Anda di halaman 1dari 12

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Satuan Pendidikan : SMA / MA


Mata Pelajaran : KIMIA
Kelas/ Semester : XII MIPA / II
Materi Poko : Makromolekul
Alokasi Waktu : 4 jam pelajaran ( 4 x 45 menit )

A. Standar Kompetensi
Memahami senyawa organik dan reaksinya, benzena dan turunannya, dan makromolekul.

B. Kompetensi Dasar
1. Menganalisis struktur, tata nama, sifat dan penggolongan makromolekul (polimer, karbohidrat,
protein, dan lemak)
2. Menalar pembuatan suatu produk dari makromolekul

C. Indikator
1. Menuliskan rumus struktur dan nama protein
2. Menggolongkan protein berdasarkan komposisi kimia, benntuk dan fungsi biologisnya.
3. Mengamati dan menguraikan sifat-sifat protein
4. Mendeskripsikan kegunaan protein.
5. siswa dapat menganalisis struktur, sifat, reaksi pengenalan, dan kegunaan protein tes pemahaman dengan
tepat.
6. Siswa dapat menganalisis kadar protein dalam susu sapi dan susu kedelai berdasarkanhasil percobaan uji
protein menggunakan reagen biuret dengan tepat.
7. Siswa dapat menuliskan rumusan masalah, hipotesis, dan variabel percobaan dengan tepat.
8. Siswa dapat melakukan percobaan tentang uji protein menggunakan reagenbiuretberdasarkanprosedur
percobaan yang telah disediakan dengan benar.
9. Siswa dapat menganalisis dan menyimpulkan data hasil percobaan tentang uji proteinmenggunakan reagen
biuretdengan benar.
10. Siswa dapat menyajikan data hasil percobaan tentang uji protein menggunakan reagenbiuret dengan baik.
D. Materi Pembelajaran
Protein adalah senyawa terpenting penyusun sel hidup. Senyawa ini terdapat dalam semua jaringan
hidup baik tumbuhan maupu hewan. Fungsi biologis protein sangat beragam, antara lain sebagai
pembangun, pengatur, pertahanan, dan sebagai sumber energi. Tidak ada kelompok senyawa lain yang
fungsinya begitu beragam seperti protein. Oleh karena itulah kelompok senyawa ini disebut protein,
istilah yang berasal dari bahasa Yunani proteios, yang berarti peringkat satuatau yang utama.
1. Asam Amino
Asam amino adalah suatu golongan senyawa karbon yang setidak-tidaknya mengandung satu gugus
karboksil (COOH) dan satu gugus amino (NH2). Jika gugus amino terikat pada atom C-alfa (yaitu
atom karbon yang terikat langsung pada gugus karboksil), disebut asam alfa-amino; jika gugus aminonya
terikat pada atom C-beta, disebut atom beta-amino dan seterusnya. Di alam hanya ditemukan asam alfa-
amino.

Gugus R adalah gugus pembeda antara asam amino yang satu dengan asam amino yang lainnya.
Gugus R dalam senyawa amino sangat beragam. Ada yang hidrofob (seperti glisin dan alanin), ada yang
hidrofil karena mengandung gugus polar seperti OH, COOH atau NH2 (misalnya tirosin, lisin dan
asam glutamat), ada yang bersifat asam (misalnya asam glutamat), ada yang bersifat basa (misalnya lisin),
ada pula yang mengandung belerang (misalnya sistein) atau cincin aromatik (misalnya tirosin). Gugus R
asam amino tersebut sangat berperan dalam menentukan struktur, kelarutan, serta fungsi biologis dari
protein. Kecuali glisin, semua asam amino bersifat optis aktif, karena adanya atom C- yang bersifat
asimetris.
Telah disebutkan bahwa protein terbentuk dari sekitar 20 jenis asam amino. Asam amino tersebut
dapat disintesis dalam tubuh, kecuali 8 asam amino (10 untuk bayi). Asam-asam esensial haruslah
terdapat dalam makanan. Kekurangan satu saja asam amino akan mengganggu sintesis protein. Asam
amino yang dapat disintesis dalam tubuh disebut asam amino nonesensial. Contoh asam amino esensial,
yaitu valin, leusin, isoleusin.
Sebagian besar protein nabati tidak mengandung satu atau lebih asam amino esensial. Misalnya,
protein beras tidak mengandung lisin dan treonin, protein gandum tidak mengandung lisin dan triptofan.
Jadi, orang yang makan hanya nasi saja dapat menderita kekurangan gizi. Di pihak lain, protein hewani
mengandung seluruh asam amino dalam jumlah yang memadai. Tubuh kita memerlukan sekitar 0,8 g
protein per kg berat badan. Kekurangan protein dapat menyebabkan retardasi (keterbelakangan) fisik
maupun mental.

