Anda di halaman 1dari 17

PENDEKATAN TRADISIONAL UNTUK PERUMUSAN TEORI

AKUNTANSI

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Teori Akuntansi

Disusun Oleh :

Kristin Maredes Sirait (214420060)

Monalisa Sagala (214420079)

Yenni (214420028)

Universitas Methodist Indonesia


Medan
Sumatera Utara
2016
KATA PENGANTAR

Pertama tama saya ucapkan puji dan syukur atas kehadirat Tuhan yang

maha esa, atas berkatnyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Judul yang kami bahas adalah mengenai Pendekatan Tradisional untuk

Perumusan Teori Akuntansi. Pembuatan makalah ini juga tak lepas dari

dukungan dosen, orang tua, serta teman teman, oleh karena itu saya ucapkan

terima kasih untuk bantuan dan dukungan yang sudah di berikan.

Makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran anda

sekalian masih di harapkan untuk perbaikan kedepannya.


DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR......................................................................................................
iv

DAFTAR ISI...................................................................................................................
v

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


..................................................................................................................

1
1.2 Perumusan Masalah
..................................................................................................................

1
1.3 Tujuan Penelitian
..................................................................................................................

2
1.4 Manfaat Penelitian
..................................................................................................................

BAB II : PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Akuntansi:Berbagai Gambaran


..................................................................................................................

3
2.2 Penyusunan dan Verifikasi Teori
..................................................................................................................

6
2.3 Hakikat dan Teori Akuntansi
..................................................................................................................

6
2.4 Metodologi dalam perumusan Teori Akuntansi
..................................................................................................................

7
2.5 Pendekatan untuk Perumusan Teori Akuntansi
..................................................................................................................

7
2.6 Pendekatan Selektif untuk Perumusan Teori Akuntansi
..................................................................................................................

11

BAB III : PENUTUP

3.1 Kesimpulan
..................................................................................................................

12

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................
13
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Berbagai pendekatan diterapkan untuk merumuskan teori akuntansi.


Beberapa dari pendekatan tersebut dikenal sebagai pendekatan tradisional.
Pendekatan tradisonal adalah pendekatan yang ditandai dengan tidak adanya
proses verifikasi yang jelas dalam upaya mengembangkan suatu teori akuntansi.
Pendekatan tradisional merupakan riset konvensional yang mengandalkan
pemikiran tradisional untuk merumuskan kerangka akuntansi konseptual. Kita
dapat membedakan beberapa pendekatan tersebut menjadi:
1. Pendekatan nonteoritis
2. Pendekatan deduktif
3. Pendekatan induktif
4. Pendekatan secara etis
5. Pendekatan sosiologis
6. Pendekatan ekonomi.
Pada makalah ini, masing-masing pendekatan akan dibahas dari segi
kontribusinya terhadap formulasi suatu teori akuntansi, dan dari segi
keunggulannya secara relatif bagi akuntansi, perbedaan antara penyusunan dan
verifikasi teori, hakikat teori akuntansi, daan metodologi untuk memformulasikan
teori akuntansi.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1 Apa saja hakikat akuntansi?
1.2.2 Bagaimana penyusunan dan verifikasi teori?
1.2.3 Apa hakikat teori akuntansi?
1.2.4 Bagaimana metodologi dalam perumusan teori akuntansi?
1.2.5 Apa saja pendekatan-pendekatan untuk merumuskan teori
akuntansi?
1.2.6 Bagaimana pendekatan selektif untuk perumusan teori akuntansi?

1.3. Tujuan penulisan


Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui mengenai pendekatan
tradisional untuk perumusan teori akuntansi.

