Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sistem muskuloskeletal manusia merupakan jalinan berbagai jaringan,
baik itu jaringan pengikat, tulang maupun otot yang saling berhubungan,
sangat khusus, dan kompleks. Fungsi utama sistem ini adalah sebagai
penyusun bentuk tubuh dan alat untuk bergerak. Oleh karena itu, jika terdapat
kelainan pada sistem ini maka kedua fungsi tersebut juga akan terganggu.
Infeksi muskuloskeletal merupakan penyakit yang umum terjadi; dapat
melibatkan seluruh struktur dari sistem muskuloskeletal dan dapat
berkembang menjadi penyakit yang berbahaya bahkan membahayakan jiwa. 1
Osteomielitis berasal dari kata osteon yang berarti tulang dan myelo
yang berarti sum-sum, yang dikombinasikan dengan itis yang berarti
inflamasi. Osteomielitis merupakan suatu proses keradangan tulang baik akut
maupun kronik. Osteomielitis biasanya disebabkan oleh bakteri, tapi bisa juga
karena jamur. Osteomielitis dapat memberikan klinis pada tulang mana yang
terinfeksi oleh mikroorganisme. Perjalanan infeksi dapat terjadi pada tulang
melalui aliran darah atau penyebaran melalui jaringan tissue yang dekat.
Osteomielitis dapat terjadi pada semua usia, kebanyak pada anak-anak dan
usia lebih dari 50 tahun. Osteomielitis lebih sering terjadi pada laki-laki
daripada wanita. 2
Osteomielitis akut terutama ditemukan pada anak-anak. Tulang yang
sering terkena ialah femur bagian distal, tibia bagian proksimal, humerus,
radius dan ulna bagian proksimal dan distal, serta vertebra. 2
Osteomielitis masih merupakan permasalahan dinegara kita karena: 1
Tingkat higienis yang masih rendah dan pengertian mengenai pengobatan
yang belum baik
Diagnosis yang sering terlambat sehingga biasanya berakhir dengan
osteomielitis kronis
Fasilitas diagnostik yang belum memadai di puskesmas

1
Angka kejadian tuberkulosis di Indonesia pada saat ini masih tinggi
sehingga kasus kasus tuberkulosis tulang dan sendi juga masih tinggi
Pengobatan osteomielitis memerlukan waktu yang cukup lama dan biaya
tinggi
Banyaknya penderita dengan fraktur terbuka yang datang terlambat dan
biasanya datang dengan komplikasi osteomielitis

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI TULANG
Tulang berasal dari embryonic hyaline cartilage yang mana melalui
proses osteogenesis menjadi tulang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang
disebut osteoblast. Proses mengerasnya tulang akibat penimbunan garam
kalsium. 3
Sel-sel yang terdapat pada jaringan tulang: 4
Osteoblas : Sel yang berperan dalam aktivitas sintesis komponen organik
tulang, yang disebut sebagai prebone atau osteoid. Osteoblas terletak
dalam suatu garis di sepanjang permukaan jaringan tulang. Saat aktif,
osteoblas cenderung berbentuk kubus dan bersifat basofilik. Sedangkan
saat kurang aktif, maka bentuknya akan menjadi lebih kempis dan kurang
basofilik. Ketika aktivitas sintesis matriks berhenti dan osteoblas telah
memasuki matriks tersebut maka osteoblas berubah namanya menjadi
osteosit.
Osteosit : Sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan
untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat. Osteosit berada di
dalam suatu ruangan berbentuk oval bernama lakuna yang terletak di
dalam matriks yang telah termineralisasi. Lakuna memiliki penjuluran
halus yang disebut kanalikuli. Kanalikuli menghubungkan antar lacuna
yang berdekatan sehingga osteosit mampu mencapai pembuluh darah
untuk pertukaran nutrisi dan sisa metabolisme.
Osteoklas : Sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan
matriks tulang dapat diabsorpsi. Tidak seperti osteoblast dan osteosit,
osteoklas mengikis tulang. Sel-sel ini menghasilkan enzim proteolitik yang
memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang,
sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah.
Lapisan-lapisan tulang: 5
Periosteum :

3
Bagian luar lebih banyak mengandung sabut sabut jaringan pengikat,
pembuluh darah, dan saraf dengan sedikit sel. Lapisan ini dinamakan
stratum fibrosum. Bagian dalam lebih banyak mengandung sel sel pipih
yang mampu berdiferensiasi menjadi osteoblas, sabut sabut elastis, dan
kolagen tersusun lebih longgar. Bagian ini disebut stratum germinativum.
Endosteum :
Mempunyai struktur dan komponen yang sama dengan periosteum tetapi
lebih tipis dan tidak memperlihatkan 2 lapisan seperti pada periosteum. Ke
arah luar bersifat osteogenik, ke arah dalam bersifat hemopoetik.

