pengobatan
Gejala berupa batuk , sesak napas, rasa berat di dada dan berdahak
Gejala timbul/ memburuk terutama malam/ dini hari
Diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu
Respons terhadap pemberian bronkodilator

Tanda klinis: sesak napas, mengi, & hiperinflasi. Serangan berat: sianosis,
gelisah, sukar bicara, takikardi, penggunaan otot bantu napas.

PDPI. Asma: pedoman diagnosis & penatalaksanaan di Indonesia. 2004


Terapi Maintenance Asma

Nilai selama 3 bulan, jika membaik step-down,


jika tidak terdapat perbaikan step-up
40. Pneumonia
Cough, particularly cough productive of sputum,
is the most consistent presenting symptom of
bacterial pneumonia and may suggest a
particular pathogen, as follows:
Streptococcus pneumoniae: Rust-colored sputum
Pseudomonas, Haemophilus, and pneumococcal
species: May produce green sputum
Klebsiella species pneumonia: Red currant-jelly
sputum
Anaerobic infections: Often produce foul-smelling
or bad-tasting sputum
40. Pneumonia
Community acquired pneumonia:
Pneumonia yang didapat di masyarakat

Hospital acquired pneumonia (HAP)


Pneumonia yang terjadi setelah pasien 48 jam dirawat di rumah sakit dan
disingkirkan semua infeksi yang terjadi sebelum masuk rumah sakit.

Ventilator associated pneumonia (VAP)


Pneumonia yang terjadi lebih dari 48 jam setelah pemasangan intubasi
endotrakeal.

Healthcare associated pneumonia (HCAP), meliputi pasien:


Pernah dirawat di RS selama 2 hari/lebih dalam waktu 90 hari sebelum awitan
pneumonia,
Tinggal di panti atau fasilitas rawat jangka panjang ,
Mendapat antibiotik IV, kemoterapi, atau perawatan luka dalam waktu 30 hari
dari sebelum awitan pneumonia,
Pasien hemodialisis.
40. Pneumonia
Diagnosis pneumonia komunitas:
Infiltrat baru/infiltrat progresif + 2 gejala:
1. Batuk progresif
2. Perubahan karakter dahak/purulen
3. Suhu aksila 38 oC/riw. Demam
4. Fisis: tanda konsolidasi, napas bronkial, ronkhi
5. Lab: Leukositosis 10.000/leukopenia 4.500

Gambaran radiologis:
Infiltrat sampai konsolidasi dengan air bronchogram, penyebaran
bronkogenik & interstisial serta gambaran kaviti.
Air bronchogram: gambaran lusen pada bronkiolus yang tampak
karena alveoli di sekitarnya menjadi opak akibat inflamasi.

Pneumonia komuniti, pedoman diagnosis & penatalaksanaan di Indoneisa. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003.
40. Pneumonia
Diagnosis pneumonia nosokomial:
1. Onset pneumonia yang terjadi 48 jam setelah
dirawat di rumah sakit dan menyingkirkan semua
infeksi yang inkubasinya terjadi pada waktu masuk
rumah sakit
2. Diagnosis pneumonia nosokomial ditegakkan atas
dasar :
Foto toraks : terdapat infiltrat baru atau progresif
Ditambah 2 diantara kriteria berikut:
suhu tubuh > 38oC
sekret purulen
leukositosis

Pneumonia nosokomial, pedoman diagnosis & penatalaksanaan di Indoneisa. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003.
40. Pneumonia
41. Analisis Gas Darah
Disorder Problem Etiology Physical findings
Metabolic Gain of H+ or Diarrhea, RTA, KAD, lactic Kussmaul respiratory, dry
acidosis loss of HCO3- acidosis mucous membrane,
specific physical finding
to its cause
Metabolic Gain of HCO3- Loss of gastric secretion Tetany, Chvostek sign,
alkalosis or loss of H+ (vomiting), thiazide/loop specific physical finding
diuretics to its cause
Respiratory Hypoventilation COPD, asthma, CNS disease, Dyspnea, anxiety,
acidosis (CO2 retention) OSA cyanosis, specific physical
finding to its cause
Respiratory Hiperventilation Hypoxia tachypnea Hyperventilation, cardiac
alkalosis (CO2 loss), high pneumonia, pulm. rhythm disturbance
altitude Edema, PE, restrictive lung
disease
42. Diet
rendah
kolesterol
43. Addison Disease
Addison disease (or Addison's disease) is
adrenocortical insufficiency due to the destruction or
dysfunction of the entire adrenal cortex.
Sign and symptoms:
Hyperpigmentation of the skin and mucous membranes
Dizziness
Myalgias and flaccid muscle paralysis
Impotence and decreased libido
progressive weakness, fatigue, poor appetite, and weight
loss
43. Endokrin
43. Endokrin
Addisons disease
ketidakmampuan korteks
adrenal memproduksi
gukokortikoid dan/atau
mineralokortikoid
Defisiensi kortisol umpan
balik pada aksis hipotalamus-
pituitary meningkatkan
kadar ACTH plasma
Defisiensi mineralokortikoid
produksi renin meningkat oleh
sel juxtaglomerular di ginjal
90% disebabkan oleh autoimun
Penyebab lain: tuberkulosis, adrenalektomi, neoplasia, genetik,
iatrogenik, obat (eg. Etomidadinhibisi sintesis kortisol)
44. Dengue Fever
Transfusi trombosit:
Hanya diberikan pada
DBD dengan
perdarahan masif (4-5
ml/kgBB/jam) dengan
jumlah trombosit
<100.000/uL, dengan
atau tanpa DIC.
Pasien DBD
trombositopenia tanpa
perdarahan masif tidak
diberikan transfusi
trombosit.
45. PPOK Eksaserbasi
Eksaserbasi PPOK didefinisikan sebagai kondisi
akut yang ditandai dengan perburukan gejala
respirasi dan variasi gejala normal haran dan
membutuhkan perubahan terapi.
Eksaserbasi dapat disebabkan infeksi, polusi
udara, kelelahan atau timbulnya komplikasi
Gejala eksaserbasi:
Sesak bertambah
Produksi sputum meningkat
Perubahan warna sputum (sputum menjadi purulent)
45. PPOK Eksaserbasi
Eksaserbasi akut dibagi menjadi 3 menurut
Anthonisen 1987:
Tipe I (eksaserbasi berat), memiliki 3 gejala
eksaserbasi
Tipe 2 (eksaserbasi sedang), memiliki 2 gejala
eksaserbasi
Tipe 3 (eksaserbasi ringan), memiliki 1 gejala
ditambah infeksi saluran napas atas lebih dari 5 hari,
demam tanpa sebab lain, peningkatan batuk,
peningkatan mengi atau peningkatan frekuensi
pernapasan >20% dari nilai dasar, atau frekuensi nadi
>20% dari nilai dasar.
45. Antibiotik pada PPOK Eksaserbasi
Antibiotik diberikan pada
Pasien PPOK eksaserbasi dengan semua gejala
cardinal (sesak napas yang bertambah, meningkatnya
jumlah sputum, dan bertambahnya purulensi sputum)
Pasien PPOK eksaserbasi dengan dua dari gejala
cardinal, apabila salah satunya adalah bertambahnya
purulensi sputum
Pasien PPOK eksaserbasi berat yang membutuhkan
ventilasi mekanis (invasive atau non-invasive)
45. Antibiotik pada PPOK
Pengobatan oral Alternatif oral Parenteral
Eksaserbasi ringan Pasien sebaiknya tidak -lactam/-lactamase
mendapatkan antibiotic inhibitor
Makrolid (azitromisin,
Bila ada indikasi dapat klaritromisin)
diberikan: -lactam, Sefalosporin generasi 2
tetrasiklin, trimethoprim dan 3
sulfametoksazol Ketolid (telitromisin)

Eksaserbasi sedang -lactam/-lactamase Fluoroquinolon -lactam/-lactamase


inhibitor (co-amoxyclav) (levofloksasin, inhibitor (co-amoxyclav,
moxifloksasin) ampisilin/sulbactam),
sefalosporin generasi 2
dan 3, fluoquinolon
(ciproflokasin,
levoflokasin dosis tinggi

Eksaserbasi berat Pasien dengan risiko Fluoroquinolone


infeksi pseudomonas: (ciprofloksasin,
fluoroquinolone levofloksasin dosis tinggi
(ciprofloksasin, -lactam dengan
levofloksasin dosis tinggi aktivitas P. Aeruginosa
46. Rheumatoid Arthritis

Current diagnosis & treatment in rheumatology. 2nd ed. McGraw-Hill; 2007.


46. Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid arthritis (RA)
Penyakit inflamasi kronik dengan penyebab yang belum diketahui, ditandai
oleh poliartritis perifer yang simetrik.
Merupakan penyakit sistemk dengan gejala ekstra-artikular.
46. Rheumatoid Arthritis

Current diagnosis & treatment in rheumatology. 2nd ed. McGraw-Hill; 2007.


Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.
46. Rheumatoid Arthritis
Skor 6/lebih: definite RA.
Faktor reumatoid: autoantibodi terhadap IgG
Rheumatoid Arthritis
Boutonnoere deformity caused by Swan neck deformity caused by
flexion of the PIP joint with Hyperextension of the PIP joint with
hyperextension of the DIP joint. flexion of the DIP joint .

Ulnar deviation of the fingers with wasting of the


small muscles of the hands and synovial swelling at
Rheumatoid nodules &
the wrists, the extensor tendon sheaths, MCP & PIP.
olecranon bursitis.
Arthritis
Ciri OA RA Gout Spondilitis Ankilosa

Prevalens Female>male, >50 Female>male Male>female, >30 thn, Male>female, dekade


tahun, obesitas 40-70 tahun hiperurisemia 2-3
Awitan gradual gradual akut Variabel

Inflamasi - + + +

Patologi Degenerasi Pannus Mikrotophi Enthesitis

Jumlah Sendi Poli Poli Mono-poli Oligo/poli

Tipe Sendi Kecil/besar Kecil Kecil-besar Besar

Predileksi Pinggul, lutut, MCP, PIP, pergelangan MTP, kaki, pergelangan Sacroiliac
punggung, 1s t CMC, tangan/kaki, kaki kaki & tangan Spine
DIP, PIP Perifer besar
Temuan Sendi Bouchards nodes Ulnar dev, Swan neck, Kristal urat En bloc spine
Heberdens nodes Boutonniere enthesopathy
Perubahan tulang Osteofit Osteopenia erosi Erosi
erosi ankilosis

Temuan - Nodul subkutan, Tophi, Uveitis, IBD,


Extraartikular pulmonari cardiac olecranon bursitis, konjungtivitis, insuf
splenomegaly batu ginjal aorta, psoriasis

Lab Normal RF +, anti CCP Asam urat


47. Anemia Hemolitik Autoimun
(AIHA)
Anemia hemolitik autoimun Onset dapat gradual atau
merupakan anemia yang subakut, berupa mudah
disebabkan oleh lelah, sesak napas, malaise,
penghancuran eritrosit oleh ikterik. Pada pemeriksaan
autoantibodi. fisik dapat ditemuan
organomegali.
Dibagi menjadi :
Primer : tanpa adanya Hasil lab:
underlying disease Anemia NN
Sekunder: ada underlying Retikulositosis (>2%)
diseas, seperti limfoma, Evans Peningkatan LDH
syndrome, SLE,
antiphospholipid syndrome, Peningkatan bil.indirek
IBD. Direct antiglobulin test (DAT)/
Coombs test untuk
membedakan anemia
hemolitik autoimun dengan
non-autoimun.
Hematology: basic& principle practice, Ed.6
D

48. Nyeri Sendi


Gout:
Transient attacks of acute
arthritis initiated by
crystallization of urates
within & about joints,

leading eventually to
chronic gouty arthritis &
the appearance of tophi.

Tophi: large aggregates of


urate crystals & the
surrounding
inflammatory reaction.

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed.


McGraw-Hill; 2011.
Robbins pathologic basis of disease. 2007.
Acute Gout Tophy in chronic gout
Current diagnosis & treatment in rheumatology. 2nd ed. McGraw-Hill; 2007.
48. Indikasi ULT Gout
Tidak semua
pasien gout
diberikan urate
lowering therapy
(allopurinol)
Indikasi ULT
Tofus
Serangan akut >2
kali/tahun
CKD stage 2 atau
lebih berat
Riwayat
urolithiasis
Encourage low fat or non-dairy products
49. Anemia
MCV & MCH

GDT

Besi serum

Besi serum Besi serum N/ Besi serum

Besi sumsum tulang Pemeriksaan Hb F/A2 Kadar ferritin

Ferritin Ferritin N/

Anemia sideroblastik Talasemia, Kelainan Hb Defisiensi besi penyakit kronik


50. Cholelithiasis
Cholelithiasis involves the presence of gallstones, which
are concretions that form in the biliary tract, usually in
the gallbladder.
Characteristics of biliary colic include the following:
Sporadic and unpredictable episodes
Pain that is localized to the epigastrium or right upper
quadrant, sometimes radiating to the right scapular tip
Pain that begins postprandially, is often described as intense
and dull, typically lasts 1-5 hours, increases steadily over 10-
20 minutes, and then gradually wanes
Pain that is constant; not relieved by emesis, antacids,
defecation, flatus, or positional changes; and sometimes
accompanied by diaphoresis, nausea, and vomiting
Nonspecific symptoms (eg, indigestion, dyspepsia, belching,
or bloating)
50. Cholelithiasis Etiology
Cholesterol gallstones, black pigment gallstones,
and brown pigment gallstones have different
pathogeneses and different risk factors.
More than 80% of gallstones contain cholesterol
as their major component.
Risk factors (4F)
Female
Forty
Fat
Fertile
Diagnosis
Abdominal radiography (upright and supine) primarily to
exclude other causes of abdominal pain (eg, intestinal
obstruction)
Ultrasonography
Endoscopic ultrasonography (EUS) An accurate and relatively
noninvasive means of identifying stones in the distal CBD
Laparoscopic ultrasonography potential method for bile duct
imaging during laparoscopic cholecystectomy
Computed tomography (CT) More expensive and less sensitive
Magnetic resonance imaging (MRI) with magnetic resonance
cholangiopancreatography (MRCP)
Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP)
Percutaneous transhepatic cholangiography (PTC)
Treatment
The treatment of gallstones depends upon the
stage of the disease:
Lithogenic state Interventions are currently
limited to a few special circumstances
Asymptomatic gallstones Expectant
management
Symptomatic gallstones Usually, definitive
surgical intervention (eg, cholecystectomy),
though medical dissolution may be considered in
some cases
Medical treatments, used individually or in
combination, include the following:
Oral bile salt therapy (ursodeoxycholic acid)
Contact dissolution
Extracorporeal shockwave lithotripsy

Surgery
Cholecystectomy (open or laparoscopic)
Cholecystostomy
Endoscopic sphincterotomy
Surgery
Cholecystectomy for asymptomatic gallstones
may be indicated in the following patients:
large (>2 cm) gallstones
nonfunctional or calcified (porcelain) gallbladder on
imaging studies and are at high risk of gallbladder
carcinoma
spinal cord injuries or sensory neuropathies affecting
the abdomen
sickle cell anemia in whom the distinction between
painful crisis and cholecystitis may be difficult
51. Demam Tifoid
demam persisten
nyeri kepala
gejala abdomen (biasanya berupa nyeri
epigastrium, diare atau konstipasi), mual, muntah
bradikardi relatif,
lidah yang tremor dan berselaput
meteorismus.
hepatomegali, splenomegali

207
Patofisiologi Demam Tifoid
S. Typhi masuk
sampai usus halus
menembus sel epitel
ke lamina propria
difagosit makrofag
berkembang biak dalam
makrofag ke Plak
Peyeri KGB
mesenterika duktus
torasikus bakterimia
ke hepar& lien
bakterimia dan
diekskresikan bersama
cairan empedu ke lumen
usus
Sensitivity of Typhoid Cultures

Blood cultures: often (+) in the 1st week. (gold standard)


Stools cultures: yield (+) from the 2nd or 3rd week on.
Urine cultures: may be (+) after the 2nd week.
(+) culture of duodenal drainage: presence of Salmonella in
carriers.
51. Perforasi Demam Tifoid
Intestine perforation is one of
the most dreaded and common
complication of typhoid fever.
Hemorrhage and perforation
occur in the terminal ileum
secondary to necrosis of Peyer's
patches at 2-3 weeks after the
onset of the disease.
Mortality rates of typhoid
intestinal perforation (TIP) cases
are reported to be between 5%
to 62%.
Subdiaphragmatic free air
indicates pneumoperitoneum as
a result of bowel perforation.
52. Ulkus Peptikum

Nyeri epigastrik dapat ditemukan pada ulkus gastrikum dan ulkus duodenum.
Ulkus duodenum:
Nyeri timbul 90 menit 3 jam setelah makan
Nyeri berkurang dengan antasid atau makanan
Nyeri timbul pada malam hari (tengah malan sampai jam 3 pagi)
GU:
Nyeri dipresipitasi oleh makanan

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. 2011.


52. Peptic ulcer disease
Duodenal Ulcer Gastric Ulcer
May present < age 40 Usually seen in
50-60 year olds
Rarely associated with
NSAID use Strong relationship to
NSAID use
Pain often on empty Pain usually worse after
stomach, better with food meals
or antacids H. pylori in 70% to 90%
H. pylori in 90% to 100%
Both
most common symptom: diffuse epigastric pain
may be pain free
may be associated with dyspeptic symptoms
can lead to bleeding, perforation, or obstruction
53. Koagulasi
53. Terapi Antikoagulan
54. Pemeriksaan Fisik Jantung
Pada pemeriksaan fisik jantung, apeks jantung
harus dipalpasi.
Palpasi apeks jantung dapat menemukan
kelainan akibat disfungsi jantung.
Perubahan posisi denyut apeks jantung
bergeser dari normal dapat disebabkan
pembesaran jantung atau penyakit paru.
Sehingga palpasi apeks jantung dapat
menunjukkan adanya kardiomegali atau tidak
54. Pemeriksaan Fisik Jantung
Palpasi apeks menggunakan telapak tangan
tengah untuk mendeteksi impuls apeks dan thrill.
Palpasi menggunakan telapak tangan bagian
dekat pergelangan tangan untuk meraba heave.
Aliran darah yang turbulen atau murmur kadang-
kadang dapat dipalpasi dan disebut thrill murmur.
Heaving adalah denyut apeks jantung yang penuh
tenaga dan menetap, biasa ditemukan pada
pasien dengan stenosis aorta dan hipertensi.
55. Diabetes Mellitus
Kriteria diagnosis DM:
1. Glukosa darah puasa 126 mg/dL. Puasa adalah kondisi
tidak ada asupan kalori minimal 8 jam, atau

2. Glukosa darah-2 jam 200 mg/dL pada Tes Toleransi


Glukosa Oral dengan beban glukosa 75 gram, atau

3. Pemeriksaan glukosa darah sewaktu 200 mg/dL dengan


keluhan klasik (poliuria, polidipsia, polifagia, unexplained
weight loss), atau

4. Pemeriksaan HbA1C 6,5% dengan metode HPLC yang


terstandarisasi NGSP

Konsensus pengelolaan dan pencegahan DM tipe 2. 2015.


55. Diabetes Mellitus
Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria
normal atau DM digolongkan ke dalam
prediabetes (TGT & GDPT):
Glukosa darah puasa terganggu (GDPT):
GDP 100-125 mg/dL, dan
TTGO-2 jam <140 mg/dL
Toleransi glukosa terganggu (TGT):
Glukosa darah TTGO-2 jam 140-199 mg/dL, dan
Glukosa puasa <100 mg/dL
Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT
Diagnosis prediabetes berdasarkan HbA1C: 5,7-6,4%

Konsensus pengelolaan dan pencegahan DM tipe 2. 2015.


