Anda di halaman 1dari 12

EKOSISTEM SUNGAI

Dhea Prasanti
14/364783/PN/13634
Teknologi Hasil Perikanan

Intisari
Dalam suatu ekosistem terdapat sekumpulan organisme dan lingkungan abiotiknya.
Keberadaan organisme dalam suatu ekosistem memberikan indikasi tertentu. Praktikum
dilakukan untuk mempelajari korelasi parameter lingkungan dengan kehidupan biota
perairan, mempelajari karakteristik ekosistem sungai dan faktor-faktor pembatasnya,
mempelajari cara pengambilan data parameter lingkungan, serta mempelajari kualitas
perairan berdasarkan indeks diversitas biota perairan. Pada praktikum ekosistem sungai ini,
diamati Sungai Tambak Bayan yang berada di daerah Ring Road Utara, Sleman, Yogyakarta.
Pengamatan dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2015, pukul 13.45-17.00 WIB. Perairan
sungai dibagi menjadi empat stasiun pengamatan. Pada tiap-tiap stasiun pengamatan diukur
beberapa parameter lingkungan baik fisik (suhu udara, suhu air, kecepatan arus, debit), kimia
(DO, CO2 bebas, pH, alkalinitas), dan biologi (densitas dan diversitas plankton) dari sampel
air yang diambil secara acak. Berdasarkan hasil pengamatan, stasiun dengan kondisi terbaik
yaitu stasiun 3. Hal ini dilihat berdasarkan nilai densitas dan diversitas biota yang ada di
perairan tersebut menunjukkan nilai yang paling tinggi. Sedangkan, stasiun 1 memiliki
kondisi terburuk dengan nilai densitas dan diversitas biota perairan yang paling rendah.
Secara keseluruhan, Sungai Tambak Bayan memiliki kualitas peraiaran yang cukup baik
dilihat dengan berbagai parameter yang ada.
Kata kunci :abiotik, biota, densitas, diversitas, ekosistem, parameter, plankton

PENDAHULUAN
Ekosistem merupakan suatu kesatuan fungsional antara komponen biotik dan
komponen abiotiknya. Ekosistem merupakan suatu interaksi kompleks dan memiliki
penyusun yang beragam (Samadi, 2006). Ekosistem terdiri dari dua kompoenen besar ,yaitu

komponen biotik dan komponen abiotik. Dua komponen tersebut saling berinteraksi
membentuk suatu sistem dalam lingkungan. Komponen biotik meliputi tumbuhan (produsen),
hewan (konsumen), dan mikroorganisme (dekomposer). Sedangkan komponen abiotik
meliputi suhu, sinar matahari, angin, tanah, dan air. Air sangat berpengaruh terhadap
kelangsungan hidup organisme (Abdurahman,2006).
Sungai adalah ekosistem air tawar yang bergerak atau berarus (lotik) yang
memberikan pengaruh besar terhadap berbagai organisme yang ada di dalamnya
(Ambarwati,2009). Sungai di Indonesia umumnya mempunyai sifat multiguna, mulai dari
keperluan rumah tangga, keperluan hewan (mandi, minum), transportasi perairan dan
sebagainya (Widaningroem, 2010). Namun, dewasa ini sungai sebagai salah satu ekosistem
air tawar tersebut telah mengalami penurunan kualitas air akibat pencemaran lingkungan.
Pencemaran dapat berasal dari limbah organik maupun anorganik. Padahal, air merupakan
komponen yang penting bagi manusia dan juga organisme-organisme yang hidup di
dalamnya yang harus tetap dijaga demi keseimbangan ekosistem. Maka, dirasa perlu untuk
mengetahui lebih mengenai kualitas perairan sungai, salah satunya melalui praktikum ekologi
perairan acara ekosistem sungai. Kualitas itu sendiri ditentukan oleh parameter fisika, kimia,
dan biologi. Berdasarkan analisa kandungan unsur-unsur kimia pada indikator biologi
maupun fisik dapat dijadikan petunjuk ada tidaknya perubahan lingkunagn dari keadaan
seimbangnya (Marsono,2004).
Praktikum dilakukan untuk mempelajari korelasi parameter lingkungan dengan
kehidupan biota perairan, mempelajari karakteristik ekosistem sungai dan faktor-faktor
pembatasnya, mempelajari cara pengambilan data parameter lingkungan, serta mempelajari
kualitas perairan berdasarkan indeks diversitas biota perairan.