2. Tata Nama protein


Telah disebutkan bahwa protein terbentuk dari asam-asam amino. Proses pembentukannya
merupakan polimerisasi kondensasi. Dua molekul asam amino dapat berikatan (berkondensasi) dengan
melepas molekul air(HOH), sebagai berikut.

Ikatan yang mengkaitkan dua molekul asam amino itu disebut ikatan peptida dan senyawa yang
terbentuk disebut dipeptida.
Suatu dipeptida juga mempunyai gugus COOH dan gugus NH2, oleh karena itu dapat pula
mengikat asam amino yang lain membentuk tripeptida, dan seterusnya membentuk polipeptida atau
protein.
Pemaparan struktur polipeptida secara lengkap dapat sangat membosankan dan tidak selalu perlu.
Oleh karena itu, para ahli biokimia menggunakan singkatan. Tiap-tiap asam amino diberi lambang dengan
tiga huruf, dengan cara itu suatu contoh polipeptida yang terdiri dari 10 residu asam amino dapat
dinyatakan sebagai berikut :
GlyPheCysSerAlaGlyAspAlaLysAsp
Dalam menuliskan rangkaian asam amino dari suatu polipeptida atau protein, maka ujung amino
(residu asam amino dengan gugus amino bebas) ditempatkan disebelah kiri, sedangkan ujung karboksil
disebelah kanan. Pada contoh diatas, berati glisin (Gly) mempunyai gugus NH2 bebas, sedangkan asam
aspartat (Asp) mempunyai gugus COOH bebas.
Dua molekul asam amino dapat membentuk dua jenis dipeptida, bergantung pada gugus yang
digunakan pada kondensasi. Misalnya, Gly dan Ala dapat membentuk dua jenis dipeptida, yaitu GlyAla
dan AlaGly.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa jenis protein yang dapat dibentuk dari 20 jenis asam
amino dapat mencapai jutaan. Hal ini mirip dengan jumlah kalimat yang dapat disusun dari hanya 26
huruf dalam abjad. Namun demikian, urutan berbagai huruf dalam kata atau urutan berbagai kata tidak
selalu mempunyai arti. Demikian juga, rangkaian asam-asam amino tidak selalu merupakan protein yang
berguna. Mungkin kita tetap dapat mengartikan suatu kalimat meskipun terdapat beberapa huruf yang
salah. Sama halnya dengan suatu protein, mungkin tetap dapat berfungsi meskipun ada beberapa asam
amino yang tidak sesuai urutan. Akan tetapi, hal ini bisa berakibat fatal. Kelainan yang dikenal sebagai
anemia sel sabit terjadi karena perbedaan satu dari sekitar 300 residu asam amino dalam hemoglobinnya.
Salah satu contoh yang menunjukkan betapa pentingnya urut-urutan asam amino dalam rantai
polipeptida terhadap bentuk tiga dimensi dan fungsi protein, khususnya protein globular yaitu penyakit
anemia sel sabit.
Anemia sel sabit adalah penyakit yang timbul karea bentuk yang abnormal dari salah satu subunit
hemoglobin. Hemoglobin yang normal berbentuk bulat (seperti kue donat), sedangkan sel sabit berbentuk
sabit. Bentuk yang abnormal tersebut terjadi karena asam amino yang keenam dari rantai , yaitu asam
glutamat yang bersifat polar tergantikan oleh valin, suatu asam amino yang tidak polar. Perubahan bentuk
ini mengganggu kemampuan hemoglobin dalam mengangkut oksigen. Selain itu, gaya tarik hidrofobik
menyebabkan beberapa sel sabit mengelompok membentuk semacam serat sehingga dapat menyumbat
pembuluh kapiler. Hal ini dapat menyebabkan peradangan, rasa sakit, kerusakan organ, bahkan kematian.
Anemia sel sabit adalah penyakit keturunan yang dialami seseorang yang mewarisi gen hemoglobin
muatan dari kedua orangtuanya. Jika hanya salah satu orangtua yang menurunkan gen semu, hanya kira-
kira 1% dari sel darah merahnya yang berubah menjadi bentuk sabit. Mereka dapat hidup normal selama
