Anda di halaman 1dari 24

TUGAS

SEJARAH INDONESIA

TENTANG

PRESIDEN INDONESIA PADA


MASA REFORMASI

OLEH

IRHAMNY MAULIDYA

XII MIA 4

SMA N 1 KOTA SOLOK


2015/2016
PRESIDEN INDONESIA MASA REFORMASI

1. PRESIDEN B.J HABIBIE


1. Biografi Presiden Indonesia Ketiga, Habibie (1998-1999)

Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi
Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara,
pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang
menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang
putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat
tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang
punya kegemaran menunggang kuda ini, harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia
pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung. Tak lama setelah bapaknya
meninggal, Habibie pindah ke Bandung untuk menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare
School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-
pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.

Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk Universitas Indonesia di Bandung
(Sekarang ITB). Beliau mendapat gelar Diploma dari Technische Hochschule, Jerman tahun
1960 yang kemudian mendapatkan gekar Doktor dari tempat yang sama tahun 1965. Habibie
menikah tahun 1962, dan dikaruniai dua orang anak. Tahun 1967, menjadi Profesor
kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.
Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak
sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi
Theodore van Karman Award, itu kembali dari habitat-nya Jerman, beliau selalu menjadi
berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar
doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu
bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi
panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.

Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10


perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah
oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto. Soeharto
menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai
akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka.
Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara
biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.

Sebagian Karya beliau dalam menghitung dan mendesain beberapa proyek pembuatan
pesawat terbang :
* VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31.
* Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130.
* Hansa Jet 320 ( Pesawat Eksekutif ).
* Airbus A-300 ( untuk 300 penumpang )
* CN 235
* N-250
* dan secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain:
Helikopter BO-105.
Multi Role Combat Aircraft (MRCA).
Beberapa proyek rudal dan satelit.

2. PROSES JADI PRESIDEN

Berawal dari dampak krisis ekonomi di tahun 1997 yang melanda Kawasan Asia dan
berdampak sangat luas bagi perekonomian di Indonesia. Nilai tukar rupiah yang merosot
tajam pada bulan Juli 1997, membuat rupiah semakin terpuruk. Sebagai dampaknya hampir
semua perusahaan modern di Indonesia bangkrut, yang diikuti PHK pekerja-pekerjanya,
sehingga angka pengangguran menjadi meningkat.
Didorong oleh kondisi yang makin parah, pada bulan Oktober 1997 pemerintah meminta
bantuan IMF (International Monetary Fund) untuk memperkuat sektor finansial, pengetatan
kebijakan viskal dan penyesuaian struktural perbankan. Akan tetapi, pengaruh bantuan IMF
sangatlah kecil dalam membantu krisis di Indonesia. Beberapa kebijakan seperti kebijakan
fiskal dan kebijakan likuidasi. Dimana kebijakan fiskal bertujuan untuk mempertahankan
nilai tukar sedangkan kebijakan likuidasi bertujuan untuk membantu bank-bank yang
bemasalah. Kebijakan ini menerapkan standar kecukupan modal dengan mengusahakan
rekapitulasi perbankan. Namun pada kenyataannya kebijakan-kebijakan ini dilakukan tanpa
hasil yang berarti, malah IMF-lah yang disalahkan karena justru membuat pekonomian
Indonesia lebih parah selama krisis.
Kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk mengatasi krisis yang dilakukan oleh pemerintah
ternyata tidak mampu memulihkan perekonomian, dimana harga-harga bahan kebutuhan
pokok tetap mengalami peningkatan. Karena itulah masyarakat menilai pemerintah tidak
berhasil dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan yang dibuat. Hal inilah yang membuat
melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Rasa ketidakpercayaan ini
berakibat pada aksi demo mahasiswa di awal Maret 1998 yang menuntut pemerintah
menurunkan harga-harga barang dan menindaklanjuti pelaku-pelaku yang menimbun
sembako.
Puncak dari tuntutan mahasiswa agar Presiden Soeharto turun dari jabatan terjadi pada
tanggal 12 Mei 1998 di Kampus Trisakti yang dikenal dengan Insiden Trisakti. Berawal dari
aksi keprihatinan atas musibah bangsa dan mahasiswa berusaha secara damai keluar kampus
menuju Gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasinya tetapi niat itu ditolak aparat
keamanan dan memaksa mereka kembali ke kampus. Tiba-tiba situasi berubah menjadi
kekacauan dan aparat melepaskan tembakan. Akibatnya empat mahasiswa Trisakti tewas
tertembak peluru tajam aparat keamanan. Keesokan harinya, 13 Mei 1998 mahasiswa di
kampus-kampus menggelar aksi keprihatinan. Pada hari yang sama, siang harinya terjadi
kerusuhan massal berupa aksi pengerusakan dan pembakaran fasilitas umum dengan disertai
aksi penjarahan, perampokan dan pelecehan seksual terhadap wanita etnis tertentu di Jakarta
dan sekitarnya. Aksi kerusuhan berlangsung sampai tanggal 15 Mei 1998, yang memakan
korban meninggal samapi 1218 orang, itupun belum secara keseluruhan.
Pada tanggal 18 Mei 1998 sampai 22 Mei 1998 ribuan mahasiswa menduduki Gedung
DPR/MPR dengan tuntutan mengadakan Sidang Istimewa dengan agenda mengganti
Soeharto. Upaya Presiden Soeharto untuk meredam tuntutan mahasiswa dan masyarakat
adalah dengan membentuk Komite Reformasi. Dimana Komite ini bertugas melaksanakan
dan menyerap aspirasi masyarakat untuk melaksanakan Reformasi. Akan tetapi terjadi
penolakan 14 Menteri yang tidak bersedia untuk duduk dalam susunan jabatan Komite
Reformasi hasil Reshuffle Kabinet Pembangunan VII, dengan penolakan itu, membuat posisi
presiden terpojok secara politik disamping sebelumnya ada desakan Ketua DPR Harmoko
agar Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden. Situasi ini membuat Soeharto
memutuskan untuk berhenti karena desakan masyarakat yang menuntut beliau mundur
sangatlah besar dan secara politik dukungan sudah tidak ada.
Pada pagi harinya, tanggal 21 Mei 1998 di Istana Merdeka Jakarta, Presiden Soeharto
menyatakan dirinya berhenti dari jabatan Presiden RI, lewat pidatonya dihadapan wartawan
dalam dan luar negeri.
Usai Presiden Soeharto mengucapkan pidatonya, Wapres B.J. Habibie langsung diangkat
sumpahnya menjadi Presiden RI ketiga dihadapan Pimpinan Mahkamah Agung, yang
disaksikan oleh Ketua DPR dan Wakil-Wakil Ketua DPR. Teriakan-teriakan kemenangan atas
peristiwa bersejarah itu disambut dengan haru-biru para mahasiswa di Gedung DPR/MPR.
Suasana kemenangan itu sempat mendinginkan suasana yang sebelumnya panas dengan
hujatan dan makian lengsernya Soeharto, akan tetapi tuntutan agar Soeharto mengembalikan
uang rakyat mulai berkumandang.
3. KEBIJAKAN SELAMA JADI PRESIDEN