1.4. Manfaat Penelitian


Manfaat dari penulisan ini adalah :
1. Penelitian ini diharapkan dapat memperdalam pengetahuan penulis
mengenai pendekatan tradisional untuk perumusan teori akuntansi.
2. Sebagai pelengkap perbendaharaan perpustakaan untuk bahan bacaan dan
perbandingan bagi mahasiswa yang memerlukan.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Akuntansi : Berbagai Gambaran

Akuntansi sebagai seni maupun sebagai aktivitas jasa dan secara tidak
langsung menyatakan bahwa akuntansi mencakup sekumpulan teknik yang
dianggap bermanfaat untuk suatu bidang tertentu. Terdapat berbagai bidang yang
memanfaatkan akuntansi yaitu: laporan keuangan, penentuan dan perencanaan
pajak, audit independent, sistem-sistem pemrosesan data dan informasi, akuntansi
biaya dan manajemen, akuntansi pendapatan nasional, dan konsultasi manajemen.

2.1.1 Akuntansi sebagai ideologi

Akuntansi dipandang sebagai suatu fenomena ideologi sebagai suatu sarana untuk
mempertahankan dan melegitimasi aturan-aturan sosial, ekonomi, dan politik
yang berlaku saat ini.

2.1.2 Akuntansi sebagai bahasa

Akuntansi dipandang sebagai suatu bahasa bisnis. Akuntansi adalah satu alat
mengomunikasikan informasi suatu bisnis. Berbagai aktivitas bisnis sebuah
perusahaan dilaporkan dalam laporan akuntansi menggunakan bahasa akuntansi.

2.1.3 Akuntansi sebagai catatan histori

Akuntansi dipandang sebagai suatu sarana penyediaan sejarah suatu organisasi


dan transaksi-transaksinya dengan lingkungannya. Baik bagi pemilik maupun
pemegang saham perusahaan, pencatatan akuntansi menyediakan suatu sejarah
kepengurusan manjer terhadap sumber daya pemilik.

2.1.4 Akuntansi sebagai realitas ekonomi masa kini

Akuntansi mampu mencerminkan realitas ekonomi masa kini. Pandangan ini


menyatakan bahwa baik neraca maupun laporan laba rugi harus didasarkan pada
suatu basis penilaian yang lebih mencerminkan kenyataan ekonomi daripada biaya
historis.

2.1.5 Akuntansi sebagai sistem informasi


Akuntansi selalu dipandang sebagai suatu sistem informasi. Pada dasarnya, ketika
dianggap sebagai suatu proses komunikasi, akuntansi yang paling baik
didefinisikan sebagai proses pengodean observasi dalam bahasa system akuntansi,
manipulasi tanda-tanda dan pelaporan system dan penerjemahan serta pengiriman
hasilnya.

2.1.6 Akuntansi sebagai komoditas

Akuntansi kerap kali dipandang sebagai suatu komoditas yang merupakan hasil
dari suatu aktivitas ekonomi. Akuntansi ada karena terdapat permintaan akan
informasi khusus dan akuntan mau dan mampu untuk menghasilkannya

2.1.7 Akuntansi sebagai mitos

Akuntansi menciptakan mitos yang merupakan cara mudah memahami dunia


ekonomi dan menjelaskan fenomena kompleks. Melalui akuntansi, suatu
fenomena ekonomi kompleks diterjemahkan bagi para pengguna dengan cara
yang lebih mudah dan dapat dimengerti, sehingga menciptakan lebih banyak
mitos daripada kenyataan.

2.1.8 Akuntansi sebagai alasan logis

Akuntansi dipandang sebagai alasan logis karena digunakan untuk melekatkan


makna terhadap peristiwa dan karenanya menyediakan suatu pertimbangan bagi
kejadian mereka di masa mendatang dalam pengambilan keputusan.

2.1.9 Akuntansi sebagai perumpamaan

Akuntansi mungkin dipandang sebagai perumpamaan. Akuntansi


memberikan kontribusi terhadap penciptaan suatu gambaran atau citra dari
organisasi. Akuntansi bertindak sebagai suatu gambaran organisasi melalui
peristiwa yang telah diseleksi dan transaksi yang terjadi di organisasi.

2.1.10 Akuntansi sebagai percobaan

Perusahaan-perusahaan dapat melakukan percobaan melalui pemakaian data,


teknik, laporan, atau pengungkapan akuntansi yang berbeda agar sesuai dengan
lingkungan tertentu yang mereka miliki dan untuk beradaptasi terhadap kondisi
yang berubah, dan bukannya terhambat atau terpaku kepada pendekatan
konvensional yang sama. Akuntansi merupakan percobaan terutama ketika ia
bersifat sukarela,inovatif, dan tentatif.