menghindari latihan-latihan fisik yang berat atau tekanan lain terhadap sistem peredaran darah.
3. Struktur Protein
Protein mempunyai struktur yang sangat kompleks. Struktur protein memegang peranan penting
dalam menentukan aktivitas biologisnya. Struktur protein dapat dibedakan ke dalam 4 tingkatan, yaitu
struktur primer, sekunder, tersier dan kuartener.
Struktur primer adalah urut-urutan asam amino dalam rantai polipeptida yang menyusun protein.
Protein pertama yang berhasil ditentukan struktur primernya adalah insulin, yaitu hormon yang berfungsi
mengatur kadar gula darah.
Sebagai contoh insulin sapi terdiri dari dua rantai polipeptida, yang ditandai dengan rantai A (terdiri
dari 21 asam amino) dan rantai B (terdiri dari 30 asam amino). Kedua rantai disatukan oleh ikatan silang
disulfida (SS) yang berasal dari unit sistein (Cys). Selama bertahun-tahun, insulin yang diekstraksi
dari pankreas sapi digunakan untuk terapi bagi orang-orang yang menderita kekurangan insulin
(Diabetes). Kini insulin manusia telah dapat diproduksi melalui industri genetika.
Struktur sekunder berkaitan dengan bentuk dari suatu rantai polipeptida. Oleh karena gaya-gaya
nonkovalen, seperti ikatan hidrogen atau gaya dispersi, suatu rantai polipeptida menggulung seperti spiral
(alfa heliks) atau seperti lembaran kertas continues form (beta-pleated sheet), atau bentuk triple heliks.
Struktur tersier protein merupakan bentuk tiga dimensi dari suatu protein. Bagaikan seutas mie
yang diletakkan di dalam cawan, suatu rantai polipeptida dapat melipat atau menggulung sehingga
mempunyai bentuk tiga dimensi tertentu. Struktur tersier protein dikukuhkan oleh berbagai macam gaya,
sepert ikatan hidrogen, ikatan silang disulfida, interaksi hidrofobik atau hidrofilik, serta jembatan garam.
Setiap protein mempunyai bentuk tiga dimensi tertentu. Jadi semua molekul hemoglobin sebagai
contoh, mempunyai bentuk tiga dimensi yang sama. Bentuk tiga dimensi protein sangat berperan dalam
menentukan fungsi biologis protein tersebut. Sering kali sutatu molekul organik bukan protein terikat
pada rantai polipeptida dalam struktur tersiernya.
Sebagian protein hanya mengandung rantai tunggal polipeptida, tetapi yang lain, yang disebut
protein oligomer, terdiri dari dua atau lebih rantai. Sebagai contoh, hemoglobin mempunyai empat rantai.
Masing-masing rantai merupakan satu subunit protein. Susunan subunit-subunit dalam protein oligomer
disebut struktur kuartener.
4. Hidrolisis Protein
Suatu polipeptida atau protein dapat mengalami hidrolisis jika dipanaskan dengan asam klorida
pekat, sekitar 6M. Dlam hal ini ikatan peptida diputuskan sehingga dihasilkan asam-asam amino bebas.
Dalam tubuh manusia atau hewan hidrolisis polipeptida atau protein terjadi karena pengaruh enzim.
5. Denaturasi Protein
Jika suatu larutan protein, misalnya albumin telur, dipanaskan secara perlahan-lahan sampai kira-
kira 60O70OC, lambat laun larutan itu akan mejadi keruh dan akhirnya mengalami koagulasi. Protein
yang telah terkoagulasi itu tidak dapat larut lagi pada pendinginan. Perubahan seperti itu disebut
denaturasi protein. Denaturasi juga dapat terjadi karena perubahan pH yang ekstrim, oleh beberapa
pelarut seperti alkohol atau aseton, oleh zat terlarut seperti urea, oleh detergen, atau bahkan karena
pengguncangan yang intensif. Protein dalam bentuk alamiahnya disebut protein asli (natif) setelah
denaturasi disebut protein terdenaturasi. Protein terdenaturasi hampir selalu kehilangan fungsi
biologisnya. Dari penelitian terhadap protein terdenaturasi diketahui bahwa struktur yang lebih kompleks
