Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan berkatNya penulis dapat menyelesaikan makalah ilmiah budidaya perairan.
Makalah ini berjudul Usaha Budidaya Ikan Patin (Pangasius pangasius) di Keramba
Jaring Apung (KJA). Makalah ilmiah ini dibuat dalam rangka membuka wawasan
pengetahuan mengenai cara umum pembudidayaan ikan patin.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir.
Djumanto, M.Sc, selaku dosen pembimbing mata kuliah Biologi Perikanan. Saya sangat
berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan
kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak
ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Penulis menyadari bahwa dalam mengerjakan makalah ilmiah ini masih terdapat
banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi perbaikan ke depan. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pihak
yang membutuhkan. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.

Medan, Oktober 2015

Penulis
PENDAHULUAN

Peningkatan jumlah konsumsi ikan pada masyarakat memerlukan penambahan


jumlah produksi perikanan. Produk perikanan tersebut diperoleh dari kegiatan budidaya
dan usaha penangkapan ikan. Namun, hasil tangkapan dari perairan umum telah berkurang
sehingga diharapkan adanya usaha budidaya yang dapat berperan serta dalam penyediaan
ikan-ikan yang diminati oleh masyarakat setempat.

Pengembangan usaha budidaya sangat tergantung pada pengadaan benih. Semakin


meningkat usaha budidaya, maka permintaan benih juga akan semakin meningkat pula,
baik melalui Balai Benih Ikan (BBI) yang ada di suatu daerah maupun dari usaha
pembenihan milik rakyat. Dengan adanya usaha pembenihan, diharapkan dapat membantu
dalam mengatasi atau memenuhi permintaan benih yang semakin meningkat. Sehingga
kekurangan benih bukan lagi merupakan kendala dalam kegiatan usaha budidaya.

Usaha pembenihan merupakan usaha yang sangat penting dalam sektor budidaya
perikanan, karena dalam melakukan budidaya faktor penyediaan benih adalah mutlak.
Kekurangan benih ikan merupakan kendala bagi peningkatan produksi. Secara umum
dapat dikemukakan bahwa kelemahan kegiatan pembenihan terletak pada rendahnya
kelangsungan hidup yang biasanya disebabkan oleh kekurangan makanan, adanya
perubahan suhu yang besar, faktor cahaya, salinitas, dan kadar oksigen terlarut.

Patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar asli Indonesia yang tersebar di
sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan. Daging ikan patin memiliki kandungan kalori
dan protein yang cukup tinggi, rasa dagingnya khas, enak, lezat dan gurih sehingga
digemari oleh masyarakat. Ikan patin dinilai lebih aman untuk kesehatan karena kadar
kolesterolnya rendah dibandingkan dengan daging hewan ternak. Selain itu ikan patin
memilki beberapa kelebihan lain, yaitu ukuran per individunya besar dan di alam
panjangnya bisa mencapai 120 cm. Ikan patin dikenal sebagai komoditi yang berprospek
menguntungkan karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan
ikan patin mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk dibudidayakan.
Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan (Lina, 2010).

Ikan patin (Pangasius sp) di Indonesia terdapat 14 spesies, namum Pangasianodon


hypopthalmus yang berasal dari Thailand merupakan satu-satunya yang dibudidayakan di
Indonesia. Dalam rangka memanfaatkan keanekaragaman hayati ikan air tawar Indonesia,
khususnya potensi spesies ikan patin lokal untuk budidaya, sejak tahun 1996 telah
dilakukan penelitian kerja sama dengan Uni Eropa. Dimana spesies ikan patin Pangasius
djambal bleker (1846) telah menjadi calon komoditi budidaya baru karena potensi
ukurannya yang besar (bisa mencapai lebih dari 20 kg/ekor), penyebaran geografisnya
yang luas serta popularitasnya diantara konsumen jenis ini di Sumatera dan pulau-pulau
lain di Indonesia. Evaluasi budidaya secara teknis menunjukkan banyak keunggulan yang
bernilai lebih bagi akuakultur sedangkan sosialisasi pembudidayaan jenis ini telah
dilakukan pada tahun 1997 (Risna, 2011).

Dewasa ini apabila diperhatikan sudah banyak restoran yang menyajikan menu
makanan utama berupa ikan patin bakar/goreng. Untuk memenuhi kebutuhan pasokan ikan
tersebut tidak dapat hanya dipenuhi dari hasil tangkapan diperairan umum, sehingga perlu
adanya pembudidayaan secara intensif apabila ditinjau dari aspek pembudidayaan,
teknologi budidaya ikan patin relatif telah dikuasai.