55. Diabetes Mellitus
Cara pelaksanaan TTGO:
Tiga hari sebelum pemeriksaan, pasien makan &
beraktivitas seperti biasa,
Puasa minimal 8 jam (mulai malam hari) sebelum
pemeriksaan, boleh minum air tanpa gula,
Dilakukan pemeriksaan glukosa puasa,
Diberikan glukosa 75 gram dalam air 250 ml, diminum
dalam 5 menit,
Puasa kembali selama 2 jam,
Dilakukan pemeriksaan glukosa darah 2 jam sesudah
beban glukosa,
Selama proses pemeriksaan, subjek tetap istirahat & tidak
merokok.

Konsensus pengelolaan dan pencegahan DM tipe 2. 2015.


Diabetes Melitus
Modifikasi Gaya hidup Mulai
HbA1c <7% monoterapi oral

HbA1c Modifikasi Gaya hidup Kombinasi 2 obat


Monoterapi oral obat Evaluasi 3 dengan mekanisme
7-9% golongan (a)/(b) bulan, kerja yang berbeda
bila HbA1c
Diberikan Kombinasi >7%
2 obat lini pertama HbA1c> Kombinasi 3 obat

HbA1c 9%
dan obat lain 7%
dengan mekanisme
kerja yang berbeda

Insulin basal Tidak


plus/bolus mencapai
HbA1c 10% atau premix target
atau Metformin + insulin
GDS>300 dgn basal prandial atau
Gejala Metformin + insulin
metabolik basal + GLP-1 RA
Perkeni. 2015
Kombinasi 3 obat
a. Obat efek samping minimal/ a. Metformin + SU + TZD atau
keuntungan lebih banyak a. DPP-4i
Metformin b. SGLT-2i
Alfa glukosidase inhibitor c. GLP-1 RA
Dipeptidil peptidase 4- d. Insulin basal
inhibitor b. Metformin + TZD + SU atau
Agonis glucagone like a. DPP-4i
peptide-1 b. SGLT-2i
c. GLP-1 RA
d. Insulin basal
c. Metformin + DPP 4i + SU atau
b. Obat yang harus digunakan a. TZD
dengan hati-hati b. SGLT-2i
Sulfonil urea c. Insulin basal
Glinid d. Metformin + SGLT 2i +SU
Tiazolidinedion a. TZD
SGLT 2-i b. DPP-4i
c. Insulin basal
e. Metformin + GLP 1-RA + SU
a. TZD
b. Insulin basal
f. Metformin + insulin basal +TZD atau
a. DPP-4i
b. SGLT-2i
c. GLP-1 RA
HbA1C Pengobatan Keterangan
<7% Gaya hidup sehat (GHS) Evaluasi HbA1C 3 bulan
7-<9% GHS + monoterapi oral Evaluasi 3 bulan, jika HbA1C tidak
mencapai <7%, tingkatkan menjadi
2 obat
>9% GHS + kombinasi 2 obat Jika HbA1C tidak mencapai <7%,
tingkatkan menjadi 3 obat; Jika
tidak tercapai dengan 3 obat
berikutnya adalah insulin basal
plus/bolus atau premix
>10% atau GDS Metformin + Insulin basal + Target HbA1C <7% atau individual
>300 dengan insulin prandial atau
gejala Metformin + insulin basal +
metabolik GLP-1 RA
55. Diabetes Mellitus
56. Trombosis Vena Dalam
Trombosis vena dalam (DVT) ditandai dengan
adanya bekuan darah pada vena, paling sering
terjadi pada ekstremitas bawah
Anamnesis:
Kram (kaku otot) betis yang menetap selama
beberapa hari dan menyebabkan tidak nyaman
Kaki bengkak, nyeri tungkai bawah
Riwayat trombosis sebelumnya
Riwayat trombosis dalam keluarga
56. Trombosis Vena Dalam
Faktor Risiko Didapat Trombofilia Herediter
Usia lanjut (>40 thn)
Activated protein C
Riwayat tromboemboli sebelumnya
Pasca operasi, pasca trauma
resistance
Imobilisasi lama Protrombin G20210A
Gagal jantung kongestif
Defisiensi antitrombin
Pasca MCI
Paralisis tungkai bawah Defisiensi protein C
Penggunaan estrogen Defisiensi protein S
Kehamilan atau pasca melahirkan
Varises disfibrinogenemia
Obesitas
Sindrom antibodi antifosfolipid
hiperhomosisteinemia
56. Trombosis Vena Dalam
Skoring Wells
Kanker aktif (sedang terapi dalam 1-6 bulan atau paliatif) (skor 1)
Paralisis, paresis, imobilisasi (skor 1)
Terbaring selama > 3 hari (skor 1)
Nyeri tekan terlokalisir sepanjang vena dalam (skor 1)
Seluruh kaki bengkak (skor 1)
Bengkak betis unilateral 3 cm lebih dari sisi asimtomatik (skor 1)
Pitting edema unilateral (skor 1)
Vena superfisial kolateral (skor 1)
Diagnosis alternatif yang lebih mungkin dari DVT (skor 2)
Interpretasi:
>3: risiko tinggi
1-2: risiko sedang
< 0: risiko rendah
56. Trombosis Vena Dalam
Pemeriksaan Fisik
Rasa tidak nyaman saat palpasi ringan betis bagian bawah
Edema tungkai unilateral, eritema, hangat, nyeri,
pembuluh darah superfisial teraba, distensi vena,
diskolorasi, sianosis
Pemeriksaan penunjang
Lab : kadar FDP meningkat, titer D dimer meningkat
Radiologis: ultrasonografi kompresi, CT scan dengan injeksi
kontras, venografi
56. DVT
Signs and symptoms of DVT include :
Pain in the leg
Tenderness in the calf (this is one of the most
improtant signs )
Leg tenderness
Swelling of the leg
Increased warmth of the leg
Redness in the leg
Bluish skin discoloration
Discomfort when the foot is pulled upward (Homans)
Complication of DVT
Pulmonary embolism
Most serious complication of DVT.
Chronic venous insufficiency
Long-term DVT can degenerate the venous valve.
Post-phlebitic syndrome
Long term complication which occurs due to
damage and scarring to the vein swelling,
discomfort and skin pigmentation.
57. Leptospirosis
Infection through the
mucosa or wounded skin

Proliferate in the
bloodstream or
extracellularly within organ

Disseminate
hematogenously to all
organs

Multiplication can cause:


Hepatitis, jaundice, & hemorrhage in the liver
Uremia & bacteriuria in the kidney
Aseptic meningitis in CSF & conjunctival or scleral hemorrhage in the aqueous humor
Muscle tenderness in the muscles Harrisons principles of internal medicine. 18th ed.
57. Leptospirosis
Anicteric leptospirosis (90%), Icteric leptospirosis or Weil's
follows a biphasic course: disease (10%), monophasic
Initial phase (47 days): course:
sudden onset of fever,
severe general malaise, Prominent features are renal and
liver malfunction, hemorrhage
muscular pain (esp calves), and impaired consciousness,
conjunctival congestion,
leptospires can be isolated from The combination of a direct
most tissues. bilirubin < 20 mg/dL, a marked
in CK, & ALT & AST <200 units is
Two days without fever follow. suggestive of the diagnosis.
Second phase (up to 30 days): Hepatomegaly is found in 25% of
leptospires are still detectable in cases.
the urine.
Circulating antibodies emerge, Therapy is given for 7 days :
meningeal inflammation, uveitis & Penicillin (1.5 million units IV
rash develop. or IM q6h) or
Therapy is given for 7 days: Ceftriaxone (1 g/d IV) or
Doxycycline 2x100 mg (DOC) Cefotaxime (1 g IV q6h)
Amoxicillin 3x500 mg
Ampicillin 3x500 mg
58. Hipotiroidisme
Hypothyroidism may cause a variety of symptoms and can affect all body
functions.
58. Hipotiroidisme
59. TATALAKSANA INFEKSI. H. PYLORI

Konsensus Nasional. Penatalaksanaan Dispepsia dan Infeksi Helicobacter pylori. 2014.


60. SINDROM CUSHING
Sindrom Cushing
(hiperadrenokortikalism/hiperkortisolism)
Kondisi klinis yang disebabkan oleh
pajanan kronik glukokortikoid
berlebih karena sebab apapun.

Penyebab:
Sekresi ACTH berlebih dari hipofisis
anterior (penyakit Cushing).
ACTH ektopik (C/: ca paru)
Tumor adrenokortikal
Glukokorticod eksogen (obat)

Silbernagl S, et al. Color atlas of pathophysiology. Thieme; 2000.


McPhee SJ, et al. Pathophysiology of disease: an introduction to clinical medicine. 5th ed.
61.
Antihipertensi
Pada
Pasien CKD

https://www2.kidney.org/professionals/kd
oqi/guidelines_bp/guide_8.htm
62. PULSELESS
VT
63. DIAGNOSIS TGT

Konsensus DM, PERKENI, 2015


64. INDIKASI TRANSFUSI PRC (WHO)
Evidence of hemorrhagic shock
Evidence of acute hemorrhage and
hemodynamic instability or inadequate
oxygen delivery
Symptomatic anemia in a normovolemic
patient
Preoperative hemoglobin level < 8 g/dL and an
operative procedure associated with major
blood loss
65. COR PULMONALE
Cor pulmonale:
Dilation & hypertrophy
of the right ventricle in
response to diseases of
the pulmonary
vasculature and/or lung
parenchyma.
Symptoms & signs:
Dyspnea, elevated JVP,
hepatomegaly, ascites,
lower extremity edema
66. EFEK SAMPING OAT
67. KAD & HHS
68. KARAKTERISTIK EKG ATRIAL FIBRILASI
69. GERD DAN OBESITAS

http://www.medscape.org/viewarticle/743475_5
70. SINDROM CUSHING
Sindrom Cushing
(hiperadrenokortikalism/hiperkortisolism)
Kondisi klinis yang disebabkan oleh
pajanan kronik glukokortikoid
berlebih karena sebab apapun.

Penyebab:
Sekresi ACTH berlebih dari hipofisis
anterior (penyakit Cushing).
ACTH ektopik (C/: ca paru)
Tumor adrenokortikal
Glukokorticod eksogen (obat)

Silbernagl S, et al. Color atlas of pathophysiology. Thieme; 2000.


McPhee SJ, et al. Pathophysiology of disease: an introduction to clinical medicine. 5th ed.
71. DIAGNOSIS CUSHING SYNDROME

http://bestpractice.bmj.com/best-
practice/monograph/205/diagnosis/s
tep-by-step.html
72. EFEK SAMPING SALBUTAMOL
Tremor halus
Palpitasi
Takikardia
Nyeri dada
Sakit kepala
Kram otot
Hipokalemia
Gangguan miksi
73. LEPTOSPIROSIS
Infection through the
mucosa or wounded skin

Proliferate in the
bloodstream or
extracellularly within organ

Disseminate
hematogenously to all
organs

Multiplication can cause:


Hepatitis, jaundice, & hemorrhage in the liver
Uremia & bacteriuria in the kidney
Aseptic meningitis in CSF & conjunctival or scleral hemorrhage in the aqueous humor
Muscle tenderness in the muscles Harrisons principles of internal medicine. 18th ed.
Gejala dan Tanda
Demam tinggi Injeksi konjungtiva
mendadak Ikterik
Nyeri otot dan sendi Nyeri tekan
Sakit kepala gatroknemius
Diare Splenomegali
Mual muntah Hepatomegali
Ruam di kulit
Edema
Infeksi
Anicteric leptospirosis (90%), Icteric leptospirosis or Weil's
follows a biphasic course: disease (10%), monophasic
Initial phase (47 days): course:
sudden onset of fever,
severe general malaise, Prominent features are renal and
liver malfunction, hemorrhage
muscular pain (esp calves), and impaired consciousness,
conjunctival congestion,
leptospires can be isolated from The combination of a direct
most tissues. bilirubin < 20 mg/dL, a marked
in CK, & ALT & AST <200 units is
Two days without fever follow. suggestive of the diagnosis.
Second phase (up to 30 days): Hepatomegaly is found in 25% of
leptospires are still detectable in cases.
the urine.
Circulating antibodies emerge, Therapy is given for 7 days :
meningeal inflammation, uveitis & Penicillin (1.5 million units IV
rash develop. or IM q6h) or
Therapy is given for 7 days: Ceftriaxone (1 g/d IV) or
Doxycycline 2x100 mg (DOC) Cefotaxime (1 g IV q6h)
Amoxicillin 3x500 mg
Ampicillin 3x500 mg
74. DIET SEIMBANG
75. INTOKSIKASI ASAM JENGKOLAT
Jengkol mengandung asam jengkolat & sulfur yang dapat mengkristal di
tubulus renal menimbulkan uropati obstruktif, acute kidney injury, atau
penyakit ginjal kronik.

Intoksikasi akut dapat terjadi 5-12 jam setelah makan jengkol

Manifestasi klinis:
Nyeri pinggang
Kolik abdomen
Oliguria
Hematuria

Terapi:
Hidrasi agresif untuk meningkatkan aliran urine
Alkalinisasi (biknat) untuk melarutkan kristal asam jengkolat
75. Intoksikasi Asam Jengkolat

Kidney International Supplements (2012) 2, 812; doi:10.1038/kisup.2012.7


76.TATALAKSANA HIPERTIROIDISME
PTU
Dosis awal PTU 100-200 mg, tiga kali/hari, lalu setelah tes fungsi
tiroid normal dosis diturunkan ke dosis pemeliharaan 50 mg 2-3
kali/hari atau 1 kali/hari

Methimazole
Dosis awal metimazol 10-20 mg/hari, setelah tes fungsi tiroid
normal dosis diturunkan menjadi 5-10 mg/hari.
Waktu paruhnya panjang, dapat diberikan satu kali/hari &
insidens efek samping lebih rendah

Beta bloker
Propranolol, 10-40 mg tiap 4-6 jam,
Atenolol 25-50 mg/hari.

The Indonesian Society of Endocrinology Task Force on Thyroid Diseases. Indonesian Clinical Practice Guidelines for Hyperthyroidism
77. ANEMIA MAKROSITIK
Anemia makrositik megaloblastik disebabkan oleh defisiensi vit B12 dan
asam folat. Keduanya memberi gambaran makro-ovalosit dan neutrofil
hipersegmentasi.

Gangguan pembentukan DNA akibat defisiensi vitamin tersebut


mengakibatkan kematian sel darah di sumsum tulang, yang dapat
memberi gambaran pansitopenia serta ikterus (hiperbilirubinemia indirek)

Gejala anemia yang timbul, antara lain cepah lelah dan pucat, kekuningan.

Gangguan neurologi hanya terjadi pada defisiensi vitamin B12, tidak pada
defisiensi folat. Gejala neurologi yang ditemukan:
Neuropati perifer: kesemutan, kebas, lemas
Kehilangan sensasi proprioseptif (posisi) dan getaran
Gangguan memori, depresi, iritabilitas
Neuropati optik: penglihatan kabur, gangguan lapang pandang
Anemia Makrositik

Folate is present in most foods including


eggs, milk, yeast, mushrooms, and liver
but is especially abundant in green leafy
vegetables.
Cobalamin is present in most foods of
animal origin including milk, eggs, and
meat.
Clinical laboratory hematology. 3rd ed.
78. GAMBARAN PEMERIKSAAN
PENUNJANG CA PARU
Foto Toraks CT-scan
Pada pemeriksaan foto toraks dapat mendeteksi tumor
PA/lateral akan dapat dilihat dengan ukuran lebih kecil dari
bila masa tumor dengan 1 cm
ukuran tumor lebih dari 1 cm. Bila terdapat penekanan
Tanda yang mendukung terhadap bronkus, tumor intra
keganasan adalah tepi yang bronkial, atelektasis, efusi
ireguler, disertai identasi pleura yang tidak masif dan
pleura, tumor satelit tumor, telah terjadi invasi ke
dll. mediastinum dan dinding dada
Pada foto tumor juga dapat dapat tervisualisasi.
ditemukan telah invasi ke Keterlibatan KGB dapat
dinding dada, efusi pleura, dideteksi.
efusi perikar dan metastasis
intrapulmoner.

Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Kanker Paru di


Indonesia, PDPI, 2003
79. PENGOBATAN DISLIPIDEMIA
79. PENGOBATAN DISLIPIDEMIA
80.
ABSORPSI
VITAMIN
B12
Vitamin B12 yang berikatan
dengan faktor intrinsik diserap
oleh sel epitel usus. Riwayat
operasi usus pada pasien
menyebabkan penyerapan
vitamin B12 menjadi tidak
optimal.

http://www.hkmj.org/system/files/hkmj14
4383-fig1.jpg
81. KONJUNGTIVITIS VERNAL
Nama lain:
spring catarrh/seasonal conjunctivitis/warm weather conjunctivitis
Disebut vernal karena exaserbasi paling sering pada musim semi
(spring)
Etiologi: reaksi hipersensitivitas bilateral (alergen sulit diidentifikasi)
Epidemiologi:
Dimulai pada masa prepubertal, bertahan selama 5-10 tahun sejak
awitan
Laki-laki > perempuan
Paling sering pada Afrika Sub-Sahara & Timur Tengah
Temperate climate > warm climate > cold climate (hampir tidak ada)
Terkait dengan manifestasi atopi lainnya seperti asma dan rinitis alergi
pada setengah kasus

Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.


Pathogenesis of Vernal Conjunctivitis
Classic IgE mediated Hypersensitivity
Evidence supporting an atopic origin :
Seasonal incidence, eosinofil and mast cells in conjunctiva,
Play a
igE serum and tears, response to major role
mast cells stabilazer
Th2 cells mediated respone
Ig G mediated response
Basofilic hypersensitivity
Cellular delayed type hypersensitivity
(Hypersensitivity Type IV)
Gejala & tanda:
Rasa gatal yang hebat, dapat
disertai fotofobia
Sekret ropy
Riwayat alergi pada RPD/RPK
Tampilan seperti susu pada
konjungtiva
Gambaran cobblestone
(papila raksasa berpermukaan
rata pada konjungtiva tarsal)
Tanda Maxwell-Lyons (sekret
menyerupai benang &
pseudomembran fibrinosa
halus pada tarsal atas, pada Komplikasi:
pajanan thdp panas) Blefaritis & konjungtivitis
Bercak Trantas (bercak stafilokokus
keputihan pada limbus saat
fase aktif penyakit)
Dapat terjadi ulkus kornea
superfisial
Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.
Tatalaksana
Self-limiting Jangka panjang & prevensi
Akut: sekunder:
Antihistamin topikal
Steroid topikal (+sistemik Stabilisator sel mast Sodium
kromolin 4%: sebagai
bila perlu), jangka pendek pengganti steroid bila gejala
mengurangi gatal sudah dapat dikontrol
(waspada efek samping: Tidur di ruangan yang sejuk
dengan AC
glaukoma, katarak, dll.) Siklosporin 2% topikal (kasus
berat & tidak responsif)
Vasokonstriktor topikal
Desensitisasi thdp antigen
Kompres dingin & ice (belum menunjukkan hasil
pack baik)

Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.