1. Pada bidang politik

a) Pembebasan Tahanan Politik


Secara umum tindakan pembebasan tahanan politik meningkatkan legitimasi Habibie
baik di dalam maupun di luar negeri. Hal ini terlihat dengan diberikannya amnesti dan abolisi
yang merupakan langkah penting menuju keterbukaan dan rekonsiliasi. Diantara yang
dibebaskan tahanan politik kaum separatis dan tokoh-tokoh tua mantan PKI, yang telah
ditahan lebih dari 30 tahun. Amnesti diberikan kepada Mohammad Sanusi dan orang-orang
lain yang ditahan setelah Insiden Tanjung Priok.
Selain tokoh itu tokoh aktivis petisi 50 (kelompok yang sebagian besar terdiri dari
mantan jendral yang menuduh Soeharto melanggar perinsip Pancasila dan Dwi Fungsi
ABRI).
Dr Sri Bintang Pamungkas, ketua Partai PUDI dan Dr Mochatar Pakpahan ketua
Serikat Buruh Sejahtera Indonesia dan K. H Abdurrahman Wahid merupakan segelintir dari
tokoh-tokoh yang dibebaskan Habibie. Selain itu Habibie mencabut Undang-Undang
Subversi dan menyatakan mendukung budaya oposisi serta melakukan pendekatan kepada
mereka yang selama ini menentang Orde Baru.
b) Kebebasan Pers
Dalam hal ini, pemerintah memberikan kebebasan bagi pers di dalam pemberitaannya,
sehingga semasa pemerintahan Habibie ini, banyak sekali bermunculan media massa.
Demikian pula kebebasan pers ini dilengkapi pula oleh kebebasan berasosiasi organisasi pers
sehingga organisasi alternatif seperti AJI (Asosiasi Jurnalis Independen) dapat melakukan
kegiatannya. Cara Habibie memberikan kebebasan pada Pers adalah dengan mencabut
SIUPP.
c) Pembentukan Parpol dan Percepatan pemilu dari tahun 2003 ke tahun 1999
Presiden RI ketiga ini melakukan perubahan dibidang politik lainnya diantaranya
mengeluarkan UU No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik, UU No. 3 Tahun 1999 tentang
Pemilu, UU No. 4 Tahun 1999 tentang MPR dan DPR.
Itulah sebabnya setahun setelah reformasi Pemilihan Umum dilaksanakan bahkan
menjelang Pemilu 1999, Partai Politik yang terdaftar mencapai 141 dan setelah diverifikasi
oleh Tim 11 Komisi Pemilihan Umum menjadi sebanyak 98 partai, namun yang memenuhi
syarat mengikuti Pemilu hanya 48 Parpol saja. Selanjutnya tanggal 7 Juni 1999,
diselenggarakan Pemilihan Umum Multipartai. Dalam pemilihan ini, yang hasilnya disahkan
pada tanggal 3 Agustus 1999, 10 Partai Politik terbesar pemenang Pemilu di DPR, adalah:
1). Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) pimpinan Megawati Soekarno Putri meraih
153 kursi
2). Partai Golkar pimpinan Akbar Tanjung meraih 120 kursi
3). Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pimpinan Hamzah Haz meraih 58 Kursi
4). Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan H. Matori Abdul Djalil meraih 51 kursi
5). Partai Amanat Nasional (PAN) pimpinan Amein Rais meraih 34 Kursi
6). Partai Bulan Bintang (PBB) pimpinan Yusril Ihza Mahendra meraih 13 kursi
7). Partai Keadilan (PK) pimpinan Nurmahmudi Ismail meraih 7 kursi
8). Partai Damai Kasih Bangsa (PDKB) pimpinan Manase Malo meraih 5 Kursi
9). Partai Nahdlatur Ummat pimpinan Sjukron Mamun meraih 5 kursi
10). Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) pimpinan Jendral (Purn) Edi Sudradjat meraih 4 kursi
d) Penyelesaian Masalah Timor Timur
Sejak terjadinya insident Santa Cruz, dunia Internasional memberikan tekanan berat
kepada Indonesia dalam masalah hak asasi manusia di Tim-Tim. Bagi Habibie Timor-Timur
adalah kerikil dalam sepatu yang merepotkan pemerintahannya, sehingga Habibie mengambil
sikap pro aktif dengan menawarkan dua pilihan bagi penyelesaian Timor-Timur yaitu di satu
pihak memberikan setatus khusus dengan otonomi luas dan dilain pihak memisahkan diri dari
RI. Otonomi luas berarti diberikan kewenangan atas berbagai bidang seperti : politik
ekonomi budaya dan lain-lain kecuali dalam hubungan luar negeri, pertahanan dan keamanan
serta moneter dan fiskal. Sedangkan memisahkan diri berarti secara demokratis dan
konstitusional serta secara terhorman dan damai lepas dari NKRI.
Sebulan menjabat sebagai Presiden habibie telah membebaskan tahanan politik Timor-
Timur, seperti Xanana Gusmao dan Ramos Horta.
Sementara itu di Dili pada tanggal 21 April 1999, kelompok pro kemerdekaan dan pro
intergrasi menandatangani kesepakatan damai yang disaksikan oleh Panglima TNI Wiranto,
Wakil Ketua Komnas HAM Djoko Soegianto dan Uskup Baucau Mgr. Basilio do
Nascimento. Tanggal 5 Mei 1999 di New York Menlu Ali Alatas dan Menlu Portugal Jaime
Gama disaksikan oleh Sekjen PBB Kofi Annan menandatangani kesepakan melaksanakan
penentuan pendapat di Timor-Timur untuk mengetahui sikap rakyat Timor-Timur dalam
memilih kedua opsi di atas. Tanggal 30 Agustus 1999 pelaksanaan penentuan pendapat di
Timor-Timur berlangsung aman. Namun keesokan harinya suasana tidak menentu, kerusuhan
dimana-mana. Suasana semakin bertambah buruk setelah hasil penentuan pendapat
diumumkan pada tanggal 4 September 1999 yang menyebutkan bahwa sekitar 78,5 % rakyat
Timor-Timur memilih merdeka. Pada awalnya Presiden Habibie berkeyakinan bahwa rakyat
Timor-Timur lebih memilih opsi pertama, namun kenyataannya keyakinan itu salah, dimana
sejarah mencatat bahwa sebagian besar rakyat Timor-Timur memilih lepas dari NKRI.
Lepasnya Timor-Timur dari NKRI berdampak pada daerah lain yang juga ingin melepaskan
diri dari NKRI seperti tuntutan dari GAM di Aceh dan OPM di Irian Jaya, selain itu
Pemerintah RI harus menanggung gelombang pengungsi Timor-Timur yang pro Indonesia di
daerah perbatasan yaitu di Atambua. Masalah Timor-Timur tidaklah sesederhana seperti yang
diperkirakan Habibie karena adanya bentrokan senjata antara kelompok pro dan kontra
kemerdekaan di mana kelompok kontra ini masuk ke dalam kelompok militan yang
melakukan teror pembunuhan dan pembakaran pada warga sipil. Tiga pastor yang tewas
adalah pastor Hilario, Fransisco, dan dewanto. Situasi yang tidak aman di Tim-Tim memaksa
ribuan penduduk mengungsi ke Timor Barat, ketidak mampuan Indonesia mencegah teror,
menciptakan keamanan mendorong Indonesia harus menerima pasukan internasional.
) e). Pengusutan Kekayaan Soeharto dan Kroni-kroninya
Mengenai masalah KKN, terutama yang melibatkan Mantan Presiden Soeharto
pemerintah dinilai tidak serius menanganinya dimana proses untuk mengadili Soeharto
berjalan sangat lambat. Bahkan, pemerintah dianggap gagal dalam melaksanakan Tap MPR
No. XI / MPR / 1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi
dan Nepotisme, terutama mengenai pengusutan kekayaan Mantan Presiden Soeharto,
keluarga dan kroni-kroninya. Padahal mengenai hal ini, Presiden Habibie - dengan Instruksi
Presiden No. 30 / 1998 tanggal 2 Desember 1998 telah mengintruksikan Jaksa Agung Baru,
Andi Ghalib segera mengambil tindakan hukum memeriksa Mantan Presiden Soeharto yang
diduga telah melakukan praktik KKN. Namun hasilnya tidak memuaskan karena pada tanggal
11 Oktober 1999, pejabat Jaksa Agung Ismudjoko mengeluarkan SP3, yang menyatakan
bahwa penyidikan terhadap Soeharto yang berkaitan dengan masalah dana yayasan
dihentikan. Alasannya, Kejagung tidak menemukan cukup bukti untuk melanjutkan