METODE
Praktikum Ekologi Perairan untuk acara ekosistem sungai dilakukan pada Jumat, 13
maret 2015, pukul 13.45-17.00 WIB di Sungai Tambak Bayan. Sungai ini berada di kawasan
Ring Road Utara, Sleman, Yogyakarta.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain: bola tenis meja, stopwatch,
roll-meter, meteran kain/penggaris, termometer, botol oksigen, erlenmeyer, gelas ukur,

kempot, pipet ukur, pipet tetes, mikroburet, ember plastik, pH meter, plot kayu/bambu,
saringan, kertas label, pensil, dan mikroskop.
Adapun, bahan-bahan yang digunakan antara lain: larutan MnSO4, larutan reagen
oksigen, larutan H2SO4 pekat, larutan 1/80 N Na2S2O3 , larutan KOH-KI, larutan 1/40 N
Na2S2O3 , larutan 1/44 N NaOH, larutan 1/50 N H2SO4 , 1/50 N HCI, larutan indikator
amilum, larutan indikator PP, larutan indikator MO, larutan indikator Bromcresol
Green/Methyl Red (BCG/MR), larutan 4% formalin.
Pengamatan dilakukan dari mulai hulu sungai hingga hilirnya dengan membagi
pengamatan menjadi empat stasiun. Pada masing-masing stasiun dilakukan pengukuran
beberapa parameter lingkungan. Pengukuran meliputi parameter fisik seperti suhu udara dan
air, kecepatan arus, dan debit air. . Pengukuran suhu air dilakukan dengan mencelupkan
termometer ke dalam air, sedangkan pengukuran suhu udara cukup dengan memegang
termometer di udara lalu dibaca skalanya, kecepatan arus diukur dengan melepaskan bole
pingpong dengan jarak tertentu dan dicatat kecepatan bola menempuh jarak tersebut. Untuk
mengetahui debit air terlebih dahulu diukur lebar dan kedalaman sungai. Selain itu, parameter
kimia seperti kandungan O2 terlarut (DO), CO2 bebas, derajat keasaman (pH), dan alkalinitas.
Kandungan O2 terlarut (DO) ditentukan dengan menggunakan metode Winkler. Hasil titrasi
awal hingga akhir (h + j = Y). O2 terlarut (DO) ditentukan melalui persamaan kandungan O 2
terlarut yang berbanding lurus dengan Y, 1000, 0,1 mg/l dan berbanding terbalik denagn 50.
Kandungan CO2 bebas ditentukan melalui metode Alkalimetri. Volum titran yang diperoleh
dari hasil titrasi (C ml). Kandungan CO 2 bebas dihitung dengan rumus 1000 dikali C dikali 1
mg/l dibagi dengan 50. Pengukuran Alkalinitas ditentukan dengan menggunakan metode
Alkalimetri. Alkalinitas dihitung dengan menjumlahkan kandungan CO 32- dan HCO3-.
Kandungan CO3- ditentukan dengan mengalikan 1000 dengan C dikali 1 mg/l kemudian
dibagi dengan 50. Kandungan HCO 3- ditentukan dengan mengalikan 1000 dengan D dan 1
mg/1 dan dibagi dengan 50. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter.
Kemudian, parameter biologi seperti densitas dan diversitas plankton dan makrobentos. Tiap
stasiun diambil cuplikan makrobentos dengan menggunakan plot kayu/bambu berukuran 40
cm x 40 cm. Dalam plot yang telah ditentukan kemudian diambil berbagai macam substrat
yang ada, kemudian dihitung dan diidentifikasi dengan bantuan mikroskop. Densitas
makrobentos dinyatakan dalam satuan individu per luas plot, sedangkan indeks diversitas
makrobentos dihitung dengan rumus Shannon-Wiener yaitu dengan persamaan H berbanding
lurus dengan negatif sigma dari ni dibagi N dikali 2log ni dibagi N dengan H merupakan