dari protein, terutama struktur tersier dan struktur kuartenernya.
6. Penggolongan Protein
Protein dapat dibeda-bedakan berdasarkan komposisi kimia, bentuk, atau fungsi biologisnya.
1. Berdasarkan Komposisi Kimia
Berdasarkan komposisi kimianya, protein dibedakan atas protein sederhana dan protein
konjugasi. Protein sederhana hanya teriri atas asam amino, dan tidak ada gugus kimia lain.
Bagian yang bukan asam amino dari protein konjugasi disebut gugus prostetik. Protein
konjugasi digolongkan berdasarkan jenis gugus prostetiknya.
2. Berdasarkan Bentuk
Berdasarkan bentuknya protein dibedakan atas protein globular dan protein serabut. Pada
protein globular rantai atau rantai-rantai polipeptidanya berlipat rapat menjadi bentuk globular
atau bulat padat. Protein globular biasanya larut dalam air dan mudah berdifusi. Hampir semua
protein globular mempunyai fungsi gerak atau dinamik, seperti enzim, protein transpor
darah,dan antibodi. Protein serabut tidak larut dalam air. Hampir semua protein serabut
mempunyai fungsi struktural atau pelindung. Contohnya adalah -keratin pada rambut dan
wol,fibroin dari sutera, dan kolagen dari urat.
3. Berdasarkan Fungsi Biologis
Berdasarkan fungsi biologisnya, protein dapat dibedakan atas 7 golongan, yaitu:
a. Enzim, yaitu protein yang berfungsi sebagai biokatalisator. Hampir semua reaksi senyawa
organik dalam sel dikatalisis enzim. Lebih dari 2000 jenis enzim telah ditemukan di dalam
berbagai bentuk kehidupan. Contohnya, ribonuklease dan tripsin.
b. Protein transpor, yaitu protein yang mengikat dan memindahkan molekul atau ion spesifik.
Hemoglobin dalam sel darah merah mengikat oksigen dari paru-paru, dan membawanya ke
jaringan periferi. Lipoprotein dalam plasma darah membawa lipid dari hati ke organ lain.
Protein transpor lain terdapat dalam dinding sel dan menyesuaikan strukturnya untuk
mengikat dan membawa glukosa, asam amino, dan nutrien lain melalui membran ke dalam
sel.
c. Protein nutrien dan penyimpanan, ialah protein yang berfungsi sebagai cadangan makanan.
Contohnya ialah protein yang terdapat dalam biji-bijian seperti gandum, beras dan jagung.
Ovalbumin pada telur dan kasein pada susu juga merupakan protein nutrien.
d. Protein kontraktil yaitu protein yang memberikan kemampuan pada sel dan organisme untuk
mengubah bentuk atau bergerak. Contohnya ialah aktin dan miosin, yaitu protein yang
berperan dalam sistem kontraksi otot kerangka.
e. Protein struktur, yaitu protein yang berperan sebagai penyanggah untuk memberikan struktur
biologi kekuatan atau perlindungan. Contohnya ialah kolagen yaitu komponen utama dalam
urat dan tulang rawan. Contoh lain adalah keratin yang terdapat pada rambut, kuku, dan bulu
ayam/burung, fibroin yaitu komponen utama dalam serat sutera dan jaring laba-laba.
f. Protein pertahanan (antibodi), yaitu protein yang melindungi organisme terhadap serangan
organisme lain (penyakit). Contohnya adalah imunoglobin atau antibodi yang terdapat dalam
vertebrata, dapat mengenali dan menetralkan bakteri, virus, atau protein asing dan spesi lain.
Fibrinogen dan trombin merupakan protein penggumpal darah jika sistem pembuluh terluka.
Bisa ular dan toksin bakteri juga tampaknya berfungsi sebagai protein pertahanan.
g. Protein pengatur, yaitu protein yang berfungsi mengatur aktivitas seluler atau fisiologi.
Contohnya ialah hormon seperti insulin yang mengatur metabolisme penyakit diabetes.
Contoh lain adalah hormon pertumbuhan dan hormon seks.

