Anda di halaman 1dari 20

OSEANOGRAFI

Oleh:
Aryochepridho
14/365092/PN/13668
Manajemen Sumberdaya Perikanan

Asisten Laporan:
Atika Arifati

SUBLABORATORIUM EKOLOGI PERAIRAN


LABORATORIUM MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

LAPORAN OSEANOGRAFI
Aryochepridho
14/365092/PN/13668
Manajemen Sumberdaya Perikanan
INTISARI
Tujuan dari praktikum Oseanografi ialah untuk mengetahui dan mempelajari parameterparameter fisik, kimia, dan biologi suatu perairan, juga untuk mengetahui jenis plankton serta
larva ikan yang ada. Dan untuk mengaitkan hubungan antar parameter-parameter perairan
laut. Praktikum oseanografi dilaksanakan pada hari sabtu dan minggu tanggal 23-24 April
2016 di Pantai Sepanjang, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi D.I. Yogyakarta selama 24 jam.
Praktikum ini dilakukan dengan menganalisis parameter fisik, kimia, dan biologi perairan
laut serta hubungannya. Metode yang digunakan yaitu pengamatan langsung pada 4 stasiun
yang berbeda di mana pada setiap stasiunnya dilakukan pengamatan fisika setiap 1 jam
sekali, kimia 2 jam sekali, dan biologi 4 jam sekali. Parameter fisika meliputi frekuensi
gelombang, pasang-surut, kecepatan angin, kemiringan pantai, arah angin, suhu udara, dan
suhu air yang diamati secara langsung. . Parameter kimia meliputi DO, alkalinitas, CO 2, pH,
salinitas. DO diketahui dengan metode winkler, sedangkan CO2 dan alkalinitas menggunakan
metode alkalimetri. Parameter biologi meliputi pengamatan larva ikan yang dominan di
sekitar pantai dan pengamatan plankton menggunakan metode Shannon-wiener. Hasil yang
diperoleh yaitu kondisi pantai dengan kemiringan sedang, suhu air kisaran 28,5-340C; suhu
udara 20,5-340C; pasang surut 0-1,2 m; frekuensi gelombang 0-0,89 Hz; kecepatan angin 06,9 m/s; arah angin dominan ke Barat; DO kisaran 2,16-12,06 mg/L; alkalinitas 43-223 mg/L;
CO2 0-29,4 mg/L; pH 7,1-7,65; salinitas 28,5-32 ppt; densitas plankton 3133-8797 ind/L;
diversitas plankton 1,07-3,86. Hubungan parameter antara suhu udara, kecepatan angin dan
frekuensi ialah berbanding lurus, suhu air berbanding lurus dengan salinitas, namun suhu air
dan salinitas berbanding terbalik dengan DO, densitas berbanding terbalik dengan pasang
surut arus. larva ikan yang teridentifikasi paling banyak yaitu Stolephorus inclicus.
Kata kunci : kualitas air, metode, oseanografi, pantai sepanjang, parameter, stasiun.
PENDAHULUAN
Kondisi geografis Indonesia yang
strategis dan fakta fisik bahwa Indonesia
merupakan negara kepulauan terbesar di
dunia yang memiliki luas laut 70% dari luas
teritorialnya menjadikan sumber daya pesisir
dan lautan sebagai sumber devisa yang
penting dan bermanfaat bagi pembangunan
nasional. Dimana lautan telah memberikan
banyak manfaat bagi manusia baik sebagai
sarana perhubungan dari suatu tempat ke
tempat lainnya, sebagai tempat rekreasi dan

hiburan, sebagai pembangkit tenaga listrik,


maupun sebagai penyedia bahan makanan.
Pemanfaatan sumberdaya dan potensi laut
yang sangat berlimpah tersebut tentunya
memerlukan suatu ilmu untuk mempelajari
sifat-sifat

dan

fenomena

yang

karakteristik
terjadi

di

laut

serta

dalamnya.

Memperhatikan dan menyadari pentingnya


laut bagi kehidupan, maka dirasa perlu untuk
dilakukan

peningkatan

pemahaman

mengenai sifat-sifat dan karakteristik laut


melalui praktikum Oseanografi.

Oseanografi

adalah

yang

Tujuan dari praktikum ini adalah

mempelajari fenomena fisis dan dinamis air

Mempelajari karakteristik ekosistem pantai

laut yang dapat dipublikasikan ke bidang-

dan faktor-faktor pembatasnya, mengetahui

bidang lainnya seperti rekayasa lingkungan,

fungsi ekosistem pantai bagi biota perairan

perikanan,

mitigasi

(ikan), serta mempelajari kualitas perairan

(pengelolaan dan pencegahan) (Ali, 2007).

pantai berdasarkan indeks diversitas biota

Oseanografi

perairan (plankton).

bencana

sederhana

dapat

alam

ilmu

dan

didefinisikan

sebagai

suatu

ilmu

secara
yang

mempelajari lautan yang meliputi berbagai

METODE

ilmu dasar dan terapan antara lain fisika,

Praktikum oseanografi dilaksanakan

kimia, biologi, ilmu tanah, ilmu bumi, dan

pada hari Sabtu hingga Minggu tanggal 23-

juga ilmu iklim. Menurut Hutabarat dan

24 April 2016 selama 24 jam di Pantai

Evans (1984) ilmu oseanografi dapat dibagi

Sepanjang,

menjadi

Fisika

Provinsi D.I. Yogyakarta. Praktikum ini

Oseanografi, Geologi Oseanografi, Kimia

dilakukan dengan menganalisis parameter

Oseanografi,

Oseanografi.

fisik, kimia, dan biologi perairan laut.