Gambar 2.1. Tulang dan lapisan tulang

Bagian anatomi tulang panjang: 4


a. Diafisis atau batang: Bagian tengah tulang yang berbentuk silinder. Bagian
ini tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan besar.
b. Metafisis: Bagian tulang yang melebar di dekat ujung akhir batang. Daerah
ini terutama disusun oleh tulang trabekular atau tulang spongiosa yang
mengandung sel-sel hematopoietik. Bagian ini juga menopang sendi dan

4
menyediakan daerah yang cukup luas untuk perlekatan tendon dan ligamen
pada epifisis.
c. Lempeng epifisis: Daerah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak, dan
bagian ini akan menghilang pada tulang dewasa.
d. Epifisis: Epifisis langsung berbatasan dengan sendi tulang panjang yang
bersatu dengan metafisis sehingga pertumbuhan memanjang tulang
panjang berhenti.

Gambar 2.2. Anatomi tulang panjang

B. FISIOLOGI TULANG
1. Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh
2. Melindungi organ tubuh dan jaringan lunak
3. Memberikan pergerakan
4. Membentuk sel-sel darah merah di dalam sum-sum tulang belakang

5
5. Menyimpan garam mineral (kalsium dan fosfor).3

C. DEFINISI
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit
disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan
darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan
pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan
tulang mati). Osteomeilitis dapat menjadi masalah kronis yang akan
mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas.
Beberapa ahli memberikan definisi terhadap osteomyelitis sebagai
berikut:
Osteomielitis adalah infeksi bone marrow pada tulang oleh Staphylococcus
aureus dan kadang-kadang Haemophylus influenza. 7
Osteomielitis (osteo + mielitis) adalah radang tulang yang disebabkan oleh
organisme piogenik, walaupun berbagai organ infeksi lain juga dapat
menyebabkannya. Ini dapat tetap terlokalisasi atau dapat tersebar melalui
tulang, melibatkan sumsum, korteks, jaringan kanselosa, dan periosteum. 1

Gambar 2.3. Tulang sehat dan tulang osteomielitis

6
D. ETIOLOGI
Sebanyak 90% disebabkan oleh stafilokokus aureus hemolitikus
(koagulasi positif) dan jarang oleh streptokokus hemolitikus. Pada anak umur
dibawah 4 tahun sebanyak 50 % disebabkan oleh Hemofilus influenza.
Adapun organisme lain seperti B. Colli, B. Aerogenus kapsulata,
Pneumokokus, Salmonella tifosa, Pseudomonas aerogenus, Proteus mirabilis,
Brucella, dan bakteri anaerobik yaitu Bakteroides fragilis juga dapat
menyebabkan osteomielitis hematogen akut. Infeksi dapat terjadi secara:
a. Hematogen, dari fokus yang jauh seperti kulit dan tenggorokan
b. Kontaminasi dari luar: fraktur terbuka dan tindakan operasi pada tulang
c. Perluasan infeksi jaringan ke tulang di dekatnya 8

E. FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor predisposisi osteomielitis akut adalah sebagai berikut.
1. Umur, terutama mengenai bayi dan anak-anak
2. Jenis kelamin, lebih sering pada laki-laki daripada wanita dengan
perbandingan 4:1.
3. Trauma, hematogen akibat trauma pada daerah metafisis, merupakan salah
satu faktor predisposisi terjadinya osteomielitis hematogen akut.
4. Lokasi, osteomielitis hematogen akut sering terjadi pada daerah metafisis
karena daerah ini merupakan daerah aktif tempat terjadinya pertumbuhan
tulang.
5. Nutrisi, lingkungan dan imunitas yang buruk serta adanya fokus infeksi
sebelumnya (seperti bisul, tonsilitis) merupakan faktor predisposisi
osteomielitis hematogen akut.

F. PATOFISIOLOGI
Tulang yang terinfeksi menyerang soft tissue dan sumsum tulang
hingga terjadi pembengkakan jaringan tersebut. Oleh karena itu menekan
dinding luar tulang, terjadilah kompresi pada sumsum tulang. Proses ini
menyebabkan pasokan darah ke tulang menjadi berkurang atau berhenti.