7. Sifat-sifat Protein
1. Denaturasi Protein
Jika suatu larutan protein, misalnya albumin telur, dipanaskan secara perlahan-lahan sampai
kira-kira 60O70OC, lambat laun larutan itu akan mejadi keruh dan akhirnya mengalami
koagulasi. Protein yang telah terkoagulasi itu tidak dapat larut lagi pada pendinginan.
Perubahan seperti itu disebut denaturasi protein. Denaturasi juga dapat terjadi karena perubahan
pH yang ekstrim, oleh beberapa pelarut seperti alkohol atau aseton, oleh zat terlarut seperti
urea, oleh detergen, atau bahkan karena pengguncangan yang intensif. Protein dalam bentuk
alamiahnya disebut protein asli (natif) setelah denaturasi disebut protein terdenaturasi. Protein
terdenaturasi hampir selalu kehilangan fungsi biologisnya. Dari penelitian terhadap protein
terdenaturasi diketahui bahwa struktur yang lebih kompleks dari protein, terutama struktur
tersier dan struktur kuartenernya.
2. Viskositas
Viskositas adalah tahanan yang timbul karena adanya gesekan antara molekul-molekul didalam
zatcair yang mengalir. Suatu larutan protein dalam air mempunyai Viskositas atau kekentalan
yang lebih besar dari pada Viskositas air sebagai pelarutnya. Pada umumnya Viskositas suatu
larutan tidak diukur secara absolute tetapi ditentukan oleh Viskositas ralatif, yaitu perbandingan
terhadap Viskositas zat cair tertentu. Alat yang digunakn untuk menentukan Viskositas adala
viscometer Ostwald. Pengukuran viskositas didasarkan pada kecepatan aliran suatu zat cair atau
larutan melalui suatu pipa ttertentu. Viskositas larutan protein tergantung pada jenis
protein, bentuk molekul, konsentrasi serta suhu larutan. Viskositas berbanding lurus dengan
konsentrasi tetapi berbanding terbalik dengan suhu. Larutan suatu protein yang bentuk
molekulnya panjang, mempunyai viskositas lebihh besar dari pada larutan suatu protein yang
berbentuk bulat. Pada titik isolistrik viskositas larutan protein mempunyai harga terkecil.
3. Koagulasi
Sifat protein yang satu ini ditandai dengan adanya penggumpalan partikel koloid sebagai akibat
penambahan senyawa kimia yang pada akhirnya menyebabkan partikel menjadi netral dan
akhirnya membentuk endapan akibat gaya grafitasi. Koagulasi ini sendri terjadi karena
beberapa hal seperti pemanasan (contohnya: darah), pengadukan (contohnya: tepung kanji), dan
pendinginan (contohnya: agar-agar).
4. Browning
Sifat protein yang satu ini ditandai dengan terjadinya perubahan warna menjadi coklat. Hal ini
merupakan reaksi pencoklatan enzimatis serta non enzimatis. Contoh pencoklatan enximatis
terlihat pada buah-buah juga sayuran yang mengandung zat fenolik. Semenetara itu, contoh
untuk pencoklatan non enzimatis ada pada karamelisasi gula.

