Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS

(PCOS-POLYCYSTIC OVARY SYNDROME)

DISUSUN OLEH:

1. RINA
2. NYIMAS SUSILA
3. YULI ANGGRAINI
4. FARIDA
5. ALFITRIA QINARA
6. MEIRITA PURWANDARI
7. GEBBY ELPINESIA
8. KM NAHRUDIN
9. SUROTO

Dosen Pembimbing: Yuniza, S.Kep.,Ns.,M.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN REGULER B


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat
rahmat dan karunianya lah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
keperawatan (PCOS- POLYCYSTICOVARY SYNDROME).

1
Dalam penulisan makalah ini kami menyadari masih sangat banyak
kekurangan yang ada di dalam makalah ini, untuk itu kami sangat mengharapkan
segenap kritik dan saran yang bersifat mendidik dan membangun guna kemajuan
yang lebih baik pada makalah berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.

Palembang,
April 2017

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR .. ii
DAFTAR ISI . iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang . 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori .
B. Konsep Asuhan Keperawatan

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ...
B. Saran .

2
DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sindrom ovarium polikistik atau polycistic ovarian
syndrome (PCOS) merupakan salah satu penyebab ketidaksuburan
(infertilitas) karena kegagalan terjadinya proses ovulasi, keluarnya sel telur
(ovum ) dari indung telur (ovarium). Sindrom ovarium polikistik di
definisikan sebagai kumpulan gejala yang di tandai dengan adanya proses
anovulasi (tidak keluarnya ovum) kronis di sertai perubahan endokrin
(seperti hiperinsulinemia dan hiperendrogenemia). Beberapa komplikasi
jangka panjang yang dapat terjadi pada pengidap sindrom ovarium
polikistik meliputi peningkatan risikodiabetes melitus tipe , gangguan
toleransi glukosa (resistensi insulin), kadar lipid dalam darah abnormal

3
(dislipidemia), penyakit kardiovaskular, penebalan dinding rahim, dan
infertilitas (lord et al, 2012).
Pravelensi Penelitian tentang prevalensi SOPK masih terbatas. Di
Amerika Serikat prevalensinya berkisar 4-6%, kepustakaan lain
melaporkan bahwa prevalensinya berkisar 5-10%. Menurut Leventhal
sindroma ini terjadi 1% - 3 % dari semua wanita steril serta 3%-7% wanita
yang mempunyai pengalaman ovarium polikistik. Menurut Suparman 15-
25% wanita usia reproduksi akan mengalami siklus yang tidak berovulasi.
Sebanyak 75% dari siklus yang tidak berovulasi itu berkembang menjadi
anovulasi kronis dalam bentuk Ovarium polikistik (OPK). Telah
ditemukan bahwa 80% dari kelainan ovarium polikistik ini secara klinis
tampil sebagai Penyakit Ovarium polikistik (POPK). Pada 5-10% wanita
usia reproduksi, Penyakit Ovarium polikistik ini akan bergejala lengkap
sebagai Sindroma Ovarium polikistik (SOPK). (7) Gejala hiperandrogen
dengan oligo atau amenore muncul pada 1-4% wanita usia reproduktif.
Meskipun USG rutin yang menskrining 257 wanita muda tidak
mengeluhkan adanya gejala hiperandrogen namun didapatkan 22%-nya
mempunyai polikistik ovarium. 1 dari wanita dengan ovarium normal
mempunyai siklus menstruasi yang reguler, dan 75% wanita dengan
ovarium polikistik mempunyai siklus ireguler (kebanyakan dari wanita ini
tidak menunjukkan kelainan klinis dan bukti biokimia
hiperandrogenisme).(2) Prevalensi SOPK didapatkan dengan gejala klinis
yang berbeda-beda. Dari 1079 kasus wanita dengan OPK (tinjauan
literatur), Goldzieher dan Axelrod mendapatkan 47% wanita dengan
gangguan menstruasi berupa amenorea dan sebanyak 16 % wanita siklus
menstruasinya teratur. Conway dkk serta Franks mendapatkan 20% - 25%
wanita dengan gambaran ovarium polikistik (USG) mempunyai siklus
menstruasi yang teratur. Sedangkan peneliti lain mendapatkan sebanyak
30% (1741 kasus). Pada penelitian yang dilakukan oleh Balen
mendapatkan 70% wanita dengan SOPK mengalami hirsutisme.
Sedangkan obesitas didapatkan pada 35% - 50% wanita dengan SOPK.
Hirsutisme didapatkan lebih banyak pada wanita obese dengan SOPK
(70% - 73%) dibandingkan dengan wanita dengan berat badan normal