82. Kalazion
Inflamasi idiopatik, steril, dan kronik dari kelenjar Meibom
Ditandai oleh pembengkakan yang tidak nyeri, muncul berminggu-
minggu.
Dapat diawali oleh hordeolum, dibedakan dari hordeolum oleh
ketiadaan tanda-tanda inflamasi akut.
Pada pemeriksaan histologik ditemukan proliferasi endotel asinus
dan peradangan granullomatosa kelenjar Meibom
Tanda dan gejala:
Benjolan tidak nyeri pada bagian dalam kelopak mata. Kebanyakan
kalazion menonjol ke arah permukaan konjungtiva, bisa sedikit merah.
Jika sangat besar, dapat menekan bola mata, menyebabkan
astigmatisma.
Tatalaksana: steroid intralesi (bisa membuat remisi terutama untuk
kalazion lesi kecil), Insisi dan kuretase untuk lesi kecil; eksisi
(pengangkatan granuloma untuk lesi yang besar)

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia:
McGraw-Hill, 2007.
Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

83. Ablasio Retina


Ablasio retina adalah suatu Jenis:
keadaan terpisahnya sel Rhegmatogenosa (paling
kerucut dan batang retina sering) lubang / robekan
(retina sensorik) dari sel pada lapisan neuronal
epitel pigmen retina menyebabkan cairan vitreus
Mengakibatkan gangguan masuk ke antara retina
nutrisi retina pembuluh sensorik dengan epitel
darah yang bila berlangsung pigmen retina
lama akan mengakibatkan Traksi adhesi antara vitreus
gangguan fungsi / proliferasi jaringan
penglihatan fibrovaskular dengan retina
Serosa / hemoragik
eksudasi ke dalam ruang
subretina dari pembuluh
darah retina
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Etiologi Ablasio Retina
Rhegmatogenosa: Serosa / hemoragik:
Miopia Hipertensi
Trauma okular Oklusi vena retina
Afakia sentral
Degenerasi lattice Vaskulitis
Traksi: Papilledema
Retinopati DM Tumor intraokular
proliferatif
Vitreoretinopati
proliferatif
Retinopati prematuritas
Trauma okular
Ablasio
Rhegmatogenosa

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology


17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Ablasio Retina
Anamnesis: Funduskopi : adanya
Riwayat trauma robekan retina, retina yang
Riwayat operasi mata terangkat berwarna keabu-
Riwayat kondisi mata abuan, biasanya ada fibrosis
sebelumnya (cth: uveitis, vitreous atau fibrosis
perdarahan vitreus, miopia preretinal bila ada traksi.
berat) Bila tidak ditemukan
Durasi gejala visual & robekan kemungkinan suatu
penurunan penglihatan
ablasio nonregmatogen
Gejala & Tanda:
Fotopsia (kilatan cahaya)
gejala awal yang sering
Defek lapang pandang
bertambah seiring waktu
Floaters
Tatalaksana
Ablasio retina
kegawatdaruratan mata
Tatalaksana awal:
Puasakan pasien u/ persiapan
operasi
Hindari tekanan pada bola
mata
Batasi aktivitas pasien sampai
diperiksa spesialis mata
Segera konsultasi spesialis
retina konservatif (untuk
nonregmatogen), pneumatic
retinopexy, bakel sklera,
vitrektomi tertutup

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
84. PTERIGIUM
Pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva,
bersifat degeneratif dan invasif
Terletak pada celah kelopak bagian nasal
ataupun temporal konjungtiva yang meluas
ke daerah kornea
Mudah meradang
Etiologi: iritasi kronis karena debu, cahaya
matahari, udara panas
Keluhan : asimtomatik, mata iritatif, merah,
mungkin terjadi astigmat (akibat kornea
tertarik oleh pertumbuhan pterigium), tajam
penglihatan menurun
Tes sonde (-) ujung sonde tidak kelihatan
pterigium
Pengobatan : konservatif; Pada pterigium
derajat 1-2 yang mengalami inflamasi,
pasien dapat diberikan obat tetes mata
kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari
selama 5-7 hari. Pada pterigium derajat 3-4
dilakukan tindakan bedah
PTERIGIUM DIAGNOSIS BANDING
85. Ectopia lentis
Ectopia lentis is defined as displacement or malposition of
the crystalline lens of the eye
Disruption or dysfunction of the zonular fibers of the lens,
regardless of cause (trauma or heritable condition) is the
underlying pathophysiology of ectopia lentis alposition of
the crystalline lens of the eye.
The most common ocular manifestation of ectopia lentis is :
reduction in visual acuity, most often due to high lenticular
myopia
Minimal subluxation of a lens may cause no visual symptoms
but when the zonules are disrupted causing increased curvature
of the lens the result may be lenticular myopia and astigmatism.
According to Nelson LB, Maumenee IH et al, Ectopia
lentis can be classified as
A. Genetic Ectopia lentis without Systemic disorders with rarely associated ectopia
lentis
systemic manifestation Ehlers Danlos syndrome
Simple ectopia lentis. Crouzon disease
Refsum syndrome
Ectopia lentis Et pupillae Kniest syndrome
B. Systemic disorders associated with Mandibulofacial dysostosis
ectopia lentis Sturge Weber syndrome
Conradi syndrome
Systemic disorders with Pfaundler syndrome
commonly associated ectopia Pierre syndrome
lentis Wildervanck syndrome
Marfans syndrome Sprengel deformity
C. Ocular disorders with ectopia lentis without hereditary
Homocystinuria predisposition.
ocular trauma 53% of cases in one series.
Weill Marchesani syndrome
Retinitis pigmentosa, persistant papillary
Hyperlysinemia membrane, aniridia, Reigers anomaly, megalo
cornea, blepharoptosis & high myopia as well as
Sulfite oxidize deficiency congenital glaucoma
86. KELAINAN REFRAKSI -MIOPIA
MIOPIA bayangan difokuskan di Normal aksis mata 23 mm (untuk
depan retina, ketika mata tidak setiap milimeter tambahan
panjang sumbu, mata kira-kira
dalam kondisi berakomodasi
lebih miopik 3 dioptri)
(dalam kondisi cahaya atau benda
Normal kekuatan refraksi kornea
yang jauh) (+43 D) (setiap 1 mm penambahan
Etiologi: diameter kurvatura kornea, mata
Aksis bola mata terlalu panjang
lebih miopik 6D)
miopia aksial Normal kekuatan refraksi lensa
Miopia refraktif media refraksi yang (+18D)
lebih refraktif dari rata-rata: People with high myopia
kelengkungan kornea terlalu besar more likely to have retinal detachments
and primary open angle glaucoma
Dapat ditolong dengan
more likely to experience floaters
menggunakan kacamata negatif
(cekung)
KELAINAN REFRAKSI -MIOPIA
Miopia secara klinis :
Simpleks: kelainan fundus ringan, < -6D
Patologis: Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia maligna atau
miopia progresif, adanya progresifitas kelainan fundus yang khas pada
pemeriksaan oftalmoskopik, > -6D
Miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa :
Ringan : lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00 Dioptri
Sedang : lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00 Dioptri.
Berat : lensa koreksinya > 6,00 Dioptri.
Miopia berdasarkan umur :
Kongenital : sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak.
Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20 tahun.
Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20 sampai 40 thn.
Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun (> 40 tahun).
87. ULKUS KORNEA
Gejala Subjektif
Ulkus kornea adalah hilangnya Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva
sebagian permukaan kornea akibat Sekret mukopurulen
kematian jaringan kornea Merasa ada benda asing di mata
Pandangan kabur
ditandai dengan adanya infiltrat Mata berair
Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus
supuratif disertai defek kornea
Silau
bergaung, dan diskontinuitas Nyeri
jaringan kornea yang dapat terjadi infiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit
dari epitel sampai stroma. nyeri, jika ulkus terdapat pada perifer kornea
dan tidak disertai dengan robekan lapisan
epitel kornea.
Etiologi: Infeksi, bahan kimia,
trauma, pajanan, radiasi, sindrom Gejala Objektif
Injeksi siliar
sjorgen, defisiensi vit.A, obat-
Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan
obatan, reaksi hipersensitivitas, adanya infiltrat
neurotropik Hipopion
Keratitis/ulkus Fungal
Etiology
Aspergillus sp penyebab keratitis paling sering di dunia
Gejala nyeri biasanya dirasakan diawal, namun lama-lama
berkurang krn saraf kornea mulai rusak.
Paling sering pada laki laki usia 21-60 tahun,
Pemeriksaan oftalmologi :
Grayish-white corneal infiltrate with a rough, dry texture and feathery
borders; infiltrat berada di dalam lapisan stroma
Lesi satelit, hipopion, plak/presipitat endotelilal
Bisa juga ditemukan epitel yang intak atau sedikit meninggi di atas
infiltrat stroma

Sumber: American Optometric Association. Fungal Keratitis. / Vaughan Oftalmologi Umum 1995.
Fungal Ulcer
Faktor Resiko :
Lokal
Trauma-kornea akibat terkena tumbuhan atau benda benda organik 55-
65 %
Lensa Kontak 29 %
Iatrogenic setelah bedah katarak, operasi refraksi, LASIK, penetrating
keratoplasty
Penggunaan steroid topical 4-30%. Penggunaan steroid dapat mengaktivasi
dan meningkatkan virulensi fungi
Kelainan pada permukaan kornea dry eye, bullous keratopathy, exposure
keratitis, allergic conjunctivitis
Sistemik
Diabetes-5%
Malnutrisi-1%
Alcoholism jarang
HIV jarang
Pasien ICU yang menderita penyakit kronik atau dirawat lama
Typical clinical Feature
Bacterial Ulcer Fungal Ulcer
1. History of trauma to the cornea, contact lens 1. History of trauma with vegetable matter
wear
2. Suspect fungal ulcer if patient reports
2. Pain, redness, watering,decrease in vision
agriculture as main occupation.
3. Lid oedema (marked in gonococcal ulcer),
purulent discharge in gonococcal ulcer and bluish 3. Pain and redness are similar to bacterial
green discharge in pseudomonas corneal ulcer ulcer. But lid oedema is minimal even in
4. Round or oval in shape involving central or para severe cases unless patients have received
central part of the cornea. Rest of the cornea is native medicines or peri ocular injections.
clear. Hypopyon may or may not be present. 4. Early fungal ulcer may appear like a
5. In pneumococcal ulcer the advancing border will dendritic ulcer of herpes simplex virus. The
have active infiltrate with undermined edges and feathery borders are pathognomonic clinical
the trailing edge may show signs of healing. Most of
the pneumococcal ulcers will show leveled
features. Satellite lesions, immune ring, and
hypopyon associated with Dacryocystitis. unlevelled hypopyon may aid in diagnosis.
6. Pseudomonas ulcer will have short duration, 5. The surface is raised with greyish white
marked stromal oedema adjacent to the ulcer with creamy infiltrates, which may or may not
rapid progression. If untreated, will perforate within appear dry.
2-3 days. Advanced ulcer may involve the sclera
also. 6. Ulcer due to pigmented fungi will appear
7. Ulcers caused by Moraxella and Nocardia are
as brown or dark; raised, dry, rough, leathery
slowly progressive in immunocompromised hosts plaque on the surface of the cornea

WHO. Guidelines for the Management of Corneal Ulcer at Primary, Secondary & Tertiary Care health facilities in the South-East Asia Region. 2004
88. Keratokonjungtivitis
Konjungtivitis Keratitis Ulkus kornea Uveitis
Visus N <N <N N/<N
Sakit - ++ ++ +/++
Fotofobia - +++ - +++
Eksudat +/+++ -/+++ ++ -
Sekresi + - + +
Etiologi Bakteri/jamur/virus/a Bakteri/jamur/virus Infeksi, bahan kimia, Reaksi
lergi /alergi trauma, pajanan, imunologik
radiasi, sindrom lambat/dini
sjorgen, defisiensi
vit.A, obat-obatan,
reaksi
hipersensitivitas,
neurotropik
Tatalaksana Obat sistemik/topikal Obat Obat sesuai etiologi Steroid
sesuai etiologi sistemik/topikal
sesuai etiologi

Ilmu Penyakit Mata, Sidarta Ilyas, 2005


Conjunctivitis
Inflammationor infection of the
conjunctiva conjunctivitis
Characterized by : dilatation of
the conjunctival vessels, resulting
in hyperemia and edema of the
conjunctiva, typically with
associated discharge
Viral conjunctivitis is the most
common cause of infectious
conjunctivitis both overall and in
the adult population
Bacterial conjunctivitis is the
second most common cause and
is responsible for the majority
(50%-75%) of cases in children
The conjunctiva is a thin membrane covering the sclera
(bulbar conjunctiva, labeled with purple) and the inside
of the eyelids (palpebral conjunctiva, labeled with blue

Azari A, Barney N. Conjunctivitis A Systematic Review of Diagnosis and Treatment. JAMA: 310(16).2013
89-90. DAKRIOSISTITIS
Partial or complete obstruction of the nasolacrimal duct
with inflammation due to infection (Staphylococcus aureus
or Streptococcus B-hemolyticus), tumor, foreign bodies,
after trauma or due to granulomatous diseases.
Clinical features : epiphora, acute, unilateral, painful
inflammation of lacrimal sac, pus from lacrimal punctum,
fever, general malaise, pain radiates to forehead and teeth
Diagnosis : Anel test(+) :not dacryocystitis, probably skin
abcess; (-) or regurgitation (+) : dacryocystitis. Swab and
culture
Treatment : Systemic and topical antibiotic, irrigation of
lacrimal sac, Dacryocystorhinotomy
DAKRIOSISTITIS ANATOMI DUKTUS LAKRIMALIS
Uji Anel
Evaluasi Sistem Lakrimal-Drainase Lakrimal :
Uji Anel : Dengan melakukan uji anel, dapat diketahui apakah fungsi dari
bagian eksresi baik atau tidak.
Cara melakukan uji anel :
Lebarkan pungtum lakrimal dengan dilator pungtum
Isi spuit dengan larutan garam fisiologis. Gunakan jarum lurus atau bengkok
tetapi tidak tajam
Masukkan jarum ke dalam pungtum lakrimal dan suntikkan cairan melalui
pungtum lakrimal ke dalam saluran eksresi , ke rongga hidung
Uji anel (+): terasa asin di tenggorok atau ada cairan yang masuk hidung.
Uji anel (-) jika tidak terasa asinberarti ada kelainan di dalam saluran
eksresi.
Jika cairan keluar dari pungtum lakrimal superior, berarti ada obstruksi di
duktus nasolakrimalis. Jika cairan keluar lagi melalui pungtum lakrimal
inferior berarti obstruksi terdapat di ujung nasal kanalikuli lakrimal
inferior, maka coba lakukan uji anel pungtum lakrimal superior.
Komplikasi dakriosistitis
Resiko penyebaran infeksi ke superficial
(selulitis), atau organ yang lebih dalam
(selulitis orbita, abses orbita)
Terbentuknya jaringan parut
Epistaxis
Meningitis dan Rhinorea CSF
91. Anisometropia
Def: a difference in refractive error between
their two eyes
Children who have anisometropia are known
to be at risk of amblyopia.
However there is considerable variability
among professional groups and clinician
investigators as to which aspects of refractive
error should be used to define anisometropia
Associations between Anisometropia, Amblyopia, and Reduced Stereoacuity in a School-Aged Population with a High Prevalence of Astigmatism
Dobson et al. Investigative Ophthalmology & Visual Science, October 2008, Vol. 49, No. 10. 4427-4436
Anisometropic & Amblyopia
When the magnitude of anisometropia exceeded 1.75 D,
the more myopic eye was almost always the sighting
dominant eye.
Anisometropic amblyopia is the second most common
cause of amblyopia (present as single cause in 37% of cases
and present concomitantly with strabismus in an additional
24% of clinical populations.)
Anisometropic amblyopia occurs when unequal focus
between the two eyes causes chronic blur on one retina.
Anisometropic amblyopia can occur with relatively small
amounts of asymmetric hyperopia or astigmatism.
Larger amounts of anisomyopia are necessary for
amblyopia to develop.

Ocular characteristics of anisometropia Stephen J Vincent. Institute of Health and Biomedical Innovation School of Optometry Queensland University of Technology &
http://eyewiki.aao.org/Anisometropic_Amblyopia & Treatment of Anisometropic Amblyopia in Children with Refractive Correction . Pediatric Eye Disease Investigator Group. Ophthalmology
2006;113:895903
Interocular acuity difference criteria in anisometropia
Interocular
Acuity
Difference
Criteria in
Anisometropia

Ocular characteristics of anisometropia


Stephen J Vincent. Institute of Health and
Biomedical Innovation School of Optometry
Queensland University of Technology
92-94. Glaukoma
Glaukoma adalah penyakit
saraf mata yang berhubungan
dengan peningkatan tekanan
bola mata (TIO Normal : 10-
24mmHg)
Ditandai : meningkatnya
tekanan intraokuler yang
disertai oleh pencekungan
diskus optikus dan pengecilan
lapangan pandang
TIO tidak harus selalu tinggi,
Tetapi TIO relatif tinggi untuk
individu tersebut.
Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14
Glaukoma

glaucoma that develops after the


3rd year of life 301
Jenis Glaukoma
Causes Etiology Clinical
Acute Glaucoma Pupilllary block Acute onset of ocular pain, nausea, headache, vomitting, blurred vision,
haloes (+), palpable increased of IOP(>21 mm Hg), conjunctival injection,
corneal epithelial edema, mid-dilated nonreactive pupil, elderly, suffer
from hyperopia, and have no history of glaucoma
Open-angle Unknown History of eye pain or redness, Multicolored halos, Headache, IOP steadily
(chronic) glaucoma increase, Gonioscopy Open anterior chamber angles, Progressive visual
field loss

Congenital abnormal eye present at birth, epiphora, photophobia, and blepharospasm, buphtalmus
glaucoma development, (>12 mm)
congenital infection
Secondary Drugs (corticosteroids) Sign and symptoms like the primary one. Loss of vision
glaucoma Eye diseases (uveitis,
cataract)
Systemic diseases
Trauma
Absolute glaucoma end stage of all types of glaucoma, no vision, absence of pupillary light
reflex and pupillary response, stony appearance. Severe eye pain. The
treatment destructive procedure like cyclocryoapplication,
cyclophotocoagulation,injection of 100% alcohol

http://emedicine.medscape.com/articl e/1206147
Glaukoma Akut
http://emedicine.medscape.com/article/798811

Angle-closure (acute) glaucoma


The exit of the aqueous humor fluid is sud
At least 2 symptoms:
ocular pain
nausea/vomiting
history of intermittent blurring of vision with halos
AND at least 3 signs:
IOP greater than 21 mm Hg
conjunctival injection
corneal epithelial edema
mid-dilated nonreactive pupil
shallower chamber in the presence of occlusiondenly
blocked
Tatalaksana Glaukoma Akut
Tujuan : merendahkan tekanan bola mata secepatnya kemudian bila tekanan normal dan
mata tenang operasi
Supresi produksi aqueous humor
Beta bloker topikal: Timolol maleate 0.25% dan 0.5%, betaxolol 0.25% dan 0.5%,
levobunolol 0.25% dan 0.5%, metipranolol 0.3%, dan carteolol 1% dua kali sehari dan
timolol maleate 0.1%, 0.25%, dan 0.5% gel satu kali sehari (bekerja dalam 20 menit,
reduksi maksimum TIO 1-2 jam stlh diteteskan)
Pemberian timolol topikal tidak cukup efektif dalam menurunkan TIO glaukoma akut
sudut tertutup.
Apraclonidine: 0.5% tiga kali sehari
Brimonidine: 0.2% dua kali sehari
Inhibitor karbonat anhidrase:
Topikal: Dorzolamide hydrochloride 2% dan brinzolamide 1% (2-3 x/hari)
Sistemik: Acetazolamide 500 mg iv dan 4x125-250 mg oral (pada glaukoma akut
sudut tertutup harus segera diberikan, efek mulai bekerja 1 jam, puncak pada 4
jam)
Ilmu Penyakit Mata Ed 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006
Tatalaksana Glaukoma Akut
Fasilitasi aliran keluar aqueous humor
Analog prostaglandin: bimatoprost 0.003%, latanoprost 0.005%, dan travoprost 0.004%
(1x/hari), dan unoprostone 0.15% 2x/hari
Agen parasimpatomimetik: Pilocarpine
Epinefrin 0,25-2% 1-2x/hari
Pilokarpin 2% setiap menit selama 5 menit,lalu 1 jam selama 24 jam
Biasanya diberikan satu setengah jam pasca tatalaksana awal
Mata yang tidak dalam serangan juga diberikan miotik untuk mencegah serangan
Pengurangan volume vitreus
Agen hiperosmotik: Dapat juga diberikan Manitol 1.5-2MK/kgBB dalam larutan 20% atau urea
IV; Gliserol 1g/kgBB badan dalam larutan 50%
isosorbide oral, urea iv
Extraocular symptoms:
analgesics
antiemetics
Placing the patient in the supine position lens falls away from the iris decreasing pupillary
block
Pemakaian simpatomimetik yang melebarkan pupil berbahaya
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
95. Trauma Mekanik Bola Mata
Cedera langsung berupa ruda Pemeriksaan Rutin :
paksa yang mengenai jaringan Visus : dgn kartu Snellen/chart
mata. projector + pinhole
Beratnya kerusakan jaringan TIO : dgn tonometer
bergantung dari jenis trauma aplanasi/schiotz/palpasi
serta jaringan yang terkena Slit lamp : utk melihat segmen
anterior
Gejala : penurunan tajam USG : utk melihat segmen
penglihatan; tanda-tanda posterior (jika memungkinkan)
trauma pada bola mata Ro orbita : jika curiga fraktur
Komplikasi : dinding orbita/benda asing
Endoftalmitis Tatalaksana :
Uveitis Bergantung pada berat trauma,
Perdarahan vitreous mulai dari hanya pemberian
Hifema antibiotik sistemik dan atau
topikal, perban tekan, hingga
Retinal detachment operasi repair
Glaukoma
Oftalmia simpatetik