penyidikan, kecuali menemukan bukti-bukti baru. Sedangkan dengan kasus lainnya tidak ada
kejelasan.
Bersumber dari masalah di atas, yaitu pemerintah dinilai gagal dalam melaksanakan
agenda Reformasi untuk memeriksa harta Soeharto dan mengadilinya. Hal ini berdampak
pada aksi demontrasi saat Sidang Istimewa MPR tanggal 10-13 Nopember 1998, dan aksi ini
mengakibatkan bentrokan antara mahasiswa dengan aparat. Parahnya pada saat penutupan
Sidang Istimewa MPR, Jumat (13/11/1998) malam. Rangkaian penembakan membabi-buta
berlangsung sejak pukul 15.45 WIB sampai tengah malam. Darah berceceran di kawasan
Semanggi, yang jaraknya hanya satu kilometer dari tempat wakil rakyat bersidang. Sampai
sabtu dini hari, tercatat lima mahasiswa tewas dan 253 mahasiswa luka-luka. Karena
banyaknya korban akibat bentrokan di kawasan Semanggi maka bentrokan ini diberi nama
Semanggi Berdarah atau Tragedi Semanggi.
f). Pemberian Gelar Pahlawan Reformasi bagi Korban Trisakti
Pemberian gelar Pahlawan Reformasi pada para mahasiswa korban Trisakti yang
menuntut lengsernya Soeharto pada tanggal 12 Mei 1998 merupakan hal positif yang
dianugrahkan oleh pemerintahan Habibie, dimana penghargaan ini mampu melegitimasi
Habibie sebagai bentuk penghormatan kepada perjuangan dan pengorbanan mahasiswa
sebagai pelopor gerakan Reformasi.
2. Pada Bidang Ekonomi
Di dalam pemulihan ekonomi, secara signifikan pemerintah berhasil menekan laju
inflasi dan gejolak moneter dibanding saat awal terjadinya krisis. Namun langkah dalam
kebijakan ekonomi belum sepenuhnya menggembirakan karena dianggap tidak mjempunyai
kebijakan yang kongkrit dan sistematis seperti sektor riil belum pulih. Di sisi lain, banyaknya
kasus penyelewengan dana negara dan bantuan luar negeri membuat Indonesia kehilangan
momentum pemulihan ekonomi. Pada tanggal 21 Agustus 1998 pemerintah membekukan
operasional Bank Umum Nasional, Bank Modern, dan Bank Dagang Nasional Indonesia.
Kemudian di awal tahun selanjutnya kembali pemerintah melikuidasi 38 bank swasta, 7 bank
diambil-alih pemerintah dan 9 bank mengikuti program rekapitulasi.
Untuk masalah distribusi sembako utamanya minyak goreng dan beras, dianggap
kebijakan yang gagal. Hal ini nampak dari tetap meningkatnya harga beras walaupun telah
dilakukan operasi pasar, ditemui juga penyelundupan beras keluar negeri dan penimbunan
beras.
4. BERAKHIRNYA JADI PRESIDEN
Dengan mundurnya Presiden Soeharto dari jabatan presiden pada tanggal 21 mei
1998, maka Wakil Presiden B.J. Habibie menggantikan kedudukannya sebagai presiden.
Pelimpahan ini memunculkan reaksi pro dan kontra dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan
bahwa legitimasi pemerintahan B.J. Habibie sangat lemah, karena keberadaan Habibie
dianggap sebagai suatu paket warisan pemerintahan Soeharto. Bahkan beberapa kolompok
menuntut pembentukan pemerintahan transisi. Hal lain yang melemahkan legitimasi Habibie
dalam memimpin pemerintahan ialah ia tidak dipilih secara luber dan jurdil sebagai presiden
dan merupakan satu paket pemilihan pola musyawarah mufakat dengan Soeharto.
Selain itu, beberapa tokoh memberi komentar pemerintahan Habibie sebagai
pemerintahan transisi (Nurcholis Majid). Belum lepas dari bayang-bayang Soeharto
(Amien Rais), Melakukan reformasi hanya pada kulitnya saja dan perpanjangan rezim
mantan Presiden Soeharto (Megawati). Komentar-komentar tersebut makin melemahkan
legitimasi Habibie sebagai presiden.
Meskipun terdapat berbagai kemajuan dan keberhasilan yang dicapai oleh
pemerintahan Habibie. Dimana sejak Kabinet Reformasi Pembangunan dibentuk, seperti
penyelenggaraan Sidang Istimewa MPR, penyelenggaraan pemilu dan reformasi di bidang
politik, sosial, hukum, dan ekonomi.
Di tengah-tengah upaya pemerintahan Habibie memenuhi tuntutan reformasi,
pemerintah Habibie dituduh melakukan tindakan yang bertentangan dengan kesepakatan
MPR mengenai masalah Timor-Timur. Pemerintah dianggap tidak berkonsultasi terlebih
dahulu dengan DPR/MPR sebelum menawarkan opsi kedua kepada masyarakat Timor-Timur.
Dalam jajak pendapat terdapat dua opsi yang ditawarkan di Indonesia di bawah Presiden B.J.
Habibie, yaitu: otonomi luas bagi Timor-Timur dan kemerdekaan bagi Timor-Timur.
Akhirnya tanggal 30 Agustus 1999 pelaksanaan penentuan pendapat di Timor-Timur
berlangsung aman dan dimenangkan oleh kelompok Pro Kemerdekaan yang berarti Timor-
Timur lepas dari wilayah NKRI. Masalah itu tidak berhenti dengan lepasnya Timor-Timur,
setelah itu muncul tuntutan dari dunia Internasional mengenai masalah pelanggaran HAM
yang meminta pertanggungjawaban militer Indonesia sebagai penanggungjawab keamanan
pasca jajak pendapat. Hal ini mencoreng Indonesia di Dunia Internasional.
Selain kasus pelanggaran HAM di Timor-Timur tersebut, terjadi kasus yang sama
seperti di Aceh melalui Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Irian Jaya lewat Organisasi
Papua Merdeka (OPM), dengan kelompok separatisnya yang menuntut kemerdekaan dari
wilayah Republik Indonesia.
Pada tanggal 1-21 Oktober 1999, MPR mengadakan Sidang Umum. Dalam suasana
Sidang Umum MPR yang digelar dibawah pimpinan Ketua MPR Amien Rais, tanggal 14
Oktober 1999 Presiden Habibie menyampaikan pidato pertanggungjawabannya di depan
sidang dan terjadi penolakan terhadap pertanggungjawaban presiden sebagai Mandataris
MPR lewat Fraksi PDI-Perjuangan, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Fraksi Kesatuan
Kebangsaan Indonesia dan Fraksi Demokrasi Kasih Bangsa. Pada umumnya, masalah-
masalah yang dipersoalkan oleh Fraksi-fraksi tersebut adalah masalah Timor-Timur, KKN
termasukan pengusutan kekayaan Soeharto, dan masalah HAM. Sementara itu, di luar
Gedung DPR/MPR yang sedang bersidang, mahasiswa dan rakyat yang anti Habibie bentrok
dengan aparat keamanan. Mereka menolak pertanggungjawaban Habibie, karena Habibie
dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Rezim Orba.
Kemudian pada tanggal 20 Oktober 1999, Ketua MPR Amien Rais menutup Rapat
Paripurna sambil mengatakan, dengan demikian pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie
ditolak. Pada hari yang sama Presiden habibie mengatakan bahwa dirinya mengundurkan
diri dari pencalonan presiden. Habibie juga iklas terhadap penolakan pertanggungjawabannya
oleh MPR. Menyusul penolakan MPR terhadap pidato pertanggungjawaban Presiden Habibie
dan pengunduran Habibie dalam bursa calon presiden, memunculkan dua calon kuat sebagai
presiden, yaitu Megawati dan Abdurrahman Wahid semakin solid, setelah calon
PresidenYusril Ihza Mahendra dari Fraksi Partai Bulan Bintang mengundurkan diri melalui
voting, Gus Dur terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia keempat dan dilantik dengan
Ketetapan MPR No. VII/MPR/1999 untuk masa bakti 1999-2004. Tanggal 21 Oktober 1999
Megawati terpilih menjadi Wakil Presiden RI dengan Ketetapan MPR No. VIII/MPR/1999
mendampingi Presiden Abdurrahman Wahid. Terpilihnya Abdurrahman Wahid dan Megawati
sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1999-2004 menjadi akhir
pemerintahan Presiden Habibie dengan TAP MPR No. III/MPR/1999 tentang
Pertanggungjawaban Presiden RI B.J. Habibie.