7
Pasokan darah yangtidak memadai ini lama-lama membuat jaringanj-jaringan
pada tulang menjadi mati. Pada daerah yang jaringannya sudah mati tidak
dapat melakukan perbaikan jaringan kembali dan mengobati infeksi sel
bahkan dengan antibiotik yang seharusnya dapat mmbantu memerangi
infeksi. Sehingga infeksi terus berulang hingga dapat menyebar keluar
jaringan tulang hingga mengenai jaringan lunak sekitarnya seperti otot yang
kemudian terbentuk kumpulan nanah. Osteomyelitis dapat menyebar melalui
aliran darah, penyebaran langsung (infeksi), infeksi jaringan lunak sekitarnya.
Gambaran patologis bervariasi tergantung umur pasien, tempat terjadi
infeksi,tingkat infeksi mikroorganisme, dan respon host. Bagaimana pun
berdasarkan variasinya ditemukan ciri khas dengan adanya tanda radang,
supurasi, nekrosis, pembentukan tulang baru dan terjadi resolusi dan
penyembuhan. Ciri-ciri tanda radang: 9
- Stadium Peradangan: Perubahan awal adalah reaksi radang akut dengan
gangguan vaskuler, cairan eksudat, dan infiltrate leukosit PMN. Tekanan
intraosseus meningkat secara cepat, menyebabkansemakin sering
kesakitan, obstruksi peredaran dan trombosis intravaskuler. Sering pada
stadium awal jaringan iskemik harus diobati segera.
- Stadium Supurasi: Pada 2-3 hari, terbentuk pus berada di dalam tulang dan
memaksa menuju permukaan melalui kanal Volkmann dimana akan
terbentuk subperiosteal abses. Dari situ pus ini akan menyebar sepanjang
tepi tulang, untuk masuk kembali ke tulang pada daerahlainnya, atau
menyebar melalui jaringan lunak yang mengelilinginya. Pada bayi,
infeksisering menyebar melalui fisis menuju epifisis dan kadang ke
persendian. Pada anak yanglebih tua, fisis merupakan sarana untuk
penyebaran secara langsung tapi pada sebagian metafisis intra kapsular
(seperti pada tanggul), pus dapat melewati periosteum menuju persendian.
Pada orang dewasa, abses lebih cenderung menyebar melalui celah
medular.Infeksi vertebrata dapat menyebar melalui end-plate, dan discus
intervertebralis ke tulangyang bersebelahan.

8
- Stadium Nekrosis: Peningkatan intraosseus, vaskular statis, trombosis, dan
periosteum yang terlepas meningkatkan kompensasi pembuluh darah, pada
hari ke 7 biasanya ditemukan kejadian kematian tulang secara
mikroskomis. Racun bakteri dan enzim dari leukosit juga dapat berperan
dalam proses destruksi tulang. Pada bayi, lempeng pertumbuhan sering
rusak dan tidak dapat diperbaiki dan dapat mengalami nekrosis avaskuler.
Dengan tingkat pertumbuhan dari jaringan granulasi batas antara tulang
yang mati dan hidup dapat terlihat. Bagian dari tulang mati terpisah
sebagai bagian sekuestrum yang bervariasi bentuknya dari kecil ke besar.
Markofag dan limfosit juga meningkat jumlahnya, dan sisanya perlahan
dihilangkan dengan kombinasi fagositosis dan reabsorbsi osteoklast.
Bagaimanapun sekuestrum yang besar menetap pada saluran tulang, tidak
dapat dilalui sehingga terjadi destruksi tulang akhir.
- Stadium pembentukan tulang baru: Tulang baru terbentuk dari bagian
dalam dari periosteum yang terlepas,ini merupakan ciri infeksi piogenik
dan biasanya terlihat jelas pada akhir minggu ke dua. Seiring perjalanan
waktu, tulang baru menebal dan membentuk involukrum yang berdekatan
dengan jaringan yang terinfeksi dan sekuestrum. Jika infeksi, pus dan
tulang sekuestrum yang tipis bertahan/menetap dapat berlanjut menjadi
perforasi pada involukrum dan melalui saluran menuju ke permukaan
kulit, pada kondisi ini dikenal osteomielitis kronis.
- Stadium resolusi dan penyembuhan: Once osteomyelitis, osteomyelitis
forever. Jika infeksi ini dikendalikan dan tekanan intraosseus dibebaskan
pada stadium awal, maka perkembangan ini dapat dicegah.
Tulang disekitar daerah infeksi sebagai tempat osteoporosis awal (mungkin
akibat hiperemi). Dengan penyembuhan didapatkan jaringan fibrosis dan
bentukan tulang baru yang posisinya berbeda dari normalnya, hal ini bersama
dengan reaksi periosteum menghasilkan jaringan sklerosis dan penebalan
tulang. Pada beberapa kasus, remodeling dapat membentuk kembali tulang
kebentuk normal, sebaliknya pada penyembuhan yangterdapat bunyi, tulang
akan secara permanen berubah. Osteomielitis hematogen biasanya mengenai