2.1.11 Akuntansi sebagai distorsi

Akuntansi digunakan untuk mengendalikan atau memengaruhi tindakan-tindakan


baik dari pengguna internal maupun eksternal, akuntansi menjadi sasaran ideal
bagi pihak-pihak yang mencoba untuk memanipulasi arti dari pesan yang akan
dilihat oleh pengguna. Metode yang digunakan untuk mendistorsi sistem
informasi dapat diklasifikasikan menjadi enam kategori besar berikut ini :

1. Perataan atau penghalusan : mencakup proses pengubahan arus data alami


atau terencana tanpa mengubah aktivitas actual dari organisasi.

2. Pembiasan : mencakup proses pemilihan tanda-tanda yang memiliki


kemungkinan paling besar untuk diterima dan dipilih oleh pengirim.

3. Pemfokusan : mencakup proses baik penguatan ataupun pelemahan aspek-


aspek tertentu dari sekumpulan informasi.

4. Permainan : mencakup proses menyelesaikan aktivitas-aktivitas oleh


pengirim sehingga menyebabkan terkirimnya pesan.

5. Penyaringan : mencakup proses pemilihan aspek-aspek tertentu yang


menguntungkan dari serangkaian informasi yang sama berharganya dari
komunikasi melalui pengumpulan, penyajian, agregasi, penahanan, atau
penundaan.

6. Tindakan illegal : mencakup proses pemalsuan data dan akibatnya


melanggar hukum privat atau public.

2.2 Penyusunan dan Verifikasi Teori

Prinsip-prinsip yang berlaku umum memandu profesi akuntansi dalam


memilih teknik akuntansi dan pembuatan laporan keuangan dengan cara yang
dianggap sebagai praktik akuntansi yang baik. Sebagai respon terhadap
lingkungan, nilai, dan kebutuhan informasi yang berubah, prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum menjadi subjek dari pemeriksaan ulang dan analisis
kritis yang konstan.

Perubahan-perubahan pada prinsip terjadi sebagai bentuk usaha yang


dilakukan untuk memberikan solusi kepada masalah-masalah akuntansi yang
muncul untuk merumuskan suatu kerangka teoritis. Proses penyusunan teori
akuntansi harus diselesaikan oleh vertifikasi teori atau validasi teori. Teori
harusnya menjadi subjek dari suatu ujian logis atau empiris untuk memverifikasi
keakuratannya. Jika teori itu didasarkan matematika, verifikasi seharusnya
diprediksi berdasarkan kekonsistenan logika. Jika teori itu didasarkan atas
fenomena fisik atau social, verifikasi seharusnya diprediksi berdasarkan hubungan
antara peristiwa-peristiwa yang dideduksikan dan observasi di dunia nyata. Teori
akuntansi menjadi hasil dari suatu proses penyusunan teori dan verifikasi teori.

2.3 Hakikat Teori Akuntansi

Pada dasarnya teori akuntansi bertujuan sebagai dasar bagi peramalan dan
penjelasan perilaku dan peristiwa akuntansi. Banyak teori-teori muncul dari
penggunaan pendekataan yang berbeda dalam penyusunan teori akuntansi atau
dari usaha untuk mengembangkan teori akuntansi di tingkat menengah dan
bukannya satu teori komprehensif tunggal. Teori akuntansi di tingkat menengah
berasal dari perbedaan cara peneliti melihat antara pengguna data akuntansi dan
lingkungan dimana para pengguna dan pembuatan data akuntansi seharusnya
berprilaku. Meskipun banyak teori menengah yang mucul, hanya sedikit dari
penulis ini yang berusaha membuktikan bahwa suatu teori akuntansi mungkin
terjadi.

2.4 Metodologi Dalam Perumusan Teori Akuntansi

Metodologi diperlukan untuk merumuskan suatu teori akuntansi.