Perawatan budidaya ikan patin terbilang lebih mudah dibandingkan budidaya lele,
bahkan pakan ikan patin dapat memanfaatkan limbah rumah tangga yg tidak mengandung
minyak. Disamping itu kemampuan ikan patin untuk berproduksi juga cukup tinggi, seekor
induk yg subur dapat bertelur 200.000 butir telur setiap 6 bulan sekali. Dalam menjalankan
usaha budidaya ikan patin, yang sering menjadi kendala adalah munculnya jamur dan
bakteri yg menyebabkan turunnya kualitas ikan. Biasanya untuk mencegahnya para petani
patin menjaga sanitasi air, dan mengurangi pemberian pakan yg terlalu banyak. Selain itu
suhu yg terlalu dingin juga berpengaruh buruk bagi perkembangan telur patin, oleh karena
itu para petani memasang heater atau menyimpan akuarium inkubasi di dalam ruangan
agar terhindar dari suhu ekstrim. Sedangkan bagi ikan patin yg sudah cukup besar,
kendalanya adalah persediaan pakan cacing sutera yg masih kurang (Marganof, 2005).

Usaha kearah pembudidayaan ikan di perairan umum sangat diperlukan, hal ini
disebabkan oleh lajunya pertambahan jumlah penduduk dan sempitnya areal tanah yang
sebagian besar digunakan warga sebagai wilayah pemukiman perkebunan dan pertanian
sehingga terjadi penyempitan lahan untuk budidaya ikan. Untuk mengatasi masalah
tersebut, budidaya ikan dalam keramba jaring apung di perairan umum adalah alternatif
yang sangat tepat dan lebih efektif. Selain itu, upaya budidaya ikan juga sebagai
penyeimbang dan membantu pemenuhan produksi ikan yang selama ini diperoleh dari
hasil penangkapan yang cenderung semakin menurun.
Keramba jaring apung adalah sistem budidaya dalam wadah berupa jaring yang
mengapung dengan bantuan pelampung dan ditempatkan di perairan seperti danau, waduk,
laut, selat, sungai dan teluk. Berbagai komoditi perikanan dapat dibudi dayakan pada
media ini, terutama kegiatan pembesaran dan pendederan.

Faktor lingkungan tempat dilangsungkannya usaha pembesaran terutama


parameter kualitas air juga sangat dipertimbangkan untuk menjaga kelangsungan hidup dan
pertumbuhan ikan. Perlu adanya informasi teknis pembesaran ikan patin dalam keramba
jaring apung sehingga produksi ikan dapat ditingkatkan (Anto, 2008).

STUDY AREA

Danau adalah badan air yang luas dan dikelilingi seluruhnya oleh daratan. Air
danau umumnya air tawar. Berdasarkan pembentukannya, danau dapat dibedakan menjadi
danau tektonik, vulkanik, tektovulkanik, karst (dolina), glasial, lembah, dan buatan.

Sungai adalah saluran air yang sempit dan panjang di permukaan bumi. Air sungai
mengalir dan memotong permukaan bumi karena gaya gravitasi. Banyak sungai mengalir
ke danau, laut, dan samudera. Berdasarkan aliran airnya, sungai dibedakan menjadi sungai
permanen, periodik, dan episodik. Berdasarkan arah alirannya, sungai dibedakan menjadi
sungai konsekuen, subsekuen, obsekuen, dan resekuen.Berdasarkan sumber airnya, sungai
dibedakan menjadi sungai hujan, salju, dan campuran.

METODE

Metode yang digunakan dalam pengamatan ini adalah metode survey yaitu
melakukan pengamatan langsung dan aktif langsung di lapangan pada objek-objek
pendederan induk ikan patin (Pangasius pangasius).

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh langsung dari wawancara dengan pegawai Balai Benih Ikan Sentra (BBIS)
Sungai Tibun Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau.