Kondisi oseanografi fisik di kawasan laut

Pengamatan parameter dilakukan pada 4

dapat digambarkan oleh fenomena alam

stasiun yang berbeda. Disetiap stasiunnya,

seperti terjadinya pasang surut, gelombang,

dilakukan pengamatan fisika setiap 1 jam

arus, kemiringan pantai, kondisi suhu dan

sekali, pengamatan kimia 2 jam sekali, dan

kecepatan

pengamatan biologi 4 jam sekali.

tersebut

cabang
dan

angin.

ilmu
Biologi

yaitu:

Fenomena-fenomena

memberikan

kekhasan

dan

karakteristik pada kawasan laut sehingga


menyebabkan

terjadinya

kondisi

fisik

perairan yang berbeda-beda (Dahuri 1996).


Kekuatan yang berasal dari perairan dapat
berwujud tenaga gelombang, pasang surut
dan arus, sedangkan yang berasal dari udara
berupa

angin

yang

mengakibatkan

gelombang dan arus sepanjang pantai, suhu


udara dan curah hujan (Soetikno, 1993).
Menurut Dahuri (1996), ombak merupakan s
alah satu penyebab yang berperan besar
dalam pembentukan pantai.

Kabupaten

Gunungkidul,

Alat yang digunakan saat praktikum


dibagi menjadi 3 bagian yaitu peralatan
untuk pengamatan parameter fisika, kimia,
dan biologi. Adapun peralatan pengamatan
fisika meliputi tissue, teropong, senter, rol
meter,

pipa

termometer,

paralon

4m,

stopwatch,

kompas,

tali

pramuka,

anemometer, mistar, dan ember. Parameter


kimia menggunakan perlatan berupa botol
oksigen, pipet ukur berbagai ukuran, pipet
tetes, erlenmeyer, gelas ukur, pH meter,
termometer. Selain itu juga digunakan

beberapa bahan kimia seperti larutan MnSO4,

metode alkalimetri yang dititrasi dengan 0,02

NaOH-NaI, H2SO4 pekat, indikator amilum,


Na2S2O3 1/80N, H 2SO4 0,02N, indikator PP,

= C 1mg/l
CO3

N H2SO4, rumus:

indikator MO, NaOH 1/44N, dan aquades.


Parameter biologi menggunakan perlatan

dimana

seperti botol sampel, plankton net, toples,

pengukuran

kandungan

jaring larva, dan ember. Sedangkan bahannya

menggunakan

metode

formalin 4%.

dititrasi menggunakan 1/44 NaOH, rumus:

Metode yang digunakan adalah


metode

pengamtan

langsung.

Adapun

merupakan

fisika, kimia, dan biologi. Parameter fisika

refraktometer.

menggunakan

gelombang

teropong

CO2

bebas

alkalimetri

yang

pengukuran pH menggunakan pH meter;


serta

frekuensi

(1000/50);

CO
2 bebas= b f 0,1 mg /l

parameter yang diamati adalah parameter


meliputi

20

salinitas

diukur

menggunakan

diamati

dengan

Parameter

melihat

biologi

meliputi

terbentuk

pengamatan larva ikan yang dominan di

selama 1 menit. Pasang-surut diamati dengan

sekitar pantai dan pengamatan plankton.

menggunakan

Pengambilan

banyaknya

gelombang
patok.

yang

Kecepatan

angin

plankton

menggunakan anemometer sedangkan arah

plankton

angin menggunakan kompas dan tissue.

dilakukan di laboratorium dengan mengamati

Kemiringan pantai menggunakan patok dan

densitas dan diversitasnya menggunakan

rol meter dan dihitung menggunakan rumus

persamaan

trigonometri, yaitu slove =


Suhu

air

dan

udara

arc tan .

diukur

N=

net.

menggunakan

Pengamatan

menurut

Oi Vr 1 n

Op Vo Vs p

APHA

;plankton

(1989),

di mana N adalah

dengan
jumlah individu per liter, Oi yaitu luas gelas

termometer.

penutup preparat (mm2), Op yaitu luas satu


Parameter

kimia

meliputi

DO,

alkalinitas, CO2, pH, dan salinitas. DO


diketahui dengan metode Winkler yang
dititrasi menggunakan 1/80 Na2S2O3, rumus:
DO= a f 0,1 mg/l

dimana a sama

dengan 20 (1000/50) dan f sama dengan 1


yaitu konstanta; alkalinitas menggunakan

lapangan pandang (mm2), Vo yaitu volume


diamati (ml), Vr yaitu volume air diamati, Vs
yaitu volume air yang tersaring (L), n yaitu
jumlah

plankton

pada

seluruh

bidang

pandang, dan p adalah jumlah lapangan


pandang yang teramati. Pengamatan larva
ikan juga dilakukan di laboratorium. Namun,

sebelumnya

larva

ikan

yang

diawetkan dengan formalin 4%.

terjaring

HASIL
Tabel 1. Parameter Fisik

Tabel 2. Kemiringan Pantai


Waktu
10.00
22.00
09.00

Kemiringan Pantai ()
I
II
III
IV
8,7
10,72
11,85
4,5
10,2
5,39
6,95
10,6
7,91
9,5
12,41
7,22

Tabel 3. Parameter Kimia

Tabel 4. Parameter Biologi


Waktu
11.00
15.00
19.00
23.00
03.00
07.00

Diversitas Plankton
II
III
0,63
4,30
3,18
3,75
2,74
2,55

I
1,51
4,12
2,85

IV
2,04
3,98
2,73

PEMBAHASAN
Pantai

(0,4%),

Sepanjang

terletak

pada

bagian selatan pulau Jawa sehingga memiliki


ombak

yang

besar

Densitas Plankton (Indv/ L)


II
III
IV
7.712
8.917
6.748
9.399
8.194
3.856
5.061
4.820
5.061
2.651
3.615
I
6.748

karena

pantai

ini

menghadap langsung ke samudra Hindia.