8. Kegunaan Protein
Pertumbuhan dan pemeliharaan
Rambut, kulit, dan kuku membutuhkan lebih banyak as amino yang mengandung sulfur. Kolagen :
protein utama otot dan jaringan ikat. Fibrin dan myosin adalah protein didalam otot.

Pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh


Tiroid, insulin dan epinefrin serta enzim bertindak sebagai katalisator. Hb berfungsi sebagai
pengangkut oksigen

Mengatur keseimbangan air


Cairan tubuh intraseluler, ekstraseluler dan interseluler. Distribusi cairan ini dijaga dalam keadaan
seimbang atau homeostasis. Penumpukan cairan (edema) : tanda awal kekurangan protein.

Memelihara netralitas tubuh


Protein tubuh bertindak sebagai buffer, dengan pH netral atau sedikit alkali (pH 7,35 7,45).

Pembentukan antibodi
Kekurangan protein, menghalangi kemampuan tubuh thd pengaruh toksik berkurang. Kekurangan
protein lebih rentan terhadap bahan-bahan racun dan obat-obatan.

Mengangkut zat-zat gizi


Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi Kekurangan protein
menyebabkan gangguan pada absorpsi dan transportasi zat gizi.
Sumber energi
Protein menghasilkan 4 kkal/g protein.

Angka kecukupan protein


Angka kecukupan protein (AKP) orang dewasa adalah 0,75 gram/kg berat badan. Kekurang protein
( Marasmus dan kwashiorkor), Kelebihan protein ( asidosis, dehirasi, diare, kenaikan amoniak
darah, kenaikan ureum darah dan demam).
E. Metode Pembelajaran
Pendekatan : Pendekatan ilmiah (scientifict approach)
Model : STAD, Siklus Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi
Metode : Ceramah PluS, InquirI, Pemecahan Masalah, Diskusi dan Eksperimen

F. Kegiatan Pembelajaran
1. Pertemuan Pertama (2 x 45 menit)
a. Kegiatan pendahuluan (15 menit)
Guru mengucapkan salam pembuka
Sebelum memulai pembelajaran, guru meminta perwakilan siswa untuk memimpin
berdoa
Guru memeriksa kehadiran siswa
Guru memberi motivasi denganmenampilkan gambar susu yang ada pada power point
(mengamati)
Guru mendorong siswa menuju pada permasalahan dengan mengajukanpertanyaan
awal Apa gambar yang ada yang ada pada slide tersebut ?, Apa kandungan dari
susu tersebut ?
Guru memberikan pengetahuan umum tentang protein
Guru menampilkan fenomena danpermasalahan tentang protein yang adadalam
kehidupan sehari-hari yaitu padapower point
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa melalui
pembelajaran hari ini.
b. Kegiatan Inti (60 menit)
Guru menjelaskan rumus umum struktur asam amino dan pemberian nama dari asam
amino tersebut.
Guru menjelaskan struktur protein.
Guru menjelaskan penggolongan protein berdasarkan komposisi kimia, bentuk, dan
fungsi biologis
Siswa dibagi menjadi 4 kelompok heterogen, masing masing kelompok terdiri dari 5
orang. Dan duduk melingkar pada kelompoknya masing masing.
Siswa diminta mendiskusikan LKS mengenai Struktur, tata nama, sifat dan
penggolongan protein (mengumpulkan Data)
Siswa mendiskusikan LKS secara berkelompok,seluruh anggota bekerja sama, siswa
yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sehingga seluruh anggota kelompok
mengerti (Menganalisis)
Guru bertugas sebagai fasilitator, mengawasi jalannya kerja kelompok, menilai
keaktifan siswa, dan membantu siswa yang mengalami kesulitan.
Masing masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan
kelas secara bergiliran, pada saat presentasi, kelompok lain boleh memberikan
pertanyaan atau pendapat (terjadi diskusi kelas) (Mengkomunikasikan)
Guru memberikan penilaian dari hasil kerja kelompok dan ditulis di papan skor (papan
skor terlampir)
Guru meminta siswa kembali ke tempat duduk masing masing, siswa diminta
mengerjakan kuis secara individual, pada saat mengerjakan dan tidak boleh saling
membantu.
Siswa diminta menukarkan jawaban tugasnya kepada teman sebelahnya, jawaban
dikoreksi bersama sama.
Guru memberikan penilaian terhadap tugas individu dan diakumulasikan pada
penilaian kelompok.
Guru mengumumkan skor total masing masing kelompok, dan memberikan reward
atau hadiah kepada kelompok terbaik.
c. Kegiatan Penutup (15 menit)
Mengakhiri pelajaran dengan membimbing semua siswa membuat rangkuman
mengenai pembelajaran sebelumnya.
Menyimpulkan materi yang telah dibahas secara bersama-sama dengan siswa.
Memberi tugas untuk diselesaikan di rumah. Merencanakan materi untuk pertemuan
berikutnya.