2. PRESIDEN ABDURRAHMAN WAHID

1. Biografi Presiden Indonesia Keempat, Abdurrahman Wahid (1999-2001)

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang
Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan darah
biru. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asyari, pendiri jamiyah
Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren
Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar
Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang
menjadi Rais Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur
merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia.
Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat
inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal
di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir.
Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu
Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkimpoiannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir.

2. PROSES JADI PRESIDEN

Pada awal tahun 1998 rezim Orde Baru sudah tidak mampu membendung arus Reformasi
yang bergulir begitu cepat. Setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri dari singgasananya
pada tanggal 21 Mei 1998, pemerintahan Indonesia beralih dari tangan Soeharto kepada
wakilnya yakni B.J. Habibie. Presiden B.J.Habibie segera melakukan langkah-langkah
pembaruan sebagaimana yang menjadi tuntutan Reformasi. Pemerintahan B.J. Habibie tidak
begitu lama berkuasa di Indonesia, dikarenakan hanya meneruskan pemerintahan Soeharto
yang mundur di tengah jalan. Berdasarkan Sidang Istimewa MPR bulan Oktober 1999
memutuskan KH. Abdurahmman Wahid terpilih sebagai Presiden Indonesia menggantikan
B.J. Habibie. Pemerintahan Indonesia selanjutnya beralih ke tangan KH. Abdurahmman
Wahid atau yang sering disapa dengan sebutan Gus Dur.
Pada awal kepemimpinannya, Abdurrahman Wahid menampilkan energi yang luar biasa,
tekad untuk menggulingkan unsur-unsur yang dinilai otoriter semasa pemerintahan Soeharto
menuju sistem yang lebih demokratis serta kesediaannya untuk berfikir kreatif, pembawaan
yang sederhana sehingga banyak pihak mengaguminya. Pemerintahan Abdurrahman Wahid
menunjukkan gabungan dari harapan, janji, visi, kebingungan, dan kekecewaan. Hal tersebut
mengingat kepada kondisi kesehatannya yang buruk dan kekuatan-kekuatan politik yang
bersatu menentangnya, namun Gusdur menampilkan energi yang luar biasa tekad yang kuat
untuk menggulingkan unsur-unsur sentralistik semasa pemerintahan Soeharto menjadi modal
untuk menjawab tuntutan masyarakat di era Reformasi. Selain itu Abdurrahman wahid
mendorong pluralisme dan keterbukaan menuju tatanan demokratis. Dia memperbolehkan
umat Cina Konfusius untuk melakukan perayaan sacara terbuka, yang sebelumnya tidak
diperbolehkan.
Maka dari itu peneliti tertarik untuk membahas mengenai sistem pemerintahan
Indonesia pada masa KH. Abdurahmman Wahid tahun 1999-2001 dan mengangkatnya ke
dalam sebuah penelitian berbentuk makalah. Adapun periodasasi yang penulis pakai yaitu
antara tahun 1999-2001. Kurun waktu tersebut, merupakan masa KH. Abdurahmman Wahid
menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-4.

3. KEBIJAKAN SELAMA JADI PRESIDEN

1. Di Bidang Politik

1) Membentuk Kabinet Persatuan Nasional


2) Sering melakukan perjalanan luar negeri dengan tujuan menjalin kerjasama dengan negara
lain, menarik investasi, menerima penghargaan, berobat, sekaligus menghadiri bebagai forum
dunia seperti forum ekonomi dunia atau pertemuan negara G-77.

3) Politik Luar Negeri Yang Bebas Aktif Dengan kunjungan keluar negeri sebenarnya
merupakan pemborosan, akan tetapi ini dilakukan untuk mengangkat citra Negara Indonesia.
Akibat rezim Pak Soeharto, citra Indonesia dikenal sebagai negara totaliter dengan tingkat
demokratisasi yang rendah. Untukmengatasi hal tersebut Presiden Gus Dur melakukan
kunjungan ke Negara Negara yang tergabung dalam ASEAN, Afrika, Eropa, hingga Benua
Amerika. Karena kunjungan ini politik politik bebas aktif begitu kentara. Seringnya Presiden
Gus Dur berkunjung ke luar negeri ini ternyata mendapat respon positif dari dunia, bahkan
membuka peluang kerjasama (terutama kerjasama dalam bidang perdagangan).

4) Iklim Politik Yang Demokratis Semua tahu bahwa pada masa Gus Dur suasana demokratis
mulai tampak terwujud. Hal ini dapat terlihat dengan tindakan gusdur yaitu:
5) Penghapusan peraturan yang merugikan kaum minoritas.
6) Pembubaran instansi negara yang tak lagi efektif (departemen penerangan dan sosial)
hengga "niat" Gusdur ini membuka hubungan diplomati dengan Israel.

7) Kecenderungan pemikiran Gusdur yang menghargai kebebasan idividu dan keberagaman


(dasar dari demokrasi) serta reformis.

8) Pada masa Abdurrahman Wahid terjadi perubahan drastis dalam bidang keterbukaan
media. Gus Dur melikuidasi departemen penerangan, sehingga media massa lebih leluasa
melakukan aktivitasnya.

9) Gus Dur terkenal dengan faham pluralismenya. Pada eranya lah kelompok minoritas
Tionghoa mendapatkan pengakuan lebih besar, seperti dalam pengurusan dokumen
kependudukan dan penetapan Imlek sebagai hari libur nasional.

10) Sayang, sistem dan pola pemerintahan Gus Dur tidak berjalan dengan baik. Terjadi
kegaduhan politik yang tidak perlu, sehingga stabilitas politik tidak terjaga.

11) Stabilitas politik yang buruk menyebabkan stabilitas ekonomi berjalan pincang.

2. Di Bidang Ekonomi

a. Kelebihan :

1) Memberi kebebasan seluas-luasnya kepada setiap suku terutama Tionghoa yang


notabenenya banyak berkecimpung di bidang ekonomi dengan seluas-luasnya.

2) Berani bersikap dan tegas juga pada sector-sektor ekonomi


b. Kelemahan :

1) Keterbatasan fisik sehingga performa beliau dalam memimpin negeri ini kurang maksimal
yang berimbas pada bidang ekonomi.

2) Seringnya melakukan perjalanan luar negeri sehingga dianggap menghamburkan APBN.