4
(56% - 58%). Sementara gangguan menstruasi lebih banyak dialami
wanita obese dengan SOPK (28% - 32%) dibandingkan wanita non-obese
(12% - 22%).
Sedangkan prevelensi di Indonesia PCOS yang melibatkan 5-10%
dari wanita dalam masa reproduksi. Walaupun ovarium polikistik dapat
ditemukan dalam 20% populasi wanita, hal ini tidak harus menimbulkan
gejala klinik seperti PCOS, akan tetapi dalam perjalanannya akan
menimbulkan gejala klinik bila diprovokasi oleh kenaikan berat badan
atau resisten terhadap insulin. PCOS berkaitan dengan 75% dari seluruh
kelainan anovulasi yang menyebabkan infertility, 90% dari wanita dengan
oligomenorrhoea, lebih dari 90% dengan hirsutism dan lebih dari 80%
dengan acne yang persisten.

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan
1. Definisi
Polycystic ovary syndrome (PCOS) atau Sindroma Ovarium
Polikistik (SOPK) adalah kelainan endokrin yang sangat umum terjadi
pada wanita dalam masa reproduksi. Walaupun begitu, sindrom ini
paling banyak diperdebatkan dan menimbulkan pendapat-pendapat
yang kontroversial dalam bidang Ginekologi Endokrinologi dan
Reproduksi. Belum ada definisi PCOS yang dapat diterima secara
internasional, dan kriteria untuk mendiagnosanya harus dibakukan
terlebih dahulu. Kesulitan ini menggambarkan adanya karakteristik
interna tertentu pada sindrom ini. Dalam kenyataan, gejala-gejala
sindrom ini juga beragam dan sangat bervariasi. Lagi pula, penemuan
laboratorium dan radiologi sering dijumpai dalam batas normal

5
sehingga menimbulkan kesulitan dalam menentukan suatu batasan
yang dapat diterima secara umum untuk pemakaian dalam praktek
klinik.3 Dalam bentuk klasiknya, PCOS digambarkan dengan adanya
anovulasi kronik (80%), menses yang irregular (80%) dan
hiperandrogen yang dapat disertai dengan hirsutism (60%), acne
(30%), seborrhea dan obesiti (40%). Definisi klinis dari sindrom
ovarium polikistik yang diterima secara luas adalah suatu kelainan
pada wanita yang ditandai dengan adanya hiperandrogenisme dengan
anovulasi kronik yang saling berhubungan dan tidak disertai dengan
kelainan pada kelenjar adrenal maupun kelenjar hipofisis.
Hiperandrogenisme merupakan suatukeadaan di mana secara klinis
didapatkan adanya hirsutisme, jerawat dan kebotakan dengan disertai
peningkatan konsentrasi androgen terutama testosteron dan
androstenedion. Obesitas juga dijumpai pada 50-60% penderita
sindrom ini. Pengukuran obesitas dengan menggunakan indeks massa
tubuh (IMT), yaitu berat badan/(tinggi badan)2 >25 kg/m2. Ciri-ciri ini
berhubungandengan hipersekresi dari luteinizing hormone (LH) dan
androgen dengan konsentrasi serum follicle stimulating hormone
(FSH) yang rendah atau normal. Penyebab sindrom ini tidak jelas,
akan tetapi terdapat bukti adanya kelainan genetik yang kemungkinan
diwariskan oleh ibu atau ayah, atau mungkin keduanya. Gen tersebut
bertanggung jawab atas terjadinya resistensi insulin dan
hiperandrogenisme pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik.