Letaknya yang berhadapan langsung dengan
samudera menyebabkan besarnya pengaruh
parameter oseanografi terhadap bentukan
pantai. Berdasarkan Hasil pengamatan yang
diperoleh dari stasiun 1, stasiun 2, stasiun 3,

pantai

sedang

mempunyai

kemiringan 10,80 21,60, sedangkan pantai


curam adalah pantai yang kemiringannya
lebih dari 220.

Kemiringan yang berbeda

pada

pantai,

sebuah

disebabkan

oleh

beberapa sebab yaitu pengaruh pasang surut


yang terjadi pada daerah pantai tersebut,
morfologi dari daratan, serta gelombang
yang menghantam sehingga mempengaruhi
pembentukan pantai (Wahyudin, 2004).

dan stasiun 4 terdapat perbedaan namun


tidak terlalu signifikan. Kisaran rentang nilai
kemiringan pada setiap stasiun tidak terlalu
besar, pada stasiun 1 kemiringan pantai
berkisar dari 7,910-10,20 ; pada stasiun 2
kemiringan pantai berkisar 5,390-10,720 ;
pada stasiun 3 kemiringan pantai berkisar
6,950-12,410 ; dan pada stasiun 4 berkisar
4,50-10,60 . dari kisaran nilai tersebut pantai
Sepanjang tergolong ke dalam pantai dengan

Grafik 1. Grafik suhu udara


Berdasarkan

dari

grafik

yang

kemiringan landai hingga sedang. Menurut

tertera, dapat diketahui bahwa kisaran suhu

Sutikno (1999) menyatakan bahwa terdapat 3

udara berdasarkan setiap stasiun yaitu pada

jenis kemiringan pantai yaitu landai, sedang

stasiun 1 suhu udara terendah 26oC pada

dan curam, pantai landai adalah pantai yang

pukul 03.00 WIB-04.00 WIB dan tertinggi

mempunyai kemiringan kurang dari 1,44)

pada pukul 17.00 WIB sebesar 33oC. Suhu

udara tertinggi stasiun 2 yaitu 32,50C pada

pada pukul 15.00 WIB sebesar 33oC. Suhu

pukul 11.00 WIB dan 17.00 WIB terendah

air tertinggi stasiun 2 yaitu 34oC pada pukul

20,50C pada pukul 01.00 WIB. Stasiun 3

14.00-16.00 WIB dan terendah 30oC pada

mempunyai suhu udara tertinggi 330C pada

pukul 02.00 dan 06.00 WIB. Stasiun 3

pukul 13.00 WIB dan terendah 250C pada

mempunyai suhu air tertinggi 33oC pada

pukul 07.00 WIB. Stasiun 4 mempunyai

pukul 16.00 WIB dan terendah 28,5oC pada

suhu udara tertinggi 340C pada pukul 09.00

pukul 01.00 WIB. Stasiun 4 mempunyai

WIB dan terendah 260C pada pukul 03.00-

suhu air tertinggi 33oC pada pukul 12.00

04.00 WIB. Suhu udara yang terendah yaitu

WIB dan terendah 29oC pada pukul 04.00-

20,50C pada stasiun 2 pukul 01.00 WIB dan

05.00 WIB. sedangkan suhu udara tertinggi

tertinggi 340C pada stasiun 4 pukul 09.00

32,5oC pada pukul 14.00 WIB dan terendah

WIB. Menurut Odum (1993), suhu udara

24oC pada pukul 05.00 WIB. Suhu air yang

yang optimal bagi kehidupan adalah berkisar

terendah yaitu 28,5oC terdapat pada stasiun 1

antara 28oC-32oC. Maka suhu udara Pantai

jam 17.00 WIB dan stasiun 3 jam 01.00

Sepanjang termasuk normal. Suhu udara

WIB. Sedangkan suhu air tertinggi yaitu

relatif tidak stabil dibanding suhu air.

34oC terdapat pada stasiun 2 jam 14.00-16.00

Terlihat dari nilai terendah dan tertinggi suhu

WIB. Daerah perairan merupakan habitat

udara memiliki range atau jarak yang cukup

organisme perairan yang memiliki suhu

jauh. Sebab suhu udara lebih cepat berubah

optimum berkisar 2631C (Hutabarat dan

dari suhu air karena udara lebih mudah

Evans, 1984). Maka suhu perairan Pantai

menyerap dan melepaskan intensitas panas

Sepanjang

dari matahari (Odum, 1993).

rentangnya masih berkisar antara 2631C.

termasuk

normal

karena

Grafik 3. Grafik pasang surut


Grafik 2. Grafik suhu air
Pada stasiun 1 suhu air terendah
28,5oC pada pukul 17.00 WIB dan tertinggi

Berdasarkan grafik yang tertera di


atas, dapat diketahui bahwa pada stasiun 1,
pasang surut tertinggi 0,8 m pada pukul
10.00-11.00 WIB dan terendah 0 m pada

pukul 15.00-19.00 serta pukul 03.00-04.00

coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga

WIB. Stasiun 2 memiliki pasang surut

terdapat beberapa faktor lokal yang dapat

tertinggi sebesar 1 m pada pukul 08.00 WIB

mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti,

dan terendah 0 m pada pukul 04.00-05.00

topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk,

serta pukul 15.00-16.00 WIB. Stasiun 3

dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi

memiliki pasang surut tertinggi sebesar 0,9

memiliki ciri pasang surut yang berlainan

m pada pukul 11.00 WIB dan terendah 0 m

(Wyrtki, 1961).

