Anda di halaman 1dari 7

Kisah nenek Asyani dan Potret Hukum

Negara Kami
ESSAY

Untuk Memenuhi Tugas Kelompok


Mata Kuliah Umum Pendidikan
Kewarganegaraan

Oleh :

Deka Restu Prabayu


Tito Nanda Cahyasari
Nurul Fadri
Ervie Sabrina Nuari
Ina Rizqiyana

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2014
Kisah nenek Asyani dan Potret Hukum Negara Kami

"Semakin tinggi kekuasaan seseorang, semakin sedikit hukum yang mengaturnya"


- Satjipto Raharjo

Rasanya hendak menertawakan diri sendiri begitu membaca penggalan


kutipan di atas, seperti sudah tidak asing lagi di telinga, apalagi implementasi
nyatanya dalam kehidupan kita. Bukankah kutipan itu mengingatkan kita dengan
sebuah fakta? Ya, kutipan itu mengingatkan kita dengan kondisi hukum di sebuah
negara yang seringkali kita beri embel-embel Negara tercinta. Sebuah fakta yang
menyebutkan bahwa kita hidup di sebuah negara yang masih memiliki banyak
sekali kekurangan dalam supremasi hukumnya. Negara itu adalah negara kita,
Indonesia.

Kondisi kehidupan hukum di Indonesia kembali di sorot oleh masyarakat


luas ketika kasus Nenek Asyani menyeruak ke media massa pada bulan Desember
lalu. Kasus yang bukan kali pertamanya mewarnai dunia hukum di Indonesia ini
telah berhasil mengundang banyak perhatian masyakat kita, tak terkecuali kalangan
terpelajar. Setidaknya, kasus ini cukup memberikan gambaran bahwa kehidupan
hukum negara kita sedang berada pada titik kritis. Titik dimana kekuatan hukum
lebih cenderung meruncing ke bawah dan menumpul ke atas. Titik dimana sudah
saatnya kita mengkritisi dan mengatakan, Ada sesuatu yang salah dengan kondisi
implementasi hukum di negara kita.

Tapi saya tidak mencuri, saya ingin bisa bebas. Saya ingin pulang."

Kalimat yang berasal dari Nenek Asyani itu cukup memberikan bukti bahwa
ada sesuatu yang salah dengan kasus ini, seperti sebuah ketidakadilan yang sengaja
diciptakan atas nama hukum dan penindasan yang buat dengan kedok undang-
undang. Supriyono, yang adalah kuasa hukum nenek Asyani pun merasakan hal
yang sama. Menurutnya, pernyataan bahwa kayu yang diambil Nenek Asyani
adalah milik Perhutani sebagaimana keterangan saksi, tidak memiliki landasan
yang kuat.

Kasus ini berawal ketika nenek Asyani dituduh telah mencuri tujuh batang
kayu milik Perhutani pada bulan Juli tahun 2014 silam. Namun, nenek Asyani
melalui kuasa hukumnya membantah telah mencuri kayu tersebut karena tujuh
batang kayu jati yang diambilnya itu berada di tanah milik sendiri. Nenek Asyani
juga bercerita bahwa dia sempat memiliki lahan seluas 700 meter persegi di Dusun
Secangan, Desa/Kecamatan Jatibanteng.

Hanya saja, pada tahun 2010, lahan tersebut terpaksa dia jual ke
keponakannya seharga Rp 4 juta. Dia terpaksa menjual lahan itu karena letaknya
jauh dari rumah, sekitar 7 kilometer. Sebelum dijual, Sumardisuaminya
menebang tujuh kayu jati di ladang tersebut. Tujuh batang kayu jati berdiameter
sekitar 10 sentimeter itu dia simpan di kolong dipan. Setahun kemudian, Sumardi
meninggal dunia dan akhirnya kayu-kayu itu justru menyeret nenek Asyani ke balik
jeruji besi.