9
metaphysic dari tulang panjang (ujung tulang tungkai-proksimal tibia atau
pada distal dan proksimal femur, dan lengan) pada anak-anak. Pada bayi, dimana
masih ada anastomosis bebas antara pembuluh darah metaphyseal dan
epiphyseal, infeksi dapat dengan mudah mengandap di epiphysis. 9
Pada orang dewasa, infeksi hematogen lebih banyak pada tulang
belakang dari pada tulang panjang. Sedangkan pada orang yang menjalani
hemodialisa ginjal dan penyalahgunaan obat suntik illegal, rentan terhadap
infeksi tulang belakang (osteomielitis vertebral). Infeksi juga bisa terjadi jika
sepotong logam telah ditempelkan pada tulang,seperti yang terjadi pada
perbaikan panggul atau patah tulang lainnya. Bakteri yang menyebabkan
tuberculosis juga bisa mendeteksi tulang belakang (penyakit Pott).
Osteomielitis yang paling sering terjadi melalui penyebaran langsung dari
mikroorganisme ke dalam tulang bias karena penetrasi luka (pada patah
tulang terbuka selama pembedahan tulang) maupun kontaminasi benda yang
tercemar yang menembus tulang pada waktu operasi. Infeksi pada sendi
buatan (arthroplasty), biasanya didapat selama pembedahan dan bias
menyebar ke tulang didekatnya. Osteomielitis pada jaringan lunak di
sekitarnya bisanya terjadi pada pasien dengan beberapa penyakit vaskuler.
Infeksi pada jaringan lunak di sekitar tulang bias menyebar ke tulang
setelah beberapa hari atau minggu. Infeksi jaringan lunak bias timbul di
kanker atau ulkus dikulit yang disebabkan oleh jeleknya pasokan darah atau
diabetes (kencing manis). Suatu infeksi pada sinus, rahang atau gigi, bisa
menyebar ke tulang tengkorak.

G. KLASIFIKASI
1. Osteomielitis Hematogen Akut
Osteomielitis hematogen akut merupakan infeksi tulang dan sumsum
tulang akut yang disebabkan oleh bakteri piogen dimana mikroorganisme
berasal dari fokus ditempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah.
Osteomielitis akut diidentifikasi dengan adanya onset penyakit dalam 7-14
hari. Kelainan ini sering ditemukan pada anak anak dan sangat jarang

10
pada orang dewasa. Trauma, hematogen akibat trauma pada daerah
metafisis, merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya osteomielitis
hematogen akut. Lokasi osteomielitis hematogen akut sering terjadi pada
daerah metafisis karena daerah ini merupakan daerah aktif tempat
terjadinya pertumbuhan tulang. 1
Patologi dan Patogenesis
Penyebaran osteomielitis terjadi melalui dua cara, yaitu : 1
1.Penyebaran umum
Melalui sirkulasi darah berupa bakterimia dan septicemia
Melalui embolus infeksi yang menyebabkan infeksi multifocal pada
daerah - daerah lain
2.Penyebaran lokal
Subperiosteal abses akibat penerobosan abses melalui periost
Selulitis akibat abses subperiosteal menembus sampai dibawah kulit
Penyebaran ke dalam sendi sehingga terjadi artritis septi
Penyebaran ke medula tulang sekitarnya sehingga sistem sirkulasi
dalam tulang terganggu. Hal ini menyebabkan kematian tulang local
dengan terbentuknya tulang mati yang disebut sekuestrum.