2. Pertemuan ke-dua (2 x 45 menit)


a. Kegiatan Pendahuluan (15 menit)
Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran
(berdoa sebelum belajar, mengecek presensi, mengecek kesiapan siswa).
Guru menyampaikan pengetahuan prasyarat yang harus dimiliki siswa dari
pembelajaran yang lalu yaitu struktur, tata nama, sifat, kegunaan dan penggolongan
protein
Guru memperlihatkan slide power point mengenai beberapa gambar tentang uji protein
(mengamati).
Guru mempersilahkan siswa untuk bertanya seputar gambar yang di tampilkan pada
slide dan guru akan menjawabnya dengan jawaban yang singkat (menanya)
Guru Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan dengan pelajaran
sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar yang akan dicapai
b. Kegiatan Inti (60 menit)
Guru membagi siswa kedalamkelompok yang masing-masing berisi3-5 orang
Guru membagikan LKS tentang ujiprotein menggunakan reagen biuret kepada siswa
Guru meminta siswa untuk menentukan variabel percobaan sesuai dengan alat bahan
dan langkah kerja yang ada pada LKS.
Guru meminta perwakilan kelompok untuk mengambil alat dan bahan percobaan.
Siswa mulai melakukan percobaan sesuai dengan prosedur yang ada dalamLKS
bersama kelompok masing-masing. (mengumpulkan data)
Guru membantu siswa melakukanpercobaan apabila siswa mengalami kesulitan
Guru memantau peserta didik dalam melakukan pengamatan, menuliskanh asil
percobaan pada tabel pengamatan,serta menganalisis data hasil percobaansesuai dengan
pertanyaan yang adapada LKS (menganalisis)
Siswa menyajikan hasil pengama tandengan menampilkan gambar hasil pengamatan
percobaan dan menjelaskannya di depan (mengkomunikasikan).
c. Kegiatan Penutup (15 menit)
Guru meminta siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berfikir mereka dalam
melakukan percobaan dan menganalisis hasil percobaan
Guru meminta siswa menyimpulkan hasil diskusi.
Guru memberikan tugas dengan meminta siswa untuk membuat laporan hasil
percobaan untuk memantapkan pemahaman siswa.
Guru meminta siswa mempelajari materi selanjutnya
Guru meminta perwakilan kelompok untuk mengembalikan alat dan bahan percobaan
ke depan kelas.
Guru mengakhiri pembelajaran denganmeminta perwakilan siswa untukmemimpin
berdoa.
Guru menyampaikan salam penutup.
G. Penilaian
1. Teknik Penilaian
Sikap sosial :Observasi, dan Penilaian Diri
Pengetahuan : Tes Tertulis
Keterampilan : Observasi
2. Instrumen Penilaian
1. Pertemuan Pertama
a. Sikap Sosial
Bentuk Instrumen : Lembar observasi, Lembar penilaian diric.
b. Pengetahuan
Teknik Penilaian : Tes tertulis
Bentuk Instrumen : Pilihan ganda dan uraianc.
c. Keterampilana.
Teknik Penilaian : Observasib.
Bentuk Instrumen : Lembar observasic.

2. Pertemuan Kedua
a. Sikap Sosial
Bentuk Instrumen : Lembar observasi, Lembar penilaian diric.
b. Pengetahuan
Teknik Penilaian : Tes tertulis
Bentuk Instrumen : Laporan Percobaan
c. Keterampilana.
Teknik Penilaian : Observasib.
Bentuk Instrumen : Lembar observasic.

H. Media, Alat dan sumber belajar


1. Media
Laptop, CPU
LCD Projector
Film/Video
Gambar/Foto
Power Point Protein
Lembar Kerja Siswa (LKS) tentang materi protein
Lembar Kerja Siswa (LKS) tentang uji protein menggunakan reagen biuret
Tabel/Diagram
Alat Praktikum
2. sumber belajar
Lembar Kerja Siswa (LKS)tentang uji protein menggunakan reagen biuret
Lembar Kerja Siswa (LKS)tentang materi protein
Buku KIMIA SMA kelas XII