Meski sudah memperlihatkan bukti kepemilikan tanah dan diperkuat


keterangan kepala desa, kasus nenek Asyani ini akan tetap dilanjutkan ke
pengadilan. Jajaran Perhutani sendiri berkilah ada ancaman hukuman yang menanti
pihaknya jika tidak melanjutkan kasus Asyani. Pihak keluarga dan desa bahkan
sudah berulang kali melakukan mediasi, tetapi Perhutani tetap memperkarakan
kasus ini.

Jika menilik dari barang bukti tuntutan dan Peraturan Mahkamah Agung
(Perma) Nomor 2 Tahun 2012, kasus ini termasuk dalam kategori tindak pidana
ringan (tipiring). Perma inilah membatasi perkara tindak pidana dengan kerugian di
bawah Rp 2.500.000. Intinya, jika nilai barang yang dicuri tidak lebih dari
Rp2.500.000., maka pasal yang dikenakan adalah pasal 364 KUHP tentang
Pencurian ringan yang ancaman hukumannya hanya 3 bulan dan bukan Pasal 362
tentang pencurian biasa yang ancaman hukumannya 5 tahun. Dengan ketentuan
tersebut maka tersangka atau terdakwa dalam kasus pencurian ringan tidak perlu
dikenakan penahanan.

Selain itu, nenek Asyani juga dijerat Pasal 12 juncto Pasal 83 UU Nomor
18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengrusakan Hutan. Jika
dilihat dari alur cerita penangkapan nenek Asyani, bahwa kayu yang
dipermasalahkan Perum Perhutani pada saat kayu tersebut dibawa ke tempat
pengolahan tidak disertai dengan dokumen angkutan, memang berkaitan dengan
Undang-Undang nomor 18 tahun 2013. Pada pasal 12 huruf b disebutkan, Setiap
orang dilarang melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa memiliki
izin yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang, sedangkan pada huruf f
disebutkan Setiap orang dilarang mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil
hutan kayu yang tidak dilengkapi secara bersama surat keterangan sahnya hasil
hutan.

Memang benar jika dilihat dari segi peraturan perundang-undangan, setiap


orang yang melakukan penebangan di kawasan hutan secara tidak sah dan
membawa kayu tanpa surat keterangan sahnya hasil hutan, dikenakan sanksi pidana
dan sanksi administratif (pasal 82 UU nomor 18 tahun 2013), tetapi penerapan
Undang-Undang tersebut tidak boleh sepotong-sepotong, harus menyeluruh.
Misalnya, apakah dari segi penyidikan dan penuntutan sudah sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

Yang aneh dari kasus ini adalah, para penegak hukum dalam kasus Nenek
Asyani seolah menghindari Perma Nomor 2 Tahun 2012 dengan menggunakan
Pasal 12 juncto Pasal 83 UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Pengrusakan Hutan.

Mereka juga mengabaikan sistem penegakan hukum terhadap orang lanjut


usia yang seharusnya mengacu pada Undang-undang No. 13 Tahun 1998. UU ini
menyebutkan tentang Kesejahteraan Lanjut Usia khususnya Pasal 5 dan pasal 18
yang menjamin pelayanan khusus bagi lansia untuk layanan dan bantuan hukum.
Hal tersebut, tentu sjaa dimaksudkan untuk melindungi dan memberikan rasa aman
kepada orang lanjut usia. Termasuk layanan dan bantuan hukum di luar dan atau di
dalam pengadilan.

Beberapa pihak yang bersimpati dengan kasus nenek Asyani, salah satunya
adalah Siti Noor Laila dari Komnas HAM, juga turut menyuarakan pendapatnya.
Dia mengatakan bahwa kasus ini harus di dalami terlebih dahulu apakah termasuk
dalam illegal-logging. Dia juga menambahkan, bahwasanya kasus ini dapat
diselesaikan secara kekeluargaan. Lebih lanjut, kepolisian dapat melakukan
mediasi atau komunikasi secara persuasif dengan kedua belah pihak.