pada pukul 02.00, 05.00, 06.00 dan pukul


17.00-18.00 WIB. Stasiun 4 memiliki pasang
surut

tertinggi sebesar 1,2 m pada pukul

10.00 WIB dan terendah 0 m pada pukul


05.00-06.00 WIB. Dari data ke 4 stasiun,
maka pasang surut tertinggi terdapat pada
stasiun 4 dengan tinggi 1,2 m pada pukul

Grafik 4. Grafik kecepatan angin

10.00 WIB. Menurut Pariwono (1989),

Grafik

pasang surut diartikan sebagai naik turunnya

di

atas

menunjukkan

muka laut secara berkala akibat adanya gaya

kecepatan angin yang fluktuatif di setiap

tarik benda-benda angkasa terutama matahari

stasiunnya. Pada stasiun 1 kecepatan angin

dan bulan terhadap massa air di bumi.

berkisar dari 0-3,9 m/s. Stasiun 2 memiliki

Sedangkan menurut Dronkers (1964) pasang

kecepatan angin berkisar 0-6,5 m/s. Stasiun 3

surut laut merupakan


pergerakan

naik

suatu

fenomena

memiliki kecepatan angin dengan kisaran 0-

turunnya

permukaan

6,85 m/s, serta stasiun 4 memiliki kecepatan

air laut secara berkala yang diakibatkan oleh

angin berkisar 0-6,9 m/s.

kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik


menarik

dari

benda-benda

astronomi

terutama oleh matahari, bumi dan bulan.


Pengaruh benda angkasa lainnya dapat
diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau
ukurannya lebih kecil. Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya pasang surut yaitu:
adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi
bulan terhadap matahari, revolusi bumi
terhadap matahari, kedalaman dan luas
perairan,

pengaruh

rotasi

bumi

(gaya

Kecepatan angin adalah kecepatan


udara yang bergerak secara horizontal.
Perbedaan tekanan udara antara asal dan
tujuan

angin

merupakan

faktor

yang

menentukan kecepatan angin. Kecepatan


angin akan berbeda pada permukaan yang
tertutup oleh vegetasi dengan ketinggian
tertentu, misalnya tanaman padi, jagung, dan
kedelai. Oleh karena itu, kecepatan angin
dipengaruhi oleh karakteristik permukaan

yang dilaluinya (Foster, 2004). Kecepatan

terendah 0,58 Hz pada stasiun 4. Besar

angin dapat diukur dengan menggunakan alat

kecilnya frekuensi gelombang tergantung

yang disebut anemometer.

pada

Berdasarkan tabel. 1 arah mata


angin paling dominan mengarah ke barat,
jika

di

proyeksikan

ke

lokasi,

angin

berhembus ke daratan, itu artinya angin


tersebut merupakan angin laut.

di

atas

angin

yang

bertiup.

Kecepatan angin yang tinggi menyebabkan


penumpukan
gelombang

energi
yang

dan

pertumbuhan

signifikan.

Frekuensi

gelombang juga dipengaruhi oleh pasang


surut air laut yang berhubungan dengan gaya
tarik-menarik bumi dan bulan.

Grafik 5. Grafik frekuensi gelombang


Grafik

kecepatan

menunjukkan

frekuensi gelombang (ombak) yang terjadi di


Pantai Sepanjang. Pada stasiun 1 memiliki
frekuensi tertinggi 0,67 Hz pada jam 01.00
WIB dan terendah 0,06 Hz pada jam 08.00
WIB. Pada stasiun 2 memiliki frekuensi
tertinggi 0,67 Hz pada jam 05.00 WIB dan
terendah 0,06 Hz pada jam 04.00 dan 11.0012.00 WIB. Pada stasiun 3 memiliki
frekuensi tertinggi 0,89 Hz pada jam 15.00
WIB dan terendah 0,67 Hz pada jam 07.00
WIB. Pada stasiun 4 memiliki frekuensi
tertinggi 0,15 Hz pada jam 07.00-08.00 WIB
dan terendah 0,058 pada jam 16.00 WIB.
Frekuensi gelombang pada pantai sepanjang
tertinggi pada stasiun 3 yaitu 0,89 Hz dan

Grafik 6. Grafik salinitas


Grafik di atas menunjukkan salinitas
air pada pantai Sepanjang. Pada stasiun 1
memiliki salinitas tertinggi 32 ppt pada
pukul 05.00 WIB dan terendah 28,5 pada
pukul 15.00 WIB. Pada stasiun 2 memiliki
salinitas tertinggi 32 ppt pada pukul 15.00,
21.00 dan 23.00 WIB dan terendah 29 ppt
pada pukul 19.00 WIB. Pada stasiun 3
memiliki salinitas tertinggi 32 ppt pada
pukul 13.00, 23.00, dan 09.00 WIB. Pada
stasiun 4 memiliki salinitas tertinggi sebesar
32 ppt pada pukul 03.00, 05.00 dan 09.00
WIB serta terendah 30 ppt pada pukul 13.00
dan 15.00 WIB. Tinggi rendahnya salinitas di
perairan tersebut dipengaruhi oleh berbagai

faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan,

memiliki DO terbesar yaitu 12,06 mg/L pada

curah hujan, aliran sungai. Penguapan, makin

pukul 15.00 WIB dan terendah 4.38 mg/L

besar tingkat penguapan air laut di suatu

pada pukul 03.00 WIB. Pada stasiun 2

wilayah,

dan

memiliki DO terbesar 12,06 mg/L pada

sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat

pukul 19.00 WIB dan terendah 3,12 mg/L

penguapan air lautnya, maka daerah itu

pada pukul 21.00 WIB. Pada stasiun 3

rendah kadar garamnya. Di samping itu

memiliki DO terbesar yaitu 6,52 pada pukul

sebaran salinitas di perairan tersebut juga

15.00 WIB dan terendah 3,3 mg/L

dapat dipengaruhi oleh curah hujan, dimana

pukul 13.00 WIB. Pada stasiun 4 memiliki

semakin tingginya curah hujan menyebabkan

DO terbesar 10,3 mg/L pada pukul 17.00

salinitasnya

WIB dan terendah 2,16 mg/l pada pukul

maka

salinitasnya

menjadi

tinggi

berkurang

karena

konsentrasi ion di perairan menjadi lebih

03.00 WIB.

encer. Menurut Welch (1952), kadar salinitas


normal perairan laut mencapai >30 . Maka
dapat dikatakan bahwa salinitas Pantai
Sepanjang masih tergolong normal.

pada

Kadar DO di perairan berfluktuasi


secara

harian,

karena

dipengaruhi

percampuran (mixing) dan pergerakan massa


air (turbulence), aktivitas fotosintesis dan
respirasi serta masukan limbah kedalam air.
Kemudian, dekomposisi bahan organik dan
oksidasi

bahan

an-organik

juga

dapat

mengurangi kadar DO. Sumber utama


oksigen di perairan terbuka antara lain
berasal dari interaksi air dan udara melalui
proses difusi, aktivitas fotosintesis oleh
fitoplankton (Hutagalung, 1997).

Grafik 7. DO (Oksigen Terlarut)


Oksigen terlarut dalam air berasal
dari

difusi

Oksigen

yang

terdapat

di

atmosfer, arus atau aliran air melalui air


hujan

serta

aktivitas

fotosintesis

oleh

tumbuhan air dan fitoplankton (Novotny and


Olem,

1994).

Pada

grafik

7.

terlihat

kandungan oksigen (DO) pada masing


masing stasiun pengamatan. Pada stasiun 1

Grafik 8. Alkalinitas

Alkalinitas adalah kuantitas anion di

optimal,

sehingga

kemampuan

untuk

dalam air yang dapat menetralkan kation

mempertahankan pH-nya pun optimum. Ikan

hidrogen

atau

sangat sensitif pada kondisi kadar alkalinitas

kapasitas

penyangga

juga

diartikan

sebagai

(buffer)

terhadap

yang rendah (Mintardjo, 1984).

perubahan pH perairan (Effendi, 2003).


Tinggi

rendahnya

nilai

alkalinitas

ini

disebabkan oleh jumlah ion pembentuk


alkalinitas dalam perairan.
Alkalinitas pada stasiun pengamatan
berbeda beda, terlihat perubahan yang
signifikan pada pukul tertentu, seperti pada

Grafik 9. Karbondioksida (CO2) bebas

waktu dini hari. Pada stasiun 1 memiliki nilai


alkalinitas tinggi sebesar 186 mg/L pada
pukul 03.00 WIB dan terendah sebesar 97
mg/L pada pukul 21.00 WIB. Pada stasiun 2
memiliki alkalinitas tinggi sebesar 223 mg/L
pada pukul 03.00 WIB dan terendah sebesar
102 mg/L pada pukul 19.00 WIB. Pada
stasiun 3 memiliki nilai alkanitas tinggi

Karbondioksida bebas merupakan


istilah untuk menunjukkan CO2 yang terlarut
di dalam air. CO2 yang terdapat dalam
perairan alami merupakan hasil proses difusi
dari atmosfer, air hujan, dekomposisi bahan
organik

dan

hasil

respirasi

organisme

akuatik.

sebesar 130 mg/L pada pukul 03.00 dan

Pada stasiun 1 mengandung CO2

terendah sebesar 88 mg/L pada pukul 09.00

bebas tertinggi yaitu 26 mg/L pada pukul

WIB.

nilai

07.00 WIB dan terendah sebesar 0 mg/L

alkalinitas tinggi sebesar 123,5 mg/L pada

pada pukul 11.00, 13.00, 01.00, dan 05.00

pukul 13.00 dan terendah sebesar 43 mg/L

WIB. Pada stasiun 2 mengandung CO2 bebas

pada pukul 09.00 WIB.

tertinggi yaitu 19,7 mg/L pada pukul 03.00

Pada

stasiun

memiliki

Menurut Odum (1993), ketinggian


alkalinitas sebaiknya tidak lebih dari 500
sehingga

kisaran

optimum

bagi

biota

perairan adalah 50-200 ppm. berdasrkan


pengamatan alkalinitas pada masing-masing
stasiun

alkaliniasnya

optimum.

demikian pantai Krakal

Dengan

cocok sebagai

habitat ikan karena nilai alkalinitasnya yang

WIB dan terendah 0 mg/L pada pukul 09.0015.00 WIB dan 21.00-01.00 WIB. Pada
stasiun 3 mengandung CO2 bebas tertinggi
yaitu 21 mg/L pada pukul 03.00 WIB dan
terendah sebesar 0 mg/L pada pukul 09.0015.00, dan 19.00 WIB. Pada stasiun 4
mengandung CO2 bebas tertinggi yaitu 29,4
mg/L pada pukul 05.00 WIB dan terendah

sebesar 0 mg/l pada pukul 07.00, 11.00, dan


17.00-19.00 WIB.

fotosintesis sehingga O2 yang terakumulasi


digunakan sepenuhnya untuk respirasi dan
menghasilkan CO2 bebas pada perairan.
Sementara pada siang hari kandungan CO2
bebas mulai menurun dan naik kembali pada
menjelang

stasiun

memiliki

pH

tertinggi sebesar 7,5 pada pukul 01.00 dan

Pada malam hari tidak terjadi proses

sore

Pada

malam.