Pembaharuan yang dilakukan pada masa Pemerintahan Gus Dur adalah :

1) Membentuk Kabinet Kerja Untuk mendukung tugas dalam menjalankan pemerintahan


sehari-hari, Gus Dur membentuk kabinet kerja yang diberi nama Kabinet Persatuan Nasional
yang anggotanya diambil dari perwakilan masing-masing partai politik yang dilantik pada
tanggal 28 Oktober 1999. Di dalam Kabinet Persatuan Nasional terdapat dua departemen
yang dihapuskan, yaitu Departemen Sosial dan Departemen Penerangan.

2) Bidang Ekonomi Untuk mengatasi krisis moneter dan memperbaiki ekonomi Indonesia,
dibentuk Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang bertugas untuk memecahkan perbaikan
ekonomi Indonesia yang belum pulih dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Dewan
Ekonomi nasional diketuai oleh Prof. Dr. Emil Salim, wakilnya Subiyakto Tjakrawerdaya dan
sekretarisnya Dr. Sri Mulyani Indraswari. Anggota DEN adalah Anggito Abimanyu, Sri
Ningsih, dan Bambang Subianto.

4. BERAKHIRNYA JADI PRESIDEN

Ketika hubungan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid dan Poros Tengah tidak harmonis, DPR
mengeluarkan Memorandum I dan II untuk menjatuhkannya dari kursi kepresidenan. Sebagai
reaksi baliknya, presiden mengeluarkan maklumat pada tanggal 28 Mei 2001 dan menjawab
Memorandum II dengan jawaban yang dibacakan oleh Menko Politik, Sosial dan Keamanan
(Menko Polsoskam) Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 29 Mei 2001, yang antara lain
isinya membekukan lembaga MPR dan DPR. Akhir jabatan Presiden K.H. Abdurrahman
Wahid terjadi ketika berlangsung Rapat Paripurna MPR pada tanggal 21 Juli 2001. Rapat
tersebut dianggap sebagai Sidang istimewa MPR. Keputusan yang diambil sidang istimewa
tersebut sebagai berikut :

1. Presiden K.H. Abdurrahman Wahid diberhentikan secara resmi sebagai presiden


berdasarkan Ketetapan MPR No. II Tahun 2001.

2. MPR mengeluarkan Ketetapan MPR No. III tahun 2001 untuk menetapkan dan melantik
Wakil Presiden Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri sebagai presiden kelima
RepublikIndonesia.
3. PRESIDEN MEGAWATI SOEKARNO PUTRI

1. Biografi Presiden Indonesia Kelima, Megawati (2001-2004)

Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri lahir di Yogyakarta, 23 Januari


1947. Sebelum diangkat sebagai presiden, beliau adalah Wakil Presiden RI yang ke-8
dibawah pemerintahan Abdurrahman Wahid. Megawati adalah putri sulung dari Presiden RI
pertama yang juga proklamator, Soekarno dan Fatmawati.

Wanita bernama lengkap Dyah Permata Megawati Soekarnoputri ini memulai pendidikannya,
dari SD hingga SMA di Perguruan Cikini, Jakarta. Sementara, ia pernah belajar di dua
Universitas, yaitu Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung (1965-1967) dan
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972). Kendati lahir dari keluarga politisi
jempolan, Mbak Mega panggilan akrab para pendukungnya tidak terbilang piawai
dalam dunia politik. Bahkan, Megawati sempat dipandang sebelah mata oleh teman dan
lawan politiknya. Beliau bahkan dianggap sebagai pendatang baru dalam kancah politik,
yakni baru pada tahun 1987. Saat itu Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menempatkannya
sebagai salah seorang calon legislatif dari daerah pemilihan Jawa Tengah, untuk
mendongkrak suara.

2. PROSES JADI PRESIDEN

Megawati Soekarnoputri adalah Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat sejak
23 Juli 2001 20 Oktober 2004. Ia merupakan presiden wanita Indonesia pertama dan
merupakan anak dari presiden Indonesia pertama. Megawati juga merupakan ketua umum
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sejak memisahkan diri dari Partai Demokrasi
Indonesia pada tahun 1999. Pemilu 1999.
Megawati menjadi presiden setelah MPR mengadakan Sidang Istimewa MPR pada 23
Juli 2001. Sidang Istimewa MPR diadakan dalam menanggapi langkah Presiden
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang membekukan lembaga MPR/DPR dan Partai Golkar.
Megawati dilantik pada 23 Juli 2001, sebelumnya dari tahun 1999-2001, ia menjabat Wakil
Presiden di bawah Gus Dur. Masa pemerintahan Megawati ditandai dengan semakin
menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, diakannya pemilihan umum presiden secara
langsung dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan proses
demokratisasi di Indonesia.