Komisioner Komnas HAM, Imdadun Rahmat, juga memberikan simpulan


bahwa kasus nenek Asyani ini adalah potret buram hukum di Indonesia. Pengusutan
kasus nenek Asyani ini terlihat dilebih-lebihkan atau over-acting oleh Perhutani.
Sementara pelaku illegal-logging yang membalak satu juta meter kubik kayu justru
dibiarkan.

Dari pernyataan diatas, kita dapat menjumpai satu keanehan lainnya.


Keanehan ini adalah, keseriusan pihak penegak hukum dan Perhutani dalam
mengusut tindak pencurian yang dilakukan oleh nenek Asyani ke meja hijau. Pihak
penegak hukum bahkan memberikan pernyataan bahwa kasus ini harus ditindak
secara tegas sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Begitu pula dengan pihak
Perhutani yang terus ngotot mengatakan bahwa kasus ini tergolong kasus Illegal-
logging yang tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Lihat! Bukankah kita bisa melihat suatu hal yang mengganjal di sini?

Tentang bagaimana prosedur hukum menjadi begitu tajam ketika


menyelesaikan kasus milik orang-orang bawah, dan menjadi sangat tumpul ketika
harus melawan orang yang lebih berkuasa.

Bagaimana dengan koruptor kelas kakap? Inilah sebenarnya yang menjadi


ketidakadilan hukum yang terjadi di Indonesia. Begitu sulitnya menjerat mereka
dengan tuntutan hukum. Apakah hal ini disebabkan oleh kekuasaan, kekuatan, dan
nominal uang mereka?

Rasanya mudah sekali ketika harus menghukum seseorang yang mencuri


tujuh batang kayu milik Perhutani, meskipun sebenarnya kayu itu berasal dari
tanahnya sendiri dan masih ada upaya dari pihak nenek Asyani untuk melakukan
meditasi. Namun terasa sangat sulit dan berbelit-belit begitu akan menjerat para
koruptor serta pejabat yang tersandung masalah hukum di negeri ini. Ini sangat
diskriminatif dan memalukan sistem hukum dan keadilan di Indonesia. Apa
bedanya seorang koruptor dengan mereka-mereka itu?

Sejujurnya, kami tidak membenarkan segala tindakan pencurian ataupun


illegal-logging. Kami juga tidak membela perbuatan yang dilakukan oleh Nenek
Asyani, lalu secara terang-terangan mengatakan bahwa orang ini benar dan orang
itu salah. Yang seharusnya kita kritisi dan pertanyakan adalah, dimana keadilan
hukum di negara ini? Dimana prinsip kemanusian itu? Seharusnya para penegak
hukum mempunyai prinsip kemanusiaan dan bukan hanya menjalankan hukum
secara semena-mena.

Inilah pergerakan hukum di Indonesia, yang menang adalah mereka yang


memiliki kekuasaan, uang, dan kekuatan. Mereka sudah pasti aman dari gangguan
hukum atas apa yang telah mereka langgar. Sementara kaum seperti nenek Asyani,
yang sebenarnya belum terbukti salah, langsung ditangkap dan dijebloskan ke
penjara. Sedangkan seorang pejabat negara yang memakan uang negara milyaran
rupiah, justru dapat berkeliaran dengan bebasnya.

Oleh karena itu, perlu adanya reformasi hukum yang dilakukan secara
berkelanjutan, mulai dari tingkat pusat sampai pada tingkat pemerintahan paling
bawah. Caranya, dengan melakukan pembaruan dalam bersikap, mengubah cara
berpikir atau mindset, dan berbagai aspek perilaku masyarakat hukum lainnya ke
arah kondisi yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan tidak
melupakan aspek kemanusiaan. Reformasi ini sangat perlu dilakukan demi
menciptakan kepercayaan masyarakat dan dunia internasional terhadap sistem
hukum Indonesia. Tak lupa dengan memposisikan keadilan secara netral, artinya
setiap orang memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.