2. Etiologi
Tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan sangat
dipengaruhi oleh genetik. Bila dalam satu keluarga terdapat penderita
PCOS maka 50% wanita dalam keluarga tersebut akan menderita
PCOS pula Tanda awal PCOS umum nya terlihat seperti menarche.
Remaja dengan periode haid sekitar 45 hari perlu mendaptkan
pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan PCOS Perlu di ingat
bahwa haid dan ovulasi pertama sangat sulit di ramalkan. Peristiwa
diatas pada umum nya reguler setelah 2 tahun pasca menarche. Pada

6
beberapa penderita , gejala PCOS muncul setelah berat badan
meningkat pesat Gejala dan keluhan PCOS disebabkan oleh adanya
perubahan hormonal. Satu hormonal merupakan pemicu bagi hormon
lainnya. Hal ini akan menimbulkan lingkaran setan dari suatu
gangguan keseimbangan hormonal dalam sistem endokrin Gangguan
Hormonal antara lain:
1. Hormon Ovarium
2. kadar androgen yang tinggi.
3. Kadar Insulin dan gula darah yang meningkat

3. Manifestasi klinis
Gejala SOPK cenderung terjadi secara bertahap. Awal perubahan
hormon yang menyebabkan SOPK terjadi pada masa remaja setelah
menarche. Gejala akan menjadi jelas setelah berat badan meningkat
pesat. Gejala yang timbul dapat bervariasi mulai dari tanpa gejala sama
sekali sampai gejala seperti infertilitas, anovulasi kronik yang ditandai
dengan amenorea, oligomenorea, gangguan haid atau perdarahan
uterus disfungsional, jerawat, hirsutisme atau maskulinisasi, dan
obesitas.
Sindrom ovarium polikistik sangat bervariasi, tetapi secara umum
dapat dijumpai gangguan menstruasi dan gejala hiperandrogenisme.
Akantosis nigrikans juga merupakan keadaan klinis pada kulit yang
menandakan adanya hiperinsulinemia. Secara makroskopis, ovarium
pasien dengan sindrom ini 2-5 kali lebih besar dari ukuran normal.
Permukaan ovarium tampak putih, korteksnya menebal dengan kista
multipel yang diameternya kurang dari 1 cm. Secara mikroskopis,
bagian superfisial dari korteks fibrotik dan hiposeluler, mengandung
pembuluh darah yang jelas.

4. Patofisiologi
Perubahan dalam gonadotropin-releasing hormone (GnRH)
pulsatilitas menyebabkan preferensial produksi luteinizing hormone
(LH) dibandingkan dengan follicle-stimulating hormon (FSH). LH
merangsang androgen ovarium produksi, sedangkan kekurangan relatif
dari FSH mencegah stimulasi yang memadai aromatase aktivitas dalam
sel granulosa, sehingga penurunan konversi androgen ke ampuh

7
estradiol estrogen. peningkatan intrafollicular kadar androgen
menyebabkan atresia folikel. Kekurangan hasil perkembangan folikel
di anovulasi dan selanjutnya oligo-amenorrhea. Peningkatan androgen
serum (terutama androstenedion) dikonversi dalam pinggiran ke
estrogen (terutama estron).Seperti konversi terjadi terutama pada
stroma Sel-sel dari jaringan adiposa, produksi estrogen akan ditambah
pada pasien PCOS obesitas. Hasil konversi ini dalam umpan balik
kronis di hipotalamus dan hipofisis kelenjar, di kontras dengan
fluktuasi normal dalam umpan balik diamati di hadapan folikel tumbuh
dan cepat berubah tingkat estradiol. stimulasi estrogen tanpa lawan
dari endometrium dapat menyebabkan endometrium hiperplasia.
Peningkatan resistensi insulin telah dikaitkan dengan beberapa
gangguan termasuk diabetes tipe 2 mellitus, hipertensi, dislipidemia,
dan kardiovaskular penyakit. resistensi insulin karena genetik kelainan
dan / atau peningkatan jaringan adiposa kontribusi untuk atresia folikel
dalam ovarium serta pengembangan acanthosis nigricans di Insulin
skin. merangsang sintesis dan sekresi VLDL di hati mengakibatkan
hipertrigliseridemia, yang pada gilirannya meningkatkan akumulasi
post-prandial lipoprotein (LDL, VLDL) dalam plasma dengan
menurunkan HDL cholesterol.Wanita dengan tampilan PCOS menurun
seks hormon binding globulin (SHBG) tingkat. glikoprotein yang
diproduksi di hati, mengikat kebanyakan steroid seks. Karena ditekan
produksi SHBG, kurang beredar androgen adalah terikat dan dengan
demikian lebih tetap tersedia untuk mengikat dengan reseptor akhir
organ. Ini menyebabkan beberapa wanita dengan PCOS akan memiliki
testosteron total tingkatan dalam kisaran normal, namun akan secara
klinis hiperandrogen karena peningkatan gratis kadar testosteron. The
terikat beredar estrogen dapat menyebabkan endometrium lebih tinggi
Risiko kanker pada PCOS patient. Dalam beberapa rambut-bantalan
daerah, androgen merangsang kelenjar sebaceous, dan peningkatan
sebum dapat menyebabkan jerawat. Di daerah lain, folikel vellus
menanggapi androgen dan dikonversi ke folikel terminal, yang