Sedangkan data sekunder diperoleh dari Dinas Perikanan, Kepala Desa setempat,
serta instansi terkait yang berhubungan dengan data yang diperlukan, serta ditambah
dengan literatur yang mendukung kelengkapan dan kejelasan mengenai data yang
didapatkan tersebut.
PEMBAHSAN

a. Taksonomi

Menurut Arnelli (2010), di Indonesia, ada dua macam ikan patin yang dikenal
yaitu patin lokal (Pangasius pangasius) atau sering pula disebut jambal (Pangasius
djambal) dan patin Bangkok atau patin Siam (Pangasius hypophtalamus sinonim P. sutchi).
Kerabat patin di Indonesia terdapat cukup banyak diantaranya Pangasius polyuranodo
(ikan juaro), Pangasius macronema (ikan Rios, Riu, Lancang), Pangasius micronemus
(ikan Wakal, Riuscaring), Pangasius nasutus (ikan Padado), dan Pangasius nieuwenhuisii
(ikan Lawang). Klasifikasi patin secara taksonomi sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Famili : Pangasidae


Filum : Chordata Genus : Pangasius
Kelas : Pisces Spesies : Pangasius pangasius.
Ordo : Ostariophysi
b. Morfologi

Secara umum ikan patin memiliki tubuh licin, tidak bersisik, serta memiliki
bentuk tubuh agak memanjang dan pipih. Warna tubuh patin pada bagian punggung keabu-
abuan atau kebiru-biruan dan di bagian perut putih keperak-perakan. Kepala ikan patin
berbentuk simetris, lebar dan pipih, hampir mirip seperti ikan lele. Matanya terletak agak
ke bawah. Di perairan umum,panjang ikan patin bisa mencapai 120 cm. Mulut ikan patin
agak lebar dan terletak di ujung kepal agak ke bawah (sub-terminal). Pada sudut mulutnya,
terdapat dua pasang sungut/kumis yang berfungsi sebagai alat peraba pada saat berenang
ataupun mencari makan. Keberadaan kumis menjadi ciri khas dari ikan golongan catfish
(Yanto, 2012).

Ikan patin memiliki 5 sirip, yaitu sepasang sirip dada (pectoral fin), sepasang sirip
perut (ventral fin), sebuah sirip punggung (dorsal fin), sebuah sirip dubur (anal fin), dan
sebuah ekor (caudal fin). Selain lima sirip tersebut, patin juga memiliki sirip yang tidak
dimiliki ikan lain, yaitu sirip tambahan (adipose fin) yang terletak diantara sirip punggung
dan sirip ekor.

Bagian Kepala Ikan Patin Patin jambal memiliki sungut rahang atas jauh lebih
panjang dari setengah panjang kepala dan hidung sedikit menonjol kemuka serta mata agak
ke bawah. Patin termasuk ikan yang beraktifitas pada malam hari atau nocturnal. Selain itu,
patin suka bersembunyi di dalam liang-liang di tepi sungai habitat hidupnya. Ikan ini
termasuk ikan demersal atau ikan dasar. Secara fisik memang dari bentuk mulut yang lebar
persis seperti ikan domersal lain seperti ikan lele dan ikan gabus. Ikan patin mempunyai
sifat yang termasuk omnivora atau golongan ikan pemakan segala. Malam hari ia akan
keluar dari lubangnya dan mencari makanan renik yang terdiri atas cacing, serangga, udang
sungai, jenisjenis siput dan bijibijian. Dari sifat makannya ikan ini juga tergolong ikan
yang sangat rakus karena jumlah makannya yang besar (Risna, 2011).
c. Budidaya keramba jarring apung
1. Penyiapan Keramba Jaring Apung