Hal

tersebut

berkaitan dengan proses fotosintesis yang


dilakukan oleh fitoplankton dan produsen
perairan lainnya (Odum, 1993).

05.00 WIB, dan yang terendah yaitu 7,1 pada


pukul 11.00-13.00 dan 17.00-21.00 WIB.
Pada stasiun 2 memiliki pH tertinggi sebesar
7,85 pada pukul 23.00 WIB, dan terendah
7,2 pada pukul 13.00, 15.00, 19.00, dan
21.00 WIB. Pada stasiun 3 memiliki pH
tertinggi sebesar 8 pada pukul 09.00 WIB
dan terendah sebesar 7,1 pada pukul 17.00
WIB. Pada stasiun 4 memiliki pH tertinggi
sebesar 7,65 pada pukul 01.00 WIB dan
terendah sebesar 7,3 pada pukul 03.00,
11.00-15.00, dan 19.00 WIB.
Mahida (1993) menyatakan bahwa
limbah buangan industri dan rumah tangga
dapat mempengaruhi nilai pH perairan. pH
mempengaruhi kandungan CO2 bebas. pH
tinggi menyebabkan CO2 bebas rendah pada

Grafik 10. pH
Menurut

pH

diperoleh, dapat dikatakan bahwa daerah

merupakan parameter keasaman dari suatu

perairan pantai Sepanjang memiliki nilai pH

larutan.

pH

yang relatif optimal bagi kehidupan biota

merupakan gambaran jumlah atau aktivitas

perairan. Sebab menurut Odum (1993) pH

ion hidrogen dalam perairan. Secara umum

air yang sesuai dengan kehidupan dari biota

nilai pH menggambarkan seberapa besar

perairan atau bisa dikatakan optimum yaitu

tingkat

berkisar antara 7-8,5.

Derajat

keasaman

Purba

perairan. Berdasarkan nilai pH perairan yang


(2006),

keasaman

atau

atau

kebasaan

suatu

perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah


netral, pH < 7 dikatakan kondisi perairan
bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan
kondisi perairan bersifat basa (Effendi,
2003).

Grafik 11. Densitas plankton

menyatakan

Plankton merupakan sekelompok


biota akuatik baik berupa tumbuhan maupun
hewan

yang

hidup

melayang

maupun

terapung secara pasif di permukaan perairan,


dan

pergerakan

serta

penyebarannya

dipengaruhi oleh gerakan arus walaupun


sangat lemah (Nybakken, 1992). Densitas
plankton merupakan banyaknya individu
plankton yang dinyatakan dengan persatuan
luas, maka nilai itu juga disebut sebagai
kepadatan (density) plankton.
Berdasarkan

grafik

bahwa

semakin

banyak

fitoplankton di perairan dapat memberi


oksigen terlarut yang lebih banyak, selain itu
dapat berguna juga sebagai produksi energi
bagi ikan pemakan plankton. Kelimpahan
plankton pada suatu perairan dipengaruhi
oleh

faktor-faktor

abiotik

yaitu

suhu,

kecerahan, kecepatan arus, salinitas, pH, DO,


sedangkan

faktor

biotik

yang

dapat

mempengaruhi distribusi zooplankton adalah


bahan nutrien dan ketersedian makanan
(Romimohtarto dan Juwana, 1999).

tersebut

plankton berada pada kepadatan maksimum


ketika pukul 19.00 WIB dengan jumlah
kepadatan sebesar 8797 indv/L dan minimum
pada pukul 07.00 WIB dengan jumlah
densitas yaitu 3133 indv/L.

Grafik 12. Diversitas Plankton

Densitas plankton dengan jumlah


yang sedikit terjadi karena adanya unsur hara
yang banyak tersedia pada perairan dan
dilengkapi dengan intensitas penyinaran
matahari yang baik. Selain itu distribusi
plankton tersebut bisa juga dipengaruhi oleh
kandungan DO serta CO2 bebasnya. Semakin
melimpah kandungan DO maka densitas
plankton akan semakin tinggi, begitu pula
sebaliknya.Berdasarkan hasil praktikum ini
hubungan antara plankton dengan O2 dan
CO2 bebas tidak dapat terlihat dengan jelas,
dikarenakan
pengamatan.

adanya
Menurut

perbedaan

waktu

Odum

(1993),

Dari

grafik

ini

kita

dapat

mengetahui keragaman plankton yang bisa


ditemukan di perairan pantai Sepanjang.
Berdasarkan data keragaman yang ada
tersebut tampat ada nya fluktuasi nilai
diversitas plankton pada tiap waktunya. Nilai
maksimum diversitas plankton terdapat pada
pukul 23.00 Wib yakni sebesar 3,86 dan
diversitas plankton minimum sebesar 1,07
pada

pukul

11.00

WIB.

Menurut

penggolongan tingkat pencemaran perairan


berdasarkan

indeks

keanekaragaman

plankton seperti yang di utarakan Lee et al


(1978), rata-rata indeks keanekaragaman

plankton 1,24 dengan rata-rata nilai DO 3,11

pantai Sepanjang yaitu 2,8633 ini berarti

mg/L merupakan perairan dengan tingkat

dapat dikatakan kondisi perairan pantai

pencemaran yang rendah, berdasarkan data

Sepanjang dalam keadaan baik.

yang diperoleh, rata-rata indeks diversitas

Berdasarkan hasil pengamatan larva


pada

perairan

ini,

mendominasi yaitu Hypoatherina temminckii

ditemukan spesies ikan Sardinella gibbosa,

dan Bathygobius cocosensis dengan masing

Polyipnus triphanos, Arothron immaculatus,

masing berjumlah 2 ekor.