8
mengarah ke hirsutisme. Di bawah pengaruh infl androgen, rambut
terminal yang sebelumnya tidak tergantung pada androgen kembali ke
vellus sebuah bentuk dan botak results. Wanita dengan PCOS dianggap
pada peningkatan risiko keguguran setelah baik spontan atau dibantu
konsepsi. tarif dari keguguran dini dilaporkan menjadi tiga kali lebih
tinggi dibandingkan pada wanita normal (30- 50% di PCOS vs 10-15%
pada wanita normal) 0,9 The Merintis konsentrasi prorenin tinggi di
dewasa dan atretic folikel manusia, dibandingkan dengan orang-orang
dewasa, menyarankan mungkin peran renin disfungsi ovarium.
Menariknya, dalam jaringan ovarium dari PCOS subyek, peningkatan
imunohistokimia pewarnaan renin, terlokalisasi di kedua granulosa dan
sel teka, menunjukkan peran dari renin di PCOS. Pengikatan renin /
prorenin untuk yang umum reseptor menyebabkan peningkatan
aktivitas renin, meningkat aktivator plasminogen inhibitor-1 produksi
dan menginduksi hipertrofi seluler dan pembuluh darah fibrosis.
Temuan ini menunjukkan bahwa negara hyperreninemic memainkan
penting peran dalam pengembangan end-organ kerusakan.

9
5. Pemeriksaan Diagnostik
Untuk menegakkan diagnosa PCOS diperlukan sejumlah
pemeriksaan antara lain anamnesa yang cermat, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan ultrasonografi.
1. Anamnesa:
Riwayat medis mengenai keluhan yang dirasakan penderita.
Pertanyaan mengenai perubahan berat badan, perubahan kulit,
rambut dan siklus haid.

10
Pertanyaan mengenai masalah kesuburan.
Pertanyaan mengenai riwayat keluarga yang menderita PCOS
atau diabetes.
2. Pemeriksaan fisik:
Pemeriksaan kesehatan secara umum termasuk tekanan darah,
berat dan tinggi badan (menentukan BMI-Body Mass Index).
Pemeriksaan tiroid, kulit, rambut, payudara.
Pemeriksaan bimanual untuk melihat kemungkinan adanya
pembesaran ovarium.
3. Pemeriksaan laboratorium :
-hCG untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan.
Testosteron dan androgen. Kadar tinggi dari Androgen akan
menghambat terjadinya ovulasi dan menyebabkan jerawat,
pertumbuhan rambut secara berlebihan dan kerontokan rambut
kepala.
Prolaktin yang mempengaruhi siklus haid dan fertilitas
Kolesterol dan trigliserida
Pemeriksaan untuk fungsi ginjal dan hepar dan pemeriksaan
gula darah
Pemeriksaan TSH (Thyroid Stimulating Hormon) untuk
menentukan aktivitas tiroid
Pemeriksaan hormon adrenal, DHEA-S
(Dehiydroepiandrosteron Sulfat) atau 17-hydroxyprogesteron.
Gangguan kelenjar adrenal dapat menimbulkan gejala seperti
PCOS.
Pemeriksaan OGTT- oral glucosa tolerance test dan kadar
insulin untuk menentukan adanya resistensi insulin.
4. Pemeriksaan ultrasonografi :
Pemeriksaan ulttrasonografi pelvis dapat menemukan
adanya pembesaran satu atau kedua ovarium. Namun yang perlu
diingat bahwa pada PCOS tidak selalu terjadi pembesaran ovarium
sehingga diagnosa PCOS dapat diduga tanpa harus melakukan
pemeriksaan ultrasonografi terlebih dulu.