Gambar 2.4. Perjalanan penyakit osteomielitis

11
Gambar skematis perjalanan penyakit osteomielitis: 1
a. Fokus infeksi pada lubang akan berkembang dan pada tahap ini
menimbulkan edema periosteal dan pembengkakan jaringan lunak.
b. Fokus kemudian semakin berkembang membentuk jaringan eksudat
inflamasi yang selanjutnya terjadi abses subperiosteal serta selulitis
dibawah jaringan lunak
c. Selanjutnya terjadi elevasi periosteum diatas daerah lesi, infeksi
menembus periosteum dan terbentuk abses pada jaringan lunak dimana
abses dapat mengalir keluar melalui sinus pada permukaan kulit.
Nekrosis tulang akan menyebabkan terbentuknya sekuestrum dan
infeksi akan berlanjut kedalam kavum medula.
Patologi yang terjadi pada osteomielitis hematogen akut tergantung
pada umur, daya tahan penderita, lokasi infeksi serta virulensi kuman.
Infeksi terjadi melalui aliran darah dari fokus tempat lain dalam tubuh
pada fase bakterimia dan dapat menimbulkan septikemia. Embolus infeksi
kemudian masuk kedalam juksta epifisis pada daerah metafisis tulang
panjang. Proses selanjutnya terjadi hiperemi dan edema didaerah metafisis
disertai pembentukan pus. 1
Terbentuknya pus menyebabkan tekanan dalam tulang bertambah.
Peninggian tekanan dalam tulang mengakibatkan terganggunya sirkulasi
dan timbul trombosis pada pembuluh darah tulang yang akhirnya
menyebabkan nekrosis tulang. Disamping itu pembentukan tulang baru
yang ekstensif terjadi pada bagian dalam periosteum sepanjang diafisis
(terutama anak anak ) sehingga terbentuk suatu lingkungan tulang seperti
peti mayat yang disebut involucrum dengan jaringan sekuestrum
didalamnya. Proses ini terlihat jelas pada akhir minggu kedua. Apabila pus
menembus tulang, maka terjadi pengaliran pus (discharge) dari involucrum
keluar melalui lubang yang disebut kloaka atau melalui sinus pada
jaringan lunak dan kulit. 1

12
Pada tahap selanjutnya akan berkembang menjadi osteomielitis
kronis. Pada daerah tulang kanselosa, infeksi dapat terlokalisir serta
diliputi oleh jaringan fibrosa yang membentuk abses tulang kronik yang
disebut abses Brodie. 1
Gambaran Klinis
Osteomielitis hematogen akut berkembang secara progresif atau
cepat. Pada keadaan ini mungkin dapat ditemukan adanya infeksi bakterial
pada kulit dan saluran napas atas. Gejala lain dapat berupa nyeri yang
konstan pada daerah infeksi, nyeri tekan dan terdapat gangguan fungsi
anggota gerak yang bersangkutan. Gejalagejala umum timbul akibat
bakterimia dan septicemia berupa panas tinggi, malaise serta nafsu makan
yang berkurang. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya: 1
- Nyeri tekan
- Gangguan pergerakan sendi oleh karena pembengkakan sendi dan
gangguan akan bertambah berat bila terjadi spasme lokal.
Pemeriksaan Radiologis: 1
Pemeriksaan foto polos dalam sepuluh hari pertama, tidak ditemukan
kelainan radiologik yang berarti dan mungkin hanya ditemukan
pembengkakan jaringan lunak.

Gambar 2.5 Proyeksi lateral tibia terlihat gambaran sklerotik di


diametafisis tibia

13
Gambar 2.6. Proyeksi AP pada tibia dan fibula proksimal; terlihat
gambaran destruksi awal kortikal diafisis fibula

Gambaran destruksi tulang dapat terlihat setelah sepuluh hari (2


minggu) berupa refraksi tulang yang bersifat difus pada daerah metafisis
dan pembentukan tulang baru dibawah periosteum yang terangkat. 1