Perbedaan opini, pendekatan, dan nilai di antara praktik akuntansi dan riset
akuntansi mengarah pada penggunaan dua metodologi. Satu bersifat deskriptif dan
bersifat normatif.

Akuntansi dipercayai sebagai suatu seni yang tidak dapat diformalisasikan


dan bahwa metodologi yang digunakan dalam formulasi suatu teori akuntansi
secara tradisional adalah usaha untuk mempertimbangkan apa yang telah terjadi
dengan memodifikasikan praktek-praktek akuntansi. Teori tersebut dinamakan
akuntansi deskriptif. Tujuan dari teori akuntansi deskriptif adalah untuk
menjelaskan atau memberikan alasan alasan terhadap praktek yang diamati dan
memprediksikan praktek akuntansi. Sedangkan akuntansi normatif adalah teori
akuntansi berusaha untuk mempertimbangkan apa yang seharusnya terjadi, bukan
apa yang terjadi. Menurut teori akuntansi normatif, akuntansi dianggap sebagai
norma peraturan yang harus diikuti tidak peduli apakah berlaku atau dipraktekkan
sekarang atau tidak. Teori normatif hanya menyebutkan hipotesis tentang
bagaimana akuntansi seharusnya dipraktekkan tanpa menguji hipotesis tersebut.

Dengan resiko terlalu menyederhanakan, diasumsikan bahwa sifat dari


fenomena dan isu akuntansi yang kompleks, kedua metodelogi di atas mungkn
dibutuhkan untuk merumuskan teori akuntansi. Metodelogi deskripsi berusaha
untuk mempertimbangkan beberapa praktik akuntansi yang seharusnya
dipergunakan dan metodologi normatif berusaha menjustifikasi beberapa praktik
yang seharusnya digunakan.

2.5 Pendekatan untuk Perumusan Teori Akuntansi

Telah dihasilkan berbagai teori akuntansi tingkat menengah dengan


berbagai pendekatan yang berbeda. Berikut ini akan dibahas pendekatan
taradisional bagi perumusan suatu teori akuntansi. Berikut adalah pendekatan
tradisional tersebut.

1. Nonteoritis, praktis atau pragmatis

2. Teoritis:
a. Deduktif

b. Induktif

c. Etis

d. Sosiologi

e. Ekonomi

f. Selektif

2.5.1 Pendekatan nonteoretis

Pendekatan nonteoretis adalah suatu pendekatan pragmatis dan pendekatan


kekuasaan. Pendekatan pragmatis terdiri atas penyusunan suatu teori yang
ditandai oleh kesamaan dengan praktik di dunia nyata yang berguna dalam artian
memberikan solusi yang sifatnya praktis. Sedangkan pendekatan kekuasaan untuk
merumuskan suatu teori akuntansi yang terutama dipergunakan oleh organisasi
professional terdiri atas penerbitan pernyataan sebagai regulasi dari praktik-
praktik akuntansi. Karena pendekatan kekuasaan berusaha untuk memberikan
solusi praktis, pendekatan ini dengan mudah disamakan dengan pendekatan
pragmatis.

Kedua pendekatan berasumsi bahwa teori akuntansi dan teknik akuntansi


harus disebutkan dalam dasar penggunaan akhir laporan keuangan, jika akuntansi
memeiliki suatu fungsi yang berguna. Dengan kata lain, suatu teori tanpa
konsekuensi praktik adalah suatu teori yang buruk. Intinya, pendekatan pragmatis
untuk mengembangkan prinsip-prinsip akuntansi yang telah diikuti oleh otoritas
akuntansi di masa lampau, dan berusaha untuk menurunkan konflik-konflik dari
praktik yang ada hingga saat ini masih bersifat sangat hati-hati dan sementara.
Kita juga berpendapat bahwa pendekatan pragmatis adalah bagian dari suatu teori
akun. Pendekatan ini, yang berdasar pada rasionalisasi dari pembukuan berganda,
dimuat dalam Summa Aritmatica, Geometria, Propotioni et Proponationalita dari
Luca Pacioli, yangditerbitkan oleh di Venesia tahun 1494. Pendekatan teori akun
merasionalisasikan pilihan dari teknik-teknik akuntansi yang berdasarkan atas
pemeliharaan persamaan akuntansi, yaitu persamaan neraca dan persamaan
labaakuntansi.Pernyataan neraca biasanya dinyatakan sebagai :