11
6. Penatalaksanaan
PCOS tidak bisa disembuhkan,
namun gejala-gejalanya dapat
dikendalikan. Opsi-opsi penanganan
yang bisa ditempuh oleh penderita
PCOS adalah:
a. Mengubah gaya hidup.
Penderita PCOS yang
obesitas, bisa mulai untuk
menurunkan berat badan. Lalu penderita PCOS perokok disarankan
untuk berhenti, sebab wanita perokok punya kadar hormon
androgen lebih tinggi dibanding wanita non-perokok.
b. Pembedahan.
Pembedahan kecil yang disebut Laparoscopic Ovarian
Drilling (LOD) menjadi opsi untuk menangani masalah kesuburan
yang disebabkan PCOS.
c. Terapi hormon
Bisa dilakukan bagi penderita PCOS yang tidak ingin
merencanakan kehamilan. Terapi ini bisa menormalkan siklus
menstruasi, mencegah kanker uterus, pertumbuhan rambut yang
berlebihan, munculnya jerawat, dan rontoknya rambut kepala.

B. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas klien
Nama, umur, suku/bangsa, agama, pendidikan, alamat, Tanggal
waktu datang orang yang dihubungi ..telepon
Diterima dari Rumah sakit
..datang sendiri .lain-lain
b. Riwayat Keperawatan/Kesehatan
Keluhan Utama, Riwayat kesehatan/keperawatan sekarang,
Riwayat kesehatan/ keperawatan masa lalu, Riwayat kesehatan
atau keperawatan keluarga, Riwayat kesehatan lingkungan,
Riwayat psikososial, Riwayat Kebidanan dan Riwayat persalinan
c. Pola Fungsi Kesehatan

12
Pola persepsi-pemeliharaan kesehatan, Pola aktivitas-latihan, Pola
nutrisi dan metabolism, Pola eliminasi, Pola tidur-istirahat, Pola
kognitif-perceptual, Pola toleransi-koping stress, Persepsi
diri/konsep koping, Pola seksual reproduktif , Pola hubungan dan
peran, Pola nilai dan keyakinan
d. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum, Pemeriksaan tanda vital, Pemeriksaan kulit,
rambut dan kelenjar getah bening, Pemeriksaan kepala dan leher,
Pemeriksaan dada, Pemeriksaan Abdomen, Pemeriksaan anggota
gerak dan neurologist

2. Diagnosa Keperawatan
Yang dimaksud engan manka arti definisi Diagnosa Keperawatan
adalah merupakan suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia
(status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau
kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi
dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status
kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah .
Perumusan Diagnosa Keperawatan meliputi dari hal sebagai berikut :
- Aktual : Menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data
klinik yang ditemukan.
- Resiko : Menjelaskan masalah kesehatan nyata akan terjadi jika
tidak dilakukan intervensi.
- Kemungkinan : Menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan
untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan.
- Wellness : Keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga
atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu
ketingkat sejahtera yang lebih tinggi.
- Syndrom : diagnose yang terdiri dari kelompok diagnosa
keperawatan actual dan resiko tinggi yang diperkirakan
muncul/timbul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.
Diagnosa PCOS ditegakkan berdasarkan kriteria klinis,
ultrasonografi dan laboratoris. Kriteria klinis meliputi hirutisme,
obesitas, akne, oligomenorea, atau amenorea, perdarahan uterus
disfungsional dan infertilitas. kriteria ultrasonografis di temukan
sebanyak 75% dari keseluruhan penderita PCOS. Kriteria laboraturium

13
adalah dengan pemeriksaan kadar hormon reproduksi dan insulin.
Kadar hormon yang terpenting adalah endrogen, insulin, LS/FSH.
Menurut Konsensus Diagnostik Konferensi National Institute of
Health (NIH) di Amerika Serikat, adalah sebagai berikut.
a. Gambaran ovarium polistik tidak harus ada
b. Criteria mayor: anovulasi kronis dan hiperandrogenemia
c. Criteria minor : adanya resismensi insulin, hirsutisme, obesitas,
rasio LH/FSH >2,5 dan gambaran ovarium polistik pada USG.