Gambar 2.7. Tampak destruksi tulang pada tibia dengan pembentukan


tulang subperiosteal

14
Gambar 2.8. Ultrasound image of the left hip shows a large joint effusion

2. Osteomielitis Hematogen Subakut


Gejala osteomielitis hematogen subakut lebih ringan oleh karena
organisme penyebabnya kurang purulen dan penderita lebih resisten.
Durasi dari osteomielitis subakut adalah antara 14 hari sampai 3 bulan.1
Patologi
Biasanya terdapat kavitas dengan batas tegas pada tulang kanselosa
dan mengandung cairan seropurulen. Kavitas dilingkari oleh jaringan
granulasi yang terdiri atas sel sel inflamasi akut dan kronik dan biasanya
terdapat penebalan trabekula. 1
Gambaran Klinis
Osteomielitis hematogen subakut biasanya ditemukan pada anak
anak dan remaja. Gambaran klinis yang dapat ditemukan adalah atrofi
otot, nyeri lokal, sedikit pembengkakan dan dapat pula penderita menjadi
pincang. Terdapat rasa nyeri pada daerah sekitar sendi selama beberapa
minggu atau mungkin berbulan bulan. Suhu tubuh biasanya normal. 1
Pemeriksaan Radiologis
Osteomielitis subakut memiliki gambaran radiologis yang
merupakan kombinasi dari gambaran akut dan kronis. Seperti osteomielitis
akut, maka ditemukan adanya osteolisis dan elevasi periosteal. Seperti
osteomielitis kronik, maka ditemukan adanya zona sirkumferensial tulang
yang sklerotik. Dengan foto rontgen biasanya ditemukan kavitas

15
berdiameter 1-2 cm terutama pada daerah metafisis dari tibia dan femur
atau kadang kadang pada daerah diafisis tulang panjang. 1

Gambar 2.9. radiologik dari abses Brodie yang dapat ditemukan pada
osteomielitis sub akut/kronik. (Pada gambar terlihat kavitas yang
dikelilingi oleh daerah sclerosis)

3. Osteomielitis Kronis
Osteomielitis kronis umumnya merupakan lanjutan dari
osteomielitis akut yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati dengan baik.
Osteomielitis kronis juga dapat terjadi setelah fraktur terbuka atau setelah
tindakan operasi pada tulang. osteomielitis kronik merupakan infeksi
tulang yang perjalanan klinisnya terjadi lebih dari 3 bulan. Kondisi ini
berhubungan dengan adanya nekrosis tulang pada episentral yang disebut
sekuester yang dibungkus involukrum. 1
Patologi dan patogenesis
Infeksi tulang dapat menyebabkan terjadinya sekuestrum yang
menghambat terjadinya resolusi dan penyembuhan spontan yang normal
pada tulang. Sekuestrum ini merupakan benda asing bagi tulang dan
mencegah terjadinya penutupan kloaka (pada tulang) dan sinus (pada
kulit). Sekuestrum diselimuti oleh involucrum yang tidak dapat
keluar/dibersihkan dari medula tulang kecuali dengan tindakan operasi.

16
Proses selanjutnya terjadi destruksi dan sklerosis tulang yang dapat terlihat
pada foto rontgen. 1
Gambaran Klinis
Penderita sering mengeluhkan adanya cairan yang keluar dari
luka/sinus setelah operasi yang bersifat menahun. Kelainan kadang
kadang disertai demam dan nyeri lokal yang hilang timbul didaerah
anggota gerak tertentu. Pada pemeriksan fisik ditemukan adanya sinus,
fistel atau sikatriks bekas operasi dengan nyeri tekan. Mungkin dapat
ditemukan sekuestrum yang menonjol keluar melalui kulit. Biasanya
terdapat riwayat fraktur terbuka atau osteomielitis pada penderita. 1
Pemeriksaan Radiologis: 1
1. Foto polos
Pada foto rontgen dapat ditemukan adanya tanda tanda porosis dan
sklerosis tulang, penebalan periost, elevasi periosteum dan mungkin
adanya sekuestrum.

Gambar 2.10. Proyeksi AP wrist terlihat gambaran lesi osteolitik dan


sclerosis extensive dibagian distal metafisis pada radius

17
Gambar 2.11. Osteomielitis lanjut pada seluruh tibia dan fibula kanan.
Ditandai dengan adanya gambaran sekuestrum (panah).

2. CT Scan dan MRI


3. Pemeriksaan ini bermanfaat untuk membuat rencana pengobatan serta
untuk melihat sejauh mana kerusakan tulang terjadi.

18
Gambar 2.12. Radiografi osteomielitis kronis; tampak reaksi sklerorik (a) dan
abses yang meluas dari tulang hingga jaringan lunak (b & c)

H. OSTEOMIELITIS PADA TULANG LAIN


1. Tengkorak
Biasanya osteomielitis pada tulang tengkorak terjadi sebagai akiebat
perluasan infeksi di kulit kepala atau sinusitis frontalis. Proses destruksi
setempat atau difus. Reaksi periosteal biasanya tidak ada atau sedikit
sekali. Di bawah ini adalah gambaran CT Scan kepala pada pasien dengan
osteomielitis tuberkulosis.3