Panduan Tatalaksana Klinik RSCM Kirana, 2012


Benda Asing di Konjungtiva
Penatalaksanaan (menurut buku panduan
Gejala yang ditimbulkan berupa layanan primer IDI & emedicine)
nyeri, mata merah dan berair, sensasi Berikan tetes mata pantokain 2% sebanyak
1-2 tetes pada mata yang terkena benda
benda asing, dan fotofobia. asing.
Faktor Risiko: Pekerja di bidang Gunakan kaca pembesar (lup) dalam
industri yang tidak memakai pengangkatan benda asing.
kacamata pelindung, seperti: pekerja Periksa lokasi benda asing dengan
meminta pasien melihat ke atas, ke bawah,
gerinda, pekerja las, pemotong kiri, dan kanan
keramik, pekerja yang terkait dengan Periksa inferior conjunctival cul-de-sac
bahan-bahan kimia (asam-basa), dll. dengan meminta pasien melihat ke atas
ketika pemeriksa membuka kelopak mata
Pemeriksaan Fisik bawah
Biasanya visus normal; Untuk memeriksa superior conjunctival
cul-de-sac, lakukan eversi kelopak mata
Ditemukan injeksi konjungtiva atas dengan kapas lidi atau paper clip
tarsal dan/atau bulbi (seperti gambar)
Pada konjungtiva tarsal superior Angkat benda asing dengan menggunakan
lidi kapas yang lembab atau jarum suntik
ukuran 23G.
Arah pengambilan benda asing dilakukan
dari tengah ke tepi.
Oleskan lidi kapas yang dibubuhkan
betadin pada tempat bekas benda asing.
Kemudian, berikan antibiotik topikal (salep
atau tetes mata) seperti kloramfenikol
tetes mata, 1 gtt setiap 2 jam selama 2
hari.
Corneal Foreign Body
If a corneal foreign body is discovered, it must be
removed to prevent permanent scarring and
vision loss. Saline irrigation is often successful.
If irrigation is unsuccessful, a topical anesthetic
should be administered and a cotton swab gently
swept over the cornea.
If the foreign body is superficial, irrigate the eye to
moisten the cornea and attempt to remove the
foreign body by using a gentle rolling motion with
a wetted cotton-tipped applicator.
Take care not to apply pressure, which may push
the foreign body deeper into the cornea, or scrape,
which may create a large corneal abrasion.
If swabbing is unsuccessful, foreign body removal
using an eye spud or 25-gauge needle should be
done by a trained, experienced physician.

Emedicine & AAFP


96. Gangguan Lapang Pandang:
Hemianopia
Hemianopia, also known as Hemianopsia is
loss of vision in either the right or left sides
of both eyes
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/hemianopia
97. Neuritis Optik
Pembengkakan optic disc akibat peningkatan
tekanan intra kranial (mis. AVM, hipertensi
maligna); disebut juga choked disc
Bilateral
Temuan klinis : penurunan visus minimal,
refleks pupil normal; batas optic disc tidak
jelas, vena retina dilatasi, flame shaped
hemorrhages (+), edema peripapiler dan
cotton wool spot.
Vaughan DG, dkk. Oftalmologi Umum Edisi 14. 1996.
American Academy of Ophthalmology (AAO). Basic Ophthalmology 2005.
Diseases Definition/characteristics Ophthalmoscopic findings
Neuritis optik (1) Peradangan optic disc Nyeri bola mata dgn gerakan
ditandai dgn disc swelling, tertentu, afferent pupil reflex
unilateral (-), hiperemia optic disc
Neuritis retrobulbar Bagian dari neuritis optik, Nyeri bola mata dgn gerakan
peradangan terjadi jauh tertentu, afferent pupil reflex
dibelakang optic disc, (-), funduskopi normal
unilateral
Neuropati optik Iskemia optic disc akibat Optic disc swelling dan pucat,
iskemik (2) aterosklerosis, hipertensi, splinter hemorrhage pd
diabetes daerah peripapila
Atrofi papil (3) Etiologi bisa vaskuler, Penurunan visus perlahan,
degeneratif, metabolik, gangguan penglihatan warna,
glaukomatosa defek lapang pandang

(1) (2) (3)


Papilledema Papillitis (optic neuritis) Retrobulbar neuritis

Definition Swelling of optic nerve head Inflammation or infarction Inflammation of orbital


due to increased ICP of optic nerve head portion of optic nerve
Unilateral/bilateral Bilateral Unilateral Unilateral
Vision impairment Enlarged blind spot Central/paracentral Central/paracentral scotoma
scotoma to complete to complete blindness
blindness
Fundus appearance Hyperemic disk Hyperemic disk Normal
Vessel appearance Engorged, tortuous veins Engorged vessels Normal
Hemorrhages? Around disk, not periphery Hemorrhages near or on Normal
optic head
Pupillary light reflex Not affected Depressed Depressed
Treatment Normalize ICP Corticosteroids if cause Corticosteroids with caution
known
98-99. HORDEOLUM
Peradangan supuratif kelenjar kelopak mata
Infeksi staphylococcus pada kelenjar sebasea
Gejala: kelopak bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal,
merah, nyeri bila ditekan, ada pseudoptosis/ptosis akibat
bertambah berat kelopak
Gejala
nampak adanya benjolan pada kelopak mata bagian atas atau
bawah
berwarna kemerahan.
Pada hordeolum interna, benjolan akan nampak lebih jelas
dengan membuka kelopak mata.
Rasa mengganjal pada kelopak mata
Nyeri takan dan makin nyeri saat menunduk.
Kadang mata berair dan peka terhadap sinar.
Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas
2 bentuk :
Hordeolum internum: infeksi kelenjar Meibom di dalam
tarsus. Tampak penonjolan ke daerah kulit kelopak, pus
dapat keluar dari pangkal rambut
Hordeolum eksternum: infeksi kelenjar Zeiss atau Moll.
Penonjolan terutama ke daerah konjungtiva tarsal

http://www.huidziekten.nl/zakboek/dermatosen/htxt/Hordeolum.htm

Hordeolum Eksterna Hordeolum Interna


Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas
Pengobatan
Self-limited dlm 1-2 mingu
Kompres hangat selama sekitar 10-15 menit, 4x/hari
Antibiotik topikal (salep, tetes mata), misalnya:
Gentamycin, Neomycin, Polimyxin B,
Chloramphenicol
Jika tidak menunjukkan perbaikan : Antibiotika oral
(diminum), misalnya: Ampisilin, Amoksisilin,
Eritromisin, Doxycyclin
Insisi bila pus tidak dapat keluar
Pada hordeolum interna, insisi vertikal terhadap margo
palpebra supaya tidak memotong kelenjar meibom lainnya
Pada hordeolum eksterna, insisi horizontal supaya kosmetik
tetap baik
100. Viral Conjunctivitis
Etiology : Adenovirus (65-90% of cases) Viral conjunctivitis secondary to
produce 2 of the common clinical adenoviruses highly contagious, and
entities associated with viral the risk of transmission 10% - 50%
conjunctivitis : The virus spreads through direct contact
1. pharyngoconjunctival fever via contaminated fingers, medical
Abrupt onset of high instruments, swimming pool water,or
fever, pharyngitis, bilateral personal items
conjunctivitis and Incubation and communicability are
periauricular lymphnode estimated to be 5 to 12 days and 10 to 14
enlargement days, respectively
2. epidemic keratoconjunctivitis
More severe and presents Treatment
with watery discharge, artificial tears, topical antihistamines,
hyperemia, chemosis, and or cold compresses alleviating
ipsilateral lymphadenopathy some of the symptoms
Available antiviral medications are
not useful and topical antibiotics are
not indicated
Follicularis vs Papillaris Conjunctivitis
Folicularis Papillaris
Seen ini variety condition: Most commonly associated with
inflamation caused by viruses, an allergic immune response (AKC
atypical bacteria, toxin, topical & VKC), response to foreign body
medication (glaucoma medication (CL, prosthetic ocular)
brimonidine)
Follicle small, dome shaped Shows a cobblestone
nodules without prominent arrangement of flattened nodules
central vessels. Pale on its with central vascular cores
surface,red at base Papillae tarsal Giant papillary
Most prominent in the inferior conjunctivitis
palpebral and forniceal Limbal papillae horner trantas
conjunctiva dots in VKC
Histology : Closely packed, flat topped
Lymphoid follicle is situated in the projections with numerous
subepitelial region and consists of eosinophil, lymphocyte, plasma
germinal center immature
proliferating lymphocyte and mast cells.
More red in surface, pale at base
101. Blepharospasm
Blepharospasm is a focal dystonia characterized
by repetitive, sustained contractions of the
orbicularis oculi and frontalis muscles.
Clinical features of blepharospasm include
involuntary eye closing aggravated by bright
lights,wind, pollution, smoke, emotional stress,
fatigue.
This eye closing may interfere with reading, driving,
watching television, and other visual activities, and is
rarely associated with retro-orbital pain.
102. Komplikasi HIV pada Mata
Uveitis
Dibedakan dalam bentuk
granulomatosa akut-kronis dan
Tanda :
non-granulomatosa akut- kronis pupil kecil akibat rangsangan
proses radang pada otot
Bersifat idiopatik, ataupun terkait sfingter pupil
penyakit autoimun, atau terkait
penyakit sistemik edema iris
Biasanya berjalan 6-8 minggu Terdapat flare atau efek tindal
di dalam bilik mata depan
Dapat kambuh dan atau menjadi
menahun Bila sangat akut dapat terlihat
hifema atau hipopion
Gejala akut:
mata sakit Presipitat halus pada kornea
Merah
Fotofobia
penglihatan turun ringan
mata berair

Radang iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya Blood Aqueous Barrier sehingga terjadi
peningkatan protein, fibrin, dan sel-sel radang dalam humor akuos. Pada pemeriksaan biomikroskop
(slit lamp) hal ini tampak sebagai flare, yaitu partikel-partikel kecil dengan gerak Brown (efek tyndall).

Ilmu Penyakit Mata Ed 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006


HIV related anterior uveitis
Direct manifestation of the human
immunodeficiency virus infection
autoimmnune in origin
drug induced ie: rifabutin, secondary to direct
toxic effect upon the non-pigmented epithelium
of the ciliary body
Any of the different infections associated with
AIDS, ie: Herpes Zoster Virus, Herpes Simplex
Virus,Cytomegalovirus, Toxoplasma gondii,
Syphilis
Retinal microvasculitis related to HIV
infection
Retinal microvasculopathy occurs in more than half of the patients
with HIV
It is seen as transient cotton wool spots (CWS), intra-retinal
haemorrhages and microaneurysm, which occurs in 50-70% of
patients. It is usually asymptomaticusually asymptomatic.
It has an unclear pathogenesis, but it is thought to be HIV infection
of retinal vascular cells.
In an otherwise healthy individual the presence of CWS, should be
differentiated from other forms of retinopathy, such as diabeticor
hypertensive retinopathy. Serological test for HIV will confirm the
diagnosis
Treatment is based in delaying the progression of the disease
associated with HIV
103.Presbiopia
Merupakan keadaan berkurangnya daya akomodasi
pada usia lanjut
Penyebab:
Kelemahan otot akomodasi
Lensa mata tdk kenyal / berkurang elastisitasnya akibat
sklerosis lensa
Diperlukan kacamata baca atau adisi :
+ 1.0 D : 40 thn
+ 1.5 D : 45 thn
+ 2.0 D : 50 thn
+ 2.5 D : 55 thn
+ 3 .0 D : 60 thn
Sumber: Ilmu Penyakit Mata. Sidarta Ilyas. 2000.
Presbiopia
Pemeriksaan dengan
kartu Jaeger untuk
melihat ketajaman
penglihatan jarak
dekat.
The card is held 14
inches (356 mm) from
the persons's eye for
Koreksi lensa positif untuk menambah
kekuatan lensa yang berkurang sesuai usia the test. A result of
Kekuatan lensa yang biasa digunakan: 14/20 means that the
+ 1.0 D usia 40 tahun person can read at 14
+ 1.5 D usia 45 tahun inches what someone
+ 2.0 D usia 50 tahun with normal vision can
+ 2.5 D usia 55 tahun read at 20 inches.
+ 3.0 D usia 60 tahun
http://www.ivo.gr/files/items/1/145/51044.jpg
Ilmu Penyakit Mata Ed 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006

104. KATARAK-SENILIS
Katarak senilis adalah kekeruhan lensa yang 4 stadium: insipien, imatur (In some patients, at
terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 this stage, lens may become swollen due to
tahun continued hydration intumescent cataract),
matur, hipermatur
Epidemiologi : 90% dari semua jenis katarak Gejala : distorsi penglihatan, penglihatan
Etiologi :belum diketahui secara pasti kabur/seperti berkabut/berasap, mata tenang
multifaktorial: Penyulit : Glaukoma, uveitis
Faktor biologi, yaitu karena usia tua dan Tatalaksana : operasi (ICCE/ECCE)
pengaruh genetik
Faktor fungsional, yaitu akibat akomodasi
yang sangat kuat mempunyai efek buruk
terhadap serabu-serabut lensa.
Faktor imunologik
Gangguan yang bersifat lokal pada lensa,
seperti gangguan nutrisi, gangguan
permeabilitas kapsul lensa, efek radiasi
cahaya matahari.
Gangguan metabolisme umum
105. Keratitis
Konjungtivitis Keratitis Ulkus kornea Uveitis
Visus N <N <N N/<N
Sakit - ++ ++ +/++
Fotofobia - +++ - +++
Eksudat +/+++ -/+++ ++ -
Sekresi + - + +
Etiologi Bakteri/jamur/virus/a Bakteri/jamur/virus Infeksi, bahan kimia, Reaksi
lergi /alergi trauma, pajanan, imunologik
radiasi, sindrom lambat/dini
sjorgen, defisiensi
vit.A, obat-obatan,
reaksi
hipersensitivitas,
neurotropik
Tatalaksana Obat sistemik/topikal Obat Obat sesuai etiologi Steroid
sesuai etiologi sistemik/topikal
sesuai etiologi

Ilmu Penyakit Mata, Sidarta Ilyas, 2005


106. SISTEM RUJUKAN BERJENJANG
BPJS KESEHATAN
Sistem rujukan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang
sesuai kebutuhan medis, yaitu:
Dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama oleh fasilitas
kesehatan tingkat pertama
Jika diperlukan pelayanan lanjutan oleh spesialis, maka pasien dapat
dirujuk ke fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat kedua
Pelayanan kesehatan tingkat kedua di faskes sekunder hanya dapat
diberikan atas rujukan dari faskes primer.
Pelayanan kesehatan tingkat ketiga di faskestersier hanya dapat
diberikan atas rujukan darifaskes sekunder dan faskes primer.

Pelayanan kesehatan di faskes primer yang dapat dirujuk langsung


ke faskes tersier hanya untuk kasus yang sudah ditegakkan diagnosis
dan rencana terapinya, merupakan pelayanan berulang dan hanya
tersedia di faskes tersier.
Pengecualian Rujukan Berjenjang
Terjadi keadaan gawat darurat (kondisi
kegawatdaruratan mengikuti ketentuan BPJS yang
berlaku)
Bencana
Kekhususan permasalahan kesehatan pasien
(untuk kasus yang sudah ditegakkan rencana
terapinya dan terapi tersebut hanya dapat
dilakukan di fasilitas kesehatan lanjutan)
Pertimbangan geografis; dan
Pertimbangan ketersediaan fasilitas
107. EVALUASI CUCI TANGAN
Yang paling tepat untuk evaluasi kepatuhan cuci tangan
adalah observasi tertutup. Prinsip observasi tertutup
adalah auditor melakukan evaluasi melalui observasi tanpa
sepengetahuan orang yang sedang dievaluasi.

Kuesioner, focus group discussion (FGD), dan interview


tidak dipilih karena tidak menggambarkan kemampuan cuci
tangan dalam praktiknya.

Ujian tidak dipilih karena orang yang dievaluasi cenderung


memiliki kecenderungan untuk mengubah perilaku mereka
ketika mereka tahu bahwa mereka sedang dinilai
(Hawthorne effect).
108. MONITORING & EVALUASI
PROGRAM KESMAS (LOGIC MODEL)
O U TC O M E S / I
INPUTS ACTIVITIES OUTPUTS
M PA C T S

what is produced the changes or


what resources go what activities the
through those benefits that result
into a program program undertakes
activities from the program

e.g. increased skills/


e.g. number of knowledge/
e.g. development of
e.g. money, staff, booklets produced, confidence, leading in
materials, training
equipment workshops held, longer-term to
programs
people trained promotion, new job,
etc.

O U TC O M E V S I M PA C T
Indikator outcome dan impact sering kali disamakan atau dijadikan sebagai satu
kesatuan. Namun pada umumnya indikator outcome lebih menilai luaran jangka
pendek dan untuk wilayah setempat, sedangkan indikator impact lebih menilai
luaran jangka panjang dan dampak untuk wilayah yang lebih luas. Outcome
bersifat dinamis (lebih mudah berubah dibandingkan impact).
109. LANGKAH MEMBANGUN
BUDAYA KESELAMATAN PASIEN
Seluruh personel RS memiliki kesadaran yang konstan dan aktif tentang hal yang potensial
menimbulkan kesalahan.
Baik staf maupun organisasi RS mampu membicarakan kesalahan, belajar dari kesalahan tersebut
dan mengambil tindakan perbaikan.
Bersikap terbuka dan adil / jujur dalam membagi informasi secara terbuka dan bebas, dan
penanganan adil bagi staf bila insiden terjadi.
Perubahan nilai, keyakinan dan perilaku menuju keselamatan pasien penting bukan hanya bagi staf,
melainkan juga semua orang yang bekerja di RS serta pasien dan keluarganya. Tanyakan apa yang bisa
mereka bantu untuk meningkatkan keselamatan pasien RS.
Pimpinan wajib berkomitmen mendukung dan memberikan
penghargaan kepada staf yang melaporkan insiden keselamatan pasien, bahkan meskipun
kemudian dinyatakan salah.
Komunikasi antar staf dan tingkatan harus sering terjadi dan tulus.
Terdapat keterbukaan tentang kesalahan dan masalah bila terjadi pelaporan.
Pembelajaran organisasi. Tanggapan atas suatu masalah lebih
difokuskan untuk meningkatkan kinerja sistem daripada untuk menyalahkan seseorang.
Seluruh staf harus tahu apa yang harus dilakukan bila menemui
insiden: mencatat, melapor, dianalisis, memperoleh feed back, belajar dan mencegah pengulangan.
110. PENGENDALIAN VARIABEL
PERANCU
Dapat dilakukan pada tahap desain/rancangan penelitian atau pada
tahap analisis data.

Pada tahap desain/rancangan penelitian:


Restriksi/ pembatasan*: subyek dibatasi pada karakteristik tertentu
saja. Misalnya: hanya mengambil subyek usia produktif 20-50 tahun.
Matching*: tiap subyek di kelompok terpapar dicocokkan dengan di
kelompok tidak terpapar sehingga subyek di kedua kelompok
mempunyai karakteristik yang serupa.
Randomisasi**: subyek ditempatkan dalam kelompok terpapar
intervensi dan tidak terpapar berdasarkan hasil randomisasi.