Keramba Jaring Apung Menurut Marganof (2005), susunan utama bangunan KJA
adalah jaring, pelampung rakit, kerangka atau titian serta jangkar dan pemberat jaring.
Setelah KJA digunakan dengan berkali-kali maka bangunan KJA tersebut akan
mengalami penurunan fungsi yang lebih lanjut dapat berakhir dengan kerusakan.
Demikian pula lokasi KJA bisa mengalami penurunan kualitas air yang disebabkan
penumpukan kotoran di dasar perairan. Dalam penyiapan bangunan KJA dilakukan
pemeriksaan terhadap beberapa bagian KJA yang dilanjutkan dengan perbaikan-
perbaikan bila dijumpai penurunan fungsi, seperti berikut ini: 1. Jaring atau Wadah
Didasarkan atas fungsinya jaring ada 2 macam, yaitu jaring utama dan jaring
pengaman. Jaring utama digunakan sebagai tempat pemeliharaan ikan, sedangkan
jaring pengaman, yang ditempatkan di luar jaring utama, berfungsi untuk
mengamankan ikan agar tidak terlepas ke perairan bebas, ketika jaring utama
mengalami kerusakan (bocor atau jebol).
Wadah Budidaya Setelah digunakan berkali-kali jaring akan mengalami penurunan
fungsi. Yang paling cepat terjadi adalah jaring menjadi kurang lancar dilalui air,
padahal kelancaran aliran air sangat penting bagi pasokan oksigen ke dalam wadah
serta pembuangan kotoran ikan. Penyebabnya adalah tumbuhnya lumut yang hidup
menempel pada jaring dan memperkecil lubang (mesh size) jaring. Penurunan fungsi
yang lain adalah jaring mengalami pelapukan, yang ditandai dengan terlihatnya
beberapa helai benang yang terputus. Keadaan ini jika dibiarkan suatu saat akan
diikuti dengan kebocoran, terutama ketika jaring mengalami tekanan berat ikan, ketika
berlangsung pemanenan. Untuk memperbaiki hal di atas, maka sebelum jaring
digunakan kembali dilakukan pembersihan jaring dengan sikat yang diikuti dengan
penjemuran.
Pakan dan Pemberian Pakan Pakan harus mendapat perhatian yang serius karena
pakan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan berat ikan dan merupakan bagian
terbesar dari biaya operasional dalam pembesaran ikan patin. Berdasarkan hasil
penelitian para ahli perikanan, untuk mempercepat pertumbuhan ikan selama
pembesaran, setiap hari ikan patin perlu diberikan makanan tambahan berupa pelet
sebanyak 3 5%. dari berat total tubuhnya. Pemberian pakan dilakukan secara
bertahap sebanyak empat kali yaitu, pagi, siang, sore dan malam hari. Porsi pemberian
pakan pada malam hari sebaiknya lebih banyak daripada pagi, siang dan sore hari,
karena ikan patin lebih aktif pada malam hari. Ikan ini cukup responsif terhadap
pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan ikan
patin bisa mencapai panjang 35 40 cm (Yanto, 2012).
Larva ikan patin dapat diberikan pakan berupa nauplius artemia setelah berumur
30-35 jam setelah menetas hingga larva berumur 7 hari, frekuensi pemberian pakan
berupa nauplius artemia sebanyak 5 kali dengan interval waktu 4 jam sekali. Pada hari
kedua dan ketiga sebaiknya frekuensi pemberian pakan ditingkatkan menjadi 6 kali
dengan interval waktu 4 jam sekali, hal ini dikarenakan pada umur tersebut tingkat
kanibalisme larva, sedangkan pada hari ke 4 hingga hari ke 7 frekuensi pemberian
pakan kembali diturunkan menjadi 5 kali dengan interval waktu 4 jam sekali
(Sudiyono, 2010).
Pada hari ketiga larva mulai diberi makan. Makanan untuk larva yang terbaik
adalah Artemia. Sehari sebelum saatnya diberikan Artemia harus ditetaskan terlebih
dahulu dalam bak terpisah. Pemberian pakan dilakukan dengan menciduk air yang
berisi Anemia dan menumpahkannya ke dalam akuarium. Larva akan sangat bergairah
melihat makanan yang hidup/bergerak-gerak. Perlu dicatat bahwa Artemia adalah
hewan air laut. Untuk menjaga agar Artemia tidak cepat mati maka air dalam akuarium
tersebut juga harus bersifat agak asin. Untuk itu bak penampungan sebaiknya diberi
garam dapur lebih kurang setengah kilogram permeter kubik. Artemia diberikan
sampai larva berumur lima hari, selanjutnya digantikan kutu air sampai larva berumur
10 hari. Pakan tambahan dapat diberikan setelah 4 hari dari penebaran, karena pada
awal penebaran, pakan alami masih cukup tersedia, sedangkan setelah 4 hari pakan
alami (Arnelli, 2010).
Panen Pemanenan benih dilakukan setelah masa pemeliharaan berakhir. Caranya
adalah dengan mengeringkan air kolam secara perlahan-lahan, yaitu dengan membuka
papan pintu air. Mula-mula saringan dipasang di depan pintu pengeluaran, ambil
papan yang paling atas dan biarkan airnya terbuang hingga mencapai ketinggian papan
di bawahnya. Sambil menunggu air kolam surut, benih sedikit demi sedikit ditangkap
dengan waring, dimasukan dalam ember, kemudian ditampung dalam hapa yang
dipasang tidak jauh dari tempat panen.
Benih yang sudah ditangkap sebaiknya dibiarkan dalam hapa tersebut selama 1
malam agar kondisinya tubuhnya pulih kembali. Air yang masuk ke kolam
penyimpanan hapa harus bersih agar tidak mengotori air dalam hapa. Bila kondisi
kurang aman sebaiknya benih dipindah ke dalam bak atau hapa lainnya yang dipasang
di tempat yang terjamin keamanannya, misalnya di dalam ruangan (indoor hatchery)
(Maskuro, dkk., 2012). Menurut Anto (2008), berikut disajikan data pertumbuhan
benih hasil pendederan di kolam dalam setiap minggu. Ukuran benih yang dihasilkan
tergantung dari kesuburan kolam, dan cara pengelolaan.