Synodus

pantai

macrops,

Hypoatherina

Sepanjang

Pada stasiun 4, terdapat 2 spesies yang

Leiognathus

temminckii,

bindus,
Samoan

hardyhead, Bathygobius cocosensis, dan


Arothron hispidus.
Terlihat pada stasiun 1 didominasi

Faktor

yang

mempengaruhi

keberadaan larva ikan di suatu perairan


adalah banyaknya substrat, garam mineral
serta plankton yang menjadi makanan para
larva ikan. Menurut Reddy (1993), salinitas

oleh spesies ikan Sardinella gibbosa dengan

merupakan

faktor

jumlah 6 ekor. Pada stasiun 2 larva ikan

mempengaruhi keberhasilan reproduksi pada

Hypoatherina temminckii lebih mendominasi

beberapa ikan dan distribusi berbagai stadia

dengan jumlah 3 ekor. Pada stasiun 3,

kehidupan.

didominasi oleh spesies ikan Hypoatherina

tingkah laku larva. Penangkapan beberapa

temminckii, dengan jumlah sebanyak 2 ekor.

larva ikan pelagis ditemukan lebih banyak

Cahaya

penting

juga

yang

mempengaruhi

pada siang hari dibandingkan pada malam


hari.
Ekosistem pantai memiliki beberapa
fungsi bagi larva antara lain sebagai berikut,
tempat asuhan (nursery ground), sebagai
tempat umtuk mencari makan (feeding
ground) karena dasar pantai banyak terdapat
fito plankton yang merupakan produsen

Grafik 13. Grafik suhu udara vs Kecepatan

primer yang mampu menghasilkan sejumlah

angin vs Frekuensi Gelombang

besar detritus yang akan menjadi makanan


bagi biota perairan

dan sebagai tempat

pemijahan (spawning ground) bagi ikna-ikan


tertentu agar terlindungi dari ikan predator,
sekaligus mencari lingkungan yang optimal
untuk memisahkan diri dan membesarkan
anaknya (Nybakken, 1992).

Suhu udara pada suatu daerah akan


meningkat apabila pada daerah tersebut
menerima penyinaran matahari lebih banyak.
Pada daerah pengamatan, udara banyak
memuai sehingga tekanan udara menjadi
rendah. Daerah dengan suhu udara rendah
memiliki tekanan udara yang lebih tinggi.
Angin merupakan udara yang bergerak dari
daerah bertekanan udara tinggi ke daerah
bertekanan udara lebih rendah (Hutagalung,
1997).

Perbedaan

tekanan

udara

menyebabkan naiknya sebagian besar massa


udara yang ditandai dengan sifat khusus,
yaitu tekanan udara tinggi dan rendah.
Semakin besar perbedaan tekanan udara
yang terdapat pada 2 tempat maka angin
yang

ditimbulkan

juga

semakin

cepat

(Hutabarat dan evans 1984). Ada 3 faktor


yang mempengaruhi besarnya gelombang
yang disebabkan oleh angin yakni kuatnya
dan lamanya hembusan serta jarak tempuh
angin (Nontji, 1993).

Berdasarkan
dapat

diketahui

penjelasan

bahwa

di

semakin

atas
besar

perbedaan suhu maka semakin kuat angin


yang dihasilkan dan semakin banyak angin
yang berhembus ke daerah suhu yang lebih
tinggi. Angin yang kuat berhembus akan
membuat gelombang yang besar dan cepat.
Maka dari itu hubungan antara suhu,
kecepatan angin, dan frekuensi gelombang

Grafik 14. Grafik suhu air vs Salinitas vs DO

berbanding lurus. Ini terbukti pada pukul

Oksigen

dimanfaatkan

untuk

15.00 WIB, ketiga parameter meningkat

mengoksidasi bahan organik oleh mikroba.

pada pukul tersebut.

Dekomposisi biasanya terjadi pada kondisi


udara yang hangat. Kecepatan dekomposisi
biasanya terjadi pada kisaran suhu 50C-350C.
Pada kisaran suhu ini, setiap peningkatan
suhu sebesar 100C akan meningkatkan proses
dekomposisi dan konsumsi oksigen menjadi
2 kali lipat (Boyd, 1988). Itulah sebabnya
DO menjadi berkurang.
Salinitas
dioksidasi

adalah

ion-ion

sehingga akan

yang

membutuhkan

banyak oksigen yang menyebabkan oksigen


akan menurun. Kelarutan oksigen dan gasgas

lain

juga

meningkatnya

berkurang

salinitas

dengan

sehingga

kadar

oksigen di laut cenderung lebih rendah


daripada kadar oksigen di perairan air tawar
(Effendi, 2003).
Berdasarkan

penjelasan

di

atas

dapat diketahui bahwa salinitas merupakan


ion-ion

yang

memerlukan

dioksidasi

banyak

oksigen.

sehingga
Setiap

peningkatan

suhu

meningkatkan

100C

sebesar

proses

dekomposisi

akan
dan

sangat

lemah

Berdasarkan

(Nybakken,

penjelasan

1992).

tersebut

dapat

konsumsi oksigen menjadi 2 kali lipat.

diketeahui bahwa pasang surut memengaruhi

Semakin

proses

pergerakan massa air. Arus laut akan

semakin

dipengaruhi oleh pasang surut terutama pada

berkurang. Oleh karena itu hubungan suhu

bibir pantai. Semakin kuat arus yang

dan

lurus

dihasilkan oleh pasang surut maka plankton

sedangkan keduanya berbanding terbalik

akan menyebar ke tempat lain artinya

dengan DO. Terlihat pada grafik, pukul 01.00

densitas

WIB suhu air dan salinitas cenderung naik

dibuktikan dengan grafik yang tertera pada

namun DO cenderung turun.