Pada tahap analisis data:


Data dianalisis dengan analisis mutivariat untuk dapat mengontrol
variabel perancu.

*: dapat dilakukan pada penelitian observasional dan eksperimental


**: hanya dapat diakukan pada penelitian eksperimental
111. PRINSIP PELAYANAN
KEDOKTERAN KELUARGA
Holistik
Komprehensif
Terpadu
Berkesinambungan

Danasari. 2008. Standar Kompetensi Dokter Keluarga. PDKI : Jakarta


Pelayanan Kedokteran Keluarga
HOLISTIK
Mencakup seluruh tubuh jasmani dan rohani
pasien (whole body system), nutrisi
Tidak hanya organ oriented
Patient and Family oriented
Memandang manusia sebagai mahluk
biopsikososial pada ekosistemnya.
Pelayanan Kedokteran Keluarga
KOMPREHENSIF (Menyeluruh)
Tidak hanya kuratif saja, tapi pencegahan dan
pemulihan
Health promotion
Spesific protection
Early diagnosis and Prompt treatment
Disability limitation
Rehabilitation
Penatalaksanaan tidak hanya patient oriented,
tapi juga family oriented dan community oriented
Pelayanan Kedokteran Keluarga
BERKESINAMBUNGAN
Tidak sesaat, ada follow upnya dan
perencanaan manajemen pasien

TERPADU / TERINTEGRASI
Memakai seluruh ilmu kedokteran yang telah
di dapat bekerja sama dengan pasien,
keluarga, dokter spesialis atau tenaga
kesehatan lain
112. SUBSISTEM PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
Prinsip-prinsip subsistem pemberdayaan
masyarakat terdiri dari:
1. berbasis masyarakat
2. edukatif dan kemandirian
3. kesempatan mengemukakan pendapat dan
memilih pelayanan kesehatan
4. kemitraan dan gotong royong.
Kemitraan: suatu kerjasama formal antara individu-
individu, kelompok-kelompok atau organisasi-
organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan
tertentu
113. KEJADIAN EPIDEMIOLOGIS PENYAKIT

Sporadik: kejadian penyakit tertentu di suatu


daerah secara acak dan tidak teratur.
Contohnya: kejadian pneumonia di DKI
Jakarta.

Endemik: kejadian penyakit di suatu daerah


yang jumlahnya lebih tinggi dibanding daerah
lain dan hal tersebut terjadi terus menerus.
Contohnya: Malaria endemis di Papua.
Epidemik dan KLB: Epidemik dan KLB sebenarnya
memiliki definisi serupa, namun KLB terjadi pada
wilayah yang lebih sempit (misalnya di satu
kecamatan saja). Indonesia memiliki kriteria KLB
berdasarkan Permenkes 1501 tahun 2010 (di
slide selanjutnya).

Pandemik: merupakan epidemik yang terjadi


lintas negara atau benua. Contohnya: kejadian
MERS-COV di dunia tahun 2014-2015.
114. ODDS RATIO
Imunitas buruk Imunitas baik

Kualitas tidur buruk 50 200

Kualitas tidur baik 150 200

OR = ad/bc
OR = 50 x 200 / 200 x 150
115. BENTUK KELUARGA
Keluarga inti (nuclear family): Keluarga yang terdiri dari suami, istri serta anak-anak kandung.
Keluarga besar (extended family): Keluarga yang disamping terdiri dari suami, istri, dan anak-anak
kandung, juga sanak saudara lainnya, baik menurut garis vertikal (ibu, bapak, kakek, nenek, mantu,
cucu, cicit), maupun menurut garis horizontal (kakak, adik, ipar) yang berasal dari pihak suami atau
pihak isteri.
Keluarga campuran (blended family): Keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung
serta anak-anak tiri.
Keluarga orang tua tunggal (single parent family): Keluarga yang terdiri dari pria atau wanita,
mungkin karena bercerai, berpisah, ditinggal mati atau mungkin tidak pernah menikah, serta anak-
anak mereka tinggal bersama.
Keluarga hidup bersama (commune family): Keluarga yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak
yang tinggal bersama, berbagi hak, dan tanggung jawab serta memiliki kekayaan bersama.
Keluarga serial (serial family): Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang telah menikah dan
mungkin telah punya anak, tetapi kemudian bercerai dan masing-masing menikah lagi serta
memiliki anak-anak dengan pasangan masing-masing, tetapi semuanya menganggap sebagai satu
keluarga.
Keluarga komposit ( composite family): keluarga dari perkawinan poligami dan hidup bersama.
Keluarga kohabitasi(Cohabitation): dua orang menjadi satu keluarga tanpa pernikahan, bisa
memiliki anak atau tidak.
116. TABEL UJI HIPOTESIS
VARIABEL
U J I S TAT I S T I K U J I A LT E R N AT I F
INDEPENDEN DEPENDEN

Fisher (digunakan untuk tabel


Kategorik Kategorik Chi square 2x2)*
Kolmogorov-Smirnov
(digunakan untuk tabel bxk)*

Kategorik T-test independen Mann-Whitney**


Numerik
(2 kategori)
T-test berpasangan Wilcoxon**

One Way Anova (tdk


Kruskal Wallis**
Kategorik berpasangan)
Numerik
(>2 kategori) Repeated Anova
Friedman**
(berpasangan)
Numerik Numerik Korelasi Pearson Korelasi Spearman**
Regresi Linier
Keterangan:
* : Digunakan bila persyaratan untuk uji chi square tidak terpenuhi
**: Digunakan bila distribusi data numerik tidak normal
117. PENANGGULANGAN ANEMIA
DEFISIENSI BESI
Pada daerah dengan prevalensi anemia
defisiensi besi yang tinggi, WHO
menganjurkan pemberian tablet Fe secara
massal sebagai cara menanggulangi anemia.

Pemberian tablet Fe massal dilakukan pada


balita dan anak usia sekolah.
118. TABEL UJI HIPOTESIS
VARIABEL
U J I S TAT I S T I K U J I A LT E R N AT I F
INDEPENDEN DEPENDEN

Fisher (digunakan untuk tabel


Kategorik Kategorik Chi square 2x2)*
Kolmogorov-Smirnov
(digunakan untuk tabel bxk)*

Kategorik T-test independen Mann-Whitney**


Numerik
(2 kategori)
T-test berpasangan Wilcoxon**

One Way Anova (tdk


Kruskal Wallis**
Kategorik berpasangan)
Numerik
(>2 kategori) Repeated Anova
Friedman**
(berpasangan)
Numerik Numerik Korelasi Pearson Korelasi Spearman**
Regresi Linier
Keterangan:
* : Digunakan bila persyaratan untuk uji chi square tidak terpenuhi
**: Digunakan bila distribusi data numerik tidak normal
119. MONITORING & EVALUASI
PROGRAM KESMAS (LOGIC MODEL)
120. SENSITIVITAS, SPESIFISITAS, PPV, NPV

Rule of thumb:
Sensitivitas dan spesifisitas TIDAK DIPENGARUHI
oleh prevalensi penyakit di wilayah tempat alat
diagnostik digunakan.
Sedangkan, PPV dan NPV DIPENGARUHI oleh
prevalensi penyakit di wilayah tempat alat
diagnostik digunakan.
Pada tempat dengan prevalensi tinggi, PPV akan
semakin tinggi. Pada tempat dengan prevalensi
rendah, PPV akan rendah.
NPV kebalikan dari PPV.
121. ASFIKSIA MEKANIK
Penutupan lubang saluran pernafasan bagian atas:
Pembekapan (smothering)
Penyumbatan/ penyumpalan (gagging , choking)
Penekanan dinding saluran pernafasan:
Penjeratan (strangulation)
Pencekikan (manual strangulation)
Gantung (hanging)
External pressure of the chest yaitu penekanan dinding
dada dari luar.
Drowning (tenggelam) yaitu saluran napas terisi air.
Inhalation of suffocating gases.
122. Apakah Dokter Wajib Lapor pada Kasus KDRT?

Umumnya korban KDRT belum tentu bersedia melaporkan pada pihak


yang berwajib (dengan alasan takut, cinta, dsb).

UU PKDRT tidak menyebutkan dengan jelas bahwa tenaga kesehatan


yang menemukan kasus tersebut wajib melaporkannya.

Namun dalam UU tersebut berbunyi: setiap orang yang mendengar,


melihat, atau mengetahui terjadinya KDRT wajib melakukan upaya-
upaya sesuai batas kemampuannya untuk mencegah berlangsungnya
tindak pidana, memberikan perlindungan pada korban memberikan
pertolongan darurat, dan membantu proses pengajuan permohonan
penetapan perlindungan
123. KAIDAH DASAR MORAL

Hanafiah, J., Amri amir. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum\Kesehatan (4th ed). Jakarta: EGC.
124. Beneficence
Kriteria
1. Mengutamakan altruism (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk
kepentingan orang lain)
2. Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
3. Memandang pasien/keluarga sebagai sesuatu yang tak hanya menguntungkan dokter

4. Mengusahakan agar kebaikan lebih banyak dibandingkan keburukannya


5. Paternalisme bertanggungjawab/berkasih sayang
6. Menjamin kehidupan baik minimal manusia
7. Pembatasan goal based (sesuai tujuan/kebutuhan pasien)
8. Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien
9. Minimalisasi akibat buruk
10. Kewajiban menolong pasien gawat darurat
11. Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan
12. Tidak menarik honorarium di luar kewajaran
13. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan
14. Mengembangkan profesi secara terus menerus
15. Memberikan obat berkhasiat namun murah
16. Menerapkan golden rule principle
125. TRAUMA PETIR
Ada 3 efek listrik akibat sambaran petir :
Current mark / electrik mark: Efek ini termasuk salah satu
tanda utama luka listrik (electrical burn).

Aborescent markings. Tanda ini berupa gambaran seperti


pohon gundul tanpa daun akibat terjadinya vasodilatasi
vena pada kulit korban sebagai reaksi dari persentuhan
antara kulit dengan petir. Tanda ini akan hilang sendiri
setelah beberapa jam.

Magnetisasi dan metalisasi: Logam yang terkena sambaran


petir akan berubah menjadi magnet.
126.
127. Gantung Diri vs Pembunuhan
No Penggantungan pada bunuh diri Penggantungan pada pembunuhan
1 Usia. Gantung diri lebih sering terjadi pada Tidak mengenal batas usia, karena tindakan
remaja dan orang dewasa. Anak-anak di pembunuhan dilakukan oleh musuh atau lawan
bawah usia 10 tahun atau orang dewasa di dari korban dan tidak bergantung pada usia
atas usia 50 tahun jarang melakukan gantung
diri
2 Tanda jejas jeratan, bentuknya miring, Tanda jejas jeratan, berupa lingkaran tidak
berupa lingkaran terputus (non-continuous) terputus, mendatar, dan letaknya di bagian
dan terletak pada bagian atas leher tengah leher, karena usaha pelaku pembunuhan
untuk membuat simpul tali
3 Simpul tali, biasanya hanya satu simpul yang Simpul tali biasanya lebih dari satu pada bagian
letaknya pada bagian samping leher depan leher dan simpul tali tersebut terikat kuat

4 Riwayat korban. Biasanya korban Sebelumnya korban tidak mempunyai riwayat


mempunyai riwayat untuk mencoba bunuh untuk bunuh diri
diri dengan cara lain
5 Cedera. Luka-luka pada tubuh korban yang Cedera berupa luka-luka pada tubuh korban
bisa menyebabkan kematian mendadak biasanya mengarah kepada pembunuhan
tidak ditemukan pada kasus bunuh diri
Gantung Diri vs Pembunuhan
6 Racun. Ditemukannya racun dalam Terdapatnya racun berupa asam opium hidrosianat atau kalium sianida
lambung korban, misalnya arsen, tidak sesuai pada kasus pembunuhan, karena untuk hal ini perlu waktu
sublimat korosif dan lain-lain tidak dan kemauan dari korban itu sendiri. Dengan demikian maka kasus
bertentangan dengan kasus gantung penggantungan tersebut adalah karena bunuh diri
diri. Rasa nyeri yang disebabkan racun
tersebut mungkin mendorong korban
untuk melakukan gantung diri
7 Tangan tidak dalam keadaan terikat, Tangan yang dalam keadaan terikat mengarahkan dugaan pada kasus
karena sulit untuk gantung diri dalam pembunuhan
keadaan tangan terikat
8 Kemudahan. Pada kasus bunuhdiri, Pada kasus pembunuhan, mayat ditemukan tergantung pada tempat
mayat biasanya ditemukan tergantung yang sulit dicapai oleh korban dan alat yang digunakan untuk mencapai
pada tempat yang mudah dicapai oleh tempat tersebut tidak ditemukan
korban atau di sekitarnya ditemukan
alat yang digunakan untuk mencapai
tempat tersebut
9 Tempat kejadian. Jika kejadian Tempat kejadian. Bila sebaliknya pada ruangan ditemukan terkunci dari
berlangsung di dalam kamar, dimana luar, maka penggantungan adalah kasus pembunuhan
pintu, jendela ditemukan dalam
keadaan tertutup dan terkunci dari
dalam, maka kasusnya pasti merupakan
bunuh diri
10 Tanda-tanda perlawanan, tidak Tanda-tanda perlawanan hampir selalu ada kecuali jika korban sedang
ditemukan pada kasus gantung diri tidur, tidak sadar atau masih anak-anak.
128. PEMERIKSAAN DIATOM
TES DIATOM 4 CARA PEMERIKSAAN DIATOM:
Diatom adalah alga atau ganggang Pemeriksaan mikroskopik langsung.
bersel satu dengan dinding terdiri Pemeriksaan permukaan paru disiram
dari silikat (SiO2) yang tahan panas dengan air bersih iris bagian perifer
dan asam kuat. ambil sedikit cairan perasan dari
jaringan perifer paru, taruh pada
Bila seseorang mati karena gelas objek tutup dengan kaca
tenggelam maka cairan bersama penutup. Lihat dengan mikroskop.
diatome akan masuk ke dalam
saluran pernafasan atau pencernaan Pemeriksaan mikroskopik jaringan
kemudian diatome akan masuk dengan metode Weinig dan Pfanz.
kedalam aliran darah melalui
kerusakan dinding kapiler pada waktu
korban masih hidup dan tersebar Chemical digestion. Jaringan
keseluruh jaringan. dihancurkan dengan menggunakan
asam kuat sehingga diharapkan
diatom dapat terpisah dari jaringan
tersebut.

Inseneration. Bahan organik


dihancurkan dengan pemanasan
dalam oven.
129. Justice
Kriteria
1. Memberlakukan sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
4. Menghargai hak sehat pasien
5. Menghargai hak hukum pasien
6. Menghargai hak orang lain
7. Menjaga kelompok yang rentan
8. Tidak melakukan penyalahgunaan
9. Bijak dalam makro alokasi
10. Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien
11. Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya
12. Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi)
secara adil
13. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
14. Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alas an tepat/sah
15. Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan
kesehatan
16. Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dsb
130. HUKUM PIDANA VS PERDATA
HUKUM PIDANA HUKUM PERDATA
Publik Privat
Kepentingan umum Kepentingan individu
Dipertahankan oleh negara Dipertahankan oleh perorangan
Dituntut oleh jaksa Dituntut oleh penggugat
Tidak ada usaha perdamaian Ada usaha perdamaian
Sanksi berupa kurungan Sanksi berupa ganti rugi
131. Unsur dalam Informed Consent
Informed Consent memiliki 2 unsur :
Informed informasi yang harus diberikan
(dokter)
Consent persetujuan (pasien)
persetujuan yang diberikan pasien kepada
dokter setelah diberi penjelasan
Yang Berhak Memberikan Informed Consent

Pasien yang telah dewasa (>=21 tahun atau


sudah menikah, menurut KUHP), dalam keadaan
sadar penuh, mampu berkomunikasi.

Bila tidak memenuhi syarat di atas, dapat


diwakilkan oleh keluarga/ wali dengan urutan:
Suami/ istri
Ayah atau ibu kandung
Anak kandung (bila anak kandung sudah dewasa)
Saudara kandung
132. Beneficence
Kriteria
1. Mengutamakan altruism (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk
kepentingan orang lain)
2. Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
3. Memandang pasien/keluarga sebagai sesuatu yang tak hanya menguntungkan dokter

4. Mengusahakan agar kebaikan lebih banyak dibandingkan keburukannya


5. Paternalisme bertanggungjawab/berkasih sayang
6. Menjamin kehidupan baik minimal manusia
7. Pembatasan goal based (sesuai tujuan/kebutuhan pasien)
8. Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien
9. Minimalisasi akibat buruk
10. Kewajiban menolong pasien gawat darurat
11. Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan
12. Tidak menarik honorarium di luar kewajaran
13. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan
14. Mengembangkan profesi secara terus menerus
15. Memberikan obat berkhasiat namun murah
16. Menerapkan golden rule principle
Non-maleficence
Kriteria
1. Menolong pasien emergensi :
Dengan gambaran sbb :
- pasien dalam keadaan sangat berbahaya (darurat) / berisiko
kehilangan sesuatu yang penting (gawat)
- dokter sanggup mencegah bahaya/kehilangan tersebut
- tindakan kedokteran tadi terbukti efektif
- manfaat bagi pasien > kerugian dokter
2. Mengobati pasien yang luka
3. Tidak membunuh pasien ( euthanasia )
4. Tidak menghina/mencaci maki/ memanfaatkan pasien
5. Tidak memandang pasien hanya sebagai objek
6. Mengobati secara proporsional
7. Mencegah pasien dari bahaya
8. Menghindari misrepresentasi dari pasien
9. Tidak membahayakan pasien karena kelalaian
10. Memberikan semangat hidup
11. Melindungi pasien dari serangan
12. Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan
133. Justice
Kriteria
1. Memberlakukan sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
4. Menghargai hak sehat pasien
5. Menghargai hak hukum pasien
6. Menghargai hak orang lain
7. Menjaga kelompok yang rentan
8. Tidak melakukan penyalahgunaan
9. Bijak dalam makro alokasi
10. Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien
11. Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya
12. Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi)
secara adil
13. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
14. Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alas an tepat/sah
15. Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan
kesehatan
16. Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dsb
134. KASUS TENGGELAM
Pada kasus dugaan tenggelam, dapat dilakukan
pemeriksaan luar, serta pemeriksaan dalam dan
pemeriksaan laboratorium seperti:
Percobaan getah paru (lonset proef)
Pemeriksaan diatome (destruction test)
Pemeriksaan kimia darah (gettler test & Durlacher
test).
Namun karena soal no.134 dokter bertugas di
puskesmas, yang paling mungkin dilakukan
adalah melakukan pemeriksaan luar untuk
menentukan ada tidaknya tanda kekerasan.
135. Justice
Kriteria
1. Memberlakukan sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
4. Menghargai hak sehat pasien
5. Menghargai hak hukum pasien
6. Menghargai hak orang lain
7. Menjaga kelompok yang rentan
8. Tidak melakukan penyalahgunaan
9. Bijak dalam makro alokasi
10. Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien
11. Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya
12. Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi)
secara adil
13. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
14. Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alas an tepat/sah
15. Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan
kesehatan
16. Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dsb
OBSTETRI &
GINEKOLOGI
136. Mola Hidatidosa: Manifestasi Klinis

TIPE KOMPLIT T I P E PA R S I A L
Perdarahan pervaginam Seperti tipe komplit hanya
setelah amenorea lebih ringan
Uterus membesar secara Biasanya didiagnosis
abnormal dan menjadi lunak sebagai aborsi inkomplit/
Hipertiroidism missed abortion
Kista ovarium lutein Uterus kecil atau sesuai usia
Hiperemesis dan pregnancy kehamilan
induced hypertension
Tanpa kista lutein
Peningkatan hCG 100,000
mIU/mL
Mola Hidatidosa: Hubungan dengan Hipertiroid