KESIMPULAN

Pendederan ikan patin adalah kegiatan memelihara larva yang berasal dari kolam
penetasan hingga mencapai benih yang siap dipelihara di tempat pembesaran. Benih ini
disebut sangkal, yaitu benih yang berukuran 10 12 cm, dan memiliki berat rata-rata 10
gram. Kegiatan ini dilakukan di kolam selama 14 sampai 30 hari. Persiapan kolam pada
kegiatan pendederan terdiri dari pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar,
perbaikan kemalir, pengapuran, pemupukan, serta pengairan. Penebaran larva atau benih
dilakukan pagi hari, saat suhu air rendah, yaitu antara pukul 06.00 07.00. Tujuannya agar
larva atau benih tidak stress akibat suhu tinggi. Sebelum ditebar ke dalam kolam maka
perlu dilakukan aklimatisasi yaitu menyamakan suhu kantong dengan suhu kolam.

Padat tebar pendederan antara 100200 ekor/m2. Perlakuan untuk mengambil


larva yang ikut tersipon adalah dengan memutar air pada ember agar kotoran mengumpul
ditengah dan dapat dengan mudah sipon kembali, larva akan berenang melawan arus
putaran air sehingga dapat dengan mudah diambil dengan menggunakan seser halus.
Pemanenan benih dilakukan setelah masa pemeliharaan berakhir. Caranya adalah dengan
mengeringkan air kolam secara perlahan-lahan, yaitu dengan membuka papan pintu air.
Benih yang sudah ditangkap sebaiknya dibiarkan dalam hapa tersebut selama 1 malam agar
kondisinya tubuhnya pulih kembali.

Pada pembesaran ikan patin di jala apung (sistem sangkar ada hama berupa Ikan
buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala dan memangsa ikan. Hama lain berupa ikan liar
pemangsa adalah udang, dan seluang (Rasbora) Penangkapan langsung menggunakan
tangan sebaiknya tidak dilakukan karena tangan bisa terluka terkena patil atau duri sirip
ikan. Untuk menjaga mutu ikan yang dipanen, sehari sebelum dipanen biasanya pemberian
pakan dihentikan (diberokan). Ikan patin yang dipanen dimasukkan dalam wadah yang
telah diisi dengan air jernih sehingga ikan tetap hidup dan tidak stress. Pada umumnya
panen pada pembesaran ikan patin dapat dilakukan setelah 6 12 bulan pada saat ikan
mencapai ukuran berat satu kilogram. Ikan patin yang dipelihara di karamba jaring apung
dengan ukuran awal 5 inci membutuhkan waktu selama 6 8 bulan untuk mencapai ukuran
satu kilogram. Pemanenan dilakukan secara selektif karena pertumbuhan ikan tidak
seragam. Cara panen ikan patin adalah dengan menggunakan serok atau alat tangkap
lainnya.
Daftar Pustaka

Arnelli. 2010. Pemberian pakan ikan Budidaya Air Tawar dan Pengaruhnya Terhadap
Lingkungan Perairan . Jurnal Kimia Sains. Volume. XIII, nomor 2. Laborarium
Kimia Fisik. Jurusan Kimia Fakultas Mipa. Universitas Diponegoro, Semarang.

Lina, 2010. Teknik Budidaya Ikan Patin Dalam Skala terkontrol. [DISERTASI] Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Program Studi Manajemen Suberdaya Perairan.
Universitas Padjadjaran, Jatinangor.

Marganof, E. 2005. Pengaruh pembuangan limbah terhadap kualiatas Perairan Danau


Maninjau. [SKRIPSI] Fakultas FMIPA. Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Yanto, H. 2012. Kinerja MS-222 dan Kepadatan Ikan Botia (Botia macracanthus) yang
Berbeda Selama Transportasi. Jurnal Penelitian Perikanan. Volume I, nomor 1 :
43-51. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNMUH, Pontianak.

Yuliartati, E. Tingkat Serangan Ektoparasit Pada Ikan Patin (Pangasius Djambal) Pada
Beberapa Pembudidaya Ikan Di Kota Makassar. 2011. [SKRIPSI] Fakultas Ilmu
Kelautan Dan Perikanan. Program Studi Budidaya Perairan. Jurusan Perikanan.
Universitas Hasanuddin. Makassar.