19
Gambar 2.13. Gambaran radiologis osteomielitis pada tulang
tengkorak
2. Pelvis
Osteomielitis pada tulang pelvis paling sering terjadi pada bagian
sayap tulang ilium dan dapat meluas ke sendi sakroiliaka. Sendi
sakroiliaka jarang terjadi. Pada foto terlihat gambaran destruksi tulang
yang luas, bentuk tak teratur, biasanya dengan sekuester yang multipel.
Sering terlihat sklerosis pada tepi lesi. Secara klinis sering disertai abses
dan fistula.
Bedanya dengan tuberkulosis, ialah destruksi berlangsung lebih
cepat, dan pada tuberkulosis abses sering mengalami kalsifikasi. Dalam
diagnosis diferensial perlu dipikirkan kemungkinan keganasan.
Osteitis pubis merupakan infeksi bagian bawah yang sekitar simfisis
pubis yang merupakan komplikasi dari operasi dari prostat dan kandung
kemih atau, jarang akibat operasi pelvis lainnya.

20
Gambar 2.14. Osteomielitis pada tulang pelvis; pada MRI potongan koronal
tampak osteomielitis luas dengan artritis seprik pada pinggul kanan (*),
tampak dislokasi pada pinggul kanan dan gas dalam sendi akibat komunikasi
dari ulkus dekubitus luas (tanda panah)

3. Osteomielitis pada Tulang Belakang


Vertebra adalah tempat yang paling umum pada orang dewasa terjadi
osteomielitis secara hematogen. Organisme mencapai badan vertebra yang
memiliki perfusi yang baik melalui arteri tulang belakang dan menyebar
dengan cepat dari ujung pelat ke ruang diskus dan kemudian ke badan
vertebra. Sumber bakteremia termasuk dari saluran kemih (terutama di
kalangan pria di atas usia 50), abses gigi, infeksi jaringan lunak, dan
suntikan intravena yang terkontaminasi, tapi sumber bakteremia tersebut
tidak tampak pada lebih dari setengah pasien. Banyak pasien memiliki
riwayat penyakit sendi degeneratif yang melibatkan tulang belakang, dan
beberapa melaporkan terjadinya trauma yang mendahului onset dari
infeksi. Luka tembus dan prosedur bedah yang melibatkan tulang belakang

21
dapat menyebabkan osteomielitis vertebral nonhematogen atau infeksi
lokal pada diskus vertebra.
Osteomielitis pada vertebra jarang terjadi, hanya 10% dari seluruh
infeksi tulang dan dapat muncul pada seluruh usia. Kuman penyebab
terbanyak ialah Staphylococcus aureus dan Eschericia coli. Pasien yang
menderita penyakit ini sering memiliki riwayat infeksi kulit atau pelvis.
Penyebaran infeksi biasanya menuju badan vertebra daripada bagian yang
lainnya, dan pada bagian yang mengandung banyak darah. Badan
vertebrae memiliki banyak pembuluh darah, khususnya di bawah end plate
di mana terdapat sinusoid yang besar dengan aliran pelan sehingga
berpotensi untuk terjadi infeksi.3

Gambar 2.15. Radiografi osteomielitis pada tulang belakang; tampak abses


prevertebral (*) dan destruksi pada area diskus T9-10 yang juga meluas hingga
kanalis spinalis

22
I. DIAGNOSIS BANDING
Biasanya, gambaran radiografi osteomielitis sangat karakteristik dan
diagnosis mudah dibuat sesuai dengan riwayat klinis, dan pemeriksaan
radiologis tambahan. Namun demikian, osteomielitis dapat juga meniru
kondisi lainnya seperti tumor tulang.8
1. Osteo Sarkoma
Merupakan tumor ganas primer tulang yang paling sering dengan
prognosis yang buruk. Kebanyakan penderita berumur antara 10-25 tahun.
Paling sering ditemukan sekitar lutut, yaitu lebih dari 50 %. Tulang
tulang yang sering terkena adalah femur distal, tibia proksimal, humerus
proksimal, dan pelvis. Pada tulang panjang, tumor biasanya mengenai
bagian metafisis. Garis epifisier merupakan barrier dan tumor jarang
menembusnya.
Gambaran radiologik tampak destruksi tulang yang berawal pada
medula dan terlihat sebagai daerah yang radiolusen dengan batas yang
tidak tegas. Pada stadium dini terlihat reaksi periosteal seperti garis-garis
tegak (Sunray appearance).12 Dengan membesarnya tumor, selain korteks
juga tulang subperiosteal akan dirusak oleh tumor yang meluas ke luar
tulang, berbentuk segitiga (segitiga Codman). Pada stadium dini
Gambaran tumor ini sukar dibedakan dengan osteomielitis.