Hydatidiform Mole

Extremely high hCG level mimic TSH

Hyperthyroidism
Mola Hidatidosa: Diagnosis
Pemeriksaan kadar hCG
sangat tinggi, tidak sesuai usia
kehamilan

Pemeriksaan USG ditemukan


adanya gambaran vesikuler atau
badai salju
Komplit: badai salju
Partial: terdapat bakal janin dan
plasenta

Pemeriksaan Doppler tidak


ditemukan adanya denyut
jantung janin
137. Mola
Hidatidosa:
Tatalaksana
138. Rumus Naegle (Hari Perkiraan Lahir)
Berlaku untuk wanita dengan siklus 28 hari sehingga ovulasi
terjadi pada hari ke 14
Menghitung umur kehamilan berlangsung selama 288 hari
Perhitungan kasar: HPHT + 288 hari perkiraan kelahiran
Perhitungan berdasarkan siklus 28 hari
HPHT (hari pertama haid terakhir ) Hari +7, Bulan + 9, Tahun
tetap
HPHT (hari pertama haid terakhir ) Hari +7, Bulan 3, Tahun +
1
Seorang wanita dengan siklus menstruasi 35 hari dari rumus
Naegele maka taksiran persalinannya tanggal + 14 hari bukan 7
dan untuk wanita dengan siklus menstruasi 21 hari maka taksiran
persalinannya tanggal tetap tidak perlu ditambah
139. Serologi Infeksi Rubella
Serologi IgM Serologi IgG Interpretasi
Non Reaktif Non Reaktif Belum pernah
terinfeksi
Reaktif Non Reaktif Terinfeksi dalam 2-6
minggu terakhir
Non Reaktif Reaktif Sudah pernah terkena
Rubella, biasanya
lebih dari 2 bulan
yang lalu

http://www.tabletsmanual.com/wiki/read/rubella_igg_igm
140. Deteksi Masa Ovulasi
Perubahan konsistensi mukus serviks
Pada fase folikuler: mukus kental dan tebal
Pada masa ovulasi:
Mukus encer, menyerupai putih telur dan licin, dapat
meregang hingga 10-15 cm
Bila dilihat pada kaca objek dan dikeringkan gambaran
pakis (ferning atau fern test)
141. Hiperemesis Gravidarum
Emesis gravidarum:
Mual muntah pada kehamilan tanpa komplikasi, frekuensi <5 x/hari
70% pasien: Mulai dari minggu ke-4 dan 7
60% : membaik setelah 12 minggu
99% : Membaik setelah 20 minggu

Hyperemesis gravidarum
Mual muntah pada kehamilan dengan komplikasi
dehidrasi
Hiperkloremik alkalosis,
ketosis
Grade 1 Low appetite, epigastrial pain, weak, pulse 100 x/min, systolic BP low, signs of
dehydration (+)
Grade 2 Apathy, fast and weak pulses, icteric sclera (+), oliguria, hemoconcentration,
aceton breath
Grade 3 Somnolen coma, hypovolemic shock, Wernicke encephalopathy.
1. http://student.bmj.com/student/view-article.html?id=sbmj.c6617. 2. http://emedicine.medscape.com/article/254751-overview#a0104. 3.
Bader TJ. Ob/gyn secrets. 3rd ed. Saunders; 2007. 4. Mylonas I, et al. Nausea and Vomiting in Pregnancy. Dtsch Arztebl 2007; 104(25): A 18216.
142. Prolaps Uteri: Klasifikasi
Derajat Prolaps Uteri

http://eprints.undip.ac.id/46280/3/BAIQ_CIPTA_HARDIANTI_22010111140197_Lap.KTI_Bab2.pdf
143. Cutt-off reference values for semen Characteristics
as published in consecutive WHO manuals
Sperma Abnormal

Azoospermia: tidak terdapat sperma hidup dalam cairan


sperma dalam cairan ejakulat ejakulat
Oligospermia: jumlah sperma Astenozoospermia: motilitas <
kurang dari 20 juta per ml normal
cairan ejakulat Teratozoospermia: morfologi
abnormal
Necrozoospermia: tidak ada
144. Infertilitas
Pasangan suami istri, setelah bersanggama secara
teratur 2-3 kali seminggu, tanpa memakai metode
pencegahan belum mengalami kehamilan selama satu
tahun

Jenis infertilitas
Infertilitas Primer
Istri belum pernah hamil walaupun bersanggama tanpa
usaha kontrasepsi dan dihadapkan pada kepada
kemungkinan kehamilan selama 12 bulan
Infertilitas Sekunder
Istri pernah hamil, namun kemudian tidak terjadi
kehamilan lagi walaupun bersanggama tanpa usaha
kontrasepsi dan dihadapkan kepada kemungkinan
kehamilan selama 12 bulan
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27266/4/Chapter%20II.pdf
145. Hipogonadisme Hipergonadotropik
Hipogonadisme: gangguan penurunan fungsi gonad
Primer (kegagalan testis primer): akibat gangguan pada
testis
Sekunder: gangguan pada hipotalamus atau kelenjar
pituitari

Hipergonadotropik: peningkatan hormon


gonadotropin (FSH dan LH)
Primer: akibat adanya gangguan kelenjar seks
Sekunder: tumor hipotalamus, dll
146. Kanker Serviks
Keganasan pada serviks Faktor Risiko :
Perubahan sel dari normal HPV (faktor utama) 50% oleh
pre kanker (displasia) HPV 16 & 18
kanker Multipartner
Insidens : usia 40-60 tahun Merokok
Riwayat penyakit menular
seksual
Berhubungan seks pertama
pada usia muda
Kontrasepsi oral
Multiparitas
Status ekonomi sosial rendah
Riwayat Keluarga
Imunosupresi
Defisiensi nutrien dan vitamin
147. Inspeksi Visual Asam Asetat
Pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata
telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-
5% (Wijaya Delia, 2010)

Dapat mendeteksi lesi tingkat pra kanker (high-Grade Precanceraus Lesions)


dengan sensitivitas sekitar 66-96% dan spesifitas 64-98%. Sedangkan nilai prediksi
positif (positive predective value) dan nilai prediksi negatif (negative predective
value) masing-masing antara 10-20% dan 92-97% (Wijaya Delia, 2010)

Serviks yang diberi larutan asam asetat 5% akan merespon lebih cepat daripada
larutan 3%. Efek akan menghilang sekitar 50-60 detik sehingga dengan pemberian
asam asetat akan didapat hasil gambaran serviks yang normal (merah homogen)
dan bercak putih (displasia) (Novel S Sinta,dkk,2010)
148. Kanker Serviks: Diagnostik

Deteksi Lesi Pra Kanker


Pelayanan Primer: IVA, VILI, sitologi pap smear
Pelayanan Sekunder: Liquid base cytology
Pelayanan Tersier: DNA HPV

Diagnostik
Pelayanan primer: anamnesis dan pemeriksaan fisik
Pelayanan Sekunder: kuret endoserviks, sistoskopi,
IVP, foto toraks dan tulang, konisasi, amputasi serviks
Pelayanan Tersier: Proktoskopi

Panduan Pelayanan Klinis Kanker Serviks, Komite Penanggulangan Kanker (KPKN) 2015
Kanker Serviks
Displasia Serviks
Perubahan abnormal pada sel di permukaan
serviks, dapat terlihat dari pengamatan
mikroskopik

Histologi
Cervical intraepithelial neoplasia (CIN) I
(mild) a benign viral infection
CIN II (moderate)
CIN III (severe)

Sitologi
low-grade SIL (squamous intraepithelial
lesion)low-grade lesions
high-grade SIL (HSIL) high-grade
dysplasia
149. Abortus Inkomplit
Jika perdarahan tidak banyak dan kehamilan <16 minggu evaluasi dapat dilakukan
secara digital atau cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui
serviks perdarahan berhenti: beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 mcg PO

Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan <16 minggu, evaluasi
sisa hasil konsepsi dengan
Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam
sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia
Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg IM (diulang setelah 15 menit bila
perlu) atau misoprostol 400 mcg PO (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu)

Jika kehamilan lebih 16 minggu


Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan IV(NaCl atau RL) dengan kecepatan 40 tpm sampai
terjadi ekspulsi hasil konsepsi
- Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per
vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi
hasil konsepsi (maksimal 800 mcg)
- Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam
uterus
- Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu
setelah penanganan
150. Medikamentosa Kehamilan: TT
Didahului dengan skrining untuk mengetahui jumlah dosis dan status) imunisasi TT
yang telah diperoleh selama hidupnya

Pemberian tidak ada interval maks, hanya terdapat interval min antar dosis TT

Jika ibu belum pernah imunisasi atau status imunisasinya tidak diketahui, berikan
dosis vaksin (0,5 ml IM di lengan atas) sesuai tabel berikut

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu, WHO


Medikamentosa Kehamilan: TT
Dosis booster mungkin diperlukan pada ibu yang sudah
pernah diimunisasi. Pemberian dosis booster 0,5 ml IM
disesuaikan dengan jumlah vaksinasi yang pernah
diterima sebelumnya seperti pada tabel berikut:

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu, WHO


151. Kanker Serviks: Tanda dan Gejala

Perdarahan pervaginam
Perdarahan menstruasi lebih lama dan lebih banyak
dari biasanya
Perdarahan post menopause atau keputihan >>
Perdarahan post koitus
Nyeri saat berhubungan
Keputihan (terutama berbau busuk + darah)
Massa pada serviks, mudah berdarah
Nyeri pada panggul, lumbosakral, gluteus, gangguan
berkemih, nyeri pada kandung kemih dan rektum

Panduan Pelayanan Klinis Kanker Serviks, Komite Penanggulangan Kanker (KPKN) 2015
152. Vasa Previa
Kondisi langka dimana pembuluh darah janin melintasi membran
amnion

Penyebab perdarahan antepartum dimana terjadi fetal distress yang


tidak sebanding dengan jumlah perdarahan

Diagnosis
USG Doppler + Posisi Tredelenburg + pemindahan manual posisi presentasi
janin dengan lembut

Tatalaksana
Perawatan di RS dengan NICU pada usia
kehamilan 28-32 minggu
Kortikosteroid untuk pematangan paru
SC elektif di usia kehamilan 35-37 minggu

http://www.jogi.co.in/may_june_16/10_cr_Vasa.html
153. Gangguan Proses Menyusui: Mastitis
Inflamasi / infeksi payudara

Diagnosis
Payudara (biasanya unilateral) keras,
memerah, dan nyeri
Dapat disertai benjolan lunak
Dapat disertai demam > 38 C
Paling sering terjadi di minggu ke-3 dan
ke-4 postpartum, namun dapat terjadi
kapan saja selama menyusui
Faktor Predisposisi
Bayi malas menyusu atau tidak menyusu
Menyusui selama beberapa minggu setelah melahirkan
Puting yang lecet
Menyusui hanya pada satu posisi, sehingga drainase payudara tidak sempurna
Bra yang ketat dan menghambat aliran ASI
Riwayat mastitis sebelumnya saat menyusui
Mastitis & Abses Payudara: Tatalaksana
Tatalaksana Umum Abses Payudara
Tirah baring & >> asupan cairan Stop menyusui pada payudara yang
Sampel ASI: kultur dan diuji sensitivitas abses, ASI tetap harus dikeluarkan
Tatalaksana Khusus Bila abses >> parah & bernanah
Berikan antibiotika : antibiotika
Kloksasilin 500 mg/6 jam PO , 10-14 hari Rujuk apabila keadaan tidak
ATAU
membaik.
Eritromisin 250 mg, PO 3x/hari, 10-14
hari Terapi: insisi dan drainase
Tetap menyusui, mulai dari payudara sehat. Periksa sampel kultur resistensi
Bila payudara yang sakit belum kosong dan pemeriksaan PA
setelah menyusui, pompa payudara untuk Jika abses diperkirakan masih banyak
mengeluarkan isinya. tertinggal dalam payudara, selain
Kompres dingin untuk << bengkak dan nyeri. drain, bebat juga payudara dengan
Berikan parasetamol 3x500mg PO elastic bandage 24 jam tindakan
Sangga payudara ibu dengan bebat atau bra kontrol kembali untuk ganti kassa.
yang pas.
Berikan obat antibiotika dan obat
Lakukan evaluasi setelah 3 hari. penghilang rasa sakit
154. Korioamnionitis
Etiologi dan Faktor Risiko
Infeksi ascending dari vagina (IMS, BV)
serviks pendek
Persalinan prematur
Persalinan lama
Ketuban pecah lama
Pemeriksaan dalam yang dilakukan berulang-ulang
Alkohol
Rokok
Gejala dan Tanda
Demam > 38 C (paling sering), takikardia ibu > 100 bpm, takikardia janin >
160 bpm, cairan ketuban/keputihan purulen atau berbau, nyeri fundus
saat tidak berkontraksi, leukositosis ibu > 15.000
Bila terdapat 2 atau lebih gejala dan tanda diatas risiko sepsis
neonatal >>>
http://emedicine.medscape.com/article/973237-medication
Korioamnionitis: Tatalaksana

Bila diagnosis tegak pikirkan terminasi


kehamilan

Antibiotik terutama yang dapat mencegah


GBS (Guillain-Barre Syndrome)

Kortikosteroid pada kehamilan < 34 minggu

http://emedicine.medscape.com/article/973237-medication
Tatalaksana

Rujuk pasien ke rumah sakit.


Beri antibiotika kombinasi: ampisilin 2 g I tiap 6 jam
ditambah gentamisin 5 mg/kgBB I setiap 24 jam.
Terminasi kehamilan. Nilai serviks untuk menentukan cara
persalinan:
Jika serviks matang: lakukan induksi persalinan dengan oksitosin
Jika serviks belum matang: matangkan dengan prostaglandin
dan infus oksitosin, atau lakukan seksio sesarea
Jika persalinan dilakukan pervaginam, hentikan antibiotika
setelah persalinan. Jika persalinan dilakukan dengan seksio
sesarea, lanjutkan antibiotika dan tambahkan metronidazol
500 mg IV tiap 8 jam sampai bebas demam selama 48 jam.
155. TRIKOMONIASIS
Oval, panjang 4-32 m dan
lebar 2,4-14,4 m, memiliki
flagella
Tidak memiliki bentuk kista
Terapi Metronidazole
2 gram, dosis sekali minum
(single dose)
250 mg 3 kali sehari selama 7-
10 hari
500 mg 2 kali sehari selama 5-7
hari
Dapat digunakan untuk
kehamilan trimester
berapapun (CDC)
Masase uterus segera setelah plasenta lahir (15 detik) 156. ATONIA
UTERI:
TATALAKSANA
kompresi bimanual interna maks 5 menit

Identifikasi sumber
Jika terus berdarah, Kompresi bimanual eksterna + perdarahan lain
infus 20 IU oksitosin dalam 500 ml NS/RL 40 tpm Laserasi jalan
Infus untuk restorasi cairan & jalur obat esensial, kemudian
lahir
lanjutkan KBI
Hematoma
parametrial
Tidak berhasil Ruptur uteri
Inversio uteri
Sisa fragmen
plasenta
Rujuk; Selama perjalanan Kompresi
bimanual eksterna
Berhasil Kompresi aorta abdominalis
Tekan segmen bawah atau aorta
abdominalis; lanjutkan infus infus 20 IU
oksitosin dalam 500 ml NS/RL/ jam

Terkontrol Ligasi a. uterina & ovarika Perdarahan masih

Transfusi Rawat & Observasi HISTEREKTOMI Transfusi


157. Perkiraan Tinggi Fundus Uterus
158. Konseling KB
Tujuan
Menyampaikan informasi dari pilihan pola reproduksi
Memilih metode KB yang diyakini
Menggunakan metode KB yang dipilih secara aman
dan efektif
Memulai dan melanjutkan KB
Mempelajari tujuan, ketidakjelasan informasi tentang
metode KB yang tersedia

Prinsip
Percaya diri / confidentiality; Tidak memaksa /
voluntary choice; Informed consent;Hak klien/ clients
rights dan kewenangan/ empowerment
Arjoso, S. 2005. Rencana Strategis BKKBN.
159. Ketuban Pecah Dini
Robeknya selaput korioamnion dalam kehamilan
(sebelum onset persalinan berlangsung)
PPROM (Preterm Premature Rupture of
Membranes): ketuban pecah saat usia kehamilan
< 37 minggu
PROM (Premature Rupture of Membranes): usia
kehamilan > 37 minggu

Kriteria diagnosis :
Usia kehamilan > 20 minggu
Keluar cairan ketuban dari vagina
Inspekulo : terlihat cairan keluar dari OUE
Kertas nitrazin menjadi biru
Mikroskopis : terlihat lanugo dan verniks kaseosa

Pemeriksaan penunjang: USG (menilai jumlah cairan ketuban,


menentukan usia kehamilan, berat janin, letak janin, kesejahteraan janin
dan letak plasenta)
159. KPD: Tatalaksana
KETUBAN PECAH DINI

MASUK RS
Antibiotik
Batasi pemeriksaan dalam
Observasi tanda infeksi & fetal distress

PPROM
Observasi:
PROM
Temperatur
Fetal distress
Kelainan Obstetri
Kortikosteroid
Fetal distress
Letak Kepala
Letak sungsang
CPD
Riwayat obstetri buruk Indikasi Induksi
Grandemultipara Infeksi
Elderly primigravida Waktu
Riwayat Infertilitas
Persalinan obstruktif

Berhasil
Persalinan pervaginam
Gagal
Sectio Caesarea Reaksi uterus tidak ada
Kelainan letak kepala
Fase laten & aktif memanjang
Fetal distress
Ruptur uteri imminens
CPD
160. Infeksi Saluran Kemih pada Kehamilan
Merupakan kasus infeksi bakterial tersering pada kehamilan

Patofisiologi
Perubahan fisiologis kehamilan menyebabkan meningkatnya risiko stasis urin dan refluks vesikoureteral
Dengan ukuran uretra yang pendek dan perut membesar memberikan tantangan tersendiri pada higiene
dan sanitasi

Prinsip tatalaksana ISK pada kehamilan


Pemberian antibiotik, rehidrasi, rawat inap bila terdapat komplikasi

Tatalaksana
Higiene sanitasi pada saat sehabis buang air kecil
161. PCOS
Etiologi
hiperandrogenisme dan resistensi terhadap insulin

Gejala PCOS
Gangguan siklus haid yaitu siklus haid jarang dan tidak teratur
Gangguan kesuburan dimana yang bersangkutan menjadi sulit
hamil (subfertile)
Tumbuh bulu yang berlebihan dimuka, dada, perut, anggota
badan dan rambut mudah rontok (hirsutisme)
Banyak jerawat
kegemukan (obesitas)
Pada USG ditemukan banyak kista
di ovarium
162. TRIKOMONIASIS
Oval, panjang 4-32 m dan
lebar 2,4-14,4 m, memiliki
flagella
Tidak memiliki bentuk kista
Terapi Metronidazole
2 gram, dosis sekali minum
(single dose)
250 mg 3 kali sehari selama 7-
10 hari
500 mg 2 kali sehari selama 5-7
hari
Dapat digunakan untuk
kehamilan trimester
berapapun (CDC)
163. Kandidosis pada Kehamilan
Definisi
Infeksi pada vagina yang disebabkan oleh jamur Candida sp.