pukul 07.00 WIB di bagian pasang surut

tinggi

pengoksidasian

suhu
ion-ion

salinitas

yaitu

maka
akan

berbanding

mulai

plankton

mengalami

akan

berkurang.

pasang

dan

Ini

densitas

plankton menurun akibat adanya pasang


tersebut. Begitupun halnya yang terjadi
dengan pukul 23.00 WIB.
Ilmu tentang oseanografi memiliki
peran yang penting khususnya bagi program
studi Manajemen Sumberdaya Perairan yakni
untuk

mengoptimalkan

pemanfaatan

sumberdaya laut dengan tetap menjaga


kelestarian lingkungan perairan laut. Ilmu ini
juga dapat diterapkan untuk pengelolaan
sumberdaya perikanan yang lebih baik.

Densitas

plankton

merupakan

kemelimpahan plankton pada suatu perairan.


Plankton

merupakan

sekelompok

biota

akuatik baik berupa tumbuhan maupun


hewan

yang

hidup

melayang

maupun

terapung secara pasif di permukaan perairan,


dan

pergerakan

serta

penyebarannya

dipengaruhi oleh gerakan arus walaupun

KESIMPULAN
Pantai

Sepanjang

memiliki

karakteristik pantai berpasir. Suhu air pada


setiap stasiun berkisar 28,5-340C; suhu udara
20,5-340C; pasang surut 0-1,2 m; frekuensi
gelombang 0-0,89 Hz; kecepatan angin 0-6,9
m/s; arah angin dominan ke Barat; DO
kisaran 2,16-12,06 mg/L; alkalinitas 43-223

mg/L; CO2 0-29,4 mg/L; pH 7,1-7,65;

Hutabarat, S dan Evans, S. M. 1984.

salinitas 28,5-32 ppt; densitas plankton

Pengantar Oseanografi. Penerbit UI,

3133-8797 ind/L; dan diversitas plankton

Jakarta.

1,07-3,86.

Hutagalung, P. 1997. Metode Penelitian Air

Fungsi ekosistem pantai bagi biota


perairan yaitu sebagai nursery ground,
feeding ground, dan spawning ground.
Berdasarkan

diversitas

Laut dan Sedimen. LIPI. Jakarta.


Mahida, U.N. 1993. Pencemaran Air dan
Pemanfaatan Limbah Industri, PT

plankton

Raja. Gravindo Persada. Jakarta.

yang diperoleh kisaran 1,07-3,86 maka dapat

Mintardjo, K.A. 1984. Persyaratan Tanah dan

di golongkan pada kategori pantai dengan

Air. Direktorat Jendral Perikanan.

keanekaragaman

Direktorat Pertanian. Hal 63-89.

plankton

sedang

dan

kondisi perairan yang cukup baik.

Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Djambatan.

DAFTAR PUSTAKA

Jakarta.

Ali, M. 2007. Oseanografi. FITB ITB.


Bandung.

Quality: Prevention, Identification,

Boyd. 1988. Water Quality In Warm Water


Fish Ponds. Craff Masker Printer.
Alabama.
Dahuri,

dkk.

1996.

Sumberdaya

Wilayah

Pengelolaan
Pesisirdan

Lautan Secara Terpadu. Pradnya


Paramitha. Jakarta.

rivers and coastal waters. NorthPublishing

Company.

Amsterdam.
Effendi. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius.
Yogyakarta.
Foster, B. 2004. Fisika Terpadu. Erlangga.
Jakarta.

and

Management

of

Diffuse

Pollution. van Nostrand Reinhold.


New York.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu
Pendekatan

Ekologis.

Gramedia

Pustaka Utama. Jakarta.


Odum, E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi.

Dronkers, J. J. 1964. Tidal Computations in


Holland

Novotny, V. dan Olem H. 1994. Water

Gajah

Mada

University

Press.

Yogyakarta.
Pariwono, J.I. 1989. Gaya Penggerak Pasang
Surut. Dalam Pasang Surut. Ed.
Ongkosongo, O.S.R. dan Suyarso.
P3O-LIPI. Jakarta. Hal. 13-23
Purba, M. 2006. Kimia I. Erlangga. Jakarta.

Reddy, M.P.M. 1993. Influence of the


Various Oceanographic Parameters
on the Abundance of Fish Catch;
Apllication of Satellite Remote
Sensing

for

Identifying

and

Forecasting Potential Fishing Zones


in

DevMegalopsing

Countries.

India.

PUSPICS UGM. Yogyakarta.


Wahyudin Y. 2004. Karakteristik sumberdaya
pesisir dan laut kawasan teluk
Palabuhanratu

Kabupaten

Sukabumi. [skripsi]. Bogor: Sekolah


Pasca Sarjana, Institut Pertanian
Bogor.

Romimohtarto, K. Dan S. Juwana. 1999.


Biologi Laut. Penerbit Djambatan.
Jakarta.
Soetikno. 1993. Karakteristik Bentuk dan
Geologi

Sutikno.1999. Karakteristik Bentuk Pantai.

di

Indonesia.

Pengairan DPU. Yogyakarta.

Dirjen

Welch, P. 1952. Limnology. Mc Graw Hill


Book Company. New York.
Wyrtki, K. 1961. Phyical Oceanography of
the South East Asian Waters. Naga
Report Vol. 2 Scripps,. Institute
Oceanography. California.