3. KEBIJAKAN SELAMA JADI PRESIDEN

A. Politik
1. Membentuk Kabinet Gotong-Royong
Kabinet Gotong-Royong (KGR) dibentuk pada tanggal 10 Agustus 2001 dan berakhir
pada tahun 2004 seiring lengsernya Presiden Megawati Soekarnoputri pada waktu itu.
Kabinet ini dinamakan KGR karena merupakan pemerintahan dari hasil banyak partai.
Pada masa Presiden Megawati memimpin, Indonesia sedang porak poranda akibat
beragam konflik seperti konflik komunal (Ambon, Poso, Sampang) dan konflik politik
(pemakzulan Gusdur).
Para pelaku ekonomi, kalangan birokrasi, pengamat politik, danmenteri dan
setingkatnya menilai KGR ini cukup tangguh, hal ini dapat dilihat bahwa 26 dari 32 jabatan
menteri dan setingkat menteri dijabat oleh para profesional yang menguasai bidang tugas
masing-masing. Akan tetapi KGR ini mengecewakan karena terkesan lamban dalam
kinerjanya.
2. Mendirikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
KPK didirikan pada tahun 2003 oleh Presiden Megawati. Pendirian KPK ini didasari
karena Presiden Megawati melihat institusi Jaksa dan Polri saat itu terlalu kotor, sehingga
untuk menangkap koruptor dinilai tidak mampu, namun jaksa dan polri sulit dibubarkan
sehingga dibentuklah KPK.
3. Mengadakan pemilu yang bersifat demokratis yang dilaksanakan tahun 2004 dan melalui dua
periode yaitu :
a. Periode pertama untuk memilih anggota legislatif secara langsung.
2. Periode kedua untuk memilih presiden dan wakil presiden secara langsung.
Pemilu tahun 2004 merupakan pemilu pertama yang dilaksanakan secara langsung artinya
rakyat langsung memilih pilihannya.
b. Pemerintahan Megawati berakhir setelah hasil pemilu 2004 menempatkan pasangan Susilo
Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai pemenang. Hal ini merupakan babak baru
pemerintahan di Indonesia dimana Presiden dan Wakil Presiden terpilih dipilih langsung oleh
rakyat.
B. Ekonomi
Menurut Presiden Megawati seharusnya pemerintah lebih bijak dengan
menyelesaikan permasalahan ekonomi secara menyeluruh seperti menginventarisasi hutang
sekaligus segera membayarnya. Dengan cara itu diyakini Mantan Presiden Indonesia ini bisa
menjadi jalan alternatif agar mata uang tidak jadi dipotong.
1. krisis ekonomi yang melanda indonesia sejak tahun 1997 mengakibatkan kemerosotan
pendapatan perkapita. Pada tahun 1997 pendapatan perkapita indonesia tinggal US$465.
melalui kebijakan pemulihan keamanan situasi indonesia menjadi tenang. Presiden megawati
berhasil menaikan pendapatan perkapita cukup signifikan yaitu sekitar US$930.
2. ketenangan megawati disambut oleh pasar, tak sampai sebulan dilantik kurs melonjak ke Rp
8500 per dollar AS. Indeks harga saham gabungan (IHSG) juga terus membaik hingga melejit
ke angka 800.
3. Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menekan nilai inflasi, presiden
megawati menempuh langkah yang sangat kontroversi, yaitu melakukan privatisasi terhadap
BUMN. Pemerintah menjual indosat pada tahun 2003. hasil penjualan itu berhasil menaikan
pertumbuhan ekonomi indonesia menjadi 4,1% dan inflansi hanya 5,06%. Privatisasi adalah
menjual perusahaan negara didalam periode krisis. Tujuannya adalah melindungi perusahaan
negara dari interversi kekuatan-kekuatan politik dan melunasi pembayaran utang luar negri.
4. Memperbaiki kinerja ekspor. Pada tahun 2002 nilai ekspor mencapai US$57,158 miliar dan
import tercatat US$31,229 miliar. Pada tahun 2003 ekspor juga menanjak keangka US$61,02
miliar dan import meningkat keangka US$32,39 miliar.
5. Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris Club
ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun.
6. Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode
krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik
dan mengurangi beban negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi, karena BUMN
yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing.
7. Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi
belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan korupsi
membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia, dan
mengganggu jalannya pembangunan nasional.
8. Secara faktual, pemerintahan Megawati menjalankan kebijakan privatisasi berdasarkan
desakan dari luar, khsusunya IMF dan bank dunia. Bedanya, jika Megawati hanya
melanjutkan kesepakatan yang dibuat pemerintahan sebelumnya, Habibie, melalui stuctrual
adjustment program (SAP).
9. Selain itu, pertimbangan melakukan privatisasi dijaman megawati adalah untuk mencari
pendanaan untuk menutupi deficit APBN. Seperti diketahui, Megawati mewarisi sebuah
kondisi ekonomi yang compang camping akibat krisis ekonomi 1997.
10. Pada periode 1991-2001, pemerintah Indonesia 14 kali memprivatisasi BUMN. Yang
terprivatisasi 12 BUMN.
11. Pada masa pemerintahan Megawati, kerjasama ekonomi dan politik luar negeri tidak begitu
determinis di bawah kendali sebuah negara.
12. Di masa pemerintahan Megawati, kerjasama ekonomi dan politik juga dilakukan diluar blok
AS dan sekutunya, seperti kerjasama pembelian pesawat Sukhoi dengan Rusia dan kerjasama
perdagangan dengan China.
13. Selain itu, pemerintahan Megawati berusaha keras untuk keluar dari jebakan IMF. Hanya
saja, usaha itu dibiaskan oleh Budiono, menteri keuangan waktu itu, dengan menandatangi
post program monitoring (PPM) yang berarti melanjutkan campur tangan IMF secara
sembunyi-sembunyi.
14. Untuk perlindungan terhadap perempuan dan TKI di luar negeri, pemerintahan megawati
pernah mengajukan tiga RUU, yaitu Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang
Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan di Lingkungan Kerja dan Rumah Tangga, RUU
Pekerja di Luar Negeri, dan RUU Tindak Pidana Perdagangan Orang.

4. BERAKHIRNYA JADI PRESIDEN

Untuk pertama kalinya Indonesia melaksanakan pemilu sebanyak 2 kali yaitu untuk
memilih anggota legislative dan memilih presiden secara langsung. Pemilu 2004 yang
diselenggarakan pada 5 april 2004 diikuti oleh 24 partai politik. Setelah
melaksanakan pemilu legislative, dilanjutkan dengan pemilihan Calon presiden dan wakil
presiden yang mencalonkan diri antara lain Megawati-Hasyim Muzadi didukung oleh PDIP,
Wiranto-Salahudin Wahid didukung partai golkar,Amien Rais- Siswono didukung partai
Amanat Nasional, Hamzah Haz-Agum gumelar di dukung partai persatuan pembangunan,
Susilo Bambang Yudhoyono Jusuf kalla didukung partai Demokrat.pemilu di menangkan
oleh pasangan SBY-jusuf kalla dan Mega Hasyim,akhirnya dilaksanakan pemilu putaran ke2
yang dimenangkan oleh pasangan SBY jusuf kalla.

Penyebab mundurnya Megawati sebagai Presiden RI:

Ia mengalami kekalahan (40% - 60%) dalam pemilihan umum presiden 2004 tersebut dan
harus menyerahkan tonggak kepresidenan kepada Susilo Bambang Yudhoyono mantan
Menteri Koordinator pada masa pemerintahannya.

4. PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDOYONO

1. Biografi Presiden Keenam, Soesilo Bambang Yudhoyono (2004-2014)


Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden RI ke-6. Berbeda dengan presiden sebelumnya,
beliau merupakan presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat dalam proses
Pemilu Presiden putaran II 20 September 2004. Lulusan terbaik AKABRI (1973) yang akrab
disapa SBY ini lahir di Pacitan, Jawa Timur 9 September 1949. Istrinya bernama Kristiani
Herawati, merupakan putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo.

Pensiunan jenderal berbintang empat ini adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotjo dan
Sitti Habibah. Darah prajurit menurun dari ayahnya yang pensiun sebagai Letnan Satu.
Sementara ibunya, Sitti Habibah, putri salah seorang pendiri Ponpes Tremas. Beliau
dikaruniai dua orang putra yakni Agus Harimurti Yudhoyono (mengikuti dan menyamai jejak
dan prestasi SBY, lulus dari Akmil tahun 2000 dengan meraih penghargaan Bintang Adhi
Makayasa) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara,
Magelang yang kemudian menekuni ilmu ekonomi).

Pendidikan :
* Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
* American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
* Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
* Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
* On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
* Jungle Warfare School, Panama, 1983
* Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984
* Kursus Komando Batalyon, 1985
* Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-198
* Command and General Staff College, Fort Leavenwort, Kansas, AS
* Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS

2. PROSES JADI PRESIDEN


Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih dikenal dengan panggilan "SBY" adalah
merupakan presiden RI pertama yang dipilih secara langsung oleh Rakyat. Bersama H.
Muhammad Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden, terpilih untuk menjabat sejak 20 Oktober
2004.

Kemudian pada Pemilihan Presiden yang kedua kalinya, SBY kembali terpilih untuk
menjabat sebagai Presiden RI pada tanggal 20 Oktober 2009. Wakil Presiden yang terpilih
untuk mendampingi SBY dalam jabatannya yang kedua kali sebagai Presiden RI adalah Prof.
Dr. H. Boediono, M.Ec. Jabatan periode yang kedua sebagai presiden ini berakhir pada
tanggal 20 Oktober 2014.

A. Masa Pemerintahan Presiden SBY bersama Wakil Presiden JK (PERIODE 1 )

Pemerintahan SBY-JK berlangsung pada tahun 2004-2009. Dalam pemerintahan ini,


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama wakilnya, Jusuf Kalla mencetuskan visi dan
misi sebagai berikut:

Visi:

1) Terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang aman, bersatu, rukun dan
damai.

2) Terwujudnya masyarakat, bangsa dan negara yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan
dan hak-hak asasi manusia.

3) Terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan


penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang
berkelanjutan.

Misi:

1) Mewujudkan Indonesia yang aman damai.

2) Mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis.

3) Mewujudkan Indonesia yang sejahtera.

Pada periode kepemimpinannya yang pertama, SBY membentuk Kabinet Indonesia


Bersatu yang merupakan kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Kabinet Indonesia Bersatu
dibentuk pada 21 Oktober 2004 dan masa baktinya berakhir pada tahun 2009. Pada 5
Desember 2005, Presiden Yudhoyono melakukan perombakan kabinet untuk pertama kalinya,
dan setelah melakukan evaluasi lebih lanjut atas kinerja para menterinya, Presiden melakukan
perombakan kedua pada 7 Mei 2007.