23
Gambar 2.16. Radiografi dan spesimen periosteal osteosarkoma femur
proksimal anteroposterior dan lateral; pada wanita 67 tahun dengan
periosteal osteosarkom
2. Sarkoma Ewing
Tumor ganas primer ini paling sering mengenai tulang panjang.
Kebanyakan diafisis. Tulang yang juga sering terkena adalah pelvis dan
tulang iga. 75% dari penderita di bawah umur 20 tahun, paling sering
antara 5-15 tahun.
Gambaran radiologik tampak lesi destruksi yang bersifat infiltrat
yang berawal di medula, pada foto terlihat sebagai daerah-daerah
radiolusen. Tumor cepat merusak korteks dan tampak reaksi periosteal,
sebagai garis-garis yang berlapis-lapis menyerupai kulit bawang (onion
peel appearance). Tumor membesar dengan cepat, biasanya dalam
beberapa minggu tampak destruksi tulang yang luas dan pembengkakan
jaringan lunak yang besar karena infiltrasi tumor ke jaringan sekitar
tulang.

24
Gambar 2.17 Radiografi fibula sinistra anteroposterior dan lateral; pada anak
perempuan usia 7 tahun dengan Sarkoma Ewing

25
BAB III
KESIMPULAN

Osteomielitis adalah infeksi tulang atau sumsum tulang. Osteomielitis


dapat menyerang orang pada semua usia. Pemeriksaan penunjang atau pencitraan
yang dapat dilakukan adalah foto polos, CT Scan, dan MRI yang memiliki
keunggulan masing-masing. Pada pemeriksaan foto polos radiologi akan kita
dapatkan hilangnya gambaran fasia, gambaran litik pada tulang (radiolusen),
sekuester, dan involukrum. Pada CT Scan pun akan didapatkan gambaran serupa,
namun gambaran tampak lebih jelas, gambaran didapat dari segala arah . Jaringan
yang keras secara umum lebih baik ditunjukan oleh CT Scan. Gambaran MRI
lebih jelas menunjukkan perluasan patologis tulang dan jaringan lunak sekitarnya.
Sedangkan pemeriksaan Scan radioisotop sensitif untuk osteomielitis disebabkan
sifat radioisotop pada bone Scan akan memperlihatkan daerah kerusakan sel
tulang atau gambaran kehitaman yang memusat pada daerah sel-sel yang rusak,
namun tidak spesifik, karena kerusakan sel tidak hanya ditunjukan oleh
osteomielitis saja.
Gambaran radiografi foto polos osteomielitis sangat khas dan diagnosis
dapat mudah dibuat disesuaikan dengan riwayat klinis, sehingga pemeriksaan
radiologis tambahan lainnya seperti CT Scan dan MRI jarang diperlukan

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Kepaniteraan Klinik Radiologi. Makalah Osteomielitis. Fakultas Kedokteran


Universitas Kristen Indonesia. Jakarta. 2011
2. Apleys System of Orthopaedics and Fractures. 8th edition. Oxford University
Press Inc. New York. 2001
3. David Sutton. Text book of Radiology and imaging. Volume 2. Seventh
edition.
4. Sylvia A. Price dan Lorraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit. Edisi 6. Volume 2. EGC. Jakarta. 2006
5. RW King. Osteomyelitis. http://emedicine.medscape.com/article/785020-
overview
6. Keith L. Moore dan Anne M. R. Agur. Anatomi Klinis Dasar. Hipokrates.
Jakarta. 2002
7. Departemen Kesehatan RI. Penyakit tulang. Depkes-RI. Jakarta. 2007
8. Sjahriar Rasad. Radiologi Diagnostik. Edisi kedua. Departemen Radiologi
FK-UI RSCM. Jakarta.2005
9. Reksoprojo.S: Editor; Pusponegoro.AD; Kartono.D; Hutagalung.EU;
Sumardi.R; Luthfia.C; Ramli.M; Rachmat. KB; Dachlan.M. Kumpulan
Kuliah Ilmu Bedah. Penerbit Bagian Ilmu Bedah FKUI/RSCM; Jakarta.1995

27