Pada tahun 2003, The European Society For Human Reproduction


and Embyrology (ESHRE) dan The American Society for
Reproductive Medicine (ASRM) merekomendasikan minimal 2-3
gambaran berikut memenuhi untuk diagnosis PCOS.

a. Oligo-ovulasi atau anovulasi yang bermanifestasi pada adanya


oligomenorea atau amenorea.
b. Hiperandrogenisme atau hiperandrogenemia.
c. Polikistik ovarium (ditemukan melalui pemeriksaan ultrasonografi)

Diagnosis PCOS di tegakkan dengan menyingkirkan semua


penyakit yang dapat menyebabkan menstruasi yang tidak teratur dan
hiperandrogenisme, seperti tumor adrenal atau tumor ovarium.
Pemeriksaan biokimia dan pencitraan harus dilakukan untuk
menyingkirkan penyakit lain yang mungkin dan untuk memastikan
diagnosis.

3. Rencana Keperawatan
Berikut beberapa hal yang terkait dengan pembuatan rencana
keperawatan yaitu :
a. Yang dimaksud dengan pengertian dan definisi rencana
keperawatan adalah semua tindakan yang dilakukan oleh perawat
untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini
kestatus kesehatan yang di uraikan dalam hasil yang di harapkan.
b. Merupakan pedoman tertulis untuk perawatan klien. Rencana
perawatan terorganisasi sehingga setiap perawat dapat dengan
cepat mengidentifikasi tindakan perawatan yang diberikan.
c. Rencana asuhan keperawatan yang di rumuskan dengan tepat
memfasilitasi kontinuitas asuhan perawatan dari satu perawat ke

14
perawat lainnya. Sebagai hasil, semua perawat mempunyai
kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas tinggi dan
konsisten.

4. Implementasi Keperawatan
Yang dimaksud dengan pengertian dan definisi implementasi
keperawatan adalah :
a. Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana
tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk
membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu
rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien.
Adapun Tahapan Implementasi Keperawatan adalah sebagai berikut :
a. Tahap 1 : Persiapan. Tahap awal tindakan keperawatan ini
menuntut perawat untuk mengevaluasi yang diindentifikasi pada
tahap perencanaan.
b. Tahap 2 : Intervensi. Fokus tahap pelaksanaan tindakan perawatan
adalah kegiatan dan pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk
memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Pendekatan tindakan
keperawatan meliputi tindakan : independen, dependen, dan
interdependen.
c. Tahap 3 : Dokumentasi. Pelaksanaan tindakan keperawatan harus
diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu
kejadian dalam proses keperawatan

5. Evaluasi Keperawatan
Perencanaan evaluasi memuat kriteria keberhasilan proses dan
keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat
dengan jalan membandingkan antara proses dengan pedoman / rencana
proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan
membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan
sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang
telah di rumuskan sebelumnya.

15
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Sindroma ovarium polikistik merupakan gangguan endokrin paling
sering pada wanita usia reproduksi dan penyebab paling sering infertilitas
anovulatorik. Seiring dengan perkembangannya, semula sindroma ovarium
polikistik ditandai dengan trias hirsutisme, amenorrhea dan obesitas,
sekarang sindroma ini dikenali dengan gambaran klinis yang heterogen
dan etiologi yang multifaktorial. Penatalaksanaan sindroma ini adalah
dengan pemberian hormon insulin, antiandrogen, induksi ovulasi, reduksi
insulin, perbaikan gaya hidup maupun dengan intervensi operatif.
B. Saran
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan
pemahaman dan pengetahuan kita tentang asuhan keperawatan PCOS.
Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari para pembaca agar makalah kami selanjutnya dapat
lebih baik lagi.

16
DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, M.I. Naltrexone treatment in clomiphene resistant woman with


polycystic ovary syndrome. Human reproduction 2008;
23(11):2564-2569.

Aida, hanjalic-beck. et all. Metformin versus acarbose therapy in patients


with polycystic ovary syndrome (PCOS): a prospective randomised
double-blind study. Gynecological Endocrinology. 2010; 26(9):
690697

Brassard, maryse. Et all. Basic Infertility Including Polycystic Ovary


Syndrom .Med Clin N Am;2008: 92 : 11631192.

Fairley, hamilton diana, Alison Taylor.2009. Anovulation. BMJ 2009; 327:


546-54

Fauziah, yulia.2012. Obstretic patologi. Yogyakarta; Nuha Medika

Myles. 2009. Buku Ajar Bidan, Cetakan 1. EGC: Jakarta

Nestler JE. Metformin for the treatment of the polycystic ovary syndrome.
N Engl J Med 2008; 358: 4754.

Prawirohardjo, sarwono.2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo.

17