Program pertama pemerintahan SBY-JK dikenal dengan program 100 hari. Program
ini bertujuan memperbaiki sitem ekonomi yang sangat memberatkan rakyat Indonesia,
memperbaiki kinerja pemerintahan dari unsur KKN, serta mewujudkan keadilan dan
demokratisasi melalui kepolisian dan kejaksaan agung. Langkah tersebut disambut baik oleh
masyarakat. Secara umum SBY-JK melakukan pemeriksaan kepada pejabat yang diduga
korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diberi kebebasan oleh presiden melakukan
audit dan pemberantasan korupsi. Hasilnya telah terjadi pemeriksaan tersangka korupsi dan
pejabat pemerintahan sebanyak 31 orang selama 100 hari.

B. Masa Pemerintahan Presiden SBY bersama Wakil Presiden Boediono (PERIODE 2)

Pemerintahan SBY-Boediono berlangsung dari tahun 2009 sampai sekarang. Dalam


pemerintahan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama wakilnya, Boediono
mencetuskan visi dan misi sebagai berikut:

Visi: Terwujudnya Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur.

1) Melanjutkan pembangunan menuju Indonesia yang sejahtera.

2) Memperkuat pilar-pilar demokrasi.

3) Memperkuat dimensi keadilan di semua bidang.

Misi: Mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera, aman, dan damai, seta meletakkan
fondasi yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan dekratis.

1) Melanjutkan pembangunan ekonomi Indonesia untuk mencapai kesejahteraan bagi seluruh


rakyat Indonesia.

2) Melanjutkan upaya menciptakan Good Government dan Good Corporate Governance.

3) Demokratisasi pembangunan dengan memberikan ruang yang cukup untuk partisipasi dan
kreativitas segenap komponen bangsa.

4) Melanjutkan penegakan hukum tanpa pandang bulu dan memberantas korupsi.

5) Belajar dari pengalaman yang lalu dan dari negara-negara lain, maka pembangunan
masyarakat Indonesia adalah pembangunan yang inklusif bagi segenap komponen bangsa.

Pada pemilu 2009, SBY kembali menjadi calon presiden bersama pasangan barunya
yaitu Boediono dan kembali terpilih sebagai presiden Indonesia. Pada periode
kepemimpinannya yang kedua, SBY membentuk Kabinet Indonesia Bersatu II yang
merupakan kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
bersama Wakil Presiden Boediono. Susunan kabinet ini berasal dari usulan partai politik
pengusul pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009 yang mendapatkan kursi di DPR (Partai
Demokrat, PKS, PAN, PPP, dan PKB) ditambah Partai Golkar yang bergabung setelahnya,
tim sukses pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009, serta kalangan profesional.

Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II diumumkan oleh Presiden SBY pada 21


Oktober 2009 dan dilantik sehari setelahnya. Pada 19 Mei 2010, Presiden SBY
mengumumkan pergantian Menteri Keuangan. Pada tanggal 18 Oktober 2011, Presiden SBY
mengumumkan perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II, beberapa wajah baru masuk ke
dalam kabinet dan beberapa menteri lainnya bergeser jabatan di dalam kabinet.

3. KEBIJAKAN SELAMA JADI PRESIDEN

1. Politik

Dalam pemerintahan SBY ini, melakukan beberapa kebijakan politik diantaranya:

1. Pembentukan Kabinet Bersatu

Pada periode kepemimpinannya yang pertama, SBY membentuk Kabinet Indonesia


Bersatu yang merupakan kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Kabinet Indonesia Bersatu
dibentuk pada 21 Oktober 2004 dan masa baktinya berakhir pada tahun 2009. Pada 5
Desember 2005, Presiden Yudhoyono melakukan perombakan kabinet untuk pertama kalinya,
dan setelah melakukan evaluasi lebih lanjut atas kinerja para menterinya, Presiden melakukan
perombakan kedua pada 7 Mei 2007. Seperti Pembentukan Kabinet Bersatu jilid II

Pada periode kepemimpinannya yang kedua, SBY membentuk Kabinet Indonesia


Bersatu II yang merupakan kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Boediono. Susunan kabinet ini berasal dari
usulan partai politik pengusul pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009 yang mendapatkan
kursi di DPR (Partai Demokrat, PKS, PAN, PPP, dan PKB) ditambah Partai Golkar yang
bergabung setelahnya, tim sukses pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009, serta kalangan
profesional. Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II diumumkan oleh Presiden SBY pada 21
Oktober 2009 dan dilantik sehari setelahnya.Pada 19 Mei 2010, Presiden SBY
mengumumkan pergantian Menteri Keuangan. Pada tanggal 18 Oktober 2011, Presiden SBY
mengumumkan perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II, beberapa wajah baru masuk ke
dalam kabinet dan beberapa menteri lainnya bergeser jabatan di dalam kabinet.

2. Menganut konsep Trias Politika

Trias Politika merupakan konsep pemerintahan yang kini banyak dianut diberbagai
negara di aneka belahan dunia. Konsep dasarnya adalah, kekuasaan di suatu negara tidak
boleh dilimpahkan pada satu struktur kekuasaan politik melainkan harus terpisah di lembaga-
lembaga negara yang berbeda.Trias Politika yang kini banyak diterapkan adalah, pemisahan
kekuasaan kepada 3 lembaga berbeda: Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Legislatif adalah
lembaga untuk membuat undang-undang; Eksekutif adalah lembaga yang melaksanakan
undang-undang; dan Yudikatif adalah lembaga yang mengawasi jalannya pemerintahan dan
negara secara keseluruhan, menginterpretasikan undang-undang jika ada sengketa, serta
menjatuhkan sanksi bagi lembaga ataupun perseorangan manapun yang melanggar undang-
undang.
Dengan terpisahnya 3 kewenangan di 3 lembaga yang berbeda tersebut, diharapkan
jalannya pemerintahan negara tidak timpang, terhindar dari korupsi pemerintahan oleh satu
lembaga, dan akan memunculkan mekanisme check and balances (saling koreksi, saling
mengimbangi). Kendatipun demikian, jalannya Trias Politika di tiap negara tidak selamanya
serupa, mulus atau tanpa halangan.Konsep Trias Politika (Eksekutif, Legislatif, Yudikatif)
pada masa pemerintahan SBY mengalami perubahan progresif, dimana konsep tersebut
berusaha menempatkan posisinya berdasarkan prinsip structural Sistem Politik Indonesia,
yakni berdasarkan kedaulatan rakyat. Pada masa pemerintahan SBY, hal tersebut benar-benar
terimplementasikan, dimana rakyat bisa memilih secara langsung calon wakil rakyat melalui
Pemilu untuk memilih anggota dewan legislaif, dan Pilpres untuk pemilihan elit eksekutif,
sekalipun untuk elit yudikatif, pemilihannya masih dilakukan oleh DPR dengan pertimbangan
presiden.

3. Sistem Kepartaian

Di Indonesia sendiri, selama masa pemerintahan SBY di tahun 2004-2009, sistem


kepartaian mengalami perubahan yang signifikan, dimana partai politik bebas untuk didirikan
asalkan sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku, serta tidak menyimpang dari
hakikat pancasila secara universal. Masyarakat Indonesia pun dapat memilih calon wakil
rakyat pilihan mereka secara langsung, hal tersebut tentu menunjukan apresiasi negara
terhadap hak dasar bangsa secara universal dalam konteks pembentukan negara yang
demokratis.