indeks keanekaragaman, ni merupakan cacah individu suatu genus, N merupakan cacah


individu seluruh genera.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum ekosistem sungai dilaksanakan di Sungai Tambak Bayan mulai dari hulu
hingga hilir dengan dibagi menjadi empat stasiun. Pada saat pelaksanaan, cuaca cerah.
Sehingga praktikum berjalan dengan baik.
Stasiun 1 berada di bawah jembatan yang aktif dilalui kendaraan bermotor. Di sekitar
sungai terdapat saung-saung atau semacam gazebo yang digunakan untuk makan dan
bersantai. Akses menuju sungai cukup curam dan tanahnya berlumpur. Ketika pengamatan
dilakukan terlihat aktivitas warga mencuci mobil. Kondisi air di stasiun 1 cukup keruh,
namun dasar sungai yang berbatu masih dapat terlihat sebab sungai dangkal. Pinggiran sungai
terlihat sangat kotor dengan banyaknya sampah-sampah organik maupun anorganik
berserakan. Vegetasi di pinggiran sungai berupa pohon bambu yang tidak rimbuh dan
kebanyak sudah kering atau mati serta rumput-rumput liar yang juga tidak terlalu banyak.
Stasiun 2 berada di dekat pemukiman warga. Apabila kita menghadap ke hulu sungai, di
sebelah sisi kiri terdapat kandang ternak, sedangkan di sebelah sisi kanan terdapat pohon
bambu dan rumput-rumput liar. Substrat dasar sungai lumpur berpasir. Kondisi airnya sedikit
keruh.

HASIL PENGAMATAN EKOSISTEM SUNGAI


N

STASIUN

O
1
2
3
4
5
6
7
8
9

PARAMETER
Suhu Udara (C)
Suhu Air (C)
Kecepatan Arus (m/s)
Debit (m3/s)
DO (ppm)
CO2 Bebas (ppm)
Alkalinitas (ppm)
PH
Diversitas Plankton
Densitas Plankton

10 (ind/L)

STASIUN

STASIUN

STASIUN I
II
III
IV
28
31
28
29
26
28
29
27
0,821
0,416
0,8
0,89
1,61
1,688
4,07
2,4
5,75
6,8
5,52
3,14
22,9
12,4
17,2
16,2
92
97
114
104
7,15
7,2
7,1
3,50
4,43
4,40
2,30
1506,02

2560,24

2660,64

1656,63

11 Vegetasi

bambu(jaran

bambu,

bambu,

pohon pisang

g),

rumput,

rumput,

(rimbun),

rumput(bany

(rimbun)

pisang

bambu,

ak)
(rimbun)
rumput
Tabel 1. Hasil pengamatan parameter fisik, kimia, dan biologi ekosistem sungai Tambak
Bayan
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh data parameter fisika pada stasiun 1
meliputi suhu udara yaitu sebesar 28oC dan suhu air sebesar 26oC. Cuaca yang cerah pada
saat pengamatan sangat mempengaruhi suhu tersebut. Kecepatan arus sungai sebesar 0,821
m/s sedangkan debitnya sebesar 1,61 m3/s. Untuk parameter kimianya menunjukkan
kandungan DO 5,75 ppm, CO2 bebas 22,9 ppm, alkalinitas 92 ppm, dan besarnya derajat
keasaman (pH) sebesar 7,15. Nilai DO jauh lebih kecil dari kandungan CO2 bebasnya, ini
menunjukkan bahwa jumlah oksigen di perairan stasiun 1 rendah. Hal ini dimungkinkan
karena intensitas cahaya di sungai relatif kecil tidak sebanding dengan tingkat konsumsi
oksigen oleh organisme-organisme sungai yang besar. Sedangkan pada parameter biologi,
nilai diversitas dan densitas plankton yaitu 3,50 ind/L dan 1506,02 ind/L.