Diagnosis
Tanda dan gejala kandidiasis meliputi:
Duh tubuh vagina putih kental dan bergumpal, tidak berbau
Rasa gatal
Disuria/nyeri berkemih

Pemeriksaan
Pemeriksaan KOH 10% untuk melihat pseudohifa dan miselium

Faktor Predisposisi
Penggunaan antibiotik spektrum luas, peningkatan kadar estrogen,
diabetes melitus, HIV/AIDS, imunokompromais

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu, WHO


Drug of Choice pada Kehamilan

Diagnosis Terapi Pilihan


Pielonefritis Ceftriaksone/Ampisilin/Gentamisin/Cefazolin/Cefotetan/Aztreon
am
Kejang, eklampsia Magnesium Sulfat
Skabies Krim permetrin 5%
Sifilis Benzatin Penisilin
Trikomoniasis Metronidazol
Ulkus Gaster Sukralfat, Ranitidine
Infeksi Saluran Amoksisilin, cefiksim
Kemih
Tromboemboli Low Molecular Weight Heparin ATAU Enoxaparin ATAU
Vena Dalteparin ATAU Tinzaparin
Kandidosis Hanya terapi azol topikal untuk3- 7 hari (rekomendasi:
Vulvovagina Terkonazol cream)
Tatalaksana Kandidosis WHO
Mikonazol atau klotrimazol 200 mg intra vagina setiap
hari selama 3 hari ATAU
Klotrimazol, 500 mg intra vagina dosis tunggal, ATAU
Nistatin, 100.000 IU intra vagina setiap hari selama 14
hari

Catatan: terapi pada ibu hamil diutamakan dengan


terapi yang membutuhkan jangka waktu lebih lama
karena kandidosis pada kehamilan dipengaruhi oleh
perubahan fisiologis selama kehamilan sehingga
eradikasi cenderung lebih sulit
164. Kehamilan Ektopik Terganggu
Kehamilan yang
terjadi diluar kavum
uteri

Gejala/Tanda:
Riwayat terlambat
haid/gejala &
tanda hamil
Akut abdomen
Perdarahan
pervaginam (bisa
tidak ada)
Keadaan umum:
bisa baik hingga
syok
Kadang disertai
febris
165. Kista & Abses Bartholin: Terapi
Pengobatan tidak diperlukan pada wanita usia
< 40 tahun kecuali terinfeksi atau simptomatik
Simptomatik
Kateter Word selama 4-6 minggu
Marsupialization: Alternatif kateter Word, biasanya
dilakukan jika rekuren tidak boleh dilakukan bila
masih terdapat abses obati dulu dengan antibiotik
spektrum luas Kateter Word
Eksisi: bila tidak respon terhadap terapi sebelumnya
dilakukan bila tidak ada infeksi aktif, jarang dilakukan
karena menyebabkan disfigurasi
anatomis serta nyeri

Pada wanita > 40 tahun


Biopsi dilakukan untuk
menyingkirkan adenocarcinoma
kelenjar Bartholin
http://www.aafp.org/afp/2003/0701/p135.html
166. Malaria dalam Kehamilan
Ditemukan parasit pada darah maternal dan darah plasenta

Pengaruh pada Janin


IUFD, abortus, prematur, BBLR, malaria placenta/ malaria
kongenital

Gambaran klinis pada wanita hamil


Non imun: ringan sampai berat
Imun : tidak timbul gejala tidak dapat didiagnosa klinis
Penatalaksanaan Umum
1. Perbaiki keadaan umum penderita (pemberian cairan dan
perawatan umum)
2. Monitoring vital sign setiap 30 menit (selalu dicatat untuk
mengetahui perkembangannya), kontraksi uterus dan DJJ juga
harus dipantau
3. Jaga jalan nafas untuk menghindari terjadinya asfiksia, bila perlu
beri oksigen

Pemberian antipiretik untuk mencegah hipertermia


Parasetamol 10 mg/kgBB/kali, dan dapat dilakukan kompres
Jika kejang, beri antikonvulsan: diazepam 5-10 mg iv (secara
perlahan selama 2 menit) ulang 15 menit kemudian jika masih
kejang; maksimum 100 mg/24 jam. Bila tidak tersedia diazepam,
dapat dipakai fenobarbital 100 mg im/kali (dewasa) diberikan 2 kali
sehari
Farmakologi Terapi Malaria dan Kehamilan
Malaria Falciparum
Trimester pertama: kina 3x2 tablet selama 7 hari atau 3x10mg/kgBB selama 7 hari
ditambah dengan Klindamisin 2x300mg atau 2x10mg/kgBB selama 7 hari
Trimester II-III: artemisin based combination (ACT): DHP (dihidroartemisinin-
piperakuin) 1 x 3 tablet (BB 41-59 kg) / 1x4 tablet (BB 60 kg) selama 3 hari ATAU
artesunat 1 x 4 tablet dan amodiakuin 1 x 4 tablet selama 3 hari.
Malaria non Falciparum
Trimester I: kina3x2tabletselama7hari atau 3 x 10mg/kgBB selama 7 hari.
Trimester II & III: artemisin based combination (ACT): DHP (dihidroartemisinin-
piperakuin) 1 x 3 tablet (BB 41-59 kg) / 1x4 tablet (BB 60 kg) selama 3 hari ATAU
artesunat 1 x 4 tablet dan amodiakuin 1 x 4 tablet selama 3 hari.
Kontraindikasi: primakuin hemolisis sel darah merah, doksisiklin, tetrasiklin
Profilaksis
Klorokuin (sudah banyak resistensi), meflokuin (rekomendasi untuk semua
trimester)
Kontraindikasi: doksisiklin dan primakuin
167. Suplementasi Kehamilan: Asam Folat
Kebutuhan Asam Folat
50-100 g/hari pada wanita normal
300-400 g/hari pada wanita hamil hamil kembar lebih
besar lagi

Dosis
Pencegahan defek pada tube neural: Min. 400 mcg/hari
Defisiensi asam folat: 250-1000 mcg/hari
Riwayat kehamilan sebelumnya memiliki komplikasi defek
tube neural atau riwayat anensefali: 4mg/hari pada sebulan
pertama sebelum kehamilan dan diteruskan hingga 3 bulan
setelah konsepsi

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu, WHO


Anensefali, Spina Bifida dan Hidrosefalus
Anensefali termasuk kedalam neural tube defect
Hidrosefalus mengenai 15-25% anak dengan mielomeningokel
(suatu bentuk spina bifida)
Hidrosefalus dihubungkan dengan spina bifida dan stenosis
akuaduktal

http://emedicine.medscape.com/article/937979-overview
168. Hipertiroid pada Kehamilan
DOC (PTU dan methimazole)
PTU (utama)
Efek teratogenik <<
Efek samping: Hipotiroid pada janin
Anga kepatuhan kurang
Methimazole (jarang digunakan di Indonesia, mulai
trimester II)

blocker (propanolol)
Mengurangi gejala akut hipertiroid
Efek samping pada kehamilan akhir: hipoglikemia pada
neonatus, apnea, dan bradikardia yang biasanya bersifat
transien dan tidak lebih dari 48 jam
Dibatasi sesingkat mungkin dan dalam dosis rendah (10-15
mg per hari)

Abalovich M, Amino N, Barbour LA, Cobin RH, Leslie J, Glinoer D, et al. Management of Thyroid Dysfunction during Pregnancy and
Postpartum. J. Endocrinol. Metabolism. 2007; 92(8): S1-S47
169. Tatalaksana Abortus Inkomplit
Evakuasi isi uterus (dengan jari atau AVM)
Kehamilan > 16 minggu infus 40 IU oksitosin dalam 1 liter NaCl
0,9% atau RL dengan kecepatan 40 tpm untuk membantu
pengeluaran hasil konsepsi.
Evaluasi tanda vital pasca tindakan setiap 30 menit selama 2 jam.
Bila kondisi ibu baik, pindahkan ibu ke ruang rawat.
Pemeriksaan PA jaringan
Evaluasi tanda vital, perdarahan pervaginam, tanda akut
abdomen, dan produksi urin/6 jam selama 24 jam. Periksa kadar
hemoglobin setelah 24 jam. BIla hasil pemantauan baik dan kadar
Hb >8 g/dl, ibu dapat diperbolehkan pulang
170. Ginekologi
Kista Bartholin Kista pada kelenjar bartholin yang terletak di kiri-kanan bawah
vagina,di belakang labium mayor. Terjadi karena sumbatan muara
kelenjar e.c trauma atau infeksi
Kista Nabothi (ovula) Terbentuk karena proses metaplasia skuamosa, jaringan endoserviks
diganti dengan epitel berlapis gepeng. Ukuran bbrp mm, sedikit
menonjol dengan permukaan licin (tampak spt beras)
Polip Serviks Tumor dari endoserviks yang tumbuh berlebihan dan bertangkai,
ukuran bbrp mm, kemerahan, rapuh. Kadang tangkai panjang sampai
menonjol dari kanalis servikalis ke vagina dan bahkan sampai
introitus. Tangkai mengandung jar.fibrovaskuler, sedangkan polip
mengalami peradangan dengan metaplasia skuamosa atau ulserasi
dan perdarahan.
Karsinoma Serviks Tumor ganas dari jaringan serviks. Tampak massa yang berbenjol-
benjol, rapuh, mudah berdarah pada serviks. Pada tahap awal
menunjukkan suatu displasia atau lesi in-situ hingga invasif.
Mioma Geburt Mioma korpus uteri submukosa yang bertangkai, sering mengalami
nekrosis dan ulserasi.
171. Amniotomi
Definisi
Tindakan untuk membuka selaput amnion dengan
jalan membuat robekan kecil yang akan melebar
spontan akibat adanya tekanan cairan dan rongga
amnion

Indikasi
Jika ketuban belum pecah dan pembukaan sudah
lengkap
Akselerasi persalinan
Persalinan pervaginam menggunakan
instrumen
Kasus solusio plasenta
Istilah untuk menjelaskan penemuan cairan
ketuban/selaput ketuban
Utuh (U), membran masih utuh, memberikan sedikit perlindungan
kepada bayi dalam uterus, tetapi tidak memberikan informasi
tentang kondisi janin

Jernih (J), membran pecah dan tidak ada anoksia

Mekonium (M), cairan ketuban bercampur mekonium,


menunjukkan adanya anoksia/anoksia kronis pada bayi

Darah (D), cairan ketuban bercampur dengan darah, bisa


menunjukkan pecahnya pembuluh darah plasenta, trauma pada
serviks atau trauma bayi

Kering (K), kantung ketuban bisa menunjukkan bahwa selaput


ketuban sudah lama pecah atau postmaturitas janin
172. Gangguan Menstruasi: Etiologi
Penyebab amenore primer:
1. Tertundanya menarke (menstruasi pertama)
2. Kelainan bawaan pada sistem kelamin (misalnya tidak memiliki
rahim atau vagina, adanya sekat pada vagina, serviks yang sempit,
lubang pada selaput yang menutupi vagina terlalu sempit/himen
imperforata)
3. Penurunan berat badan yang drastis (akibat kemiskinan, diet
berlebihan, anoreksia nervosa, bulimia, dan lain lain)
4. Kelainan bawaan pada sistem kelamin
5. Kelainan kromosom (misalnya sindroma Turner atau sindroma
Swyer) dimana sel hanya mengandung 1 kromosom X)
6. Obesitas yang ekstrim
7. Hipoglikemia
Gangguan Menstruasi: Etiologi

Penyebab amenore sekunder:


1. Kehamilan
2. Kecemasan akan kehamilan
3. Penurunan berat badan yang drastis
4. Olah raga yang berlebihan
5. Lemak tubuh kurang dari 15-17%
6. Mengkonsumsi hormon tambahan
7. Obesitas
8. Stres emosional
I Luasnya robekan hanya sampai mukosa vagina, komisura
posterior tanpa mengenai kulit perineum. Tidak perlu
dijahit jika tidak ada perdarahan dan posisi luka baik

II Robekan yang terjadi lebih dalam yaitu mengenai mukosa


vagina, komisura posterior, kulit perineum dan otot
perineum. Jahit menggunakan teknik penjahitan laserasi
perineum.

III Robekan yang terjadi mengenai mukosa vagina, komisura


posterior, kulit perineum, otot perineum hingga otot
sfingter ani.

IV Mengenai mukosa vagina, komisura posterior, kulit


perineum, otot sfingter ani sampai ke dinding depan
rektum. Penolong asuhan persalinan normal tidak dibekali
keterampilan untuk reparasi laserasi perineum derajat tiga
atau empat. Segera rujuk ke fasilitas rujukan

173. Ruptur Perineum


174. Toksoplasmosis: Pencegahan
Wanita hamil/ berencana hamil Pemeriksaan darah untuk
melihat kekebalan

Bila tidak kebal, maka perlu mengambil beberapa langkah untuk


menghindari toksoplasmosis:
Jangan makan daging mentah atau setengah matang. Jika menyentuh
daging mentah, jangan menyentuh mata, mulut dan hidung. Cuci
tangan, talenan, pisau dengan sabun dan rendam dengan air hangat.
Cuci semua sayuran dan buah-buahan sebelum dikonsumsi.
Jangan membersihkan wadah kotoran kucing.
Jangan ada pasir di halaman rumah. Kucing dapat menggunakannya
untuk membuang kotoran.
Jangan beri kucing daging mentah atau setengah matang.
Jangan biarkan kucing berburu tikus atau burung yang bisa saja sudah
terinfeksi.
Kenakan sarung tangan saat berkebun. Jauhkan tangan dari mata,
mulut, dan hidung. Cuci tangan ketika telah selesai.
http://www.medkes.com/2014/12/gejala-penyebab-pencegahan-toksoplasmosis.html
175. Abses Payudara
Terjadi apabila mastitis tidak tertangani dengan baik
infeksi memberat akumulasi nanah pada payudara

Gejala dan Tanda


Sakit pada payudara ibu tampak lebih parah
Payudara mengkilap dan berwarna merah
Teraba fluktuasi dan dapat keluar nanah dari puting
Pada lokasi payudara yang terkena akan tampak membengkak.
Bengkak dengan getah bening dibawah ketiak nyeri dan teraba
masa yang fluktuatif / empuk
Sensasi rasa panas pada area yang terkena
Demam dan kedinginan, menggigil
Malaise, dan timbul limfadenopati pectoralis,
axiller, parasternalis, dan subclavia
Mastitis & Abses Payudara: Tatalaksana
Tatalaksana Umum Abses Payudara
Tirah baring & >> asupan cairan Stop menyusui pada payudara yang
Sampel ASI: kultur dan diuji sensitivitas abses, ASI tetap harus dikeluarkan
Tatalaksana Khusus Bila abses >> parah & bernanah
Berikan antibiotika : antibiotika
Kloksasilin 500 mg/6 jam PO , 10-14 hari Rujuk apabila keadaan tidak
ATAU
membaik.
Eritromisin 250 mg, PO 3x/hari, 10-14
hari Terapi: insisi dan drainase
Tetap menyusui, mulai dari payudara sehat. Periksa sampel kultur resistensi
Bila payudara yang sakit belum kosong dan pemeriksaan PA
setelah menyusui, pompa payudara untuk Jika abses diperkirakan masih banyak
mengeluarkan isinya. tertinggal dalam payudara, selain
Kompres dingin untuk << bengkak dan nyeri. drain, bebat juga payudara dengan
Berikan parasetamol 3x500mg PO elastic bandage 24 jam tindakan
Sangga payudara ibu dengan bebat atau bra kontrol kembali untuk ganti kassa.
yang pas.
Berikan obat antibiotika dan obat
Lakukan evaluasi setelah 3 hari. penghilang rasa sakit
176 & 177. Partograf: Umum
Pencatatan dimulai saat fase aktif (bukaan 4 cm
hingga lengkap)
Denyut jantung janin: setiap 12 jam
Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus: setiap 12
jam
Nadi: setiap 12 jam
Pembukaan serviks: setiap 4 jam
Penurunan: setiap 4 jam
Tekanan darah dan temperatur tubuh: setiap 4 jam
Produksi urin: setiap 2-4 jam
Aseton dan protein: sekali
178 & 179. Drug of Choice pada Kehamilan
Diagnosis Terapi Pilihan
Pielonefritis Ceftriaksone/Ampisilin/Gentamisin/Cefazolin/Cefotetan/Aztreonam

Kejang, eklampsia Magnesium Sulfat


Skabies Krim permetrin 5%
Sifilis Benzatin Penisilin
Trikomoniasis Metronidazol
Ulkus Gaster Sukralfat, Ranitidine
Infeksi Saluran Kemih Amoksisilin, cefiksim
Bakterial vaginosis PO: klindamisin 300 mg atau metronidazol 500 mg 2x/hari selama 7 hari
Tromboemboli Vena Low Molecular Weight Heparin ATAU Enoxaparin ATAU Dalteparin ATAU
Tinzaparin

Kandidosis Hanya terapi azol topikal untuk 7 hari (rekomendasi: Terkonazol


Vulvovagina cream), nystatin pervaginam
Diagnosis Terapi Pilihan
Diabetes Insulin
Gonorrhea; Genital, Ceftriaxone 250 mg SD IM DAN/ATAU Azitromisin 1 g SD PO
rektal, faring
Herpes Asiklovir ATAU Valasiklovir
Hipotiroidisme Levotiroksin
Hipertiroidisme Trimester I: PTU
Trimester II dan III: Metimazol
Beta adrenergik seperti propanolol untuk gejala hipermetabolik

ITP Prednison, IVIG (bila steroid menjadi kontra indikasi)


Malaria Klorokuin, meflokuin atau kombinasi kuinin sulfat + klindamisin bila
terjadi resistensi klorokuin
Mual Muntah Diclegis (doxylamine succinate & pyridoxine hydrochloride)
Promethazine ATAU dimenhydrate
Metoklopromide (bila tidak ada respon)
Pedikulosis pubis Permethrin 1% krim ATAU Pyrethrin dengan piperonyl butoxide
Pencegahan Aspirin dosis rendah (81 mg/d) setelah trimester pertama pada
Preeklampsia wanita risiko tinggi
180. Torsio Kistoma Ovarii

Patofisiologi
Mengenai ovarium yang membesar (kista)
60% mengenai ovarium kanan
Torsio ovari << venous return, edema stroma,
perdarahan internal, infark
Faktor Risiko
Kista pada kehamilan
Kista/tumor ovarium
Tuba falopii yang sangat panjang (anak-anak)
Riwayat operasi pelvis (terutama ligasi tuba)
Torsio Kista Ovarii
Gejala dan Tanda
Onset tiba-tiba terutama setelah aktivitas berlebih
Nyeri perut unilateral yang bisa menjalar ke punggung, panggul,
atau paha
Mual dan muntah (70%)

Pemeriksaan
PF: tidak spesifik, dapat ditemukan massa adneksa, nyeri tekan
USG: ovarium yang terkena membesar
Doppler warna: memperlihatkan perubahan morfologis dan
fisiologis ovarium dan melihat aliran darah

Komplikasi
Infeksi, peritonitis, sepsis, adhesi, nyeri kronik, infertilitas

http://emedicine.medscape.com/article/2026938-differential
Torsio Kista Ovarii: Tatalaksana

Tatalaksana
Laparoskopi
Pemutaran balik ovarium pada kehamilan
Kehamilan: Bila kista lutein diambil saat salfingo-
ooforektomi beri suplemen progesteron

http://emedicine.medscape.com/article/2026938-medication#2
181. Kala Persalinan: Kala I
Fase Laten
Pembukaan sampai mencapai 3 cm (8 jam)

Fase Aktif
Pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung
sekitar 6 jam
Fase aktif terbagi atas :
1. Fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4
cm.
2. Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm
sampai 9 cm.
3. Fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai
lengkap (+ 10 cm).
182. Gangguan Proses Menyusui: Cracked Nipple
Perawatan puting payudara
Jangan digosok terlalu keras atau menggunakan sabun
meningkatkan kekeringan dan iritasi
Apabila basah/terlalu lembab diangin-anginkan

Tatalaksana
Gunakan ASI/lanolin/krim untuk melembabkan
Tetap susui bayi
Gunakan nipple shield sebagai alternatif terakhir karena
dapat mengurangi produksi ASI
183. Kondiloma Akuminatum
PMS akibat HPV, kelainan berupa
fibroepitelioma pada kulit dan mukosa
Gambaran klinis: vegetasi bertangkai dengan
permukaan berjonjot dan bergabung
membentuk seperti kembang kol
Pemeriksaan: bubuhi asam asetat berubah
putih
Terapi: tingtura podofilin 25%,
kauterisasi
184. Pre Eklampsia & Eklampsia
Preeklampsia Ringan
Tekanan darah 140/90 mmHg pada usia kehamilan > 20 minggu
Tes celup urin menunjukkan proteinuria 1+ atau pemeriksaan
protein kuantitatif menunjukkan hasil >300 mg/24 jam