4. Politik Pencitraan

Politik pencitraan merupakan salah satu senjata ampuh yang digunakan para pemimpin
negara untuk mengambil hati rakyatnya. Pola politik pencitraan tentu digunakan oleh hampir
semua pemimpin negara di dunia, termasuk Presiden SBY. Selaku pemimpin negara, ia tentu
harus membentuk citra dirinya sebaik mungkin demi menjaga imej baiknya di mata
masyarakat Indonesia. Dalam melakukan politik pencitraan tersebut, Presiden SBY
melakukanya dengan beberapa hal, yang terbagi dalam konteks internal dan konteks
eksternal.

Dalam konteks internal, politik pencitraan SBY dilakukan dengan menggunakan


kapabilitas internalnya, yakni dengan kapabilitas retorika atau kemampuan berbicara di depan
umum. Dari lima jenis retorika yang dikemukakan Aristoteles, Presiden SBY dinilai
mengimplementasikan Retorika tipe Elucotio, dimana pembicara memilih kata-kata dan
bahasa yang tepat sebagai alat pengemas pesanya ketika berbicara di depan umum. Selain hal
tersebut, konteks internal disini berkaitan dengan sikap bijak, kalem, dan legowo yang
ditunjukan Presiden SBY kepada masyarakat, dimana hal tersebut tentunya dapat
berimplikasi terhadap penarikat rasa simpatik masyarakat itu sendiri.Dalam konteks
eksternal, politik pencitraan SBY dilakukan dengan beragam aspek, salah satunya adalah
kampanye, dan introduksi prestasi positif SBY selama memerintah Indonesia. Hal tersebut
tentu dapat memicu ketertarikan rakyat Indonesia akan keberhasilan SBY dan menjadi
simpatik atasnya.

5. Politik Luar Negeri

Ciri politik luar negeri Indonesia pada masa pemerintahan SBY, yaitu :

1) Terbentuknya kemitraan-kemitraan strategis dengan negara-negara lain (Jepang, China,


India, dll).

2) Terdapat kemampuan beradaptasi Indonesia terhadap perubahan-perubahan domestik dan


perubahan-perubahan yang terjadi di luar negeri (internasional).

3) Bersifat pragmatis kreatif dan oportunis, artinya Indonesia mencoba menjalin hubungan
dengan siapa saja (baik negara, organisasi internasional, ataupun perusahaan multinasional)
yang bersedia membantu Indonesia dan menguntungkan pihak Indonesia.

4) Konsep TRUST, yaitu membangun kepercayaan terhadap dunia Internasional. Prinsip-prinsip


dalam konsep TRUST adalah unity, harmony, security, leadership, prosperity. Prinsip-
prinsip dalam konsep TRUST inilah yang menjadi sasaran politik luar negeri Indonesia di
tahun 2008 dan selanjutnya.

2. Ekonomi

Pada pemerintahan SBY kebijakan yang dilakukan adalah mengurangi subsidi Negara
Indonesia, atau menaikkan harga Bahan Bahan Minyak (BBM), kebijakan bantuan langsung
tunai kepada rakyat miskin akan tetapi bantuan tersebut diberhentikan sampai pada tangan
rakyat atau masyarakat yang membutuhkan, kebijakan menyalurkan bantuan dana BOS
kepada sarana pendidikan yang ada di Negara Indonesia. Akan tetapi pada pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono dalam perekonomian Indonesia terdapat masalah dalam kasus
Bank Century yang sampai saat ini belum terselesaikan bahkan sampai mengeluarkan biaya
93 miliar untuk menyelesaikan kasus Bank Century ini.Kondisi perekonomian pada masa
pemerintahan SBY mengalami perkembangan yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan ekonomi dunia pasca krisis global
yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan
ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6 persen pada 2010 dan meningkat menjadi 6-6,5
persen pada 2011. Dengan demikian prospek ekonomi Indonesia akan lebih baik dari
perkiraan semula.

Sementara itu, pemulihan ekonomi global berdampak positif terhadap perkembangan


sektor eksternal perekonomian Indonesia. Kinerja ekspor nonmigas Indonesia yang pada
triwulan IV-2009 mencatat pertumbuhan cukup tinggi yakni mencapai sekitar 17 persen dan
masih berlanjut pada Januari 2010.Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian
Indonesia adalah efektifnya kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin fiskal yang
tinggi dan pengurangan utang Negara.Perkembangan yang terjadi dalam lima tahun terakhir
membawa perubahan yang signifikan terhadap persepsi dunia mengenai Indonesia. Namun
masalah-masalah besar lain masih tetap ada. Pertama, pertumbuhan makroekonomi yang
pesat belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara menyeluruh. Walaupun Jakarta
identik dengan vitalitas ekonominya yang tinggi dan kota-kota besar lain di Indonesia
memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat, masih banyak warga Indonesia yang hidup di
bawah garis kemiskinan.

4.BERAKHIRNYA JADI PRESIDEN

Setelah 10 tahun berkuasa, Presiden SBY akhirnya harus meninggalkan kursi presiden pada
20 Oktober 2014. Ia digantikan oleh Presiden Joko Widodo yang mengalahkan Prabowo
Subianto dalam Pilpres 2014. Suasana Pilpres yang keras dan membelah bangsa, ditambah
dengan perebutan posisi di parlemen antara koalisi Jokowi dengan koalisi Prabowo membuat
masa depan politik Indonesia nampak suram.

Namun menjelang pelantikan Jokowi, rekonsiliasi terjadi antara Jokowi dengan Prabowo.
Suasana yang awalnya panas dan tegang seketika mencair dengan pertemuan kedua tokoh
tersebut. Kehadiran Prabowo pada pelantikan Joko Widodo di Gedung DPR/MPR
melengkapi hal tersebut. Pelantikan Presiden Joko Widodo berlangsung lancar, bahkan SBY
menyambutnya di Istana Negara setelah pelantikan.

Transisi kekuasaan dari SBY kepada Jokowi boleh jadi merupakan yang terbaik dan termulus
sepanjang sejarah republik ini. Tidak ada alasan untuk tidak optimis terhadap masa depan
politik Indonesia.

SUMBER :

http://indrasmansamapin.blogspot.co.id/2014/11/Biografi-presiden-indonesia-dari-
pertama-sampai-sekarang.html#sthash.bzS32YFs.dpuf
http://ananda-jagadhita.blogspot.co.id/2011/05/masa-pemerintahan-habibie.html
http://bit.ly/fxzulu
http://wartasejarah.blogspot.co.id/2014/12/kh-abdurrahman-wahid.html
Finaldin, T. dan Sali Iskandar. (2006). Presiden RI dari Masa ke Masa. Bandung:
Jabar Education and Entrepreneur Center.
Anonym. (2009). Pemerintahan Abdurrahman Wahid. [Online] Tersedia di
www.wikipedia.com [diakses tanggal 20 Januari 2013].
http://kandangelmu.blogspot.co.id/2013/01/masa-pemerintahan-kh-abdurahman-
wahid.html
http://rajawalinews.com/8887/catatan-prestasi-megawati-sebagai-presiden-ri/
Williantika, dkk.2010.Pembangunan di Indonesia (online)
(http://threekontstrong.wordpress.com/2010/12/27/makalah-ips/ di unduh pada 11
Desember 2013/06 :50)
http://apria3.blogspot.co.id/2013/12/masa-kepemimpinan-megawati.html
http://niningpurwaningsih18.blogspot.co.id/2014/01/masa-pemerintahan-s.html
https://patmikumalasari.wordpress.com/2014/01/11/masa-pemerintahan-presiden-
susilo-bambang-yudhoyono/
http://linabr3.blogspot.com/2012/07/kondisi-perekonomian-indonesia-pada_09.html

http://chintiaanggraini.blogspot.co.id/2015/06/masa-pemerintahan-susilo-
bambang.html