Suhu Air vs Stasiun

Suhu Air (OC)

30
29
28
27
26 26
25
24

29
28
27
Suhu Air

stasiun

Grafik 1. Suhu Air vs Stasiun

Suhu Udara vs Stasiun

Suhu udara (OC)

32
31
30
29
28 28
27
26

31
29
28

Suhu Udara

Stasiun

Grafik 2. Suhu Udara vs Stasiun


Dari grafik 1 dan 2 dapat dilihat bahwa suhu air dan suhu udara relatif sama. Suhu air
tertinggi berada di stasiun 3 sebesar 29oC dan terendahnya di stasiun 1 sebesar 26oC .
sedangkan, suhu udara tertinggi berada di stasiun 2 yaitu 31oC dan terendah di stasiun 1 dan 3
yang besarnya sama yaitu 28 oC. Intensitas cahaya matahari menjadi salah satu penyebab
perbedaan suhu di tiap stasiun. Intensitas yang diterima dipengaruhi juga oleh vegerasi di
sekitarnya meskipun cuacanya sama. Makin rimbun vegetasi yang ada maka intensitas cahaya
yang sampai ke peraairan makin sedikit yang menyebabkan suhu udara dan air rendah. suhu
udara pada masing-msing stasiun lebih besar dibandingkan suhu airnya. Hal ini disebabkan
air memiliki kerapatan molekul yang lebih tinggi sehingga mampun menyimpan panas lebih
lama dibandingkan molekul udara (Purwakusuma, 2005).

Kecepatan Arus vs Stasiun


1
0.8 0.82

0.8

0.89

0.6
0.4
Kecepatan Arus (m/s)

0.42

Kecepatan Arus

0.2
0

stasiun

Grafik 3. Kecepatan Arus vs Stasiun


Berdasarkan grafik kecepatan arus vs stasiun menunjukan stasiun 4 memiliki
kecepatan arus yang tinggi sebear 0,89 m/s. Kecepatan arus berkurang pada stasiun 2 dan
meningkat pada stasiun 3 dan 4. Hal ini dapat dipengaruhi oleh sampah yang terbawa arus
sungai atau substrat dasar perairan yang berbeda-beda, mungkin juga karena perbedaan
kemiringan sungai.

Debit vs Stasiun

Debit (m3/s)

5
4
3
2
1.61
1
0

4.07
1.69

2.4
Debit

stasiun

Grafik 4. Debit vs Stasiun


Debit air tertinggi berada di stasiun 3 dan terendah di stasiun 1. Untuk stasiun 1
memiliki debit terendah karena faktor kedalaman sungai yang dangkal dan sebaliknya di
stasiun 3 debit tinggi karena kedalaman yang lebih dalam dari lainnya. Secara umum
perbedaan ini dipengaruhi kedalaman, lebar, dan panjang sungai.

DO vs Stasiun
8
7
6.8
6 5.75
5.52
5
4
DO (ppm)
3.14
3
2
1
0
STASIUN I STASIUN II STASIUN III STASIUN IV

DO

stasiun

Grafik 5. DO vs Stasiun
Berdasarkan grafik 5, dapat dilihat DO tertinggi berada pada stasiun 2 yaitu 6,8 ppm
sedangkan DO terburuk di stasiun 4. Pada stasiun 2 nilai DO tinggi sebab vegetasi di
sekitarnya rimbun dan dan kandungan bahan-bahan penyebab pencemaran yang tidak terlalu
banyak. Pada stasiun 4 memiliki kadar DO yang relatif kecil , sehingga dapat dikatakan
bahwa pada stasiun sudah timbul / muncul tanda-tanda pencemaran. Suhu air dan juga
vegetasi sekitar juga mempengaruhi kadar DO, semakin tinggi suhu perairan maka
kandungan DO rendah.

CO2 Bebas vs Stasiun

CO2 (ppm)

25
22.9
20
15
10
5
0

17.2
12.4

16.2
CO2 Bebas

stasiun

Grafik 6. CO2 vs Stasiun

Pada grafik 6 diketahui kandungan CO2 pada tiap-tiap stasiun. Kandungan co2
tertinggi berada di stasiun 1 dan terendah di stasiun 2. Rendahnya kandungan CO2 di stasiun
2 karena vegetasi ydi sekitarnya yang masih banyak dan terpelihara, sedangkan pada stasiun
1 tinggi sebab vegetasi yang jarang dan kebanyakan sudah mati serta pengaruh sampahsampah organik dan anorganik yang berserakan di sekitar sungai.
Nilai DO jauh lebih kecil dari kandungan CO2 bebasnya, ini menunjukkan bahwa
jumlah oksigen di perairan stasiun 1 rendah. Hal ini dimungkinkan karena intensitas cahaya
di sungai relatif kecil tidak sebanding dengan tingkat konsumsi oksigen oleh organismeorganisme sungai yang besar.