Preeklampsia Berat
Tekanan darah >160/110 mmHg pada usia kehamilan >20 minggu
Tes celup urin menunjukkan proteinuria 2+ atau pemeriksaan
protein kuantitatif menunjukkan hasil >5 g/24 jam; atau disertai
keterlibatan organ lain:
Trombositopenia (<100.000 sel/uL), hemolisis mikroangiopati
Peningkatan SGOT/SGPT, nyeri abdomen kuadran kanan atas
Sakit kepala , skotoma penglihatan
Pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion
Edema paru dan/atau gagal jantung kongestif
Oliguria (< 500ml/24jam), kreatinin > 1,2 mg/dl

Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
185. Newborn Baby
USIA GESTASI BERAT BADAN*
Neonatus Kurang Bulan (Pre-term
infant) : Usia gestasi < 37 minggu BBL rendah: berat badan <
Neonatus Lebih Bulan (Post-term 2500
infant) : Usia gestasi > 42 minggu BBL sangat rendah : berat
Neonatus Cukup Bulan (Term-infant) : badan bayi baru lahir kurang
Usia gestasi 37 s/d 42
dari 1500 gram.
BERAT LAHIR BERDASARKAN USIA GESTASI BBL sangat-sangat rendah :
Small for Gestational Age (SGA, Kecil berat badan bayi baru lahir
Masa Kehamilan) : Berat lahir dibawah kurang dari 1000 gram.
2SD / persentil 10th dari populasi usia
gestasi yang sama
Large for Gestational Age (LGA, Besar *pembagian berat badan tanpa
Masa Kehamilan) : Berat lahir diatas memandang masa kehamilan
persentil 90 untuk populasi usia gestasi
yang sama
Appropriate for Gestational Age (Sesuai
Masa Kehamilan) : Diantaranya
The Fetus and the Neonatal Infant. Nelson
Textbook of Pediatrics 17 th ed
Lubchenco Intrauterine Growth Curve

Week of Gestation (26 to 42 weeks)


Intrauterine Growth as Estimated From Liveborn Birth-Weight Data at 24 to 42 Weeks of Gestation, by Lula O.
Lubchenco et al,Pediatrics, 1963;32:7938007:403
KULIT & KELAMIN,
MIKROBIOLOGI,
PARASITOLOGI
186. Nekatoriasis (Cacing Tambang)
Gejala
Mual, muntah, diare &
nyeri ulu hati; pusing, nyeri
kepala; lemas dan lelah;
anemia

Telur
Dinding tipis & transparan,
berisi 4-8 sel embrio atau
embrio cacing
Diameter 40 dan 55 mcm
Nama cacing Cacing dewasa Telur Obat

Dinding tebal 2-3 lapis,


Ascaris bergerigi, berisi unsegmented Mebendazole,
lumbricoides ovum pirantel pamoat

kulit radial dan mempunyai 6 Albendazole,


Taenia solium kait didalamnya, berisi onkosfer prazikuantel,
dan embriofor bedah

Pirantel pamoat,
Enterobius ovale biconcave dengan dinding
mebendazole,
vermicularis asimetris berisi larva cacing
albendazole
Ancylostoma
ovale dengan sitoplasma jernih Mebendazole,
duodenale
berisi segmented ovum/ lobus 4- pirantel pamoat,
Necator
8 mengandung larva albendazole
americanus

coklat kekuningan, duri terminal,


Schistosoma
transparan, ukuran 112-170 x Prazikuantel
haematobium
40-70 m

Tempayan dengan 2 operkulum


Trichuris Mebendazole,
atas-bawah
trichiura Brooks GF. Jawetz, Melnick & Adelbergs medical microbiology, 23rd ed. McGraw-Hill; 2004. albendazole
DOC Antihelmintik
JENIS CACING DOC ANTIHELMINTIK Keterangan

Ascaris lumbricoides Mebendazol (95%)* 500 mg PO Pada infeksi gabungan askaris


SD dan cacing tambang DOC:
Albendazol (88%)* 400 mg PO SD Albendazol
Cacing Tambang Albendazol 400 mg PO SD/3 hari

Trichuris Trichiura Mebendazol 500 mg PO SD

Scistosoma japonicum Prazikuantel 20 mg/kg PO


3x/hari selama satu hari
Enterobius vermicularis Semua rejimen diulang dalam
waktu 2 minggu
Mebendazol 100 mg PO SD
Albendazol 400 mg PO SD
Pyrantel Pamoat 11 mg/kg PO
Cacing pita Prazikuantel 5-10 mg/kg SD

http://emedicine.medscape.com/article/996482-medication#2
187. Schistosoma
Penyakit : skistosomiasis= bilharziasis

Spesies tersering: S. japonicum dan


S. haematobium

Morfologi dan Daur Hidup


Hidup in copula di dalam pembuluh darah vena-vena usus, vesikalis dan
prostatika
Di bagian ventral cacing jantan terdapat canalis gynaecophorus, tempat
cacing betina
Telur tidak mempunyai operkulum dan berisi mirasidium, mempunyai
duri dan letaknya tergantung spesies
Telur dapat menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi di
jaringan dan akhirnya masuk ke lumen usus atau kandung kencing
Telur menetas di dalam air mengeluarkan mirasidium
Daur Hidup Schistosoma sp.
Schistosoma Haematobium
Tersebar terutama di Afrika dan Timur Tengah
Ukuran telur: panjang 110-170 m dan lebar 40-70
m, memiliki tonjolan spinal
Telur mengandung mirasidium matur yang tersebar
di urin
Schistosoma japonicum

Telur
Bentuk : bulat agak lonjong dng
tonjolan di bagian lateral dekat kutub
UKURAN : 100 x 65 m
Telur berisi embrio
Tanpa operkulum

Serkaria
Schistosoma sp
Ekor bercabang
Gejala Klinis & Pemeriksaan Penunjang
Efek patologis tergantung jumlah telur yang dikeluarkan
dan jumlah cacing
Keluhan
S. mansoni & japonicum: demam Katamaya, fibrosis periportal,
hipertensi portal, granuloma pada otak & spinal
S. haematobium: hematuria, skar, kalsifikasi, karsinoma sel
skuamosa, granuloma pada otak dan spinal
Pada infeksi berat Sindroma disentri
Hepatomegali timbul lebih dini disusul splenomegali;
terjadi 6-8 bulan setelah infeksi

Pemeriksaan Penunjang
Mikroskopik feses: semua spesies
Mikroskopik urin: spesies haematobium

Sumber: http://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/dx.html
Terapi Schistosomiasis

Sumber: http://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/dx.html
188. Kandidosis
Kandidosis: penyakit jamur bisa bersifat akut/subakut disebabkan
oleh genus Candida
Klasifikasi
Kandidosis mukosa: kandidosis oral, perleche, vulvovaginitis, balanitis,
mukokutan kronik, bronkopulmonar
Kandidosis kutis: lokalisata, generalisata, paronikia & onikomikosis,
granulomatosa
Kandidosis sistemik: endokarditis, meningitis, pyelonefritis, septikemia
Reaksi id (kandidid)
Faktor
Endogen: perubahan fisiologik (kehamilan, obesitas, iatrogenik, DM,
penyakit kronik), usia (orang tua & bayi), imunologik
Eksogen: iklim panas, kelembaban tinggi, kebiasaan berendam kaki,
kontak dengan penderita

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Kandidosis kutis
Bentuk klinis:
Kandidosis intertriginosa: Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat
paha, intergluteal, lipat payudara, sela jari, glans penis, dan
umbilikus berupa bercak berbatas tegas, bersisik, basah,
eritematosa. Dikelilingi ileh satelit berupa vesikel-vesikel dan
pustul-pustul kecil atau bula
Kandidosis perianal: Lesi berupa maserasi seperti dermatofit
tipe basah
Kandidosis kutis generalisata: Lesi terdapat pada glabrous skin.
Sering disertai glossitis, stomatitis, paronikia
Pemeriksaan: KOH (selragi, blastospora, hifa semu), kultur
di agar Sabouraud
Pengobatan: hindari faktor predisposisi, antifungal (gentian
violet 0,5-1%, nistatin, amfoterisin B, grup azole)
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Morfologi koloni C.
albicans pada medium
padat agar Sabouraud
Dekstrosa
Bulat dengan
permukaan sedikit
cembung, halus, licin
Warna koloni putih
kekuningan dan berbau
asam seperti aroma
tape.
Virulensi C. albicans
Mannoprotein:
Mempunyai sifat imunosupresif mempertinggi
pertahanan jamur terhadap imunitas hospes C.
albicans tidak hanya menempel, namun juga
melakukan penetrasi ke dalam mukosa.

Enzim yang berperan sebagai faktor virulensi


Enzim-enzim hidrolitik: proteinase, lipase dan
fosfolipase.
Tjampakasari, CR. Karakteristik Candida albicans. Cermin Dunia Kedokteran. 2006; 151: 33-36
Fuberlin. Candida albicans Patogenicity. [Cited 2012 Jan 22].
189-190. Herpes Simpleks
Infeksi, ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di
atas kulit yang sembab dan eritematosa di daerah dekat
mukokutan

Predileksi HSV tipe I di daerah pinggang ke atas, predileksi HSV


tipe II di daerah pinggang ke bawah terutama genital

Gejala klinis:
Infeksi primer: vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab &
eritematosa, berisi cairan jernih yang kemudian seropurulen, dapat
menjadi krusta dan kadang mengalami ulserasi dangkal, tidak
terdapat indurasi, sering disertai gejala sistemik
Fase laten: tidak ditemukan gejala klinis, HSV dapat ditemukan
dalam keadaan tidak aktif di ganglion dorsalis
Infeksi rekuren: gejala lebih ringan dari infeksi primer, akibat HSV
yang sebelumnya tidak aktif mencpai kulit dan menimbulkan gejala
klinis
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2015.
Herpes Simpleks
Pemeriksaan
Ditemukan pada sel dan dibiak,
antibodi, percobaan Tzanck
(ditemukan sel datia berinti
banyak dan badan inklusi Tipe II
intranuklear, glass cell)

Pengobatan
doksuridin topikal (pada lesi
dini), asiklovir 5 x 200 mg PO
selama 5 hari

Komplikasi
Meningkatkan
morbiditas/mortalitas pada
janin dengan ibu herpes
genitalis
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2015.
Indication Acyclovir Valacyclovir Famciclovir
First episode 400 mg tid OR 1000 mg bid 250 mg tid (for
200 mg 5 (for 7-10 d) 7-10 d)
times/d (for 7-
10 d)
Recurrent 400 mg tid OR 500 mg bid (for 1000 mg bid
800 mg PO bid 3 d) OR (for 1 d)
(for 5 d) OR Valacyclovir 1 g Tzank Smear
800 mg PO tid orally once a
(for 2 d) day (for 5 days)
Daily 400 mg bid 500 mg once 250 mg bid
suppression daily
or
1000 mg once
daily
(if >9
recurrences/y)

http://emedicine.medscape
.com/article/274874-
overview#aw2aab6b7
https://www.cdc.gov/std/tg2015/herpes.htm
191. Ulkus Mole/ Chancroid
Ulkus Molle: Penyakit infeksi pada alat kelamin yang
akut, setempat disebabkan oleh Haemophillus ducreyi.
Ulkus: kecil, lunak, tidak ada indurasi, bergaung, kotor
(tertutup jaringan nekrotik dan granulasi)

PATOGENESIS :
Masa inkubasi : 1-3 hari
Port dentre merah papul pustula pecah ulkus
Ulkus :
Multiple
Tidak teratur
Dinding bergaung
Indurasi +
Nyeri (dolen)
Kotor
Ulkus Pada IMS: Ulkus Mole

Pewarnaan Gram:
kokobasil, gram
negatif, school of
fish)
Ulkus Mole: Tatalaksana
Obat Sistemik
Azitromycin 1 gr, oral, single dose
Seftriakson 250 mg dosis tunggal, injeksi IM
Siprofloksasin 2x500 mg selama 3 hari
Eritromisin 4x500 mg selama 7 hari
Amoksisilin + asam klavulanat 3x125 mg selama 7 hari
Streptomisin 1 gr sehari selama 10 hari
Kotrimoksasol 2x2 tablet selama 7 hari

Topikal
Kompres dengan larutan normal salin (NaCl 0,9%) 2
kali sehari selama 15 menit
192-193. Kondiloma Akuminatum
PMS akibat HPV, kelainan berupa fibroepitelioma pada
kulit dan mukosa

Gambaran klinis
Vegetasi bertangkai dengan permukaan berjonjot dan
bergabung membentuk seperti kembang kol

Pemeriksaan
Bubuhi asam asetat berubah putih

Terapi
tingtura podofilin 25%, kauterisasi
Pemeriksaan Penunjang IMS ec Virus
Penyakit Pemeriksaan Gambaran

Herpes Simpleks Tzank Test: Multinucleated


giant cells
Cytopathic effect (+)

Genital Warts Tzank Test: Koilosit


Cytopathic effect (+)

Molluskum Kontagiosum Tzank Test: Badan inklusi


intrasitoplasma
Cytopathic effect (+)
194. Moluskum
Kontagiosum
Disebabkan oleh poxvirus berupa papul-papul, pada permukaannya terdapat
lekukan, berisi massa yang mengandung badan moluskum
Transmisi: kontak langsung, autoinokulasi
Gejala
Masa inkubasi: satu hingga beberapa minggu
Papul miliar, kadang-kadang lentikular dan berwarna putih seperti lilin, berbentuk
kubah yang ditengahnya terdapat lekukan, jika dipijat keluar massa yang berwarna
putih seperti nasi
Predileksi: muka, badan, ekstremitas, pubis (hanya pada dewasa)
Pemeriksaan
Sebagian besar berdasarkan klinis
Pemeriksaan mikroskopik badan moluskum (Henderson-Paterson bodies)
menggunakan pewarnaan Giemsa atau gram
Diagnosis pasti: biopsi kulit menggunakan pewarnaan HE
Tata laksana: mengeluarkan massa (manual, elektrokauterisasi, bedah beku)
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007. | Bhatia AC. Molluscum contagiosum. http://eme dicine.medscape.com/article/910570-overview
Treatment
In healthy patients
Generally self-limited and heals spontaneously after
several months
Treatment may help to reduce autoinoculation or
transmission to close contacts and improve clinical
appearance
It may also be indicated if lesions persist
Therapeutic options :
Benign neglect
Direct lesional trauma
Antiviral therapy
Immune response stimulation

http://emedicine.medscape.com/article/910570-treatment#d14
http://emedicine.medscape.com/article/910570-treatment#d14
Benign neglect
Leaving mollusca to spontaneously resolve
especially in young children
small numbers of mollusca
facial lesions
Direct lesional trauma
Disruption of the epidermal wall of Henderson-Paterson bodies
Modalities
Topical medication:
Cantharidin highly effective in treating
Tretinoin, salicylic acid, and potassium hydroxide,Cantharidin,silver nitrate,trichloroacetic acid, and phenol
Physical trauma
CryotherapyFirst line for physical trauma
Curettage
Laser

Immune Response Stimulation


Imiquimod cream, intralesional interferon alfa, and topical injections of streptococcal antigen
have been shown to be effective in treating resistant molluscum contagiosum
The high cost of these products limits their use to more extensive or resistant infections.
Imiquimod cream applied 3 times per week for 16 weeks is an option in severe cases
The dosing schedule and length of treatment require further evaluation
Antiviral Therapy
In immunocompromised patients, improvement of lesions has been observed in individual
patients treated with ritonavir, cidofovir (intravenous and topical), [65, 66] and zidovudine
Male, 50 years old, presented with a palpable subcutaneous lump 5 millimeters in size,
soft and not tender on palpation.
Such lesions kept recurring for three months even when their prompt removal should
have prevented self-inoculation to the surrounding areas
HIV, HBV and HCV infection was ruled out by serology
he was eventually administered acyclovir tablets 200 mg orally 5 times a day for 5 days
and the lesions immediately stopped recurring.
The patient has been free from disease after 2 years of follow up
https://oatext.com/pdf/GOD-2-145.pdf , Glob Dermatol,2015
195. Reaksi Kusta: Klasifikasi (Terbaru)
ERITEMA NODOSUM LEPROSUM REAKSI REVERSAL/ REAKSI
(ENL) UPGRADING
Respon Imun humoral Reaksi hipersensitivitas tipe
(kompleks imun) lambat
Tidak terjadi perubahan tipe Reaksi borderline (dapat
Klinis berubah tipe)
Nodus eritema (penanda)
Klinis
Nyeri (predileksi lengan &
tungkai) Sebagian/seluruh lesi yang
Gejala konstitusi ringan sd telah ada bertambah aktif dan/
berat timbul lesi baru dalam waktu
Dapat mengenai organ lain relatif singkat
(iridosiklitis, neuritis akut, Dapat disertai neuritis akut
artritis, limfadenitis dll) Pada pengobatan 6 bulan
Pada pengobatan tahun kedua pertama

Menald, Sri Linuwih. Buku Ajar Penyakit Kulit & Kelamin. Balai Penerbit FKUI. 2015
Reaksi Kusta: Tipe 1
(Reaksi Reversal)

Rekasi hipersensitivitas tipe IV


(Delayed Type Hypersensitivity Reaction)

Terutama terjadi pada kusta tipe borderline (BT, BB, BL)

Biasanya terjadi dalam 6 bulan pertama ataupun sedang mendapat


pengobatan

Patofisiologi
Terjadi peningkatan respon kekebalan seluler secara cepat terhadap kuman
kusta dikulit dan syaraf berkaitan dengan terurainya M.leprae yang mati
akibat pengobatan yang diberikan
Reaksi Kusta: Tipe 2

Reaksi tipe 2 (Reaksi Eritema Nodosum Leprosum=ENL)

Termasuk reaksi hipersensitivitas tipe III

Terutama terjadi pada kusta tipe lepromatous (BL, LL)

Diperkirakan 50% pasien kusta tipe LL Dan 25% pasien kusta tipe BL mengalami
episode ENL

Umumnya terjadi pada 1-2 tahun setelah pengobatan tetapi dapat juga timbul
pada pasien kusta yang belum mendapat pengobatan Multi Drug Therapy
(MDT)

Patofisiologi: Manifestasi pengendapan kompleks antigen antibodi pada


pembuluh darah.
Faktor Pencetus
Reaksi Kusta: Pengobatan
ERITEMA NODOSUM LEPROSUM REAKSI REVERSAL/ REAKSI
(ENL) UPGRADING
Kortikosteroid Tanpa neuritis akut
Prednison 15-30 mg/hari Tidak ada pengobatan selain
(dapat timbul ketergantungan)
MDT

Klofazimin
200-300 mg/hari Dengan neuritis akut
Khasiat lebih lambat dari Prednison 40 mg/hari lihat
kortikosteroid skema
Dapat melepaskan
ketergantungan steroid
Efek samping: kulit berwarna
merah kecoklatan (reversible)

Menald, Sri Linuwih. Buku Ajar Penyakit Kulit & Kelamin. Balai Penerbit FKUI. 2015
Reaksi Reversal: Pengobatan
Minggu Pemberian Prednison Dosis Harian yang Dianjurkan
Minggu 1-2 40 mg
Minggu 3-4 30 mg
Minggu 5-6 20 mg
Minggu 7-8 15 mg
Minggu 9-10 10 mg
Minggu 11-12 5 mg

Pemberian Lampren
300 mg/hari selama 2-3 bulan, bila ada perbaikan turunkan menjadi
200 mg/hari selama 2-3 bulan, bila ada perbaikan turunkan menjadi
100 mg/hari selama 2-3 bulan, bila ada perbaikan turunkan menjadi
50 mg/hari bila pasien masih dalam pengobatan MDT, atau stop bila
penderita sudah dinyatakan RFT

Menald, Sri Linuwih. Buku Ajar Penyakit Kulit & Kelamin. Balai Penerbit FKUI. 2015