AKTIVA = KEWAJIBAN + EKUITAS

Persamaan laba akuntansi biasanya dinyatakan sebagai :

LABA AKUNTANSI = PENDAPATAN BEBAN

Dua persamaan dalam pendekatan teori akun ini mengarahkan kepada


berkembangnya dua posisi yang terdapat dalam badan penyusunan standar, yaitu,
posisi yang beorientasi pada neraca dan berorientasi pada laba. Dalam kasus
manapun, pendekata teori akun, seperti juga pendekatan pragmatis dan kekuasaan,
tidak memiliki fondas yang teoritis.

2.5.2 Pendekatan deduktif

Pendekatan deduktif dalam penyusunan teori manapun diawali dengan


dalil dasar dan diteruskan dengan pengambilan kesimpulan logis mengenai subjek
yang dipertimbangkan. Pendekatan deduktif dimulai dengan dalil akuntansi dasar
atau premis dan dilanjutkan dengan menurunkan prinsip prinsip akuntansi
melalui cara cara logis yang dipakai sebagai pedoman dan dasar bagi
pengembangan teknik teknik akuntansi.

Teori akuntansi yang diperoleh secara deduktif, teknik-teknik akan


berhubungan dengan prinsip, rumus, dan tujuan demikian sehingga teori akuntansi
itu benar, maka tekniknya harus benar. Struktur teoritis dari akuntansi
didefinisikan oleh urutan tujuan, rumus, prinsip dan teknis berdasarkan pada suatu
formulasi yang benar dengan tujuan akuntansi. Untuk menentukan bagaimana
teori dapat bertahan terhadap permintaan praktik, hal yang perlu dipertimbangkan
adalah jika prediksinya dapat diterima maka teori tersebut dapat dikatakan untuk
saat ini telah diverifikasi atau dibenarkan, jika prediksinya tidak dapat diterima
maka teori tersebut dikatakan tidak benar.

2.5.3 Pendekatan Induktif


Pendekatan induktif dari penyusunan sebuah teori diawali dengan
observasi dan pengukuran serta berlanjut pada kesimpulan umum. Pendekatan
induktif diawali dengan observasi mengenai informasi keuangan dari perusahaan
bisnis dan dilanjutkan dengan menyusun generalisasi dan prinsip prinsip
akuntansi dari observasi tersebut berdasarkan kepada hubungan yang berulang
kembali. Argumentasi induktif didahului oleh kondisi khusus (informasi
akuntansi yang menggambarkan hubungan yang berulang kembali) ke umum
(rumus dan prinsip akuntansi). Tidak seperti pendekatan induktif, kebenaran, atau
ketidak benaran dari dalil tidak bergantung pada dalil lain, tetapi harus diverifikasi
secara empiris.

2.5.4 Pendekatan Etis

Pendekatan etis adalah sebuah metode dan prinsip yang digunakan untuk
mengembangkan teori akuntansi dari segi perilaku para pemakai laporan
keuangan. Pendekatan etis memberikan penekanan pada konsep kewajaran
(fairness), kesadilan (justice), ekuitas (equity), dan kenyataan (truth). Konsep
keadilan adalah perlakuan yang sama kepada seluruh pihak yang berkepentingan.
Konsep kenyataan menyatakan bahwa laporan akuntansi yang benar dan akurat
tanpa kesalahan penyajian, dan konsep kewajaran berati dengan jujur, tidak bias,
dan penyajian yang tidak memihak akuntan.