Alkalinitas vs Stasiun

Alkalinitas (ppm)

120
100 92
80
60
40
20
0

97

114

104

Alkalinitas

stasiun

Grafik 7. Alkalinitas vs Stasiun


Berdasarkan grafik tersebut kadar alkalinitas tertinggi terdapat pada stasiun 3 yaitu
sebesar 114 ppm dan terendah di stasiun 92 ppm. Tingginya nilai menerangkan kondisi
perairan pada stasiun 3 sangat subur. Perairan dengan nilai alkalinitas tinggi lebih produktif
dari pada perairannya dengan nilai alkalinitasnya rendah (Effendi, 2003).

pH vs Stasiun
7.2
7.15
PH

PH

7.1

STASIUN I

STASIUN II

STASIUN III

STASIUN IV

stasiun

Grafik 8. pH vs Stasiun
Pada grafik pH, dapat diketahui keempat stasiun memiliki pH yang relatif sama berkisar
antara angka 7 yang berarti netral, karena sungai merupakan air tawar. pH tertinggi ada di
stasiun 2 namun masih pada batas netral. Tidak dilakukan pengukuran pH di stasiun 3 karena
kelalaian praktikan, sehingga tidak diperoleh data hasilnya.

Densitas Plankton vs Stasiun

Densitas Plankton (ind/L)

3000
2560.24 2660.64
2500
2000
1656.63
1500 1506.02
1000
500
0

Stasiun

Grafik 9. Densitas Plankton vs Stasiun


Densitas plankton terbesar terdapat pada stasiun 3 yaitu sebesar 2660,64 ind/L dan terkecil di
stasiun 1 yaitu sebesar 1506,02 ind/L. Plankton suka hidup di perairan tak berarus atau

berarus lambat. Seharusnya, jika melihat kecepatan arus maka stasiun 4 yang berarus
tinggilah yang densitas planktonnya terendah.

Diversitas Plankton vs Stasiun


5
4
3
Diversitas Plankton

4.43

4.41

3.5
2.3

2
1

0
STASIUN I STASIUN II STASIUN III STASIUN IV
Stasiun

Grafik 10. Diversitas Plankton vs Stasiun


Berdasarkan grafik 10, diversitas plankton tertinggi terdapat pada stasiun 2 sebesar 4,43 ind/L
dan terendah di stasiun 4. Stasiun 2 memiliki diversitas tertinggi, maksudnya plankton
beragam pada stasiun tersebut, sebab kondisi perairan yang mungkin memiliki kadar DO
yang besar sehingga memungkinkan plankton banyak hidup di sana.
KESIMPULAN
Sungai memiliki karakteristik antara lain merupakan air tawar, pergerakan air yang
bergerak atau berarus (lotik). Parameter lingkungan baik fisik (suhu udara, suhu air,
kecepatan arus, debit), kimia (DO, CO2 bebas, pH, alkalinitas), dan biologi (densitas dan
diversitas plankton) menjadi faktor pembatas yang turut mempengaruhi kondisi perairan.
Komunitas biota perairan berhubungan dengan semua parameter tersebut. Diversitas suatu
perairan menentukan kualitas pencemaran. Semakin tinggi diversitas biota perairan itu maka
kualitas airnya pun semakin baik, dan sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Deden. 2006. Biologi Kelompok Pertanian. PT Grafindo Media Pratama.


Bandung.
Ambarwati. 2011. Ekosistem Akuatik. CV Tiga Serangkai. Surakarta.
Marsono. 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Purwakusuma. 2005. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Samadi.2006.Geografi 2. Yudhistira Ghalia Indonesia. Yogyakarta.
Widaningroem, Retno. 2010. Bahan Ajar Pengantar Ilmu Perikanan. Yogyakarta : Universitas
Gadjah Mada.