2.5.5 Pendekatan Sosiologis

Pendekatan sosiologis adalah pendekatan yang menekankan pengaruh


sosial dari teknik akuntansi dalam perumusan teori akuntansi. Hal ini merupakan
pendekatan etis yang berpusat pada suatu konsep dari kewajaranyang lebih luas,
kesejahteraan sosial. Berdasarkan pada pendekatan sosiologi, prinsip atau teknik
akuntansi yang ada dievaluasi untuk penerimaan dari dasar pengaruh laporannya
terhadap seluruh kelompok dalam komunitas. Juga tersirat dalam pendekatan ini
adalah adanya ekspektasi bahwa data akuntansi akan berguna dalam pembuatan
pertimbangan kesejahteraan sosial. Untuk mencapai tujuannya, pendekatan
sosiologi mengasumsikan keberadaan dari nilai sosial baku yang mungkin
digunakan sebagai kriteria untuk menentukan teori akuntansi.
2.5.6 Pendekatan Ekonomi

Pendekatan ekonomi dalam merumuskan suatu teori akuntansi


menekankan pada pengendalian perilaku dari indikator-indikator makro ekonomi
yang dihasilkan oleh adopsi dari berbagai teknik akuntansi. Pendekatan ekonomi
berfokus pada suatu konsep dari kesejahteraan ekonomi umum. Berdasarkan pada
pendekatan, pilihan dari teknik akuntansi yang berbeda akan tergantung pada
pengaruh mereka pada situasi ekonomi nasional. Pendekatan ini menyatakan
bahwa dalam perumusan teori akuntansi, indikator-indikator makro ekonomi
seperti seperti inflasi harus dipertimbangkan yang dapat memberikan
kesejahteraan ekonomi secara keseluruhan. Prinsip, standar, dan teknik
akuntansi yang disusun dikaitkan dengan tujuan ekonomi. Sebagai contoh dalam
akuntansi, dikenal akuntansi perubahan tingkat harga yang merupakan prosedur
dan teknik yang diciptakan dalam rangka penyajian laporan keuangan yang
menggunakan pendekatan makro ekonomi, yaitu tingkat inflasi atau yang dikenal
dengan akuntansi inflasi.

2.6 PENDEKATAN SELEKTIF UNTUK PERUMUSAN TEORI


AKUNTANSI

Dalam perumusan suatu teori akuntansi dan pengembangan prinsip-prinsip


akuntansi digunakan pendekatan selektif, yaitu kombinasi dari berbagai
pendekatan. Pendekatan selektif muncul sebagai akibat dari berbagai usaha oleh
individu dan professional serta organisasi pemerintahan untuk berpartisipasi
dalam pematangan konsep dan prinsip dalam akuntansi. Pendekatan selektif ini
telah memberikan peningkatan kepada pendekatan baru yang sedang
diperdebatkan dalam literatur yang berupa pendekatan peraturan, pendekatan
perilaku, serta pendekatan kejadian, prediksi, dan positif.

BAB III

KESIMPULAN
Perumusan suatu teori akuntansi dengan pendekatan tradisonal telah
menggunakan metodologi normatif atau metodologi deskriptif, suatu pendekatan
teoritis atau nonteoritis, suatu bentuk alasan deduktif atau induktif, dan telah
berfokus pada suatu konsep kewajaran, kesejahteraan sosial atau kesejahteraan
ekonomi. Pendekatan tradisional berubah menjadi pendekatan selektif secara
perlahan dan mulai digantikan oleh pendekatan pendekatan yang lebih baru.
Suatu teori akuntansi dengan menggunakan pendekatan apapun harus di
konfirmasikan untuk dapat di terima.

DAFTAR PUSTAKA

Belkaoui, Ahmed Riahi, 2006, Accounting Theory: Teori Akuntansi. Edisi Kelima.
Jakarta: Salemba Empat.

http://badruzafni.blogspot.co.id/2009/06/teori-akuntansi-positif-dan-normatif.html
http://akuntanshit.blogspot.co.id/2014/11/pendekatan-deduktif-induktif-teori.html

https://nabilarachmas.wordpress.com/2014/10/11/pendekatan-tradisional-untuk-
perumusan-teori-akuntansi/

http://ekakaristiya.blogspot.co.id/2011/11/metodologi-perumusan-teori-
akuntansi.html